Mt 28:16-20 Cara Allah memberkati bangsa-bangsa

Perikop ini adalah bagian akhir kisah Matius, yang merampungkan beberapa tema pokok dalam Injil yang melihat kembali ke panggilan Abraham (1:1) dan sampai pada akhir zaman (28:20). Jadi, di dalamnya kita melihat bukan hanya salah satu perintah Yesus tetapi kesimpulan tentang misi Allah.

Matius memulai Injilnya dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai anak Daud, anak Abraham (1:1), dan pada waktu pembuangan (1:17). Abraham adalah jawaban Allah terhadap kehilangan berkat karena dosa manusia, dan Daud adalah patron (contoh sekaligus asal usul) cara Allah akan menyelamatkan dunia, yaitu dengan mendirikan kerajaan-Nya sebagai tempat berkat melalui seorang Raja. Dalam pembuangan, Israel kehilangan berkat itu karena dosa, sama seperti Adam dan Hawa. Oleh karena itu, para nabi membayangkan bukan hanya keselamatan Israel, tetapi juga keselamatan bangsa-bangsa. Yes 40:3, yang dikutip dalam Mt 3:3, menubuatkan jalan yang diluruskan bagi Israel dalam pembuangan untuk Israel kembali ke Israel bersama dengan Tuhan. Tetapi ketika Yesaya memperkenalkan hamba Tuhan yang akan menjadi alat Allah untuk karya keselamatan itu (Yes 42:1-4, dikutip dalam Mt 12:18-21), justru bangsa-bangsa yang berharap pada-Nya. Karena Israel dipanggil (dalam Abraham) sebagai jawaban Allah terhadap pemberontakan manusia, keselamatan Israel berarti pemulihan seluruh dunia. Jika Yesus pada umumnya membatasi pelayanan-Nya pada Israel (Mt 10:6; 15:24), hal itu tidak bertentangan dengan tekanan pada segala bangsa dalam perikop kita. Malaikat berjanji bahwa anak yang dikandung Maria “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21), dan penggenapan janji itu dinyatakan secara ironis oleh para pengolok ketika Yesus disalibkan (27:62, “orang lain Ia selamatkan”, bnd. Mt 27:32-56). Sebagai Israel yang sejati, Yesus dibuang dalam kematian-Nya dan dipulihkan dalam kebangkitan-Nya. Karena Israel sudah dipulihkan dalam Yesus, tahap berikut dalam recana Allah sudah siap dilaksanakan, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke “bukit yang telah ditunjukkan” (a.16). Apakah itu bukit yang daripadanya Yesus mengajarkan khotbah di bukit (Mt 5-7) atau dimuliakan (Mt 17:1-8) tidak dikatakan, tetapi bukit-bukit menjadi tempat penyataan dalam Injil Matius. Menurut Mt 26:32 Yesus memberitahu murid-murid-Nya sebelum Dia mati. Bagaimanapun juga, tempatnya jelas. Ketika mereka melihat Yesus, mereka menyembah, walaupun ada yang lain yang ragu-ragu (mungkin di luar kesebelas murid—ada yang mengaitkan pertemuan ini dengan penampakan kepada 500 orang dalam 1 Kor 15:6). Ternyata melihat Yesus langsung tidak otomatis menciptakan iman, dan ada yang butuh waktu untuk sungguh-sungguh percaya. Tetapi klimaks Injil ini bukan mengenai iman manusia melainkan amanat Yesus, yang menjelaskan bagaimana keselamatan yang sudah Dia datangkan dapat dinikmati oleh semua bangsa, bukan hanya orang-orang Yahudi yang selama itu percaya pada Yesus. Tidak ada andil manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kecuali kejahatan—keselamatan adalah anugerah belaka. Tetapi sama seperti motor yang dihibahkan tidak ada gunanya jika tidak dipakai, keselamatan juga perlu dihayati.

Amanat Yesus mendasari otoritas-Nya, yaitu segala kuasa di sorga dan bumi (a.18). Iblis pernah menawarkan segala kuasa di bumi (dari sebuah gunung juga, Mt 4:9), dan hal itu yang cocok untuk Mesias yang diharapkan orang Yahudi, tetapi kemuliaan Yesus setelah dibangkitkan jauh lebih besar. Otoritas itu yang menjadi dasar bagi amanat-Nya.

