Kekerasan dalam Osmaba?

Juli 17, 2008

Osmaba (Orientasi Mahasiswa Baru) adalah istilah yang saya kenal untuk kegiatan sekolah untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. Saya pernah menemukan artikel ini mengenai kegiatan yang sama di salah satu sekolah yang lain. Satu alinea yang menarik bagi saya berbunyi demikian:

Sistem OKA yang di dalamnya ada dan diparadigmakan bahwa kekerasan yang terjadi di dalamnya adalah hal yang wajar, dan ini pada akhirnya menuntut selalu adanya seksi keamanan – lalu bagaimana fungsi satpam yang berada di universitas, bukankah kegiatan OKA tersebut berjalan dan diadakan dalam ruang lingkup universitas – Ini juga dibentuk oleh kultur di Indonesia dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas keadaan.

Soalnya, dalam kegiatan OKA yang dibahas, seksi keamanan justru menjadi pemicu konflik! Sama seperti konon militer / polisi pernah mendalangi kerusuhan untuk membenarkan kehadirannya di suatu tempat, seksi keamanan berkepentingan menemukan masalah.

Bagi saya, argumentasi para pendukung kekerasan dalam Osmaba menyedihkan—mereka bilang bahwa mereka tidak akan dihormati adik-adik tanpa kekerasan. Artinya, harga diri mereka begitu rendah sehingga tak terbayangkan ada respek karena mengasihi, hanya respek karena menakutkan. (Saya penasaran juga akan latar belakang keluarga dari orang yang berpendapat demikian—apakah model ayah yang mereka alami model yang mengandalkan kekerasan daripada kasih? Apakah budaya Indonesia lebih menonjolkan kuasa daripada kasih sebagai alasan untuk dihormati—mungkin saja pada masa Orba?) Semua itu menyedihkan karena respek karena mengasihi jauh lebih nikmat dan menguatkan daripada respek karena menakutkan (bukankah anjing ganas juga menakutkan?). Respek karena mengasihi berarti saya sudah berdampak positif dalam kehidupan orang.

Pengikut Yesus tidak ada pilihan. Sesuai dengan teladan diri-Nya sendiri, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya:

Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

Yesus tidak mengecam orang yang menjadi besar dan terkemuka, seperti Petrus, Paulus dsb. Dia menunjukkan cara yang tepat dalam Kerajaan Allah.


“Hasil” Menutupi

Maret 29, 2008

Berita tentang Adam Air cukup ramai di koran bahasa Inggris, barangkali ramai di Indo juga. Saya tertarik dengan komentar ini mengenai Adam Air tahun 2006 yang mendarat di Sumbawa, mungkin dengan masalah teknis yang sama (Pak Joni yang tahu tanggalnya karena Pak Kabanga’ terbang naik pesawat itu dan tidak sampai di upacara nikahnya. Menurut cerita Pak Kabanga’ kemudian, para penumpang cukup gelisah):

“Pengusutan kegagalan alat pesawat yang menyebabkan insiden itu dikecam sebagai formalitas dan bagian dari penutupan politik.”

Alat navigasi (IRS) gagal berulang kali dalam beberapa bulan sebelumnya, dan pilot-pilot seniorpun tidak dapat menjelaskannya dan tidak dilatih bagaimana kalau alat itu gagal.

Jadi, 102 sosok manusia tewas karena beberapa orang besar tidak mau malu (dan rugi), dan juga karena pelatihan pilot kurang.

Jika pendidikan teologi kurang, bukankah ada akibatnya juga?


Keating mengenai Suharto

Februari 2, 2008

Mantan Perdana Menteri Australia, Paul Keating, adalah salah satu dari hanya sedikit tokoh politis Australia yang menghadiri upacara pemakaman Soeharto. Dalam artikel di sini, dia memberi penilaian sbb.

  1. “Soeharto membawa bangsa sebanyak 120 juta orang, tertimpa oleh kekecauan politis dan kemiskinan, dari keadaan nyaris terpecah-pecah sampai menjadi bangsa sekarang yang tertib, teratur dan makmur.”
  2. Citra buruknya di Australia karena “Balibo Five”, yakni lima wartawan Australia yang tertembak mati di Timor Timur ketika meliputi masukya tentara Indonesia untuk mengambil alih negeri itu. Keating membela aksi itu karena warna komunis Fretilin. (Keating tidak menyinggung tingkah laku tentara di Timor Timur sesudahnya.)
  3. Keating menonjolkan sifat nasionalis Soeharto, yaitu bahwa dia membangun negara yang bukan negara Islam, dan juga stabilitas Indonesia sampai sekarang. Jelas, Indonesia yang kacau akan menjadi masalah besar untuk Australia.
  4. Dia menyangkal kalau Soeharto menjadi super-kaya karena korupsi dengan menunjukkan bahwa rumah Soeharto biasa saja. Dia menganggap bahwa keluarganya yang bandel dalam hal ini.
  5. Kelemahan Soeharto digambarkan Keating begini: “Yang terbesar adalah menilai kurang hakikat masyarakat yang dia bangun. Sementara pemeliharaan ekonomisnya bermuara pada kemandirian pakan, pendidikan, kesehatan dan berkurangnya tingkat kematian bayi, perubahan-perubahan itu bermuara pada kelas menengah dengan meningkatnya pendapatan. Soeharto semestinya membiarkan perwakilan rakyat bertumbuh dengan bertumbuhnya pendapatan. Tetapi dia kurang percaya terhadap kaum politis. Dia menganggap bahwa mereka tidak akan mengutamakan kepentingan nasional, tidak memiliki kompetensi administratif dan bersifat sangat ragu-ragu, bahkan korup. Hal itu dia sampaikan kepada saya berulang kali. Dia tidak mau melepaskan kendali. Sebagian karena dia tidak mau kehilangannya, sebagian karena dia tidak memiliki orang untuk menerimanya.”

Keating menulis dari perspektif kepentingan nasional Australia. Saya tertarik dengan no 5. Bagaimana dari perspektif Indonesia?