Yes 40:1-11 Allah Datang dengan Kekuatan [7 Des 2014]

Desember 5, 2014

Dengan tulisan terakhir untuk tahun ini, saya mengucapkan selamat merayakan dan menantikan kedatangan Juruselamat kita. Sampai jumpa tahun depan.

Penggalian Teks

Yesaya 1–35 berfokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya. Pp.36–39 menceritakan sejarah Hizkia yang luput dari kerajaan Asyur (yang menghancurkan Kerajaan Utara) tetapi memberi peluang bagi orang Babel yang kemudian menjadi alat Tuhan untuk menghancurkan Yehuda, dan membawa umat Israel ke dalam pembuangan. Perikop ini merupakan peralihan ke sudut pandang pembuangan yang sedang berlangsung. Ada beberapa tokoh yang tersirat di dalamnya. Penutur adalah nabi (6a) yang menyampaikan firman dari Allah (1b). “Hiburkanlah” adalah perintah yang jamak, jadi dia berbicara kepada sebuah kelompok. Barangkali, ini adalah kelompok orang yang siap mendengarkan firman itu. Kelompok ini yang disuruh untuk menyampaikan kabar baik kepada umat Allah.

Isi penghiburan ialah waktu dalam pembuangan sudah habis (2). Waktu itu disebut sebagai perhambaan, akibat kesalahan, dan hukuman karena dosa. Hukuman itu sudah diterima “dua kali lipat”. Hal itu menegaskan bahwa hukuman itu sudah tuntas betul. (Ada beberapa kemungkinan untuk memahami maksud persisnya, tetapi satu tafsiran yang menarik merujuk ke Yes 47:8–9 bahwa sebuah kota yang dihukum kehilangan suami dan anak-anak [baca “kehilangan anak” untuk LAI “punah”], jadi, dihukum dua kali.)

Dalam aa.3–5, ada suara berseru supaya kelompok yang siap mendengarkan itu mempersiapkan jalan pulang dari Babel, dengan membuat jalan raya melalui medan yang sulit. Dengan kata “harus” dalam a.4, LAI memberi kesan bahwa manusia yang akan meratakan medan itu, tetapi, sesuai dengan versi-versi dalam bahasa Inggris, “akan” lebih cocok (“setiap lembah akan ditutup”): pembuatan jalan itu adalah karya Tuhan, dan manusia hanya ikut di dalamnya. Penggenapan pertama ayat-ayat ini menunjukkan itu: Israel kembali dari pembuangan di Babel dengan jalannya diperlancar secara politik oleh pemerintah Koresh (Ezra 1). Tuhan membuka jalan, tinggal mereka berani menjalaninya, karena percaya pada firman Allah ini. Dengan demikian, kemuliaan Tuhan diperlihatkan kepada semua orang (5). Dalam PB, Yohanes Pembaptis berperan sebagai suara itu, dan umat Israellah yang disuruh untuk mempersiapkan jalan raya itu dengan pertobatan yang sungguh-sungguh (Mk 1:1–8). Namun, karya Allah yang memperlihatkan kemuliaan-Nya bukan dalam pertobatan itu, melainkan dalam Yesus yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mk 1:8).

Dalam a.6, suara itu berseru kepada si nabi. Pesannya menegaskan bahwa firman Allah itu tetap, dan manusialah yang fana (aa.6–8). Ingat bahwa bagi Israel dalam pembuangan, kerajaan Babel kelihatan sangat kukuh, sehingga firman Allah ini sulit dipercaya. Petrus mengutip ayat-ayat ini dan mengatakan bahwa firman tentang pemulihan Israel itu adalah firman yang diberitakan kepada jemaat, yakni Injil (1 Pet 1:24–25). Dia melihat bahwa pemulihan Israel digenapi di dalam Yesus.

Dalam aa.9–11, Sion dipanggil untuk membawa kabar baik kepada kota-kota Yehuda bahwa Allah mendekat (9). Tuhan kembali di jalan raya tadi dengan umat Israel yang dibuang sebagai upah dari jerih payah-Nya dalam rangka menyelamatkan mereka (10). Umat itu seperti kawanan domba yang Dia pelihara dengan baik (11). PB melihat Yesus sebagai gembala yang baik, dan “kabar baik” dalam a.9 adalah istilah Injil (euanggelion) dalam versi LXX.

Penggenapan ayat ini dalam PB menjadi jelas ketika kita memahami bahwa pembuangan Israel, sama seperti pengusiran Adam dari taman Eden, adalah hukuman atas dosa, sepadan dengan kematian. Kembalinya umat Israel ke tanah Israel berarti pengampunan dan kehidupan. Dalam kematian-Nya, Yesus masuk ranah kematian sebagai hukuman dosa, walaupun Dia tidak bersalah, dan dalam kebangkitan-Nya Allah membawa Dia dan semua yang berada di dalam-Nya (karena percaya kepada-Nya) ke dalam ranah kehidupan sebagai orang yang diampuni. Oleh karena itu, janji Allah kepada Israel dalam perikop ini adalah janji-Nya kepada kita juga.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa penghiburan bagi semua orang yang tertekan oleh dosa, dengan menyampaikan kabar baik bahwa karya Allah telah melenyapkan semua yang dapat menghalangi kita untuk dibawa dari ranah kematian ke ranah kehidupan. Kita didorong untuk percaya pada firman itu sehingga kita terus-menerus mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan pertobatan.

