Kel 23:10-12 Hari Sabat untuk manusia

Juni 15, 2010

Perikop ini termasuk bagian pertama (Kel. 20:22-23:33) perincian Hukum Taurat setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini merupakan satu kali Musa menaiki gungung Sinai. Struktur bagian ini sebagai berikut:

A. Peringatan terhadap penyembahan ilah-ilah lain (20:22-23)

B. Cara menyembah Allah yang sah (20:24-26)

C. Peraturan-peraturan untuk diajukan (21:1)

D. Peraturan dimulai dengan rujukan ke tahun ketujuh (21:2)

E. Macam-macam aturan (21:3-23:9)

D’. Peraturan berakhir dengan rujukan ke tahun ketukuh (23:10-12)

C’. Peringatan untuk taat, serta peringatan terhadap ilah-ilah yang lain (23:13)

B’. Cara menyembah Allah yang sah (23:14-19)

A’. Peringatan terhadap pemyembahan ilah-ilah lain (23:20-33)

Apa gunanya analisis seperti ini? Kita melihat bahwa apa yang disebut peraturan, yang menyangkut kehidupan Israel bersama, berada dalam konteks relasi mereka dengan Tuhan. Jika dibaca dari awal sampai akhir (dan jarang hal itu dilakukan!), kita akan mulai dengan peringatan tentang ibadah kepada Allah, baru masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, kemudian diingatkan kembali tentang ibadah kepada Allah. Pembacaan demikian akan membentuk kita untuk memahami kasih kepada sesama dalam konteks kasih kepada Allah.

Dalam renungan minggu yang lalu diusulkan bahwa hari ketujuh menyimbolkan kenikmatan Allah atas ciptaan-Nya, yang ke dalamnya Israel diajak masuk dengan memelihara hari dan tahun Sabat. Ciptaan yang baik itu ditawarkan kembali kepada Israel dalam bentuk tanah perjanjian. Jadi, bahwa peraturan-peraturan ini dimulai dan diakhiri dengan rujukan pada tahun dan hari ketujuh memaknai peraturan-peraturan itu sebagai cara Israel menikmati pemberian itu sebagai berkat Allah. Israel yang menaati Kel. 23:2-23:12 akan menikmati taman Eden yang kedua. Ul 5:12-15 membawa makna yang mirip. Ayat-ayat itu menafsir hukum keempat dalam Ul 20:8-11. Pembebasan dari Mesir terjadi supaya Israel dapat menikmati berkat Allah dalam tanah perjanjian. Dalam Kel 23:10-12 dan Ul 5:12-15 kenikmatan itu termasuk perhatian kepada kaum miskin dan kaum bawah.

PB tidak mengharuskan istirahat pada hari tertentu ataupun menganggur setiap tahun ketujuh, walaupun istirahat pada satu hari adalah disiplin yang berguna, untuk mengingatkan kita bahwa tujuan hidup lebih dari pekerjaan dan kesibukan kita. Namun, dalam Kristus dan oleh kuasa Roh Kudus, kita menikmati kehidupan bersama yang semestinya mencerminkan berkat Allah, walaupun kebaikan hidup seperti dalam taman Eden belum dinikmati sampai pembaruan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Dalam kehidupan itu ada tempat untuk semua, bukan hanya yang menonjol atau dianggap penting, tetapi juga yang miskin dan rendah.


Kel 15:1-21 Meresponsi anugerah Tuhan

November 1, 2009

Nyanyian ini adalah nyanyian pertama yang direkam dalam Alkitab (kalau tidak salah—adakah sebelumnya?). Hal itu sangat cocok. Allah sudah menyelesaikan penyelamatan mereka dari kuasa Firaun, sehingga mereka sudah dimampukan menjadi umat Allah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, sebelum ada Taurat sebagai kerangka hidup untuk merespons anugerah keselamatan itu, ada pujian. Pujian adalah respons utama kepada Allah, ketaatan menyusul (bnd. Rom 1:21). Aa.20-21 menceritakan bahwa perempuan ikut juga dalam nyanyian ini, dipimpin Miryam yang disebut sebagai nabiah.

A.1b mengantarkan kedua tema utama, yakni sifat Tuhan serta perbuatan-Nya. Menurut analisis di Expositor’s Bible Commentary, ada empat bait dalam nyanyian ini, yaitu aa.1b-5, 6-10, 11-16a, 16b-18. Pembagian itu berdasarkan adanya batu/timah pada akhir ketiga bait yang pertama (aa.5, 10, 16a), dan juga pengulangan beberapa kata (bukan hanya pengulangan ide) pada aa.6, 11, 16b. Setiap bait dibagi lagi: ada pengantarnya (ayat pertama masing-masing, yang mengangkat tema), kemudian ada satu-dua ayat tentang Tuhan dan sisanya menyangkut orang di luar Israel (ringkasnya: 1b/2-3/4-5; 6/7-8/9-10; 11/12-13/14-16a; 16b/17/18).

Bait pertama (aa.1b-5) menguraikan alasan orang Israel untuk menyanyi (a.1b), jadi pujian tentang Allah (aa.2-3) menyangkut “aku” (Musa dan setiap orang Israel), yang baginya Tuhan menjadi keselamatan karena apa yang terjadi terhadap pasukan Firaun (aa.4-5). Bait kedua (aa.6-10) menguraikan “tangan kanan” Tuhan (a.6), yaitu kuasa-Nya untuk campur tangan dalam dunia ini (aa.7-8) untuk menghukum musuh-Nya (aa.9-10). Bait ini lebih pada sudut pandang musuh. Kedua bait ini menceritakan kembali kehancuran pasukan Firaun.

Kedua bait berikut melihat ke depan, ketika tujuan dari keselamatan itu akan tercapai. Bait ketiga (aa.11-16a) melihat “ketiadataraan” Tuhan di atas dewa-dewi bangsa-bangsa (a.11). Hanya Tuhan yang dapat meniadakan musuh-Nya (a.12) dan menuntun umat-Nya (a.13), sehingga bangsa-bangsa yang akan dihadapi Israel dalam perjalanan ke tanah Kanaan takut (aa.14-16a). Bait keempat (aa.16b-18) menyangkut penyeberangan ke tanah Kanaan (a.16b), sehingga Israel berada di sekitar tempat kudus Tuhan (a.17), akhirnya Bait Allah di Yerusalem. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah raja yang kekal (a.18), baca: di atas seluruh bumi.

Kemenangan Kristus di kayu salib tidak kalah dahsyatnya dengan peristiwa ini. Dari Kristus kita juga belajar bahwa Allah layak dipuji, bahwa tangan-Nya kuat, bahwa Dia tiada bertara, bahwa kita adalah umat-Nya yang akan dibawa pulang. Kita juga ada di antara kemenangan yang dahsyat itu dan penggenapannya pada masa depan, ketika kita akan “menyeberang” ke langit dan bumi yang baru. Masalahnya bahwa kadangkala kemenangan atas dosa dan maut terasa abstrak, sehingga rasa syukur yang meliputi Israel pada saat itu tidak terasa oleh kita. Karena perikop ini menceritakan keadaan yang konkret, yang dengan mudah kita bayangkan, maka kita dapat belajar bagaimana rasa syukur yang selayaknya. Soalnya, kita luput dari nasib yang lebih parah dari nasib Israel seandainya Tuhan tidak campur tangan, yaitu larut dalam dosa dan menghadapi maut tanpa harapan.


Kel 18:13-27 Hikmat Yitro tentang kepemimpinan

Juli 13, 2009

Pendelegasian berarti membagikan tanggung jawab dan pekerjaan kepada bawahan supaya tugas dilaksanakan dengan lebih baik. Perikop ini menceritakan contoh yang baik. Musa kewalahan mengadili segala perkara bangsa Israel (aa.13-14). Yitro melihatnya dan mengusulkan pembagian tugas. Ada tugas pokok yang hanya dapat dilakukan Musa sendiri (aa.19-20), tetapi ada banyak perkara yang kecil yang dapat ditangani oleh wakil-wakil. Sistem yang diterapkan (a.21) agak mirip dengan sistem pemerintahan Indonesia, dengan jenjangnya dari Presiden sampai dengan RT, mengingat bahwa dalam Israel pada saat itu fungsi hukum dan kepemimpinan terpadu. Syarat untuk para wakil ini masih cocok—cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran suap (a.21). Perhatikan bahwa baik keterampilan maupun kebenaran diperlukan. Kasihan kalau keduanya alpa dalam seorang pemimpin!

Apa tugas pokok Musa? Dalam usulan Yitro ada tiga pokok. Yang pertama, Musa mewakili bangsa kepada Allah (a.19). Hal itu menjadi sangat nampak ketika Musa memohonkan pengampunan bagi bangsa dari Allah, seperti dalam 33:30-34 setelah pembuatan anak lembu emas. Yang kedua, dia yang akan menyampaikan kehendak Allah (a.20), pengajaran yang akhirnya tertuang dalam hukum Taurat. Yang ketiga, Musa tetap terlibat dalam perkara-perkara, tetapi hanya yang terlalu besar untuk para wakilnya (a.22).

Pokok pertama dan kedua adalah tugas khusus, yang sekarang diemban oleh Yesus Kristus. Selain mengajarkan jalan yang benar kepada kita sebagai murid-murid-Nya, Dia juga menjadi pengantara pada Allah sebagai pendamaian untuk dosa kita (1 Yoh 2:1-2). Tugas gereja adalah memberitakan dan mengajarkannya. Bagi yang ditugaskan, seperti pendeta, tugas itu tetap pokok.

Pokok ketiga yang dibagikan kepada para wakil Musa, dan dapat dilihat sebagai gambaran penggembalaan. Yang menarik diperhatikan ialah bahwa keterlibatan Musa dalam pergumulan-pergumulan bangsa membawa kesempatan untuk mengajar (a.16). Dengan demikian, pengajaran bukan sekadar teori umum saja tetapi jelas kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa perkara dalam jemaat (adakah dalam jemaat Anda? :) menjadi kesempatan untuk mengajar.

Juga, jika tugas ini dibagikan kepada para wakil sampai beberapa tingkat, artinya bahwa tugas penggembalaan di bawah Sang Gembala tidak hanya ada pada si pendeta. Gambaran dalam PB adalah jemaat “dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain” (Kol 3:16). Tentu ada kasus yang lebih sukar yang di dalamnya hikmat pendeta dibutuhkan sebagai orang yang terampil dalam pengenalan akan Alkitab. Tetapi yang sering terjadi ialah bahwa semua terpusat pada pendeta, sehingga dia sibuk dengan perkara-perkara. Alhasil, pendeta dan jemaat lelah (a.17), dan tugas pemberitaan dan pengajaran hilang di tengah jalan. Alangkah baiknya jika jemaat bersama-sama dengan pendeta turut menanggung tugas penggembalaan itu (a.22).


Kel 1:15-22

September 2, 2008

Pasal pertama dari kitab Keluaran ini menunjukkan bagaimana janji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi bangsa yang besar sudah digenapi. Bahkan, Kel 1:7 mengaitkan perkembangan orang Israel di negeri Mesir dengan amanat Allah kepada manusia dalam Kej 1:28 untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi (kata Ibrani arets dapat dipakai untuk bumi seperti dalam Kej 1:28, dan juga untuk negeri atau tanah seperti dalam Kel 1:7). Hal itu memang cocok, mengingat bahwa Kej 1:28 merincikan artian berkat, dan intisari janji kepada Abraham adalah janji berkat. Berkat itu mulai dialami Israel meskipun mereka belum memasuki tanah perjanjian!

Namun, perkembangan Israel itu tidak dianggap suatu berkat oleh Mesir (9-10), dan mereka mengadakan beberapa muslihat untuk menekan orang Israel. Yang pertama adalah dengan kerja paksa (11) yang justru berakibat terbalik—orang Israel makin bertambah. Muslihat kedua adalah memperberat kerja paksa itu. Kata aslinya (ebed, bnd. kata abdi) terkait dengan pengabdian. Dalam konteks ini pengabdian yang terpaksa berarti perbudakan, tetapi kisah kitab Keluaran adalah bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan supaya mereka dapat beribadah (mengabdi) kepada-Nya dengan bebas (7:16). Namun, dalam p.2 perbudakan itu bertambah berat sebelum tindakan Allah mulai nyata.

Kerja paksa itu dirangkaikan dengan usaha untuk membunuh semua anak laki-laki. Jadi, perintah kepada kedua bidan itu terjadi dalam konteks penindasan yang akan berakhir tetapi waktunya belum ketahuan, sehingga bisa saja banyak umat Israel meragukan apakah penindasan itu akan berakhir. Perhatikan bahwa perintah yang jahat itu berasal dari pihak yang berwenang. Hal itu lazim dalam pemerintahan yang kejam. Jumlah orang yang sudah kejam belum cukup untuk melakukan semua kejahatan yang diperlukan oleh pemerintah demikian, sehingga orang biasa diperintah untuk ikut serta. Saya rasa sejarah Indonesia tidak asing bagi dinamika begitu. Dan sejarah manusia (tidak hanya d Indonesia) membuktikan bahwa banyak manusia akan ikut serta karena takut akan pihak yang berwenang itu.

Dengan demikian, tindakan kedua bidan layak dicermati. Sikapnya takut akan Allah (17, 21), sehingga mereka melanggar perintah Firaun, meskipun dia adalah raja yang berwenang di Mesir. Mungkin lebih kontroversial adalah jawaban mereka kepada Firaun, seakan-akan mereka tidak pernah mendapati bayi laki-laki yang sedang dilahirkan (19)! Barangkali, jawaban itu bukan bohong belaka, karena tentu saja ada yang bersalin sebelum bidan sempat datang. Tetapi jawaban itu juga tidak terus terang. Ingat bahwa prinsip Allah yang akan dinyatakan kepada Israel adalah jangan bersaksi dusta. Kita melanggar prinsip itu jika ada perkataan yang betul tetapi menyesatkan sehingga orang yang benar dianggap bersalah. Sebaliknya, kita tidak wajib menolong orang yang berniat jahat dengan jawaban yang terus terang. Relasi macam apa cukup menentukan apa itu saksi dusta. Dalam konteks ini, kedua bidan barangkali mau supaya Firaun berpikir bahwa kebijakannya tidak akan berhasil sehingga dia menyerah. Tentu, penjahat tidak menyerah dengan mudah! Tetapi Firaun harus meminta kepada seluruh rakyat Mesir untuk menerapkan pembunuhan bayi laki-laki itu. Dan Tuhan tetap memberkati Israel, termasuk kedua bidan yang takut akan Dia.

Jika kedua bidan itu bisa berani karena takut akan Allah sebelum Dia menyelamatkan umat-Nya dari Mesir, lebih lagi kita yang sudah melihat keselamatan Allah dari dosa dan maut dalam Kristus. Memang, kita tidak tahu apakah keadaan sementara akan bertambah berat atau pulih. Namun, jika kita takut akan Allah kita akan berani menentang kejahatan dan menantikan berkat-Nya.


Kel 23:1-9 Perintah Allah adalah kudus, benar dan baik

Agustus 7, 2008

Tempat Hukum Taurat dalam kehidupan jemaat pernah saya bahas dengan kesimpulan bahwa HT menyatakan kehendak Allah dengan sempurna, tetapi juga secara kontekstual, yaitu untuk Israel yang belum mengenal Yesus dan masih berbasis suku dan tempat. Jadi, kita menerapkannya bukan sebagai aturan mutlak, melainkan sebagai hikmat. Tentu, hikmat dari Allah jangan diremehkan!

Perikop ini termasuk bagian pertama perincian HT setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini menyangkut berbagai aturan kehidupan bersama, dan menekankan keadilan dan saling perhatian. Aa.1-3 dan 6-8 menerangkan hukum ke-9, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Kesejajaran dengan konteks di Indonesia cukup jelas. Menarik bahwa menyebarkan kabar bohong (alias gosip) tergolong di sini. Gosip di tengah masyarakat bisa justru lebih efektif daripada saksi dusta di pengadilan untuk menghancurkan kedudukan orang, karena tidak ada kesempatan untuk menilai atau membantah gosip. Aa.4-6 memperluas hukum ke-8 untuk jangan mencuri, dengan mengusulkan bagaimana harta benda sesama (bahkan musuh!) diperhatikan. Dalam a.9 Israel harus memperbuat kepada orang asing sama seperti apa yang akan mereka kehendaki diperbuat kepada mereka ketika menjadi orang asing di Mesir.

Penerapan perikop ini dalam masyarakat umum saya rasa jelas, tetapi bagaimana dalam jemaat? Adakah perkara dalam jemaat? Menurut 1 Kor 6 bisa saja, dan Paulus menganggap bahwa jemaat semestinya sanggup menanganinya. Yak 2:1-4 juga menunjukkan bahwa jemaat bisa terjebak dalam berpihak kepada orang kaya (bnd. Kel 23:6). Jangan sampai para pengkhotbah giat mengkritiki selumbar di mata pemerintah dan masyarakat, padahal ada balok di mata jemaat! Tentu, dasar untuk nasihat tadi tetap adalah anugerah Allah yang berpuncak dalam Kristus. Kristus membuktikan bahwa Allah tidak mendustai umat-Nya dengan janji-janji berkat-Nya, dan Kristus menunjukkan bagaimana Allah menolong kita ketika kita masih musuh, sehingga yang terasing dari Allah bisa menjadi dekat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.