Kis 2:14-21 “Penggenapan janji Roh Kudus” (27 Mei 2012; Pentakosta/Hari Lansia)

Mei 24, 2012

Peristiwa pencurahan Roh Kudus merupakan kejadian yang pokok dalam identitas gereja. Namun, maksudnya hanya dapat dilihat dengan tajam jika kita memperhatikan konteks dalam alur cerita Kisah Para Rasul, di mana Yesus telah menjelaskan maksud dari peristiwa itu.

Penggalian Teks

Yesus telah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka akan menjadi bagian dari umat Kristus dengan “dibaptis” dengan Roh Kudus (1:5), sehingga mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi (1:8). Roh disebut sebagai janji Allah, sesuatu yang menjadi jelas dalam nubuatan Yoel yang dikutip Petrus dalam perikop kita. Penggenapan janji itu ditandai dengan para murid Yesus berbicara dalam berbagai bahasa (2:4). Dua tanggapan disebutkan: sebagian tercengang-cengang (2:12), dan sebagian menyindir (2:13), sesuatu yang terjadi dalam pelayanan Yesus, dan juga lazim terhadap orang-orang benar dalam PL. Khotbah Petrus mulai dengan menanggapi sindiran itu (aa.14-15), tetapi pada dasarnya khotbahnya merupakan awal dari kesaksian para murid, dengan kuasa Roh Kudus. Dalam konteks seluruh khotbah Petrus, pencurahan Roh Kudus bukan pertama-tama tentang Roh Kudus melainkan tentang Yesus yang mencurahkan-Nya, bukti bahwa Dia telah ditinggikan (dinaikkan) oleh Allah Bapa (2:33), sehingga “seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (a.36) Nubuatan dari Yoel menjadi dasar untuk kedua hal yang ditawarkan kepada pendengar Petrus jika mereka bertobat. Yang pertama, mereka akan diampuni dalam nama Yesus (2:38), Tuhan itu, karena “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (a.21). Yang kedua, mereka akan diberi karunia Roh Kudus (2:38). Karunia itu yang diuraikan dalam aa.17-20.

Kitab Yoel berbicara tentang tulah belalang yang melanda Israel (Yoel 1:2-2:17), dan keselamatan yang menyusul setelah Israel bertobat (Yoel 2:12-27). Nubuatan itu berlanjut, “Kemudian dari pada itu” (Yoel 2:28), dan dalam ayat-ayat berikut menjadi jelas bahwa dia berbicara tentang akhir zaman, tindakan menentukan dari Allah demi keselamatan umat-Nya. Makanya, Lukas menafsir nubuat itu sebagai ucapan tentang “hari-hari terakhir”. Yesus telah bangkit, zaman baru sudah mulai, disertai penggenapan janji pencurahan Roh Allah atas “semua manusia”, tanpa membeda-bedakan orang (a.17), baik dari segi jenis kelamin, maupun dari segi usia. Dalam a.18a “hamba” juga disebut. Yoel sepertinya berbicara tentang hamba secara harfiah, karena kata yang dipakai untuk hamba perempuan tidak pernah dipakai dalam kaitan dengan Tuhan. Tetapi, Lukas menambahkan “-Ku” pada kata hamba, untuk menempatkan penerima-penerima Roh sebagai hamba Tuhan. (Gereja perdana tidak menghilangkan makna harfiah itu, karena jelas para hamba memiliki status yang sama di dalam Kristus, bdk. Gal 3:28.)

Pencurahan Roh berarti semua menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Nubuatan membawa firman Tuhan untuk menerangi sesuatu dari perspektif Tuhan. Intinya bukan ramalan tetapi penyingkapan, entah itu dosa yang disembunyikan, entah itu harapan yang tidak kelihatan. Lukas menekankan aspek itu dengan mengulang “mereka akan bernubuat” pada akhir a.18. Kedua istilah lagi tidak jauh beda maksudnya. Penglihatan sering dikaitkan dengan nubuatan dalam PL (misalnya, 1 Sam 3:1; 2 Sam 7:17), karena biasanya Allah berbicara di dalam penglihatan itu (Mzm 89:20). Sedangkan mimpi seringkali harus ditafsir untuk memahami maknanya (Kej 28:11; 40:8; 41:8; Hak 7:15, tetapi mimpi Salomo mengikuti pola penglihatan, 1 Ki 3:15). Dengan berbagai cara ini, semua orang dapat menjadi saluran penyataan dari Allah.

Kedahsyatan kejadian ini disampaikan dalam aa.19-20, yang merupakan bahasa simbolis tentang kedahsyatan kedatangan hari Tuhan itu. Hal itu tidak menutup kemungkinan akan terjadinya berbagai tanda fisik, misalnya, matahari menjadi gelap ketika Yesus mati pada salib (satu bagian penting dari kedatangan hari Tuhan). Tetapi, pada hari Pentakosta, tanda yang ajaib itu adanya berbagai bahasa yang diucapkan, bukan matahari dsb. Namun, Petrus tetap melihat bahwa nubuatan ini digenapi pada hari itu juga.

Maksud bagi Pembaca

Petrus, serta Lukas yang menyampaikan pemberitaannya, mau meyakinkan kita bahwa zaman baru telah datang, sehingga siapapun kita, dapat menerima Kristus serta karunia Roh Kudus. Dengan demikian, kita akan menjadi bagian dari tubuh Kristus dan akan dimampukan menjadi saksi Kristus dan terlibat dalam misi Allah sampai di ujung bumi.

Makna

Fungsi pokok Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul ialah pemberitaan Kristus sebagai Tuhan. Hal itu muncul-muncul dalam penceritaan Lukas, seperti 4:8, “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus”, 4:31 “mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”, dan 6:10 “Roh yang mendorong dia [Stefanus] berbicara”. Cara mereka berkhotbah mirip dengan para nabi, dengan menyingkapkan dosa dan menawarkan keselamatan yang tidak kelihatan. Mungkin juga kita bisa mengaitkan penglihatan dan mimpi dengan orang-orang dalam sejarah gereja yang memajukan kesaksian tentang Kristus karena melihat hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Tetapi hasil pemberitaan itu juga adalah jemaat (2:42-47). Di dalam jemaat itu, selain pengajaran yang membagikan pengajaran rasul-rasul (2:42), setiap anggota, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bisa menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Penyataan itu harus dibedakan dari pengajaran rasul-rasul, yang tertuang dalam PB dan merupakan dasar kepercayaan kita. Tetapi bila peran Roh Kudus dalam diri setiap anggota jemaat diabaikan, hasilnya bisa gereja yang pelayan-sentris, di mana hikmat untuk bertindak dalam persekutuan dan pemberitaan dianggap hanya ada pada golongan tertentu. Akibatnya, hanya pelayan yang bersaksi tentang Kristus, jemaat awam tidak tahu-menahu (padahal, jemaat awam banyak bergaul dengan orang yang belum mengenal Kristus); hanya pelayan yang menguatkan jemaat, jemaat awam tidak diberdayakan (padahal, jemaat yang selalu hadir saling menemani).


Yes 32:15-20 Hasil dari pencurahan Roh Allah (20 Mei 2012)

Mei 19, 2012

Perikop ini berbicara tentang suatu harapan, dan beberapa nilai yang penting di tengah harapan itu. Jika cara saya menerangi hubungan antara kedua hal itu belum jelas, saya berharap Pembaca dapat menemukan cara yang lebih tepat (silakan dibagikan dalam komentar). Tetapi pemberitaan kita akan kurang jika salah satu unsur itu hilang.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang berbicara tentang hukuman atas Israel, dilihat dari perspektif perempuan-perempuan yang hanya melihat ketenteraman di sekitarnya (32:9-14). Kota-kota tempat bergirang-girang akan menjadi kegirangan keledai hutan (32:13-14). Kemungkinan, peristiwa yang dirujuk di sini adalah penyerangan Sanherib pada tahun 701 SM, yang mengalahkan semua kota di Yudea kecuali Yerusalem (36:1). Meskipun Tuhan meluputkan Yerusalem, seperti telah disinggung dalam p.31 dan diceritakan secara terperinci dalam pp.36-37), akibatnya tetap berat. Perempuan-perempuan itu menganggap ada damai, tetapi kedamaian itu semu.

Mulai a.15, ada nubuatan tentang serangkaian peristiwa yang akan mengakhiri hukuman Allah (“sampai”) dan akan membawa damai yang sejati. Yang pertama ialah Roh dari atas, yang membawa pembaruan alam (a.15). Hal itu diiringi kebenaran dan keadilan (a.16, kedua hal itu dikaitkan dengan pembaruan pimpinan dalam 36:1), yang akan membawa damai sejahtera yang sejati (a.17) untuk seluruh umat Allah (a.18). Pemulihan alam dan pemulihan manusia berpadu untuk menciptakan damai sejahtera.

Kedua ayat berikut kurang jelas, tetapi mungkin terjemahan NIV yang cocok: “(19) Walaupun hutan akan runtuh dsb (20) namun berbahagialah kamu dsb”, artinya, di balik musibah yang akan terjadi di bawah Sanherib, Tuhan akan memberi Israel kelegaan. A.20 dapat dilihat sebagai keadaan yang bebas bahaya.

Maksud bagi Pembaca

Yesaya mau supaya Israel memahami sifat ketenteraman yang sejati, yaitu damai sejahtera (keadilan dan kebenaran serta pemulihan alam) yang disebabkan oleh karya Allah yang mencurahkan Roh-Nya.

Makna

Dalam PB, kedatangan Roh Kudus menjadi tanda bahwa zaman baru, yaitu, zaman keselamatan, sudah mulai. Tentu, tidak semua yang dijanjikan dalam perikop ini digenapi sekaligus. Pemulihan alam masih menunggu kebangkitan anak-anak Allah (Rom 8:21). Tetapi, pemulihan umat sudah mulai. Walaupun istilahnya tidak persis sama dalam bahasa aslinya, Ef 5:9 menyebutkan kebenaran dan keadilan sebagai buah terang, ciri jemaat yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef 1:13; Ef 4:30). Dalam harapan akan dunia baru (karena Roh Kudus adalah jaminan akan seluruhnya, Ef 1:14), kita hidup sekarang menurut dunia mendatang itu, yakni, dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian ada damai sejahtera, yang dicicipi sekarang di dalam jemaat, dan yang akan dialami secara tuntas dalam dunia baru.

Sebagian orang tidak jauh dari perempuan-perempuan itu, terlalu puas karena tidak ada masalah yang besar, walaupun belum ada kebenaran yang jelas. Sebagian orang lain sadar akan kurangnya keadilan dan kebenaran, dan dapat melihat bahwa hal itu berdampak negatif pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat. Namun, orang-orang itu menunggu “mereka” (pemerintah, pimipinan gereja, entah siapa lagi) untuk memperbaiki masalah itu, baru orang-orang itu akan berani ikut berlaku benar dan adil. Kondisi dunia yang belum tuntas dipulihkan menjadi dalih untuk hidup dalam kepentingan kelompok sendiri. Tetapi jika Allah sendiri telah mencurahkan Roh-Nya, zaman hidup menurut keadilan dan kebenaran ala perikop kita telah tiba. Yes 32:15-20 menggambarkan dunia baru untuk kita tangkap dengan mata iman supaya kita hidup di dalamnya.


Kis 1:6-11 “Misi Allah diteruskan” (17 Mei 2012; Kenaikan)

Mei 15, 2012

Hari-hari perayaan tahun gerejawi, seperti hari Kenaikan, adalah perwujudan keyakinan gereja bahwa dasar iman ialah Yesus Kristus. Jemaat akan menerapkan cara hidup yang baik jika mereka menangkap kemuliaan dan kebaikan misi Allah dalam diri Yesus. Namun, sebagian jemaat lebih nyaman dengan khotbah “praktis”, yang dapat menopang mereka dalam pergumulan, atau menegur tetangganya. Saya berandai-andai tentang soal itu dalam bagian makna, dengan harapan bahwa Pelayan akan dikuatkan untuk tetap menawarkan Yesus kepada jemaat, entah mereka suka atau tidak.

Penggalian Teks

Dalam kitab Yesaya, zaman baru didatangkan oleh pelayanan Hamba Tuhan yang mati dan hidup kembali (Yesaya 53), sehingga Israel dipulihkan, dan terang Allah sampai kepada bangsa-bangsa (Yes 49:6; bdk. Yes 2:2-4). Pelayanan itu diberdayakan oleh Roh Kudus atas Hamba Tuhan (Yes 61:1), bahkan atas seluruh umat Allah (Yoel 2:28-32). Makanya, Yesus sendiri dibaptis dalam Roh Kudus (Lk 3:22), dan setelah kematian dan kebangkitan Yesus sebagai Hamba Tuhan, para murid Yesus juga akan dibaptis oleh Roh Kudus untuk meneruskan pekerjaan dan pengajaran Yesus (Kis 1:1, 5).

Mengingat pemulihan Israel sebagai salah satu tugas Hamba Tuhan, dan juga nas-nas seperti Dan 7:27, pertanyaan para murid pada a.6 itu wajar. Yesus ada di depan mereka dalam keberadaan yang mulia, siap untuk mengambil alih pemerintahan Israel dan dunia. Jawaban Yesus tidak menyangkal bahwa kerajaan akan diberikan kepada Israel, tetapi ternyata jadwal Allah berbeda dengan dugaan mereka. Visi Yes 2:2-4 tentang pengajaran Allah disebarkan kepada bangsa-bangsa akan terjadi lebih dahulu, dan itupun akan dilakukan dengan cara yang berbeda. Bangsa-bangsa tidak akan berduyun-duyun ke lokasi Yerusalem, tetapi para murid akan membawa Yerusalem, yaitu hadirat, pengampunan dan pengajaran Allah, kepada bangsa-bangsa, dengan bersaksi tentang Kristus sehingga bangsa-bangsa dapat datang kepada Dia (a.8).

Setelah menjelaskan hal itu, Yesus menghilang (a.9)! Dia menghilang dengan cara yang menunjukkan bahwa Dia naik ke surga. Jika Dia berfokus pada Israel dalam pelayanan-Nya di bumi, pada tahap berikut ini, Dia akan memimpin misi Allah dari surga melalui para murid-Nya dengan perantaraan Roh Kudus. Mereka mungkin kaget (a.10), tetapi dua malaikat memberi jawaban atas pertanyaan mereka tadi. Pemulihan Israel (dan seluruh dunia) akan dituntaskan ketika Yesus datang kembali (a.11). Keberadaan Yesus di surga saat ini adalah keberadaan sementara, yaitu, sementara mereka memberi kesaksian tentang Dia kepada bangsa-bangsa sehingga mereka juga siap menyambut Dia.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau supaya para pembaca memahami (kemudian menghayati) tempat mereka dalam misi Allah untuk memulihkan Israel dan bangsa-bangsa: mereka berada antara kenaikan Yesus dan kedatangan-Nya kembali, dengan tugas untuk bersaksi tentang Dia.

Makna

Maksud di atas cukup jelas, tetapi tidak mudah dihayati oleh banyak jemaat. Para murid sudah menghabiskan tiga tahun bersama dengan Yesus, dan sudah mulai menangkap visi-Nya tentang rencana Allah bagi dunia ini. Bagi mereka, kepergian Yesus adalah sedikit seperti kepergian kakak yang sangat disayangi ke kota yang jauh untuk mencari nafkah bagi keluarga. Nafkah yang akan dikirim oleh Yesus dari surga adalah Roh Kudus, tetapi bagaimanapun juga para murid tetap rindu akan reuni kembali dengan Guru dan Kakak mereka. (Jika meragukan istilah “kakak” untuk Yesus, silakan lihat Ibr 2:11. Tentu, istilah itu melengkapi gelar seperti “Tuhan”, bukan menggantikannya.) Kemudian, nafkah itu dikirim untuk kepentingan bersama keluarga, yaitu Kerajaan Allah. Keluarga itu adalah keluarga yang selalu terbuka untuk bertambah ramai dengan menerima anggota-anggota baru. Kedatangan kembali Yesus, Kakak tercinta, sangat didambakan.

Dengan pemahaman seperti itu, perikop ini menjadi sangat praktis. Kehidupan keseharian, suka dukanya, dan arah hidup, semuanya mendapat titik tolak atau tolok ukurnya dari kebangkitan dan kedatangan kembali Kristus. Kenaikan menjadi kabar sukacita: Yesus, Tuhan kita, berada dengan Allah untuk membekali suatu tugas yang mulia dalam dunia ini. Dengan demikian, Yesus ada di pusat pemaknaan hidup kita.

Tetapi, bagaimana kalau Yesus lebih ibarat saudara sepupu tiga kali orangtua yang merantau, yang tidak terlalu dikenal tetapi bagaimanapun juga dapat diharapkan untuk membantu-bantu? Jelas, beliau akan diminta membantu kita untuk kepentingan kita, bukan kepentingan beliau. Bantuannya tentu dihargai, tetapi pribadinya tidak terlalu didambakan, lebih lagi jika bantuannya tidak dipakai pas sesuai anggapan beliau. Yesus ditempatkan di pinggir pemaknaan hidup dengan pemahaman yang demikian.

Mengkhotbahkan perikop ini dalam jemaat seperti itu akan sulit, karena mereka tidak akan mau direpotkan dengan urusan keluarga Allah, yaitu bersaksi tentang Kristus, menjangkau orang terpinggir untuk meramaikan keluarga Allah, dsb. Mereka hanya tertarik ketika pergumulan mereka langsung dibicarakan dan suatu penghiburan ditawarkan. Cinta diri tinggi, cinta kepada Yesus kurang (walaupun tentu bantuan-Nya dihargai). Makanya, kedatangan-Nya kembali justru dikhawatirkan (sehingga tidak akan banyak dipikirkan).

Barangkali, jemaat riil ada di antara kedua pola itu, antara yang ideal dengan yang palsu. Sebagai pelayan, harapan kita yang sebenarnya akan tersingkap melalui pendekatan kita: apakah kita melayani dan meneguhkan kesempitan wawasan mereka, atau kita berusaha agar semua melihat kembali Yesus yang layak disaksikan, disaksikan kepada keluarga, di tempat kerja, di tengah masyarakat, bahkan sampai ujung bumi.


Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Ul 6:1-9 “Belajar bersama keesaan Allah” (6 Mei 2012)

Mei 3, 2012

Teks ini (mudah-mudahan) lumayan terkenal, karena mengandung nas yang sentral dalam PL, yaitu aa.4-5. Kali ini, saya akan coba menafsirnya melalui lensa budaya Toraja, khususnya apa yang disebut “teologi tongkonan”, seperti ada dalam karya Th. Kobong, Injil dan Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menjadi pusat ritus-ritus keluarga besar, seperti yang terkait dengan pernikahan dan kematian. Kobong melihat Kristus sebagai pangala tondok Gereja, yaitu perintis atau cikal bakal keluarga yang berpusat di suatu tempat. Perintisan tongkonan mungkin terjadi ketika sang pangala tondok membawa keluarganya ke tempat yang baru, seperti Abraham membawa keluarganya ke Kanaan. Di situlah dia menjadi pemelihara dan penopang kehidupan keluarga (uainna ditimba [airnya ditimba] dsb), dan juga penentu adat (alukna dipoaluk [adat/agamanya dianut]), sama seperti Abraham menentukan ibadah kepada Allah serta sunat bagi keluarganya.

Penggalian Teks

Jika keluaran Israel dari Mesir dicermati, kita melihat pola yang sama. Setelah menyelamatkan mereka dari Mesir (Ul 5:6), Allah mengikat Israel menjadi satu keluarga besar/persekutuan tongkonan dengan Dia melalui perjanjian di gunung Sinai/Horeb (5:2). Dia menentukan aluk mereka (5:6-21), kemudian memelihara mereka sambil membawa mereka ke tempat baru, tanah perjanjian. Dalam perikop ini, Musa (yang ditunjuk sebagai perantara antara Israel dan Allah, karena Israel ketakutan melihat Allah, 5:23-33) sedang berbicara kepada umat Israel yang ada di pelataran Moab, di seberang sungai Yordan dari tanah yang dijanjikan Allah.

Makanya, dalam aa.1-3, Musa mengingatkan Israel tentang tujuannya, “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Ketetapan, peraturan, perintah dan kata-kata sejenisnya tidak merujuk pada suatu hukum positif, melainkan menunjukkan bagaimana Israel akan hidup dalam karapasan (kedamaian) dengan Allah di tanah perjanjian itu (aa.2-3). Karena ikatan perjanjian itu, karena Israel telah dijadikan tongkonan Allah oleh anugerah, Israel dan Allah telah menjadi senasib. Ketaatan dan kesejahteraan Israel membawa kesenangan dan kemuliaan bagi Allah sendiri. Pada saat Musa berbicara, mereka belum sampai di tanah perjanjian itu, tetapi mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan tujuan itu, bukan sesuai dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka di Moab.

Dalam aa.4-5, Musa mengingatkan Israel tentang pusat kesejahteraan mereka, yaitu Allah sendiri. Jika kita berbicara tentang masyarakat Toraja, sebenarnya ada beberapa persekutuan yang di dalamnya seseorang dapat menemukan dukungan dan kepentingan bersama, dan dalam kepercayaan lama ada juga beberapa sumber ilahi: nenek moyang, dan berbagai dewa. Bilamana kehidupan manusia bergantung pada beberapa sumber, maka kesetiaan dan kasih manusia pasti akan terbagi juga. Tetapi Allah itu tunggal, esa. Makanya, seluruh eksistensi orang Israel dituntut untuk terarah pada Dia saja. Sebagai Pangala tondok, Allah bukan sekadar penopang kehidupan, tetapi juga pusat kehidupan. Rencana dan tujuan (“hati”) disesuaikan dengan rencana dan kehendak Allah. Seluruh hayat dan hasrat (“jiwa”) dikaitkan dengan Allah. Kita rindu akan firman-Nya, suka beribadah kepada-Nya, dan ingin untuk menikmati segala pemberian yang baik sebagai anugerah daripada-Nya (Yak 1:17). Karena seluruh kehidupan kita berpusatkan Allah, seluruh tenaga dan tingkah laku (“kekuatan”) ditujukan kepada Dia.

Semuanya itu begitu pokok bagi kehidupan Israel sehingga Musa menyampaikan bebarapa langkah supaya pemahaman itu dapat membudaya (aa.6-9). Harus ada perhatian, pengajaran kepada generasi berikut, pembicaraan di mana saja, serta berbagai tanda yang dapat menjadi pengingat. Kegenapan dalam a.5 tidak akan terjadi dengan introspeksi diri, tetapi akan terwujud dalam saling mendorong.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel menikmati dan menghayati relasi dengan Tuhan di tanah perjanjian yang lebih erat daripada relasi antara pangala tondok dengan persekutuan tongkonan-nya. Dia mau supaya Allah menjadi satu-satunya Penopang kehidupan mereka, dan satu-satunya Penentu dan Pengarah kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, dia menyuruh mereka untuk saling mengajar dan menguatkan.

Makna

Ada manfaat tertentu dari usaha teologi kontekstual ini yang saya rasakan, walaupun saya tidak lahir dan besar di Toraja, yaitu, adanya gambaran yang konkret tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya. Banyak orang memperlakukan Allah dengan semacam penipuan. Mereka menghadapi Allah dengan ratapan dan tangisan ketika bergumul (konon, orangtua Toraja sangat susah menolak permintaan yang demikian dari anak-anaknya), tetapi rencana, cita-cita dan tenaga tetap berpusat pada diri sendiri. Mereka belum menangkap bahwa tanah yang dijanjikan Allah itu baik, lebih baik daripada berhala-berhala yang mereka kejar seperti gengsi. Kelebihan itu terutama bahwa Allah sendiri ada di pusat tanah itu. Dialah yang paling layak dikasihi.

Tentu, jika kita memikirkan perjalanan menuju tanah perjanjian dalam konteks PB, kita akan memikirkan jalan kita menuju langit dan bumi baru, dan Ibrani 4 dengan jelas menyejajarkan kedua hal itu. Tetapi hidup kekal dapat dinikmati sekarang juga, dengan mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus (Yoh 17:3) oleh kehadiran Roh Kudus (Yoh 14:15-20). Bahasa Paulus agak lain—Roh Kudus adalah karunia sulung dari ciptaan baru (Rom 8:23; bdk. Gal 3:14)—tetapi maksudnya sama. Dalam PB, kelimpahan juga ditafsir ulang. Buah kita adalah buah Roh (Gal 5:22-23), perubahan hidup, serta orang-orang yang dituai bagi Tuhan (Mt 9:35-38). Tetapi prinsipnya sama. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati sejauh mana kita melihat bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang paling baik, ketika Allah bukan di pinggir melainkan di pusat kehidupan kita.

Namun, ada satu aspek dari teologi tongkonan itu yang dapat dipertanyakan. Bukankah budaya Toraja dan banyak budaya sejenis merupakan budaya timbal-balik, do ut des, “saya memberi supaya kauberi”? Bukankah budaya itu akan dibawa masuk ke dalam kehidupan bergereja jika teologi seperti itu dipakai? Pertanyaan itu adalah penting, tetapi harus didasarkan pada analisis yang tepat. Yang disebut “timbal-balik” bisa saja sesuatu yang hakiki dalam sebuah relasi, bukan bukti akan sikap do ut des. Orangtua membantu anaknya ketika masih kecil dan tidak berdaya, dan anaknya pada gilirannya membantu orangtuanya ketika mereka sudah tua dan tidak berdaya. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, sekalipun unsur seperti itu bisa masuk. Dua keluarga dalam sebuah tongkonan masing-masing membawa hewan ke upacara keluarga yang lainnya, sehingga masing-masing mencapai tingkat upacara yang tidak akan terjangkau jika setiap keluarga berusaha sendiri. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, walaupun mungkin agak sering unsur itu masuk. Sebenarnya, do ut des dapat mencemari semua relasi manusia berdosa. Dalam budaya modern, do ut des menjadi paling canggih, karena segala do dan des diukur dengan uang, sehingga dapat dibanding-bandingkan dengan sangat persis. Namun, Alkitab berani menyebut Allah sebagai Raja, meskipun budaya kerajaan dalam PL dan PB sarat juga dengan do ut des. Alkitab berani melakukan hal itu karena Allah tidak sekadar Raja atau Pangala tondok, Dia juga adalah Penebus yang menyelamatkan Israel sebelum mereka berbuat apa-apa, yang menyelamatkan kita ketika kita masih musuh (Rom 5:8-10). Tidak ada pemberian kita yang layak dibandingkan dengan pemberian Allah itu, anugerah menghancurkan semua perhitungan do ut des itu. Namun, kita diselamatkan supaya berelasi dengan Dia, dan untuk hal itu harus ada timbal-balik, kebergantungan dan ketaatan dari kita kepada Allah yang dibalas juga dengan pemberian-pemberian Allah, terutama kedekatan dengan Dia, tetapi juga banyak hal yang lain. Dengan demikian, makin lama, makin kuat relasi kita dengan Pangala Tondok kita.

Sebenarnya, kasih kepada Allah yang Esa adalah solusi yang paling ampuh terhadap masalah do ut des itu. Yang diharapkan dan didambakan ialah Allah, sehingga manusia tidak usah terlalu dituntut. Do ut des adalah gejala manusia berdosa yang belum mengasihi Allah sepenuhnya.

Sikap seperti itu tidak terjadi secara spontan, sehingga Musa berbicara tentang Israel sebagai semacam masyarakat pembelajaran, community of learning. Fokusnya adalah anak-anak, tetapi jangan sampai ada anggapan bahwa orangtua sudah tahu. Cara yang paling cepat untuk jemaat dewasa bertumbuh dalam pengetahuan firman Allah ialah bila dalam setiap keluarga orangtua rajin mengajar anaknya. Perlu juga diingat apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak yang melihat orangtuanya berdoa di gereja tetapi tidak berdoa di rumah menarik kesimpulan yang logis saja tentang wilayah kuasa Allah. Bahkan, penelitian di dunia Barat memberi bobot yang lebih tinggi pada peran ayah dalam keluarga. Jika anak-anak melihat iman yang nyata dari ayah dalam seluruh aspek kehidupannya, kemungkinan lebih besar mereka juga akan memiliki iman yang jelas.


Yoh 6:1-15 Pemberi roti yang berlimpah-limpah (29 Apr 2012)

April 27, 2012

Perikop ini adalah satu-satunya mujizat Yesus yang terdapat dalam keempat Injil. Jika kita tidak teliti sebagai penafsir, bisa jadi kita membawa perikop sejajar, bukan perikop yang kita pakai. Misalnya, kita tahu bahwa Yesus berbelaskasihan kepada orang banyak, karena mereka di tempat yang terpencil. Kemudian, kita tahu bahwa Dia membagi-bagikan makanan itu melalui murid-murid-Nya. Kita tahu, tetapi dari Injil Markus, bukan dari Injil Yohanes. Jika kedua hal itu mau dijadikan pokok dalam pesan khotbah, berkhotbahlah dari Mk 6:30-44, bukan dari Yoh 6:1-15 ini. Perikop kita memiliki penekanan tersendiri yang semestinya kita hargai dalam penafsiran kita, yaitu penekanan Kristologis, seperti dalam seluruh Injil Yohanes.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan peristiwa terakhir Yesus di Galilea dalam Injil Yohanes, dan juga puncak kepopuleran-Nya. Setelah peristiwa ini, ada pembahasan yang panjang antara Yesus dengan orang banyak itu. Di dalamnya, Yesus menyebut diri roti kehidupan, dan mengecam mereka karena mereka hanya melihat pada kebutuhan jasmani, bukan kepada Pemberi kebutuhan itu, yaitu, Yesus.

Yohanes menyampaikan latar belakang dari cerita ini dalam aa.1-3. Yesus makin populer, tetapi ternyata hal itu sekadar karena tanda-tanda penyembuhan yang dilakukan-Nya (a.2). Dua detil juga harus diperhatikan: Yesus naik gunung (a.3) dan waktunya dekat Paskah (a.4).

Rangkaian peristiwa mulai dengan Yesus memandang orang banyak (a.5). Aa.5-10a menyangkut Yesus dengan murid-murid-Nya. Dia mengangkat masalah yang sepertinya mustahil: memberi makan kepada orang yang sangat banyak. Adalah penting untuk diamati bahwa Yesus sudah tahu apa yang mau Dia lakukan. Dia menguji kemampuan para murid-Nya untuk peka terhadap rencana Tuhan, bukan kemampuan mereka untuk membuat rencana sendiri yang hebat-hebat. Dalam rangka itu, Filipus tidak terlalu berhasil: dia hanya dapat melihat kendala. (Satu dinar itu upah satu hari bekerja, jadi dua ratus dinar kurang lebih upah 8 bulan , mengingat orang tidak bekerja pada hari Sabat.) Tetapi Andreas paling sedikit dapat melihat adanya sesuatu (roti dan ikan), meskipun dia tidak dapat melihat bagaimana yang sedikit itu dapat berguna. Dia mungkin lupa akan pengalaman Elisa, yang memberi makan seratus orang dengan dua puluh roti jelai (2 Raj 4:42-44), atau dia terlalu memperhatikan bahwa lima ribu orang itu jauh lebih banyak.

Bagaimanapun juga, rencana Yesus tidak akan dihalangi oleh kelemahan murid-murid-Nya. Aa.10b-13 menceritakan kelimpahan yang terjadi setelah Yesus mensyukuri dan membagikan roti dan ikan itu. Kelimpahan itu membuat semua puas, kenyang. Israel makan bersama sampai kenyang, di bawah pemeliharaan Yesus, Mesiasnya, sama seperti Israel makan manna di padang gurun setelah dibebaskan dari Mesir, seperti yang dirayakan pada perayaan Paskah.

Gambaran atau pengalaman akan berkat yang disampaikan dalam peristiwa itu sangat mengesankan, tetapi apa kesannya yang ditangkap? Orang banyak melihat kesejajaran dengan Musa dan Israel dan menganggap bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa (a.14, bdk. Ul 18:15-18). Dengan demikian, mereka melihat bahwa Yesus itu akan sanggup untuk memenuhi kepentingan mereka, yaitu pembebasan dari kuk pemerintahan Romawi (a.15). Oleh karena itu, Yesus harus menyingkir. Dalam pembahasan berikut (perikop ini adalah bagian awal dari satu bagian utuh, yaitu seluruh pasal enam), Yesus menunjukkan apa yang Dia maksud dengan peristiwa itu, yakni, bahwa Dialah roti kehidupan yang berkelimpahan, yang membuat kenyang (6:48-51). Yesus mau supaya pemberian roti dan ikan dalam peristiwa itu membawa orang banyak kepada Pemberinya, tetapi wawasan mereka hanya sampai pada pemberian itu (6:26-27).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa kita untuk melihat kelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus, yaitu bahwa Dia dapat membuat jiwa kita kenyang dan berkelimpahan.

Makna

Maksud tadi sepertinya “merohanikan” suatu cerita yang di dalamnya dengan jelas ada lima ribu orang yang diberi makan yang mengenyangkan perutnya. Ada berbagai penerapan etis yang sering diambil dari cerita ini. Ada kepedulian Yesus kepada orang banyak (walaupun hal itu tidak disebutkan oleh Yohanes). Ada usaha Yesus untuk membimbing murid-murid-Nya. Ada berbagai respons mereka. Ada keberanian anak yang tidak menyimpan makanannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi, jika implikasi dalam Injil Yohanes dicermati, Yesus memberi tafsiran kristologis dari peristiwa itu, yakni bahwa Dialah roti kehidupan. Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa fokus itu justru penting, bukan hanya untuk membangun iman, tetapi juga untuk membangun kasih yang sejati.

Yang pertama, jika kita sudah menangkap kelimpahan hidup yang kita miliki di dalam Kristus, sikap pelit cepat atau lambat akan terkikis. Banyak orang merasa kekurangan, walaupun sebenarnya berkecukupan. Tetapi sikap khawatir, atau sikap rakus, membuat apa yang ada dianggap kurang. Orang seperti itu tidak akan berubah dengan ditegur untuk memperhatikan sesama, karena teguran itu belum menanggapi akar sikap mereka, yaitu masalah iman.

Yang kedua, jika kita tidak melihat Yesus sebagai yang pokok, kita juga akan membelokkan apa yang Dia lakukan supaya sesuai dengan kepentingan kita. Orang banyak pada saat itu sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu, pembebasan dari kuasa Roma, dengan Israel menjadi berjaya dsb. Sekarang banyak warga jemaat sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu mereka pulih, lulus, dapat promosi dan lain sebagainya. Kuasa Yesus diakui, tetapi mau dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kita. Pemberian-Nya dicari, bukan Dia sendiri. Kita bisa mengamati saja dunia Barat, yang diberkati dengan kemakmuran yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Apakah rasa syukur mereka juga berlimpah-limpah? Justru sebaliknya. Ternyata betul, kekayaan membuat lebih sulit masuk ke dalam kerajaan Allah.

Yang ketiga, kita menjadi seperti Siapa yang kita kagumi. Seorang adik mau meniru kakaknya, bukan karena ditegur, tetapi karena mengagumi kakaknya. Sebagian calon pendeta dalam wawancara merujuk pada sosok pendeta yang pernah (atau masih) mereka kagumi sebagai alasan mereka mau menjadi pendeta. Barangkali, ada juga yang menekuni jalan korupsi karena mengagumi mobil mewah yang didapatkan oleh keluarga yang menempuh cara itu. Yohanes sama sekali tidak anti-tindakan (bdk. 1 Yoh 3:17), tetapi bagi dia, dasarnya adalah mengenal kasih Kristus (bdk. ayat sebelumnya, 1 Yoh 3:16). Salah satu maksud dari kiasan “makan tubuh-Ku” dan “minum darah-Ku” (Yoh 6:53-54) ialah bahwa kasih Kristus bukan sekadar contoh baik, tetapi menjadi salah satu sifat Yesus yang “mendarah-daging” dalam kehidupan kita. Dengan mencari Pemberinya, kita akan menjadi makin seperti Dia.

Jadi, pada hemat saya, mendorong orang untuk sekadar bertindak seperti Yesus dalam perikop ini tidak akan sama efeknya dengan memaparkan kemuliaan-Nya, kelimpahan-Nya, dan kelayakan-Nya untuk dipercayai. Tentu, ada bahaya kalau tidak pernah merujuk pada implikasi praktis dari iman. Tetapi yang jauh lebih sering terjadi, menurut pengamatan saya, ialah menegur tanpa dasar dalam anugerah Allah. Hal itu membangun rasa bersalah yang tidak berdaya; memberitakan Kristus membangun iman yang akan bermuara pada kasih.

Memaparkan Kristus dalam perikop ini juga akan membawa kemuliaan bagi nama-Nya di dalam jemaat. Semoga kita tidak jenuh melakukannya!


Mzm 112 Perintah Tuhan sebagai alasan untuk berbuat baik (15 Apr 2012)

April 11, 2012

Dalam kuliah, saya banyak berbicara tentang pentingnya menafsir dalam rangka Kisah Agung Alkitab, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah. Tetapi mazmur ini menyampaikan pola yang sering terdapat juga dalam kitab Amsal, yaitu, orang baik akan berhasil, orang jahat akan gagal, suatu pola yang sepertinya lepas dari karya Allah dalam sejarah, dan hanya merupakan implikasi dari pemeliharaan Allah yang berjalan secara umum. Hal itu tentu tidak salah, hanya, pemeliharaan Allah merujuk pada stabilitas, hal perubahan terjadi dalam kaitan dengan karya-karya-Nya. Makanya, jemaat yang hanya mengenal pemeliharaan Allah belum siap menjadi jemaat yang misioner. Alkitab dengan jelas menguraikan kedua pola itu (stabilitas dengan pembaruan), dan ternyata karya Allah penting juga dalam mazmur ini.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai dengan seruan untuk memuji Tuhan. Karena seruan itu biasanya diikuti oleh pujian tentang Tuhan, kita harus menganggap bahwa yang berikut ini juga memuji Tuhan. Topiknya adalah manusia, yakni, orang yang berbahagia, tetapi Tuhan yang dimuliakan di dalamnya.

Hal itu tampak pertama kali dalam a.1b, di mana takut akan Tuhan dilihat dari segi menyukai perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah itu tidak ditaati karena ada berkat sebagai upah, melainkan karena dunia yang dibayangkan dalam perintah-perintah itu adalah dunia yang didambakan. Apa maksudnya, “dunia yang dibayangkan dalam perintah”? Jika kita melihat kesepuluh firman saja, dunia yang dibayangkan adalah Israel yang menomorsatukan Allah dalam ibadah, perkataan dan siklus bekerja, sehingga ada keharmonisan dalam struktur masyarakat (orangtua dihargai), hidup, pernikahan, milik dan nama orang dihargai, dan semua puas dengan pemberian Tuhan masing-masing. Andaikan perintah-perintah itu diikuti dengan sungguh-sungguh, dunia seperti itu yang akan diciptakan. Sebaliknya, dalam dunia seperti itu, perintah-perintah itu sudah ditaati. Jadi, orang dalam a.1 takut akan Tuhan bukan karena ancaman hukuman jika melanggar, melainkan takut mengecewakan Sumber dunia itu karena bertindak berlawanan dengan tatanan yang diharapkan di dalam perintah-perintah itu.

Jika demikian, berkat-berkat yang berikut bukanlah “upah” tetapi akibat. Karena perintah-perintah Tuhan begitu disukai, dunia dambaan Allah mulai terwujud di sekitar orang ini, sehingga keturunannya menjadi sumber berkat bagi orang-orang benar di sekitarnya (a.2). Dia berhasil, dan hasilnya menjadi pangkal untuk berbuat baik bagi sesama, sehingga kebajikannya menjadi peringatan kekal (a.3). Dia bahkan menjadi terang bagi orang benar (a.4).

Dalam a.5 satu segi dari perintah-perintah Allah disoroti, yaitu, kemurahan kepada sesama. Akibatnya bahwa dia kokoh. Namanya akan diingat, dan dia tenang menghadapi perlawanan karena yakin akan pertolongan Tuhan kepadanya (aa.6-8). Aa.9-10 memberi kesimpulannya. Orang yang berbahagia hidup sesuai dengan dunia dambaan Tuhan, sehingga hidupnya berbagian dalam kemuliaan dunia itu. Dunia orang fasik ternyata lain sekali: dambaan mereka adalah berjaya atas orang benar, tetapi keinginan itu akan hancur. Sungguh Allah layak dipuji, karena Dia akan mewujudkan dunia dambaan itu.

Semuanya itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan mazmur ini dengan mazmur sebelumnya. Kedua mazmur ini merupakan mazmur akrostik, di mana setiap baris (setengah ayat, kecuali aa.9-10 yang mengandung tiga baris masing-masing) dimulai dengan huruf abjad Ibrani berturut-turut. Kesamaan itu menunjukkan bahwa kedua mazmur dikarang bersamaan. Jika demikian, Mazmur 111 menempatkan Mazmur 112 dalam konteks perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang juga “disukai” (111:2). Tuhan membuat perjanjian dengan Israel (111:5) dan memberi mereka rezeki (111:5), tanah (111:6) dan hukum yang adil dan benar (111:7). Takut akan Tuhan berarti takut akan Tuhan yang telah melakukan hal-hal ini (111:10). Dalam kedua mazmur ini, jalan hikmat berdasarkan Kisah Agung: apa yang telah dilakukan Allah, sehingga kita dapat meyakini apa yang sedang dan akan Dia lakukan.

Perjanjian Allah menciptakan relasi yang kuat antara Tuhan dengan umat-Nya, dan hal itu mendapat pemaknaan dalam dari perbandingan kedua mazmur ini. 111:2-4 menyampaikan kebajikan Tuhan, sama seperti 112:2-4 menyampaikan kebajikan orang yang diberkati. (“Keadilannya tetap untuk selamanya” dalam 111:3 adalah sama dalam bahasa aslinya dengan “kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam 112:3.) A.4 masing-masing berakhir dengan “pengasih dan penyayang”, suatu kombinasi kata yang selalu merujuk pada Allah kecuali dalam Mzm 112 ini. Kemurahan hati orang dalam 112:5 mirip dengan kemurahan hati Allah dalam 111:5. Silakan, cari kesejajaran yang lain. Intinya bahwa orang yang berbahagia dalam Mzm 112 adalah orang yang sedang menjadi seperti Tuhan yang dia takuti, Tuhan yang telah menyelamatkan dan sedang memelihara dia.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 112 mau memberi dorongan bagi pembaca untuk memuji Tuhan, dengan mencintai dan menerapkan perintah-perintah Tuhan yang menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan Allah yang diuraikan dalam Mzm 111. Dengan demikian, dia akan menjadi terang dan berkat bagi masyarakat, termasuk orang miskin dan orang benar.

Makna

Yang belum terlalu jelas dalam penguraian di atas ialah masa depan “dunia dambaan Allah”. Aa.2-4 pasti benar, tetapi seringkali tidak nyata. Bahkan, jika kita menerima ayat-ayat ini dengan terlalu kaku, Yesus dan Paulus tidak termasuk orang yang berbahagia, karena mereka mati tanpa keturunan dan harta, dan kabar celaka justru bermuara pada celaka, dalam bentuk salib bagi Yesus, dan dalam bentuk banyak penganiayaan bagi Paulus. Memang, dalam Mazmur 112 sendiri ada petunjuk bahwa tidak semua orang senang dengan orang yang takut akan Tuhan, tidak semua orang mendambakan dunia dambaan Tuhan. Tetapi bagi Yesus dan Paulus, hal itu menjadi prinsip. Kita berbahagia ketika dianiaya (Mt 5:10-12); kita akan menderita bersama-sama dengan Kristus sebelum dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Bukankah itu realita dunia sekarang?

Apakah dengan demikian, harapan dalam Mzm 112 itu ditiadakan dalam PB? Sama sekali tidak. Harapan itu dimaknai ulang. Ketika Kristus datang, “dunia yang dibayangkan” itu terwujud dalam kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang berdosa, terpinggir dan tersesat. Kita menyukai perintah-perintah Yesus untuk mengampuni, berdoa untuk musuh dsb karena perwujudannya dalam kehidupan Yesus begitu indah. Kita mau menjadi sumber berkat dan terang bagi sesama. Dan dari mazmur ini, kita bisa yakin bahwa hal itu akan terwujud dalam dua tahap. Pembagian berkat, peneguhan nama, kasih, keteguhan, itu semuanya kita miliki dan terapkan sekarang dengan kuasa Roh Kudus. Harta dan kekayaan mungkin juga ada, dalam artian rohani, tetapi dalam dunia baru semuanya akan terwujud seluruhnya. Kebangkitan Yesus menjamin kedatangan-Nya kembali untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, dunia dambaan Allah, sehingga jerih payah kita sekarang tidaklah sia-sia.

Jadi, mazmur ini didasarkan pada apa yang telah dan sedang dilakukan Allah, pada saat itu bagi Israel, lebih lagi bagi kita sekarang dalam Yesus Kristus. Dan mazmur itu tetap relevan karena apa yang akan dilakukan Allah, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan dalam dunia baru.

Semoga kita tidak hanya mengandalkan pemeliharaan Allah tetapi tetap menjadi terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang seperti Yesus Kristus sendiri.


Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


Mt 26:69-75 Gagal karena belum mengenal Yesus (1 Apr 2012) [Sengsara VII]

Maret 30, 2012

Banyak perikop Alkitab menyampaikan cerita yang menarik perhatian karena di dalamnya kita melihat seorang tokoh dalam pergumulan hidup. Perikop ini termasuk salah satunya. Namun, adalah salah jika kita hanya berfokus pada orangnya sendiri, sehingga kita sampai pada moralisme yang tidak salah tetapi agak dangkal, “jangan menjadi pengecut”, “jangan berdusta”; dangkal karena Allah menjadi mubazir dalam pesan khotbah seperti itu. Tokoh-tokoh Alkitab selalu bertindak dalam konteks lebih luas, yaitu, apa yang dilakukan Allah dalam dunia. Dalam rangka itulah berhasil tidaknya iman mereka harus diukur, dan dalam rangka itulah kita dapat belajar dari tokoh-tokoh tentang iman kita.

Penggalian Teks

Perikop tentang Petrus ini sebenarnya mulai dari a.58. Berbeda dari murid-murid yang lain, Petrus tetap mengikuti Yesus sampai ke halaman Imam Besar, sesuai dengan janjinya dalam a.33 (“Biarpun mereka semua tergoncang…aku sekali-kali tidak”). Matius mengatakan bahwa dia ke sana “untuk melihat kesudahan perkara itu”. Istilah “kesudahan” (telos = akhir atau tujuan) menarik karena dalam 24:14 Yesus telah berkata, “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Hal itu dikatakan dalam konteks perjuangan akhir zaman, tetapi para penulis Injil melihat pengadilan dan penyaliban Yesus sebagai peristiwa pertama dalam rangka perjuangan itu, di mana perlawanan terhadap Allah menimbulkan aniaya dan penderitaan bagi orang-orang yang setia.

Dalam aa.59-68 kita melihat cara Yesus menghadapi penganiayaan, kemudian dalam perikop ini cara Petrus. Kedua peristiwa ini berjalan agak sejajar. Yesus diminta jawaban terhadap kesaksian palsu tetapi diam (aa.62-63). Petrus diperhadapkan dengan pernyataan yang benar tetapi menjawab dengan berdusta (a.70). Kemudian, Yesus diminta dengan sumpah untuk menjawab sebuah tuduhan yang benar, bahwa Dia adalah Mesias. Pada saat itulah Dia menyampaikan kesaksian yang kuat tentang diri-Nya (a.64). Sedangkan Petrus, dia sendiri yang bersumpah, untuk menguatkan dustanya sendiri (a.74). Dengan demikian, kita melihat bagaimana Yesus bertahan sampai kesudahannya, sedangkan Petrus tidak.

Hasilnya penting diamati. Yesus disalibkan. Ketakutan Petrus bukan tidak beralasan. Petrus tetap aman, hanya, ternyata hatinya hancur. Hanya setelah kebangkitan Yesus serta penerimaan-Nya yang menyiratkan pengampunan (28:7, 16-20), maka Petrus serta murid-murid yang lain menjadi siap menghadapi tantangan zaman.

Maksud bagi Pembaca

Matius memperbandingkan kesetiaan Yesus dengan kegagalan Petrus supaya pembaca Injil tidak mengandalkan antusiasme sendiri tetapi belajar dari perspektif Yesus, yang melihat sampai ke kesudahannya, yaitu penggenapan rencana Allah melalui karya Yesus sendiri. Yesus bertahan karena Dia menangkap maksud Allah yang melampaui apa yang kelihatan; Petrus gagal karena dia belum menangkap hal itu.

Makna

Petrus adalah yang paling berani dari para murid. Pengingkaran janjinya muncul bukan karena dia adalah seorang pembohong, melainkan karena dia tidak mengerti dunia seperti digambarkan Yesus dalam pp.24-25, yaitu bahwa dunia sangat melawan Allah, tetapi Allah akan menang. Karena dia belum memahami dunia, dia menganggap bahwa keberanian itu cukup. Itulah salahnya moralisme. Biar banyak mengucapkan kata “dengan kuasa Roh Kudus”, seorang moralis menganggap bahwa pada dasarnya manusia sanggup melakukan kebenaran, dan tinggal diingatkan untuk melakukannya. Tetapi ternyata, ketika orang dengan niat baik masuk ke dalam tempat kerja, mereka setengah mati mempertahankan kebenaran; ketika orang dengan semangat tinggi menjadi pimpinan lembaga-lembaga masyarakat, yang semuanya adalah pemberian Allah, yang sekaligus diilhami oleh Iblis karena diisi dengan manusia berdosa (bdk. Ef 2:1-3), mereka setengah mati menerapkan keadilan; ketika masyarakat dan budaya mengecam iman kepada Yesus, kita setengah mati bersaksi. Itulah yang dilihat—dan dicemaskan oleh gereja—terus-menerus. Dalam sosok Petrus kita melihat bahwa hal itu tidak aneh—dunia dalam perlawanannya terhadap Allah memang kuat, tidak mungkin kita melawan dengan semangat kita saja.

Jawaban yang saya usulkan di atas, yaitu pentingnya kita menangkap apa yang dilakukan Allah, tidak berasal langsung dari perikopnya, melainkan dari tempatnya dalam cerita Injil Matius. Di sini Petrus gagal, tetapi setelah kebangkitan Yesus, dia diutus untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak besar. Apa bedanya? Dalam Injil Matius, kematian dan kebangkitan Kristus. (Tentu, Lukas menyoroti peran Roh Kudus juga tetapi Matius tidak.) Dengan berjumpa dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mereka mulai menangkap bahwa penderitaan karena kebenaran bukan sesuatu yang aneh, tetapi justru merupakan jalan menuju kebangkitan, bahwa kecaman manusia bukan kata akhir, karena Allah akan mengakhiri segalanya, bahwa Yesus yang tetap lemah lembut adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat. Dalam perikop kita, iman Petrus memang lemah. Tetapi imannya dibangun bukan dengan fokus pada dirinya sendiri, melainkan dengan melihat kebenaran tentang Kristus. Semoga perayaan Paskah membawa berkat itu bagi kita semua.


Ef 6:10-20 Kesiapan Memberitakan Injil (25 Mar 2012) [Sengsara VI/Puncak Pekan PI]

Maret 23, 2012

Perikop ini merupakan kesimpulan penguraian Paulus kepada jemaat-jemaat di kawasan Efesus. Jika pada umumnya konteks penting diperhatikan, dalam perikop ini setiap kalimat merujuk pada hal-hal yang telah dibahas dalam surat ini. Makanya, ada banyak ayat rujukan yang, jika dibaca, dapat memperjelas maksud Paulus. Saya memberi fokus pada satu nas, yaitu a.15, cocok dengan tema Pekabaran Injil dalam Gereja Toraja.

Penggalian Teks

Bahwa perikop ini adalah kesimpulan dilihat dalam kata awal, “akhirnya”. Aa.10-12 menyampaikan bahwa kita berada dalam sebuah perjuangan. Apa perjuangan itu? Ternyata bukan melawan manusia melainkan “pemerintah-pemerintah” dsb. Kata “pemerintah”, “penguasa” dan “penghulu dunia” biasanya dipakai untuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang lain yang berpengaruh dalam masyarakat. Tetapi dalam a.11, Paulus berbicara tentang tipu muslihat Iblis. Hubungannya dapat dilihat dalam 2:2. Iblis bekerja melalui kehidupan “orang-orang durhaka”. Lembaga-lembaga duniawi adalah pemberian Allah untuk kebaikan kita (bdk. Rom 13), tetapi karena terdiri atas manusia, selalu terpengaruh oleh kuasa jahat. Hal itu jelas ketika kita melihat pemimpin yang baik tetap tidak berdaya untuk membersihkan pemerintahannya sendiri. Jadi, kita melawan bukan oknum-oknum melainkan kejahatan yang tersistem karena kepentingan manusia yang diilhami kuasa Iblis. Dilihat demikan, adalah jelas mengapa kita tidak bisa berhasil dalam kuasa sendiri.

Jika perjuangan itu melawan kuasa Iblis, apa tujuannya? Dalam 1:10 Paulus memberitahu rencana Allah untuk “mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Kita menjadi bagian dari rencana itu dengan percaya pada berita Injil (1:13) sehingga dimeteraikan di dalam Kristus oleh Roh Kudus (1:14). Dengan demikian, ada kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja di dalam kita yang memegang harapan di dalam Kristus (1:18-21). Halangan untuk rencana itu adalah dosa, dosa karena dunia, Iblis dan hawa nafsu sendiri (2:1-3). Tetapi Kristus telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia (2:8), sehingga kita diperdamaikan dengan Allah dan seorang dengan yang lain (2:11-22). Dengan Kristus diberitakan, hikmat Allah diperlihatkan kepada penguasa-penguasa dalam jemaat sebagai hasil penginjilan (3:10). Oleh karena semuanya itu, Paulus berdoa supaya mereka dikuatkan dengan mengenal kasih Kristus (3:14-21), kemudian memberitahu bagaimana hidup sebagai tubuh, hidup jujur sesuai kebenaran di dalam Kristus (p.4:25), dan berjuang terhadap kegelapan (p.5).

Jadi, seluruh surat berbicara tentang Injil dan implikasinya, sehingga tidak kebetulan jika perlengkapan senjata dalam aa.13-17 menyangkut Injil: kebenaran, keadilan, Injil, iman, keselamatan, dan firman Allah. Kita berperan di dalam rencana Allah dengan senjata Allah sendiri; kita melawan semangat Iblis yang muncul melalui hawa nafsu pribadi dan kepentingan sosial/politik, dengan cara Allah sendiri melawannya, yakni, dengan Kristus sebagai pusat.

Dari segi penyusunan kalimat dalam bahasa aslinya, ada dua kata kerja utama yang menyangkut perlengkapan senjata Allah itu. Yang pertama adalah “berdirilah” (a.14). Pada perintah ini tergantung empat partisip: berikatpinggangkan, berbajuzirahkan, berkasutkan dan pergunakan. Ketiga kata kerja yang berbentuk “ber…kan” menyangkut tiga pakaian yang dikenakan pada dirinya sendiri (makanya bentuknya aoris midel, antara aktif dan pasif), atau dengan kata lain, sifat orang. Mengatakan apa yang benar (LAI “kebenaran” = aletheia, dipakai dalam 4:25) dan melakukan apa yang benar (LAI “keadilan” = dikaiosune, biasanya diterjemahkan “kebenaran”) menjadi dasar untuk kesiapan (LAI “kerelaan”, tetapi kata hetoimasia menyangkut persiapan atau perlengkapan, bukan sekadar kerelaan) pergi memberitakan Injil (a.15). Tetapi sifat-sifat itu akan percuma kecuali dengan iman kita menangkis godaan-godaan Iblis, seringkali dalam bentuk tuduhan dan keraguan yang merongrong semangat dan fokus.

Kata kerja kedua adalah “terimalah” (a.16). Keselamatan (bdk. 2:8) dan firman Allah (bkd. 3:3-5) bukanlah sifat kita melainkan pemberian dari Allah. Keselamatan kita tidak bergantung pada keberhasilan kita dalam perjuangan ini; rencana Allah juga tidak bergantung pada keberhasilan kita. Namun, jika kita percaya kepada Kristus, kita menjadi sasaran Iblis—apakah dalam bentuk hawa nafsu yang tidak mau diam, atau kepentingan politik/sosial yang terancam oleh kebenaran di dalam Kristus. Tanpa keyakinan tentang keselamatan dalam Kristus, kita akan rentan. Akhirnya, senjata kita adalah firman Allah—bukan koneksi politik, bukan uang, bukan kedudukan dalam masyarakat. Senjata ini mulai dengan kebenaran dan berakhir dengan sumber kebenaran, yaitu firman Allah.

Adalah cocok bahwa kesimpulan yang mulai dengan seruan untuk kuat di dalam Tuhan berakhir dengan seruan untuk berdoa (aa.18-20). Allah melibatkan manusia dalam rencana-Nya untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, dengan memakai mulut manusia untuk memberitakan Injil. Tidak semua dapat pergi, tetapi semua dapat berdoa. Doa di sini bukan manusia membujuk Allah untuk memajukan kepentingan manusia, melainkan manusia bekerja sama dengan Allah untuk memajukan kepentingan Allah, baik dalam pertumbuhan gereja (a.18 “untuk segala orang Kudus”) maupun untuk para penginjil (aa.19-20). Tentu, maksud saya adalah kepentingan manusia yang diilhami Iblis (hawa nafsu, dunia), karena dalam Kristus kepentingan manusia yang sejati justru ditemukan.

Maksud bagi Pembaca

Dalam konteks rencana Allah untuk segala sesuatu, yakni dipersatukan di dalam Kristus, Paulus menyampaikan gambaran yang mencolok tentang peran kita. Iblis melawan rencana Allah, dan mau tidak mau kita terlibat. Dibungkus kekuatan Allah dan doa, diperlengkapi dengan implikasi-implikasi Injil, kita akan dimampukan untuk terlibat dengan baik dalam kemajuan rencana Allah itu dengan memberitakan Kristus, walaupun diganggu terus-menerus oleh tipu muslihat Iblis.

Makna

Satu latar belakang untuk a.15 adalah Yes 52:7. Yesaya membayangkan seorang pembawa berita yang memberitakan bahwa Allah itu Raja, karena Israel akan segera kembali dari pembuangan. Pembuangan Israel itu karena dosa, dan PB memahami bahwa semua dosa adalah pembuangan, penjauhan dari Allah. Yesus sendiri merujuk pada nas ini ketika Dia memberitakan bahwa Kerajaan Allah itu dekat. Efesus 2 yang dibahas tadi menunjukkan bagaimana Allah telah mengalahkan dosa sehingga Kerajaan Allah sedang diwujudkan di dalam Kristus.

Jadi, “kerelaan [kesiapan] untuk memberitakan Injil” menyangkut dua hal. Yang pertama ialah hidup yang telah diubah oleh Injil sehingga dicirikan oleh perkataan dan tingkah laku yang benar, seperti dibahas di atas. Yang kedua adalah hati yang menganggap berita itu indah, seperti dalam Yes 52:7.

Satu aspek lagi dalam rangka kesiapan adalah kemampuan untuk menjelaskan Injil. Terlalu banyak orang terbatas pada kesaksian hidup karena tidak sanggup menguraikan iman mereka, dan jika demikian, ada kemungkinan bahwa kesaksian hidup mereka juga tidak terlalu jelas. Satu jawaban terhadap masalah itu ialah program pembinaan seperti Kambium, yang sedang dikembangkan di kalangan Gereja Toraja.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.