Luk 1:39-45 Menyambut Yesus dengan tepat [1 Des 2013] (Minggu Adven I)

November 26, 2013

Pada masa Adven, kita menyambut Yesus yang telah dan akan datang. Lukas menyampaikan sambutan yang tepat melalui beberapa kisah mengenai orang-orang biasa dan terbatas, termasuk Elisabet dan Maria ini. Hal itu menunjukkan bagaimana kita semua bisa menjadi bagian dari apa yang dilakukan Allah dalam Yesus.

Penggalian Teks

Lukas sangat mengaitkan kelahiran Yohanes Pembaptis dengan kelahiran Yesus. Kedua kelahiran itu diberitahukan oleh malaikat kepada salah satu dari kedua orangtua, dan ternyata kedua ibu adalah sanak saudara (1:36). Ketika Maria mendengar kalau Elisabet itu mengandung, dia pergi dari Nazaret (di Galilea) ke rumahnya di Yudea (aa.39–40). Pertemuan mereka menghasilkan dua nubuatan, yang pertama dari Elisabet dalam perikop kita (aa.42–45), dan yang kedua dalam perikop berikutnya, yaitu nyanyian Maria (1:46–55). Satu nubuatan lagi, nyanyian Zakharia, terjadi ketika Yohanes lahir dan lidah Zakharia terbuka (1:68–79). Ternyata Roh Kudus rindu untuk menjelaskan makna dari kejadian-kejadian dahsyat ini.

Ingat bahwa Elisabet menyembunyikan diri ketika dia jadi hamil (1:24), mungkin karena dia takut kalau-kalau kehamilannya tidak berhasil dan dia menjadi lebih malu daripada sebelumnya. Jadi, Maria hanya tahu tentang kehamilannya dari malaikat itu. Kemudian, Elisabet tentu belum tahu tentang penampakan malaikat kepada Maria. Jadi, gerakan anak dalam rahimnya juga terjadi karena Roh Kudus (41).

Nubuatan Elisabet berbicara tentang Maria, tetapi bukan karena Maria-nya melainkan karena dia dipilih Allah untuk melahirkan Mesias. Fokus pada Maria terjadi dalam bungkusan nubuatan ini (42, 45). Maria diberkati, karena anaknya diberkati, dan memang melalui Yesus berkat Allah yang akan sampai pada bangsa-bangsa. Setelah fokus pada anak itu dalam aa.43–44, Maria kembali disebut berbahagia (45). Dia berbahagia karena kepercayaannya tidak akan dikecewakan. Janji Tuhan kepadanya akan terlaksana; anak itu akan lahir dan menjadi saluran berkat itu.

Inti dari nubuatan Elisabet menonjolkan status anak Maria, Yesus (43–44). Elisabet, dengan kuasa Roh Kudus, mengaku-Nya sebagai kurios-nya, yaitu tuan atau Tuhan (43). Ingat bahwa kata kurios berarti tuan, yaitu orang yang berkuasa atas hambanya. Kata itu dipakai baik untuk manusia yang berhak menyuruh orang lain, maupun untuk dewa-dewi dan Allah yang juga berhak demikian. Jadi, pada dasarnya Elisabet mengakui otoritas Yesus sebagai Mesias, bukan kodrat-Nya sebagai Allah. Dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa akan terlintas dalam benak Elisabet untuk berpikir bahwa Yesus itu ilahi; yang dia maksud adalah “tuanku” selaku Mesias (Raja Israel). Tentu, dalam teologi Lukas, Yesus juga berperan sebagai Allah yang mengunjungi umat-Nya, dan mungkin itu alasannya LAI menggunakan kata “Tuhan”. Kata itu baik-baik saja asal diingat bahwa dengan demikian Yesus diberi hak untuk memerintah. (Hanya bahasa Indonesia yang memaksakan pilihan ini; baik bahasa Inggris, “Lord”, maupun bahasa Toraja, “Puang”, memiliki cakupan makna yang sama dengan kurios.) Pengakuan Elisabet itu dilanjutkan dengan pengakuan Yohanes Pembaptis, bayi dalam rahimnya, yang menyambut bayi di kandungan Maria dengan gembira (44).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menyambut Yesus dengan tepat: sebagai tuan/Tuhan; dengan kegirangan; dengan kepercayaan yang memampukan kita menjadi saluran berkat.

Makna

Jika kita membaca Lukas pp.1–2, kita akan memiliki konsep yang cukup jelas tentang tempat Yesus dalam rencana Allah untuk memulihkan Israel, bahkan bangsa-bangsa. Sebenarnya, bangsa-bangsa hanya muncul dengan jelas dalam nubuatan Simeon ketika Yesus disunat (2:31–32); semua nubuatan yang lain menyangkut keselamatan Israel saja. Ini bagian dari pemahaman Lukas tentang waktu, bahwa rencana Allah bertahap. Baru setelah kebangkitan Yesus, para murid diberi amanat untuk bersaksi di Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Tetapi, Yohanes Pembaptis menyangkut pembaruan Israel saja, dan Yesus digambarkan sebagai Mesias, yaitu anak Allah yang memerintah dari takhta Daud (1:32). Mengapa Lukas begitu lama mempersoalkan Israel, sementara dia sendiri menceritakan penawaran Injil kepada semua bangsa?

Jawabannya termasuk soal tuan/Tuhan tadi. “Tuhan” adalah kata religius, yang bisa saja menyangkut hal-hal batin saja, sehingga “Yesus adalah Tuhanku” diartikan sebagai “Yesus memberi saya semangat dan makna hidup”. Tetapi kurios (“tuan”) adalah kata yang menyangkut kuasa. “Yesus adalah tuanku” menonjolkan bahwa hidup saya ada untuk Dia, dan bukan sebaliknya. Lebih lagi, kalau Yesus adalah tuan sebagai Mesias, karena Dia menempati takhta Daud, maka Dia berkuasa juga atas ranah politik. Sebagai Raja di atas segala raja, Dia harus ditaati di atas semua pemerintah manusia. Jika Dia adalah tuan, kita adalah hamba-hamba-Nya. Dalam konteks modern, seorang hamba Raja adalah pegawai negeri, hanya jam kantornya 24 jam per hari, 7 hari seminggu. Jadi, sama seperti seorang pegawai (semestinya) mengerjakan tugas pemerintah, kita mengerjakan tugas Kerajaan Allah. Mungkin kita lebih suka Yesus sebagai Tuhan religius yang menguatkan batin saja, tetapi Yesus yang diumumkan oleh malaikat dan Roh Kudus dalam Lukas 1–2 tidak dapat dibatasi pada ranah religius saja.


Luk 18:15-17 Anak-anak dan Kerajaan Allah (9 Sep 2012; Minggu Anak-anak)

September 8, 2012

Perikop ini mengangkat keadaan sebagai anak sebagai model untuk menjadi anggota Kerajaan Allah. Tetapi konteksnya berbeda dalam ketiga Injil Sinoptik, sehingga ada penekanan masing-masing. Dalam Injil Matius, misalnya, cerita ini ada di antara ajaran tentang perceraian dan cerita tentang orang kaya, yang masing-masing menekankan betapa besar tantangannya hidup dalam Kerajaan Sorga. Tempatnya dalam Injil Lukas membawa nuansa yang lain.

Penggalian Teks

Lukas 17:20-37 berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang membedakan, artinya, ada yang selamat, ada yang dihukum. Perumpamaan berikut (18:1-8) berbicara tentang kerinduan Allah untuk membenarkan umat pilihan-Nya yang tertindas. Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya, “jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (18:8). Kemudian, ada tiga cerita yang sepertinya menjelaskan soal iman itu. Orang Farisi itu beriman kepada kesalehannya sendiri (18:11-12), dan orang kaya itu beriman kepada kekayaannya (18:22-23). Hanya pemungut cukai yang imannya seperti seorang anak, yaitu, merendahkan diri (18:14b).

Anak-anak yang dibawa adalah brefos, yaitu anak yang masih menyusu. Anak-anak kecil seperti itu sudah serendah mungkin, sepenuhnya bergantung pada ibu untuk bisa hidup. Mereka dibawa kepada Yesus untuk disentuh, yaitu, diberkati (bdk. Mrk 10:16).

Para murid tidak setuju (15b). Kata “memarahi” (epitimao) berarti menegor dengan keras untuk menghentikan sesuatu. Mengapa mereka keberatan tidak dijelaskan, tetapi jika kita berangkat dari 18:14b, mereka menganggap bahwa tidak pantas kalau Yesus berurusan dengan anak.

Apapun alasannya, Yesus sangat keberatan terhadap mereka (16). Dengan paralelisme yang tegas—“biarlah mereka datang…jangan menghalangi mereka”—Yesus mau menerima anak-anak itu. Justru anak-anak itu yang memiliki sifat anggota-anggota Kerajaan Allah. Implikasinya ialah bahwa cara masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti anak kecil itu.

Kata brefos tadi menarik karena menutup tafsiran yang merujuk pada kerendahan hati anak. Seorang bayi belum sampai sombong atau tidak, tetapi kerendahannya adalah sesuatu yang objektif. Pemungut cukai itu tidak berpura-pura menyesali dosanya, dia tidak berlagak sebagai orang yang rendah di hadapan Allah, tetapi dia sadar akan keadaannya yang sebenarnya.

Maksud bagi Pembaca

Kita didorong untuk menerima Kerajaan Allah sebagai anak, yaitu, dalam keadaan tidak berdaya. Sejauh mana kita telah menangkap kondisi kita yang sebenarnya akan tercermin dalam sikap kepada orang-orang yang rendah, termasuk anak-anak sendiri.

Makna

Satu cara untuk menggambarkan dosa ialah usaha untuk hidup mandiri, tidak bergantung kepada Allah. Soal anugerah mulai dengan penciptaan—kita tidak “berhak” untuk diciptakan. Tetapi, anugerah itu menjadi lebih tajam ketika Allah tetap menawarkan kehidupan kepada manusia yang telah menolak-Nya. Anak menjadi contoh akan kondisi manusia yang tidak berdaya.

Dari konteknya, kita tidak berdaya untuk mengatasi keberdosaan kita (18:13), dan kita tidak berdaya untuk bertahan hidup (18:24; orang miskin lebih cepat menyadari hal itu). Keadaan itu adalah kenyataannya, dan kesadaran akan keadaan itu bukan suatu alasan untuk Allah menerima kita (seakan-akan kerendahan hati adalah amal), melainkan kesadaran itu memungkinkan kita untuk menyambut Kerajaan Allah dengan tepat. Kesadaran itu pun adalah anugerah Allah (18:27).

Orangtua dan pimipinan gereja yang merendahkan anak tidak salah tentang status anak-anak, mereka salah tentang Allah. Allah meninggikan yang rendah, dan merendahkan yang tinggi.


Luk 10:38-42 Menerima Yesus dengan sejati (2 Sep 2012)

Agustus 30, 2012

Dalam menafsir perikop yang pendek ini, saya dibantu dengan memperhatikan penyusunan kalimat dan kosa kata dalam bahasa Yunani, tetapi saya paling dibantu dengan memperhatikan konteks dalam kitab. Penafsiran yang lepas dari konteks bisa saja keliru, misalnya, bahwa maksud perikop ini adalah bahwa hanya penelaahan Alkitab yang penting. Padahal, kalimat pas sebelum perikop ini berbunyi, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Konteks mempertajam maksud dari sebuah perikop, dan perikop yang sudah lama saya kenal ini mendapat kejelasan baru ketika saya membaca di sekitarnya.

Penggalian Teks

Perikop ini terletak antara dua perikop yang lain yang juga terkenal, perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (10:25-37) dan ajaran Yesus tentang doa (11:1-13). Perumpamaan itu mulai dengan pertanyaan tentang hidup yang kekal, dengan jawaban tentang kasih kepada Allah dan sesama (10:25-27). Perumpamaan itu mempersoalkan kasih kepada sesama, tetapi bukan kasih kepada Allah. Sepertinya cocok untuk melihat bahwa perikop kita serta perikop berikutnya menunjukkan bagaimana mengasihi Allah, yakni, dengan mendengarkan Yesus dan berdoa (untuk menerima Roh Kudus, 11:13). Semuanya dalam rangka Kerajaan Allah yang dekat (10:11).

