Kis 5:1-11 Mendustai Roh di dalam jemaat [7 Juli 2013]

Juli 1, 2013

Cerita ini mengejutkan, dan tidak layak dijinakkan. Mungkin ada Ananias dan Safira di dalam jemaat kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat. Jangan sampai khotbah memberi kesan, “Allah tidak tega, tidak apa-apa”.

Penggalian Teks

Kisah Para Rasul 4 menceritakan kemenangan jemaat yang luar biasa. Petrus dan Yohanes dapat bersaksi di hadapan sidang tua-tua Yerusalem, dan setelah mereka dilepaskan, doa jemaat sangat berkuasa (4:30-31). Kemudian, dalam 4:32-37, Lukas memberi gambaran lagi tentang jemaat perdana, yang mirip dengan 2:41-47. Yang menonjol adalah pembagian harta untuk yang berkekurangan, tetapi hal itupun adalah bagian dari kesaksian mereka tentang pola hidup di bawah Yesus sebagai Raja (4:27).

Cerita ini mulai dengan penjualan tanah (1). Hal itu sudah disebut dua kali sebelumnya. Kali pertama memperkenalkan pola ini, dengan alasannya (4:34-35). Kali kedua menceritakan orang tertentu sebagai contoh—Barnabas yang kemudian menjadi terkenal sebagai kawan Paulus (4:36-37). Jadi, cerita ini adalah kali ketiga. Kali ketiga biasanya adalah puncaknya, pikirkan saja domba, dirham, kemudian anak yang hilang dalam Lukas 15; jelas bahwa cerita anak yang hilang melanjutkan kedua cerita sebelumnya, tetapi dengan kejutan dan penambahan makna. Kejutan muncul dalam cerita ini dalam a.2. Kata “menahan” (nosfizo) dipakai pas satu kali dalam LXX (PL versi bahasa Yunani), yaitu dalam Yos 7:1 untuk menggambarkan dosa Akhan. Hal itu sangat menarik, karena tempatnya dalam kisah yang lebih luas, sama. Israel baru mengalami kemenangan besar di Yerikho, sama seperti gereja perdana di Yerusalem. Tetapi, tiba-tiba ada oknum yang berbuat jahat dan merusak gambaran yang ideal itu.

Israel baru mengetahui bahwa ada dosa ketika mengalami kekalahan yang berat dan berdoa kepada Tuhan. Tetapi, Petrus langsung mengetahui, dan berbicara dengan suara kenabian, bukan tentang masa depan tetapi tentang makna kondisi Ananias sekarang (3-4). Ucapan Petrus menjelaskan tindakan Ananias dalam bingkisan tentang motivasi. Tindakannya tidak apa-apa: tanah yang dijual adalah milik Ananias, dan hasil penjualannya juga adalah milik Ananias (4a). Yang disoroti ialah dusta Ananias. Ananias berdusta kepada manusia (jemaat), tetapi, karena Roh Kudus ada di dalam jemaat (3a), Allah ikut didustai (4b). Dusta itu berasal dari hati Ananias (4a). Hati (kardia) dipakai untuk inti seluruh batin manusia, termasuk tidak hanya perasaan tetapi juga rencana dan maksud. Rencana itu muncul dalam hati Ananias, tetapi dilengkapi oleh Iblis (3a). LAI “dikuasai” secara harfiah adalah “dipenuhi” (pleroo). Pkh 8:11 dan Est 7:5 memakai bahasa yang sama dengan maksud “diberanikan”. Ananias tidak kerasukan Iblis, tetapi kuasa dalam hati untuk melakukan tindakan itu diberikan oleh Iblis.

Ananias langsung mati, dan Lukas memakai kata untuk mati (ekpsukho) yang hanya dipakai dua kali lagi, satu kali untuk Safira, dan satu kali untuk Herodes yang menghujat Allah (Kis 12:23).

Ketika isterinya datang, Petrus memberi kesempatan bagi dia untuk tidak berdusta, tetapi Safira tetap berdusta (8). Kembali Petrus menafsir rencana mereka, bahwa mereka mencobai Roh Tuhan. Sepertinya, mereka menganggap bahwa dusta mereka akan berhasil, karena manusia yang mereka dustai tidak akan bisa tahu. Karena Roh ada di jemaat yang mereka dustai, mereka menguji kemampuan Roh untuk mengetahui dusta. Ternyata Roh Kudus mampu.

Jadi, kedua pendusta itu dimusnahkan dari jemaat, sama seperti Akhan sekeluarga. Hal itu menimbulkan ketakutan (11), paling sedikit dalam ketelitian untuk tidak meremehkan Roh Kudus yang ada di dalam jemaat. Tetapi, sama seperti Israel, jemaat tidak disesatkan dari perjuangannya, dan firman Allah tetap disebarkan.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini memberi peringatan bahwa mendustai jemaat berarti mendustai Allah yang hadir di dalam jemaat melalui Roh-Nya. Peringatan itu menyangkut sifat dari tindakan itu sebagai dosa yang berakibat maut. Sifatnya sebagai dosa yang berat dilihat karena Iblis senang bergabung di dalamnya. Kematian mereka melambangkan bahwa mereka sudah terpisah dari kehidupan ilahi di dalam Kristus.

Makna

Jika Israel di bawah Yosua dan gereja perdana disejajarkan dalam cerita ini, adalah berguna untuk memperhatikan betapa bedanya perjuangan masing-masing. Cara Kerajaan Allah berkembang sudah berubah; sama seperti bentuk umat Allah (sebagai persekutuan bukan bangsa).

Namun, sikap Allah terhadap dosa tidak berubah. Sama seperti Israel dipanggil untuk menjadi umat yang kudus, gereja adalah bibit dari dunia mendatang yang sudah diperbaharui. Allah tidak menghukum setiap pelanggaran Israel seperti Akhan, dan juga tidak menghukum semua jemaat seperti Ananias dan Safira. Dalam kemurahan-Nya, satu peristiwa yang keras sudah cukup untuk menjadi peringatan. Hanya jika peringatan itu tidak dihiraukan, maka Allah mungkin perlu kembali ke cara yang lebih keras. Ingat bahwa dalam 1 Kor 11:27-30, Paulus mengatakan bahwa ada jemaat yang sakit atau bahkan meninggal, karena memakan roti dan anggur dengan cara yang tidak layak.

Kisah ini, bersama dengan nas Paulus itu, agak bertentangan dengan pemahaman yang sering disampaikan bahwa penderitaan jangan dianggap sebagai akibat dosa. Alasan pastoralnya cukup baik: kita tidak mau memberatkan jemaat yang sudah menderita dengan rasa bersalah yang semu. Tetapi, alasan itu hanya satu segi. Yang jelas dalam Alkitab ialah bahwa dosa dan penderitaan bukan sebab-akibat yang otomatis. Kita tidak boleh menyimpulkan adanya dosa dari adanya penderitaan; dan kita tidak boleh menyimpulkan adanya kebenaran dari tiadanya penderitaan. Tetapi, nas Paulus di atas mengajak kita untuk merenung ketika menderita, Apakah ini adalah didikan Tuhan yang mau membawa saya kepada pertobatan? Kadangkala, orang yang sakit sadar akan dosanya, dan membutuhkan penggembalaan yang menyentuh hal itu. Kadangkala, dosa orang yang sakit itu sangat kentara bagi orang-orang lain, dan masa lemahnya menjadi kesempatan untuk penggembalaan yang lebih dalam. Lebih lagi, Petrus tidak menunggu Ananias sakit untuk memberitahukan dosanya. Tidak jelas apakah Petrus menduga bahwa Ananias akan langsung mati, tetapi dia memberi kesempatan untuk bertobat kepada isterinya. Penggembalaan Petrus tidak menjaga perasaan di atas pertobatan.

Dan bukannya bahwa tidak ada yang terancam maut dalam konteks kita sekarang. Gereja yang berhasil menjadi wadah gengsi dan prestise, sehingga orang tergoda untuk mencari hal-hal itu dengan tidak jujur. Tetapi, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Mereka tidak mengenali Roh Kudus di dalam jemaat, dan kebutaan itu adalah pertanda kebinasaan jika mereka tidak menguji diri dan bertobat.


