Kel 15:1-21 Meresponsi anugerah Tuhan

November 1, 2009

Nyanyian ini adalah nyanyian pertama yang direkam dalam Alkitab (kalau tidak salah—adakah sebelumnya?). Hal itu sangat cocok. Allah sudah menyelesaikan penyelamatan mereka dari kuasa Firaun, sehingga mereka sudah dimampukan menjadi umat Allah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, sebelum ada Taurat sebagai kerangka hidup untuk merespons anugerah keselamatan itu, ada pujian. Pujian adalah respons utama kepada Allah, ketaatan menyusul (bnd. Rom 1:21). Aa.20-21 menceritakan bahwa perempuan ikut juga dalam nyanyian ini, dipimpin Miryam yang disebut sebagai nabiah.

A.1b mengantarkan kedua tema utama, yakni sifat Tuhan serta perbuatan-Nya. Menurut analisis di Expositor’s Bible Commentary, ada empat bait dalam nyanyian ini, yaitu aa.1b-5, 6-10, 11-16a, 16b-18. Pembagian itu berdasarkan adanya batu/timah pada akhir ketiga bait yang pertama (aa.5, 10, 16a), dan juga pengulangan beberapa kata (bukan hanya pengulangan ide) pada aa.6, 11, 16b. Setiap bait dibagi lagi: ada pengantarnya (ayat pertama masing-masing, yang mengangkat tema), kemudian ada satu-dua ayat tentang Tuhan dan sisanya menyangkut orang di luar Israel (ringkasnya: 1b/2-3/4-5; 6/7-8/9-10; 11/12-13/14-16a; 16b/17/18).

Bait pertama (aa.1b-5) menguraikan alasan orang Israel untuk menyanyi (a.1b), jadi pujian tentang Allah (aa.2-3) menyangkut “aku” (Musa dan setiap orang Israel), yang baginya Tuhan menjadi keselamatan karena apa yang terjadi terhadap pasukan Firaun (aa.4-5). Bait kedua (aa.6-10) menguraikan “tangan kanan” Tuhan (a.6), yaitu kuasa-Nya untuk campur tangan dalam dunia ini (aa.7-8) untuk menghukum musuh-Nya (aa.9-10). Bait ini lebih pada sudut pandang musuh. Kedua bait ini menceritakan kembali kehancuran pasukan Firaun.

Kedua bait berikut melihat ke depan, ketika tujuan dari keselamatan itu akan tercapai. Bait ketiga (aa.11-16a) melihat “ketiadataraan” Tuhan di atas dewa-dewi bangsa-bangsa (a.11). Hanya Tuhan yang dapat meniadakan musuh-Nya (a.12) dan menuntun umat-Nya (a.13), sehingga bangsa-bangsa yang akan dihadapi Israel dalam perjalanan ke tanah Kanaan takut (aa.14-16a). Bait keempat (aa.16b-18) menyangkut penyeberangan ke tanah Kanaan (a.16b), sehingga Israel berada di sekitar tempat kudus Tuhan (a.17), akhirnya Bait Allah di Yerusalem. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah raja yang kekal (a.18), baca: di atas seluruh bumi.

Kemenangan Kristus di kayu salib tidak kalah dahsyatnya dengan peristiwa ini. Dari Kristus kita juga belajar bahwa Allah layak dipuji, bahwa tangan-Nya kuat, bahwa Dia tiada bertara, bahwa kita adalah umat-Nya yang akan dibawa pulang. Kita juga ada di antara kemenangan yang dahsyat itu dan penggenapannya pada masa depan, ketika kita akan “menyeberang” ke langit dan bumi yang baru. Masalahnya bahwa kadangkala kemenangan atas dosa dan maut terasa abstrak, sehingga rasa syukur yang meliputi Israel pada saat itu tidak terasa oleh kita. Karena perikop ini menceritakan keadaan yang konkret, yang dengan mudah kita bayangkan, maka kita dapat belajar bagaimana rasa syukur yang selayaknya. Soalnya, kita luput dari nasib yang lebih parah dari nasib Israel seandainya Tuhan tidak campur tangan, yaitu larut dalam dosa dan menghadapi maut tanpa harapan.


Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


Ams 23:19-28 Nasihat seorang teladan

Oktober 18, 2009

Bagian 22:17-24:34 merupakan koleksi amsal dari “orang-orang bijak”, yang ternyata mirip dengan koleksi amsal dari Mesir (Pesan-pesan Amenemope). Kemiripan tidak berarti disalin, karena jelas berwarna iman Israel. Koleksi ini memakai nama Tuhan (YHWH), dan bertujuan iman kepada-Nya (22:19). Tetapi kita melihat dalam bagian ini dengan paling jelas bahwa hikmat bukan milik satu kelompok saja.

Bagian ini juga berbeda dari bagian yang mulai pada p.10, karena setiap amsal mencakup beberapa ayat. Dalam perikop kita, ada tiga amsal, yaitu aa.19-21, aa.22-25 dan aa.26-28 (sehingga renungan ini tidak dipotong pada a.26). Yang pertama menyangkut nafsu yang tak terkendali. Adalah menarik bahwa bukan hanya anggur yang disebut tetapi juga daging. Saya menduga bahwa dalam dunia kuno, sama seperti di Indonesia, daging dimakan pada pesta saja, kecuali yang kaya. Selain menjadi mahal, gaya hidup itu juga membuat orang kantuk, artinya tidak lagi terfokus pada perjuangan hidup.

Amsal yang pertama mulai dengan seruan kepada anak untuk mendengarkan ayahnya, tetapi dalam amsal yang kedua (aa.22-25) orang tua adalah sumber hidup, dan menyenangkan orang tua menjadi motivasi untuk berhikmat (a.24-25). Seruan ini adalah untuk memperoleh kebenaran, hikmat dsb (a.23). Seandainya hal-hal itu bisa dijualbelikan, maka semestinya dibeli dan dipegang terus.

Dalam amsal yang ketiga (aa.26-28), si ayah mengajak anaknya untuk melihat contohnya sendiri (a.26). Peringatan di sini menyangkut nafsu berahi yang di luar batas nikah.

Adalah terlalu gampang jika kita menyoroti kesukaan beberapa pemuda untuk bermabok-mabokan, tanpa bertanya, siapakah dari generasi ayah mereka yang layak mengajak mereka untuk memperhatikan jalannya (a.26)? Sering yang dijunjung tinggi adalah pelahap gengsi dan uang. Pendidikan dianggap komoditas yang bisa dibeli secara harfiah—saya membayar uang sekolah dan diberi ijazah lepas dari apakah saya sudah memperoleh pengertian atau tidak. Di berbagai kalangan dianggap biasa saja jika laki-laki yang berjalan jauh main pelacur. Maksud saya, perikop ini menyangkut ayah yang bijak yang mau meneruskan hikmatnya kepada anak, bukan ayah yang kacau yang mengeluhkan kekacauan anaknya.

Yang sudah pada jalan belajar hikmat, tolong diteruskan kepada generasi muda yang membutuhkan banyak bimbingan dalam dunia ini. Yang belum, jadilah anak kembali untuk mempelajari jalan yang benar.


Mk 5:35-43 Maut dikalahkan

Oktober 13, 2009

Musibah seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia mengingatkan kita bahwa maut adalah musuh. Jika kita berdukacita atas meninggalnya orang yang sudah lanjut usia, lebih lagi ketika ada orang yang masih muda. Jadi, kita langsung beridentifikasi dengan Jairus yang mendekati Yesus dengan harapan yang besar bahwa Yesus bisa menyembuhkan anaknya yang sakit parah (aa.22-23). Cerita berikut cukup dikenal, bagaimana Yesus dihalangi oleh perempuan yang sakit (aa.24-34) sehingga anak itu sudah meninggal, tetapi Yesus sanggup membangkitkannya. Juga cukup jelas bagaimana pembawa berita maupun para peratap tidak percaya kepada Yesus, sedangkan Jairus percaya, atau cukup percaya sehingga dia menerima semua usulan Yesus. Kepercayaan mungkin didukung oleh melihatnya perempuan yang sakit parah itu disembuhkan, tetapi tentu membangkitkan orang mati melebihi menyembuhkan.

