Ams 23:19-28 Nasihat seorang teladan

Oktober 18, 2009

Bagian 22:17-24:34 merupakan koleksi amsal dari “orang-orang bijak”, yang ternyata mirip dengan koleksi amsal dari Mesir (Pesan-pesan Amenemope). Kemiripan tidak berarti disalin, karena jelas berwarna iman Israel. Koleksi ini memakai nama Tuhan (YHWH), dan bertujuan iman kepada-Nya (22:19). Tetapi kita melihat dalam bagian ini dengan paling jelas bahwa hikmat bukan milik satu kelompok saja.

Bagian ini juga berbeda dari bagian yang mulai pada p.10, karena setiap amsal mencakup beberapa ayat. Dalam perikop kita, ada tiga amsal, yaitu aa.19-21, aa.22-25 dan aa.26-28 (sehingga renungan ini tidak dipotong pada a.26). Yang pertama menyangkut nafsu yang tak terkendali. Adalah menarik bahwa bukan hanya anggur yang disebut tetapi juga daging. Saya menduga bahwa dalam dunia kuno, sama seperti di Indonesia, daging dimakan pada pesta saja, kecuali yang kaya. Selain menjadi mahal, gaya hidup itu juga membuat orang kantuk, artinya tidak lagi terfokus pada perjuangan hidup.

Amsal yang pertama mulai dengan seruan kepada anak untuk mendengarkan ayahnya, tetapi dalam amsal yang kedua (aa.22-25) orang tua adalah sumber hidup, dan menyenangkan orang tua menjadi motivasi untuk berhikmat (a.24-25). Seruan ini adalah untuk memperoleh kebenaran, hikmat dsb (a.23). Seandainya hal-hal itu bisa dijualbelikan, maka semestinya dibeli dan dipegang terus.

Dalam amsal yang ketiga (aa.26-28), si ayah mengajak anaknya untuk melihat contohnya sendiri (a.26). Peringatan di sini menyangkut nafsu berahi yang di luar batas nikah.

Adalah terlalu gampang jika kita menyoroti kesukaan beberapa pemuda untuk bermabok-mabokan, tanpa bertanya, siapakah dari generasi ayah mereka yang layak mengajak mereka untuk memperhatikan jalannya (a.26)? Sering yang dijunjung tinggi adalah pelahap gengsi dan uang. Pendidikan dianggap komoditas yang bisa dibeli secara harfiah—saya membayar uang sekolah dan diberi ijazah lepas dari apakah saya sudah memperoleh pengertian atau tidak. Di berbagai kalangan dianggap biasa saja jika laki-laki yang berjalan jauh main pelacur. Maksud saya, perikop ini menyangkut ayah yang bijak yang mau meneruskan hikmatnya kepada anak, bukan ayah yang kacau yang mengeluhkan kekacauan anaknya.

Yang sudah pada jalan belajar hikmat, tolong diteruskan kepada generasi muda yang membutuhkan banyak bimbingan dalam dunia ini. Yang belum, jadilah anak kembali untuk mempelajari jalan yang benar.


Ams 5:1-14 Kerugian kebodohan

Juni 8, 2009

Jalur Amsal 5:1-14 tidak sulit. Perikopnya mulai dengan anjuran untuk mengarahkan telinga pada nasihatnya (a.1) dan berakhir dengan ratapan tentang akibat dari tidak mengarahkan telinganya (a.13). Aa.3-5 menggambarkan “perempuan jalang” sebagai sesuatu yang menarik (a.3) tetapi sebenarnya merupakan jalan ke dunia orang mati. Akibat dari mengikutinya disampaikan dalam aa.9-10, yaitu hal-hal yang baik yang dimiliki jadi dinikmati orang lain. Selain kerugian hasil, ada juga kerugian hormat di depan orang (a.14). Semuanya karena tidak mau mendengarkan nasihat (aa.12-13).

Pemicu kerugian ini disebut perempuan jalang dalam a.3. Bahwa perempuan demikian termasuk apa yang diperingatkan adalah jelas. Tetapi melihat bahwa hikmat dan kebodohan menjadi dua perempuan yang bersaing dalam p.9, saya duga bahwa perempuan jalang menjadi kiasan tentang penggodaan. Banyak kebodohan dilihat sebagai sesuatu yang menarik, menggiur, tetapi hasilnya merugikan, memalukan dan akhirnya membawa maut bukan kehidupan.