Kis 2:41-47 Budaya jemaat milik Kristus [28 April 2013]

April 22, 2013

Perikop kita, lebih lagi aa.44-45 yang menjadi nas, terlalu manis. Teladan di dalamnya begitu indah dan menakjubkan sehingga kita bisa memaparkan teladan itu tanpa mengingat bahwa pola seperti itu amat sulit. Kita bisa juga lupa bahwa Lukas menempatkan gambaran ini dalam sebuah visi yang lebih luas, yaitu pemerintahan Kristus. Baik visi itu maupun pola seperti dalam perikop kita tidak asing dalam kehidupan bergereja, tetapi selalu perlu dikuatkan. Semoga jemaat tergugah oleh visi pemerintahan Kristus dan tergerak oleh teladan gereja perdana.

Penggalian Teks

Tentu, perikop ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya. “Perkataan” yang diterima (41) adalah pemberitaan Petrus. Petrus memberitakan bagaimana Yesus telah menjadi “Tuhan dan Kristus” (2:36). Kata “Tuhan” (kurios) adalah gelar untuk kaisar Romawi (kata kurios berarti “tuan”, belum tentu “Tuhan”, tetapi para kaisar sudah dianggap ilahi pada zaman itu). Kata “Kristus” berarti Mesias orang Israel. Jadi, kedua istilah itu berarti bahwa Yesus adalah Raja. Raja seperti apa? Sebelum Yesus naik ke surga, para murid masih membayangkan bahwa Yesus akan memerintah dari Yerusalem melalui Israel yang berjaya (1:6-7). Yesus tidak menolak gagasan itu (lihat Wahyu 21:22-22:5!), tetapi menundanya. Sebelum Dia datang kembali, Dia akan memerintah dari sebelah kanan Allah di surga. Murid-murid-Nya bertugas untuk bersaksi tentang Dia supaya orang-orang dari segala bangsa masuk ke dalam kerajaan-Nya, dalam kuasa Roh Kudus yang menuntun dan menguatkan kesaksian itu. Perikop kita menyampaikan gambaran umum tentang pola hidup orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Raja.

Perikop kita mulai dengan hasil pemberitaan Petrus sebagai kesaksian (satu jumlah besar, a.41), dan berakhir dengan hasil pola hidup itu sebagai kesaksian (banyak jumlah kecil, terus-menerus, a.47). Aa.41-42 meringkas pola hidup mereka, dan aa.43-47 menunjukkan bagaimana kehadiran mereka membawa kesaksian.

Aa.41-42. Mereka dibaptis sebagai tanda menjadi bagian dari Yesus (“dibaptis dalam nama Yesus”, a.38), sehingga menerima pengampunan dan karunia Roh Kudus. Pengampunan itu bukan karena dosa kecil saja: para pendengar Petrus termasuk yang membiarkan atau merencanakan pembunuhan Yesus (2:36). Semestinya Raja Yesus langsung membalas dendam terhadap semua musuh-Nya untuk menegakkan kebenaran dan kuasa. Tetapi cara Allah berbeda, dan pengampunan yang ditawarkan dulu, disertai Roh Kudus supaya ada pembaruan.

Respons, atau penghayatan jemaat, termasuk empat hal: pengajaran serta persekutuan, dan pemecahan roti serta doa. Pengajaran menjelaskan makna baptisan dalam Kristus, sedangkan persekutuan di dalam Kristus mewujudkan makna itu. Satu wujud utama persekutuan itu adalah pemecahan roti. Hal itu pasti termasuk peringatan akan Yesus yang kita sebut perjamuan kudus, tetapi mungkin lebih luas. Dengan demikian, mereka mengingat dasar persekutuan mereka sebagai pemeberontak yang diampuni oleh darah Kristus. Persekutuan bersama diiringi persekutuan dengan Allah dalam doa. Perhatikan bahwa pola ini *ditekuni*. Mereka baru diselamatkan “dari orang-orang [atau angkatan] yang jahat” sehingga perlu dibentuk kembali, dalam suatu proses yang hanya bisa dilakukan bersama, dan yang memerlukan waktu yang lama.

Aa.43-47. Inti dalam ayat-ayat ini ialah bahwa persekutuan warga kerajaan Yesus tidak menyendiri dan tidak berdiam diri. Mereka berdampak secara nyata terhadap tetangga-tetangga. Dalam a.43 hal itu terjadi melalui mukjizat dan tanda ajaib. “Mukjizat” (teras) berarti sesuatu yang menarik perhatian, yang mengagumkan. “Tanda ajaib” (semeion) berarti tanda, artinya, sesuatu yang merujuk ke sesuatu yang lain. 3:1-10 menjadi paradigma mukjizat dan tanda: penyembuhan itu dilakukan di depan umum dalam nama Kristus.

Selain penyembuhan oleh para rasul, saya duga aa.44-47a juga dimaksud sebagai keajaiban yang merujuk kepada Kristus. Aa.44-45 berbicara tentang pembagian harta secara nyata. Maksudnya bukan bahwa kepemilikan dalam hukum dijadikan bersama—orang yang belum menjual hartanya masih bertanggung jawab atasnya, dan harta dijual sesuai keperluan, bukan supaya semua menjadi orang tidak mampu. Tetapi tanggung jawab itu ada demi seluruh jemaat Kristus, bukan untuk diri sendiri (atau keluarga saja). Pembagian harta milik ini menjadi tanda yang merujuk kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus.

Mereka juga bersekutu di Bait Allah (46a), benteng kelompok yang bersekongkol untuk membunuh Yesus. Dengan demikian, mereka menyatakan bahwa mereka bukan sekte yang harus bersembunyi, tetapi bahwa mereka bersekutu dalam Kristus, yaitu, dalam Mesias yang menggenapi semua janji Allah kepada orang Israel. Persekutuan mereka juga diadakan dalam rumah-rumah, dengan makan bersama dan memuji Allah. Pola hidup mereka jelas sebagai pola hidup yang baik, sehingga “disukai semua orang”. Tentu, bukan pola hidup itu yang membuat orang bertobat, melainkan Allah sendiri yang menggunakannya untuk membawa orang ke dalam persekutuan yang menyelamatkan itu (47).

Maksud bagi Pembaca

Lukas memberi suatu gambaran tentang wujud pertobatan kepada Yesus sebagai Raja yang memerintah dari surga melalui Roh Kudus. Wujud itu adalah suatu persekutuan kasih yang mencerminkan pengampunan-Nya dan pengorbanan-Nya bahkan dalam ekonomi mereka. Pada gilirannya, persekutuan itu menjadi kesaksian tentang sifat kuasa Yesus sebagai Raja.

Makna

Mengapa saya memakai istilah Raja, sedangkan istilah Lukas ialah “Tuhan” dan “Kristus”. Masalahnya, kedua istilah itu telah menjadi “religius”, padahal kurios dan Khristos adalah istilah yang juga politis. Religi (dalam pemahaman modern) adalah penopang kehidupan di mana kita menentukan tujuan hidup (berdasarkan kehendak pribadi atau tuntutan budaya dalam masyarakat yang lebih kolektif), dan kuasa ilahi diharap menopangnya. Tetapi Yesus sebagai Raja memiliki tujuan yang bertentangan dengan cita-cita kita—kecuali selama ini kita bercita-cita untuk memikul salib karena melawan semua kuasa yang menentang Allah.

Religi juga mengerdilkan dosa. Orang bisa saja bersyukur kepada Tuhan karena dapat membangun rumah hasil korupsi, kemudian mengaku dosa dengan sungguh-sungguh karena terganggu perasaan lekas marah atau merasa malu karena rentan terhadap godaan tertentu. Yang utama tetap diri sendiri, “Tuhan”-nya hanya penopang untuk membantu dia mengatasi masalah dan menjadi sukses, bukan tuan atau Raja atas hidupnya. Tetapi sebenarnya, orang religius adalah pembunuh Yesus—sudah pasti dia akan ikut membunuh Yesus, karena kepentingannya lebih penting daripada kebenaran—dan pemberontak terhadap Allah.

Gejala religi seperti itu adalah persekutuan yang semu, karena diri sendiri yang utama. Hal itu kebalikan dari kasih yang digambarkan dalam pembacaan kita. Sebaliknya, ketika jemaat saling membantu dengan tidak khawatir dan tidak menghitung untung-rugi, kita melihat buah yang baik dari pertobatan yang sejati. Apa yang menjembatani pertobatan dan penghayatan?

Saya kembali ke kata “bertekun” (a.42, a.46). Pengajaran tidak selesai dengan pernah dicakup dalam program katekisasi, sehingga kita membutuhkan program seperti BGA dan khotbah yang berbobot setiap minggu. Saling membagikan juga membutuhkan kebiasaan-kebiasaan yang bisa ditekuni. Mungkin pundi diakonia adalah salah satunya, mungkin salah satu lagi adalah membuka rumah untuk kebaktian rumah tangga. Adakah lagi, kawan-kawan?


Kis 2:14-21 “Penggenapan janji Roh Kudus” (27 Mei 2012; Pentakosta/Hari Lansia)

Mei 24, 2012

Peristiwa pencurahan Roh Kudus merupakan kejadian yang pokok dalam identitas gereja. Namun, maksudnya hanya dapat dilihat dengan tajam jika kita memperhatikan konteks dalam alur cerita Kisah Para Rasul, di mana Yesus telah menjelaskan maksud dari peristiwa itu.

Penggalian Teks

Yesus telah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka akan menjadi bagian dari umat Kristus dengan “dibaptis” dengan Roh Kudus (1:5), sehingga mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi (1:8). Roh disebut sebagai janji Allah, sesuatu yang menjadi jelas dalam nubuatan Yoel yang dikutip Petrus dalam perikop kita. Penggenapan janji itu ditandai dengan para murid Yesus berbicara dalam berbagai bahasa (2:4). Dua tanggapan disebutkan: sebagian tercengang-cengang (2:12), dan sebagian menyindir (2:13), sesuatu yang terjadi dalam pelayanan Yesus, dan juga lazim terhadap orang-orang benar dalam PL. Khotbah Petrus mulai dengan menanggapi sindiran itu (aa.14-15), tetapi pada dasarnya khotbahnya merupakan awal dari kesaksian para murid, dengan kuasa Roh Kudus. Dalam konteks seluruh khotbah Petrus, pencurahan Roh Kudus bukan pertama-tama tentang Roh Kudus melainkan tentang Yesus yang mencurahkan-Nya, bukti bahwa Dia telah ditinggikan (dinaikkan) oleh Allah Bapa (2:33), sehingga “seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (a.36) Nubuatan dari Yoel menjadi dasar untuk kedua hal yang ditawarkan kepada pendengar Petrus jika mereka bertobat. Yang pertama, mereka akan diampuni dalam nama Yesus (2:38), Tuhan itu, karena “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (a.21). Yang kedua, mereka akan diberi karunia Roh Kudus (2:38). Karunia itu yang diuraikan dalam aa.17-20.

Kitab Yoel berbicara tentang tulah belalang yang melanda Israel (Yoel 1:2-2:17), dan keselamatan yang menyusul setelah Israel bertobat (Yoel 2:12-27). Nubuatan itu berlanjut, “Kemudian dari pada itu” (Yoel 2:28), dan dalam ayat-ayat berikut menjadi jelas bahwa dia berbicara tentang akhir zaman, tindakan menentukan dari Allah demi keselamatan umat-Nya. Makanya, Lukas menafsir nubuat itu sebagai ucapan tentang “hari-hari terakhir”. Yesus telah bangkit, zaman baru sudah mulai, disertai penggenapan janji pencurahan Roh Allah atas “semua manusia”, tanpa membeda-bedakan orang (a.17), baik dari segi jenis kelamin, maupun dari segi usia. Dalam a.18a “hamba” juga disebut. Yoel sepertinya berbicara tentang hamba secara harfiah, karena kata yang dipakai untuk hamba perempuan tidak pernah dipakai dalam kaitan dengan Tuhan. Tetapi, Lukas menambahkan “-Ku” pada kata hamba, untuk menempatkan penerima-penerima Roh sebagai hamba Tuhan. (Gereja perdana tidak menghilangkan makna harfiah itu, karena jelas para hamba memiliki status yang sama di dalam Kristus, bdk. Gal 3:28.)

Pencurahan Roh berarti semua menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Nubuatan membawa firman Tuhan untuk menerangi sesuatu dari perspektif Tuhan. Intinya bukan ramalan tetapi penyingkapan, entah itu dosa yang disembunyikan, entah itu harapan yang tidak kelihatan. Lukas menekankan aspek itu dengan mengulang “mereka akan bernubuat” pada akhir a.18. Kedua istilah lagi tidak jauh beda maksudnya. Penglihatan sering dikaitkan dengan nubuatan dalam PL (misalnya, 1 Sam 3:1; 2 Sam 7:17), karena biasanya Allah berbicara di dalam penglihatan itu (Mzm 89:20). Sedangkan mimpi seringkali harus ditafsir untuk memahami maknanya (Kej 28:11; 40:8; 41:8; Hak 7:15, tetapi mimpi Salomo mengikuti pola penglihatan, 1 Ki 3:15). Dengan berbagai cara ini, semua orang dapat menjadi saluran penyataan dari Allah.

Kedahsyatan kejadian ini disampaikan dalam aa.19-20, yang merupakan bahasa simbolis tentang kedahsyatan kedatangan hari Tuhan itu. Hal itu tidak menutup kemungkinan akan terjadinya berbagai tanda fisik, misalnya, matahari menjadi gelap ketika Yesus mati pada salib (satu bagian penting dari kedatangan hari Tuhan). Tetapi, pada hari Pentakosta, tanda yang ajaib itu adanya berbagai bahasa yang diucapkan, bukan matahari dsb. Namun, Petrus tetap melihat bahwa nubuatan ini digenapi pada hari itu juga.

Maksud bagi Pembaca

Petrus, serta Lukas yang menyampaikan pemberitaannya, mau meyakinkan kita bahwa zaman baru telah datang, sehingga siapapun kita, dapat menerima Kristus serta karunia Roh Kudus. Dengan demikian, kita akan menjadi bagian dari tubuh Kristus dan akan dimampukan menjadi saksi Kristus dan terlibat dalam misi Allah sampai di ujung bumi.

Makna

Fungsi pokok Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul ialah pemberitaan Kristus sebagai Tuhan. Hal itu muncul-muncul dalam penceritaan Lukas, seperti 4:8, “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus”, 4:31 “mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”, dan 6:10 “Roh yang mendorong dia [Stefanus] berbicara”. Cara mereka berkhotbah mirip dengan para nabi, dengan menyingkapkan dosa dan menawarkan keselamatan yang tidak kelihatan. Mungkin juga kita bisa mengaitkan penglihatan dan mimpi dengan orang-orang dalam sejarah gereja yang memajukan kesaksian tentang Kristus karena melihat hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Tetapi hasil pemberitaan itu juga adalah jemaat (2:42-47). Di dalam jemaat itu, selain pengajaran yang membagikan pengajaran rasul-rasul (2:42), setiap anggota, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bisa menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Penyataan itu harus dibedakan dari pengajaran rasul-rasul, yang tertuang dalam PB dan merupakan dasar kepercayaan kita. Tetapi bila peran Roh Kudus dalam diri setiap anggota jemaat diabaikan, hasilnya bisa gereja yang pelayan-sentris, di mana hikmat untuk bertindak dalam persekutuan dan pemberitaan dianggap hanya ada pada golongan tertentu. Akibatnya, hanya pelayan yang bersaksi tentang Kristus, jemaat awam tidak tahu-menahu (padahal, jemaat awam banyak bergaul dengan orang yang belum mengenal Kristus); hanya pelayan yang menguatkan jemaat, jemaat awam tidak diberdayakan (padahal, jemaat yang selalu hadir saling menemani).


Kis 1:6-11 “Misi Allah diteruskan” (17 Mei 2012; Kenaikan)

Mei 15, 2012

Hari-hari perayaan tahun gerejawi, seperti hari Kenaikan, adalah perwujudan keyakinan gereja bahwa dasar iman ialah Yesus Kristus. Jemaat akan menerapkan cara hidup yang baik jika mereka menangkap kemuliaan dan kebaikan misi Allah dalam diri Yesus. Namun, sebagian jemaat lebih nyaman dengan khotbah “praktis”, yang dapat menopang mereka dalam pergumulan, atau menegur tetangganya. Saya berandai-andai tentang soal itu dalam bagian makna, dengan harapan bahwa Pelayan akan dikuatkan untuk tetap menawarkan Yesus kepada jemaat, entah mereka suka atau tidak.

Penggalian Teks

Dalam kitab Yesaya, zaman baru didatangkan oleh pelayanan Hamba Tuhan yang mati dan hidup kembali (Yesaya 53), sehingga Israel dipulihkan, dan terang Allah sampai kepada bangsa-bangsa (Yes 49:6; bdk. Yes 2:2-4). Pelayanan itu diberdayakan oleh Roh Kudus atas Hamba Tuhan (Yes 61:1), bahkan atas seluruh umat Allah (Yoel 2:28-32). Makanya, Yesus sendiri dibaptis dalam Roh Kudus (Lk 3:22), dan setelah kematian dan kebangkitan Yesus sebagai Hamba Tuhan, para murid Yesus juga akan dibaptis oleh Roh Kudus untuk meneruskan pekerjaan dan pengajaran Yesus (Kis 1:1, 5).

Mengingat pemulihan Israel sebagai salah satu tugas Hamba Tuhan, dan juga nas-nas seperti Dan 7:27, pertanyaan para murid pada a.6 itu wajar. Yesus ada di depan mereka dalam keberadaan yang mulia, siap untuk mengambil alih pemerintahan Israel dan dunia. Jawaban Yesus tidak menyangkal bahwa kerajaan akan diberikan kepada Israel, tetapi ternyata jadwal Allah berbeda dengan dugaan mereka. Visi Yes 2:2-4 tentang pengajaran Allah disebarkan kepada bangsa-bangsa akan terjadi lebih dahulu, dan itupun akan dilakukan dengan cara yang berbeda. Bangsa-bangsa tidak akan berduyun-duyun ke lokasi Yerusalem, tetapi para murid akan membawa Yerusalem, yaitu hadirat, pengampunan dan pengajaran Allah, kepada bangsa-bangsa, dengan bersaksi tentang Kristus sehingga bangsa-bangsa dapat datang kepada Dia (a.8).

Setelah menjelaskan hal itu, Yesus menghilang (a.9)! Dia menghilang dengan cara yang menunjukkan bahwa Dia naik ke surga. Jika Dia berfokus pada Israel dalam pelayanan-Nya di bumi, pada tahap berikut ini, Dia akan memimpin misi Allah dari surga melalui para murid-Nya dengan perantaraan Roh Kudus. Mereka mungkin kaget (a.10), tetapi dua malaikat memberi jawaban atas pertanyaan mereka tadi. Pemulihan Israel (dan seluruh dunia) akan dituntaskan ketika Yesus datang kembali (a.11). Keberadaan Yesus di surga saat ini adalah keberadaan sementara, yaitu, sementara mereka memberi kesaksian tentang Dia kepada bangsa-bangsa sehingga mereka juga siap menyambut Dia.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau supaya para pembaca memahami (kemudian menghayati) tempat mereka dalam misi Allah untuk memulihkan Israel dan bangsa-bangsa: mereka berada antara kenaikan Yesus dan kedatangan-Nya kembali, dengan tugas untuk bersaksi tentang Dia.

Makna

Maksud di atas cukup jelas, tetapi tidak mudah dihayati oleh banyak jemaat. Para murid sudah menghabiskan tiga tahun bersama dengan Yesus, dan sudah mulai menangkap visi-Nya tentang rencana Allah bagi dunia ini. Bagi mereka, kepergian Yesus adalah sedikit seperti kepergian kakak yang sangat disayangi ke kota yang jauh untuk mencari nafkah bagi keluarga. Nafkah yang akan dikirim oleh Yesus dari surga adalah Roh Kudus, tetapi bagaimanapun juga para murid tetap rindu akan reuni kembali dengan Guru dan Kakak mereka. (Jika meragukan istilah “kakak” untuk Yesus, silakan lihat Ibr 2:11. Tentu, istilah itu melengkapi gelar seperti “Tuhan”, bukan menggantikannya.) Kemudian, nafkah itu dikirim untuk kepentingan bersama keluarga, yaitu Kerajaan Allah. Keluarga itu adalah keluarga yang selalu terbuka untuk bertambah ramai dengan menerima anggota-anggota baru. Kedatangan kembali Yesus, Kakak tercinta, sangat didambakan.

Dengan pemahaman seperti itu, perikop ini menjadi sangat praktis. Kehidupan keseharian, suka dukanya, dan arah hidup, semuanya mendapat titik tolak atau tolok ukurnya dari kebangkitan dan kedatangan kembali Kristus. Kenaikan menjadi kabar sukacita: Yesus, Tuhan kita, berada dengan Allah untuk membekali suatu tugas yang mulia dalam dunia ini. Dengan demikian, Yesus ada di pusat pemaknaan hidup kita.

Tetapi, bagaimana kalau Yesus lebih ibarat saudara sepupu tiga kali orangtua yang merantau, yang tidak terlalu dikenal tetapi bagaimanapun juga dapat diharapkan untuk membantu-bantu? Jelas, beliau akan diminta membantu kita untuk kepentingan kita, bukan kepentingan beliau. Bantuannya tentu dihargai, tetapi pribadinya tidak terlalu didambakan, lebih lagi jika bantuannya tidak dipakai pas sesuai anggapan beliau. Yesus ditempatkan di pinggir pemaknaan hidup dengan pemahaman yang demikian.

Mengkhotbahkan perikop ini dalam jemaat seperti itu akan sulit, karena mereka tidak akan mau direpotkan dengan urusan keluarga Allah, yaitu bersaksi tentang Kristus, menjangkau orang terpinggir untuk meramaikan keluarga Allah, dsb. Mereka hanya tertarik ketika pergumulan mereka langsung dibicarakan dan suatu penghiburan ditawarkan. Cinta diri tinggi, cinta kepada Yesus kurang (walaupun tentu bantuan-Nya dihargai). Makanya, kedatangan-Nya kembali justru dikhawatirkan (sehingga tidak akan banyak dipikirkan).

Barangkali, jemaat riil ada di antara kedua pola itu, antara yang ideal dengan yang palsu. Sebagai pelayan, harapan kita yang sebenarnya akan tersingkap melalui pendekatan kita: apakah kita melayani dan meneguhkan kesempitan wawasan mereka, atau kita berusaha agar semua melihat kembali Yesus yang layak disaksikan, disaksikan kepada keluarga, di tempat kerja, di tengah masyarakat, bahkan sampai ujung bumi.


Kis 10:1-8 Doa seorang kafir yang mulai dijawab [6 Nopember 2011]

November 2, 2011

Dalam p.8 Injil sudah mulai tersebar di Samaria. Dalam p.10 ini Allah mulai mempersiapkan gereja perdana untuk keluar lebih jauh dari zona amannya, yaitu dengan bermisi kepada orang-orang yang tidak bersunat.

Penggalian Teks

Aa.1-2 merupakan pendahuluan yang memperkenalkan salah satu tokoh kisah p.10, yaitu Kornelius. Perwira pasukan (hekatontarkhes, “pemimpin 100 orang”) adalah tentara reguler yang sudah naik pangkat. Dia disebut sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah, yang langsung digambarkan dengan prakteknya memberi sedekah dan doa. “Seisi rumah” belum tentu tertentu isteri dan anak, karena tentara Romawi tidak boleh menikah sampai pensium (yang terjadi sebelum berumur 40), kecuali yang dimaksud adalah gundik (yang bisa dinikahi dengan sah ketika tentara itu pensiun). Yang pasti termasuk adalah beberapa hamba, dan kita tidak tahu siapa lagi. Tetapi ternyata kesalehan Kornelius berdampak juga pada mereka.

Aa.3-6 menceritakan perkunjungan malaikat. Penglihatan itu terjadi ketika masih siang (terang). Jam 3 petang adalah salah satu jam doa orang Yahudi, sehingga ada dugaan (yang diteguhkan dalam 10:30) bahwa Kornelius sedang berdoa. Penampilan malaikat itu tidak digambarkan di sini (bdk. 10:30), tetapi kepada sosok yang tidak dikenal yang masuk begitu saja ke dalam rumahnya ini Kornelius, perwira yang perkasa itu, tidak melontarkan hardikan melainkan takut. Kata “Tuhan” dapat juga diterjemahkan “tuan” (kurie), tetapi bagaimanapun juga Kornelius mengakui wibawa malaikat itu. Malaikat merujuk pada doa dan sedekah dalam a.2, yang telah naik ke hadirat Allah sehingga Allah memperhatikan Kornelius. Jadi, usulan untuk mencari Petrus dalam aa.5-6 adalah cara Kornelius untuk ikut dalam respons Allah terhadapnya. Mengingat cara Tuhan memakai Petrus yang begitu luar biasa pada akhir p.9 itu, kita para pendengar cerita ini pasti menduga bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi pada Kornelius. Walaupun Kornelius belum mengenal Petrus, perintah ini juga pasti membawa harapan baginya.

