1 Tim 3:14-16 “Gereja Tiang Kebenaran” (29 Jan 2012)

Januari 24, 2012

Kadangkala mengetahui bahasa aslinya berguna. Nas yang pendek ini adalah satu contoh. Terjemahan “kebenaran” tidak salah, hanya dengan mudah akan ditafsir lain dari maksudnya, lebih lagi jika konteks tidak diperhatikan. Bagaimanapun juga, nas ini menguatkan semua yang melayani di dalam gereja.

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada Timotius untuk menguatkannya dalam tugas yang digambarkan dalam 1:3-7, yaitu, menghadapi berbagai ajaran sesat. Dalam rangka itu, Paulus memberi gambaran singkat tentang ibadah dalam jemaat (p.2), kemudian tentang sifat-sifat para pemimpin (p.3), kemudian tentang ajarannya sendiri dan respons Timotius terhadapnya (p.4). Perikop kita adalah sisipan yang menegaskan kembali dasar untuk nasihat Paulus (seperti juga dalam 1:15; 2:3-7).

Jadi, dalam aa.14-15a Paulus kembali berbicara tentang maksudnya menulis. Andaikan dia tidak berhalangan, Paulus akan memilih untuk langsung mengunjungi jemaat di Efesus. Menulis menjadi pengganti kehadirannya.

Yang dianggap pokok oleh Paulus disampaikan dalam aa.15: “bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”. Frase itu memang menyimpulkan pp.2-3 tadi. Kata “keluarga” menerjemahkan kata oikos yang pada dasarnya berarti rumah, tetapi sudah dipakai dalam 3:4 & 12 untuk penghuni rumah, artinya, rumah tangga atau keluarga. Tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud istilah oikos adalah orang-orang yang tinggal bersama, bukan keluarga besar yang mungkin tersebar. Jemaat pada saat itu masih berkumpul di rumah-rumah, tetapi bahasa “oikos Allah” berbicara lebih luas, tentang jemaat yang dalam rangka iman hidup bersama. Sebagaimana dilihat dalam 3:4 tadi, penilik berfungsi sebagai pemimpin (orang tua) dalam “rumah” jemaat itu.

Tentang oikos Allah itu, Paulus menambahkan dua deskripsi lagi. Yang pertama adalah “jemaat dari Allah yang hidup”. Kata “jemaat” (asli ekklesia) berarti sidang, dan justru berasal dari konteks sekuler (seperti Kis 19:39). Ekklesia Allah adalah orang-orang yang berkumpul di sekitar Allah dalam ibadah, seperti Israel berkumpul di sekitar Kemah Suci. Ekklesia itu berbeda dari sidang rakyat karena pusatnya adalah Allah yang hidup.

Oikos dan ekklesia Allah itu yang disebut “tiang penopang dan dasar kebenaran”. Kata “kebenaran” di sini menerjemahkan kata aletheia, apa yang sesungguhnya, bukan dikaiosune, tingkah laku yang benar. Dari a.16, jelas bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Kristus, kebenaran yang justru terancam oleh pengajar sesat. Jika keluarga dan jemaat itu kacau, kebenaran itu akan goyang atau runtuh. Tafsiran saya tentang maksud Paulus ialah bahwa kebenaran tentang Yesus itu menjadi kabur, baik di dalam jemaat maupun ke luar, sedangkan Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (2:4).

