1 Pet 2:18-25 Berbuat baik dalam ketidakadilan [11 Mei 2014]

Mei 7, 2014

Perikop ini menyampaikan nasihat yang sulit diterima, tetapi pada saat yang sama membedakan kekristenan yang sejati dari yang semu. Menggunakan istilah Luther, perikop ini menyampaikan teologi salib. Teologi itu menawarkan gagasan yang tampak konyol bahwa hidup ditemukan dengan penyangkalan diri. Dari jemaat biasa sampai teolog yang berpendidikan tinggi, termasuk banyak pendeta, teologi itu tidak disukai, dan tidak ada orang yang dapat menghayatinya dengan mudah. Semoga kita dimampukan untuk menangkap visi yang ada di dalamnya. (NB: Perikop minggu depan pernah direnungkan di sini.)

Penggalian Teks

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan dari 1:1–2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13–3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18–20) serta teladan Kristus yang menjadi dasarnya (aa.21–25). A.18 menyampaikan sikap mendasar seorang hamba, yaitu penerimaan akan kedudukannya. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Kata itu tidak semutlak “menaati”. Orang percaya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, “tunduk” berarti bawahan mengakui otoritas yang diberikan Allah kepada atasannya. Pada umumnya hal itu berarti taat, tetapi, seperti Petrus sendiri terhadap Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya untuk menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Petrus mengakui wewenang Mahkamah Agung (termasuk untuk memenjarakan mereka), tetapi ketaatan kepada Allah harus lebih utama. Jadi, “tunduk” berarti mengakui kedudukan tuan. Hal itu dilakukan dengan “penuh ketakutan”. Kata fobos itu dapat berarti “takut kena hukuman dari atasan”, tetapi di sini berarti “takut mengecewakan atasan yang dihormati”, karena ditujukan kepada tuan yang ramah. Hamba dinasihati untuk menghargai kedudukan tuan, sehingga tidak mau mengecewakannya. Kedudukan sebagai hamba diterima dalam hati.

Yang mengejutkan ialah anjuran untuk menerapkan sikap itu bahkan kepada tuan yang bengis. Aa.19–20 tegas bahwa yang dimaksud di sini adalah perlakuan yang tidak adil (“menderita dengan tidak adil” adalah terjemahan harfiah untuk “penderitaan yang tidak harus ia tanggung”) karena hamba itu menderita karena berbuat baik. Menanggung perlakuan yang tidak adil itu disebut “kasih karunia” di hadapan Allah. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji orang yang melakukannya karena sadar akan Dia (kata “kehendak” dalam “sadar akan kehendak Allah” adalah tambahan LAI).

Dasar untuk sikap itu ialah teladan Kristus. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak memiliki dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23).

Selain sebagai teladan sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24–25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).

Maksud bagi Pembaca

Petrus mau supaya jemaat yang menderita karena ketidakadilan itu tetap berbuat baik sesuai dengan teladan Kristus, sebagai orang yang diampuni dan diperbaharui dalam kematian-Nya.

Makna

Konon, ada sebagian jemaat yang suka mengatakan, “itulah Kristus, kita manusia biasa”, bukan untuk menjelaskan mengapa mereka tidak berhasil sempurna seperti Kristus, melainkan untuk membenarkan arah hidup yang duniawi. Mungkin a.24 membutuhkan penekanan ekstra untuk menanggapi sikap itu. Pengampunan menyiratkan pengakuan bahwa dosa itu buruk sehingga ada kerinduan untuk dosa itu dapat ditinggalkan. Jika teladan Kristus tidak dilihat sebagai alasan untuk berubah, jemaat belum beriman kepada Kristus. Mungkin saja iman mereka kuat terhadap ilah yang dibayangkan dalam benak mereka, tetapi ilah itu merupakan berhala, dan tidak ada keselamatan dalam mengimani berhala. Kristus yang sejati adalah Kristus yang menderita, dan mengikuti Dia berarti mengikuti jejak-Nya.

Sebaliknya, bagi mereka yang mau seperti Kristus, adalah penting untuk memperhatikan bahwa Petrus tidak hanya mengangkat tentang Kristus sebagai teladan, tetapi juga sebagai Juruselamat. Bagi kita yang telah bergabung dengan Kristus, pengampunan dan penyembuhan itu selalu ada untuk menopang, mengoreksi, dan memperbaharui kita, tentu melalui persekutuan jemaat (Kis 2:41–47). Yoh 10:1–10 dan Mazmur 23 mengembangkan tema Allah/Yesus sebagai gembala yang baik.

Namun demikian, apakah nasihat dalam perikop ini bertentangan dengan seruan biasa dalam Alkitab untuk memperjuangkan keadilan? Memang, harus diingat bahwa perhambaan pada zaman itu begitu pokok dalam ekonomi dan tatanan masyarakat sehingga tidak dapat dilawan langsung—hal itu hanya akan menimbulkan kematian hamba-hamba yang memberontak. Seorang hamba juga sering dapat berharap untuk merdeka jika melayani dengan setia, dan Paulus menganjurkan hal itu dalam 1 Kor 7:21 (kalau ada tuan yang baik, belum tentu hamba itu mau merdeka sehingga harus berjuang sendiri untuk hidup). Tetapi Petrus membayangkan kondisi yang tidak dapat dilawan. Dalam kondisi itu, nasihatnya menawarkan cara untuk mempertahankan martabat sebagai manusia yang dikuduskan di dalam Kristus.

