Ezra 3 Pendamaian dan Persekutuan dengan Allah

Juni 23, 2010

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. (Ezra sendiri hidup hampir seabad kemudian, dan baru diceritakan pada p.7.)

Pada awal p.3 rombongan itu sudah menetap di kota-kota masing-masing sehingga siap untuk berkumpul dan memulai proyek yang besar itu. Kegiatan utama Bait Allah ialah persembahan-persembahan di mezbah. Mezbah itu berada di luar gedung Bait Allah, sehingga mezbah itu dapat dibangun sebelum gedungnya dan persembahan-persembahan langsung dimulai. Itulah yang diceritakan dalam aa.2-6. Persembahan utama ialah korban bakaran (aa.2, 6). Korban yang dibakar habis itu bermaksud untuk “mengadakan pendamaian” (Im 1:4). Korban itu dipersembahkan secara teratur pada waktu pagi dan waktu petang (a.3) untuk menyatakan kehadiran Tuhan di tengah Israel yang dimungkinkan oleh pendamaian itu (Kel 29:38-43). Persekutuan dengan Allah begitu penting bagi mereka sehingga mereka tidak menghiraukan rasa takut karena penduduk di sekitarnya (a.3). Ada juga yang membawa persembahan sukarela untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah (a.4).

Namun, tujuannya adalah pembangungan seluruhnya, dan hal itu dilanjutkan dengan pemberian untuk materi pembangunan (a.7). Dalam aa.8-13 ada acara terkait dengan perletakan dasar Bait Allah. Masih ada banyak pergumulan yang akan dihadapi yang diceritakan dalam pp.4-6, tetapi mereka memuji Allah oleh karena pertanda awal ini.

Bait Allah merupakan tempat pendamaian dan tempat persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang percaya. Kristus sendiri berbicara tentang Bait Allah yang dirombak dan didirikan kembali dalam tiga hari, yakni tubuh-Nya sendiri yang mati dan dibangkitkan (Yoh 2:19-20). Dan memang, Dia adalah tempat pendamaian dan persekutuan kita dengan Allah. Perkumpulan jemaat juga disebut “tubuh Kristus”, karena di dalam Kristus kita bersekutu dengan sesama orang percaya untuk menyembah Allah (1 Kor 3:16-17).

Oleh karena itu, kita dapat memuji Allah karena pendamaian sudah diadakan dan kita dapat bersekutu dengan Allah dalam Kristus. Dalam persekutuan jemaat kita juga dapat membawa persembahan sukarela, dalam bentuk apapun yang cocok, entah pemberian atau syukur atau nyanyian. Dari satu segi tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk membangun Bait Allah, karena Kristus sudah bangkit. Hanya ini yang dapat kita lakukan, yaitu membangun jemaat-jemaat di mana Kristus dipercaya dan dipuji (1 Kor 3:9-15). Semoga keberanian dan semangat rombongan Israel pada saat itu mendorong kita untuk mendirikan persekutuan-persekutuan baru dan menguatkan persekutuan-persekutuan lama supaya pujian kepada Allah makin bertambah.


Ezra 7 Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN

Agustus 25, 2008

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. Ezra 6:22 menganggap bahwa kebijakan yang memungkinkan selesainya pembangunan itu adalah karya Allah sendiri.

Ezra 7 memulai tahap yang baru dalam cerita kitab Ezra, yakni munculnya tokoh Ezra sendiri pada tahun 458 sM, hampir 60 tahun sesudah pembangunan Bait Allah selesai (yaitu 515 sM). Ezra sendiri adalah imam dari keluarga imam (lihat 1 Taw 6:4-14 untuk daftar yang lebih lengkap). Dia mahir dalam Taurat, yaitu adat Israel, sehingga dia didukung raja Artahsasta sesuai kebijakan tadi, barangkali supaya adat Israel diterapkan dengan tepat di Yudea. Perginya Ezra dalam rangka itu merupakan kesempatan yang besar bagi Israel, sehingga ada rombongan lagi yang mengikutinya. Sekali lagi, kebijakan raja dianggap karya Allah (7:27).

Artahsasta bukan penganut Allah Israel, melainkan penganut pluralitas adat. Suratnya mencerminkan kebijakan mencari damai daripada iman akan janji-janji Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Namun, hal itu tidak mengurangi campur tangan Allah di dalamnya. Allah tidak terbatas oleh ada tidaknya iman dalam hati manusia. Ams 21:1 mengatakan bahwa hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dan itulah yang dilihat di sini. Kebijakan raja Artahsasta yang menghargai minoritas adalah tepat. Tetapi Allah berkarya di dalamnya dengan maksud sendiri, yaitu supaya umat-Nya diselamatkan dan nama-Nya dipuji.

Hati para pemimpin di Indonesia tetap ada dalam tangan Allah. Pada umumnya (dan menurut UUD) pemerintah menghargai minoritas sama seperti Artahsasta. Dalam keadaan demikian, semestinya kita memuji Allah dan mengambil kesempatan untuk bekerja bagi rencana keselamatan Allah sama seperti Ezra.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.