1 Tim 3:14-16 “Gereja Tiang Kebenaran” (29 Jan 2012)

Januari 24, 2012

Kadangkala mengetahui bahasa aslinya berguna. Nas yang pendek ini adalah satu contoh. Terjemahan “kebenaran” tidak salah, hanya dengan mudah akan ditafsir lain dari maksudnya, lebih lagi jika konteks tidak diperhatikan. Bagaimanapun juga, nas ini menguatkan semua yang melayani di dalam gereja.

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada Timotius untuk menguatkannya dalam tugas yang digambarkan dalam 1:3-7, yaitu, menghadapi berbagai ajaran sesat. Dalam rangka itu, Paulus memberi gambaran singkat tentang ibadah dalam jemaat (p.2), kemudian tentang sifat-sifat para pemimpin (p.3), kemudian tentang ajarannya sendiri dan respons Timotius terhadapnya (p.4). Perikop kita adalah sisipan yang menegaskan kembali dasar untuk nasihat Paulus (seperti juga dalam 1:15; 2:3-7).

Jadi, dalam aa.14-15a Paulus kembali berbicara tentang maksudnya menulis. Andaikan dia tidak berhalangan, Paulus akan memilih untuk langsung mengunjungi jemaat di Efesus. Menulis menjadi pengganti kehadirannya.

Yang dianggap pokok oleh Paulus disampaikan dalam aa.15: “bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”. Frase itu memang menyimpulkan pp.2-3 tadi. Kata “keluarga” menerjemahkan kata oikos yang pada dasarnya berarti rumah, tetapi sudah dipakai dalam 3:4 & 12 untuk penghuni rumah, artinya, rumah tangga atau keluarga. Tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud istilah oikos adalah orang-orang yang tinggal bersama, bukan keluarga besar yang mungkin tersebar. Jemaat pada saat itu masih berkumpul di rumah-rumah, tetapi bahasa “oikos Allah” berbicara lebih luas, tentang jemaat yang dalam rangka iman hidup bersama. Sebagaimana dilihat dalam 3:4 tadi, penilik berfungsi sebagai pemimpin (orang tua) dalam “rumah” jemaat itu.

Tentang oikos Allah itu, Paulus menambahkan dua deskripsi lagi. Yang pertama adalah “jemaat dari Allah yang hidup”. Kata “jemaat” (asli ekklesia) berarti sidang, dan justru berasal dari konteks sekuler (seperti Kis 19:39). Ekklesia Allah adalah orang-orang yang berkumpul di sekitar Allah dalam ibadah, seperti Israel berkumpul di sekitar Kemah Suci. Ekklesia itu berbeda dari sidang rakyat karena pusatnya adalah Allah yang hidup.

Oikos dan ekklesia Allah itu yang disebut “tiang penopang dan dasar kebenaran”. Kata “kebenaran” di sini menerjemahkan kata aletheia, apa yang sesungguhnya, bukan dikaiosune, tingkah laku yang benar. Dari a.16, jelas bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Kristus, kebenaran yang justru terancam oleh pengajar sesat. Jika keluarga dan jemaat itu kacau, kebenaran itu akan goyang atau runtuh. Tafsiran saya tentang maksud Paulus ialah bahwa kebenaran tentang Yesus itu menjadi kabur, baik di dalam jemaat maupun ke luar, sedangkan Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (2:4).

A.16 menyampaikan isi kebenaran itu. Kebenaran itu disebut sebagai rahasia yang agung. Bahasa “rahasia” dalam Ef 3:3 & 9 berarti sesuatu yang dulunya dirahasiakan tetapi sekarang dinyatakan. Rahasia itu menyangkut “ibadah”, artinya, bukan sekadar ibadah bersama tetapi bagaimana kita berhubungan dengan baik dengan Allah. Kuncinya adalah Kristus, Kristus yang menjadi manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani di antara bangsa-bangsa, dan akan kembali dalam kemuliaan. Karena a.16 mengutip himne yang puitis, beberapa tafsiran tadi butuh penjelasan. “Menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” merujuk pada seluruh pelayanan-Nya. “Rupa manusia” menerjemahkan kata daging, dan merujuk pada kemanusiaan-Nya yang sejati, bukan sekadar kemiripan. “Dibenarkan dalam Roh” paling jelas jika dibandingkan dengan Rom 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”. Yesus dihukum oleh manusia, tetapi dalam kebangkitan-Nya oleh Roh Kudus Allah menyatakan bahwa Yesus yang benar, bukan Pilatus dan imam-imam Yahudi. “Menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat” agak kabur, tetapi cocok dengan kenaikan-Nya ke surga. Dengan demikian, kedua yang berikut juga terurut: setelah kenaikan Yesus diberitakan di antara bangsa-bangsa, dan pemberitaan itu menjadi cara orang percaya, karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom 10:17). Pelayanan Timotius tentu terletak di sini. Jemaat adalah orang yang sudah mendengar dan percaya, dan pada gilirannya mau memberitakan Kristus supaya orang lain juga percaya. Dengan demikian, mengikuti urutan, “diangkat dalam kemuliaan” dikaitkan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, di mana Dia akan dilihat dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak semua penafsir sepaham, karena syair himne ini tidak selalu jelas. Tetapi yang dimaksud secara keseluruhan adalah bahwa kebenaran tentang Yesus yang memungkinkan kita menyembah Allah, dan kebenaran itu akan menjadi jelas ketika jemaat hidup sesuai dengan kebenaran itu. Dalam ayat-ayat berikutnya, Paulus langsung berbicara tentang ajaran sesat yang sedang mengancam jemaat di Efesus (p.4).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya Timotius dikuatkan dalam tugas pelayanannya dengan mengingat tempat jemaat dalam rencana Allah sebagai penopang kebenaran yang agung tentang Kristus. Walaupun tugas kita tidak persis sama dengan Timotius, kita semua berperan dalam menguatkan atau melemahkan jemaat, sehingga kebenaran tentang Kristus menjadi lebih jelas atau lebih kabur.

Makna

Tidak kebetulan bahwa Paulus menempatkan pelayanan Titus di tengah riwayat karya Kristus. Kebenaran tentang Kristus bukan pertama-tama sebuah rumusan, misalnya tentang kasih Allah atau anugerah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah dilakukan Allah di dalam Kristus. Dasarnya adalah inkarnasi, bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia ini sebagai teladan dan saudara yang berbagi dalam pengalaman kita di dunia. Kemudian, ada dua pasangan. Yang pertama, Roh Kudus menyatakan bahwa Yesus benar, dan Dia disambut oleh malaikat-malaikat di surga. Yang kedua, berita kebangkitan disampaikan kepada bangsa-bangsa, dan diterima di dunia. Dengan demikian, Yesus dijunjung tinggi baik di surga maupun di bumi. Karena diterima di surga, kemuliaan Yesus tidak terancam oleh kekacauan jemaat, hanya, kebenaran itu akan menjadi kabur bagi bangsa-bangsa yang mendengar pemberitaan itu dari jemaat yang kacau.

Kembali, dari artian kata aslinya dan a.16, kebenaran di sini bukan “isi kehendak Allah” bagi manusia, melainkan berita tentang apa yang dilakukan Allah. Paulus di sini tidak mengklaim bahwa gereja adalah dasar keberesan masyarakat, tetapi bahwa gereja adalah dasar kejelasan kebenaran tentang Kristus bagi semua orang. Motivasi untuk perbaikan hidup di sini adalah bahwa kekacauan hidup mengaburkan berita itu, sesuatu yang tidak akan diinginkan jika kita mencintai Yesus dan mengagumi karya-Nya.

