1 Yoh 2:18-27 Menghadapi antikristus yang berbobot

Juni 21, 2009

Kadangkala jemaat dihebohkan oleh pengajar yang mengajukan pendapat yang mau meniadakan ajaran yang sudah lama diterima oleh jemaat. Hal itu belum tentu salah. Sebagian jemaat di Yerusalem dihebohkan oleh penerimaan orang bukan Yahudi dalam Kristus tanpa disunat, tetapi penerimaan itu ternyata berasal dari Allah dan akhirnya diterima juga. Sekarang jemaat bisa gelisah tentang hal-hal yang merupakan tradisi saja. Tetapi sekarang ada juga banyak ajaran sesat yang beredar di gereja, yang misalnya meragukan kedudukan Kristus sebagai Anak Allah atau mengesampingkan karya-Nya dalam memperdamaikan kita dengan Allah. Ketika mendengarnya, jemaat biasa bisa bingung. Mereka merasa tidak nyaman, tetapi tidak sanggup membantah pendapat yang dikeluarkan orang yang berilmu atau berkedudukan. Dalam perikop ini penulis mau meyakinkan jemaat pembaca bahwa Allah telah menuntun mereka pada jalan yang benar.

Penulis mulai dengan menyebutkan pandangan yang menunggu akhir zaman ketika pemberontakan dunia akan berpuncak dalam rupa orang yang melawan Kristus sehingga disebut antikristus. Penulis setuju bahwa kita hidup dalam waktu terakhir, menjelang akhir zaman, tetapi dia juga mengusulkan bahwa sudah banyak orang yang berperan melawan Kristus (a.18). Yang dimaksud secara langsung adalah sekelompok orang yang pernah termasuk jemaat yang menerima surat ini. Mereka keluar dari jemaat, dan Yohanes mau meyakinkan jemaat bahwa jemaat yang ada pada jalan yang benar, bukan kelompok yang keluar (a.19).

Demi tujuan itu dia mengingatkan bahwa mereka sudah diurapi oleh Allah (a.20). Pengurapan itu barangkali merujuk ke mereka memiliki Roh Kudus. Pengurapan itu yang telah menjaga mereka sehingga mereka dapat membedakan apa yang benar dari apa yang sesat (a.21). Belum tentu mereka sanggup menjelaskannya secara ilmiah, tetapi ada nurani yang–kata Yohanes di sini–diberikan Allah.

Penulis mempertegas maksud itu dalam aa.22-25, dengan memperjelas apa inti dari ajaran sesat. Intinya menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (a.22a). Dalam bagian sebelumnya dalam surat ini sudah ada dua hal yang disebutkan mengenai Yesus sebagai Kristus. Dalam 1:3 Yesus Kristus adalah Anak Allah, firman yang membawa hidup. Dalam 2:1 Yesus Kristus adalah perantara yang membawa pendamaian dengan Allah. 4:2 akan menyebutkan bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia. Mengakui Yesus sebagai Kristus adalah mengakui bahwa Allah mengutus-Nya untuk menjadi manusia yang mendatangkan hidup oleh pendamaian yang dikerjakan-Nya. Demikianlah kebenaran yang diketahui jemaat.

Pentingnya kebenaran itu dilihat dalam akibatnya. Menyangkal Yesus sebagai Kristus berarti menyangkal Anak Allah, sehingga Allah Bapa pun disangkal (a.22b). Sebagai Anak Allah, Yesus berasal dari Allah, dan tanggapan terhadap Kristus adalah tanggapan terhadap Bapa-Nya (a.23). Cara untuk tetap memiliki Anak dan Bapa ialah berpegang pada berita semula yang olehnya mereka jadi percaya kepada Kristus (a.24). Dengan demikian, mereka akan menerima janji hidup kekal. Jadi, ajaran sesat berakibat fatal bagi kehidupan rohani.

Kesimpulan bagian ini mengangkat kembali pengurapan itu (aa.26-27). Jika mereka tidak perlu diajar, mengapa Yohanes menulis kepada mereka? Barangkali dia menulis dalam rangka mengingatkan dan memperjelas apa yang sudah mereka pahami dari Roh Kudus. Nurani dikuatkan dan diperjelas oleh nasihat penulis.

Perlu diingat bahwa Yohanes menulis tentang hal-hal pokok, yaitu yang menyangkut kedudukan Kristus. Bukannya bahwa jemaat selalu benar dalam segala hal! Juga, Yohanes berbicara tentang jemaat secara keseluruhan, bukan pendapat satu orang saja. Namun, ajarannya tetap menguatkan kita untuk berpegang pada Injil yang telah kita terima, sekalipun diserang oleh pihak yang berbobot.


1 Yoh 5:6-12 Kesaksian Allah tentang Yesus

April 8, 2009

Bahwa hidup setia kepada Allah dalam dunia ini adalah sulit tidak usah saya uraikan panjang lebar. 1 Yoh 5:4-5 menyampaikan janji bahwa yang dapat menang atas dunia (artinya hidup dalam kasih, 5:1-3) adalah orang yang beriman, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yesus yang dimaksud adalah yang dibaptis Yohanes Pembaptis (“air”) dan kemudian disalibkan (“darah”, lihat catatan 1). Tetapi apakah dasar untuk iman itu?

Dalam aa.6-12 Yohanes berbicara tentang kesaksian. Yang percaya kepada Kristus dan menang atas dunia adalah yang menerima kesaksian Allah bahwa hidup kekal ada dalam Kristus (aa.9, 11). Kesaksian itu terdapat di dalam (hati atau batin) setiap orang yang percaya (a.10), karena Roh Kudus (a.6) sudah meyakinkannya tentang makna air dan darah Yesus (a.8), yaitu baptisan Yesus yang merujuk kepada identitas-Nya sebagai Anak Allah, dan kematian-Nya yang menjadi dasar persekutuan kita dengan Allah. Mungkin Yohanes juga memikirkan baptisan dan perjamuan kudus yang menjadi peringatan kita sekarang akan kedua kejadian itu. Pada hari kebangkitan Yesus mungkin juga tidak salah menyebutkan bahwa tema kesaksian Allah itu menyiratkan kebangkitan Yesus sebagai pembenaran Yesus, walaupun tersirat saja.

Penerimaan kesaksian itu dalam hati orang bukan sekadar usulan dari Yohanes, karena dia menegaskan adanya dua kemungkinan saja: menerima kesaskian itu sehingga memiliki Anak dan hidup, atau menolak kesaksian Allah sehingga tidak memiliki Anak ataupun hidup. Menerima kesaksian itu berarti memahami bahwa Yesus itu riil, lebih riil daripada perselisihan dengan tetangga atau kebutuhan mencari nafkah. Sehingga percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan otak atau mulut, tetapi arah seluruh hidup. Yohanes menulis supaya kita menerima kesaksian itu (a.13) dan menikmati hidup bersama dengan Allah.

Catatan:

  1. Dalam a.6 “Dia yang telah datang dengan air dan darah”, makna air dan darah banyak diperdebatkan. Selain 5:6, 8 darah hanya disebutkan dalam 1 Yoh 1:7 dan merujuk ke kematian Yesus. Air tidak disebut dalam kitab 1 Yohanes di luar 5:6, 8. Tempat berikut untuk dicarikan ialah Injil Yohanes, karena penulisnya sama atau dari kalangan yang sama (terkait dengan rasul Yohanes). Dalam Injil Yohanes, kesaksian dan air dikaitkan pada Yoh 19:34-35 yang menceritakan keluarnya darah dan air sebagaimana disaksikan seorang saksi. Banyak penafsir dari abad-abad pertama gereja yang menafsir 1 Yoh 5:6, 8 demikian, walaupun urutan darah dan air terbalik. Tempat yang lain ialah baptisan Yesus pada Yoh 1:29-34. Bagian ini lebih kuat karena ada Roh Kudus turun (1:32, bnd. 1 Yoh 5:6-8) dan juga kesaksian Yohanes (Pembaptis) bahwa Yesus adalah Anak Allah (1:34), seperti dalam 1 Yoh 5:5. Dengan demikian, air merujuk ke awal pelayanan Yesus, ketika Dia dinyatakan Anak Allah, dan juga akhir pelayanan-Nya, ketika Dia menjadi pendamaian bagi kita. Tekanan bahwa bukan hanya air tetapi air dan darah mungkin untuk menegaskan kemanusiaan Yesus di hadapan ajaran sesat yang menyangkalinya.
  2. Bagian dalam tanda kurung persegi (“di dalam sorga: … di bumi”) tidak asli, dan tidak dimuat dalam tafsiran modern seperti NIV dan NRSV. Bagian itu tidak terdapat dalam naskah bahasa Yunani sebelum abad ke-16, dan juga tidak terdapat dalam semua terjemahan kuno. Lebih lagi, dalam kontroversi tentang doktrin tritunggal pada abad ke-2 dan ke-3, bagian ini tidak pernah dipakai, walaupun akan sangat relevan! Bagian ini pertama muncul dalam naskah bahasa Latin pada abad ke-4, dan diduga bahwa ada tafsiran tentang tritunggal ditulis di pinggir halaman, yang dianggap sebagai koreksi ketika naskah itu disalin. Mengingat bahwa bagian ini tidak dipakai dalam perdebatan tentang tritunggal, jelas bahwa doktrin tritunggal tidak bergantung padanya.

