Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

Juni 23, 2014

Søren Kierkegaard adalah filsuf abad ke–19 yang mengangkat perikop ini untuk menyerang gereja yang larut dalam moralisme dan rasionalisme. Bagi dia, perikop ini menunjukkan bahwa iman itu di atas etika. Setuju atau tidak, kalau Saudara merasa nyaman dengan perikop ini, Saudara belum membacanya dengan baik.

Penggalian Teks

Kisah panjang menyangkut janji keturunan bagi Abraham semestinya selesai minggu yang lalu, ketika Ismael diusir, dan Ishak menjadi pewaris tunggal Allah. Tetapi ada kejutan yang pahit bagi Abraham, dan kita yang mendengarkan kisah ini. Tanpa mengerti seperti apa kepahitan itu, kita tidak mengerti Injil, sebagaimana yang akan dijelaskan di bagian Makna.

A.1 menyatakan tujuan Allah: untuk menguji Abraham. (Kata “mencoba” itu dipakai ketika ratu negeri Syeba “menguji” Salamo, 1 Raj 10:1.) Dahsyatnya perintah Allah ditegaskan terus dalam perikop ini, dengan menekankan relasi antara Abraham dan Ishak. Dalam a.2, Ishak adalah anak Abraham, anak yang tunggal (karena Ismael sudah diusir), anak yang dikasihi Abraham. Tiba-tiba, Abraham (dan kita) terkejut dengan apa yang harus dilakukan dengan anak yang dikasihi itu: dipersembahkan. Berulang kali dalam cerita selanjutnya, Ishak disebut “anaknya” atau “anakku”, dan dia memanggil Abraham “Bapa”.

Aa.3–5 menceritakan perjalanan Abraham; tiga hari lamanya untuk ketaatannya diuji. Dalam aa.6–8, Abraham dan Ishak berjalan ke gunung: dua kali dikatakan “keduanya berjalan bersama-sama” (6, 8), untuk menegaskan kedekatan mereka. Ishak mulai bingung dan bertanya, tetapi Abraham menjawab, tanpa memberitahu bahwa anak domba yang akan disediakan adalah Ishak sendiri.

Dalam a.9, Ishak mengalami kejutan yang pahit seperti yang dialami Abraham (dan kita) dalam a.2. Mezbah didirikan, kayu disusun, dan tahu-tahu, Ishaklah yang diikat, “anaknya itu”. Kemudian, tangan Abraham bersiap untuk melakukannya (10). Tidak ada perasaan yang diceritakan, baik dari Abraham, maupun dari Ishak. Yang diceritakan hanyalah ketaatan Abraham, yang terdiri atas tindakannya, entah bagaimana kondisi batinnya.

Dalam aa.11–15, ketegangan dan kengerian kisah ini tiba-tiba hilang: Allah menghentikan Abraham dari tindakannya, dengan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya. Allah sudah melihat bahwa Abraham tidak menyayangkan anaknya yang tunggal. Abraham melihat bahwa Tuhan menyediakan.

Abraham lolos ujian, sehingga dalam 22:15–18, janji Allah kepada Abraham diteguhkan dengan sangat.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak Abraham dalam iman rela menyerahkan bahkan yang paling berharga dalam relasi mereka dengan Allah, dalam keyakinan bahwa Allah yang berdaulat atas rencana-Nya dan bahwa Dia lebih besar daripada semua pemberian-Nya.

Makna

Perintah Allah kepada Abraham dalam perikop ini tidak bisa dipahami dengan baik. Mempersembahkan anak adalah kejahatan yang biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk menarik perhatian dewa, tetapi tidak ada alasan Abraham untuk mau kehilangan anaknya. Mazmur 13 menggambarkan orang yang kehilangan akal tentang cara Tuhan dengannya, dan saya duga mazmur itu dekat dengan kondisi batin Abraham. Orang Toraja akan mengatakan kepada Abraham, “Itulah yang terbaik; Tuhan memiliki rencana yang indah; Tuhan lebih mengasihi Ishak daripada kita”, karena kita belum tahu bagaimana menangis dengan orang yang menangis. Tetapi, perintah ini tidak baik, dan tidak masuk akal.

Lebih lagi, membunuh anak pewaris janji Allah adalah sebuah kebodohan besar, tindakan tersebut seakan-akan meniadakan mukjizat kelahiran Ishak pada masa tua Abraham dan Sara. Manusia selalu yakin dengan apa yang masuk akalnya, terutama, di Toraja, menjadi PNS (pegawai lembaga mapan seperti bank atau Gereja Toraja boleh juga). Tetapi perintah Allah bisa liar sekali, di luar dugaan manusia. Yesus, dengan serius, memanggil murid-murid-Nya dari pekerjaan yang sah dan wajar sebagai nelayan dsb, untuk berkeliling memberitakan Injil. Dalam Mt 10:40–42, Dia juga memuji semua yang membantu mereka dalam pelayanan itu, padahal pelayanan itu merongrong lembaga keagamaan yang sah dan berlaku pada zaman itu. Seringkali, perintah Allah tidak akan lolos raker yang sehat, andaikan mau dimasukkan dalam program.