Ketidakadilan yang diterima sepertinya mengancam martabat diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Teladan Kristus membongkar pemahaman itu. Dia diperlakukan dengan paling tidak adil, tetapi martabat diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika martabat diri kita kuat di dalam Tuhan, karena kita membiarkan martabat diri ditentukan oleh penghakiman Allah, bukan penghakiman manusia.

Jadi, contoh Yesus menunjukkan bahwa atasan belum tentu benar. Kadangkala ada gejala orang berbelit-belit mengeluhkan perlakukan atasan, seakan-akan dalam lubuk hati sulit mempercayai bahwa atasan itu salah, dan dia benar (mungkin karena terpola sejak kecil bahwa orangtua dan atasan selalu benar). Tetapi Petrus jelas menganggap tuan yang bengis itu salah. Namun, dengan mengikuti jejak Kristus, orang yang diperlakukan dengan tidak adil menjadi pelaku, bukan korban belaka. Dia dapat memilih, apakah menanggung penderitaan yang tidak adil itu dengan cara seperti Kristus, sebagai orang yang telah mati terhadap dosa dan dipulihkan dalam Kristus, atau dengan cara lama yang sesat.


1 Pet 2:1-10 Jati diri sebagai umat Allah [18 Agustus 2013]

Agustus 13, 2013

Konon ada yang berharap bahwa renungan-renungan ini dapat ditambah dengan hal-hal yang lebih praktis. Mengingat bahwa yang memakai blog ini melayani di kota besar sampai pelosok (jika sempat keluar untuk mendapat jaringan), pertanyaan balik saya ialah, praktis untuk siapa? Hanya pelayan setempat yang bisa sungguh praktis. Tetapi ada satu pertanyaan lagi. Jika blog ini banyak berbicara tentang Allah, tentang karya Kristus, tentang identitas kita di dalam Kristus, untuk siapa hal-hal itu tidak praktis? Suami yang hanya mencari apa yang bisa dia lakukan bagi isterinya tetapi tidak mau memahami isterinya adalah suami yang belum memahami kasih. Jangan sampai jemaat-jemaat kita belum mengasihi Allah, sehingga cepat bosan mendengar tentang sifat-sifat-Nya yang mulia dan karya-karya-Nya yang besar.

Penggalian Teks

Berbicara kepada jemaat-jemaat yang mengalami keterasingan dalam dunia (1:1-2), Petrus meletakkan dasar dalam 1:3-2:10 untuk suatu pola hidup yang berbeda (2:11-12). Dasar itu mulai dengan akhir dari segalanya, yaitu pengharapan akan warisan kekal yang dijamin dalam kebangkitan Kristus (1:3-9) sesuai dengan nubuatan PL (1:10-12). Itulah yang akan memampukan jemaat untuk bertahan dalam berbagai pencobaan. Setelah penguatan itu, dia beralih ke implikasi dari pengharapan itu bagi kehidupan jemaat. Implikasi itu dikaitkan dengan suatu identitas yang baru di dalam Kristus. Yang pertama ialah kekudusan (1:13-16). Kekudusan itu terwujud dalam kasih yang muncul dari pengharapan dan iman (1:17-22). Untuk pokok ini, selain kebangkitan Kristus, Petrus juga menyoroti mahalnya penebusan dari kehidupan yang lama (1:18-19), dan hasil penderitaan Kristus sesuai dengan rencana Allah (1:20), yaitu kemuliaan (1:21). Kebenaran-kebenaran itu mengena karena firman Allah (Injil) disampaikan (1:23-25). Dalam perikop kita, soal identitas makin jelas. Kristus adalah dasar dari umat yang tidak lain dari “umat kepunyaan Allah sendiri” (2:9). Dengan demikian, melawan hawa nafsu dan budaya yang buruk menjadi hal yang melekat pada identitas diri, bukan suatu kegiatan lanjutan bagi yang menganggap diri rohani.

Ada banyak gambaran yang dipakai Petrus dalam perikop kita. Pada awalnya, beberapa gambaran menyangkut pertumbuhan. Aa.1-3 menggambarkan jemaat sebagai bayi dan firman sebagai susu. Bayi yang sudah mengecap kebaikan susu dari ibunya pasti memiliki hasrat yang tinggi untuk menyusu lagi. Manusia mengisi kebutuhan jiwanya dengan berbagai makanan yang palsu; a.1 mendaftar beberapa sikap yang mencemarkan kasih persaudaraan (bdk. 1:22). Ada permainan kata antara a.1 dan a.2 yang menunjukkan perbandingan ini: kata “tipu muslihat” (dolos) dan kata “murni” (adolos, “a-“ berarti “tidak”). “Bertumbuh dan beroleh keselamatan” semestinya dipahami sebagai “mencapai” keselamatan; maksudnya bukan keselamatan sebagai upah melainkan keselamatan (di sini hati yang sudah murni) sebagai tujuan.

