Rom 12:9-21 Menjadi tubuh Kristus dalam dunia [31 Ag 2014]

Agustus 27, 2014

Perikop ini mengandung serangkaian nasihat yang semuanya indah dan menantang, tetapi sulit untuk dapat mengingat semuanya. Harapan saya bahwa penguraian ini dapat menjelaskan alur perikop, sehingga isinya lebih bisa diingat. (NB: Minggu depan tidak ada tulisan yang dimuat.)

Penggalian Teks

Kita perlu mengingat bahwa perikop ini adalah lanjutan dari nasihat mendasar untuk mempersembahkan tubuh kita kepada Allah (12:1–2), dalam konteks tubuh Kristus (12:3–8). Kita akan kewalahan kalau kita menganggap bahwa semuanya harus diterapkan seorang diri. Sebaliknya, tujuan Paulus ialah persekutuan yang diarahkan oleh kemurahan Allah sehingga tampil beda di dunia.

Aa.9–13 merupakan satu kalimat (dalam bahasa aslinya) yang menguraikan a.9a. Kasih kepada sesama berpura-pura kalau menutupi kejahatan (9b), kalau dingin (10a), kalau meremehkan sesama (10b). Kasih kepada Allah itu berpura-pura kalau malas (11a), karena Roh Allah tidak dipersilakan bekerja dalam roh kita, atau Kristus bukan lagi tujuan dari kehidupan kita (11b). Semangat kasih itu dipelihara dalam kesusahan, dengan mengingat pengharapan yang ditawarkan dalam Injil sehingga kita rajin berdoa (a.12; bdk. 5:3–5 dan 8:18–25). Dengan demikian, kita siap mental untuk membantu sesama orang percaya dalam kekurangan dan kebutuhannya (13).

Aa.14–21 beralih fokus kepada orang luar. Paulus mulai dengan konteks yang paling sulit: penganiayaan. Tubuh Kristus harus memberkati penganiaya (14), sama seperti Kristus mati bagi orang-orang durhaka (5:6). Untuk dapat mencapai kemampuan menanggapi seperti itu, tubuh Kristus harus bersatu dalam perasaan (15), dan dalam pemikiran (16a). Pemikiran yang dimaksud adalah kerendahan hati seperti dalam a.3. “Perkara-perkara yang sederhana” dapat diterjemahkan “orang-orang yang sederhana” (seperti NIV dan NRSV). Ke dalam, tubuh Kristus belajar untuk saling memberkati tanpa meremehkan penderitaan orang dan tanpa memandang bulu. Dengan demikian, tubuh Kritus mampu untuk memikirkan apa yang baik bagi semua orang (17b), baik yang berbuat jahat kepada kita (17a), maupun yang menerima usaha kita untuk hidup dalam perdamaian (18). Cara itu masuk akal, karena Allah sedang memperbaiki dunia. Yang menolak Dia akan dimurkai (19), tetapi ada juga yang akan dimenangkan karena jemaat tidak menuntut pembalasan (a.20; “bara api di atas kepala” mungkin merupakan kiasan akan pertobatan). Tidak membalas melainkan berbuat baik adalah cara kita ikut dalam jalan Tuhan yang telah mengalahkan dosa dalam Kristus (21).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menasihati kita tentang bagaimana caranya kita tampil beda dalam dunia sebagai tubuh Kristus, bahkan terhadap dunia yang menganiaya kita.

Makna

Damai sejahtera bagi semua orang adalah tujuan Allah dalam Kristus. Namun, damai sejahtera tidak cocok dengan kejahatan (9), dan karena tubuh Kristus harus tampil beda (12:2), selalu akan ada ketegangan dengan dunia (14a, 17a). Kejahatan harus dikalahkan (21)! Hanya, cara kita mengalahkan kejahatan ialah dengan memberkati penganiaya (14b) dan berbuat baik kepadanya (17b, 20a), supaya dia bertobat (20b). Cara itu bisa saja terasa tidak adil, tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa di balik semua yang terjadi, Allah akan mengerjakan keadilan (19b).

Namun, hukuman Allah adalah langkah terakhir dalam mewujudkan damai sejahtera. Langkah awal Allah ialah manusia baru di dalam tubuh Kristus, di mana kasih kepada sesama dan Allah dibentuk dan dipelihara (9–13). Kita sering merasa cemas tentang kualitas kasih dalam jemaat. Adalah jelas dalam nasihat Paulus bahwa kasih tidak sekadar sikap tetapi terwujud juga dalam tindakan konkret: bersukacita dengan (bukan iri hati terhadap) orang yang bersukacita, menangis dengan (bukan mendiamkan) orang yang menangis, membantu orang dalam kekurangan, dan bergaul dengan orang yang sederhana. Tetapi juga jelas bahwa tindakan dan sikap saling memengaruhi. Pembaruan budi oleh kemurahan Allah dibutuhkan supaya hidup dalam kasih serta memberkati penganiaya itu menjadi hal yang wajar; sebaliknya, usaha untuk hidup dalam kasih dan damai membantu kita untuk lebih mendalami kemurahan Allah yang memperdamaikan orang-orang durhaka (5:6).

Satu hasil dari nasihat Paulus ialah bahwa ternyata kita tidak perlu takut akan manusia. Manusia yang bersukacita, yang menangis, yang berkebutuhan, bahkan yang menganiaya, tetap adalah manusia yang kepadanya kita bisa memberi respons yang merupakan ibadah sejati kita kepada Tuhan.


Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014]

Agustus 20, 2014

Meskipun dengan perikop ini Paulus sudah masuk ke bagian yang sering disebut “etis”, namun Paulus tetap berbicara tentang Allah. Satu cara seorang pendeta dapat menjadi serupa dengan dunia ialah kalau dia berhenti berbicara tentang Allah. Khotbah-khotbah yang miskin teologi menjamin gereja menjadi duniawi.

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan peralihan dalam surat Paulus kepada orang-orang kudus di Roma. Paulus baru selesai menguraikan kemurahan Allah, dan mulai menasihati keluarga Allah (“saudara-saudara”) “karena itu” (1). Frase “demi kemurahan Allah” perlu disimak. Kata “kemurahan” adalah jamak dalam bahasa aslinya, sehingga merujuk pada berbagai tindakan Allah yang menyatakan sikap murah hati-Nya. Pasal 11 (yang kita bahas minggu yang lalu) menyimpulkan karya Allah itu sebagai kemurahan; tetapi di pasal 12 ini Paulus merujuk pada segenap penguraiannya dalam pp.1–11, yang berpusat pada Kristus sebagai wujud nyata kemurahan Allah, dan Roh Kudus sebagai pewujud kemurahan itu dalam kehidupan kita. Kata “demi” berarti “melalui” atau “oleh”, dan dalam susunan kalimat aslinya, dapat menerangkan “menasihatkan” atau “mempersembahkan”. LAI memilih “menasihatkan”, bahwa kemurahan Allah memberi Paulus alasan dan motivasi untuk menasihati mereka. Tetapi mungkin juga, Paulus mau mengatakan bahwa persembahan tubuh itu hanya dimungkinkan oleh karya Allah dalam Kristus dan Roh Kudus.

Aa.1–2 sering dibahas lepas dari aa.3–8, tetapi kaitannya erat. A.1 dan aa.4–8 berbicara tentang tubuh. A.2 dan a.3 berbicara tentang sikap. Bedanya bahwa aa.1–2 berbicara tentang identitas kita di dalam dunia, sementara aa.3–8 berbicara tentang identitas kita dalam tubuh Kristus. Aa.1–2 menyangkut skala kosmis; aa.3–6 skala praktis.

Untuk skala kosmis itu, Paulus mulai dengan soal ibadah, bagaimana kita memuliakan Allah sebagai Allah (1:21). Israel mempersembahkan tubuh hewan yang mati untuk menghapus dosa dan menyatakan syukur kepada Allah. Kurban Kristus telah menghapus dosa dengan tubuh-Nya sendiri dan telah bangkit kembali ke dalam hidup yang baru. Dengan demikian, persembahan apa yang cocok untuk bersyukur kepada Allah? Paulus sudah mendorong kita untuk mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus itu (6:13). Tubuh kita yang [terpola dalam dosa][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ] (7:13–26) telah dihidupkan kembali oleh Roh (8:11b). Tubuh itulah yang menjadi persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, bukan karena kita berhasil sempurna atau rajin ke gereja, tetapi karena kemurahan Allah. Balasan yang diminta Allah bukan sekadar usaha untuk menghindar dari dosa ini atau itu, lebih lagi sekadar persembahan uang dan waktu, melainkan seluruh diri kita. Demi kemurahan-Nya dalam Kristus, Dia berjanji untuk berkenan atas diri kita dengan segala kekurangannya.

Di mana persembahan itu terjadi? Bukan di suatu tempat yang khusus, melainkan di dunia (2). Dengan tubuh, kita tampil—entah tampil beda atau tampil sama. Dengan tubuh kita bertindak. Kedua hal itu dijelaskan Paulus di sini. Dunia dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang terkutuk (1:28, yang memakai kata vous yang diterjemahkan “budi” dalam ayat ini), tetapi kita mau diperbaharui oleh budi yang baru, yang dibentuk oleh kemurahan Allah dengan kuasa Roh Kudus (bdk. 8:5–6). Ketika Injil tentang Kristus menentukan identitas seseorang, dia tidak lagi diarahkan oleh status sosial, harapan akan upacara orang mati yang besar, atau ketakutan akan “apa kata orang”. Dengan demikian, dia dibebaskan untuk mengetahui kehendak Allah. Orang yang serupa dengan dunia akan menganggap baik banyak hal yang buruk, akan mencari apa yang berkenan menurut dunia, dan visinya tentang kehidupan yang sempurna akan juga duniawi. Dunia yang dimaksud Paulus mencakup agama Romawi dan bahkan agama Yahudi yang mengejar kebenaran diri (10:2–4). Hanya kemurahan Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak-Nya.

