Mal 3:6-12 Pertobatan melalui persembahan

Juli 6, 2011

Maleakhi menulis pada waktu kecemasan rohani. Israel sudah lama kembali dari pembuangan, dan Bait Allah telah dibangun kembali, tetapi ritus dilakukan dengan setengah hati (1:8, 12), Israel merasa kurang diberkati (2:13). Di balik itu, umat meragukan kasih (1:2), kuasa (1:5, 14) dan perhatian Tuhan (2:17; 3:14). Di balik tanggapan Tuhan adalah rencana-Nya. Dia telah memilih Yakub (1:2-3) dan akan bertindak dengan tegas dengan memurnikan umat-Nya (3:1-3; 4:1) supaya rencana-Nya terwujud, yaitu umat yang berkenan di hadapan-Nya (4:2). Dalam rangka itu Allah berfirman tentang persembahan, sebagai salah satu gejala iman, sekaligus pintu masuk untuk pertobatan.

Penggalian Teks

Banyak bagian dalam kitab ini merupakan dialog. Aa.6-7 mengungkapkan perlunya pertobatan, dan berakhir dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bertobat. Aa.8-12 menjawab pertanyaan itu dengan satu dialog lagi yang berfokus pada soal persembahan.

Sama seperti kitab ini secara keseluruhan (bdk. 1:2), perlunya pertobatan dilandasi bukan pertama-tama pada dosa manusia melainkan anugerah Allah. A.6 merujuk pada rencana Tuhan: karena Tuhan tidak berubah, yaitu karena tujuan-Nya tetap, maka Israel masih memiliki masa depan dengan Tuhan, walaupun mereka sejak dahulu tidak taat (a.7a). Dasar pembaruan Israel adalah anugerah Tuhan, bukan inisiatif manusia. Namun, anugerah Tuhan bertujuan berkat untuk manusia, sehingga manusia harus terlibat di dalamnya. Itulah maksud dari seruan untuk kembali kepada Tuhan dalam a.7b. Dengan demikian Tuhan akan kembali kepada Israel, bukan dalam artian akan mulai peduli tentang mereka, tetapi dalam artian bisa mencurahkan berkat atas mereka. Dengan pertanyaan Israel (tulus atau tidak), Tuhan menunjukkan satu bidang hidup yang paling erat kaitannya dengan iman.

Tuhan memulai jawaban-Nya dengan tuduhan menipu. Ketika ditanya, cara penipuan menyangkut persepuluhan dan persembahan khusus. Mal 1:7-8, 13-14 mempersoalkan kualitas binatang yang dibawa sebagai kurban, tetapi persepuluhan dan persembahan khusus menyangkut seberapa banyak yang diberi. Penipuan terjadi dalam persepuluhan jika yang diberi itu di bawah 10 persen. Oleh karena penipuan itu, mereka mengalami berbagai masalah yang mewarnai seluruh kitab ini. Masalah-masalah itu dimaksud sebagai peringatan, tetapi peringatan itu tidak dihiraukan (a.9). Jadi, seruan yang berikut adalah untuk membawa persepuluhan yang utuh, sehingga ada kecukupan untuk imam-imam yang hidup dari persediaan itu (a.10a).

Dengan demikian mereka diminta untuk menguji apakah Tuhan adalah penipu atau tidak. Jika mereka taat dalam soal persepuluhan, maka akan ada berkat tercurah (a.10b), dan hama terhalang (a.11). Mereka akan mengalami berkat, dan menjadi perhatian bagi bangsa-bangsa (a.12). Jadi, cara bertobat adalah memberi persepuluhan sepenuhnya, dan dengan demikian Israel dapat mengalami berkat Allah dalam penghasilan mereka.

Maksud untuk pembaca

Dalam perikop ini Allah mau mengajak jemaat untuk bertobat melalui persembahan supaya menerima berkat Allah. Adalah penting dimengerti bahwa pertobatan lebih mendasar daripada persembahan, tetapi sebaliknya kadar iman tidak bisa dilepaskan dari persembahan. Tujuan perikop ini adalah persembahan sebagai pernyataan atau penghayatan pertobatan, atau dengan kata lain, pertobatan yang bermuara pada tanggung jawab yang jelas untuk urusan Tuhan.

Cara dialog dipakai untuk membongkar sikap Israel yang belum sadar tentang andil mereka dalam kondisi mereka. Dengan cara itu kita melihat juga bahwa Allah tidak hanya menegor mereka, tetapi juga mengungkapkan isi hati-Nya, karena tujuan-Nya memulihkan relasi dengan mereka, bukan memaksakan ketaatan formalistik.

Makna

Pertobatan dengan mudah dimengerti sebagai cara manusia meraih berkat dari Tuhan. Jika kalimat “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” dibaca di luar konteks yang dijelaskan di atas, bisa saja ditafsir demikian. Tetapi prioritas anugerah secara umum dilihat dalam beberapa hal. Tentu, yang pertama ialah bahwa Tuhan menciptakan manusia. Kemudian, rencana keselamatan dimulai dengan Abraham yang dipanggil secara tiba-tiba, bukan sebagai respons terhadap kebaikan ataupun pertobatan Abraham tetapi atas inisiatif Allah belaka. Israel juga diselamatkan dari Mesir karena rencana Allah, bukan karena mereka sudah bertobat. Baru setelah diselamatkan, hukum Taurat disampaikan supaya keselamatan itu dapat mereka hayati.

Kita sudah melihat bahwa penyusunan kitab Maleakhi dan perikop kita sejalan dengan itu. Ada satu hal lagi. Fungsi Maleakhi sebagai nabi adalah wujud inisiatif Allah. Karena sudah memiliki relasi dengan Israel dalam perjanjian, Allah mengungkapkan isi hati untuk memulihkan relasi itu.

Dalam PB unsur anugerah menjadi makin jelas dalam kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita, tetapi unsur berkat dan penghayatan anugerah mengalami pergeseran. Kata Paulus dalam Gal 3:14, intisari berkat Allah adalah pemberian Roh Kudus. Dalam konteks-konteks yang cukup berat, seperti bencana atau penganiayaan, tinggal berkat itu sebagai sumber sukacita kita, dengan berkat Allah yang sepenuhnya sebagai janji untuk dunia baru. Jadi, setelah ditangkap Yesus menderita, haus dan akhirnya mati. Namun, dalam konteks yang lain Yesus mengalami apa yang Dia ajarkan, yaitu bahwa makanan dan pakaian ditambahkan kepada orang yang mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33). Bentuk janji Maleakhi bagi Israel pada saat itu, yaitu kelimpahan panen dan pencegahan hama, spesifik untuk pendengarnya. Tetapi yang diungkapkan di dalamnya adalah kemurahan Allah. Allah mau supaya kita mengalami berkat yang berpusat pada Dia. Jemaat yang bertobat dan mencari Allah akan mengalami tingkap-tingkap langit terbuka, dan masalah-masalah mengecil, entah apa persisnya bentuk berkat itu.


Mal 3:13-18 Perbedaan yang menentukan

Februari 4, 2009

Perikop ini membahas salah satu sikap mendasar yang dihadapi Maleakhi. Umat tidak lagi melihat keuntungan dari menaati Tuhan. Hal itu karena umat tidak mengerti keuntungan macam apa yang semestinya diharapkan dari Tuhan.

Cara persoalan diangkat dalam aa.13-15 memang sudah biasa dalam kitab ini. Soalnya, umat menganggap diri cukup saleh, sehingga sikap yang sebenarnya harus digali. A.14-15 barangkali bukan kutipan, tetapi pengungkapan sikap hati yang dilihat dalam berbagai gejala yang dibahas sebelumnya dalam kitab ini. Sikap itu juga relevan sekarang. Kita melihat koruptor yang maju terus, sedangkan orang yang melaporkan korupsi dikesampingkan. Sudah banyak yang tidak melihat keuntungan bagi keluarga dan kalangan sendiri jika terlalu jujur.

Tanggapan Maleakhi (aa.16-18) mulai dengan laporan akan perkataan orang-orang yang takut akan Allah. Mereka saling menguatkan dengan mengingatkan bahwa pasti Ttuhan perhatikan dan ingat. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Golongan itulah yang merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bnd. Kel 19:5). Hal itu akan menjadi jelas pada suatu masa depan (a.18), seperti diceritakan dalam p.4.

Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik di sini ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika keuntungan yang lain yang dicari, pasti kita akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Tetapi jika Allah yang dicari, maka cukup bagi kita jika kita ingat bahwa Dia memperhatikan dan akan mengasihani kita.


