Kej 16:1-6 Pencobaan mengenai janji Allah

Desember 4, 2008

“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak.” (a.1) Pas sebelum ayat ini Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan Abraham yang meneguhkan janji-janji-Nya semula, yaitu janji tanah, keturunan dan nama (Kej 12:1-3). Lebih lagi, janji keturunan diteguhkan pada 15:4-5 dan diterima Abraham dengan iman (15:6). Namun, imannya langsung teruji.

Soalnya, janji itu tinggal janji. Hal itu pasti pahit bagi Sarai. A.1 dengan lebih harfiah berbunyi, “Adapun Sarai…tidak melahirkan baginya” (maksudnya bagi Abraham). Sarai belum menjadi isteri seutuhnya. Biar ada janji Allah tentang masa depan, masa kini sudah ada rasa pahit. Untuk menguranginya, Sarai mengambil langkah yang mungkin saja masuk akal menurut budaya setempat. Namun, penutur cerita tidak menganggapnya baik. Perhatikan dalam a.1 dan a.3 bagaimana status mereka sebagai suami-isteri disebut-sebut. Hal itu bukan informasi baru melainkan tekanan. Yang tersirat dalam tekanan itu adalah bahwa Sarai sebagai isteri Abraham adalah yang cocok untuk menjadi sarana penggenapan janji keturunan itu, dan juga bahwa semestinya pernikahan itu dua orang saja (sesuai dengan Kej 2:24).

Lebih lagi, usaha Sarai disejajarkan dengan usaha Hawa. Baik Abraham maupun manusia (Adam) “mendengarkan perkataan” isterinya (3:17; 16:2). Kemudian, baik Hawa maupun Sarai “mengambil” dan “memberikan” kepada suaminya (3:6; 16:3). Baik Sarai maupun Abraham tergoda untuk mengandalkan usaha sendiri daripada menunggu janji Allah.

Tahu-tahu, usaha Sarai berhasil, dan justru membawa kepahitan yang dia takutkan. Hamba Sarai yang subur memandang rendah nyonyanya yang tidak. Bukan hanya itu, Sarai mempersalahkan Abraham, yang pada gilirannya mengizinkan perlakuan sewenang-wenang oleh Sarai kepada Hagar, yang kemudian melarikan diri. Hanya campur tangan Tuhan yang memperbaiki sikap Hagar (16:7-13) sehingga ada damai kembali.

Kadangkala kita berpikir tentang usaha yang tidak beriman seperti penipuan atau memakai jimat atau gosip yang menjatuhkan dalam rangka apakah mencapai tujuan mengurangi rasa pahit (seperti miskin, sakit, iri hati). Dan bisa saja berhasil dalam rangka itu, meskipun sering juga ada akibat yang pahit. Tetapi jika kita mau lebih mengenal Allah, maka jalan satu-satunya adalah beriman: menerima dan berharap akan janji Allah. Jalan yang lain merupakan pencobaan belaka.


Kej 21:8-21 Kasih dalam pengertian

Oktober 27, 2008

Abraham menyayangi Ismael (17:18), anak sulungnya. Namun, janji Allah yang digenapi dalam aa.1-7 dengan jelas menempatkan Ishak sebagai penerus perjanjian. Di sini Abraham langsung mengalami ketegangan antara rencana Allah dengan keinginan sendiri. Allah memakai kekurangan isterinya untuk menempatkannya kembali di jalan yang tepat.

Cinta Abraham akan Ismael tidak mengherankan, karena Ismael adalah anak sulungnya. Dari percakapannya dengan Allah dalam p.17, ada kesan bahwa sebenarnya Abraham sudah puas dengan lahirnya Ismael. Saralah yang begitu mendambakan seorang anak sendiri. Setelah Ishak lahir, semestinya Abraham bertindak untuk mengokohkan warisannya kepada Ishak. (Pembawa cerita seperti meneguhkan tempat Ishak dalam pemikiran pembaca dengan tidak menyebutkan nama Ismael sama sekali dalam cerita ini!) Tetapi seperti biasa dalam kitab Kejadian, Allah yang harus bekerja melalui kekurangan umat-Nya untuk menggenapi rencananya. Dia memakai Sara dalam hal ini. Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, tetapi kata itu dapat juga diterjemahkan mempermainkan. Bisa saja Ismael bermain baik-baik saja, tetapi Sara menafsirnya sebagai permainan, mengingat kesusahan masa lampau dengan Hagar atau membayangkan persaingan pada masa depan. Bagaimanapun juga, dalam sikap itu dia melihat sesuatu yang belum diakui oleh Abraham, yaitu bahwa pewarisan kepada Ishak harus dikokohkan. Abraham menyayangi Ismael sehingga usulan itu menyebalkannya, tetapi Allah justru mendukung keputusan Sara. Belum tentu Allah mendukung sikapnya, tetapi Dia sanggup bekerja melalui kekurangan manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Tentu, perasaan Abraham bukannya tanpa alasan, dan meskipun Allah memilih Ishak, Dia mengulangi janji bahwa Ismael juga akan menjadi bangsa (a.13), dan meneguhkan janji itu dengan menyertai Hagar (a.19), seperti dalam p.16. Janji itu sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada Hagar (16:10) dan Abraham (17:20), dan akhirnya diulangi juga kepada Hagar (a.18). Abraham harus justru melepaskan Ismael supaya Ismael dapat mengalami berkat Allah itu. Kemudian, adanya Ismael dan kemudian Esau membuat Abraham menjadi bapak dari beberapa bangsa (17:6), yang menjadi petunjuk akan maksud Allah untuk memberkati semua bangsa.

Bahwa Abraham menerima pelajaran supaya jangan rasa sayang menghambat rencana Allah menjadi jelas dalam p.22, di mana Abraham taat ketika disuruh mempersembahkan Ishak. Bagi kita, saya rasa bahwa perasaan tidak tega menjadi penghambat ketika, misalnya, pimpinan tidak tega menindaki penjahat, ketika orang tua tidak tega melepaskan anaknya melayani Tuhan di tempat yang rawan, ketika pendeta tidak tega menyampaikan tegoran dari Allah. Allah sendiri tega. Dia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri demi keselamatan dunia. Semoga dengan melihat peristiwa ini kita dikuatkan untuk memahami rencana Allah yang berpuncak pada Kristus itu, sehingga kita mampu mempertahankan pendirian yang tegas pada saatnya. Seperti yang didoakan Paulus, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). “Kasih dalam pengertian” yang dipelajari Abraham di sini.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kej 29:15-30 Awal cerita Yakub dan Laban

Juni 3, 2008

Di antara kedua perjumpaan Allah dengan Yakub (yang menyangkut Esau) ada hubungan Yakub dengan Laban (lihat Kisah Keturunan Ishak). P.29 ini mulai dengan kabar baik bagi Yakub karena dia berjumpa dengan sanak saudaranya (Laban adalah saudara Ribka, ibu Yakub). Tetapi dalam perikop ini sifat Laban mulai muncul—dia adalah penipu tepat seperti Yakub! Setelah Yakub menikahi kedua anak perempuan Laban, kita mendapat gambaran tentang keluarga berganda isteri dalam 29:31-30:24 yang menceritakan persaingan mereka lewat nama anak-anak mereka. Tentu anak-anak inilah yang menjadi keduabelas bani Israel. Paroh kedua p.30 menceritakan usaha Yakub yang dibalas dengan sikap yang tidak baik dari Laban sehingga dalam p.31 Yakub melarikan diri, kemudian dikejar Laban dan akhirnya bisa berdamai dengannya.

Di dalam semuanya Allah melindungi Yakub dan memberkatinya dan juga Laban oleh karena Yakub, sesuai janji Allah kepada Abram (12:3a). Perlindungan Allah dapat dilihat, misalnya, dalam hal Yakub lebih cinta kepada Rahel. Hal itu bermuara pada perlakuan khusus kepada Yusuf (37:3), anak pertama dari Rahel, yang bermuara pada keselamatan keluarga Yakub di Mesir. Demikian Allah berdaulat atas keberdosaan dan kelemahan umat-Nya.

Penipuan Laban mirip dengan penipuan Yakub dan Ribka karena menyangkut hak anak sulung dan bungsu. Kemiripan itu terjadi secara terbalik—Laban menipu Yakub untuk menjamin hak anak sulungnya. Kepanasan hati Yakub dalam menjawab (a.25) mungkin menunjukkan bagaimana Allah mulai mendidiknya, sesuatu yang berpuncak dengan pergumulan Yakub dengan Allah kemudian (32:22-32). Seluk-beluk cerita ini yang penuh kemanusiaan yang menarik, mengusik dan mengharukan juga mengundang kita melihat kepada Allah yang tetap bekerja di dalamnya.


Kej 7 Menyelamatkan dunia

Mei 31, 2008

Dalam Kej 7 Allah mulai menghukum dunia karena pemberontakan manusia. Tetapi sebelumnya ada jalan keselamatan—bagi Nuh sekeluarga tetapi juga untuk wakil setiap jenis binatang yang terancam binasa. Hal itu searah dengan seluruh Alkitab yang menghargai bumi sebagai hal yang baik (Kej 1) yang akan ikut diperbaharui (Why 21). Di dalam konteks keselamatan ketaatan Nuh ditekankan (7:5, juga 6:22). Untuk kita sekarang, perintah yang sepadan seperti Kis 2:37-40 atau Yoh 6:28-29.


Kej 14:17-24 Hidup beriman dalam keseharian

April 29, 2008

Kej 13-14 merupakan serangkaian cerita yang di dalamnya Abraham mendapat tempat di dalam masyarakat di Kanaan. Janji Allah bahwa orang akan mendapat berkat atau kutuk tergantung sikapnya terhadap Abraham makin terwujud—para raja yang mengambil Lot dikalahkan, sedangkan sekutu-sekutu Abraham beruntung. Perikop ini, sebagai semacam resolusi atau penutup, menunjukkan bagaimana respons Abraham terhadap perlindungan Tuhan itu.

Pokok dalam perikop ini ialah adanya dua tokoh, yakni raja Sodom dan Melkisedek. Sambutan raja Sodom hanya yang selayaknya karena Abraham telah mengalahkan musuh yang berat. Dia berbicara kurang lebih tentang upah Abraham atas jasanya, mengingat bahwa barang yang dibawa pulang oleh Abraham adalah harta benda dan orang kepunyaan raja Sodom yang dirampas Kedorlaomer. Abraham hanya menerima kalau dia tidak rugi dan orang-orang yang membantu dia mendapat haknya, tetapi Abraham tidak mau terikat dengan raja Sodom dengan mendapat keuntungan dari barangnya. Orang Sodom terkenal jahat (13:13).

Disisipkan di tengah percakapan tentang Sodom adalah munculnya Melkisedek, yang membawa makna yang sebenarnya dari pengalaman Abraham, yaitu berkat Tuhan. Abraham mengakui peran Tuhan dalam suksesnya dengan memberikan persepuluhan. Penerimaan Melkisedek dan penolakan yang halus tetapi tegas terhadap raja Sodom merupakan wujud nyata pengilhaman Abraham akan janji Allah di tengah kemelut hidupnya.

Ada usulan (dalam Expositor’s Bible Commentary) bahwa cerita ini mau menunjukkan bahwa Taurat tertulis dalam hati Abraham, seperti Yer 31:33, walaupun dia belum mengetahuinya. Selain soal persepuluhan (seperti Bil 18:21), cara Abraham berperang sesuai dengan Ul 20. Abraham tidak takut (Ul 20:1), mengakui peran Tuhan (20:4), dan membedakan jarahan kota jauh yang boleh dimakan (20:14) dengan jarahan orang dekat yang tidak (20:17). Usulan itu sesuai dengan kesimpulan tentang Abraham bahwa dia “telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” (Kej 26:5) Abraham menjadi teladan ketaatan yang berasal dari iman dalam PL, dan juga dalam PB.


Kej 1:26-27

Maret 26, 2008

Penciptaan manusia ditandai sebagai puncak penciptaan dunia dengan Allah merenung sebelum menciptakan (“mari Kita…”). Manusia diciptakan dengan fungsi yang lebih rumit dari ciptaan yang lain. Yang lain berada, bertumbuh, bergerak, paling berfungsi untuk menandai masa. Tetapi manusia berkuasa atas semua jenis binatang. Yang bertumbuh saja diberikan sebagai makanan (aa.29-31), dan yang lain-lain memungkinkan hidup. Sehingga setelah penciptaan manusia Allah baru menyatakan bahwa dunia amat baik (a.31).

Fungsi berkuasa itu yang paling cocok sebagai maksud langsung “gambar dan rupa” Allah. Fungsi itu mencakup usul-usul yang lain. Misalnya, tugas untuk berkuasa menyiratkan kemampuan untuk bernalar, berencana dsb. Tugas untuk berkuasa juga mempertajam bagaimana manusia berelasi dengan Allah–bukan sebagai mitra yang sederajat, tetapi sebagai hamba yang diberi wewenang yang mulia. Bagaimanapun juga, konsep kesegambaran menjadi dasar untuk martabat setiap manusia (tersurat di Kej 9:6 dan Yak 3:9), sekalipun gambar itu dicemari oleh dosa.

Tentu, martabat itu termasuk perempuan. Manusia menjadi gambar Allah sebagai laki-laki dan perempuan. Hal pertama di sini adalah sifat sosial manusia. “Mereka” berkuasa (a.26), bukan hanya satu orang. Hal kedua adalah pernikahan sebagai wadah untuk beranakcucu (a.28). Pelecehan perempuan baru masuk setelah kejatuhan ke dalam dosa ketika relasi laki-laki dan perempuan rusak (Kej 3:16).

Kejatuhan manusia ke dalam dosa juga merusak kuasanya (3:17-19), dan hanya Yesus Anak Manusia yang merintis pemulihannya (lihat Ibr 2:6-9dst yang merenungkan Mzm 8 yang merenungkan penciptaan manusia). Pemulihan itu dapat juga disebut pengudusan, bahkan pemuliaan (bnd. 2 Kor 3:18). Bagi saya itulah bagian yang seru dalam kabar baik Injil. Jangankan dosa kita diampunkan (itu sudah hebat), kerusakan dosa sedang dipulihkan. Jemaat dan persekutuan orang percaya (semestinya) adalah sentra pemulihan itu.


Kej 28:10-22

Februari 29, 2008

Pada saat cerita ini, Yakub bermasalah. Dia harus melarikan diri dari kakaknya yang marah karena ditipu. Pelarian ini adalah ancaman terbesar selama itu terhadap janji Allah. Apakah Yakub, yang kelihatannya telah dipilih Allah sebagai penerus janjinya (Kej 25:23), akan sempat kembali ke tanah yang dijanjikan?

Dalam mimpi Allah menampakkan diri kepadanya. Janji-Nya diteguhkan, dengan beberapa tambahan yang cocok untuk keadaan Yakub. Dia berjanji untuk menyertai Yakub, sama seperti kepada Ishak pada suatu saat krisis (26:3). Dia juga berjanji bahwa Yakub akan kembali dari pembuangannya.

Yakub sadar bahwa tempatnya adalah “pintu gerbang sorga” (28:17). Setelah pengusiran manusia dari taman Eden tempat Allah berjalan-jalan, titik temu antara Allah dengan manusia menjadi langka. Fungsi titik temu itu diambil alih oleh Bait Allah (itu artinya Betel, walaupun tempatnya kemudian di Yerusalem), dan kemudian Yesus yang menjadi tangga yang menghubungkan sorga dan bumi (Yoh 1:51).

Tanggapan Yakub itu takut. Sebagai orang dari budaya Barat yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menghilangkan semua misteri, saya harus belajar dari reaksi itu. Mungkin orang yang biasa takut akan pohon yang keramat harus belajar untuk takut akan Allah. Tetapi sama-sama jangan kita “menganggap sepi” kemurahan Allah (Rom 2:4) dengan dalih bahwa akibat sikap remeh kurang nampak.

Kemudian Yakub membangun sebuah tiruan dari pengalamannya. Batu yang di atasnya dia bermimpi didirikan seperti tangga dalam mimpi itu, dan “kepala” (ujung) batu itu diminyaki. Mungkin saja sebuah respons “psikomotorik” demikian bisa berguna untuk melestarikan signifikansi suatu pengalaman yang bermakna. Tetapi saya mau mengusulkan bahwa salib Kristus adalah tugu yang paling bermakna bahwa Tuhan akan menyertai kita melalui pengembaraan dalam dunia ini sampai kita kembali ke tahan yang dia janjikan, langit dan bumi yang baru itu.


Kisah Keturunan Ishak

Februari 26, 2008

Kisah ini mulai pada Kej 25:19 (dengan rumusan toledot) dan berakhir dengan kematian Ishak pada Kej 35:29 (yang langsung disusul oleh toledot Esau (36:1]) kemudian toledot Yakub (37:2)). Temanya kelangsungan janji Allah kepada keturunan Abraham (25:19). Hal itu terancam pertama-tama oleh kemandulan Ribka (25:21), tetapi yang menggerakkan kisah ini adalah pertentangan sejak sekandung antara kedua kembar yang diberikan kepada Ribka (25:22). Sampai 28:9 pertentangan itu diceritakan dengan Yakub memanipulasi Esau dan ayahnya untuk mendapatkan berkat ayahnya. Bagian kedua kisah ini, pp.29-32, menceritakan “pembuangan” Yakub, di luar tanah perjanjian. Dia mulai belajar berdamai dengan Laban, tetapi pertentangan yang jauh lebih berat dengan Esau belum dihadapi. Dalam bagian ketiga, pp.33-35, dia berdamai dengan Esau kemudian mengatasi ancaman terakhir, yaitu melebur dengan atau dimusnahkan oleh orang Sikhem (p.34) dengan berpindah ke Betel. Akhirnya dia kembali kepada Ishak di Hebron, dan Yakub dan Esau bersama-sama menguburkan dia.

Disisipkan antara ketiga bagian itu adalah perjumpaan Yakub dengan Allah. Dalam 28:10-22 Allah meneguhkan janji-Nya dan Yakub bernazar. Namun, bagian berikut menunjukkan bahwa Yakub belum belajar hidup beriman. Dalam 32:22-32 Yakub bergumul dengan Allah–seperti sebenarnya dia selalu bergumul dengan manusia dan Allah (32:28)–dan dia mengalami perubahan. Antara lain, dia menjadi mampu berdamai.

Dalam kisah ini ada banyak lapisan. Kita melihat hidup berkeluarga yang rusak, mulai dari orang tua yang pilih kasih sampai anak-anak yang menyukai kekerasan. Kita juga melihat perkembangan dalam karakter Yakub (dan juga dalam Esau), yang intinya adalah lebih mengenal Allah. Yang terdalam adalah janji Allah. Kisah ini adalah toledot–kisah keturunan–Ishak karena pokok utama adalah bagaimana janji Allah kepada Ishak berlaku dalam keturunannya. Intinya Allah. Jika hal itu disadari, maka setiap perikop dalam bagian ini dapat diberitakan dengan cara yang membangun iman, karena di balik seluk-beluk Yakub dsb yang sama lemahnya dengan kita ada rencana Allah (yang bermuara dalam Kristus) untuk diimani.