A.16 menyampaikan isi kebenaran itu. Kebenaran itu disebut sebagai rahasia yang agung. Bahasa “rahasia” dalam Ef 3:3 & 9 berarti sesuatu yang dulunya dirahasiakan tetapi sekarang dinyatakan. Rahasia itu menyangkut “ibadah”, artinya, bukan sekadar ibadah bersama tetapi bagaimana kita berhubungan dengan baik dengan Allah. Kuncinya adalah Kristus, Kristus yang menjadi manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani di antara bangsa-bangsa, dan akan kembali dalam kemuliaan. Karena a.16 mengutip himne yang puitis, beberapa tafsiran tadi butuh penjelasan. “Menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” merujuk pada seluruh pelayanan-Nya. “Rupa manusia” menerjemahkan kata daging, dan merujuk pada kemanusiaan-Nya yang sejati, bukan sekadar kemiripan. “Dibenarkan dalam Roh” paling jelas jika dibandingkan dengan Rom 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”. Yesus dihukum oleh manusia, tetapi dalam kebangkitan-Nya oleh Roh Kudus Allah menyatakan bahwa Yesus yang benar, bukan Pilatus dan imam-imam Yahudi. “Menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat” agak kabur, tetapi cocok dengan kenaikan-Nya ke surga. Dengan demikian, kedua yang berikut juga terurut: setelah kenaikan Yesus diberitakan di antara bangsa-bangsa, dan pemberitaan itu menjadi cara orang percaya, karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom 10:17). Pelayanan Timotius tentu terletak di sini. Jemaat adalah orang yang sudah mendengar dan percaya, dan pada gilirannya mau memberitakan Kristus supaya orang lain juga percaya. Dengan demikian, mengikuti urutan, “diangkat dalam kemuliaan” dikaitkan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, di mana Dia akan dilihat dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak semua penafsir sepaham, karena syair himne ini tidak selalu jelas. Tetapi yang dimaksud secara keseluruhan adalah bahwa kebenaran tentang Yesus yang memungkinkan kita menyembah Allah, dan kebenaran itu akan menjadi jelas ketika jemaat hidup sesuai dengan kebenaran itu. Dalam ayat-ayat berikutnya, Paulus langsung berbicara tentang ajaran sesat yang sedang mengancam jemaat di Efesus (p.4).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya Timotius dikuatkan dalam tugas pelayanannya dengan mengingat tempat jemaat dalam rencana Allah sebagai penopang kebenaran yang agung tentang Kristus. Walaupun tugas kita tidak persis sama dengan Timotius, kita semua berperan dalam menguatkan atau melemahkan jemaat, sehingga kebenaran tentang Kristus menjadi lebih jelas atau lebih kabur.

Makna

Tidak kebetulan bahwa Paulus menempatkan pelayanan Titus di tengah riwayat karya Kristus. Kebenaran tentang Kristus bukan pertama-tama sebuah rumusan, misalnya tentang kasih Allah atau anugerah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah dilakukan Allah di dalam Kristus. Dasarnya adalah inkarnasi, bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia ini sebagai teladan dan saudara yang berbagi dalam pengalaman kita di dunia. Kemudian, ada dua pasangan. Yang pertama, Roh Kudus menyatakan bahwa Yesus benar, dan Dia disambut oleh malaikat-malaikat di surga. Yang kedua, berita kebangkitan disampaikan kepada bangsa-bangsa, dan diterima di dunia. Dengan demikian, Yesus dijunjung tinggi baik di surga maupun di bumi. Karena diterima di surga, kemuliaan Yesus tidak terancam oleh kekacauan jemaat, hanya, kebenaran itu akan menjadi kabur bagi bangsa-bangsa yang mendengar pemberitaan itu dari jemaat yang kacau.

Kembali, dari artian kata aslinya dan a.16, kebenaran di sini bukan “isi kehendak Allah” bagi manusia, melainkan berita tentang apa yang dilakukan Allah. Paulus di sini tidak mengklaim bahwa gereja adalah dasar keberesan masyarakat, tetapi bahwa gereja adalah dasar kejelasan kebenaran tentang Kristus bagi semua orang. Motivasi untuk perbaikan hidup di sini adalah bahwa kekacauan hidup mengaburkan berita itu, sesuatu yang tidak akan diinginkan jika kita mencintai Yesus dan mengagumi karya-Nya.

Kebenaran di sini juga bukan bahwa Allah memelihara hidup kita sehari-hari. Hal itu benar, tetapi di sini Paulus berbicara tentang Kristus dari inkarnasi sampai kedatangan kembali. Memang yang dilihat orang adalah kehidupan jemaat, tetapi hal itu hanya berguna kalau menunjuk kepada Kristus yang kita sembah.


1 Tim 1:3-17 Menanggapi kekacauan dalam jemaat

September 14, 2008

Bagian ini merupakan pengantar Paulus sebelum nasihat khusus dalam pp.2-5. Ternyata ada masalah dengan ajaran palsu yang perlu ditangani oleh Timotius (1:1-3). Yang diharapkan Paulus adalah hidup jemaat berdasarkan iman, yang dia simpulkan dalam a.5 sebagai kasih. Apa dasar kasih itu? Ketiga “dari” dalam a.5 merujuk pada batin yang tidak terbagi-bagi. Soalnya, pengajar sesat tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dalam ayat-ayat berikut Paulus memberi penjelasan.

