Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014]

Agustus 20, 2014

Meskipun dengan perikop ini Paulus sudah masuk ke bagian yang sering disebut “etis”, namun Paulus tetap berbicara tentang Allah. Satu cara seorang pendeta dapat menjadi serupa dengan dunia ialah kalau dia berhenti berbicara tentang Allah. Khotbah-khotbah yang miskin teologi menjamin gereja menjadi duniawi.

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan peralihan dalam surat Paulus kepada orang-orang kudus di Roma. Paulus baru selesai menguraikan kemurahan Allah, dan mulai menasihati keluarga Allah (“saudara-saudara”) “karena itu” (1). Frase “demi kemurahan Allah” perlu disimak. Kata “kemurahan” adalah jamak dalam bahasa aslinya, sehingga merujuk pada berbagai tindakan Allah yang menyatakan sikap murah hati-Nya. Pasal 11 (yang kita bahas minggu yang lalu) menyimpulkan karya Allah itu sebagai kemurahan; tetapi di pasal 12 ini Paulus merujuk pada segenap penguraiannya dalam pp.1–11, yang berpusat pada Kristus sebagai wujud nyata kemurahan Allah, dan Roh Kudus sebagai pewujud kemurahan itu dalam kehidupan kita. Kata “demi” berarti “melalui” atau “oleh”, dan dalam susunan kalimat aslinya, dapat menerangkan “menasihatkan” atau “mempersembahkan”. LAI memilih “menasihatkan”, bahwa kemurahan Allah memberi Paulus alasan dan motivasi untuk menasihati mereka. Tetapi mungkin juga, Paulus mau mengatakan bahwa persembahan tubuh itu hanya dimungkinkan oleh karya Allah dalam Kristus dan Roh Kudus.

Aa.1–2 sering dibahas lepas dari aa.3–8, tetapi kaitannya erat. A.1 dan aa.4–8 berbicara tentang tubuh. A.2 dan a.3 berbicara tentang sikap. Bedanya bahwa aa.1–2 berbicara tentang identitas kita di dalam dunia, sementara aa.3–8 berbicara tentang identitas kita dalam tubuh Kristus. Aa.1–2 menyangkut skala kosmis; aa.3–6 skala praktis.

Untuk skala kosmis itu, Paulus mulai dengan soal ibadah, bagaimana kita memuliakan Allah sebagai Allah (1:21). Israel mempersembahkan tubuh hewan yang mati untuk menghapus dosa dan menyatakan syukur kepada Allah. Kurban Kristus telah menghapus dosa dengan tubuh-Nya sendiri dan telah bangkit kembali ke dalam hidup yang baru. Dengan demikian, persembahan apa yang cocok untuk bersyukur kepada Allah? Paulus sudah mendorong kita untuk mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus itu (6:13). Tubuh kita yang [terpola dalam dosa][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ] (7:13–26) telah dihidupkan kembali oleh Roh (8:11b). Tubuh itulah yang menjadi persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, bukan karena kita berhasil sempurna atau rajin ke gereja, tetapi karena kemurahan Allah. Balasan yang diminta Allah bukan sekadar usaha untuk menghindar dari dosa ini atau itu, lebih lagi sekadar persembahan uang dan waktu, melainkan seluruh diri kita. Demi kemurahan-Nya dalam Kristus, Dia berjanji untuk berkenan atas diri kita dengan segala kekurangannya.

Di mana persembahan itu terjadi? Bukan di suatu tempat yang khusus, melainkan di dunia (2). Dengan tubuh, kita tampil—entah tampil beda atau tampil sama. Dengan tubuh kita bertindak. Kedua hal itu dijelaskan Paulus di sini. Dunia dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang terkutuk (1:28, yang memakai kata vous yang diterjemahkan “budi” dalam ayat ini), tetapi kita mau diperbaharui oleh budi yang baru, yang dibentuk oleh kemurahan Allah dengan kuasa Roh Kudus (bdk. 8:5–6). Ketika Injil tentang Kristus menentukan identitas seseorang, dia tidak lagi diarahkan oleh status sosial, harapan akan upacara orang mati yang besar, atau ketakutan akan “apa kata orang”. Dengan demikian, dia dibebaskan untuk mengetahui kehendak Allah. Orang yang serupa dengan dunia akan menganggap baik banyak hal yang buruk, akan mencari apa yang berkenan menurut dunia, dan visinya tentang kehidupan yang sempurna akan juga duniawi. Dunia yang dimaksud Paulus mencakup agama Romawi dan bahkan agama Yahudi yang mengejar kebenaran diri (10:2–4). Hanya kemurahan Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak-Nya.

Jadi, seluruh kehidupan kita adalah persembahan kita, karena Allah adalah Allah dunia, termasuk dunia kantor dan dunia adat, bukan hanya Tuhan dalam gedung gereja. Namun, pembaruan yang dimaksud Paulus tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Tubuh kita berarti sebagai bagian dari tubuh Kristus (3–8). A.3 menegaskan kaitannya antara pikiran dan tindakan. Identitas kita di dunia berakar dalam penilaian diri. Penguasaan diri hanya dimungkinkan oleh penilaian diri yang sehat, yang tidak berlebihan. Ukuran yang dipakai bukan IQ, EQ, SQ, IPK, pujian manusia, atau ukuran apapun yang lain, melainkan iman. Iman bagi Paulus adalah penangkapan berita Injil dalam hati (bdk. 10:9b, 16a). Paulus mengatakan di sini bahwa penangkapan itu adalah karunia Allah, bukan hasil usaha sendiri. Dia tidak menuntut bahwa kita semua memiliki iman yang sekuat dia, misalnya, hanya bahwa penilaian diri sesuai dengan iman. Tokoh masyarakat yang imannya lemah tidak usah membual dalam konteks jemaat; orang kecil yang imannya kuat beranilah tampil beda. Aa.4–8 menunjukkan bagaimana tubuh Kristus menjadi tempat untuk belajar menggunakan karunia-karunia Allah demi sesama anggota jemaat, sehingga identitas kita terpusat bukan pada diri sendiri melainkan pada jemaat sebagai tubuh Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Cara kita berbagi dalam kemurahan Allah ialah dengan penyerahan diri mulai dengan pikiran dan budi sampai pada tindakan dan identitas kita dalam dunia. Tubuh Kristus menjadi tempat utama kita mempelajari dan mempraktekkan identitas itu.

Makna

Manusia beragama cenderung membedakan manakah yang kudus dan manakah yang tidak kudus. Misalnya, gereja itu kudus, sehingga hal-hal gerejawi dipemalikan, tetapi di kantor atau di dalam masyarakat, norma Alkitab tidak lagi dianggap relevan. Sebaliknya, manusia beretika (aliran filsafat pada zaman Paulus, sebagian orang berpendidikan masa kini) tidak menyakralkan gereja, sampai-sampai berjemaat dianggap seperti sekolah—berguna bagi yang masih lemah, tetapi mubazir bagi orang yang pemahamannya sudah kuat. Paulus melawan kedua pandangan itu. Seluruh dunia itu kudus, dan apa saja yang kita lakukan di dalam Kristus itu kudus. Tetapi adalah kesombongan untuk menganggap bahwa saya tidak membutuhkan tubuh Kristus lagi. Nilai jemaat bukan kadar manusia di dalamnya, melainkan Kristus.

Manusia beretika cenderung juga menganggap bahwa kemurahan Allah itu hanya penopang bagi kehidupan yang baik, sampai-sampai sebagian tidak terlalu merasa perlu bertuhan lagi. Kalau begitu, mempersembahkan tubuh kepada Allah tidak lagi masuk akal. Tetapi minat akan Tuhan dari manusia beragama juga terbatas. Yang dicari adalah kekuatan dalam tantangan dan pengarahan dalam kekacauan hidup. Diri Allah yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita dalam Kristus tidak dicari. Makanya, manusia beragama mencari wilayah yang terbatas yang akan cukup, asal Bapa surgawi senang. Budi yang baru itu siap menyerahkan seluruh identitas dan tindakan kepada Allah karena hati tertangkap oleh kemurahan-Nya. Tentu, hal itu adalah proses, dan kita semua sedang dalam perjalanan dari cara beragama yang dangkal menuju penyerahan diri yang selayaknya.


Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

Agustus 12, 2014

Agak sulit mengaitkan perikop ini dengan HUT Kemerdekaan Indonesia. Paulus berbicara tentang rencana Allah yang jauh lebih luas daripada Indonesia sebagai negara. Namun, kesadaran tentang anugerah Allah semestinya membuat kita menjadi warga negara yang tidak buta terhadap kekurangan negara namun tetap percaya bahwa kemurahan Allah bekerja.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan PL (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah: mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak ketimbang Ismael dan Yakub ketimbang Esau. Pada akhir p.9 (aa.24–29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah. Rom 9:30–10:21 menguraikan ketidakpercayaan Israel sebagai pilihan mereka (bagi Paulus, pilihan Allah dan pilihan manusia tidaklah bertentangan): mereka mengandalkan Taurat untuk diterima sebagai bangsa yang benar di hadapan Allah (9:30–10:4) sehingga mereka menolak pemberitaan Injil (10:5–10:21).

Dalam 11:1–2a, Paulus bertanya: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Dia sendiri adalah contoh utama bahwa ada orang Israel yang percaya kepada Kristus (1b), dan pada prinsipnya, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (2a). Adanya hanya sebagian Israel yang setia bukanlah hal yang baru (2b–4). Adanya orang percaya adalah soal anugerah dari Allah, bukan usaha manusia (5–6), dan adanya hanya sedikit dari Israel yang percaya itu bagian dari rencana Allah (7–10). Mengapa? Bukan karena Allah menolak Israel (11a), tetapi karena ketidaktaatan Israel adalah bagian dari rencana Allah supaya bangsa-bangsa juga masuk dalam pemulihan yang direncanakan Allah (11b–12). Aa.13–28 mau menegaskan bahwa hal itu bukan karena bangsa-bangsa itu hebat: sebaliknya, orang Israel adalah cabang-cabang asli dari umat Allah, dan Israel juga akan bertobat dan diselamatkan (26a). Akhirnya, aa.29–32 menyimpulkan penguraian Paulus: anugerah-anugerah Allah (seperti dalam 9:4–5; kata “kasih karunia” berbentuk jamak dalam bahasa aslinya) yang diberikan sesuai dengan pilihan Allah tidak akan dicabut oleh Allah (29). Israel akan melalui urutan yang sama dengan bangsa-bangsa: ketidaktaatan baru kemurahan (30–31). Sebagaimana dijelaskan dalam aa.13–28, ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa akan mendorong Israel untuk bertobat. Dengan demikian, ketidaktaatan dari segenap umat manusia menjadi kentara, sehingga kemurahan Allah sebagai dasar hidup juga kentara (32). Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Maksud bagi Pembaca

Ketika kita melihat kelompok seperti Israel yang diberi segala kesempatan untuk mengenal Allah tetapi mengandalkan usaha diri ketimbang Allah, kita dikuatkan bahwa Allah setia pada pilihan-Nya, dan bahwa semuanya bergantung pada kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang tetap memiliki rencana bagi mereka dan bagi kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu tentang janji Allah, ataupun sombong terhadap orang lain.

Makna

Melihat bacaan dari leksionari, Mat 15:21–28 menunjukkan baik prioritas bagi Israel maupun tempat bangsa-bangsa dalam rencana Allah. Kej 45:1–15 menunjukkan bagaimana Yusuf mampu menerapkan kepercayaannya akan kedaulatan Allah (bdk. Kej 50:20). Di tengah ketidaktaatan saudara-saudaranya, dia melihat rencana Allah untuk mengerjakan kemurahan-Nya. Oleh karena itu, dia mampu mengampuni mereka. Sama seperti Yesus, Paulus meyakini rencana Allah yang menyangkut “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (1:16). Dia juga mengenal sejarah Israel yang penuh ketidaktaatan yang di tengahnya Allah mengerjakan kemurahan-Nya, dan dia berusaha menjelaskan ketidaktaatan yang paling dahsyat, yaitu menolak Mesias, dalam rangka itu.

Mengapa kita, orang bukan Yahudi, semestinya peduli tentang penguraian itu? Satu jawaban ialah bahwa bila Allah tidak setia kepada Israel yang Dia panggil dan pelihara berabad-abad, mengapa kita berharap bahwa Dia akan setia kepada kita? Jika anak aslinya diabaikan, untuk apa kita mau diangkat? Tetapi, dengan memperlihatkan kesetiaan Allah, Paulus meneguhkan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya. Khususnya, ketika gereja sendiri sepertinya penuh dengan kebobrokan, kita mengetahui bahwa rencana Allah bergantung pada pilihan Allah, bukan pada keberhasilan manusia.

Dia juga mau mencegah kesombongan rohani. Orang Toraja kadang mengatakan bahwa budaya Toraja cocok dengan Injil. Kita harus hati-hati dengan gagasan seperti itu: cabang asli satu-satunya, kata Paulus, ialah Israel; semua budaya yang lain dicangkokkan. Orang Toraja adalah orang-orang berdosa yang diterima Allah hanya karena Dia menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka oleh anugerah di dalam Kristus. Yang diperlawankan dengan ketidaktaatan bukan ketaatan melainkan kemurahan Allah. Kita menjadi susah mengampuni sesama, tidak seperti Yusuf, ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada mereka.

Perikop ini juga menyangkut pengharapan kita. Andaikan ketaatan adalah solusi terhadap keberdosaan manusia, pilihan Allah hanya merupakan langkah awal (panggilan) yang hasilnya tetap ada dalam tangan manusia yang pasti akan gagal. Tetapi, karena keselamatan tergantung pada pilihan Allah yang diterapkan melalui kemurahan-Nya dalam Kristus, maka kita tidak perlu digoyahkan oleh kegagalan-kegagalan kita, ataupun orang-orang lain.


Rom 8:26-39 Terjamin dari ancaman apapun [27 Jul 2014]

Juli 25, 2014

Perikop ini begitu berharga bagi saya sehingga saya mengambil waktu di tengah libur untuk menguraikannya. Untuk kedua minggu berikutnya, blog ini akan beristirahat. Selamat melayani.

Penggalian Teks

Ayat 28 yang terkenal itu tetap terjadi dalam konteks kesusahan yang diuraikan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Maksud dari ayat itu bukan bahwa Allah mengerjakan yang baik, enak, masuk akal dsb, melainkan bahwa di tengah kesusahan yang justru tidak masuk akal, yang di dalamnya hanya Roh Kudus dapat melengkapi doa kita (26–27), ada janji yang menghibur bahwa Allah menghasilkan kebaikan. Aa.29–30 memberi penjelasan tentang kebaikan itu. Allah memilih orang untuk menjadi serupa dengan Kristus—supaya Kristus menjadi sulung di dalam keluarga besar anak-anak Allah yang juga sudah dibentuk oleh kelemahan dan kesusahan mereka (29). Sesuai dengan tujuan itu, Allah memanggil orang dalam pemberitaan Injil untuk beriman kepada Kristus; Dia menjadikan mereka anggota-anggota tubuh Kritus yang dosa-dosanya sudah diampuni (dibenarkan); Dia mengerjakan kemuliaan “imago Dei” seperti Kristus melalui kesusahan hidup sampai kesempurnaannya ketika Kristus datang kembali (30).

Siapa penerima janji tentang rencana Allah itu? Dalam a.28b, kita melihat dua segi. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah. Janji itu diperuntukkan—dan mungkin hanya masuk akal—bagi orang yang baginya Allah menjadi yang terutama. Tetapi, untungnya, kasih seperti itu tidak muncul dari kemampuan alami manusia. Kita mampu mengasihi Allah karena Allah telah memanggil kita, dan kasih itu dibentuk dengan menempuh jalan penderitaan dalam pengharapan akan pemuliaan bersama dengan Kristus.

Jadi, orang-orang ini mendambakan pemulihan segala sesuatu supaya menikmati warisan sebagai anak-anak Allah, yakni kemuliaan bersama dengan Kristus (8:17). Aa.31–39 memberi jaminan bahwa hal itu akan terjadi. Dalam aa.31–34, kematian Kristus menjadi jaminan bahwa pembenaran Allah tidak akan pernah bisa dijungkirbalikkan oleh siapapun: perlawanan, penolakan dan penghinaan manusia tidak berdaya di hadapan penerimaan Allah. Dalam aa.35–36, Paulus merujuk pada pengalaman orang benar dalam kitab Mazmur yang menderita demi Allah, untuk mengatakan bahwa perlawanan itu tidak berarti ditolak oleh Allah. Aa.37–39 memperlebar daftar ancaman terhadap kasih Allah untuk mengatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah”, kasih yang dikenal bukan dalam konsep umum tentang Allah, melainkan “dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (39).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma bahwa warisan sebagai anak Allah sudah terjamin di dalam Kristus. Penolakan manusia, penganiayaan, dan kuasa-kuasa yang lain tidak berdaya terhadap kasih Allah di dalam Kristus yang mengandung penerimaan, pengharapan dan kemenangan.

Makna

Paulus selalu teosentris secara kristosentris: semuanya bergantung pada Allah di dalam Kristus, bukan pada manusia. Jika keselamatan tergantung pada manusia, maka kita tidak memiliki pengharapan, karena perlawanan manusia lain, penganiayaan, dan kuasa-kuasa dunia akan terlalu kuat. Dasar pengharapan kita adalah rencana Allah “dari semula” (29) supaya kita menikmati warisan kita bersama dengan Kristus.

Apakah pengharapan itu praktis bagi orang Toraja? Apakah menjadi anak Allah dalam solidaritas dengan Kristus yang menderita dan dimuliakan adalah visi yang dapat menggerakkan kita, sehingga kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah. Aa.31–39 mengandaikan kehidupan yang susah, sama seperti Kristus, tetapi dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan sudah menikmati status sebagai anak-anak Allah. Itulah penawaran Allah. Jika visi itu tidak cocok untuk orang Toraja, siapakah yang salah, Allah atau orang Toraja?


Rom 8:12-25 Melawan dosa dalam pengharapan [20 Jul 2014]

Juli 15, 2014

Penggalian Teks

Rom 8:9–11 merupakan puncak dari penguraian Paulus tentang kuasa Roh yang mengalahkan kuasa kedagingan sehingga orang yang percaya kepada Kristus mampu hidup baru. Dalam sisa p.8, dia menguraikan berbagai implikasi. Intinya adalah bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus (15). Hal itu dinyatakan dengan pertobatan terus-menerus (a.13, “mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”), dan dengan penderitaan bersama dengan Kristus (aa.17–18). Hal-hal itu dilakukan dalam pengharapan bahwa kita akan menjadi ahli waris (17) dari dunia baru (21). Di balik semua itu, ada keyakinan bahwa rencana Allah supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:29) tidak dapat dihalangi oleh apapun (8:31–39). Jadi, kita adalah anak-anak Allah yang berada di antara yang lama (kedagingan, penderitaan) dan yang baru (Roh, anak Allah, dunia baru).

Janji Allah dalam 8:9–11 ialah bahwa kuasa kebangkitan Yesus akan berlaku oleh Roh Kudus dalam tubuh kita yang rawan dosa sehingga kita mampu hidup sesuai dengan pikiran Roh (8:5–6). Konsep Paulus tentang tubuh dan daging (yang saya simpulkan dengan istilah “kedagingan”) termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk dan cara-cara hidup yang terpola, sehingga sulit diubah hanya dengan keputusan otak. Dalam pemulihan kita dari kedagingan, Roh Kudus tidak melewati hati kita. Soal “berhutang” dalam a.12 menyangkut pandangan dan keinginan. Kedagingan membuat dosa-dosa tertentu terasa sebagai kewajiban—“bagaimana mungkin tidak marah terhadap ulah seperti itu”, “asyik, rugi banget kalau tidak ikut”, dsb. Roh membuka mata untuk melihat bahwa tidak ada gunanya ikut dalam dosa. Malahan, dosa adalah jalan menuju kematian (13a). Dengan demikian, Roh memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Berhadapan dengan pilihan, Roh menyadarkan kita kalau ada pilihan yang salah, dan memberdayakan keputusan kita untuk memilih apa yang baik. Dengan demikian, hidup yang sejati akan kita jalani (13b).

Berkat utama dari perjuangan itu adalah kenikmatan status sebagai anak Allah. Roh yang berkerja di dalam kita itu adalah Roh Kristus (8:9) yang membawa Kristus ke dalam kita (8:10). Dipimpin oleh Roh—termasuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh Roh—adalah bukti akan status itu (14). Roh Kudus mengubah total sikap kita terhadap Allah. Dia bukan lagi Sang Polisi atau Sang Guru Keras, melainkan Sang Bapa (15–16). Kita menaati dan mengikuti Allah dari kreatifitas hati, dengan kerinduan untuk menjadi serupa dengan Kristus dan berguna bagi Allah, bukan secara hukum positif.

Perjuangan melawan dosa dilakukan dalam konteks pengharapan (17). Anak-anak Allah adalah ahli waris janji-janji Allah, dan janji-janji itu disimpulkan sebagai kemuliaan bersama dengan Kristus. Kata kemuliaan menyangkut citra yang gemilang, tetapi dalam bahasa Ibrani, kata itu juga berarti berbobot. Untuk sebagian orang Toraja, kemuliaan dialami dengan paling jelas ketika ada upacara kematian yang sungguh klop. Tidak hanya bahwa citra keluarga tampil bagus, tetapi juga bahwa keluarga itu merasa berada, berbobot, jadi. Sampai orang menangkap bahwa yang ditawarkan Kristus lebih mulia dari itu, Injil akan belum berdaya dalam kehidupan mereka.

Makanya, gregetnya Injil dapat dilihat dalam kesiapan orang untuk menderita bersama-sama dengan Kristus. Dalam aa.18–25, pengharapan itu diuraikan. Seluruh ciptaan Allah mengalami keluhan dan kebinasaan, tetapi dalam penebusan anak-anak Allah, ciptaan juga akan dipulihkan (19–22). Manusia yang membawa dosa ke dalam dunia (5:12–14), sehingga penebusan anak-anak Allah dari dosa di dalam Kristus berarti pemulihan dunia juga. Tetapi untuk sementara, Roh Kudus yang memulihkan kita justru membuat kita peka terhadap kondisi dunia (23). Kita sudah mencicipi kasih Allah (5:5) dan hidup yang benar (6:20–22), sehingga kebobrokan dunia makin terasa.

Makanya, Paulus menegaskan kembali pengharapan (24–25). Tubuh kita belum dibebaskan sepenuhnya dari dosa (23b; bdk. 12–13), dan dunia belum dipulihkan. Ketekunan adalah salah satu wujud pokok iman untuk sementara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma dengan pengharapan akan dunia baru bersama dengan Kristus yang ditanam Roh Kudus supaya mereka siap untuk melawan dosa dengan kuasa Roh Kudus. Pertobatan berarti mengejar pengaharapan itu sehingga melawan dosa dalam diri.

Makna

Mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, dan penderitaan. Itulah penawaran Injil. Jika orang tidak menyukai pesan itu, maklum, mereka belum menangkap pengharapan yang ditawarkan Injil. Injil tidak menawarkan hidup agak susah baru hidup agak lebih nyaman kelak. Injil menawarkan jalan salib sekarang baru kemuliaan kelak.

Kemuliaan adalah kebutuhan manusia, dalam artian, manusia perlu merasa bahwa hidupnya berbobot. Dalam Rom 1:32, manusia saling memuji dalam kehinaan, dan dalam p.2, manusia yang berusaha benar buta terhadap dosanya sendiri. Makanya, Paulus mengatakan bahwa semua manusia kehilangan kemuliaan Allah, biar dianggap hebat oleh sesama, biar upacara kematian orang tuanya luar biasa. Di dalam Kristus, kita dibenarkan, dan kemuliaan kita di hadapan Allah mulai dipulihkan. Pertobatan yang sejati termasuk mengambil pencarian kemuliaan yang teosentris itu—mau dipuji Allah dan bukan manusia. Hal itu tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi kita perlu mencari orang lain untuk mencerminkan penilaian Allah kepada kita. Itulah salah satu tugas jemaat, walaupun tidak sempurna.

Selama kita puas dengan pujian manusia, kita tidak akan mau repot mematikan perbuatan tubuh yang berasal dari daging, artinya, perbuatan yang muncul dari dosa yang terpola dalam kehidupan kita. Satu aspek dari mematikan tubuh ialah bahwa pada titik kita mau bertindak, kita mengaminkan keingingan Roh dalam diri kita, dan percaya bahwa Roh itu mampu untuk mengalahkan keingingan daging. Tetapi, keputusan itu semakin memungkinkan semakin kita mendambakan status kita sebagai anak Allah, dan semakin kita menaruh pengharapan di tengah dunia yang susah ini pada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.


Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014]

Juli 3, 2014

Leksionari minggu ini agak sulit. Rom 7:15–26 serta Mat 11:16–19 menyangkut pembebasan dari hukum Taurat, sementara Kej 24:34–67 dan perikop kita menyangkut pernikahan. MJ menghilangkan bacaan dari Kejadian, dan mungkin dengan salah ketik menunjukkan Mzm 145 sebagai mazmur pujian. Terus, karena pengayatan kitab Mazmur sering berbeda antara versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang dimaksud oleh leksionaris adalah mulai pada ayat 11, bukan ayat 10. Yang tepat, dan akan diuraikan di bawah, ialah penafsiran Kristologis dari perikop ini.

(Untuk khotbah minggu depan, lihat postingan ini.)

Penggalian Teks

Mazmur 45 dibuat untuk pernikahan seorang raja Israel (10). Aa.2–10 memuji sang raja. Aa.11–13 menyampaikan nasihat kepada sang ratu; aa.14–16 menceritakan sang ratu masuk bersama rombongannya ke dalam istana; dan aa.17–18 berbicara tentang keturunan sang raja serta kemasyhuran namanya. (Bahasa Ibrani membedakan jenis kelamin kata pengganti orang kedua, sehingga jelas bahwa akhiran “-mu” dalam kedua ayat terakhir tidak lagi berbicara tentang sang ratu.)

Dalam aa.12–14, sang ratu dinasihati untuk berpisah dari keluarga asalnya (11), dan berpaut kepada raja (12). Raja itu akan bergairah akan isterinya, dan isterinya akan menghormati suaminya. Di dalam diri suaminya, raja yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan itu (45:7), isteri akan dihormati oleh orang lain (13). Itulah maksud yang sejati dari “suami adalah kepala isteri”; bukan bahwa suami berhak untuk menyuruh, seperti perwira kepada prajurit, tetapi bahwa suami yang mewakili identitas keluarga, sama seperti kepala mewakili identitas orang.

Keindahan pakaian sang ratu menjadi tema dalam aa.14–15a; mulai dengan sang ratu di dalam kamarnya (14), dan kemudian ketika dibawa kepada raja (15a). Dia diiringi oleh teman-teman (15b) yang meramaikan sukacita akan perjumpaan ratu dengan raja (16). Keindahan pakaiannya melambangkan kemuliaannya, dan sukacita itu menggambarkan kebahagiaan yang akan mengalir untuk seluruh kerajaan dari perjumpaan mereka.

Kebahagiaan itu termasuk keturunan yang akan melanjutkan jasa para bapa leluhur (17a), yaitu menjadi besar di bumi (17b) sehingga semua bangsa berbahagia (18). Pernikahan ini menjamin kelanjutan janji Allah kepada Abraham (bapa leluhur pertama) supaya semua bangsa diberkati.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menguraikan kebahagiaan yang terjadi ketika isteri menyatu dengan suaminya. Termasuk ketika gereja menyatu dengan Kristus, dengan mencari identitas dan kebahagiaan di dalam Dia, sehingga menjadi indah dalam perbuatan baik dan bersukacita dalam perjumpaan dengan Dia.

Makna

Penafsiran Kristologis menerapkan Mazmur ini kepada Kristus dan gereja. Tafsiran itu bukan klaim bahwa mazmur ini bermaksud untuk berbicara tentang Kristus. Mazmur ini jelas ditulis untuk pernikahan seorang raja Israel. Tetapi, PB mengatakan bahwa Kristus adalah Raja Israel, dan bahwa Dia akan menikah dengan gereja (Ef 5:32; Why 19:6–8; 21:2). Konsep seperti apa yang mau disampaikan oleh kiasan itu? Mazmur ini pasti termasuk latar belakang dari janji itu, sehingga kita menerapkannya kepada Kristus dan gereja, tanpa melupakan konteks aslinya.

Jadi, yang pertama, gereja akan mendapat jatidiri di dalam Kristus (11–13). Dia adalah identitas gereja, dan makin kita bersatu dengan Dia, makin kita akan layak dihormati. Jadi, kita dinasihati untuk melupakan identitas-identitas lama, dan berpaut kepada Kristus. Orang Toraja kristen harus memilih: mau mendapat jatidiri dan kehormatan dalam upacara kematian yang besar, atau di dalam Kristus?

Yang kedua, gereja akan berusaha untuk menjadi seindah-indahnya bagi pengantinnya, yakni Kristus. Why 19:8 memaknai pakaian yang bagus sebagai perbuatan-perbuatan yang benar, dan perbuatan itu adalah hasil dari karya Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyucikan gereja (Ef 5:25–27). Kristus adalah Raja yang rela mati karena mencintai keadilan dan membenci kefasikan, makanya gereja dengan rela hati mau hidup berpadanan dengan Injil itu. Pengharapan akan pernikahan itu mengarahkan kehidupan kita sekarang.

