Bagaimana Alkitab semestinya dibaca? Pandangan yang kadangkala disebut “liberal” membaca Alkitab sebagai rekaman pengalaman orang percaya, yaitu Israel dan gereja perdana. Penyataan Allah hanya terdapat secara tidak langsung, melalui pengalaman itu. Karena tidak langsung, kesatuan teologis di balik keberanekaragaman bahan dalam Alkitab tidak dicari. Perbedaan-perbedaan itu justru dianggap sebagai kesempatan untuk memilih bahan mana yang dianggap lebih cocok untuk konteks masa kini. Sebaliknya, pandangan yang kadangkala disebut “fundamentalis” membaca Alkitab sebagai hasil pendiktean dari Allah (hampir seperti kitab suci Islam). Karena langsung saja, keberanekaragaman bahan Alkitab ditolak dengan dicocokkan saja. (Tentu saja semua ini ada generalisasi, dan ada banyak kekecualian.)
Satu akibat logis dari kedua pendekatan ini ialah bahwa bahan Alkitab diratakan, yaitu struktur Alkitab secara keseluruhan tidak penting. Misalnya, ada bahan dalam PL dan PB yang menyatakan bahwa persetubuhan sejenis di luar kehendak Allah. Ada juga bahan yang memperlihatkan bagaimana Yesus menerima orang yang di luar lingkup hidup yang beres. Liberal (di dunia Barat) menilai “pengalaman Israel” (dan Paulus) yang menolak tindakan demikian tidak cocok dengan dunia modern. Fundamentalis menganggap bahwa bahasa “kekejian” (Ima 18:22) sudah mengizinkan penolakan terhadap pelakunya. Yang tidak dilakukan baik oleh liberal maupun fundamentalis adalah coba memikirkan kedua hal ini secara terpadu. Itu alasannya teologi liberal dan fundamentalis sama-sama dangkal–ketegangan-ketegangan yang memicu refleksi mendalam disederhanakan. (Sekali lagi, analisis ini melacak pola berpikir secara garis besar saja. Masa dua kotak saja [liberal/fundamentalis] sudah fair terhadap semua pihak!)
Pandangan tradisional beranjak dari ayat seperti 2 Pet 1:21, yang menekankan sumber ilahi (dorongan Roh Kudus) dari tulisan yang di dalamnya manusia berbicara. Kepelbagaian Alkitab diakui (Ibr 1:1), dan kesatuannya terdapat dalam Kristus (Ibr 1:2; 1 Pet 1:10-12). Tentu, ada berbagai pemahaman tentang bagaimana kesatuan itu dilihat.
Mei 8, 2008 pukul 7:56 pm
[...] Membaca Alkitab [...]
Mei 13, 2008 pukul 11:19 pm
[...] Kisah Agung Alkitab Bagian sebelumnya menempatkan pemahaman saya tentang Alkitab antara liberal dengan fundamentalis, yaitu bahwa melalui [...]