Yang pertama adalah soal hukum Taurat. Paulus menegaskan bahwa Taurat tertuju bagi orang berdosa, bukan orang benar (a.9). Memang banyak dosa yang dilarang di dalamnya (a.10), tetapi Injil dari Allah yang mulia sudah memiliki dasar untuk menentang hal-hal itu (a.10b-11). Paulus kemudian bersaksi tentang kuasa Injil, yang mengubah dia dari seorang penganiaya menjadi pelayan Allah (aa.12-13). Anugerah Allah melimpah di atasnya, dengan iman dan kasih (a.14). Kasih berdasarkan iman adalah ringkasan dari tujuan Paulus dalam a.5; ternyata sumbernya adalah anugerah dari Injil, bukan hukum dari Taurat. A.15 menyimpulkan prinsipnya: Allah menyelamatkan orang berdosa. Paulus sendiri adalah contoh utama penerima hidup kekal (a.16), sehingga dia memuji kemuliaan Allah raja segala zaman. (Kata kekal dan kata zaman berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa aslinya.)

Bagi Paulus, orang yang menanggapi masalah dengan hukum daripada dengan Injil adalah pengajar sesat yang tidak tahu apa-apa. Soalnya, hukum menegor orang berdosa, tetapi tidak dapat menimbulkan hati nurani yang murni apalagi kasih yang sejati. Dasar perubahan yang sejati adalah Injil tentang pengampunan dan hidup kekal yang membawa kita untuk memuliakan Allah. Memang, jika dasar itu ada maka cara hidup perlu diberitahukan, sebagaimana disampaikan Paulus dalam pasal-pasal berikut. Tanpa dasar Injil, betapapun semangat kita menegor, tidak akan ada buah kasih dan iman.


1 Tim 6:2b-10 Pengajar yang hancur

Juli 31, 2008

Kepemimpinan yang baik merupakan tantangan di banyak bidang di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Ternyata rasul Paulus menghadapi hal yang sama di Efesus, tempat kadernya Timotius ditinggalkan. 1 Tim 1:3-5 mengantarkan dua segi dari keprihatinannya, ajaran yang sesat dan cara mengajar yang merusak kasih. Karena isi ajaran yang sesat hanya sedikit diuraikan atau ditanggapi dalam surat ini, saya rasa itu cara mengajarlah yang menjadi masalah utama di sana. Setelah berbagai nasihat untuk penertiban hidup berjemaat dalam pp.2-5, Paulus kembali ke tema ini dalam perikop kita secara lebih tajam. Masalah yang dihadapi muncul karena cinta uang.

A.2b merujuk pada semua nasihat sebelumnya, dan dipertegas dalam aa.11dst. Sebelum a.11 Paulus menguraikan masalah ajaran lain. Tolok ukur adalah ajaran Kristus yang terwujud dalam ibadah. Maksud ibadah di sini adalah kesalehan secara menyeluruh, bukan hanya kebaktian formal. Dari 1:5, inti ajaran itu adalah kasih. Gejala penyimpangan adalah keributan karena orang mencari keuntungan (aa.4-5), khususnya uang. Sikap itu dibandingkan dengan sikap yang tepat, yakni rasa cukup (aa.6-8).

Seringkali di gereja, masalah dengan kepemimpinan bukan isi ajaran yang begitu menyimpang melainkan motivasi. Karena beragama penting di Indonesia, gereja menjadi tempat pencarian keuntungan. Misalnya, menjadi pendeta di gereja yang mapan bisa sama penghasilannya dengan menjadi PNS. Menjadi majelis bisa menjadi jalan yang lebih memungkinkan untuk mendapat kedudukan di masyarakat. Malah, menjadi bendahara menjadi jerat bagi beberapa orang. Tentu, masalahnya bukan pada adanya pendapatan atau hormat melainkan pada hati orang.

Kuncinya dalam perikop ini ialah mempertimbangkan hasil. Orang yang sudah belajar, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (a.8), adalah orang yang berbahagia dalam berbagai keadaan. Dia tahu bahwa inti sari manusia bukan kekayaan (karena “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia”) dan bahwa harta dalam dunia mendatang ialah Allah yang kepadanya kita beribadah sekarang (“kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”). Itulah sikap iman (a.10). Sebaliknya, hasil orang yang belum belajar demikian ialah nafsu yang hampa, keruntuhan dan duka (aa.9-10). Artinya, orangnya hanya bisa merasa berbahagia sekejap, karena nafsunya tidak pernah puas, dan kejahatannya akan menyusul, entah dalam kehidupan ini entah pada akhirat. Orang-orang yang tidak berbahagia ini yang banyak mengganggu persekutuan jemaat dengan mencari-cari soal, percekcokan dsb.

Tetapi enkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.