Ibr 10:16-25 Berani dalam anugerah [18 Apr 2014] (Jumat Agung)

April 15, 2014

Surat-surat PB dianggap lebih sulit oleh banyak jemaat, karena memang padat konsep. Tetapi, mungkin kita kurang jeli dalam menjelaskannya. Perikop ini menggunakan beberapa gambaran konkret, seperti Kemah Suci dan baptisan, untuk menggambarkan hal-hal yang tidak kelihatan. Gambaran itu akan menolong kita untuk memahami apa yang dikatakan, dan menjelaskannya kepada orang lain. (NB: tidak ada uraian baru untuk hari Paskah, tetapi uraian lama tentang Rom 6:1–14 ada di sini.)

Penggalian Teks

Perikop kita dengan sengaja memuat aa.16–18, supaya dasar teologis untuk aa.19–25 tidak dilupakan. Yer 31:31–34 dikutip dalam Ibr 8:8–12, dan sebagian lagi dikutip kembali dalam aa.16–17, karena 9:1–10:15 sudah menunjukkan bagaimana Yesus telah mengadakan perjanjian baru oleh darah-Nya (16), sehingga dosa-dosa kita tidak diingat lagi oleh Allah (17): kematian Kristus membawa pengampunan dosa yang tuntas, berbeda dengan kurban-kurban Israel yang menjadi pengingat dosa terus-menerus (18).

Aa.19–25 menyerukan tiga hal sebagai respons manusia terhadap karya Allah di dalam Kristus: iman (22), pengharapan (23), dan kasih (24). Sebagai catatan awal, iman dan pengharapan di sini bukan harapan bahwa Tuhan akan menolong saya dalam pergumulan saya. Ada seperti itu dalam 13:5–6 dalam rangka kesederhanaan hidup, tetapi dalam perikop kita, iman menyangkut pengampunan, dan pengharapan menyangkut hari Tuhan. Penyertaan Tuhan sehari-hari adalah implikasi dari kebenaran dalam perikop kita, tetapi tugas Saudara adalah memberitakan pokok dalam perikop ini.

Kita beriman kepada hal-hal yang tidak kelihatan, tetapi diperlihatkan kepada mata iman kita oleh firman Allah. Mata iman orang Israel dibantu oleh struktur kemah suci dan pola Hari Pendamaian yang setahun sekali saja, yang memperlihatkan bahwa adalah keangkuhan yang sangat besar untuk orang berdosa menghadap Allah, kecuali Allah telah memberi kita izin (9:1–10). Ritus yang wajib bagi orang Israel itu menjadi gambaran dalam aa.19–22 untuk memahami kematian Kristus yang menggenapinya. Tadinya kita semestinya takut menghadap Allah, tetapi sekarang kita berani (19)—bukan karena kita, tetapi karena darah Kristus telah membuka (atau “mengesahkan”; istilahnya sama dengan kata kerja dalam 9:18) bagi kita jalan yang baru (tidak ada sebelumnya) dan yang hidup (Kristus yang hidup [7:25] membuka jalan itu, dan kita hidup olehnya) itu. Mendekati Allah itu bukan hak kita; sebaliknya, mendekati Allah sebagai orang berdosa berbahaya sekali, tetapi darah Kristus telah membuatnya aman. Baik bahaya mendekati Allah maupun amannya oleh darah Kristus tidak kelihatan, tetapi hanya dapat ditangkap oleh mata iman, dibantu dengan gambaran konkret ibadah Israel kuno itu.

A.21 merujuk ke 3:1–6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa jalan yang dirintis oleh Yesus itu berlaku juga untuk kita. Kembali, Israel melihat Musa (tetapi harus percaya bahwa dia diberi tugasnya oleh Allah); kita tidak melihat Kristus, tetapi dengan mata iman kita menangkap bahwa Dia “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” sebagai Imam Besar (4:15) yang menyelamatkan (5:9).

Itulah dasar (“Karena itu”) untuk seruan pertama (a.22) untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, dengan menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Ada dua ciri orang yang menghadap Allah, berdasarkan dua pemberian Allah. Ciri pertama adalah “hati yang tulus ikhlas” atau “benar” yang menyertai (meta) orang yang menghadap itu. Apakah maksud dari “hati yang tulus ikhlas” itu bahwa melalui berbagai disiplin rohani dan introspeksi, saya harus mengidentifikasi semua dosa sikap yang menodai hati saya dan memberantas sikap-sikap itu? Tidak. Sebagai syarat untuk menghadap Allah, usaha itu menghina darah Kristus. Ketulusan di sini pertama-tama dikaitkan dengan ciri kedua yang di dalamnya (en) kita menghadap Allah, yaitu “keyakinan yang teguh berdasarkan iman”. Keyakinan berdasarkan kesalehan atau pertobatan saya tidak mungkin teguh, dan iman itu bukan iman terhadap usaha saya. Yang diimani adalah kedua pemberian dalam ayat ini. Yang pertama ialah pembersihan hati nurani. Kembali, pembersihan itu bukan usaha kita: kata “hati nurani” merujuk ke 9:14 tempat darah Kristus menyucikan hati nurani, dan kata “membersihkan” sama dengan kata “memerciki” dalam 9:19 & 21. Kita membawa hati yang diperciki dengan darah Kristus, sehingga semua tindakan dan sikap yang membebani hati nurani kita dihapus sebagai beban, karena telah dihapus di hadapan Allah. Hal itu digambarkan secara jasmani bagi kita dengan air baptisan; air itu “murni” bukan karena dijernihkan oleh PAM, melainkan karena disucikan oleh perintah Kristus untuk membaptis. Jadi, ketulusan di sini berarti, menerima pengampunan semata-mata karena darah Kristus. Hati kita mungkin saja tetap penuh kelemahan-kelemahan, tetapi kita mengimani darah Kristus itu sehingga kita yakin bahwa kita boleh menghadap Allah. Mata iman menangkap penyucian hati dalam pembasuhan air baptisan, sehingga kesadaran akan kelemahan-kelemahan tidak lagi mengganggu kedekatan kita dengan Allah.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena kebersamaan Allah dengan umat-Nya adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk bertahan dan berkembang dalam janji itu, kedua seruan berikut sangat penting, karena merupakan wujud nyata iman di hadapan dunia dalam perkataan dan perbuatan. Yang pertama, kita harus berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita (a.23), tidak menyangkal Kristus sekalipun menghadapi perlawanan. Sekali lagi, dasar pengharapan di sini bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan kesetiaan Allah yang menjanjikan pengharapan itu, sebagaimana dijelaskan mengenai aa.16–17 tadi. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Yang kedua, kita harus saling mendorong dalam kasih kepada sesama (a.24). Perbuatan baik tidak mendapat banyak sorotan dalam kitab ini (lihat 12:14–17; 13:2–5, 16), tetapi merupakan implikasi dari janji Allah dalam a.16b. (Bagi penulis Ibrani, bila iman lemah, maka semua yang lain akan lemah; oleh karena itu dia berfokus pada membangun iman dengan cara memaparkan karya Kristus.) Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga diteguhkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12–13 dalam konteks menuju ke keselamatan. Mata iman tidak dapat dipertahankan sendirian, kita saling membutuhkan untuk disegarkan dalam iman itu.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak dan diperintahkan untuk menghadap Allah semata-mata karena karya keselamatan Kristus, dan untuk menghadapi dunia dengan pengakuan akan pengharapan kita dan perbuatan kasih.

Makna

Saya menyoroti soal “hati yang tulus” karena dua hal. Yang pertama, karena saya prihatin kalau-kalau pada hari Jumat Agung, bukan salib Kristus yang dijunjung tinggi, melainkan usaha kita untuk memperbaiki diri sendiri. Beberapa kali akhir-akhir ini, saya mendengar khotbah yang menguraikan ayat-ayat yang menyangkut respons manusia dengan baik, tetapi melewatkan ayat-ayat tentang Allah. Saya tidak tahu apakah berbicara tentang Allah dianggap terlalu membosankan bagi jemaat, atau terlalu rumit, atau apa, tetapi tidak jelas bagi saya bahwa melewatkan bahan tentang Allah itu cara yang baik untuk memuliakan Allah. Kalau kita mengasihi Allah, mengapa kita enggan memberitakan kesaksian tentang Dia dari mimbar? Kalau jemaat bosan mendengar tentang Allah, bukankah lebih lagi kita perlu memberitakan kemuliaan dan keindahan karya dan sifat-Nya?

Yang kedua, pada hemat saya, banyak dari kita terjebak dalam budaya modern yang menilai motivasi lebih penting dari tindakan. Jadi, kita suka melontarkan pertanyaan seperti ini dari mimbar, “Apakah kita beribadah dengan sungguh-sungguh, atau ikut-ikutan saja?” Pertanyaan itu bodoh dari beberapa segi. Banyak jemaat, bahkan yang di kota, memiliki kemampuan introspeksi yang terbatas. Bagaimana mereka tahu apakah mereka beribadah dengan sungguh-sungguh? Karena mereka telah hadir dan ikut di dalamnya. Dan itulah yang dituntut dalam a.24, bukan? Bagi mereka, motivasi lebih banyak diketahui dalam tindakan ketimbang melalui introspeksi. Agaknya, itu pandangan Yesus juga (Mt 7:21–23; penilaian diri bisa sangat keliru). Kemudian, apa salahnya “ikut-ikutan”? A.24 menunjukkan bahwa saya tidak mampu setia seorang diri: saya bukan pahlawan rohani, tetapi saya butuh ikut-ikutan dengan orang percaya lainnya. Ketulusan hati saya di dalam ibadah diukur bukan dengan perasaan saya di dalam ibadah, tetapi ketika saya masuk rumah atau kantor—apakah saya tetap ikut-ikutan dengan rombongan Kristus, atau sudah mulai ikut-ikutan dengan kebiasaan yang lain (23). Gaya khotbah seperti pertanyaan itu hanya mencemaskan jemaat yang serius (dan mungkin hanya menyebalkan jemaat yang tidak). Jemaat yang diajar untuk tidak berani berada di hadapan Allah, juga tidak akan berani di hadapan manusia.

Jika hati yang tulus dipahami sebagai hati yang menangkap pengampunan oleh darah Kristus, hasilnya lain sekali. Kita akan membandingkan Kristus dengan usaha-usaha kita untuk menenangkan hati nurani, entah dengan kurban bagi yang masih terpengaruh oleh budaya lama, entah dengan kegiatan agamawi sebagai amal, entah dengan mencari “orang berdosa” untuk menjadi pembanding “kebenaran” saya. Dan jelas Kristus unggul. Kristus menyucikan hati nurani kita (9:14)—dosa tidak seharusnya menghantui kita lagi. Dia menghapus dosa kita di hadapan Allah di surga (9:24)—Allah tidak lagi murka, lebih lagi marah-marah. Dia menghapus dosa sekali untuk selama-lamanya—dosa kita tidak disimpan untuk diungkit pada waktu yang lain (tidak diingat lagi, a.17). Dengan demikian, berkembanglah keberanian dalam a.19, sehingga kesetiaan dalam a.23 dimungkinkan.


Yes 50:4-9 Yakin tentang pembenaran Allah [13 Apr 2014] (Minggu sengsara VII – Hari Minggu Palma)

April 9, 2014

Banyak perikop menggunakan metafora yang menggabungkan berbagai aspek di dalamnya. Bila metafora itu dapat diungkapkan, kita tidak hanya dibantu untuk memahami perikopnya, tetapi kita juga memiliki kerangka untuk menjelaskan perikopnya. Konsep pengadilan dalam perikop ini tidak usah diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain, pada hemat saya, karena justru memperjelas konsep seperti “mendapat malu” dan “takut akan Allah”.

Penggalian Teks

Yesaya 49 menceritakan pelayanan seorang Hamba yang akan dipakai untuk memulihkan Yakub, bahkan bangsa-bangsa (bdk. renungan ini), dengan janji-janji tentang pemulihan Israel yang dihasilkan. Yesaya 50 menyangkut respons terhadap janji keselamatan itu. Yes 50:2 bertanya, “Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika Aku memanggil tidak ada yang menjawab?” Perikop kita adalah kesaksian seorang hamba Tuhan yang menjadi setia untuk mendengarkan dan menyampaikan firman Allah. Yes 50:10 menantang Israel untuk memperhatikan pelayanan hamba itu. Peran hamba itu diperlihatkan dengan paling jelas dalam diri Yesus, dan mengikut hamba itu akan menuntut sikap yang sama.

Perikop ini bisa dilihat dalam rangka sebuah pengadilan. Yang pertama ialah kesaksian hamba Tuhan (4–5). Dia mampu memenuhi kebutuhan umat yang letih lesu dengan perkataan yang menyemangati. Hal itu dimungkinkan karena dia memiliki lidah seorang murid, bukan seorang pengajar. Lidah itu diberikan oleh Tuhan kepadanya dalam dua tahap. Dalam a.4b, Tuhan membangunkan telinga si hamba setiap pagi. Dalam a.5a, Tuhan membuka telinga itu. Itulah tindakan Tuhan; yang dilakukan hamba ialah menerima dan tidak menghindar dari firman itu. Lidahnya mampu menyemangati karena dilatih oleh firman Tuhan; lidahnya dilatih oleh firman Tuhan bukan karena dia pintar mencari pengetahuan tetapi karena dia siap menerima kebenaran dari Tuhan.

Tetapi, ternyata ada pihak yang melawan hamba Tuhan (6). Alasan untuk perlawanan itu tidak dijelaskan, tetapi caranya adalah dengan mempermalukan dia. Dengan demikian, mereka menyatakan bahwa dia tidak membawa firman Tuhan. Kita sebagai pendengar cerita ini tahu bahwa itulah caranya Israel menolak untuk menjawab ketika Allah memanggil (50:2). Hamba Tuhan itu kena imbas sikap Israel terhadap Allah. Tetapi, hal itu belum terbukti dengan jelas bagi hamba ataupun bagi para lawannya.

Namun demikian, hamba itu tidak dikendalikan oleh penghinaan itu, karena dia yakin bahwa Allah akan menjadi hakim yang adil dalam perkara ini. Dia “dinodai”, tetapi “tidak mendapat noda”, karena pertolongan Tuhan (7). Aa.7–9 menjelaskan pertolongan itu (perhatikan bahwa “Tuhan Allah menolong aku” diulang pada a.9). Dia yakin bahwa dia tidak akan mendapat malu (7) karena Allah akan membenarkan dia (8). Sebaliknya, para lawannyalah yang akan dihukum oleh Allah (9). Oleh karena keyakinannya bahwa dia tidak akan mendapat malu, dia sanggup membuat wajahnya seperti batu yang keras (terjemahan harfiah untuk “meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu”), artinya, dia memutuskan untuk sama sekali tidak terpancing oleh penghinaan-penghinaan itu (7). Oleh karena keyakinannya bahwa Allah akan membenarkan dia, dia berani berhadapan dengan para lawan itu (8). Aa.10–11 menegaskan keyakinan itu, bukan lagi sebagai kesaksian hamba melainkan sebagai peringatan bagi Israel: oleh karena mereka mengandalkan terang dari api mereka sendiri daripada terang dari Tuhan melalui hamba-Nya, maka mereka akan tersiksa oleh api itu.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya umat-Nya percaya bahwa Allah adalah hakim yang layak ditakuti, sehingga mereka takut mendapat malu di hadapan-Nya, dan tidak lagi takut mendapat malu di hadapan manusia. Hal itu akan kita pelajari dengan mendengarkan hamba-Nya, Yesus Kristus, yang tetap teguh meski dihina oleh banyak orang.

Makna

Perikop ini memakai metafora pengadilan, dan pengadilan yang dimaksud ialah “pengadilan pendapat umum”. Pengadilan formal mencari kebenaran melalui berbagai kesaksian yang disaring untuk menemukan fakta yang sebenarnya, kemudian hakim menilai siapa yang bersalah dan siapa yang dibenarkan. Salah satu sanksi utama dalam proses itu ialah bahwa hasilnya diberitahukan di depan umum, sehingga pihak yang bersalah mendapat malu, dan pihak yang benar tidak mendapat malu. Bahkan tanpa proses yang formal, pendapat umum dapat berfungsi sebagai pengadilan, dengan menilai rendah pihak ini, dan menjunjung tinggi pihak yang lain. Hanya, kalau pengadilan formal diharapkan menyampaikan keputusan yang final, “pengadilan pendapat umum” itu labil—hari ini mendukung pihak ini, besoknya ada isu yang lain yang mengubah pendapat. Dan yang jelas, satu-satunya pengadilan yang tidak dapat diganggu gugat lagi ialah pengadilan Allah. Pada akhir zaman, dan sering juga dalam kehidupan sekarang, pendapat umum yang keliru akan dikalahkan oleh keputusan Allah yang membongkar rahasia-rahasia manusia. Makanya, orang yang dikendalikan oleh pengadilan pendapat umum—“apa kata orang”—cepat atau lambat justru kena sanksi sosial yang begitu dikhawatirkannya itu.

Yesus Kristus, seperti para nabi sebelumnya, mendengarkan dan dikendalikan oleh suara Allah saja. Fil 2:5–11 menunjukkan seberapa radikal keteladanan Yesus. Dia taat sampai mati secara paling hina di kayu salib. Tetapi, justru “itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia” (Fil 2:8). Yesus dinodai dan diludahi, bahkan dikhianati oleh Yudas (Mt 26:14–25), tetapi Allah menolong Dia sehingga Dia tidak mendapat noda.

Paulus menyinggung Yes 50:8–9 ini dalam Rom 8:31–34. Janji Allah bagi si hamba dalam perikop kita sudah menjadi janji Allah kepada semua orang yang oleh imannya berada di dalam Kristus, Sang Hamba. “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” (Rom 10:11; mengutip Yes 28:16).


Yeh 37:1-14 Dibangkitkan untuk hidup baru [6 Apr 2014] (Minggu sengsara VI)

April 2, 2014

Tahun ini, Membangun Jemaat menggunakan Leksionari yang menunjukkan beberapa perikop yang biasanya saling berkaitan. Minggu ini menjadi contoh yang menarik. PL dan PB saling melengkapi, dan leksionari itu menuntun kita untuk memahami hal itu.

Penggalian Teks

Yehezkiel 36 berbicara tentang pemulihan keadaan Israel setelah pembuangan. Bagian pokok di dalamnya ialah pemulihan kondisi Israel sendiri, termasuk pentahiran (36:25) dan hati daging ganti hati batu (36:26; terjemahan harfiah untuk “hati yang keras” dan “hati yang taat”), melalui Roh Allah yang akan diam di dalam batin Israel (36:27). Dengan demikian, keadaan Israel akan pulih, dan Tuhan akan dimuliakan di dalam mereka.

P.37 menguraikan dua aspek dari pemulihan kondisi Israel itu. Perikop kita (37:1–14) menggunakan penglihatan tentang tulang-tulang yang dihidupkan dan menjadi pasukan tentara yang besar, sementara 37:15–28 menubuatkan pemersatuan Israel yang pecah di bawah seorang raja seperti Daud. Dengan demikian, Israel akan siap untuk peperangan akhir zaman (pp.38–39) yang akan mendatangkan dunia baru yang berpusat pada Bait Allah tempat Allah hadir kembali (pp.40–48; kemuliaan Tuhan yang meninggalkan Bait Allah dalam p.10 kembali dalam 43:4). Yang dibahas di sini ialah pemulihan umat Allah untuk menjadi alat bagi rencana Allah, yang di dalamnya kebangkitan pribadi hanyalah satu aspek.

Di dalam penglihatan (1a), Yehezkiel diperhadapkan dengan tulang-tulang yang berserakan. Karena mayat-mayat tidak dikuburkan, ada dugaan bahwa ini adalah tentara yang kalah besar dalam perang (bdk. 10b). Tulang-tulang itu “amat kering”—dalam a.11 “tulang yang kering” ternyata adalah kiasan yang lazim untuk menggambarkan keputusasaan. Aa.1–6 kemudian menceritakan perintah Tuhan untuk bernubuat menghadapi hal itu. Ada empat tahap yang disebutkan dalam pemulihan itu: urat, daging, kulit dan nafas hidup. Kata untuk nafas hidup sama dengan kata untuk roh, ruakh. Aa.7–8 menceritakan terjadinya ketiga hal pertama, tetapi belum yang keempat, sehingga belum ada hidup. Jadi, nubuatan untuk nafas hidup (roh) diulang dan dikembangkan: keempat penjuru angin (ruakh juga berarti angin) disuruh untuk masuk ke dalam orang-orang ini. Tentara yang pernah kalah besar itu berdiri kembali.

Allah menjelaskan penglihatan itu dalam aa.11–14. Israel menyatakan keputusasaan (11), dan Allah menjanjikan kebangkitan dari kubur-kubur (12–13). Maksudnya tidak harfiah, karena dialamatkan kepada Israel yang hidup (11), tetapi ada dua aspek: pengembalian ke tanah Israel (12), serta pemberian Roh Allah (14). Hasilnya, Israel mengetahui bahwa Allah itu Tuhan.

Jadi, perubahan batin Israel dalam 36:25–27 disampaikan dengan lebih tegas lagi dalam perikop ini. Kenajisan Israel dalam 36:25 ternyata adalah kenajisan mayat, Israel adalah mati. Hati batu dalam 36:26 sejajar dengan tulang kering, dan hati daging sejajar dengan urat, daging dan kulit. Hal itu menunjukkan betapa hancurnya batin Israel: tulang-tulang yang kering, yang tidak dapat bekerja sama (urat), tidak ada kekuatan (daging), dan tidak ada batas atau perlindungan (kulit). Semua itu dikerjakan Allah bagi Israel. Tetapi, sama seperti tubuh Adam yang sudah dibentuk dari debu itu baru menjadi makhluk hidup ketika ada nafas hidup masuk, perubahan batin ini baru menjadi hidup yang sejati ketika Roh Allah diberikan.

Maksud bagi Pembaca

Allah membangkitkan umat-Nya dengan menyusun kembali batin yang dirusak oleh dosa dan dengan memberi Roh-Nya supaya kita dapat hidup dalam jalan Tuhan. Kristuslah menjadi kerangka batin yang diperbaharui (lihat di bawah), dan Roh memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam pola itu. Kita juga dipersiapkan untuk terlibat dalam peperangan Allah terhadap kuasa-kuasa maut.

Makna

Perikop kita berbicara tentang pembaruan Israel. Israel akan dibawa dari ranah maut masuk ke dalam ranah hidup. Jika kebangkitan dipakai sebagai kiasan untuk hal itu, pada Dan 12:1–3 kiasan itu sudah dilihat sebagai janji perorangan, supaya para martir juga tidak kehilangan tempatnya dalam pengggenapan janji-janji Allah. Dalam Yoh 11:17–44, Yesus secara harfiah memanggil Lazarus dari kubur, sebagai bukti bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup (Yoh 11:25). Kematian Yesus akan membawa Dia ke dalam kubur bersama dengan manusia berdosa, sehingga kebangkitan-Nya membawa semua manusia yang bergabung dengan-Nya keluar dari “Babel” (maut) masuk ke dalam tanah perjanjian (hidup kekal).

Namun, mati/hidup itu tetap memiliki makna dalam kehidupan kita. Hidup dalam dosa adalah hidup dalam maut, sedangkan hidup dalam kebenaran adalah hidup sejati (Rom 6:20–23). Rom 8:11 berjanji bahwa kuasa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan menghidupkan tubuh kita yang fana, yaitu, tubuh tempat dosa berkuasa (Rom 6:12). Maksudnya bukan kebangkitan pada akhir zaman, melainkan pembaruan yang disebutkan dalam Rom 8:9, yaitu, kemampuan untuk hidup dalam Roh dan bukan dalam daging (daging berkaitan dengan tubuh yang fana, bdk. Rom 7:23–25). Kuasa Roh itu menjadi dasar untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh fana/daging itu (Rom 8:13; untuk pentingnya tubuh, lihat [diskusi ini][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ]). Karya Roh itu merupakan penggenapan nubuatan Yehezkiel tentang pembaruan yang disebabkan oleh Roh Allah.

Yang agak sulit ditangkap di sini ialah Yehezkiel dan Paulus berbicara tentang karya Allah, tetapi hasil karya itu adalah perbuatan baik manusia. Roh yang membangkitkan, tetapi orang yang dibangkitkan itu yang bergerak. Kita dengan mudah berfokus pada bagian manusia, tetapi tanpa konsep tentang karya Allah, kita tidak akan diberdayakan untuk berubah. Konteks dari perikop Paulus dapat membantu kita dalam hal itu.

Bagi Paulus, penghidupan tubuh itu dinyatakan dalam cara pandang dunia yang berbeda; kita memikirkan hal-hal yang dari Roh (Rom 8:5). Pandangan dunia dalam Roh mulai dengan kita berdiri dalam anugerah dan bermegah dalam pengharapan akan kemuliaan Allah (Rom 5:2b); artinya, penebusan dalam Kristus bahkan lebih mendasar dari keluarga sendiri untuk identitas kita, dan yang kita banggakan dan dambakan adalah menjadi serupa dengan Kristus, bahkan lebih dari upacara kematian yang besar (atau menjadi kaya dsb). Kemudian, kita menganggap diri menjadi satu dengan Kristus dalam kematian-Nya terhadap dosa dan kebangkitan-Nya untuk hidup bagi Allah (Rom 6:11). Roh Kudus mengerjakan pembaruan imajinasi, pembaruan identitas. Kemudian, kuatnya keinginan-keinginan yang berlawanan dengan kebenaran diuraikan dalam Rom 7:13–25; Roh Kudus menanam keinginan-keinginan yang lain (Rom 8:5–11). Ini semua karya Allah—karya Allah di dalam Kristus yang menawarkan pengampunan dan pola hidup, dan karya Allah di dalam Roh Kudus yang mengubah akal budi dan hati. Namun, yang lama tidak hilang begitu saja; makanya bagian kita adalah bertobat terus-menerus dengan memilih pikiran dan keinginan Roh, bukan pikiran dan keinginan daging (Rom 6:12–13; 8:13). Tetapi bahkan pertobatan itu didorong oleh Allah, yang menggunakan penderitaan untuk membantu kita bertobat dan berubah (Rom 5:3–5; 8:17–30). Kita tidak dilarang untuk sombong rohani karena masih ada kekurangan pada diri kita, walaupun hal itu memang benar. Kita dilarang untuk sombong rohani karena apa yang baik pada kita itu hasil karya Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Kita adalah mayat yang dihidupkan kembali, bukan orang yang cukup sehat yang menjadi atlet karena kerja keras sendiri.


1 Sam 16:1-13 Allah memilih lepas dari kriteria manusia [30 Mar 2014] (Minggu sengsara V)

Maret 26, 2014

Dalam perikop ini, penafsiran Kristologis berarti bahwa kita akan melihat Daud pertama-tama sebagai tipe Kristus, kemudian sebagai teladan bagi orang percaya. Kita pertama-tama bersyukur bahwa Allah memilih Kristus, baru kita memikirkan respons kita. Karena Kristus lebih penting daripada kita.

Penggalian Teks

Kitab 1–2 Samuel menceritakan munculnya kerajaan di Israel, dengan Samuel sebagai hakim yang terakhir dan nabi bagi raja-raja yang pertama, dan Daud sebagai raja yang utama, yang kemudian menjadi contoh bagi Mesias yang akan datang. Kata Mesias berasal dari Ibrani masyiakh yang berarti “yang diurapi” (seperti dalam a.6). Kata itu muncul 17 kali dalam kitab 1–2 Samuel, termasuk dalam pujian Hana dalam 1 Sam 2:10, dan mazmur Daud dalam 2 Sam 22:51. Dalam 1–2 Raja-raja, kata itu tidak dipakai lagi. Jadi, Daud sebagai “Mesias” adalah tema besar dalam kitab 1–2 Samuel ini. Di balik kegagalan kerajaan Israel dalam 1–2 Raja-raja sampai Israel dibuang, janji Allah kepada Daud menjadi titik pengharapan.

Kegagalan Israel sudah disinyalir dalam raja Saul, yang tidak taat sehingga ditolak Allah (1). Walaupun Saul masih berkuasa sebagai raja (2, 4), Allah bertindak untuk mengurapi penggantinya (3, 13). Aa.1–3 menceritakan perintah Allah kepada Samuel, aa.4–5 persiapan untuk upacara pengorbanan, aa.6–10 penolakan tujuh anak Isai yang dewasa, dan aa.11–13 pengurapan anak bungsu Isai, yaitu Daud.

Cerita ini menegaskan kedaulatan Allah: Dia memilih raja yang baru, sementara yang lama masih berkuasa; Dia memilih anak yang bungsu dan begitu muda sehingga dia tidak dianggap wajib mengikuti upacara itu. Semuanya tergantung pada apa yang dilihat Allah. Kata “pilih” dalam a.1 menerjemahkan kata “melihat” (ra’ah). Samuel melihat dalam a.6, tetapi Allah melihat lain dalam a.7, yaitu, melihat hati. Ketinggian (seperti Saul, 9:2) tidak penting, kemudaan (“kemerah-merahan” dalam a.12 sepertinya terkait dengan kemudaan dalam 17:42) bukan kendala. Ketika Daud dipilih, dia dikuasai oleh Roh Tuhan. Allah tidak terikat oleh struktur dan jabatan sehingga harus menunggu akhir periode Saul; dalam p.17 Daud langsung bertindak sebagai alat penyelamatan bagi Israel, sama seperti Saul dan hakim-hakim sebelumnya yang dikuasai oleh Roh Kudus. Para pembaca kisah ini pada masa Israel pasca-pembuangan pasti bertanya, “Kapan Allah akan mengangkat seorang anak Daud untuk diurapi sebagai Raja dan membawa keselamatan?”

Maksud bagi Pembaca

Allah berdaulat dalam memilih orang yang akan dipakai-Nya, lepas dari kedudukan, penampakan yang baik, usia yang cukup, atau hal-hal yang lain yang dianggap penting oleh manusia. Makanya, Dia memilih Yesus, orang pinggiran, untuk menjadi Mesias, pengharapan kita. Oleh karena Kristus, kita yang dipilih di dalam-Nya semestinya tidak menjadi kecil hati karena tidak memenuhi kriteria manusia.

Makna

Kita dipilih dan diberi Roh Kudus di dalam Yesus, Anak Daud, yang memenuhi pengharapan yang ditimbulkan oleh perikop ini. Daud dalam cerita ini bukan orang biasa, seakan-akan semua manusia berhak untuk diberi Roh Kudus. Daud adalah Mesias, dan kita berbagian dalam Roh Kudus itu karena keturunannya Yesus Kristus telah mati dan bangkit dan mencurahkan Roh Kudus ke atas orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Yoh 9:1–7 memberi petunjuk tentang pemilihan itu. Orang yang buta sejak lahirnya itu dipilih untuk menyatakan karya Allah di dalam dirinya (Yoh 9:3). Dalam a.7, dia disuruh pergi ke kolam Siloam, dan kita diberitahu bahwa nama itu berarti “Yang diutus”. Dia diutus untuk menjadi saksi tentang Yesus, Sang Terang (Yoh 9:5). Ef 5:8 juga mengatakan bahwa kita adalah terang di dalam Tuhan. Kalau Daud diutus untuk berjuang terhadap Goliat, kita bergabung dengan Yesus untuk berjuang melawan Iblis dalam segala bentuk kegelapan, baik di dalam gereja (Yohanes 9) maupun di luar gereja (Ef 5:13).


Kel 17:1-7 Adakah Tuhan di tengah-tengah kita? [23 Mar 2014] (Minggu sengsara IV)

Maret 19, 2014

Dalam bagian Maksud bagi Pembaca, saya menggunakan cara penerapan yang paling sederhana untuk sebuah narasi, yaitu, beranjak dari setiap tokoh di dalamnya. Jadi, ada penerapan untuk jemaat (Israel), untuk pelayan (Musa), tetapi juga Allah tidak luput dari perhatian. Pembacaan pembanding yang disebutkan dalam bagian Makna juga membawa penambahan makna, karena menunjukkan bagaimana Allah tidak berdiam diri berhadapan dengan kekerasan hati manusia, sebagaimana dilihat dalam Israel, tetapi telah bertindak dalam Kristus.

Penggalian Teks

Karya Allah yang agung yang menyelamatkan Israel dari orang Mesir diceritakan dalam p.15, dan dalam p.19 Israel akhirnya sampai di gunung Sinai, tempat pemberian hukum Taurat, pengadaan perjanjian, dan pembuatan Kemah Suci (Keluaran 19 sampai Bilangan 10). Perikop kita adalah yang ketiga setelah penyelamatan Israel dari tiga peristiwa yang mulai memunculkan sifat kurang percaya dari Israel. Ada air yang pahit yang dipulihkan (15:23–35), ada kekurangan makanan yang dijawab dengan manna dan burung puyuh, dan kembali dalam perikop ini ada soal air.

17:1 menunjukkan bahwa memang ada masalah riil (kurang air), tetapi hal itu menjadi masalah lebih dalam lagi, karena Israel menuntut Musa untuk menyelesaikan masalah (2–3). Andaikan sikap mereka sehat, mereka akan bersatu dengan Musa untuk memohon pertolongan Tuhan. Tetapi, mereka mengabaikan Tuhan dan menuntut Musa bertanggung jawab atas kondisi mereka. Tuntutan itu merupakan pertengkaran menurut Musa (dan narator), karena jelas Musa tidak berdaya untuk mendapatkan air. Musa juga menuduh mereka mencobai Tuhan—ternyata ada sesuatu di balik hal mereka menuntut Musa bukan Tuhan (2). Mereka meyerang balik bahwa Musa yang memimpin mereka keluar dari Mesir, dan memfitnah tujuan Musa dalam hal itu (3).

Diserang oleh umatnya, Musa membawa masalah itu kepada Tuhan—masalah umat, bukan masalah air (4)! Tuhan menyelesaikan masalah umat untuk sementara dengan menyelesaikan masalah air (5–6). Caranya (5b) mau mengingatkan tua-tua Israel tentang karya Tuhan pada tulah pertama (7:20). Baru pada a.7, masalah umat yang paling dalam terungkap: mereka meragukan penyertaan Tuhan. Jika dalam a.2 mereka bertengkar dengan Musa, dan hal itu dilihat sebagai mencobai Tuhan, dalam a.7 Musa menempatkan mencobai Tuhan (artian nama “Massa”) sebelum soal bertengkar (artian nama “Meribah”). Mereka bertengkar dengan pemimpin yang ditunjuk Tuhan karena meragukan penyertaan Tuhan. Cara Musa dengan tongkatnya membongkar sikap Israel ini: sejak tulah pertama itu sampai pemberian manna dan buruh puyuh, Tuhan sebenarnya menyertai mereka.

Maksud bagi Pembaca

Umat Allah diperingatkan bahwa pertengkaran dengan pemimpin umat adalah gejala mencobai Tuhan karena tidak percaya pada penyertaan-Nya. Pemimpin umat Allah diajak untuk tetap berseru kepada Tuhan meskipun umat Allah tidak lagi, sekalipun ditekan oleh umat itu. Di balik peringatan dan ajakan itu ada anugerah Allah yang tidak membuang umat-Nya walaupun mereka kurang percaya.

Makna

Masalah jemaat dengan pimpinannya yang dikemukakan jarang merupakan masalah yang sebenarnya. Hal itu tidak berarti bahwa apa yang dibahas itu sepele: dalam kisah ini, Israel memang butuh air. Tetapi cari pembahasannya yang menjadi berbeda ketika suasana penuh kegelisahan. Ketika penyertaan Allah diragukan, jemaat akan gelisah, dan kegelisahan itu akan dilampiaskan kepada pimpinan, baik dengan tuntutan yang bukan-bukan (supaya Musa mengadakan air, a.2), maupun dengan tuduhan yang memfitnah (bahwa Musa bermaksud membunuh mereka di padang gurun, a.3). Jemaat perlu diingatkan tentang Tuhan yang menyertai mereka, seperti yang terjadi dengan cara yang ditunjukkan Tuhan kepada Musa.

Kita mungkin menganggap bodoh umat Allah yang baru saja melihat kuasa Tuhan tetapi tetap meragukan penyertaan-Nya. Dalam Mzm 95:9, Tuhan juga ternyata menjadi jemu dengan umat ini. Mzm 95:10–11 menunjukkan bahwa, meskipun Tuhan memberi kesempatan bagi umat-Nya, jika umat-Nya tidak mau berubah sikap, umat-Nya menarik diri dari rencana Tuhan. Rencana Tuhan tidak batal melainkan tetap berjalan pada generasi berikutnya, tetapi satu angkatan tewas di padang gurun karena sesat hati.

Dalam PB, kebutuhan akan air menjadi kiasan untuk kebutuhan akan air hidup yang diberikan Yesus dan memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yoh 4:14). Kehausan itu lebih sering diakui oleh orang kacau seperti perempuan Samaria itu daripada kelompok yang disebut orang Yahudi dalam Injil Yohanes yang menganggap diri beres. Tetapi, bagi orang yang meminum air hidup dari Yesus, Rom 5:1–11 menunjukkan bagaimana ujian seperti yang dialami Israel justru membawa berkat. Kasih Allah yang dibuktikan dalam kematian Kristus menjamin bahwa bahkan kesengsaraan tidak akan menghambat kita dari hidup yang kekal, sehingga kita bermegah dalam Allah di tengahnya. (Saya tidak yakin bahwa alasan yang biasa disebut untuk mengetahui kasih Allah seperti “masih bernafas” sama kuatnya dengan kematian Kristus.)

Makanya, di balik gejolak-gejolak yang di dalamnya jemaat mencobai Tuhan, sedapat mungkin kita mau membawa mereka kepada dasar dari keyakinan kita akan kasih Allah, yaitu iman kepada Kristus yang mati bagi kita.


Rom 4:1-5 “Iman yang menentukan” [16 Mar 2014] (Minggu sengsara III)

Maret 10, 2014

Materi ini dicontek dari Membangun Jemaat, karena saya penulisnya. Perikop kita digabungkan dengan Kej 12:1–4 yang merupakan awal dari kisah Abraham, dan Yoh 3:1–17 yang merupakan padanan Roma 3–5 dalam beberapa hal: keselamatan oleh iman yang membawa ke hidup yang sejati. Yoh 3:3, 5 layak disimak: manusia tidak mampu dengan kuasa sendiri untuk memahami Injil.

Pembenaran oleh iman menjadi salah satu penggerak Reformasi. Mengapa? Karena para reformator yakin bahwa anugerah Allah lebih ampuh membuat manusia baik ketimbang teologi anugerah bercampur amal yang menjadi teologi operasional di Gereja pada zaman itu. Saya mau mengusulkan bahwa keyakinan itu dekat dengan inti identitas reformatoris-Calvinis.

Penggalian Teks

Ketika menulis surat ini kepada jemaat-jemaat di Roma, Paulus belum pernah ke sana, tetapi dia memiliki rencana untuk mengunjungi mereka, dengan harapan bahwa mereka bisa mendukung dia untuk bermisi ke Spanyol (15:28). Oleh karena itu, dia menjelaskan Injil yang dia beritakan. Injil itu mengumumkan tahap terakhir yang menentukan dalam kisah Allah dengan manusia. Manusia telah membelakangi Sang Khalik dan memilih menyembah dewa-dewa buatan sendiri serta menuruti keinginan-keinginan yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama (1:18–31). Oleh karena itu, pada pengadilan segenap umat manusia di akhir zaman, manusia berdosa akan dinyatakan “bersalah” oleh Sang Hakim dan dihukum (2:1–16). Allah kemudian memanggil Israel untuk menjadi percontohan bagi dunia, dan memberikan hukum Taurat supaya mereka tahu akan jalan yang benar (3:2), tetapi mereka pun gagal menaati Allah (2:24), sehingga segenap umat manusia menderita di bawah kuasa dosa (3:9b). Selaku Pencipta dunia yang baik, Allah harus menindak para perusak dunia itu. Tetapi, Dia juga Allah yang mau memberi kesempatan bagi manusia untuk diselamatkan (1:16).

Hikmat manusia tidak akan sampai pada sebuah jalan keluar, tetapi syukurlah bahwa Allah itu penuh hikmat dan kasih. Solusi Allah terhadap kondisi manusia yang mencemaskan itu disampaikan dalam 3:21–26. Allah mengutus Kristus untuk menjadi jalan pendamaian. Sebagai Hakim yang adil, Dia telah menghukum dosa di dalam Kristus sebagai pengganti kita pada salib, supaya kita dapat dibenarkan—dinyatakan “tidak bersalah” di dalam pengadilan pada akhir zaman oleh Sang Hakim—jika kita percaya kepada-Nya. Injil mengumumkan karya Allah yang penuh hikmat dan kasih itu, dan memanggil kita untuk menerima kasih karunia Allah itu dengan iman.

Tetapi, bagaimana kasih karunia dan iman itu? Sebagai orang Yahudi, rasul Paulus sendiri mengetahui bagaimana suatu niat untuk taat kepada hukum Allah bisa menjadi semacam kesombongan diri yang meremehkan orang-orang yang dianggap “tidak suci”, dan membatasi Allah pada golongan kita saja (3:27–31). Dalam perikop kita, dia kembali ke asal usul umat Allah, yaitu Abraham, untuk menelusuri bagaimana sikap yang sebenarnya terhadap kasih karunia Allah (4:1). Andaikan Abraham dibenarkan oleh perbuatannya, dia memiliki alasan untuk bermegah. Tetapi ternyata tidak demikian adanya (4:2).

Untuk memahami bagaimana Abraham dibenarkan, Paulus merujuk pada Kejadian 15:6. Panggilan Abraham disertai dengan janji Allah mengenai berkat bagi semua bangsa dunia dalam Kejadian 12:1–3 (bdk. Rom 4:13). Tetapi, pada awal Kejadian 15, Abraham mengeluh bahwa isterinya masih mandul, dan Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham, yakni pewaris janji berkat itu, akan menjadi sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 15:5). Abraham percaya kepada janji Tuhan itu, dan kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran, sebagai status “tidak bersalah”. Iman, bukan perbuatan, menjadi pertanda bahwa Abraham diterima sepenuhnya oleh Allah. Tentu, dasar untuk penerimaan atau pembenaran itu darah Kristus tadi (3:25a; jalan pendamaian itu berlaku surut, lihat 3:25b).

Paulus menegaskan maksudnya dalam aa.4–5. Andaikan kita diterima oleh karena perbuatan kita, maka kebenaran—status “tidak bersalah” dan diterima sepenuhnya di hadapan Allah—menjadi hak kita. Tetapi yang benar ialah bahwa kita adalah orang-orang durhaka, orang-orang yang tidak tahu diri di hadapan Allah. Orang-orang durhaka termasuk orang-orang yang jelas berbuat jahat, tetapi juga termasuk orang-orang yang berani menganggap bahwa semestinya Allah itu puas dengan ibadah yang terburu-buru dan doa-doa darurat saja. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berbuat apa-apa yang membuat kita layak diterima oleh Allah.

Jadi, sama seperti Abraham, kita diterima karena kita percaya akan janji Allah, yaitu, janji bahwa darah Kristuslah yang menjadi jalan pendamaian. Tersirat dalam iman ini ada beberapa hal.

1) Kita mengakui bahwa dosa itu begitu buruk, sehingga Kristus harus disalibkan untuk melepaskan kita dari kuasanya. Seseorang yang dengan santainya mau berkancang dalam dosa belum beriman, dan tetap menuju hukuman kekal (2:4–5).

2) Kita mengakui bahwa kita tidak sanggup melepaskan diri dari kuasa dosa, sehingga kita hanya dapat mengandalkan darah Kristus saja. Dengan demikian, bermegah dalam kesalehan pribadi dan meremehkan sesama yang kelihatan lebih kacau adalah kesombongan yang konyol dan berbahaya.

3) Kita mensyukuri kasih karunia Allah yang sungguh-sungguh diberikan dengan cuma-cuma. Sama seperti tanah yang mau dihibahkan tinggal diterima, tidak ada biaya tambahan kalau namanya hibah, penebusan oleh Kristus tinggal diterima dengan syukur. Hidup kita tentu akan berubah, karena kita menyadari keburukan dosa dan mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk berubah, tetapi perubahan hidup itu adalah hasil dari penerimaan Allah, bukan dasar.

Maksud bagi Pembaca

1. Darah Kristus adalah jalan pendamaian yang kita imani.

Penjelasan: Penguraian tentang kisah Allah dan manusia yang telah disampaikan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa hanya dalam darah Kristus saja, kita dapat diterima sepenuhnya oleh Allah.

Penerapan: Jeleknya dosa ditegaskan, yang mengakibatkan jalan pendamaian yang begitu ekstrem, yaitu Anak Allah harus menderita pada salib (bdk. aplikasi pertama di bawah).

2. Bahkan tokoh PL seagung Abraham hanya dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatannya (aa.1–3).

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.1–3.

Penerapan: iman yang sejati akan bermegah dalam Kristus, bukan dalam diri sendiri (bdk. aplikasi kedua di bawah).

3. Imanlah yang menentukan, karena hanya iman yang dapat menerima kasih karunia Allah (aa.4–5)

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.4–5.

Penerapan: Mensyukuri kasih karunia itu (bdk. aplikasi ketiga di bawah).

Makna

Jika bukan iman yang sejati yang menentukan, ada dua bahaya. Yang pertama ialah bahwa keinginan buruk yang menentukan. Gereja menjadi kedok untuk keserakahan, gengsi, predator, dsb. Kelompok ini mungkin percaya dengan akal mereka akan pengampunan Allah, tetapi tidak memahami dalam hati bahwa dosa itu buruk.

Yang kedua ialah bahwa citra kesalehan yang menentukan. Gereja ini kelihatan beres, tetapi sebenarnya ada kesombongan rohani, sebagaimana dilihat dalam sikap remeh dan takut terhadap orang-orang kacau di luar benteng gereja; domba-domba yang hilang itu sama sekali tidak akan dicari. Kelompok ini sadar bahwa mereka tidak sempurna, tetapi menganggap bahwa usaha mereka adalah cukup untuk Allah membedakan mereka dari orang-orang lain. Kelompok ini suka mengeluhkan penyakit-penyakit sosial yang di dalamnya mereka tidak terlibat, dan menggosipkan kejatuhan orang-orang lain, sebagai bukti akan kebenaran mereka.

Sebaliknya, iman yang sejati akan dilihat dalam suasana jemaat yang semakin rendah hati dan penuh syukur oleh karena kasih karunia Allah. Dosa dalam diri sesama akan menimbulkan keprihatinan dan usaha pemulihan, bukan gosip yang menjatuhkan. Karya Allah di tengah kelemahan akan lebih disoroti daripada kelemahan itu sendiri, dengan kesadaran bahwa kita semua hanya berdiri oleh karena Kristus.


Mt 4:1-12 Melawan pencobaan dalam Sang Pemenang [9 Mar 2014]

Maret 5, 2014

Perikop ini kadang kala dibaca untuk menggali tips-tips tentang menghadapi pencobaan, seakan-akan dengan mengutip ayat Alkitab manusia sanggup melawan Iblis. Seperti biasa, saya akan menggali makna teologis sedalam mungkin, karena pemahaman saya bahwa landasan untuk pertobatan, pembaruan dan ketaatan ialah Injil tentang karya Allah, bukan injil palsu bahwa Tuhan akan membantu kita jika kita mencoba berbuat lebih baik.

Penggalian Teks

Di balik cerita ini ada kisah Israel di padang gurun, dan juga kisah pelantikan raja Daud. Kita baru diingatkan tentang Daud dalam ucapan Allah kepada Yesus pada ayat sebelumnya (3:17), bahwa Yesus adalah “Anak-Ku”. Ucapan itu merujuk pada Mzm 2:7 yang dipakai untuk pelantikan raja di Israel. Jadi, “Anak Allah” dalam perikop ini merujuk pada Yesus sebagai Mesias (Kristus), raja seperti Daud yang dinantikan. Menarik bahwa Daud juga diurapi oleh Roh Allah (1 Sam 16), jauh sebelum dia dilantik di depan umum sebagai raja (2 Sam 2 & 5). Setelah diurapi oleh Roh Allah, Daud membuktikan pengurapan itu dengan mengalahkan Goliat (sama seperti para hakim dan Saul mengalahkan musuh-musuh Israel). Jadi, Yesus juga dibawa oleh Roh untuk mengalahkan musuh Israel—bukan lagi dalam bentuk manusia, tetapi langsung dengan si Iblis, musuh umat Allah yang sejati. Cerita ini tidak sekadar tips-tips untuk mengatasi pencobaan, tetapi kisah tahap awal kemenangan Kristus atas Iblis.

Ayat 4:1 juga mengingatkan kita (baca: pendengar Injil yang mengenal PL dengan sangat baik) akan Ul 8:2, di mana Musa menjelaskan bahwa Israel dibawa masuk padang gurun untuk “merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu”. Israel pun disebut “anak Allah” dalam Hosea 11:1, yang telah dikutip dalam Mt 2:15. Yesus adalah Israel, anak Allah. Kita melihat di sini fungsi ganda pencobaan: Allah mencobai Israel/Yesus untuk mengetahui hatinya, sedangkan Iblis mencobai Yesus untuk menjatuhkan. Yesus berpuasa selama 40 hari, sampai Dia lapar dan lemah, sama seperti Israel di padang gurun. Dia dicobai sama seperti kita, di tengah kelemahan yang sangat, bukan pada saat Dia kuat. (Musa juga berpuasa selama 40 hari, bahkan tanpa minum, tetapi bersama dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Musa masuk surga sebentar sehingga tidak membutuhkan makanan dan minuman; Yesus ada di bumi, dan tetap membutuhkan makanan dan minuman, sehingga lapar karena tidak makan—tetapi pasti Dia minum.)

Pencobaan pertama (3–4) menyangkut memenuhi kebutuhannya untuk makan secara ajaib. Yesus menjawab dari ayat berikutnya dalam Ulangan 8, yaitu Ul 8:3. Israel dijadikan lapar supaya belajar rendah hati, karena bahkan apa yang mereka makan berasal dari firman Allah yang memelihara segala sesuatu, sehingga semestinya firman-Nya yang mengatur kehidupan mereka itu juga mereka percayai dan taati. Israel dipaksa mengakui bahwa mereka tidak mandiri dalam bertahan hidup, sehingga semestinya mengakui bahwa mereka juga tidak mandiri dalam mengatur kehidupan yang baik. Yesus yang sudah rendah hati tidak mau mengambil jalan pintas dengan mukjizat, tetapi menunggu waktu Allah untuk memberi-Nya kebutuhan-Nya, sebagaimana terjadi dalam a.11.

Dalam pencobaan kedua (5–7), Iblis memberi kesempatan bagi Yesus untuk menguji kebenaran firman Allah dalam Mzm 91:11–12. Sebenarnya, Iblis menghilangkan satu baris dalam kedua ayat itu, bahwa tujuan perlindungan malaikat adalah “untuk menjaga engkau di segala jalanmu”, artinya, dalam urusan sehari-hari. Melompat dari atas gedung yang tinggi bukan urusan biasa. Yesus menjawab dari Ul 6:16 yang merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1–7, tempat mereka kekurangan air. Mereka meminta air, tetapi dengan sikap curiga bahwa Tuhan mau membunuh mereka di padang gurun. Kesimpulannya dalam Kel 17:7 menjelaskan bahwa “mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: ‘Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?’”. Permintaan mereka berasal dari keraguan akan maksud Allah terhadap mereka, bukan dari iman. Yesus tidak meragukan bahwa Tuhan menyertai Dia, dan akan menjaga Dia di segala jalan-Nya. Tetapi Yesus juga tahu bahwa Dia dipanggil sebagai Hamba Tuhan, karena ucapan Allah dalam 3:17 juga merujuk pada Yes 42:1. Tujuan-Nya bukan untuk menghindar dari segala penderitaan, melainkan untuk menuju salib. (Apakah ejekan para penonton supaya Dia turun dari salib merupakan kelanjutan dari pencobaan ini?)

Pencobaan ketiga (8–10) kembali ke tugas Yesus sebagai Mesias. Janji Allah kepada Mesias dalam Mzm 2:8 menyangkut segala bangsa, sama seperti Daud mengalahkan banyak bangsa di sekitarnya. Iblis menawarkan sesuatu yang merupakan hak Yesus dan misi Yesus sebagai Mesias. Yesus menjawab dari Ul 6:13, beberapa ayat sebelum kutipan tadi. Jika Ul 6:16 menyangkut sikap ragu kepada Tuhan dalam kesusahan, konteks Ul 6:13 adalah melupakan Tuhan karena sukses (Ul 6:10–12). Israel akan tergoda untuk menyembah ilah lain dalam kemakmuran di tanah perjanjian, dan pas itulah yang ditawarkan Iblis. Yesus menempatkan Allah di atas sukses, sekalipun sukses yang baik dan sah.

Akhirnya Iblis pun pergi, sebagaimana diperintahkan oleh Yesus, dan Yesus yang telah menang atas Iblis disegarkan oleh malaikat-malaikat. Tetapi, Iblis tidak selesai. Dalam a.12, dunia yang menentang Allah muncul kembali, dan Yesus harus memulai perjalanan panjang sampai Dia diakui sebagai Raja Israel dan Anak Allah, sama seperti Daud. Jika Daud akhirnya dilantik sebagai raja di depan umum dengan acara yang meriah, Yesus dilantik sebagai raja di atas salib, dengan tulisan di atas kepala-Nya yang mengumumkan bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi (istilah “raja” atau “Anak Allah” bermunculan dalam Matius 27). Iblis muncul kembali dalam usul Petrus untuk menghindar dari salib (16:22–23). Tetapi justru melalui salib, Yesus akan menuntaskan kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut.

Maksud bagi Pembaca

Karena Yesus Sang Mesias telah mengalahkan Iblis, kita melawan pencobaan dalam pengharapan. Dosa bukan masa depan dunia, dosa bukan keniscayaan. Dari Yesus, Israel yang sejati, kita belajar bagaimana mengalahkan Iblis. Yesus memiliki pemahaman tentang Allah dan rencana-Nya yang kukuh. Dia tahu bahwa Dia harus menempuh jalan salib, dan Dia tahu bahwa apapun yang terjadi dalam perjalanan itu, Tuhan menyertai Dia.

Makna

Di balik kegagalan Israel di padang gurun adalah kisah Adam dan Hawa di taman Eden, sehingga Paulus menempatkan Yesus bukan hanya sebagai Mesias dan Israel yang sejati, melainkan juga sebagai Adam yang kedua (Rom 5:12–19). Uraian Paulus menunjukkan bahwa dosa itu sesuatu yang begitu dahsyat, sehingga hanya karya yang agung di dalam Kristus yang dapat mengembalikannya. Oleh karena itu, saya mau menyoroti identitas Yesus yang lebih dari Mesias yang berjaya itu.

Iblis mempertanyakan status Yesus sebagai Anak Allah seakan-akan hal itu sekadar soal kuasa dan bukti. Tetapi, tugas Yesus juga mencakup menjadi umat Allah yang taat, dan menjadi hamba Tuhan yang setia sampai salib. Dengan identitas dan misi yang jelas itu, kuasa-Nya diperlihatkan dengan kemampuan-Nya untuk mengalahkan pencobaan, bukan kemampuan-Nya untuk melakukan mukjizat.

Pendekatan yang mencari “tips” untuk mengalahkan pencobaan sudah mengerdilkan dosa menjadi semacam kecolongan saja. Seakan-akan kita kurang lebih sanggup untuk mengalahkan dosa dengan kuasa sendiri, dan hanya butuh “tips” dari Sang Guru untuk menolong kita. Tetapi dalam hal inipun, Yesus adalah Juruselamat. Sudah ada satu Manusia yang setia sampai kesudahannya, dan kita diberi Roh-Nya supaya kita ikut dalam jejak-Nya, dengan pengampunan dalam darah-Nya ketika kita jatuh.

Namun, jika kita memahami Yesus sekadar sebagai Mesias yang berkuasa (mampu memulihkan penyakit dan menaikkan pangkat), kita tidak akan menemukan kuasa untuk mengalahkan pencobaan. Masalah pertama ialah bahwa sebagian besar pencobaan tidak akan dikenali sebagai pencobaan. Kalau ditawarkan “tempat basah”, kita akan menganggap itu berkat Tuhan; kalau merasa nyaman atau asyik, hal itu sudah menjadi bukti bahwa Tuhan berkenan; apa yang dikejar orang banyak—vox populi—akan kita anggap sebagai vox Dei—suara Tuhan sendiri. Karena kita tidak mengerti artian ketaatan sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus, dan tidak menangkap misi-Nya, kita memiliki konsep dosa dan kebenaran yang kerdil.

Masalah kedua ialah bahwa Yesus yang berjaya atas pencobaan tidak dapat dipisahkan dari Yesus yang rendah hati, percaya kepada perlindungan Tuhan, dan ngotot menyembah Allah saja. Ada yang “bertobat” dalam artian menyesal terhadap tindakan atau sikap tertentu, tetapi tidak mau mengubah arah hidup supaya sesuai dengan Yesus yang memikul salib. Roh Kristus membantu kita untuk berbalik kepada Tuhan, bukan sekadar mengatasi kelemahan karakter yang mengganggu.


Yoel 2:1-2,12-17 Bertobat karena anugerah [2 Mar 2014] (Minggu sengsara I – Hari Doa Sedunia Anak)

Februari 26, 2014

Dalam penggalian perikop ini, ternyata menjadi sangat berguna untuk menelusuri bahan yang dirujuk nabi Yoel, yaitu tentang Musa dan Allah setelah pembuatan anak lembu emas. Karena Allah itu tetap sama, maka pengalaman yang sebelumnya menjadi bekal umat-Nya untuk memahami Dia sekarang.

Penggalian Teks

Kitab Yoel menarik, karena tidak ada petunjuk tentang penarikhannya, dan bahkan ada yang menganggap bahwa hama belalang yang diceritakan di dalamnya sebenarnya adalah kiasan untuk tentara asing. Hal itu menarik karena penerapan dari perikop kita tidak bergantung pada informasi terperinci tentang konteks historis itu. Kitab Yoel dilestarikan sebagai kitab suci Israel dan gereja tanpa informasi historis yang jelas. Yang pokok ialah cara Israel menghadapi bencana besar yang mengancam kelanjutan hidup mereka.

Pasal 1 sudah memberi gambaran tentang bencana itu, disertai seruan dalam 1:13–14 untuk merendahkan diri dan berpuasa. Dalam 1:19, Yoel sendiri berdoa. 2:1–2 mengumumkan kedatangan bencana itu. Perhatikan bahwa kekudusan Sion tidak menjamin bahwa bencana tidak akan terjadi, sebaliknya, bencana itu adalah “hari Tuhan”, pekerjaan Tuhan sendiri (1, 11). A.2 mau menegaskan dahsyatnya hari itu, yang digambarkan kemudian dalam aa.3–11. Seperti kata penulis kitab Ibrani, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup” (Ibr 10:31).

Aa.12–17 menceritakan tanggapan yang diharapkan dari Israel. Intinya “berbalik”—Israel sedang menjauh dari Tuhan, dan harus berubah haluan untuk kembali kepada Tuhan. Kata “berbalik” diucapkan di awal a.12 dan di tengah a.13, sehingga di antaranya kita melihat isi atau cara berbalik itu. Ada penekanan pada hati yang merasa hancur: berbalik kepada Tuhan hanya dapat disertai oleh puasa dan tangisan (12b), dan semestinya yang koyak bukan pakaian melainkan hati (13a). Kesadaran tentang dosa semestinya di sini bukan membawa rasa malu di depan sesama melainkan rasa duka di depan Allah.

Rasa duka itu berasal dari kesadaran akan sifat dan karya Allah (13b). Yoel kurang lebih mengutip dari penyataan Allah di hadapan Musa dalam Kel 34:6. Pada saat itu, Israel telah membalas anugerah keselamatan Allah bagi mereka dengan membuat berhala anak lembu emas (Keluaran 32). Setelah Musa berdoa supaya Israel tidak dimusnahkan, Allah menyatakan diri kepadanya: “pengasih dan penyayang” merujuk pada perasaan Allah bagi manusia yang tidak berdaya; “panjang sabar” (lambat marah) memberi peluang waktu untuk bertobat; “berlimpah kasih setia” merujuk pada perjanjian Allah dengan Israel yang terhadapnya Allah setia sekalipun Israel tidak.

Sifat-sifat itu menunjukkan mengapa dosa itu semestinya mendukakan, dan juga menjadi landasan untuk yang terakhir, yaitu pernyataan bahwa Allah “menyesal [nikham] karena hukuman-Nya”. Maksudnya, “mengubah keputusan untuk menghukum”. Kata nikham itu dipakai dalam Kel 32:12, tempat Musa meyakinkan Allah untuk tidak memusnahkan Israel karena anak lembu emas itu. Alasan Allah untuk memusnahkan Israel jelas: mereka dengan cepat telah mengingkari perjanjian-Nya dan menunjukkan sifat yang sepertinya tidak ada harapan lagi (Kej 32:9–10). Tetapi Musa mengajukan dua alasan untuk Allah tidak melakukan hal itu. Yang pertama, dengan menyelamatkan Israel dari Mesir, nama Allah terikat dengan nasib Israel (Kel 32:11–12). Yang kedua, Israel menjadi penggenapan janji Allah kepada Abraham dsb. tentang keturunan dan negeri (Kej 32:13). Jadi, ketika Allah “menyesal” dalam Kel 32:14, bukannya Dia terbawa oleh perasaan, melainkan adanya Musa yang menangkap kepentingan Allah membuat kedua alasan itu menjadi lebih kuat daripada alasan untuk murka. Allah bertindak atas dasar janji kepada Abraham itu, yang sudah diteguhkan dalam penyelamatan Israel dari Mesir.

Dengan demikian, pertobatan dengan “segenap hati” bukan soal seseorang berhasil mengeluarkan dari hatinya semua keinginan untuk berdosa. “Segenap hati” merujuk pada penangkapan sifat dan rencana Allah. Sejauh Israel menangkap bahwa Allah melibatkan mereka dalam rencana-Nya, dengan sudah menyelamatkan mereka demi kemuliaan nama-Nya, mereka akan berduka atas dosanya dan akan yakin akan penerimaan Allah ketika mereka berbalik kepada-Nya. Hal itu dapat kita lihat dalam a.14, bahwa jika Israel berbalik, Tuhan juga dapat berbalik dan memberkati supaya ibadah yang memuliakan nama-Nya dapat diberlakukan kembali. Allah akan bertindak karena kepentingan-Nya diakui oleh Israel, seperti yang pernah dilakukan oleh Musa. Makanya, kembali ada pengumuman, tetapi kali ini untuk puasa dalam perkumpulan raya (15), yang melibatkan seluruh rakyat, bahkan pengantin (16), di mana bangsa Israel akan mengajukan doa yang mirip dengan doa Musa, yaitu bahwa nama Tuhan sudah terikat dengan Israel sebagai milik-Nya (17). Doa mereka akan pemulihan menjadi doa supaya nama Allah dimuliakan dalam kehidupan mereka.

Mulai 2:18, Yoel menceritakan tanggapan Allah, yang ternyata mendengarkan seruan umat-Nya dan menjanjikan berkat kembali. Pemulihan itu meluas menjadi janji akan pencurahan Roh (2:28–32) dan peperangan terakhir antara Allah dengan musuh-musuh-Nya (p.3).

Maksud bagi Pembaca

Atas dasar sifat Allah yang sudah terbukti dalam keselamatan umat-Nya, Allah menyuruh umat-Nya untuk berbalik kepada-Nya dengan kerendahan hati supaya pemulihan dapat mengalir kembali.

Makna

Tidak biasa saya mengomentari bahan Membangun Jemaat, tetapi minggu ini kita bisa melihat sesuatu yang bagi saya sangat penting untuk kesehatan gereja. Pokok bahasan sangat tepat, “Supaya jemaat memahami bahwa pendamaian dalam Yesus Kristus menjadi dasar pertobatan yang memuliakan Allah bukan untuk memuliakan diri”. Sebaliknya, pembimbing ke dalam perikop membahas pertobatan dari segi manusia dengan baik dan lengkap, tetapi sama sekali tidak merujuk pada karya Allah. Dengan demikian, pertobatan menjadi usaha manusia belaka.

Maksud saya begini. Dikatakan bahwa kita semestinya mengintrospeksi diri, seakan-akan kita sanggup untuk mengenali dosa dalam diri sendiri. Tentu, ada yang dapat dikenali, tetapi ukuran kita pasti dangkal—kurang lebih, sikap tertentu diukur hanya oleh akibatnya dalam berelasi. Hanya dengan memandang salib maka saya mulai menangkap betapa buruknya dosa—karena hanya dengan cara salib itu ternyata dosa dapat dipulihkan.

Kemudian, dikatakan bahwa pertobatan harus dilakukan dengan tulus, yang diartikan sebagai niat untuk tidak mengulang dosa itu. Seakan-akan, saya sekarang dapat mengetahui, bahkan mengendalikan, hati saya besok atau lusa. Makanya, banyak orang tidak merasa “berhasil” dalam pertobatan, karena mereka tahu bahwa unsur dosa itu tetap ada dalam hatinya, dan kemungkinan besar akan menggigit kembali. Berdasarkan penggalian teks tadi, saya mengusulkan bahwa ketulusan merujuk pada keyakinan akan janji dan karya Allah, bukan keyakinan bahwa saya telah membereskan hati saya. Yang menurunkan daya tarik dosa bukan niat saya yang dipura-purakan, melainkan makin mengenal Allah sehingga makin berduka atas dosa. Yang tadinya dianggap asyik, sekarang makin terasa jijik.

Kemudian, bahan itu merujuk pada manusia lama dan baru, seakan-akan hal itu adalah usaha kita. Dasar dari Ef 4:24 itu Ef 2:10, bahwa kita diciptakan kembali karena mati dan bangkit bersama dengan Kristus. (Bdk. Kol 3:9–10 dalam konteks Kol 2:9–12.) Manusia baru adalah karya Kristus yang di dalamnya kita ikut serta, bukan hasil usaha sendiri. (Manusia baru juga merujuk pada kita sebagai tubuh Kristus, Ef 4:1–15.)

Sebagai contoh, satu tantangan yang cukup digemari di Eropa adalah berenang dari Perancis ke Inggris. Tidak mungkin orang akan melakukannya seorang diri. Perenang itu berenang di dalam kurungan besi yang melindunginya dari hiu. Kurungan besi itu ditarik oleh kapal kecil, di mana ada bekal makanan dan minuman, dokter dsb, artinya, apa saja yang dibutuhkan untuk menopang perjuangan itu dan menyelamatkan orangnya jika ada masalah. Bila dia berhasil, dia memang telah berhasil, dengan otot-ototnya sendiri, menyelesaikan tantangan yang berat itu. Tetapi, pada saat yang sama, dia bergantung sepenuhnya pada iringan pertolongan itu. Pertobatan memang usaha kita, tetapi kita melakukannya sepenuhnya karena sudah diselamatkan dalam Kristus, dan dikuatkan oleh Roh Kudus melalui firman dan persekutuan, dan karena ada harapan yang teguh.

Mungkin orang menganggap bahwa bertobat itu seperti perjalanan yang panjangnya beberapa kilometer saja: jika mulai capek, dorongan “semangat, semangat, semangat” akan cukup. Yoel dan PB melihat soal pertobatan jauh lebih berat, lebih seperti berenang tadi, di mana kita perlu memandang Allah terus, supaya ada kekuatan dari Dia.


Im 19:1-2, 8-18 Mempraktikkan kekudusan Allah [23 Feb 2014]

Februari 20, 2014

Penafsiran bukan soal mengulang begitu saja apa yang difirmankan, walaupun selalu harus berakar dalam teks. Penafsiran juga bukan soal menemukan kata kunci yang ditafsir secara lepas dalam konteks baru, walaupun harus menyambung dengan konteks kita. Penafsiran akan meminjam dari konteks perikop dalam kitab dan teologi Alkitab, dan juga dari pengalaman masa kini, untuk memahami apa yang mau disampaikan Allah kepada kita sekarang. Makanya, penafsiran di bawah berbicara tentang kitab Imamat, dan juga memaknai ulang bagian-bagian di dalam perikop.

Penggalian Teks

Sebagian besar Kitab Imamat disampaikan sebagai serangkaian firman Tuhan kepada Musa untuk diteruskan kepada Israel, seperti dalam aa.1–2a dalam perikop kita. Kemudian, ada tuntutan untuk kudus (2b), sama seperti Im 11:44–45 dan Im 20:26, dengan kekudusan umat Israel secara tersurat dihubungkan dengan kekudusan Allah. Kekudusan sudah diajarkan kepada Israel dalam kitab Keluaran dengan dua cara. Yang pertama, pada gunung Sinai ada tiga tingkat kekudusan. Allah berada di puncaknya, dan hanya Musa bisa naik ke sana, tetapi ada kelompok (termasuk ketujuhpuluh tua-tua) yang boleh naik ke tempat yang masih di atas kaki gunung, sedangkan umat biasa hanya boleh berada di kaki gunung (Kel 24:1–2). Kemudian, karena gunung Sinai hanya ada di satu tempat, kekudusannya dipindahkan ke Kemah Suci yang dapat bergerak bersama dengan Israel. Kemah Suci juga dibagi tiga: pelataran untuk umat biasa, tempat kudus untuk para imam, dan tempat yang mahakudus untuk imam besar. Ketiga tingkat juga dilihat dalam soal kenajisan: manusia, binatang dan makanan bisa najis, tahir dan kudus. Yang najis merupakan noda yang tidak boleh bersentuhan dengan yang kudus. Makanya, barang yang najis tidak boleh masuk ke dalam Kemah Suci, dan orang yang najis bisa disuruh keluar dari perkemahan supaya tidak menajiskan orang lain (misalnya, orang kusta dalam Im 13:46).

Sistem ini tidak hanya mengajarkan Israel tentang kekudusan Allah, tetapi juga tentang kekudusan umat Allah yang berkaitan dengan kekudusan Allah dalam ketiga tingkat itu. Israel hanya dapat berkemah di sekitar Kemah Suci karena Israel telah dipilih Allah dan dikuduskan-Nya, tetapi kekudusan itu harus dipelihara. Jadi, sistem kekudusan ini membangun dan menerapkan suatu identitas sebagai bangsa yang kudus. Identitas itu berakar dalam Tuhan, makanya, refrain “Akulah Tuhan, Allahmu” atau yang sejenisnya terdengar delapan kali.

Aa.3–8 berbicara tentang kekudusan di hadapan Tuhan. Ibu dan ayah adalah cara Allah menciptakan anak-anak, yang merujuk pada hari keenam penciptaan, sementara hari Sabat merayakan penyelesaian penciptaan itu pada hari ketujuh. Menyegani (terjemahan halus untuk “takut”; bdk. Kel 14:31 tentang Allah) orangtua dan memelihara Sabat adalah dua kebiasaan yang membangun identitas Israel sebagai bangsa yang kudus. Sebaliknya, tentu, pemberhalaan merusak identitas itu (4). Aa.5–8 menegaskan pentingya memakan kurban keselamatan di dalam dua hari. Kurban keselamatan adalah satu-satunya kurban yang dimakan oleh keluarga yang mempersembahkannya, yang lain dimakan oleh imam atau dibakar habis (bdk. Imamat 6–7). Mungkin peraturan ini bermaksud untuk mengurangi kemungkinan bahwa nilai syukur kepada Tuhan (7:12) dibelokkan oleh nafsu untuk makan daging terus.

Dengan demikian, aa.9–18 juga dapat dilihat sebagai kebiasaan-kebiasaan yang akan menerapkan kekudusan Tuhan dengan sesama, dalam lima kelompok dua ayat yang masing-masing berakhir dengan “Akulah Tuhan”. Karena Allah peduli terhadap orang miskin (seperti Israel di Mesir), maka kebiasaan dalam aa.9–10 menjadi cara untuk menerapkan sikap yang sama dalam konteks kehidupan Israel. A.11–12 menyangkut cara-cara halus untuk merugikan sesama yang sederajat atau di atas dengan penipuan, sementara Allah berbicara jujur kepada Israel untuk kebaikan mereka. Aa.13–14 menyangkut cara-cara untuk merugikan sesama yang lebih rendah kedudukannya, cara-cara yang lupa bahwa Allah ada di atas semuanya. Aa.15–16 menyangkut reputasi orang sebagai orang benar atau penjahat, yang semestinya ditentukan oleh proses pengadilan yang benar. Proses itu bisa dibelokkan oleh keberpihakan baik kepada orang lemah maupun kepada orang besar (15), dan fitnah serta teror merupakan cara mengadili tanpa proses (16). Dari ketidakadilan orang Mesir, Allah telah menyelamatkan mereka, sehingga Dia menuntut keadilan antara seorang terhadap yang lain. Akhirnya, keempat kelompok tadi disimpulkan dalam hukum kasih; masalah semestinya diselesaikan dengan keterusterangan, bukan dengan dendam. Balas dendam atau kebencian biasa menjadi pembenaran diri untuk kepelitan, penipuan, penindasan dan perusakan citra tadi. Allah yang telah mengasihi Israel menuntut kasih kepada sesama.

Maksud bagi Pembaca

Kepada umat yang karena anugerah belaka mendapat bagian dalam kekudusan Allah, Allah menyampaikan kebiasaan-kebiasaan hidup seperti apa yang akan mencerminkan dan meneguhkan kekudusan-Nya dalam diri kita.

Makna

Setelah menguraikan karya Kristus sebagai landasan identitas jemaat (1 Pet 1:1–9), Petrus mengangkat Im 19:2 ini sebagai seruan yang masih berlaku (1 Pet 1:13–16) bagi jemaat yang mewarisi janji-janji Allah (1 Pet 1:10–12). Kita disebut “orang-orang kudus” dalam PB, bukan karena keberhasilan kita, tetapi karena kita berada di dalam Kristus, yang adalah kekudusan kita (1 Kor 1:30). Berdasarkan ajaran Yesus tentang kemunafikan, PB banyak berbicara tentang motivasi dalam hidup, dan budaya modern begitu menekankan motivasi sehingga tindakan hampir-hampir menjadi pelengkap saja. Tetapi, Paulus menekankan tubuh sebagai tempat penyerahan diri kepada Allah (Rom 6:12–13; 12:1–2) dan tempat perjuangan rohani melawan dosa (Rom 6:6; 7:5, 23).

Makanya, saya tidak hanya menggali “prinsip etis” di atas (kepelitan, penipuan, dsb), tetapi saya juga coba menunjukkan bagaimana peraturan-peraturan ini mau menanamkan prinsip-prinsip etis itu melalui kebiasaan-kebiasaan, sehingga diketahui bukan hanya dalam pikiran tetapi juga dalam tubuh tempat orang bertindak dan berelasi dengan sesama. Jadi, bagi saya, tidak cukup menjelaskan bahwa “kepelitan” (jika istilah itu dianggap paling tepat untuk aa.9–10) dikecam, tetapi perlu juga mengusulkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempraktikkan kemurahan Kristus kepada kita, sehingga kemurahan hati dihayati dalam tubuh tempat orang bertindak dan berelasi dengan sesama, dan bukan hanya dipikirkan sebagai prinsip dalam pikiran. Terus, bagaimana integritas Kristus perlu dipraktikkan di dalam jemaat (11–12), serta penghargaan-Nya kepada yang lemah (13–14), pembenaran-Nya yang membuat kita semua setara sebagai orang-orang berdosa yang telah diampuni (15–16), dan kasih-Nya bahkan kepada musuh-musuh-Nya (17–18).

Kekudusan Allah yang kita simak di dalam diri Anak-Nya Yesus Kristus itu bukan hanya tuntutan, tetapi juga suatu visi hidup. Makin kita tertarik dengan Allah, makin kita akan bersyukur bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kita sebagai individu maupun jemaat supaya kita bisa berbagian dalam kekudusan itu.


Ul 30:15-20 Pilihlah Hidup Mengasihi Allah [16 Feb 2014]

Februari 11, 2014

Dari satu segi, perikop ini jelas dan pesannya gamblang. Jadi, perlu digali di mana pesan itu bergesekan dengan kehidupan jemaat. Usul saya (tentang sikap yang plin-plan) belum tentu cocok di semua tempat, tetapi semoga membantu Pembaca untuk menggali lebih dalam.

Penggalian Teks

Dalam penguraian ini saya menjelaskan mengapa “perintah” dalam 30:12–14 ditafsirkan sebagai Injil oleh Paulus. Ayat-ayat ini mau mengatakan bahwa kesulitan manusia untuk taat terletak dalam hati manusia, bukan dalam perintah Allah. Paulus melihat bahwa janji akan penyunatan hati dalam 30:6 yang memampukan ketaatan telah digenapi dalam kematian Kristus yang di dalamnya kita berbagian melalui iman (Rom 6:1–14; diuraikan di sini). Jadi, penawaran hidup dan mati yang disampaikan dalam perikop kita menyangkut respons kita terhadap Injil. Pada renungan tadi, aa.15–20 hanya dilihat sepintas lalu; kali ini kita akan memberi perhatian yang lebih dalam.

Jika tema perikop ini ada dalam PB, perikop kita menawarkan gambaran yang konkret tentang maknanya. Israel ada di tanah Moab di sebelah Timur dari tanah perjanjian, dengan langkah berikutnya “menyeberangi Yordan untuk mendudukinya” (16). Artinya, tujuan itu akan tercapai melalui perjuangan yang berat. Tanah perjanjian itu sejajar dengan taman Eden, sebagai tempat untuk menikmati kehidupan yang sejati dengan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan. Dalam PB, dari satu segi, tanah perjanjian adalah seluruh bumi, yaitu, dunia yang baru ketika Kristus datang kembali untuk memperbaharui segala sesuatu. Dunia itu akan dicapai juga melalui perjuangan yang berat, tetapi bukan melawan darah dan daging melainkan melawan penguasa-penguasa (Ef 6:12). Tetapi dari segi yang lain, tanah perjanjian itu adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29; Gal 2:20) karena hidup dalam Roh Kudus (Gal 3:14; Gal 5:24–25) yang merupakan jaminan akan dunia mendatang itu (Ef 1:13–14). Perjuangan Israel tidak selesai dengan tanah Kanaan diperebutkan; perjuangan melawan pemberhalaan malah lebih menantang. Selama kita mengingat bahwa berkat Allah bagi kita pertama-tama merupakan berkat rohani (Ef 1:3), kita dapat membaca perikop ini sebagai firman yang langsung ditujukan kepada kita.

Ada dua kemungkinan yang dipaparkan kepada Israel dan kepada kita: kehidupan dan kematian (15). Kedua hal itu dijelaskan sebagai “keberuntungan” dan “kecelakaan”. Kedua kata itu memiliki makna yang menyeluruh: tob, “kebaikan”, mencakup semua maksud baik yang untuknya Tuhan menciptakan dunia yang baik; ra’, “kejahatan/keburukan”, mencakup semua yang berbau kekacauan dan kebusukan. Pilihan umat Allah akan bermuara pada salah satu dari kedua kemungkinan ini.

Kedua kemungkinan itu adalah ujung dari dua sikap terhadap Allah, yang digambarkan dalam aa.16–18. Sikap yang semestinya, yang diperintahkan oleh Allah, ialah mengasihi-Nya (16). Sikap itu diwujudnyatakan dengan ketaatan yang dijabarkan dalam dua hal. Yang pertama ialah arah atau tujuan hidup: “jalan yang ditunjukkan-Nya”. Kasih kepada Allah bukan pertama-tama perasaan yang menggebu-gebu, tetapi semacam solidaritas dengan Allah: apa yang penting bagi Allah menjadi penting bagi kita. Yang penting bagi Allah termasuk adanya umat yang memuliakan-Nya karena menikmati berkat-Nya. Mengasihi Allah berarti bahwa berkat yang Dia tawarkan yang dikejar. Yang kedua ialah cara hidup: “berpegang pada perintah dsb”. Ketaatan kepada ketetapan Allah menunjukkan bahwa kita mengasihi-Nya dalam artian kita percaya bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Sebagai yang terbaik, cara hidup itu akan membawa berkat. Jadi, ketaatan bukan hanya cara menghayati kasih kepada Allah, melainkan juga cara untuk menikmati berkat-berkat yang Dia janjikan.

Kebalikan dari mengasihi Allah ialah ketulian yang disengaja terhadap firman-Nya supaya ilah yang tawarannya dianggap lebih menarik bisa diikuti (17). Sikap ini mulai dengan hati yang berpaling dari Allah, kemudian firman-Nya dianggap menjenuhkan atau mengganggu, kemudian bukan jalan Tuhan yang diikuti, sehingga akhirnya jelas bahwa ilah yang lain yang dipercayai. Dengan demikian, tanah pemberian Allah tidak akan dinikmati (18). Hal itu adalah hukuman dari Allah, tetapi sebagai akibat yang melekat pada pilihan itu: inti kenikmatan tanah pemberian Allah itu ialah persekutuan dengan Allah, sehingga kalau hal itu ditinggalkan, tanah itu menjadi tempat kutuk.

Aa.19–20 menegaskan maksud dari aa.15–18, dengan memanggil langit dan bumi sebagai saksi (18), dan mengangkat janji Tuhan kepada Abraham (19). Mereka harus memilih, tetapi pilihan itu tidak sembarang saja, seperti pemilihan merek “hp”. Mereka diperintah untuk memilih kehidupan sebagai ujung dari kasih kepada Allah yang mendengarkan suara-Nya dan taat. Dan perlu ditegaskan, Allah tidak pertama-tama bertindak karena umat-Nya, tetapi demi nama-Nya: Dia telah bersumpah kepada nenek moyang Israel (dan kita dalam iman), sehingga keberkatan Israel menjadi kepentingan Allah sendiri. Manusia bukan pokok utama; Allah adalah pokok utama. Dia menawarkan kehidupan karena anugerah-Nya, bukan karena kita penting dan layak.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau kita dengan tegas memilih kehidupan dengan jalan mengasihi Dia dalam ketaatan. Tentu, ada sedikit orang yang dengan tegas memilih kematian, tetapi banyak yang tidak memilih dengan tegas, ragu-ragu dalam sikap dan keputusan. Makanya, mereka hidup dalam kegelisahan dalam relasi dengan sesama, Allah, bahkan dengan diri sendiri, dan Tuhan jadi tidak dimuliakan dalam kehidupan mereka.

Makna

Dengan penawaran yang hanya dua—kehidupan atau kematian—Allah menuntut kejelasan dalam diri umat-Nya, atau dengan kata lain, integritas. Sikap kepada Allah, cara hidup, dan keberkatan adalah tiga hal yang tak terpisahkan. Mencari berkat atau pertolongan dari Tuhan tanpa mencari pedoman hidup dari Tuhan adalah rancu. Tetapi tentu, kita tidak akan mencari pedoman hidup dari Tuhan kecuali kita sudah yakin akan kebaikan-Nya kepada kita. Kita meragukan kebaikan-Nya, karena kita mengukur keberuntungan itu menurut kehendak sendiri, bukan dengan patokan firman-Nya, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Kita memasang sesuatu yang lain—gengsi, uang, kenikmatan—yang kemudian menjadi berhala yang mengendalikan kita. Tentu saja, berhala-berhala itu membawa kita kepada kecelakaan, bukan kehidupan yang sejati.

Hal-hal itu bisa dilihat dalam doa yang egosentris (mau ditolong Allah tetapi tidak mau berubah), tuntutan pelayanan yang pendetasentris (bukan Kristus yang penting melainkan jabatan pendeta), atau diri orang yang cepat mempersalahkan sesama dan Allah tanpa mau menilai dirinya dengan ukuran firman Tuhan. Tidak ada kasih kepada Allah dalam sikap-sikap itu, dan tidak ada berkat.

Konteks pembacaan kita adalah ketidakmampuan Israel sebagai bangsa untuk sungguh mengasihi Allah, tetapi Injil memberi solusinya. Bagaimana? Oleh Roh Kudus, kasih Allah dalam Kristus telah dicurahkan ke dalam hati kita sehingga kita mulai mengasihi Allah karena anugerah-Nya, bukan karena ada sesuatu yang diharapkan (Rom 5:5–8). Kemudian, dengan hidup oleh Roh Kudus, kita menggenapi hukum Taurat karena hidup dalam kasih (Gal 5:14, 22–23), dan menikmati buah Roh Kudus (Gal 5:22–23). Memang, tidak semua orang menganggap bahwa hidup yang diwarnai oleh kasih, sukacita, damai sejahtera, dan buah Roh lainnya adalah hidup yang keberkatan. Tetapi justru dengan demikian kita menjadi serupa dengan Kristus, dan mulai menikmati kehidupan surgawi di tengah kesusahan dunia ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.