Oktober 10, 2008
Perjalanan misioner kedua yang dijalani Paulus dikisahkan dalam Kis 16-18, dengan serangkaian cerita dalam 16:11-18:16 yang mengikuti pola yang kurang lebih sebagai berikut: Paulus pergi ke tempat yang baru (di sini Tesalonika, a.1); dia menemukan orang Yahudi dalam ibadah dan memberitakan Kristus kepada mereka (a.2-3); ada yang jadi percaya (a.4); dan juga ada yang mengusir (aa.5-9), sehingga Paulus harus pergi ke tempat yang berikut (a.10). Dengan demikian berulang kali kita melihat semangat Paulus dalam menginjili serta keuletannya menghadapi perlawanan.
Dalam peristiwa ini Lukas hanya meringkas pemberitaan Paulus, barangkali karena lengkapnya mirip dengan yang disampaikan di Antiokia Pisidia (13:16-47). Di sini ada dua pokok. Dari PL, yang diterima sebagai kitab suci oleh orang Yahudi, dibuktikan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Kemudian, diperlihatkan bahwa Yesuslah yang memenuhi nubuatan itu. Kepada orang di Atena Paulus akan memakai cara penyampaian yang lain (17:22dst), karena PL tidak ada artinya bagi mereka. Itulah sifat misioner Paulus yang kontekstual. Namun, tetap penting bagi kita orang non-Yahudi bahwa kedatangan Yesus bukanlah suatu kebetulan, tetapi sudah lama direncanakan Allah.
Yang menjadi soroton dalam perikop ini ialah reaksi orang Yahudi ketika cukup banyak anggotanya bergabung dengan Paulus, khususnya orang Yunani yang sudah lama bergabung di tempat ibadah itu. Cara mereka sudah lazim di Indonesia juga, yaitu mendesak sidang dengan keributan kelompok sewaan. Tuduhan mereka dibuat-buat (aa.6-7), tetapi saya rasa Lukas memuatnya karena ada benarnya juga. Maksudnya, Paulus dkk tidak memberontak terhadap Kaisar dengan mengikuti Yesus, malah orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi taat kepada pemerintah. Tetapi pada segi yang lain, kesetiaan orang kristen pertama-tama tertuju kepada Allah, sehingga bukan Kaisar yang dianggap penyelamat, pelindung, sumber kehidupan.
Saya rasa pengalaman Paulus menjadi kemungkinan untuk semua yang memberitakan Kristus. Jika ada yang pindah keyakinan, yang ditinggalkan bisa saja cemburu. (Apakah itu yang melatarbelakangi sebagian penutupan jemaat di Jawa belakangan ini?) Juga, jika hati kita lebih mengandalkan Allah daripada pemerintah, bisa saja pemerintah gelisah. Syukur tidak selalu begitu, sebagaimana dilihat di Berea, kota berikut dalam perjalanan Paulus, di mana orang Yahudi baik hati. Tetapi kita harus siap menanggung risikonya.
Leave a Comment » |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Kesaksian, Penganiayaan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Juni 25, 2008
Cerita tentang Ananias dan Safira yang menakutkan ini terletak antara gambaran tentang praktek membagi-bagikan harta kepada orang yang berkebutuhan dan komentar tentang tanda dan mujizat para rasul. Sama seperti peristiwa Akhan meperingati Israel di tengah suksesnya merebut tanah Kanaan (Yos 7), peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Sebagaimana pernah dikatakan, “di jemaat tempat orang lumpuh berjalan, pendusta mati”. Allah yang hadirat-Nya membawa keselamatan, pembaruan dan mujizat adalah Allah yang kudus.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Dosa, Hukuman, Kekudusan, Pertobatan, Roh Kudus, Spiritualitas, Teknis |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 27, 2008
Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.
Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:
- Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
- Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).
Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.
Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.
Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?