Aa.4-5 meneruskan tema pertumbuhan, tetapi beralih ke gambaran tentang bangunan. “Rumah rohani” merujuk kepada Bait Allah, dan kita bukan hanya menjadi batu-batunya tetapi juga menjadi imamat yang melayani di dalamnya! Hal ini merupakan satu aspek lagi dari identitas jemaat: mempersembahkan persembahan melekat pada diri seorang imam, bukan merupakan kegiatan lanjutan bagi yang berminat. Kembali, dasarnya ialah Kristus, yang dalam kematian membuktikan kesalahan manusia yang melawan Dia (dan sekarang jemaat) dan dalam kebangkitan-Nya membuktikan pilihan Allah atas Dia (dan sekarang jemaat). Hal-hal itu dibuktikan dalam dua kutipan dari PL (6-8). Yes 28:16 (dikutip dalam a.6) adalah ayat tunggal yang menawarkan keselamatan di tengah satu pasal yang menubuatkan kehancuran bagi Israel yang congkak; Yesus adalah batu keselamatan. Pemilihan Yesus oleh Allah dalam a.4 dibuktikan dari Mzm 118:22. Tetapi, batu tidak hanya menjadi tempat yang aman, tetapi bisa juga menjadi sandungan, dan hal itu diungkapkan dengan kutipan dari Yes 8:14-15. Nasib orang terungkap dalam sikap terhadap Yesus: bagi jemaat Dia “mahal” (a.7; “ia” merujuk kepada “batu”, yaitu, Yesus), tetapi bagi mereka yang tidak percaya, Dia hanya layak dibuang.

Akhirnya, dalam aa.9-10, Petrus menggambarkan jemaat langsung sebagai umat Allah. Jika kita melihat rujukan silang yang dicantumkan oleh LAI untuk a.9, kita melihat bagaimana Petrus menyampaikan bahwa identitas Israel sebagai umat Allah diterapkan kepada jemaat di dalam Kristus. Dalam a.9a, ada empat kata yang dipakai untuk jemaat sebagai kolektif. Kata genos (keturunan, LAI “bangsa”) merujuk kepada asal-usul Israel sebagai keturunan Abraham yang dipilih. Dalam a.4 yang dipilih ialah Kristus, dan kita dipilih di dalam-Nya sebagai batu-batu di sekitar Dia sebagai batu penjuru. Kata basileios (“rajani”) merujuk kepada peran Israel sebagai bangsa yang berkuasa, tetapi dengan cara yang khas, yaitu dengan menjadi imamat. Dalam PL, Israel memanggil bangsa-bangsa untuk memuji Allah (misalnya, Mazmur 117), dan berharap untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3); peran itu justru menonjol di dalam Kristus. Kata ethnos (“bangsa”) merujuk kepada jati diri Israel di tengah bangsa-bangsa yang lain, yaitu kekudusan yang disampaikan dalam Hukum Taurat. Bagi jemaat, teladan Yesus serta salib dan kebangkitan-Nya yang menentukan cara hidup dalam kasih yang berbeda dari orang-orang di sekitar kita (lihat penjelasan tentang 1:13-25 di atas). Akhirnya, kata laos (umat) merujuk kepada maksud Allah bagi jemaat, yaitu sebagai kepunyaan Allah sendiri. Kita adalah milik Allah, yang semestinya hidup searah dengan rencana Allah dan menjadi siap untuk dipakai Allah. Tugas pokok dari jemaat yang mencakup empat aspek tadi (asal-usul, peran, jati diri dan maksud) adalah memberitakan karya Allah. Hal itu bisa kita lakukan karena Allah telah memanggil kita untuk menikmati hasil penebusan oleh darah dan kebangkitan Kristus. Penebusan itu membuat suatu mujizat: yang bukan keturunan Abraham dan anggota Israel telah menjadi bagian dari umat kepunyaan Allah yang beroleh belas kasihan (10).

Maksud bagi Pembaca

Petrus mau supaya kita menangkap apa identitas kita di dalam Kristus, sebagai dasar untuk hidup di tengah dunia yang sesuai dengan identitas itu. Dia mau supaya kita rendah hati dalam menginginkan firman (1-3), tetap setia kepada Kristus bahkan dalam penolakan manusia (4-8), dan bersaksi tentang karya-Nya (9-10). Dia mau supaya kita bertumbuh secara pribadi (1-3) dan sebagai jemaat (4-8) untuk memenuhi panggilan Allah yang begitu kaya (9-10).

Makna

Hal identitas penting, karena banyak hal yang kita lakukan muncul dari identitas kita. Tingkah laku yang muncul dari identitas lebih dalam dan bertahan lebih lama daripada tingkah laku yang hanya muncul dari rasa wajib atau teguran. Tingkah laku itu dikuatkan dengan cara seperti Petrus di sini—meneguhkan identitas sambil mengingatkan tentang cara hidup yang sesuai dengan identitas itu.