Kebenaran di sini juga bukan bahwa Allah memelihara hidup kita sehari-hari. Hal itu benar, tetapi di sini Paulus berbicara tentang Kristus dari inkarnasi sampai kedatangan kembali. Memang yang dilihat orang adalah kehidupan jemaat, tetapi hal itu hanya berguna kalau menunjuk kepada Kristus yang kita sembah.


Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Januari 20, 2012

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?


1 Raj 2:1-4 Ketaatan karena janji Allah (15 Jan 2012)

Januari 10, 2012

Blog ini bermaksud untuk membantu Pembaca menyampaikan khotbah ekspositori, yaitu, khotbah yang amanatnya diambil dari teks dan disampaikan dengan teks sebagai bahan utama. Tentu, blog ini sama sekali bukan khotbah jadi, karena khotbah ekspositori juga harus menyambung dengan konteks jemaat pendengar, sedangkan blog ini hanya akan menyambung dengan pembaca yang berpendidikan teologi (formal atau non-formal) dan siap berkonsentrasi. Bagi rekan-rekan yang pernah menangkap visi khotbah ekspositori, jangan patah semangat bahwa firman Tuhan lebih berguna daripada pelampiasan kegelisahan hati pengkhotbah (alternatif biasa jika bukan teks yang menjadi materi utama). Jangan menerima kebohongan Iblis bahwa firman Tuhan terlalu rumit/susah/kontroversial untuk disampaikan, tetapi usahakan supaya firman itu yang muncul dengan jelas dalam penyampaian Saudara.

Sedemikian jauh pelampiasan kegelisahan hati saya. (Di dalam bagian pengantar dan pemaknaan, saya merasa bebas untuk mengeluarkan pendapat pribadi, karena namanya blog, bukan khotbah.)

Penggalian Teks

1 Raj 2:1-11 menyampaikan pesan Daud yang terakhir kepada Salomo, anaknya yang akan menggantikan dia menjadi raja Israel (1). Aa.3-4 merujuk pada sejarah keselamatan, yaitu perjanjian Allah dengan Israel di bawah Musa dan perjanjian Allah dengan Daud, dan kita dengan muda akan menggali pesan yang membangun daripadanya. Tetapi di sekitar perikop kita, kita diperhadapkan dengan kemelut peralihan kuasa. Pasal 1 menceritakan usaha Adonia, sepertinya anak tertua Daud yang masih hidup (bdk. 2 Sam 3:2-4: Amnon dibunuh Absalom, Kileab tidak pernah disebutkan lagi, Absalom dibunuh Yoab), untuk memperebutkan takhta Israel. Makanya, pesan pertama Daud adalah supaya Salomo kuat dan berani, karena jalannya tidak akan mulus (2). Dalam aa.5-9 ada daftar orang yang menurut Daud perlu dibereskan. Itulah yang dilakukan Salomo dalam 2:13-46 (dengan tambahan Adonia serta beberapa pendukungnya) sehingga kerajaannya kukuh (“kokoh”, 2:12 & 46 merupakan inklusio). Makna dari konteks yang kurang enak bagi kita manusia modern ini akan dibahas di bawah.

Aa.3-4 merupakan satu kalimat. Intinya adalah pesan untuk melakukan kewajibannya dengan setia kepada Tuhan. Tuhan (YHWH) adalah Allahnya; artinya, Tuhan tidak berada untuk dia, tetapi sebaliknya dia diangkat sebagai raja untuk melakukan berbagai tugas bagi Tuhan. Cara kewajiban itu dilakukan diuraikan dengan serangkaian frase yang biasa untuk menggambarkan ketaatan. Istilah-istilah ini merujuk pada hal yang sama, yaitu, apa “yang tertulis dalam hukum Musa”, tetapi masing-masing melihat hukum Musa dari perspektif yang berbeda. “Jalan” (derek) menunjukkan bahwa hukum Musa memberi umat Allah pola hidup yang memiliki tujuan. “Ketetapan” (khuqah, dari kata dasar khqq yang berarti mengukir) menyiratkan bahwa hukum itu tidak berubah-ubah. “Perintah” (mitswah) menyiratkan bahwa Tuhan yang menyuruh umat-Nya. “Peraturan” (misypat) berasal dari kata syapat yang berarti mengadili atau memerintah. Sebagian peraturan dalam Hukum Taurat bersifat kasuistik, berdasarkan keputusan Allah terhadap kasus tertentu (mis., Bilangan 36). Hukum Tuhan berfungsi untuk mengatur umat-Nya dengan baik, mencegah kekacauan. “Ketentuan” (‘edut) mengandung unsur kesaksian. Dalam konteks perjanjian Allah dengan Israel, ketentuan merupakan bagian Israel merespons keselamatan Allah. Hukum Musa, dilihat dari berbagai perspektif, menjadi pedoman bagi raja Israel dalam menunaikan tugasnya sebagai raja.

Kemudian, ada dua tujuan, yang pertama masih dalam a.3, yang kedua dalam a.4. Tujuan pertama adalah sukses. Kata “beruntung” merujuk pada hasil kejelian, kejelian yang diasah oleh hukum Musa itu. Tujuan kedua menyangkut rencana Allah. Janji kepada Daud (2 Sam 7) tentang selalu ada keturunannya di takhta kerajaan Israel itu bersyarat, yaitu ketaatan raja “dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa” (bdk. Ul 6:5). Dalam perjanjian Allah dengan Daud tentang kerajaan, raja menjadi contoh utama ketaatan umat Allah. Jadi, ketaatan Salomo adalah cara dia mengambil bagian dalam rencana Allah.

Maksud bagi Pembaca

Maksud Daud kepada Salomo adalah supaya dia menjadi raja yang sejati. Dasarnya adalah hukum Musa, prakteknya dalam konteks perebutan kuasa termasuk tindakan tegas terhadap berbagai pemberontak.

Pembaca (Israel pasca-pembuangan) dituntun untuk menantikan raja yang taat, yang memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan, sambil pembaca juga menerapkan hukum itu. Bagi kita, Raja itu telah datang, dan memperlihatkan dan menafsir hukum Musa dengan sempurna sehingga janji Allah digenapi, karena Kristus telah menjadi Raja kerajaan Allah selama-lamanya. Di dalam Kristus, kita juga diajak untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, mengambil bagian kita dalam rencana Tuhan.

Makna

Saya menafsir aa.3-4 sebagai pesan kepada Salomo, yang dapat dilihat sebagai raja Israel, sehingga pesannya dapat dilihat sebagai model untuk Mesias, yaitu Kristus. Jadi, baru di dalam Kristus kita melihatnya sebagai pesan untuk kita.

Mengapa saya mengambil cara yang begitu repot? Mengapa Salomo tidak ditafsir langsung sebagai contoh orang beriman? Ada tiga alasan yang muncul untuk sementara.

