Agustus 24, 2009
Sebelum perikop ini yang menceritakan permulaan keterpisahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan, ada peristiwa yang sebenarnya memaknainya. Maksudnya, pertemuan antara Yeroboam dan nabi Ahia dalam 1 Raj 11:26-40. 1 Raj 11 menceritakan penyelewengan Salomo sebagai permulaan kegagalan Israel, setelah perkunjungan Ratu Syeba sebagai puncak keberhasilan Israel dalam 1 Raj 10. Oleh karena dosa Salomo, maka ada serangkaian masalah terjadi, terutama munculnya pemberontak dalam diri Yeroboam, anak emas Salomo itu. Soalnya, Yeroboam diangkat oleh Tuhan sendiri melalaui nabi Ahia tersebut. Yang menggerakkan peristiwa-peristiwa politik ini adalah firman Allah.
Memang, Allah bekerja melalui kebodohan manusia, dalam hal ini Rehabeam. Rehabeam menjadi contoh pemimpin yang tidak mempedulikan rakyatnya, dan juga contoh orang yang mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Mereka mengusulkan konsep kepemimpinan yang dikokohkan Yesus tetapi sebenarnya sudah ada di PL, yaitu pemimpin sebagai hamba (12:7). Namun, nasihat kebodohan yang diterima Rehabeam dan disampaikan kepada rakyat. Apa asal-usul kebodohan Rehabeam itu? Silakan dipikir-pikirkan, tetapi dalam a.15 ada jawaban yang lebih mendasar. Seandainya kita sudah lupa akan peristiwa 1 Raj 11:26-40 itu, kita diingatkan bahwa semua ini terjadi untuk menepati firman TUHAN.
Perikop ini kemudian menceritakan tuntasnya keluarnya suku-suku Israel kecuali Yehuda (dan Benyamin). Rehabeam tetap bodoh. Dia hampir ikut dibunuh (a.18), kemudian dia mau berperang. Hanya, ada firman lagi dari Allah untuk mencegahnya.
Kita perlu mendengarkan nilai kepemimpinan yang disampaikan oleh para penasihat Salomo dan ditegaskan melalui bodohnya gambaran yang terbalik dalam diri Rehabeam. Kita perlu juga memikirkan bagaimana menyikapi kepemimpinan yang kurang, karena itu kenyataan yang sering dihadapi sampai sekarang. Kebodohan yang jahat seperti Rehabeam seringkali memberatkan bukan hanya pemimpin melainkan bawahannya, dan selayaknya kita berduka atas hal itu. Tetapi Allah tetap berdaulat. Rencana-Nya lebih kuat daripada kebodohan dan kejahatan manusia. Jika dalam peristiwa ini rencana Allah berpusat pada Yerusalem dan keturunan Daud (11:32), rencana itu sudah berpuncak dalam Kristus. Ketika gereja yang penuh dengan orang yang imannya lemah mendapat kepemimpinan yang sama, firman Allah tetap berkuasa untuk memanggil orang kepada Kristus dan menguatkan mereka di dalam-Nya.
Leave a Comment » |
1 Raja-raja | Ditandai: Jemaat, Pelayanan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Desember 19, 2008
Israel dipilih Allah untuk menjadi wakil bangsa-bangsa supaya sebagai bangsa yang kudus berkat Allah dapat mengalir kepada bangsa-bangsa. Puncak tema itu dalam PL dilihat ketika ratu Syeba berziarah untuk melihat Salomo (1 Raj 10). Namun, pada kenyataannya, Israel menjadi wakil bangsa-bangsa dalam keberdosaan. Hal itu nampak pada Salomo sendiri, dan p.12 menceritakan perpecahan kerajaan Israel sebagai akibatnya. Raja-raja Israel, baik dari kerajaan utara maupun selatan, berbagian dalam keberdosaan itu. Jadi, ketika disampaikan kepada Yeroboam bahwa dia diberi kerajaan utara, disampaikan pula janji seperti kepada Daud (11:38). Tetapi dia juga tidak sanggup menaati Allah.
Soalnya, Allah sudah memilih Yerusalem sebagai tempat Israel akan menyembah Dia. Tetapi Yeroboam takut kalau Israel (bagian utara) pergi ke Yerusalem (bagian selatan) untuk menyembah (12:27). Bukankah fungsi agama adalah menopang pemerintahan negara? Jadi, Yeroboam membuat agama sendiri untuk diikuti Israel.
Ternyata Allah tidak setuju dengan fungsi agama itu. Dalam p.13 sikap Allah dinyatakan dengan jelas, ketika Yeroboam ditegor, mezbahnya terpecah, dan nubuatan akan kehancurannya disampaikan. Ketegasan Allah dilihat ketika abdi Allah yang menyampaikan firman Allah itu kena hukuman Allah ketika dia sendiri menyimpang dari jalan-Nya (13:11dst)! Agama Israel semestinya berpusat pada Allah, bukan negara. Sekalipun hukuman Allah tertunda—Yosia yang dinubuatkan baru muncul tiga abad kemudian (2 Raj 23:15-16)—sikap Allah terhadap pemberontakan jelas.
Ketika kita membahas hukuman terhadap Israel, kita semestinya mengingat bahwa Yesus datang sebagai Mesias Israel untuk menanggung hukuman itu di atas salib. Israel mewakili bangsa-bangsa dalam hal keberdosaan, dan Yesus mewakili Israel dan bangsa-bangsa dalam hal hukuman terhadap keberdosaan itu. Hal itu tidak berarti bahwa sikap Allah terhadap dosa itu kabur. Jika seperti Yeroboam kita hanya mengaku adanya dosa terhadap Allah tanpa ada perubahan sikap yang berarti, maka nasib kita sama dengan mezbah yang dihancurkan itu, sekalipun hukuman itu ditunda sampai akhirat.
Semoga perayaan kedatangan Yesus yang lalu dan yang akan datang mendapat sambutan yang baik dalam hati kita.
Leave a Comment » |
1 Raja-raja | Ditandai: Hukuman, Pertobatan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
November 20, 2008
Pesan Daud kepada anaknya Salomo yang sudah naik takhta mengandung harapan dan juga benih kegagalan. Pada pasal sebelumnya Salomo disambut rakyat dengan gembira, malah ada harapan bahwa kerajaan di bawah Salomo akan lebih sejahtera daripada di bawah Daud (1:47). Bagi Daud hal itu adalah penggenapan janji Allah bahwa keturunannya akan menduduki takhta Israel sampai selama-lamanya. Dalam kisah selanjutnya, itulah yang terjadi. Kerajaan di bawah Salomo mencapai puncak kejayaan dengan datangnya ratu negeri Syeba (p.10, lihat Menafsir Sejarah (2))
Namun, Daud harus mengingatkan Salomo bahwa janji Allah terkait dengan ketaatan manusia. Tentu, hal itu adalah tema dari awal sampai akhir Alkitab. Soalnya, berkat yang diterima dari Allah tetapi tidak dihayati dengan ketaatan bukan berkat lagi. Malah, jika manusia dilestarikan dalam keadaan tidak taat maka keadaannya justru menjadi kutuk. Barangkali gagasan itu merupakan salah satu cara untuk menjelaskan mengapa manusia harus diusir dari taman Eden.
Sayangnya, raja-raja Israel mewakili rakyatnya dalam berbuat dosa, sehingga akhirnya Israel juga harus dibuang dari tanah perjanjian. Kegagalan itu sudah disinyalir dengan perzinahan dan pembunuhan oleh Daud sendiri, dan menjadi tema yang menonjol dari pasal setelah pasal tentang ratu negeri Syeba itu, ketika diceritakan bagaimana Salomo gagal setia kepada Tuhan.
Saya duga bahwa dalam ayat-ayat berikut, yakni aa.5-9, kegagalan Israel itu disinyalir secara halus. Di situ kita lihat bagaimana kerajaan berdasarkan kekerasan, seperti dinubuatkan Samuel (lihat 1 Sam 8:11-18). Menarik bahwa riwayat Daud berakhir dengan kata-kata dalam aa.5-9 daripada kata-kata dalam aa.2-4. Bukankah dalam gereja sekarang banyak pemimpin yang efektif bagi Tuhan tetapi yang juga memiliki kekurangan dalam cara berkuasa?
Namun, janji Allah tidak digagalkan oleh kegagalan manusia. Walaupun keturunan Daud berhenti sebagai raja sejak pembuangan, namun Yesus Kristus, keturunan Daud, yang berkuasa sebagai hamba, telah menjadi raja yang kekal. Dialah raja yang sungguh taat sehingga berkat-Nya tidak bercacat. Dialah raja yang layak kita sambut dengan gembira.
Leave a Comment » |
1 Raja-raja | Ditandai: Eskatologi, Kuasa |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan