Dan 6:1-10 Integritas karena kerajaan Allah

Juni 15, 2009

Apakah perkataan dalam a.6 berlaku bagi kita? Satu-satunya titik lemah dalam diri Daniel adalah bahwa dia beribadah kepada Allah. Tidak ada korupsi, pelecehan atau kelalaian selama berpuluh-puluh tahun Daniel berkecimpung dalam pemerintahan. Dalam pasal ini, setelah dipojokkan oleh muslihat para musuhnya yang mencemburuinya, Allah menyelamatkannya sehingga Allah dimuliakan oleh raja Darius. Integritas Daniel dalam kerja dan ibadah bermuara pada kemuliaan Allah sendiri.

Teladan Daniel bukan sekadar bahwa dia adalah orang yang baik. Kitab Daniel pp.2-7 menyangkut kehidupan dalam kerajaan asing (sebagai to mentiruran). Dalam pp.2 & 7 ada nubuatan tentang empat kerajaan besar yang bermuara pada kerajaan Allah. Dalam pp.3 & 6 ada saksi-saksi iman yang setia kepada Allah walaupun menghadapi maut. (Dalam p.12 janji kebangkitan menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan dari maut bahkan orang yang sudah mati.) Dalam pp.4 & 5 ada raja Babel yang direndahkan oleh Allah. Jadi, pasal-pasal ini menunjukkan bahwa orang percaya bertahan karena percaya bahwa Allah berdaulat atas raja-raja dan juga hidup dalam harapan bahwa Allah akan mendatangkan kerajaan-Nya untuk menggantikan kerajaan-kerajaan itu.

Dalam konteks itu, menarik untuk diperhatikan bahwa kata yang diterjemahkan “ibadah” dalam a.6 berarti hukum. Kata itu dipakai untuk hukum (misalnya dalam a.8 diterjemahkan “undang-undang”, dan Ezra 7:14 “hukum”). Bagi orang Media yang berbicara dalam a.6 kesetiaan Daniel kepada Allah bernuansa politik. Ada ketaatan Daniel yang melebihi ketaatannya kepada raja.

Jadi, Daniel adalah teladan orang beriman. Dia mengimani Allah yang di atas raja-raja dan sedang mengarahkan sejarah sampai kerajaan-Nya terwujud. Sekarang kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk memiliki iman seperti Daniel, karena Allah sudah mulai mewujudkan kerajaan-Nya dalam Kristus. Kemungkinan besar kita tidak sehebat Daniel dalam hikmat dan keterampilan, tetapi Allah itu sama. Dia tetap berdaulat untuk mewujudkan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, integritas Daniel masuk akal bagi kita juga.


Dan 1:1-5 Yang mendapat kesempatan…

Oktober 14, 2008

Penghancuran kerajaan Israel terjadi secara bertahap-tahap. Pada tahun 605 sM, di bawah raja Yoyakim, Nebukadnezar mengepung dan menaklukkan Yerusalem (bnd. 2 Raj 24:1), kemudian merampas Bait Allah dan membawa beberapa pemuda Israel yang pintar (termasuk Daniel) untuk dididik menjadi pegawai istana raja Babel. Delapan tahun kemudian (597 sM), di bawah raja Yoyakhin, Nebukadnezar menyerang Yerusalem kembali, dan membawa lebih banyak orang kelas atas (2 Raj 24:10 dst). Kali ketiga, di bawah raja Zedekia (587 sM), Nebukadnezar datang kembali, dan kali ini menghancurkan seluruh kota termasuk Bait Allah, dan membawa kebanyakan orang Yerusalem ke Babel (2 Raj 25). Pembuangan ini memperhadapkan orang Israel dengan hidup di tengah bangsa-bangsa kafir.

A.2 mengingatkan kita bahwa semua itu terjadi atas keputusan Tuhan. Tema pokok kitab Daniel adalah kerajaan Allah, khususnya bahwa Allah berkuasa bahkan di tengah bangsa-bangsa kafir, dan bahwa kerajaan-Nya akhirnya akan mengalahkan semua pemerintahan yang lain. Daniel beserta ketiga temannya menjadi saksi dan pemberita tentang kerajaan Allah itu kepada orang-orang Babel. Pendirian Daniel disampaikan dalam p.1 dengan kisah tentang makanan raja yang ditolak Daniel karena najis, dan bagaimana Daniel bertindak dengan hikmat dan disertai Tuhan. Syarat utama dalam kitab Daniel untuk menjadi saksi adalah hikmat dari Tuhan.

Syarat yang kedua terdapat dalam a.4. Raja Babel hanya menerima yang unggul baik dari segi penampilan maupun dari segi kecerdasan. Tentu syarat itu menyangkut konteks pembuangan di Babel. Maksudnya, ada banyak tokoh Alkitab yang dipakai Tuhan yang tidak elok dan tidak menonjol dari segi pendidikan! Tetapi, kelebihan-kelebihan manusiawi dapat dipakai Tuhan dalam konteks seperti Babel, asal orangnya berhikmat dalam Tuhan sehingga Tuhan yang dipermuliakan daripada orangnya sendiri.

Dalam konteks Indonesia, perlu lebih banyak orang seperti Daniel, yang tidak malu menonjol dalam keunggulan. Soalnya, banyak yang mencari keunggulan memang mencari kemuliaan diri sendiri, bukan kemuliaan Allah, sehingga sebagian orang yang saleh dan berbakat menganggap mencari keunggulan itu “duniawi”. Adakah cara mencari keunggulan yang baik? Ada, yaitu mencari keunggulan dengan tujuan untuk berpengaruh bagi Kristus, raja kerajaan Allah, dan dengan kerelaan untuk berpendirian tegas seperti Daniel, biar pun dilemparkan ke dalam gua singa atau perapian. Orang seperti itu tidak sombong, melainkan telah menyerahkan semua bakatnya kepada Allah untuk dipakai sesuai dengan kehendak-Nya.