Rom 13:8-14 Kasih dalam Pengharapan

Februari 8, 2010

Satu pola agama, seperti yang saya pahami tentang aluk to dolo (agama nenek moyang orang Toraja), adalah ketaatan kepada sistem aturan tingkah laku (pemali alias tabu) dan ritus untuk mendatangkan berkat (kesejahteraan) dan mencegah kutuk (musibah). Mungkin ada jemaat yang menerapkan pola yang sama. Jika kesepuluh Firman ditaati dan ibadah rajin diikuti ada harapan bahwa hidup akan berjalan mulus; jika tidak ditaati ada ketakutan bahwa suatu musibah akan terjadi. Perikop ini menunjukkan peran yang sebenarnya dari aturan hidup dan sumber berkat yang sebenarnya.

Roma 1-11 menguraikan “kemurahan Allah” yang menjadi dasar perubahan hidup (12:1). Kemurahan itu bukan bahwa Allah masa bodoh terhadap kesalahan dan dosa kita, melainkan bahwa dalam Kristus hukuman (kutuk) dari dosa kita sudah ditanggung Kristus (3:25), dan bahwa dalam Roh Kudus dosa sedang dimatikan (8:13). Lebih lagi, ciptaan Allah yang di bawah perbudakan kebinasaan (dikutuk) akan dimerdekakan (8:21).

Atas dasar itu, perubahan hidup dikerjakan dalam konteks tubuh Kristus (12:3-8), dan intinya adalah kasih (12:9; 13:8). Kasih itu digambarkan dalam 12:9-13:7, termasuk kasih kepada musuh dan hormat kepada pemerintah. Dalam perikop kita, hubungan kasih dan hukum Taurat dijelaskan. Mengasihi sesama berarti memenuhi hukum Taurat (13:8). Sebaliknya, kesepuluh Firman menguraikan kasih (13:9-10). Kesepuluh Firman serta “firman lain manapun” (tentu sebagaimana ditafsirkan dalam ajaran Yesus dan juga oleh Paulus, seperti 12:9 dst tadi) tetap memberitahu batas-batas tingkah laku kita, karena jika kita langgar kita tidak lagi bertindak dalam kasih. Tetapi kita taat bukan untuk mencegah musibah melainkan demi kebaikan sesama, bukan karena takut melainkan karena kasih.

Jika motivasi untuk berbuat baik adalah kasih kepada sesama, apa motivasinya untuk kasih? Jawaban Paulus adalah “karena kamu mengetahui keaadaan waktu sekarang”, yaitu bahwa keselamatan lebih dekat (13:11). Keselamatan itu menyangkut akhir zaman, saat ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (8:21). Untuk banyak jemaat soal akhir zaman sepertinya terasa kurang konkret, karena menyangkut masa depan sedangkan mereka hidup dalam masa kini saja. Tetapi bagi Paulus akhir zaman adalah sangat praktis, karena merupakan puncak dari sesuatu yang sudah berjalan. Kutuk sudah diambil dari orang percaya sekarang juga, karena sudah ditanggung Kristus pada salib. Sekarang juga “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (8:28). Penderitaan dan pergumulan bukan lagi pertanda kutuk melainkan pertanda persekutuan dengan Kristus (8:17), yang dipakai Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (8:29). Keselamatan pada akhir zaman adalah puncak dari berkat Allah kepada kita, yang terjamin karena Allah “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (8:32). Dengan sikap optimis bahwa kita sedang diberkati Allah itu, kita disuruh untuk menggantikan perbuatan kegelapan dengan senjata terang. Selain ada perlawanan antara gelap dan terang, ada juga antara perbuatan dengan senjata. Perbuatan bisa pasif dalam artian terbawa arus, sedangkan senjata menunjukkan bahwa ada niat untuk melawan arus.

