Ams 31:10-31 Memuji (perempuan yang ber-)hikmat

November 30, 2009

Kitab Amsal banyak menggambarkan hikmat sebagai perempuan, sehingga cocok jika kitabnya diakhiri dengan gambaran perempuan yang mengejawantahkan hikmat itu. Lebih lagi, p.31 seluruhnya berasal dari seorang perempuan, yakni ibu dari raja Lemuel (31:1; John Goldingay, New Bible Commentary, menunjukkan bahwa setiap kali ada perubahan pengarang ada judulnya, jadi a.10 tidak memulai koleksi yang baru). Jadi, seorang perempuan yang bijak menggambarkan hikmat dalam diri seorang perempuan.

Gambaran itu disampaikan dalam 22 ayat, dengan setiap ayat dimulai dengan huruf berikut dalam abjad Ibrani (pola itu disebut akrostik). Pola itu menunjukkan keutuhan penguraian topik. Dalam syair ini ada macam-macam hal. Istri itu berharga (a.10), relasi mereka sebagai suami-istri baik (aa.11-12), dia terlibat dalam usaha-usaha kecil di luar rumah (aa.13-19) sehingga keluarga makmur (aa/24-25), dia berbuat baik kepada masyarakat (a.20) dan kepada rumah tangganya (aa.21-22) termasuk membawa hormat bagi suaminya di masyarakat (a.23). Bukan hanya itu, dia adalah sumber hikmat dan pengajaran dalam perkataan (a.26) dan kehidupan rumah tangga (a.27).

Gambaran ini dapat menimbulkan berbagai reaksi. Dalam berbagai budaya perempuan itu akan dinilai terlalu bebas, sedangkan dalam budaya Australia akan ada yang mempersoalkan bahwa hanya laki-laki yang berperan dalam bidang politik (a.23) sementara perempuan berpusat di rumah. Mungkin juga ada perempuan yang merasa kurang mampu ketimbang perempuan yang serba mampu ini. Semua reaksi ini salah tafsir, menurut saya. Maksud gambaran ini bukan untuk menentukan pola atau standar untuk kaum perempuan, melainkan untuk menggambarkan hikmat. Gambaran itu menjadi contoh konkrit (contoh terpanjang dalam kitab Amsal) yang secara tersirat membuktikan gunanya hikmat dalam semua bidang kehidupan, sehingga hikmat dimuliakan.

Jika ada pesan tentang perempuan, intinya supaya hikmat juga diakui dan dipuji dalam diri seorang perempuan. Itulah tema aa.28-31. Anak-anaknya menghargai dia dan suaminya memuji dia dengan sangat (aa.28-29). Penutur syair mengusulkan supaya perempuan dihargai karena memiliki dasar hikmat, yaitu takut akan Tuhan, bukan karena nilainya sebagai hiasan bagi suami (a.30). Akhirnya ada satu-satunya perintah dalam syair ini, yaitu supaya hikmat dalam perempuan diakui bukan hanya oleh keluarga melainkan juga oleh masyarakat, atau lebih tepatnya oleh kaum laki-laki yang berkuasa (a.31).

Kita rugi kalau kita menganggap bahwa hanya satu dua kelompok yang memiliki hikmat, misalnya pendeta atau cendekiawan. Hikmat layak dipuji di mana saja ia terdapat sebagai pemberian Tuhan yang baik.


Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

November 22, 2009

Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.

Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.

Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.

Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.

Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Kel 15:1-21 Meresponsi anugerah Tuhan

November 1, 2009

Nyanyian ini adalah nyanyian pertama yang direkam dalam Alkitab (kalau tidak salah—adakah sebelumnya?). Hal itu sangat cocok. Allah sudah menyelesaikan penyelamatan mereka dari kuasa Firaun, sehingga mereka sudah dimampukan menjadi umat Allah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, sebelum ada Taurat sebagai kerangka hidup untuk merespons anugerah keselamatan itu, ada pujian. Pujian adalah respons utama kepada Allah, ketaatan menyusul (bnd. Rom 1:21). Aa.20-21 menceritakan bahwa perempuan ikut juga dalam nyanyian ini, dipimpin Miryam yang disebut sebagai nabiah.

A.1b mengantarkan kedua tema utama, yakni sifat Tuhan serta perbuatan-Nya. Menurut analisis di Expositor’s Bible Commentary, ada empat bait dalam nyanyian ini, yaitu aa.1b-5, 6-10, 11-16a, 16b-18. Pembagian itu berdasarkan adanya batu/timah pada akhir ketiga bait yang pertama (aa.5, 10, 16a), dan juga pengulangan beberapa kata (bukan hanya pengulangan ide) pada aa.6, 11, 16b. Setiap bait dibagi lagi: ada pengantarnya (ayat pertama masing-masing, yang mengangkat tema), kemudian ada satu-dua ayat tentang Tuhan dan sisanya menyangkut orang di luar Israel (ringkasnya: 1b/2-3/4-5; 6/7-8/9-10; 11/12-13/14-16a; 16b/17/18).

Bait pertama (aa.1b-5) menguraikan alasan orang Israel untuk menyanyi (a.1b), jadi pujian tentang Allah (aa.2-3) menyangkut “aku” (Musa dan setiap orang Israel), yang baginya Tuhan menjadi keselamatan karena apa yang terjadi terhadap pasukan Firaun (aa.4-5). Bait kedua (aa.6-10) menguraikan “tangan kanan” Tuhan (a.6), yaitu kuasa-Nya untuk campur tangan dalam dunia ini (aa.7-8) untuk menghukum musuh-Nya (aa.9-10). Bait ini lebih pada sudut pandang musuh. Kedua bait ini menceritakan kembali kehancuran pasukan Firaun.

Kedua bait berikut melihat ke depan, ketika tujuan dari keselamatan itu akan tercapai. Bait ketiga (aa.11-16a) melihat “ketiadataraan” Tuhan di atas dewa-dewi bangsa-bangsa (a.11). Hanya Tuhan yang dapat meniadakan musuh-Nya (a.12) dan menuntun umat-Nya (a.13), sehingga bangsa-bangsa yang akan dihadapi Israel dalam perjalanan ke tanah Kanaan takut (aa.14-16a). Bait keempat (aa.16b-18) menyangkut penyeberangan ke tanah Kanaan (a.16b), sehingga Israel berada di sekitar tempat kudus Tuhan (a.17), akhirnya Bait Allah di Yerusalem. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah raja yang kekal (a.18), baca: di atas seluruh bumi.

Kemenangan Kristus di kayu salib tidak kalah dahsyatnya dengan peristiwa ini. Dari Kristus kita juga belajar bahwa Allah layak dipuji, bahwa tangan-Nya kuat, bahwa Dia tiada bertara, bahwa kita adalah umat-Nya yang akan dibawa pulang. Kita juga ada di antara kemenangan yang dahsyat itu dan penggenapannya pada masa depan, ketika kita akan “menyeberang” ke langit dan bumi yang baru. Masalahnya bahwa kadangkala kemenangan atas dosa dan maut terasa abstrak, sehingga rasa syukur yang meliputi Israel pada saat itu tidak terasa oleh kita. Karena perikop ini menceritakan keadaan yang konkret, yang dengan mudah kita bayangkan, maka kita dapat belajar bagaimana rasa syukur yang selayaknya. Soalnya, kita luput dari nasib yang lebih parah dari nasib Israel seandainya Tuhan tidak campur tangan, yaitu larut dalam dosa dan menghadapi maut tanpa harapan.


Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


Ams 23:19-28 Nasihat seorang teladan

Oktober 18, 2009

Bagian 22:17-24:34 merupakan koleksi amsal dari “orang-orang bijak”, yang ternyata mirip dengan koleksi amsal dari Mesir (Pesan-pesan Amenemope). Kemiripan tidak berarti disalin, karena jelas berwarna iman Israel. Koleksi ini memakai nama Tuhan (YHWH), dan bertujuan iman kepada-Nya (22:19). Tetapi kita melihat dalam bagian ini dengan paling jelas bahwa hikmat bukan milik satu kelompok saja.

Bagian ini juga berbeda dari bagian yang mulai pada p.10, karena setiap amsal mencakup beberapa ayat. Dalam perikop kita, ada tiga amsal, yaitu aa.19-21, aa.22-25 dan aa.26-28 (sehingga renungan ini tidak dipotong pada a.26). Yang pertama menyangkut nafsu yang tak terkendali. Adalah menarik bahwa bukan hanya anggur yang disebut tetapi juga daging. Saya menduga bahwa dalam dunia kuno, sama seperti di Indonesia, daging dimakan pada pesta saja, kecuali yang kaya. Selain menjadi mahal, gaya hidup itu juga membuat orang kantuk, artinya tidak lagi terfokus pada perjuangan hidup.

Amsal yang pertama mulai dengan seruan kepada anak untuk mendengarkan ayahnya, tetapi dalam amsal yang kedua (aa.22-25) orang tua adalah sumber hidup, dan menyenangkan orang tua menjadi motivasi untuk berhikmat (a.24-25). Seruan ini adalah untuk memperoleh kebenaran, hikmat dsb (a.23). Seandainya hal-hal itu bisa dijualbelikan, maka semestinya dibeli dan dipegang terus.

Dalam amsal yang ketiga (aa.26-28), si ayah mengajak anaknya untuk melihat contohnya sendiri (a.26). Peringatan di sini menyangkut nafsu berahi yang di luar batas nikah.

Adalah terlalu gampang jika kita menyoroti kesukaan beberapa pemuda untuk bermabok-mabokan, tanpa bertanya, siapakah dari generasi ayah mereka yang layak mengajak mereka untuk memperhatikan jalannya (a.26)? Sering yang dijunjung tinggi adalah pelahap gengsi dan uang. Pendidikan dianggap komoditas yang bisa dibeli secara harfiah—saya membayar uang sekolah dan diberi ijazah lepas dari apakah saya sudah memperoleh pengertian atau tidak. Di berbagai kalangan dianggap biasa saja jika laki-laki yang berjalan jauh main pelacur. Maksud saya, perikop ini menyangkut ayah yang bijak yang mau meneruskan hikmatnya kepada anak, bukan ayah yang kacau yang mengeluhkan kekacauan anaknya.

Yang sudah pada jalan belajar hikmat, tolong diteruskan kepada generasi muda yang membutuhkan banyak bimbingan dalam dunia ini. Yang belum, jadilah anak kembali untuk mempelajari jalan yang benar.


Mk 5:35-43 Maut dikalahkan

Oktober 13, 2009

Musibah seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia mengingatkan kita bahwa maut adalah musuh. Jika kita berdukacita atas meninggalnya orang yang sudah lanjut usia, lebih lagi ketika ada orang yang masih muda. Jadi, kita langsung beridentifikasi dengan Jairus yang mendekati Yesus dengan harapan yang besar bahwa Yesus bisa menyembuhkan anaknya yang sakit parah (aa.22-23). Cerita berikut cukup dikenal, bagaimana Yesus dihalangi oleh perempuan yang sakit (aa.24-34) sehingga anak itu sudah meninggal, tetapi Yesus sanggup membangkitkannya. Juga cukup jelas bagaimana pembawa berita maupun para peratap tidak percaya kepada Yesus, sedangkan Jairus percaya, atau cukup percaya sehingga dia menerima semua usulan Yesus. Kepercayaan mungkin didukung oleh melihatnya perempuan yang sakit parah itu disembuhkan, tetapi tentu membangkitkan orang mati melebihi menyembuhkan.

Tema yang akan saya soroti adalah kebangkitan itu. Tema itu disinggung dalam perkataan Yesus bahwa anak itu hanya tidur. Yesus ditertawakan karena sepertinya orang menafsir-Nya secara harafiah. Dugaan saya bahwa Yesus merujuk ke Dan 12:2. Walaupun dalam pasal-pasal awal kitab Daniel kita melihat Allah menyelamatkan Daniel dan teman-temannya dari maut, dalam Dan 11:33-35 tidak semua orang bijaksana yang selamat. Tetapi dalam Dan 12:2 Allah akan membangkitkan mereka. Dengan dibangkitkan mereka tidak kehilangan bagian mereka dalam pembaruan pada akhir zaman. Banyak orang Yahudi menerima harapan itu. Tetapi harapan itu menyangkut akhir zaman, bukan masa kini.

Apakah Yesus memajukan kebangkitan pada akhir zaman menjadi hal yang masa kini? Bukan dalam peristiwa ini. Anak itu bangkit dari kematian, tetapi akan mati kembali. Kebangkitan ini hanya mendapat artian yang sebenarnya ketika Yesus sendiri bangkit, bukan untuk mati kembali melainkan memulai hidup kekal. Mujizat ini adalah pertanda bahwa Dia berkuasa atas maut, pertanda yang merujuk ke kebangkitan-Nya di mana kuasa itu terbukti dan digenapi. Cukup banyak cerita dalam Markus mengandung pesan yang sama, misalnya pada awal p.5 orang yang kerasukan itu tinggal di pekuburan, tempat orang mati.

Karena maknanya hanya akan jelas pada kebangkitan, Yesus melarang peristiwa ini diceritakan. Sama seperti identitas-Nya sebagai Mesias, orang banyak belum sanggup menafsirnya dengan tepat. Mereka akan rindu supaya keluarga mereka yang sudah meninggal dibangkitkan, daripada menaruh pengharapan pada zaman mendatang. (Apakah Dia mengatakan kepada orang banyak bahwa perempuan itu hanya tidur supaya peristiwa itu ditafsir sebagai penyembuhan saja? Jika demikian, menurut Mt 9:26 usaha itu tidak berhasil.)

Menurut tafsiran yang saya paparkan di atas, penerapan dari peristiwa ini adalah percaya pada janji pembaruan pada akhir zaman berdasarkan kebangkitan Yesus. Cerita ini mengingatkan kita akan kepedihan kematian sehingga kita memahami bahwa kebangkitan Yesus menjawab masalah utama dalam dunia ini. Anggaplah tafsiran ini adalah tafsiran “eskatologis”, yaitu menyangkut akhir zaman (yang mulai dengan kebangkitan Yesus). Saya juga bisa membayangkan tafsiran “kuasa” dan juga tafsiran “etis”. Tafsiran kuasa mengatakan bahwa percaya berarti mengharapkan mujizat sekarang juga. Tafsiran etis mengatakan bahwa percaya berarti melawan kuasa-kuasa maut dalam dunia ini sama seperti Yesus. Kedua tafsiran ini adalah implikasi yang sejati dari perikop ini, asal dilihat dalam rangka eskatologis tadi, yaitu dengan harapan yang terbatas untuk zaman ini. Maksudnya bahwa tidak semua yang percaya akan luput dari kesakitan dan maut sebelum kebangkitan pada akhir zaman, dan juga bahwa betapa kuat perlawanan kita terhadap kuasa-kuasa maut (misalkan perdagangan perempuan atau materialisme) kemenangan hanya akan lengkap dan kokoh ketika Yesus datang kembali. Jadi, jika ada mujizat atau perlawanan yang ada hasilnya (misalnya keadilan bagi rakyat kecil dalam perkara tertentu—itu juga sebuah mujizat!), hal itu juga merupakan pertanda akan harapan eskatologis itu.

Mari kita percaya akan kebangkitan Yesus, supaya kita siap untuk berjuang dalam harapan kita, dan menyaksikan kuasa Allah dalam perjuangan kita.


Mik 7:1-6 Hidup di tengah dosa

Oktober 4, 2009

Kita semua berdukacita atas bencana alam yang terjadi di berbagai negeri termasuk Indonesia akhir-akhir ini. Ada yang bertanya di mana Tuhan di dalamnya dsb. Seakan-akan kaget, dan baru diperhatikan bahwa ada banyak penderitaan di dunia ini, dan semua bagian Alkitab yang berbicara tentang masa depan berbicara tentang dunia yang penuh penderitaan sampai Allah membawa pemulihan yang tuntas (mis. Mk 13 atau Why 6). Yang paling sulit adalah kesadaran bahwa jumlah korban akan jauh lebih sedikit seandainya pembangunan di Padang sesuai standar yang semestinya di tempat yang rawan gempa bumi. Tentu, ada dugaan bahwa kurangnya kualitas bangunan karena korupsi (demikain usulannya di salah satu koran di Australia). Dampak bencana alam diperbesar oleh kemerosotan akhlak Indonesia. Dalam kedaulatan Allah, dosa membawa akibatnya sendiri.

Jika saya mengusulkan bahwa kita tidak usah kaget, saya tidak mau mengatakan bahwa kita semestinya acuh tak acuh terhadapa keadaan ini. Bagi Mikha hidup di tengah bangsa yang berdosa adalah celaka. Kecelakaan Mikha digambarkan dalam a.1 seperti orang yang mencari buah anggur dan ara pada pemetikan susulan (yang diadakan pada akhir musim panas). Seandainya ada yang tersisa, itu hanya sedikit dan kualitasnya kurang. Mungkin Mikha memakai kebun anggur sebagai perumpamaan untuk Israel, untuk mengatakan bahwa buah yang diharapkan Allah tidak ada. Rujukannya dijelaskan dalam aa.2-4a. Sayangnya, di Indonesia ayat-ayat ini terlalu mudah dipahami. Termasuk kerja sama antara pemuka, hakim dan pembesar untuk membalikkan hukum (a.3).

Namun, Tuhan tidak berdiam diri. Melalui nabi seperti Mikha Dia sudah memperingati bahwa hari penghukuman akan jatuh di atas Israel. (Pengintai adalah orang di tembok kota yang tugasnya memberitahu jika musuh mendekat, dan dipakai sebagai kiasan untuk nabi. A.4b bisa diartikan “hari penghukuman bagi nabi palsu dan kalian semua” atau “hari yang diberitahukan oleh nabi-nabi sejati tentang penghukuman bagi kalian semua”.) Jika a.4b merujuk pada pengepungan Samaria oleh Asyur (2 Raj 17:1-6), maka aa.5-6 cukup menggambarkan keadaan krisis yang akan terjadi. Ketika kota sudah lama dikepung dan makanannya habis, kelaparan menghapus kepedulian terhadap sesama. Tetapi mungkin pada saat Mikha bernubuat relasi-relasi manusia sudah hancur oleh karena kejahatan yang merajalela. Paling sedikit, orang yang mau jujur, seperti Mikha, akan dicurigai atau mau dijatuhkan oleh masyarakat yang berakhlak seperti dalam aa.2-4.

Menarik bahwa Yesus mengambil a.6 untuk menggambarkan efek dari kehadiran-Nya. Malah, Dia menganggap itu bagian dari tujuan-Nya di bumi (Mt 10:34-36). Hal itu bukan karena Dia tidak suka damai, tetapi karena manusia berdosa pada umumnya seperti digambarkan di sini. Bergabung dengan Yesus mau tidak mau berarti menimbulkan kerusuhan. Misalnya, jika anggota keluarga mau menjadi pengikut Kristus, hal itu bisa menggoncang keluarga. Hal itu bukan soal keluarga itu agama apa. Keluarga kristen pun bisa takut bahwa anaknya menjadi “fanatik” jika sudah sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Konon pernah ada keluarga di Australia yang tidak beragama sama sekali yang mengucilkan anaknya karena jadi percaya kepada Kristus. Tempat kerja juga bisa terancam oleh pengikut Kristus, misalnya oleh guru yang menolak “membantu” siswa pada ujian sekolah, atau karyawan yang tidak mau bertandatangan pada laporan fiktif.

Kitab Mikha berakhir dalam ayat-ayat berikut dengan harapan bahwa setelah penghukuman bagi Israel Allah akan menyelamatkan. Harapan akan keselamatan (yang sudah terwujud dalam Kristus) amat dibutuhkan jika kita akan bertahan setia dalam konteks seperti Indonesia. Atau konteks seperti Australia, atau di mana saja pada zaman yang celaka ini. Jika kita belum menyadari keadaan dunia ini kita akan kaget terus. Tetapi celaka bukan kata terakhir dari Mikha. Semoga kesadaran itu disertai harapan akan Allah sehingga kita bertahan setia.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?