Ayub 1:1-5 Kesalehan yang sejati

September 14, 2009

Tentu, perikop ini adalah pendahuluan bagi kisah Ayub, yang mulai berjalan pada a.6. Aa.1-3 memaparkan salah satu pokok inti dalam kisah ini, yaitu hubungan antara kebenaran (a.1, gambaran yang jelas dan padat mengenal bagaimana manusia yang benar) dan kesejahteraan (aa.2-3). Kebenaran Ayub sangat mencolok. Kata saleh menerjemahkan kata yang berarti sempurna. Jadi, ditekankan bahwa tidak ada alasan di dalam Ayub untuk dia dihukum. Namun, dia justru menderita dengan dahsyat dalam pp.1-2 ini, sehingga hubungan antara kebenaran dan kesejahteraan itu diputuskan dengan keras.

Aa.4-5 berfokus pada anak-anaknya, yang akan menjadi puncak kerugian Ayub dalam p.1 (aa.18-19). Jadi, sebagai perincian dari maksud di atas, kita melihat bahwa pengurbanan pun tidak menjamin keamanan orang-orang yang kita cintai.

Banyak kesalehan, dalam agama apapun termasuk kekristenan, merupakan usaha untuk menjamin kesejahteraan atau keamanan. Dengan demikian Allah menjadi alat (lihat aa.9-11), dihormati hanya karena kuasa-Nya. Dalam PB jaminan akan kesejahteraan ditunda sampai datangnya langit dan bumi yang baru (Rom 8:17). Jadi, pelajaran Ayub menjadi penting. Allah bukan sarana untuk kesejahteraan kita melainkan pokok dalam kehidupan kita.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.