Ams 2:1-22 Cara dan Alasan untuk berhikmat (25 Nop 2012)

November 23, 2012

Struktur perikop ini cukup jelas, dan dengan demikian alur penguraian juga tidak sulit. Penekanan kitab Amsal pada pengamatan yang jeli berguna untuk kita semua, termasuk para pelayan yang bisa pandai berteori tetapi teorinya tidak berkenaan dengan realitas. Semoga jemaat bisa makin pandai dalam mempraktekkan imannya.

Penggalian Teks

Ayat-ayat ini ditujukan kepada “anakku”. Hal itu memakai bahasa keluarga, dan kita dapat membayangkan konteks seorang ayah kepada anaknya, dan juga konteks yang lain, seperti kepegawaian yang dibangun di bawah pemerintahan raja Salomo, di mana atasan akan membimbing para pemula. Beberapa kata kunci dipakai. Kata “pengertian” (bina) adalah hasil pengamatan, dan kata “kepandaian” (tebuna) adalah penerapan pengertian itu. Kata “pengetahuan” dan “pengenalan” sama dalam bahasa aslinya (da’at). Kata “hikmat” mungkin mencakup semuanya, pengetahuan serta kemampuan.

Aa.1-5 menyampaikan seruan untuk mengejar hikmat, pengertian dan kepandaian. Hasilnya tampak dalam hubungan dengan Tuhan. Takut akan Tuhan akan dimengerti, dan Dia akan dikenal. Hubungan antara hikmat dan pengenalan akan Allah disampaikan dalam aa.6-9. Hikmat berasal dari Tuhan, khususnya dari mulut-Nya, yakni dalam firman Tuhan (6). Yang dapat menerima hikmat ialah orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjaga keadilan. Hal itu selalu menantang, sehingga orang-orang itu akan mengalami pertolongan Tuhan (7). Bila dialamatkan kepada pegawai yang muda, a.8 mengena: mereka harus menjaga orang-orang kecil yang setia kepada Tuhan. Jadi, mengejar hikmat akan juga membawa pengertian tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran (9).

Melalui praktek kebenaran, “hikmat akan masuk ke dalam hatimu” (10). Dengan demikian, kepandaian akan menjaga (11). Dua kali ada ucapan “terlepas” (aa.12, 16). Aa.12-15 menggambarkan cara orang jahat, yang berisi penipuan (12) dan bahaya (13). Gambaran itu diulang dengan lebih tegas lagi dalam aa.13-14. Aa.16-19 menggambarkan “perempuan jalang”. Jalan ini dikaitkan dengan dunia maut (18-19). Tentu peringatan ini berlaku secara harfiah, tetapi a.17 memberi petunjuk bahwa maksudnya perzinaan juga.

Semua itu menjadi alasan untuk menempuh jalan orang baik (20). Orang jujur yang akan menikmati janji Allah (“tanah”, a.21). Tetapi, sebagaimana dilihat dalam aa.12-19, orang fasik akan kehilangan semuanya.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak-Nya menjadi berhikmat. Perikop ini menujukkan caranya, yakni hidup jujur, serta manfaatnya, yaitu terlepas dari tipu muslihat dunia yang melawan Allah, dan terlepas dari menggiurkan nafsu yang menimbulkan ketidaksetiaan.

Makna

A.12b memakai bentuk tunggal (“orang”), tetapi aa.13-15 memakai bentuk jamak (“mereka”). Ucapan yang menggoda bisa datang dari satu orang, tetapi dia adalah bagian dari suatu sistem kejahatan. Istilah yang dipakai dalam Injil dan surat-surat Yohanes ialah “dunia”. Dalam dunia itu, yang gelap dan bengkok dipuji, malahan kadangkala dianggap lurus. Hikmat memampukan kita untuk melihat bahwa masuk dalam ranah korupsi dsb. akan menimbulkan banyak masalah.

Perempuan jalang saya artikan sebagai lambang nafsu yang menduakan Allah, yang dikaitkan dengan daging, mata dan “keangkuhan hidup” dalam 1 Yoh 2:13-15. Bukan hanya pelacur atau pezina yang dirujuk di sini. Nafsu akan kuasa, nafsu berlebihan akan makanan, minuman dsb. semuanya bisa menjadi jerat yang menjatuhkan, dan hikmat memampukan kita untuk menghindarinya.

Aa.7-9 tetap relevan untuk semua orang yang berkuasa sekarang, sama seperti untuk para pegawai dalam kerajaan Salomo. Tanpa berlaku jujur dan adil, hikmat yang sejati tidak akan ditangkap.

Seluk-beluk hikmat ini akan diajarkan dalam kitab Amsal, dan di dalam Kristus kita menemukan puncaknya. Di dalam Kristus ada beberapa ciri khas, yaitu bahwa penderitaan bukan hanya dalam rangka ketaatan kepada Allah tetapi juga dalam rangka kasih yang berkorban bagi sesama. Semangat untuk bermisi mencakup kedua hal itu, dan baru dalam rangka pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus akan dilihat sebagai jalan hidup yang berhikmat.


Ams 1:1-7 Dasar dan tujuan hikmat (10 Juni 2012)

Juni 7, 2012

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan pengantar bagi seluruh kitab Amsal. Koleksi amsal ini dikaitkan dengan Salomo. Karena amsal adalah pola yang berkembang di dalam sebuah masyarakat, maka Salomo mungkin lebih baik dilihat sebagai penggerak pengumpulan koleksi amsal ini, termasuk dari sumber yang lain (lihat 22:17 “amsal-amsal orang bijak”; 30:1; 31:1). Dalam pp.1-9 konteks pengajaran amsal ialah keluarga (lihat 1:8), yaitu orangtua kepada anak yang tak berpengalaman dan muda, seperti dikatakan dalam a.4. Tetapi kemungkinan juga Salomo mau mempertajam kemampuan para pegawai dalam birokrasi yang dia kembangkan, seperti dikatakan dalam aa.5-6.

Walaupun sastra hikmat seperti Amsal didapati dalam semua budaya, a.1 menempatkan kitab Amsal dalam konteks Israel. Serangkaian tujuan disampaikan dalam aa.2-6. A.2a menggunakan tiga kata yang penting. “Mengetahui” berarti bahwa tujuannya ialah penambahan dalam kemampuan seseorang untuk berpikir. Yang diketahui ialah “hikmat”. Hikmat tidak sekadar informasi, tetapi kemampuan untuk menggunakan informasi dan pemahaman dengan tepat dalam konteks tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Hal kedua yang diketahui ialah “didikan”. Kata ini merujuk pada proses belajar dari pengalaman, termasuk teguran dan latihan.

A.2b merupakan tujuan lanjutan, yaitu, kemampuan untuk belajar dari pengalaman orang-orang lain melalui kata-kata mereka yang bermakna. Dalam a.3a kembali ke soal didikan, belajar dari pengalaman untuk menjadi pandai.

A.3b seakan-akan berubah haluan, berbicara tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, istilah yang banyak dipakai oleh para nabi. Tetapi jika definisi hikmat adalah kemampuan untuk sukses, sukses itu harus didefinisikan. Hikmat yang mau diajarkan dalam kitab Amsal adalah hikmat yang mencapai kebenaran (relasi yang baik dengan manusia dan Tuhan), keadilan (masyarakat yang menghargai hak setiap orang) dan kejujuran (orang-orang berjalan lurus).

A.4 kembali menyoroti pemula dalam soal hikmat (seperti dalam a.3a). Kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan merupakan unsur-unsur mendasar dari hikmat. Kata “kecerdasan” adalah kemampuan untuk berpikir dengan kreatif menghadapi sesuatu; kata itu dipakai baik untuk kecerdasan maupun untuk kelicikan. Kata yang diterjemahkan “kebijaksanaan” merujuk pada kemampuan berencana, yang juga bisa untuk tujuan yang baik atau buruk. Jadi, yang dimaksud di sini adalah kemampuan-kemampuan mendasar, yang tentunya akan dipakai untuk tujuan dalam a.3b itu.

Aa.5-6 kembali menyoroti orang-orang yang sudah bijak. Mereka dapat menambah ilmu dan dapat perbandingan bagi ilmu yang sudah dimiliki. Mirip dengan a.2b, dalam a.6 mereka dapat mempelajari berbagai bentuk perkataan, termasuk perkataan yang sulit dimengerti (“teka-teki”).

A.7 memberi kesimpulan yang sejajar dengan a.2a. Pengetahuan yang dimaksud dalam kitab Amsal berasal dari takut akan Tuhan (Yahweh), yaitu Allah Israel. Sikap kagum dan hormat kepada Tuhan adalah sikap yang akan membuat pengalaman dan didikan menghasilkan hikmat yang bertujuan kebenaran dan keadilan.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mendorong pembaca untuk mencari dan mengembangkan hikmat berdasarkan takut akan Tuhan, yaitu hikmat yang akan menghasilkan kebenaran, keadilan dan kejujuran. Hikmat itu akan didapatkan dalam kitab Amsal, sehingga dorongan itu juga adalah dorongan untuk menyimak kitab ini. Bagi orang Kristen, wujud takut akan Tuhan ialah beriman kepada Kristus, yang memberi teladan akan hikmat kitab Amsal dan juga mempertajam ajarannya.

Makna

Semua manusia berpengalaman, sehingga bertumbuh dalam hikmat tertentu. Takut akan Tuhan akan memberi makna tertentu pada pengalaman itu. Contoh sederhana ada dalam a.7 sendiri. Orang bodoh tidak mau menerima didikan. Tetapi orang yang takut akan Tuhan akan rendah hati sehingga dia mendapat pengetahuan melalui didikan. Contoh lagi dilihat dalam a.3b. Takut akan Tuhan berarti bahwa hikmat yang dikejar bukan untuk melakukan kejahatan melainkan untuk melakukan kehendak Tuhan. Lebih lagi, iman kepada Kristus berarti bahwa kita akan mengampuni musuh, sama seperti Allah mengampuni kita ketika kita adalah musuh (Rom 5:10).

Jika “kebenaran, keadilan dan kejujuran” dianggap mewakili perintah Tuhan, kita dapat melihat peran hikmat sebagai kemampuan untuk menaati Allah dengan baik. Misalnya, amsal-amsal tentang komunikasi dapat membantu suami-istri untuk membangun pernikahan yang kukuh, sehingga tidak berzinah. Bekerja dengan rajin dapat membantu orang untuk berkecukupan sehingga tidak mencuri.

Dalam 9:10, takut akan Tuhan sejajar dengan mengenal Yang Mahakudus. Karena Tuhan itu kudus, tidak mungkin kita menghadapi-Nya dengan tepat tanpa rasa hormat yang tinggi. Dalam 8:22-36, Tuhan adalah Pencipta yang menciptakan dunia dengan hikmat, sehingga hikmat menjadi jalan yang terbaik untuk berjalan dalam dunia ini. Jadi, permulaan pengetahuan dunia adalah takut akan Penciptanya.


Ams 21:1-5 “Kesombongan itu Dosa” (19 Feb 2012) [Sengsara I]

Februari 14, 2012

Untuk minggu-minggu sengsara, buku pedoman Gereja Toraja Membangun Jemaat mengambil Ams 6:17-19 sebagai kerangka. Ketiga ayat ini menguraikan “enam…bahkan tujuh perkara” yang dibenci Tuhan (6:16). Jika dihitung, memang ada tujuh hal, tetapi kedua terakhir (6:19) dipadukan sehingga pola ini dipakai untuk enam dari ketujuh minggu sengsara. Untuk setiap sifat buruk ini, ada perikop yang dikaitkan dengan sifat itu. Minggu-minggu sengsara mengingatkan kita bahwa kita mengikuti Mesias yang menderita bagi dosa kita, sehingga kita telah mati terhadap dosa (Rom 6:10-11). Membahas sifat-sifat ini akan sangat berguna bagi jemaat, jika kita mengingat landasannya dalam Kristus.

Penggalian Teks

Pokok pertama adalah kesombongan. Frase “mata yang sombong” dalam 6:17 dan “mata yang congkak” dalam 21:4 memakai bahasa yang mirip, yang secara harfiah berarti “mata yang tinggi”. Maksudnya bahwa pemilik mata seperti itu memandang orang lain seakan-akan mereka lebih rendah daripada dia. Itulah intisari dari kesombongan, bagaimana saya menilai orang lain, bukan bagaimana saya menilai diri sendiri. Seorang atlet olimpiade tidak sombong jika dia menganggap dirinya unggul, tetapi dia adalah sombong jika atas dasar keunggulan itu dia merendahkan atlet yang tidak sampai pada tingkat itu.

Seperti biasa dalam pp.10 dst dari kitab Amsal, kita tidak mencari ide pokok dalam sebuah kumpulan ayat, karena bagian Amsal ini tidak memakai perikop. Namun seringkali ada kait-mengait tertentu antara dua ayat yang bersampingan, dan ketiga ayat pertama dapat dikaitkan dengan kesombongan. Dalam a.1, raja adalah yang paling tinggi kedudukannya, sehingga paling layak memandang rendah orang lain, tetapi hatinya (mungkin dalam rangka rancangan-rancangannya) ada dalam tangan Tuhan. Dalam a.2, manusia memberi penilaian positif pada tingkah lakunya sendiri, paling sedikit bahwa ada alasan yang kurang lebih membenarkan kekurangannya kalau ada. Kemampuan itu dapat bermuara pada kesombongan jika orang lain harus direndahkan untuk saya tetap membenarkan diri. Namun, Tuhan tidak dikelabui oleh pandangan kita dan dapat melihat motivasi yang sebenarnya di dalam hati. A.3 menyerang keberagamaan yang dengan mudah menjadi kedok bagi pembenaran diri tadi. Karena membawa persembahan dalam ibadah, orang menganggap bahwa Tuhan berkenan kepada mereka, sehingga dosa-dosa “kecil” dimaklumi.

