Rom 8:26-39 Terjamin dari ancaman apapun [27 Jul 2014]

Juli 25, 2014

Perikop ini begitu berharga bagi saya sehingga saya mengambil waktu di tengah libur untuk menguraikannya. Untuk kedua minggu berikutnya, blog ini akan beristirahat. Selamat melayani.

Penggalian Teks

Ayat 28 yang terkenal itu tetap terjadi dalam konteks kesusahan yang diuraikan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Maksud dari ayat itu bukan bahwa Allah mengerjakan yang baik, enak, masuk akal dsb, melainkan bahwa di tengah kesusahan yang justru tidak masuk akal, yang di dalamnya hanya Roh Kudus dapat melengkapi doa kita (26–27), ada janji yang menghibur bahwa Allah menghasilkan kebaikan. Aa.29–30 memberi penjelasan tentang kebaikan itu. Allah memilih orang untuk menjadi serupa dengan Kristus—supaya Kristus menjadi sulung di dalam keluarga besar anak-anak Allah yang juga sudah dibentuk oleh kelemahan dan kesusahan mereka (29). Sesuai dengan tujuan itu, Allah memanggil orang dalam pemberitaan Injil untuk beriman kepada Kristus; Dia menjadikan mereka anggota-anggota tubuh Kritus yang dosa-dosanya sudah diampuni (dibenarkan); Dia mengerjakan kemuliaan “imago Dei” seperti Kristus melalui kesusahan hidup sampai kesempurnaannya ketika Kristus datang kembali (30).

Siapa penerima janji tentang rencana Allah itu? Dalam a.28b, kita melihat dua segi. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah. Janji itu diperuntukkan—dan mungkin hanya masuk akal—bagi orang yang baginya Allah menjadi yang terutama. Tetapi, untungnya, kasih seperti itu tidak muncul dari kemampuan alami manusia. Kita mampu mengasihi Allah karena Allah telah memanggil kita, dan kasih itu dibentuk dengan menempuh jalan penderitaan dalam pengharapan akan pemuliaan bersama dengan Kristus.

Jadi, orang-orang ini mendambakan pemulihan segala sesuatu supaya menikmati warisan sebagai anak-anak Allah, yakni kemuliaan bersama dengan Kristus (8:17). Aa.31–39 memberi jaminan bahwa hal itu akan terjadi. Dalam aa.31–34, kematian Kristus menjadi jaminan bahwa pembenaran Allah tidak akan pernah bisa dijungkirbalikkan oleh siapapun: perlawanan, penolakan dan penghinaan manusia tidak berdaya di hadapan penerimaan Allah. Dalam aa.35–36, Paulus merujuk pada pengalaman orang benar dalam kitab Mazmur yang menderita demi Allah, untuk mengatakan bahwa perlawanan itu tidak berarti ditolak oleh Allah. Aa.37–39 memperlebar daftar ancaman terhadap kasih Allah untuk mengatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah”, kasih yang dikenal bukan dalam konsep umum tentang Allah, melainkan “dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (39).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma bahwa warisan sebagai anak Allah sudah terjamin di dalam Kristus. Penolakan manusia, penganiayaan, dan kuasa-kuasa yang lain tidak berdaya terhadap kasih Allah di dalam Kristus yang mengandung penerimaan, pengharapan dan kemenangan.

Makna

Paulus selalu teosentris secara kristosentris: semuanya bergantung pada Allah di dalam Kristus, bukan pada manusia. Jika keselamatan tergantung pada manusia, maka kita tidak memiliki pengharapan, karena perlawanan manusia lain, penganiayaan, dan kuasa-kuasa dunia akan terlalu kuat. Dasar pengharapan kita adalah rencana Allah “dari semula” (29) supaya kita menikmati warisan kita bersama dengan Kristus.

Apakah pengharapan itu praktis bagi orang Toraja? Apakah menjadi anak Allah dalam solidaritas dengan Kristus yang menderita dan dimuliakan adalah visi yang dapat menggerakkan kita, sehingga kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah. Aa.31–39 mengandaikan kehidupan yang susah, sama seperti Kristus, tetapi dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan sudah menikmati status sebagai anak-anak Allah. Itulah penawaran Allah. Jika visi itu tidak cocok untuk orang Toraja, siapakah yang salah, Allah atau orang Toraja?


Rom 8:12-25 Melawan dosa dalam pengharapan [20 Jul 2014]

Juli 15, 2014

Penggalian Teks

Rom 8:9–11 merupakan puncak dari penguraian Paulus tentang kuasa Roh yang mengalahkan kuasa kedagingan sehingga orang yang percaya kepada Kristus mampu hidup baru. Dalam sisa p.8, dia menguraikan berbagai implikasi. Intinya adalah bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus (15). Hal itu dinyatakan dengan pertobatan terus-menerus (a.13, “mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”), dan dengan penderitaan bersama dengan Kristus (aa.17–18). Hal-hal itu dilakukan dalam pengharapan bahwa kita akan menjadi ahli waris (17) dari dunia baru (21). Di balik semua itu, ada keyakinan bahwa rencana Allah supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:29) tidak dapat dihalangi oleh apapun (8:31–39). Jadi, kita adalah anak-anak Allah yang berada di antara yang lama (kedagingan, penderitaan) dan yang baru (Roh, anak Allah, dunia baru).

