Ams 6:32-35 Kebodohan zinah

Amsal 1-9 merupakan pendahuluan yang maksudnya menjunjung tinggi pentingnya hikmat yang dapat diperoleh melalui kitab Amsal ini. Adalah penting memahami bedanya antara hikmat dengan ketaatan. Ketaatan merupakan wujud kesetiaan kepada Allah yang menyangkut kesucian tetapi juga misi. Di dalam ketaatan kita mengakui hikmat Allah sebagai Pencipta kita, dan juga kepentingan Allah sebagai Penebus. Jika Allah mengatakan “jangan berzinah”, dalam ketaatan kita mengakui bahwa Allah lebih tahu tentang relasi antar jenis daripada kita. Jika dalam PB Allah mengatakan supaya sedapat mungkin kita menikah dengan orang seiman (mengingat bahwa dalam banyak budaya pemuda/pemudi tidak ada pilihan), dalam ketaatan kita melakukan apa yang akan membantu kita menjadi alat Allah, daripada memilih pasangan yang akan menghambat kita dipakai dalam misi Allah.

Namun, ketaatan kepada perintah hanya dapat memberi kerangka. Orang yang berhikmat tidak hanya tahu perintah-perintah Tuhan, tetapi juga mengapa perintah-perintah itu baik, dan bagaimana menerapkannya. Kita Amsal tidak memberi hikmat yang lengkap dalam artian ada solusi untuk setiap masalah di dunia langsung dalam salah satu amsal, tetapi menggugah kemampuan kita untuk berhikmat. Hikmat dalam Amsal banyak diambil dan disesuaikan dengan hikmat dari budaya-budaya di sekitarnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa soal hikmat adalah titik temu yang paling kentara antara Injil dengan kearifan lokal. Sayangnya, dalam konteks seperti Toraja dalam dampak perubahan pesat yang disebabkan modernisasi yang diiringi dengan kedatangan Injil, kearifan lokal sering dikesampingkan sedangkan hikmat Alkitabiah belum diserap.

Nas kita tidak berfungsi untuk menyampaikan perintah yang belum dikenal, tetapi untuk menunjukkan kebodohan melanggar perintah itu. Intinya bahwa perzinahan sangat merusak kedamaian. Dirinya dirusak (a.32), harga diri di depan umum terhapus (a.33), dan kekerasan balas dendam dipicu (a.34). Lebih lagi, kedamaian itu tidak dapat diraih kembali dengan cara-cara biasa (a.35). Jadi, perzinahan, selain melanggar perintah Tuhan, adalah tindakan yang sangat bodoh. Orang yang sudah memahami hal itu akan tertolong untuk menghindarinya. Orang yang belum memahaminya akan lebih rentan.

Jika perintah menimbulkan bahasa “harus”, hikmat menimbulkan bahasa “alangkah baiknya”. Semoga hikmat Allah dalam perintah tentang perzinahan menjadikan lebih berhikmat dalam soal ini.

About these ads

Satu Balasan ke Ams 6:32-35 Kebodohan zinah

  1. ulina masa mengatakan:

    Mungkin agar lebih mudah selamat dari perkara ini. lebih baik memilih taat saja. mengingat ayat, tunduklah kepada ALLAH lalu lawanlah iblis (Bagi yang rentan). Jadi bagi orang orang berhikmat saran “alangkah baiknya” ini sudah menjadi suatu ketaatan karena ada penundukan diri kepada larangan ‘jangan berzinah’. Modernisasi yang mengatakan boleh, kompromi yang bertentangan dengan kerarifan lokal yang dijadikan tabu berada dalam dua sisi yang bertentangan. dampaknya orang muda kebingungan arah. jadi adanya role model orang muda yang sungguh sungguh dapat menjaga kekudusan menjauhi perzinahan dan sejenisnya. semoga dapat menguatkan orang orang yang rentan dalam membuat pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.