2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


2 Kor 10:1-11 Rasul yang membangun dengan meruntuhkan

November 8, 2010

Maksud perikop ini tidak mudah dimengerti sepintas lalu. Makanya, proses membuat amanat khotbah dapat digambarkan. Saya akan menunjukkan struktur perikop, dengan menjelaskan beberapa perkataan Paulus yang mungkin membingungkan. Struktur itu didapatkan dengan menyusun kembali kalimat-kalimat sesuai dengan induk dan anak kalimat, dan dengan memperhatikan kata-kata (atau kelompok kata dengan maksud yang mirip atau berlawanan) yang diulang. (Tentu, proses ini lebih jelas dalam bahasa Yunani, tetapi dapat dilakukan dari terjemahan yang baik.) Kemudian saya akan coba merumuskan amanat teks. Baru setelah itu, ada usulan aplikasi, pertama-tama untuk pelayan (yaitu pembaca sasaran blog ini), kemudian untuk jemaat.

Soal dekat dan jauh bermunculan dalam aa.1-2 (a.1 “berhadapan muka”, “berjauhan” [apōn], a.2 “dekat” [parōn]), dan kemudian dalam aa.9-11 (a.9 “surat-surat”, a.10 “berhadapan muka”, a.11 “berhadapan muka”, “surat-surat”, “tidak berjauhan” [kembali parōn]). Makanya, aa.1-2 dan aa.9-11 merupakan bagian awal dan terakhir. Ternyata aa.9-11 diperlukan untuk memperjelas aa.1-2. Dalam a.1 Paulus sepertinya mengaku tidak berani di hadapan mereka tetapi berani jika jauh. A.9 memperjelas bahwa sikap Paulus jika jauh disampaikan melalui surat-surat, dan dalam a.10 kita melihat bahwa yang dikatakan dalam a.1 adalah tuduhan kelompok tertentu, yaitu orang-orang yang menganggap diri rasul (11:5). Makanya, a.1 adalah perkataan ironis, yaitu maksud Paulus kebalikan dari apa yang tersurat. Dia seakan-akan mengaku tidak berani dalam a.1, tetapi sebenarnya, seperti dia katakan dalam a.11, dia sanggup menindaki kelompok “super-rasul” itu. Jika ironi Paulus sudah disadari, kita akan memperhatikan pula bahwa dalam a.1 dia mencirikan Kristus “lemah lembut dan ramah”, bukan berani. Ironi itu lebih tajam dalam bahasa aslinya. “Tidak berani” menerjemahkan kata tapeinos. Dalam budaya Yunani yang menonjolkan persaingan dalam status, kata itu biasanya dipakai untuk menghina, tetapi dalam jemaat-jemaat Paulus kata itu menjadi pujian, sehingga diterjemahkan “rendah hati”, karena Kristus menunjukkan statusnya sebagai yang setara dengan Allah dengan jalan merendahkan diri sampai pada salib (Fil 2:5-11). Ketika dia berhadapan dengan mereka, Paulus bersikap sesuai dengan Injil, yaitu rendah hati, tetapi hal itu ditafsir sesuai dengan budaya setempat, yaitu sebagai ketidakberanian.

Satu tuduhan kelompok “super-rasul” itu ialah bahwa Paulus hidup secara duniawi (a.2). Aa.3-6 merupakan satu kalimat dalam bahasa Yunani, sebagai tanggapan Paulus terhadap tuduhan itu. Paulus memakai bahasa yang paling disukai budaya persaingan, yaitu bahasa perang (a.3 “berjuang”, a.4 “senjata”, “perjuangan”, “meruntuhkan benteng-benteng”, a.5 “mematahkan”, “menawan”, “menaklukkan”). Hanya, yang diperangi bukan manusia melainkan “siasat” dan “pikiran”, yaitu “keangkuhan yang menentang pengenalan akan Allah” (a.5) dan, dalam a.6, “kedurhakaan” sebagai lawan ketaatan. Senjata Paulus tidak diperincikan di sini, tetapi dari surat-menyurat dengan jemaat di Korintus senjata itu termasuk pemberitaan salib (1 Kor pp.1-2) dan kelemahan (2 Kor 12:10; bnd. juga Ef 6:10-20). Ternyata, cara yang mendapatkan kuasa Allah untuk melawan kedurhakaan bukan dengan menonjolkan kehebatan diri sendiri (sebagai orang yang lebih tahu atau lebih rohani) melainkan dengan jalan salib. Paulus, dalam penguraian berikutnya, bermegah dalam pelayanannya yang cuma-cuma kepada mereka (11:7) dan dalam penderitaannya (11:16 dst). Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk disiplin gerejawi; saya duga bahwa “menghukum” dalam a.6 merujuk pada dikeluarkannya kelompok “super-rasul” dari jemaat, jika jemaat di Korintus sudah kembali pada jalur yang semestinya. Tetapi hal itu harus terjadi karena jemaat di Korintus sudah diyakinkan kembali tentang jalan salib itu, bukan karena dibujuk atau dipaksa oleh wibawa Paulus.

