1 Kor 1:10-17 Mengobati Roh Pemecah [26 Jan 2014]

Januari 21, 2014

Perikop ini termasuk yang inti maksudnya jelas. Namun, untuk dijelaskan, tetap dibutuhkan penggalian, penggalian yang melampaui apa yang tertulis supaya apa yang tertulis dapat muncul dengan lebih tajam. Jadi, ada beberapa pengandaian saya untuk melengkapi kisah yang tersirat di balik kondisi jemaat di Korintus, khususnya pengandaian bahwa golongan-golongan berdasarkan tokoh di jemaat Korintus tidak muncul dari hal-hal negatif saja, tetapi juga muncul dari pengalaman iman berkat tokoh-tokoh tersebut. Pengandaian itu membantu saya untuk membawa nasihat Paulus ke dalam salah satu konteks jemaat sekarang.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus adalah jemaat yang paling bandel dari jemaat-jemaat yang disurati Paulus. Namun, dalam bagian awal, dia tetap bisa mensyukuri karya Allah di tengah mereka (1:4–9). Tetapi menarik bahwa syukurnya tidak dilanjutkan dengan doa. Dia langsung mulai menasihati mereka.

Nasihat itu “demi nama Tuhan kita Yesus Kristus” (10a). Memang, dengan demikian Paulus merujuk pada wewenangnya sebagai rasul Kristus untuk menasihati mereka (1), dan juga pada keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka sampai kesudahannya dalam nama itu (8). Tetapi dia juga mengingatkan mereka tentang siapakah mereka. Mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus itu sebagai orang-orang yang telah dikuduskan di dalam Kristus dan dengan demikian dipanggil untuk hidup kudus (1:2). Jadi, kekacauan mereka dapat berdampak pada nama Yesus dalam dunia di sekitarnya. Sungguh penting bahwa Paulus tidak berdiam diri menghadapi kekacauan itu.

Tujuan dari nasihatnya ialah supaya mereka “seia sekata” (10b). Hal ini semestinya dipahami secara tidak kaku. Bukan perbedaan pendapat apa saja yang menjadi masalah melainkan “perpecahan”. Kata skhisma ini (dalam bentuk jamak) dalam artian harfiah dipakai untuk kondisi “retak”, bukan kondisi terputus total. Mereka masih saling berhubungan, tetapi ada retak-retak dalam persekutuan mereka. Dia mau supaya mereka dipulihkan kembali ke kondisi sehati sepikir.

Landasan untuk nasihat Paulus ini adalah laporan dari kelompok tertentu (11a). Menarik bahwa Paulus menyebut nama orang terkemuka dari kelompok itu; ternyata keluhan mereka bukan untuk menjatuhkan sehingga disampaikan secara anonim, melainkan karena keprihatinan yang tulus dan siap menanggung risiko dari keterusterangan ini.

Yang dilaporkan ialah bahwa ada perselisihan yang berpusat pada tokoh-tokoh jemaat (11b). Paulus adalah pendiri jemaat, Apolos pernah berperan dalam pertumbuhannya (“menanam” dan “menyiram”, 3:6), dan Kefas (yakni, Petrus) ternyata pernah melayani juga di sana. Barangkali, mereka masing-masing berdampak dalam kehidupan jemaat, sehingga banyak anggota jemaat ada “favoritnya”. Dan yang tidak punya favoritnya membuat satu kelompok lagi, dengan Kristus sebagai idolanya (12).

Tanggapan Paulus dimulai pada a.13, dan berlanjut sampai akhir pasal 4, bahkan pp.12–15 (tentang karunia-karunia roh dan kebangkitan) dapat dilihat sebagai puncak tanggapan Paulus terhadap kondisi jemaat itu. Perhatikan bahwa tanggapannya kristosentris. Perselisihan melanggar sopan santun budaya seperti budaya Toraja, dan walaupun budaya Yunani lebih agresif, pasti kesehatian juga dihargai. Tetapi Paulus tidak merujuk pada nilai-nilai sebagai dasar. Dia merujuk pada Kristus. Tujuan Paulus ialah nilai-nilai kesatuan di dalam jemaat, tetapi dasarnya bukan nilai melainkan Kristus.