Makna

Masa Adven menekankan persiapan bagi Tuhan dengan pertobatan, dan perikop ini mengingatkan kita bahwa dasar pertobatan adalah pengharapan. Andaikan kita tetap dalam perhambaan karena dosa dan tidak ada jalan keluar, apa gunanya melawan dosa? Tetapi, karena Allah telah, terus, dan akan berkarya di dalam dunia melalui Yesus Kristus, kita melangkah dalam pengharapan. Kelesuan Israel diobati Allah dengan berita yang membawa pengharapan. Sama halnya untuk kelesuan jemaat.

Pertobatan merupakan perubahan cara kita memandang dunia. Yang tadinya dianggap menarik dan menguntungkan, sekarang dianggap rugi dan sampah. Perubahan itu hanya bisa terjadi ketika kita percaya pada firman Allah. Dari satu segi, kita sudah melihat penggenapan janji perikop ini dalam karya Kristus, tetapi pada segi yang lain, kita tetap menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menuntaskan keselamatan itu. Jadi, penegasan tentang firman Allah itu tetap penting.

Visi Yesaya tentang pembaruan yang dikerjakan Allah sangat luas, bahkan sampai ciptaan baru (Yes 65:17–25). Yang disoroti di sini adalah intinya: umat Allah akan menikmati Allah sebagai gembala yang telah berjuang bagi mereka dengan kekuatan ilahi-Nya (10–11). Allah itulah yang kita kenal di dalam Yesus, Sang Gembala yang Agung.


Mt 25:14-30 Giat untuk Tuhan kita [16 Nop 2014]

November 10, 2014

Tulisan saya muncul untuk satu kali saja bulan ini, karena ini perikop yang saya pakai ketika mengunjungi jemaat-jemaat di Sydney. Bila penyusunan disertasi sudah selesai, saya mau kembali menulis secara teratur. Tolong didoakan.

Penggalian Teks

Matius 24–25 berbicara tentang akhir zaman, sesuatu yang akan dimulai dalam kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi lama kemudian baru akan sampai pada puncaknya. Kelamaannya itu menjadi tema dalam perumpamaan tentang hamba yang jahat (24:9), tentang kesepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh (25:5), dan dalam perikop kita (25:19).

Cerita Yesus menyebutkan “seorang” yang ternyata tidak hanya memiliki beberapa hamba, tetapi juga kaya: dia memiliki uang tunai sebanyak delapan talenta. Satu talanton dalam bahasa Yunani itu anggaplah senilai satu milyar rupiah sekarang, jadi ada delapan milyar rupiah yang dipercayakan kepada tiga hamba itu (14–15). Yesus tidak menyebutkan apa urusan kepergiannya, tetapi pada zaman itu bepergian berisiko, dan tidak jelas kapan dia akan kembali. Namun, hamba pertama dan kedua tidak ragu-ragu, dan langsung menjalankan uang mereka sehingga beroleh laba 100% (16–17). Hamba ketiga beroleh 0%, karena dia mencari aman dengan menyembunyikan uangnya (18).

Akhirnya, tuan itu pulang, dan memanggil ketiga hamba (19). Hamba pertama dan kedua dengan penuh sukacita menunjukkan hasil mereka (20, 22). Tuan mereka pun bersukacita atas mereka. Dia memuji mereka dan menawarkan tanggung jawab yang lebih besar (21, 23). Intinya di kalimat terakhir perkataannya: “turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kedua hamba itu masing-masing bertindak sebagai orang yang menganggap diri satu kepentingan dengan tuannya. Kebahagiaan tuan dan hamba tak terpisahkan.

Lain cerita dengan hamba yang ketiga. Dia membela diri dengan menuduh bahwa tuannya tidak baik (kejam) dan tidak setia (menuai dengan tidak menabur). Dan memang, tuannya baru saja beroleh laba tujuh milyar tanpa bekerja sendiri sama sekali. Jadi, hamba itu berdalih bahwa mencari aman adalah satu-satunya respons yang cocok terhadap tuan seperti dia. Bahwa dia tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya muncul dalam kalimat terakhir yang dia ucapkan: talentanya adalah kepunyaan tuan, bukan urusan dia (24–25).

Tentu, sang tuan tidak menerima dalih itu. Kebalikan dari kedua hamba yang lain, hamba ini jahat (tidak baik) dan malas (tidak setia). Kejahatannya karena sudah memfitnah tuannya. Kemalasannya karena, andaikan fitnahnya benar, dia tetap tidak merepotkan diri bahkan untuk pergi ke orang yang pintar berusaha pun tidak (26–27). Tetapi a.28 menunjukkan bahwa memang tuduhan hamba ketiga itu fitnah. Sang tuan mengambil talentanya dari hamba ketiga itu, bukan untuk dirinya, melainkan untuk diberikan kepada hamba pertama. Artinya bahwa kedua hamba pertama sungguh sudah menjadi bagian dari kepentingan tuannya; tuan mereka tidak akan membuang mereka, tetapi akan tetap melibatkan mereka dalam urusannya.

Akhirnya, aa.29–30 menunjukkan bahwa mencari aman ternyata bukan jalan yang aman. Hamba ketiga, yang tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya, kehilangan apa yang dia terima dari tuannya, dan dikeluarkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya, termasuk kita yang membaca perumpamaan ini, untuk kepergian-Nya, supaya kita giat bekerja untuk Kerajaan Allah karena kita sadar bahwa kita berbagian dalam kepentingan Dia. Cara kita menghadapi kehidupan kita, apakah dengan mencari aman atau dengan keberanian dan kreativitas, bergantung pada sikap kita terhadap Yesus, Tuhan kita.