Jadi, seluruh kehidupan kita adalah persembahan kita, karena Allah adalah Allah dunia, termasuk dunia kantor dan dunia adat, bukan hanya Tuhan dalam gedung gereja. Namun, pembaruan yang dimaksud Paulus tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Tubuh kita berarti sebagai bagian dari tubuh Kristus (3–8). A.3 menegaskan kaitannya antara pikiran dan tindakan. Identitas kita di dunia berakar dalam penilaian diri. Penguasaan diri hanya dimungkinkan oleh penilaian diri yang sehat, yang tidak berlebihan. Ukuran yang dipakai bukan IQ, EQ, SQ, IPK, pujian manusia, atau ukuran apapun yang lain, melainkan iman. Iman bagi Paulus adalah penangkapan berita Injil dalam hati (bdk. 10:9b, 16a). Paulus mengatakan di sini bahwa penangkapan itu adalah karunia Allah, bukan hasil usaha sendiri. Dia tidak menuntut bahwa kita semua memiliki iman yang sekuat dia, misalnya, hanya bahwa penilaian diri sesuai dengan iman. Tokoh masyarakat yang imannya lemah tidak usah membual dalam konteks jemaat; orang kecil yang imannya kuat beranilah tampil beda. Aa.4–8 menunjukkan bagaimana tubuh Kristus menjadi tempat untuk belajar menggunakan karunia-karunia Allah demi sesama anggota jemaat, sehingga identitas kita terpusat bukan pada diri sendiri melainkan pada jemaat sebagai tubuh Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Cara kita berbagi dalam kemurahan Allah ialah dengan penyerahan diri mulai dengan pikiran dan budi sampai pada tindakan dan identitas kita dalam dunia. Tubuh Kristus menjadi tempat utama kita mempelajari dan mempraktekkan identitas itu.

Makna

Manusia beragama cenderung membedakan manakah yang kudus dan manakah yang tidak kudus. Misalnya, gereja itu kudus, sehingga hal-hal gerejawi dipemalikan, tetapi di kantor atau di dalam masyarakat, norma Alkitab tidak lagi dianggap relevan. Sebaliknya, manusia beretika (aliran filsafat pada zaman Paulus, sebagian orang berpendidikan masa kini) tidak menyakralkan gereja, sampai-sampai berjemaat dianggap seperti sekolah—berguna bagi yang masih lemah, tetapi mubazir bagi orang yang pemahamannya sudah kuat. Paulus melawan kedua pandangan itu. Seluruh dunia itu kudus, dan apa saja yang kita lakukan di dalam Kristus itu kudus. Tetapi adalah kesombongan untuk menganggap bahwa saya tidak membutuhkan tubuh Kristus lagi. Nilai jemaat bukan kadar manusia di dalamnya, melainkan Kristus.

Manusia beretika cenderung juga menganggap bahwa kemurahan Allah itu hanya penopang bagi kehidupan yang baik, sampai-sampai sebagian tidak terlalu merasa perlu bertuhan lagi. Kalau begitu, mempersembahkan tubuh kepada Allah tidak lagi masuk akal. Tetapi minat akan Tuhan dari manusia beragama juga terbatas. Yang dicari adalah kekuatan dalam tantangan dan pengarahan dalam kekacauan hidup. Diri Allah yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita dalam Kristus tidak dicari. Makanya, manusia beragama mencari wilayah yang terbatas yang akan cukup, asal Bapa surgawi senang. Budi yang baru itu siap menyerahkan seluruh identitas dan tindakan kepada Allah karena hati tertangkap oleh kemurahan-Nya. Tentu, hal itu adalah proses, dan kita semua sedang dalam perjalanan dari cara beragama yang dangkal menuju penyerahan diri yang selayaknya.


Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

Agustus 12, 2014

Agak sulit mengaitkan perikop ini dengan HUT Kemerdekaan Indonesia. Paulus berbicara tentang rencana Allah yang jauh lebih luas daripada Indonesia sebagai negara. Namun, kesadaran tentang anugerah Allah semestinya membuat kita menjadi warga negara yang tidak buta terhadap kekurangan negara namun tetap percaya bahwa kemurahan Allah bekerja.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan PL (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah: mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak ketimbang Ismael dan Yakub ketimbang Esau. Pada akhir p.9 (aa.24–29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah. Rom 9:30–10:21 menguraikan ketidakpercayaan Israel sebagai pilihan mereka (bagi Paulus, pilihan Allah dan pilihan manusia tidaklah bertentangan): mereka mengandalkan Taurat untuk diterima sebagai bangsa yang benar di hadapan Allah (9:30–10:4) sehingga mereka menolak pemberitaan Injil (10:5–10:21).

Dalam 11:1–2a, Paulus bertanya: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Dia sendiri adalah contoh utama bahwa ada orang Israel yang percaya kepada Kristus (1b), dan pada prinsipnya, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (2a). Adanya hanya sebagian Israel yang setia bukanlah hal yang baru (2b–4). Adanya orang percaya adalah soal anugerah dari Allah, bukan usaha manusia (5–6), dan adanya hanya sedikit dari Israel yang percaya itu bagian dari rencana Allah (7–10). Mengapa? Bukan karena Allah menolak Israel (11a), tetapi karena ketidaktaatan Israel adalah bagian dari rencana Allah supaya bangsa-bangsa juga masuk dalam pemulihan yang direncanakan Allah (11b–12). Aa.13–28 mau menegaskan bahwa hal itu bukan karena bangsa-bangsa itu hebat: sebaliknya, orang Israel adalah cabang-cabang asli dari umat Allah, dan Israel juga akan bertobat dan diselamatkan (26a). Akhirnya, aa.29–32 menyimpulkan penguraian Paulus: anugerah-anugerah Allah (seperti dalam 9:4–5; kata “kasih karunia” berbentuk jamak dalam bahasa aslinya) yang diberikan sesuai dengan pilihan Allah tidak akan dicabut oleh Allah (29). Israel akan melalui urutan yang sama dengan bangsa-bangsa: ketidaktaatan baru kemurahan (30–31). Sebagaimana dijelaskan dalam aa.13–28, ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa akan mendorong Israel untuk bertobat. Dengan demikian, ketidaktaatan dari segenap umat manusia menjadi kentara, sehingga kemurahan Allah sebagai dasar hidup juga kentara (32). Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Maksud bagi Pembaca

Ketika kita melihat kelompok seperti Israel yang diberi segala kesempatan untuk mengenal Allah tetapi mengandalkan usaha diri ketimbang Allah, kita dikuatkan bahwa Allah setia pada pilihan-Nya, dan bahwa semuanya bergantung pada kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang tetap memiliki rencana bagi mereka dan bagi kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu tentang janji Allah, ataupun sombong terhadap orang lain.