Identitas kita berakar dalam Kristus. Oleh karena pengharapan dalam kebangkitan-Nya, ada “sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1:8). Darah-Nya “mahal”, lebih berharga daripada emas (1:18-19). Tetapi bukan hanya karya-Nya yang sangat berharga; Yesus sendiri “mahal” (7). Mahalnya Yesus membuat kita siap untuk membayar harga ketaatan di tengah dunia yang tidak menyukai Yesus, seperti yang diuraikan selebihnya dalam surat Petrus ini.


1 Petrus 1:13-25 Kasih yang muncul dari iman dan pengharapan [21 April 2013]

April 17, 2013

Perikop ini sangat kaya, dan banyak berbicara tentang karya Kristus dan rencana Allah. A.22 sangat cocok sebagai nas, tetapi karena kita cenderung menganggap bahwa kita sudah memahami kasih, ada bahaya bahwa kita akan bercerita panjang lebar tentang kasih dari pemikiran dan pengalaman diri kita sendiri. Tentu, pendekatan seperti itu sangat keliru. Yang pertama, lihat a.17. Kita bertanggung jawab kepada Allah, bukan kepada para majelis yang cepat bosan mendengar tentang Allah, dan hanya mau dihibur oleh cerita-cerita lucu. Yang kedua, penguraian Petrus yang diilhami Roh Kudus itu jauh lebih menarik dan berbobot, dan akan jauh lebih efektif karena berkuasa mengubah jemaat. Bagaimana caranya akan kita lihat di bawah.

Penggalian Teks

Petrus menulis kepada jemaat-jemaat yang mengalami tekanan dari luar, dan menggambarkan mereka sebagai pendatang dalam dunia ini (1:1). Kata itu (parepidemos) dipakai untuk orang yang hanya singgah di suatu tempat. Dengan demikian, soal eskatologi—akhir dan tujuan hidup—diangkat dalam bagian awal surat ini, dan pengharapan menjadi tema besar di dalamnya. Bagian syukur (1:3-12) menempatkan iman sebagai cara menerima kekuatan Allah (1:5) untuk bertahan dalam “berbagai-bagai pencobaan” (1:6) sehingga pengharapan itu tercapai (1:7). Pengharapan itu menimbulkan kasih kepada Allah sebagai respons terhadap keselamatan yang luar biasa itu (1:8-9). Semuanya sesuai dengan kesaksian PL (1:10-12).

Makanya, dalam perikop kita yang merupakan bagian nasihat yang pertama, perintah pertama adalah berharap (elpizo; kedua perintah sebelumnya dalam LAI adalah partisip yang menerangkan kata kerja ini). Aa.14-16 membahas pola hidup berdasarkan pengharapan akan kedatangan Kristus; aa.17-21 membahas cara hidup berdasarkan iman akan pengorbanan Kristus; aa.22-25 membahas sifat hidup berdasarkan kasih yang ditanam oleh Injil. Jadi, kasih bagi orang percaya tidak hanya dibentuk oleh iman, kasih juga dibentuk oleh pengharapan.

Aa.13-16. Kata “turuti…yang menguasai” adalah terjemahan LAI dari kata suskhematizomai, yang dalam Rom 12:2 diterjemahkan “menjadi serupa”. Dunia di sekitar pembaca surat Petrus dibentuk oleh berbagai hawa nafsu. Tetapi mereka dipanggil untuk dibentuk oleh kekudusan Allah. Panggilan ini tentu mustahil kecuali kita menerapkan a.13. Pengharapan kita perlu diarahkan seluruhnya kepada kasih karunia keselamatan eskatologis dalam Kristus. Pengarahan itu tidak terjadi begitu saja tetapi menuntut kesengajaan (“akal budi”) yang teliti (“waspada”) terhadap harapan-harapan lainnya yang dapat merongrong ketaatan dengan membenarkan berbagai hawa nafsu. Harapan akan pujian manusia akan merongrong pengharapan akan “puji-pujian” yang akan kita peroleh pada hari kedatangan Kristus yang kedua kalinya (1:7); harapan akan harta duniawi akan merongrong pengharapan akan bagian yang tidak dapat binasa (1:4).

Aa.17-21. Dalam bagian ini ada beberapa konsep yang mungkin bisa dianggap berlawanan: Allah sebagai Bapa atau Hakim, ketakutan atau iman/pengharapan, dan penebusan dari dosa atau darah Kristus yang menghapus dosa. Seorang bapa mengasihi anak-anaknya sendiri, sesuai dengan kasih karunia dalam aa.13-16, tetapi Bapa dalam a.17 tidak memandang muka. Maksudnya bahwa kasih karunia Allah tidak membuat-Nya buta terhadap kelemahan anak-anak-Nya. Orang percaya tidak dihakimi Allah untuk menentukan apakah kita akan selamat atau binasa, tetapi Allah tetap memperhatikan dan menilai baik buruknya kehidupan kita. Hal itu membuat kita takut (dalam artian hormat, bukan gelisah) selama kita hidup di dunia ini.