Makna

Dalam bahasa Indonesia, talenta berarti pembawaan seseorang sejak lahir, bakat. Kata itu berasal dari perumpamaan ini melalui bahasa-bahasa Eropa, tetapi maksud Yesus lebih luas daripada bakat saja. Apa saja yang diberikan Tuhan kepada kita, termasuk uang, jaringan, kedudukan, pendidikan, dan waktu, bisa dipakai untuk kepentingan Tuhan kita, yakni Kerajaan Allah. Tentu, pemberian yang pokok ialah berita Injil, yang menjelaskan siapakah Raja dari Kerajaan Allah, yakni Yesus yang mati dan bangkit itu.

Perhatikan bahwa hamba ketiga tidak melanggar aturan apapun. Dia tidak merugikan tuannya dengan mencuri atau berkorupsi. Sebaliknya, kedua hamba pertama mempertaruhkan harta tuan mereka, karena ada kemungkinan bahwa usaha mereka tidak akan membawa hasil yang jelas, atau bahkan membawa kerugian. Tetapi mereka yakin bahwa tuan mereka akan menghargai mereka dan usaha mereka. Hamba ketiga hanya melihat peraturan dan risiko (a.25, “takut”), bukan kesempatan. Seorang kristen bisa saja memelihara kesepuluh hukum namun tidak peduli tentang Kerajaan Allah. Sebagai bendahara dia akan jujur, tetapi diminta untuk pelayanan yang di luar zona amannya, dia akan takut untuk mencobanya.

Masalahnya, ketakutan itu muncul dari sikap tidak percaya terhadap Yesus, Tuhan kita. Rasa takut itu mengatakan bahwa Tuhan itu kejam, Dia mau menjatuhkan kita kalau salah sedikit, sehingga lebih aman tidak berusaha sama sekali. Kemalasan itu juga muncul dari kesan bahwa Tuhan hanya mau memanfaatkan kita. Kita akan rugi dari segi waktu atau materi, tanpa ada imbalan sedikit pun. Dan memang, hanya kalau kita merasa berbagian dalam kepentingan Tuhan, maka semuanya akan dianggap sebagai kesempatan, bukan kerugian, entah uang yang dipersembahkan, waktu yang diberikan untuk melayani, atau kesusahan dalam mempedulikan sesama.

Makanya, rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus, bagian dari Kristus dan satu kepentingan dengan Dia. Oleh karena kita dibenarkan oleh iman, kita tidak takut salah sehingga harus mencari aman, tetapi berani mengerjakan kasih yang timbul dari iman dan pengharapan.


Rom 14:1-12 Terimalah sesama hamba Tuhan [14 Sep 2014]

September 9, 2014

Renungan di bawah adalah yang terakhir untuk selama beberapa minggu mendatang, supaya saya bisa fokus untuk menyusun. Untuk perikop minggu depan, lihat ini. Untuk perikop tgl 28 Sep, bahan MJ adalah bahan saya.

Penggalian Teks

Paulus masuk bagian ini setelah menguraikan mengenai kasih kepada sesama (12:9; 13:9) sebagai wujud mempersembahkan tubuh karena kemurahan Allah (12:1). Hal itu akan menuntut mereka tampil beda (12:2) sama seperti terang tampil beda pada waktu malam (13:11–14). Rom 14:1–15:13 membahas kesatuan dalam memuliakan Allah (15:6) walaupun ada perbedaan tingkat kekuatan iman (14:1; 15:1). Perikop kita menegaskan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Hakim. Oleh karena itu, sebagai ganti menghakimi sesama, kita semestinya bertindak dalam kasih (14:13–23), dengan membangun sesama, sama seperti Kristus tidak menyenangkan diri-Nya dan datang baik untuk orang Yahudi, maupun untuk bangsa-bangsa (15:1–13).

Ujung tombak sikap itu adalah penerimaan: orangnya diterima lepas dari pendapatnya yang mengganggu kita (1). Paulus menyebutkan dua contoh: makanan (2), dan pengkhususan hari (5). Soal makanan merujuk pada soal kenajisan, dan sebenarnya di dalam Kristus tidak ada yang najis lagi (14:14, 20). Makanya, Paulus menganggap iman kelompok itu “lemah”, karena mereka belum menangkap sepenuhnya kebebasan di dalam Kristus. Kelompok yang kuat cenderung menghina kelompok yang lemah—tentu kelompok yang lemah itu tidak bisa dianggap bersalah, mereka hanya bodoh atau kolot (3a). Tetapi kelompok yang lemah menghakimi kelompok yang kuat, karena mereka dianggap berbuat najis (3b). Tetapi, entah menghakimi secara sosial (menghina) atau secara agamawi (menghakimi), sikap itu melawan Allah (3c). Allah telah menerima setiap orang sebagai hamba-Nya, Dia yang berhak untuk menjatuhkan malah akan meneguhannya (4). Paulus beralih ke persoalan yang mungkin tidak sama hangatnya, yakni memelihara hari khusus (5a), untuk berbicara tentang tanggung jawab setiap hamba, yaitu, kita harus yakin tentang pendirian kita (5b). Hal itu dilihat karena kita melakukannya untuk Tuhan (6a). Soal makanan juga sama: sikap yang benar dilihat dalam diri orangnya yang bersyukur kepada Allah, entah makan atau tidak (6b).

Paulus menegaskan kepemilikan Tuhan dengan mengingatkan mereka bahwa Kristus telah mati dan hidup kembali, sehingga menjadi Tuhan baik atas kehidupan kita maupun kematian kita (7–9). Mungkin kematian di sini tidak hanya merujuk pada kematian fisik, tetapi juga usaha untuk mematikan dosa yang bisa saja menjadi salah satu alasan untuk tidak makan (bdk. 8:14). Atau, kematian fisik anggota kelompok yang lain dianggap bukti bahwa Allah tidak berkenan atas orangnya. Paulus menegaskan bahwa semua segi dari kehidupan kita ada di bawah kuasa Tuhan.

Kepemilikan Tuhan berlaku untuk semua orang percaya. Menghina sesama tidaklah membuktikan bahwa si penghina itu terpuji; menghakimi sesama tidaklah membuktikan bahwa si hakim itu benar (10a). Si penghina dan si hakim akan menghadap takhta pengadilan Allah juga (10b). Maksud Allah dalam menghakimi ialah sebagai penggenapan rencana keselamatan. Tuhan satu-satunya yang menawarkan keselamatan kepada semua orang (Yes 45:22), dan semua orang akan mengakui hal itu (Yes 45:23, yang dikutip Paulus dalam a.11). Kita tidak sanggup melakukan hal itu kepada sesama; kita cukup mempersiapkan diri saja (12).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menuntut kita untuk menerima sesama, dengan mengingat bahwa Kristus yang mati dan bangkit adalah Tuhan yang: 1) telah menerima setiap hamba-Nya; 2) akan menilai pelayanan setiap hamba-Nya pada waktunya. Menghina dan menghakimi sesama orang percaya melangkahi hak Kristus sebagai Tuhan.

Makna

Perhatikan bahwa Paulus menilai pendapat kaum lemah tentang makanan itu salah (14). Jadi, maksudnya bukan untuk mengatakan bahwa setiap pendapat di dalam jemaat sama benarnya dan sama bobotnya. Soal makanan malah bukan hal yang sepele, karena menunjukkan sejauh mana orang tersebut menangkap bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat (10:4). Tetapi, sebuah pendapat yang keliru tidak membuat pemegangnya kafir, bodoh, atau seorang hamba kelas dua dalam Kerajaan Allah. Dia tetap dihargai Tuhan, dan berurusan dengan Tuhan mengenai kesetiaannya dalam melayani Tuhan. Bilamana ada diskusi tentang apa yang dipersoalkan, kita tidak berhak untuk menilai motivasi orang tersebut di hadapan Tuhan. Singkatnya: mengecam pendapat bukanlah menghakimi; menghakimi adalah menjatuhkan vonis bahwa seseorang (atau kelompok) bukan hamba yang setia kepada Tuhan.

Aa.10–12 perlu direnungkan oleh setiap pelayan, karena dalam tugas kita untuk menasihati sesama, kita bisa lupa bahwa kita sendiri akan diadili Allah. Saya agak gelisah ketika seorang pelayan mengatakan tentang tingkah laku yang salah secara umum, “Hal itu tidak pantas untuk seorang pelayan.” Seakan-akan, dia hanya mau taat dalam hal itu demi jabatannya. Setiap “hamba Tuhan” dalam artian sehari-hari adalah pertama-tama hamba Tuhan, sama seperti setiap jemaat biasa.


Rom 12:9-21 Menjadi tubuh Kristus dalam dunia [31 Ag 2014]

Agustus 27, 2014

Perikop ini mengandung serangkaian nasihat yang semuanya indah dan menantang, tetapi sulit untuk dapat mengingat semuanya. Harapan saya bahwa penguraian ini dapat menjelaskan alur perikop, sehingga isinya lebih bisa diingat. (NB: Minggu depan tidak ada tulisan yang dimuat.)

Penggalian Teks

Kita perlu mengingat bahwa perikop ini adalah lanjutan dari nasihat mendasar untuk mempersembahkan tubuh kita kepada Allah (12:1–2), dalam konteks tubuh Kristus (12:3–8). Kita akan kewalahan kalau kita menganggap bahwa semuanya harus diterapkan seorang diri. Sebaliknya, tujuan Paulus ialah persekutuan yang diarahkan oleh kemurahan Allah sehingga tampil beda di dunia.

Aa.9–13 merupakan satu kalimat (dalam bahasa aslinya) yang menguraikan a.9a. Kasih kepada sesama berpura-pura kalau menutupi kejahatan (9b), kalau dingin (10a), kalau meremehkan sesama (10b). Kasih kepada Allah itu berpura-pura kalau malas (11a), karena Roh Allah tidak dipersilakan bekerja dalam roh kita, atau Kristus bukan lagi tujuan dari kehidupan kita (11b). Semangat kasih itu dipelihara dalam kesusahan, dengan mengingat pengharapan yang ditawarkan dalam Injil sehingga kita rajin berdoa (a.12; bdk. 5:3–5 dan 8:18–25). Dengan demikian, kita siap mental untuk membantu sesama orang percaya dalam kekurangan dan kebutuhannya (13).

Aa.14–21 beralih fokus kepada orang luar. Paulus mulai dengan konteks yang paling sulit: penganiayaan. Tubuh Kristus harus memberkati penganiaya (14), sama seperti Kristus mati bagi orang-orang durhaka (5:6). Untuk dapat mencapai kemampuan menanggapi seperti itu, tubuh Kristus harus bersatu dalam perasaan (15), dan dalam pemikiran (16a). Pemikiran yang dimaksud adalah kerendahan hati seperti dalam a.3. “Perkara-perkara yang sederhana” dapat diterjemahkan “orang-orang yang sederhana” (seperti NIV dan NRSV). Ke dalam, tubuh Kristus belajar untuk saling memberkati tanpa meremehkan penderitaan orang dan tanpa memandang bulu. Dengan demikian, tubuh Kritus mampu untuk memikirkan apa yang baik bagi semua orang (17b), baik yang berbuat jahat kepada kita (17a), maupun yang menerima usaha kita untuk hidup dalam perdamaian (18). Cara itu masuk akal, karena Allah sedang memperbaiki dunia. Yang menolak Dia akan dimurkai (19), tetapi ada juga yang akan dimenangkan karena jemaat tidak menuntut pembalasan (a.20; “bara api di atas kepala” mungkin merupakan kiasan akan pertobatan). Tidak membalas melainkan berbuat baik adalah cara kita ikut dalam jalan Tuhan yang telah mengalahkan dosa dalam Kristus (21).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menasihati kita tentang bagaimana caranya kita tampil beda dalam dunia sebagai tubuh Kristus, bahkan terhadap dunia yang menganiaya kita.

Makna

Damai sejahtera bagi semua orang adalah tujuan Allah dalam Kristus. Namun, damai sejahtera tidak cocok dengan kejahatan (9), dan karena tubuh Kristus harus tampil beda (12:2), selalu akan ada ketegangan dengan dunia (14a, 17a). Kejahatan harus dikalahkan (21)! Hanya, cara kita mengalahkan kejahatan ialah dengan memberkati penganiaya (14b) dan berbuat baik kepadanya (17b, 20a), supaya dia bertobat (20b). Cara itu bisa saja terasa tidak adil, tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa di balik semua yang terjadi, Allah akan mengerjakan keadilan (19b).

Namun, hukuman Allah adalah langkah terakhir dalam mewujudkan damai sejahtera. Langkah awal Allah ialah manusia baru di dalam tubuh Kristus, di mana kasih kepada sesama dan Allah dibentuk dan dipelihara (9–13). Kita sering merasa cemas tentang kualitas kasih dalam jemaat. Adalah jelas dalam nasihat Paulus bahwa kasih tidak sekadar sikap tetapi terwujud juga dalam tindakan konkret: bersukacita dengan (bukan iri hati terhadap) orang yang bersukacita, menangis dengan (bukan mendiamkan) orang yang menangis, membantu orang dalam kekurangan, dan bergaul dengan orang yang sederhana. Tetapi juga jelas bahwa tindakan dan sikap saling memengaruhi. Pembaruan budi oleh kemurahan Allah dibutuhkan supaya hidup dalam kasih serta memberkati penganiaya itu menjadi hal yang wajar; sebaliknya, usaha untuk hidup dalam kasih dan damai membantu kita untuk lebih mendalami kemurahan Allah yang memperdamaikan orang-orang durhaka (5:6).

Satu hasil dari nasihat Paulus ialah bahwa ternyata kita tidak perlu takut akan manusia. Manusia yang bersukacita, yang menangis, yang berkebutuhan, bahkan yang menganiaya, tetap adalah manusia yang kepadanya kita bisa memberi respons yang merupakan ibadah sejati kita kepada Tuhan.


Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014]

Agustus 20, 2014

Meskipun dengan perikop ini Paulus sudah masuk ke bagian yang sering disebut “etis”, namun Paulus tetap berbicara tentang Allah. Satu cara seorang pendeta dapat menjadi serupa dengan dunia ialah kalau dia berhenti berbicara tentang Allah. Khotbah-khotbah yang miskin teologi menjamin gereja menjadi duniawi.

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan peralihan dalam surat Paulus kepada orang-orang kudus di Roma. Paulus baru selesai menguraikan kemurahan Allah, dan mulai menasihati keluarga Allah (“saudara-saudara”) “karena itu” (1). Frase “demi kemurahan Allah” perlu disimak. Kata “kemurahan” adalah jamak dalam bahasa aslinya, sehingga merujuk pada berbagai tindakan Allah yang menyatakan sikap murah hati-Nya. Pasal 11 (yang kita bahas minggu yang lalu) menyimpulkan karya Allah itu sebagai kemurahan; tetapi di pasal 12 ini Paulus merujuk pada segenap penguraiannya dalam pp.1–11, yang berpusat pada Kristus sebagai wujud nyata kemurahan Allah, dan Roh Kudus sebagai pewujud kemurahan itu dalam kehidupan kita. Kata “demi” berarti “melalui” atau “oleh”, dan dalam susunan kalimat aslinya, dapat menerangkan “menasihatkan” atau “mempersembahkan”. LAI memilih “menasihatkan”, bahwa kemurahan Allah memberi Paulus alasan dan motivasi untuk menasihati mereka. Tetapi mungkin juga, Paulus mau mengatakan bahwa persembahan tubuh itu hanya dimungkinkan oleh karya Allah dalam Kristus dan Roh Kudus.

Aa.1–2 sering dibahas lepas dari aa.3–8, tetapi kaitannya erat. A.1 dan aa.4–8 berbicara tentang tubuh. A.2 dan a.3 berbicara tentang sikap. Bedanya bahwa aa.1–2 berbicara tentang identitas kita di dalam dunia, sementara aa.3–8 berbicara tentang identitas kita dalam tubuh Kristus. Aa.1–2 menyangkut skala kosmis; aa.3–6 skala praktis.