Dari segi Allah, yang diuji dalam perintah-Nya ialah kerelaan Abraham untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya, meskipun hal itu adalah pemberian Allah dan sarana janji Allah yang menjadi makna hidup Abraham (12). Abraham membuktikan bahwa dia lebih menghargai Allah daripada semua pemberian Allah. Makanya, Yakobus mengangkat kisah ini untuk menunjukkan bagaimana iman baru sempurna (utuh, genap) ketika dinyatakan dalam perbuatan (Yak 2:21–23). Penulis kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr 11:19). Dia begitu yakin bahwa janji Allah akan terwujud sehingga dia tidak bertanya lagi tentang kemampuan Allah untuk mewujudkan rencana-Nya, dan tidak bertanya lagi tentang harga yang harus dibayar. Dalam bahasa Paulus, dia sudah bebas dari kedagingan sehingga mampu untuk menaati Allah (Rom 6:12–23; sama seperti Yakobus, Paulus tidak membayangkan iman yang lepas dari ketaatan).

A.14b memberi petunjuk bahwa gunung di Moria itu adalah (atau diartikan sebagai) bukit Sion, tempat Bait Allah dibangun seribu tahun kemudian. Abraham menjadi orang Israel pertama yang anak sulungnya (menurut janji Allah) ditebus dengan seekor domba (a.13, bdk. Kel 34:20), dan perintis persembahan di gunung yang kudus itu.

Akhirnya, Abraham menjadi gambaran dari Allah. “Inilah Anak-Ku yang terkasih”, kata Allah Bapa ketika Yesus dibaptis. Paulus menarik kesimpulannya dalam Rom 8:32. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Kata “menyayangkan” adalah kata yang dipakai dalam terjemahan Yunani dari Kej 22:12 (LAI: “tidak segan-segan untuk menyerahkan”). Hanya, Allah tidak bisa menarik tangan-Nya dari Yesus, karena justru Yesus yang harus menjadi pengganti orang-orang berdosa. Allah melalui peristiwa yang pahit ini bukan karena diuji, tetapi karena kasih.


Kej 21:8-21 Janji Allah membuka mata [22 Jun 2014]

Juni 19, 2014

Apakah perikop ini menyangkut seorang perempuan dalam kesulitan, atau rencana Allah? Tanpa menolak yang pertama itu, tafsiran ini mencoba melihat apa yang dilakukan Allah. Kata kunci di sini adalah janji.

Penggalian Teks

Nama Ismael tidak disebutkan dalam perikop ini, dia selalu disebut “anak”. Dia bukan lagi anak kecil. Dalam 17:25, dia berumur 13 tahun; Ishak lahir kurang lebih setahun kemudian, dan dalam cerita ini baru disapih. Ismael adalah usaha Abraham menurut daging untuk memiliki anak (Gal 4:23), dan usaha itu langsung menimbulkan konflik (16:5–6). Namun, Allah juga berjanji tentang dia, dan janji itu yang dapat diimani Hagar.

Nama “Ishak” berarti “dia tertawa”. Abraham tertawa tidak percaya ketika diberitahu bahwa Sara akan melahirkan (17:17); Sara tertawa tidak percaya ketika mendengar ucapan yang sama dari malaikat Tuhan (18:12); akhirnya Sara tertawa kegirangan ketik Ishak lahir (21:6). Kata “tertawa” itu juga dipakai untuk bermain. Sukacita Sara ketika Ishak disapih (8) ternyata diganggu dengan melihat Ishak bermain dengan anak Hagar (9). Kita sudah tahu bahwa anak itu cukup disayangi oleh Abraham (17:18), dan Sara sepertinya takut kalau Ishak juga dekat dengan kakaknya, dan tidak menjadi pewaris tunggal. Bahasanya meminta Abraham mengusir mereka kasar—perhatikan bahwa dia tidak memakai nama baik anak maupun ibu, dia hanya menyebut kedudukan Hagar yang rendah (10). Dan ternyata Abraham tidak mau mengusir Ismael (11).

Motivasi Sara mungkin saja kurang manusiawi, tetapi Tuhan setuju dengan keputusannya. Warisan Abraham akan dihitung melalui Ishak saja (12). Tetapi janji Tuhan tentang anak Hagar itu memberanikan Abraham untuk mengusir mereka, walaupun tindakan itu bisa berakibat maut bagi mereka (13).

Hagar pergi dalam kondisi tidak jelas (“mengembara”), dan ketika bekal air habis, dia habis akal, dan hanya mau menghindar dari penderitaan menyaksikan kematian anaknya (14–16). Adalah menarik bahwa Tuhan mendengar suara anak (dua kali disebutkan dalam a.17), meskipun suara Hagar yang nyaring. Ada janji-sentrisme dalam kitab Kejadian, di mana Allah memberi perhatian pada orang-orang (termasuk perempuan, misalnya Sara) yang berkaitan dengan janji-Nya kepada Abraham. Dalam kasus ini, janji itu menyangkut anak Hagar sebagai anak Abraham, bukan Hagar.

Namun, Hagar tetap diberi peran. Allah menyuruh dia untuk bergerak, keluar dari rasa mengasihani diri dan berurusan kembali dengan anak itu (18a). Perintah itu ditopang dengan janji seperti yang disampaikan kepada Abraham: anak itu akan menjadi bangsa yang besar (18b). Hagar harus bertindak dalam pengharapan bahwa janji itu akan digenapi, meskipun mereka kelihatan kehabisan air. Tetapi, ternyata penglihatan Hagar salah: Allah membuka matanya untuk melihat sebuah sumur, sehingga selamatlah nyawa mereka (19), dan anak itu bisa berkembang dan mendapat isteri (20–21).

Maksud bagi Pembaca

Allah akan membuka mata kita untuk melihat pemeliharaan-Nya bilamana kita menangkap dan menerima janji-janji-Nya.

