Bagaimana caranya saya mengetahui sesuatu?

Maret 30, 2009

Jawaban yang paling sederhana (paling sedikit untuk budaya Barat sejak Pencerahan) adalah karena saya melihatnya (empirisisme) atau karena saya memikirkannya (rasionalisme). Saya melihat halilintar, saya mendengar guntur, saya mengetahui bahwa ada badai. Saya memikirkan satu ditambah satu dan mengetahui bahwa hasilnya dua.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika disadari bahwa dunia luar yang saya alami tidak dialami di luar melainkan di dalam akal saya. Jadi, empirisisme dan rasionalisme harus berpadu (begitu penemuan filsuf Immanuel Kant). Ketika halilintar bercahaya sekejap, ada sinar yang mengenai mata yang dikonversi menjadi aliran dalam saraf yang diproses dalam otak sampai ada kesadaran bahwa halilintar terjadi. Halilintar terjadi di luar, kesadaran terjadi di dalam. Pengalaman dimungkinkan oleh indera kita, tetapi juga dibatasi olehnya. Misalnya, mata tidak dapat melihat sinar inframerah.

Ketika budaya Eropa berhadapan dengan budaya-budaya yang lain, muncullah kesadaran bahwa pengalaman juga dimungkinkan (dan dibatasi) oleh budaya. Orang dari budaya yang belum mengenal huruf memang mampu melihat adanya coret-coretan pada suatu kertas, tetapi tidak dapat memaknainya. Karena tidak dapat dimaknai, kemungkinan kecil coret-coretan itu akan diperhatikan. Demikian juga saya melihat kerbau belang sebagai binatang yang besar, sedangkan orang Toraja terperangah oleh keindahannya. Kerbau yang dilihat satu, tetapi pemaknaan masing-masing berbeda.

Jadi, sejauh mana pengetahuan terletak di luar akal (di dunia nyata) dan sejauh mana di dalam akal? Untuk dunia fisik (seperti kerbau dan halilintar) pertanyaan ini tidak usah terlalu dipermasalahkan. Kerbau ada di luar otak saya, dan otak saya yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman memperhatikan dan memaknai sebagian dari data yang sampai di mata. Pandangan ini disebut realisme, yaitu bahwa ada dunia yang real (nyata) yang melandasi pengalaman saya akan dunia itu. Epistemologi realisme eksternal menganggap bahwa kenyataan itu sudah lengkap, sehingga tinggal akal mengenali ciri-cirinya yang benar. Realisme kritis menganggap bahwa kenyataan itu cukup rumit sehingga berbagai rumusan diperlukan untuk mengetahuinya. Sebagai contoh, sebuah kota begitu rumit sehingga ada berbagai peta. Ada peta angkutan umum, peta batasan bagian-bagian pemerintahan, peta jalan, peta tempat wisata dsb. Semua peta berkaitan dengan kenyataan kota itu, tetapi semuanya juga tidak menangkap seluruhnya.

Tetapi bagaimana dengan hal-hal di luar dunia fisik dan logika, seperti etika, keindahan, ataupun iman? Alkitab tidak bermaksud untuk memberitahu manusia tentang dunia fisik ataupun logika, tetapi banyak berbicara tentang Allah dan tentang manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertindak. Sampai sekarang di dunia Barat ada yang membatasi pengetahuan yang sejati pada dunia fisik (kurang lebih yang dapat diukur oleh ilmu sains) dan yang dapat dipikirkan secara logis (logika dan matematika). Hal-hal yang lain ditaruh pada kotak “nilai”, hal-hal yang berlaku bagi orang atau budaya, tetapi bukan pengetahuan yang sejati (berlaku untuk semua). Kalau (pra-)anggapan itu benar, maka Alkitab tidak usah dianggap kebenaran mutlak. Saya ambil nilai kerajinan sebagai contoh.

Jelas bahwa saya menilai apakah orang tertentu rajin atau malas berdasarkan ukuran dalam akal saya, yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman. Adalah fakta sosial bahwa sikap rajin dihargai baik dalam budaya Barat maupun dalam budaya Indonesia, walaupun bentuknya berbeda juga di antara kedua budaya itu. (Contoh klasik dari fakta sosial adalah uang. Kertas yang bergambar itu hanya berlaku sebagai uang karena pemerintah mengesahkannya sebagai uang dan masyarakat percaya kepada pengesahan itu.) Ilmu seperti sosiologi meneliti hal-hal seperti nilai sebagai fakta sosial, atau dalam kata lain secara fenomenologis (= sebagaimana nampak dalam sebuah masyarakat). Epistemologi realisme konseptual mengatakan bahwa nilai tidak berada di luar akal, tetapi bermakna dalam jaringan ide-ide yang lain. Misalnya, kerajinan berkaitan dengan nilai seperti pentingnya menghidupi keluarga, berkontribusi kepada masyarakat dsb. Epistemology nonrealisme lebih radikal lagi, dan mengatakan bahwa hal-hal seperti nilai dipaksakan kepada kita oleh budaya dan/atau yang berkuasa. Misalnya, nilai kerajinan adalah cara bisnis untuk memaksimalkan keuntungan dari para buruh. Kedua epistemology ini akan cenderung ke relativisme. Jadi, sains (dan matematika) adalah benar secara mutlak, tetapi etika dan agama adalah benar per budaya atau kelompok.

Namun, ada argumentasi bahwa kerajinan dan berbagai nilai yang lain adalah nyata, di luar manusia. Faktanya, hampir semua budaya menghargai kerajinan (paling sedikit untuk sebagian masyarakatnya). Soalnya, adalah sulit membayangkan masyarakat yang sejahtera jika kemalasan dijunjung tinggi. Memang cara kerajinan itu adalah nyata lebih mirip dengan kebenaran matematika daripada kerbau atau halilintar. Tetapi masyarakat yang mengabaikan nilai itu akan mengalami akibat etisnya, sama seperti masyarakat yang memakan ikan yang beracun akan mengalami akibat fisiknya, lepas dari apa yang ada dalam akalnya. Kitab Amsal mengatakan hal yang sama. Dalam Ams 8:22-31 hikmat terlibat dalam penciptaan, artinya nilai-nilai hikmat tertanam di dunia, di luar manusia. Oleh karena itu, manusia mendapatkan hidup dalam dunia ini dengan mendapatkan hikmat (8:35).

Jika demikian, epistemologi yang cocok untuk nilai adalah realisme kritis. Perlu banyak pendekatan dan peta untuk menangkap kenyataan nilai-nilai, seperti (dalam Alkitab) amsal, perumpamaan, cerita dan ajaran. Realisme kritis juga membuka peluang untuk penafsiran dalam konteks, karena sebuah penafsiran kontekstual merupakan peta tentang Alkitab, bukan satu-satunya penjelasan.

Sumber: Kirk, J. Andrew, and Kevin J Vanhoozer. To Stake a Claim : Mission and the Western Crisis of Knowledge. 1999.


Praanggapan yang melandasi teologi kontekstual

Maret 17, 2009

Di satu tempat (h.21) Bevans menyebutkan soal orientasi teologis yang mendasar. Maksudnya bahwa ada beberapa hal yang merupakan praanggapan yang melandasi banyak hal yang lain, termasuk pendekatan terhadap kontekstualisasi. Tempat konteks dan Alkitab dalam berteologi yang saya bahas waktu yang lalu adalah salah satunya. Praanggapan itu dibentuk oleh pengajaran dan pengalaman, tetapi dapat juga dibahas dan dipertimbangkan.

Hal itu dapat dilihat dalam sejarah teologi Barat. Renaisans mulai membangun semangat individualistis dalam masyarakat Eropa, sehingga otoritas (khususnya gereja) mulai dilihat sebagai ancaman terhadap otonomi manusia. Reformasi berupaya untuk menempatkan otoritas bukan pada gereja yang manusiawi melainkan pada Alkitab saja sebagai firman Allah, tetapi banyak wilayah Protestan sama otoriternya dengan wilayah Katolik. Kemudian permusuhan antara Katolik dan Protestan yang bermuara pada serangkaian perang pada abad ke-17 mengikis wibawa moral Alkitab yang diklaim sebagai landasan gereja. Hal itu membuka kesempatan untuk orang mempertanyakan etika Alkitab sendiri, seperti perang suci. Kemudian, kemajuan sains membuktikan kemampuan manusia untuk mendapat pengetahuan di luar penyataan Alkitab, dan menimbulkan pertanyaan tentang mujizat dalam Alkitab. Muncullah teologi liberal pada abad ke-19 sebagai usaha untuk mempertahankan nilai-nilai religius dan etis yang berkaitan dengan Kristus, sedangkan sebagian dasar iman tradisional (seperti kebangkitan-Nya atau keilahian-Nya) dianggap tidak meyakinkan lagi.

Sampai sekarang hal-hal yang serupa (penyalahgunaan Alkitab, kebobrokan gereja, bahan tertentu dari Alkitab sendiri, perkembangan dunia modern) menjadi alasan mengapa dianggap penting menyeimbangkan Alkitab dengan pengalaman manusia. Anggapan itu berfungsi sebagai praanggapan, suatu kecenderungan yang mempengaruhi apa yang masuk akal dan apa yang tidak. Sebagai contoh praanggapan, bagi saya sebagai orang Injili, tidak masuk akal percaya kepada Kristus dan berkecimpung dalam gereja kalau Yesus tidak bangkit. Bagi beberapa teolog kontekstual yang dibahas Bevans, kebangkitan tubuh Kristus tidak masuk akal dan dilihat sebagai metafora (cara membahasakan) semangat baru pada murid-murid-Nya setelah penyaliban-Nya. Karena menyangkut praanggapan, beradu argumentasi tidak akan mencapai persetujuan, namun dapat memperjelas perbedaannya.

