12. Amsal

Agustus 25, 2008

Paulus berdoa untuk jemaat di Filipi, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). Mengasihi sesama adalah perintah Tuhan, tetapi kasih yang tidak mengetahui dan mengerti keadaan bisa berakibat buruk, sekalipun maksudnya baik. Kemampuan yang dimintakan Paulus itu dapat disebut hikmat.

Kitab Amsal, Ayub dan Pengkhotbah adalah pusat hikmat dalam PL. Sifatnya nampak dalam contoh klasik dari Ams 26:4-5:

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

Sudah jelas kedua ayat ini bukan perintah, karena kalau demikian maka ada kerancuan besar! Ternyata menanggapi orang bebal dengan tepat bukan soal hukum melainkan soal hikmat, soal mengetahui dan mengerti keadaan sehingga respons tepat untuk keadaan itu. Membaca kedua amsal ini memaksa kita untuk memikirkan kapan masing-masing keadaan yang dibayangkan. Kalau selama ini kita selalu menjawab atau selalu tidak menjawab orang bebal, maka kita akan belajar untuk lebih fleksibel.

Kitab Amsal mulai dengan sembilan pasal untuk memotivasi pembaca untuk menjadi berhikmat. Pasal 8:22dsb menarik, karena menceritakan bagaimana hikmat terlibat dalam dunia sejak dunia diciptakan. Jika dunia diciptakan dengan hikmat, maka cara hidup yang tepat di dunia adalah dengan hikmat. Banyak amsal disampaikan mulai p.10. Ada teka-teki seperti di atas, yang mendorong kita untuk berpikir. Banyak juga yang menyampaikan kebenaran umum, seperti pentingnya hidup dengan rajin (10:4). Kebenaran ini jangan dianggap sebagai janji mutlak—bukankah ada pemalas yang kaya dan orang miskin yang rajin? Tetapi dunia diciptakan sedemikian rupa sehingga pada umumnya pemalas tidak akan berhasil. Hidup rajin adalah hidup yang cocok dengan bagaimana dunia ini diciptakan.

Kitab Ayub dan Pengkhotbah menunjukkan keterbatasan hikmat manusia. Dalam kitab Pengkhotbah kita belajar bagaimana dunia “ditaklukkan kepada kesia-siaan” (Rom 8:20), sehingga hikmat tidak berhasil sebagaimana semestinya. Kitab Ayub menegaskan bahwa penderitaan atau ketidakberhasilan tidak selalu karena alasan yang jelas bagi manusia. Hikmat sangat perlu tetapi hikmat manusia selalu terbatas.

Ketiga kitab hikmat ini penuh dengan hikmat yang praktis dan mengena. Kadangkala khotbah berdasarkan tema mencari-cari nas untuk mendukung tema itu, sehingga cerita dengan makna teologis yang penting dibelokkan untuk melayani tema itu. Sementara tema itu dibahas dengan jelas dan tajam dalam beberapa ayat Amsal! Mencari amsal yang membahas tema tertentu begitu gampang jika memakai konkordansi, dan tinggal memilih dua atau tiga ayat untuk direnungkan dengan teliti. Tidak masalah kalau ketiga ayat tidak berturut-turut. Mulai p.10 dalam kitab Amsal konsep perikop pada umumnya tidak berlaku.

Seri Pemahaman PL


11. Mazmur: Syukur, Pujian, Hikmat

Agustus 10, 2008

Allah menjawab doa! Itulah pengalaman Israel, sehingga mazmur permohonan dibalas dengan mazmur syukur. Mzm 116 adalah contoh yang terkenal. Sebagaimana dijelaskan dalam aa.1-2, pemazmur pernah berseru kepada Tuhan dan didengar. Keluhan (a.3) dan permohonannya (a.4) diringkas, kemudian ada banyak pujian. Mazmur sendiri merupakan bagian dari nazar pujiannya (a.14). Jika mazmur permohonan menyangkut keadaan tergoyang, mazmur syukur menyatakan rasa syukur ketika Allah meluputkan kita daripadanya.

Mazmur pujian adalah respons umat yang sudah biasa ditemani Tuhan dalam suka maupun duka. Seringkali ada seruan untuk memuji Allah, dengan alasan untuk pujian itu (Mzm 117 adalah yang paling ringkas!). Mazmur seperti p.103 masih sadar akan berbagai pergumulan hidup (dalam aa.3-6 ada dosa, penyakit, ancaman maut, dan pemerasan), tetapi umat Allah yang biasa berseru dan bersyukur sudah mengenal kebaikan dan kesetiaan-Nya. Dengan datang-Nya melawan segala penyakit dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut, Kristus menjadi alasan untuk kita selalu bersyukur dan memuji Allah.

Di antara banyak mazmur permohonan, syukur dan pujian adalah mazmur yang dekat dengan tulisan hikmat seperti Amsal. Mzm 1 memulai kitab Mazmur dengan mengingatkan kita akan dua cara hidup dengan dua akibatnya. Namun, sebagaimana dilihat dalam kitab-kitab sejarah dan juga para nabi, seringkali orang benar tidak berhasil karena diperas, dan orang fasik tidak seperti sekam melainkan berjaya. Mzm 37 membahas masalah ini dengan janji akan keadilan Allah yang akan datang (seperti 37:11 yang dikutip Yesus dalam Mt 5:5). Mzm 73 yang paling mendalam soal ini—kebingungan orang percaya disampaikan sejujur-jujurnya. Hasil pergumulannnya ialah bahwa Tuhan adalah bagiannya (73:26). “Bagian” (kheleq) adalah istilah untuk tanah yang dibagi-bagikan kepada setiap bani Israel sebagai tanda berkat Allah dalam kitab Yosua. Tetapi bani Lewi tidak memiliki bagian tanah, Tuhan adalah bagiannya (Bil 18:20). Maksudnya di sini, biar orang lain mendapat kekayaan dan kesehatan, jika pemazmur dekat dengan Tuhan itu cukup.

Jadi, lewat pergumulannya Israel belajar bahwa Tuhan setia, dan juga belajar berefleksi untuk memahami lebih mendalam apa inti janji-janji Tuhan, yakni Allah sendiri. Mazmur masih menolong kita dalam Kristus. Di dalam terang Injil, kita tahu bahwa ketika Kristus datang kembali, orang yang rendah hati sungguh akan mewarisi bumi yang baru (Mt 5:5). Untuk sementara, bagian kita adalah Roh Kudus. Di dalam Roh Kudus kita dibantu untuk berdoa dalam pergumulan (Rom 8:26) dan mengenal Allah sebagai Bapa (Rom 8:14).

Seri Pemahaman PL


10. Mazmur Permohonan

Juni 27, 2008

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Baca entri selengkapnya »


9. Nubuatan keselamatan

Juni 20, 2008

Nubuatan keselamatan membawa kita untuk mengarahkan kehidupan kita berdasarkan kebangkitan Kristus. Bagaimana caranya?

Di balik hukuman Allah semua kitab nabi menyampaikan suatu harapan. Nubuatan hukuman terdiri atas dua bagian: alasan dan akibat. Soal akibat, tentu nubuatan keselamatan merupakan janji, bukan ancaman. Tetapi soal alasan, tidak ada yang berasal dari pihak Israel sendiri! Misalnya, sembilan pasal nubuatan hukuman dalam kitab Amos berakhir dengan Amos 9:10 yang berbicara tentang orang berdosa yang akan mati terbunuh. Ayat berikut mulai bukan dengan cerita tentang pertobatan dsb melainkan dengan janji mutlak, “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh”. Cara itu berbeda dengan cara Hukum Taurat. Janji berkat dalam Ul 28 bersyarat (“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu…”). Kalaupun pertobatan disebutkan dalam nabi-nabi, hal itu adalah karya Allah:

Baca entri selengkapnya »


8. Nubuatan hukuman

Juni 13, 2008

Dalam nubuatan PL ada dua golongan besar: nubuatan hukuman dan nubuatan keselamatan. Nubuatan hukuman memperingatkan Israel akan akibat tidak taat kepada Allah. Banyak nubuatan demikian digenapi ketika Israel (kerajaan utara) kemudian Yehuda (kerajaan selatan) dibuang. Tetapi para nabi tidak menganggap bahwa Allah sudah meninggalkan Israel, sehingga selalu ada juga nubuatan keselamatan, bahwa Allah akan bertindak setelah hukuman untuk mengembalikan bahkan memperbaharui Israel. Tentu, setiap nabi bernubuat dalam konteks tertentu yang perlu dipahami (biasanya ayat 1:1 menyampaikan informasi terpenting soal itu). Komentar ini memberi suatu garis besar untuk mengarahkan pemahaman dalam konteks Kisah Agung Alkitab.

Baca entri selengkapnya »


7. Menafsir sejarah (2)

Juni 4, 2008

Sejarah Israel (khususnya Yosua sampai Raja-Raja) memperlihatkan bagaimana Allah bergaul dengan umat-Nya berdasarkan perjanjian di Sinai. Nubuatan (sebagai lanjutan dari penyataan Allah dalam Taurat) menjadi cara Dia berkomunikasi dengan Israel dan juga mengendalikan sejarahnya. Sejarah itu meliputi berkat dan kutuk, sesuai dengan “sanksi” perjanjian (Im 26, Ul 28). Oleh karena kegagalan Israel maka Yesus menanggung kutuk itu supaya berkat itu sampai kepada bangsa-bangsa (Gal 3:13-14).

Baca entri selengkapnya »


6. Menafsir Sejarah (1)

Mei 29, 2008

Naratif (cerita) merupakan bentuk sebagian besar Perjanjian Lama. Jika kita mendengarkan atau membaca cerita, kita cenderung menempatkan diri pada salah satu tokoh di dalamnya. Naratif dalam Alkitab juga berfungsi demikian, dengan satu kelebihan: jika kita membacanya sebagai jemaat, sebagai anggota umat Kristus, maka kita membaca dalam kesinambungan dengan tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham dan orang-orang Israel. Kesinambungan mencakup kesamaan—sama-sama umat Allah, dan ketidaksamaan—kita harus selalu mempertimbangkan perkembangan Kisah Agung dan khususnya datangnya Kristus. Berikutnya beberapa usulan untuk menerapkan pemahaman itu.

  1. Allah adalah tokoh utama dalam sejarah Alkitab. Kita cenderung asyik dengan tokoh-tokoh manusia yang dengannya kita dapat beridentifikasi. Tetapi Allah muncul atau melatarbelakangi hampir semua cerita PL, dan sifat dan karya-Nya adalah fokus utama di dalamnya. Jika Allah mengatakan kepada Yosua, “Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau” maka Allah yang menyertai perlu menjadi fokus utama sebagai dasar bagi penerapan yang menyangkut keberanian. Kalau Allah tidak menjadi fokus utama maka keberanian akan menjadi kepahlawanan manusia, bukan iman.
  2. Allah itu dikenal melalui rumusan dan naratif yang saling melengkapi. Misalnya, Allah menyatakan diri kepada Musa dengan rumusan, “yang mengampuni kesalahan…tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel 34:7). Ada ketegangan di sini, apakah Allah mengampuni atau tidak. Secara logis hal itu sulit dipahami, tetapi secara naratif hal itu justru jelas dalam pengalaman Israel! Kel 32-34 menggambarkannya dengan Israel tidak dimusnahkan setelah membuat anak lembu emas, tetapi toh ada tulah (Kel 32:35). Kisah Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu memperlihatkan ketegasan dan kemurahan Allah yang berjalan bersama dengan cara yang tidak dapat dirumuskan, karena Allah dalam Alkitab dianggap sebagai tokoh pribadi, bukan sebagai prinsip atau mesin. Maka cerita-cerita Alkitab memperkenalkan Allah (apalagi cerita-cerita tentang Yesus).
  3. Yesus menggenapi tokoh-tokoh Penyelamat. Ingkatkah cerita tentang Daud dan Goliat (1 Sam 17)? Siapa saja tokoh penting? Ada Daud, Goliat, tentara Israel (termasuk raja Saul) dan tentara Filistin. Dengan siapa kita menempatkan diri ketika cerita itu didengarkan? Kalau dengan Goliat atau tentara Filistin, bertobatlah! Biasanya, pengkhotbah mengangkat Daud sebagai teladan iman, dan asal peran Allah ditekankan, boleh saja. Tetapi terus terang saya seringkali lebih seperti tentara Israel—takut terhadap tantangan sampai ada yang merintis kemenangan. Daud berperan di sini sebagai penyelamat yang melaluinya Allah mendapatkan kemenangan bagi umat-Nya yang tidak berdaya. Bukankah Allah melakukan hal yang sama melalui Yesus (anak Daud!) terhadap Iblis, dosa dan maut? Dengan demikian cerita Daud dan Goliat ini memperlihatkan dengan konkrit dinamika peperangan rohani dalam PB—Allahlah yang sudah mengalahkan Iblis di dalam Yesus, kita hanya berdiri dalam kemenangan Dia (bnd. Ef 6:11-14 “bertahan…tetap berdiri…berdirilah tegap”).

Pemahaman demikian menjadi cara untuk memaknai Perang Suci dalam PL. Kembali ke Yosua, kita mau berani dalam apa? Jangan sampai Yosua menjadi teladan bagi laskar Kristiani yang memakai senjata fisik! Jika perkembangan Kisah Agung Alkitab tidak diperhatikan maka orang tidak akan sadar bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging” (Ef 6:12) karena memang kerajaan Kristus “bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36). Yosua berani dalam memperjuangkan Kerajaan Allah, dalam bentuk yang cocok untuk Israel. Kita harus berani dalam melawan Iblis. Mingingat bahwa Yosua berperan sebagai Juruselamat, sehingga penaklukan tanah Israel sudah digenapi dalam kemenangan Kristus pada salib! Penginjilan pun jangan dianggap sebagai perang terhadap musuh!

Seri Pemahaman PL


5. Hukum Taurat: Etika

Mei 22, 2008

Saya hitung tiga macam kesulitan dalam memahami perintah-perintah Hukum Taurat (HT).

  1. Keadaan tidak lagi cocok, seperti Im 19:9 “Janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya”. Saya tidak memiliki ladang!
  2. Alasannya kurang jelas. Im 19:19 memberi perintah untuk tidak memakai pakaian yang dibuat dari dua jenis bahan. Mengapa?
  3. Perjanjian Baru menilai lain. Im 19:26 melarang memakan daging yang masih berdarah, sedangkan Paulus mengatakan bahwa “semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur” (1 Tim 4:4). Kategori ini juga termasuk “mata ganti mata” yang ditanggapi oleh Yesus (Im 24:20 & Mt 5:38-39), serta hari Sabat yang beralih satu hari (dan sifatnya berubah juga).

Kita bisa tambah bingung ketika kita membaca perkataan Yesus di Khotbah di Bukit bahwa satu titikpun tidak akan ditiadakan dari HT (Mt 5:18), padahal beberapa ayat kemudian Yesus sepertinya meniadakan sumpah (5:33) dan pembalasan (5:38).

Sekali lagi kita berhadapan dengan Alkitab yang dinamis, yang berkembang. Saya sudah mengusulkan bahwa “ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru”. Saya mau mengusulkan bahwa prinsip itu berlaku untuk perintah-perintah etis juga. Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan HT, melainkan untuk menggenapinya (Mt 5:17). Apa maknanya yang diterapkan dan bagaimana caranya yang baru?

Cara yang baru adalah oleh Roh Kudus. Khotbah di bukit ditujukan kepada murid-murid Yesus yang telah menerima panggilan Kerajaan Allah yang dekat. Satu harapan PL tentang Kerajaan Allah ialah hati yang baru (Yer 31:33; Yeh 36:26) oleh karena kehadiran Roh Allah (Yeh 36:27). Maka cocoklah ketika Yohanes Pembaptis menyampaikan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Mt 3:11). Jadi, dalam Khotbah di Bukit Yesus menyampaikan makna HT kepada umat Allah yang mau diperbarui oleh Roh Kudus, atau dalam bahasa Paulus mau lulus dari pengawasan HT sebagai penuntun.

Makna HT yang mau diterapkan oleh umat yang baru itu disimpulkan oleh Yesus dengan Aturan Emas (Mt 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”), dan kemudian secara lebih lengkap dalam kedua Perintah Agung, kasih kepada Allah dan sesama (Mt 21:37-40, yang mengutip HT sendiri!). Secara lebih terperinci, Yesus menguraikan berbagai perintah dalam Mt 5:21-48. Umat yang baru bukan hanya akan sanggup menahan diri dari pembunuhan, perzinahan, sumpah palsu dsb, tetapi juga akan sanggup tidak marah, tidak berhawa nafsu, selalu jujur dsb. Yesus menerapkan makna seluruh HT (tidak satu titikpun dibuang) dalam konteks umat yang baru. (Bnd. Rom 8:3-4; 13:8-9; Gal 5:22-23.)

Jika demikian, maka kita harus selalu menafsir HT sebagai anggota umat yang baru (jemaat). Kadangkala makna yang perlu diterapkan sudah jelas, seperti Im 19:10 yang menjelaskan bahwa penuaian harus meninggalkan sisa-sisa bagi orang miskin. Cara sekarang mungkin lain (seperti diakonia melalui jemaat), tetapi maknanya tetap berlaku, dan Im 19:9-18 mengingatkan kita bahwa kasih kepada sesama harus praktis. Jika maknanya tidak jelas bagi kita, seperti Im 19:19, maka kita bisa percaya bahwa maknanya akan muncul di tempat yang lain. Kadangkala maknanya cukup dalam. Makna hari Sabat mulai dengan kenikmatan Allah akan hasil penciptaan-Nya (Kej 2) sampai menjadi simbol harapan akan ciptaan yang baru (Ibr 4:9-11). Itu mengapa Yesus suka menyembuhkan pada hari Sabat. Berhenti dari pekerjaan hanya satu cara untuk diperbarui dalam harapan itu!

Seri Pemahaman PL


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL


3. Penebusan: Keluaran dari Mesir

Mei 8, 2008

Struktur Kitab Keluaran dapat dilihat sebagai suatu cerita yang mirip dengan cerita seluruh Alkitab. Kemiripan itu tidak kebetulan saja. Allah melakukan untuk Israel apa yang akan Dia lakukan untuk seluruh manusia dalam Kristus. Israel yang tertekan (pp.1-2) dibawa keluar dari tempat perbudakan (pp.3-18) untuk menjadi umat Allah (p.19) yang taat kepada hukum-Nya (pp.20-34) dan beribadah kepada-Nya (pp.35-40). Bnd. Kol 1:13-14 (penebusan dari dosa) dalam konteks doa Paulus dalam Kol 1:9-12 (yang berbicara tentang ketaatan dan syukur).

Cara menafsir seperti itu kadangkala disebut tipologi. Tipologi merupakan semacam alegori, tetapi dalam tipologi ada hubungan material antara simbolnya dengan apa yang disimbolkan dan kedua-duanya terletak dalam satu cerita besar. Jadi (soal hubungan material), Israel adalah bagian dari manusia, perbudakan adalah satu bentuk dosa, dan Allahlah yang berkarya dalam tulah-tulah dan juga dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah hubungan material. Tetapi lebih mendasar lagi (soal terletak dalam satu cerita), jemaat yang dibentuk oleh karya Kristus merupakan lanjutan dari Israel yang dibentuk oleh karya Allah di Keluaran. Israel dan jemaat terdapat dalam satu Kisah Agung.

Tipologi dalam Kisah Agung Alkitab menolong kita untuk memahami makna PL untuk kita dalam jemaat (umat PB). Misalnya, perhatikan kapan kesepuluh firman disampaikan kepada Israel. Kel 20 terdapat setelah Israel diselamatkan. Bukannya kesepuluh firman disampaikan kepada Israel ketika masih dalam perbudakan di Mesir sebagai prasyarat untuk Allah bertindak. Dengan demikian, ketaatan digambarkan sebagai respons terhadap anugerah Allah.

Satu simbol yang muncul dalam kitab Keluaran adalah Kemah Pertemuan yang dibentuk dalam pp.35-40. Hadirat Allah yang bebas dalam kitab Kejadian mulai teratur, terpusat (tetapi bukan terbatas) pada Kemah itu. Kemah itu tentu menjadi Bait Allah, dan Kristus mengambil alih semua fungsinya: penyataan, perantara doa, pendamaian.

Seri Pemahaman PL