Dalam a.4, mata yang congkak ditambah dengan “hati yang sombong”. Secara harfiah frase itu berbunyi, “hati yang lebar”, bukan dalam artian yang baik tetapi mungkin dengan maksud hati yang lebar itu tidak memberi ruang bagi sesama, seperti truk yang lebar pada jalan yang sempit. Kedua sifat itu digambarkan sebagai “pelita” orang fasik. Pelita manusia yang semestinya adalah perintah Tuhan (6:23) atau firman Allah (Mzm 119:105). Tetapi pelita juga merujuk pada kehidupan itu sendiri, seperti dalam 20:27, “Roh [nafas] manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Makanya, beberapa kali dikatakan bahwa pelita orang fasik padam (13:9; 20:20; 24:20). Tafsiran itu berarti bahwa kesombongan menjadi bukan sekadar petunjuk jalan melainkan cara hidup. Orang fasik berada sebagai orang sombong.

Namun, Tuhan yang menguji hati, yang tidak ditipu oleh pertunjukan ritus, melihat cara berada itu sebagai dosa.

Maksud bagi Pembaca

Beberapa ayat ini mau mendorong kita untuk merenungkan cara hidup kita, dengan mempertanyakan kenyamanan kita sebagai orang yang benar dan saleh. Tuhan yang menguji hati dan menuntut kebenaran yang ditempatkan di atas raja sekalipun supaya kita berpaling dari sikap kesombongan dan melihat semua manusia sederajat.

Makna

Aa.1-4 ini paling cocok untuk kalangan atas, para raja besar, raja kecil, dan orang-orang lain yang berada. Merekalah (termasuk kita para pelayan, sebenarnya) yang fasih membenarkan kepentingannya dan yang mampu menutupi kesombongannya dengan ibadah, sumbangan dan bahkan pelayanan yang tampak saleh. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi kebijakan menguntungkan kalangan sendiri. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi selalu ada kelompok “sampah masyarakat” untuk membuktikan kebenaran orang-orang yang beres seperti saya. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi tanggung jawab atas kesalahan atasan dilemparkan ke bawah. Kita sopan dan hormat kepada yang sederajat atau di atas, tetapi kasar dan semena-mena kepada orang yang dianggap di bawah. Pelanggaran seperti hamil di luar nikah dikecam dengan keras, tetapi sebenarnya kita yang tercemar, orang berdosa, oleh karena kita tidak mampu mengasihi siapa-siapa. Mata yang tinggi tidak dapat melihat dengan jelas untuk mengasihi dengan tepat; hati yang sombong tidak dapat merasakan dengan jernih untuk mengasihi dengan tulus. Tinggal pembenaran diri dan kesalehan semu untuk menutupi kekosongan jiwa, suatu lampu yang bahan bakarnya tidak mampu bertahan.

Jika paling cocok untuk kalangan atas, apakah tidak ada pesan untuk orang kecil? Pada hemat saya, pesan bagi orang kecil adalah untuk mengangkat mereka, dengan mengetahui bahwa Tuhan tidak ditipu oleh kemunafikan orang besar. Hanya, banyak orang yang kecil dan tertindas dalam konteks tertentu menjadi raja kecil dalam konteks yang lain. Jika demikian, peringatan ini berlaku juga untuk mereka.

Tentu, tafsiran saya banyak beranjak dari respon Yesus terhadap para pembesar, termasuk pembesar agama yang munafik. Anugerah Allah, sebagaimana diuraikan oleh Paulus sebagai pembenaran oleh iman, mengajar kita untuk melihat bahwa kita semua adalah orang berdosa yang hanya berarti karena kasih Allah. Kesombongan adalah pengingkaran terhadap anugerah itu.


Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

September 15, 2011

Kitab amsal tidak memakai perikop, dan saya tidak yakin bahwa “struktur” yang saya temukan di bawah sungguh disengajakan ketika amsal-amsal dikumpulkan. Tetapi paling sedikit struktur itu memperhadapkan ayat-ayat yang menarik untuk dipertimbangkan bersama, dan prosesnya menggugah pikiran saya.

Penggalian Teks

A.7 adalah pertentangan yang dibangun atas kesamaan. Sama-sama tidak layak jika sifat orangnya bertentangan dengan sifat kata-katanya. Dalam aslinya bahasanya lebih enak: “Tidak cocok bagi orang bebal (nabal) bibir kelebihan; lebih lagi bagi orang mulia (nadib) bibir dusta”.

A.8 menggangu, karena sepertinya memuji suap. Mestika secara harfiah adalah “batu khen”. Khen berarti sikap berkenan atau suka, sehingga menjadi salah satu kata untuk anugerah Tuhan. Di sini, maksudnya batu yang membuat orang berkenan atas atau menyukai kita, semacam jimat. Kata “beruntung” (hashkil) memiliki konotasi “berhasil karena kejeliannya”, dan bentuk nominanya sering dipakai dalam kitab Amsal dengan terjemahan “orang yang berakal budi”. “Memalingkan muka” mungkin menonjolkan sukses di hadapan orang lain. Jadi, seakan-akan ada sindiran terhadap amsal-amsal biasa: anugerah membawa sukses di depan orang, hanya, anugerah ini bukan anugerah Tuhan melainkan efek “magik” dari suapan. Adakah petunjuk dalam ayat ini bahwa yang disindir bukan anugerah Tuhan melainkan suapan sendiri?

Aa.9-15 mungkin dapat dilihat dalam pola kiasmus, sebagai berikut. Aa.9, 15 membahas kejahatan yang tidak dihukum. Dalam a.9 hal itu merupakan pengampunan yang memulihkan relasi, dalam a.15 ketidakadilan yang menjadi kekejian bagi Tuhan.

Aa.11, 13 memakai kata ra’/ra’ah yang dapat diterjemahan “kejahatan” atau “kemalangan”. Dengan demikian, apa yang dicari orang durkaha (kejahatan = kemalangan) ternyata ditemukan dari utusan yang kejam itu. Dalam a.13 makna berganda itu bisa juga dipikirkan.

A.12 secara harfiah berarti, “Berjumpa beruang betina yang kehilangan anak dengan orang, tetapi jangan orang bebal dengan kebodohannya”. Kebodohan sejajar (pada hemat saya) dengan beruang itu, dan orang bebal sejajar dengan orang malang itu. Dari baris pertama, perjumpaan itu dahsyat. Tetapi, dari kata “jangan”, yang sekiranya dapat dihapus dari dunia itu perjumpaan kedua. Ternyata orang bodoh lebih dihancurkan oleh kebodohannya daripada orang yang berjumpa dengan beruang yang gusar itu. Ayat ini cocok sebagai suatu inti kiasmus, karena secara menyolok mengungkapkan bahaya kebodohan yang mendasari ayat-ayat yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”). Konteks pengadilan itu yang tidak boleh memutarbalikkan keadilan dengan menyatakan tidak bersalah orang yang bersalah. Jadi, a.15 bukan soal menutupi pelanggaran dalam relasi pribadi tetapi membenarkan kefasikan dalam konteks pengadilan.

Lalu, bagaimana dengan aa.7-8? Di atas bibir seorang bebal, kata-kata bagus akan tetap membangkit-bangkit perkara, menangkis hardikan, dan menyembunyikan kejahatan. A.8 merupakan contoh yang tepat. Suapan, sama seperti semua jimat dsb dalam PL, menduakan Allah, dan menunjukkan keinginan untuk mencari muka, bukan menguntungkan sesama. Kita mau mengampuni orang seperti itu, andaikan mereka dapat disadarkan. Tetapi jangan lembaga memaafkan mereka, sehingga korban mereka diinjak dua kali.

Makna

Ada ketegangan tertentu antara a.9 dan a.15 yang merujuk ke sesuatu yang dalam, yakni, masalah pengampunan dan keadilan. A.15 berbunyi seperti Kel 23:9, “sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”. (Andaikan terjemahan dalam Ams 17:15 itu sama, bunyinya enak: “Membenarkan orang yang bersalah dan mempersalahkan orang benar”.) Bahasa itu disinggung Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai “Dia yang membenarkan orang durhaka” (Rom 4:5). Dalam Kristus, a.9 diterapkan dalam relasi ilahi. Kebingungan banyak orang Kristen tentang anugerah berasal dari ketegangan yang sejajar dengan ketegangan antara a.9 dengan a.15, yaitu, Allah menutupi dosa padahal Dia adalah Hakim yang harus menegakkan keadilan. Makanya, anugerah ditafsir sebagai izin untuk berdosa, atau, sebaliknya, demi menakuti jemaat dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada respons mereka.

Dengan cara yang detilnya melampaui jangkauan akal kita, Allah bisa mencampurkan hal-hal itu dengan menawarkan diri-Nya dalam Kristus sebagai pengganti kita. Dia melanggar a.15 dalam diri-Nya sendiri (makanya penting bahwa Kristus bukan pihak ketiga melainkan ada pada pihak Allah sendiri karena sama-sama Allah) supaya kita bisa diselamatkan, tetapi oleh Roh-Nya mengubah kita menjadi orang berpengertian yang siap menerima hardikan dan mau berubah. Dengan demikian, kita yang dibenarkan sebagai orang bersalah akhirnya menjadi orang benar, serupa dengan Kristus, sang Hikmat itu.