Perhatikan bahwa walau berzinah adalah dosa, tekanan di sini bukan pada soal pelanggaran hukum Allah melainkan akibat dari kebodohan. Kedua perspektif itu saling melengakapi. Memang perlu disadari bahwa dosa menyedihkan hati Allah. Tetapi menaati Allah tidak membawa kerugian karena kehendak Allah adalah jalan hikmat. Dosa sebagai kebodohan yang membawa kerugian. Jika saya melihat ketaatan sebagai kerugian, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian kepada Allah. Tetapi jika saya menyadari bahwa ketaatan membawa keuntungan, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian dari Allah yang menyatakan jalan hikmat kepada saya dan memampukan saya untuk mengikutinya.


Ams 4:1-13 (2) Meneruskan hikmat

April 27, 2009

Ams pp.1-9 berbicara sebagai ayah kepada anaknya. Malah, dalam perikop ini sang ayah menyebutkan ayahnya sendiri (aa.3-4). Sang ayah meneruskan hikmat dari leluhurnya kepada generasi berikut. Posting yang lalu saya menjelaskan hikmat sebagai kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Tetapi sebagai manusia yang berbahasa, kita bisa juga belajar dari pengalaman orang lain, dan tradisi hikmat adalah endapan dari pengalaman banyak orang berhikmat.

Satu pengamatan di Toraja (berdasarkan beberapa skripsi mahasiswa) ialah bahwa hanya sedikit keluarga yang mengajarkan iman di rumah, dengan misalnya ayah/ibu membaca Alkitab dan keluarga berdoa bersama. Tidak ada penerusan hikmat kepada generasi berikut. Satu usulan mengapa begitu ialah bahwa pada tahun 50an dan 60an banyak orang masuk ke dalam Gereja Toraja, tetapi program pembinaan warga gereja yang baru terhambat. Sehingga banyak ayah dan ibu tidak mengenal imannya pada tingkat yang cukup untuk meneruskannya kepada anak-anaknya, yang pada gilirannya tidak mampu meneruskannya kepada generasi berikut. Pengajaran iman dipercayakan kepada gereja saja, sehingga yang dipelajari adalah doktrin-doktrin atau prinsip-prinsip umum saja, bukan hikmat kristiani yang dipelajari dalam seluk-beluk kehidupan sehari-hari.

Tentu, gambaran ayah dan anak dalam perikop ini tidak terbatas pada keluarga jasmani. Salomo merintis birokrasi di Israel, dan kemungkinan besar penulisan tradisi hikmat yang selama itu lisan dilakukan untuk mendidik para birokrat. Dalam konteks itu ayah berarti mentor, dan anak berarti kadernya. Rasul Paulus juga menggambarkan hubungannya dengan jemaat di Tesalonika sebagai ayah/ibu dengan anak-anaknya (1 Tes 2:7-12). Dia membagi bukan saja Injil tetapi hidup, sehingga mereka tidak hanya mempelajari doktrin-doktrin melainkan juga pola hidup seorang percaya. Yang mendasari semuanya ialah Yesus sebagai Anak Allah yang oleh Bapa-Nya diajar (lihat Yoh 5:19-20) dan dididik dengan penderitaan (Ibr 5:7-9), sehingga kita sebagai saudara-saudara Yesus ikut dididik oleh Allah (Ibr 12:5-6). Jika Yesus diajarkan Bapa-Nya, betapa lebih lagi kita memerlukan pembinaan.

Dalam rangka itu ada yang mencoba menerapkan kelompok kecil, dan yang saya dengar ada yang sukses, ada yang tidak. Saya duga yang sukses itu karena ada anggota di dalam kelompok yang mampu menjadi ayah/ibu rohani kepada anggota-anggota yang lain (belum tentu pemimpin yang ditunjuk). Pola itu saya dorong, karena saya sendiri besar dalam keluarga kristen yang tidak membagikan iman di dalam keluarga. Saya mulai belajar beriman dan berhikmat secara beriman dalam kelompok kecil pemuda di gereja, kemudian dalam pelayanan mahasiswa. Namun, dalam tradisi Calvinis perkunjungan pelayan kepada warga jemaat memiliki tujuan yang sama, yaitu pelayan menjadi ayah/ibu rohani (biasa disebut gembala) kepada warga jemaat. Namun, ada kesulitan yang sama seperti di atas jika pelayan sendiri belum dewasa dalam iman.