Jadi, Paulus berbicara tentang Kristus, salib Kristus, dan baptisan dalam nama Kristus (13–16). Kristus tidak terbagi-bagi, dan golongan-golongan mereka bertolakbelakangan dengan fakta itu. Karya Kristus demi jemaat berpusat pada salib, dan itulah yang diberitakan Paulus—tetapi bukan Paulus yang disalibkan. Jika anggota jemaat terharu oleh pemberitaan Paulus dan hidupnya dijungkirbalikkan oleh berita itu, adalah tetap konyol untuk terlalu memperhatikan Paulus. Saya tidak menjadi pengikut pegawai yang memasang pengumuman jika dalam pengumuman itu saya lolos seleksi. Sama halnya, walaupun Paulus membaptis beberapa anggota jemaat, mereka dibaptis dalam nama Kristus. Baptisan menjadi lambang konkret tentang kesatuan orang percaya di dalam Kristus, suatu pengalaman yang dipegang bersama oleh jemaat di seluruh dunia. Makanya, Paulus agak kesal bahwa lambang kesatuan itu justru menjadi dalih untuk perselisihan, karena ternyata ada yang melihat ke pelaku ritusnya, bukan Sang Makna ritus itu.

A.17 menutup laporan awal ini, dan juga mengantarkan bagian berikutnya, yang mau menggali lebih dalam. Adanya kelompok “Kristus” menjadi petunjuk bahwa perpecahan itu terjadi bukan sekadar karena ada favorit-favorit, melainkan karena ada roh pemecah di antara mereka: mereka suka berkubu, bahkan sampai harus mengangkat Kristus (yang tidak pernah berkunjung kepada mereka secara jasmani) sebagai lambangnya pun. Paulus melihat bahwa hal itu terjadi karena hikmat yang dianut oleh jemaat belum disesuaikan dengan salib Kristus itu. Dalam a.17b, dia memperlawankan hikmat perkataan—hikmat yang muncul dalam kata-kata, yaitu, masuk akal, logis—dengan salib Kristus. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, jika perkataan Paulus dapat masuk akal manusia secara umum, hal itu berarti bahwa pesan tentang salib Kristus telah dilunakkan, karena konsep bahwa keselamatan bagi seluruh dunia itu terjadi melalui satu manusia di pinggir kekaisaran, atau melalui seorang Mesias yang dihina dan mati, tidak masuk akal, baik akal berasio maupun akal beragama. Bukan “Kristus” sebagai nama yang mempersatukan, melainkan Kristus yang disalibkan yang mempersatukan.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mulai meletakkan dasar untuk mengobati roh pemecah di jemaat, yaitu, Kristus yang disalibkan sebagai pemersatu yang sejati. Penjunjungan tinggi saluran berkat mengaburkan Sumber berkat yang sebenarnya, Kristus, dan menunjukkan bahwa Dia belum menjadi sumber hikmat berdasarkan salib.

Makna

Ada satu pola nasihat yang berbunyi demikian: “Bersatulah, karena kesatuan itu baik.” Tidak terlalu sulit untuk menangkap bahwa argumentasi ini agak dangkal: nilai budaya tertentu menjadi alasan untuk nilai budaya itu. Bagi Paulus, Kristus adalah dasar kesatuan, bukan nilai budaya. Pentingnya begini: kesatuan di dalam Kristus dan kesatuan di dalam budaya tentu biasanya searah, dan bagus bila bisa saling menopang. Tetapi, apakah akan selalu sama? Andaikan ada orang yang mau masuk sekolah Alkitab daripada memenuhi permintaan ambe‘-ambe’ tondok (tua-tua kampung) untuk menikah dengan pemuda di kampung. Bukankah dia akan mengganggu kesatuan masyarakat di sana? Lebih parah lagi (dilihat dari perspektif penganut adat lama) ialah orang-orang kristen yang tidak ikut dalam aspek-aspek tertentu dari sebuah upacara, karena dianggap ada pengandalan pada sumber berkat selain Allah. Justru dengan demikian, mereka merusak kesatuan dan mengancam berkat itu. Pada umumnya, banyak hal dapat menjadi pemersatu yang baik pada tempatnya, seperti keluarga atau saroan, tetapi merusak kesatuan di dalam Kristus jika diutamakan di dalam jemaat.

Namun, perselisihan yang paling mendalam seringkali muncul justru dari pengalaman iman, bukan konteks sosial. Dalam Gereja Toraja ada yang sangat dibantu oleh berbagai pelayanan khusus, seperti pelayanan mahasiswa (GMKI, Perkantas), gerakan ekumenis, dsb. Bahkan, pelayanan langsung di bawah naungan gereja (OIG, Langham, dsb) dapat menjadi tempat yang bermakna karena iman bertumbuh, kesehatian terasa, pengaderan jelas, dsb. Hal-hal itu baik, asal saluran anugerah di dalam Kristus tidak menjadi lebih menonjol daripada sumbernya. Soalnya, membangun persekutuan dengan orang yang tidak seusia, atau tidak sewawasan, atau tidak sepengalaman hidup, itu sulit. Tetapi, dasar kesatuan ialah Kristus, bukan ciri-ciri tertentu yang kita miliki bersama.

