Gal 6:11-18 Bermegah dalam Salib [27 Oktober 2013]

Oktober 22, 2013

Ada beberapa pernyataan yang menonjol di sini, antara lain tentang ciptaan baru dan bermegah dalam salib. Saya memberi fokus pada bermegah dalam salib karena hal itu menjadi makna paling tajam dari menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru bukan sekadar berusaha lebih baik.

Penggalian Teks

Setelah banyak bergumul dengan jemaat-jemaat di Galatia oleh karena mereka terancam meninggalkan Injil anugerah, Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan hati. Hal itu termasuk bahwa dia tidak memakai juru tulis yang dipakai sampai 6:10, tetapi menulis dengan memakai tangannya sendiri (11).

Aa.12–13 merupakan tuduhan terakhir terhadap kelompok penyunat, yang mau meyakinkan jemaat di Galatia yang bukan orang Yahudi, bahwa untuk menjadi murid Kristus yang sejati mereka harus bersunat. Diskusi soal itu banyak disentuh dalam kedua ayat ini. Kata “lahiriah” adalah kata sarx, “daging”, yang bisa merujuk pada apa yang dipotong dalam sunat, dan juga dipakai Paulus untuk cara hidup yang mementingkan diri (5:19). Mereka mau “tampil baik” (terjemahan saya untuk “suka menonjolkan diri” [euprosopeo]) “dalam daging” (secara lahiriah atau di depan manusia), supaya mereka dapat bermegah “atas dagingmu” (maksudnya, atas bagian yang dipotong; mungkin LAI “keadaanmu yang lahiriah” berusaha untuk tidak terlalu kasar!). Bahasa ini adalah bahasa tentang status, sehingga saya juga menafsir a.12b dalam rangka itu. Soal penganiayaan, sunat memungkinkan mereka untuk dihitung sebagai orang Yahudi. Dengan demikian baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Romawi akan dapat mengerti dan menerima mereka; mereka akan tetap dihormati. Mereka tidak mau berbagi dalam perendahan yang dialami Kristus pada salib. A.13a menolak alasan yang mereka kemukakan, yaitu bahwa sunat adalah sekadar soal ketaatan.

Kata “bermegah dalam” (kaukhaomai en) perlu disoroti di sini. “Bermegah dalam” bukan saja soal menganggap sesuatu hebat, melainkan juga menganggap bahwa hal itu memperhebat hidupnya. “Bermegah dalam” melibatkan diri. Seorang penggemar tim sepak bola merasa lebih bermartabat jika timnya berhasil. Keluarga Toraja yang telah mengadakan pesta orang mati yang megah merasa lebih berbobot sebagai keluarga. Hal itu bisa saja menyangkut rasa hormat, tetapi hormat karena ada sesuatu. Bermegah dalam sesuatu dan dihormati karenanya adalah kebutuhan mendasar manusia, untuk merasa bahwa kehidupan diri berhubungan dengan sesuatu yang bermakna. Masalahnya adalah ketika soal dihormati menjadi tujuan utama, seperti tuduhan Paulus bahwa para penyunat hanya mau tampil baik di hadapan orang lain.

Makanya, dalam aa.14–15 Paulus tidak menolak soal bermegah, tetapi dia mengemukakan dasar yang lain untuk bermegah, yaitu salib. Perhatikan bahwa dia tidak hanya bermegah dalam Kristus. Memang, Yesus Kristus diakui oleh Paulus, jemaat-jemaat di Galatia, dan semua orang percaya sebagai “Tuhan kita”, yaitu penguasa tertinggi yang kepadanya kita harus taat (kurios). Kristus lebih mulia, penting dan berbobot daripada semua yang ada dalam dunia. Tetapi Kristus yang sejati ialah Tuhan yang disalibkan. Paulus bermegah dalam salib itu. Mengapa? Karena salib telah merusak dunia sebagai sumber hormat atau kebanggaan. “Disalibkan” di sini paling sedikit berarti “menjadi hina”. Dunia telah menjadi hina bagi Paulus, dan Paulus telah menjadi hina bagi dunia. Dunia tidak lagi menjadi wadah untuk Paulus mencari hormat. Ada dunia baru, “ciptaan baru”, yaitu, dunia yang dirintis oleh Kristus yang disalibkan, yang di dalamnya Paulus mencari hormat. Dalam dunia itu, hal-hal yang tadinya begitu mengasyikkan, seperti sunat, tidak lagi penting.

Dalam ciptaan baru itu ada damai sejahtera dan rahmat dari Tuhan (16). Yang menikmati ciptaan baru ini ialah orang-orang yang “melangkah” (LAI “dipimpin”) di dalamnya, yang menjadikannya patokan (kata Yunani, kanon—kanon Alkitab dapat dilihat sebagai sumber utama yang memaparkan ciptaan baru ini). Salib Kristus telah menjadi lensa yang di dalamnya Paulus menilai dunia. Dalam a.17, kita diingatkan bahwa Paulus sendiri telah mengikuti patokan itu.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mencontohkan dirinya sendiri, Paulus mau meyakinkan jemaat untuk mencari hormat dan makna hidup bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat, melainkan dalam Kristus yang disalibkan. Mereka akan hidup bagi Kristus bukan karena ada peraturan ini atau itu, melainkan karena mereka berpatokan pada ciptaan baru: mereka melihat dunia dengan mata salib Kristus.

Makna

Daya tarik hormat, kerinduan untuk dipandang orang, memang kuat. Tetapi, salib paling sedikit harus membuat kita berpikir ulang. Bermegah dalam salib termasuk kekaguman kepada Allah bahwa melalui jalan ini Dia dapat menebus kita (1:4), membenarkan kita, menanggung kutuk dosa ganti kita (3:13), dan melepaskan kuasa Roh Kudus ke dalam hidup kita. Bermegah dalam salib melibatkan seluruh hati kita karena di dalamnya ada kasih yang tak terperi (2:20). Daya tarik hormat itu begitu kuat, sehingga kita bisa mengaminkan semuanya itu, tetapi tetap berpikir bahwa hormat dari dunia itu penting. Tentu, sama seperti uang, hormat pada tingkat tertentu dibutuhkan: adalah sulit melakukan banyak hal jika kita dibenci semua orang. Paulus sendiri mau dihargai oleh jemaat di Galatia, supaya Injilnya ikut dihargai (17). Tetapi, jika dia pernah menunjukkan statusnya sebagai warga negara Roma, misalnya, hal itu bukan karena statusnya melainkan untuk menguatkan kedudukan jemaat di sana (lihat Kis 16:35–40). Dunia sekarang ini jahat (1:4), hormatnya tidak layak dikejar, sedangkan Kristus telah menyerahkan nwaya-Nya bagi kita (2:20). Di dalam Dialah kita selayaknya bermegah, dan kita selayaknya siap mengikuti jejak-Nya.

Apakah teologi operasional (yang dianut di lapangan, bukan yang tertulis dalam dokumen-dokumen resmi) dalam Gereja Toraja adalah teologi salib, atau semacam teologi sukses yang sederhana? Jika ada dalam aliran Pantekosta yang memberi kesan mau kaya raya, apakah kita menganggap diri lebih saleh karena hanya bercita-cita menjadi PNS? Teologi Reformasi adalah teologi salib yang menandaikan pertobatan akal budi—dunia dilihat dengan mata salib-Kristus. Salib itu jauh lebih dari sekadar lambang kekristenan saja. Sikap terhadap kehormatan dan apa yang di dalamnya kita bermegah, menjadi gejala tentang teologi apa yang sebenarnya kita anut.

Apakah semangat Paulus di sini terlalu anti-dunia? Saya berharap bahwa penguraian di atas menjelaskan bahwa dunia ditolak sebagai wadah hormat, bukan sebagai wadah untuk hidup dan melayani, dan bukan sebagai sasaran kasih Allah. Kontekstualisasi penting juga di sini: jenjang kehormatan yang harus disalibkan bagi saya adalah jenjang kehormatan budaya saya, bukan budaya yang lain.


Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

Oktober 25, 2010

Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menghadapi ancaman yang besar terhadap Injil yang dia beritakan, yaitu kelompok yang mau supaya anggota-anggota jemaat menyunatkan diri dan menanggung hukum Taurat (HT). Paulus melihat bahwa hal itu mengancam kebenaran Injil. Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), tetapi mereka “begitu lekas berbalik” dari Injil anugerah itu (1:5), sehingga anugerah Allah ditolak (2:21) dan kelimpahan Roh Kudus diganti dengan usaha kekuatan sendiri (3:2-5). Alhasil, mereka saling membinasakan (5:15, bnd. 5:26) dan terancam binasa kekal (6:8).

Intisari penguraian Paulus melawan ajaran sesat itu terdapat dalam p.3 ini, di mana dia membuktikan bahwa “jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (a.29). Abraham penting karena dia diakui, oleh kelompok pengacaupun, sebagai asal usul orang Israel dan penerima janji yang mendasari perjanjian-perjianjian berikutnya dalam PL. Menjadi anak Abraham berarti berada dalam rencana Allah untuk memberkati dunia ini, menanggapi kutuk yang didatangkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Makanya, alur penguaraian Paulus mulai dengan Abraham dibenarkan oleh iman (a.6) sehingga berkat datang kepada orang-orang beriman (a.9). Sebaliknya, HT mendatangkan kutuk (aa.10-12), yang daripadanya Kristus meraih penebusan (a.13), sehingga berkat itu datang dalam Kristus (a.14). Janji kepada Abraham itu mendahului HT (aa.15-8), dan fungsi HT terkait dengan mengekang pelanggaran sampai Kristus datang (aa.19-22), seperti fungsi pengawal (a.23) atau penuntun bagi anak-anak (a.24-25). Makanya, cara sekarang menjadi anggota keluarga Allah bukan dalam HT melainkan dalam Kristus (aa.26-28).

Jadi, unsur baru yang dikembangkan dalam perikop kita ialah bahwa Kristulah yang membuka jalan iman itu dengan menanggung kutuk HT. Kutuk HT dijelaskan dalam aa.10-12. Frase “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” (a.10a) merujuk pada orang yang menjadikan HT dasar kehidupannya. Kelompok ini menganggap bahwa yang menjadi anak-anak Abraham adalah orang yang bersunat dan berusaha untuk menaati seluruh HT, termasuk menghindari makanan yang najis. Ada dua masalah pokok dengan pendirian mereka. Yang pertama ialah bahwa mereka tidak menaati HT secara menyeluruh (a.10b). Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Yahudi hampir sempurna tetapi gara-gara satu dua cacat HT mengutuk mereka. HT menyediakan penghapusan dosa melalui kurban-kurban untuk pelanggaran-pelanggaran kecil. Masalahnya bahwa ada maksud-maksud pokok dari HT yang diabaikan saja. Khususnya, dalam konteks surat ini, semangat dalam janji Allah supaya berkat-Nya sampai pada bangsa-bangsa alpa di antara mereka. Hal itu nampak dalam 2:11-14, di mana makanan menjadi pemisah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Contoh paling parah ialah Paulus sendiri yang sebagai orang yang dulu begitu bersemangat dalam agama Yahudi justru mau membinasakan gereja yang mencakup bangsa-bangsa (1:13-14). (Bandingkan juga kritikan Yesus terhadap kaum Farisi bahwa mereka menyempitkan artian “sesama”, Lk 10:25-37 dan meniadakan perintah-perintah Allah demi kepentingan adat-istiadat, Mk 7:13). HT menjadikan keberdosaan sikap hati mereka kentara (bnd. 3:22), dan menyatakan kutuk Allah atas keberdosaan itu. Masalah pokok kedua ialah bahwa HT tidak dimaksud sebagai ganti iman (aa.11-12), justru karena keberdosaan manusia itu (3:21-22). Untuk orang-orang Yahudi yang beriman, HT bisa saja menjadi cara untuk menghayati iman itu (seperti orang-orang Israel yang menyambut Yesus dengan baik dalam Lukas 1-2). Tetapi kelompok penyesat menjadikan ketaatan kepada aturan-aturan HT sebagai hal pokok, bukan lagi sebagai cara untuk menyatakan iman.