Untuk memakai senjata terang, keinginan harus terkendali (aa.13-14). Hukum yang kesepuluh ialah “jangan mengingini”, dan hal-hal yang disebut dalam a.13 menunjukkan keinginan yang tidak lagi pada batasnya, tidak lagi sopan dan tertib. Caranya untuk hidup tertib dijelaskan dalam a.14. Mengenakan Kristus mengulang konsep mengenakan perlengkapan senjata terang dari a.12 (“sebagai perlengkapan senjata terang” adalah tambahan oleh LAI dalam a.14). Perlengkapan senjata adalah janji-janji Allah dalam Kristus dan hidup yang makin serupa dengan Kristus, sehingga mengenakan perlengkapan itu adalah mengenakan Kristus. Hal itu berarti bahwa harapan kita tertuju pada Kristus sehingga keinginan-keinginan kita akan diatur oleh harapan itu. Dengan demikian kita bisa melawan dosa dalam kedagingan (“tubuh” menerjemahkan sarx yang merujuk kepada keinginan-keinginan yang melawan Allah) dengan tidak berpikir-pikir kapan kita bisa berdosa lagi.

Jika kita masih terperangkap dalam pemahaman “agamawi”, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri melalui keagamaan kita, maka kita perlu mengingat bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang mengubah hidup kita menjadi berkat. Jika sudah diingat, mari kita mewujudkan pemahaman itu dengan kasih kepada sesama bukan sebagai amal / jaminan melainkan demi kebaikan sesama.


Titus 1:10-16 “Tegoran yang tegas”

Februari 1, 2010

Perikop ini mengganggu saya, dengan bahasa seperti “harus ditutup mulutnya” (a.11) dan “tegorlah mereka dengan tegas” (a.13). Saya tidak terlalu suka menunjukkan sikap-sikap seperti itu, dan saya langsung curiga terhadap orang yang suka dengan sikap seperti itu. Kepekaan saya sepertinya bertentangan dengan firman Allah. Adakah resolusinya?

Perikop ini bagian dari surat Paulus kepada Titus yang sudah ditinggalkan di Kreta untuk mengatur kepemimpinan untuk jemaat-jemaat di sana (1:5). Salah satu syarat untuk seorang pemimpin adalah “sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran [yang sehat] dan sanggup meyakinkan [menegor] penentang-penentangnya” (1:9). (Kata dasar untuk “meyakinkan” sama dengan kata dasar untuk “tegorlah” dalam bahasa Yunani.) Sanggup belum tentu berarti melakukan, tetapi keadaan di Kreta ternyata menuntut tegoran. Aa.10-14 menguraikan berbagai masalah. Aa.10-11 menunjukkan adanya ajaran palsu yang diedarkan, dan lebih lagi diedarkan untuk membawa keuntungan bagi pengedar. A.12 menunjukkan bahwa karakter suku Kreta kurang bagus, seperti diakui salah satu tokohnya sendiri. Citra suku itu juga kurang bagus di mata berbagai penulis yang lain. Maksudnya bukan untuk mengecap semua orang Kreta tanpa kekecualian, tetapi menunjukkan budaya yang menjadikan jemaat di sana rawan terhadap pengajar palsu.

Khususnya, ajaran palsu itu berpegang pada unsur-unsur ajaran Yahudi, seperti sunat (a.10) dan berbagai dongeng Yahudi dan aturan manusia (a.14) sebagai keharusan untuk orang Kristen. Menurut Paulus, pegangan-pegangan itu berasal dari akal dan suara hati yang najis (a.15). Maksudnya bahwa kenajisan menjadi kaca mata yang melaluinya semuanya dilihat, karena saya menduga orang lain adalah sama seperti saya. Jika saya adalah pembohong, saya akan dengan mudah menafsir perkataan orang sebagai pembohong. Jika saya adalah pencuri, saya akan sedapat mungkin menafsir tindakan orang sebagai usaha mencuri. Sikap seperti itu kemudian bermuara pada usaha untuk membuat banyak aturan. Jika saya diilhami hawa nafsu terhadap perempuan, maka saya akan menuntut supaya perempuan itu tidak menunjukkan kulitnya, bahkan rambutnya, bahkan sebaiknya tidak keluar dari rumah sama sekali, supaya jangan saya diperhadapkan dengan hawa nafsu saya sendiri. Pengajar yang dihadapi di Kreta mengambil banyak unsur ajaran mereka dari orang Yahudi, tetapi dasarnya akal dan suara hati yang najis itu. Dalam a.16 dikatakan bahwa orang-orang ini mengaku saleh, tetapi perbuatan-perbuatan mereka berbicara lebih jujur tentang keadaan hati mereka yang sebetulnya.

Artinya bahwa ajaran itu membahayakan dan sangat layak ditentang. Mau tidak mau, orang seperti saya harus siap untuk menentang ajarannya dan juga orangnya. Saya tidak boleh “asal damai”, karena banyak jemaat biasa yang bisa jadi terancam oleh kediaman saya. Firman Allah harus saya taati, walaupun tidak terasa cocok dengan sifat saya.

Namun, cara menentangnya juga harus tepat. “Ditutup mulutnya” (a.11) tidak merujuk pada tindakan aparat, karena pada saat itu gereja tidak memiliki kuasa pemerintahan apa-apa, melainkan merujuk pada usaha untuk mencegah orang-orang itu diberi kesempatan. Caranya melalui pemimpin-pemimpin jemaat yang akan ditunjuk Titus. (Pada saat itu belum ada gedung gereja sehingga jemaat berkumpul di rumah orang.) Dan sifat pemimpin termasuk “tidak angkuh, bukan pemberang…bukan pemarah” (1:7; pemarah merujuk kepada orang yang suka menyelesaikan masalah dengan berkelahi). Jadi, perikop ini tidak mendukung orang yang suka menegor orang lain, yang mencari masalah. Semestinya, kesukaan pemimpin jemaat adalah “memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2:1). Tujuannya “supaya mereka menjadi sehat dalam iman” (a.13); menentang ajaran yang palsu adalah untuk mendukung tujuan itu.

Jadi, ternyata kepekaan saya ada gunanya juga. Tafsiran semula belum tepat, dan saya didorong untuk menafsir dengan lebih teliti. Hal itu penting, karena ada sebagian pemimpin yang terlalu keras. Tetapi mungkin sebagian besar pembaca condong ke terlalu lembut. Jemaat-jemaat kita kemungkinan tidak separah jemaat-jemaat di Kreta, tetapi selalu ada yang mau mengacaukan jemaat. Jemaat kita akan lemah jika kita tidak berani menentang apa yang perlu ditentang.


Ibr 12:18-29 Ibadah yang berkenan

Januari 19, 2010

Inti seruan yang dibahas minggu yang lalu adalah seruan untuk mengenal Allah berdasarkan jalan yang disediakan Kristus. Penguraian berikut dalam kitab Ibrani meneguhkan seruan itu dalam berbagai hal. Pasal 11 adalah daftar yang terkenal tentang saksi-saksi iman yang berpuncak pada Kristus dalam p.12. Topik itu beralih ke pentingnya menerima didikan Allah sebagai anak. Kemudian, dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (aa.14-17), ada pentingnya tidak menolak anugerah Allah seperti Esau. Perikop kita memberi alasan untuk seruan itu (perhatikan kata “sebab” pada awal a.18).

Dalam bagian ini penulis kembali ke perbandingan yang dikembangkan dalam pp.3-4 antara Israel dalam pengembaraan di padang gurun dengan jemaat dalam pengembaraan di dunia. Peringatan di sana ialah bahwa ada banyak dari mereka yang berbagian dalam anugerah Allah tetapi tidak sampai pada tujuan yang dijanjikan Allah karena ketidaktaatan (4:1-3). Di sini perbandingannya antara titik awalnya setelah ditebus, masing-masing dilambangkan oleh sebuah gunung. Setelah Israel dibebaskan dari Mesir mereka berkumpul di gunung Sinai, seperti yang diceritakan dalam Kel 19. Pemandangan pada saat itu sangat menakutkan, menegaskan betapa Allah itu kudus sehingga berbahaya bagi umat yang najis seperti Israel (aa.18-20). Sebaliknya, gunung Sion di sorga dalam aa.21-24 memberi gambaran yang sangat menyemangatkan. Penulis menggambarkan kumpulan malaikat yang meriah dan orang-orang benar yang karena disempurnakan luput dari penghakiman Allah. Semua itu karena Yesus sudah mengadaan perjanjian baru oleh darah-Nya (a.24; bnd. p.8 & 9:15). Titik awal kita dalam Kristus adalah penuh harapan.

Jika darah Kristus berbicara, jangan janji itu ditolak, lebih lagi karena Kristus yang menyampaikannya berasal dari sorga, bukan dari bumi seperti Musa (a.25). Untuk mendukung itu penulis mengembangkan suatu implikasi dari kuasa dahsyat Allah. Di gunung Sinai bumi digoncangkan, tetapi ada janji dalam Hag 2:6 bahwa Allah akan menggoncangkan bumi dan langit. Ayat itu merujuk pada tujuan Allah untuk menempatkan bangsa-bangsa di bawah kedaulatan-Nya (Hag 2:7), tetapi penulis Ibrani hanya mengambil satu aspek, yaitu bahwa dalam janji itu penggoncangan tinggal satu lagi. Jika tidak ada penggoncangan lagi, maka yang dapat digoncangkan sudah diubah menjadi tak tergoncangkan (aa.26-27). Artinya bahwa kerajaan yang dijanjikan adalah mantap, kokoh, sangat layak disyukuri dengan rasa hormat dan takut (a.28).

Kalimat terakhir mungkin mengagetkan kita, karena sepertinya kembali ke gambaran gunung Sinai, daripada gambaran gugung Sion dsb. Tetapi sebenarnya penulis tidak menyampaikan dua gambaran Allah yang bertolak belakang. Allah adalah Allah yang dahsyat, hakim semua orang. Oleh karena itu, ada harapan bahwa Dia dapat menghanguskan semua yang jahat, bertentangan dengan kehendak Allah (aa.26-27). Gunung Sion lebih menjanjikan bukan karena keadilan Allah diganti dengan anugerah-Nya, melainkan karena dalam Kristus keadilan dan anugerah-Nya berjumpa. Orang-orang benar disempurnakan dalam darah Kristus sehingga dapat berdiri di hadapan Sang Hakim (aa.23-24).

Jadi, jika pada dasarnya penulis mau supaya pembaca tetap berpegang pada Kristus, dalam a.28 kita melihat respons yang diperlukan oleh yang berpegang. Intinya bersyukur. Kita bersyukur karena Kristus sudah membawa kita kepada tempat yang menyemangatkan; kita sudah dianggap sebagai umat Allah yang berada di sorga memuji Dia. Kita juga bersyukur karena tujuan kita adalah kerajaan yang kokoh, tak tergoncangkan. Bersyukur adalah cara beribadah yang berkenan. Dengan bersyukur kita menghormati Allah dan menunjukkan bahwa kita kagum atas semua yang Dia lakukan.


Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Januari 13, 2010

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.


Selamat Natal 2009

Desember 19, 2009

Posting ini yang terakhir untuk 2009. Saya akan memulai posting kembali pada pertengahan Januari dengan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja untuk tahun 2010. Terima kasih kepada semua yang telah membaca, berkomentar, menyampaikan dukungan, dan terumata yang memanfaatkan materi dalam bog ini untuk pelayanan dan secara pribadi. “Hits”-nya (terhitung setiap kali halaman blog diakses) kurang lebih seribu per bulan atau di atas 30 per hari.

Semoga minggu-minggu Adven dan Natal mengingatkan kita semua tentang harapan kita dalam Yesus Kristus. Hal itu saya ucapkan lebih lagi untuk para pelayan yang pada musim ini menjadi begitu sibuk sehingga makna Natal terpuruk di bawah kelelahan. Semoga jerih payah dalam ladang Tuhan tidak sia-sia.

Sampai berjumpa kembali dalam Tahun baru.


1 Yoh 1:1-10 Persekutuan yang sejati

Desember 13, 2009

Sebagai pengantar, aa.1-4 menegaskan bahwa Firman yang ada sejak semula telah disaksikan oleh yang menyebut diri “kami”, yakni penulis dan para saksi mata Yesus selama Dia hidup di dunia dan juga pada kebangkitan-Nya (mis. Yoh 20:27). Dengan demikian penulis menguraikan maksud Yoh 1:14. Firman hidup (bnd. Yoh 1:1-3) telah menjadi sedemikian rupa sehingga dapat didengar, dilihat, diraba (a.1). Hal itu tidak masuk banyak akal. Suasana pluralisme mau menjadikan agama sekadar seperangkat gagasan dan nasihat. Suasana rasionalisme juga mau menjadikan klaim agama sebagai kiasan saja tentang prinsip-prinsip umum. Tetapi berita Adven dan Natal adalah bahwa Firman hidup itu berbentuk dalam sosok Yesus Kristus.

Oleh karena itu ada kesaksian dan pemberitaan (a.2). Kesaksian itu bukan dalam pola, “Dengarkan ide kami yang lebih hebat daripada ide orang lain” melainkan “Lihatlah Yesus Kristus, Sang Hidup Kekal yang datang dari Allah Bapa-Nya.” Ada kejadian, peristiwa, yaitu kehidupan Yesus. Manusia tidak dapat mengetahui tentang sebuah peristiwa tanpa pemberitaan. Jadi, kebenaran tentang Yesus hanya dapat diketahui orang jika diberitahukan kepadanya.

Hasil dari pemberitaan itu adalah persekutuan (a.3). Pintu masuk persekutuan itu adalah persekutuan dengan para rasul, karena berbagi dalam berita itu. Tetapi berita itu menyangkut persekutuan mereka dengan Kristus yang dilihat dan didengar itu, dan persekutuan Kristus sebagai Anak Allah adalah dengan Allah Bapa. Jadi, yang ditawarkan dalam berita itu adalah persekutuan dengan Allah, yang tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan Anak-Nya Kristus. Membagikan berita itu meneguhkan sukacita penulis sendiri (a.4).

Implikasi dari berita itu menjadi isi seluruh surat ini, dan aa.5-10 merupakan dasar yang menguraikan makna dari tema persekutuan itu. Mulai a.6 kata “kami” menjadi kata “kita”—hal itu adalah tafsiran karena bahasa Yunani tidak membedakan “kami” dari “kita” (sama seperti bahasa Inggris “we”), tetapi tafsirannya tepat. Pembaca termasuk dalam tawaran persekutuan itu.

Dalam a.5, Allah yang dengan-Nya kita bersekutu adalah terang tanpa kegelapan. Jadi, persekutuan dengan Dia berarti hidup sesuai dengan kebenaran itu (“kebenaran” pada akhir a.6 menerjemahkan kata aletheia, “truth”, apa yang sebenarnya, bukan kata dikaiosune, “righteousness”, tingkah laku yang sesuai dengan norma).

Kemudian, a.7 agak mengejutkan. Yang pertama, hasil dari hidup dalam terang adalah persekutuan dengan sesama orang percaya, bukan (langsung) dengan Allah. Berulangkali dalam surat ini kasih kepada sesama dan Allah akan dikaitkan erat. Kejutan kedua ialah bahwa darah Kristus akan menyucikan kita dari kecemaran dosa. Mungkin sepintas lalu kita beranggapan bahwa artian “hidup dalam terang” adalah hidup tanpa dosa sama seperti Allah. Tetapi hidup dalam terang berarti penyucian dari dosa, bukan ketiadaannya.

Makna hidup dalam terang diperjelas dalam aa.8-10, yaitu keterbukaan. Jika kita menyangkali bahwa kita adalah orang berdosa, kita menipu diri (a.8) dan secara tersirat menyatakan bahwa penilaian Allah tentang kita adalah dusta (a.10). Bentuk jamak (“kita”) memperingatkan kita bahwa masalahnya bukan hanya bahwa secara perorangan kita mau tampil baik, tetapi juga bahwa budaya mendorong kita untuk bertindak demikian.

Jadi, hidup dalam terang berarti mengaku dosa yang ada. Kita mengaku kepada Allah yang mengampuni kita. Tetapi dari kosa kata yang dipakai (homologeo) pengakuan itu dilakukan di depan umum, seperti umat Israel dengan Yohanes Pembaptis (Mk 1:5), para pengguna sihir di Efesus (Kis 19:18), dan jemaat seorang kepada yang lain (Yak 5:16). Paling sedikit, dalam kebaktian kita mengaku bersama-sama bahwa kita adalah orang berdosa—hal itu bukan formalitas saja tetapi pernyataan yang mendasar. Semestinya kita juga siap mengaku bersalah kepada orang yang kepadanya kita berdosa. Lebih sulit lagi adalah mengaku dosa yang tersembunyi kepada orang lain supaya disinari Allah yang adalah terang.

Itulah cara hidup dalam terang. Allah telah membuka diri kepada kita dalam Kristus dan menawarkan persekutuan. Daripada berpura-pura tampil tanpa kecemaran, siapkah kita membuka diri kepada-Nya supaya disucikan dan mengalami persekutuan yang sejati?


Zef 3:9-20 Hukuman dan Keselamatan

Desember 7, 2009

Zefanya bernubuat tentang hukuman Allah terhadap seluruh bumi, baik bangsa-bangsa (p.2) maupun Israel (3:1-7). Keduanya akan dihukum Allah (3:8).

Namun, di balik hukuman itu ada keselamatan, baik untuk bangsa-bangsa (aa.9-10) maupun Israel (aa.11-13). Hukuman itu berupa pemurnian. Untuk bangsa-bangsa pemurnian itu merupakan pembersihan bibir sehingga mereka beribadah kepada Tuhan, bukan pada dewa-dewi (a.9). Untuk Israel pemurnian itu merupakan penyingkiran orang-orang yang ria congkak (a.11). Yang luput dari penyingkiran itu adalah yang rendah hati dan lemah (a.12) sehingga berbuat baik (a.13). Kata-kata “yang rendah hati” dan “lemah” itu sering merujuk kepada kaum orang yang miskin atau tak berdaya, sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Sikap itulah yang cocok dengan Kerajaan Allah (bnd. Mt 5:3).

Di dalam Kristus hukuman yang merupakan pemurnian itu bertahap dua. Pada tahap pertama Allah menjatuhkan hukuman di atas Kristus, sehingga ada umat dari bangsa-bangsa yang telah berbalik dari dewa-dewi untuk beribadah kepada Allah, sehingga bibirnya sedang dibersihkan. Itulah kedatangan Kristus yang pertama. Tahap kedua terjadi ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu akan ada penyingkiran orang-orang yang menolak keselamatan Allah dan tidak berlindung pada Kristus. Kedua kedatangan Kristus itulah yang dirayakan pada masa Adven. Peringatan di sini ialah bahwa yang diterima Allah bukan orang yang aktivis atau berjabatan di lembaga gereja, melainkan orang yang sadar dalam hati bahwa mereka tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah, dan dalam kerendahan hati itu bertobat dari kejahatan.

Oleh karena keselamatan itu, ada pujian yang seru dan penuh semangat kepada Tuhan. Ada seruan untuk memuji Allah (a.14), disertai alasan (a.15), perkataan yang menguatkan (aa.16-18a), dan janji dari Allah (aa.18b-20). Keadaan yang diandaikan di sini adalah Israel dalam pembuangan (“membawa kamu pulang”, a.20). Pembuangan adalah hukuman yang perlu disingkirkan itu (a.15) dan alasan Sion / Yerusalem menjadi takut dan lesu (a.16). Yang menjadi dasar pujian dan pengharapan adalah Tuhan. Dia adalah raja di antara umat-Nya (a.15) dan pahlawan yang memberi kemenangan (a.17). Dia juga bergirang atas dan mengasihi umat-Nya (a.18).

Nubuatan ini digenapi dalam Sang Israel yang sejati, yakni Kristus. Pembuangan Israel tercakup dalam kematian-Nya, dan kepulangan Israel tercakup dalam kebangkitan-Nya (bnd. Nubuatan keselamatan). Hukuman maut (dibuang dari hadirat Allah) sudah disingkirkan karena ditanggung Kristus. Musuh dosa dan maut telah dikalahkan. Tentu, penggenapan nubuatan ini juga bertahap dua—malapetaka dan kejahatan belum dilenyapkan. Namun, dalam Kristus kita telah dibawa pulang, dan pada masa Adven ini selayaknya kita memuji Allah yang telah dan akan menyelamatkan kita.


Ams 31:10-31 Memuji (perempuan yang ber-)hikmat

November 30, 2009

Kitab Amsal banyak menggambarkan hikmat sebagai perempuan, sehingga cocok jika kitabnya diakhiri dengan gambaran perempuan yang mengejawantahkan hikmat itu. Lebih lagi, p.31 seluruhnya berasal dari seorang perempuan, yakni ibu dari raja Lemuel (31:1; John Goldingay, New Bible Commentary, menunjukkan bahwa setiap kali ada perubahan pengarang ada judulnya, jadi a.10 tidak memulai koleksi yang baru). Jadi, seorang perempuan yang bijak menggambarkan hikmat dalam diri seorang perempuan.

Gambaran itu disampaikan dalam 22 ayat, dengan setiap ayat dimulai dengan huruf berikut dalam abjad Ibrani (pola itu disebut akrostik). Pola itu menunjukkan keutuhan penguraian topik. Dalam syair ini ada macam-macam hal. Istri itu berharga (a.10), relasi mereka sebagai suami-istri baik (aa.11-12), dia terlibat dalam usaha-usaha kecil di luar rumah (aa.13-19) sehingga keluarga makmur (aa/24-25), dia berbuat baik kepada masyarakat (a.20) dan kepada rumah tangganya (aa.21-22) termasuk membawa hormat bagi suaminya di masyarakat (a.23). Bukan hanya itu, dia adalah sumber hikmat dan pengajaran dalam perkataan (a.26) dan kehidupan rumah tangga (a.27).

Gambaran ini dapat menimbulkan berbagai reaksi. Dalam berbagai budaya perempuan itu akan dinilai terlalu bebas, sedangkan dalam budaya Australia akan ada yang mempersoalkan bahwa hanya laki-laki yang berperan dalam bidang politik (a.23) sementara perempuan berpusat di rumah. Mungkin juga ada perempuan yang merasa kurang mampu ketimbang perempuan yang serba mampu ini. Semua reaksi ini salah tafsir, menurut saya. Maksud gambaran ini bukan untuk menentukan pola atau standar untuk kaum perempuan, melainkan untuk menggambarkan hikmat. Gambaran itu menjadi contoh konkrit (contoh terpanjang dalam kitab Amsal) yang secara tersirat membuktikan gunanya hikmat dalam semua bidang kehidupan, sehingga hikmat dimuliakan.

Jika ada pesan tentang perempuan, intinya supaya hikmat juga diakui dan dipuji dalam diri seorang perempuan. Itulah tema aa.28-31. Anak-anaknya menghargai dia dan suaminya memuji dia dengan sangat (aa.28-29). Penutur syair mengusulkan supaya perempuan dihargai karena memiliki dasar hikmat, yaitu takut akan Tuhan, bukan karena nilainya sebagai hiasan bagi suami (a.30). Akhirnya ada satu-satunya perintah dalam syair ini, yaitu supaya hikmat dalam perempuan diakui bukan hanya oleh keluarga melainkan juga oleh masyarakat, atau lebih tepatnya oleh kaum laki-laki yang berkuasa (a.31).

Kita rugi kalau kita menganggap bahwa hanya satu dua kelompok yang memiliki hikmat, misalnya pendeta atau cendekiawan. Hikmat layak dipuji di mana saja ia terdapat sebagai pemberian Tuhan yang baik.


Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

November 22, 2009

Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.

Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.

Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.

Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.

Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.