Rasa hormat itu bukan hanya karena perhatian Allah, tetapi juga karena penebusan-Nya: kita ditebus dari hidup lama (sama seperti Israel ditebus dari perbudakan di Mesir) dengan darah yang mahal (18-19). Darah itu menghapus dosa (seperti “anak domba” dalam PL). Ada yang melihat penghapusan dosa itu sebagai alasan untuk berdosa (karena sudah aman), sedangkan penebusan itu membawa kita keluar dari dosa. Kuncinya di sini adalah “kesia-siaan” hidup lama. Dalam Kristus, kita mulai melihat buruknya dosa, sehingga mau dibebaskan daripadanya. Kiasan penebusan menunjukkan bahwa darah Kristus menghapus utang dosa, sehingga memutuskan hak dan kuasa hidup lama atas kita. Tentu, kita ditebus untuk menjadi anak-anak Allah, bukan tuan-tuan atas kehidupan diri sendiri.

Dalam a.20, Petrus menempatkan penebusan itu dalam konteks rencana Allah (seperti dalam 1:10-12). Kedatangan Kristus untuk pertama kalinya menandai kedatangan zaman akhir, sebagai puncak rencana Allah yang ada sebelum dunia dijadikan. Penyataan Kristus paling jelas dalam kebangkitan-Nya (21). Jadi, percaya akan kebangkitan Yesus adalah percaya kepada Allah. Kristus menjadi dasar dan pusat iman dan pengharapan kita kepada Allah. Jadi, dalam Kristus takut akan Allah diiringi kasih karunia, kasih karunia masa lampau (telah ditebus) yang diimani, dan kasih karunia masa depan (keselamatan eskatologis yang dijamin oleh kebangkitan-Nya) yang diharapkan.

Aa.22-25. Bagian ini menyangkut dua segi untuk mencapai kasih dengan segenap hati. Segi yang pertama ialah pemurnian keinginan-keinginan yang menghambat pernyataan kasih (seperti dalam 2:1). “Kasih persaudaraan yang tulus ikhlas” berarti kasih persaudaraan yang tidak dicemari oleh harapan-harapan palsu, seperti (untuk melanjutkan kedua contoh di atas) mencari muka atau mencari keuntungan. Hal itu terjadi karena “ketaatan kepada kebenaran”, yaitu terutama kebenaran tentang penebusan dan keselamatan eskatologis yang dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya. Segi yang kedua ialah benih firman Allah yang memungkinkan mengasihi dengan segenap hati. Seandainya hati seorang manusia berdosa dapat dibersihkan dari semua keinginan yang dicemari oleh dosa, bukankah hati itu akan menjadi kosong? Jadi, pemurnian tidak cukup, harus dilengkapi dengan pengisian kembali. Makanya, Petrus menjelaskan bahwa orang percaya dilahirkan kembali dari benih firman Allah yang disampaikan Injil. Injil menanam kasih Allah yang kekal dalam hati, suatu benih yang makin bertumbuh makin mengesampingkan keinginan-keinginan yang sia-sia. Tentu, yang diberitakan dalam Injil ialah Kristus yang telah menebus kita dan yang akan datang kembali. Injil adalah berita yang diimani dan diharapkan, sehingga menjadi benih kasih yang sungguh-sungguh.

Maksud bagi Pembaca

Jika a.22 diangkat sebagai fokus dari perikop yang begitu kaya ini, perikop ini merupakan nasihat yang mau mendorong pertumbuhan kasih melalui hati yang dimurnikan oleh iman dan pengharapan dalam Kristus. Hal itu adalah inti kekudusan, sesuai dengan status kita sebagai “bangsa yang kudus” (2:9), dan juga sifat mendasar dalam kesaksian (2:12).

Perhatikan betapa Kristosentris nasihat rasul Petrus ini. Banyak filsafat hidup berbicara tentang kasih, seperti dalam a.22. Tetapi bagi Petrus, kasih yang sejati itu bukan hasil usaha diri sendiri ataupun budaya setempat, melainkan buah dari berita Injil, yaitu penebusan yang diimani dan keselamatan yang diharapkan. Pada hemat saya, menegur jemaat karena kurang saling mengasihi tidak terlalu berguna. Bukankah mereka sudah tahu, sama seperti kita sudah tahu? Lebih berguna melacak akarnya. Apa saja sumber keinginan-keinginan jemaat (termasuk kita) yang mencemari kasih? Di mana iman dan pengharapan jemaat (termasuk kita) kepada Kristus kurang sehingga keinginan-keinganan itu tetap subur? Jemaat (paling sedikit jemaat yang siap mendengarkan) sudah merasa bersalah karena kurangnya kasih mereka. Mereka membutuhkan pertolongan Pelayan untuk menyiapkan akal budi mereka dan berwaspada terhadap semua yang merusak kasih.