1) A.4 tidak jelas khusus untuk keturunan Daud. Andaikan, misalnya, kita semua mau dianggap raja kecil dalam keluarga, pelayanan atau tempat kerja, tidak ada janji yang menyangkut anak-anak laki-laki kita menggantikan kita dalam posisi itu. Anak-anak kita tidak akan menjadi kepala kantor kita, tidak akan menggantikan kita sebagai bendahara kelompok anu. Tetapi mungkin kita mencari janji yang sejajar, misalnya, janji keselamatan (bkd. Kis 2:39, “kepada anak-anakmu”). Jadi, janji kepada Salomo diartikan sebagai janji kepada orang yang percaya kepada Kristus. Bagaimana? Justru itu yang mau saya jelaskan di atas. A.4 adalah janji bahwa rencana keselamatan Allah itu terjamin, sehingga kita boleh menerima janji keselamatan dalam Kristus dengan keyakinan penuh.

2) Aa.3-4 adalah janji bersyarat. Syaratnya menyangkut bukan bagaimana mendapatkan janji itu melainkan bagaimana tetap menikmatinya. Syarat itu juga bukan soal hidup tanpa pernah berdosa melainkan hidup dengan hati terarah kepada Allah. Apakah keturunan Daud memenuhi syarat itu? Tidak, para raja rata-rata menuntun umat Israel untuk membelakangi Allah, makanya Israel dibuang dan akhirnya menantikan Mesias yang akan memenuhi syarat itu. Apakah kita memenuhi syarat itu? Juga tidak, makanya kita lari kepada Sang Mesias Yesus yang telah menjadi manusia taat itu. Di luar Kristus, khotbah kita terancam jatuh ke dalam moralisme (kalian harus berusaha lebih keras berbuat baik, karena jelas kurang selama ini) atau kelonggaran (dikatakan “dengan segenap hati dan jiwa”, tetapi pokoknya ada usaha sedikitlah). Di dalam Kristus, aa.3-4 menjadi prinsip kita karena itulah jalan yang ditempuh Kristus sendiri, dan kita mengikuti-Nya dalam kuasa Roh Kudus dengan terus-menerus disegarkan oleh pengampunan atas kekurangan kita. Kristus, keturunan Salomo, yang telah memenuhi syarat itu, sehingga kita dapat menuju ketaatan itu dalam suasana anugerah, bukan ketakutan.

3) Salomo adalah bagian dari rencana Allah yang bertujuan, bukan contoh prinsip keagamaan yang statis. Dalam keagamaan statis (seperti agama-agama suku), dunia paling riil adalah dunia mitos yang tidak pernah berubah, dan manusia mengikuti pola nenek moyangnya dalam menerapkan pola kekal itu. Dalam Alkitab, Allah memiliki rencana sehingga cara-Nya dengan manusia berkembang dari zaman ke zaman. Dalam keagamaan statis, para dewa pelindung bertugas untuk menjamin kesuburan tanah, hewan dan manusia. Dalam Alkitab, manusia berada untuk rencana Allah, bukan sebaliknya. Aa.3-4 bukan suatu petunjuk tentang pemali (tabu) kristiani—lakukan ini supaya beruntung dan tidak kena malapetaka, melainkan salah satu tahap dalam rencana Allah untuk memulihkan dunia dari segala malapetaka dan dosa.

Pada hemat saya, mengajarkan rencana Allah akan membangun iman, sehingga ada landasan yang kuat untuk ketaatan yang bertahan, karena bahkan pada waktu kita susah atau gagal, rencana Allah tetap berlaku. Juga, kita akan taat bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk menjadi bagian dalam apa yang dilakukan Allah, sesuatu yang jauh lebih hebat, agung dan besar daripada kepentingan pribadi, karena menyangkut Allah.

Tentu, ketaatan tetap pokok dalam perikop kita, dan kelima istilah dalam a.3 dapat diartikan dalam terang Yesus. Jelas Yesus menunjukkan jalan hidup. Kemudian, Dia tidak mengubah hukum Taurat yang terukir itu, tetapi memberinya makna baru sehingga penerapannya tidak selalu sama dengan Israel, tetapi prinsipnya sama. Dia memiliki otoritas Allah dalam menyuruh para murid-Nya. Banyak ajaran-Nya disampaikan melalui kasus, seperti perempuan dalam Yohanes 8 dan sebagian cerita mujizat, yang selalu membawa orang kepada kehidupan yang lebih teratur. Seluruh riwayat hidup-Nya, sampai kematian dan kebangkitan-Nya, menjadi kesaksian tentang kemanusiaan yang sejati. Lebih lagi, di dalam Yesus kita melihat bahwa Allah tidak hanya menyuruh, tetapi Allah sendiri telah menempuh jalan itu. Apakah hidup kita terarah, konsisten, jelas taat kepada Allah, teratur, dan membawa kesaksian?

Akhirnya, sedikit tentang cara Daud dan Salomo berkuasa. Alkitab bukan tidak kritis terhadap Daud & Salomo, misalnya, 1:6 mempersalahkan cara Daud mendidik anaknya Adonia, dan kemungkinan p.2 ini mau menyampaikan bahwa Salomo melebihi mandat ayahnya dan mulai menjadi seperti raja-raja di sekitarnya (bdk. 1 Sam 8:10-18 yang banyak digenapi pada zaman Salomo). Namun, perlu diingat bahwa pada saat itu tidak ada pembagian kuasa antara eksekutif dan pengadilan. Raja merangkap semuanya. Hanya Taurat sebagai undang-undang yang membatasinya. Jadi, kita perlu memahami p.2 dalam rangka keadilan (mis., 2:9a): raja Daud menyampaikan beberapa vonis yang kemudian diterapkan oleh Salomo. Bahwa sistem modern lebih aman, tidak saya ragukan. Tetapi, kritik kita terhadap gaya Daud dan Salomo akan lebih meyakinkan andaikan kita menjalankan disiplin gerejawi dengan lebih tegas. Disiplin gerejawi adalah cara dalam Perjanjian Baru untuk menangani kejahatan yang mengancam kesucian umat Allah, sejajar dengan menghukum penjahat dalam Taurat. Tetapi karena kita terlalu memanjakan balok-balok dalam mata kita sehingga tidak mau dikeluarkan, kita tidak pernah sampai mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita (Mt 7:5—ternyata Yesus tidak membayangkan bahwa tidak menghakimi akan ditafsir sebagai membiarkan dosa). Walaupun saya tetap tidak seluruhnya nyaman dengan cara Daud dan Salomo, ketegasan mereka perlu saya pelajari.


2 Sam 7:18-29 Doa berdasarkan Janji Allah (8 Januari 2012)

Januari 5, 2012

2 Sam 7 sarat dengan janji Allah. Dalam 2 Sam 7:1 Israel di bawah Daud sudah menikmati keamanan. Tetapi dalam 2 Sam 7:4-16 suatu janji lagi disampaikan kepada Daud bahwa raja Israel selalu akan berasal dari keturunannya. Dengan demikian, perjanjian Allah dengan Israel diperkaya untuk mencakup kondisi baru Israel sebagai kerajaan (ingat bahwa Daud hanya raja kedua, dan permintaan Israel untuk mendapat seorang raja cukup dipersoalkan dalam 1 Sam 8-12). Janji kepada Daud ini yang menjadi landasan nubuatan-nubuatan mesianis yang digenapi di dalam Kristus. Oleh karena itu, tanggapan Daud yang disampaikan dalam perikop kita menjadi contoh bagi kita bagaimana menanggapi janji Allah di dalam Kristus.

