Kej 32:22-32 Bergumul untuk berkat Allah [20 Oktober 2013]

Oktober 14, 2013

Perikop ini adalah cerita yang penuh misteri. Dua hal diperlukan dengan bahan seperti ini. Yang pertama ialah pengamatan yang bisa menyingkapkan maksud yang tersirat. Saya berharap ada beberapa di bawah yang menarik. Yang kedua ialah menafsir pengamatan-pengamatan itu. Tafsiran saya diajukan untuk dapat dipertimbangkan, dan secara menyeluruh dapat dipertanggungjawabkan, tetapi makna dari cerita seperti ini tidak dapat diselesaikan dalam satu kali menafsir.

Penggalian Teks

Yakub belum lama melarikan diri dari Laban, mertuanya yang dia tipu, dan sekarang menuju tanah Kanaan, di mana dia harus berhadapan dengan Esau, kakaknya yang juga dia tipu. Kembali ke tanah Kanaan berarti kembali ke tanah perjanjian, tempat yang ditentukan baginya sebagai keturunan Abraham, tetapi untuk bisa menikmati janji Allah, Yakub harus belajar berdamai. Pada akhir p.31, dia berhasil berdamai dengan Laban. Tetapi Esau akan lebih sulit. Dalam 32:1–2, dia melihat malaikat-malaikat (malakim) Allah, yang dia sebut sebagai “bala tentara Allah” (32:2; Mahanaim (dari kata makheneh) = dua pasukan atau perkemahan). Semestinya hal itu menguatkan dia, dan memang dia kemudian mengambil inisiatif untuk menyuruh utusan (malakim) kepada Esau (32:3–5). Hanya, dia terkejut dengan berita bahwa Esau membawa 400 orang (32:6)! Menghadapi hal itu, dia membentuk dua pasukan (makheneh) supaya paling sedikit setengah bisa luput (32:7–8). Dengan kesamaan kosa kata (malakim dan makheneh), pencerita ingin agar kita melihat bahwa Yakub masih mencari jalan sendiri; dia belum siap mengandalkan pasukan Allah itu. Hanya setelah berdoa dan mengingat janji Allah kepadanya (32:9–12), dia memikirkan strategi yang lain, yaitu membanjiri Esau dengan persembahan untuk mendamaikan hatinya (32:13–21). Kosa kata “mendamaikan” (kipper) dan persembahan (minkhah) sering dipakai untuk pendamaian dengan Allah, dan dalam 33:10 Yakub menyamakan wajah Esau dengan wajah Allah. Berdamai dengan manusia dikaitkan erat dengan berdamai dengan Allah.

Setelah seluruh orang dan harta diseberangkan (22–23), Yakub tinggal seorang diri—mengapa tidak dijelaskan. Juga tidak dijelaskan bagaimana sampai dia bergulat dengan laki-laki itu (24). Hanya, hal itu mencerminkan kehidupannya; dia bergumul melawan Esau dan Laban, dan tidak mau dikalahkan. Dalam konteks seluruh kisah Yakub, ini adalah kelemahan Yakub, dan karena teguran halus dari pergulatan itu tidak tembus, ada teguran yang lebih keras, yang membuat Yakub pincang (25).

Kemudian, ada percakapan di antara mereka (26–29). Orang itu seakan-akan mau pamit, tetapi Yakub menuntut untuk diberkati dulu. Permintaan itu mengejutkan—bukankah semestinya Yakub marah atau takut karena dibuat pincang?—dan menunjukkan bahwa Yakub sudah menduga bahwa laki-laki ini lebih dari manusia biasa. Laki-laki itu menanyakan nama, tahap awal untuk menyampaikan berkat dengan sasaran yang tepat (27). Tetapi, ternyata orang itu mau mengubah nama Yakub. Dia tidak akan disebut “orang yang memegang tumit” lagi, dalam artian menyerang dari belakang atau dengan tipu daya (demikian pengartian nama Yakub dalam 25:26), melainkan Israel, yang berarti “bergumul dengan Allah”. Laki-laki itu menyatakan diri sebagai Allah (atau malaikat Allah, bdk. Hos 12:5), sehingga Yakub disebut telah menang atas Allah dan manusia (28). Kata “menang” itu mengejutkan, karena memberi kesan bahwa Allah dan manusia yang dia lawan itu kalah, sementara Yakub baru saja menjadi terpelecok karena tangan-Nya, dan sedang menghadapi maut oleh tangan kakaknya. Apakah Yakub juga salah tafsir demikian, sehingga dia berani menanyakan nama dari malaikat Allah itu, seakan-akan dia sudah sederajat dengannya (29)? Bagaimanapun juga, yang baru saja dia menangkan adalah perdamaian dengan Laban dan berkat dari Allah. Hal-hal ini memang membawa keuntungan bagi Yakub, tetapi tidak berarti bahwa lawannya kalah. Perlu diketahui bahwa kata “melawan” (dalam “bergumul melawan”) tidak ada dalam bahasa aslinya. Sebagai tafsiran oleh LAI, kata itu cocok untuk menggambarkan sikap Yakub tadinya: Esau dan Laban memang dikalahkan. Namun, sekarang dia bergumul untuk hal-hal yang lebih berguna: perdamaian dengan Laban dan Esau, berkat dari Allah.