Makna

Budaya memenuhi banyak kebutuhan manusia, dan salah satunya adalah menampung hawa nafsu manusia. Walaupun dosa adalah pilihan individu, dosa juga tersistem. Bisakah seorang individu berjudi seorang diri? Melacur seorang diri? Bergosip seorang diri? Budaya menyediakan sarana-sarana untuk berdosa. Bahkan yang dianggap individu, seperti kemarahan atau kecemburuan, akan dipengaruhi oleh budaya. Kapan dan bagaimana orang Toraja biasa cemburu tidak seluruhnya sama dengan orang Barat. Makanya, Petrus menyebutkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang (18). Hal itu tidak mengecam budaya secara total, tetapi menunjukkan bahwa budaya dicemari dosa, sama seperti hati manusia.

Bahkan, budaya dosa akan berbeda di setiap tempat. Makanya, tadi saya mengajukan pertanyaan ketimbang menambah contoh, karena Pelayan itu sendiri yang harus berpikir secara teologis tentang kondisi jemaat dalam rangka pengharapan, iman dan kasih. Pelayan yang bergaul dengan jemaat sehingga pola kekurangan kasih dikenal. Pelayan yang mendengarkan dan mendoakan jemaat sehingga memahami di mana iman dan pengharapan jemaat lemah. Jadi, Pelayan yang diutus Allah untuk membawa perikop ini ke dalam kehidupan jemaat sebagai firman Allah, yang hidup dan yang kekal.


1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas

November 3, 2010

Sepintas lalu perikop ini menyangkut hubungan timbal-balik antara suami dan istri. Tetapi jika dicermati, nasihat Petrus menyangkut dua keadaan yang berbeda. Aa.1-6 menyangkut seorang istri dengan pasangan yang belum percaya, sedangkan dalam a.7 pasangan si suami adalah sesama pewaris kasih karunia. Jadi, kedua-duanya merupakan penerapan dari 2:13-17, yang menyampaikan bahwa dalam kemerdekaan sebagai hamba-hamba Allah, orang-orang Kristen semestinya menjadi lebih baik dan berguna dalam masyarakat, bukan lebih kacau. Lembaga-lembaga seperti pemerintahan hanya disinggung di situ, tetapi kemudian Petrus menyoroti lembaga-lembaga dalam rumah tangga, yakni perhambaan (bnd. 1 Pet 2:18-25 yang dibahas beberapa minggu yang lalu), dan dalam perikop kita pernikahan. Kemudian, dalam 3:8 dst Petrus kembali ke soal persekutuan di tengah dunia yang tidak ramah, melanjutkan tema 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa”. Tema itu adalah penerapan dari identitas jemaat sebagai umat Allah (2:9-10) sebagai puncak penguaraian Petrus tentang Injil. Jadi, perikop kita adalah bagian dari penguraian Petrus tentang cara hidup yang baik sebagai kesaksian tentang Kristus.

Latar belakang budaya juga perlu dijelaskan sedikit. Pernikahan dalam budaya Yunani abad pertama tidak terlalu mengandung unsur persahabatan. Bagi laki-laki, istri menyangkut keturunan yang sah, sedangkan seringkali ada isteri muda untuk penghiburan dan/atau pelacur untuk kesenangan. Istri tidak sama dengan hamba, tetapi tetap dituntut taat kepada suami. Hal itu termasuk agama, dan seorang isteri dituntut mengikuti pola agama suaminya. Makanya, Petrus mengalamatkan isteri yang suaminya belum percaya, tetapi bukan sebaliknya karena jarang ada suami yang isterinya tidak mengaku ikut percaya. Jadi, dalam aa.1-6 kita belajar tentang cara bersaksi oleh bawahan dalam hubungan yang tidak seimbang, dan dalam a.7 kita belajar tentang pernikahan kristiani.

Kedua bagian itu masing-masing memiliki tujuan. Isteri menempatkan diri di bawah kuasa (artian harfiah dari kata yang diterjemahkan “tunduk”) suami yang belum percaya itu untuk memenangkan dia (a.1). Suami hidup dengan bijaksana, artinya, dalam pengetahuan bahwa isterinya teman pewaris dari kasih karunia, supaya doa jangan terhalang. (Apakah doa suami, doa suami dan isteri secara terpisah, atau justru doa keluarga yang dirujuk di sini tidaklah jelas, tetapi semuanya mungkin.) Aa.2-6 merupakan penjelasan dari a.1, yaitu menguraikan apa itu cara hidup yang baik. Oleh karena itu, usulan amanat teks sbb: Cara hidup yang baik dalam pernikahan dapat memenangkan suami yang belum percaya dan memperlancar doa keluarga. Judul “Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas” bisa menjadi bibit amanat khotbah.

Beberapa catatan sbb. 1) Bahasa “cara hidup yang baik” diambil dari 2:12, sebagai latar belakang dari perikop ini, di mana penempatan diri dari isteri dan hidup dengan bijaksana dari suami dicakup dalam bahasa itu. Satu alternatif ialah “Menghormati pasangan dalam pernikahan” dst. Kata hormat diambil dari 2:17, dan bisa mencakup penempatan diri oleh isteri, dan juga soal hidup dengan bijaksana oleh suami. “Cara hidup” dalam 2:12 merupakan terjemahan bahasa Yunani anastrofe yang dalam 3:1 ini diterjemahan “kelakuan”.

2) “Tunduklah” dalam a.1 berarti “menempatkan diri di bawah”, artinya, mengakui wewenang atasan. Dari akhir penjelasan dalam a.6, “tidak takut akan ancaman”, kita melihat bahwa maksudnya bukan bahwa isteri disuruh pasrah saja karena terlalu takut untuk melawan. Sebaliknya, dalam kasih kepada suami, yaitu dengan keinginan supaya dia dimenangkan bagi Kristus, isteri, dalam takut akan Allah, berusaha untuk menjadi isteri yang baik. Penguraian dalam aa.2-4 menunjukkan bahwa “isteri yang baik” diartikan sesuai dengan budaya pada saat itu, karena nasihat Petrus mirip dengan nasihat umum pada saat itu tentang perhiasan dsb. Tentu, nasihat umum itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Injil, dan Petrus melihat bahwa intisari nasihat itu cocok dengan apa yang diinginkan Allah (a.4 “di mata Allah”), dan juga sikap isteri-isteri dalam PL (aa.5-6a, perhatikan bahwa “-nya” dalam “anak-anaknya” dalam bahasa aslinya merujuk pada Sara, bukan Abraham). Tetapi dalam paling sedikit satu hal dia harus siap tidak taat kepada suaminya, yaitu dengan tidak ikut agamanya. Jadi, menjadi isteri yang dianggap baik oleh suami bukan soal ketakutan melainkan kesaksian.

3) Hal itu berarti bahwa nasihat bagi isteri itu bersifat kontekstual. Tidak tepat, misalnya, kalau a.3 dianggap melarang perempuan berdandan, karena yang ditujukan dalam nasihat umum di budaya itu bukan soal perhiasan an sich melainkan pencarian perhatian melalui berdandan. Orang bijak dalam budaya Yunani dapat membedakan karakter yang membawa keindahan ke dalam keluarga dari penampilan yang menarik perhatian bagi perempuan. Lebih lagi orang kristen yang mengalami pembaruan dalam batin. Namun, tidak semua perhiasan dapat dianggap penonjolan diri.

4) Sekali lagi, aa.1-6 tidak berbicara tentang keluarga kristen, melainkan tentang keluarga yang bercampur agama. Barangkali, isteri dan suami pernah seagama, entah agama Yahudi atau keagamaan Yunani-Romawi, tetapi isteri sudah jadi percaya kepada Kristus. Hal itu bisa juga terjadi di Indonesia, entah aluk todolo atau Islam atau agama yang lain. Tetapi, dalam konteks kekristenan sering ada suami yang mengaku kristen tetapi juga “tidak taat kepada Firman”, alias kristen KTP. Nasihat Petrus supaya tindakan dibiarkan berbicara lebih dulu mungkin bisa berguna sebagai alternatif dari isteri menegor suaminya terus. Rumah tangga adalah tempat orang paling ketahuan sifatnya. Jika Kristus terpancar di dalam kehidupan isteri, hal itu sulit diabaikan oleh suami (walaupun sebagian suami ternyata berhasil mengabaikannya).

5) Ada istilah “kekerasan rohani”, di mana (biasanya) suami tampil sangat saleh tetapi melecehkan isterinya terus melalui kritikan yang tidak berdasar. Suami yang dipengaruhi oleh budaya patriarkhis bisa sulit untuk menerima isterinya yang lemah dalam kedudukan sosial sebagai setara dalam pewarisan kasih karunia. Tetapi doa-doa suami seperti itu tidak akan diterima Allah (bnd. 3:12), dan ibadah keluarga tidak dapat dilakukan dengan tulus dalam suasana seperti itu.


1 Pet 2:18-25 Harga diri di tengah penderitaan yang tidak adil

September 28, 2010

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18-20) serta dasarnya (aa.21-25). Nasihatnya memang sulit. Ketidakadilan yang diterima begitu saja mengancam harga diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Sepertinya a.18 menyuruh hamba tunduk pada kebengisan dan hidup dalam ketakutan. Malah, dalam aa.19-20 hal itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Banyak bagian Alkitab yang lain menyuarakan keadilan, karena semua manusia adalah gambar Allah sehingga semua manusia bermartabat di hadapan-Nya. Mengapa sebagai hamba yang percaya kepada Kristus saya sepertinya disuruh untuk tidak memperjuangkan keadilan untuk saya (ataupun sesama hamba)?

Oleh karena itu, saya memberi sorotan yang mudah-mudahan tidak dianggap berlebihan pada nas ini. Dua hal perlu diamati.

Yang pertama adalah konteks sosialnya. Sama sepert di Toraja ketika Injil datang, perhambaan dalam kekaisaran Romawi adalah hal yang menjadi landasan sistem perekonomian. Ada dua perbedaan dengan Toraja ketika Injil datang. Yang pertama, ketika Injil datang dengan zending, datang pula sistem perekonomian dunia Barat yang sudah meninggalkan perhambaan karena teknologi mengambil alih fungsi hamba. Pada abad pertama tidak ada alternatif yang terpikirkan. Bahwa inti perhambaan, yakni bahwa hamba adalah milik tuannya, sama menurut hukum dengan harta benda, itu salah, jelas karena gambar Allah terletak pada semua manusia. Tetapi, perhambaan di dalam kekaisaran Romawi juga tidak selalu buruk. Perbedaan kedua dengan perhambaan Toraja ialah bahwa hamba Romawi pada umumnya dapat berharap untuk dibebaskan pada usia tiga atau empat puluhan dan menjadi warga Roma, karena menjadi hamba adalah soal ekonomi, bukan kasta. Malah, status sosial seorang hamba dari tuan yang statusnya tinggi dapat lebih tinggi daripada orang merdeka yang statusnya rendah. Dokter, guru dan sebagainya adalah hamba. Jadi, pemberontakan terhadap sistem perhambaan tidak masuk akal pada saat itu, dan biasanya hamba akan lebih beruntung dalam jangka panjang jika dia bertahan, sekalipun tuannya bengis.

Jadi, kita dapat lebih memahami strategi PB soal perhambaan. Sistem itu tidak dapat diubah langsung. Tetapi, dalam persekutuan jemaat kesetaraan sebagai manusia yang ditebus oleh Kristus dapat memulihkan harga diri yang secara prinsip digilas oleh hukum yang mengatakan bahwa hamba adalah benda. Tetapi apakah nasihat Petrus ini menggilas harga diri itu?

Untuk beberapa kata terjemahan LAI bisa disalahpahami. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Kemudian, kata “ketakutan” (fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan” atau “takut mengecewakan atasan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua yang dimaksud di sini, karena ketakutan ini juga dianjurkan kepada tuan yang peramah. Jadi, artinya sesuai dengan kata hupotassomai tadi; kita menghargai kedudukan tuan, sehingga kita tidak mau mengecewakannya.

Hal itu memang tidak mudah jika kita diperlakukan dengan tidak adil, tetapi Petrus mengarahkan kita untuk melihat Hakim yang sebenarnya. Dalam aa.19-20 terjemahan “kasih karunia” mungkin tidak optimal. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan tuan yang bengis. Implikasinya jangan disepelekan. Atasan yang tidak adil adalah salah. Anda mungkin tidak terlalu dikejutkan oleh perkataan itu, tetapi pada hemat saya cara orang Toraja mengeluhkan keputusan orang-orang besar dalam gereja dan masyarakat menunjukkan bahwa dalam lubuk hati orang Toraja percaya bahwa atasan semestinya benar. Keluhan-keluhan kita berbelit-belit karena kita sebagai bawahan tidak yakin bahwa sudut pandang kita bisa lebih benar daripada atasan. Jika berhadapan dengan atasan, keluhan kita hilang, atau kadangkala berlebihan karena emosi. Kita belum percaya bahwa Allah berpihak kepada kita dalam penderitaan yang tidak adil itu.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23). Yang menarik, dengan demikian harga diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, dan disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Sungguh, atasan belum tentu benar. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika harga diri kita kuat di dalam Tuhan.

Selain sebagai contoh sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24-25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).


1 Pet 3:8-12 Hidup yang mencerminkan berkat Allah

Juli 23, 2008

Kitab 1 Petrus membicarakan pergumulan orang percaya dalam keadaan tertekan. Setelah mengingatkan mereka tentang identitas mereka sebagai umat Allah dan pewaris janji-janji Allah (1:1-2:10), dia menasihati mereka tentang bagaimana caranya hidup dengan baik di dunia yang menentang kepercayaan mereka (2:11-12). 2:13 sampai dengan perikop ini membahas hubungan pribadi dengan menyoroti hamba (2:18-25) dan istri (3:1-7). Kristus yang menderita diangkat sebagai teladan dalam hal ini (2:21) sekaligus mengingatkan pembaca tentang kepedulian Allah (2:25). Bagian berikut (3:13dst) akan menerapkan hal-hal yang sama secara lebih luas di tengah masyarakat.

Sebagai kesimpulan dari nasihat sebelumnya, Petrus menganjurkan sikap mencari berkat. Hal itu dimulai dengan keharmonisan di jemaat (a.8, seia sekata hanya cocok dengan orang yang seiman). Kalau bukan di jemaat, di mana lagi? Tetapi dalam a.9 hubungan dengan musuh dibahas. Sebagai penerima berkat, hidup jemaat semestinya diilhami berkat. Jemaat dapat mengasihi musuh dengan mengucapkan berkat. Kutipan dari Mzm 34 yang berikut menegaskan hal itu. Pada umumnya kalau kita mencari berkat kita akan mendapatnya juga. Bahwa itu bukan hal mutlak sudah jelas dalam ayat berikut (a.13).

Memang dugaan Petrus ialah bahwa yang seia sekata adalah jemaat dan yang memusuhi ada di luar (walau tentu tidak semua di luar memusuhi). Tetapi kadangkala musuh yang harus diberkati justru di dalam jemaat, bukan di luar. Apakah hal itu adalah gejala identitas yang kurang berakar dalam berkat Injil, sehingga tidak mencari berkat bagi orang lain?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.