Aa.7-8 menceritakan bagaimana Kornelius menanggapi usul malaikat itu. Lukas memberi tekanan sedikit bahwa orang-orang di sekitarnya terlibat juga dalam proses ini, dan isi rumah Kornelius disebut-sebut dalam cerita berikut.

Maksud bagi Pembaca

Sebenarnya nas ini hanya adegan pertama dalam kisah Kornelius dan Petrus ini, sehingga tafsirannya tergantung pada tafsiran seluruh cerita. Paling sedikit, Lukas memberi gambaran yang lazim tentang kesalehan, yaitu, doa, sedekah (perhatian bagi orang miskin) dan ketaatan pada perintah Tuhan (melalui malaikat). Peristiwa ini juga menjadi penting karena Kornelius menjadi orang non-Yahudi (tidak bersunat) pertama yang menjadi percaya kepada Kristus dan menerima Roh Kudus secara jelas. Untuk memahami maksudnya dengan tepat, kita perlu menyimak akhir dari cerita ini, yaitu laporan / pertanggungjawaban Petrus kepada jemaat di Yerusalem dalam p.11. Dalam 11:14 ada tambahan dari Petrus yang tidak disebut Lukas dalam 10:5-6, yaitu bahwa Petrus “akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu”. Jadi, Lukas mau menyampaikan bahwa semua, bahkan yang paling saleh, memerlukan berita tentang Yesus untuk memperoleh keselamatan.

Makna

Dalam budaya dan agama apa saja, ada yang lebih peka terhadap soal penghormatan kepada yang layak dihormati, entah orang tua, bangsawan, atau yang ilahi. Sikap itu disebut kesalehan (eusebeia), dan adalah sesuatu yang dihargai Lukas (bdk. Lukas 1, misalnya). Namun, kesalehan juga harus dilihat dari sasarannya. Hormat kepada raja yang sah dan hormat kepada kepala gerombolan mungkin saja mirip secara psikologis, tetapi tetap berbeda sifatnya. Kesalehan Kornelius sudah dipengaruhi oleh penyataan Allah kepada Israel, tetapi kita tidak tahu sejauh mana dia hanya beribadah kepada Allah saja, atau apakah selama itu dia juga saleh terhadap berbagai dewa-dewi yang lain. Bahasa “takut akan Allah” dipakai untuk orang non-Yahudi yang telah menganut keyakinan Yahudi, tetapi juga dapat dipakai lebih luas. Yang jelas, ada doa untuk mengenal Allah atau mendapat keselamatan yang dijawab oleh Allah (10:31).

Pengalaman seperti Kornelius mewakili cerita banyak orang di kemudian hari yang mencari Allah dari dalam pemahamannya sendiri lalu Allah berkenan memperjumpakan mereka dengan Kristus. Tentu, Kristus bukan sekadar puncak dari kesalehannya. Dari sedekah dan doanya saja, Kornelius tidak tahu-menahu tentang pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus. Hal-hal itu harus diberitahukan (atau dijelaskan, bdk. 10:37) kepada Kornelius melalui pemberitaan Petrus. Namun, Allah bisa berjumpa dengan orang yang mencari-Nya di tengah kesalehannya, sama seperti Dia bisa berjumpa dengan seorang fanatik seperti Paulus di tengah fanatismenya (p.9). Roh Kudus tidak terikat oleh kadar inisiatif dan kelayakan manusia untuk membawa orang kepada Kristus.

Jika demikian, nas ini tidak membuktikan bahwa seseorang bisa selamat di luar Kristus. Sikap Lukas disampaikan oleh Petrus dalam nas Kis 4:12 yang terkenal itu (kecuali Lukas mau dianggap bersikap ironis terhadap tokoh utamanya, sesuatu yang tidak masuk akal). Namun, fokus Lukas bukan pada teori tentang nasib orang yang tidak mengenal Kristus, melainkan implikasi praktisnya, yaitu pentingnya misi yang keluar dari zona aman untuk menjangkau semua orang, dari Yerusalem ke Samaria hingga ke ujung bumi. Bahkan orang seperti Kornelius akan berbahagia jika berjumpa dengan Kristus dan dikaruniakan Roh Kudus.


Kej 41:37-45 Siap berperan besar dalam misi Allah

Juni 15, 2011

Peristiwa yang diceritakan ini merupakan titik balik dalam kehidupan Yusuf, di mana tahap pertama untuk penggenapan mimpi-mimpi Yusuf terjadi, yakni Yusuf menjadi seorang penguasa. Pasal-pasal berikut menceritakan tahap kedua, yaitu ketika saudara-saudara Yusuf bersujud di hadapan Yusuf (mimpi pertama), kemudian Yakub sekeluarga bersujud (mimpi kedua). Pada akhirnya, semuanya itu dinyatakan sebagai rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya (45:5; 50:20).

Penggalian teks

Yusuf telah mengartikan mimpi Firaun, lengkap dengan usul tentang bagaimana tujuh tahun kelimpahan itu dipakai untuk menangani ketujuh tahun kelaparan. Dalam perikop kita dilaporkan tanggapan Firaun serta semua pegawainya (a.37-38), kemudian usul Firaun (aa.39-40), kemudian pelantikan Yusuf (aa.41-43), kemudian beberapa peneguhan lagi oleh Firaun (aa.44-45). Yusuf menjadi pelaku dalam perikop sesudahnya, tetapi di sini Firaun adalah pelaku. Semangat Firaun untuk Yusuf nampak dalam pelantikannya, yang diceritakan secara terperinci, termasuk pakaian, cincin, dan memperkenalkan Yusuf kepada rakyat. A.44 menekankan lengkapnya kuasa Yusuf, dan a.45 bahwa dia menjadi terintegrasi dalam jaringan para pengauasa.

Namun, di balik keputusan Firaun ada tangan Allah, yakni Roh Allah. Roh (diterjemahkan “hati” dalam LAI) Firaun digelisahkan oleh mimpinya (41:8), tetapi pengartian serta usulan Yusuf yang begitu masuk akal menunjukkan adanya roh di dalam diri Yusuf yang hanya dapat disebut ilahi (a.38). Roh itu yang mendasari akal budi dan kebijaksanaan Yusuf (a.39), sehingga Firaun merasa sangat membutuhkan jasa Yusuf untuk menghadapi masalah yang akan datang.

Maksud bagi pembaca

Mimpi Yusuf (p.37) menimbulkan ketegangan dalam pembaca / pendengar kisah Yusuf, karena setiap saat dia mulai berhasil, ada bencana lagi yang tidak adil yang memaksa Yusuf untuk bersabar lagi. Yusuf mewakili orang bijak yang takut akan Tuhan namun tidak dapat penghargaan yang semestinya. Dalam perikop ini ketegangan itu hilang, karena dia mendapat pengangkatan yang dahsyat dan tak terduga. Dia mengalami pembalikan nasib yang diharapkan oleh semua orang bijak dalam kesusahan, bahkan dia mewakili nasib yang semestinya dari bangsa Israel, yaitu menjadi penguasa yang menyelamatkan atas bangsa-bangsa. Tetapi hal itu tidak lepas dari kebijaksanaannya yang diberikan oleh Roh Kudus. Yusuf menjadi berguna di mana saja dia ditempatkan, dan dia dilantik bukan hanya untuk menyelamatkan Israel tetapi juga Mesir. Sepanjang sejarah Israel dia adalah teladan kegunaan orang bijaksana, dan lebih lagi ketika Israel mulai tinggal di tengah bangsa-bangsa setelah pembuangan, dia menunjukkan bahwa kebijaksanaan itu memuliakan sumbernya, Allah, karena berguna bagi semua.

Makna

Dalam perikop ini kita melihat bagaimana Yusuf mulai berperan besar dalam misi Allah oleh karena kebijaksanaan dari Roh Allah.

Roh Allah dalam PL hanya diberikan kepada orang-orang tertentu, termasuk orang-orang yang memerlukan hikmat untuk suatu tugas, termasuk Bezaleel (Kel 31:3), Musa dan tua-tua Israel (Bil 11:17, 29) serta para nabi dan para raja. Musa menyatakan harapan supaya seluruh umat Allah boleh menikmati Roh Allah (Bil 11:29), dan nubuatan Yoel 2:28-32 yang terkenal itu meneguhkan harapan itu. Orang percaya di dalam Kristus telah menikmati penggenapan nubuatan itu, sehingga memiliki hikmat oleh Roh, suatu hikmat yang berpusat pada salib Kristus (1 Kor 1-2). Oleh karena itu, Paulus dapat berdoa bagi jemaat supaya dengan segala macam pengertian mereka penuh dengan buah kebenaran dan memuliakan Allah (Fil 1:9-11).

Tentu, pemahaman tentang Roh Allah masih samar dalam PL dibanding dengan pemahaman PB tentang Roh sebagai Penghibur pengganti Kristus. Lebih lagi pemahaman Firaun. Dia seorang politeis, dan pada saat ini sama sekali belum mengenal Yusuf atau Allah yang dipercayai Yusuf. Kemungkinan besar yang dia maksud ialah “roh dari dewa-dewa” atau “roh ilahi”, mengingat bahwa kata ’elohim (Allah) berbentuk jamak sehingga dapat berarti “dewa-dewa”. Namun, kita memahami apa yang dirujuk oleh Roh di sana dalam terang penyataan seluruh Alkitab. Yang memampukan Yusuf menjadi orang bijak tidak lain dari Roh Kudus yang turun ke atas Yesus dan kemudian ke atas kita, murid-murid-Nya, sejak hari Pentakosta. Makanya, kita dapat mengangkat Yusuf sebagai teladan.

Teladan bukan hanya dalam soal bertindak bijak. Kisah Yusuf mencerminkan pola yang terdapat dalam seluruh Alkitab yang berbentuk “U”. Yusuf berjalan dari anak emas menjadi budak menjadi penguasa Mesir. Dunia berjalan dari taman Eden masuk ke dalam dosa kemudian akan dipulihkan pada akhir zaman. Yesus yang mencakup pola ini: turun dari sorga sampai pada salib, baru diberi nama di atas segala nama (Fil 2:6-11). Nasib Yusuf setelah begitu lama bersabar adalah harapan semua pengikut Kristus untuk dunia mendatang, bdk. 2 Tim 2:12. Dalam kesabaran dia berbuat bijak selama kesusahannya, sehingga siap ketika diangkat.

Namun, dia diangkat bukan supaya tidak bersusah lagi melainkan supaya berperan dalam misi Allah untuk menyelamatkan umat-Nya—akhirnya supaya dari umat itu Juruselamat dunia dapat lahir. Kesusahan yang tetap dia rasakan dalam kejayaannya dapat dilihat dalam 41:51-52. Demi misi itu dia juga akhirnya harus mengampuni saudara-saudaranya, suatu tugas yang juga diceritakan panjang lebar dan berat baginya. Tetapi karena masa persiapannya, dia siap untuk berperan dengan cara yang akan memuliakan Allah.

Jadi, dalam meneladani Yusuf kita akan memikirkan peran kita dalam misi Allah sekarang, yang belum tentu menjadi wakil presiden Indonesia: dalam Kisah Para Rasul Roh Kudus menjadi pokok bagi berperannya gereja dalam misi Allah supaya semua bangsa mengenal berkat Allah di dalam Kristus. Peran itu dapat kita lakukan bukan karena kita mengucapkan semboyan “damai sejahtera bagi semua” terus-menerus, tetapi karena kita menemukan dan mengembangkan karunia-karunia Roh Kudus yang memampukan kita menjadi berguna bagi sesama. Sejauh mana hikmat kita sesuai dengan salib Kristus dilihat antara lain dengan sejauh mana kita tetap bertumbuh dalam hikmat dalam kesusahan sambil menunggu Allah mengangkat dan memakai kita, sama seperti Yusuf. Sejauh mana kita telah belajar dari masa kesusahan dilihat pada saat kita menerima tanggung jawab, kadangkala juga secara mendadak dan tak terduga, yaitu apakah kita siap untuk melakukannya demi kemuliaan Allah.


Kis 2:37-40 Bergabung dengan rencana keselamatan Allah

Juni 7, 2011

Dengan pencurahan Roh Kudus karya Kristus telah siap dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Khotbah Petrus menunjukkan bagaimana caranya orang bergabung dengan rencana Allah pada tahap baru ini.

Penggalian Teks

Bagian ini adalah puncak dari khotbah Petrus. Khotbah itu beranjak dari peristiwa Pentakosta (2:14-15), yaitu mendengar dalam masing-masing bahasa, untuk menjawab pertanyaan orang banyak, “Apakah artinya ini?” (2:12). Kata Petrus, peristiwa itu menggenapi nubuatan Yoel tentang pencurahan Roh pada akhir zaman, yang dikutip sampai dengan janji bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan [kurios] akan diselamatkan” (2:21). Ayat-ayat berikut berbicara tentang Yesus, dan menunjukkan dari Mzm 16:8-11 bahwa kebangkitan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (2:22-32). Kemudian, dari Mzm 110:1 Petrus menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan (kurios; kata itu di balik baik “Tuhan” maupun “Tuan” dalam Kis 2:34).

Perikopnya sendiri merupakan tanya jawab. Orang banyak sangat terharu (a.37; harfiahnya: “tertusuk hatinya”) mendengar bahwa Yesus yang mereka salibkan (sebagai bagian dari bangsa Israel) itu dibuat Kurios dan Mesias oleh Allah (2:26). Petrus menawarkan jalan keluar dalam a.38 dengan bertobat dan dibaptis, sama seperti Yohanes Pembaptis kepada Israel di awal pelayanan Yesus (Luk 3). Baptisan diperkuat dengan tambahan “masing-masing”, yaitu, pertobatan harus ditunjukkan oleh setiap orang. Hasilnya pengampunan dan Roh Kudus, sesuai dengan janji Yoel itu (a.39). A.40 meringkas maksud Petrus yang disampaikan dengan berbagai cara, yakni supaya mereka selamat dari angkatan yang jahat, sesuai dengan janji Yoel (2:21), karena Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan itu.

Seruan Petrus diberkati Tuhan, dan banyak yang bertobat (2:41). Dengan kuasa Roh Kudus mereka menjadi komunitas yang tampil beda (2:42-47), suatu alternatif bagi angkatan yang jahat itu.

Maksud bagi pembaca

Maksud Petrus dalam a.40 diringkas sebagai “memberi kesaksian” (diamarturomai) dan “mengecam dan menasihati” (parakaleo). Unsur kesaksian dilihat antara lain dalam soal bukti: pendengar Petrus tahu tentang mujizat Yesus (2:22), para rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32), dan pencurahan Roh yang dialami semua pada saat itu membuktikan kenaikan Yesus ke sorga (2:33). Kata mengecam adalah tafsiran LAI dari konteks, tetapi paling sedikit Petrus menasihati pendengarnya dengan desakan yang keras. Pembunuhan Yesus menempatkan Israel sebagai angkatan yang jahat, dan mereka harus bertindak dengan tegas untuk diselamatkan (2:40).

Pertanyaan mereka dalam a. 37 menunjukkan kesadaran akan hal itu, tetapi apa yang dapat diharapkan jika Israel telah membunuh Mesiasnya? Jawaban Petrus tidak hanya mengecam tetapi juga memberi harapan. Janji Allah dalam Yoel itu masih berlaku, meskipun Israel telah berdosa. Jangankan pengampunan, karunia Roh Kudus masih ditawarkan kepada orang-orang yang siap bertobat di depan umum dengan dibaptis.

Lukas menunjukkan bahwa maksud Petrus masih berlaku bagi pembaca non-Yahudi kitab ini dalam a.39, yang menerapkan “semua manusia” dalam 2:17 kepada “orang yang masih jauh”. Bukan hanya Israel yang menyalibkan Yesus, karena tangan “bangsa-bangsa durhaka” juga terlibat (2:23). Reaksi Israel terhadap Mesiasnya hanya menunjukkan bagaimana seluruh manusia adalah angkatan yang jahat. Jadi, Yesus adalah Kurios dan Mesias bagi semua yang mau bertobat dan menerima pengampunan dan pembaruan Roh Kudus.