Namun, dalam kehidupan manusia kedua hal itu harus tetap terpisah. Secara pribadi kita tidak boleh main hakim, tetapi hakim (yaitu, jabatan atau kelompok yang kompeten untuk memutuskan perkara di dalam sebuah kelompok, entah gereja atau negara) harus berperan sebagai hakim. Lembaga kristen rawan mengampuni orang yang perlu ditindaki demi kesehatan seluruh tubuh Kristus, dan pengadilan negara lebih pemaaf lagi bagi orang kaya / berada.


Ams 15:20-24 Anak Yang Bijak Membahagiakan Orang Tua [11 September 2011]

September 6, 2011

Kita kembali pada lima amsal. Karena dipilih untuk hari anak-anak, saya memberi fokus pada aa. 20-21.

Penggalian Teks

Susunan amsal mulai p.10 pada umumnya tidak jelas, tetapi seringkali ada kata kunci dari amsal yang satu ke amsal berikut. Dalam lima ayat yang dipilih di sini, kata “sukacita” muncul tiga kali (diterjemahkan “menggembirakan” dalam a.20, dan “kesukaan” dalam a.21). Kemudian, jika a.20 mau diangkat sebagai tema, ayat-ayat berikut menggambarkan “anak yang bijak” dan “orang yang bebal” itu.

A.20 menunjukkan kesejajaran pertentangan, yaitu, antara dua sifat, “bijak” dan “bebal”, dan dua akibat, “menggembirakan” dan “menghina”. Kata-kata yang lain sejajar dengan maksud yang sama. Antara “anak” dan “orang” tidak ada perbedaan rujukan, karena masing-masing berurusan dengan orang tua, tetapi kata “orang” (aslinya adam yang berarti “manusia”) menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada masa muda orang. “Ayah” dan “ibu” juga tidak bisa dipertentangkan, tetapi bersama-sama berarti “orangtua”. Dua macam orang menimbulkan dua macam akibat pada orangtuanya. Namun, dapat dipikirkan, apakah sukacita lebih terasa oleh ayah? Apakah kehinaan anak bebal lebih berdampak bagi ibu?

A.21 juga merupakan kesejajaran pertentangan, antara “yang tidak berakal budi” dan “orang yang pandai” serta sifatnya masing-masing, yakni “kebodohan adalah sukacita” dan “berjalan lurus” (untuk yang mengenal istilahnya, ayat ini berbentuk kiasmus: sifat-orang: orang-sifat). Kebodohan macam apa yang bisa dipertentangkan dengan berjalan lurus? Apakah kurang pintar menghitung adalah jalan yang tidak lurus? Apakah menipu dengan cerdik adalah jalan yang lurus?

Jika dipikir lebih jauh, apakah ayah yang tidak berakal budi akan gembira atas anaknya yang bijak?

A.22 membandingkan banyak rancangan tanpa pertimbangan dengan satu rancangan yang bisa berdiri karena banyak penasihat.

Dalam a.23a, sukacita di sini karena jawaban sendiri. Jawaban bagaimana? Jika jawaban yang bodoh, kita kembali ke a.21! Tetapi a.23b lebih optimis. Jawaban yang tepat pada waktunya sangat baik.

A.24 mengangkat tujuan hidup—apakah hidup di atas, atau mati di bawah.

Maksud bagi Pembaca

Kelima amsal ini merupakan pernyataan atau pengamatan saja. Tidak ada perintah atau janji langsung di antaranya. Malah, sebagai pernyataan amsal-amsal sering menimbulkan pertanyaan daripada memberi jawaban yang tuntas, seperti saya coba menggambarkan di atas. Pertanyaan itu lebih berguna mengembangkan hikmat daripada jawaban siap saji.

Kalau begitu, apa tujuannya? Kita diajak untuk menempatkan diri di dalam amsal-amsal ini. Apakah saya menggembirakan orangtua atau membawa rasa malu bagi mereka, apakah yang saya sukai itu kebodohan atau memang jalan saya lurus, dsb. Kita juga dimampukan untuk menilai ulang orang lain. Mungkin kita menjadi plin-plan tentang suatu kebodohan karena disukai orang, tetapi a.21 memberanikan kita untuk tetap pada jalan yang lurus.

Singkat kata, amsal-amsal ini tidak bisa diterapkan, jika penerapan dimengerti sebagai serangkaian tindakan konkret. Hikmat adalah soal karakter. Hanya, dampaknya bukan hanya pada diri sendiri, melainkan juga orang lain (a.20).

Makna

Kitab Amsal mengklaim untuk mengajarkan dan mengembangkan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia (Ams 8:22 dst). Jadi, amsal-amsal merupakan jendela pada manusia dan dunia. Dalam a.20 kita melihat sifat sosial manusia, khususnya dalam keluarga. Cara hidup anak mau tidak mau berdampak pada orang tua. Hal itu berlaku bagi keluarga secara harfiah, tetapi banyak kelompok bisa disamakan dengan keluarga. Misalnya, jika kita menerima gagasan yang mengatakan Allah sebagai Bapa dan gereja sebagai Ibu kita, maka amsal ini tetap berlaku. Menarik juga jika kita coba membandingkan Sang Bijak Yesus Kristus (1 Kor 1:30) dengan si Adam (mengingat bahwa kata Ibrani untuk “orang” di sini itu adam). Jelas Yesus menggembirakan Bapa-Nya di sorga. Adakah ibu yang dihina oleh Adam? Dalam Kej 2:7 Adam (haadam) dibuat dari tanah (haadamah). Jelas manusia sekarang menghina tanah. Maksud saya di sini bukan bahwa amsal ini berbicara langsung tentang Kristus dan krisis ekologi, melainkan bahwa di mana saja ada kelompok yang terikat satu dengan yang lain, yaitu, semacam keluarga, kita bisa mengartikan amsal ini.


Amsal 11:10-14 Mengapa masyarakat menyukai orang benar [7 Ag 2011]

Agustus 4, 2011

Penggalian Teks

Mulai pasal 10, amsal-amsal tidak tersusun secara sistematis. Hanya, seringkali ada hubungan antara amsal yang satu dengan amsal berikutnya, seperti kata kunci atau tema. Jadi, 11:9 berakhir dengan keselamatan orang benar, dan a.10 mengatakan bahwa hal itu menimbulkan keria-riaan. A.10 berbicara tentang tanggapan (rakyat) kota terhadap nasib orang, dan a.11 juga berbicara tentang kota, tetapi dalam rangka nasib kota sendiri. A.11 membandingkan dua cara bertutur, dan aa.12-14 merincikan kedua cara itu, dengan sorotan dalam a.14 tentang pentingnya kepemimpinan yang banyak mendengar. Jadi, setiap amsal dapat berdiri sendiri, tetapi seringkali ada tambahan makna jika dikaitkan dengan amsal-amsal di sekitarnya.

Analisis di atas menempatkan a.11 sebagai kuncinya. “Orang jujur” secara harfiah adalah “orang lurus”, yaitu orang yang caranya berelasi tidak berliku-liku. Apa yang mereka katakan membawa berkat bagi kota, sedangkan apa yang dikatakan orang fasik membawa banyak masalah. Orang fasiklah yang menghina sesamanya dan merusak nama orang dengan membuka rahasia, sehingga kota tidak lagi damai. Orang fasiklah yang menjadi pemimpin yang tidak mencari nasihat karena hanya kepentingan pribadi yang dikejar. Sebaliknya, orang jujur akan peka tentang waktunya berbicara, setia dalam menjaga rahasia, dan sebagai pemimpin terbuka pada nasihat orang lain. Semuanya itu menjelaskan mengapa rakyat begitu senang bila orang benar mujur dan orang fasik binasa (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Kitab Amsal banyak memakai perbandingan antara orang benar dan orang fasik supaya kedua pola hidup dapat dilihat dengan jelas, dan pola yang baik dihayati. Dalam perikop ini kita melihat beberapa cara untuk membina pembaca. A.10 menyangkut tanggapan orang lain, yaitu dorongan sosial. Aa.11, 14, dan mungkin juga a.13 menyangkut akibat. A.12 langsung menyampaikan penilaian. Semestinya orang fasik yang mendengar amsal-amsal ini menjadi malu sendiri, sadar bahwa kebencian orang banyak terhadap gaya hidupnya searah dengan akibatnya dan juga dengan penilaian etis. Sedangkan orang benar semestinya dikuatkan untuk makin melakukan pola-pola yang baik.

Makna

Kitab Amsal mengungkapkan “bentuk etis” dunia ini, yaitu, cara hidup yang sesuai dengan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia. Di balik perikop kita adalah bentuk sosial manusia (“kota”)—manusia sejahtera ketika bergabung dalam dunia. Orang fasik pada dasarnya egois dan tidak saleh, atau dengan kata lain, tidak peduli terhadap Allah atau sesama. Jadi, mereka mengancam kebersamaan itu. Malahan, mereka menjadi semacam parasit—mereka beruntung dari kota yang sejahtera, tetapi mengurangi kesejahteraan itu. Sebagai contoh, orang menjadi lurah, kepala sekolah dsb, untuk mengatur suatu bagian masyarakat. Jabatannya ada untuk tujuan itu, dan digaji karena fungsi itu penting. Ketika orang fasik menggunakannya untuk kepentingan lain, masyarakat rugi dua kali—gaji dibayar tetapi fungsinya tidak berjalan. Jika ada korupsi, runginya tiga kali! Perusahaan swasta yang diserang demikian akhirnya akan runtuh. Sayangnya, negara-negara yang kaya sumber daya alam terlindung dari akibat itu dalam jangka pendek. Namun, kefasikan tetap ada akibatnya dalam kinerja yang bobrok dan kuasa yang disalahgunakan. Sebaliknya, orang jujur searah dengan kebutuhan manusia untuk bekerja sama. Jika orang jujur menjabat, masyarakat tetap beruntung, karena manfaatnya jauh di atas gajinya.

Dalam negara “hukum positif” ini, perlu ditegaskan bahwa benar/fasik tidak sama dengan legal/tidak legal. Cara mengejar kepentingan diri yang paling ampuh ialah melalui jalur hukum, karena dengan demikian aparat negara akan mendukung usaha kita. Hukum yang kuat adalah berkat, tetapi bagi orang fasik bisa menjadi tantangan untuk menemukan cara yang lebih licik. Banyak kefasikan berada di luar jangkauan hukum, seperti yang digambarkan dalam aa.12-13.


Ams 19:18-29 Didikan yang bertujuan

April 28, 2011

Pendidikan menyangkut pengajara dan pelajar, suatu proses yang terjadi di antara mereka, dan terutama suatu tujuan pada para pelajar. Jika tujuannya tidak jelas, maka prosesnya juga tidak akan jelas, baik untuk pendidikan formal maupun yang non-formal (seperti di rumah tangga).

Dalam bacaan kita, kata dasar “didik” (YSR dalam bahasa Ibrani) terjadi 3 kali, yaitu di a.18 (diterjemahkan “hajar”), a.20 dan a.27. Walaupun bacaan kita tidak dapat disebut sebuah perikop, karena Amsal 10:1-22:16 merupakan koleksi amsal yang tidak tersusun secara tematis, namun ayat-ayat yang lain juga bisa dikaitkan, karena akan menyinggung tujuan pendidikan dalam Amsal, yaitu menjadi orang berhikmat.

Menyangkut tujuan itu, mungkin aa.22-23 menyampaikan suatu inti. “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya”, kata a.22a. Hal itu sering kurang disadari. Pemuda menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah gaya yang keren; orangtuanya menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah kesemarakan. Makanya, kita mau menjadi orang yang bersifat keren atau kaya. Tetapi ayat ini menyatakan apa yang sesungguhnya: yang kita butuh dalam diri orang lain dan yang mereka butuhkan dalam diri kita adalah kesetiaan, bukan gaya keren dan bukan kekayaan. Makanya, “lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong”, karena pembohong yang kaya sebenarnya tidak berguna. Sama halnya dengan siswa atau mahasiswa yang mendapat nilai tinggi karena mencontek.

Selain gengsi, orang berbohong karena mencari aman. A.23 menyampaikan sumber keamanan yang sebenarnya: takut akan Allah. Ayatnya tidak berjanji bahwa orang yang takut akan Allah tidak akan pernah menderita (gaya bahasa Amsal tidak dimaksud sebagai janji mutlak ataupun perintah mutlak, tetapi sebagai pengarahan), tetapi menunjukkan sesuatu yang nyata. Orang yang beriman dapat mengandalkan Allah dalam keadaan yang menantang, sedangkan orang yang mengandalkan diri gelisah bahkan dalam keadaan yang aman.

Jadi, jika kedua amsal ini sungguh disadari, maka banyak dorongan untuk mengambil jalan potong akan hilang. Oleh karena itu, adalah penting orangtua menginginkan hidup bagi anaknya dengan memberi mereka didikan. Tidak mendidik anak berarti mengingingkan kematian bagi mereka. Didikan dalam a.20 dan a.27 menyangkut perkataan yang didengarkan, tetapi jika pelajar (anak, murid) mengabaikan nasihat itu, maka tegoran yang lebih tegas dibayangkan (aa.18, 29). Kekerasan di sini bukan luapan amarah (justru cepat marah dikritik dalam a.19), tetapi terfokus pada perbaikan orangnya. Tegoran (secara fisik atau lisan) yang tidak jelas alasannya tentu tidak mengajarkan hikmat, melainkan kebodohan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.