1 Yohanes 3:19-24 [31 Juli 2011]

Juli 21, 2011

Lihat diskusi beberapa minggu yang lalu tentang 1 Yoh 3:11-24.


1 Yoh 3:11-18 (& 19-24) Gambaran kasih yang sejati [3 Jul 2011]

Juni 28, 2011

Jemaat atau kelompok yang kepadanya Yohanes menulis pernah mengalami perpecahan yang mengguncang (2:19). Dengan berbagai perbandingan penulis mau menguatkan mereka supaya jangan mereka disesatkan oleh keguncangan itu. Dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (3:9-10) dia membandingkan anak-anak Allah karena lahir dari Allah dengan anak-anak Iblis. Perikop setelah perikop kita membandingkan Roh dari Allah (3:24) dan roh-roh yang lain (4:1-6). Dalam seluruh surat salah satu ukuran utama adalah kasih. Dalam perikop kita aa.11-18 memberi gambaran negatif dan positif tentang kasih itu, dan aa.19-24 membahas bagaimana kita bisa tahu kita hidup dalam kasih itu.

Penggalian Teks

A.11 mengulang apa yang sudah dibahas pada 2:7 dst, yaitu bahwa saling mengasihi adalah perintah Allah. Aa.12-15 membahas lawan dari kasih, yaitu kebencian. Kain membunuh adiknya karena adiknya mengungkapkan kejahatan hati Kain (a.12). Orang-orang yang berbuat benar bisa saja mengundang reaksi yang sama dari dunia, misalnya, orang yang tidak mau ikut main judi / curang / mabok-mabokan dsb (a.13). Tentu, penulis tidak membayangkan bahwa dunia akan selalu membunuh orang benar, tetapi, sesuai dengan ajaran Yesus dalam Mt 5:21-22, tindakan membunuh dilihat sebagai ujung dari sikap marah atau benci yang sudah merupakan dosa. Namun, jemaat semestinya tidak mengikuti pola dunia itu, karena jemaat sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (a.14). Ranah maut dicirikan oleh tidak mengasihi, sedangkan ranah hidup dicirikan oleh mengasihi saudara-saudara. A.15 mempertegas bahwa kebencian adalah satu bentuk pembunuhan, sehingga jelas bertentangan dengan hidup kekal, yaitu hidup yang cocok dengan zaman mendatang, hidup yang mengenal Allah.

Bentuk positif dari kasih dinyatakan dalam a.16a: Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sikap itu harus langsung diteladani (a.16b). Tetapi, sama seperti kebencian belum tentu berarti ada yang meninggal, penyerahan diri juga belum tentu berarti ada yang meninggal. Membagikan harta duniawi kepada saudara yang membutuhkannya adalah juga bentuk penyerahan diri (a.17), sama seperti membenci adalah bentuk pembunuhan. Dan mungkin saja penulis secara tersirat mengatakan bahwa “menutup pintu hati” adalah bentuk kebencian. “Pintu hati” menerjemahkan kata untuk perut yang menjadi kiasan untuk perasaan kasihan yang kuat. Yohanes mempertanyakan apakah orang yang tidak tahu kasihan masih hidup dalam terang pengorbanan Kristus.

Kesimpulannya dalam a.18 memperlawankan perkataan dan lidah dengan tindakan dan kebenaran. Perkataan dan lidah merujuk pada konsep dan wacana. Banyak orang suka berbicara tentang kasih. Dan hal itu tidak salah; surat 1 Yohanes ini adalah wacana tentang kasih! Tetapi wacana kasih belum “kasih dalam kebenaran”, artinya, kasih yang sebenarnya. Kata aletheia (“kebenaran”) berarti apa yang sesuai dengan kenyataan, dan dalam konteks ini merujuk pada kesesuaian antara perkataan dengan tindakan. Kasih yang sekadar wacana belum menjadi kasih yang sebenarnya. Tetapi aletheia itu merujuk lebih luas pada kenyataan di dalam Allah. A.18 ini tetap kesimpulan dari a.16. Kristus tidak mengasihi dengan wacana saja, melainkan berkorban secara sangat konkret untuk melayani kebutuhan paling mendasar kita, yakni akan hidup yang kekal.

