Mk 14:3-9 Kasih atau kepentingan

Markus 14 memulai cerita tentang kematian Kristus dengan persekongkolan pimpinan Yahudi untuk menangkap dan membunuh Yesus (14:1-2). Rencana itu mulai terwujud ketika Yudas pergi kepada mereka (14:10). Di antara kedua peristiwa itu, Markus menceritakan suatu cerita tentang seseorang yang mengasihi Yesus. Perempuan itu datang dan meminyaki kepala Yesus dengan minyak yang sangat berharga. Meminyaki kepala adalah cara untuk menyambut tamu dengan baik (Lk 7:46), dan perempuan ini menunjukkan rasa kasih dan hormat yang besar kepada Yesus dengan tindakannya. Dia belum tentu tahu kalau Yesus akan mati, tetapi sikapnya sama dengan orang yang meminyaki mayat, sehingga Yesus menerima tindakannya sebagai persiapan untuk kematian-Nya (a.9).

Berharga dalam rangka apa? Perhatikan bahwa yang memikirkan harga minyak narwastu itu para murid (aslinya jamak di balik LAI “ada orang” dalam a.4), bukan Yesus ataupun perempuan itu. Perempuan itu tidak menyumbang 300 dinar kepada Yesus melainkan menyatakan relasinya dengan Yesus yang dalam. Ketika perikop ini dipakai untuk berbicara tentang persembahan, kita seakan-akan mengambil pola berpikir para murid, yang mengukur kasih kepada Yesus dengan nilai uang, bukan dalam rangka relasi.

Terkait dengan pola berpikir para murid adalah pola tanggapan mereka. Mereka marah-marah, mengecam tanpa bertanya dulu kepada si perempuan apa maksudnya. Andaikan buli-buli pualam itu adalah warisan dari nenek yang sudah meninggal, apa yang lebih menghormati nenek itu, diuangkan atau dipakai untuk meminyaki Sang Mesias Israel? Dalam pengalaman saya (termasuk pengalaman pribadi), sikap marah-marah berkorelasi dengan sikap menghitung-hitung. Dalam keadaan stres seperti dialami para murid yang sedang menghadapi bahaya yang besar, kita lupa akan apa yang terpenting dan berpikir dengan apa yang terjangkau oleh akal yang lagi tertekan, yakni angka. Mereka tiba-tiba prihatin akan orang miskin, tetapi Yesus yang ada di depan mereka tidak mereka perhatikan (a.7). Atau, apakah tindakan perempuan itu justru terlalu dekat dengan meminyaki mayat, sehingga reaksi mereka mencerminkan ketakutan bahwa Yesus akan kalah, karena mereka belum menangkap bahwa Yesus harus mati dan dibangkitkan?

Respons si perempuan terhadap Yesus menjadi kesaksian bagi seluruh dunia (a.9), sebagaimana terjamin ketika cerita ini dimuat dalam tiga Injil, dan sebagaiman terwujud ketika kita merenungkannya sekarang. Bagi perempuan itu Yesus lebih penting dari masalah yang dihadapi-Nya, sedangkan para murid Yesus adalah sarana untuk kepentingan mereka.

Satu Respon untuk Mk 14:3-9 Kasih atau kepentingan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.