Makna

Janji Allah menjadi penggerak utama dalam kitab Kejadian. Abraham mau Ismael tinggal, tetapi janji tentang Ishak lebih utama. Sara mau Ismael diusir, tetapi hal itu tidak menghambat janji Allah tentang dia. Bahkan kehabisan air minum tidak membatalkan janji itu.

Hagar pergi dalam kesusahan karena dia tidak tahu, atau tidak percaya akan, janji tentang Ismael itu. Bersamaan dengan menerima janji dari malaikat Allah, matanya dibuka. Apakah itu dua hal, atau memang percaya pada janji Allah akan membuka mata?

Janji Allah itu berkaitan dengan rencana-Nya untuk menyelamatkan dunia dalam Yesus Kristus. Janji yang akan membuka mata kita ialah janji-janji di dalam Injil. Sama seperti janji kepada Abraham menimbulkan pemisahan dalam keluarganya, bergabung dengan umat yang memegang janji Yesus dapat menimbulkan pemisahan, bahkan di dalam keluarga (Mt 10:34–35). Tujuan dari janji itu diringkaskan Yesus dalam Mt 6:33: Kerajaan Allah dulu, baru kebutuhan hidup. Roma 6 menyampaikan janji pelepasan dari kuasa dosa bagi orang yang sudah menjadi satu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya dalam baptisan. Janji itu membuka mata kita untuk melihat persediaan Allah supaya kita hidup baru dan mencari Kerajaan Allah itu.


Kej 1:1-2:4 Membentuk dan mengisi ciptaan Allah [15 Jun 2014] (Hari Trinitas)

Juni 11, 2014

Hari ini dalam kalender ekumenis adalah Hari Trinitas, doktrin yang begitu diwaspadai sehingga belum masuk kalender Gereja Toraja, padahal sudah mengikuti leksionari ekumenis. Oleh karena itu, saya menafsir Kejadian 1 sesuai dengan tema itu. Tentu, hal itu merupakan tafsiran teologis, dilihat dari perspektif PB, dan bukan klaim tentang seberapa jauh Tritunggal ditangkap oleh penyusun kitab Kejadian. Tujuannya untuk menjelaskan cara beriman yang bersifat Tritunggal, bukan untuk menguraikan masalah-masalah filosofis soal itu.

Penggalian Teks

Dalam terang PB, kitab Kejadian mulai dengan Tritunggal dalam ketiga ayat pertama: Allah (Bapa) adalah penggerak (1), Roh Allah ada di bumi yang belum berbentuk untuk menjadi daya penciptaan (2), dan Firman yang akan memberi bentuk dan struktur pada penciptaan itu (3). Struktur yang diberikan oleh Firman itu yang menonjol: tiga hari menciptakan kerangka dengan memisahkan air dari air, sampai ada daratan dengan tanaman; tiga hari mengisi kerangka itu dengan penerang dan makhluk hidup. Penciptaan itu bukan bagian dari Allah, tetapi karena dibentuk sesuai dengan Firman-Nya, oleh kuasa Roh-Nya, maka penciptaan itu juga tidak lepas dari Allah. Tritunggal menunjukkan bagaimana Allah dapat transenden (melampaui segala sesuatu) dan imanen (dekat dan terlibat) sekaligus.

Yang terakhir diciptakan ialah manusia (26–28). Mereka diciptakan untuk menjadi gambar Allah di bumi, yaitu, untuk mewakili kuasa dan pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Tentu, hal itu terkait dengan berkat untuk beranakcucu, cara manusia mengisi bumi. Tetapi binatang juga diberkati demikian (22), dan soal jenis kelamin tidak disebutkan. Jadi, kita melihat di sini bahwa tugas manusia akan dikerjakan dalam kebersamaan. Hal itu adalah cermin dari Tritunggal, di mana Allah menaklukkan bumi yang belum berbentuk melalui Firman dan kuasa Roh yang bekerja sama. Manusia akan melanjutkan karya Firman Allah dengan menaklukkan dan mengatur hal-hal yang masih belum berbentuk, sebagaimana dilihat dalam pasal 2 (taman Eden hanya sebagian kecil bumi). Makanya, ketika manusia gagal karena dosa, Allah mengutus Firman-Nya menjadi manusia, yang, dikuasai oleh Roh Kudus, menaklukkan penyakit, dosa, iblis dan maut, untuk mendatangkan ciptaan baru (bdk. Mzm 8:7; Ibr 2:8).

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya kita melanjutkan karya Firman-Nya untuk membentuk dan mengisi ciptaan-Nya. Jika hal itu dipahami sebagai tugas Israel dan raja Israel, sekarang kita mengemban amanat itu di dalam Kristus, Sang Firman dan Sang Gambar Allah.

Makna

Menangkap transendensi Allah penting supaya kita sadar bahwa kepentingan Allah jauh di atas kepentingan kita. Berhala disukai karena meladeni kemauan kita, tetapi Allah yang benar memikirkan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi, kalau Allah hanya transenden, kita akan mencari kuasa ilahi yang lebih dekat dan mengerti kondisi kita, seperti nenek moyang. Tetapi, Allah menciptakan dunia dengan Firman-Nya, dan Firman itu telah menjadi manusia dan bergumul dengan kondisi kita. Dia berada sebelum Abraham, dan menjadi nenek moyang yang sejati dalam iman. Kemudian, kuasa Roh Kudus diberikan kepada kita di dalam Kristus, sehingga kita tidak harus mencari kesaktian melalui kerasukan, jimat, dsb. Tanpa pemahaman fungsional tentang Tritunggal, jemaat akan jatuh ke dalam pemberhalaan, entah menurunkan Allah dalam bayangan mereka sehingga hanya sedikit di atas bumi sehingga mereka menyembah berhala, entah mencari kuasa di luar Allah dalam hal-hal yang dianggap terlalu sepele untuk Allah yang Mahatinggi.