Makna

Melihat bacaan dari leksionari, Mat 15:21–28 menunjukkan baik prioritas bagi Israel maupun tempat bangsa-bangsa dalam rencana Allah. Kej 45:1–15 menunjukkan bagaimana Yusuf mampu menerapkan kepercayaannya akan kedaulatan Allah (bdk. Kej 50:20). Di tengah ketidaktaatan saudara-saudaranya, dia melihat rencana Allah untuk mengerjakan kemurahan-Nya. Oleh karena itu, dia mampu mengampuni mereka. Sama seperti Yesus, Paulus meyakini rencana Allah yang menyangkut “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (1:16). Dia juga mengenal sejarah Israel yang penuh ketidaktaatan yang di tengahnya Allah mengerjakan kemurahan-Nya, dan dia berusaha menjelaskan ketidaktaatan yang paling dahsyat, yaitu menolak Mesias, dalam rangka itu.

Mengapa kita, orang bukan Yahudi, semestinya peduli tentang penguraian itu? Satu jawaban ialah bahwa bila Allah tidak setia kepada Israel yang Dia panggil dan pelihara berabad-abad, mengapa kita berharap bahwa Dia akan setia kepada kita? Jika anak aslinya diabaikan, untuk apa kita mau diangkat? Tetapi, dengan memperlihatkan kesetiaan Allah, Paulus meneguhkan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya. Khususnya, ketika gereja sendiri sepertinya penuh dengan kebobrokan, kita mengetahui bahwa rencana Allah bergantung pada pilihan Allah, bukan pada keberhasilan manusia.

Dia juga mau mencegah kesombongan rohani. Orang Toraja kadang mengatakan bahwa budaya Toraja cocok dengan Injil. Kita harus hati-hati dengan gagasan seperti itu: cabang asli satu-satunya, kata Paulus, ialah Israel; semua budaya yang lain dicangkokkan. Orang Toraja adalah orang-orang berdosa yang diterima Allah hanya karena Dia menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka oleh anugerah di dalam Kristus. Yang diperlawankan dengan ketidaktaatan bukan ketaatan melainkan kemurahan Allah. Kita menjadi susah mengampuni sesama, tidak seperti Yusuf, ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada mereka.

Perikop ini juga menyangkut pengharapan kita. Andaikan ketaatan adalah solusi terhadap keberdosaan manusia, pilihan Allah hanya merupakan langkah awal (panggilan) yang hasilnya tetap ada dalam tangan manusia yang pasti akan gagal. Tetapi, karena keselamatan tergantung pada pilihan Allah yang diterapkan melalui kemurahan-Nya dalam Kristus, maka kita tidak perlu digoyahkan oleh kegagalan-kegagalan kita, ataupun orang-orang lain.


Rom 8:26-39 Terjamin dari ancaman apapun [27 Jul 2014]

Juli 25, 2014

Perikop ini begitu berharga bagi saya sehingga saya mengambil waktu di tengah libur untuk menguraikannya. Untuk kedua minggu berikutnya, blog ini akan beristirahat. Selamat melayani.

Penggalian Teks

Ayat 28 yang terkenal itu tetap terjadi dalam konteks kesusahan yang diuraikan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Maksud dari ayat itu bukan bahwa Allah mengerjakan yang baik, enak, masuk akal dsb, melainkan bahwa di tengah kesusahan yang justru tidak masuk akal, yang di dalamnya hanya Roh Kudus dapat melengkapi doa kita (26–27), ada janji yang menghibur bahwa Allah menghasilkan kebaikan. Aa.29–30 memberi penjelasan tentang kebaikan itu. Allah memilih orang untuk menjadi serupa dengan Kristus—supaya Kristus menjadi sulung di dalam keluarga besar anak-anak Allah yang juga sudah dibentuk oleh kelemahan dan kesusahan mereka (29). Sesuai dengan tujuan itu, Allah memanggil orang dalam pemberitaan Injil untuk beriman kepada Kristus; Dia menjadikan mereka anggota-anggota tubuh Kritus yang dosa-dosanya sudah diampuni (dibenarkan); Dia mengerjakan kemuliaan “imago Dei” seperti Kristus melalui kesusahan hidup sampai kesempurnaannya ketika Kristus datang kembali (30).

Siapa penerima janji tentang rencana Allah itu? Dalam a.28b, kita melihat dua segi. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah. Janji itu diperuntukkan—dan mungkin hanya masuk akal—bagi orang yang baginya Allah menjadi yang terutama. Tetapi, untungnya, kasih seperti itu tidak muncul dari kemampuan alami manusia. Kita mampu mengasihi Allah karena Allah telah memanggil kita, dan kasih itu dibentuk dengan menempuh jalan penderitaan dalam pengharapan akan pemuliaan bersama dengan Kristus.