Setelah menjelaskan dan membela cara dia berjuang, dalam aa.7-8 Paulus kembali menegaskan statusnya. Sepertinya kelompok “super-rasul” itu (atau orang tertentu di dalamnya) menganggap diri memiliki relasi khusus dengan Kristus. Paulus menegaskan bahwa dia juga adalah milik Kristus. Malah, Pauluslah yang diberi kuasa oleh Allah (a.8), sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (Gal 2:7-9) dan pendiri jemaat di Korintus (Kis 18). Hanya, kuasa itu diberikan untuk membangun bukan meruntuhkan. Paulus meruntuhkan gagasan dan keangkuhan, tetapi demi membangun orang. Dengan selesainya penjelasan itu, Paulus siap kembali pada soal sikap berani / lemah itu untuk meyakinkan mereka bahwa, dengan cara yang sesuai dengan Injil, dia dapat tegas.

Dari keempat bagian itu (1-2; 3-6; 7-8; 9-11), bagaimana sampai suatu amanat teks? Apakah inti pokok terkait dengan sikap Paulus yang dianggap plin-plan, peruntuhan keangkuhan, kerasulan Paulus, atau maksud Paulus untuk menindak kelompok “super-rasul” itu? Untuk mencari mana yang pokok, kita harus melihat bagian mana yang menopang. Aa.3-7 menjelaskan aa.1-2, artinya bahwa keberanian Paulus dipakai untuk meruntuhkan keangkuhan, tetapi kepada orangnya sendiri dia mau rendah hati sama seperti Kristus. Hal itu tidak mengesampingkan aa.3-7. Tanpa ayat-ayat itu aa.1-2 belum terlalu dalam. Aa.9-11 mengulang dan memperjelas aa.1-2. Tinggal apakah aa.7-8 menopang bagian-bagian lain atau sebaliknya. A.8 memang mengungkapkan satu masalah inti dalam pp.10-13, yaitu penerimaan kerasulan Paulus. Namun, hal itu justru dikaitkan dengan sikap ganda Paulus, yaitu membangun (dengan kerendahan hati) atau meruntuhkan (dengan sikap persaingan yang menjatuhkan). Dalam keempat pasal ini Paulus mau membela kerasulannya, tetapi bukan demi dirinya sendiri melainkan demi suatu pemahaman tentang Injil, yang sering kita sebut teologi salib, mengikuti Martin Luther.

Jadi, perikop ini menyampaikan bagaimana Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai rasul, yaitu dengan meruntuhkan keangkuhan manusia demi membangun jemaat. Tujuannya supaya pembaca menerima kembali kerasulannya sesuai dengan pemahaman yang sehat tentang Injil.

Penerapan untuk para pelayan hendaknya sudah jelas. Ada cara pastoral yang suka menegor jemaat karena berbagai sikap dan tindakan yang tidak baik, tetapi justru tidak membongkar pikiran dan siasat yang mendasari sikap-sikap itu. Hal itu lebih parah lagi jika pelayan merasa diri hebat karena tidak bodoh / najis / kacau seperti jemaat. Cara Paulus melihat jemaat sebagai sangat sanggup dibangun, asal pikiran dan sikap yang menghalangi dapat dirombak dengan ajaran dan teladan yang berpusat pada Kristus yang disalibkan itu.

Untuk tujuan khotbah, kita mungkin memperluas soal otoritas Paulus untuk mencakup semua penggunaan kuasa dalam jemaat. Jika ada perselisihan di jemaat, cara apa yang dipakai? Cara yang mendasari Injil salib, sehingga orang mau saling membangun dengan saling membantu memahami bagaimana kebenaran Injil perlu diterapkan dalam kasus yang diperdebatkan? Atau cara persaingan, di mana gengsi orang terbungkus dalam soal kalah menang dalam argumentasi? Apakah kubu-kubu keangkuhan dipertahankan, atau dibongkar demi kesehatan bersama jemaat? Paulus memiliki kuasa sebagai rasul Allah, tetapi dia tetap mau meyakinkan dan membangun, daripada main kuasa. Lebih lagi kita jemaat biasa.


2 Kor 8:1-15 Memberi demi Allah

April 14, 2010

Dalam pasal berikut (9:1) menjadi jelas bahwa yang dibahas di sini adalah pemberian kepada jemaat di Yerusalem yang sedang mengalami kelaparan (bnd. juga Rom 15:26). Dari pasal berikut juga nampak bahwa Paulus memakai semangat awal jemaat-jemaat di Akhaya (Korintus adalah ibu kota propinsi Akhaya) untuk “merangsang” jemaat-jemaat di Makedonia (9:2; termasuk Tesalonika dan Filipi) untuk menyumbang dengan semangat. Makedonia menyambut usulan Paulus di luar harapan, dan sekarang Paulus memakai sambutan itu untuk merangsang kembali jemaat di Korintus, yang semangatnya mungkin terganggu oleh masalah yang muncul di antara Paulus dengan beberapa tokoh di jemaat, tetapi menurut 2 Kor 7:8-9 sudah diselesaikan.

Respons Makedonia seperti mereka menyumbang kepada keluarga sendiri—mereka mendesak untuk memberi di luar kemampuan (a.3)—padahal jemaat di Yerusalem tidak dikenal secara pribadi. Sambutan mereka adalah karena Allah (a.5). Karena Injil yang membawa mereka untuk mengenal Allah berasal dari jemaat di Yerusalem maka mereka mau mendukung jemaat itu.

Selain contoh jemaat-jemaat di Makedonia, Paulus juga menyebutkan kelebihan mereka untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki karakter untuk melakukan pelayanan kasih itu (aa.7-8). Contoh terutama adalah Kristus (a.9). Tetapi yang diminta kepada mereka tidak sebanyak yang dilakukan Kristus. Kristus menjadi miskin supaya mereka menjadi kaya. Kepada jemaat hanya kelebihan yang diminta, supaya ada keseimbangan (aa.12-13). Keseimbangan juga berarti bahwa yang menerima tidak menjadi kaya atas pemberian orang lain. Paulus mengangkat pengalaman Israel di padang gurun sebagai contohnya. Manna yang dikumpulkan menjadi sama cukupnya untuk semua.

Pengorbanan Kristus memang sungguh luar biasa, dan kita tidak mampu, dan juga tidak diminta, untuk menjadi sehebat Dia. Namun, contoh jemaat-jemaat di Makedonia tidak di luar kemampuan kita. Jika pemberian tidak seperti itu, bagaimana jalan keluarnya? Paulus jelas bahwa yang diberikan harus dengan sukarela. Jadi, yang dibutuhkan adalah jemaat yang menyadari bahwa mereka dijadikan kaya oleh pengorbanan Kristus sehingga ada kerinduan untuk memberi demi kebutuhan orang lain.

Perhatikan bahwa uang yang dikumpulkan Paulus bukan untuk kebutuhan jemaat setempat, melainkan untuk jemaat di tempat yang lain. Pemberian untuk pelayanan setempat adalah fungsi “rasa memiliki” jemaat terhadap pelayanan jemaat. Jika rasa itu kuat (dan sebaiknya demikian), jemaat sadar bahwa mereka membantu diri sendiri melalui pemberian kepada jemaat sendiri. Pemberian kepada saudara-saudara di luar lingkungan kita membuktikan bahwa kita memberi demi Allah (a.5).


2 Kor 3:7-18 Mengapa berani?

Februari 15, 2008

Pernah ada komentar tentang suatu acara antar-agama di Australia bahwa doa wakil agama-agama yang lain dalam acara itu jelas berbau agamanya masing-masing, tetapi doa wakil orang Kristen umum saja. Orang Kristen Barat sering merasa agak malu di depan penganut agama-agama yang menderita dan diremehkan di bawah penjajahan Barat.

Rasul Paulus tidak malu demikian (a.12), tetapi bukan karena kesanggupan Paulus sendiri (a.5). Sebaliknya, dalam 2 Kor 1 jelas bahwa Paulus hampir meninggal (1:8-11), dan juga mengecewakan jemaat di Korintus (1:15-24). Perikop kita mau menegaskan bahwa keberanian Paulus berasal dari Injil yang dilayankan.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.