Jika aa.26–27 menunjukkan bahwa manusia mengenal persekutuan sama seperti Allah (bdk. kata “Kita”), Yohanes 14–17 memaparkan bagaimana di dalam Kristus Sang Firman, kita dibawa masuk ke dalam persekutuan Tritunggal itu. Keteraturan (syalom) yang dibentuk Allah Tritunggal dari kekacaubalauan menjadi tugas kita juga dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Membaptis dalam nama Tritunggal adalah sentral dalam tugas itu, karena dengan demikian manusia menjadi bagian dari gereja sebagai wadah pembaruan (Mt 28:16–20). Kehidupan gereja juga diwarnai oleh Tritunggal: gereja berada karena kasih karunia Kristus yang melaksanakan kasih Allah bagi dunia, sehingga kita menikmati persekutuan dalam Roh Kudus yang mewujudkan kasih itu dalam persekutuan kita (2 Kor 13:13).


Kej 32:22-32 Bergumul untuk berkat Allah [20 Oktober 2013]

Oktober 14, 2013

Perikop ini adalah cerita yang penuh misteri. Dua hal diperlukan dengan bahan seperti ini. Yang pertama ialah pengamatan yang bisa menyingkapkan maksud yang tersirat. Saya berharap ada beberapa di bawah yang menarik. Yang kedua ialah menafsir pengamatan-pengamatan itu. Tafsiran saya diajukan untuk dapat dipertimbangkan, dan secara menyeluruh dapat dipertanggungjawabkan, tetapi makna dari cerita seperti ini tidak dapat diselesaikan dalam satu kali menafsir.

Penggalian Teks

Yakub belum lama melarikan diri dari Laban, mertuanya yang dia tipu, dan sekarang menuju tanah Kanaan, di mana dia harus berhadapan dengan Esau, kakaknya yang juga dia tipu. Kembali ke tanah Kanaan berarti kembali ke tanah perjanjian, tempat yang ditentukan baginya sebagai keturunan Abraham, tetapi untuk bisa menikmati janji Allah, Yakub harus belajar berdamai. Pada akhir p.31, dia berhasil berdamai dengan Laban. Tetapi Esau akan lebih sulit. Dalam 32:1–2, dia melihat malaikat-malaikat (malakim) Allah, yang dia sebut sebagai “bala tentara Allah” (32:2; Mahanaim (dari kata makheneh) = dua pasukan atau perkemahan). Semestinya hal itu menguatkan dia, dan memang dia kemudian mengambil inisiatif untuk menyuruh utusan (malakim) kepada Esau (32:3–5). Hanya, dia terkejut dengan berita bahwa Esau membawa 400 orang (32:6)! Menghadapi hal itu, dia membentuk dua pasukan (makheneh) supaya paling sedikit setengah bisa luput (32:7–8). Dengan kesamaan kosa kata (malakim dan makheneh), pencerita ingin agar kita melihat bahwa Yakub masih mencari jalan sendiri; dia belum siap mengandalkan pasukan Allah itu. Hanya setelah berdoa dan mengingat janji Allah kepadanya (32:9–12), dia memikirkan strategi yang lain, yaitu membanjiri Esau dengan persembahan untuk mendamaikan hatinya (32:13–21). Kosa kata “mendamaikan” (kipper) dan persembahan (minkhah) sering dipakai untuk pendamaian dengan Allah, dan dalam 33:10 Yakub menyamakan wajah Esau dengan wajah Allah. Berdamai dengan manusia dikaitkan erat dengan berdamai dengan Allah.

Setelah seluruh orang dan harta diseberangkan (22–23), Yakub tinggal seorang diri—mengapa tidak dijelaskan. Juga tidak dijelaskan bagaimana sampai dia bergulat dengan laki-laki itu (24). Hanya, hal itu mencerminkan kehidupannya; dia bergumul melawan Esau dan Laban, dan tidak mau dikalahkan. Dalam konteks seluruh kisah Yakub, ini adalah kelemahan Yakub, dan karena teguran halus dari pergulatan itu tidak tembus, ada teguran yang lebih keras, yang membuat Yakub pincang (25).

Kemudian, ada percakapan di antara mereka (26–29). Orang itu seakan-akan mau pamit, tetapi Yakub menuntut untuk diberkati dulu. Permintaan itu mengejutkan—bukankah semestinya Yakub marah atau takut karena dibuat pincang?—dan menunjukkan bahwa Yakub sudah menduga bahwa laki-laki ini lebih dari manusia biasa. Laki-laki itu menanyakan nama, tahap awal untuk menyampaikan berkat dengan sasaran yang tepat (27). Tetapi, ternyata orang itu mau mengubah nama Yakub. Dia tidak akan disebut “orang yang memegang tumit” lagi, dalam artian menyerang dari belakang atau dengan tipu daya (demikian pengartian nama Yakub dalam 25:26), melainkan Israel, yang berarti “bergumul dengan Allah”. Laki-laki itu menyatakan diri sebagai Allah (atau malaikat Allah, bdk. Hos 12:5), sehingga Yakub disebut telah menang atas Allah dan manusia (28). Kata “menang” itu mengejutkan, karena memberi kesan bahwa Allah dan manusia yang dia lawan itu kalah, sementara Yakub baru saja menjadi terpelecok karena tangan-Nya, dan sedang menghadapi maut oleh tangan kakaknya. Apakah Yakub juga salah tafsir demikian, sehingga dia berani menanyakan nama dari malaikat Allah itu, seakan-akan dia sudah sederajat dengannya (29)? Bagaimanapun juga, yang baru saja dia menangkan adalah perdamaian dengan Laban dan berkat dari Allah. Hal-hal ini memang membawa keuntungan bagi Yakub, tetapi tidak berarti bahwa lawannya kalah. Perlu diketahui bahwa kata “melawan” (dalam “bergumul melawan”) tidak ada dalam bahasa aslinya. Sebagai tafsiran oleh LAI, kata itu cocok untuk menggambarkan sikap Yakub tadinya: Esau dan Laban memang dikalahkan. Namun, sekarang dia bergumul untuk hal-hal yang lebih berguna: perdamaian dengan Laban dan Esau, berkat dari Allah.