Tema yang akan saya soroti adalah kebangkitan itu. Tema itu disinggung dalam perkataan Yesus bahwa anak itu hanya tidur. Yesus ditertawakan karena sepertinya orang menafsir-Nya secara harafiah. Dugaan saya bahwa Yesus merujuk ke Dan 12:2. Walaupun dalam pasal-pasal awal kitab Daniel kita melihat Allah menyelamatkan Daniel dan teman-temannya dari maut, dalam Dan 11:33-35 tidak semua orang bijaksana yang selamat. Tetapi dalam Dan 12:2 Allah akan membangkitkan mereka. Dengan dibangkitkan mereka tidak kehilangan bagian mereka dalam pembaruan pada akhir zaman. Banyak orang Yahudi menerima harapan itu. Tetapi harapan itu menyangkut akhir zaman, bukan masa kini.

Apakah Yesus memajukan kebangkitan pada akhir zaman menjadi hal yang masa kini? Bukan dalam peristiwa ini. Anak itu bangkit dari kematian, tetapi akan mati kembali. Kebangkitan ini hanya mendapat artian yang sebenarnya ketika Yesus sendiri bangkit, bukan untuk mati kembali melainkan memulai hidup kekal. Mujizat ini adalah pertanda bahwa Dia berkuasa atas maut, pertanda yang merujuk ke kebangkitan-Nya di mana kuasa itu terbukti dan digenapi. Cukup banyak cerita dalam Markus mengandung pesan yang sama, misalnya pada awal p.5 orang yang kerasukan itu tinggal di pekuburan, tempat orang mati.

Karena maknanya hanya akan jelas pada kebangkitan, Yesus melarang peristiwa ini diceritakan. Sama seperti identitas-Nya sebagai Mesias, orang banyak belum sanggup menafsirnya dengan tepat. Mereka akan rindu supaya keluarga mereka yang sudah meninggal dibangkitkan, daripada menaruh pengharapan pada zaman mendatang. (Apakah Dia mengatakan kepada orang banyak bahwa perempuan itu hanya tidur supaya peristiwa itu ditafsir sebagai penyembuhan saja? Jika demikian, menurut Mt 9:26 usaha itu tidak berhasil.)

Menurut tafsiran yang saya paparkan di atas, penerapan dari peristiwa ini adalah percaya pada janji pembaruan pada akhir zaman berdasarkan kebangkitan Yesus. Cerita ini mengingatkan kita akan kepedihan kematian sehingga kita memahami bahwa kebangkitan Yesus menjawab masalah utama dalam dunia ini. Anggaplah tafsiran ini adalah tafsiran “eskatologis”, yaitu menyangkut akhir zaman (yang mulai dengan kebangkitan Yesus). Saya juga bisa membayangkan tafsiran “kuasa” dan juga tafsiran “etis”. Tafsiran kuasa mengatakan bahwa percaya berarti mengharapkan mujizat sekarang juga. Tafsiran etis mengatakan bahwa percaya berarti melawan kuasa-kuasa maut dalam dunia ini sama seperti Yesus. Kedua tafsiran ini adalah implikasi yang sejati dari perikop ini, asal dilihat dalam rangka eskatologis tadi, yaitu dengan harapan yang terbatas untuk zaman ini. Maksudnya bahwa tidak semua yang percaya akan luput dari kesakitan dan maut sebelum kebangkitan pada akhir zaman, dan juga bahwa betapa kuat perlawanan kita terhadap kuasa-kuasa maut (misalkan perdagangan perempuan atau materialisme) kemenangan hanya akan lengkap dan kokoh ketika Yesus datang kembali. Jadi, jika ada mujizat atau perlawanan yang ada hasilnya (misalnya keadilan bagi rakyat kecil dalam perkara tertentu—itu juga sebuah mujizat!), hal itu juga merupakan pertanda akan harapan eskatologis itu.

Mari kita percaya akan kebangkitan Yesus, supaya kita siap untuk berjuang dalam harapan kita, dan menyaksikan kuasa Allah dalam perjuangan kita.


Mik 7:1-6 Hidup di tengah dosa

Oktober 4, 2009

Kita semua berdukacita atas bencana alam yang terjadi di berbagai negeri termasuk Indonesia akhir-akhir ini. Ada yang bertanya di mana Tuhan di dalamnya dsb. Seakan-akan kaget, dan baru diperhatikan bahwa ada banyak penderitaan di dunia ini, dan semua bagian Alkitab yang berbicara tentang masa depan berbicara tentang dunia yang penuh penderitaan sampai Allah membawa pemulihan yang tuntas (mis. Mk 13 atau Why 6). Yang paling sulit adalah kesadaran bahwa jumlah korban akan jauh lebih sedikit seandainya pembangunan di Padang sesuai standar yang semestinya di tempat yang rawan gempa bumi. Tentu, ada dugaan bahwa kurangnya kualitas bangunan karena korupsi (demikain usulannya di salah satu koran di Australia). Dampak bencana alam diperbesar oleh kemerosotan akhlak Indonesia. Dalam kedaulatan Allah, dosa membawa akibatnya sendiri.

Jika saya mengusulkan bahwa kita tidak usah kaget, saya tidak mau mengatakan bahwa kita semestinya acuh tak acuh terhadapa keadaan ini. Bagi Mikha hidup di tengah bangsa yang berdosa adalah celaka. Kecelakaan Mikha digambarkan dalam a.1 seperti orang yang mencari buah anggur dan ara pada pemetikan susulan (yang diadakan pada akhir musim panas). Seandainya ada yang tersisa, itu hanya sedikit dan kualitasnya kurang. Mungkin Mikha memakai kebun anggur sebagai perumpamaan untuk Israel, untuk mengatakan bahwa buah yang diharapkan Allah tidak ada. Rujukannya dijelaskan dalam aa.2-4a. Sayangnya, di Indonesia ayat-ayat ini terlalu mudah dipahami. Termasuk kerja sama antara pemuka, hakim dan pembesar untuk membalikkan hukum (a.3).

Namun, Tuhan tidak berdiam diri. Melalui nabi seperti Mikha Dia sudah memperingati bahwa hari penghukuman akan jatuh di atas Israel. (Pengintai adalah orang di tembok kota yang tugasnya memberitahu jika musuh mendekat, dan dipakai sebagai kiasan untuk nabi. A.4b bisa diartikan “hari penghukuman bagi nabi palsu dan kalian semua” atau “hari yang diberitahukan oleh nabi-nabi sejati tentang penghukuman bagi kalian semua”.) Jika a.4b merujuk pada pengepungan Samaria oleh Asyur (2 Raj 17:1-6), maka aa.5-6 cukup menggambarkan keadaan krisis yang akan terjadi. Ketika kota sudah lama dikepung dan makanannya habis, kelaparan menghapus kepedulian terhadap sesama. Tetapi mungkin pada saat Mikha bernubuat relasi-relasi manusia sudah hancur oleh karena kejahatan yang merajalela. Paling sedikit, orang yang mau jujur, seperti Mikha, akan dicurigai atau mau dijatuhkan oleh masyarakat yang berakhlak seperti dalam aa.2-4.

