Yakub 1:19-27 Firman yang menjadi cermin dan kuasa pembaruan [21 Agustus 2011]

Walaupun surat dari Yakobus, adik Yesus itu, sering dianggap sangat praktis, Yakobus berbicara dalam kerangka Injil yang sama dengan kitab-kitab PB yang lainnya. Kristus adalah Tuhan (1:1) yang akan datang kembali (5:7-8), dan kita diselamatkan oleh iman kepada-Nya (2:1, 14—ingat bahwa maksudnya dalam 2:14 dst bukan bahwa perbuatan menyelamatkan melainkan bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang dilengkapi dengan perbuatan). Allah memiliki rencana bagi ciptaan-Nya, dan oleh firman kebenaran kita dijadikan bagian dari rencana itu (1:18—lihat Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat). Namun, adalah betul bahwa Yakobus menekankan implikasi dari kerangka Injil itu dalam kehidupan sehari-hari. Perikop kita menunjukkan bagaimana firman itu berfungsi untuk membuat kita “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya”.

Penggalian Teks

Ada tiga bagian dalam perikop ini. Aa.19-21 menguraikan sikap untuk penerimaan firman kebenaran dalam a.18. Aa.22-25 menjelaskan bagaimana penerimaan firman berdampak dalam tindakan. Aa.26-27 memberi beberapa contoh konkret.

Setelah a.18, yang menutup bagian tentang pencobaan, a.19 sepertinya berubah haluan, berbicara tentang relasi manusia. Dan memang a.19 merupakan nasihat yang baik dan berguna, sebuah pengingat yang selalu diperlukan. Dalam a.20 sorotan bergeser ke soal amarah. Manusia biasanya menganggap diri paling benar waktu marah, tetapi Yakobus mengatakan bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dari perspektif Allah. Dalam a.21 perspektif Allah yang menjadi pokok. Sikap cepat bicara dan amarah menghambat kinerja firman dalam hati manusia. Ternyata aa.19-21 merupakan lanjutan dari a.18. A.18 berbicara tentang awal keselamatan: oleh firman kebenaran Allah “melahirkan” atau “membuahkan” (apokuo, LAI “dijadikan”) kita. Aa.19-21 berbicara tentang sikap yang menghambat atau membiarkan firman melanjutkan karya itu. Jadi, kata “menyelamatkan” (sozo) bisa diartikan “memulihkan”.

Pesan dalam a.22 jelas, yaitu, mempraktekkan firman yang didengar. Jika tidak, kita menipu diri sendiri. Menarik bahwa ilustrasi dalam aa.23-24 berbicara bukan tentang mendengar melainkan tentang memandang. Firman Tuhan ibarat cermin yang di dalamnya kita melihat diri sendiri dengan jernih. Dalam a.25 firman itu disebut sebagai “hukum”. Jika berbicara tentang firman Allah, kata nomos ini biasanya merujuk pada kelima kitab Musa, yakni, Kejadian sampai dengan Ulangan. Perlu diperhatikan bahwa isinya bukan sekadar peraturan-peraturan. Yakobus mengutip dari Dasa Titah dalam 2:11, misalnya, tetapi dia juga menguraikan riwayat hidup Abraham dalam 2:21-23. Makanya, kata “Torah” (Taurat) yang dipakai orang Yahudi untuk menamai kelima kitab Musa berarti pengajaran, lebih luas dari peraturan saja. Kata itu yang diterjemahkan dengan nomos (“hukum”). Maksud Yakobus mungkin lebih luas lagi, karena dia juga banyak menyinggung ajaran Yesus, termasuk dari khotbah di bukit. Semuanya itu berfungsi sebagai cermin yang memampukan kita melihat realita karakter kita, dan juga kuasa Allah untuk memerdekakan (seperti keluaran Israel). Dengan demikian, ketaatan menjadi sebuah berkat.

Sebagai semacam pengukur, mengingat mudahnya kita menipu diri, Yakobus menyampaikan beberapa contoh dalam aa.26-27. Contohnya luas. Mengujungi yatim dan janda adalah yang paling praktis; mengekang lidah praktis tetapi lebih umum; menjaga untuk tidak dicemarkan dan tidak menipu diri sendiri justru menyangkut batin. Yakobus tidak menekankan tindakan sebagai ganti hati yang beres, tetapi menekankan hati dan tindakan yang sejalan. Semuanya berarti karena merupakan ibadah kepada Allah, sumber setiap pemberian yang baik (a.17).