Yakub sadar bahwa dia telah diberi hak istimewa untuk melihat Allah (30), dan keturunannya, orang Israel, juga menilai peristiwa itu demikian (32). Tetapi dia telah menjadi pincang (31)! Sepertinya, hanya hal itu akan membuat Yakub sungguh-sungguh mau mengandalkan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menjelaskan perubahan nama Yakub menjadi Israel, nama bangsa yang menjadi umat Allah. Dengan demikian, cerita ini menggambarkan sesuatu tentang relasi umat dengan Allah. Kita belajar untuk mencari hal-hal yang utama, dan juga bahwa kedekatan dengan Allah menyangkut bukan hanya hal-hal yang manis melainkan juga pergumulan.

Makna

Bergulat dengan Allah dan dibuat pincang belum tentu akan disukai oleh mereka yang untuknya agama dilihat pertama-tama sebagai sumber penghiburan. Malahan, cerita ini adalah peringatan bagi orang-orang yang dengan gampang mengatakan, “Sekiranya Allah menampakkan diri-Nya langsung kepada saya.” Yakub luput dengan hanya menjadi pincang. Sebaliknya, jika iman adalah perjalanan menuju tanah perjanjian, yaitu, langit dan bumi yang baru, dan jika ada hal-hal dalam kehidupan kita yang tidak beres, sama seperti Yakub, maka Allah dalam belas kasihan akan menantang kita supaya kita sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Demikian Hosea mengartikan cerita ini kepada Israel yang secara rohani jauh dari Tuhan (Hos 12:4–7). Seperti sering diungkapkan oleh para gembala pada zaman sekarang, tujuan Allah bagi umat-Nya pertama-tama adalah kekudusan, bukan kenyamanan.


Kejadian 13:1-18 Janji Allah lebih kuat [25 Agustus 2013]

Agustus 19, 2013

Perikop ini adalah naratif yang halus—sepintas lalu tidak ada yang menonjol, tetapi setelah direnungkan ada berbagai pelajaran yang bisa diambil daripadanya.

Penggalian Teks

Pasal ini mulai dengan Abram pulang dari Mesir dan beribadah kepada Tuhan (1-4). Kemudian, masalah antara dia dan Lot diselesaikan, tetapi tetap dengan suatu ancaman ke depan (5-13). Kembali Allah berjanji kepada Abram, dan Abram beribadah kepada-Nya (14-18). Peristiwa sebelum dan setelah pasal ini menyangkut Abram dalam dunia yang lebih luas, tetapi fokus dalam pasal ini adalah keluarga Abram.

Aa.1-4 mengangkat hal-hal yang menjadi fokus dalam aa.5-13, yaitu adanya Lot (1) dan banyaknya ternak Abram (2). Tetapi bagian ini juga menunjukkan bagaimana Abram diberkati Tuhan di Mesir—meskipun Abram tidak jujur tentang Sarai sebagai isterinya (12:12-13). Janji Allah untuk memberkati Abram lebih kuat daripada dosa Abram. Tetapi, bukannya Abram tidak sadar akan hal itu, dan dia membuat mezbah untuk beribadah kepada Tuhan. Abram keluar dari Mesir untuk beribadah, sama seperti Israel kemudian. (Israel juga keluar dengan perak dan emas, bdk. Kel 11:2 & 12:35.)

