Pada masa Maleakhi masyarakat Israel sudah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun kembali. Tetapi hidup Israel di hadapan Tuhan tidak pernah begitu bersemangat, sebagaimana disaksikan oleh nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Hagai dan Zakharia (pp.1-8) bernubuat di sekitar tahun 520-515 sM, tetapi tentang penarikhan Maleakhi tidak ada informasi, dan dia sering ditempatkan pada abad berikut, mungkin bersamaan dengan Esra atau Nehemia. Kemungkinan besar bahwa pesannya berlaku terus-menerus bagi Israel dalam abad-abad berikut, karena sampai masa Yesus Israel biasanya di bawah penjajahan, sehingga kasih Tuhan diragukan (Mal 1:2).
Dalam perikop ini keluhan Tuhan tertuju pada para imam. Tugas imam terkait dengan ibadah Bait Allah serta pengajaran hukum Taurat kepada masyarakat. Jadi istilah “perintah” untuk firman ini kepada mereka menyindir. Bukankah imam yang mengajar dan orang lain yang mendengar? Tetapi mereka harus mendengarkan perintah Tuhan (a.2). Karena mereka tidak, maka ucapan berkat mereka tidak berhasil, bahkan mereka akan dikotori oleh kotoran korbannya (a.3). Didikan itu sebagai peringatan (a.4).
Kemudian, Tuhan mengangkat asal-usul imamat Israel, yakni perjanjian dengan Lewi, untuk mengingatkan mereka tentang sikap dan tugas yang benar (aa.5-7). Tetapi mereka berlaku terbalik (a.8), sehingga ada akibatnya dari Tuhan (a.9).
Jika kita menafsir tugas seorang imam dalam PB, kita harus mengingat bahwa Bait Allah dan seluruh sistem pengorbanan di dalamnya sudah digenapi dalam Kristus. Soal imamat, tinggal Dia sebagai Imam yang Besar, dan itupun bukan menurut peraturan Lewi (lihat Ibr 7:11). Yesus juga menggenapi hukum Taurat sebagai pengajar (Mt 5:17-20), tetapi tugas mengajar diteruskan kepada pengajar jemaat, sebagai salah satu pemberian Roh Kudus bagi kedewasaan jemaat (Ef 4:11), atas dasar ajaran rasuli (Ef 3:1-6). Sebagai pemberian Roh, tugas mengajar tidak terbatas pada jabatan seperti pendeta, walaupun tentu pendeta dan sebagian majelis dipercayakan dengan tugas itu.
Oleh karena itu, sebaiknya kita yang mengaku sebagai pengajar jemaat mendengar baik-baik peringatan ini. Inti keluhannya ialah jika Tuhan menjadi kepinggiran dalam tugas kita. Kita lupa akan hidup dan damai sejahtera yang terdapat dalam Injil yang dipercayakan kepada kita, sehingga khotbah kita menjadi dangkal—hampir kosong dengan ajaran tentang Tuhan yang menjadi sumber harapan kita. Anehnya, a.7 memberitahu bahwa jemaat merindukan pengajaran itu! Mungkinkah Tuhan juga menjadi kepinggiran dalam kehidupan kita secara pribadi, sehingga kita takut akan manusia daripada Tuhan, sehingga memandang bulu dalam dosa yang dikhotbahkan dan juga disiplin gereja yang dilaksanakan. Alhasil, seringkali pendeta menjadi sorotan buruk daripada teladan, seperti a.9.
Tugas mengajar memang berat, dan jika sudah ditahbiskan maka tidak ada jalan keluar daripadanya. Namun, jika sudah sadar akan kekurangan sendiri (dan kebanyakan pendeta dan majelis memang demikian), solusinya bukan untuk menegor diri sendiri melainkan melihat dasar tugas itu. Lebih dari Lewi, Kristus menawarkan bukan hanya teladan mengajar yang hebat, tetapi juga menjadi Gembala bagi para gembala. Tentu, penyegaran bisa dialami melalui berbagai hal praktris, misalnya cukup tidur! Tetapi intinya terdapat dalam kembali kepada Dia serta percaya kembali bahwa Injil-Nyalah yang dibutuhkan oleh diri dan oleh jemaat.