Ceritanya sederhana. Sesuai dengan pola yang disampaikan dalam 10:5 dst, Yesus dan murid-murid-Nya diterima di rumah Marta. Marta adalah fokus di sini, tetapi dalam perbandingan dengan saudaranya Maria. Marta menerima rombongan Yesus (38b), sedangkan Maria duduk dekat kaki-Nya (39a). Maria mendengarkan Yesus terus-menerus (39b), sedangkan Marta sibuk melayani (40a). Berapa orang yang mau dilayani? Jumlahnya tidak disebutkan, tetapi silakan dipikirkan, selain murid-murid Yesus sendiri, apakah akan ada dari tetangga-tentangga yang juga datang untuk mengamati Sosok yang terkenal itu. Jadi, sibuknya Marta dapat dibayangkan. Kata yang dipakai berarti bahwa perhatiannya ke sana ke mari, saking banyaknya hal yang mau dipikirkan. Mungkin dalam bahasa modern kita akan mengatakan bahwa dia sedang stres.

Dalam a.40b dikatakan bahwa Marta juga mendekati Yesus, tetapi kata yang dipakai agak kasar: bukan mendekati dengan halus melainkan mendekati secara mendadak atau mendesak. Ucapannya juga seakan-akan mempersalahkan Yesus karena saudaranya. Bukannya dia mendekati Maria untuk mengajak dia membantu, melainkan dia mau agar Yesus menyuruh Maria untuk membantu dia. Kehadiran Yesus telah menyusahkan dia, sehingga Yesus yang dianggap bertanggung jawab untuk meringankan bebannya.

Dalam 12:14 Yesus menolak untuk menjadi hakim antara dua saudara soal warisan. Tetapi di sini, Yesus berpihak. Kesusahan Marta berasal dari kekhawatiran (41). Marta menganggap bahwa banyak hal perlu terkait dengan adanya banyak tamu, tetapi menurut Yesus hanya satu hal perlu, dan itulah yang dilakukan Maria, yakni, mendengarkan pemberitaan Yesus. Yesus tidak mau bahwa tuntutan yang berasal dari kekhawatiran menarik orang dari hal yang pokok dalam mengasihi Allah, yakni, mendengarkan Yesus, Anak-Nya (bdk. 10:21-22).

Adalah menarik bahwa setelah perumpamaan yang menekankan pentingnya kasih yang praktis, Marta yang bertindak itu dikecam. Tetapi perbandingannya di sini bukan antara mendengar dengan bertindak, melainkan antara mendengar dengan khawatir. Ajaran Yesus adalah ajaran yang membebaskan kita dari kesibukan dan stres yang tidak tepat.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau supaya kita menyambut kedatangan Kerajaan Allah dengan memusatkan perhatian kepada Yesus dan ajaran-Nya. Hal itu khususnya berlaku bagi yang giat dalam pelayanan tetapi terancam lupa akan apa yang pokok dalam pelayanan itu, dan malahan mau menyeret orang lain dari apa yang pokok itu. Marta menerima Yesus (a.38b), tetapi tanpa sengaja mau menghalangi saudaranya mendengarkan Yesus.

Makna

Dalam Luk 12:31, Yesus menanggapi masalah kekhawatiran dengan ucapan, “carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Marta belum memiliki fokus pada Kerajaan Allah, sehingga diliputi oleh kekhawatiran. Kita tidak tahu persisnya, tetapi satu kemungkinan, beranjak dari konteks sekarang, dia sibuk mempersiapkan hidangan yang “cukup”, alias mewah, sehingga kesempatan yang luar biasa dengan hadirnya Yesus dilewatkan karena kesibukan itu. Tentu, banyak orang yang menjadi sibuk dengan hal-hal yang kurang penting, sehingga tidak ada waktu untuk yang paling penting. Kehadiran Yesus, jika mereka berterus terang, agak merepotkan. Beberapa program di bawah payung Gerakan Cinta Alkitab yang diselenggarakan oleh sinode Gereja Toraja mau membantu jemaat untuk kembali pada jalur Maria.

Apakah pelayanan jemaat bisa juga sibuk dan pusing di sekitar hal-hal yang tidak penting? Di Sydney, Australia, ada beberapa konferensi pemuda kristen yang dihadiri oleh beribu-ribu pemuda dari beratus-ratus jemaat setiap tahun, dalam sebuah negara yang rata-rata tidak beragama. Untuk kegiatan apa pemuda-pemuda itu berbondong-bondong datang? Untuk mendengarkan tiga khotbah yang berbobot per hari, selama dua atau tiga hari. Contoh itu bukan usul, karena konteksnya berbeda. Tetapi, bagi mereka, perhatian kepada Yesus bukan gangguan, seperti kadangkala terasa dalam acara gerejawi di sini.

Mungkin yang paling memprihatinkan ialah ketika firman yang untuknya jemaat sudah datang ternyata tidak bergizi—Yesus hanya muncul di pinggir. Pelayan sesibuk dan sepusing Marta dalam mencari cerita dan lelucon untuk “menyambung” dengan jemaat (alias “relevan”), tetapi sudah lupa dengan Siapa jemaat itu mau disambungkan.


Luk 16:1-9 Cerdik memakai Mamon (8 Juli 2012)

Juli 5, 2012

Tema yang mau dibangun oleh Membangun Jemaat dari perikop ini pada akhir minggu persembahan ialah pengelolaan persembahan yang jujur. Masalahnya, perumpamaan ini kelihatan memuji seorang pengelola yang tidak jujur, tetapi cerdik (a.8a). Baru dalam ayat-ayat berikut (16:10-13) tema tanggung jawab menjadi jelas. Jadi, ada dua tantangan dalam perikop ini. Yang pertama dan yang paling penting ialah, menyampaikan pesan Yesus yang sebenarnya, dengan menghargai kejutan yang Dia sendiri pasang dalam cerita ini. Yang kedua, dan menyangkut konteks Gereja Toraja saja, yaitu menghubungkan kecerdikan itu dengan harapan dari pedoman Membangun Jemaat tersebut. Hal itu menuntut kecerdasan tertentu dari Pembaca, atau paling sedikit, konsentrasi untuk mengikuti argumentasi saya yang tidak sederhana.

(Sebagai catatan, dalam persiapan saya kembali dibantu dengan memperhatikan basaha aslinya. Kiranya ada yang didorong oleh upaya ini untuk mengembangkan/melanjutkan kemampuannya dalam bidang itu.)