Kesatuan di dalam Kristus dilambangkan dalam ritus baptisan. Nah, budaya Barat yang membawa Injil selalu menekankan pentingnya hati: baptisan adalah ritus saja kecuali dihayati dengan tulus oleh orang yang dibaptis. Semestinya saya menganggap baptisan saya demikian. Tetapi ada bahaya kalau saya menilai baptisan sesama juga demikian: saya menilai keanggotaan mereka dalam Kristus berdasarkan hatinya, yang sebenarnya tidak mampu saya nilai. Baptisan itu sangat obyektif dan jelas. Saya mungkin pusing dengan sikap-sikap yang dinyatakan oleh nenek ini, pemuda itu, atau bahkan aktivis jemaat yang arah pelayanannya tidak jelas atau berbahaya. Tetapi, jika mereka telah dibaptis (dan masih mengaku kristen), saya harus memperlakukan mereka sebagai saudara dalam Kristus. Adalah sangat gampang untuk menilai bahwa kelompok yang tidak saya sukai itu tidak layak sebagai anggota tubuh Kristus (karena terlalu pietis/sekuler/inklusif/eksklusif/karismatik/kaku dan lain sebagainya—kreativitas otak manusia untuk menjelekkan sesamanya tiada habisnya) sehingga saya boleh saja mengabaikan mereka.

Hal itu tidak berarti bahwa saya harus menerima segala yang mereka katakan. Satu hal lagi di mana kesatuan dalam budaya bisa berbeda dengan kesatuan di dalam Kristus ialah, bahwa kesatuan dalam budaya sering menjadi penyesuaian kelompok dengan penguasa yang paling ribut dan ngotot. Kesatuan dalam Kristus harus berpatokan pada salib Kristus. Dalam hikmat salib, gengsi sudah menjadi hal yang konyol—gengsi seperti apa yang dialami Kristus ketika Dia bergantung pada salib tanpa baju sementara para musuh-Nya dapat mengolok-olok Dia dengan bebas? Orang percaya yang mengejar gengsi seakan-akan belum pernah sungguh-sungguh memandang Kristus yang sebenarnya. Tetapi, biar yang sudah menangkap itu menjadi teladan dalam kerendahan sama seperti Paulus. Paulus merendahkan diri di hadapan jemaat Korintus yang bandel itu bukan dengan menyesuaikan diri dengan keinginan mereka, melainkan dengan memperlakukan mereka sebagai orang percaya yang di dalamnya Allah sudah dan tetap berkarya. Nasihatnya yang cukup keras adalah bagian dari kerendahan hati dan pengharapan Injili Paulus terhadap mereka.


1 Kor 12:12-31 Berbeda-beda dalam satu tubuh [13 Oktober 2013]

Oktober 8, 2013

Perikop ini kembali berfokus bukan pada nasihat langsung tetapi pada identitas. Jangan meremehkan kuasa imajinasi atau cara pandang dunia untuk memengaruhi tingkah laku orang. Gambaran yang disampaikan Paulus mau menggerakkan imajinasi itu.

Penggalian Teks

Kepada jemaat di Korintus yang penuh perpecahan, Paulus menjawab pertanyaan mereka tentang karunia-karunia Roh dengan menekankan kesatuan dalam kepelbagaian. Aa.2–3 menegaskan bukti bahwa seseorang memiliki Roh ialah pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan aa.4–6 menegaskan satu Roh/Tuhan (Yesus)/Allah (yakni, Allah tritunggal) dengan “rupa-rupa” karunia. Kemudian, aa.7–11 menunjukkan bahwa Roh yang menentukan pembagian karunia, bukan manusia. Hal-hal itu sebenarnya cukup untuk mengatakan bahwa karunia-karunia Roh tidak usah menjadi pokok perpecahan atau kemegahan diri, tetapi masih ada dua langkah lagi sebelum Paulus siap untuk menasihati mereka langsung dalam p.14. Perikop kita memberitahu jemaat tentang siapakah mereka di dalam Kristus, yakni, satu tubuh. P.13 menguraikan jalan yang paling cocok dengan keberadaan mereka sebagai satu tubuh, yakni kasih.

