3 Yohanes 1:5-8 Mendukung kebenaran [16 Oktober 2011]

Oktober 13, 2011

Si “penatua” yang menulis surat ini biasanya dianggap rasul Yohanes, karena gaya dan bahasa mirip dengan 1 & 2 Yohanes dan Injil Yohanes. Selain itu penatua ini memiliki wibawa yang jelas. Diduga bahwa rasul Yohanes pernah pindah ke Efesus di mana pelayanannya dapat berkembang dan berbuah di kawasan Asia kecil, yakni jemaat-jemaat seperti dalam Wahyu pp.2-3. Kemungkinan besar Gayus adalah anggota salah satu jemaat dalam wilayah pelayanan Yohanes itu. Dalam surat yang intim ini kita mendapat wawasan tentang beberapa nilai yang penting bagi Yohanes berdasarkan “kebenaran”, yaitu kebenaran Injil.

Penggalian Teks

Nas kita merupakan inti dari surat ini. Aa.1-4 sudah menyatakan sukacitanya jika anak-anak rohaninya hidup dalam kebenaran. Aa.5-8 menjelaskan apa yang dilakukan dan memberi pujian atas hal itu. Ada kelompok orang yang berkeliling ke berbagai daerah dalam rangka pelayanan tertentu (a.7 “karena nama-Nya”) dengan hanya mengandalkan orang-orang percaya. Di kota tempat Gayus tinggal mereka diterima oleh Gayus (a.5) dan diberi bantuan untuk melanjutkan perjalanan mereka (a.6a). Mereka kemudian sampai di jemaat si penatua (apakah karena memang berasal dari jemaat itu, artinya, mereka adalah utusan-utusan jemaat induk itu?) dan memberi kesaksian tentang penerimaan itu (a.6a).

Penerimaan Gayus itu disebut sebagai tindakan orang percaya (a.5) yang sangat tepat (a.6b, “baik benar”). Dalam a.8 penerimaan itu disebut sebagai kewajiban, karena dengan demikian kita mengambil bagian dalam pekerjaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Dari a.11, kita melihat bahwa penulis mau menguatkan Gayus dalam jalan yang baik. Tujuan itu diusahakan dengan memuji tindakannya berdasarkan prinsip kunci dalam a.8b, yaitu bahwa dengan menolong seseorang dalam pelayanannya yang baik kita mengambil bagian di dalamnya.

Makna

Kata kebenaran menerjemahkan aletheia dalam surat ini, bukan dikaiosune. Dikaiosune merujuk pada tindakan yang tepat, sedangkan aletheia merujuk pada apa yang sesuai dengan kenyataan. Kenyataan itu bisa sesuatu yang tersirat di balik apa yang kelihatan atau di bawah permukaan. Konsep tentang aletheia ada dalam semua budaya. Jadi, dalam budaya lama Toraja orang menganggap bahwa di balik penyakit atau hama ada pelanggaran yang perlu diungkapkan. Para filsuf Yunani mengklaim bahwa di balik dunia yang fana dan labil ini ada dunia ide yang kekal. Alkitab mengklaim bahwa di balik kekacauan dunia yang berpuncak dalam kematian Anak Allah Yesus Kristus ada kemenangan Allah yang diwujudkan dalam kebangkitan Kristus. Konsep kita tentang aletheia selalu berpengaruh pada tingkah laku kita, sehingga dalam a.3 penulis mengatakan, “engkau hidup dalam aletheia”, artinya, hidup sesuai dengan kenyataan yang diungkapkan oleh Injil Kristus.

Makanya, prinsip dalam a.8b bukan prinsip umum tentang memberi tumpangan bagi orang-orang dalam kesusahan melainkan mendukung orang yang berkerja bagi kebenaran Injil Kristus. (Menolong orang dalam kesusahan tentu adalah hal yang baik, hanya, bukan itu yang dibahas dalam surat ini.) Dengan memberi dukungan tertentu kepada orang-orang tertentu, kita mendukung apa yang mereka lakukan dan dengan demikian mendukung kebenaran (aletheia) yang mereka saksikan. Satu implikasi adalah bahwa tidak semua orang layak didukung. Dalam 2 Yoh 10-11 penulis yang sama justru melarang dukungan bagi penyesat, karena dengan demikian “ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.

Apa yang tergolong dukungan dan apa yang tidak ada unsur budaya di dalamnya. Andaikan ada pendeta dari aliran yang sesat mengikuti konferensi yang bersifat umum saja (misalnya, menyangkut penyakit sosial), ada tempat yang lebih baik bila tidak pernah makan semeja dengan dia karena akan dianggap mendukung, tetapi di tempat lain (seperti dunia Barat pada umumnya) makan semeja tidak mempunyai artian demikian dalam konteks seperti itu. Yang penting, kita mendukung (sesuai dengan budaya setempat) pelayanan yang sesuai dengan kebenaran Injil, dan tidak mendukung apa yang tidak. Tentu, membedakan yang mana sesuai dan yang mana tidak bisa saja kontroversial (rekomendasi dari pihak yang dipercaya dapat menolong, a.11). Kerumitan dalam hal itu tidak meniadakan prinsipnya. Tidak semua orang dapat melakukan pekerjaan Tuhan dalam segala aspek, tetapi kita dapat membantu orang-orang yang dipanggil, untuk menjadi pelayan, penginjil dsb.


3 Yoh 1:1-4 Menyikapi Kebenaran

September 7, 2009

Kitab 3 Yoh ini memberi gambaran tentang bagaimana kebenaran diterapkan secara praktis. Ada pertolongan kepada yang memberitakannya (5-8) serta gambaran tentang orang yang menentangnya (9-10). Intinya, yang memang mewakili tema utama dalam tulisan-tulisan Yohanes yang lain, terdapat dalam a.11, yaitu berasal dari dan mengenal Allah.

Dalam bagian awal surat ini, yakni aa.1-4, kita menemukan satu segi lagi, yaitu sikap orang terhadap kebenaran. Kasihnya berbasis kebenaran (1). Doanya menyangkut bukan hanya kesejahteraan umum, tetapi kesejahteraan jiwa (2). Dalam konteks surat ini hal itu paling sedikit merujuk ke jiwa yang benar. Dalam kedua ayat berikut, kita melihat lebih lagi bahwa ada sukacita dalam penulis atas kebenaran dalam diri orang lain.

Banyak doa kita seperti dalam a.2a, yaitu menyangkut kesejahteraan umum. Akhir-akhir ini saya berbicara dengan sekelompok orang yang menghadapi pergumulan. Salah satunya berkomentar bahwa melaluinya mereka dikuatkan untuk perjuangan berikut. Saya jadi berpikir, apakah saya akan lebih bersukacita ketika mereka bertumbuh dalam kenyamanan atau ketika mereka bertumbuh dalam kebenaran. Jika yang pertama, apakah karena saya sendiri lebih suka akan kenyamanan daripada kebenaran. Tetapi sebenarnya kita tahu bahwa yang membawa sukacita yang lebih besar adalah melihat teman, jemaat, keluarga bertekun dalam kebenaran. Semoga kebenaran yang dikerjakan Allah dalam diri orang lain menjadi pokok doa dan sukacita kita juga.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.