Untuk skala kosmis itu, Paulus mulai dengan soal ibadah, bagaimana kita memuliakan Allah sebagai Allah (1:21). Israel mempersembahkan tubuh hewan yang mati untuk menghapus dosa dan menyatakan syukur kepada Allah. Kurban Kristus telah menghapus dosa dengan tubuh-Nya sendiri dan telah bangkit kembali ke dalam hidup yang baru. Dengan demikian, persembahan apa yang cocok untuk bersyukur kepada Allah? Paulus sudah mendorong kita untuk mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus itu (6:13). Tubuh kita yang [terpola dalam dosa][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ] (7:13–26) telah dihidupkan kembali oleh Roh (8:11b). Tubuh itulah yang menjadi persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, bukan karena kita berhasil sempurna atau rajin ke gereja, tetapi karena kemurahan Allah. Balasan yang diminta Allah bukan sekadar usaha untuk menghindar dari dosa ini atau itu, lebih lagi sekadar persembahan uang dan waktu, melainkan seluruh diri kita. Demi kemurahan-Nya dalam Kristus, Dia berjanji untuk berkenan atas diri kita dengan segala kekurangannya.

Di mana persembahan itu terjadi? Bukan di suatu tempat yang khusus, melainkan di dunia (2). Dengan tubuh, kita tampil—entah tampil beda atau tampil sama. Dengan tubuh kita bertindak. Kedua hal itu dijelaskan Paulus di sini. Dunia dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang terkutuk (1:28, yang memakai kata vous yang diterjemahkan “budi” dalam ayat ini), tetapi kita mau diperbaharui oleh budi yang baru, yang dibentuk oleh kemurahan Allah dengan kuasa Roh Kudus (bdk. 8:5–6). Ketika Injil tentang Kristus menentukan identitas seseorang, dia tidak lagi diarahkan oleh status sosial, harapan akan upacara orang mati yang besar, atau ketakutan akan “apa kata orang”. Dengan demikian, dia dibebaskan untuk mengetahui kehendak Allah. Orang yang serupa dengan dunia akan menganggap baik banyak hal yang buruk, akan mencari apa yang berkenan menurut dunia, dan visinya tentang kehidupan yang sempurna akan juga duniawi. Dunia yang dimaksud Paulus mencakup agama Romawi dan bahkan agama Yahudi yang mengejar kebenaran diri (10:2–4). Hanya kemurahan Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak-Nya.

Jadi, seluruh kehidupan kita adalah persembahan kita, karena Allah adalah Allah dunia, termasuk dunia kantor dan dunia adat, bukan hanya Tuhan dalam gedung gereja. Namun, pembaruan yang dimaksud Paulus tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Tubuh kita berarti sebagai bagian dari tubuh Kristus (3–8). A.3 menegaskan kaitannya antara pikiran dan tindakan. Identitas kita di dunia berakar dalam penilaian diri. Penguasaan diri hanya dimungkinkan oleh penilaian diri yang sehat, yang tidak berlebihan. Ukuran yang dipakai bukan IQ, EQ, SQ, IPK, pujian manusia, atau ukuran apapun yang lain, melainkan iman. Iman bagi Paulus adalah penangkapan berita Injil dalam hati (bdk. 10:9b, 16a). Paulus mengatakan di sini bahwa penangkapan itu adalah karunia Allah, bukan hasil usaha sendiri. Dia tidak menuntut bahwa kita semua memiliki iman yang sekuat dia, misalnya, hanya bahwa penilaian diri sesuai dengan iman. Tokoh masyarakat yang imannya lemah tidak usah membual dalam konteks jemaat; orang kecil yang imannya kuat beranilah tampil beda. Aa.4–8 menunjukkan bagaimana tubuh Kristus menjadi tempat untuk belajar menggunakan karunia-karunia Allah demi sesama anggota jemaat, sehingga identitas kita terpusat bukan pada diri sendiri melainkan pada jemaat sebagai tubuh Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Cara kita berbagi dalam kemurahan Allah ialah dengan penyerahan diri mulai dengan pikiran dan budi sampai pada tindakan dan identitas kita dalam dunia. Tubuh Kristus menjadi tempat utama kita mempelajari dan mempraktekkan identitas itu.

Makna

Manusia beragama cenderung membedakan manakah yang kudus dan manakah yang tidak kudus. Misalnya, gereja itu kudus, sehingga hal-hal gerejawi dipemalikan, tetapi di kantor atau di dalam masyarakat, norma Alkitab tidak lagi dianggap relevan. Sebaliknya, manusia beretika (aliran filsafat pada zaman Paulus, sebagian orang berpendidikan masa kini) tidak menyakralkan gereja, sampai-sampai berjemaat dianggap seperti sekolah—berguna bagi yang masih lemah, tetapi mubazir bagi orang yang pemahamannya sudah kuat. Paulus melawan kedua pandangan itu. Seluruh dunia itu kudus, dan apa saja yang kita lakukan di dalam Kristus itu kudus. Tetapi adalah kesombongan untuk menganggap bahwa saya tidak membutuhkan tubuh Kristus lagi. Nilai jemaat bukan kadar manusia di dalamnya, melainkan Kristus.