1 Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Bait Allah, Hermeneutika, Kesaksian, Misi, Perselisihan, Roh Kudus |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 27, 2008
Ada yang mengusulkan bahwa kita harus mengikuti Yesus, bukan para pengikut Yesus. Bagi Lukas dalam perikop ini perbedaan itu tidak berlaku. Kisah Stefanus justru menunjukkan kesejajaran dengan Yesus. Stefanus melakukan berbagai tanda di depan umum sehingga menimbulkan perlawanan, namun lawannya tidak bisa mengalahkannya (Kis 6:8-10). Kemudian dia diseret ke hadapan Mahkamah Agung atas tuduhan palsu mengenai Bait Allah (6:13-14). Ketika dia mau meninggal dia berdoa supaya para pembunuhnya diampuni (7:60). Dalam kuasa Roh Kudus Stefanus menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Namun ada juga perbedaan yang menunjukkan bahwa Stefanus hidup dalam tahap setelah Yesus dalam Kisah Agung Alkitab, yaitu zaman Roh dan pemberitaan yang merupakan hasil kematian dan kebangkitan Kristus. Mukanya “seperti seorang malaikat” (6:15) barangkali karena adanya Roh Kudus (6:10). Kemudian dia berbicara panjang lebar, beda dari Yesus yang kesaksian-Nya pada pengadilan-Nya pendek. Pun kematian Stefanus tidak membawa perjanjian baru seperti kematian Yesus (Lk 22:20). Pengikut Yesus seperti Stefanus menunjukkan bagaimana kita mengikuti Yesus bukan dengan peniruan tetapi dengan cara yang cocok dengan tahap kita dalam sejarah Kerajaan Allah, yaitu zaman Roh yang juga merupakan zaman pemberitaan.
1 Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Kekudusan, Kesaksian, Roh Kudus |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 22, 2008
Dalam bagian awal Kisah Para Rasul, perikop ini merupakan gambaran pertama tentang jemaat sebagai Israel yang mulai diperbarui oleh Roh Kudus. Gambaran itu mulai dan berakhir dengan penambahan jumlah orang percaya (41, 47b). Di dalamnya ada semacam kesimpulan dulu (42) yang dijelaskan dalam aa.43-47a.
Struktru tadi saya jelaskan supaya nyata bahwa persekutuan bagi Lukas bukan sebagai pengganti misi melainkan sebagai pendukungnya. Yang ditambahkan adalah mereka yang menerima khotbah Petrus yang berbicara tentang Kristus, dan mereka disebut sebagai orang-orang yang diselamatkan. Bahasa penginjilan seperti “menyelamatkan jiwa” justru berasal dari perikop seperti ini. Menawarkan Kristus supaya ada yang bergabung dengan jemaat-Nya adalah konsep misi Lukas di sini.
Ada empat hal dalam a.42. Pengajaran rasul-rasul (yang tertuang dalam PB sekarang) disebut pertama, karena memang definisi kelompok ini adalah mereka yang menerima Kristus, dan mereka perlu memahami siapa dan bagaimana Kristus itu. Kedudukan para rasul diteguhkan oleh mujizat dan tanda (43). Persekutuan diuraikan dalam rangka rezeki, supaya tidak ada yang kekurangan (44-45). Tetapi apa yang kita sebut sebagai persekutuan juga muncul, yaitu doa (di Bait Allah, 46) dan perjamuan (di rumah!–memecahkan roti merujuk pada Lk 22:19). Dalam kedua kegiatan itu mereka berbagi makanan dengan sikap hati yang baik (46b) dan hubungan dengan Allah dan masyarakat yang tepat (47a).
Tentu Lukas mau supaya kita mengikuti teladan mereka, tetapi nyata juga bahwa gambaran ini adalah contoh yang ideal, bukan aturan. Pendeta sekarang bukan rasul sehingga harus mengadakan mujizat, dan belum tentu kita harus menjual harta untuk mendukung yang miskin atau berdoa di sebuah gedung yang suci. Namun, hal itu bukan alasan untuk kita pelit, jarang berdoa dan cuek terhadap Alkitab. Jemaat seperti itu belum tentu akan melihat orang di sekitarnya mau bergabung!
1 Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Kasih, Roh Kudus, Spiritualitas |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 15, 2008
Hari minggu setelah hari Pentakosta adalah Hari Tritunggal (kecuali dalam denominasi yang mengabaikannya saja). Alasannya mudah-mudahan jelas dalam uraian di bawah. Satu masalah doktrin tritunggal adalah bahwa orang mulai dari hasil konsili-konsili yang dirumuskan pada abad ke-4 dst, kemudian menjadikan itu sebagai substansi doktrin itu (entah untuk didukung entah untuk ditolak). Padahal para teolog yang bergumul itu mengaku menafsir Alkitab. Renungan ini menafsir Alkitab. Yang muncul tentu tidak serumit hasil pergumulan beberapa abad, tetapi saya harap sudah berguna untuk menerangkan hidup kita dengan Allah.