Yang ketiga, pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi orang-orang dari setiap bangsa di bumi (Why 21:24–26). Dalam Mzm 45:17–18, pengantin, keturunan raja, dan bangsa-bangsa merupakan tiga pihak, tetapi dalam PB, semuanya menjadi satu pihak di dalam gereja, yang terdiri atas anak-anak Abraham dalam iman, dari segala bangsa di bumi. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan untuk seluruh dunia.


Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

Juni 23, 2014

Søren Kierkegaard adalah filsuf abad ke–19 yang mengangkat perikop ini untuk menyerang gereja yang larut dalam moralisme dan rasionalisme. Bagi dia, perikop ini menunjukkan bahwa iman itu di atas etika. Setuju atau tidak, kalau Saudara merasa nyaman dengan perikop ini, Saudara belum membacanya dengan baik.

Penggalian Teks

Kisah panjang menyangkut janji keturunan bagi Abraham semestinya selesai minggu yang lalu, ketika Ismael diusir, dan Ishak menjadi pewaris tunggal Allah. Tetapi ada kejutan yang pahit bagi Abraham, dan kita yang mendengarkan kisah ini. Tanpa mengerti seperti apa kepahitan itu, kita tidak mengerti Injil, sebagaimana yang akan dijelaskan di bagian Makna.

A.1 menyatakan tujuan Allah: untuk menguji Abraham. (Kata “mencoba” itu dipakai ketika ratu negeri Syeba “menguji” Salamo, 1 Raj 10:1.) Dahsyatnya perintah Allah ditegaskan terus dalam perikop ini, dengan menekankan relasi antara Abraham dan Ishak. Dalam a.2, Ishak adalah anak Abraham, anak yang tunggal (karena Ismael sudah diusir), anak yang dikasihi Abraham. Tiba-tiba, Abraham (dan kita) terkejut dengan apa yang harus dilakukan dengan anak yang dikasihi itu: dipersembahkan. Berulang kali dalam cerita selanjutnya, Ishak disebut “anaknya” atau “anakku”, dan dia memanggil Abraham “Bapa”.

Aa.3–5 menceritakan perjalanan Abraham; tiga hari lamanya untuk ketaatannya diuji. Dalam aa.6–8, Abraham dan Ishak berjalan ke gunung: dua kali dikatakan “keduanya berjalan bersama-sama” (6, 8), untuk menegaskan kedekatan mereka. Ishak mulai bingung dan bertanya, tetapi Abraham menjawab, tanpa memberitahu bahwa anak domba yang akan disediakan adalah Ishak sendiri.

Dalam a.9, Ishak mengalami kejutan yang pahit seperti yang dialami Abraham (dan kita) dalam a.2. Mezbah didirikan, kayu disusun, dan tahu-tahu, Ishaklah yang diikat, “anaknya itu”. Kemudian, tangan Abraham bersiap untuk melakukannya (10). Tidak ada perasaan yang diceritakan, baik dari Abraham, maupun dari Ishak. Yang diceritakan hanyalah ketaatan Abraham, yang terdiri atas tindakannya, entah bagaimana kondisi batinnya.

Dalam aa.11–15, ketegangan dan kengerian kisah ini tiba-tiba hilang: Allah menghentikan Abraham dari tindakannya, dengan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya. Allah sudah melihat bahwa Abraham tidak menyayangkan anaknya yang tunggal. Abraham melihat bahwa Tuhan menyediakan.

Abraham lolos ujian, sehingga dalam 22:15–18, janji Allah kepada Abraham diteguhkan dengan sangat.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak Abraham dalam iman rela menyerahkan bahkan yang paling berharga dalam relasi mereka dengan Allah, dalam keyakinan bahwa Allah yang berdaulat atas rencana-Nya dan bahwa Dia lebih besar daripada semua pemberian-Nya.

Makna

Perintah Allah kepada Abraham dalam perikop ini tidak bisa dipahami dengan baik. Mempersembahkan anak adalah kejahatan yang biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk menarik perhatian dewa, tetapi tidak ada alasan Abraham untuk mau kehilangan anaknya. Mazmur 13 menggambarkan orang yang kehilangan akal tentang cara Tuhan dengannya, dan saya duga mazmur itu dekat dengan kondisi batin Abraham. Orang Toraja akan mengatakan kepada Abraham, “Itulah yang terbaik; Tuhan memiliki rencana yang indah; Tuhan lebih mengasihi Ishak daripada kita”, karena kita belum tahu bagaimana menangis dengan orang yang menangis. Tetapi, perintah ini tidak baik, dan tidak masuk akal.

Lebih lagi, membunuh anak pewaris janji Allah adalah sebuah kebodohan besar, tindakan tersebut seakan-akan meniadakan mukjizat kelahiran Ishak pada masa tua Abraham dan Sara. Manusia selalu yakin dengan apa yang masuk akalnya, terutama, di Toraja, menjadi PNS (pegawai lembaga mapan seperti bank atau Gereja Toraja boleh juga). Tetapi perintah Allah bisa liar sekali, di luar dugaan manusia. Yesus, dengan serius, memanggil murid-murid-Nya dari pekerjaan yang sah dan wajar sebagai nelayan dsb, untuk berkeliling memberitakan Injil. Dalam Mt 10:40–42, Dia juga memuji semua yang membantu mereka dalam pelayanan itu, padahal pelayanan itu merongrong lembaga keagamaan yang sah dan berlaku pada zaman itu. Seringkali, perintah Allah tidak akan lolos raker yang sehat, andaikan mau dimasukkan dalam program.

Dari segi Allah, yang diuji dalam perintah-Nya ialah kerelaan Abraham untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya, meskipun hal itu adalah pemberian Allah dan sarana janji Allah yang menjadi makna hidup Abraham (12). Abraham membuktikan bahwa dia lebih menghargai Allah daripada semua pemberian Allah. Makanya, Yakobus mengangkat kisah ini untuk menunjukkan bagaimana iman baru sempurna (utuh, genap) ketika dinyatakan dalam perbuatan (Yak 2:21–23). Penulis kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr 11:19). Dia begitu yakin bahwa janji Allah akan terwujud sehingga dia tidak bertanya lagi tentang kemampuan Allah untuk mewujudkan rencana-Nya, dan tidak bertanya lagi tentang harga yang harus dibayar. Dalam bahasa Paulus, dia sudah bebas dari kedagingan sehingga mampu untuk menaati Allah (Rom 6:12–23; sama seperti Yakobus, Paulus tidak membayangkan iman yang lepas dari ketaatan).

A.14b memberi petunjuk bahwa gunung di Moria itu adalah (atau diartikan sebagai) bukit Sion, tempat Bait Allah dibangun seribu tahun kemudian. Abraham menjadi orang Israel pertama yang anak sulungnya (menurut janji Allah) ditebus dengan seekor domba (a.13, bdk. Kel 34:20), dan perintis persembahan di gunung yang kudus itu.

Akhirnya, Abraham menjadi gambaran dari Allah. “Inilah Anak-Ku yang terkasih”, kata Allah Bapa ketika Yesus dibaptis. Paulus menarik kesimpulannya dalam Rom 8:32. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Kata “menyayangkan” adalah kata yang dipakai dalam terjemahan Yunani dari Kej 22:12 (LAI: “tidak segan-segan untuk menyerahkan”). Hanya, Allah tidak bisa menarik tangan-Nya dari Yesus, karena justru Yesus yang harus menjadi pengganti orang-orang berdosa. Allah melalui peristiwa yang pahit ini bukan karena diuji, tetapi karena kasih.


