Pkh 11:1-6 Jaminan dan keberanian

Juli 6, 2009

Bagian ini mengandung serangkaian amsal yang merupakan semacam teka-teki. Ada suatu gambaran yang daripadanya kita mau mengambil hikmat untuk kehidupan. Oleh karena itu, maknanya bisa berganda, ada berbagai hal yang mungkin dapat dipetik. Dalam yang berikut saya coba memaparkan proses saya dalam mengartikan ayat-ayat ini. Tetapi usulan saya tidak menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain.

A.1 kedengaran aneh. Melemparkan roti ke air berarti rotinya cepat hancur. Andaikan rotinya bertahan (dibungkus?), gambarannya mungkin bahwa ada usaha yang ujungnya tidak jelas, tetapi akan ada hasilnya juga. Satu tafsiran yang mungkin mempertajam usulan ini mengaitkan roti dengan harta atau rezeki, dan air dengan kapal (”Kirimkanlah rotimu di atas permukaan air…”). Barang yang diekspor perlu waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungannya. Artinya melangkah dalam ketidakpastian.

A.2 merujuk ke pembagian sesuatu, dengan usul supaya banyak yang dapat karena ancaman malapetaka. Banyak yang dapat berarti banyak teman yang bisa membantu ketika malapetaka yang tak terduga itu menimpa. Apa yang dibagikan tidak jelas, dan tidak perlu jelas karena dengan demikian bisa diterapkan dengan luas. Tafsiran saya yang semula melihat ayat ini sebagai contoh dari a.1, yaitu membagikan kepada banyak orang akan ada hasilnya kelak. Setelah refleksi lebih lama, saya melihat perlawanan juga. Jika a.1 mengusulkan melangkah dengan berani, ayat ini mengusulkan membuat jaringan sebagai jaminan. Menarik bahwa keberanian diusulkan terkait dengan air yang berbahaya, sedangkan jaminan dicari dalam konteks bumi yang dianggap aman (mis. Mzm 104:5-7).

A.3 adalah contoh amsal yang menyampaikan fakta yang sederhana dan tidak terlalu berarti dalam sendirinya. A.4 yang memperjelas maksudnya. Awan dalam a.4b dengan jelas merujuk ke a.3a. Adakah kaitan antara a.4a dengan a.3b? Usulan saya bahwa angin dalam a.4a yang menumbangkan pohon dalam a.3b. Seorang petani tentu mau mengambil waktu yang tepat untuk menabur dan menuai, tetapi jika selalu menunggu waktu yang paling tepat, dia tidak akan bergerak. Dalam a.5 praduga Pengkhotbah dikemukakan. Kejadian-kejadian seperti dalam a.3 terjadi atas kehendak Tuhan, dan semuanya di luar jangkauan pemahaman kita, sama seperti perkembangan janin. Dalam ketidaktahuan kita bertindak secara berani dan aman (a.6). Kita melangkah saja dalam pekerjaan utama (bnd. a.4). Tetapi ada juga pekerjaan sampingan sebagai jaminan, seperti dalam a.2.

Jadi, dalam aa.1-6 ada berbagai refleksi tentang pentingnya bertindak dalam ketidakpastian dunia yang dikendalikan oleh Allah. Kuasa Allah adalah suatu misteri, tetapi juga mendasari berbagai harapan, seperti kembalinya roti dan kesempatan untuk menuai. (Aa.8-9 dalam perikop LAI memulai bagian yang baru tentang masa muda dan tua yang berlanjut dalam aa.10dst.)

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari mudah-mudahan jelas, walaupun tidak semua pembaca adalah petani! Tetapi amsal-amsal seperti ini tidak harus diterapkan hanya dalam satu bidang kehidupan saja. Bukankah banyak perumpamaan Yesus merujuk ke pertanian seperti di sini? Soal keberanian jelas dibutuhkan jika kita akan berguna bagi Tuhan. Banyak usaha kita bagi Tuhan–apakah usaha penginjilan, sosial atau yang lain-lain–tidak akan jelas ujungnya, dan kita sering membuang waktu dengan menunggu waktu yang paling tepat. Tetapi jaminan juga diperlukan. Kita harus membangun kerja sama supaya jangan bergantung pada kita saja, sambil membangun bermacam-macam usaha supaya jika satu tidak efektif, yang lain akan efektif.


