Mal 3:13-18 Perbedaan yang menentukan

Februari 4, 2009

Perikop ini membahas salah satu sikap mendasar yang dihadapi Maleakhi. Umat tidak lagi melihat keuntungan dari menaati Tuhan. Hal itu karena umat tidak mengerti keuntungan macam apa yang semestinya diharapkan dari Tuhan.

Cara persoalan diangkat dalam aa.13-15 memang sudah biasa dalam kitab ini. Soalnya, umat menganggap diri cukup saleh, sehingga sikap yang sebenarnya harus digali. A.14-15 barangkali bukan kutipan, tetapi pengungkapan sikap hati yang dilihat dalam berbagai gejala yang dibahas sebelumnya dalam kitab ini. Sikap itu juga relevan sekarang. Kita melihat koruptor yang maju terus, sedangkan orang yang melaporkan korupsi dikesampingkan. Sudah banyak yang tidak melihat keuntungan bagi keluarga dan kalangan sendiri jika terlalu jujur.

Tanggapan Maleakhi (aa.16-18) mulai dengan laporan akan perkataan orang-orang yang takut akan Allah. Mereka saling menguatkan dengan mengingatkan bahwa pasti Ttuhan perhatikan dan ingat. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Golongan itulah yang merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bnd. Kel 19:5). Hal itu akan menjadi jelas pada suatu masa depan (a.18), seperti diceritakan dalam p.4.

Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik di sini ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika keuntungan yang lain yang dicari, pasti kita akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Tetapi jika Allah yang dicari, maka cukup bagi kita jika kita ingat bahwa Dia memperhatikan dan akan mengasihani kita.


Mal 2:1-9 Pembaruan si pengajar

Januari 28, 2009

Pada masa Maleakhi masyarakat Israel sudah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun kembali. Tetapi hidup Israel di hadapan Tuhan tidak pernah begitu bersemangat, sebagaimana disaksikan oleh nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Hagai dan Zakharia (pp.1-8) bernubuat di sekitar tahun 520-515 sM, tetapi tentang penarikhan Maleakhi tidak ada informasi, dan dia sering ditempatkan pada abad berikut, mungkin bersamaan dengan Esra atau Nehemia. Kemungkinan besar bahwa pesannya berlaku terus-menerus bagi Israel dalam abad-abad berikut, karena sampai masa Yesus Israel biasanya di bawah penjajahan, sehingga kasih Tuhan diragukan (Mal 1:2).

Dalam perikop ini keluhan Tuhan tertuju pada para imam. Tugas imam terkait dengan ibadah Bait Allah serta pengajaran hukum Taurat kepada masyarakat. Jadi istilah “perintah” untuk firman ini kepada mereka menyindir. Bukankah imam yang mengajar dan orang lain yang mendengar? Tetapi mereka harus mendengarkan perintah Tuhan (a.2). Karena mereka tidak, maka ucapan berkat mereka tidak berhasil, bahkan mereka akan dikotori oleh kotoran korbannya (a.3). Didikan itu sebagai peringatan (a.4).

Kemudian, Tuhan mengangkat asal-usul imamat Israel, yakni perjanjian dengan Lewi, untuk mengingatkan mereka tentang sikap dan tugas yang benar (aa.5-7). Tetapi mereka berlaku terbalik (a.8), sehingga ada akibatnya dari Tuhan (a.9).

Jika kita menafsir tugas seorang imam dalam PB, kita harus mengingat bahwa Bait Allah dan seluruh sistem pengorbanan di dalamnya sudah digenapi dalam Kristus. Soal imamat, tinggal Dia sebagai Imam yang Besar, dan itupun bukan menurut peraturan Lewi (lihat Ibr 7:11). Yesus juga menggenapi hukum Taurat sebagai pengajar (Mt 5:17-20), tetapi tugas mengajar diteruskan kepada pengajar jemaat, sebagai salah satu pemberian Roh Kudus bagi kedewasaan jemaat (Ef 4:11), atas dasar ajaran rasuli (Ef 3:1-6). Sebagai pemberian Roh, tugas mengajar tidak terbatas pada jabatan seperti pendeta, walaupun tentu pendeta dan sebagian majelis dipercayakan dengan tugas itu.

Oleh karena itu, sebaiknya kita yang mengaku sebagai pengajar jemaat mendengar baik-baik peringatan ini. Inti keluhannya ialah jika Tuhan menjadi kepinggiran dalam tugas kita. Kita lupa akan hidup dan damai sejahtera yang terdapat dalam Injil yang dipercayakan kepada kita, sehingga khotbah kita menjadi dangkal—hampir kosong dengan ajaran tentang Tuhan yang menjadi sumber harapan kita. Anehnya, a.7 memberitahu bahwa jemaat merindukan pengajaran itu! Mungkinkah Tuhan juga menjadi kepinggiran dalam kehidupan kita secara pribadi, sehingga kita takut akan manusia daripada Tuhan, sehingga memandang bulu dalam dosa yang dikhotbahkan dan juga disiplin gereja yang dilaksanakan. Alhasil, seringkali pendeta menjadi sorotan buruk daripada teladan, seperti a.9.

Tugas mengajar memang berat, dan jika sudah ditahbiskan maka tidak ada jalan keluar daripadanya. Namun, jika sudah sadar akan kekurangan sendiri (dan kebanyakan pendeta dan majelis memang demikian), solusinya bukan untuk menegor diri sendiri melainkan melihat dasar tugas itu. Lebih dari Lewi, Kristus menawarkan bukan hanya teladan mengajar yang hebat, tetapi juga menjadi Gembala bagi para gembala. Tentu, penyegaran bisa dialami melalui berbagai hal praktris, misalnya cukup tidur! Tetapi intinya terdapat dalam kembali kepada Dia serta percaya kembali bahwa Injil-Nyalah yang dibutuhkan oleh diri dan oleh jemaat.