Jadi, hidup dalam kasih membuktikan bahwa kita berasal dari kebenaran (a.19a). Jika kita sadar akan kegagalan kita, kita mesti mengingat bahwa perspektif Allah lebih luas dari perspektif kita, seperti sudah disampaikan dalam 1:9 dan 2:1-2 tentang penebusan yang ada di dalam Kristus (aa.19b-20). Namun, ada keuntungan jika kita jelas hidup dalam kasih, yaitu kita memiliki keberanian dalam doa (aa.21-22). Jadi, dalam a.23 dia meringkas perintah Allah, yaitu percaya akan Kristus dan saling mengasihi. Dengan demikian ada persekutuan dengan Allah yang dibawa oleh Roh Kudus (a.24).

Maksud bagi pembaca

Tujuan utama di sini adalah mendorong pembaca untuk saling mengasihi. Dari contoh Kain kebencian dikaitkan dengan ranah maut. Membenci sama buruknya dengan membunuh, sama-sama bertentangan dengan tujuan Allah dalam menyelamatkan manusia (a.15). Dari teladan Kristus hakikat kasih diperlihatkan, yaitu menyerahkan nyawa bagi sesama, yang diartikan sebagai memberi bantuan konkret, bukan wacana saja.

Namun, di balik tujuan itu tujuan utama surat ini masih tampak, lebih lagi dalam aa.19-24, yaitu supaya kita mengenal Allah dalam Kristus dan menikmati hidup di dalam-Nya. Tidak ada keberanian di hadapan Allah jika kita hidup dengan hati tertutup terhadap saudara.

Makna

Yohanes memperlawankan wacana tentang kasih dengan tindakan konkret. (Perhatikan bahwa ada banyak perkataan yang merupakan tindakan kasih yang konkret, misalnya menjawab pertanyaan, memberi tanggapan yang berguna, mengajarkan firman Allah. Perkataan dalam a.18 merujuk pada pernyataan kasih.) Tetapi apa kaitan aletheia (“kebenaran”) dengan tindakan konkret? Ternyata maksud Yohanes bukan pragmatis saja. Bukannya yang penting ada tindakannya saja. Kasih harus muncul dari kebenaran, dari kenyataan. Yang pertama, tindakan kasih harus muncul dari kenyataan dalam hati, dari hati yang terbuka. Yang kedua, tindakan kasih harus sesuai dengan kenyataan sumber kasih, yaitu Allah. Banyak yang disebut kasih tidak lulus kriteria ini. Ada kasih karena pemberi berharap beruntung. Ada kasih hanya karena rasa kasihan (misalnya, membantu orang mencontek). Kasih yang sejati muncul dari pengenalan akan Allah yang adalah terang, dan Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya.

Kemudian, seluruh perikop ini berbicara tentang saudara, entah saudara-saudara seiman atau Kain dan Habel yang bersaudara. Maksudnya jemaat yang saling mengenal, suatu komunitas iman. Apakah dengan demikian kasih hanya terbatas pada kelompok sendiri?

Kasih dalam surat-surat Yohanes berakar dalam Allah. Allah telah memperlihatkan kasih yang sejati dalam Kristus, dan lebih lagi, pertunjukan itu menyatakan hakikat Allah sendiri, Allah adalah kasih (4:16). Jika fokus Yohanes ada pada kasih Allah kepada jemaat, namun dalam satu ayat kita melihat bahwa kasih Allah lebih luas, yaitu 2:2 di mana dikatakan bahwa Kristus mati bagi seluruh dunia, bukan hanya jemaat. Di situ kita melihat Allah mengasihi semua orang, termasuk musuh (orang berdosa), sesuai dengan ajaran Yesus. Yohanes tidak mau menyangkal ajaran itu. Jadi, mengapa fokusnya pada saling mengasihi?

Hal itu sejalan dengan tekanan seluruh surat, yaitu persekutuan. Persekutuan antara orang percaya adalah juga persekutuan dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus (1:3). Persekutuan berarti hubungan yang erat, sehingga memiliki kepentingan atau perhatian yang sama. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah mau hidup dalam terang seperti Dia adalah terang (1:7), mau hidup sama seperti Kristus (2:6), dan mau hidup dalam kasih karena Allah adalah kasih (4:16). Dalam jemaat keakraban yang memungkinkan persekutuan seperti itu dapat dialami. Namun, keakraban itu yang juga paling memungkinkan kebencian, dan membuat paling kentara sikap acuh tak acuh terhadap orang yang berkebutuhan. Wacana tentang kasih sering mencakup seluruh dunia, tetapi kasih hanya dapat dipraktekkan kepada orang yang dengannya saya berhadapan. Tidak salah berbicara tentang suku-suku yang belum terjangkau dengan Injil Kristus, tetapi apakah saya bersaksi tentang Kristus kepada orang di hadapan saya? Tidak salah mengingat orang yang berkekurangan dalam doa makan, tetapi apakah saya terbuka pada kebutuhan orang-orang di sekitar saya?

Ada kesimpulan yang luar biasa dari istilah “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” itu. Jika saya membantu sesama karena mencontoh Kristus, tindakan sederhana itu berbagi dalam kenyataan paling mendalam, yaitu hakikat Allah sebagai kasih.


1 Yoh 1:1-10 Persekutuan yang sejati

Desember 13, 2009

Sebagai pengantar, aa.1-4 menegaskan bahwa Firman yang ada sejak semula telah disaksikan oleh yang menyebut diri “kami”, yakni penulis dan para saksi mata Yesus selama Dia hidup di dunia dan juga pada kebangkitan-Nya (mis. Yoh 20:27). Dengan demikian penulis menguraikan maksud Yoh 1:14. Firman hidup (bnd. Yoh 1:1-3) telah menjadi sedemikian rupa sehingga dapat didengar, dilihat, diraba (a.1). Hal itu tidak masuk banyak akal. Suasana pluralisme mau menjadikan agama sekadar seperangkat gagasan dan nasihat. Suasana rasionalisme juga mau menjadikan klaim agama sebagai kiasan saja tentang prinsip-prinsip umum. Tetapi berita Adven dan Natal adalah bahwa Firman hidup itu berbentuk dalam sosok Yesus Kristus.

Oleh karena itu ada kesaksian dan pemberitaan (a.2). Kesaksian itu bukan dalam pola, “Dengarkan ide kami yang lebih hebat daripada ide orang lain” melainkan “Lihatlah Yesus Kristus, Sang Hidup Kekal yang datang dari Allah Bapa-Nya.” Ada kejadian, peristiwa, yaitu kehidupan Yesus. Manusia tidak dapat mengetahui tentang sebuah peristiwa tanpa pemberitaan. Jadi, kebenaran tentang Yesus hanya dapat diketahui orang jika diberitahukan kepadanya.

Hasil dari pemberitaan itu adalah persekutuan (a.3). Pintu masuk persekutuan itu adalah persekutuan dengan para rasul, karena berbagi dalam berita itu. Tetapi berita itu menyangkut persekutuan mereka dengan Kristus yang dilihat dan didengar itu, dan persekutuan Kristus sebagai Anak Allah adalah dengan Allah Bapa. Jadi, yang ditawarkan dalam berita itu adalah persekutuan dengan Allah, yang tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan Anak-Nya Kristus. Membagikan berita itu meneguhkan sukacita penulis sendiri (a.4).

Implikasi dari berita itu menjadi isi seluruh surat ini, dan aa.5-10 merupakan dasar yang menguraikan makna dari tema persekutuan itu. Mulai a.6 kata “kami” menjadi kata “kita”—hal itu adalah tafsiran karena bahasa Yunani tidak membedakan “kami” dari “kita” (sama seperti bahasa Inggris “we”), tetapi tafsirannya tepat. Pembaca termasuk dalam tawaran persekutuan itu.

Dalam a.5, Allah yang dengan-Nya kita bersekutu adalah terang tanpa kegelapan. Jadi, persekutuan dengan Dia berarti hidup sesuai dengan kebenaran itu (“kebenaran” pada akhir a.6 menerjemahkan kata aletheia, “truth”, apa yang sebenarnya, bukan kata dikaiosune, “righteousness”, tingkah laku yang sesuai dengan norma).

Kemudian, a.7 agak mengejutkan. Yang pertama, hasil dari hidup dalam terang adalah persekutuan dengan sesama orang percaya, bukan (langsung) dengan Allah. Berulangkali dalam surat ini kasih kepada sesama dan Allah akan dikaitkan erat. Kejutan kedua ialah bahwa darah Kristus akan menyucikan kita dari kecemaran dosa. Mungkin sepintas lalu kita beranggapan bahwa artian “hidup dalam terang” adalah hidup tanpa dosa sama seperti Allah. Tetapi hidup dalam terang berarti penyucian dari dosa, bukan ketiadaannya.

Makna hidup dalam terang diperjelas dalam aa.8-10, yaitu keterbukaan. Jika kita menyangkali bahwa kita adalah orang berdosa, kita menipu diri (a.8) dan secara tersirat menyatakan bahwa penilaian Allah tentang kita adalah dusta (a.10). Bentuk jamak (“kita”) memperingatkan kita bahwa masalahnya bukan hanya bahwa secara perorangan kita mau tampil baik, tetapi juga bahwa budaya mendorong kita untuk bertindak demikian.

Jadi, hidup dalam terang berarti mengaku dosa yang ada. Kita mengaku kepada Allah yang mengampuni kita. Tetapi dari kosa kata yang dipakai (homologeo) pengakuan itu dilakukan di depan umum, seperti umat Israel dengan Yohanes Pembaptis (Mk 1:5), para pengguna sihir di Efesus (Kis 19:18), dan jemaat seorang kepada yang lain (Yak 5:16). Paling sedikit, dalam kebaktian kita mengaku bersama-sama bahwa kita adalah orang berdosa—hal itu bukan formalitas saja tetapi pernyataan yang mendasar. Semestinya kita juga siap mengaku bersalah kepada orang yang kepadanya kita berdosa. Lebih sulit lagi adalah mengaku dosa yang tersembunyi kepada orang lain supaya disinari Allah yang adalah terang.

Itulah cara hidup dalam terang. Allah telah membuka diri kepada kita dalam Kristus dan menawarkan persekutuan. Daripada berpura-pura tampil tanpa kecemaran, siapkah kita membuka diri kepada-Nya supaya disucikan dan mengalami persekutuan yang sejati?


1 Yoh 2:18-27 Menghadapi antikristus yang berbobot

Juni 21, 2009

Kadangkala jemaat dihebohkan oleh pengajar yang mengajukan pendapat yang mau meniadakan ajaran yang sudah lama diterima oleh jemaat. Hal itu belum tentu salah. Sebagian jemaat di Yerusalem dihebohkan oleh penerimaan orang bukan Yahudi dalam Kristus tanpa disunat, tetapi penerimaan itu ternyata berasal dari Allah dan akhirnya diterima juga. Sekarang jemaat bisa gelisah tentang hal-hal yang merupakan tradisi saja. Tetapi sekarang ada juga banyak ajaran sesat yang beredar di gereja, yang misalnya meragukan kedudukan Kristus sebagai Anak Allah atau mengesampingkan karya-Nya dalam memperdamaikan kita dengan Allah. Ketika mendengarnya, jemaat biasa bisa bingung. Mereka merasa tidak nyaman, tetapi tidak sanggup membantah pendapat yang dikeluarkan orang yang berilmu atau berkedudukan. Dalam perikop ini penulis mau meyakinkan jemaat pembaca bahwa Allah telah menuntun mereka pada jalan yang benar.

Penulis mulai dengan menyebutkan pandangan yang menunggu akhir zaman ketika pemberontakan dunia akan berpuncak dalam rupa orang yang melawan Kristus sehingga disebut antikristus. Penulis setuju bahwa kita hidup dalam waktu terakhir, menjelang akhir zaman, tetapi dia juga mengusulkan bahwa sudah banyak orang yang berperan melawan Kristus (a.18). Yang dimaksud secara langsung adalah sekelompok orang yang pernah termasuk jemaat yang menerima surat ini. Mereka keluar dari jemaat, dan Yohanes mau meyakinkan jemaat bahwa jemaat yang ada pada jalan yang benar, bukan kelompok yang keluar (a.19).

Demi tujuan itu dia mengingatkan bahwa mereka sudah diurapi oleh Allah (a.20). Pengurapan itu barangkali merujuk ke mereka memiliki Roh Kudus. Pengurapan itu yang telah menjaga mereka sehingga mereka dapat membedakan apa yang benar dari apa yang sesat (a.21). Belum tentu mereka sanggup menjelaskannya secara ilmiah, tetapi ada nurani yang–kata Yohanes di sini–diberikan Allah.

Penulis mempertegas maksud itu dalam aa.22-25, dengan memperjelas apa inti dari ajaran sesat. Intinya menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (a.22a). Dalam bagian sebelumnya dalam surat ini sudah ada dua hal yang disebutkan mengenai Yesus sebagai Kristus. Dalam 1:3 Yesus Kristus adalah Anak Allah, firman yang membawa hidup. Dalam 2:1 Yesus Kristus adalah perantara yang membawa pendamaian dengan Allah. 4:2 akan menyebutkan bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia. Mengakui Yesus sebagai Kristus adalah mengakui bahwa Allah mengutus-Nya untuk menjadi manusia yang mendatangkan hidup oleh pendamaian yang dikerjakan-Nya. Demikianlah kebenaran yang diketahui jemaat.

Pentingnya kebenaran itu dilihat dalam akibatnya. Menyangkal Yesus sebagai Kristus berarti menyangkal Anak Allah, sehingga Allah Bapa pun disangkal (a.22b). Sebagai Anak Allah, Yesus berasal dari Allah, dan tanggapan terhadap Kristus adalah tanggapan terhadap Bapa-Nya (a.23). Cara untuk tetap memiliki Anak dan Bapa ialah berpegang pada berita semula yang olehnya mereka jadi percaya kepada Kristus (a.24). Dengan demikian, mereka akan menerima janji hidup kekal. Jadi, ajaran sesat berakibat fatal bagi kehidupan rohani.

Kesimpulan bagian ini mengangkat kembali pengurapan itu (aa.26-27). Jika mereka tidak perlu diajar, mengapa Yohanes menulis kepada mereka? Barangkali dia menulis dalam rangka mengingatkan dan memperjelas apa yang sudah mereka pahami dari Roh Kudus. Nurani dikuatkan dan diperjelas oleh nasihat penulis.

Perlu diingat bahwa Yohanes menulis tentang hal-hal pokok, yaitu yang menyangkut kedudukan Kristus. Bukannya bahwa jemaat selalu benar dalam segala hal! Juga, Yohanes berbicara tentang jemaat secara keseluruhan, bukan pendapat satu orang saja. Namun, ajarannya tetap menguatkan kita untuk berpegang pada Injil yang telah kita terima, sekalipun diserang oleh pihak yang berbobot.


1 Yoh 5:6-12 Kesaksian Allah tentang Yesus

April 8, 2009

Bahwa hidup setia kepada Allah dalam dunia ini adalah sulit tidak usah saya uraikan panjang lebar. 1 Yoh 5:4-5 menyampaikan janji bahwa yang dapat menang atas dunia (artinya hidup dalam kasih, 5:1-3) adalah orang yang beriman, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yesus yang dimaksud adalah yang dibaptis Yohanes Pembaptis (“air”) dan kemudian disalibkan (“darah”, lihat catatan 1). Tetapi apakah dasar untuk iman itu?

Dalam aa.6-12 Yohanes berbicara tentang kesaksian. Yang percaya kepada Kristus dan menang atas dunia adalah yang menerima kesaksian Allah bahwa hidup kekal ada dalam Kristus (aa.9, 11). Kesaksian itu terdapat di dalam (hati atau batin) setiap orang yang percaya (a.10), karena Roh Kudus (a.6) sudah meyakinkannya tentang makna air dan darah Yesus (a.8), yaitu baptisan Yesus yang merujuk kepada identitas-Nya sebagai Anak Allah, dan kematian-Nya yang menjadi dasar persekutuan kita dengan Allah. Mungkin Yohanes juga memikirkan baptisan dan perjamuan kudus yang menjadi peringatan kita sekarang akan kedua kejadian itu. Pada hari kebangkitan Yesus mungkin juga tidak salah menyebutkan bahwa tema kesaksian Allah itu menyiratkan kebangkitan Yesus sebagai pembenaran Yesus, walaupun tersirat saja.

Penerimaan kesaksian itu dalam hati orang bukan sekadar usulan dari Yohanes, karena dia menegaskan adanya dua kemungkinan saja: menerima kesaskian itu sehingga memiliki Anak dan hidup, atau menolak kesaksian Allah sehingga tidak memiliki Anak ataupun hidup. Menerima kesaksian itu berarti memahami bahwa Yesus itu riil, lebih riil daripada perselisihan dengan tetangga atau kebutuhan mencari nafkah. Sehingga percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan otak atau mulut, tetapi arah seluruh hidup. Yohanes menulis supaya kita menerima kesaksian itu (a.13) dan menikmati hidup bersama dengan Allah.

Catatan:

  1. Dalam a.6 “Dia yang telah datang dengan air dan darah”, makna air dan darah banyak diperdebatkan. Selain 5:6, 8 darah hanya disebutkan dalam 1 Yoh 1:7 dan merujuk ke kematian Yesus. Air tidak disebut dalam kitab 1 Yohanes di luar 5:6, 8. Tempat berikut untuk dicarikan ialah Injil Yohanes, karena penulisnya sama atau dari kalangan yang sama (terkait dengan rasul Yohanes). Dalam Injil Yohanes, kesaksian dan air dikaitkan pada Yoh 19:34-35 yang menceritakan keluarnya darah dan air sebagaimana disaksikan seorang saksi. Banyak penafsir dari abad-abad pertama gereja yang menafsir 1 Yoh 5:6, 8 demikian, walaupun urutan darah dan air terbalik. Tempat yang lain ialah baptisan Yesus pada Yoh 1:29-34. Bagian ini lebih kuat karena ada Roh Kudus turun (1:32, bnd. 1 Yoh 5:6-8) dan juga kesaksian Yohanes (Pembaptis) bahwa Yesus adalah Anak Allah (1:34), seperti dalam 1 Yoh 5:5. Dengan demikian, air merujuk ke awal pelayanan Yesus, ketika Dia dinyatakan Anak Allah, dan juga akhir pelayanan-Nya, ketika Dia menjadi pendamaian bagi kita. Tekanan bahwa bukan hanya air tetapi air dan darah mungkin untuk menegaskan kemanusiaan Yesus di hadapan ajaran sesat yang menyangkalinya.
  2. Bagian dalam tanda kurung persegi (“di dalam sorga: … di bumi”) tidak asli, dan tidak dimuat dalam tafsiran modern seperti NIV dan NRSV. Bagian itu tidak terdapat dalam naskah bahasa Yunani sebelum abad ke-16, dan juga tidak terdapat dalam semua terjemahan kuno. Lebih lagi, dalam kontroversi tentang doktrin tritunggal pada abad ke-2 dan ke-3, bagian ini tidak pernah dipakai, walaupun akan sangat relevan! Bagian ini pertama muncul dalam naskah bahasa Latin pada abad ke-4, dan diduga bahwa ada tafsiran tentang tritunggal ditulis di pinggir halaman, yang dianggap sebagai koreksi ketika naskah itu disalin. Mengingat bahwa bagian ini tidak dipakai dalam perdebatan tentang tritunggal, jelas bahwa doktrin tritunggal tidak bergantung padanya.

1 Yoh 2:1-6 Dasar persekutuan dengan Allah

April 7, 2009

Kitab 1 Yohanes menawarkan persekutuan kepada para pembacanya, yakni persekutuan dengan Allah, Kristus dan umat-Nya (1 Yoh 1:3). Tetapi Firman hidup tentang persekutuan itu menyiratkan masalah besar, yaitu bahwa Allah itu terang, sementara kita adalah orang berdosa (1:5). Bagaimana caranya orang berdosa bisa menikmati persekutuan dengan Allah yang terang? Jawabannya hidup dalam terang (1:7). Ternyata artian hidup dalam terang bukan hidup tanpa dosa melainkan mengaku dosa sehingga menerima pengampunan dan penyucian (1:9). Kita mengaku dosa kita kepada Allah untuk menerima pengampunan-Nya, dan juga kepada sesama untuk memulihkan persekutuan dan mengalami penyucian (1:7, 9). Seorang yang menganggap diri selalu benar menolak penilaian Allah tentangnya, mencegah kebenaran berbuah di dalamnya (1:6), dan tidak mengalami persekutuan dengan Allah melalui Firman-Nya di dalamnya (1:10).

Jika kita menaati pola dalam p.1, maka kita akan makin mampu meninggalkan dosa (2:1). Tetapi Yohanes sadar bahwa dosa tidak akan lenyap. Jadi, selalu kita harus kembali ke dasar yang sudah disinggung dengan istilah “darah” (1:7), yaitu pengorbanan Kristus. Kristus yang adil (layak didengarkan Allah) menjadi pengantara dengan Allah Bapak. Sebagai pengantara tugas Yesus bukan untuk membujuk Allah untuk menyelamatkan kita. Sebaliknya Allah Bapak sendiri yang mengutus Anak-Nya. Tetapi pengampunan Allah tidak bisa sembarangan saja, tanpa dasar. Allah menyediakan Kristus sebagai pendamaian yang memungkinkan Allah untuk mengampuni kita sehingga kita menikmati persekutuan dengan Dia. Jadi, 2:1-2 merupakan dasar untuk hidup dalam terang.

Kemudian Yohanes kembali ke tema persekutuan. Bisa jadi bahwa ada orang yang mencari pengampunan tetapi tidak mencari persekutuan dengan Allah (misalnya karena takut neraka). Hal itu akan nampak dalam kehidupan yang tidak taat kepada Allah (2:3-4). Jadi, jika kita mengaku tidak berdosa kita menjadikan Allah pendusta (1:10), tetapi jika kita berjalan terus dalam dosa kita sendiri adalah pendusta. Ketegangan itu mungkin dapat digambarkan seperti kelompok orang yang dipanggil ke puncak gunung dari kegelapan di bawah. Orang yang sedang mendaki dan orang yang menetap di kaki gunung sama-sama belum sampai di puncak. Tetapi yang mendaki sudah menaati panggilan itu, dan sudah mulai menikmati terang yang lebih jelas. Sedangkan yang menetap di kaki gunung tidak usah mengaku sebagai pendaki gunung dan tetap dalam kekelaman.

Jadi, untuk menikmati persekutuan dengan Allah, harus ada pengampunan melalui darah Kristus, dan cara hidup yang menuju ke Allah, yaitu ketaatan. Apa hasilnya? Kasih (2:5-6). Hal itu mengingatkan kita bahwa ketaatan menyangkut lebih dari beberapa aturan jasmani saja, seperti tidak berzinah. Ketaatan yang sejati kepada Allah berarti hati yang makin mencerminkan Allah sebagai sumber kasih, sama seperti kehidupan Kristus sendiri (2:6).

Pada perayaan Jumat Agung banyak jemaat yang asyik dengan penderitaan Yesus, dan memang mengharukan bahwa Dia rela menanggung penderitaan salib demi keselamatan kita. Tetapi rasa terharu yang musiman saja bukan maksudnya! Yang ditawarkan Allah dalam Kristus ialah persekutuan dengan Sang Pencipta, sesuatu yang kekal dan tak ternilai harganya.


1 Yoh 4:7-21 Definisi kasih menurut Allah

Februari 9, 2008

Apa itu kasih? Identikkah kasih dengan kasihan? Cerita lucu ini cukup menangkap suatu pemahaman umum tentang kasih.

Allah adalah kasih (a.8, 16) termasuk ucapan terkenal di dalam Alkitab. Bagaimana dipahami? Apakah kita sudah tahu apa itu kasih, sehingga Allah ditafsir sesuai pemahaman itu? Alhasil barangkali Allah adalah Mahakasihan, Mahapengertian.

Cuman, perikop ini menyampaikan definisi sendiri tentang kasih, yakni pengorbanan Kristus (a.10). Unsur kasih yang ditonjolkan di sini adalah pendamaian. Kasih Allah selalu melawan dosa (yang boleh dikatakan pada hakekatnya anti-kasih), dan salib Kristus jelas bukan soal mengerti saja!

Kasih begitulah yang harus kita terepkan seorang kepada yang lain, sebagaimana ditegaskan dalam seluruh perikop ini. Dengan demikian hadirat Allah akan nyata di dalam persekutuan. Lebih lagi, kita akan tenang menghadapi penghakiman Allah oleh karena kasih itu (aa.17-18).

Kasih macam apa yang dialami dalam persekutuan kita?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.