Neh 12:27-43 Bersukaria atas pemulihan Allah

Juni 29, 2009

Pembangunan tembok di Yerusalem sudah selesai pada Nehemia p. 7, tetapi baru dalam perikop ini temboknya ditahbiskan. Di antaranya “tembok rohani” umat dibangun. Hal itu termasuk identitas sebagai keturunan Abraham melalui daftar orang yang kembali dari pembuangan (p.7), pembacaan Taurat (p. 8), pertobatan (p. 9), perjanjian (p. 10) dan daftar orang-orang di Yerusalem (p. 11) serta para imam dan orang Lewi (p. 12). Sehingga perayaan pada pentahbisan tembok bukan soal formalitas saja, tetapi merupakan perayaan atas pemulihan umat secara jasmani dan rohani.

Susunan acara yang diceritakan termasuk pentahiran dan dua perarakan (termasuk berbagai petinggi) yang menjalani tembok sebelum berjumpa di Bait Allah. Pentahiran merujuk ke anugerah Allah yang menerima manusia yang sebenarnya tidak layak (ketidaklayakan umat Israel pada saat itu menjadi nampak dalam p. 13). Perarakan yang berakhir di Bait Allah menunjukkan bahwa tembok itu berarti karena hadirat Allah di tengah kota yang dibentengi.

Semua itu diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Dalam a. 27 ada kemeriahan, ucapan syukur dan berbagai alat musik. Dalam a. 43 sukaria seluruh umat “terdengar sampai jauh”.

Dalam PL hanya imam dan orang Lewi yang termasuk paduan suara, tetapi dalam PB kita semua adalah imam yang memuji Allah (1 Pet 2:9). Kita memuji Allah karena Allah sudah memulihkan keadaan kita sebagai umat Allah. Secara rohani dosa kita diampuni, dan secara jasmani ada janji kebangkitan yang terjamin oleh kebangkitan Kristus. Jadi, setiap kali kebaktian ada alasan yang melebihi Israel pada saat itu untuk bersukaria.


1 Yoh 2:18-27 Menghadapi antikristus yang berbobot

Juni 21, 2009

Kadangkala jemaat dihebohkan oleh pengajar yang mengajukan pendapat yang mau meniadakan ajaran yang sudah lama diterima oleh jemaat. Hal itu belum tentu salah. Sebagian jemaat di Yerusalem dihebohkan oleh penerimaan orang bukan Yahudi dalam Kristus tanpa disunat, tetapi penerimaan itu ternyata berasal dari Allah dan akhirnya diterima juga. Sekarang jemaat bisa gelisah tentang hal-hal yang merupakan tradisi saja. Tetapi sekarang ada juga banyak ajaran sesat yang beredar di gereja, yang misalnya meragukan kedudukan Kristus sebagai Anak Allah atau mengesampingkan karya-Nya dalam memperdamaikan kita dengan Allah. Ketika mendengarnya, jemaat biasa bisa bingung. Mereka merasa tidak nyaman, tetapi tidak sanggup membantah pendapat yang dikeluarkan orang yang berilmu atau berkedudukan. Dalam perikop ini penulis mau meyakinkan jemaat pembaca bahwa Allah telah menuntun mereka pada jalan yang benar.

Penulis mulai dengan menyebutkan pandangan yang menunggu akhir zaman ketika pemberontakan dunia akan berpuncak dalam rupa orang yang melawan Kristus sehingga disebut antikristus. Penulis setuju bahwa kita hidup dalam waktu terakhir, menjelang akhir zaman, tetapi dia juga mengusulkan bahwa sudah banyak orang yang berperan melawan Kristus (a.18). Yang dimaksud secara langsung adalah sekelompok orang yang pernah termasuk jemaat yang menerima surat ini. Mereka keluar dari jemaat, dan Yohanes mau meyakinkan jemaat bahwa jemaat yang ada pada jalan yang benar, bukan kelompok yang keluar (a.19).