Dalam a.12, Paulus menggambarkan Kristus sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Bahwa hal itu bukan gambaran saja disampaikan dalam a.13. Kita “telah dibaptis menjadi satu tubuh”—suatu tanda yang kelihatan yang meniadakan perbedaan-perbedaan yang kelihatan, seperti suku dan status. Juga, kita “diberi minum dari satu Roh”—suatu pengalaman yang tidak kelihatan. Maksudnya bahwa semua mendapat Roh yang sama ketika dibaptis.

Kepelbagaian anggota dalam satu tubuh dikembangkan dari beberapa aspek. Aa.14–18 menanggapi anggota yang merasa bukan bagian dari tubuh (15–16). Sebenarnya, semua bagian dibutuhkan (17), dan lebih lagi, Allah yang menentukan bagian kita, sehingga kita tidak berhak untuk menolak bagian kita.

Aa.19–27 menanggapi anggota yang menyatakan sikap mandiri terhadap anggota yang lain (21), sehingga mungkin saja masa bodoh terhadap pergumulannya dan/atau merasa lebih tinggi daripadanya (bdk. a.26). Paulus mengembangkan gambaran dengan tubuh dengan menguraikan beberapa aspek dari solidaritas tubuh. Bagian tubuh yang lemah atau kurang terhormat justru diberi perlakuan khusus (23–24). Dengan demikian, tubuh itu satu (25), tidak seperti jemaat di Korintus yang terpecah, dan soal penderitaan atau penghormatan dialami bersama-sama (26).

A.27 mulai menerapkan gambaran itu dalam konteks jemaat di sana. Daftar anggota mulai dengan beberapa panggilan khusus—rasul, nabi, pengajar—kemudian dilanjutkan dengan orang mendapat berbagai karunia (28). (Perhatikan bahwa tubuh Kristus di sini tidak terdiri atas pelbagai karunia, tetapi atas berbagai orang yang diberi pelbagai karunia.) Tentu, tidak semua mendapat panggilan tertentu, atau menerima karunia tertentu (29–30).

Akhirnya, dalam a.31 Paulus sampai kepada maksud utamanya. A.31a mengangkat semacam jenjang terkait pentingya karunia-karunia itu. Dalam 14:1 kita melihat karunia mana yang dianggap paling penting oleh Paulus, yaitu bukan bahasa roh melainkan karunia untuk bernubuat. Hal itu sepertinya terbalik dari urutan yang digunakan di dalam jemaat di Korintus. Alasannya dalam a.31b. Ada jalan yang lebih utama lagi dari karunia, yakni jalan kasih (13:1). Kasih tidak meniadakan perlunya karunia-karunia Roh, tetapi menunjukkan tujuannya, untuk melayani sesama. Oleh karena itu, bernubuat lebih berguna daripada berbahasa roh.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai tubuh Kristus, kita semestinya merasa memiliki bagian yang sama (tidak lebih, tidak kurang) pentingnya dengan orang lain di dalam jemaat, dan menikmati perbedaan-perbedaan yang ada. Karunia-karunia yang dimiliki dipakai untuk membangun sesama jemaat, bukan untuk memegahkan diri.

Makna

Yang bisa mengancam solidaritas di dalam tubuh Kristus ialah pertama-tama individualisme atau fraksi (21). Sepertinya, itulah masalah jemaat di Korintus. Semangat rohani mereka tinggi, tetapi keakuan mereka juga tinggi. Tetapi solidaritas di dalam Kristus juga terancam jika hanya menjadi prioritas kedua atau ketiga setelah keluarga dan masyarakat. Hal itu adalah gejala bahwa Yesus kurang penting bagi orangnya. Dia diakui sebagai Tuhan dalam artian ilahi, tetapi bukan sebagai Tuhan dalam artian tuan atau penguasa (a.3, kurios berarti tuan). Atau, Roh yang diberikan ketika orangnya percaya dan dibaptis tidak “diminum”, yaitu, pengalaman rohaninya kurang berdampak dalam kehidupannya. Kita perlu menempatkan dan melihat diri kita sebagai anggota tubuh Kristus, dan hal yang mendorong kita untuk melakukan itu adalah Kristus sebagai Tuhan yang telah memberi kita Roh-Nya.


1 Korintus 2:10-16 Memahami karena Roh Kudus [19 Mei 2013] (Pentakosta)

Mei 13, 2013

Pencurahan Roh Kudus adalah salah satu peristiwa yang menentukan dalam rencana keselamatan Allah. Kita sudah biasa memperhatikan dalam Kisah Para Rasul bahwa Roh memberi jemaat perdana kuasa untuk bersaksi, dan juga dalam surat-surat Paulus bahwa Roh Kudus memberi jemaat kuasa untuk berubah. Nas dari 1 Kor 2:10-16 ini penting karena di dalamnya kita disadarkan bahwa kita hanya bisa memahami dan menangkap Injil dengan baik jika Roh Kudus memampukan kita.

Penggalian Teks

Paulus memulai kritiknya kepada jemaat di Korintus dengan berbicara tentang kebodohan Injil bagi manusia, sebagaimana dilihat dalam salib Yesus (1:18-25), status rendah jemaat yang dipanggil Allah (1:26-31), dan pelayanan Paulus sendiri ketika dia membawa Injil kepada mereka dalam kelemahan (2:1-5).

Dalam 2:6-16, Paulus tetap menjelaskan pelayanannya, sehingga dengan tepat LAI memakai kata “kami”, kecuali apa yang dikatakan juga berlaku untuk jemaat di sana (misalnya, 2:7 “kemuliaan kita”, a.10, a.12). Pelayanan itu disimpulkan dalam 2:6a sebagai pemberitaan hikmat bagi orang-orang yang matang (atau “dewasa” bahkan “sempurna”, kata teleios berarti “sudah mencapai tujuannya”). Aa.6b-8 menjelaskan bahwa hikmat itu tersembunyi, sehingga bahkan para penguasa dunia ini tidak mengetahuinya. Termasuk di dalam hikmat Allah yang tersembunyi itu ialah hal-hal di luar jangkauan manusia yang disediakan Allah (9), yaitu keselamatan bagi bangsa yang berdosa (Yes 64:4-6). Keselamatan itu yang telah digenapi di dalam Kristus, tetapi hanya Roh Kudus yang mengetahuinya dari Allah untuk memberitahukannya kepada manusia (10-11). Tujuan Roh itu adalah membuat kita mengetahui tentang karunia-karunia Allah itu (12).

Dalam a.13 Paulus kembali ke topik pelayanannya. Roh bekerja di dalam pelayanan Paulus. Dia menafsirkan hal-hal rohani, yaitu, hal-hal yang dinyatakan Roh (10-12) atau karunia-karunia Allah yang disediakan Allah bagi umat-Nya (2:9). Dia menafsirkannya kepada orang-orang rohani, yaitu mereka yang mempunyai Roh. Hal itu dibandingkan dengan manusia “duniawi” (psukhikos, yang berkaitan dengan jiwa, yaitu dengan hidup) yang tidak sanggup memahaminya (14). Roh Kudus memampukan manusia rohani untuk menilai “segala sesuatu”, karena dia melihat dunia dalam terang Injil yang dinyatakan oleh Roh. Sebaliknya, manusia rohani tidak dapat dinilai (dengan tepat) oleh mereka yang tidak dapat memahami Injil itu. Dalam a.16, Paulus setuju dengan Yesaya bahwa manusia tidak melebihi Tuhan. Dia hanya mengklaim bahwa oleh Roh dia memiliki pikiran Kristus. Dalam ayat-ayat berikut, hal itu berarti bahwa dia dapat menilai mereka dari sudut pandang Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Dalam perikop ini Paulus menyampaikan bahwa jalan penyataan rahasia Allah yang sebenarnya ialah melalui pemberitaan para rasul tentang Kristus yang disertai dengan daya penyataan Roh Kudus baik di dalam pemberita maupun di dalam pendengar. Hal itu meletakkan dasar untuk teguran keras yang akan disampaikan dalam pasal-pasal berikutnya, karena mereka ternyata masih seperti anak (3:1). Roh menjadi sumber hikmat yang berbeda dari hikmat dunia, dan semua klaim untuk dapat menjangkau rahasia Allah di luar Kristus dan Roh ditolak.