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mau supaya para pendengar suratnya diubah oleh firman kebenaran, sehingga menjadi bagian dari pembaruan ciptaan Allah. Dia mengangkat bodohnya orang yang lekas bicara dan amarah sebagai cermin bagi orang yang malas mendengar firman Tuhan. Kemudian, dia mengangkat kiasan firman sebagai cermin supaya kita menghargai pembaruan yang ditawarkan jika kita mempraktekkannya. Akhirnya, dia mengadakan semacam tes kecil supaya kita bisa mengukur apakah kehidupan kita sudah tertuju kepada Allah (alias merupakan ibadah) atau belum.

Makna

Kiasan cermin yang menjadi pokok menurut tafsiran di atas perlu dikaitkan dengan soal muka. Kapan seseorang memandang cermin? Bukankah sebelum keluar? Kita memandang cermin supaya jika ada sesuatu yang memalukan, yang tidak pantas dalam penampilan kita, hal itu bisa diperbaiki sebelum kita mendapat malu. Makanya, orang yang langsung lupa kita anggap bodoh. Suatu kesempatan yang berguna dibuang.

Tetapi kita dinilai bukan hanya menurut penampilan fisik, tetapi juga menurut tingkah laku kita, yang dianggap menyatakan karakter kita. Dari apa yang kita lakukan, orang lain menilai apakah kita adalah orang baik atau tidak. Semestinya kita senang andaikan ada cermin karakter, sehingga noda-noda dapat dibereskan sebelum kita tampil di depan orang. Taurat (hukum) Allah, yaitu berbagai perintah tetapi juga berbagai kisah tentang Allah dan manusia, dapat berfungsi sebagai cermin itu.

Hanya, ada satu perbedaan pokok. Sebuah cermin memberitahu kita tentang berbagai cacat, tetapi tidak mengubah kita. Firman Allah tertanam di dalam hati kita, dan berkuasa untuk memulihkan jiwa kita (a.21). Kita menjadi bagian dari rencana Allah dengan mengesampingkan sikap yang buruk—keegoisan (suka bicara/amarah) dan berbagai kecemaran hati (aa.19-21)—kemudian dengan mempraktekkan firman itu (aa.22-25). Sebagai contoh, andaikan ada orang yang sudah lama berbaring karena sakit tetapi akhirnya ada obat yang tepat. Untuk menjadi sungguh pulih, orang itu perlu mengesampingkan sikap yang buruk, misalnya sikap yang menempatkannya sebagai orang yang tidak berdaya, atau sikap tidak mau mendengar nasihat dokter dsb. Tetapi untuk sungguh pulih, orang itu juga perlu berdiri dan berjalan. Tanpa obat dia tidak bisa berdiri, tetapi minum obat yang tidak disertai oleh tindakan juga tidak akan berguna. Pengajaran firman Allah memberitahu kita tentang berbagai cacat kita dan juga berkuasa untuk memulihkan cacat-cacat itu.

Tanpa pemahaman seperti itu kita akan jatuh ke dalam semacam moralisme: lakukan ini dan itu sebagai kewajiban keagamaanmu. Dengan demikian, hukum Allah tidak membawa kemerdekaan atau kebahagiaan (a.25). Tetapi jika kita bekerja sama dengan firman dengan cara mempraktekkannya, seluruh hidup kita menjadi ibadah yang berkenan di hadapan Allah.

Soal ibadah mengingatkan kita tentang hal yang paling pokok. Kita tampil bukan hanya di depan manusia melainkan di depan Allah. Kadangkala penilaian sesama mendukung penilaian Allah, tetapi kadangkala kedua penilaian bertentangan, sebagaimana dilihat dalam pasal berikut di mana Yakobus berbicara tentang keberpihakan jemaat kepada orang kaya. Orang yang percaya bahwa sumber semua pemberian yang baik itu Allah Bapa kita akan memilih untuk mencari muka di hadapan Allah, bukan manusia, sehingga firman Allah sebagai cermin dan kuasa pembaruan menjadi pokok dalam kehidupannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.