Kej 21:8-21 Janji Allah membuka mata [22 Jun 2014]

Juni 19, 2014

Apakah perikop ini menyangkut seorang perempuan dalam kesulitan, atau rencana Allah? Tanpa menolak yang pertama itu, tafsiran ini mencoba melihat apa yang dilakukan Allah. Kata kunci di sini adalah janji.

Penggalian Teks

Nama Ismael tidak disebutkan dalam perikop ini, dia selalu disebut “anak”. Dia bukan lagi anak kecil. Dalam 17:25, dia berumur 13 tahun; Ishak lahir kurang lebih setahun kemudian, dan dalam cerita ini baru disapih. Ismael adalah usaha Abraham menurut daging untuk memiliki anak (Gal 4:23), dan usaha itu langsung menimbulkan konflik (16:5–6). Namun, Allah juga berjanji tentang dia, dan janji itu yang dapat diimani Hagar.

Nama “Ishak” berarti “dia tertawa”. Abraham tertawa tidak percaya ketika diberitahu bahwa Sara akan melahirkan (17:17); Sara tertawa tidak percaya ketika mendengar ucapan yang sama dari malaikat Tuhan (18:12); akhirnya Sara tertawa kegirangan ketik Ishak lahir (21:6). Kata “tertawa” itu juga dipakai untuk bermain. Sukacita Sara ketika Ishak disapih (8) ternyata diganggu dengan melihat Ishak bermain dengan anak Hagar (9). Kita sudah tahu bahwa anak itu cukup disayangi oleh Abraham (17:18), dan Sara sepertinya takut kalau Ishak juga dekat dengan kakaknya, dan tidak menjadi pewaris tunggal. Bahasanya meminta Abraham mengusir mereka kasar—perhatikan bahwa dia tidak memakai nama baik anak maupun ibu, dia hanya menyebut kedudukan Hagar yang rendah (10). Dan ternyata Abraham tidak mau mengusir Ismael (11).

Motivasi Sara mungkin saja kurang manusiawi, tetapi Tuhan setuju dengan keputusannya. Warisan Abraham akan dihitung melalui Ishak saja (12). Tetapi janji Tuhan tentang anak Hagar itu memberanikan Abraham untuk mengusir mereka, walaupun tindakan itu bisa berakibat maut bagi mereka (13).

Hagar pergi dalam kondisi tidak jelas (“mengembara”), dan ketika bekal air habis, dia habis akal, dan hanya mau menghindar dari penderitaan menyaksikan kematian anaknya (14–16). Adalah menarik bahwa Tuhan mendengar suara anak (dua kali disebutkan dalam a.17), meskipun suara Hagar yang nyaring. Ada janji-sentrisme dalam kitab Kejadian, di mana Allah memberi perhatian pada orang-orang (termasuk perempuan, misalnya Sara) yang berkaitan dengan janji-Nya kepada Abraham. Dalam kasus ini, janji itu menyangkut anak Hagar sebagai anak Abraham, bukan Hagar.

Namun, Hagar tetap diberi peran. Allah menyuruh dia untuk bergerak, keluar dari rasa mengasihani diri dan berurusan kembali dengan anak itu (18a). Perintah itu ditopang dengan janji seperti yang disampaikan kepada Abraham: anak itu akan menjadi bangsa yang besar (18b). Hagar harus bertindak dalam pengharapan bahwa janji itu akan digenapi, meskipun mereka kelihatan kehabisan air. Tetapi, ternyata penglihatan Hagar salah: Allah membuka matanya untuk melihat sebuah sumur, sehingga selamatlah nyawa mereka (19), dan anak itu bisa berkembang dan mendapat isteri (20–21).

Maksud bagi Pembaca

Allah akan membuka mata kita untuk melihat pemeliharaan-Nya bilamana kita menangkap dan menerima janji-janji-Nya.

Makna

Janji Allah menjadi penggerak utama dalam kitab Kejadian. Abraham mau Ismael tinggal, tetapi janji tentang Ishak lebih utama. Sara mau Ismael diusir, tetapi hal itu tidak menghambat janji Allah tentang dia. Bahkan kehabisan air minum tidak membatalkan janji itu.

Hagar pergi dalam kesusahan karena dia tidak tahu, atau tidak percaya akan, janji tentang Ismael itu. Bersamaan dengan menerima janji dari malaikat Allah, matanya dibuka. Apakah itu dua hal, atau memang percaya pada janji Allah akan membuka mata?

Janji Allah itu berkaitan dengan rencana-Nya untuk menyelamatkan dunia dalam Yesus Kristus. Janji yang akan membuka mata kita ialah janji-janji di dalam Injil. Sama seperti janji kepada Abraham menimbulkan pemisahan dalam keluarganya, bergabung dengan umat yang memegang janji Yesus dapat menimbulkan pemisahan, bahkan di dalam keluarga (Mt 10:34–35). Tujuan dari janji itu diringkaskan Yesus dalam Mt 6:33: Kerajaan Allah dulu, baru kebutuhan hidup. Roma 6 menyampaikan janji pelepasan dari kuasa dosa bagi orang yang sudah menjadi satu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya dalam baptisan. Janji itu membuka mata kita untuk melihat persediaan Allah supaya kita hidup baru dan mencari Kerajaan Allah itu.


Kej 1:1-2:4 Membentuk dan mengisi ciptaan Allah [15 Jun 2014] (Hari Trinitas)

Juni 11, 2014

Hari ini dalam kalender ekumenis adalah Hari Trinitas, doktrin yang begitu diwaspadai sehingga belum masuk kalender Gereja Toraja, padahal sudah mengikuti leksionari ekumenis. Oleh karena itu, saya menafsir Kejadian 1 sesuai dengan tema itu. Tentu, hal itu merupakan tafsiran teologis, dilihat dari perspektif PB, dan bukan klaim tentang seberapa jauh Tritunggal ditangkap oleh penyusun kitab Kejadian. Tujuannya untuk menjelaskan cara beriman yang bersifat Tritunggal, bukan untuk menguraikan masalah-masalah filosofis soal itu.

Penggalian Teks

Dalam terang PB, kitab Kejadian mulai dengan Tritunggal dalam ketiga ayat pertama: Allah (Bapa) adalah penggerak (1), Roh Allah ada di bumi yang belum berbentuk untuk menjadi daya penciptaan (2), dan Firman yang akan memberi bentuk dan struktur pada penciptaan itu (3). Struktur yang diberikan oleh Firman itu yang menonjol: tiga hari menciptakan kerangka dengan memisahkan air dari air, sampai ada daratan dengan tanaman; tiga hari mengisi kerangka itu dengan penerang dan makhluk hidup. Penciptaan itu bukan bagian dari Allah, tetapi karena dibentuk sesuai dengan Firman-Nya, oleh kuasa Roh-Nya, maka penciptaan itu juga tidak lepas dari Allah. Tritunggal menunjukkan bagaimana Allah dapat transenden (melampaui segala sesuatu) dan imanen (dekat dan terlibat) sekaligus.

Yang terakhir diciptakan ialah manusia (26–28). Mereka diciptakan untuk menjadi gambar Allah di bumi, yaitu, untuk mewakili kuasa dan pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Tentu, hal itu terkait dengan berkat untuk beranakcucu, cara manusia mengisi bumi. Tetapi binatang juga diberkati demikian (22), dan soal jenis kelamin tidak disebutkan. Jadi, kita melihat di sini bahwa tugas manusia akan dikerjakan dalam kebersamaan. Hal itu adalah cermin dari Tritunggal, di mana Allah menaklukkan bumi yang belum berbentuk melalui Firman dan kuasa Roh yang bekerja sama. Manusia akan melanjutkan karya Firman Allah dengan menaklukkan dan mengatur hal-hal yang masih belum berbentuk, sebagaimana dilihat dalam pasal 2 (taman Eden hanya sebagian kecil bumi). Makanya, ketika manusia gagal karena dosa, Allah mengutus Firman-Nya menjadi manusia, yang, dikuasai oleh Roh Kudus, menaklukkan penyakit, dosa, iblis dan maut, untuk mendatangkan ciptaan baru (bdk. Mzm 8:7; Ibr 2:8).