Penggalian Teks

Keempat bagian doa ini cukup jelas: A) respons Daud terhadap janji Allah (18-21); B) implikasinya bagi Allah dan Israel (22-24); B’) doa supaya janji Allah itu terwujud (25-26); dan A’) doa supaya keluarga Daud diberkati.

Daud masuk ke dalam Bait Allah, di hadapan Allah (18a). Dia memanggil Allah “tuanku Yahweh” (‘adonai YHWH; LAI “Tuhan ALLAH”), dan menyebut dirinya “hamba-Mu”. Pemakaian kata itu menunjukkan baik keakraban (YHWH adalah nama pribadi Allah) maupun kerendahan hati (tuan/hamba) di hadapan Allah. Dia menyebut baik tindakan Allah selama itu (18) maupun janji ke depan (19), sambil mengakui bahwa tidak ada apa-apa di dalam dia atau keluarganya (bait, secara harfiah “rumah”, tetapi bisa merujuk pada isi rumah, yaitu keluarga, kemudian pada keturunan, seperti a.27) sehingga dia diperhatikan demikian. Jika Allah telah menyampaikan firman (dibber) yang luar biasa kepada Daud (19), Daud mengakui bahwa tidak ada perkataan (dibber) yang berguna dari dia kepada Allah (20a). Sebaliknya, Tuhan yang mengenal (yd’) hamba-Nya (20b), dan yang memberitahukan (yd’ hifil) perkara ini kepada hamba-Nya (21). Semuanya bergantung pada hati (keputusan, maksud) Allah.

Kemudian, Daud menguraikan implikasinya (22, “Sebab itu”). Jika Tuhan telah melakukan “perkara yang besar” (gedula, 21), hal itu berarti bahwa Tuanku Yahweh adalah besar. Hal itu dijelaskan dalam a.22 dalam rangka perbandingan: tidak ada yang seperti Dia dan tidak ada Allah selain Dia. Di sini untuk pertama kalinya Daud memakai kata “Allah” (‘elohim), yang dipakai secara umum untuk ilah-ilah. Keunikan Allah merembes pada umat-Nya, karena hanya mereka yang ditebus dengan dikeluarkan dari Mesir dan ditempatkan di tanah Kanaan (23). Dengan demikian, Allah telah membuat nama bagi-Nya. Jadi, kebesaran Allah di depan bangsa-bangsa dikaitkan dengan perbuatan keselamatan-Nya. Pada waktu yang sama, keselamatan itu juga menjadi cara Allah menjadi terikat dengan Israel: Israel sebagai umat-Nya, Yahweh sebagai Allah mereka (bdk. Im 26:12). Semua implikasi ini hanya menyangkut Daud sebagai bagian dari umat Allah, tidak secara langsung.

“Dan sekarang” (we’atta) mengantarkan pokok baru, yaitu doa Daud. Dia menyebut Allah sebagai Yahweh Allah (YHWH ‘elohim, perhatikan bahwa huruf besarnya terbalik dari yang di atas). Yahweh yang dia kenal adalah juga Allah yang nama-Nya dikenal di dalam Israel, seperti juga pokok doa ini. A.25 mengandung permintaannya: “tepatilah…janji…dan lakukanlah”. Yang baru di sini adalah kekekalan: “selama-lamanya” (‘ad-‘olam di sini, juga le’olam di tempat yang lain). Daud sudah mengusulkan bahwa umat Allah dikokohkan selama-lamanya dalam a.24, dan di sini Daud berdoa supaya bagiannya juga akan kekal. Alasan yang diajukan dalam a.26 adalah makin besarnya nama Yahweh/Tuhan, karena Dia akan dikenal sebagai Allah Israel. A.27 menegaskan bahwa Daud hanya berani berdoa demikian karena janji Allah yang telah diucapkan kepadanya. Daud melihat bahwa karena janji Allah yang baru itu, kokohnya keluarga/keturunan Daud terkait erat dengan perjanjian Allah dengan Israel. Dia berdoa atas dasar janji Allah dan demi nama (kemuliaan) Allah.

A.28 juga mulai dengan we’atta, walaupun dikaburkan oleh terjemahan LAI. Kembali Daud menyapa Allah sebagai tuanku Yahweh, dan dia merenungkan soal firman Allah yang benar. A.29 adalah permohonan penutup untuk berkat bagi keluarga / keturunan Daud, berdasarkan perkenan Tuhan yang dinyatakan dalam janji-Nya. Soal kekekalan juga kuat dalam doa ini.

Sebagai kesimpulan, Daud melihat bahwa janji Allah kepadanya mengaitkan nasib keluarga/keturunannya, sesuatu yang penting baginya secara pribadi, dengan nasib umat Allah, sesuatu yang penting bagi Allah. Dia merenungkan janji itu serta implikasinya sebagai dasar untuk permohonannya.

Maksud bagi Pembaca

Perekaman doa Daud ini paling sedikit bermaksud dua. Yang pertama, doa ini menegaskan dan memperjelas bahwa raja keturunan Daud adalah bagian integral dari perjanjian Allah dengan umat-Nya. Yang kedua, doa ini menunjukkan bagaimana Israel semestinya berdoa untuk kesejahteraan umat Allah: doa itu akan mencakup kokohnya raja keturunan Daud. Dengan demikian, kita melihat bagaimana salah satu hamba Tuhan berdoa berdasarkan janji Allah.

Dari satu segi, doa Daud telah dikabulkan. Kebangkitan Kristus menempatkan Anak Daud itu sebagai Raja selama-lamanya, sehingga umat-Nya (Israel ditambah bangsa-bangsa) juga kokoh di dalam-Nya. Orang kristen dapat belajar tentang rencana Allah dari perikop ini, tetapi juga tentang doa berdasarkan janji Allah yang menyesuaikan kepentingan pribadi dengan kepentingan Allah.

Makna

Apa yang dapat dipetik dari doa Daud ini? Ini beberapa gagasan dari banyak yang dapat dipikirkan.

Daud bersyukur atas sebuah janji, walaupun belum terjadi dan bahkan akan terjadi bagi keturunannya, bukan langsung terhadap dirinya sendiri. Bagi dia, mengetahui dan menjadi terlibat di dalam rencana Allah adalah sesuatu yang layak disyukuri.

Yang menjadi landasan doanya adalah janji Allah. Firman itu tidak berasal dari Daud: Tuhan yang memberitahukannya (21) dan menyatakannya (27) kepada hamba-Nya. Berulang kali ditegaskan bahwa janji itu diucapkan Tuhan. P.7 ini mulai dengan rencana Daud—membangun rumah (bait) bagi Allah—yang kemudian dibalik oleh Allah dengan janji untuk menbangun keturunan (bait) bagi Daud. Karena di dalam Kristus kita sudah mengenal begitu banyak tentang rencana Allah, ada banyak janji yang dapat melandasi doa-doa kita. Misalnya, Rom 8:28-30 mengandung janji bahwa kita akan menjadi serupa dengan Kristus dan dengan demikian kita dimuliakan. Jadi, doa untuk hidup yang kudus adalah doa yang sesuai dengan janji Allah. Eph 3:10 adalah janji bahwa jemaat mempertunjukkan hikmat Allah. Jadi, doa untuk hikmat Injili dalam gereja adalah doa yang sesuai dengan janji Allah. Hal-hal itu dapat dilihat sebagai implikasi dari janji Allah kepada Daud yang digenapi di dalam Kristus.