Makna

Apa yang dinyatakan tentang Allah dalam seruan Petrus ini? Yang pertama, rencana Allah untuk memulihkan dunia memiliki dua segi. Segi yang satu adalah hukuman. Setelah perikop yang dikutip Petrus, Yoel berbicara tentang bangsa-bangsa, yaitu bagaimana bangsa-bangsa yang melawan Allah akan dihakimi (misalnya, Yoel 3:12). Penghakiman Allah dapat dilihat sebagai cara Allah memulihkan kekacauan akibat pemberontakan manusia. Tetapi ada segi lainnya, yaitu keselamatan yang terdapat di gunung Sion, tempat Bait Allah di Yerusalem (Yoel 2:32). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan menempatkan diri pada keselamatan itu, sehingga terlepas dari hukuman Allah. Seperti biasa dalam Alkitab ada dua pilihan pada dasarnya: tetap menjadi bagian dari dunia yang melawan Allah, atau melarikan diri ke tempat keselamatan yang disediakan Allah. Yoel 2:12-17 memberi kita satu gambaran tentang proses pertobatan itu.

Yang kedua, rencana Allah itu berpusat pada Kristus. Dalam kitab Yoel mungkin tidak jelas apakah orang dari bangsa-bangsa dapat berseru dan diselamatkan (namun jika teologi PL dilihat secara umum pasti mereka bisa, Kej 12:3; Yesaya dll). Tetapi dalam khotbah Petrus, dalam terang Kristus, rujukan Yoel menjadi jelas. Yesus adalah tempat keselamatan, sebagai tempat Allah hadir (Bait Allah) dan umat Allah yang sejati (Yerusalem). Siapa saja dari mana saja dari angkatan manusia yang jahat dapat diselamatkan—diampuni dan menerima Roh Kudus—dengan berseru kepada Yesus.

Kalau begitu, siapakah Yesus itu? Kurios dan Mesias ditafsir dalam Gereja Toraja dengan rumusan “Tuhan dan Juruselamat”. Tafsiran itu tepat, asal diingat bahwa seorang kurios memiliki hamba, bukan penyembah. Ketuhanan Yesus merujuk pertama-tama pada otoritas-Nya atas kehidupan hamba-hamba-Nya, dan bertobat pertama-tama berarti menempatkan diri sebagai hamba-Nya. Bertobat tidak hanya berarti menyucikan diri dari berbagai dosa yang menodai kehidupan kita, tetapi juga berarti memberi diri diarahkan oleh kepentingan Yesus sebagai Kurios kita. Keilahian Yesus memang penting, antara lain karena kuasa seperti itu hanya cocok untuk Allah, tetapi adalah rancu percaya pada keilahian Yesus tanpa mencari kerajaan-Nya. Karya Roh Kudus adalah membentuk komunitas yang diarahkan demikian: bersatu dan berani bersaksi.

Pada hemat saya, kelemahan gereja di Indonesia sering terdapat pada titik itu. Tentu di mana saja di dunia ada yang belum sempat mendengar penawaran Petrus yang luar biasa itu, dan ada juga yang tetap melawan atau mengabaikan Yesus. Tetapi pertobatan sering lemah karena orang berbalik kepada Yesus sekadar sebagai Allah pelindung dan Juruselamat yang dapat membantu dalam pergumulan. Hal itu memang penting, bahwa kita mengandalkan Allah. Tetapi bahwa Allah memiliki rencana, bahwa kepentingan Tuhan Yesus tidak identik dengan kepentingan diri, kurang disadari. Soal kepentinganlah yang mendorong (wakil-wakil) Israel dan bangsa-bangsa untuk membunuh Yesus, dan hampir seluruh umat untuk ikut dengan mengolok-olok dsb. Soal kepentinganlah yang membuat orang sekarang tidak segan mencemarkan diri dengan dosa, tidak peduli tentang sesama dan acuh tak acuh terhadap rencana Allah supaya semua bangsa mendengar berita keselamatan itu. Yesus dapat meyelamatkan hamba-hamba-Nya yang berseru kepada-Nya itu dari hukuman Allah terhadap kepentingan-kepentingan yang jahat itu, sehingga kita menerima Roh Kudus yang memampukan kita menjadi saksi dalam perbuatan dan perkataan (2:42-47). Dengan demikian kita menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, bukan lagi lawan.


Kis 1:1-5 Diberdayakan oleh Roh Kudus

Mei 25, 2011

Bagian akhir Lukas 24 tidak menyebut Roh Kudus, tetapi pada awal kitab Kisah Para Rasul Lukas mulai menyoroti peran Roh Kudus. Perintah-perintah Yesus yang disampaikan dalam Luk 24:44-49 ternyata disampaikan oleh Roh Kudus (a.2), termasuk bahwa dalam Luk 24:45 Yesus dapat membuka pikiran mereka. Kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) dijelaskan sebagai baptisan dengan (atau dalam) Roh Kudus (a.5). Lukas 24 mengakhiri apa yang ditulis tentang karya dan ajaran Yesus sampai Dia terangkat, sebagaimana diringkas dalam aa.1-2. Tetapi a.1 sebenarnya mengatakan “mulai dikerjakan dan diajarkan”. Roh Kudus akan meneruskan misi Allah yang diemban oleh Yesus. Yesus telah menderita dan bangkit (a.3), dan Roh Kudus akan membaptis murid-murid-Nya untuk memberitakan karya keselamatan Allah itu.

Jadi, a.5 adalah fokus dalam perikop ini, karena mengantarkan satu tema penting dalam Kisah Para Rasul. Sama seperti Yesus dibaptis oleh Roh pada awal pelayanan-Nya, para murid juga akan dibaptis untuk tahap berikut. Baptisan dengan air adalah tanda pengampunan bagi orang yang bertobat, dan simbol itu tidak ditiadakan. Tetapi baptisan dengan Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjadi alat-alat dalam misi Allah, menjadi saksi Kristus yang berani. Karena Paulus mengatakan bahwa semua milik Kristus memiliki Roh Kudus (Rom 8:9dst), penerapan dari a.5 ini bukan bahwa kita harus mencari pengalaman khusus sebagai bukti baptisan Roh, tetapi bahwa jika kita sudah bertobat maka kita memiliki kuasa yang diperlukan untuk menjadi alat misi Allah.


Kis 22:30-23:11 Hati nurani yang murni adalah dasar kesaksian yang berani

Januari 24, 2011

Tugas Paulus dalam kisah pendek ini secara tersirat dapat diambil dari Kis 20:24, yaitu, “memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” di tengah penjara dan sengsara sekalipun (20:23). Hal itu sudah dia lakukan di hadapan rakyat di Yerusalem dengan menceritakan perjumpaannya dengan Kristus di jalan menuju Damsyik, tetapi begitu dia menyebutkan bahwa dia diutus kepada bangsa-bangsa lain, huru-hara mulai kembali dan dia harus diamankan di markas (22:21-22). Dengan Paulus ketahuan sebagai warga Rum, kepala pasukan memutuskan untuk mencari penjelasan dari Mahkamah Agung (22:30). Maka muncullah kesempatan kedua Paulus untuk bersaksi kepada orang-orang di Yerusalem, kali ini kepada mantan rekan-rekannya (dan mungkin ada mantan atasan yang belum pensiun, tetapi peristiwa ini kurang lebih 25 tahun setelah Paulus bertobat). Apakah Paulus akan setia pada panggilannya?

Ternyata, jangankan tidak takut, Paulus yang pertama menyerang, tetapi bukan dengan menuduh, tetapi dengan kesaksian tentang hati nurani yang murni (23:1). Hal itu bukan pengakuan bahwa dia bebas dari dosa (bnd. 1 Kor 4:4). Tentang ketaatannya menurut hukum Taurat dia pernah menulis kepada jemaat di Filipi bahwa sebelum dia berjumpa dengan Kristus dia tidak bercacat (Fil 3:6)—tidak bercacat tetapi salah haluan karena menentang Kristus! Jadi, di sini dia menegaskan dari awalnya bahwa perubahan jalan yang begitu drastis dari Saulus yang menganiaya jemaat menjadi Paulus rasul Kristus itu perubahan yang dia amini sepenuhnya sebagai karya Allah dalam hidupnya. Tentu, tersirat di dalamnya adalah implikasi bahwa jalan yang dia tinggalkan, dan tetap mereka anut, adalah jalan menentang Allah. Makanya, Imam Besar menyuruh Paulus ditampar (Kis 23:2). Dengan pernyataan ini Paulus sudah mulai bersaksi tentang Kristus, sebagaimana dibuktikan oleh penolakan yang keras.

Reaksi Paulus menarik (20:3), karena di tempat yang lain dia menasihati jemaat di Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Rom 12:17-21). Orang yang dekat Paulus menuduh bahwa dia mengejek (Kis 22:4), tetapi Paulus sendiri hanya mengaku bahwa jabatan Imam Besar perlu dihormati (22:5). Walaupun nadanya terlalu keras dalam ukuran budaya Indonesia (ataupun Australia), dalam konteksnya Paulus membela haknya untuk diperlakukan dengan adil, sesuai dengan tuntutan hukum Taurat sendiri. Kita melihat bahwa tidak membalas tidak sama dengan membiarkan diri ditindas.

Tindakan Paulus yang berikut cerdik, tetapi juga tepat (22:6). Kebangkitan orang mati adalah inti kesaksian tentang Kristus dalam Kisah Para Rasul, sebagaimana dilihat dalam semua khotbah yang diceritakan Lukas. Walaupun Kristus tidak sempat disebutkan dalam konteks ini, mereka semua pasti sudah mendengar langsung atau lewat laporan kisah Paulus kepada rakyat, selain pemberitaan jemaat di Yerusalem, sehingga jelas bahwa kebangkitan Kristus yang dimaksud. Perpecahan yang timbul menunjukkan sifat yang sebenarnya dari kumpulan ini. Bukannya mereka mempertahankan visi yang jelas, melainkan menyerang ajaran yang akan merongrong kuasa mereka seandainya diterima luas. Hal itu disoroti Lukas dengan penjelasannya tentang perbedaan yang mendasar antara kelompok Saduki dan Farisi (22:8), dan juga refrain “timbul/terjadi perpecahan/keributan” (22:7, 9, 10) yang menunjukkan bahwa mereka sama saja dengan rakyat yang ribut dalam pasal sebelumnya. Sama seperti Yesus, kehadiran Paulus di Mahkamah Agung mengadili Mahkamah Agung itu, bukan sebaliknya. Sayangnya, sudah banyak gereja yang menunjukkan gejala yang sama karena kehilangan arah yang jelas.

Sebagai pembaca, atau paling sedikit sebagai pembaca orang Indonesia yang sangat menghargai keharmonisan, kita mungkin ragu apakah Paulus sudah memberi kesaksian yang tepat. Lukas mengakhiri kisah pendek ini dengan penilaian otoritas tertinggi, yakni Kristus sendiri. Paulus sudah menunaikan tugasnya untuk memberi kesaksian tentang Kristus di Yerusalem, baik kepada rakyat maupun kepada para pemimpin. Ternyata tugasnya belum selesai, karena dia harus juga bersaksi di Roma. Tetapi itu kisah lain.

Kita di mana dalam kisah pendek ini? Dengan Mahkamah Agung, menghalangi pemberitaan Kristus karena kepentingan-kepentingan lembaga, seperti kepentingan untuk berdamai dengan pemerintah atau tokoh adat setempat? Atau dengan Paulus, yang berani mengemban panggilannya dan bersaksi tentang Kristus? Atau mungkin di antaranya. Simpatik, malah kagum, akan Paulus, tetapi kurang berani atau kurang berkeyakinan untuk menanggung risiko yang terjadi ketika kita bersaksi dengan jelas. Jangan sampai kekurangan itu terjadi karena kita tidak mampu mengatakan “sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah”.


Kis 20:28-38 Contoh Pelayanan Paulus

Juli 5, 2010

Pada akhir perjalanan misioner Paulus yang ketiga, sebelum dia ke Yerusalem, Paulus singgah di pelabuhan Miletus, 50 km dari Efesus, dan dari sana memanggil para penatua. Bahwa ada kelompok yang datang menunjukkan pentingnya Paulus, dan Injil yang Paulus bawa, bagi mereka.

Di tengah perpisahan yang penuh perasaan (aa.37-38), Paulus melakukan dua hal. Dia membela pelayanannya kepada mereka, dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab mereka sebagai penatua. Paulus sadar bahwa kedudukan jemaat rentan. Ada dari luar, bahkan ada dari dalam jemaat, yang akan mengancam jemaat dengan gaya dan/atau ajaran yang bengkok (aa.29-30). Oleh karena itu, Paulus menceritakan hidupnya bersama dengan mereka, untuk membedakan dirinya dari pengajar-pengajar sesat, termasuk bahwa dia rela mempertaruhkan nyawanya asal dia setia kepada tugas yang diberikan Tuhan itu (aa.18-24). Karena pertemuan ini adalah kali terakhir bersama dengan mereka (a.25), dia bersaksi bahwa dia sudah menunaikan pelayanannya dengan penuh tanggung jawab (aa.26-27) dan tanpa pamrih (aa.33-34).

Oleh karena itu, dia berani mengangkat dirinya sebagai contoh bagi mereka (a.35). Hidupnya dapat disimpulkan sebagai membantu orang-orang lemah, sesuai dengan perkataan Yesus (yang tidak direkam di tempat yang lain) bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Membantu di sini mencakup kedua aspek tadi. Paulus membantu orang-orang yang imannya perlu dikuatkan (sebenarnya itu kita semua). Dia melakukan hal itu dengan memberitakan “seluruh maksud Allah” (a.27) sebagai cara untuk mempersiapkan jemaat untuk menghadapi ajaran-ajaran palsu. Dia juga membantu orang-orang yang kekurangan dalam kebutuhan hidup, seperti kawan-kawan seperjalanan. Contoh Paulus sangat tepat untuk para penatua itu. Mereka bukan pelayan penuh waktu yang berhak didukung jemaat (bnd. 1 Kor 9:4-11). Jadi, mereka memiliki tanggung jawab dalam pelayanan, dan juga rezeki untuk dijadikan berkat bagi orang lain. Paulus menjadi contoh untuk kedua hal itu.

Sekarang ada tiga kelompok yang membaca perikop ini. Yang pertama adalah pendeta, pelayan penuh waktu yang didukung jemaat. Yang kedua adalah para penatua yang bekerja dan juga turut bertanggung jawab atas pelayanan. Dalam sistem gerejawi kita pendeta lebih ahli, tetapi bersama-sama mereka bertanggungjawab untuk membantu jemaat menghadapi berbagai ajaran palsu. Hal “seluruh maksud Allah” tadi saya anggap penting di sini. Hal itu berarti bahwa seluruh Alkitab dikenal sebagai wadah untuk mengenal siapakah Allah melalui berbagai jenis sastra, tetapi terutama melalui kisah-kisah yang di dalamnya Allah bergerak, dan kisah agung yang dilihat dalam seluruh Alkitab. Jemaat yang sudah tertanam dalam kebenaran ini tidak mudah digoyangkan oleh ajaran yang menjanjikan kekayaan atau kesehatan, seakan-akan Yesus adalah dewa kesuburan atau penjamin jimat. Mereka juga tidak akan mudah digoyangkan oleh ajaran yang mengaburkan kasih karunia Allah sehingga Injil menjadi harapan bahwa jika orang berbuat baik, semua akan berjalan baik dan orangnya dapat lebih berharap akan masuk sorga (bnd. a.24). Tidak ada gunanya melawan hal-hal itu dengan kecaman saja. Ajaran (dan tingkah laku) yang tidak benar perlu dihadapi dengan pendalaman kebenaran Alkitab. Semua pengajar dalam gereja dapat membantu jemaat yang lemah dengan ajaran yang sehat.

Yang ketiga yang membaca perikop ini ialah jemaat biasa. Untuk kelompok ini, apakah yang bisa dianggap relevan hanya perkataan Yesus untuk memberi daripada hanya menerima? Hal itu memang penting. Tetapi betapa tugas para pengajar akan dilancarkan apabila jemaat memahami tugas itu dengan tepat. Sepertinya, jemaat kadangkala memahami tugas pelayan sebagai pelaksana ritus—entah di gedung gereja, pesta orang mati, atau di rumah—untuk membawa berkat dan mencegah kutuk. Ritus adalah hal yang baik, tetapi tujuan itu jauh dari tujuan di atas, yaitu supaya jemaat menikmati kasih karunia Allah. Pendeta kadangkala mengeluhkan jemaat yang harapannya tidak tepat. Dalam perikop ini ada kesempatan untuk memperbaiki pemahaman yang keliru.

Sebagai kesimpulan, perlu diingat bahwa semuanya bergantung pada kasih karunia Allah. Makanya, dalam a.32 Paulus menyerahkan mereka (dan saya juga menyerahkan pembaca yang setia membaca sampai ke sini!) “kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya”.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.