Janji Allah dalam 8:9–11 ialah bahwa kuasa kebangkitan Yesus akan berlaku oleh Roh Kudus dalam tubuh kita yang rawan dosa sehingga kita mampu hidup sesuai dengan pikiran Roh (8:5–6). Konsep Paulus tentang tubuh dan daging (yang saya simpulkan dengan istilah “kedagingan”) termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk dan cara-cara hidup yang terpola, sehingga sulit diubah hanya dengan keputusan otak. Dalam pemulihan kita dari kedagingan, Roh Kudus tidak melewati hati kita. Soal “berhutang” dalam a.12 menyangkut pandangan dan keinginan. Kedagingan membuat dosa-dosa tertentu terasa sebagai kewajiban—“bagaimana mungkin tidak marah terhadap ulah seperti itu”, “asyik, rugi banget kalau tidak ikut”, dsb. Roh membuka mata untuk melihat bahwa tidak ada gunanya ikut dalam dosa. Malahan, dosa adalah jalan menuju kematian (13a). Dengan demikian, Roh memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Berhadapan dengan pilihan, Roh menyadarkan kita kalau ada pilihan yang salah, dan memberdayakan keputusan kita untuk memilih apa yang baik. Dengan demikian, hidup yang sejati akan kita jalani (13b).

Berkat utama dari perjuangan itu adalah kenikmatan status sebagai anak Allah. Roh yang berkerja di dalam kita itu adalah Roh Kristus (8:9) yang membawa Kristus ke dalam kita (8:10). Dipimpin oleh Roh—termasuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh Roh—adalah bukti akan status itu (14). Roh Kudus mengubah total sikap kita terhadap Allah. Dia bukan lagi Sang Polisi atau Sang Guru Keras, melainkan Sang Bapa (15–16). Kita menaati dan mengikuti Allah dari kreatifitas hati, dengan kerinduan untuk menjadi serupa dengan Kristus dan berguna bagi Allah, bukan secara hukum positif.

Perjuangan melawan dosa dilakukan dalam konteks pengharapan (17). Anak-anak Allah adalah ahli waris janji-janji Allah, dan janji-janji itu disimpulkan sebagai kemuliaan bersama dengan Kristus. Kata kemuliaan menyangkut citra yang gemilang, tetapi dalam bahasa Ibrani, kata itu juga berarti berbobot. Untuk sebagian orang Toraja, kemuliaan dialami dengan paling jelas ketika ada upacara kematian yang sungguh klop. Tidak hanya bahwa citra keluarga tampil bagus, tetapi juga bahwa keluarga itu merasa berada, berbobot, jadi. Sampai orang menangkap bahwa yang ditawarkan Kristus lebih mulia dari itu, Injil akan belum berdaya dalam kehidupan mereka.

Makanya, gregetnya Injil dapat dilihat dalam kesiapan orang untuk menderita bersama-sama dengan Kristus. Dalam aa.18–25, pengharapan itu diuraikan. Seluruh ciptaan Allah mengalami keluhan dan kebinasaan, tetapi dalam penebusan anak-anak Allah, ciptaan juga akan dipulihkan (19–22). Manusia yang membawa dosa ke dalam dunia (5:12–14), sehingga penebusan anak-anak Allah dari dosa di dalam Kristus berarti pemulihan dunia juga. Tetapi untuk sementara, Roh Kudus yang memulihkan kita justru membuat kita peka terhadap kondisi dunia (23). Kita sudah mencicipi kasih Allah (5:5) dan hidup yang benar (6:20–22), sehingga kebobrokan dunia makin terasa.

Makanya, Paulus menegaskan kembali pengharapan (24–25). Tubuh kita belum dibebaskan sepenuhnya dari dosa (23b; bdk. 12–13), dan dunia belum dipulihkan. Ketekunan adalah salah satu wujud pokok iman untuk sementara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma dengan pengharapan akan dunia baru bersama dengan Kristus yang ditanam Roh Kudus supaya mereka siap untuk melawan dosa dengan kuasa Roh Kudus. Pertobatan berarti mengejar pengaharapan itu sehingga melawan dosa dalam diri.

Makna

Mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, dan penderitaan. Itulah penawaran Injil. Jika orang tidak menyukai pesan itu, maklum, mereka belum menangkap pengharapan yang ditawarkan Injil. Injil tidak menawarkan hidup agak susah baru hidup agak lebih nyaman kelak. Injil menawarkan jalan salib sekarang baru kemuliaan kelak.

Kemuliaan adalah kebutuhan manusia, dalam artian, manusia perlu merasa bahwa hidupnya berbobot. Dalam Rom 1:32, manusia saling memuji dalam kehinaan, dan dalam p.2, manusia yang berusaha benar buta terhadap dosanya sendiri. Makanya, Paulus mengatakan bahwa semua manusia kehilangan kemuliaan Allah, biar dianggap hebat oleh sesama, biar upacara kematian orang tuanya luar biasa. Di dalam Kristus, kita dibenarkan, dan kemuliaan kita di hadapan Allah mulai dipulihkan. Pertobatan yang sejati termasuk mengambil pencarian kemuliaan yang teosentris itu—mau dipuji Allah dan bukan manusia. Hal itu tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi kita perlu mencari orang lain untuk mencerminkan penilaian Allah kepada kita. Itulah salah satu tugas jemaat, walaupun tidak sempurna.

Selama kita puas dengan pujian manusia, kita tidak akan mau repot mematikan perbuatan tubuh yang berasal dari daging, artinya, perbuatan yang muncul dari dosa yang terpola dalam kehidupan kita. Satu aspek dari mematikan tubuh ialah bahwa pada titik kita mau bertindak, kita mengaminkan keingingan Roh dalam diri kita, dan percaya bahwa Roh itu mampu untuk mengalahkan keingingan daging. Tetapi, keputusan itu semakin memungkinkan semakin kita mendambakan status kita sebagai anak Allah, dan semakin kita menaruh pengharapan di tengah dunia yang susah ini pada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.


Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014]

Juli 3, 2014

Leksionari minggu ini agak sulit. Rom 7:15–26 serta Mat 11:16–19 menyangkut pembebasan dari hukum Taurat, sementara Kej 24:34–67 dan perikop kita menyangkut pernikahan. MJ menghilangkan bacaan dari Kejadian, dan mungkin dengan salah ketik menunjukkan Mzm 145 sebagai mazmur pujian. Terus, karena pengayatan kitab Mazmur sering berbeda antara versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang dimaksud oleh leksionaris adalah mulai pada ayat 11, bukan ayat 10. Yang tepat, dan akan diuraikan di bawah, ialah penafsiran Kristologis dari perikop ini.

(Untuk khotbah minggu depan, lihat postingan ini.)

Penggalian Teks

Mazmur 45 dibuat untuk pernikahan seorang raja Israel (10). Aa.2–10 memuji sang raja. Aa.11–13 menyampaikan nasihat kepada sang ratu; aa.14–16 menceritakan sang ratu masuk bersama rombongannya ke dalam istana; dan aa.17–18 berbicara tentang keturunan sang raja serta kemasyhuran namanya. (Bahasa Ibrani membedakan jenis kelamin kata pengganti orang kedua, sehingga jelas bahwa akhiran “-mu” dalam kedua ayat terakhir tidak lagi berbicara tentang sang ratu.)

Dalam aa.12–14, sang ratu dinasihati untuk berpisah dari keluarga asalnya (11), dan berpaut kepada raja (12). Raja itu akan bergairah akan isterinya, dan isterinya akan menghormati suaminya. Di dalam diri suaminya, raja yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan itu (45:7), isteri akan dihormati oleh orang lain (13). Itulah maksud yang sejati dari “suami adalah kepala isteri”; bukan bahwa suami berhak untuk menyuruh, seperti perwira kepada prajurit, tetapi bahwa suami yang mewakili identitas keluarga, sama seperti kepala mewakili identitas orang.

Keindahan pakaian sang ratu menjadi tema dalam aa.14–15a; mulai dengan sang ratu di dalam kamarnya (14), dan kemudian ketika dibawa kepada raja (15a). Dia diiringi oleh teman-teman (15b) yang meramaikan sukacita akan perjumpaan ratu dengan raja (16). Keindahan pakaiannya melambangkan kemuliaannya, dan sukacita itu menggambarkan kebahagiaan yang akan mengalir untuk seluruh kerajaan dari perjumpaan mereka.

Kebahagiaan itu termasuk keturunan yang akan melanjutkan jasa para bapa leluhur (17a), yaitu menjadi besar di bumi (17b) sehingga semua bangsa berbahagia (18). Pernikahan ini menjamin kelanjutan janji Allah kepada Abraham (bapa leluhur pertama) supaya semua bangsa diberkati.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menguraikan kebahagiaan yang terjadi ketika isteri menyatu dengan suaminya. Termasuk ketika gereja menyatu dengan Kristus, dengan mencari identitas dan kebahagiaan di dalam Dia, sehingga menjadi indah dalam perbuatan baik dan bersukacita dalam perjumpaan dengan Dia.

Makna

Penafsiran Kristologis menerapkan Mazmur ini kepada Kristus dan gereja. Tafsiran itu bukan klaim bahwa mazmur ini bermaksud untuk berbicara tentang Kristus. Mazmur ini jelas ditulis untuk pernikahan seorang raja Israel. Tetapi, PB mengatakan bahwa Kristus adalah Raja Israel, dan bahwa Dia akan menikah dengan gereja (Ef 5:32; Why 19:6–8; 21:2). Konsep seperti apa yang mau disampaikan oleh kiasan itu? Mazmur ini pasti termasuk latar belakang dari janji itu, sehingga kita menerapkannya kepada Kristus dan gereja, tanpa melupakan konteks aslinya.

Jadi, yang pertama, gereja akan mendapat jatidiri di dalam Kristus (11–13). Dia adalah identitas gereja, dan makin kita bersatu dengan Dia, makin kita akan layak dihormati. Jadi, kita dinasihati untuk melupakan identitas-identitas lama, dan berpaut kepada Kristus. Orang Toraja kristen harus memilih: mau mendapat jatidiri dan kehormatan dalam upacara kematian yang besar, atau di dalam Kristus?

Yang kedua, gereja akan berusaha untuk menjadi seindah-indahnya bagi pengantinnya, yakni Kristus. Why 19:8 memaknai pakaian yang bagus sebagai perbuatan-perbuatan yang benar, dan perbuatan itu adalah hasil dari karya Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyucikan gereja (Ef 5:25–27). Kristus adalah Raja yang rela mati karena mencintai keadilan dan membenci kefasikan, makanya gereja dengan rela hati mau hidup berpadanan dengan Injil itu. Pengharapan akan pernikahan itu mengarahkan kehidupan kita sekarang.

Yang ketiga, pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi orang-orang dari setiap bangsa di bumi (Why 21:24–26). Dalam Mzm 45:17–18, pengantin, keturunan raja, dan bangsa-bangsa merupakan tiga pihak, tetapi dalam PB, semuanya menjadi satu pihak di dalam gereja, yang terdiri atas anak-anak Abraham dalam iman, dari segala bangsa di bumi. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan untuk seluruh dunia.


Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

Juni 23, 2014

Søren Kierkegaard adalah filsuf abad ke–19 yang mengangkat perikop ini untuk menyerang gereja yang larut dalam moralisme dan rasionalisme. Bagi dia, perikop ini menunjukkan bahwa iman itu di atas etika. Setuju atau tidak, kalau Saudara merasa nyaman dengan perikop ini, Saudara belum membacanya dengan baik.

Penggalian Teks

Kisah panjang menyangkut janji keturunan bagi Abraham semestinya selesai minggu yang lalu, ketika Ismael diusir, dan Ishak menjadi pewaris tunggal Allah. Tetapi ada kejutan yang pahit bagi Abraham, dan kita yang mendengarkan kisah ini. Tanpa mengerti seperti apa kepahitan itu, kita tidak mengerti Injil, sebagaimana yang akan dijelaskan di bagian Makna.

A.1 menyatakan tujuan Allah: untuk menguji Abraham. (Kata “mencoba” itu dipakai ketika ratu negeri Syeba “menguji” Salamo, 1 Raj 10:1.) Dahsyatnya perintah Allah ditegaskan terus dalam perikop ini, dengan menekankan relasi antara Abraham dan Ishak. Dalam a.2, Ishak adalah anak Abraham, anak yang tunggal (karena Ismael sudah diusir), anak yang dikasihi Abraham. Tiba-tiba, Abraham (dan kita) terkejut dengan apa yang harus dilakukan dengan anak yang dikasihi itu: dipersembahkan. Berulang kali dalam cerita selanjutnya, Ishak disebut “anaknya” atau “anakku”, dan dia memanggil Abraham “Bapa”.

Aa.3–5 menceritakan perjalanan Abraham; tiga hari lamanya untuk ketaatannya diuji. Dalam aa.6–8, Abraham dan Ishak berjalan ke gunung: dua kali dikatakan “keduanya berjalan bersama-sama” (6, 8), untuk menegaskan kedekatan mereka. Ishak mulai bingung dan bertanya, tetapi Abraham menjawab, tanpa memberitahu bahwa anak domba yang akan disediakan adalah Ishak sendiri.

Dalam a.9, Ishak mengalami kejutan yang pahit seperti yang dialami Abraham (dan kita) dalam a.2. Mezbah didirikan, kayu disusun, dan tahu-tahu, Ishaklah yang diikat, “anaknya itu”. Kemudian, tangan Abraham bersiap untuk melakukannya (10). Tidak ada perasaan yang diceritakan, baik dari Abraham, maupun dari Ishak. Yang diceritakan hanyalah ketaatan Abraham, yang terdiri atas tindakannya, entah bagaimana kondisi batinnya.

Dalam aa.11–15, ketegangan dan kengerian kisah ini tiba-tiba hilang: Allah menghentikan Abraham dari tindakannya, dengan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya. Allah sudah melihat bahwa Abraham tidak menyayangkan anaknya yang tunggal. Abraham melihat bahwa Tuhan menyediakan.

Abraham lolos ujian, sehingga dalam 22:15–18, janji Allah kepada Abraham diteguhkan dengan sangat.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak Abraham dalam iman rela menyerahkan bahkan yang paling berharga dalam relasi mereka dengan Allah, dalam keyakinan bahwa Allah yang berdaulat atas rencana-Nya dan bahwa Dia lebih besar daripada semua pemberian-Nya.

Makna

Perintah Allah kepada Abraham dalam perikop ini tidak bisa dipahami dengan baik. Mempersembahkan anak adalah kejahatan yang biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk menarik perhatian dewa, tetapi tidak ada alasan Abraham untuk mau kehilangan anaknya. Mazmur 13 menggambarkan orang yang kehilangan akal tentang cara Tuhan dengannya, dan saya duga mazmur itu dekat dengan kondisi batin Abraham. Orang Toraja akan mengatakan kepada Abraham, “Itulah yang terbaik; Tuhan memiliki rencana yang indah; Tuhan lebih mengasihi Ishak daripada kita”, karena kita belum tahu bagaimana menangis dengan orang yang menangis. Tetapi, perintah ini tidak baik, dan tidak masuk akal.

Lebih lagi, membunuh anak pewaris janji Allah adalah sebuah kebodohan besar, tindakan tersebut seakan-akan meniadakan mukjizat kelahiran Ishak pada masa tua Abraham dan Sara. Manusia selalu yakin dengan apa yang masuk akalnya, terutama, di Toraja, menjadi PNS (pegawai lembaga mapan seperti bank atau Gereja Toraja boleh juga). Tetapi perintah Allah bisa liar sekali, di luar dugaan manusia. Yesus, dengan serius, memanggil murid-murid-Nya dari pekerjaan yang sah dan wajar sebagai nelayan dsb, untuk berkeliling memberitakan Injil. Dalam Mt 10:40–42, Dia juga memuji semua yang membantu mereka dalam pelayanan itu, padahal pelayanan itu merongrong lembaga keagamaan yang sah dan berlaku pada zaman itu. Seringkali, perintah Allah tidak akan lolos raker yang sehat, andaikan mau dimasukkan dalam program.

Dari segi Allah, yang diuji dalam perintah-Nya ialah kerelaan Abraham untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya, meskipun hal itu adalah pemberian Allah dan sarana janji Allah yang menjadi makna hidup Abraham (12). Abraham membuktikan bahwa dia lebih menghargai Allah daripada semua pemberian Allah. Makanya, Yakobus mengangkat kisah ini untuk menunjukkan bagaimana iman baru sempurna (utuh, genap) ketika dinyatakan dalam perbuatan (Yak 2:21–23). Penulis kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr 11:19). Dia begitu yakin bahwa janji Allah akan terwujud sehingga dia tidak bertanya lagi tentang kemampuan Allah untuk mewujudkan rencana-Nya, dan tidak bertanya lagi tentang harga yang harus dibayar. Dalam bahasa Paulus, dia sudah bebas dari kedagingan sehingga mampu untuk menaati Allah (Rom 6:12–23; sama seperti Yakobus, Paulus tidak membayangkan iman yang lepas dari ketaatan).

A.14b memberi petunjuk bahwa gunung di Moria itu adalah (atau diartikan sebagai) bukit Sion, tempat Bait Allah dibangun seribu tahun kemudian. Abraham menjadi orang Israel pertama yang anak sulungnya (menurut janji Allah) ditebus dengan seekor domba (a.13, bdk. Kel 34:20), dan perintis persembahan di gunung yang kudus itu.

Akhirnya, Abraham menjadi gambaran dari Allah. “Inilah Anak-Ku yang terkasih”, kata Allah Bapa ketika Yesus dibaptis. Paulus menarik kesimpulannya dalam Rom 8:32. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Kata “menyayangkan” adalah kata yang dipakai dalam terjemahan Yunani dari Kej 22:12 (LAI: “tidak segan-segan untuk menyerahkan”). Hanya, Allah tidak bisa menarik tangan-Nya dari Yesus, karena justru Yesus yang harus menjadi pengganti orang-orang berdosa. Allah melalui peristiwa yang pahit ini bukan karena diuji, tetapi karena kasih.


Kej 21:8-21 Janji Allah membuka mata [22 Jun 2014]

Juni 19, 2014

Apakah perikop ini menyangkut seorang perempuan dalam kesulitan, atau rencana Allah? Tanpa menolak yang pertama itu, tafsiran ini mencoba melihat apa yang dilakukan Allah. Kata kunci di sini adalah janji.

Penggalian Teks

Nama Ismael tidak disebutkan dalam perikop ini, dia selalu disebut “anak”. Dia bukan lagi anak kecil. Dalam 17:25, dia berumur 13 tahun; Ishak lahir kurang lebih setahun kemudian, dan dalam cerita ini baru disapih. Ismael adalah usaha Abraham menurut daging untuk memiliki anak (Gal 4:23), dan usaha itu langsung menimbulkan konflik (16:5–6). Namun, Allah juga berjanji tentang dia, dan janji itu yang dapat diimani Hagar.

Nama “Ishak” berarti “dia tertawa”. Abraham tertawa tidak percaya ketika diberitahu bahwa Sara akan melahirkan (17:17); Sara tertawa tidak percaya ketika mendengar ucapan yang sama dari malaikat Tuhan (18:12); akhirnya Sara tertawa kegirangan ketik Ishak lahir (21:6). Kata “tertawa” itu juga dipakai untuk bermain. Sukacita Sara ketika Ishak disapih (8) ternyata diganggu dengan melihat Ishak bermain dengan anak Hagar (9). Kita sudah tahu bahwa anak itu cukup disayangi oleh Abraham (17:18), dan Sara sepertinya takut kalau Ishak juga dekat dengan kakaknya, dan tidak menjadi pewaris tunggal. Bahasanya meminta Abraham mengusir mereka kasar—perhatikan bahwa dia tidak memakai nama baik anak maupun ibu, dia hanya menyebut kedudukan Hagar yang rendah (10). Dan ternyata Abraham tidak mau mengusir Ismael (11).

Motivasi Sara mungkin saja kurang manusiawi, tetapi Tuhan setuju dengan keputusannya. Warisan Abraham akan dihitung melalui Ishak saja (12). Tetapi janji Tuhan tentang anak Hagar itu memberanikan Abraham untuk mengusir mereka, walaupun tindakan itu bisa berakibat maut bagi mereka (13).

Hagar pergi dalam kondisi tidak jelas (“mengembara”), dan ketika bekal air habis, dia habis akal, dan hanya mau menghindar dari penderitaan menyaksikan kematian anaknya (14–16). Adalah menarik bahwa Tuhan mendengar suara anak (dua kali disebutkan dalam a.17), meskipun suara Hagar yang nyaring. Ada janji-sentrisme dalam kitab Kejadian, di mana Allah memberi perhatian pada orang-orang (termasuk perempuan, misalnya Sara) yang berkaitan dengan janji-Nya kepada Abraham. Dalam kasus ini, janji itu menyangkut anak Hagar sebagai anak Abraham, bukan Hagar.

Namun, Hagar tetap diberi peran. Allah menyuruh dia untuk bergerak, keluar dari rasa mengasihani diri dan berurusan kembali dengan anak itu (18a). Perintah itu ditopang dengan janji seperti yang disampaikan kepada Abraham: anak itu akan menjadi bangsa yang besar (18b). Hagar harus bertindak dalam pengharapan bahwa janji itu akan digenapi, meskipun mereka kelihatan kehabisan air. Tetapi, ternyata penglihatan Hagar salah: Allah membuka matanya untuk melihat sebuah sumur, sehingga selamatlah nyawa mereka (19), dan anak itu bisa berkembang dan mendapat isteri (20–21).

Maksud bagi Pembaca

Allah akan membuka mata kita untuk melihat pemeliharaan-Nya bilamana kita menangkap dan menerima janji-janji-Nya.

Makna

Janji Allah menjadi penggerak utama dalam kitab Kejadian. Abraham mau Ismael tinggal, tetapi janji tentang Ishak lebih utama. Sara mau Ismael diusir, tetapi hal itu tidak menghambat janji Allah tentang dia. Bahkan kehabisan air minum tidak membatalkan janji itu.

Hagar pergi dalam kesusahan karena dia tidak tahu, atau tidak percaya akan, janji tentang Ismael itu. Bersamaan dengan menerima janji dari malaikat Allah, matanya dibuka. Apakah itu dua hal, atau memang percaya pada janji Allah akan membuka mata?

Janji Allah itu berkaitan dengan rencana-Nya untuk menyelamatkan dunia dalam Yesus Kristus. Janji yang akan membuka mata kita ialah janji-janji di dalam Injil. Sama seperti janji kepada Abraham menimbulkan pemisahan dalam keluarganya, bergabung dengan umat yang memegang janji Yesus dapat menimbulkan pemisahan, bahkan di dalam keluarga (Mt 10:34–35). Tujuan dari janji itu diringkaskan Yesus dalam Mt 6:33: Kerajaan Allah dulu, baru kebutuhan hidup. Roma 6 menyampaikan janji pelepasan dari kuasa dosa bagi orang yang sudah menjadi satu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya dalam baptisan. Janji itu membuka mata kita untuk melihat persediaan Allah supaya kita hidup baru dan mencari Kerajaan Allah itu.


Kej 1:1-2:4 Membentuk dan mengisi ciptaan Allah [15 Jun 2014] (Hari Trinitas)

Juni 11, 2014

Hari ini dalam kalender ekumenis adalah Hari Trinitas, doktrin yang begitu diwaspadai sehingga belum masuk kalender Gereja Toraja, padahal sudah mengikuti leksionari ekumenis. Oleh karena itu, saya menafsir Kejadian 1 sesuai dengan tema itu. Tentu, hal itu merupakan tafsiran teologis, dilihat dari perspektif PB, dan bukan klaim tentang seberapa jauh Tritunggal ditangkap oleh penyusun kitab Kejadian. Tujuannya untuk menjelaskan cara beriman yang bersifat Tritunggal, bukan untuk menguraikan masalah-masalah filosofis soal itu.

Penggalian Teks

Dalam terang PB, kitab Kejadian mulai dengan Tritunggal dalam ketiga ayat pertama: Allah (Bapa) adalah penggerak (1), Roh Allah ada di bumi yang belum berbentuk untuk menjadi daya penciptaan (2), dan Firman yang akan memberi bentuk dan struktur pada penciptaan itu (3). Struktur yang diberikan oleh Firman itu yang menonjol: tiga hari menciptakan kerangka dengan memisahkan air dari air, sampai ada daratan dengan tanaman; tiga hari mengisi kerangka itu dengan penerang dan makhluk hidup. Penciptaan itu bukan bagian dari Allah, tetapi karena dibentuk sesuai dengan Firman-Nya, oleh kuasa Roh-Nya, maka penciptaan itu juga tidak lepas dari Allah. Tritunggal menunjukkan bagaimana Allah dapat transenden (melampaui segala sesuatu) dan imanen (dekat dan terlibat) sekaligus.

Yang terakhir diciptakan ialah manusia (26–28). Mereka diciptakan untuk menjadi gambar Allah di bumi, yaitu, untuk mewakili kuasa dan pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Tentu, hal itu terkait dengan berkat untuk beranakcucu, cara manusia mengisi bumi. Tetapi binatang juga diberkati demikian (22), dan soal jenis kelamin tidak disebutkan. Jadi, kita melihat di sini bahwa tugas manusia akan dikerjakan dalam kebersamaan. Hal itu adalah cermin dari Tritunggal, di mana Allah menaklukkan bumi yang belum berbentuk melalui Firman dan kuasa Roh yang bekerja sama. Manusia akan melanjutkan karya Firman Allah dengan menaklukkan dan mengatur hal-hal yang masih belum berbentuk, sebagaimana dilihat dalam pasal 2 (taman Eden hanya sebagian kecil bumi). Makanya, ketika manusia gagal karena dosa, Allah mengutus Firman-Nya menjadi manusia, yang, dikuasai oleh Roh Kudus, menaklukkan penyakit, dosa, iblis dan maut, untuk mendatangkan ciptaan baru (bdk. Mzm 8:7; Ibr 2:8).

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya kita melanjutkan karya Firman-Nya untuk membentuk dan mengisi ciptaan-Nya. Jika hal itu dipahami sebagai tugas Israel dan raja Israel, sekarang kita mengemban amanat itu di dalam Kristus, Sang Firman dan Sang Gambar Allah.

Makna

Menangkap transendensi Allah penting supaya kita sadar bahwa kepentingan Allah jauh di atas kepentingan kita. Berhala disukai karena meladeni kemauan kita, tetapi Allah yang benar memikirkan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi, kalau Allah hanya transenden, kita akan mencari kuasa ilahi yang lebih dekat dan mengerti kondisi kita, seperti nenek moyang. Tetapi, Allah menciptakan dunia dengan Firman-Nya, dan Firman itu telah menjadi manusia dan bergumul dengan kondisi kita. Dia berada sebelum Abraham, dan menjadi nenek moyang yang sejati dalam iman. Kemudian, kuasa Roh Kudus diberikan kepada kita di dalam Kristus, sehingga kita tidak harus mencari kesaktian melalui kerasukan, jimat, dsb. Tanpa pemahaman fungsional tentang Tritunggal, jemaat akan jatuh ke dalam pemberhalaan, entah menurunkan Allah dalam bayangan mereka sehingga hanya sedikit di atas bumi sehingga mereka menyembah berhala, entah mencari kuasa di luar Allah dalam hal-hal yang dianggap terlalu sepele untuk Allah yang Mahatinggi.

Jika aa.26–27 menunjukkan bahwa manusia mengenal persekutuan sama seperti Allah (bdk. kata “Kita”), Yohanes 14–17 memaparkan bagaimana di dalam Kristus Sang Firman, kita dibawa masuk ke dalam persekutuan Tritunggal itu. Keteraturan (syalom) yang dibentuk Allah Tritunggal dari kekacaubalauan menjadi tugas kita juga dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Membaptis dalam nama Tritunggal adalah sentral dalam tugas itu, karena dengan demikian manusia menjadi bagian dari gereja sebagai wadah pembaruan (Mt 28:16–20). Kehidupan gereja juga diwarnai oleh Tritunggal: gereja berada karena kasih karunia Kristus yang melaksanakan kasih Allah bagi dunia, sehingga kita menikmati persekutuan dalam Roh Kudus yang mewujudkan kasih itu dalam persekutuan kita (2 Kor 13:13).


Kis 2:1-21 Pencurahan Roh Kudus supaya banyak yang berseru dan selamat [8 Jun 2014] (Hari Pentakosta)

Juni 4, 2014

Penggalian Teks

10 hari setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus yang dijanjikan itu turun ke atas jemaat perdana yang telah berkumpul. Roh Kudus turun dengan cara yang mengesankan. Sesuai dengan rencana Allah untuk pemulihan Israel (1:6) yang akan mencakup seluruh dunia (1:8), Roh itu muncul seperti api yang memurnikan atau menyucikan (a.3; bdk. Luk 3:16). Hanya, pemurnian ini bukan dalam rangka penghukuman (seperti dalam Luk 3:9), melainkan dalam rangka pembaruan. Hal pertama yang diperbaharui adalah keterpisahan antar-kelompok karena bahasa (aa.4–11; hal kedua muncul di akhir pasal 2 ini). Lukas menunjukkan bahwa Injil akan melampaui bahkan batas-batas budaya, dan membawa kesatuan di dalam keanekaragaman. (1 Kor 12:3–13 menunjukkan hal yang sama, dalam kaitan dengan karunia masing-masing.)

Tetapi, ternyata peristiwa apa saja dapat menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda. Bila banyak orang tercengang atas kejadian yang terjadi (a.12), ada yang lain yang hanya mendengar suara orang mabuk (a.13). Sepertinya, mereka tidak memperhatikan bahasa yang mereka kenal, tetapi bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal, yang kedengaran sebagai bunyi kosong saja. Demikianlah karya Roh Kudus disalahtafsirkan oleh mereka.

Namun, tidak ada yang paham, dan tidak mungkin ada yang paham, jadi Petrus menjelaskan apa yang sedang terjadi. Petrus mengambil Yoel 2:28–32 sebagai nasnya. Nas itu menceritakan rencana Allah untuk “hari-hari terakhir”, yaitu setelah Allah menyelamatkan Israel dari hukuman-Nya (Yoel 2:1–17). Pencurahan Roh Kudus yang disaksikan oleh orang banyak menjadi bukti bahwa waktu penggenapan telah tiba. Roh Kudus membawa nubuat, penglihatan dan mimpi kepada seluruh umat, yang tua dan yang muda, laki-laki dan perempuan (17–18). Suara Tuhan akan jelas bagi umat-Nya, dan visi Tuhan bagi dunia akan ditangkap oleh umat-Nya. Dalam konteks pengutusan Yesus (1:8), suara dan visi itu akan memampukan jemaat untuk menjadi saksi Yesus sampai ke ujung bumi. Pencurahan Roh Kudus itu disertai mukjizat dan tanda yang digambarkan secara kiasan sebagai hal-hal yang mengguncang bumi (19–20). Hal-hal itu sudah tampak dalam kematian dan kebangkitan Yesus, dan juga akan tampak dalam pelayanan para rasul. Semuanya itu akan menjadi pertanda bahwa hari Tuhan akan datang, hari yang daripadanya hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan (21). Ayat itu menjadi pokok dalam khotbah Petrus selanjutnya: dia mau membuktikan bahwa Tuhan yang kepada nama-Nya orang harus berseru untuk selamat itu adalah Yesus, yang telah naik ke surga dan telah dibuat Allah menjadi Tuhan dan Kristus (2:36). Dengan demikian, hari Tuhan akan digenapi ketika Yesus datang kembali (1:11).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mengingatkan kita tentang siapakah kita sebagai jemaat: umat Allah di antara pencurahan Roh Kudus dan kedatangan Kristus kembali, yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Yesus supaya banyak orang berseru kepada nama-Nya dan diselamatkan ketika Dia datang kembali.

Makna

Identitas menyangkut relasi dan cerita. Seseorang memiliki identitas sebagai anggota keluarga, anggota suku dan berbagai kelompok yang lain (termasuk relasi dengan tempat). Tetapi relasi-relasi itu juga memiliki sejarah, dan menyangkut harapan akan masa depan. Jadi, orang Toraja tradisional mendapat identitas sebagai keturunan keluarga tertentu, yang diwakili dalam silsilah, dengan harapan untuk menjadi orang dewasa yang terhormat sesuai kasta, dan setelah meninggal dunia menjadi nenek moyang yang membawa berkat bagi keturunan lagi.

Orang Israel memiliki identitas sebagai anggota umat Israel yang terlibat dalam rencana keselamatan Israel, mulai dengan janji Allah kepada Abraham. Pencurahan Roh Kudus membawa perubahan dalam identitas itu, karena rencana Allah itu masuk tahap baru, termasuk perluasan umat Allah untuk mencakup semua orang yang percaya kepada Yesus. Bagi kita yang menerima Kristus dan bukan dari latar belakang Yahudi, perubahannya lebih besar lagi. Kristus menjadi Tuhan kita, sehingga jemaat-Nya semestinya menjadi kelompok utama dalam identitas kita, bahkan di atas keluarga. Kemudian, pengharapan kita tertuju pada rencana keselamatan itu, bukan pada usaha keluarga dsb. Semua itu berarti ada pengarahan baru dalam kehidupan kita sehari-hari (nubuat), penglihatan baru tentang dunia, dan impian baru tentang masa depan. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk hal itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.