Namun, kepentingan Daud (keluarga dan keturunannya) dengan demikian ternyata tidak ditiadakan. Dia berdoa supaya mereka diberkati (29). Doa itu dikaitkan dengan janji Allah dalam ayat-ayat sebelumnya. Jadi, doa Daud untuk keluarga disesuaikan dengan rencana Allah. Makanya, kita berdoa bukan hanya supaya orang sakit sembuh tetapi terlebih supaya mereka kuat dalam iman. Semestinya, bagi anak-anak yang bersekolah kita berdoa supaya mereka jujur, rajin dan belajar, bukan supaya mereka lulus dengan nilai tinggi.

Jika kita melihat perjalanan janji Allah itu, di mana berabad-abad tidak ada raja di atas Israel, kita akan melihat bahwa berdoa sesuai dengan janji Allah belum tentu berarti jawaban doa akan kita lihat. Kristus adalah Ya bagi semua janji Allah, dan hanya ketika Dia datang kembali semuanya akan jelas.

Melangkah lebih jauh, dalam a.14 Allah mengatakan bahwa Dia akan menjadi Bapa dari anak Daud, dan anak itu akan menjadi anak Allah. (Makanya, “anak Allah” menjadi istilah untuk raja Israel kemudian Mesias.) Rumusan itu sejajar dengan rumusan di atas, bahwa Yahweh menjadi Allah Israel, dan Israel menjadi umat-Nya, hanya fungsi Allah/umat diganti dengan Bapa/anak. Namun, Daud tidak merujuk pada hal itu dalam doanya. Hanya di dalam Kristus, Sang Anak, kita diangkat sebagai anak-anak Allah sehingga menyapa Allah sebagai Bapa.


Yak 4:13-17 Tuhan Sang Penentu (1 Jan 2012)

Desember 30, 2011

Manusia diciptakan untuk berada, dan ingin berada secara nyata. Namun, manusia berdosa mau berada lepas dari Penciptanya. Dengan demikian dia menjadi justru tidak berada, dilihat dari perspektif kekekalan. Sikap itu yang dicap kecongkakan dalam perikop kita.

Penggalian Teks

Perikop 4:13-16 dan 5:1-6 diawali dengan seruan “Jadilah sekarang” (age nun). Seruan yang unik dalam kitab Yakobus itu dipakai karena kedua perikop ini dialamatkan bukan kepada jemaat melainkan kepada orang kaya yang menindas jemaat (2:6). A.17 diletakkan di antara kedua perikop ini sebagai peringatan bagi mereka.

Age nun secara harfiah berarti “datanglah sekarang”, dan dipakai untuk secara retoris mengajak kelompok yang dialamatkan untuk mendekat (“datanglah”) secara urgen (“sekarang”). Siapa kelompok itu? A.13 dan a.14a menyampaikan dua gambaran. A.13 menyampaikan suatu ucapan yang dianggap lazim dan mencirikan kelompok itu. Dilihat frase demi frase, mereka mampu melakukan perjalanan dan biasa berencana setahun dalam rangka berdagang, dengan harapan yang kuat akan keuntungannya. Begitulah konsep diri kelompok itu.

A.14a menyampaikan gambaran dari penulis, dengan alasannya dalam a.14b, yang ternyata lain. Jika mereka biasa berencana dengan penuh keyakinan, sebenarnya besok pun tidak diketahui dengan pasti. Kemudian, penulis menjelaskan bahwa mereka seperti uap. Kata atmis itu sering merujuk pada asap. Misalnya, Hos 13:3 (dalam terjemahan LXX) menggunakan kata itu untuk menggambarkan umat Allah seperti “asap dari tingkap”, kelihatan sebentar tetapi kemudian hilang. Dengan penjelasan dalam a.14b ini, tersirat bahwa kelompok ini menganggap diri “berada”. Mereka adalah orang yang berbobot secara materi dan kegiatan (“berada”) sehingga boleh dikatakan eksis (“berada”). Tetapi dalam dirinya sendiri manusia adalah uap, tidak memiliki bobot atau kuasa apa-apa.

Dalam a.15, penulis mengusulkan ucapan yang sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Manusia “uap” mengaku bahwa Tuhan adalah penentu, baik penentu kelanjutan hidup maupun kegiatannya. Karena Tuhan diabaikan dalam ucapan a.13, dalam a.16 ucapan itu dicap sebagai kecongkakan. Kemegahan dalam ke-berada-an diri itu jahat. (Ayat ini adalah satu-satunya tempat kata poneros diterjemahkan dengan kata “salah”, padahal di hampir semua tempat yang lain diterjemahkan oleh LAI dengan kata “jahat”.)

A.17 berfungsi sebagai peringatan bagi mereka. Ucapan itu senada dengan 1:22 (“hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”) dan 2:26 (“iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”), tetapi bahasanya lepas dari soal apakah mereka adalah orang percaya atau tidak. Mereka sekadar “tahu”, bukan beriman atau mendengar firman. Namun, pengetahuan itu cukup untuk membuktikan keberdosaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mengalamatkan kaum orang berada secara retoris dengan dua tujuan: untuk menguatkan jemaat yang rendah kedudukannya; dan juga sebagai peringatan bagi jemaat yang mungkin tergoda untuk mengikuti atau mengejar kedudukan dan kekayaan sebagai ganti Tuhan. Jika 5:1-6 didengar dalam rangka perikop kita, maka jemaat akan dikuatkan bahwa hidup para penindas seperti uap di hadapan hukuman Tuhan. Tetapi bahkan di dalam jemaat yang rata-rata miskin, ada yang menganggap diri di atas yang lain (4:1-3). Mereka perlu diingatkan tentang sumber sebenarnya dari keberadaan manusia, yakni Tuhan, dan bahwa sikap yang menyangkal itu adalah dosa.

Makna

Adalah penting perikop ini ditafsir secara keseluruhan, karena jika hanya a.13 yang ditafsir, bisa saja kita sampai anggapan bahwa jalan-jalan, berencana, atau berdagang itu jahat. Yang jahat adalah sikap yang melihat dirinya berada di luar Tuhan, sehingga kehidupan dilihat berada dalam kendali tangan sendiri. Orang seperti itu tidak merasa dikendalikan oleh Tuhan, sehingga dengan mudah jatuh ke dalam kejahatan seperti dalam 5:1-6. Tetapi sikap yang baik dalam a.15 juga mengandaikan adanya rencana dan kegiatan. Bedanya bahwa orang itu sadar bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan.

Pada hemat saya, sangat cocok dengan konteks di Indonesia jika perikop kita dikaitkan dengan perikop yang berikutnya, khususnya “mendapat untung” (a.13) dengan soal penindasan (5:4-6), karena bukan untung dari perdagangan yang sehat yang dipersoalkan. Tetapi mungkin dalam konteks budaya tradisional yang diambil alih oleh gengsi, ada ucapan-ucapan lain yang dapat juga menyatakan sikap bahwa sumber keberadaan kita di luar Tuhan: “Tahun ini atau tahun depan kita akan mengadakan pesta besar selama dua minggu sehingga keluarga termasyhur dan desa beroleh pemasukan banyak.”

Perikop ini merujuk pada satu tema besar dalam Alkitab, yaitu, kerapuhan keadaan manusia. 4:13-5:6 sudah disampaikan secara ringkas dalam 1:10-11 dengan kiasan manusia seperti bunga rumput. Yang membuat manusia berada dalam artian sebenarnya adalah Injil, firman kebenaran yang membuat kita menjadi anak sulung dari ciptaan Allah (1:18). Jika ciptaan itu adalah ciptaan baru (karena manusia justru muncul belakangan dalam ciptaan pertama), kita sudah masuk ke dalam ranah yang tidak fana lagi oleh Injil. Kita memiliki ke-berada-an yang sebenarnya, bukan berdasarkan hasil kita melainkan anugerah Allah.

Kehendak Tuhan dalam a.15 merujuk pada kedaulatan-Nya, bukan perintah-Nya. Maksudnya bukan suatu nazar untuk mencari apa kehendak Tuhan sebelum saya bertindak, melainkan suatu pengenalan bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan. Tafsiran itu jelas karena yang pertama-tama disebutkan adalah “hidup”. Kita tidak mencari petunjuk dari Tuhan apakah hari ini kita tetap hidup atau tidak. Jadi, ayat ini juga tidak berbicara tentang mencari petunjuk dari Tuhan tentang apa yang akan kita berbuat. Tentu saja, orang yang rendah hati di hadapan Allah akan mau bertindak sesuai denga perintah-perintah-Nya, tetapi biar kita melangkah dalam rencana yang sangat baik atau sangat buruk, hal itu hanya akan terlaksana jika Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul (tetapi sudah agak jauh dari perikop kita) ialah, Mengapa Allah mengizinkan rencana yang jahat terjadi? A.16 (serta 5:1-6) mempersalahkan niat manusia yang jahat itu, bukan Allah yang memberi ruang bagi kehendak manusia. Andaikan Allah membuat kejahatan mustahil, tanpa mengubah niat pelakunya, maka kehendak manusia sudah ditiadakan. Jadi, cara Allah menghadapi dosa adalah memulihkan pendosa yang bertobat dan menghukum penjahat yang tidak bertobat (4:6), suatu proses yang akan dituntaskan ketika Kristus datang kembali (5:7). Soal kehendak manusia, dari 4:6-8 itu, keputusan manusia yang paling penting adalah apakah dia tunduk di hadapan Allah atau tidak; soal ke kota mana dan kapan adalah hal yang sangat sepele ketimbang itu. Soal adanya penindasan, kita tidak mengerti mengapa kadangkala kejahatan digagalkan oleh Tuhan, dan kadangkala justru kelihatan berhasil.


Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Selamat Natal

Desember 16, 2011

Kepada rekan-rekan yang sudah memeriahkan blog ini, baik pembaca (akhir-akhir ini di atas 2.000 hits per bulan) maupun pemberi komentar, terima kasih atas minat dan perhatian. Blog ini diperuntukkan bagi para pelayan untuk persiapan khotbah. Makanya, susunannya dan bahasanya tidak cocok untuk dipakai di mimbar, dan isinya tidak mudah dicerna seperti renungan harian. Saya berharap isinya dapat memperkaya para pembaca, baik untuk khotbah yang dikerjakan, maupun dalam pemahaman lebih dalam akan makna firman Tuhan. Semoga kelebihannya dapat dimanfaatkan, dan kekurangannya dimaafkan.

Saya tidak akan banyak posting lagi tahun ini. Tentang renungan hari Natal pagi pernah ada posting sederhana (Matius 1:18-25). Posting untuk hari Natal malam (Rom 5:1-5) kemungkinan akan muncul karena akan saya khotbahkan. Sama halnya untuk tgl 1 Januari. Tetapi beberapa yang lain tidak akan disinggung. Semoga prinsip-prinsip khotbah ekspositori tetap diterapkan, yaitu memakai teks untuk menyampaikan pesan yang muncul dari teks, dengan tidak mengabaikan Allah yang menjadi sasaran iman kita, sumber kasih kita, dan penjamin harapan kita. Di tengah kesibukan Natal yang amat padat untuk para pelayan, semoga Tuhan yang memberi sukacita karena kita diperkenan mengajak orang untuk mengenal Dia di dalam Kristus yang lahir di antara kita.

Selamat Natal.


Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

Desember 7, 2011

Penggalian Teks

Mazmur 53 hampir sama dengan Mazmur 14. Ada dua perbedaan yang bermakna yang mendukung usul bahwa Mazmur 14 mempersoalkan penindas di dalam umat Allah, sedangkan Mazmur 53 mempersoalkan penindas dari luar. Mazmur 14 beberapa kali memakai kata Tuhan yang menerjemahkan nama Allah (“Yahweh”), sedangkan Mazmur 53 hanya memakai kata Allah (“Elohim”), istilah yang bukan milik Israel saja. Kemudian, Mzm 14:5-6 dan Mzm 53:6 cukup berbeda. Mzm 53:6 memperjelas pelaku kejahatan dalam 53:5 sebagai “para pengepungmu”, yaitu, tentara, yang ditolak oleh Allah. Mzm 14:5-6 tidak ada tambahan informasi tentang penjahat, dan menyoroti perlindungan Tuhan bagi orang yang benar. Usul perbedaan latar belakang ini tidak pasti, dan mungkin yang paling pokok adalah yang belakangan: Mazmur 53 lebih keras tentang nasib penjahat, sedangkan Mazmur 14 lebih menonjolkan perlindungan Tuhan.

Mazmur ini dapat dibagi tiga. Aa.2-4 menceritakan kejahatan manusia (a.2 dan a.4 merupakan inklusio dengan “tidak ada yang berbuat baik”); aa.5-6 menceritakan respons Allah; dan a.7 menyatakan doa akan pemulihan.

Kelompok yang dikeluhkan tergambar dalam a.2, pertama-tama dengan istilah “orang bebal” (nabal). Kata itu merujuk pada orang yang tidak berguna karena tidak peduli terhadap apa yang semestinya dipedulikan (seperti norma, atau Allah). Kelompok itu adalah ateis praktis. Ateis ideologis mengaku bahwa Allah tidak ada, dan bahkan memberitakan hal itu (paling sedikit demikian di dunia Barat). Tetapi dalam dunia agamawi seperti Israel (ataupun Indonesia), seorang ateis praktis tetap mengaku dengan mulutnya sebagai orang beragama, paling sedikit sebagai kedok atas kejahatannya. Tetapi tingkah lakunya menyiratkan bahwa dalam hati dia percaya bahwa Allah tidak ada—entah dalam artian tidak berada atau dalam artian praktis alpa dari dunia ini. Kata orang Toraja, “Siapa melihat ayam kencing?” (Indan tiroi tu manuk kattene?), artinya, Allah terlalu jauh atau tinggi untuk peduli, atau terlalu sibuk untuk memperhatikan, tingkah laku manusia. Alhasil, kelompok ini melakukan kecurangan yang membuat mereka busuk dalam hakikatnya dan jijik bagi sesama atau Allah. Tidak ada kebaikan yang mereka hasilkan.

A.3 langsung membantah anggapan ateis praktis itu. Ternyata Allah melihat. Dia memang tinggi, sehingga harus memandang ke bawah. Tetapi ada serangan balik. Jika orang bebal bertanya tentang adanya Allah, Allah bertanya tentang adanya orang yang berakal budi, yang mencari Allah. Yang dicari Allah di sini kebalikan dari orang bebal dalam a.2. Tetapi a.4 meragukan adanya orang yang dicari Allah itu. Semua telah menyimpang, sekaliannya bejat, tidak ada seorang pun yang berbuat baik. A.2 mulai dengan orang menilai Allah itu alpa, tetapi a.4 berakhir dengan Allah menilai manusia itu jahat.

A.5 menarik perhatian pembaca dengan mengusulkan adanya pengetahuan yang belum disadari oleh kelompok itu. Dosa mereka diperjelas, termasuk bahwa umat Allah yang ditindas, dan Allah tidak dipanggil. Dalam a.6 kita diberitahu apa yang belum disadari itu. Intinya bahwa Allah telah bertindak dengan “menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu” dan “menolak mereka”. “Di sana” mungkin merujuk pada peristiwa tertentu di mana tentara yang mengepung kota Israel dikalahkan, seperti ketika Sanherib mengepung Yerusalem pada zaman raja Hizkia (2 Raj 18:13-19:37). Memang raja Asyur itu banyak membual terhadap Tuhan (misalnya, 2 Raj 18:33-35). Kemudian, dia mendengar isu yang mungkin boleh dikatakan membuatnya takut tanpa alasan (2 Raj 19:7-9), lalu, malaikat Tuhan keluar dan tulang-tulang tentara Asyur dihamburkan (2 Raj 19:35). Jika demikian, mungkin saja Mazmur 14 dari Daud diubah untuk memperingati peristiwa ini. Namun, dasar dalam sejarah tidak menutup tafsiran lebih luas tentang siapakah pengepung itu.

Berdasarkan tindakan Allah, a.7 menyampaikan doa untuk Tuhan bertindak. Sion disebut sebagai tempat Allah hadir dalam Bait Suci. Doa itu disertai dengan harapan bahwa Israel akan bersukacita atas karya Allah bagi mereka.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur mau menuntun umat yang merasa tertindas oleh penjahat untuk mengingat karya Allah bagi umat-Nya, sehingga berdoa untuk keselamatan. Karena umat Allah perlu diselamatkan dari ancaman orang jahat, mazmur ini juga dapat berfungsi seperti nubuatan, sebagai peringatan keras bahwa cara hidup mereka jijik dan nasib mereka buruk. Namun, idealnya jemaat siap kembali untuk menantikan keselamatan dari Kristus. oleh karena sudah yakin akan hukuman Allah terhadap kejahatan.

Makna

Pada masa Adven kita mengingat bahwa keselamatan bagi Israel telah datang dari Sion. Kristus datang sebagai Mesias Israel, menyucikan Bait Allah, mati bagi dosa Israel dan bangkit mengalahkan maut. Kita menunggu penyempurnaan kemenangan itu ketika Dia datang kembali. Dalam penggenapan tahap pertama ini, misi Allah yang dalam PL terfokus pada Israel diperluas untuk menjangkau semua bangsa, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3). Makanya, kita menafsir Israel sebagai umat Allah yang sekarang terwujud dalam jemaat-jemaat, dan menafsir Sion, sumber keselamatan, sebagai Kristus.

Kita juga dapat melihat bagaimana Kristus sendiri mengalami mazmur ini. Dia berhadapan dengan, dan banyak mengecam, kemunafikan yang mengaku Allah tetapi hatinya jauh dari Allah, sehingga menindas orang kecil. Oleh karena itu, Dia dikepung, dan malah kelihatan sudah kalah ketika mati pada salib. Tetapi, ada kejutan besar. Kuasa Iblis dihamburkan, dan manusia yang melawan Dia dipermalukan, ketika Dia dibangkitkan. Dia menjadi sumber pertolongan dari Sion sorgawi sampai Dia datang kembali untuk menyempurnakan kemenangan-Nya.

Banyak umat Kristus juga mengalami serangan yang justru terlalu dekat dengan istilah pengepungan dalam a.6. Di Indonesia, kelompok-kelompok seperti FPI masih ringan ketimbang kondisi orang kristen di beberapa tempat di dunia. Yang menindas mereka termasuk orang ateis ideologis, seperti beberapa tempat rawan di Cina, tetapi juga orang beragama yang sudah pandai membuat agama sebagai kedok kepentingan pribadi. Jadi, komunitas kristen dikepung, kadangkala sampai mati. Tetapi, biar mereka mati, musuh-musuh mereka tetap akan dipermalukan, ketika Juruselamat dari Sion itu datang kembali. Pada saat itu, sukacita umat Allah tidak akan berkesudahan.

Jika tidak ada musuh dari luar yang terlalu jelas, kita tetap dapat menafsir “para pengepung” dalam rangka orang munafik di dalam gereja, misalnya, orang yang mengaku kristen tetapi terlibat secara tegas (bukan sewaktu-waktu tergoda) dalam berbagai penyakit sosial. Bahkan pelayan yang merusak jemaat diperingati Paulus dalam 1 Kor 3:16-17. Dalam konteks perlawanan kita bisa yakin akan hukuman Allah terhadap semua yang buruk, sehingga menantikan keselamatan dari Kristus itu.

Yang tidak diubah dengan kedatangan Kristus adalah perlunya hukuman itu. Memang, di dalam Kristus menjadi lebih jelas bahwa ada masa untuk pertobatan yang berlaku untuk semua manusia. Tetapi, akhirnya Allah akan bertindak demi pemulihan umat-Nya, bahkan seluruh dunia-Nya. Ketegangan yang mungkin terasa antara “menghamburkan” atau “dipermalukan” dalam a.6 dengan “memulihkan” dalam a.7 adalah hal biasa dalam Alkitab, karena dunia dianggap sangat rusak sehingga perlu cara yang keras untuk memperbaikinya. Proses itu digambarkan (dengan bahasa apokaliptik) dalam Wahyu 19-20, terkait dengan kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.


Yos 2:8-24 Melihat dengan mata iman [4 Desember 2011] (Adven II)

November 30, 2011

Rahab disebut tiga kali dalam PB. Dia menikah dengan Salmon sehingga termasuk silsilah Kristus (Mt 1:5). Ibr 11:31 dan Yak 2:25 juga menyebutnya berkaitan dengan iman.

Penggalian Teks

Cerita lebih luas dalam kitab Yosua menyangkut usaha Israel untuk merebut tanah Kanaan. Yosua melepas dua pengintai untuk mengamati tanah serta kota Yerikho. Mereka masuk di sebuah tempat kelas bawah (mungkin tempat penginapan dengan jasa tambahan) di mana mungkin mereka berharap untuk bisa anonim, tetapi kehadiran mereka bocor ke raja. Namun akhirnya mereka bisa luput dari ancaman itu, dan membawa pesan bahwa penduduk negeri itu takut kepada orang Israel (24).

Tetapi kita akan meninjau cerita ini dari perspektif Rahab. Alur cerita sederhana saja. Di luar dugaan Rahab tidak menyerahkan kedua pengintai kepada pesuruh raja kota, tetapi menyembunyikan mereka. Kemudian, ada perjanjian yang dibuat di antara mereka, “nyawa ganti nyawa” (a.14), di mana keselamatan pengintai dari orang Yerikho menjadi jaminan keselamatan Rahab nantinya. Ada dua syarat disebutkan. Yang pertama, Rahab tidak membocorkan keberadaan kedua pengintai. Setelah mereka diturunkan ada satu lagi, yaitu tali yang dipakai diikatkan pada jendela rumah sebagai tanda pengenal, dengan peringatan bahwa hanya orang di dalam rumah itu yang dijamin keselamatannya. Kemudian, mereka mengikuti nasihat Rahab dan luput.

Jadi, kisah ini menceritakan bagaimana Rahab membuat muslihat yang cukup cerdas untuk bisa menyelamatkan kedua pengintai sehingga dia sendiri bisa selamat. Tentu, yang menarik di sini adalah, mengapa Rahab merasa harus selamat? Dia berada di tengah bangsanya yang kuat di kota benteng yang juga kuat.

Jawabannya muncul dalam aa.9-11. Ketiga ayat ini merupakan kiasmus sbb. Rahab mulai dengan pernyataan tentang rencana Allah terhadap Kanaan (A). Kemudian, ada gambaran tentang ketakutan bangsanya (B). A.10 menyampaikan intinya, tentang karya Allah bagi Israel (C). Dalam rangka karya Allah itu, kita dibawa kembali melalui pokok B dan A. Perasaan bangsa Rahab bermuara pada merasa patah semangat (B’). Allah Israel disadari sebagai Allah langit dan bumi, Allah di atas semua penguasa yang lain (A’). Bagian A dan B merupakan inti laporan pengintai kepada Yosua dalam a.24. Tetapi ayat-ayat ini adalah juga dasar bagi rencana Rahab, sebagaimana dilihat oleh kata penghubung pada awal a.12, “Maka sekarang”. Dengan mata iman dia dapat melihat bahwa dia ada dalam bahaya yang besar, makanya dia mengusahakan keselamatan bagi dirinya dan kaum keluarganya. Intinya disimpulkan pada akhir a.13, yaitu keselamatan dari maut (disebut “hidup” dalam 6:25).

Tali kirmizi dalam a.18 akan membuat pembaca mengingat peristiwa Paskah. Pada saat itu, ada bangsa yang akan dihukum Allah, yaitu, Mesir (Kel 12:13). Orang Kanaan juga menghadapi hukuman Allah (Kej 15:16, Ul 9:4). Untuk selamat dari hukuman itu, orang harus berlindung di dalam rumah yang dibubuhi tanda tertentu, yakni, di Mesir, darah anak domba (Kel 12:7). Tali kirmizi itu juga warna merah, seperti darah. Jadi, Rahab serta keluarganya selamat dari hukuman Allah dengan perlindungan lambang darah anak domba, sama seperti orang Israel. Keselamatan sekelompok orang di luar Israel menonjol, tetapi bukan hal yang baru: banyak orang dari berbagai bangsa turut keluar dari Mesir, menurut Kel 12:38. Tetapi fokus di sini adalah pada sifat orangnya. Dia disebut sebagai “perempuan sundal” pada kali pertama dan terakhir nama Rahab disebutkan (Yos 2:1; 6:17, 25).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menggambarkan perlunya keselamatan dari hukuman Allah, dan juga menegaskan bahwa siapa saja dapat diselamatkan jika ada kesadaran dan pertobatan. Bagi Israel di bawah hukuman Allah dalam pembuangan karena berbuat sundal terhadap Allah, cerita ini membawa harapan akan keselamatan. Harapan itu diteguhkan oleh Yesus, yang akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, tetapi oleh darah-Nya menyediakan “rumah” tempat orang yang berlindung di dalamnya akan selamat.

Makna

Tafsiran kristologis sudah disinyalir di atas. Keselamatan sebagaimana digambarkan dalam cerita ini digenapi di dalam Kristus. Makanya, Rahab diangkat dua kali sebagai contoh bagi orang yang beriman kepada Yesus. Kedua rujukan itu menerangi perikop kita.

Ibrani 11:1 menjelaskan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Contoh-contoh berikut pada umumnya menyangkut janji Allah yang diharapkan, tetapi belum terlihat karena memang belum terjadi. Bagi Rahab, yang belum terlihat adalah hukuman Allah atas bangsanya. Hal itu pasti tidak diharapkan, tetapi dia berani berjuang untuk keselamatan dari hukuman itu. Yak 2:25 mengangkat tindakan Rahab menyembunyikan kedua pengintai sebagai salah satu bukti bahwa iman yang sejati selalu disertai dengan perbuatan.

Kedua nas itu sama dalam intinya, yaitu bahwa iman itu bukan semacam kemampuan religius yang terletak pada hakikat manusia, melainkan suatu kesadaran akan realita yang tidak kelihatan yang kemudian ditanggapi. Jika pada tahun 1997 ada politikus yang dapat melihat dengan mata imajinasi bahwa Suharto akan jatuh, kesadaran itu pasti akan mempengaruhi tingkah lakunya. Jika tidak, jelas dia sebenarnya tidak percaya bahwa Suharto akan jatuh. Rahab bertindak karena dengan mata iman dia melihat nasib bangsanya.

Tetapi bencana yang mengancam tidak cukup. Andaikan Rahab cinta pada bangsanya, mungkin dia akan memilih untuk turut dibinasakan. Di dalam ucapannya bahwa Allah Israel adalah Allah langit dan bumi ada biji iman, mungkin hanya sebesar biji sesawi, bahwa Allah Israel itu lebih layak disembah daripada dewa pelindung kotanya sendiri, walaupun informasinya tentang Allah itu sangat terbatas. Jadi, jelas bahwa iman Rahab sebenarnya sangat terbatas. Tidak ada kesadaran akan dosa, tidak ada kerinduan akan kebenaran atau syalom, dan jelas tidak ada suatu kebaikan dalam dirinya sehingga Allah semestinya menyelamatkan dia. Imannya sekadar kesadaran akan bencana pada satu segi, dan harapan tipis akan sesuatu yang lebih baik, serta tindakan berdasarkan kesadaran itu. Ketika kemudian dia bergabung dengan bangsa Israel, baru dia mulai memahami hidup baru yang sudah dia masuki.

Untuk berlindung pada Kristus sebagai tempat aman karena darah-Nya, kita juga perlu melihat dengan mata iman hukuman Allah terhadap dosa, dan paling sedikit menduga bahwa hidup di dalam Kristus akan lebih baik daripada binasa. Katanya, dalam kepercayaan lama orang Toraja, pelanggaran dihukum dengan nyata dan langsung, sehingga mata biasa sudah cukup. Ancaman kebinasaan kekal sebagai bentuk pasti hukuman Allah kurang berdampak karena tidak kelihatan dan belum terjadi. Kalau memang begitu, orang Toraja terlanjur ada pada posisi penduduk Yerikho: berjalan dalam kegelisahan dan harapan-harapan semu sampai binasa.

Tetapi ada satu unsur lagi di sini. Rahab dapat beriman karena dia mendengar tentang perbuatan-perbuatan ajaib Allah (10). Iman timbul dari pendengaran, kata Paulus (Rom 10:17). Perbuatan ajaib Allah yang kita soroti pada musim Adven ialah kedatangan pertama dan kedua Kristus. Allah telah menghukum dosa dan membangkitkan Anak-Nya, sama seperti Dia menghukum Mesir dan kerajaan-kerajaan Amori dan menyelamatkan umat-Nya. Kiranya jemaat sekarang menerima pemberitaan sehingga mereka bisa melihat realita hukuman dan keselamatan Allah dan dalam iman mengambil respons yang tepat.


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.