Manusia beretika cenderung juga menganggap bahwa kemurahan Allah itu hanya penopang bagi kehidupan yang baik, sampai-sampai sebagian tidak terlalu merasa perlu bertuhan lagi. Kalau begitu, mempersembahkan tubuh kepada Allah tidak lagi masuk akal. Tetapi minat akan Tuhan dari manusia beragama juga terbatas. Yang dicari adalah kekuatan dalam tantangan dan pengarahan dalam kekacauan hidup. Diri Allah yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita dalam Kristus tidak dicari. Makanya, manusia beragama mencari wilayah yang terbatas yang akan cukup, asal Bapa surgawi senang. Budi yang baru itu siap menyerahkan seluruh identitas dan tindakan kepada Allah karena hati tertangkap oleh kemurahan-Nya. Tentu, hal itu adalah proses, dan kita semua sedang dalam perjalanan dari cara beragama yang dangkal menuju penyerahan diri yang selayaknya.


Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

Agustus 12, 2014

Agak sulit mengaitkan perikop ini dengan HUT Kemerdekaan Indonesia. Paulus berbicara tentang rencana Allah yang jauh lebih luas daripada Indonesia sebagai negara. Namun, kesadaran tentang anugerah Allah semestinya membuat kita menjadi warga negara yang tidak buta terhadap kekurangan negara namun tetap percaya bahwa kemurahan Allah bekerja.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan PL (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah: mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak ketimbang Ismael dan Yakub ketimbang Esau. Pada akhir p.9 (aa.24–29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah. Rom 9:30–10:21 menguraikan ketidakpercayaan Israel sebagai pilihan mereka (bagi Paulus, pilihan Allah dan pilihan manusia tidaklah bertentangan): mereka mengandalkan Taurat untuk diterima sebagai bangsa yang benar di hadapan Allah (9:30–10:4) sehingga mereka menolak pemberitaan Injil (10:5–10:21).

Dalam 11:1–2a, Paulus bertanya: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Dia sendiri adalah contoh utama bahwa ada orang Israel yang percaya kepada Kristus (1b), dan pada prinsipnya, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (2a). Adanya hanya sebagian Israel yang setia bukanlah hal yang baru (2b–4). Adanya orang percaya adalah soal anugerah dari Allah, bukan usaha manusia (5–6), dan adanya hanya sedikit dari Israel yang percaya itu bagian dari rencana Allah (7–10). Mengapa? Bukan karena Allah menolak Israel (11a), tetapi karena ketidaktaatan Israel adalah bagian dari rencana Allah supaya bangsa-bangsa juga masuk dalam pemulihan yang direncanakan Allah (11b–12). Aa.13–28 mau menegaskan bahwa hal itu bukan karena bangsa-bangsa itu hebat: sebaliknya, orang Israel adalah cabang-cabang asli dari umat Allah, dan Israel juga akan bertobat dan diselamatkan (26a). Akhirnya, aa.29–32 menyimpulkan penguraian Paulus: anugerah-anugerah Allah (seperti dalam 9:4–5; kata “kasih karunia” berbentuk jamak dalam bahasa aslinya) yang diberikan sesuai dengan pilihan Allah tidak akan dicabut oleh Allah (29). Israel akan melalui urutan yang sama dengan bangsa-bangsa: ketidaktaatan baru kemurahan (30–31). Sebagaimana dijelaskan dalam aa.13–28, ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa akan mendorong Israel untuk bertobat. Dengan demikian, ketidaktaatan dari segenap umat manusia menjadi kentara, sehingga kemurahan Allah sebagai dasar hidup juga kentara (32). Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Maksud bagi Pembaca

Ketika kita melihat kelompok seperti Israel yang diberi segala kesempatan untuk mengenal Allah tetapi mengandalkan usaha diri ketimbang Allah, kita dikuatkan bahwa Allah setia pada pilihan-Nya, dan bahwa semuanya bergantung pada kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang tetap memiliki rencana bagi mereka dan bagi kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu tentang janji Allah, ataupun sombong terhadap orang lain.

Makna

Melihat bacaan dari leksionari, Mat 15:21–28 menunjukkan baik prioritas bagi Israel maupun tempat bangsa-bangsa dalam rencana Allah. Kej 45:1–15 menunjukkan bagaimana Yusuf mampu menerapkan kepercayaannya akan kedaulatan Allah (bdk. Kej 50:20). Di tengah ketidaktaatan saudara-saudaranya, dia melihat rencana Allah untuk mengerjakan kemurahan-Nya. Oleh karena itu, dia mampu mengampuni mereka. Sama seperti Yesus, Paulus meyakini rencana Allah yang menyangkut “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (1:16). Dia juga mengenal sejarah Israel yang penuh ketidaktaatan yang di tengahnya Allah mengerjakan kemurahan-Nya, dan dia berusaha menjelaskan ketidaktaatan yang paling dahsyat, yaitu menolak Mesias, dalam rangka itu.

Mengapa kita, orang bukan Yahudi, semestinya peduli tentang penguraian itu? Satu jawaban ialah bahwa bila Allah tidak setia kepada Israel yang Dia panggil dan pelihara berabad-abad, mengapa kita berharap bahwa Dia akan setia kepada kita? Jika anak aslinya diabaikan, untuk apa kita mau diangkat? Tetapi, dengan memperlihatkan kesetiaan Allah, Paulus meneguhkan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya. Khususnya, ketika gereja sendiri sepertinya penuh dengan kebobrokan, kita mengetahui bahwa rencana Allah bergantung pada pilihan Allah, bukan pada keberhasilan manusia.

Dia juga mau mencegah kesombongan rohani. Orang Toraja kadang mengatakan bahwa budaya Toraja cocok dengan Injil. Kita harus hati-hati dengan gagasan seperti itu: cabang asli satu-satunya, kata Paulus, ialah Israel; semua budaya yang lain dicangkokkan. Orang Toraja adalah orang-orang berdosa yang diterima Allah hanya karena Dia menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka oleh anugerah di dalam Kristus. Yang diperlawankan dengan ketidaktaatan bukan ketaatan melainkan kemurahan Allah. Kita menjadi susah mengampuni sesama, tidak seperti Yusuf, ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada mereka.

Perikop ini juga menyangkut pengharapan kita. Andaikan ketaatan adalah solusi terhadap keberdosaan manusia, pilihan Allah hanya merupakan langkah awal (panggilan) yang hasilnya tetap ada dalam tangan manusia yang pasti akan gagal. Tetapi, karena keselamatan tergantung pada pilihan Allah yang diterapkan melalui kemurahan-Nya dalam Kristus, maka kita tidak perlu digoyahkan oleh kegagalan-kegagalan kita, ataupun orang-orang lain.


Rom 8:26-39 Terjamin dari ancaman apapun [27 Jul 2014]

Juli 25, 2014

Perikop ini begitu berharga bagi saya sehingga saya mengambil waktu di tengah libur untuk menguraikannya. Untuk kedua minggu berikutnya, blog ini akan beristirahat. Selamat melayani.

Penggalian Teks

Ayat 28 yang terkenal itu tetap terjadi dalam konteks kesusahan yang diuraikan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Maksud dari ayat itu bukan bahwa Allah mengerjakan yang baik, enak, masuk akal dsb, melainkan bahwa di tengah kesusahan yang justru tidak masuk akal, yang di dalamnya hanya Roh Kudus dapat melengkapi doa kita (26–27), ada janji yang menghibur bahwa Allah menghasilkan kebaikan. Aa.29–30 memberi penjelasan tentang kebaikan itu. Allah memilih orang untuk menjadi serupa dengan Kristus—supaya Kristus menjadi sulung di dalam keluarga besar anak-anak Allah yang juga sudah dibentuk oleh kelemahan dan kesusahan mereka (29). Sesuai dengan tujuan itu, Allah memanggil orang dalam pemberitaan Injil untuk beriman kepada Kristus; Dia menjadikan mereka anggota-anggota tubuh Kritus yang dosa-dosanya sudah diampuni (dibenarkan); Dia mengerjakan kemuliaan “imago Dei” seperti Kristus melalui kesusahan hidup sampai kesempurnaannya ketika Kristus datang kembali (30).

Siapa penerima janji tentang rencana Allah itu? Dalam a.28b, kita melihat dua segi. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah. Janji itu diperuntukkan—dan mungkin hanya masuk akal—bagi orang yang baginya Allah menjadi yang terutama. Tetapi, untungnya, kasih seperti itu tidak muncul dari kemampuan alami manusia. Kita mampu mengasihi Allah karena Allah telah memanggil kita, dan kasih itu dibentuk dengan menempuh jalan penderitaan dalam pengharapan akan pemuliaan bersama dengan Kristus.

Jadi, orang-orang ini mendambakan pemulihan segala sesuatu supaya menikmati warisan sebagai anak-anak Allah, yakni kemuliaan bersama dengan Kristus (8:17). Aa.31–39 memberi jaminan bahwa hal itu akan terjadi. Dalam aa.31–34, kematian Kristus menjadi jaminan bahwa pembenaran Allah tidak akan pernah bisa dijungkirbalikkan oleh siapapun: perlawanan, penolakan dan penghinaan manusia tidak berdaya di hadapan penerimaan Allah. Dalam aa.35–36, Paulus merujuk pada pengalaman orang benar dalam kitab Mazmur yang menderita demi Allah, untuk mengatakan bahwa perlawanan itu tidak berarti ditolak oleh Allah. Aa.37–39 memperlebar daftar ancaman terhadap kasih Allah untuk mengatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah”, kasih yang dikenal bukan dalam konsep umum tentang Allah, melainkan “dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (39).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma bahwa warisan sebagai anak Allah sudah terjamin di dalam Kristus. Penolakan manusia, penganiayaan, dan kuasa-kuasa yang lain tidak berdaya terhadap kasih Allah di dalam Kristus yang mengandung penerimaan, pengharapan dan kemenangan.

Makna

Paulus selalu teosentris secara kristosentris: semuanya bergantung pada Allah di dalam Kristus, bukan pada manusia. Jika keselamatan tergantung pada manusia, maka kita tidak memiliki pengharapan, karena perlawanan manusia lain, penganiayaan, dan kuasa-kuasa dunia akan terlalu kuat. Dasar pengharapan kita adalah rencana Allah “dari semula” (29) supaya kita menikmati warisan kita bersama dengan Kristus.

Apakah pengharapan itu praktis bagi orang Toraja? Apakah menjadi anak Allah dalam solidaritas dengan Kristus yang menderita dan dimuliakan adalah visi yang dapat menggerakkan kita, sehingga kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah. Aa.31–39 mengandaikan kehidupan yang susah, sama seperti Kristus, tetapi dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan sudah menikmati status sebagai anak-anak Allah. Itulah penawaran Allah. Jika visi itu tidak cocok untuk orang Toraja, siapakah yang salah, Allah atau orang Toraja?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.