Yakub sadar bahwa dia telah diberi hak istimewa untuk melihat Allah (30), dan keturunannya, orang Israel, juga menilai peristiwa itu demikian (32). Tetapi dia telah menjadi pincang (31)! Sepertinya, hanya hal itu akan membuat Yakub sungguh-sungguh mau mengandalkan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menjelaskan perubahan nama Yakub menjadi Israel, nama bangsa yang menjadi umat Allah. Dengan demikian, cerita ini menggambarkan sesuatu tentang relasi umat dengan Allah. Kita belajar untuk mencari hal-hal yang utama, dan juga bahwa kedekatan dengan Allah menyangkut bukan hanya hal-hal yang manis melainkan juga pergumulan.

Makna

Bergulat dengan Allah dan dibuat pincang belum tentu akan disukai oleh mereka yang untuknya agama dilihat pertama-tama sebagai sumber penghiburan. Malahan, cerita ini adalah peringatan bagi orang-orang yang dengan gampang mengatakan, “Sekiranya Allah menampakkan diri-Nya langsung kepada saya.” Yakub luput dengan hanya menjadi pincang. Sebaliknya, jika iman adalah perjalanan menuju tanah perjanjian, yaitu, langit dan bumi yang baru, dan jika ada hal-hal dalam kehidupan kita yang tidak beres, sama seperti Yakub, maka Allah dalam belas kasihan akan menantang kita supaya kita sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Demikian Hosea mengartikan cerita ini kepada Israel yang secara rohani jauh dari Tuhan (Hos 12:4–7). Seperti sering diungkapkan oleh para gembala pada zaman sekarang, tujuan Allah bagi umat-Nya pertama-tama adalah kekudusan, bukan kenyamanan.


Kejadian 13:1-18 Janji Allah lebih kuat [25 Agustus 2013]

Agustus 19, 2013

Perikop ini adalah naratif yang halus—sepintas lalu tidak ada yang menonjol, tetapi setelah direnungkan ada berbagai pelajaran yang bisa diambil daripadanya.

Penggalian Teks

Pasal ini mulai dengan Abram pulang dari Mesir dan beribadah kepada Tuhan (1-4). Kemudian, masalah antara dia dan Lot diselesaikan, tetapi tetap dengan suatu ancaman ke depan (5-13). Kembali Allah berjanji kepada Abram, dan Abram beribadah kepada-Nya (14-18). Peristiwa sebelum dan setelah pasal ini menyangkut Abram dalam dunia yang lebih luas, tetapi fokus dalam pasal ini adalah keluarga Abram.

Aa.1-4 mengangkat hal-hal yang menjadi fokus dalam aa.5-13, yaitu adanya Lot (1) dan banyaknya ternak Abram (2). Tetapi bagian ini juga menunjukkan bagaimana Abram diberkati Tuhan di Mesir—meskipun Abram tidak jujur tentang Sarai sebagai isterinya (12:12-13). Janji Allah untuk memberkati Abram lebih kuat daripada dosa Abram. Tetapi, bukannya Abram tidak sadar akan hal itu, dan dia membuat mezbah untuk beribadah kepada Tuhan. Abram keluar dari Mesir untuk beribadah, sama seperti Israel kemudian. (Israel juga keluar dengan perak dan emas, bdk. Kel 11:2 & 12:35.)

A.5 mempertajam masalah: Lot juga memiliki banyak ternak. A.6 mulai dengan usul bahwa daerah itu tidak cukup luas, tetapi bagian akhir ayat itu mengatakan “tidak dapat”—mungkin bisa diterjemahkan, “tidak sanggup”. Masalahnya sebenarnya dengan manusia, bukan tanah, sebagaimana dilihat dalam a.7. Jika sebelum dan sesudah perikop ini, umat Allah yang kecil ini terancam dari luar, di sini mereka terancam dari dalam. Abram menawarkan solusi (8-9), dan Lot memilih bagian dekat sungai dan air (10-12). Keputusan Lot masuk akal, tetapi ada peringatan dalam a.10c dan a.13, yang merujuk ke p.19.

Tidak disampaikan bagaimana perasaan Abram ketika Lot berpisah (14), tetapi tidak jelas bahwa perpisahan itu membuat mereka lebih kuat di negeri orang (bdk. a.7b), dan dalam p.14 Abram harus menyelamatkan Lot dari perang. Tetapi, kekuatan Abram yang sebenarnya ialah Tuhan, yang justru menguatkan janji-Nya kepada Abram (14-17). Janji akan tanah diteguhkan, dan juga janji akan keturunan. Abram disuruh untuk menjelajahi tanah itu—sebagai langkah iman, karena jelas belum dimiliki. Dan, walaupun dikatakan bahwa tanah tidak cukup luas untuk Abram dan Lot berdiam bersama, sebenarnya mereka masih terlalu sedikit. Baru ketika mereka sebanyak debu tanah (‘eretz), maka mereka akan bisa mendiami tanah (‘eretz) perjanjian itu.