Kata kerja utama dalam amanat itu adalah “jadikanlah murid” (matheteuo). Karena bangsa-bangsa tidak ada di daerah Israel sendiri, mau tidak mau murid-murid harus pergi ke tempat yang lain. Kepergian bukan tujuannya, melainkan sarana. Jika yang belum menjadi murid Kristus adalah tetangga, cukup melangkah beberapa meter. Tetapi, jika di Indonesia sendiri masih ada banyak yang tidak mengenal orang yang dapat memperkenalkan Kristus kepadanya, mungkin ada yang harus melangkah lebih jauh.

Kedua kata kerja yang berikut bukan hanya sarana, tetapi menyampaikan isi pemuridan. Baptisan merujuk pada tahap awal, di mana seseorang mengambil identitas yang jelas di dalam Kristus (a.19). Hal itu biasanya dikaitkan dengan pertobatan, yaitu, meninggalkan identitas yang melawan Allah untuk menerima identitas baru sebagai pemberian Allah. Ketika Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah menyapa Yesus sebagai Anak-Nya, yang sekaligus menempatkan Allah sebagai Bapa-Nya (Mt 3:16-17). Dalam baptisan, kita juga ternyata masuk relasi yang sama, mengenal Allah sebagai Bapa, menjadi adik-adik Yesus sebagai Anak Allah, dan didiami oleh Roh Kudus.

Tetapi identitas itu tidak tinggal sebagai ritus saja. Orang yang menjadi murid harus juga diajar untuk melakukan semua perintah Yesus (a.20). Injil Matius sepertinya didesain untuk membantu dalam hal itu, karena dia menyusun lima kumpulan ajaran Yesus dalam bentuk yang cocok untuk diajarkan (Kerajaan Allah pp.5-7, misi KA p.10, pertumbuhan KA p.13, komunitas KA p.18, akhir zaman pp.24-25). Identitas sebagai anugerah dalam Kristus tidak ada manfaatnya, dan saya mau mengusulkan tidak ada nikmatnya, kecuali dihayati dengan mengangkat ajaran Yesus sebagai hikmat yang paling ampuh menjadi tumpuan dalam dunia yang menantang ini (bdk. Mt 7:24-27).

Janji Yesus yang terakhir merupakan puncak dari seluruh Injil. Anak yang dinamai “Imanuel” itu berjanji untuk selalu menyertai murid-murid-Nya dalam amanat ini. Dia adalah wujud penyertaan Allah, karena Dia tergolong dengan Allah sendiri. Beberapa petunjuk dalam Injil, seperti pengampunan dosa (9:6), pengendalian angin ribut (8:27) dan pemuliaan di atas gunung (17:2), menjadi jelas setelah kebangkitan. Dia adalah Allah Anak, yang layak disembah bersama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Demikian keselamatan yang didatangkan Yesus dapat dinikmati oleh semua bangsa. Ada yang pergi untuk memberitakan Yesus dan membangun mereka dalam identitas baru dalam ketaatan kepada Yesus sebagai pemilik kuasa di sorga dan bumi. Rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa terwujud ketika orang-orang menjadi murid Yesus dan menghayati anugerah identitas baru dengan hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Tentu, kegiatan ini tidak terbatas pada lembaga gerejawi. Kadangkala ada kelompok yang masih secara formal menjadi anggota lembaga agamawi yang non-Kristen yang justru lebih berfokus pada menjadikan sesama orang yang memiliki identitas dalam Yesus dan menaati ajaran-Nya. Yang mutlak di sini bukan gereja melainkan Yesus. Segala kuasa diberikan kepada-Nya, supaya semua bangsa perlu menjadi murid-Nya dan menaati segala ajaran-Nya, sehingga menikmati penyertaan-Nya pada semua hari (“senantiasa”). Tetapi Dia mutlak bukan sebagai simbol, misalnya, simbol penyertaan Allah atau kasih Allah, sehingga kita bebas memilih simbol yang lain dengan makna yang sama (pendekatan pluralisme). Dia mutlak sebagai Yesus, seorang manusia yang lahir di Nazaret dan mati di bawah Pontius Pilatus. Di dalam atau di luar lembaga gerejawi, sampai pembaruan segala sesuatu pada akhir zaman, Allah memberkati bangsa-bangsa dengan mereka menjadi murid Anak-Nya Yesus.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 934 pengikut lainnya.