Khotbah Petrus terdiri dari refleksi atas tiga nas PL. Dia mulai dengan menjelaskan bahwa fenomena yang sedang diamati oleh orang banyak adalah pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yoel. Pada masa Yoel, Israel mengalami tulah belalang. Allah menyerukan pertobatan (Yoel 2:12dst), dan janji-Nya bila mereka bertobat mencakup pemulihan tanah Israel (2:18dst), yang disusul dengan pencurahan Roh Kudus (2:28-29, sebagai pemulihan hati bangsa? [bnd. 2:12-13]) dan datangnya hari Tuhan serta keselamatan daripadanya (30-32). Hari Tuhan itu dijelaskan lebih lanjut sebagai penghukuman bangsa-bangsa (p.3). Pola hukuman-keselamatan yang bermuara pada Israel dipulihkan di atas bangsa-bangsa musuh adalah pola kisah tentang didirikannya Kerajaan Allah, seperti dipersoalkan murid-murid Yesus sebelum Dia naik (Kis 1:6).
Sepertinya bagian nubuatan Yoel tentang Roh Kudus tidak perlu dijelaskan, karena yang menjadi pokok perhatian ialah Kis 2:21, dan khususnya siapakah Tuhan yang nama-Nya diserukan. Aa.22-36 menjelaskan hal itu dalam beberapa tahap.
- Aa.22-23 menceritakan pokok-pokok riwayat Yesus yang dikenal secara umum, yang mengidentifikasi Yesus mana yang dibahas.
- Aa.24-32 membuktikan Yesus sebagai Mesias (= Kristus). Petrus memakai Mzm 16 yang dikaitkan dengan perjanjian Allah dengan Daud (2 Sam 7) untuk membuktikan bahwa Mesias (= Kristus) akan bangkit (aa.25-31). Di sekitar argumentasi itu terdapat kesaksian para murid bahwa Yesus itu telah bangkit (aa.24, 32, hal itu mungkin belum diketahui secara umum).
- Aa.33-36 membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Nasnya Mzm 110 yang membuktikan bahwa Daud sendiri bukan Mesias yang akan duduk di sebelah kanan Allah. Pencurahan Roh yang baru disaksikan orang banyak adalah bukti bahwa Yesus yang telah naik ke sana (a.33).
- Dengan demikian Petrus dapat menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus. Pengulangan tuduhan “yang kamu salibkan” (a.37) memicu pertanyaan orang banyak dalam a.38, karena jelas para pembunuh Mesias tidak akan luput pada hari Tuhan!
Jawaban Petrus yang terakhir menarik, karena dalam menjelaskan pertobatan dia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus (a.38). Yoel mengatakan bahwa siapa yang berseru kepada nama Tuhan (Yahweh, nama Allah, yang diterjemahkan dengan kata Yunani kurios) akan diselamatkan. Petrus menerapkan nubuatan itu pada nama Yesus. Yesus telah dilantik sebagai kurios yang nama-Nya menyelamatkan. Bukannya Dia menggantikan atau melebur dengan Allah–sebaliknya Yesus menerima Roh Kudus dari Allah Bapa [kata Bapa hilang saja dari LAI!] untuk dicurahkan ke atas umat-Nya (a.33). Tetapi Yesus memegang nama Allah itu, sehingga Dia tergolong dengan Allah. Kemudian, dalam narasi kitab Kisah Para Rasul Roh Kudus (yang selalu tergolong dengan Allah) digambarkan dengan kepribadian–dicobai (5:9) dan berbicara (13:2 dsb).
Secara sederhana kita lihat di sini bahwa penyelenggaraan penyelamatan Allah sudah dibagi tiga. Allah memanggil (a.39, yang mengutip bagian akhir Yoel 2:32 yang tidak dikutip di atas), pengampunan dan identitas (baptisan) terdapat dalam Kristus sebagai kurios, dan Roh Kudus diterima untuk suatu hidup baru (aa.42-47). Bentuk tritunggal sudah muncul ketika Yesus lahir dan dibaptis. Sejak hari Pentakosta, seluruh hidup gereja berbentuk tritunggal. Keselamatan bukan hanya soal dipanggil Allah Bapa (untuk berjuang tanpa harapan yang jelas), bukan hanya soal diampuni dalam Kristus (tanpa ada kuasa untuk berubah), dan bukan hanya soal pembaruan oleh Roh. Ke-3,000 orang Israel yang menerima penawaran Injil pada saat itu mengalami keselamatan yang utuh dari Allah tritunggal. Penawaran yang sama ada bagi kita.