Makna

Wawasan dari Roh Kudus itu memampukan kita untuk menangkap karunia-karunia Allah. Hal itu penting diamati, karena aa.15-16 bisa saja ditafsir sebagai semacam superioritas orang percaya. Malah, pernyataan bahwa manusia rohani menilai (anakrinomai) segala sesuatu bisa saja dianggap bertentangan dengan perintah Yesus untuk tidak menghakimi (krino). Saya menganggap bahwa penghakiman yang dimaksud Yesus adalah penilaian yang tidak hanya menyangkut apa yang dilakukan, tetapi juga hati orangnya, sehingga kita menganggap sudah tahu hukuman yang selayaknya dari Allah. Hal itu berbeda dengan menilai buah untuk melihat bahwa, misalnya, seseorang merupakan nabi palsu (Mt 7:15-16). Itulah yang dilakukan Paulus terhadap jemaat di Korintus dalam p.3. Dia menunjukkan buah tertentu (perpecahan) yang berasal dari salah paham tentang gereja. Yang didapat Paulus dari Roh Kudus bukan informasi tentang hati jemaat, tetapi pemahaman tentang gereja sebagai salah satu karunia Allah sehingga dia dapat menafsir berbagai tingkah laku mereka dalam rangka Injil. Pemahaman itu bukan sesuatu yang tetap rahasia sehingga penilaian Paulus harus diterima begitu saja. Rahasia Allah telah terungkap di dalam Kristus, sehingga Paulus dapat menjelaskan kesalahan jemaat Korintus itu. Jika demikian bagi seorang rasul, terlebih lagi untuk kita. Dalam perbedaan pendapat, kita hanya melihat buah, kita tidak melihat hati. Jika kita tidak dapat menjelaskan kesalahan dalam terang Injil, maka pemahaman kita belum merupakan pemahaman yang diterangi Roh Kudus.

Namun, bagi kita yang (menuju) matang di dalam Kristus, kita harus berani–dalam hal-hal pokok–untuk mengaku bahwa kita juga memiliki pikiran Kristus. Sebagian perlawanan atau kebingungan jemaat berasal dari orang yang masih kekanak-kanakan dalam iman. Hal itu dapat dibedakan dengan susahnya memahami firman Allah karena pendekatan kita tidak cocok dengan budaya. Kita mempersalahkan orang sebagai “kolot” atau “terbelakang”, tetapi sebenarnya kita selaku pelayan yang belum mampu menyesuaikan pelayanan kita bagi mereka. Tetapi perlawanan oleh jemaat yang masih anak dalam iman bukan masalah pendekatan kita. Hal itu dialami Paulus dengan jemaat di Korintus. Karena dia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang dapat menerangi pemahaman orang, dia bersabar terhadap mereka dan tetap mengajar mereka, sehingga akhirnya ada hasil (2 Kor 7:6-9). Semoga kita semua mencari penerangan Roh Kudus bagi diri kita juga bagi jemaat.


1 Kor 5:1-13 “Pemurnian melalui pengucilan” (12 Feb 2012)

Februari 9, 2012

Disiplin gereja menjadi hal yang sangat sulit dalam dunia modern yang majemuk. Makanya, adalah penting untuk mengingat prinsip teologis yang ada di baliknya. Jemaat adalah bagian penting dalam rencana Allah, bahkan disebut tubuh Kristus. Jadi, pengucilan bukan suatu taktik praktis saja, melainkan salah satu cara kita bekerja sama dengan Allah. Sejauh mana hal itu belum ditangkap, disiplin gerejawi akan kacau dan rancu. Etika tanpa teologi adalah lumpuh.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus bermasalah karena mengikuti hikmat duniawi yang terpesona dengan keagungan dan tidak berpatokan pada salib. Oleh karena itu, lemahlah identitas mereka sebagai tubuh Kristus, bait Allah yang kudus (3:16-17). Makanya, Paulus bertanya apakah dia harus datang kepada mereka dengan cambuk (4:21). Perikop kita adalah yang pertama dari tiga perikop di mana Paulus mengangkat contoh-contoh konkret dari kelemahan itu, dan mengingatkan jemaat tentang kebenaran tentang Allah dan Kristus (alias teologi) yang diingkari oleh tingkah laku mereka. Mulai dengan 7:1 kita belajar bahwa ada surat dari jemaat yang menanyakan berbagai hal, tetapi ternyata hal-hal dalam pp.5-6 justru tidak mereka tanyakan. Memang, masalah dosa yang berat jarang disingkapkan oleh jemaat sendiri, tetapi informasinya diperoleh melalui orang lain.

Perkaranya tidak diperinci dalam a.1, karena tentu sudah diketahui jemaat. Tetapi, hubungan mesra dengan ibu atau ibu tiri sama saja dikecam berat oleh semua budaya pada zaman itu, sama seperti yang dikeluhkan oleh Paulus. Dalam aa.2-5 dia berbicara tentang tindakan yang semestinya terhadap orang berdosa itu, yaitu pengucilan. Hal itu demi kebaikan orang tersebut (a.5), tetapi juga demi kesucian jemaat (aa.6-8). Dalam aa.9-13 Paulus membedakan sikap terhadap orang yang mengaku sebagai saudara dan orang-orang di luar.