A.5 mempertajam masalah: Lot juga memiliki banyak ternak. A.6 mulai dengan usul bahwa daerah itu tidak cukup luas, tetapi bagian akhir ayat itu mengatakan “tidak dapat”—mungkin bisa diterjemahkan, “tidak sanggup”. Masalahnya sebenarnya dengan manusia, bukan tanah, sebagaimana dilihat dalam a.7. Jika sebelum dan sesudah perikop ini, umat Allah yang kecil ini terancam dari luar, di sini mereka terancam dari dalam. Abram menawarkan solusi (8-9), dan Lot memilih bagian dekat sungai dan air (10-12). Keputusan Lot masuk akal, tetapi ada peringatan dalam a.10c dan a.13, yang merujuk ke p.19.

Tidak disampaikan bagaimana perasaan Abram ketika Lot berpisah (14), tetapi tidak jelas bahwa perpisahan itu membuat mereka lebih kuat di negeri orang (bdk. a.7b), dan dalam p.14 Abram harus menyelamatkan Lot dari perang. Tetapi, kekuatan Abram yang sebenarnya ialah Tuhan, yang justru menguatkan janji-Nya kepada Abram (14-17). Janji akan tanah diteguhkan, dan juga janji akan keturunan. Abram disuruh untuk menjelajahi tanah itu—sebagai langkah iman, karena jelas belum dimiliki. Dan, walaupun dikatakan bahwa tanah tidak cukup luas untuk Abram dan Lot berdiam bersama, sebenarnya mereka masih terlalu sedikit. Baru ketika mereka sebanyak debu tanah (‘eretz), maka mereka akan bisa mendiami tanah (‘eretz) perjanjian itu.

Kembali Abram mendirikan mezbah, kali ini bukan karena pemeliharaan Allah yang sudah terjadi, tetapi karena janji Allah yang belum terjadi, tetapi yang tetap memberi pengharapan.

Maksud bagi Pembaca

Dari tokoh Abram, kita belajar untuk tetap berharap akan Allah bahkan dalam perpecahan, karena janji Allah lebih kuat daripada perpecahan dalam umat-Nya. Kita belajar dari tokoh Lot bahwa tanah yang dekat air belum tentu tempat yang terbaik untuk umat Allah.

Makna

Adanya perselisihan persepsi dan pendapat adalah hal yang lazim di dalam gereja. Dampaknya biasanya lebih buruk daripada masalah dari luar. Penyebabnya seperti dalam cerita ini—ketidakmampuan berbagai pihak untuk mengelola dengan baik kepentingan yang memang bergesekan. Jalan keluar yang diambil Abram mendapat berbagai penilaian—begitulah sifat cerita seperti ini. Ada yang menganggap bahwa Abram sangat baik hati dengan memberi pilihan kepada Lot. Tetapi, dilihat dari perspektif panggilan Allah, ada dua tanda tanya. Yang pertama, apakah berpisah bijaksana, mengingat bahwa “waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu”? Yang kedua, mengapa Abram menawarkan kepada Lot tanah yang dijanjikan Allah kepdanya? Kebetulan Lot memilih Lembah Yordan sehingga Abram tetap di tanah Kanaan, tetapi andaikan pilihannya lain, Abram justru akan keluar dari tanah itu! Tafsiran lain lagi menganggap bahwa sudah jelas bahwa Lembah Yordan yang akan dipilih, dan Abram secara halus menyuruh Lot ke sana. Seperti saya katakan tadi, ada banyak tafsiran kalau cerita seperti ini. Demikian juga perselisihan dalam jemaat.

Makanya, janji Allah itu sangat penting. Kadangkala kita melihat turun tangan Allah seperti dilihat Abram ketika dia dapat keluar dari Mesir. Kadangkala kita melihat masalah, seperti dilihat Abram dengan Lot. Yang tidak berubah adalah tujuan dan rencana Allah. Tujuan dan rencana itu kita kenal di dalam Kristus. Kita beribadah bukan hanya karena turun tangan Allah yang sudah kelihatan, tetapi juga karena janji yang belum kelihatan.


Kej 12:1-6 Bergerak dalam terang janji Allah [04 Agustus 2013]

Juli 29, 2013

Perikop yang terkenal dan pokok ini tidak bisa digali tuntas dalam satu kali perenungan. Kita melihat janji Allah dan iman Abraham, dan tulisan di bawah ini menyoroti soal iman. Tetapi ternyata, iman tidak dapat dibahas tanpa perhatian juga terhadap janji-janji yang diimani.

Penggalian Teks

Pada pemanggilan Abraham ini, dunia manusia sudah jadi. Pp.2-11 menceritakan penciptaan manusia, pemberontakan manusia, keberdosaan manusia, dan pembentukan bangsa-bangsa (pp.10-11). Kondisi manusia dilihat dalam silsilah Sem (11:10), karena panjangnya umur keturunan Sem makin lama makin singkat. Manusia makin dikuasai oleh maut, tetapi rencana Allah belum dinyatakan.

Kej 11:26-27 menunjukkan fase baru dalam kisah Kejadian, dengan istilah “keturunan” (toledot). Abram diperkenalkan, dan juga isterinya, Sarai, yang mandul. Kemudian, Terah mau merantau ke Kanaan dari Ur-Kasdim (sekarang Iraq), tetapi hanya sampai di Haran, dekat perbatasan Siria-Turki (11:31). Jadi, Abram, Sarai dan Lot semuanya lahir di Ur, dan sudah dewasa ketika pindah ke Haran.

Itu berarti firman Tuhan datang kepada Abram di Haran. Dia harus meninggalkan negeri, keluarga, dan kedudukan di rumah bapaknya yang dia kenal. Negeri itu akan diganti dengan negeri yang baru (1). Tetapi, keluarga akan diganti dengan bangsa yang besar, dan kedudukannya akan diganti dengan nama yang masyhur (a.2; “masyhur” sama dengan “besar” dalam bahasa Ibrani, gadol)! Kedua hal itu dikaitkan dengan berkat. Allah memberkati Abram dengan membuatnya menjadi bangsa yang besar, dan Abram akan menjadi berkat karena namanya besar. Soal berkat ditekankan dalam a.3; Abram menjadi tolok ukur berkat atau kutuk, dan dia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Jadi, berbeda dengan orang-orang Babel, dia menerima nama dari Allah untuk menjadi saluran berkat yang hilang ketika manusia jatuh ke dalam dosa.

Abram menaati firman itu (4a), dan bersama dengan rumah tangganya (isteri, keponakan, dan hamba-hambanya) pergi ke Kanaan, tujuan awal Terah (4-5). Dia masuk dari sebelah Utara, dan dalam a.6 sampai di Sikhem, kurang lebih di tengah Kanaan. Pada saat itu, kendala kedua bagi janji Allah disebutkan (6b). Kendala pertama disebut tadi, yaitu kemandulan isterinya. Kendala kedua ialah bahwa tanah perjanjian ini tidaklah kosong. Dalam ayat berikutnya, Allah mengulang janji-Nya yang akan mengatasi kedua kendala itu (12:7), dan Abram melanjutkan perjalanannya ke sebelah Selatan, dan menyembah Tuhan (12:7b-9). Dengan demikian, dia sudah menjelajahi seluruh tanah itu.

Maksud bagi Pembaca

Kisah ini menempatkan umat Allah sebagai umat peziarah yang bergerak maju dalam terang janji-janji Allah bagi seluruh dunia. Janji-janji itu melepaskan umat Allah dari ikatan-ikatan lama untuk mengikuti panggilan Allah.

Makna

Janji-janji dalam aa.1-3 menyentuh kehidupan Abram langsung, termasuk kemandulan isterinya, tetapi tidak sekadar janji pribadi. Janji-janji ini menunjukkan bagaimana berkat yang hilang karena dosa akan diberikan kembali oleh Allah. Dalam Galatia 3:6-14, Paulus menjelaskan bagaimana janji berkat itu telah digenapi dalam jemaat yang menerima Roh Kudus, oleh karena Kristus telah menanggung kutuk pada salib. Namun, “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya” (Ef 1:14), yaitu, ketika Kristus datang kembali dan “orang yang lemah lembut…akan memiliki bumi” (Mt 5:5), janji Yesus yang berakar pada sebuah mazmur yang berakar dalam janji kepada Abraham itu. Kita masih melangkah dalam iman dan pengharapan, belum dalam penglihatan. Janji-janji yang mulia dan luas ini mau mengangkat pemandangan kita dari kegelisahan kita yang terlalu sempit—“susahnya hidupku”, “kurang dana”, “memang SDM kita kurang”—untuk melihat rencana Allah bagi dunia ini, yang di dalamnya kita diperkenan mengambil bagian.