Jadi, orang-orang ini mendambakan pemulihan segala sesuatu supaya menikmati warisan sebagai anak-anak Allah, yakni kemuliaan bersama dengan Kristus (8:17). Aa.31–39 memberi jaminan bahwa hal itu akan terjadi. Dalam aa.31–34, kematian Kristus menjadi jaminan bahwa pembenaran Allah tidak akan pernah bisa dijungkirbalikkan oleh siapapun: perlawanan, penolakan dan penghinaan manusia tidak berdaya di hadapan penerimaan Allah. Dalam aa.35–36, Paulus merujuk pada pengalaman orang benar dalam kitab Mazmur yang menderita demi Allah, untuk mengatakan bahwa perlawanan itu tidak berarti ditolak oleh Allah. Aa.37–39 memperlebar daftar ancaman terhadap kasih Allah untuk mengatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah”, kasih yang dikenal bukan dalam konsep umum tentang Allah, melainkan “dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (39).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma bahwa warisan sebagai anak Allah sudah terjamin di dalam Kristus. Penolakan manusia, penganiayaan, dan kuasa-kuasa yang lain tidak berdaya terhadap kasih Allah di dalam Kristus yang mengandung penerimaan, pengharapan dan kemenangan.

Makna

Paulus selalu teosentris secara kristosentris: semuanya bergantung pada Allah di dalam Kristus, bukan pada manusia. Jika keselamatan tergantung pada manusia, maka kita tidak memiliki pengharapan, karena perlawanan manusia lain, penganiayaan, dan kuasa-kuasa dunia akan terlalu kuat. Dasar pengharapan kita adalah rencana Allah “dari semula” (29) supaya kita menikmati warisan kita bersama dengan Kristus.

Apakah pengharapan itu praktis bagi orang Toraja? Apakah menjadi anak Allah dalam solidaritas dengan Kristus yang menderita dan dimuliakan adalah visi yang dapat menggerakkan kita, sehingga kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah. Aa.31–39 mengandaikan kehidupan yang susah, sama seperti Kristus, tetapi dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan sudah menikmati status sebagai anak-anak Allah. Itulah penawaran Allah. Jika visi itu tidak cocok untuk orang Toraja, siapakah yang salah, Allah atau orang Toraja?


Rom 8:12-25 Melawan dosa dalam pengharapan [20 Jul 2014]

Juli 15, 2014

Penggalian Teks

Rom 8:9–11 merupakan puncak dari penguraian Paulus tentang kuasa Roh yang mengalahkan kuasa kedagingan sehingga orang yang percaya kepada Kristus mampu hidup baru. Dalam sisa p.8, dia menguraikan berbagai implikasi. Intinya adalah bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus (15). Hal itu dinyatakan dengan pertobatan terus-menerus (a.13, “mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”), dan dengan penderitaan bersama dengan Kristus (aa.17–18). Hal-hal itu dilakukan dalam pengharapan bahwa kita akan menjadi ahli waris (17) dari dunia baru (21). Di balik semua itu, ada keyakinan bahwa rencana Allah supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:29) tidak dapat dihalangi oleh apapun (8:31–39). Jadi, kita adalah anak-anak Allah yang berada di antara yang lama (kedagingan, penderitaan) dan yang baru (Roh, anak Allah, dunia baru).

Janji Allah dalam 8:9–11 ialah bahwa kuasa kebangkitan Yesus akan berlaku oleh Roh Kudus dalam tubuh kita yang rawan dosa sehingga kita mampu hidup sesuai dengan pikiran Roh (8:5–6). Konsep Paulus tentang tubuh dan daging (yang saya simpulkan dengan istilah “kedagingan”) termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk dan cara-cara hidup yang terpola, sehingga sulit diubah hanya dengan keputusan otak. Dalam pemulihan kita dari kedagingan, Roh Kudus tidak melewati hati kita. Soal “berhutang” dalam a.12 menyangkut pandangan dan keinginan. Kedagingan membuat dosa-dosa tertentu terasa sebagai kewajiban—“bagaimana mungkin tidak marah terhadap ulah seperti itu”, “asyik, rugi banget kalau tidak ikut”, dsb. Roh membuka mata untuk melihat bahwa tidak ada gunanya ikut dalam dosa. Malahan, dosa adalah jalan menuju kematian (13a). Dengan demikian, Roh memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Berhadapan dengan pilihan, Roh menyadarkan kita kalau ada pilihan yang salah, dan memberdayakan keputusan kita untuk memilih apa yang baik. Dengan demikian, hidup yang sejati akan kita jalani (13b).

Berkat utama dari perjuangan itu adalah kenikmatan status sebagai anak Allah. Roh yang berkerja di dalam kita itu adalah Roh Kristus (8:9) yang membawa Kristus ke dalam kita (8:10). Dipimpin oleh Roh—termasuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh Roh—adalah bukti akan status itu (14). Roh Kudus mengubah total sikap kita terhadap Allah. Dia bukan lagi Sang Polisi atau Sang Guru Keras, melainkan Sang Bapa (15–16). Kita menaati dan mengikuti Allah dari kreatifitas hati, dengan kerinduan untuk menjadi serupa dengan Kristus dan berguna bagi Allah, bukan secara hukum positif.

Perjuangan melawan dosa dilakukan dalam konteks pengharapan (17). Anak-anak Allah adalah ahli waris janji-janji Allah, dan janji-janji itu disimpulkan sebagai kemuliaan bersama dengan Kristus. Kata kemuliaan menyangkut citra yang gemilang, tetapi dalam bahasa Ibrani, kata itu juga berarti berbobot. Untuk sebagian orang Toraja, kemuliaan dialami dengan paling jelas ketika ada upacara kematian yang sungguh klop. Tidak hanya bahwa citra keluarga tampil bagus, tetapi juga bahwa keluarga itu merasa berada, berbobot, jadi. Sampai orang menangkap bahwa yang ditawarkan Kristus lebih mulia dari itu, Injil akan belum berdaya dalam kehidupan mereka.

Makanya, gregetnya Injil dapat dilihat dalam kesiapan orang untuk menderita bersama-sama dengan Kristus. Dalam aa.18–25, pengharapan itu diuraikan. Seluruh ciptaan Allah mengalami keluhan dan kebinasaan, tetapi dalam penebusan anak-anak Allah, ciptaan juga akan dipulihkan (19–22). Manusia yang membawa dosa ke dalam dunia (5:12–14), sehingga penebusan anak-anak Allah dari dosa di dalam Kristus berarti pemulihan dunia juga. Tetapi untuk sementara, Roh Kudus yang memulihkan kita justru membuat kita peka terhadap kondisi dunia (23). Kita sudah mencicipi kasih Allah (5:5) dan hidup yang benar (6:20–22), sehingga kebobrokan dunia makin terasa.

Makanya, Paulus menegaskan kembali pengharapan (24–25). Tubuh kita belum dibebaskan sepenuhnya dari dosa (23b; bdk. 12–13), dan dunia belum dipulihkan. Ketekunan adalah salah satu wujud pokok iman untuk sementara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma dengan pengharapan akan dunia baru bersama dengan Kristus yang ditanam Roh Kudus supaya mereka siap untuk melawan dosa dengan kuasa Roh Kudus. Pertobatan berarti mengejar pengaharapan itu sehingga melawan dosa dalam diri.

Makna

Mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, dan penderitaan. Itulah penawaran Injil. Jika orang tidak menyukai pesan itu, maklum, mereka belum menangkap pengharapan yang ditawarkan Injil. Injil tidak menawarkan hidup agak susah baru hidup agak lebih nyaman kelak. Injil menawarkan jalan salib sekarang baru kemuliaan kelak.

Kemuliaan adalah kebutuhan manusia, dalam artian, manusia perlu merasa bahwa hidupnya berbobot. Dalam Rom 1:32, manusia saling memuji dalam kehinaan, dan dalam p.2, manusia yang berusaha benar buta terhadap dosanya sendiri. Makanya, Paulus mengatakan bahwa semua manusia kehilangan kemuliaan Allah, biar dianggap hebat oleh sesama, biar upacara kematian orang tuanya luar biasa. Di dalam Kristus, kita dibenarkan, dan kemuliaan kita di hadapan Allah mulai dipulihkan. Pertobatan yang sejati termasuk mengambil pencarian kemuliaan yang teosentris itu—mau dipuji Allah dan bukan manusia. Hal itu tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi kita perlu mencari orang lain untuk mencerminkan penilaian Allah kepada kita. Itulah salah satu tugas jemaat, walaupun tidak sempurna.

Selama kita puas dengan pujian manusia, kita tidak akan mau repot mematikan perbuatan tubuh yang berasal dari daging, artinya, perbuatan yang muncul dari dosa yang terpola dalam kehidupan kita. Satu aspek dari mematikan tubuh ialah bahwa pada titik kita mau bertindak, kita mengaminkan keingingan Roh dalam diri kita, dan percaya bahwa Roh itu mampu untuk mengalahkan keingingan daging. Tetapi, keputusan itu semakin memungkinkan semakin kita mendambakan status kita sebagai anak Allah, dan semakin kita menaruh pengharapan di tengah dunia yang susah ini pada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.


Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014]

Juli 3, 2014

Leksionari minggu ini agak sulit. Rom 7:15–26 serta Mat 11:16–19 menyangkut pembebasan dari hukum Taurat, sementara Kej 24:34–67 dan perikop kita menyangkut pernikahan. MJ menghilangkan bacaan dari Kejadian, dan mungkin dengan salah ketik menunjukkan Mzm 145 sebagai mazmur pujian. Terus, karena pengayatan kitab Mazmur sering berbeda antara versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang dimaksud oleh leksionaris adalah mulai pada ayat 11, bukan ayat 10. Yang tepat, dan akan diuraikan di bawah, ialah penafsiran Kristologis dari perikop ini.

(Untuk khotbah minggu depan, lihat postingan ini.)

Penggalian Teks

Mazmur 45 dibuat untuk pernikahan seorang raja Israel (10). Aa.2–10 memuji sang raja. Aa.11–13 menyampaikan nasihat kepada sang ratu; aa.14–16 menceritakan sang ratu masuk bersama rombongannya ke dalam istana; dan aa.17–18 berbicara tentang keturunan sang raja serta kemasyhuran namanya. (Bahasa Ibrani membedakan jenis kelamin kata pengganti orang kedua, sehingga jelas bahwa akhiran “-mu” dalam kedua ayat terakhir tidak lagi berbicara tentang sang ratu.)

Dalam aa.12–14, sang ratu dinasihati untuk berpisah dari keluarga asalnya (11), dan berpaut kepada raja (12). Raja itu akan bergairah akan isterinya, dan isterinya akan menghormati suaminya. Di dalam diri suaminya, raja yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan itu (45:7), isteri akan dihormati oleh orang lain (13). Itulah maksud yang sejati dari “suami adalah kepala isteri”; bukan bahwa suami berhak untuk menyuruh, seperti perwira kepada prajurit, tetapi bahwa suami yang mewakili identitas keluarga, sama seperti kepala mewakili identitas orang.

Keindahan pakaian sang ratu menjadi tema dalam aa.14–15a; mulai dengan sang ratu di dalam kamarnya (14), dan kemudian ketika dibawa kepada raja (15a). Dia diiringi oleh teman-teman (15b) yang meramaikan sukacita akan perjumpaan ratu dengan raja (16). Keindahan pakaiannya melambangkan kemuliaannya, dan sukacita itu menggambarkan kebahagiaan yang akan mengalir untuk seluruh kerajaan dari perjumpaan mereka.

Kebahagiaan itu termasuk keturunan yang akan melanjutkan jasa para bapa leluhur (17a), yaitu menjadi besar di bumi (17b) sehingga semua bangsa berbahagia (18). Pernikahan ini menjamin kelanjutan janji Allah kepada Abraham (bapa leluhur pertama) supaya semua bangsa diberkati.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menguraikan kebahagiaan yang terjadi ketika isteri menyatu dengan suaminya. Termasuk ketika gereja menyatu dengan Kristus, dengan mencari identitas dan kebahagiaan di dalam Dia, sehingga menjadi indah dalam perbuatan baik dan bersukacita dalam perjumpaan dengan Dia.

Makna

Penafsiran Kristologis menerapkan Mazmur ini kepada Kristus dan gereja. Tafsiran itu bukan klaim bahwa mazmur ini bermaksud untuk berbicara tentang Kristus. Mazmur ini jelas ditulis untuk pernikahan seorang raja Israel. Tetapi, PB mengatakan bahwa Kristus adalah Raja Israel, dan bahwa Dia akan menikah dengan gereja (Ef 5:32; Why 19:6–8; 21:2). Konsep seperti apa yang mau disampaikan oleh kiasan itu? Mazmur ini pasti termasuk latar belakang dari janji itu, sehingga kita menerapkannya kepada Kristus dan gereja, tanpa melupakan konteks aslinya.

Jadi, yang pertama, gereja akan mendapat jatidiri di dalam Kristus (11–13). Dia adalah identitas gereja, dan makin kita bersatu dengan Dia, makin kita akan layak dihormati. Jadi, kita dinasihati untuk melupakan identitas-identitas lama, dan berpaut kepada Kristus. Orang Toraja kristen harus memilih: mau mendapat jatidiri dan kehormatan dalam upacara kematian yang besar, atau di dalam Kristus?

Yang kedua, gereja akan berusaha untuk menjadi seindah-indahnya bagi pengantinnya, yakni Kristus. Why 19:8 memaknai pakaian yang bagus sebagai perbuatan-perbuatan yang benar, dan perbuatan itu adalah hasil dari karya Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyucikan gereja (Ef 5:25–27). Kristus adalah Raja yang rela mati karena mencintai keadilan dan membenci kefasikan, makanya gereja dengan rela hati mau hidup berpadanan dengan Injil itu. Pengharapan akan pernikahan itu mengarahkan kehidupan kita sekarang.

Yang ketiga, pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi orang-orang dari setiap bangsa di bumi (Why 21:24–26). Dalam Mzm 45:17–18, pengantin, keturunan raja, dan bangsa-bangsa merupakan tiga pihak, tetapi dalam PB, semuanya menjadi satu pihak di dalam gereja, yang terdiri atas anak-anak Abraham dalam iman, dari segala bangsa di bumi. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan untuk seluruh dunia.


Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

Juni 23, 2014

Søren Kierkegaard adalah filsuf abad ke–19 yang mengangkat perikop ini untuk menyerang gereja yang larut dalam moralisme dan rasionalisme. Bagi dia, perikop ini menunjukkan bahwa iman itu di atas etika. Setuju atau tidak, kalau Saudara merasa nyaman dengan perikop ini, Saudara belum membacanya dengan baik.

Penggalian Teks

Kisah panjang menyangkut janji keturunan bagi Abraham semestinya selesai minggu yang lalu, ketika Ismael diusir, dan Ishak menjadi pewaris tunggal Allah. Tetapi ada kejutan yang pahit bagi Abraham, dan kita yang mendengarkan kisah ini. Tanpa mengerti seperti apa kepahitan itu, kita tidak mengerti Injil, sebagaimana yang akan dijelaskan di bagian Makna.

A.1 menyatakan tujuan Allah: untuk menguji Abraham. (Kata “mencoba” itu dipakai ketika ratu negeri Syeba “menguji” Salamo, 1 Raj 10:1.) Dahsyatnya perintah Allah ditegaskan terus dalam perikop ini, dengan menekankan relasi antara Abraham dan Ishak. Dalam a.2, Ishak adalah anak Abraham, anak yang tunggal (karena Ismael sudah diusir), anak yang dikasihi Abraham. Tiba-tiba, Abraham (dan kita) terkejut dengan apa yang harus dilakukan dengan anak yang dikasihi itu: dipersembahkan. Berulang kali dalam cerita selanjutnya, Ishak disebut “anaknya” atau “anakku”, dan dia memanggil Abraham “Bapa”.

