September 14, 2008
Bagian ini merupakan pengantar Paulus sebelum nasihat khusus dalam pp.2-5. Ternyata ada masalah dengan ajaran palsu yang perlu ditangani oleh Timotius (1:1-3). Yang diharapkan Paulus adalah hidup jemaat berdasarkan iman, yang dia simpulkan dalam a.5 sebagai kasih. Apa dasar kasih itu? Ketiga “dari” dalam a.5 merujuk pada batin yang tidak terbagi-bagi. Soalnya, pengajar sesat tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dalam ayat-ayat berikut Paulus memberi penjelasan.
Yang pertama adalah soal hukum Taurat. Paulus menegaskan bahwa Taurat tertuju bagi orang berdosa, bukan orang benar (a.9). Memang banyak dosa yang dilarang di dalamnya (a.10), tetapi Injil dari Allah yang mulia sudah memiliki dasar untuk menentang hal-hal itu (a.10b-11). Paulus kemudian bersaksi tentang kuasa Injil, yang mengubah dia dari seorang penganiaya menjadi pelayan Allah (aa.12-13). Anugerah Allah melimpah di atasnya, dengan iman dan kasih (a.14). Kasih berdasarkan iman adalah ringkasan dari tujuan Paulus dalam a.5; ternyata sumbernya adalah anugerah dari Injil, bukan hukum dari Taurat. A.15 menyimpulkan prinsipnya: Allah menyelamatkan orang berdosa. Paulus sendiri adalah contoh utama penerima hidup kekal (a.16), sehingga dia memuji kemuliaan Allah raja segala zaman. (Kata kekal dan kata zaman berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa aslinya.)
Bagi Paulus, orang yang menanggapi masalah dengan hukum daripada dengan Injil adalah pengajar sesat yang tidak tahu apa-apa. Soalnya, hukum menegor orang berdosa, tetapi tidak dapat menimbulkan hati nurani yang murni apalagi kasih yang sejati. Dasar perubahan yang sejati adalah Injil tentang pengampunan dan hidup kekal yang membawa kita untuk memuliakan Allah. Memang, jika dasar itu ada maka cara hidup perlu diberitahukan, sebagaimana disampaikan Paulus dalam pasal-pasal berikut. Tanpa dasar Injil, betapapun semangat kita menegor, tidak akan ada buah kasih dan iman.
3 Tanggapan |
1 Timotius | Ditandai: Anugerah, Iman, Kasih, Kekudusan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Juli 31, 2008
Kepemimpinan yang baik merupakan tantangan di banyak bidang di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Ternyata rasul Paulus menghadapi hal yang sama di Efesus, tempat kadernya Timotius ditinggalkan. 1 Tim 1:3-5 mengantarkan dua segi dari keprihatinannya, ajaran yang sesat dan cara mengajar yang merusak kasih. Karena isi ajaran yang sesat hanya sedikit diuraikan atau ditanggapi dalam surat ini, saya rasa itu cara mengajarlah yang menjadi masalah utama di sana. Setelah berbagai nasihat untuk penertiban hidup berjemaat dalam pp.2-5, Paulus kembali ke tema ini dalam perikop kita secara lebih tajam. Masalah yang dihadapi muncul karena cinta uang.
A.2b merujuk pada semua nasihat sebelumnya, dan dipertegas dalam aa.11dst. Sebelum a.11 Paulus menguraikan masalah ajaran lain. Tolok ukur adalah ajaran Kristus yang terwujud dalam ibadah. Maksud ibadah di sini adalah kesalehan secara menyeluruh, bukan hanya kebaktian formal. Dari 1:5, inti ajaran itu adalah kasih. Gejala penyimpangan adalah keributan karena orang mencari keuntungan (aa.4-5), khususnya uang. Sikap itu dibandingkan dengan sikap yang tepat, yakni rasa cukup (aa.6-8).
Seringkali di gereja, masalah dengan kepemimpinan bukan isi ajaran yang begitu menyimpang melainkan motivasi. Karena beragama penting di Indonesia, gereja menjadi tempat pencarian keuntungan. Misalnya, menjadi pendeta di gereja yang mapan bisa sama penghasilannya dengan menjadi PNS. Menjadi majelis bisa menjadi jalan yang lebih memungkinkan untuk mendapat kedudukan di masyarakat. Malah, menjadi bendahara menjadi jerat bagi beberapa orang. Tentu, masalahnya bukan pada adanya pendapatan atau hormat melainkan pada hati orang.
Kuncinya dalam perikop ini ialah mempertimbangkan hasil. Orang yang sudah belajar, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (a.8), adalah orang yang berbahagia dalam berbagai keadaan. Dia tahu bahwa inti sari manusia bukan kekayaan (karena “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia”) dan bahwa harta dalam dunia mendatang ialah Allah yang kepadanya kita beribadah sekarang (“kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”). Itulah sikap iman (a.10). Sebaliknya, hasil orang yang belum belajar demikian ialah nafsu yang hampa, keruntuhan dan duka (aa.9-10). Artinya, orangnya hanya bisa merasa berbahagia sekejap, karena nafsunya tidak pernah puas, dan kejahatannya akan menyusul, entah dalam kehidupan ini entah pada akhirat. Orang-orang yang tidak berbahagia ini yang banyak mengganggu persekutuan jemaat dengan mencari-cari soal, percekcokan dsb.
Tetapi enkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu…
4 Tanggapan |
1 Timotius | Ditandai: Iman, Perselisihan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan