Mt 1:18-25 Imanuel

Im = beserta, -anu adalah akhiran “kita”, El berarti “Allah”. Janji Yesaya (7:14) tentang penyertaan Allah menyangkut peristiwa yang di dalamnya Yehuda (sebutan untuk kerajaan selatan setelah perpecahan Israel setelah Salomo) terancam oleh Israel (kerajaan utara) serta Aram (bangsa kafir). Kepada raja Ahas yang tidak beriman Allah menyampaikan janji bahwa sebelum anak yang mau dilahirkan melewati masa kecilnya, ancaman terhadap Yehuda akan lenyap (7:16). Allah menyertai umat-Nya yang terancam lenyap.

Janji Yesaya, yang barangkali menyangkut anak tertentu pada masa itu, kemudian dikembangkan dalam p.9 dan p.11 menjadi janji akan seorang raja yang akan setia dan membawa berkat Allah—beda dari Ahas. Sosok demikian yang kemudian disebut Mesias. Di balik hukuman Allah terhadap dosa Israel yang banyak dibahas Yesaya ada maksud keselamatan. Keselamatan dari dosa yang disoroti malaikat Tuhan kepada Yusuf (Mt 1:21). Mesias ternyata harus dinamai Yesus, yaitu Yosua (bentuk Iesous dalam bahasa Yunani dipakai untuk Yosua), pemimpin Israel yang membawa Israel ke dalam tanah perjanjian. Tetapi cara Yesus bukan untuk melawan pemerintahan Roma melainkan mengalahkan Iblis. Dia menggabungkan Mesias yang berjaya dengan Hamba Tuhan yang menderita.

Janji Yesaya itu barangkali dipilih malaikat karena dua hal. Relevansi pertama bagi Yusuf adalah untuk membuktikan bahwa Maria memang masih perawan. Hal itu adalah kejutan—Yesaya barangkali bermaksud seorang yang pada saat nubuatannya masih perawan tetapi akan menikah dan kemudian melahirkan. Tetapi untuk kelahiran Yesus, penggenapan melampaui nubuatannya. Relevansi kedua adalah bagi kita semua. Barangkali yang dimaksud Yesaya dengan julukan “Imanuel” ialah bahwa anak itu adalah pertanda penyertaan Allah. Tetapi dalam alur cerita Injil Matius, Yesus makin membawa hadirat Allah sendiri, misalnya ketika mengampuni dosa. Pada akhir Injil, setelah kebangkitan-Nya, Yesuslah yang menyertai murid-murid-Nya. Yesus sendiri merupakan penyertaan Allah, tidak sekadar pertanda.

Makna penyertaan Allah dalam Yesus dikembangkan dalam seluruh Injil Matius. Dia memberi gambaran tentang dunia tanpa penyakit atau kuasa gelap, dan Dia mengalami sepenuhnya penderitaan karena perlawanan terhadap kehendak Allah. Akhirnya, Dia sampai mengalami maut tetapi mengalahkannya dalam kebangkitan-Nya. Penyertaan Allah tidak ada batasnya dan keselamatannya juga tidak terbatas.

Tinggalkan Balasan