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya kita melanjutkan karya Firman-Nya untuk membentuk dan mengisi ciptaan-Nya. Jika hal itu dipahami sebagai tugas Israel dan raja Israel, sekarang kita mengemban amanat itu di dalam Kristus, Sang Firman dan Sang Gambar Allah.

Makna

Menangkap transendensi Allah penting supaya kita sadar bahwa kepentingan Allah jauh di atas kepentingan kita. Berhala disukai karena meladeni kemauan kita, tetapi Allah yang benar memikirkan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi, kalau Allah hanya transenden, kita akan mencari kuasa ilahi yang lebih dekat dan mengerti kondisi kita, seperti nenek moyang. Tetapi, Allah menciptakan dunia dengan Firman-Nya, dan Firman itu telah menjadi manusia dan bergumul dengan kondisi kita. Dia berada sebelum Abraham, dan menjadi nenek moyang yang sejati dalam iman. Kemudian, kuasa Roh Kudus diberikan kepada kita di dalam Kristus, sehingga kita tidak harus mencari kesaktian melalui kerasukan, jimat, dsb. Tanpa pemahaman fungsional tentang Tritunggal, jemaat akan jatuh ke dalam pemberhalaan, entah menurunkan Allah dalam bayangan mereka sehingga hanya sedikit di atas bumi sehingga mereka menyembah berhala, entah mencari kuasa di luar Allah dalam hal-hal yang dianggap terlalu sepele untuk Allah yang Mahatinggi.

Jika aa.26–27 menunjukkan bahwa manusia mengenal persekutuan sama seperti Allah (bdk. kata “Kita”), Yohanes 14–17 memaparkan bagaimana di dalam Kristus Sang Firman, kita dibawa masuk ke dalam persekutuan Tritunggal itu. Keteraturan (syalom) yang dibentuk Allah Tritunggal dari kekacaubalauan menjadi tugas kita juga dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Membaptis dalam nama Tritunggal adalah sentral dalam tugas itu, karena dengan demikian manusia menjadi bagian dari gereja sebagai wadah pembaruan (Mt 28:16–20). Kehidupan gereja juga diwarnai oleh Tritunggal: gereja berada karena kasih karunia Kristus yang melaksanakan kasih Allah bagi dunia, sehingga kita menikmati persekutuan dalam Roh Kudus yang mewujudkan kasih itu dalam persekutuan kita (2 Kor 13:13).


Kis 2:1-21 Pencurahan Roh Kudus supaya banyak yang berseru dan selamat [8 Jun 2014] (Hari Pentakosta)

Juni 4, 2014

Penggalian Teks

10 hari setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus yang dijanjikan itu turun ke atas jemaat perdana yang telah berkumpul. Roh Kudus turun dengan cara yang mengesankan. Sesuai dengan rencana Allah untuk pemulihan Israel (1:6) yang akan mencakup seluruh dunia (1:8), Roh itu muncul seperti api yang memurnikan atau menyucikan (a.3; bdk. Luk 3:16). Hanya, pemurnian ini bukan dalam rangka penghukuman (seperti dalam Luk 3:9), melainkan dalam rangka pembaruan. Hal pertama yang diperbaharui adalah keterpisahan antar-kelompok karena bahasa (aa.4–11; hal kedua muncul di akhir pasal 2 ini). Lukas menunjukkan bahwa Injil akan melampaui bahkan batas-batas budaya, dan membawa kesatuan di dalam keanekaragaman. (1 Kor 12:3–13 menunjukkan hal yang sama, dalam kaitan dengan karunia masing-masing.)

Tetapi, ternyata peristiwa apa saja dapat menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda. Bila banyak orang tercengang atas kejadian yang terjadi (a.12), ada yang lain yang hanya mendengar suara orang mabuk (a.13). Sepertinya, mereka tidak memperhatikan bahasa yang mereka kenal, tetapi bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal, yang kedengaran sebagai bunyi kosong saja. Demikianlah karya Roh Kudus disalahtafsirkan oleh mereka.

Namun, tidak ada yang paham, dan tidak mungkin ada yang paham, jadi Petrus menjelaskan apa yang sedang terjadi. Petrus mengambil Yoel 2:28–32 sebagai nasnya. Nas itu menceritakan rencana Allah untuk “hari-hari terakhir”, yaitu setelah Allah menyelamatkan Israel dari hukuman-Nya (Yoel 2:1–17). Pencurahan Roh Kudus yang disaksikan oleh orang banyak menjadi bukti bahwa waktu penggenapan telah tiba. Roh Kudus membawa nubuat, penglihatan dan mimpi kepada seluruh umat, yang tua dan yang muda, laki-laki dan perempuan (17–18). Suara Tuhan akan jelas bagi umat-Nya, dan visi Tuhan bagi dunia akan ditangkap oleh umat-Nya. Dalam konteks pengutusan Yesus (1:8), suara dan visi itu akan memampukan jemaat untuk menjadi saksi Yesus sampai ke ujung bumi. Pencurahan Roh Kudus itu disertai mukjizat dan tanda yang digambarkan secara kiasan sebagai hal-hal yang mengguncang bumi (19–20). Hal-hal itu sudah tampak dalam kematian dan kebangkitan Yesus, dan juga akan tampak dalam pelayanan para rasul. Semuanya itu akan menjadi pertanda bahwa hari Tuhan akan datang, hari yang daripadanya hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan (21). Ayat itu menjadi pokok dalam khotbah Petrus selanjutnya: dia mau membuktikan bahwa Tuhan yang kepada nama-Nya orang harus berseru untuk selamat itu adalah Yesus, yang telah naik ke surga dan telah dibuat Allah menjadi Tuhan dan Kristus (2:36). Dengan demikian, hari Tuhan akan digenapi ketika Yesus datang kembali (1:11).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mengingatkan kita tentang siapakah kita sebagai jemaat: umat Allah di antara pencurahan Roh Kudus dan kedatangan Kristus kembali, yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Yesus supaya banyak orang berseru kepada nama-Nya dan diselamatkan ketika Dia datang kembali.

Makna

Identitas menyangkut relasi dan cerita. Seseorang memiliki identitas sebagai anggota keluarga, anggota suku dan berbagai kelompok yang lain (termasuk relasi dengan tempat). Tetapi relasi-relasi itu juga memiliki sejarah, dan menyangkut harapan akan masa depan. Jadi, orang Toraja tradisional mendapat identitas sebagai keturunan keluarga tertentu, yang diwakili dalam silsilah, dengan harapan untuk menjadi orang dewasa yang terhormat sesuai kasta, dan setelah meninggal dunia menjadi nenek moyang yang membawa berkat bagi keturunan lagi.

Orang Israel memiliki identitas sebagai anggota umat Israel yang terlibat dalam rencana keselamatan Israel, mulai dengan janji Allah kepada Abraham. Pencurahan Roh Kudus membawa perubahan dalam identitas itu, karena rencana Allah itu masuk tahap baru, termasuk perluasan umat Allah untuk mencakup semua orang yang percaya kepada Yesus. Bagi kita yang menerima Kristus dan bukan dari latar belakang Yahudi, perubahannya lebih besar lagi. Kristus menjadi Tuhan kita, sehingga jemaat-Nya semestinya menjadi kelompok utama dalam identitas kita, bahkan di atas keluarga. Kemudian, pengharapan kita tertuju pada rencana keselamatan itu, bukan pada usaha keluarga dsb. Semua itu berarti ada pengarahan baru dalam kehidupan kita sehari-hari (nubuat), penglihatan baru tentang dunia, dan impian baru tentang masa depan. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk hal itu.


Yoh 14:15-21 Persekutuan dengan Allah Tritunggal [25 Mei 2014]

Mei 22, 2014

Bagi saya, tulisan Yohanes dalam perikop ini agak sulit ditangkap, karena berputar-putar. Saya ditolong dengan melihat pengulangan tema pada a.15 & a.21, dengan pembalikan kata (mengasihi -> perintah; perintah -> mengasihi) yang menunjukkan struktur dalam perikopnya. Saya juga mencoba memahami struktur dalam pembicaraan Yesus di sekitarnya. Struktur dan konteks membantu dalam menggali makna dan mencegah salah paham.

(Perikop minggu depan pernah direnungkan di sini.)

Penggalian Teks

Dalam perjamuan malam di mana Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Dia sudah mulai mempersiapkan mereka untuk kematian-Nya dan kepergian-Nya ke surga (p.13). Kegelisahan mereka mungkin saja mencakup berbagai hal, tetapi yang ditanggapi Yesus adalah perihal bagaimana kepergian-Nya itu bukan musibah melainkan cara rencana atau misi Allah bagi dunia terwujud. Untuk menikmati damai sejahtera di dalam Dia (14:27), mereka harus percaya kepada Yesus (14:1) dan mengasihi Yesus (14:15). Bila rencana Allah bagi Israel terwujud dengan Israel berjalan ke tanah perjanjian dan mendirikan Bait Allah (= rumah Allah) tempat Allah hadir, murid-murid Yesus harus percaya bahwa Yesus adalah jalan (14:6) ke hadirat Bapa (14:2). Jalan itu tidak lain adalah Yesus sendiri, karena Bapa ada di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa (14:8–10). Kemudian, jalan itu menyangkut misi dan persekutuan. Dalam 14:11–14, mereka akan datang kepada Bapa dengan melanjutkan misi Yesus dengan kuasa doa dalam nama Yesus. Dalam perikop kita, mereka akan datang kepada Bapa dalam kasih dan ketaatan dengan kuasa Roh Kudus.

A.15 mengantarkan ide yang (setahu saya) tidak ada sebelumnya dalam Injil Yohanes, yaitu murid mengasihi Yesus. Selama itu, mereka dikasihi Allah (3:16) dan Yesus (13:1), dan disuruh untuk saling mengasihi (13:34), tetapi sekarang ada peningkatan: bukan hanya percaya tetapi juga mengasihi. Bapa dan Yesus saling mengasihi dalam persekutuan ilahi, dan para murid juga ditawarkan untuk menikmati persekutuan dengan Allah di dalam Yesus. Seperti disimpulkan dalam a.21, dengan mengasihi Yesus, mereka akan dikasihi oleh Bapa dan oleh Yesus. Tentu, karena Yesus tetap adalah Tuhan dan Guru mereka (13:13), mengasihi Yesus tidak lepas dari menaati Yesus. Hal itu diulang dalam a.21a (secara terbalik, untuk menutup bagian ini), sehingga kita dapat melihat janji Roh Kudus (aa.16–20) dalam rangka mengasihi dan menaati Yesus. Roh Kudus yang memampukan kita bergabung dalam persekutuan Bapa dan Anak, yaitu, membawa kita ke dalam persekutuan Allah Tritunggal.

Janji dalam a.16 tidak menyusuli a.15, tetapi merujuk pada hari Pentakosta dalam sejarah. Artinya, a.15 merupakan kebenaran umum yang berlaku untuk kita, tetapi bentuk masa depan (“akan”) dalam a.16 yang kini telah menjadi masa lampau bagi kita, karena Roh Kudus telah diberikan kepada gereja. Pemberian Roh Kudus bukan upah ketaatan melainkan penolong ketaatan. Sebagai Penolong, Dia melanjutkan penyertaan Yesus dengan murid-murid-Nya (16–18). Bagi murid-murid Yesus, Dia tidak akan asing, karena Roh itu ada pada Yesus (sejak baptisan-Nya, 1:32) selama Yesus menyertai mereka (17b). Roh itu tetap membawa penyertaan Yesus setelah Yesus pergi (18).

Roh itu juga disebut Roh Kebenaran (17)—Roh yang diberi oleh Allah yang benar (16), diam di dalam Yesus yang benar (17b), dan akan menyatakan apa yang benar (14:26). Kebenaran di sini merujuk pada jati diri murid-murid, apa yang membedakan mereka dari dunia yang tidak mengenal Yesus, karena tidak mampu menangkap bahwa Roh Kudus ada dalam diri Yesus (17a). Ketika Yesus pergi, dunia akan menganggap bahwa Dia lenyap, karena mereka tetap tidak akan mampu mengenali kehadiran Yesus dalam murid-murid Yesus melalui Roh Kudus itu (19). Tetapi murid-murid Yesus akan memahami siapakah mereka dalam persekutuan dengan Yesus yang berada di dalam Allah Bapa.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mau supaya kita menikmati persekutuan yang sejati dengan Allah, yaitu dalam ketaatan berdasarkan penyertaan Roh Kudus.

Makna

Injil Yohanes adalah Injil yang paling kuat dengan teologi yang kemudian dirumuskan sebagai doktrin Tritunggal. Perikop ini termasuk perikop yang menjelaskan mengapa penting ketiga oknum Tritunggal tidak dileburkan menjadi satu oknum saja (seperti dalam modalisme). Memang, pemahaman modalis tidak dapat menjelaskan a.16, bahwa Yesus meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus. Tetapi lebih lagi, persekutuan kita dengan Allah adalah partisipasi dalam persekutuan di dalam Allah: Bapa dan Anak saling mengasihi dan saling menempati (berada seorang di dalam yang lain), dan kita diberi bagian dalam kasih itu.

Kita juga melihat bagaimana pemahaman Tritunggal memadukan ketinggian dan kedekatan Allah. Anggaplah Allah Bapa itu transenden (melampaui) sekali, tetapi Dia dinyatakan secara sempurna oleh Yesus yang pernah menjadi manusia menyertai kita di bumi ini, dan juga oleh Roh Kudus yang menyertai kita selama-lamanya. Allah itu dekat, tanpa kehilangan hakikat-Nya sebagai yang Mahatinggi.

Identitas adalah konsep diri yang menentukan tingkah laku kita, misalnya, seorang mahasiswa pergi ke kampus karena identitasnya, orang Toraja menyembelih kerbau dan babi karena identitasnya. Identitas murid Yesus terletak di dalam Tritunggal. Kita adalah pengikut Allah, tetapi bukan menurut konsep kita tentang Allah, melainkan menurut gambaran tentang Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Dan Roh Kebenaran yang membawa kebenaran tentang Allah Bapa di dalam Kristus ke dalam pikiran dan hidup kita. Terlibat dalam persekutuan ilahi antara Bapa dan Anak oleh Roh Kudus membawa kita ke dalam identitas yang baru. Dalam identitas itu, menuruti perintah Yesus dan hidup seperti Yesus menjadi hal yang paling masuk akal dan didambakan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.