Dengan demikian, kita akan bergerak maju, sama seperti Abraham. Hal itu bisa secara harfiah, seperti Yesus mengelilingi Israel dan para rasul diutus ke seluruh dunia. Tetapi, biar kita tinggal di kampung saja, hati kita harus lepas dari ikatan bangsa dan keluarga, dalam artian bahwa kita menaati Allah bukan manusia. Atau, dalam bahasa Yesus yang menggelitik, kita harus membenci bapa, ibu, isteri, anak dan seluruh keluarga (Luk 14:26). Maksud Yesus ialah bahwa Dia harus menjadi utama, dan mereka (dan nyawa kita sendiri) menjadi sekunder. Mungkin boleh dikatakan bahwa kebencian itu bukan motivasi kita tetapi tafsiran keluarga ketika kita tidak bertindak sesuai dengan harapan mereka. Bagaimanapun juga, di mana saja umat Allah berada, kita akan tampil seperti pendatang (1 Pet 1:1; 2:11), dengan budaya yang asing dalam berbagai hal (1 Pet 4:4).

Dalam perikop ini, Abraham baru mulai menjelajahi tanah perjanjian dan menghadapi tantangan, bahwa ternyata tanah itu tidak kosong dan isterinya tidak subur, sehingga janji itu pasti terasa tidak praktis, tidak menyambung dengan realita di sekitarnya. Berkat Roh Kudus dan keselamatan eskatologis (ketika menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus, Rom 14:10; 2 Kor 5:10) mungkin juga terasa tidak menyambung dengan realita di sekitarnya oleh sebagian warga jemaat. Di mana saja di dunia, selalu ada tekanan yang halus terhadap pelayanan untuk mengutamakan pergumulan nyata, dan bukan menempatkannya dalam kerangka janji-janji dan rencana Allah bagi seluruh dunia. Iman menjadi sekadar istilah rohani untuk semangat hidup dan daya berjuang, dan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan. Iman Abraham tentu memberinya daya berjuang yang jelas, juga memberinya tujuan hidup yang sesuai dengan panggilan Allah itu.


Kej 1:26-31 Taklukkan kekacauan [16 Juni 2013]

Juni 11, 2013

Karena kebenaran itu kait-mengait, setiap bagian Alkitab hanya dapat dipahami secara tuntas jika dikaitkan dengan seluruh Alkitab, bahkan seluruh dunia! Makanya, tafsiran selalu merupakan pilihan dari makna yang tak terbatas. Lebih lagi untuk perikop ini, yang menjadi landasan untuk seluruh pemahaman Alkitab tentang manusia. Penekanan di bawah menyangkut masalah ekologi.

Penggalian Teks

Hari keenam menjadi puncak proses penciptaan, bukan hanya sebagai yang terakhir, tetapi juga karena manfaat dari apa yang diciptakan sebelumnya menjadi jelas. Urutan keenam hari penciptaan sistematis, dan ada kesejajaran yang jelas antara sarana dengan isi: terang (hari 1) dengan penerang (hari 4), cakrawala/air (hari 2) dengan burung/ikan (hari 5), dan darat (hari 3) dengan binatang (hari 6). Tetapi setiap hari bisa memakai hasil dari hari apa saja sebelumnya, misalnya, penerang pada hari keempat bisa memakai cakrawala dari hari kedua. Satu hal yang menarik ialah bahwa tumbuh-tumbuhan ditempatkan sebagai sarana pada hari ketiga, sehingga hari keenam berfokus pada apa yang disebut “makhluk yang hidup”. Dengan demikian, ada dua pokok pada hari ketiga (darat dan tumbuhan-tumbuhan) sama seperti pada hari keenam (binatang dan manusia). Penciptaan manusia mendapat tekanan lebih lagi karena menjadi pokok yang paling panjang.

Sama seperti semua pokok yang lain, Allah memulai penciptaan manusia dengan suatu firman (26). Sama seperti patung raja yang menjadi wujud yang kelihatan dari kuasa raja itu kepada masyarakat di daerah tempat dia tidak muncul, manusia menjadi gambar (tselem) Allah dalam dunia. Hal itu bisa terjadi karena ada kemiripan (“rupa”, demut) antara manusia dengan Allah. Gambar dan rupa itu dijelaskan sebagai kuasa atas semua makhluk hidup dari hari kelima (ikan dan burung) dan keenam (ternak dan binatang melata; binatang liar tidak disebutkan). A.27 menyampaikan tindakan Allah sesuai dengan firman itu. Manusia secara keseluruhan adalah gambar Allah, terutama sebagai laki-laki dan perempuan.

Kemudian, sama seperti hari kelima mengenai laut dan langit, Allah memberkati manusia dengan perintah untuk memenuhi bagiannya, yaitu bumi (28). Semua jenis makhluk yang hidup diberkati dengan bertambah banyak—maksud Allah adalah kelimpahan hidup. Tetapi ada tambahan perintah bagi manusia sebagai gambar Allah. Manusia tidak hanya harus memenuhi bagiannya, yaitu bumi, tetapi dia juga harus menaklukkannya. Kata “menaklukkan” (kabasy) secara harfiah berarti menekan (bdk. Lam 3:16b), dan ada kata benda dari akar kata yang sama yang berarti tumpuan kaki (bdk. 2 Taw 9:18). Kabasy dipakai dengan konotasi semena-mena dalam Est 7:8 (“menggagahi”) dan terkait dengan memperbudak dalam Neh 5:5 & Yer 34:11, 16. Sebaliknya, kata itu dipakai dengan artian “menghapuskan” dosa dalam Mik 7:19. Tetapi pemakaian yang paling sejajar terdapat dalam Bil 32:22, 29 & Yos 18:1 terkait dengan penaklukan tanah perjanjian. Baik “tanah” maupun “bumi” menerjemahkan kata ha’aretz. Bumi/tanah adalah pemberian Allah, tetapi ada kekacauan yang harus ditaklukkan supaya bumi/tanah itu dapat dinikmati. Bagi Israel, kekacauan itu adalah bangsa-bangsa yang berdosa dan mau dihukum Allah. Bagi manusia perdana, barangkali Allah yang mengatur bumi yang tak terbentuk dan kosong (1:2) dengan sengaja menyisakan tugas bagi manusia. Dalam Kejadian 2, ada taman Eden yang teratur, tetapi di luar itu bumi belum diatur. Kebaikan bumi bukan kesempurnaan yang statis, melainkan kecocokan bumi untuk tugas manusia itu. Kemudian, a.28b mengulang hal berkuasa dari a.26.

Aa.29-30 kembali ke soal tumbuh-tumbuhan (hari 3). Ada untuk manusia, dan juga untuk binatang dan burung. (Daging baru diberikan kepada manusia dalam Kej 9:3.) Allah menciptakan dunia yang di dalamnya manusia dapat melakukan kehendak-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Nas ini menempatkan manusia di antara Allah dengan bumi. Allah adalah Pencipta dan Pemberi mandat, sedangkan dunia adalah penopang hidup dan makhluk hidup di dalamnya adalah sasaran mandat itu. Manusia bergantung sepenuhnya kepada Allah yang memenuhi kebutuhannya melalui ciptaan-Nya. Manusia berkuasa atas makhluk yang hidup sebagi wakil Allah. Baik kebergantungan manusia maupun kedudukannya sebagai wakil Allah menuntut sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Makna

Kejadian 1 menggambarkan keterkaitan semua aspek penciptaan. Terang, cakrawala dan darat dengan tumbuh-tumbuhan menjadi sarana untuk penerang yang menentukan waktu, serta berbagai jenis makhluk yang hidup yang di atasnya manusia berkuasa. Ilmu pengetahuan menegaskan keterkaitan itu dengan sangat terperinci, dan hal itu dihargai oleh semua budaya—kecuali budaya modern. Manusia selalu membawa perubahan dalam ekologi lokalnya, tetapi dampak budaya modern sangat besar dan bermasalah. Akarnya mungkin kecenderungan orang Barat untuk berfokus pada objek lepas dari konteksnya, dan bukan pada objek-dalam-relasi. Pada zaman Pencerahan, dunia mulai dilihat sebagai mesin dan bukan organisme. Mesin dapat dihantam dan tinggal diperbaiki, sedangkan organisme harus menjaga kesehatan. Kebergantungan manusia kepada Allah melalui bumi ciptaan-Nya makin dikelabui oleh keberhasilan teknologi, dan bahkan ketika kerusakan satu bagian tidak dapat dipungkiri, keterkaitannya dengan bagian yang lain tidak disadari. Masalah persepsi itu baru mulai dikoreksi secara ilmiah kurang lebih 50 tahun yang lalu.

Dalam konteks itu, kata “taklukkan” kadang kala ditafsir sebagai hak mutlak manusia untuk menggunakan dunia dengan semena-mena. Tafsiran itu memutarbalikkan maksud dari kata “taklukkan” itu. Tugas manusia adalah mengatur apa yang belum teratur, seperti yang dilakukan Allah, bukan menambah kekacauan.


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


Kej 16:1-6 Pencobaan mengenai janji Allah

Desember 4, 2008

“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak.” (a.1) Pas sebelum ayat ini Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan Abraham yang meneguhkan janji-janji-Nya semula, yaitu janji tanah, keturunan dan nama (Kej 12:1-3). Lebih lagi, janji keturunan diteguhkan pada 15:4-5 dan diterima Abraham dengan iman (15:6). Namun, imannya langsung teruji.

Soalnya, janji itu tinggal janji. Hal itu pasti pahit bagi Sarai. A.1 dengan lebih harfiah berbunyi, “Adapun Sarai…tidak melahirkan baginya” (maksudnya bagi Abraham). Sarai belum menjadi isteri seutuhnya. Biar ada janji Allah tentang masa depan, masa kini sudah ada rasa pahit. Untuk menguranginya, Sarai mengambil langkah yang mungkin saja masuk akal menurut budaya setempat. Namun, penutur cerita tidak menganggapnya baik. Perhatikan dalam a.1 dan a.3 bagaimana status mereka sebagai suami-isteri disebut-sebut. Hal itu bukan informasi baru melainkan tekanan. Yang tersirat dalam tekanan itu adalah bahwa Sarai sebagai isteri Abraham adalah yang cocok untuk menjadi sarana penggenapan janji keturunan itu, dan juga bahwa semestinya pernikahan itu dua orang saja (sesuai dengan Kej 2:24).

Lebih lagi, usaha Sarai disejajarkan dengan usaha Hawa. Baik Abraham maupun manusia (Adam) “mendengarkan perkataan” isterinya (3:17; 16:2). Kemudian, baik Hawa maupun Sarai “mengambil” dan “memberikan” kepada suaminya (3:6; 16:3). Baik Sarai maupun Abraham tergoda untuk mengandalkan usaha sendiri daripada menunggu janji Allah.

Tahu-tahu, usaha Sarai berhasil, dan justru membawa kepahitan yang dia takutkan. Hamba Sarai yang subur memandang rendah nyonyanya yang tidak. Bukan hanya itu, Sarai mempersalahkan Abraham, yang pada gilirannya mengizinkan perlakuan sewenang-wenang oleh Sarai kepada Hagar, yang kemudian melarikan diri. Hanya campur tangan Tuhan yang memperbaiki sikap Hagar (16:7-13) sehingga ada damai kembali.

Kadangkala kita berpikir tentang usaha yang tidak beriman seperti penipuan atau memakai jimat atau gosip yang menjatuhkan dalam rangka apakah mencapai tujuan mengurangi rasa pahit (seperti miskin, sakit, iri hati). Dan bisa saja berhasil dalam rangka itu, meskipun sering juga ada akibat yang pahit. Tetapi jika kita mau lebih mengenal Allah, maka jalan satu-satunya adalah beriman: menerima dan berharap akan janji Allah. Jalan yang lain merupakan pencobaan belaka.


Kej 21:8-21 Kasih dalam pengertian

Oktober 27, 2008

Abraham menyayangi Ismael (17:18), anak sulungnya. Namun, janji Allah yang digenapi dalam aa.1-7 dengan jelas menempatkan Ishak sebagai penerus perjanjian. Di sini Abraham langsung mengalami ketegangan antara rencana Allah dengan keinginan sendiri. Allah memakai kekurangan isterinya untuk menempatkannya kembali di jalan yang tepat.

