Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Luk 22:1-6 Jatuhnya seorang murid ke dalam pencobaan (3 Apr 2011)

Maret 28, 2011

Aa.1-2 merupakan latar belakang yang penting untuk aa.3-6. Dari pp.20-21 ternyata sudah cukup banyak orang di Yerusalem, dan mereka terpesona dengan Yesus. Mendekatnya hari H, yakni Paskah (yang langsung disusuli dengan hari raya Roti Tidak Beragi), makin mendesak pimpinan Yahudi, karena jika Yesus berencana menentang kuasa kafir, yakni orang Roma, pada hari itu jumlah dan semangat perjuangan orang banyak akan memuncak. Tetapi karena orang banyak terpesona dengan Yesus mereka tidak bisa menangkap Yesus langsung di depan umum. Mereka membutuhkan jalan yang lain. Hal itu yang diberikan kepada mereka oleh Yudas (a.6).

Jadi, penawaran Yudas datang pas pada waktunya, dan mungkin saja mereka menganggap bahwa hal itu adalah pemeliharaan Tuhan sendiri. Tetapi menurut Lukas yang mengatur bukan Allah melainkan Iblis. Tentu, Iblis tidak di luar kuasa Tuhan—sebaliknya semuanya ini termasuk rencana-Nya—tetapi Iblis yang menggerakkan hati Yudas. Bahasa “masuklah Iblis ke dalam Yudas” terjadi juga dalam Yoh 13:27, dengan terjemahan yang lain, yaitu, “ia kerasukan Iblis”. Jika gambaran orang kerasukan di Toraja adalah orangnya berteriak dan bergerak-gerak dengan tidak sadar, maka jelas Yudas tidak kerasukan. Dalam Yoh 13:2 Iblis sudah “membisikkan rencana dalam hati” (harfiah: “melemparkan ke dalam hati”) untuk menyerahkan Yesus, dan dalam Yoh 13:27 Iblis masuk untuk meneguhkan bisikan itu. Jadi, Iblis yang memberanikan Yudas untuk melakukan sesuatu yang sangat menantang—mengkhianati guru tercinta. Ternyata tidak semua kebetulan yang cocok dengan rencana kita datangnya dari Tuhan, dan tidak semua semangat yang datang dari luar datangnya dari Roh Kudus, sekalipun tidak ada gejala-gejala kerasukan.

Tidak jelas seberapa jauh Yudas menganggap bahwa dia melakukan sesuatu yang baik atau yang perlu ketika dia pergi kepada para pemimpin Yahudi. Saya duga Suharto sungguh percaya bahwa jika dia tidak memegang kuasa, Indonesia akan runtuh dan hancur. Aparat di bawahnya yang mengatur pembunuhan para aktivis mungkin saja menganggap bahwa mereka berjuang untuk mempertahankan kedamaian yang dijamin oleh penguasa yang kuat itu. Yudas ditanggapi dengan serius oleh para pemimpin Yahudi, dan aparat (pengawal Bait Allah) dilibatkan untuk membahas strategi penangkapan Yesus (a.4). Paling sedikit, mereka percaya bahwa mereka melakukan kehendak Allah. Hanya, ketika kesepakatan mereka sampai pada soal uang, suatu anggapan bahwa Yudas (dan mereka) memiliki prinsip menjadi sulit dipertahankan. Yudas tidak digerakkan oleh uang, dia digerakkan oleh Iblis. Tetapi penawaran uang itu bisa mengobati gejolak hati yang masih ada di dalam dirinya, sehingga dia dengan tekun mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Dalam perikop sebelumnya (yang dibahas beberapa minggu yang lalu) dikatakan bahwa kita harus berjaga-jaga sambil berdoa (Luk 21:36). Menghadapi pencobaan terkait dengan kehadiran Kristus di Yerusalem, Yudas adalah yang pertama yang jatuh. Penerimaan uang itu menjadi gejala atau tanda akan suatu hati yang dengan mudah dipengaruhi oleh Iblis sendiri.