Penggalian Teks

Lukas pp.9-19 merupakan perjalanan Yesus ke Yerusalem, dan berbicara tentang menjadi murid Yesus. Yang menjadi lawan Yesus, dan juga sumber perbandingan Yesus, ialah orang Farisi. Misalnya, pasal sebelum perikop kita (p.15) memuat tiga perumpamaan yang terkenal tentang berbagai orang yang hilang. Sasaran Yesus termasuk orang Farisi yang bersungut-sungut bahwa Yesus menerima orang-orang berdosa (15:2). Luk 16:14, setelah perikop kita, juga menunjukkan bahwa orang Farisi adalah sasaran Yesus, kali ini tentang cinta mereka akan uang. Namun, a.1 menyoroti murid-murid Yesus sebagai sasaran perumpamaan ini. Isinya mengangkat soal kejujuran yang mungkin saja menyinggung orang Farisi, tetapi penerapan Yesus sendiri berbeda dalam aa.8-9, dan baru dalam aa.10-13 soal kesetiaan dalam tugas muncul kembali.

Perumpamaan Yesus terdapat pada aa.1b-8a. Konteks yang kemungkinan besar digambarkan di dalamnya sebagai berikut. Orang kaya itu memiliki serangkaian ladang dengan berbagai hasil, termasuk minyak dan gandum. Dari jumlah yang disebutkan dalam cerita ini, ladang-ladang itu cukup besar. Ladang itu disewakan kepada penggarap dengan cara membagi hasil. Karena hasil dari sebuah ladang tidak menentu, ada ruang gerak untuk seorang bendahara bermain. Jika ada masalah (misalnya, hama), utang itu bisa dikurangi. Itulah yang dilakukan dalam aa.5-7. Mungkin juga permainan seperti itu yang dilaporkan dalam a.1, atau mungkin yang dia lakukan adalah pemboroson, sama seperti, dalam konteks modern, pegawai yang terbang dalam kelas eksekutif, atau menyewa kamar hotel bintang lima, atau anggaran hiburan dipakai bukan hanya untuk makan bersama dengan klien tetapi juga ke pelacur. (Dalam bahasa aslinya, kata “menghamburkan” dalam a.1 sama dengan kata “memboroskan” dalam 15:13, tentang anak yang hilang itu.) Yang jelas, tuannya rugi.

Aa.1-2 menyampaikan latar dari cerita ini: ulah bendaraha itu ketahuan, sehingga dia akan dipecat. Aa.3-4 menggerakkan cerita yang berikut. Ternyata, uang yang dihamburkan tidak ada yang ditabung, sehingga bendahara itu dalam kesulitan. Setelah menolak dua jalan keluar (mencangkul dan mengemis), dia sampai pada rencana untuk mendapatkan tumpangan baginya kelak. Rencana itu tidak dilaporkan, tetapi muncul dalam cerita selanjutnya (aa.5-7). Karena pemecatan itu butuh waktu untuk diproses (bdk. “pertanggungjawaban” dalam a.2b), dia mengambil kesempatan untuk mengubah jumlah-jumlah utang. Bahasanya dalam a.6b dan a.7b lebih jelas dalam bahasa aslinya: “terimalah suratmu dan tulislah lima/delapan puluh”. Bahasa asli tidak menentukan apakah mereka membuat surat yang lain atau “memperbaiki” surat yang ada, tetapi yang menonjol di sini adalah soal penerimaan. A.4b secara harfiah berbunyi, “mereka akan menerima aku ke dalam rumah-rumah mereka”. Mereka ditawarkan untuk “menerima” surat utang, supaya nanti “mereka menerima aku”.

Cara itu memang cerdik. Karena dia telah membantu para pengutang, dia bisa berharap untuk dibantu setelah dipecat. Dengan demikian dia telah memakai kekayaan bosnya untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi pengurangan utang adalah tindakan murah hati yang membawa penghormatan bagi tuannya. Tidak mungkin tuannya mengembalikan kemurahan itu, atau menghukum bendahara itu, karena dengan demikian dia akan merusak penghormatan itu. Makanya, tuan itu mengakui kecerdikan bendahara itu (a.8a).

Aa.8b-9 merupakan komentar langsung Yesus tentang perumpamaan ini, sedangkan aa.10-13 berbicara lebih luas. A.8b menyoroti soal kecerdikan. Kata “cerdik” (phronesis) berarti kemampuan untuk mengambil tindakan yang tepat untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Yesus mengeluh bahwa orang-orang duniawi (seperti bendahara) cerdik dengan kalangan mereka sendiri (seperti orang-orang yang berutang), sedangkan anak-anak terang kurang cerdik di dalam kalangan anak-anak terang. Dengan bahasa itu Yesus berbicara tentang urusan dunia dan urusan Kerajaan Allah. Anggaplah sebagai contoh, banyak perusahaan bisa bertahan lama dan berkembang dengan visi yang jelas, sementara gereja-gereja tertentu mandek dalam formalitas atau semangat yang tak keruan.

A.9 mengangkat sasaran kecerdikan bendahara, yaitu, bagaimana dia mengikat persahabatan yang saling menguntungkan. Hal itu ditunjukkan oleh Yesus dengan a.9b kurang lebih mengutip a.4b (secara harfiah, a.9b berbunyi “…mereka menerima kamu ke dalam kemah-kemah abadi”). Dalam kedua ayat ada kelompok yang menerima kelompok yang lain ke dalam rumah tertentu karena persahabatan yang diikat. Hal itu jelas dalam a.4, dan dalam a.9 yang diterima jelas adalah murid-murid Yesus atau anak-anak terang. Kemudian, rumah orang-orang yang berutang menjadi “kemah-kemah abadi”. Yang dimaksud Yesus boleh disebut surga, tetapi bahasanya merujuk pada zaman. “Anak-anak dunia ini” secara harfiah adalah “anak-anak zaman ini”, dan kata “abadi” adalah kata “zaman”, yaitu, zaman mendatang. Jadi, “mereka” akan menyambut murid-murid Yesus ke dalam zaman baru karena kecerdikan murid-murid mengikat persahabatan dengan “mereka”.

Lalu, siapakah “mereka” itu? LAI menafsir “mereka” sebagai bentuk pasif (“diterima”), sehingga artinya bisa Allah (atau Allah serta para malaikat). Kita harus memakai uang dengan cerdik (secara kreatif) sehingga menyenangkan Allah. Sepintas lalu, tafsiran itu dapat klop dengan aa.10-13, yang mendorong kita untuk memakai Mamon secara bertanggung jawab (a.11), yaitu, sebagai alat untuk rencana Tuhan, bukan sebagai tuan (a.13). Masalahnya, “persahabatan” terdapat dalam bentuk jamak (harfiahnya, “sahabat-sahabat”), sehingga tidak bisa berarti Allah saja, dan agaknya aneh jika kita disuruh untuk mengikat persahabatan dengan malaikat-malaikat. Jadi, saya kira bahwa tetap manusia yang dimaksud. Orang-orang itu seakan-akan mendahului murid-murid Yesus ke surga/dunia baru, dan menjadi bukti akan layaknya murid-murid itu untuk masuk juga. Jika kita melihat pasal sebelumnya, kita melihat cara Yesus mengikat persahabatan dengan orang-orang berdosa (15:2), sehingga yang hilang bertobat dan ada sukacita di surga (15:7). Jika kita melihat ke akhir p.16, ada contoh negatifnya, yaitu Lazarus dan orang kaya. Orang kaya itu tidak mengikat persahabatan dengan seorang miskin yang di depan rumahnya, sehingga dia tidak diterima oleh Allah. Orang yang miskin rohani dan jasmani yang dengannya kita mengikat persahabatan yang saling menguntungkan. Mereka menjadi harta di surga yang akan menyambut kita.

Dan persahabatan itu diikat dengan “Mamon yang tidak jujur”. Aa.10-13 menguatkan bahwa Yesus berbicara tentang uang dan harta benda. Persahabatan itu diikat di dunia ini, dengan hal-hal duniawi yang dipakai dengan cerdik. Aa.10-13 mengimbangi soal kecerdikan itu dengan penekanan akan tanggungjawab, tetapi tetap Mamon yang dipakai. Walaupun Mamon itu tidak memiliki masa depan, Mamon ternyata berguna. Bukan karena kemewahan yang bisa dibeli, tetapi karena persahabatan yang bisa dibangun.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mau supaya murid-murid-Nya cerdik dalam memakai Mamon di dunia ini, sehingga persahabatan-persahabatan diikat yang akan memiliki dampak yang kekal. Hal itu disampaikan melalui sutu cerita yang lucu dan menarik, sekaligus menggelitik. Dengan tokoh-tokoh yang mirip dengan tokoh yang sering terdapat dalam perumpamaan-perumpamaan yang lain, yaitu, seorang tuan dan orang-orang di sekitarnya, Yesus menjungkirbalikkan dugaan pendengar. Bendahara itu tidak jujur tetapi dipuji oleh tuan itu. Yesus tidak menyoroti ketidakjujuran bendahara itu melainkan kecerdikannya dalam mengikat persahabatan. Seakan-akan, Dia sengaja menggelitik para pengikut-Nya yang begitu terpukau pada soal kejujuran sehingga relasi-relasi yang berguna bagi tujuan-tujuan Kerajaan Allah tenggelam dalam kekakuan dan wawasan yang sempit.

Makna

Dengan memahami bahwa Yesus tidak terfokus pada soal ketidakjujuran, tetapi tetap berbicara tentang Mamon, aspirasi Membangun Jemaat tadi bisa terwujud. Semestinya, persembahan yang ditekankan selama minggu ini dikelola bukan hanya dengan jujur (aa.10-12 mendukung pokok itu) tetapi juga dengan cerdik. Bagi saya, hal itu sangat relevan, karena ada banyak hal dalam penggunaan persembahan yang sebenarnya pelik. Apakah diakonia mengikat persahabatan dengan orang miskin? Bagaimana? Gagasan tentang diakonia karitatif, reformatif dan transformatif adalah usaha untuk berdiakonia dengan cerdik (tetapi baru menjadi cerdik jika diterapkan). Apakah anggaran marturia (kesaksian) mendukung warga jemaat untuk mengikat persahabatan dengan orang yang belum mengenal Kristus? Terlalu banyak anggaran gereja akan mendukung keluhan Yesus dalam a.8b: tulus tetapi tumpul.

Kecerdikan malah menjadi satu lensa untuk menyoroti karya Yesus. Dia sering cerdik dalam menanggapi lawan-lawan-Nya, seperti dalam ketiga perumpamaan dalam p.15, lebih lagi ketika Dia bisa berkuasa di Bait Allah selama berhari-hari. Rencana keselamatan yang Dia laksanakan juga cerdik: tanpa lembaga, aparat atau prasarana (tetapi ada yang memakai Mamon mereka untuk mendukung Dia, Luk 8:3), Dia dapat mendirikan gerakan baru; melalui “kekalahan” yang besar di salib, Dia bisa mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Keselamatan oleh anugerah; pembenaran oleh iman bukan perbuatan; pengudusan oleh keinginan Roh bukan oleh usaha daging; semuanya adalah hal-hal yang sangat tepat untuk kondisi manusia sekaligus sangat mengejutkan—artinya, betul-betul cerdik. Cerdik untuk apa? Supaya banyak orang menjadi sahabat Allah dan berkumpul di kemah-kemah abadi di dunia baru.


Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Luk 22:1-6 Jatuhnya seorang murid ke dalam pencobaan (3 Apr 2011)

Maret 28, 2011

Aa.1-2 merupakan latar belakang yang penting untuk aa.3-6. Dari pp.20-21 ternyata sudah cukup banyak orang di Yerusalem, dan mereka terpesona dengan Yesus. Mendekatnya hari H, yakni Paskah (yang langsung disusuli dengan hari raya Roti Tidak Beragi), makin mendesak pimpinan Yahudi, karena jika Yesus berencana menentang kuasa kafir, yakni orang Roma, pada hari itu jumlah dan semangat perjuangan orang banyak akan memuncak. Tetapi karena orang banyak terpesona dengan Yesus mereka tidak bisa menangkap Yesus langsung di depan umum. Mereka membutuhkan jalan yang lain. Hal itu yang diberikan kepada mereka oleh Yudas (a.6).

Jadi, penawaran Yudas datang pas pada waktunya, dan mungkin saja mereka menganggap bahwa hal itu adalah pemeliharaan Tuhan sendiri. Tetapi menurut Lukas yang mengatur bukan Allah melainkan Iblis. Tentu, Iblis tidak di luar kuasa Tuhan—sebaliknya semuanya ini termasuk rencana-Nya—tetapi Iblis yang menggerakkan hati Yudas. Bahasa “masuklah Iblis ke dalam Yudas” terjadi juga dalam Yoh 13:27, dengan terjemahan yang lain, yaitu, “ia kerasukan Iblis”. Jika gambaran orang kerasukan di Toraja adalah orangnya berteriak dan bergerak-gerak dengan tidak sadar, maka jelas Yudas tidak kerasukan. Dalam Yoh 13:2 Iblis sudah “membisikkan rencana dalam hati” (harfiah: “melemparkan ke dalam hati”) untuk menyerahkan Yesus, dan dalam Yoh 13:27 Iblis masuk untuk meneguhkan bisikan itu. Jadi, Iblis yang memberanikan Yudas untuk melakukan sesuatu yang sangat menantang—mengkhianati guru tercinta. Ternyata tidak semua kebetulan yang cocok dengan rencana kita datangnya dari Tuhan, dan tidak semua semangat yang datang dari luar datangnya dari Roh Kudus, sekalipun tidak ada gejala-gejala kerasukan.