Kemudian, a.13 menjawab masalah pertama, yaitu keberdosaan manusia yang diungkapkan tetapi tidak dipecahkan oleh HT. (Masalah kedua adalah contoh keberdosaan itu, yaitu mengabaikan iman, tetapi juga dikembangkan dalam 3:19-25.) Kristus dikutuk HT bukan karena sikap hati yang mengabaikan semangat HT (seperti dalam a.10b), melainkan karena pada salib itu dia dihitung sebagai pemberontak yang layak dihukum mati. Ul 21:22-23 yang dikutip Paulus di sini mungkin membatasi kebiasaan di mana orang-orang yang dianggap sungguh jahat digantung dan tidak dikuburkan, supaya jangan roh mereka mendapat istirahat. Hal itu sama seperti jika dalam adat lama Toraja upacara Rambu Solo’ tidak diadakan supaya arwah orangnya dikutuk. Kristus tergolong dengan pendosa berat dan menanggung kutuk HT itu “karena kita” atau “demi” (huper) kita. Gambarannya mungkin bahwa kutuk itu terserap oleh Kristus, sehingga tidak lagi mengancam kita yang berlindung pada-Nya. Kutuk berada dalam wilayah maut, dan termasuk semua yang melawan damai sejahtera (bnd. Ul 28:1-14 dengan Ul 28:15dst). Kutuk yang diperjelas HT itu melatarbelakangi bahasa Paulus tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), dan Kristuslah yang menebus kita dengan menetralisir kutuk itu. Korban-korban dalam adat Toraja memiliki fungsi yang searah dengan tafsiran ini.

Hasilnya, dalam a.14, ialah bahwa berkat Abraham itu sampai kepada bangsa-bangsa, terutama dalam hadirat Roh Kudus yang melakukan mujizat (3:5), berbuah kasih, sukacita dan damai sejahtera di dalam jemaat (5:22), dan menghasilkan hidup yang kekal (6:8).

Bagaimana penguraian Paulus ini dapat diterapkan dalam konteks sekarang? (Dalam bahasa homiletika, bagaimana sampai pada amanat khotbah?) Dari pembahasan di atas, berkat Roh Kudus dapat dimaknai baik untuk kehidupan sekarang (3:5, 5:22) maupun untuk keselamatan eskatologis (6:8). Lebih rumit adalah soal HT, karena sekarang tidak banyak yang mengusulkan sunat! Tetapi hidup dari perbuatan menjadi hal yang lebih luas daripada HT saja dalam Ef 2:8-9 dan Tit 3:4, sehingga bersama dengan para Reformator kita bisa melihat semua bentuk agama yang mementingkan aturan di atas iman sebagai hal yang mengancam anugerah di dalam Kristus. Termasuk aturan gereja. Kemudian, kita juga melihat sikap-sikap pada masa kini yang menyempitkan jangkauan anugerah Allah dalam Kristus hanya pada kelompok tertentu, atau merendahkan golongan tertentu walaupun mereka sama-sama berada di dalam Kristus. Kedua hal itu bisa saja bersatu. Gereja seringkali menganggap bahwa pemberitaan Kristus bermaksud untuk menjadikan orang sama seperti kita, dalam pola bergereja yang kebarat-baratan dan mengandaikan tingkat pendidikan yang lumayan. Tetapi bisa saja iman kepada Kristus yang sejati daapt dinyatakan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Jangan sampai kekakuan bergereja menghambat berkat iman kepada Kristus sampai pada semua bangsa.

Penebusan Kristus juga perlu dikontekskan, bukan dalam artian mencari padanannya dalam konteks sekarang melainkan mencari penjelasannya dari konteks sekarang. Penebusan Kristus bukan sebuah contoh pendamaian antara Allah dan manusia melainkan kenyataan yang kepadanya contoh-contoh pendamaian yang lain merujuk, apakah itu sistem kurban dalam HT, ataupun pemahaman tentang pendamaian dalam budaya setempat sejauh mana itu dapat membantu jemaat untuk memahami peristiwa kunci ini. Penebusan Kristus semestinya menjadi pokok amanat khotbah, dengan tujuan supaya jangan kita mengandalkan usaha kita yang lain. Paulus heran bahwa jemaat berbalik dari anugerah Allah, dan semestinya setelah mendengar bagaimana Kristus menebus kita dari kutuk HT jemaat juga menghindari apapun yang menjadikan kematian Kristus sia-sia.


Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Juli 23, 2010

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).


Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Desember 22, 2008

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.