Mengenali praanggapan yang berlaku dapat mengurangi rasa jengkel terhadap pendapat yang berbeda, dan memungkinkan kita untuk belajar dari orang lain. Belajar belum tentu berarti kita mengganti praanggapan kita dengan praanggapan mereka. Kita dapat menggunakan berbagai gagasannya setelah disesuaikan dengan praanggapan kita.

Tiga praanggapan yang mau saya bahas selanjutnya adalah soal epistemologi (bagaimana mengetahui), soal penciptaan atau penebusan, kemudian soal rujukan Alkitab.


Pengantar tentang teologi kontekstual

Maret 11, 2009

Kontekstualisasi menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini. Buku Stephen Bevans, Models of Contextual Theology (New York: Orbis Books, 2002) menjadi klasik dalam analisis berbagai model kontekstualisasi. Dalam beberapa posting saya mau berinteraksi dengan pemandangannya, dan juga menempatkan diri dalam pemetaan model-model teologi kontekstual yang dia ajukan.

Apa itu teologi kontekstual? Kata konteks merujuk ke budaya, keadaan sosial dan politik, sejarah dsb di suatu tempat. Sebenarnya, teologi selalu mencerminkan konteksnya. Kita dapat melihat budaya Timur Tengah Kuno dalam Perjanjian Lama, dan budaya Helenis (Yunani) dalam berbagai kitab Perjanjian Baru. Agustinus memakai (secara kritis) filsafat Plato, Thomas Aquinas memakai (secara kritis) filsafat Aristoteles, Calvin memanfaatkan ilmu-ilmu kesastraan yang berkembang pada zaman Renaisans. Kemudian, teolog-teolog seperti itu berteologi demi kepentingan misi dan pastoral, yaitu untuk konteks tertentu. Tetapi semuanya berkarya atas praanggapan bahwa teologi mengungkapkan kebenaran tentang Allah berdasarkan Kitab Suci (ditambah Tradisi bagi kaum Katolik, seperti Stephen Bevans sendiri). Menurut Bevans, teologi kontekstual menambahkan satu sumber lagi, yaitu pengalaman manusia sekarang.

Usulan itu mengaburkan bahwa teologi liberal sejak abad ke-19 memakai pengalaman manusia sebagai salah satu sumber teologi. Contoh klasik adalah Schleiermacher yang berteologi dengan membahas pengalaman manusia akan Allah, bukan Allah sendiri. Dia mengikuti filsafat Imanuel Kant, yang mengajukan bahwa dunia tidak diketahui langsung, tetapi hanya melalui pemaknaan oleh akal budi. Misalnya, saya melihat beberapa kali bahwa babi yang ditusuk di jantung langsung mati. Tidak dapat dibuktikan secara mutlak bahwa tusuk menyebabkan kematian, tetapi akal budi manusia menafsir pengalaman seperti itu sebagai sebab-akibat. Jadi, pengetahuan tentang dunia dicari (sebagian) dalam akal budi manusia, bukan dalam dunia di luar. Demikian juga, teologi liberal menganggap bahwa pengetahuan tentang Allah dicari (sebagian) dalam pengalaman religius manusia. Bahkan Alkitab sendiri makin ditafsir sebagai hasil pengalaman religius manusia pada masa lampau, bukan sebagai wahyu langsung. Satu akibat (atau sebab?) ialah teologi liberal mengikuti semangat Pencerahan yang menempatkan rasio (akal budi) di atas otoritas.

Namun, pada abad ke-19 pengalaman manusia yang diteliti adalah pengalaman satu budaya saja, yaitu budaya Eropa. Pada abad ke-20, para antropolog makin menyadari kecanggihan budaya-budaya di luar dunia Barat, dan sosiologi makin menunjukkan sejauh mana akal budi manusia yang memaknai itu ditentukan oleh budaya. Sehingga kemajemukan pengalaman manusia berarti bahwa teologi yang mencakup pengalaman manusia harus menjadi majemuk juga. Timbullah teologi-teologi kontekstual.

Bagaimana dengan teologi konservatif, yang tetap berpegang pada Alkitab sebagai otoritas di atas akal budi dan pengalaman manusia (seperti aliran Injili yang saya anut)? Selama budaya Eropa dianggap puncak budaya manusia, unsur konteks (budaya dsb) dalam menafsir Alkitab tidak diperhatikan. Para teolog konservatif lebih sibuk mempertahankan Alkitab dan doktrin-doktrin kunci seperti ketuhanan Kristus terhadap tantangan teologi liberal. Tetapi gerakan misi tidak hanya membawa Injil ke pelosok-pelosok dunia, tetapi juga membawa budaya-budaya dunia ke dalam kesadaran Barat. Para misionaris makin menyadari bahwa budaya berpengaruh dalam, dan akhir-akhir ini gereja dunia ketiga makin bersuara. Sehingga lambat laun teologi Injili pun diperhadapkan dengan konteks sebagai faktor yang tidak dapat dipungkiri dalam berteologi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.