Pengantar tentang teologi kontekstual

Kontekstualisasi menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini. Buku Stephen Bevans, Models of Contextual Theology (New York: Orbis Books, 2002) menjadi klasik dalam analisis berbagai model kontekstualisasi. Dalam beberapa posting saya mau berinteraksi dengan pemandangannya, dan juga menempatkan diri dalam pemetaan model-model teologi kontekstual yang dia ajukan.

Apa itu teologi kontekstual? Kata konteks merujuk ke budaya, keadaan sosial dan politik, sejarah dsb di suatu tempat. Sebenarnya, teologi selalu mencerminkan konteksnya. Kita dapat melihat budaya Timur Tengah Kuno dalam Perjanjian Lama, dan budaya Helenis (Yunani) dalam berbagai kitab Perjanjian Baru. Agustinus memakai (secara kritis) filsafat Plato, Thomas Aquinas memakai (secara kritis) filsafat Aristoteles, Calvin memanfaatkan ilmu-ilmu kesastraan yang berkembang pada zaman Renaisans. Kemudian, teolog-teolog seperti itu berteologi demi kepentingan misi dan pastoral, yaitu untuk konteks tertentu. Tetapi semuanya berkarya atas praanggapan bahwa teologi mengungkapkan kebenaran tentang Allah berdasarkan Kitab Suci (ditambah Tradisi bagi kaum Katolik, seperti Stephen Bevans sendiri). Menurut Bevans, teologi kontekstual menambahkan satu sumber lagi, yaitu pengalaman manusia sekarang.

Usulan itu mengaburkan bahwa teologi liberal sejak abad ke-19 memakai pengalaman manusia sebagai salah satu sumber teologi. Contoh klasik adalah Schleiermacher yang berteologi dengan membahas pengalaman manusia akan Allah, bukan Allah sendiri. Dia mengikuti filsafat Imanuel Kant, yang mengajukan bahwa dunia tidak diketahui langsung, tetapi hanya melalui pemaknaan oleh akal budi. Misalnya, saya melihat beberapa kali bahwa babi yang ditusuk di jantung langsung mati. Tidak dapat dibuktikan secara mutlak bahwa tusuk menyebabkan kematian, tetapi akal budi manusia menafsir pengalaman seperti itu sebagai sebab-akibat. Jadi, pengetahuan tentang dunia dicari (sebagian) dalam akal budi manusia, bukan dalam dunia di luar. Demikian juga, teologi liberal menganggap bahwa pengetahuan tentang Allah dicari (sebagian) dalam pengalaman religius manusia. Bahkan Alkitab sendiri makin ditafsir sebagai hasil pengalaman religius manusia pada masa lampau, bukan sebagai wahyu langsung. Satu akibat (atau sebab?) ialah teologi liberal mengikuti semangat Pencerahan yang menempatkan rasio (akal budi) di atas otoritas.

Namun, pada abad ke-19 pengalaman manusia yang diteliti adalah pengalaman satu budaya saja, yaitu budaya Eropa. Pada abad ke-20, para antropolog makin menyadari kecanggihan budaya-budaya di luar dunia Barat, dan sosiologi makin menunjukkan sejauh mana akal budi manusia yang memaknai itu ditentukan oleh budaya. Sehingga kemajemukan pengalaman manusia berarti bahwa teologi yang mencakup pengalaman manusia harus menjadi majemuk juga. Timbullah teologi-teologi kontekstual.

Bagaimana dengan teologi konservatif, yang tetap berpegang pada Alkitab sebagai otoritas di atas akal budi dan pengalaman manusia (seperti aliran Injili yang saya anut)? Selama budaya Eropa dianggap puncak budaya manusia, unsur konteks (budaya dsb) dalam menafsir Alkitab tidak diperhatikan. Para teolog konservatif lebih sibuk mempertahankan Alkitab dan doktrin-doktrin kunci seperti ketuhanan Kristus terhadap tantangan teologi liberal. Tetapi gerakan misi tidak hanya membawa Injil ke pelosok-pelosok dunia, tetapi juga membawa budaya-budaya dunia ke dalam kesadaran Barat. Para misionaris makin menyadari bahwa budaya berpengaruh dalam, dan akhir-akhir ini gereja dunia ketiga makin bersuara. Sehingga lambat laun teologi Injili pun diperhadapkan dengan konteks sebagai faktor yang tidak dapat dipungkiri dalam berteologi.

About these ads

6 Balasan ke Pengantar tentang teologi kontekstual

  1. [...] pendekatan terhadap kontekstualisasi. Tempat konteks dan Alkitab dalam berteologi yang saya bahas waktu yang lalu adalah salah satunya. Praanggapan itu dibentuk oleh pengajaran dan pengalaman, tetapi dapat juga [...]

  2. [...] budaya Eropa berhadapan dengan budaya-budaya yang lain, muncullah kesadaran bahwa pengalaman juga dimungkinkan (dan dibatasi) oleh budaya. Orang dari [...]

  3. Pongkamaya mengatakan:

    dan budaya (konteks) temporer sebagai warisan menancap lebih jauh di dalam hati (manusia Toraja Kristen-red), isn’t it?

  4. abuchanan mengatakan:

    Manusia yang paling individualis pun sebenarnya adalah produk warisan budaya. Hanya, kalau orang Barat modern, yang sulit berubah bukan bentuk-bentuk budaya melainkan berbagai nilai mendasar, misalnya, bahwa pilihan adalah esensi manusia. Sedangkan mungkin boleh dikatakan bahwa orang Toraja mempertahankan berbagai bentuk budaya, tetapi solidaritas sebagai nilai fundamental sudah mulai terkikis.

  5. Gemini Louis mengatakan:

    Apakah ada segi kontekstualnya ?

    Salah satu sekolah PAUD diberi nama dalam bahasa suku TOBATI atas nama ZAAR yang berarti batu karang, sesuai dengan nama gereja tempat pelayanan kami.

  6. abuchanan mengatakan:

    Nama yang bagus, saya rasa, karena sabda Yesus adalah batu karang untuk kehidupan kita.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.