Luk 21:34-38 Doa yang menantikan hari Tuhan

Maret 8, 2011

Lukas 19:45-21:38 memberi gambaran tentang pelayanan Yesus di Bait Allah. Dia datang sebagai Raja Israel, Mesias, kemudian menyucikan Bait Allah dan, seperti dikatakan dalam aa.37-38 dari perikop kita, Dia mengajar pada siang hari kepada “seluruh bangsa” (LAI “semua orang banyak”). Namun, 21:7-36, termasuk aa.34-36 dari perikop kita, tidaklah ditujukan kepada orang banyak melainkan kepada para murid (21:7). Dipicu oleh pernyataan provokatif dalam 21:6 bahwa Bait Allah akan dihancurkan, mereka bertanya tentang waktu dan tanda dari peristiwa itu.

Hal itu menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar tentang apa yang disimpulkan sebagai “hari itu” (a.34; LAI “hari Tuhan”), yakni hari kedatangan Kerajaan Allah (21:31). Dalam Injil Lukas, Kerajaan Allah, sama seperti biji sesawi dan ragi, mulai kecil tetapi berdampak besar (13:18-21). Bijinya tidak lain dari Yesus sendiri (8:10), tetapi antara pelayanan Yesus dan kedatangan Kerajaan Allah secara tuntas ada proses. Proses kedatangan Kerajaan Allah digambarkan dalam 21:7-36, dengan fokus pada waktu kehancuran Yerusalem. Proses kedatangan Kerajaan Allah ditandai dengan peperangan, gempa, penyakit, kelaparan dsb (21:11) serta penganiayaan (21:12). Hal-hal itu menjadi peringatan bahwa penggenapannya akan datang, sama seperti tunas pohon menandai kedatangan musim panas (di tempat-tempat yang ada empat musim). Dalam a.36 baik proses maupun puncak dirujuk, yaitu “semua yang akan terjadi” (proses, merujuk ke 21:7-36) dan “berdiri di hadapan Anak Manusia” ketika Dia datang kembali.

Jadi, walaupun “hari itu” merujuk terutama pada akhir dari proses itu, yakni ketika Yesus datang kembali, kita bisa melihat bahwa ada banyak hari-hari Tuhan kecil yang menyingkapkan apakah umat Allah menantikan kedatangan Kerajaan Allah dengan setia atau tidak. (Bandingkan 1 Yoh 2:18, di mana gagasan tentang adanya satu orang antikristus tidak terbatas oleh “satu” itu tetapi menyimpulkan bahwa sudah ada “banyak” yang berfungsi seperti antikristus itu, walaupun dalam rangka yang lebih terbatas.)

Oleh karena itu, peringatan Yesus tetap ada relevansinya bagi kita, entah puncaknya datang dalam waktu dekat atau tidak. Hari Tuhan disebut dalam a.34 “jatuh…seperti suatu jerat”. Jerat jauh lebih susah dihindari atau diluputkan jika kita menanggung beban yang berat. “Pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi” membebani hati. Seperti dalam perumpamaan tentang penabur benih (bnd. 8:14), hal-hal itu mencekik pertumbuhan iman. Dengan demikian, ketika masalah-masalah berat datang, kita tidak dapat bertahan.

Bagaimana caranya untuk mempersiapkan diri? Dalam a.36 dikatakan untuk berjaga-jaga dalam doa. Berjaga-jaga berarti bahwa doa kita terarah, sadar dalam waktu tenang dan aman bahwa kita harus siap untuk menghadapi waktu susah dan berbahaya. Doa berarti bahwa kita mengandalkan Allah untuk meluputkan kita. Apakah doa kita mempersiapkan kita untuk menghadapi tantangan yang berat? Atau doa hanya untuk menghibur jemaat yang sedang tidur?


Luk 4:1-13 Yesus telah mengalahkan Iblis

Maret 3, 2011

Walaupun kita dapat belajar dari pencobaan Yesus, ada sesuatu yang lebih dalam lagi di dalamnya. Setelah dibaptis dalam Roh dan diutus oleh Bapa-Nya di sorga (Luk 3:21-22), Yesus, sebagai anak Daud (3:31) harus melawan musuh umat Allah yang terlalu kuat untuk umat Allah, sama seperti Daud melawan Goliat. Sebagai anak Abraham (3:34) ketaatan-Nya harus diuji sama seperti Abraham diuji (Kej 22:1; cerita itu disinggung dalam 3:22 dalam kata “Anak-Ku yang Kukasihi”). Pencobaan pada dasarnya adalah keadaan dari dalam atau dari luar yang menjadi alasan (dalih) untuk tidak taat kepada Allah. Sebagai anak Manusia (3:38), musuh yang harus Dia lawan tidak lain dari si Pemfitnah, si Iblis, yang menggoda Adam dan Hawa. Semuanya dilakukan di padang gurun selama 40 hari, tempat Israel dicobai selama 40 tahun dan gagal. Bagaimana hasilnya Mesias yang baru diurapi ini?

Dari pemakaian present tense untuk kata “dicobai” ada kesan bahwa pencobaan itu berlangsung selama 40 hari. Bagaimanapun juga, setelah 40 hari Yesus lapar. Katanya kalau berpuasa lama, setelah beberapa hari pertama rasa lapar itu hilang selama hanya lemak yang dibakar untuk kebutuhan tubuh. Tetapi jika lemak dalam tubuh sudah habis, ototlah yang mulai dimakan tubuh, dan rasa lapar yang dahsyat muncul, dahsyat karena menyangkut hidup dan mati. Rasa lapar itu yang melanda Yesus pada saat ini. Selain bahwa hal itu menjadi pintu masuk untuk pencobaan yang pertama, kita melihat bahwa Yesus sudah masuk ke ranah paling rawan untuk dicobai, yaitu pada keadaan lemas dan terganggu oleh kebutuhan yang besar. Dalam konteks seperti itu saya dengan paling mudah membenarkan kegagalan saya. Dalam konteks itulah ketaatan Yesus dicobai.

Pencobaan pertama menyangkut kelaparan tadi. Yesus mengutip dari Ul 8:3, di mana dijelaskan bahwa Allah menguji Israel selama 40 tahun di padang gurun, termasuk membiarkan mereka lapar supaya mereka sadar bahwa dasar kehidupan adalah firman Allah, bukan makanan. Kita menganggap bahwa jika orang bisa makan dia bisa hidup. Tetapi Allah mau Israel belajar bahwa jika Israel taat kepada firman Allah baru Israel bisa hidup. Hawa gagal di situ: buah pohon dianggap “baik untuk dimakan” (Kej 3:6) walaupun dilarang. Kelaparan mewakili semua nafsu, hal-hal yang baik pada tempatnya tetapi ketika mendesak bisa membenarkan banyak hal. Yesus membuktikan bahwa manusia bukanlah budak dari nafsu-nafsunya.

Pencobaan kedua dalam urutan Lukas adalah penawaran kuasa duniawi kepada Yesus. Karena si Iblis adalah pembohong, tidak usah dipercaya bahwa dia berhak untuk memberikan kerajaan-kerajaan dunia kepada Yesus. Yang diperlihatkan adalah kemuliaan kerajaan-kerajaan. Jika pencobaan pertama menyangkut pribadi, pencobaan ini menyangkut ranah sosial. Yang tidak diperlihatkan ialah sisi gelap kerajaan-kerajaan itu, tanggung jawab sebagai pemimpin dsb, yang menuntut jalan lain, yaitu salib. Tetapi yang memang muncul adalah syaratnya, yaitu Iblis disembah. Ul 6:13 menjadi tangkisan Yesus. Dengan demikian, kita melihat bahwa mengejar kesemarakan adalah penyembahan berhala. Sejak Hawa melihat bahwa buah pohon itu “sedap kelihatannya” hal itu menjadi penggodaan manusia. Tetapi Yesus membuktikan bahwa manusia dapat menyembah Allah saja.

Pencobaan ketiga menyangkut apakah Yesus akan mencobai Allah. Yesus mengutip dari Ul 6:16, di tengah penegasan Musa tentang pentingnya beribadah kepada Tuhan saja seperti di atas, bukan kepada ilah-ilah yang lain. Ul 6:16 merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1-7. Israel baru diselamatkan dari tentara Mesir (Kel 15), dan juga sudah mulai menerima berkat manna sebagai makanan (Kel 16). Air yang dipersoalkan dan dijawab Tuhan pada awal p.17. Dalam kesimpulan Kel 17:7, inti mencobai adalah pertanyaan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Orang yang mempertanyakan kehadiran Allah, ia sudah siap pindah kepada ilah lain. Itulah inti pencobaan dalam ranah religius: beranjak dari keraguan yang mau membuktikan kehadiran Allah. Di tengah kelaparan yang dahsyat Yesus tetapi yakin bahwa Allah hadir dan menyertai-Nya.

Jadi, sebagai Anak Allah, Mesias, Yesus telah mengalahkan musuh besar umat Allah. Ternyata Iblis tidak berkuasa mutlak atas kerajaan-kerajaan manusia, karena ada satu manusia, Yesus, yang dalam kuasa Roh Kudus telah mengalahkannya. Kita ikut di dalam kemenangan Kristus itu. Sebagai anak Abraham, Yesus sudah menempuh ketaatan dalam jalan yang berat menuju salib. Di mana Israel, bahkan seluruh Israel, gagal, Yesus berhasil.

Setelah gagal tiga kali Iblis mundur, menunggu waktu yang baik. Dalam Luk 22:3 Satan masuk ke dalam Yudas. Menghadapi salib Yesus dicobai kembali. Tetapi Dia sudah diuji dan menang pada awal pelayanan-Nya. Semoga dalam kuasa Roh Kudus kita ikut dalam jejak-Nya.


Luk 1:26-38 Menyambut baik peran dalam rencana Allah

November 30, 2010

Cerita ini terkenal. Aa.26-27 menempatkan cerita ini dalam konteks ruang dan waktu, dan memperkenalkan Maria. Selebihnya adalah percakapan antara Gabriel dengan Maria, yang di dalamnya Gabriel memberitahukan kelahiran Yesus sebagai Mesias (aa.31-33), dan, menjawab pertanyaan Maria, bahwa hal itu akan terjadi karena kuasa Allah (a.35), sama seperti sudah Dia lakukan bagi Elisabet (a.36). Akhirnya, Maria setuju, dan Gabriel pergi (a.38).

Cerita ini mulai dengan rujukan pada cerita sebelumnya, yaitu, dalam a.26, “bulan yang keenam” merujuk pada kehamilan Elisabet, dan malaikat Gabriel tidak perlu diperkenalkan karena sudah dikenal dari perjumpaannya dengan Zakharia. Hal itu diteguhkan pada a.36 di mana Elisabet disebut kembali. Makanya, cerita ini perlu dipahami dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya.

Sebenarnya, kedua cerita sangat sejajar. Setiap cerita mulai dengan perkenalan (1:5-6 || a.26-27). Elisabet mandul dan akhirnya mengandung; ketika dikatakan bahwa Maria perawan, apakah dia juga akan mengandung? Kemudian ada penampakan Gabriel (1:8-11 || a.28). Caranya memang berbeda. Karena Zakharia sedang di Bait Allah, dia harus menafsir bahwa yang tampak adalah malaikat. Tetapi malaikat bisa tampil sebagai manusia biasa, dan barangkali Gabriel masuk ke dalam rumah Maria seperti itu. Kemudian ada reaksi masing-masing. Zakharia terkejut dan takut (1:12), sedangkan Maria terkejut oleh sapaan yang aneh dan ada rasa ingin tahu (a.29). Apakah di situ kita mulai melihat perbedaan dalam penerimaan mereka? Atau memang malaikat lebih lembut kepada Maria daripada Zakharia?

Kemudian, malaikat mengatakan “Jangan takut”. Hal itu sepertinya menjadi kebiasaan, karena pada umumnya manusia takut berhadapan dengan malaikat, jika sudah disadari. Bagi Zakharia ucapan itu mau menenangkan hatinya yang sudah takut supaya dia dapat mendengar berita yang sangat menyenangkan, tetapi bagi Maria ucapan itu mempersiapkan Maria untuk berita yang mungkin saja menakutkan jika implikasinya disadari (hamil sebelum menikah; tanggung jawab mengasuh Mesias). Dalam penjelasan Gabriel yang berikut kelahiran dan nama bayi disebutkan (1:13-14 || a.30-31), kemudian gambaran tentang anak masing-masing (1:15-17 || aa.32-33). Kedua gambaran itu menjadi cara Lukas untuk memberitahu pembaca tentang kedua tokoh dalam cerita berikut, yakni Yohanes dan Yesus. Jadi, aa.32-33 menjadi inti tentang siapakah Yesus ini (ditambah dengan a.35b), suatu tema yang kunci dalam seluruh Injil Lukas. Perhatikan bahwa malaikat menyampaikan pesan itu dalam bahasa yang dapat dimengerti Maria, yaitu terkait dengan harapan Mesianis Israel, sebagaimana dilihat dari nas-nas PL yang dirujuk oleh Gabriel. Hanya dalam pelayanan Yesus sendiri kita mulai melihat bahwa musuh sebenarnya bukan orang Roma melainkan Iblis, dan dengan kematian dan kebangkitan-Nya kita melihat bagaimana caranya Dia mengalahkan musuh itu dan menjadi raja di atas segala raja.

Kemudian, baik Zakharia maupun Maria bertanya tentang pemberitahuan Gabriel (1:18 || a.34). Perbedaan antara pertanyaan mereka halus: Zakharia bertanya bagaimana dia dapat tahu, sedangkan Maria bertanya soal kemungkinannya sebagai perawan. Tanggapan Gabriel kepada kedua pertanyaan mereka sangat lain. Mengapa? Apakah karena berita kepada Zakharia sesuatu yang sudah terjadi beberapa kali dalam PL (misalnya, Sarai), sedangkan kehamilan pada perawan memang unik? Apakah pertanyaan tentang mengetahui sebenarnya mempertanyakan kemungkinan untuk hal itu terjadi, sedangkan pertanyaan Maria menerima janji itu dan hanya bertanya tentang caranya? Yang jelas, kedua cerita ini menjadi lain pada titik ini. Gabriel menjawab pertanyaan Zakharia dengan tegoran dan semacam didikan (menjadi bisu, 1:19-20), sedangkan Maria dikuatkan dengan pernyataan tentang kuasa Tuhan (aa.35, 37) yang ditopang dengan contoh Elisabet (a.36). Akhirnya, Zakharia bisu dan tidak bisa berbicara (1:21-23) sedangkan Maria menjawab dengan penuh penyerahan diri (a.38).

Singkatnya, kabar baik yang disampaikan malaikat Allah tidak dipercayai oleh Zakaria (1:20), si imam yang saleh itu (1:5-6), tetapi disambut dengan baik oleh perempuan yang masih muda ini (a.38), meskipun banyak risikonya. Dalam cerita berikut, ketika Maria pergi menemui Elisabet, sambutan itu menjadi pujian yang dahsyat (1:46-55).

Dilihat demikian, perikop ini kaya dengan tema yang layak diberitakan, termasuk penyataan Allah, kuasa Allah, penggenapan janji Allah dan Yesus sebagai Mesias. Tetapi, dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya, satu tema lagi adalah penerimaan Maria. Jenis sastra naratif menjamin bahwa pemberitaan tentang Yesus sebagai kunci rencana keselamatan Allah sebagai raja Kerajaan Allah selalu dikaitkan dengan respons manusia, apakah itu tidak percaya, belum percaya (Zakharia) atau menyambut dengan baik (Maria). Yang mana mau dijadikan topik dan yang mana pelengkap? Jika karya Allah, maka amanat teks bisa begini: penggenapan harapan PL dalam kelahiran Yesus terwujud melalui seorang perawan yang menyambut baik perannya dalam rencana Allah. Jika respons Maria, maka amanat teks bisa begini: Maria menyambut baik perannya dalam rencana Allah untuk melahirkan Mesias sebagai penggenapan janji Allah. Dalam amanat khotbah berbagai aspek dapat ditonjolkan, entah kuasa Allah, kerendahan status Maria yang dipilih Allah, penggenapan PL dsb, asalkan jemaat dikuatkan oleh janji kelahiran Yesus dan diajak untuk menyambut baik karya itu, sama seperti Maria. Dengan demikian, tema Adven II sudah diwakili.

Khususnya untuk kalangan Gereja Toraja, hari Minggu ini adalah HUT PWGT (persekutuan wanita). Bahwa Allah memilih seorang perempuan untuk melahirkan Mesias tidak terlalu mengejutkan. Tetapi Injil Lukas khususnya menonjolkan Maria sebagai perempuan yang langsung disapa Tuhan, dan yang menjadi teladan iman, lebih dari Zakharia, seorang laki-laki dan imam.


Luk 18:31-34 Pola Allah bekerja

Februari 22, 2010

Di antara pemberitahuan yang kedua di Luk 9:43-45 dan perikop ini ada perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Di dalamnya banyak ajaran yang menguraikan bagaimana murid yang mengikuti Mesias yang menderita itu harus hidup. Pas sebelum perikop ini ada pembahasan tentang “meninggalkan segala kepunyaan” yang disusuli dengan hidup kekal (Luk 18:28-30). Perikop kita menunjukkan bahwa Yesus sendiri akan merintis jalan itu: dibunuh lalu dibangkitkan.

Unsur yang baru dalam pemberitahuan ini adalah penggenapan. Yang akan terjadi sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi. Kadangkala orang mempertanyakan mengapa Yesus tidak menunjukkan nas mana yang Dia maksud. Jawaban yang pertama ialah bahwa ada dalam ajaran Yesus di tempat yang lain dan kemudian dalam ajaran para rasul. Misalnya, Mzm 118:22 disebutkan oleh Yesus (Luk 20:17) dan juga oleh Petrus (Kis 4:11). Nas itu mengandung penolakan oleh penguasa-penguasa yang disusuli oleh pembenaran. Dalam Kis 2:25-28 Petrus membuktikan kebangkitan Yesus dari Mzm 16:8-11. Dalam Kis 8:32-35 Filipus menerapkan Yes 53:7-8 kepada Yesus.

Jawaban yang kedua ialah bahwa Yesus tidak hanya menggenapi beberapa nas, tetapi pola yang terdapat dalam seluruh nabi-nabi. Pola itu dibentuk oleh pembuangan Israel sebagai hukuman dan oleh janji keselamatan bahwa mereka akan kembali ke tanah perjanjian. Yeh 37:1-14 berbicara tentang kebangkitan Israel sebagai kiasan untuk pengembalian itu, dan dalam Yes 53 nasib Israel disimpulkan dalam sosok Hamba Tuhan (bnd. Yes 49:3). Jadi, kematian dan kebangkitan Yesus menggenapi pola itu (lihat penjelasan saya di sini). Jika demikian, Yesus diserahkan kepada bangsa-bangsa (artinya orang Romawi, diwakili Pilatus) untuk menggenapi bahwa Israel dibuang kepada bangsa-bangsa. Kemudian, soal “pada hari ketiga” diambil dari Hos 6:1-2 yang berbicara tentang kebangkitan bangsa Israel.

Sekali lagi, para murid Yesus tidak dapat menangkap maksud Yesus. Mereka belum memahami bahwa rencana Allah akan dicapai melalui penderitaan dan kematian Sang Mesias yang Dia utus. Minggu yang lalu saya menyoroti kerendahan berdasarkan unsur penderitaan yang disebutkan Yesus (diserahkan ke dalam tangan manusia) dan konteks perikopnya. Minggu ini, saya mau menyoroti pemahaman kita tentang rencana Allah. Pola kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan cara Allah bekerja dalam dunia ini. Kehilangan dan kemiskinan seperti yang disebutkan dalam Luk 18:28-30 dengan mudah dilihat sebagai kegagalan, tetapi jika terjadi dalam ketaatan bisa menjadi cara Allah untuk mengerjakan rencana-Nya. Jadi, kita tidak usah merasa gagal jika demi kesetiaan kepada Kristus kita kehilangan sebagian jemaat, dukungan pemerintah, atau berbagai kenyamanan yang lain.

Pada perikop yang berikut, ada orang buta yang melihat kembali dan mengikuti Yesus. Dia menjadi perbandingan dengan para murid yang tidak paham. Bagaimana dengan kita?


Luk 9:43b-45 Mendengar pesan yang sulit didengar

Februari 15, 2010

Sebelum perikop ini, salah satu mujizat Yesus diceritakan yang membuat semua takjub karena kebesaran Allah (Luk 9:43a). Takjub bagaimana Allah melalui Yesus dapat menghapus penderitaan seorang manusia, membuat seorang anak yang dalam keadaan kacau karena roh jahat menjadi anak yang sembuh. Sisi itu dari pelayanan Yesus sangat populer sampai sekarang. Dalam jiwa kita mengingat (dari taman Eden) bahwa keadaan manusia semestinya penuh kebahagiaan dan sukacita. Hal itu memang dijanjikan dalam dunia yang baru, tetapi kita berharap bahwa iman kita bisa menjamin hal serupa dalam dunia sekarang.

Minggu-minggu sengsara, sesuai dengan namanya, membawa pesan yang lain. Membangun Jemaat mengangkat serangkaian bacaan yang akan mengupas makna pengorbanan Yesus. Minggu ini sederhana tetapi cocok sebagai pengantar untuk mengarahkan kita. Intinya adalah pertentangan antara harapan manusia dengan rencana Allah. Dalam a.43b “semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya”. Kita biasanya puas jika jemaat atau masyarakat heran atau takjub kepada Allah. Tetapi bagi Yesus ada segi lain yang harus disampaikan. Hal itu penting, karena Yesus mengantarkan pemberitahuan-Nya dengan seruan untuk menaruh perkataan-Nya ke dalam telinga (a.44a, artian harfiahnya). Pemberitahuan ini akan sulit ditangkap, sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh.

Pemberitahuan ini merupakan yang kedua dalam Injil Lukas, dan isinya sangat ringkas. Dalam Luk. 9:22 Yesus sudah memberitahu mereka bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kali ini hanya dikatakan bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Hal itu menangkap satu segi yang paling sulit dibayangkan, yaitu bahwa utusan Allah, Mesias-Nya, tidak akan berjaya melainkan akan jatuh ke dalam kuasa manusia. Jika Luk. 9:23 masih berlaku, yaitu bahwa pengikut Yesus “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”, maka jalan dikuasai manusia daripada menguasai manusia tidak dapat dihindari. Mengenai hukuman Allah, kita akan melihat bahwa Yesus menggantikan kita, tetapi mengenai cara hidup kita di bumi, Yesus merintis jalan yang harus kita tempuh. Ternyata, untuk pengikut Yesus bukan saja kita belum luput dari penderitaan umum dunia ini, tetapi juga kita harus memilih jalan seperti Yesus yang akan membawa kita ke dalam penderitaan di bawah tangan manusia.

Murid-murid Yesus tidak mengerti, dan belum sanggup mengerti, dan tidak berani bertanya untuk mengerti. Mereka seperti orang yang di bawah sadar tahu bahwa sesuatu mengancam cita-citanya, sehingga di bawah sadar memilih untuk tidak tahu. Perikop berikut menunjukkan satu segi dari cita-cita mereka, yaitu siapakah yang akan terbesar (a.46). Sepertinya, mereka asyik dengan kebesaran Allah, tetapi tuli terhadap jalan rendah yang ditempuh utusan Allah. Hanya pencurahan Roh Kudus setelah kebangkitan Yesus yang memampukan mereka untuk mengerti (bnd. Kis. 5:41, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”).

Gereja Indonesia berasal dari gereja Eropa yang berabad-abad berjaya di masyarakat Eropa. Katanya, dalam sejarah Indonesia juga gereja tidak segan bermain politik untuk mempertahankan kedudukan. Ketika gereja terbakar, anggota gereja dibunuh, izin membangun dipersulit, kita harus mengingat bahwa Allah menempatkan kita di bawah kuasa manusia, sama seperti Yesus. Rencana Allah dikerjakan bukan melalui kejayaan gereja (yang sering menjadi sejahat penguasa yang lain), melainkan melalui kerendahan pengikut-pengikut Kristus.

Lebih lagi di dalam gereja, kerendahan adalah jalan yang perlu ditempuh. Ketika perkataan Yesus tidak masuk ke dalam telinga para murid, yang masuk di antara mereka adalah pertengkaran. Ancaman terbesar terhadap gereja bukan perlawanan dari luar melainkan perebutan hormat dan kuasa di dalam. Semoga pada minggu-minggu sengsara ini kita menjadi sanggup mendengarkan pesan Yesus ini, dan makin rindu bersekutu dengan Dia pada jalan yang Dia tempuh.


Luk 22:39-46 Menang atas pencobaan

Maret 26, 2009

Setelah diutus oleh Bapa-Nya ketika dibaptis dalam air dan oleh Roh Kudus (Lk 3:21-22), yang pertama-tama dihadapi Yesus bukan manusia (keagamaan Yahudi yang korup, penindasan kekaisaran Romawi) melainkan Iblis. Iblis tentu adalah makhluk, bukan ilah yang bersaing dengan Allah. Tetapi dalam ciptaan ada dua lapisan. Di balik yang kelihatan ada yang tidak kelihatan (Kol 1: 16). Istilah yang dipakai Paulus (singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa) menempatkan yang tidak kelihatan ini di dalam struktur-struktur kekuasaan manusia. Hal-hal seperti pemerintahan, perusahaan, sistem ekonomi dan politik sering menuntut kesetiaan yang selayaknya kepada Allah saja. Oleh karena itu, yang setia kepada Allah akan menghadapi pencobaan, apakah setia kepada Duit, Kuasa dalam berbagai bentuknya, atau kepada Allah.

Jadi, doa yang diajarkan Yesus memohon keselamatan dari pencobaan (Lk 11:4), dan ajaran-Nya tentang kehidupan pada akhir zaman menunjukkan pentingnya doa dan sikap waspada (Lk 21:34-36). Tetapi Yesus sendiri harus mengalahkan pencobaan untuk membuka jalan keluarnya. Pada babak pertama di padang gurun (tempat Israel dicobai) Yesus menang. Menjelang kematian-Nya, Dia harus menghadapi pencobaan untuk menyimpang dari jalan Bapa-Nya, dan juga mengajar murid-murid-Nya bagaimana menghadapi pencobaan.

Murid-murid-Nya mengikuti Yesus (a.39) ke taman Getsemane itu. Mereka disuruh untuk berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah “jatuh” bukan “terjatuh” (aslinya “masuk”, jadi aktif). Artinya bahwa akan ada pilihan, akan ada unsur kesengajaan, meskipun keadaan juga berpengaruh. Kemudian Yesus sendiri berpisah untuk menerapkan nasihat-Nya sendiri. Dia mengakui kedaulatan Allah yang bisa mengubah keadaan apapun, kemudian berserah pada kehendak Allah (a.42). Kehendak Allah berarti meminum cawan murka Allah (bnd. Yes 51:17 dan Yer 25:15; piala sama dengan cawan dalam bahasa aslinya). Aa.43-44 menggambarkan beratnya pencobaan ini, karena menghadapi murka Allah adalah menghadapi neraka. Setelah berdoa, Yesus berdiri dan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Tetapi murid-murid-Nya malah ketiduran. Mereka bisa mengikuti Yesus ke suatu tempat, tetapi belum sanggup mengikuti Yesus dalam menghadapi pencobaan. Sama seperti Israel, mereka gagal. Alhasil, banyak melarikan diri dan Petrus menyangkal Yesus.

Ketaatan kepada Allah bisa berarti bahwa kita akan menghadapi pencobaan yang berat. Dalam Kisah Para Rasul Lukas menunjukkan bahwa oleh kuasa Roh Kudus seorang murid bisa berani dan setia. Tetapi di sini kita belajar bahwa dasar harapan kita bukan kemampuan kita melainkan kemampuan Yesus, Juruselamat kita. Dia yang telah mengalahkan Iblis dan sebagai manusia sejati menempuh jalan ketaatan. Dia yang sudah meminum cawan murka Allah sebagai ganti kita. Oleh karena itu, kita berani belajar taat dan setia dalam menghadapi berbagai penguasa yang dipengaruhi oleh kuasa Iblis dan mencobai. Kemungkinan bahwa kita akan sering seperti Petrus yang menyangkali daripada Petrus pada Kis 5:41. Tetapi dalam kemenangan Yesus kita diampuni, dipulihkan dan dikuatkan untuk tetap berjuang dalam harapan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.