1 Yoh 2:1-6 Dasar persekutuan dengan Allah

April 7, 2009

Kitab 1 Yohanes menawarkan persekutuan kepada para pembacanya, yakni persekutuan dengan Allah, Kristus dan umat-Nya (1 Yoh 1:3). Tetapi Firman hidup tentang persekutuan itu menyiratkan masalah besar, yaitu bahwa Allah itu terang, sementara kita adalah orang berdosa (1:5). Bagaimana caranya orang berdosa bisa menikmati persekutuan dengan Allah yang terang? Jawabannya hidup dalam terang (1:7). Ternyata artian hidup dalam terang bukan hidup tanpa dosa melainkan mengaku dosa sehingga menerima pengampunan dan penyucian (1:9). Kita mengaku dosa kita kepada Allah untuk menerima pengampunan-Nya, dan juga kepada sesama untuk memulihkan persekutuan dan mengalami penyucian (1:7, 9). Seorang yang menganggap diri selalu benar menolak penilaian Allah tentangnya, mencegah kebenaran berbuah di dalamnya (1:6), dan tidak mengalami persekutuan dengan Allah melalui Firman-Nya di dalamnya (1:10).

Jika kita menaati pola dalam p.1, maka kita akan makin mampu meninggalkan dosa (2:1). Tetapi Yohanes sadar bahwa dosa tidak akan lenyap. Jadi, selalu kita harus kembali ke dasar yang sudah disinggung dengan istilah “darah” (1:7), yaitu pengorbanan Kristus. Kristus yang adil (layak didengarkan Allah) menjadi pengantara dengan Allah Bapak. Sebagai pengantara tugas Yesus bukan untuk membujuk Allah untuk menyelamatkan kita. Sebaliknya Allah Bapak sendiri yang mengutus Anak-Nya. Tetapi pengampunan Allah tidak bisa sembarangan saja, tanpa dasar. Allah menyediakan Kristus sebagai pendamaian yang memungkinkan Allah untuk mengampuni kita sehingga kita menikmati persekutuan dengan Dia. Jadi, 2:1-2 merupakan dasar untuk hidup dalam terang.

Kemudian Yohanes kembali ke tema persekutuan. Bisa jadi bahwa ada orang yang mencari pengampunan tetapi tidak mencari persekutuan dengan Allah (misalnya karena takut neraka). Hal itu akan nampak dalam kehidupan yang tidak taat kepada Allah (2:3-4). Jadi, jika kita mengaku tidak berdosa kita menjadikan Allah pendusta (1:10), tetapi jika kita berjalan terus dalam dosa kita sendiri adalah pendusta. Ketegangan itu mungkin dapat digambarkan seperti kelompok orang yang dipanggil ke puncak gunung dari kegelapan di bawah. Orang yang sedang mendaki dan orang yang menetap di kaki gunung sama-sama belum sampai di puncak. Tetapi yang mendaki sudah menaati panggilan itu, dan sudah mulai menikmati terang yang lebih jelas. Sedangkan yang menetap di kaki gunung tidak usah mengaku sebagai pendaki gunung dan tetap dalam kekelaman.

Jadi, untuk menikmati persekutuan dengan Allah, harus ada pengampunan melalui darah Kristus, dan cara hidup yang menuju ke Allah, yaitu ketaatan. Apa hasilnya? Kasih (2:5-6). Hal itu mengingatkan kita bahwa ketaatan menyangkut lebih dari beberapa aturan jasmani saja, seperti tidak berzinah. Ketaatan yang sejati kepada Allah berarti hati yang makin mencerminkan Allah sebagai sumber kasih, sama seperti kehidupan Kristus sendiri (2:6).

Pada perayaan Jumat Agung banyak jemaat yang asyik dengan penderitaan Yesus, dan memang mengharukan bahwa Dia rela menanggung penderitaan salib demi keselamatan kita. Tetapi rasa terharu yang musiman saja bukan maksudnya! Yang ditawarkan Allah dalam Kristus ialah persekutuan dengan Sang Pencipta, sesuatu yang kekal dan tak ternilai harganya.


1 Yoh 4:7-21 Definisi kasih menurut Allah

Februari 9, 2008

Apa itu kasih? Identikkah kasih dengan kasihan? Cerita lucu ini cukup menangkap suatu pemahaman umum tentang kasih.

Allah adalah kasih (a.8, 16) termasuk ucapan terkenal di dalam Alkitab. Bagaimana dipahami? Apakah kita sudah tahu apa itu kasih, sehingga Allah ditafsir sesuai pemahaman itu? Alhasil barangkali Allah adalah Mahakasihan, Mahapengertian.

Cuman, perikop ini menyampaikan definisi sendiri tentang kasih, yakni pengorbanan Kristus (a.10). Unsur kasih yang ditonjolkan di sini adalah pendamaian. Kasih Allah selalu melawan dosa (yang boleh dikatakan pada hakekatnya anti-kasih), dan salib Kristus jelas bukan soal mengerti saja!

Kasih begitulah yang harus kita terepkan seorang kepada yang lain, sebagaimana ditegaskan dalam seluruh perikop ini. Dengan demikian hadirat Allah akan nyata di dalam persekutuan. Lebih lagi, kita akan tenang menghadapi penghakiman Allah oleh karena kasih itu (aa.17-18).

Kasih macam apa yang dialami dalam persekutuan kita?