Menarik bahwa Yesus mengambil a.6 untuk menggambarkan efek dari kehadiran-Nya. Malah, Dia menganggap itu bagian dari tujuan-Nya di bumi (Mt 10:34-36). Hal itu bukan karena Dia tidak suka damai, tetapi karena manusia berdosa pada umumnya seperti digambarkan di sini. Bergabung dengan Yesus mau tidak mau berarti menimbulkan kerusuhan. Misalnya, jika anggota keluarga mau menjadi pengikut Kristus, hal itu bisa menggoncang keluarga. Hal itu bukan soal keluarga itu agama apa. Keluarga kristen pun bisa takut bahwa anaknya menjadi “fanatik” jika sudah sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Konon pernah ada keluarga di Australia yang tidak beragama sama sekali yang mengucilkan anaknya karena jadi percaya kepada Kristus. Tempat kerja juga bisa terancam oleh pengikut Kristus, misalnya oleh guru yang menolak “membantu” siswa pada ujian sekolah, atau karyawan yang tidak mau bertandatangan pada laporan fiktif.

Kitab Mikha berakhir dalam ayat-ayat berikut dengan harapan bahwa setelah penghukuman bagi Israel Allah akan menyelamatkan. Harapan akan keselamatan (yang sudah terwujud dalam Kristus) amat dibutuhkan jika kita akan bertahan setia dalam konteks seperti Indonesia. Atau konteks seperti Australia, atau di mana saja pada zaman yang celaka ini. Jika kita belum menyadari keadaan dunia ini kita akan kaget terus. Tetapi celaka bukan kata terakhir dari Mikha. Semoga kesadaran itu disertai harapan akan Allah sehingga kita bertahan setia.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?


Mk 7:24-30 Mencari tempat di meja Yesus

September 24, 2009

Cerita ini mendapat tempat yang menarik dalam alur cerita Markus. Yesus baru berdebat dengan para Farisi tentang kenajisan, dan Yesus mengajar mereka bahwa dosa yang menajiskan, bukan hal-hal lahiriah (7:14-23). Dalam perikop ini, ternyata kebangsaanpun tidak menajiskan, karena permohonan perempuan non-Yahudi ini bisa dikabulkan. Hanya, jika maksud Yesus adalah mengajarkan hal itu, mengapa Yesus sendiri menyusahkan pendekatan perempuan itu?

Dalam perikop yang sejajar dalam Injil Matius (15:21-28) soal kebangsaan memang menonjol. Kebangsaan perempuan adalah informasi pertama yang disebut tentang orangnya, dan Yesus mengabaikannya serta mengulang apa yang Dia katakan pada para murid sebelum mereka diutus ke desa-desa Israel bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari bangsa Israel (Mt 10:5-6; 15:24). Sikap-Nya terhadap perempuan itu adalah soal fokus, tetapi oleh karena imannya yang kuat Yesus bisa memberi pengecualian baginya. Dalam Injil Matius fokus itu menyangkut sejarah keselamatan. Berdasarkan nas seperti Yes 49:5-6 Yesus harus memulihkan Israel dulu, baru menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Jadi, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sang Israel sejati, yaitu Yesus, memulihkan Israel. Baru setelah itu Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi ke seluruh dunia. Sebagai catatan, bagi saya harapan yang luas dalam PL (dan dalam kalangan orang Yahudi juga, bnd. Mt 23:15) bahwa bangsa-bangsa akan masuk ke dalam Kerajaan Allah membuat satu tafsiran yang populer kurang meyakinkan, yaitu tafsiran bahwa Yesus baru menjadi sadar dalam peristiwa ini bahwa Kerajaan Allah dapat merangkul orang-orang non-Yahudi. Sikap Yesus adalah soal strategi teologis, bukan kekurangan kesadaran.

Dalam penyampaian Injil Markus yang pertama muncul tentang perempuan itu adalah soal anaknya yang kerasukan. Soal kebangsaan muncul hanya sebagai latar belakang untuk jawaban Yesus yang mengejutkan itu. Soal anak dan anjing memang merujuk ke Israel dan bangsa-bangsa, tetapi tema yang menonjol dalam Injil Matius itu hanya sedikit dalam Injil Markus. Mungkin yang lebih relevan dalam Injil Markus adalah redefinisi Yesus tentang “keluarga Allah” pada akhir p.3, di mana keluarga Yesus adalah orang-orang yang duduk belajar daripada-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Dengan demikian pernyataan Yesus tentang hak anak untuk mendapat makanan bermaksud untuk menguji iman perempuan itu. Apakah dia bertanya sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau apakah dia menganggap diri bagian dari keluarga yang dibentuk Yesus? Jawabannya cerdik. Tanpa menyangkali statusnya sebagai non-Yahudi dia menempatkan diri sebagai anjing peliharaan yang tetap adalah bagian dari keluarga (dan dalam versi Markus mendapat sisa dari bagian anak-anak). Yesus yang melihat imannya dalam kata-kata itu mengabulkan permintaannya.

Memang, untuk kita pasca-kebangkitan jelas bahwa Injil terbuka untuk semua bangsa. Tinggal apakah kita datang kepada Yesus sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau karena kita mau mendapat tempat di meja-Nya, biarpun kedudukan kita di dalam-Nya serendah anjing.


Ayub 1:1-5 Kesalehan yang sejati

September 14, 2009

Tentu, perikop ini adalah pendahuluan bagi kisah Ayub, yang mulai berjalan pada a.6. Aa.1-3 memaparkan salah satu pokok inti dalam kisah ini, yaitu hubungan antara kebenaran (a.1, gambaran yang jelas dan padat mengenal bagaimana manusia yang benar) dan kesejahteraan (aa.2-3). Kebenaran Ayub sangat mencolok. Kata saleh menerjemahkan kata yang berarti sempurna. Jadi, ditekankan bahwa tidak ada alasan di dalam Ayub untuk dia dihukum. Namun, dia justru menderita dengan dahsyat dalam pp.1-2 ini, sehingga hubungan antara kebenaran dan kesejahteraan itu diputuskan dengan keras.

Aa.4-5 berfokus pada anak-anaknya, yang akan menjadi puncak kerugian Ayub dalam p.1 (aa.18-19). Jadi, sebagai perincian dari maksud di atas, kita melihat bahwa pengurbanan pun tidak menjamin keamanan orang-orang yang kita cintai.

Banyak kesalehan, dalam agama apapun termasuk kekristenan, merupakan usaha untuk menjamin kesejahteraan atau keamanan. Dengan demikian Allah menjadi alat (lihat aa.9-11), dihormati hanya karena kuasa-Nya. Dalam PB jaminan akan kesejahteraan ditunda sampai datangnya langit dan bumi yang baru (Rom 8:17). Jadi, pelajaran Ayub menjadi penting. Allah bukan sarana untuk kesejahteraan kita melainkan pokok dalam kehidupan kita.


3 Yoh 1:1-4 Menyikapi Kebenaran

September 7, 2009

Kitab 3 Yoh ini memberi gambaran tentang bagaimana kebenaran diterapkan secara praktis. Ada pertolongan kepada yang memberitakannya (5-8) serta gambaran tentang orang yang menentangnya (9-10). Intinya, yang memang mewakili tema utama dalam tulisan-tulisan Yohanes yang lain, terdapat dalam a.11, yaitu berasal dari dan mengenal Allah.

Dalam bagian awal surat ini, yakni aa.1-4, kita menemukan satu segi lagi, yaitu sikap orang terhadap kebenaran. Kasihnya berbasis kebenaran (1). Doanya menyangkut bukan hanya kesejahteraan umum, tetapi kesejahteraan jiwa (2). Dalam konteks surat ini hal itu paling sedikit merujuk ke jiwa yang benar. Dalam kedua ayat berikut, kita melihat lebih lagi bahwa ada sukacita dalam penulis atas kebenaran dalam diri orang lain.

Banyak doa kita seperti dalam a.2a, yaitu menyangkut kesejahteraan umum. Akhir-akhir ini saya berbicara dengan sekelompok orang yang menghadapi pergumulan. Salah satunya berkomentar bahwa melaluinya mereka dikuatkan untuk perjuangan berikut. Saya jadi berpikir, apakah saya akan lebih bersukacita ketika mereka bertumbuh dalam kenyamanan atau ketika mereka bertumbuh dalam kebenaran. Jika yang pertama, apakah karena saya sendiri lebih suka akan kenyamanan daripada kebenaran. Tetapi sebenarnya kita tahu bahwa yang membawa sukacita yang lebih besar adalah melihat teman, jemaat, keluarga bertekun dalam kebenaran. Semoga kebenaran yang dikerjakan Allah dalam diri orang lain menjadi pokok doa dan sukacita kita juga.


Neh 8:1-9 Menanggapi firman Allah dengan baik

Agustus 31, 2009

Pembacaan dan perenungan firman Allah (Alkitab) menjadi bagian pokok dalam kumpulan umat kristiani. Untuk pendeta, khotbah dapat memenuhi beberapa fungsi. Khotbah menjadi cara untuk menyerang oknum atau kelompok dalam jemaat. Khotbah menjadi ‘terapi’ yang di dalamnya pendeta bisa melampiaskan frustrasi atas tingkah laku jemaat—atau kadangkala tanpa sadar atas tingkah laku sendiri, karena manusia sering memproyeksikan dosa sendiri kepada orang lain. Bagi jemaat, khotbah adalah bagian ibadah yang (mudah-mudahan) berbeda setiap minggu, dan mungkin dapat menerangi pergumulan hidup. Karena duduk saja, khotbah juga memberi kesempatan untuk istirahat.

Tentu kita tahu bahwa gambaran yang (mudah-mudahan) melebih-lebihkan itu bukan yang semestinya, dan perikop Neh 8 ini memberi kita beberapa petunjuk yang lain. Yang pertama, konteks pembacaan Taurat oleh Ezra adalah selesainya pembangunan tembok (6:15). Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari suatu batas yang jelas (tembok untuk kota Yerusalem atau, misalnya, pengakuan gereja) ialah memungkinkan ibadah kepada Tuhan. Yang menarik di sini, umat meminta kepada Ezra supaya Taurat dibaca. Penyelesaian tembok memberi semangat yang baru.

Yang kedua, Ezra membaca di tempat umum supaya sebanyak mungkin dapat mendengarnya. Jadi, pembacaan bukan di tengah ibadah di Bait Allah. Semua ikut yang dapat mengerti, mungkin merujuk ke anak-anak di atas umur tertentu. Ibadah ini tidak mengesampingkan siapapun.

Yang ketiga, pembacaan Taurat disambut dengan sikap yang baik oleh jemaah. A.4 menyimpulkan hari itu, bahwa jemaah mendengar dengan penuh perhatian, sedangkan aa.5 dyb menjabarkan berbagai unsur dalam pembacaan itu. Ada jemaat berdiri untuk menghormati firman (a.6), serta pemujian dan penyembahan (a.7). Kadangkala pembacaan Alkitab dianggap bagian “otak” sedangkan menyanyi adalah bagian “hati”, tetapi di sini firman Allah disambut dengan hati yang penuh perasaan.

Yang keempat, pembacaan Taurat disertai penjelasan. Taurat berasal dari masa lampau, sehingga akan ada masalah bahasa dan budaya yang tidak jelas bagi jemaah. Di sini kita melihat salahnya gambaran awal tadi. Khotbah bukan untuk pengungkapan diri pengkhotbah melainkan pengungkapan makna firman.

Masalah kita dengan pembacaan dan perenungan firman bisa terletak pada jemaat dan/atau pada pengkhotbah. Jika bagi jemaat Allah ada di pinggir hidup, bukan “Allah yang mahabesar”, maka firman-Nya tidak akan mengasyikkan seperti bagi jemaah Israel dalam perikop ini. Tetapi bisa juga pengkhotbah mengaburkan daripada menjelaskan firman. Semoga Allah dimuliakan oleh khotbah yang jelas dan jemaat yang rindu mengenal-Nya.