Jemaat di Korintus sombong, dalam artian, memiliki penilaian diri yang terlalu tinggi (a.2). Bisa saja Paulus merujuk ke sikap mereka secara umum, tetapi jika 6:12 (“Segala sesuatu halal bagiku”) adalah moto mereka, bisa juga mereka bangga bahwa mereka bebas dari larangan-larangan sempit khalayak ramai. Soalnya, hal yang dilarang budaya-budaya itu juga dilarang oleh Tuhan (Im 18:6-8). Sebaliknya, semestinya mereka berdukacita karena adanya dosa itu dan mengeluarkan orang tersebut dari persekutuan mereka. Dalam aa.3-5 Paulus melakukan proses itu walaupun dari jauh. Dia menyatakan hukumannya, dan menyuruh mereka untuk berkumpul, dengan dia seakan-akan hadir dalam roh. Tujuan pengucilan adalah “agar rohnya diselamatkan”. Dengan berada di luar persekutuan jemaat, diharapkan bahwa dia akan sadar bahwa tindakannya membuat dia sama dengan seorang durhaka, supaya dia bertobat. Dengan dibiarkan di dalam persekutuan jemaat, dia menganggap bahwa tindakannya baik-baik saja.

Tiadanya disiplin di jemaat juga akan menyampaikan pesan yang sama kepada anggota-anggota jemaat yang lain. Kembali dalam a.6 Paulus mengecam sikap mereka. Mereka bermegah atas sesuatu yang semestinya dianggap memalukan, sehingga seluruh jemaat terpengaruh. Kiasan ragi yang mengkhamiri seluruh adonan dikembangkan dalam aa.7-8 dalam kaitan dengan Paskah. Ketika mau keluar dari Mesir, orang Israel menyembelih domba Paskah, yang kemudian dimakan bersama dengan roti tidak beragi, karena terburu-buru. Ketika Paskah dirayakan, orang Israel harus membuang seluruh ragi yang ada selama tujuh hari (Kel 13:7). Kristus adalah domba Paskah kita, dosa adalah ragi, dan jemaat adalah roti yang semestinya tidak beragi itu, sehingga dosa harus dibuang. Dosa disimpulkan sebagai “keburukan” dan “kejahatan”, kedua kata ini (kakia dan poneria) masing-masing dapat berarti kejahatan atau maksud jahat (mau merugikan). Sikap yang sesuai dengan pengorbanan Kristus disimpulkan sebagai “kemurnian dan kebenaran”. Kata “kebenaran” adalah aletheia, yang di sini merujuk pada perkataan yang benar dan tidak munafik.

Dalam aa.9-11 Paulus meluruskan tafsiran mereka akan sesuatu yang pernah dia tulis kepada mereka. Orang di luar persekutuan adalah urusan Allah (a.13). Tetapi persekutuan harus bertanggung jawab atas orang-orang di dalam. Daftar hal yang mencemarkan jemaat lebih luas daripada percabulan saja. Dalam a.10 orang kikir (pleonektes) adalah orang yang ingin lebih, penipu (harpax, dipakai untuk serigala dalam Mt 7:15) adalah orang yang merampas harta orang lain; kedua kata itu menggambarkan kelompok yang sama. Dalam a.11 Paulus menyisipkan pemfitnah dan pemabuk ke dalam daftar tadi. Orang cabul merusak tatanan keluarga, orang kikir dan penipu merusak tatanan harta, penyembah berhala merusak tatanan rohani, pemfitnah dan pemabuk merusak tatanan sosial. Allah akan bertindak terhadap perusakan itu di luar jemaat, tetapi jemaat adalah tubuh Kristus yang telah disucikan, sehingga jemaat diberi wewenang dan tanggung jawab untuk bertindak terhadap perusakan itu di dalam jemaat.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengingatkan jemaat akan identitas mereka sebagai kelompok yang telah ditebus oleh Kristus, Paulus mau supaya mereka menjaga kemurnian jemaat dengan mengeluarkan orang yang dosanya mengancam jemaat, baik supaya orang berdosa itu bertobat, maupun supaya jemaat tidak terpengaruh. Dalam rangka itu, dia menegaskan wewenang mereka untuk mengambil keputusan, dan juga menguatkan pemahaman mereka tentang identitas jemaat.