Gereja yang tidak berhikmat lagi perlu merenungkan peringatan Yesus tentang garam yang tawar. Jalan keluar tercantum dalam perikop ini, saya rasa. Kita perlu orang tua rohani yang siap mendidik (a.1), memberikan ilmu (a.2) dan mengajarkan jalan hikmat (a.11). Sebagai orang yang ditunjuk oleh gereja sebagai pelayan, keperluan itu menjadi tantangan bagi saya. Kita semua juga perlu menjadi seperti anak, siap mendengarkan dan memperhatikan supaya beroleh pengertian (a.1 dst). Adakah sarana dalam budaya Toraja yang dapat membantu proses yang medesak ini?


Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

April 27, 2009

Amsal pp.1-9 mengkhotbahkan pentingnya memperoleh hikmat. Pasal-pasal ini berbentuk nasihat seorang ayah kepada anaknya, dan segi itu saya bahas di posting berikut. Posting ini berfokus pada hikmat sendiri.

Maksud hikmat dapat digambarkan dari lebah berjenis sphex yang bertelur di sarangnya, kemudian menyengat serangga sehingga lumpuh tetapi masih hidup. Lebah menyeret serangganya ke ambang sarang, lalu memeriksa di dalam lalu membawa serangga itu ke dalam untuk menjadi makanan bagi anak-anaknya setelah menetas. Tingkah laku lebah itu pintar, tetapi tidak berhikmat. Soalnya, jika serangganya digeser beberapa sentimeter dari sarang, ketika lebah keluar dari lobang sarang lebah akan mengulang tindakannya. Lebah akan kembali membawa serangganya ke ambang sarang, lalu masuk untuk memeriksanya. Ada peneliti yang mengulang menggeser serangga itu sampai 40 kali, dan setiap kali tindakan lebah sama. Lebah tidak dapat belajar dari pengalaman. Lebah tidak berhikmat, sama seperti manusia (jemaat, pelayan) yang membuat kesalahan yang sama dalam cara kerja dan berelasi berulang kali tanpa berubah.

Maka kita dianjurkan untuk memperoleh hikmat (aa.5, 7). Dengan demikian kita akan dipelihara (a.6), lebih lagi ditinggikan (a.8-9). Hikmat akan memberi kita kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan dari orang lain (a.1) sehingga apa yang kita usahakan dapat terwujud (a.12). Hikmat membawa hidup (a.13). Dalam a.10 ada janji umur yang panjang seperti dalam hukum kelima. Salah satu alasan untuk menghormati orang tua adalah belajar dari hikmat mereka.

Tentu, kita harus selalu menempatkan janji hikmat dalam konteks perlawanan dunia terhadap Allah. Dalam Dan 11:33 orang berhikmat “jatuh oleh karena pedang dan api” karena setia kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa kita akan mendapat perlawanan sama seperti Dia dilawan. Namun, janji hidup tetap berlaku. Dalam Dan 12:2-3 ada nubuatan bahwa orang bijaksana itu akan bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan Yesus menjamin hal itu juga. Untuk sementara, hikmat membantu kita untuk bertekun dalam kesusahan (Yak 1:2-5) dan untuk mengasihi sesama (Fil 1:9).

Sekarang, di Indonesia sama seperti di dunia Barat, banyak masyarakat kurang berhikmat. Di Toraja saya duga bahwa hikmat dalam aluk (adat lama Toraja) hilang, sementara penggantinya dalam kekristenan tidak dicari. Sehingga misalnya, gengsi mengganti hormat sebagai tujuan, rakyat gampang terpancing dan tertipu, dsb (tambahlah dengan keluhan favorit masing-masing :). Respons yang diperlukan saya bahas dalam posting berikut.


Amsal 10:3-5

November 13, 2008

TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan,
tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.