Mal 2:1-9 Pembaruan si pengajar

Januari 28, 2009

Pada masa Maleakhi masyarakat Israel sudah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun kembali. Tetapi hidup Israel di hadapan Tuhan tidak pernah begitu bersemangat, sebagaimana disaksikan oleh nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Hagai dan Zakharia (pp.1-8) bernubuat di sekitar tahun 520-515 sM, tetapi tentang penarikhan Maleakhi tidak ada informasi, dan dia sering ditempatkan pada abad berikut, mungkin bersamaan dengan Esra atau Nehemia. Kemungkinan besar bahwa pesannya berlaku terus-menerus bagi Israel dalam abad-abad berikut, karena sampai masa Yesus Israel biasanya di bawah penjajahan, sehingga kasih Tuhan diragukan (Mal 1:2).

Dalam perikop ini keluhan Tuhan tertuju pada para imam. Tugas imam terkait dengan ibadah Bait Allah serta pengajaran hukum Taurat kepada masyarakat. Jadi istilah “perintah” untuk firman ini kepada mereka menyindir. Bukankah imam yang mengajar dan orang lain yang mendengar? Tetapi mereka harus mendengarkan perintah Tuhan (a.2). Karena mereka tidak, maka ucapan berkat mereka tidak berhasil, bahkan mereka akan dikotori oleh kotoran korbannya (a.3). Didikan itu sebagai peringatan (a.4).

Kemudian, Tuhan mengangkat asal-usul imamat Israel, yakni perjanjian dengan Lewi, untuk mengingatkan mereka tentang sikap dan tugas yang benar (aa.5-7). Tetapi mereka berlaku terbalik (a.8), sehingga ada akibatnya dari Tuhan (a.9).

Jika kita menafsir tugas seorang imam dalam PB, kita harus mengingat bahwa Bait Allah dan seluruh sistem pengorbanan di dalamnya sudah digenapi dalam Kristus. Soal imamat, tinggal Dia sebagai Imam yang Besar, dan itupun bukan menurut peraturan Lewi (lihat Ibr 7:11). Yesus juga menggenapi hukum Taurat sebagai pengajar (Mt 5:17-20), tetapi tugas mengajar diteruskan kepada pengajar jemaat, sebagai salah satu pemberian Roh Kudus bagi kedewasaan jemaat (Ef 4:11), atas dasar ajaran rasuli (Ef 3:1-6). Sebagai pemberian Roh, tugas mengajar tidak terbatas pada jabatan seperti pendeta, walaupun tentu pendeta dan sebagian majelis dipercayakan dengan tugas itu.

Oleh karena itu, sebaiknya kita yang mengaku sebagai pengajar jemaat mendengar baik-baik peringatan ini. Inti keluhannya ialah jika Tuhan menjadi kepinggiran dalam tugas kita. Kita lupa akan hidup dan damai sejahtera yang terdapat dalam Injil yang dipercayakan kepada kita, sehingga khotbah kita menjadi dangkal—hampir kosong dengan ajaran tentang Tuhan yang menjadi sumber harapan kita. Anehnya, a.7 memberitahu bahwa jemaat merindukan pengajaran itu! Mungkinkah Tuhan juga menjadi kepinggiran dalam kehidupan kita secara pribadi, sehingga kita takut akan manusia daripada Tuhan, sehingga memandang bulu dalam dosa yang dikhotbahkan dan juga disiplin gereja yang dilaksanakan. Alhasil, seringkali pendeta menjadi sorotan buruk daripada teladan, seperti a.9.

Tugas mengajar memang berat, dan jika sudah ditahbiskan maka tidak ada jalan keluar daripadanya. Namun, jika sudah sadar akan kekurangan sendiri (dan kebanyakan pendeta dan majelis memang demikian), solusinya bukan untuk menegor diri sendiri melainkan melihat dasar tugas itu. Lebih dari Lewi, Kristus menawarkan bukan hanya teladan mengajar yang hebat, tetapi juga menjadi Gembala bagi para gembala. Tentu, penyegaran bisa dialami melalui berbagai hal praktris, misalnya cukup tidur! Tetapi intinya terdapat dalam kembali kepada Dia serta percaya kembali bahwa Injil-Nyalah yang dibutuhkan oleh diri dan oleh jemaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.