Cinta Abraham akan Ismael tidak mengherankan, karena Ismael adalah anak sulungnya. Dari percakapannya dengan Allah dalam p.17, ada kesan bahwa sebenarnya Abraham sudah puas dengan lahirnya Ismael. Saralah yang begitu mendambakan seorang anak sendiri. Setelah Ishak lahir, semestinya Abraham bertindak untuk mengokohkan warisannya kepada Ishak. (Pembawa cerita seperti meneguhkan tempat Ishak dalam pemikiran pembaca dengan tidak menyebutkan nama Ismael sama sekali dalam cerita ini!) Tetapi seperti biasa dalam kitab Kejadian, Allah yang harus bekerja melalui kekurangan umat-Nya untuk menggenapi rencananya. Dia memakai Sara dalam hal ini. Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, tetapi kata itu dapat juga diterjemahkan mempermainkan. Bisa saja Ismael bermain baik-baik saja, tetapi Sara menafsirnya sebagai permainan, mengingat kesusahan masa lampau dengan Hagar atau membayangkan persaingan pada masa depan. Bagaimanapun juga, dalam sikap itu dia melihat sesuatu yang belum diakui oleh Abraham, yaitu bahwa pewarisan kepada Ishak harus dikokohkan. Abraham menyayangi Ismael sehingga usulan itu menyebalkannya, tetapi Allah justru mendukung keputusan Sara. Belum tentu Allah mendukung sikapnya, tetapi Dia sanggup bekerja melalui kekurangan manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Tentu, perasaan Abraham bukannya tanpa alasan, dan meskipun Allah memilih Ishak, Dia mengulangi janji bahwa Ismael juga akan menjadi bangsa (a.13), dan meneguhkan janji itu dengan menyertai Hagar (a.19), seperti dalam p.16. Janji itu sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada Hagar (16:10) dan Abraham (17:20), dan akhirnya diulangi juga kepada Hagar (a.18). Abraham harus justru melepaskan Ismael supaya Ismael dapat mengalami berkat Allah itu. Kemudian, adanya Ismael dan kemudian Esau membuat Abraham menjadi bapak dari beberapa bangsa (17:6), yang menjadi petunjuk akan maksud Allah untuk memberkati semua bangsa.

Bahwa Abraham menerima pelajaran supaya jangan rasa sayang menghambat rencana Allah menjadi jelas dalam p.22, di mana Abraham taat ketika disuruh mempersembahkan Ishak. Bagi kita, saya rasa bahwa perasaan tidak tega menjadi penghambat ketika, misalnya, pimpinan tidak tega menindaki penjahat, ketika orang tua tidak tega melepaskan anaknya melayani Tuhan di tempat yang rawan, ketika pendeta tidak tega menyampaikan tegoran dari Allah. Allah sendiri tega. Dia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri demi keselamatan dunia. Semoga dengan melihat peristiwa ini kita dikuatkan untuk memahami rencana Allah yang berpuncak pada Kristus itu, sehingga kita mampu mempertahankan pendirian yang tegas pada saatnya. Seperti yang didoakan Paulus, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). “Kasih dalam pengertian” yang dipelajari Abraham di sini.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kej 29:15-30 Awal cerita Yakub dan Laban

Juni 3, 2008

Di antara kedua perjumpaan Allah dengan Yakub (yang menyangkut Esau) ada hubungan Yakub dengan Laban (lihat Kisah Keturunan Ishak). P.29 ini mulai dengan kabar baik bagi Yakub karena dia berjumpa dengan sanak saudaranya (Laban adalah saudara Ribka, ibu Yakub). Tetapi dalam perikop ini sifat Laban mulai muncul—dia adalah penipu tepat seperti Yakub! Setelah Yakub menikahi kedua anak perempuan Laban, kita mendapat gambaran tentang keluarga berganda isteri dalam 29:31-30:24 yang menceritakan persaingan mereka lewat nama anak-anak mereka. Tentu anak-anak inilah yang menjadi keduabelas bani Israel. Paroh kedua p.30 menceritakan usaha Yakub yang dibalas dengan sikap yang tidak baik dari Laban sehingga dalam p.31 Yakub melarikan diri, kemudian dikejar Laban dan akhirnya bisa berdamai dengannya.

Di dalam semuanya Allah melindungi Yakub dan memberkatinya dan juga Laban oleh karena Yakub, sesuai janji Allah kepada Abram (12:3a). Perlindungan Allah dapat dilihat, misalnya, dalam hal Yakub lebih cinta kepada Rahel. Hal itu bermuara pada perlakuan khusus kepada Yusuf (37:3), anak pertama dari Rahel, yang bermuara pada keselamatan keluarga Yakub di Mesir. Demikian Allah berdaulat atas keberdosaan dan kelemahan umat-Nya.

Penipuan Laban mirip dengan penipuan Yakub dan Ribka karena menyangkut hak anak sulung dan bungsu. Kemiripan itu terjadi secara terbalik—Laban menipu Yakub untuk menjamin hak anak sulungnya. Kepanasan hati Yakub dalam menjawab (a.25) mungkin menunjukkan bagaimana Allah mulai mendidiknya, sesuatu yang berpuncak dengan pergumulan Yakub dengan Allah kemudian (32:22-32). Seluk-beluk cerita ini yang penuh kemanusiaan yang menarik, mengusik dan mengharukan juga mengundang kita melihat kepada Allah yang tetap bekerja di dalamnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.