Kembali Abram mendirikan mezbah, kali ini bukan karena pemeliharaan Allah yang sudah terjadi, tetapi karena janji Allah yang belum terjadi, tetapi yang tetap memberi pengharapan.

Maksud bagi Pembaca

Dari tokoh Abram, kita belajar untuk tetap berharap akan Allah bahkan dalam perpecahan, karena janji Allah lebih kuat daripada perpecahan dalam umat-Nya. Kita belajar dari tokoh Lot bahwa tanah yang dekat air belum tentu tempat yang terbaik untuk umat Allah.

Makna

Adanya perselisihan persepsi dan pendapat adalah hal yang lazim di dalam gereja. Dampaknya biasanya lebih buruk daripada masalah dari luar. Penyebabnya seperti dalam cerita ini—ketidakmampuan berbagai pihak untuk mengelola dengan baik kepentingan yang memang bergesekan. Jalan keluar yang diambil Abram mendapat berbagai penilaian—begitulah sifat cerita seperti ini. Ada yang menganggap bahwa Abram sangat baik hati dengan memberi pilihan kepada Lot. Tetapi, dilihat dari perspektif panggilan Allah, ada dua tanda tanya. Yang pertama, apakah berpisah bijaksana, mengingat bahwa “waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu”? Yang kedua, mengapa Abram menawarkan kepada Lot tanah yang dijanjikan Allah kepdanya? Kebetulan Lot memilih Lembah Yordan sehingga Abram tetap di tanah Kanaan, tetapi andaikan pilihannya lain, Abram justru akan keluar dari tanah itu! Tafsiran lain lagi menganggap bahwa sudah jelas bahwa Lembah Yordan yang akan dipilih, dan Abram secara halus menyuruh Lot ke sana. Seperti saya katakan tadi, ada banyak tafsiran kalau cerita seperti ini. Demikian juga perselisihan dalam jemaat.

Makanya, janji Allah itu sangat penting. Kadangkala kita melihat turun tangan Allah seperti dilihat Abram ketika dia dapat keluar dari Mesir. Kadangkala kita melihat masalah, seperti dilihat Abram dengan Lot. Yang tidak berubah adalah tujuan dan rencana Allah. Tujuan dan rencana itu kita kenal di dalam Kristus. Kita beribadah bukan hanya karena turun tangan Allah yang sudah kelihatan, tetapi juga karena janji yang belum kelihatan.


Kej 12:1-6 Bergerak dalam terang janji Allah [04 Agustus 2013]

Juli 29, 2013

Perikop yang terkenal dan pokok ini tidak bisa digali tuntas dalam satu kali perenungan. Kita melihat janji Allah dan iman Abraham, dan tulisan di bawah ini menyoroti soal iman. Tetapi ternyata, iman tidak dapat dibahas tanpa perhatian juga terhadap janji-janji yang diimani.

Penggalian Teks

Pada pemanggilan Abraham ini, dunia manusia sudah jadi. Pp.2-11 menceritakan penciptaan manusia, pemberontakan manusia, keberdosaan manusia, dan pembentukan bangsa-bangsa (pp.10-11). Kondisi manusia dilihat dalam silsilah Sem (11:10), karena panjangnya umur keturunan Sem makin lama makin singkat. Manusia makin dikuasai oleh maut, tetapi rencana Allah belum dinyatakan.

Kej 11:26-27 menunjukkan fase baru dalam kisah Kejadian, dengan istilah “keturunan” (toledot). Abram diperkenalkan, dan juga isterinya, Sarai, yang mandul. Kemudian, Terah mau merantau ke Kanaan dari Ur-Kasdim (sekarang Iraq), tetapi hanya sampai di Haran, dekat perbatasan Siria-Turki (11:31). Jadi, Abram, Sarai dan Lot semuanya lahir di Ur, dan sudah dewasa ketika pindah ke Haran.

Itu berarti firman Tuhan datang kepada Abram di Haran. Dia harus meninggalkan negeri, keluarga, dan kedudukan di rumah bapaknya yang dia kenal. Negeri itu akan diganti dengan negeri yang baru (1). Tetapi, keluarga akan diganti dengan bangsa yang besar, dan kedudukannya akan diganti dengan nama yang masyhur (a.2; “masyhur” sama dengan “besar” dalam bahasa Ibrani, gadol)! Kedua hal itu dikaitkan dengan berkat. Allah memberkati Abram dengan membuatnya menjadi bangsa yang besar, dan Abram akan menjadi berkat karena namanya besar. Soal berkat ditekankan dalam a.3; Abram menjadi tolok ukur berkat atau kutuk, dan dia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Jadi, berbeda dengan orang-orang Babel, dia menerima nama dari Allah untuk menjadi saluran berkat yang hilang ketika manusia jatuh ke dalam dosa.