Tangan yang lamban membuat miskin,
tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi;
siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

A.3 mengandung permainan kata, karena baris pertama dapat juga diterjemahkan “Tuhan tidak membiarkan hampa nafsu yang benar”. Ketika baris pertama didenger (dalam bahasa aslinya), mungkin maksud terjemahan LAI yang ditangkap, tetapi ketika dilanjutkan dengan baris kedua, maka maksud dari usulan tadi akan muncul. Dengan demikian, pendengar tergugah untuk memikirkan hubungan antara nafsu makan dan keinginan yang lain. Itulah maksud sebuah amsal: bukan jawaban siap saji tetapi bahan perenungan, karena hikmat dibangun melalui latihan memikirkan, bukan dengan informasi saja. Kalau saya merenungkan ayat ini, saya teringat bahwa kelimpahan makanan tidak membahagiakan. Banyak orang fasik yang kaya tetapi tidak berbahagia karena nafsunya bengkok sehingga tidak pernah puas. Sebaliknya, orang yang puas dengan makanan yang secukupnya sebagai pemberian Allah adalah berbahagia.

Aa.4-5 jelas satu tema, mengusulkan sikap rajin. Maksudnya jelas, saya rasa? Satu hal yang hilang dalam terjemahan a.5 adalah munculnya kembali anak. Yang berakal budi atau membuat malu adalah anak (kata yang terdapat dalam a.1). Hal itu agak memperjelas soal membuat malu, saya rasa, dan menjadi satu contoh dari a.1.

Bagaimana kalau a.4-5 dibaca bersama dengan a.3? Hal itu tidak selalu berguna, karena kumpulan amsal tidak selalu terurut. Tetapi kali ini menarik. Bukankah kemalasan adalah salah satu bentuk keinginan orang fasik yang berdampak negatif? Bukankah pemeliharaan Tuhan dialami melalui kerja keras orang benar? Salah satu hal yang dapat kita pelajari dari kitab Amsal adalah bahwa Tuhan bekerja di tengah dan melalui usaha kita.

Kalau pikiran Anda tergugah oleh amsal-amsal ini, silakan dikomentari…


Amsal 10:2 Mengapa orang bijak berbuat benar

November 11, 2008

Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna,
tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.

Jika ayat pertama berbicara tentang bijak/bebal (terkait dengan hikmat), maka ayat kedua ini berbicara tentang benar/jahat. Hikmat tidak sama dengan kebenaran—hikmat terkait dengan kemampuan/keterampilan mencapai tujuan, sedangkan kebenaran terkait dengan cara hidup dengan sesama dan Tuhan yang tepat. Namun, orang yang benar akan mengejar hikmat supaya perbuatannya makin berguna, dan orang yang sungguh berhikmat akan memahami pentingnya berbuat benar.

Betulkah bahwa orang bijak/berhikmat akan berbuat benar? Soalnya, cukup banyak orang yang memiliki keterampilan dalam berencana, membuat jaringan, dan berelasi yang menggunakannya untuk mengejar harta benda. Malah dianggap bodoh jika kesempatan untuk menjamin kesejahteraan keluarga dilewati demi menjaga kebenaran.

Klaim yang mengejutkan dari baris pertama ialah bahwa harta benda demikian tidak menguntungkan. Sepintas lalu klaim itu tidak masuk akal. Jika ada harta benda (bagaimanapun caranya diperoleh) masakan dibilang bahwa tidak ada gunanya? Baris kedua yang menjelaskan. Hikmat yang sejati melihat ke jangka panjang, bukan hanya jangka pendek. Percuma menjadi kaya kalau kemudian mati. Perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh menggambarkan hal itu (Lk 12:16-21).

Jadi, kuncinya baris kedua. Bagaimana kebenaran menyelamatkan dari maut? Hal itu dapat dilihat dari berbagai segi. Paling praktis, masyarakat yang hidup benar/adil akan mengurangi ketidakadilan yang mematikan dan juga akan menghadapi ancaman bersama dalam solidaritas. Tetapi banyak ancaman maut yang hanya dapat dilewati dengan pertolongan Tuhan. Perhatikan kesalehan mendadak yang muncul pada orang jahat ketika dilanda musibah yang tidak dapat diatasi dengan uang! Pada dasarnya, hidup menurut kehendak Allah menuju ke hidup yang selamat dan sejahtera.

Namun, ketika kita membaca ayat-ayat demikian dalam kitab Amsal, kita harus mengingat perspektif lebih luas. Seperti diakui bahkan dalam kitab Amsal sendiri (13:23), dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Dalam kitab Daniel kematian kaum berhikmat karena dibunuh bermuara pada harapan kebangkitan (Dan 12:1-3). Dalam PB, keselamatan dari maut bukan soal tidak pernah akan mati muda, melainkan janji akan kebangkitan setelah mati. Lebih lagi, kebenaran yang menyelamatkan adalah anugerah dari Allah (Rom 5:9). Perspektif PB ini tidak meniadakan hal-hal praktis tadi, melainkan meneguhkannya, karena meskipun banyak orang fasik kelihatan beruntung sampai mati tua kita tahu bahwa keadilan Allah akan berlaku.


Amsal 10:1 Hikmat yang diteruskan

November 11, 2008

Amsal-amsal Salomo.

Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya,
tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.

Sebagaimana ditandai oleh judul “Amsal-amsal Salomo”, pada ayat ini kumpulan amsal dimulai. Pasal-pasal sebelumnya merupakan pendahuluan tentang pentingnya hikmat.

Namun, amsal ini cocok sebagai amsal yang pertama, karena pp.1-9 banyak membicarakan pendidikan dari orang tua kepada anaknya. Hasil pendidikan itu sangat menentukan bagi orang tua. Maksud ayat ini dapat diperluas untuk merujuk pada generasi. Setiap generasi harus belajar bijak (berhikmat), dan pengajar (seperti saya) paling bersukacita ketika generasi berikut bukan hanya menangkap ilmu tetapi mulai dewasa dan terampil dalam menggunakannya.

Ayat ini memperlihatkan beberapa ciri puisi Ibrani. Baris pertama mengalir, dengan kata sifat dan kata kerja. Baris kedua adalah serangkaian kata benda, “Seorang anak, orang bebal, dukacita ibunya”. Suasana dukacita tercermin dalam susunan kalimat yang kaku. Perhatikan juga “ayah” dan “ibu” yang merupakan pasangan kata. Tentu, maksudnya “orang tua”, bukan bahwa ayah hanya bersangkut paut dengan anak yang bijak dan ibu dengan anak yang bebal. Seperti biasa dalam puisi Alkitab, baris pertama dan kedua sejajar, dan harus diartikan bersama.


Amsal 16:20-24 Komunikasi yang berhasil

September 26, 2008

Kitab Amsal banyak berbicara tentang bagaimana berhasil. Dalam aa.21, 22 & 24 hasilnya menyangkut komunikasi. A.21 dan a.23 mirip dengan pesan tentang orang atau hati yang bijak / berhikmat. Orang yang demikian dapat berpengaruh pada sesama karena hikmatnya nampak sehingga usulannya meyakinkan. A.21 dan a.24 mirip dengan usulannya untuk berbicara manis. Bukan hanya isinya tetapi caranya juga turut berperan dalam hasil komunikasi.

Nasihat itu tidak sulit ditangkap, tetapi lebih sulit diterapkan di tengah kesibukan hidup. Tetapi ada motivasi langsung jika hasilnya dicermati. Dengan cakupan lebih luas daripada komunikasi saja, a.22 menunjukkan bahwa kebodohan adalah ganjarannya sendiri. Sebaliknya, akal budi membawa hidup. Jika contoh masing-masing dari lingkungan kita dipikirkan, jelas bahwa kita mau seperti orang bijak.

Saya duga bahwa seringkali emosi adalah salah satu sumber pokok kebodohan. Daripada berpikir dulu kita langsung bereaksi. Hal itu disampaikan dalam a.20 dengan terjemahan “Siapa yang memperhatikan perkara akan mendapat kebaikan”. (Kata Ibrani dabar dapat berarti perkataan seperti terjemahan LAI, tetapi juga hal atau perkara seperti sebagian terjemahan bahasa Inggris.) Memperhatikan perkara berarti bahwa kita tidak langsung percaya atas kesan pertama melainkan melihat baik-baik bagaimana seesungguhnya perkara itu. Jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita akan dimampukan untuk melihat keadaan dengan lebih jernih lagi, yaitu dengan mata Tuhan yang mengerjakan kebaikan dalam segala hal.