Makna

Kata beberapa ahli bahwa pengucilan merupakan penerapan orang Yahudi terhadap perintah dalam Taurat untuk membunuh pelanggar berat. Hukuman itu jelas memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua di atas, yaitu menjaga kekudusan umat Allah. Dilihat dari seluruh cerita Alkitab, artinya sama. Adam dan Hawa dikucilkan dari Eden; Isreal dikucilkan dari tanah Israel; kedua peristiwa itu ibarat kematian karena dijauhkan dari hadirat Allah. Hanya, dikucilkan masih memberi kesempatan bagi yang dihukum untuk bertobat dan diampuni.

Masalahnya bahwa sebagian jemaat yang jatuh ke dalam dosa tidak merasa berbahaya ketika dikucilkan, antara lain karena selalu ada denominasi yang lain tempat mereka dapat beragama (dan banyak yang tidak mau bertobat namun tetap mau beragama). Jika anggota jemaat di Korintus dikeluarkan dari persekutuan, tidak ada denominasi lain yang bisa dia ikuti. Jadi, konteks sekarang merongrong tujuan pertama pengucilan, yaitu pertobatan orang berdosa itu. Tetapi tujuan kedua, pengaruh pada jemaat, tetap berjalan. Masalahnya jika disiplin tidak pernah dijalankan (atau hanya pada hal-hal yang justru tidak pokok) ialah, jemaat menyimpulkan bahwa dosa tidak terlalu apa-apa. Sama seperti ketika pemerintah mengecam korupsi dengan keras tetapi ternyata yang mengecam itu juga terlibat, ajaran etis gereja dilihat sebagai sesuatu yang menyangkut penampilan saja, sesuatu yang idealis tetapi tidak realistis.

Mengapa sampai gereja begitu? Dalam individualisme Barat, individu adalah penentu utama nilai. Dalam pengertian itu, saya tidak berhak untuk mengatakan bahwa padanganmu itu salah, hanya bahwa pendirian saya berbeda. Dari satu segi, sikap itu berakar dalam Injil, karena Injil bermaksud untuk mengubah hati dan sikap, bukan sekadar memaksa penyesuaian dalam tingkah laku. Makanya, gereja hanya dapat bersaksi tentang nilai-nilai Injili, bukan memaksakannya kepada orang yang belum percaya kepada Yesus dan menerima kuasa Roh Kudus. Tetapi Allah memiliki visa tentang kemanusiaan yang sejati yang menentang berbagai bentuk kekacauan, seperti daftar Paulus tadi. Individu bukan penentu utama nilai. Jadi, adalah masalah besar ketika individualisme Barat yang ekstrim itu dibawa ke dalam gereja.

Tetapi bukankah Yesus sendiri melarang kita untuk menghakimi (Mt 7:1)? Dari ayat ini, ada yang menolak disiplin gerejawi dan bahkan menyimpulkan bahwa Allah tidak menghakimi. Jika maksudnya begitu, adalah jelas bahwa Paulus bertentangan dengan Yesus. Lebih lagi, Yesus sendiri jadi rancu, karena di beberapa ayat kemudian Dia “menghakimi” orang-orang tertentu sebagai nabi-nabi palsu (Mt 7:15), dan kemudian Dia berbicara tentang pengucilan melalui suatu proses di jemaat (Mt 18:15-20). Matius 18 menegaskan bahwa kemurnian jemaat penting bagi Yesus. Tetapi ada bahaya yang besar dalam menghakimi, yaitu kemunafikan (Mt 7:5). Kita harus sadar tentang dosa dalam diri kita dahulu, sebelum kita dapat melihat sesama dengan murni. Jika saya biasa memandang perempuan dengan tidak baik, saya akan menafsir semua pandangan laki-laki terhadap perempuan sama seperti saya. Jika saya adalah tukang gosip yang menjatuhkan, saya akan menafsir semua kritikan sebagai usaha untuk menjatuhkan. Tetapi jika saya telah mengeluarkan balok seperti itu dari mata saya dengan bertobat, maka saya dapat melihat dengan lebih jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudara saya (Mt 7:5). Dengan kata lain, menegor dosa dalam sesama adalah untuk membangun dia demi kemurnian jemaat, bukan untuk menutupi dosa dalam diri saya (dengan perhatian dialihkan kepada selumbar dalam mata orang lain, bukan baloknya dalam mata saya). Ajaran Yesus itu mau memurnikan disiplin gerejawi yang bertujuan untuk memurnikan, bukan meniadakannya.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 933 pengikut lainnya.