Abram menaati firman itu (4a), dan bersama dengan rumah tangganya (isteri, keponakan, dan hamba-hambanya) pergi ke Kanaan, tujuan awal Terah (4-5). Dia masuk dari sebelah Utara, dan dalam a.6 sampai di Sikhem, kurang lebih di tengah Kanaan. Pada saat itu, kendala kedua bagi janji Allah disebutkan (6b). Kendala pertama disebut tadi, yaitu kemandulan isterinya. Kendala kedua ialah bahwa tanah perjanjian ini tidaklah kosong. Dalam ayat berikutnya, Allah mengulang janji-Nya yang akan mengatasi kedua kendala itu (12:7), dan Abram melanjutkan perjalanannya ke sebelah Selatan, dan menyembah Tuhan (12:7b-9). Dengan demikian, dia sudah menjelajahi seluruh tanah itu.

Maksud bagi Pembaca

Kisah ini menempatkan umat Allah sebagai umat peziarah yang bergerak maju dalam terang janji-janji Allah bagi seluruh dunia. Janji-janji itu melepaskan umat Allah dari ikatan-ikatan lama untuk mengikuti panggilan Allah.

Makna

Janji-janji dalam aa.1-3 menyentuh kehidupan Abram langsung, termasuk kemandulan isterinya, tetapi tidak sekadar janji pribadi. Janji-janji ini menunjukkan bagaimana berkat yang hilang karena dosa akan diberikan kembali oleh Allah. Dalam Galatia 3:6-14, Paulus menjelaskan bagaimana janji berkat itu telah digenapi dalam jemaat yang menerima Roh Kudus, oleh karena Kristus telah menanggung kutuk pada salib. Namun, “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya” (Ef 1:14), yaitu, ketika Kristus datang kembali dan “orang yang lemah lembut…akan memiliki bumi” (Mt 5:5), janji Yesus yang berakar pada sebuah mazmur yang berakar dalam janji kepada Abraham itu. Kita masih melangkah dalam iman dan pengharapan, belum dalam penglihatan. Janji-janji yang mulia dan luas ini mau mengangkat pemandangan kita dari kegelisahan kita yang terlalu sempit—“susahnya hidupku”, “kurang dana”, “memang SDM kita kurang”—untuk melihat rencana Allah bagi dunia ini, yang di dalamnya kita diperkenan mengambil bagian.

Dengan demikian, kita akan bergerak maju, sama seperti Abraham. Hal itu bisa secara harfiah, seperti Yesus mengelilingi Israel dan para rasul diutus ke seluruh dunia. Tetapi, biar kita tinggal di kampung saja, hati kita harus lepas dari ikatan bangsa dan keluarga, dalam artian bahwa kita menaati Allah bukan manusia. Atau, dalam bahasa Yesus yang menggelitik, kita harus membenci bapa, ibu, isteri, anak dan seluruh keluarga (Luk 14:26). Maksud Yesus ialah bahwa Dia harus menjadi utama, dan mereka (dan nyawa kita sendiri) menjadi sekunder. Mungkin boleh dikatakan bahwa kebencian itu bukan motivasi kita tetapi tafsiran keluarga ketika kita tidak bertindak sesuai dengan harapan mereka. Bagaimanapun juga, di mana saja umat Allah berada, kita akan tampil seperti pendatang (1 Pet 1:1; 2:11), dengan budaya yang asing dalam berbagai hal (1 Pet 4:4).

Dalam perikop ini, Abraham baru mulai menjelajahi tanah perjanjian dan menghadapi tantangan, bahwa ternyata tanah itu tidak kosong dan isterinya tidak subur, sehingga janji itu pasti terasa tidak praktis, tidak menyambung dengan realita di sekitarnya. Berkat Roh Kudus dan keselamatan eskatologis (ketika menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus, Rom 14:10; 2 Kor 5:10) mungkin juga terasa tidak menyambung dengan realita di sekitarnya oleh sebagian warga jemaat. Di mana saja di dunia, selalu ada tekanan yang halus terhadap pelayanan untuk mengutamakan pergumulan nyata, dan bukan menempatkannya dalam kerangka janji-janji dan rencana Allah bagi seluruh dunia. Iman menjadi sekadar istilah rohani untuk semangat hidup dan daya berjuang, dan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan. Iman Abraham tentu memberinya daya berjuang yang jelas, juga memberinya tujuan hidup yang sesuai dengan panggilan Allah itu.


Kej 1:26-31 Taklukkan kekacauan [16 Juni 2013]

Juni 11, 2013

Karena kebenaran itu kait-mengait, setiap bagian Alkitab hanya dapat dipahami secara tuntas jika dikaitkan dengan seluruh Alkitab, bahkan seluruh dunia! Makanya, tafsiran selalu merupakan pilihan dari makna yang tak terbatas. Lebih lagi untuk perikop ini, yang menjadi landasan untuk seluruh pemahaman Alkitab tentang manusia. Penekanan di bawah menyangkut masalah ekologi.

Penggalian Teks

Hari keenam menjadi puncak proses penciptaan, bukan hanya sebagai yang terakhir, tetapi juga karena manfaat dari apa yang diciptakan sebelumnya menjadi jelas. Urutan keenam hari penciptaan sistematis, dan ada kesejajaran yang jelas antara sarana dengan isi: terang (hari 1) dengan penerang (hari 4), cakrawala/air (hari 2) dengan burung/ikan (hari 5), dan darat (hari 3) dengan binatang (hari 6). Tetapi setiap hari bisa memakai hasil dari hari apa saja sebelumnya, misalnya, penerang pada hari keempat bisa memakai cakrawala dari hari kedua. Satu hal yang menarik ialah bahwa tumbuh-tumbuhan ditempatkan sebagai sarana pada hari ketiga, sehingga hari keenam berfokus pada apa yang disebut “makhluk yang hidup”. Dengan demikian, ada dua pokok pada hari ketiga (darat dan tumbuhan-tumbuhan) sama seperti pada hari keenam (binatang dan manusia). Penciptaan manusia mendapat tekanan lebih lagi karena menjadi pokok yang paling panjang.

Sama seperti semua pokok yang lain, Allah memulai penciptaan manusia dengan suatu firman (26). Sama seperti patung raja yang menjadi wujud yang kelihatan dari kuasa raja itu kepada masyarakat di daerah tempat dia tidak muncul, manusia menjadi gambar (tselem) Allah dalam dunia. Hal itu bisa terjadi karena ada kemiripan (“rupa”, demut) antara manusia dengan Allah. Gambar dan rupa itu dijelaskan sebagai kuasa atas semua makhluk hidup dari hari kelima (ikan dan burung) dan keenam (ternak dan binatang melata; binatang liar tidak disebutkan). A.27 menyampaikan tindakan Allah sesuai dengan firman itu. Manusia secara keseluruhan adalah gambar Allah, terutama sebagai laki-laki dan perempuan.

Kemudian, sama seperti hari kelima mengenai laut dan langit, Allah memberkati manusia dengan perintah untuk memenuhi bagiannya, yaitu bumi (28). Semua jenis makhluk yang hidup diberkati dengan bertambah banyak—maksud Allah adalah kelimpahan hidup. Tetapi ada tambahan perintah bagi manusia sebagai gambar Allah. Manusia tidak hanya harus memenuhi bagiannya, yaitu bumi, tetapi dia juga harus menaklukkannya. Kata “menaklukkan” (kabasy) secara harfiah berarti menekan (bdk. Lam 3:16b), dan ada kata benda dari akar kata yang sama yang berarti tumpuan kaki (bdk. 2 Taw 9:18). Kabasy dipakai dengan konotasi semena-mena dalam Est 7:8 (“menggagahi”) dan terkait dengan memperbudak dalam Neh 5:5 & Yer 34:11, 16. Sebaliknya, kata itu dipakai dengan artian “menghapuskan” dosa dalam Mik 7:19. Tetapi pemakaian yang paling sejajar terdapat dalam Bil 32:22, 29 & Yos 18:1 terkait dengan penaklukan tanah perjanjian. Baik “tanah” maupun “bumi” menerjemahkan kata ha’aretz. Bumi/tanah adalah pemberian Allah, tetapi ada kekacauan yang harus ditaklukkan supaya bumi/tanah itu dapat dinikmati. Bagi Israel, kekacauan itu adalah bangsa-bangsa yang berdosa dan mau dihukum Allah. Bagi manusia perdana, barangkali Allah yang mengatur bumi yang tak terbentuk dan kosong (1:2) dengan sengaja menyisakan tugas bagi manusia. Dalam Kejadian 2, ada taman Eden yang teratur, tetapi di luar itu bumi belum diatur. Kebaikan bumi bukan kesempurnaan yang statis, melainkan kecocokan bumi untuk tugas manusia itu. Kemudian, a.28b mengulang hal berkuasa dari a.26.

Aa.29-30 kembali ke soal tumbuh-tumbuhan (hari 3). Ada untuk manusia, dan juga untuk binatang dan burung. (Daging baru diberikan kepada manusia dalam Kej 9:3.) Allah menciptakan dunia yang di dalamnya manusia dapat melakukan kehendak-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Nas ini menempatkan manusia di antara Allah dengan bumi. Allah adalah Pencipta dan Pemberi mandat, sedangkan dunia adalah penopang hidup dan makhluk hidup di dalamnya adalah sasaran mandat itu. Manusia bergantung sepenuhnya kepada Allah yang memenuhi kebutuhannya melalui ciptaan-Nya. Manusia berkuasa atas makhluk yang hidup sebagi wakil Allah. Baik kebergantungan manusia maupun kedudukannya sebagai wakil Allah menuntut sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Makna

Kejadian 1 menggambarkan keterkaitan semua aspek penciptaan. Terang, cakrawala dan darat dengan tumbuh-tumbuhan menjadi sarana untuk penerang yang menentukan waktu, serta berbagai jenis makhluk yang hidup yang di atasnya manusia berkuasa. Ilmu pengetahuan menegaskan keterkaitan itu dengan sangat terperinci, dan hal itu dihargai oleh semua budaya—kecuali budaya modern. Manusia selalu membawa perubahan dalam ekologi lokalnya, tetapi dampak budaya modern sangat besar dan bermasalah. Akarnya mungkin kecenderungan orang Barat untuk berfokus pada objek lepas dari konteksnya, dan bukan pada objek-dalam-relasi. Pada zaman Pencerahan, dunia mulai dilihat sebagai mesin dan bukan organisme. Mesin dapat dihantam dan tinggal diperbaiki, sedangkan organisme harus menjaga kesehatan. Kebergantungan manusia kepada Allah melalui bumi ciptaan-Nya makin dikelabui oleh keberhasilan teknologi, dan bahkan ketika kerusakan satu bagian tidak dapat dipungkiri, keterkaitannya dengan bagian yang lain tidak disadari. Masalah persepsi itu baru mulai dikoreksi secara ilmiah kurang lebih 50 tahun yang lalu.

Dalam konteks itu, kata “taklukkan” kadang kala ditafsir sebagai hak mutlak manusia untuk menggunakan dunia dengan semena-mena. Tafsiran itu memutarbalikkan maksud dari kata “taklukkan” itu. Tugas manusia adalah mengatur apa yang belum teratur, seperti yang dilakukan Allah, bukan menambah kekacauan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.