Tidak jelas seberapa jauh Yudas menganggap bahwa dia melakukan sesuatu yang baik atau yang perlu ketika dia pergi kepada para pemimpin Yahudi. Saya duga Suharto sungguh percaya bahwa jika dia tidak memegang kuasa, Indonesia akan runtuh dan hancur. Aparat di bawahnya yang mengatur pembunuhan para aktivis mungkin saja menganggap bahwa mereka berjuang untuk mempertahankan kedamaian yang dijamin oleh penguasa yang kuat itu. Yudas ditanggapi dengan serius oleh para pemimpin Yahudi, dan aparat (pengawal Bait Allah) dilibatkan untuk membahas strategi penangkapan Yesus (a.4). Paling sedikit, mereka percaya bahwa mereka melakukan kehendak Allah. Hanya, ketika kesepakatan mereka sampai pada soal uang, suatu anggapan bahwa Yudas (dan mereka) memiliki prinsip menjadi sulit dipertahankan. Yudas tidak digerakkan oleh uang, dia digerakkan oleh Iblis. Tetapi penawaran uang itu bisa mengobati gejolak hati yang masih ada di dalam dirinya, sehingga dia dengan tekun mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Dalam perikop sebelumnya (yang dibahas beberapa minggu yang lalu) dikatakan bahwa kita harus berjaga-jaga sambil berdoa (Luk 21:36). Menghadapi pencobaan terkait dengan kehadiran Kristus di Yerusalem, Yudas adalah yang pertama yang jatuh. Penerimaan uang itu menjadi gejala atau tanda akan suatu hati yang dengan mudah dipengaruhi oleh Iblis sendiri.


Luk 21:34-38 Doa yang menantikan hari Tuhan

Maret 8, 2011

Lukas 19:45-21:38 memberi gambaran tentang pelayanan Yesus di Bait Allah. Dia datang sebagai Raja Israel, Mesias, kemudian menyucikan Bait Allah dan, seperti dikatakan dalam aa.37-38 dari perikop kita, Dia mengajar pada siang hari kepada “seluruh bangsa” (LAI “semua orang banyak”). Namun, 21:7-36, termasuk aa.34-36 dari perikop kita, tidaklah ditujukan kepada orang banyak melainkan kepada para murid (21:7). Dipicu oleh pernyataan provokatif dalam 21:6 bahwa Bait Allah akan dihancurkan, mereka bertanya tentang waktu dan tanda dari peristiwa itu.

Hal itu menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar tentang apa yang disimpulkan sebagai “hari itu” (a.34; LAI “hari Tuhan”), yakni hari kedatangan Kerajaan Allah (21:31). Dalam Injil Lukas, Kerajaan Allah, sama seperti biji sesawi dan ragi, mulai kecil tetapi berdampak besar (13:18-21). Bijinya tidak lain dari Yesus sendiri (8:10), tetapi antara pelayanan Yesus dan kedatangan Kerajaan Allah secara tuntas ada proses. Proses kedatangan Kerajaan Allah digambarkan dalam 21:7-36, dengan fokus pada waktu kehancuran Yerusalem. Proses kedatangan Kerajaan Allah ditandai dengan peperangan, gempa, penyakit, kelaparan dsb (21:11) serta penganiayaan (21:12). Hal-hal itu menjadi peringatan bahwa penggenapannya akan datang, sama seperti tunas pohon menandai kedatangan musim panas (di tempat-tempat yang ada empat musim). Dalam a.36 baik proses maupun puncak dirujuk, yaitu “semua yang akan terjadi” (proses, merujuk ke 21:7-36) dan “berdiri di hadapan Anak Manusia” ketika Dia datang kembali.

Jadi, walaupun “hari itu” merujuk terutama pada akhir dari proses itu, yakni ketika Yesus datang kembali, kita bisa melihat bahwa ada banyak hari-hari Tuhan kecil yang menyingkapkan apakah umat Allah menantikan kedatangan Kerajaan Allah dengan setia atau tidak. (Bandingkan 1 Yoh 2:18, di mana gagasan tentang adanya satu orang antikristus tidak terbatas oleh “satu” itu tetapi menyimpulkan bahwa sudah ada “banyak” yang berfungsi seperti antikristus itu, walaupun dalam rangka yang lebih terbatas.)

Oleh karena itu, peringatan Yesus tetap ada relevansinya bagi kita, entah puncaknya datang dalam waktu dekat atau tidak. Hari Tuhan disebut dalam a.34 “jatuh…seperti suatu jerat”. Jerat jauh lebih susah dihindari atau diluputkan jika kita menanggung beban yang berat. “Pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi” membebani hati. Seperti dalam perumpamaan tentang penabur benih (bnd. 8:14), hal-hal itu mencekik pertumbuhan iman. Dengan demikian, ketika masalah-masalah berat datang, kita tidak dapat bertahan.

Bagaimana caranya untuk mempersiapkan diri? Dalam a.36 dikatakan untuk berjaga-jaga dalam doa. Berjaga-jaga berarti bahwa doa kita terarah, sadar dalam waktu tenang dan aman bahwa kita harus siap untuk menghadapi waktu susah dan berbahaya. Doa berarti bahwa kita mengandalkan Allah untuk meluputkan kita. Apakah doa kita mempersiapkan kita untuk menghadapi tantangan yang berat? Atau doa hanya untuk menghibur jemaat yang sedang tidur?


Luk 4:1-13 Yesus telah mengalahkan Iblis

Maret 3, 2011

Walaupun kita dapat belajar dari pencobaan Yesus, ada sesuatu yang lebih dalam lagi di dalamnya. Setelah dibaptis dalam Roh dan diutus oleh Bapa-Nya di sorga (Luk 3:21-22), Yesus, sebagai anak Daud (3:31) harus melawan musuh umat Allah yang terlalu kuat untuk umat Allah, sama seperti Daud melawan Goliat. Sebagai anak Abraham (3:34) ketaatan-Nya harus diuji sama seperti Abraham diuji (Kej 22:1; cerita itu disinggung dalam 3:22 dalam kata “Anak-Ku yang Kukasihi”). Pencobaan pada dasarnya adalah keadaan dari dalam atau dari luar yang menjadi alasan (dalih) untuk tidak taat kepada Allah. Sebagai anak Manusia (3:38), musuh yang harus Dia lawan tidak lain dari si Pemfitnah, si Iblis, yang menggoda Adam dan Hawa. Semuanya dilakukan di padang gurun selama 40 hari, tempat Israel dicobai selama 40 tahun dan gagal. Bagaimana hasilnya Mesias yang baru diurapi ini?

Dari pemakaian present tense untuk kata “dicobai” ada kesan bahwa pencobaan itu berlangsung selama 40 hari. Bagaimanapun juga, setelah 40 hari Yesus lapar. Katanya kalau berpuasa lama, setelah beberapa hari pertama rasa lapar itu hilang selama hanya lemak yang dibakar untuk kebutuhan tubuh. Tetapi jika lemak dalam tubuh sudah habis, ototlah yang mulai dimakan tubuh, dan rasa lapar yang dahsyat muncul, dahsyat karena menyangkut hidup dan mati. Rasa lapar itu yang melanda Yesus pada saat ini. Selain bahwa hal itu menjadi pintu masuk untuk pencobaan yang pertama, kita melihat bahwa Yesus sudah masuk ke ranah paling rawan untuk dicobai, yaitu pada keadaan lemas dan terganggu oleh kebutuhan yang besar. Dalam konteks seperti itu saya dengan paling mudah membenarkan kegagalan saya. Dalam konteks itulah ketaatan Yesus dicobai.

Pencobaan pertama menyangkut kelaparan tadi. Yesus mengutip dari Ul 8:3, di mana dijelaskan bahwa Allah menguji Israel selama 40 tahun di padang gurun, termasuk membiarkan mereka lapar supaya mereka sadar bahwa dasar kehidupan adalah firman Allah, bukan makanan. Kita menganggap bahwa jika orang bisa makan dia bisa hidup. Tetapi Allah mau Israel belajar bahwa jika Israel taat kepada firman Allah baru Israel bisa hidup. Hawa gagal di situ: buah pohon dianggap “baik untuk dimakan” (Kej 3:6) walaupun dilarang. Kelaparan mewakili semua nafsu, hal-hal yang baik pada tempatnya tetapi ketika mendesak bisa membenarkan banyak hal. Yesus membuktikan bahwa manusia bukanlah budak dari nafsu-nafsunya.

Pencobaan kedua dalam urutan Lukas adalah penawaran kuasa duniawi kepada Yesus. Karena si Iblis adalah pembohong, tidak usah dipercaya bahwa dia berhak untuk memberikan kerajaan-kerajaan dunia kepada Yesus. Yang diperlihatkan adalah kemuliaan kerajaan-kerajaan. Jika pencobaan pertama menyangkut pribadi, pencobaan ini menyangkut ranah sosial. Yang tidak diperlihatkan ialah sisi gelap kerajaan-kerajaan itu, tanggung jawab sebagai pemimpin dsb, yang menuntut jalan lain, yaitu salib. Tetapi yang memang muncul adalah syaratnya, yaitu Iblis disembah. Ul 6:13 menjadi tangkisan Yesus. Dengan demikian, kita melihat bahwa mengejar kesemarakan adalah penyembahan berhala. Sejak Hawa melihat bahwa buah pohon itu “sedap kelihatannya” hal itu menjadi penggodaan manusia. Tetapi Yesus membuktikan bahwa manusia dapat menyembah Allah saja.

Pencobaan ketiga menyangkut apakah Yesus akan mencobai Allah. Yesus mengutip dari Ul 6:16, di tengah penegasan Musa tentang pentingnya beribadah kepada Tuhan saja seperti di atas, bukan kepada ilah-ilah yang lain. Ul 6:16 merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1-7. Israel baru diselamatkan dari tentara Mesir (Kel 15), dan juga sudah mulai menerima berkat manna sebagai makanan (Kel 16). Air yang dipersoalkan dan dijawab Tuhan pada awal p.17. Dalam kesimpulan Kel 17:7, inti mencobai adalah pertanyaan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Orang yang mempertanyakan kehadiran Allah, ia sudah siap pindah kepada ilah lain. Itulah inti pencobaan dalam ranah religius: beranjak dari keraguan yang mau membuktikan kehadiran Allah. Di tengah kelaparan yang dahsyat Yesus tetapi yakin bahwa Allah hadir dan menyertai-Nya.

Jadi, sebagai Anak Allah, Mesias, Yesus telah mengalahkan musuh besar umat Allah. Ternyata Iblis tidak berkuasa mutlak atas kerajaan-kerajaan manusia, karena ada satu manusia, Yesus, yang dalam kuasa Roh Kudus telah mengalahkannya. Kita ikut di dalam kemenangan Kristus itu. Sebagai anak Abraham, Yesus sudah menempuh ketaatan dalam jalan yang berat menuju salib. Di mana Israel, bahkan seluruh Israel, gagal, Yesus berhasil.

Setelah gagal tiga kali Iblis mundur, menunggu waktu yang baik. Dalam Luk 22:3 Satan masuk ke dalam Yudas. Menghadapi salib Yesus dicobai kembali. Tetapi Dia sudah diuji dan menang pada awal pelayanan-Nya. Semoga dalam kuasa Roh Kudus kita ikut dalam jejak-Nya.


Luk 1:26-38 Menyambut baik peran dalam rencana Allah

November 30, 2010

Cerita ini terkenal. Aa.26-27 menempatkan cerita ini dalam konteks ruang dan waktu, dan memperkenalkan Maria. Selebihnya adalah percakapan antara Gabriel dengan Maria, yang di dalamnya Gabriel memberitahukan kelahiran Yesus sebagai Mesias (aa.31-33), dan, menjawab pertanyaan Maria, bahwa hal itu akan terjadi karena kuasa Allah (a.35), sama seperti sudah Dia lakukan bagi Elisabet (a.36). Akhirnya, Maria setuju, dan Gabriel pergi (a.38).

Cerita ini mulai dengan rujukan pada cerita sebelumnya, yaitu, dalam a.26, “bulan yang keenam” merujuk pada kehamilan Elisabet, dan malaikat Gabriel tidak perlu diperkenalkan karena sudah dikenal dari perjumpaannya dengan Zakharia. Hal itu diteguhkan pada a.36 di mana Elisabet disebut kembali. Makanya, cerita ini perlu dipahami dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya.

Sebenarnya, kedua cerita sangat sejajar. Setiap cerita mulai dengan perkenalan (1:5-6 || a.26-27). Elisabet mandul dan akhirnya mengandung; ketika dikatakan bahwa Maria perawan, apakah dia juga akan mengandung? Kemudian ada penampakan Gabriel (1:8-11 || a.28). Caranya memang berbeda. Karena Zakharia sedang di Bait Allah, dia harus menafsir bahwa yang tampak adalah malaikat. Tetapi malaikat bisa tampil sebagai manusia biasa, dan barangkali Gabriel masuk ke dalam rumah Maria seperti itu. Kemudian ada reaksi masing-masing. Zakharia terkejut dan takut (1:12), sedangkan Maria terkejut oleh sapaan yang aneh dan ada rasa ingin tahu (a.29). Apakah di situ kita mulai melihat perbedaan dalam penerimaan mereka? Atau memang malaikat lebih lembut kepada Maria daripada Zakharia?

Kemudian, malaikat mengatakan “Jangan takut”. Hal itu sepertinya menjadi kebiasaan, karena pada umumnya manusia takut berhadapan dengan malaikat, jika sudah disadari. Bagi Zakharia ucapan itu mau menenangkan hatinya yang sudah takut supaya dia dapat mendengar berita yang sangat menyenangkan, tetapi bagi Maria ucapan itu mempersiapkan Maria untuk berita yang mungkin saja menakutkan jika implikasinya disadari (hamil sebelum menikah; tanggung jawab mengasuh Mesias). Dalam penjelasan Gabriel yang berikut kelahiran dan nama bayi disebutkan (1:13-14 || a.30-31), kemudian gambaran tentang anak masing-masing (1:15-17 || aa.32-33). Kedua gambaran itu menjadi cara Lukas untuk memberitahu pembaca tentang kedua tokoh dalam cerita berikut, yakni Yohanes dan Yesus. Jadi, aa.32-33 menjadi inti tentang siapakah Yesus ini (ditambah dengan a.35b), suatu tema yang kunci dalam seluruh Injil Lukas. Perhatikan bahwa malaikat menyampaikan pesan itu dalam bahasa yang dapat dimengerti Maria, yaitu terkait dengan harapan Mesianis Israel, sebagaimana dilihat dari nas-nas PL yang dirujuk oleh Gabriel. Hanya dalam pelayanan Yesus sendiri kita mulai melihat bahwa musuh sebenarnya bukan orang Roma melainkan Iblis, dan dengan kematian dan kebangkitan-Nya kita melihat bagaimana caranya Dia mengalahkan musuh itu dan menjadi raja di atas segala raja.

Kemudian, baik Zakharia maupun Maria bertanya tentang pemberitahuan Gabriel (1:18 || a.34). Perbedaan antara pertanyaan mereka halus: Zakharia bertanya bagaimana dia dapat tahu, sedangkan Maria bertanya soal kemungkinannya sebagai perawan. Tanggapan Gabriel kepada kedua pertanyaan mereka sangat lain. Mengapa? Apakah karena berita kepada Zakharia sesuatu yang sudah terjadi beberapa kali dalam PL (misalnya, Sarai), sedangkan kehamilan pada perawan memang unik? Apakah pertanyaan tentang mengetahui sebenarnya mempertanyakan kemungkinan untuk hal itu terjadi, sedangkan pertanyaan Maria menerima janji itu dan hanya bertanya tentang caranya? Yang jelas, kedua cerita ini menjadi lain pada titik ini. Gabriel menjawab pertanyaan Zakharia dengan tegoran dan semacam didikan (menjadi bisu, 1:19-20), sedangkan Maria dikuatkan dengan pernyataan tentang kuasa Tuhan (aa.35, 37) yang ditopang dengan contoh Elisabet (a.36). Akhirnya, Zakharia bisu dan tidak bisa berbicara (1:21-23) sedangkan Maria menjawab dengan penuh penyerahan diri (a.38).

Singkatnya, kabar baik yang disampaikan malaikat Allah tidak dipercayai oleh Zakaria (1:20), si imam yang saleh itu (1:5-6), tetapi disambut dengan baik oleh perempuan yang masih muda ini (a.38), meskipun banyak risikonya. Dalam cerita berikut, ketika Maria pergi menemui Elisabet, sambutan itu menjadi pujian yang dahsyat (1:46-55).

Dilihat demikian, perikop ini kaya dengan tema yang layak diberitakan, termasuk penyataan Allah, kuasa Allah, penggenapan janji Allah dan Yesus sebagai Mesias. Tetapi, dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya, satu tema lagi adalah penerimaan Maria. Jenis sastra naratif menjamin bahwa pemberitaan tentang Yesus sebagai kunci rencana keselamatan Allah sebagai raja Kerajaan Allah selalu dikaitkan dengan respons manusia, apakah itu tidak percaya, belum percaya (Zakharia) atau menyambut dengan baik (Maria). Yang mana mau dijadikan topik dan yang mana pelengkap? Jika karya Allah, maka amanat teks bisa begini: penggenapan harapan PL dalam kelahiran Yesus terwujud melalui seorang perawan yang menyambut baik perannya dalam rencana Allah. Jika respons Maria, maka amanat teks bisa begini: Maria menyambut baik perannya dalam rencana Allah untuk melahirkan Mesias sebagai penggenapan janji Allah. Dalam amanat khotbah berbagai aspek dapat ditonjolkan, entah kuasa Allah, kerendahan status Maria yang dipilih Allah, penggenapan PL dsb, asalkan jemaat dikuatkan oleh janji kelahiran Yesus dan diajak untuk menyambut baik karya itu, sama seperti Maria. Dengan demikian, tema Adven II sudah diwakili.

Khususnya untuk kalangan Gereja Toraja, hari Minggu ini adalah HUT PWGT (persekutuan wanita). Bahwa Allah memilih seorang perempuan untuk melahirkan Mesias tidak terlalu mengejutkan. Tetapi Injil Lukas khususnya menonjolkan Maria sebagai perempuan yang langsung disapa Tuhan, dan yang menjadi teladan iman, lebih dari Zakharia, seorang laki-laki dan imam.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.