Demi tujuan itu dia mengingatkan bahwa mereka sudah diurapi oleh Allah (a.20). Pengurapan itu barangkali merujuk ke mereka memiliki Roh Kudus. Pengurapan itu yang telah menjaga mereka sehingga mereka dapat membedakan apa yang benar dari apa yang sesat (a.21). Belum tentu mereka sanggup menjelaskannya secara ilmiah, tetapi ada nurani yang–kata Yohanes di sini–diberikan Allah.

Penulis mempertegas maksud itu dalam aa.22-25, dengan memperjelas apa inti dari ajaran sesat. Intinya menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (a.22a). Dalam bagian sebelumnya dalam surat ini sudah ada dua hal yang disebutkan mengenai Yesus sebagai Kristus. Dalam 1:3 Yesus Kristus adalah Anak Allah, firman yang membawa hidup. Dalam 2:1 Yesus Kristus adalah perantara yang membawa pendamaian dengan Allah. 4:2 akan menyebutkan bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia. Mengakui Yesus sebagai Kristus adalah mengakui bahwa Allah mengutus-Nya untuk menjadi manusia yang mendatangkan hidup oleh pendamaian yang dikerjakan-Nya. Demikianlah kebenaran yang diketahui jemaat.

Pentingnya kebenaran itu dilihat dalam akibatnya. Menyangkal Yesus sebagai Kristus berarti menyangkal Anak Allah, sehingga Allah Bapa pun disangkal (a.22b). Sebagai Anak Allah, Yesus berasal dari Allah, dan tanggapan terhadap Kristus adalah tanggapan terhadap Bapa-Nya (a.23). Cara untuk tetap memiliki Anak dan Bapa ialah berpegang pada berita semula yang olehnya mereka jadi percaya kepada Kristus (a.24). Dengan demikian, mereka akan menerima janji hidup kekal. Jadi, ajaran sesat berakibat fatal bagi kehidupan rohani.

Kesimpulan bagian ini mengangkat kembali pengurapan itu (aa.26-27). Jika mereka tidak perlu diajar, mengapa Yohanes menulis kepada mereka? Barangkali dia menulis dalam rangka mengingatkan dan memperjelas apa yang sudah mereka pahami dari Roh Kudus. Nurani dikuatkan dan diperjelas oleh nasihat penulis.

Perlu diingat bahwa Yohanes menulis tentang hal-hal pokok, yaitu yang menyangkut kedudukan Kristus. Bukannya bahwa jemaat selalu benar dalam segala hal! Juga, Yohanes berbicara tentang jemaat secara keseluruhan, bukan pendapat satu orang saja. Namun, ajarannya tetap menguatkan kita untuk berpegang pada Injil yang telah kita terima, sekalipun diserang oleh pihak yang berbobot.


Dan 6:1-10 Integritas karena kerajaan Allah

Juni 15, 2009

Apakah perkataan dalam a.6 berlaku bagi kita? Satu-satunya titik lemah dalam diri Daniel adalah bahwa dia beribadah kepada Allah. Tidak ada korupsi, pelecehan atau kelalaian selama berpuluh-puluh tahun Daniel berkecimpung dalam pemerintahan. Dalam pasal ini, setelah dipojokkan oleh muslihat para musuhnya yang mencemburuinya, Allah menyelamatkannya sehingga Allah dimuliakan oleh raja Darius. Integritas Daniel dalam kerja dan ibadah bermuara pada kemuliaan Allah sendiri.

Teladan Daniel bukan sekadar bahwa dia adalah orang yang baik. Kitab Daniel pp.2-7 menyangkut kehidupan dalam kerajaan asing (sebagai to mentiruran). Dalam pp.2 & 7 ada nubuatan tentang empat kerajaan besar yang bermuara pada kerajaan Allah. Dalam pp.3 & 6 ada saksi-saksi iman yang setia kepada Allah walaupun menghadapi maut. (Dalam p.12 janji kebangkitan menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan dari maut bahkan orang yang sudah mati.) Dalam pp.4 & 5 ada raja Babel yang direndahkan oleh Allah. Jadi, pasal-pasal ini menunjukkan bahwa orang percaya bertahan karena percaya bahwa Allah berdaulat atas raja-raja dan juga hidup dalam harapan bahwa Allah akan mendatangkan kerajaan-Nya untuk menggantikan kerajaan-kerajaan itu.

Dalam konteks itu, menarik untuk diperhatikan bahwa kata yang diterjemahkan “ibadah” dalam a.6 berarti hukum. Kata itu dipakai untuk hukum (misalnya dalam a.8 diterjemahkan “undang-undang”, dan Ezra 7:14 “hukum”). Bagi orang Media yang berbicara dalam a.6 kesetiaan Daniel kepada Allah bernuansa politik. Ada ketaatan Daniel yang melebihi ketaatannya kepada raja.

Jadi, Daniel adalah teladan orang beriman. Dia mengimani Allah yang di atas raja-raja dan sedang mengarahkan sejarah sampai kerajaan-Nya terwujud. Sekarang kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk memiliki iman seperti Daniel, karena Allah sudah mulai mewujudkan kerajaan-Nya dalam Kristus. Kemungkinan besar kita tidak sehebat Daniel dalam hikmat dan keterampilan, tetapi Allah itu sama. Dia tetap berdaulat untuk mewujudkan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, integritas Daniel masuk akal bagi kita juga.


Ams 5:1-14 Kerugian kebodohan

Juni 8, 2009

Alur Amsal 5:1-14 tidak sulit. Perikopnya mulai dengan anjuran untuk mengarahkan telinga pada nasihatnya (a.1) dan berakhir dengan ratapan tentang akibat dari tidak mengarahkan telinganya (a.13). Aa.3-5 menggambarkan “perempuan jalang” sebagai sesuatu yang menarik (a.3) tetapi sebenarnya merupakan jalan ke dunia orang mati. Akibat dari mengikutinya disampaikan dalam aa.9-10, yaitu hal-hal yang baik yang dimiliki jadi dinikmati orang lain. Selain kerugian hasil, ada juga kerugian hormat di depan orang (a.14). Semuanya karena tidak mau mendengarkan nasihat (aa.12-13).

Pemicu kerugian ini disebut perempuan jalang dalam a.3. Bahwa perempuan demikian termasuk apa yang diperingatkan adalah jelas. Tetapi melihat bahwa hikmat dan kebodohan menjadi dua perempuan yang bersaing dalam p.9, saya duga bahwa perempuan jalang menjadi kiasan tentang penggodaan. Banyak kebodohan dilihat sebagai sesuatu yang menarik, menggiurkan, tetapi hasilnya merugikan, memalukan dan akhirnya membawa maut bukan kehidupan.

Perhatikan bahwa walau berzinah adalah dosa, tekanan di sini bukan pada soal pelanggaran hukum Allah melainkan akibat dari kebodohan. Kedua perspektif itu saling melengkapi. Memang perlu disadari bahwa dosa menyedihkan hati Allah. Tetapi menaati Allah tidak membawa kerugian karena kehendak Allah adalah jalan hikmat. Dosa sebagai kebodohan yang membawa kerugian. Jika saya melihat ketaatan sebagai kerugian, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian kepada Allah. Tetapi jika saya menyadari bahwa ketaatan membawa keuntungan, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian dari Allah yang menyatakan jalan hikmat kepada saya dan memampukan saya untuk mengikutinya.


Zef 1:1-7 Hukuman umat Allah

Juni 1, 2009

Kita suka akan harapan bahwa orang fasik akan dihukum, karena seringkali mereka sepertinya luput dari akibat yang semestinya dalam dunia ini. Zefanya mulai dengan pengumuman bahwa Allah akan menghukum seluruh dunia (aa.2-3). Gambarannya mengingatkan kita akan air bah, yang di dalamnya manusia yang fasik dan hewan sama-sama lenyap oleh karena murka Allah (lih. Kej 6). Mungkin saja pendengar Zefanya senang bahwa bangsa-bangsa kafir di sekitarnya akan dihukum dan membayangkan bahwa mereka sebagai umat Allah akan seperti Nuh yang diselamatkan. Ternyata tidak demikian.

Zefanya bernubuat dalam pemerintahan raja Yosia yang berkuasa selama 640-609 sM. Ayah dan kakeknya adalah raja yang fasik. Hal-hal yang membudaya selama kedua raja jahat itu seperti yang digambarkan dalam aa.4-6. Bukannya Yahweh, Allah Israel, ditolak seluruhnya (a.5), tetapi Dia hanya salah satu dewa yang disembah, malah bukan dewa yang utama ketika orang mau mengambil keputusan (a.6). Keadaan itu mirip dengan orang kristen sekarang yang menyembah Allah dalam Kristus pada hari Minggu di gereja tetapi menyembah kekuasaan di tempat kerja, gengsi di tengah masyarakat, dan mencari dukun ketika menghadapi masalah yang sulit dipecahkan.

Oleh karena itu, Yehuda akan ikut dihukum. Hukuman itu dikaitkan dengan hari Tuhan, dan digambarkan sebagai perjamuan korban. Perjamuan korban biasanya adalah waktu untuk bersyukur, karena ada hewan yang disembelih dan keluarga makan bersama daging korban itu. Hanya, di sini korbannya Yehuda sendiri. Para undangannya dalam perkembangan sejarah merujuk ke tentara Babel yang menghancurkan Yerusalem. Justru bukan bangsa-bangsa yang pertama-tama dihukum melainkan umat Allah sendiri (bnd. 1 Pet 4:17).

Hukuman Allah kepada Israel yang dinubuatkan di sini adalah permulaan dari hukuman seluruh manusia. Syukur bahwa hukuman itu telah ditanggung Kristus sebagai pengganti kita, sehingga Dia menjadi tempat keselamatan seperti Nuh (1 Pet 3:20-21)! Pertanyaannya ialah apakah kita sudah berlindung pada Kristus, atau apakah kita berharap bahwa Kristus akan menyelamatkan kita dari penghakiman terakhir, tetapi menghadapi masalah duniawi kita bergantung pada hal-hal yang lain yang justru bertentangan dengan Kristus. Kita tahu dan berharap bahwa Tuhan akan menyapu bersih dunia yang kotor ini. Jangan sampai kita jadi tersapu karena hanya berpura-pura berlindung pada Kristus.


Iman dan Ilmu Pengetahuan

Mei 27, 2009

Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pertanyaan klasik. Biasanya kalau diajukan maksudnya apakah hubungan antara iman yang subjektif (terletak dalam akal budi atau hati manusia) dan ilmu pengetahuan yang objektif (terletak dalam dunia nyata). Iman digolongkan dengan selera dan nilai sebagai pendapat orang, sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut fakta. Jadi, matahari sebagai bintang dalam galaksi dsb adalah fakta, tetapi kesukaan sama ayam goreng dan keputusan untuk beriman kristiani adalah pendapat. Paling sedikit itu pola berpikir Barat sejak Pencerahan, pola yang berakar dalam filsafat Yunani mulai dengan Plato.

Akhir-akhir ini ada gerakan filsuf ilmu pengetahuan yang mempertanyakan pembedaan yang tegas antara fakta dan nilai, objektif dan subjektif. Soalnya, untuk melakukan penelitian tentang dunia alam, kita harus percaya bahwa dunia alam teratur dan pada dasarnya tidak berubah terus. Misalnya, satu bagian dalam metode bereksperimen adalah melakukan eksperimen berulang kali untuk membuktikan bahwa hasilnya tidak kebetulan saja. Apa gunanya mengulang eksperimen jika dunia tidak tetap? Apa gunanya mencari hukum alam jika dunia tidak teratur?

Hal itu tidak jelas dalam semua budaya. Misalnya, budaya Hindu mengganggap bahwa dunia alam adalah maya yang tidak nyata, seperti film bioskop pada layar. Kalau begitu, kita justru tidak mau meniliti dunia alam melainkan mau menerobos ke kenyataan yang di balik dunia yang kelihatan. Budaya animisme menganggap bahwa segala yang terjadi terjadi karena disebabkan oleh pribadi, apa itu manusia atau roh atau Allah. Jadi, tidak ada aturan (hukum alam) yang dapat diteliti, hanya kuasa-kuasa yang harus ditanggapi.

Ilmu pengetahuan berkembang dalam budaya kristiani karena ada kepercayaan bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Dunia itu bukan Allah atau sebagian dari Allah, jadi ada keberadaan tersendiri yang dapat diteliti. Juga, Sang Pencipta setia dan teratur, sehingga dunia juga setia dan teratur. Lihat saja Mazmur 19 yang membandingkan dunia alam dengan hukum Taurat. Banyak ilmuwan dulu-dulu (abad ke-17 sampai ke-19) berbicara tentang dua buku yang membawa penyataan, yaitu Kitab Suci dan dunia alam (secara kiasan dilihat sebagai buku). Sains berkembang sebagai cara untuk lebih memahami Pencipta alam semesta.

Jadi, butir pertama ialah ilmu pengetahuan berdasarkan kepercayaan tertentu, dan ternyata kepercayaan yang cocok dengan iman kristiani. Butir kedua menanggapi masalah ketika hasil-hasil ilmu pengetahuan sepertinya bertentangan dengan ajaran Alkitab. (Butir ketiga yang tidak dibahas di sini yaitu iman kristiani memiliki dasar dalam fakta sejarah, khususnya kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus.)

Inti jawaban saya ialah dunia alam dan Firman Allah tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah. Namun, baik ilmu pengetahuan maupun tafsiran Alkitab bisa saja bertentangan, karena manusia yang melakukannya keliru. Sebagai contoh saya mengangkat teori evolusi yang sepertinya bertentangan dengan cerita Alkitab dalam Kejadian 1-3.

Teori evolusi menyangkut sejarah perkembangan makhluk-makhluk di bumi. Dukungannya secara garis besar kuat dan didukung oleh banyak cabang biologi yang lainnya. Mungkin saja teori itu bukan kata terakhir dari penelitian biologi, tetapi jika mau berkecimpung dalam bidang biologi teori itu harus diandaikan. Apa masalahnya dari segi ajaran Kristen?

Ada ilmuwan ateis yang mau mengatakan bahwa evolusi meniadakan perlunya pencipta karena makhluk dapat berkembang berdasarkan hukum-hukum alam saja. Ada juga yang mengatakan bahwa teori itu menunjukkan bahwa manusia adalah binatang saja. Ada juga (dulu-dulu ketika teori ini diterbitkan oleh Darwin) yang menganggap bahwa teori itu mendukung cara sosial yang membuang yang lemah dan mendukung yang kuat. Tetapi apa kesimpulan-kesimpulan itu adalah sains? Mustahilkah Allah menciptakan melalui proses evolusi? Benarkah bahwa gen manusia yang 99% sama dengan monyet harus menjadikan kita sederajat dengan monyet? Apakah kehidupan sosial harus berpatron cara singa di hutan? Tidak. Orang ateis menyalahgunakan sains untuk mendukung agenda sendiri. Jadi tafsiran mereka akan sains itu salah.

Bagaimana dengan Alkitab, khususnya Kej 1-3? Banyak yang tetap menerima Alkitab sebagai Firman Allah mencermati ulang Kej 1-3 dan menyimpulkan bahwa tujuannya bukan untuk menyampaikan sejarah secara terperinci tentang asal-usul dunia melainkan secara garis besar. Jadi, pesannya bahwa dunia diciptakan secara teratur dengan manusia sebagai puncaknya yang bertanggung jawab kepada Allah tetapi akhirnya membelakangi Allah. Jika tafsiran itu benar maka kita menyalahgunakan Alkitab juga membuat Kej 1-3 menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sains seperti apakah bumi di pusat jagad raya atau apakah evolusi terjadi.

Hal itu tidak berarti bahwa kita “percaya” akan evolusi atau penemuan-penemuan sains yang lain. Kita percaya akan Alkitab untuk mengenal Allah dan cara hidup, dan menggunakan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan untuk tujuan itu.


Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


Rom 15:1-13 Penerimaan dan Pengharapan

Mei 20, 2009

Mungkin penerimaan dan pengharapan adalah dua hal yang tidak biasa dikaitkan. Mungkin juga ada jemaat yang menganggap bahwa penerimaan itu praktis dan penting, sedangkan pengharapan adalah hal yang teologis saja sehingga tidak terlalu praktis. Sebaliknya, mungkin ada yang menganggap bahwa penerimaan itu kurang teologis sehingga kurang penting. Rasul Paulus tidak jatuh ke dalam dualisme seperti itu yang memisahkan praktik dari teori, kasih dari iman.

Perikop ini adalah kesimpulan dari seluruh penjelasan Injil yang dimulai pada awal surat (1:16-17), karena dalam perikop berikut Paulus kembali ke soal rencana untuk mengunjungi jemaat di Roma yang diangkat dalam pendahuluan surat (bnd. 1:11 dan 15:22). Perikop ini juga mengakhiri bagian penerapan (mulai pada 12:1-2) yang menjelaskan bagaimana mempersembahkan seluruh hidup berdasarkan pembaruan akal budi dalam kemurahan Allah yang telah diuraikan dalam pp.1-11 itu. Inti bagian ini ialah 13:8-14. Perikop itu mengutarakan kasih dalam terang akhir zaman, yaitu dalam terang pengharapan. Kemudian, p.14 menguraikan satu masalah aktual dalam jemaat di Roma, yaitu bahwa ada (barangkali dari latar belakang Yahudi) yang membedakan makanan dan hari, dan ada yang memahami bahwa di dalam Kristus semuanya itu tidak apa-apa. Jadi, perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh aktual tentang kasih sebagai penghayatan Injil.

A.1 memperluas diskusi dalam p.14 dengan berbicara tentang kelemahan secara umum. Contoh orang lemah sekarang seperti jemaat yang tidak tahu diri sehingga agak susah bergaul. Kalau tujuannya menyenangkan diri mungkin saja orangnya dihindari atau dipinggirkan, tetapi kata Paulus yang kuat wajib menanggung kelemahannya. Tetapi perhatikan a.2. Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang! Sehingga jemaat yang susah bergaul tadi jangan dibiarkan dalam keegoisan! Kita bergaul dengannya dan berupaya untuk mengoreksi dia dengan sabar dalam kasih. Asal senang tidaklah membawa kesenangan yang membangun.

Mengapa kita akan menerapkan penerimaan yang begitu sulit itu? Ada serangkaian alasan dalam aa.3-6. Yang pertama, Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Penderitaannya sama dengan pemazmur dalam PL, yaitu dicerca karena setia kepada Allah (a.3). Dengan demikian kita dapat melihat pola ketekunan dalam PL yang digenapi dalam Kristus, sehingga kita dihibur (karena tidak sendirian di dalam kesusahan) dan tidak putus asa bahwa Allah meninggalkan kita (a.4). Tujuan penerimaan disampaikan dalam aa.5-6, yaitu kerukunan akibat saling menerima yang bermuara pada kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan Kitab Suci mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita juga ditarik oleh tujuan untuk memuliakan Allah bersama-sama.

Hal itu dikembangkan dalam aa.7-12. A.7 meringkas aa.1-6, karena Kristus menerima kita untuk kemuliaan Allah. Kemudian Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Sesuai dengan pembahasannya dalam pp.9-11, Paulus menjelaskan bahwa Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kutipan PL yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa selalu dipanggil dan diharapkan memuliakan Allah (aa.9-11). Bangsa-bangsa diterima karena rahmat saja, karena walaupun tidak ada perjanjian dengan mereka Allah tetap bertujuan supaya mereka diterima dalam sang Mesias (= taruk dari pangkal Isai, a.12). Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa.

Jadi, dalam a.12 Kitab Suci kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus dalam a.13 mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera (hasil penerimaan?) sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan. Sejauh saya berhasil mendalami perikop yang kaya ini, dalam Kristus, penerimaan dan pengharapan akan bangkit atau jatuh bersama.


Ef 1:15-23 Doa untuk pengharapan

Mei 18, 2009

Ada tiga kebaikan rohani yang sering disebutkan bersama oleh Paulus, yaitu iman, pengharapan dan kasih. Dalam aa.15-16, Paulus bersyukur bahwa jemaat di Efesus sudah memiliki iman dan kasih. Kemudian dia berdoa supaya mereka mengerti pengharapannya. Sepertinya banyak jemaat sekarang yang berusaha beriman dan mengasihi. Apakah yang dibutuhkan sekarang adalah doa supaya pengharapan jemaat kuat dan tepat?

Paulus memulai doanya tentang pengharapan dengan menyebutkan Roh dan pengenalan akan Allah (a.17). Roh hikmat dan wahyu yang memampukan penerangan mata hati dan pengertian dalam ayat berikut. Kemudian, pengenalan akan Allah-lah yang menjadikan hal-hal dalam aa.18-19 indah.

Isi harapan dijelaskan dalam aa.18-19. Dalam a.18 ada bagian yang ditentukan, alias warisan. Hal itu terkandung dalam panggilan seorang percaya sebagaimana sudah dijelaskan Paulus dalam a.14, yaitu dengan percaya kepada Kristus Roh Kudus menjadi jaminan bahwa kita akan memperoleh seluruh bagian kita dengan menjadi milik Allah. Dalam a.18 Paulus mau menegaskan bahwa bagian ini mulia dan kaya. Secara tersirat bagian ini dapat dibandingkan dengan hal-hal yang biasa kita anggap mulia dan kaya, seperti hormat dan kekayaan. Mata hati yang diterangi oleh Roh Kudus dapat melihat bahwa warisan Allah jauh lebih mulia dan kaya. Pengharapan yang demikian tentu akan memenuhi seluruh hidup kita.

Dalam a.19 Paulus menyebutkan kuasa Allah sebagai sorotan pengharapan. Maksudnya, pengharapan bukan hanya untuk dunia baru, tetapi juga untuk sekarang, yaitu bahwa ada kuasa Allah tersedia bagi kita. Untuk memahami kuasa Allah itu Paulus melihat ke kebangkitan dan kenaikan Kristus. Artinya bahwa kuasa Allah mampu membawa kehidupan dari maut (a.20a; bnd. 2:5) dan menempatkan Kristus di atas segala kuasa (aa.20b-22), sehingga jemaat yang juga berada di dalam Kristus turut aman dari segala kuasa yang mengancam (a.23; bnd. 2:6).

Yang disebut “pemerintah dan penguasa” dsb dalam a.21 kemungkinan besar dibaca oleh orang di Efesus sebagai roh-roh yang menguasai dan mengancam dunia manusia. Ada yang beranggapan bahwa bagi Paulus kuasa-kuasa seperti pemerintahan, ekonomi dan budaya termasuk di dalamnya. Saya rasa tidak usah artinya dipersempit. Di dalam Kristus kita diberi kuasa atas semuanya, dalam artian bahwa warisan kita tidak dapat terganggu, dan juga bahwa kita dimampukan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah (bnd. 2:10).

Jadi, pengharapan yang dimaksud Paulus adalah pengharapan akan warisan pada zaman baru yang jauh melampaui segala yang ada dalam zaman ini, dan juga kuasa untuk bekerja dalam zaman ini sampai semua musuh Allah dikalahkan (a.22). Pengharapan yang demikian akan berarti jemaat yang tabah dalam iman dan giat dalam kasih. Semoga kuasa Allah yang diperlihatkan dalam kenaikan Yesus Kristus menjadikan pengharapan kita kuat dan tepat.