Aa.3–5 menceritakan perjalanan Abraham; tiga hari lamanya untuk ketaatannya diuji. Dalam aa.6–8, Abraham dan Ishak berjalan ke gunung: dua kali dikatakan “keduanya berjalan bersama-sama” (6, 8), untuk menegaskan kedekatan mereka. Ishak mulai bingung dan bertanya, tetapi Abraham menjawab, tanpa memberitahu bahwa anak domba yang akan disediakan adalah Ishak sendiri.

Dalam a.9, Ishak mengalami kejutan yang pahit seperti yang dialami Abraham (dan kita) dalam a.2. Mezbah didirikan, kayu disusun, dan tahu-tahu, Ishaklah yang diikat, “anaknya itu”. Kemudian, tangan Abraham bersiap untuk melakukannya (10). Tidak ada perasaan yang diceritakan, baik dari Abraham, maupun dari Ishak. Yang diceritakan hanyalah ketaatan Abraham, yang terdiri atas tindakannya, entah bagaimana kondisi batinnya.

Dalam aa.11–15, ketegangan dan kengerian kisah ini tiba-tiba hilang: Allah menghentikan Abraham dari tindakannya, dengan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya. Allah sudah melihat bahwa Abraham tidak menyayangkan anaknya yang tunggal. Abraham melihat bahwa Tuhan menyediakan.

Abraham lolos ujian, sehingga dalam 22:15–18, janji Allah kepada Abraham diteguhkan dengan sangat.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak Abraham dalam iman rela menyerahkan bahkan yang paling berharga dalam relasi mereka dengan Allah, dalam keyakinan bahwa Allah yang berdaulat atas rencana-Nya dan bahwa Dia lebih besar daripada semua pemberian-Nya.

Makna

Perintah Allah kepada Abraham dalam perikop ini tidak bisa dipahami dengan baik. Mempersembahkan anak adalah kejahatan yang biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk menarik perhatian dewa, tetapi tidak ada alasan Abraham untuk mau kehilangan anaknya. Mazmur 13 menggambarkan orang yang kehilangan akal tentang cara Tuhan dengannya, dan saya duga mazmur itu dekat dengan kondisi batin Abraham. Orang Toraja akan mengatakan kepada Abraham, “Itulah yang terbaik; Tuhan memiliki rencana yang indah; Tuhan lebih mengasihi Ishak daripada kita”, karena kita belum tahu bagaimana menangis dengan orang yang menangis. Tetapi, perintah ini tidak baik, dan tidak masuk akal.

Lebih lagi, membunuh anak pewaris janji Allah adalah sebuah kebodohan besar, tindakan tersebut seakan-akan meniadakan mukjizat kelahiran Ishak pada masa tua Abraham dan Sara. Manusia selalu yakin dengan apa yang masuk akalnya, terutama, di Toraja, menjadi PNS (pegawai lembaga mapan seperti bank atau Gereja Toraja boleh juga). Tetapi perintah Allah bisa liar sekali, di luar dugaan manusia. Yesus, dengan serius, memanggil murid-murid-Nya dari pekerjaan yang sah dan wajar sebagai nelayan dsb, untuk berkeliling memberitakan Injil. Dalam Mt 10:40–42, Dia juga memuji semua yang membantu mereka dalam pelayanan itu, padahal pelayanan itu merongrong lembaga keagamaan yang sah dan berlaku pada zaman itu. Seringkali, perintah Allah tidak akan lolos raker yang sehat, andaikan mau dimasukkan dalam program.

Dari segi Allah, yang diuji dalam perintah-Nya ialah kerelaan Abraham untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya, meskipun hal itu adalah pemberian Allah dan sarana janji Allah yang menjadi makna hidup Abraham (12). Abraham membuktikan bahwa dia lebih menghargai Allah daripada semua pemberian Allah. Makanya, Yakobus mengangkat kisah ini untuk menunjukkan bagaimana iman baru sempurna (utuh, genap) ketika dinyatakan dalam perbuatan (Yak 2:21–23). Penulis kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr 11:19). Dia begitu yakin bahwa janji Allah akan terwujud sehingga dia tidak bertanya lagi tentang kemampuan Allah untuk mewujudkan rencana-Nya, dan tidak bertanya lagi tentang harga yang harus dibayar. Dalam bahasa Paulus, dia sudah bebas dari kedagingan sehingga mampu untuk menaati Allah (Rom 6:12–23; sama seperti Yakobus, Paulus tidak membayangkan iman yang lepas dari ketaatan).

A.14b memberi petunjuk bahwa gunung di Moria itu adalah (atau diartikan sebagai) bukit Sion, tempat Bait Allah dibangun seribu tahun kemudian. Abraham menjadi orang Israel pertama yang anak sulungnya (menurut janji Allah) ditebus dengan seekor domba (a.13, bdk. Kel 34:20), dan perintis persembahan di gunung yang kudus itu.

Akhirnya, Abraham menjadi gambaran dari Allah. “Inilah Anak-Ku yang terkasih”, kata Allah Bapa ketika Yesus dibaptis. Paulus menarik kesimpulannya dalam Rom 8:32. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Kata “menyayangkan” adalah kata yang dipakai dalam terjemahan Yunani dari Kej 22:12 (LAI: “tidak segan-segan untuk menyerahkan”). Hanya, Allah tidak bisa menarik tangan-Nya dari Yesus, karena justru Yesus yang harus menjadi pengganti orang-orang berdosa. Allah melalui peristiwa yang pahit ini bukan karena diuji, tetapi karena kasih.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.