Leave a Comment » |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Eskatologi, Hukuman, Tritunggal |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 8, 2008
Peristiwa pencurahan Roh Kudus boleh dikatakan sebagai penggerak kisah tentang kesaksian para rasul sesuai dengan perintah Yesus (1:4-5). Polanya muncul dalam 2:4, “penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata”. Pola itu sudah dilihat dalam Lk 1:41-42 (nyanyian Elisabet), dan diteruskan oleh Petrus kepada para pemimpin Yahudi (Kis 4:8), seluruh jemaat di hadapan tekanan (4:31), dan Paulus (13:9-10). Roh Kuduslah yang memungkinkan pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan Allah.
Yang khas dalam perikop ini adalah semacam anti-Babel. Di dalam Kej 11:9, manusia tersebar dan menjadi bangsa-bangsa yang terpisah satu dengan yang lain oleh perbedaan bahasa. Di sini, orang-orang Yahudi dari bangsa-bangsa berkumpul kembali dan mendengar dalam bahasanya sendiri. Jadi, kunci perikop kita terdapat dalam a.11b, “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Jika kematian Yesus menghapus dosa dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut, peristiwa anti-Babel ini menunjukkan bahwa pemberitaan kepada segala bangsa tentang karya keselamatan Allah itu tidak akan dihalangi oleh perbedaan bahasa. Syukur zending Eropa tidak menganggap bahwa suku yang lain tidak dapat dijangkau oleh Injil! Kalau gereja sekarang…
1 Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Kesaksian, Roh Kudus |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Mei 8, 2008
Kis 1-2 berbicara tentang munculnya jemaat sebagai wahana Kerajaan Allah yang telah didirikan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Misi jemaat dijelaskan dalam 1:1-11, yaitu bersaksi tentang Yesus oleh kuasa Roh Kudus. Keutuhan para rasul yang terganggu oleh pembunuhan diri Yudas diperbaiki oleh pemilihan Matias sebagai rasul dalam 1:11-26. Kis 2 menceritakan pencurahan Roh Kudus itu (2:1-13) serta kesaksian pertama tentang Yesus (2:14-40), sehingga suatu umat mulai terbentuk (2:41) yang sifatnya digambarkan sebagai contoh (2:42-47 dan pasal-pasal berikut).
Setelah penugasan para rasul oleh Yesus ketika Dia naik ke sorga, murid-murid-Nya bertekun bersama dalam doa. Tema kesehatian bermunculan dalam kitab ini. Ternyata dalam penantian mereka, ada dua tugas yang terkait dengan pengkhianatan Yudas. A.20 menjadi kuncinya, dengan dua nas yang dikutip Petrus. Kedua nas (Mzm 69:26; 109:8) menyangkut hukuman terhadap orang yang berbuat jahat kepada orang yang benar. Kedua nas diterapkan ke dalam konteks Yesus (Yesus adalah penderita yang benar, Yudas adalah yang berbuat jahat kepada-Nya) sesuai dengan ajaran Yesus sendiri bahwa Kitab Suci digenapi di dalam riwayat-Nya (Lk 24:44-45). Dalam konteks ini, barangkali Yesus dilihat sebagai penderita yang paling benar, yang pengalaman-Nya mencakup penderita-penderita yang lain yang menderita karena kebenaran, sehingga kedua nas lebih lagi berlaku untuk Yudas.
Nas pertama yang dikutip Petrus sudah digenapi dalam kematian Yudas yang mengerikan yang diceritakan sebelum a.20. Cerita Lukas sangat lain dari cerita Matius (Mt 27:3-9). Suatu harmonisasi dapat dibuat demikian: Lukas meringkas pembelian sebidang tanah oleh imam-imam kepala seakan-akan Yudas membeli; Yudas meninggal dengan cara yang mencakup menggantung diri dan perutnya terbelah; dan dua versi rakyat tentang artian “Tanah Darah” dipakai. Tetapi selalu yang lebih penting adalah alasan masing-masing penulis. Matius menonjolkan pengkhianatan Yudas ketimbang ketidakbersalahan Yesus, sedangkan Lukas menonjolkan hukuman yang jatuh ke atas Yudas. Hanya detail yang sesuai yang diceritakan.
Nas kedua yang dikutip Petrus memberi alasan untuk memilih pengganti Yudas. Lukas telah menyebutkan kesebelas rasul yang berkumpul (a.13, 26), sehingga kemungkinan besar Lukas (dan mereka) melihat pentingnya para rasul menjadi genap 12 sebagai wakil Israel (bnd. Lk 22:30). Prasyarat untuk menjadi pengganti memperjelas tugas kesaksian yang diembankan Yesus kepada mereka. Kebangkitan adalah inti kesaksian, tetapi tanpa konteks seluruh pelayanan Yesus mulai dengan pembaptisan-Nya, kesaksian itu tidak akan lengkap. Kesaksian itu diteruskan bukan dalam pengalaman kita melainkan dalam Alkitab. Pengalaman kita sebagai respons terhadap Injil memang penting, tetapi itu bukan Injil. Injil menyangkut Yesus, dan “kesaksian pribadi” harus selalu bermuara pada sumber itu.
1 Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Hermeneutika, Hukuman, Kebangkitan, Kerasulan, Kesaksian |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
April 28, 2008
Kerajaan adalah tema sentral dalam seluruh Alkitab. Pertanyaan para murid pada a.6 tentang pemulihan kerajaan bagi Israel bukannya tidak tepat. Kerajaan yang mereka maksudkan tidak lain dari Kerajaan Allah (KA) yang dibicarakan Yesus selama 40 hari. Dalam PL, patron KA terdapat dalam taman Eden sebagai tempat di mana Allah menjadi Raja atas umat-Nya. Israel dimaksud sebagai perwujudan kembali KA itu, tetapi gagal. Berbagai nabi mengharapkan pemulihan Israel sebagai inti dari pemulihan seluruh dunia (mis. Yes 2:1-4). Jadi, Yesus tidak membantah pertanyaan mereka, melainkan mengarahkannya ulang (a.7-8a). Pemulihan Israel yang diawali dengan seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat akan berpuncak dengan pencurahan Roh Kudus, janji Bapa itu (a.5, seperti dalam Yoel 2:28-32 yang dikutip Petrus pada hari Pentakosta, sepuluh hari kemudian).
Dengan demikian ada tugas bagi para murid Yesus sebelum mereka duduk di atas takhta menghakimi Israel (Lk 22:30)! Oleh kuasa Roh Kudus mereka akan menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Itulah bentuk KA untuk sementara (sampai Dia kembali dengan mulia). Yesus naik ke sorga sebagai kurios (penguasa tertinggi) dan Kristus (Raja dan Juruselamat Israel yang dijanjikan PL). Dia memerintah melalui umat-Nya yang bersaksi tentang Dia, sehingga bangsa-bangsa bertobat dan tunduk kepada-Nya sebagai Raja—dengan sukarela karena diyakinkan oleh Roh, bukan karena dipaksakan. Seluruh kitab Kisah Para Rasul memberi kita gambarannya. Cara gereja hidup bersama, bersaksi oleh kuasa Roh dan mengikuti tuntunan Roh menerapkan makna Yesus sebagai Raja.
& Komentar |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Eskatologi, Kenaikan, Kesaksian, Roh Kudus |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
April 16, 2008
Aduh! Paulus dan Barnabas baru berhasil menyatukan jemaat Yahudi di Yerusalem dengan jemaat-jemaat bangsa-bangsa (Kis 15:25). Kemudian mereka sendiri terpecah! Dan Lukas merekamnya!
Menarik untuk melihat kata Paulus dan Barnabas dalam konkordansi untuk pp.13-15. Barnabas tidak disebut tanpa Paulus, dan Paulus hampir tidak disebut tanpa Barnabas. Mereka sepertinya tak terpisahkan. Hal itu berarti bahwa perpisahan mereka pasti membawa duka. Namun, ada beberapa hal positif di dalamnya.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Kisah Para Rasul | Ditandai: Pelayanan, Perselisihan |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan