Mk 5:35-43 Maut dikalahkan

Oktober 13, 2009

Musibah seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia mengingatkan kita bahwa maut adalah musuh. Jika kita berdukacita atas meninggalnya orang yang sudah lanjut usia, lebih lagi ketika ada orang yang masih muda. Jadi, kita langsung beridentifikasi dengan Jairus yang mendekati Yesus dengan harapan yang besar bahwa Yesus bisa menyembuhkan anaknya yang sakit parah (aa.22-23). Cerita berikut cukup dikenal, bagaimana Yesus dihalangi oleh perempuan yang sakit (aa.24-34) sehingga anak itu sudah meninggal, tetapi Yesus sanggup membangkitkannya. Juga cukup jelas bagaimana pembawa berita maupun para peratap tidak percaya kepada Yesus, sedangkan Jairus percaya, atau cukup percaya sehingga dia menerima semua usulan Yesus. Kepercayaan mungkin didukung oleh melihatnya perempuan yang sakit parah itu disembuhkan, tetapi tentu membangkitkan orang mati melebihi menyembuhkan.

Tema yang akan saya soroti adalah kebangkitan itu. Tema itu disinggung dalam perkataan Yesus bahwa anak itu hanya tidur. Yesus ditertawakan karena sepertinya orang menafsir-Nya secara harafiah. Dugaan saya bahwa Yesus merujuk ke Dan 12:2. Walaupun dalam pasal-pasal awal kitab Daniel kita melihat Allah menyelamatkan Daniel dan teman-temannya dari maut, dalam Dan 11:33-35 tidak semua orang bijaksana yang selamat. Tetapi dalam Dan 12:2 Allah akan membangkitkan mereka. Dengan dibangkitkan mereka tidak kehilangan bagian mereka dalam pembaruan pada akhir zaman. Banyak orang Yahudi menerima harapan itu. Tetapi harapan itu menyangkut akhir zaman, bukan masa kini.

Apakah Yesus memajukan kebangkitan pada akhir zaman menjadi hal yang masa kini? Bukan dalam peristiwa ini. Anak itu bangkit dari kematian, tetapi akan mati kembali. Kebangkitan ini hanya mendapat artian yang sebenarnya ketika Yesus sendiri bangkit, bukan untuk mati kembali melainkan memulai hidup kekal. Mujizat ini adalah pertanda bahwa Dia berkuasa atas maut, pertanda yang merujuk ke kebangkitan-Nya di mana kuasa itu terbukti dan digenapi. Cukup banyak cerita dalam Markus mengandung pesan yang sama, misalnya pada awal p.5 orang yang kerasukan itu tinggal di pekuburan, tempat orang mati.

Karena maknanya hanya akan jelas pada kebangkitan, Yesus melarang peristiwa ini diceritakan. Sama seperti identitas-Nya sebagai Mesias, orang banyak belum sanggup menafsirnya dengan tepat. Mereka akan rindu supaya keluarga mereka yang sudah meninggal dibangkitkan, daripada menaruh pengharapan pada zaman mendatang. (Apakah Dia mengatakan kepada orang banyak bahwa perempuan itu hanya tidur supaya peristiwa itu ditafsir sebagai penyembuhan saja? Jika demikian, menurut Mt 9:26 usaha itu tidak berhasil.)

Menurut tafsiran yang saya paparkan di atas, penerapan dari peristiwa ini adalah percaya pada janji pembaruan pada akhir zaman berdasarkan kebangkitan Yesus. Cerita ini mengingatkan kita akan kepedihan kematian sehingga kita memahami bahwa kebangkitan Yesus menjawab masalah utama dalam dunia ini. Anggaplah tafsiran ini adalah tafsiran “eskatologis”, yaitu menyangkut akhir zaman (yang mulai dengan kebangkitan Yesus). Saya juga bisa membayangkan tafsiran “kuasa” dan juga tafsiran “etis”. Tafsiran kuasa mengatakan bahwa percaya berarti mengharapkan mujizat sekarang juga. Tafsiran etis mengatakan bahwa percaya berarti melawan kuasa-kuasa maut dalam dunia ini sama seperti Yesus. Kedua tafsiran ini adalah implikasi yang sejati dari perikop ini, asal dilihat dalam rangka eskatologis tadi, yaitu dengan harapan yang terbatas untuk zaman ini. Maksudnya bahwa tidak semua yang percaya akan luput dari kesakitan dan maut sebelum kebangkitan pada akhir zaman, dan juga bahwa betapa kuat perlawanan kita terhadap kuasa-kuasa maut (misalkan perdagangan perempuan atau materialisme) kemenangan hanya akan lengkap dan kokoh ketika Yesus datang kembali. Jadi, jika ada mujizat atau perlawanan yang ada hasilnya (misalnya keadilan bagi rakyat kecil dalam perkara tertentu—itu juga sebuah mujizat!), hal itu juga merupakan pertanda akan harapan eskatologis itu.

Mari kita percaya akan kebangkitan Yesus, supaya kita siap untuk berjuang dalam harapan kita, dan menyaksikan kuasa Allah dalam perjuangan kita.


Mk 7:24-30 Mencari tempat di meja Yesus

September 24, 2009

Cerita ini mendapat tempat yang menarik dalam alur cerita Markus. Yesus baru berdebat dengan para Farisi tentang kenajisan, dan Yesus mengajar mereka bahwa dosa yang menajiskan, bukan hal-hal lahiriah (7:14-23). Dalam perikop ini, ternyata kebangsaanpun tidak menajiskan, karena permohonan perempuan non-Yahudi ini bisa dikabulkan. Hanya, jika maksud Yesus adalah mengajarkan hal itu, mengapa Yesus sendiri menyusahkan pendekatan perempuan itu?

Dalam perikop yang sejajar dalam Injil Matius (15:21-28) soal kebangsaan memang menonjol. Kebangsaan perempuan adalah informasi pertama yang disebut tentang orangnya, dan Yesus mengabaikannya serta mengulang apa yang Dia katakan pada para murid sebelum mereka diutus ke desa-desa Israel bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari bangsa Israel (Mt 10:5-6; 15:24). Sikap-Nya terhadap perempuan itu adalah soal fokus, tetapi oleh karena imannya yang kuat Yesus bisa memberi pengecualian baginya. Dalam Injil Matius fokus itu menyangkut sejarah keselamatan. Berdasarkan nas seperti Yes 49:5-6 Yesus harus memulihkan Israel dulu, baru menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Jadi, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sang Israel sejati, yaitu Yesus, memulihkan Israel. Baru setelah itu Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi ke seluruh dunia. Sebagai catatan, bagi saya harapan yang luas dalam PL (dan dalam kalangan orang Yahudi juga, bnd. Mt 23:15) bahwa bangsa-bangsa akan masuk ke dalam Kerajaan Allah membuat satu tafsiran yang populer kurang meyakinkan, yaitu tafsiran bahwa Yesus baru menjadi sadar dalam peristiwa ini bahwa Kerajaan Allah dapat merangkul orang-orang non-Yahudi. Sikap Yesus adalah soal strategi teologis, bukan kekurangan kesadaran.

Dalam penyampaian Injil Markus yang pertama muncul tentang perempuan itu adalah soal anaknya yang kerasukan. Soal kebangsaan muncul hanya sebagai latar belakang untuk jawaban Yesus yang mengejutkan itu. Soal anak dan anjing memang merujuk ke Israel dan bangsa-bangsa, tetapi tema yang menonjol dalam Injil Matius itu hanya sedikit dalam Injil Markus. Mungkin yang lebih relevan dalam Injil Markus adalah redefinisi Yesus tentang “keluarga Allah” pada akhir p.3, di mana keluarga Yesus adalah orang-orang yang duduk belajar daripada-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Dengan demikian pernyataan Yesus tentang hak anak untuk mendapat makanan bermaksud untuk menguji iman perempuan itu. Apakah dia bertanya sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau apakah dia menganggap diri bagian dari keluarga yang dibentuk Yesus? Jawabannya cerdik. Tanpa menyangkali statusnya sebagai non-Yahudi dia menempatkan diri sebagai anjing peliharaan yang tetap adalah bagian dari keluarga (dan dalam versi Markus mendapat sisa dari bagian anak-anak). Yesus yang melihat imannya dalam kata-kata itu mengabulkan permintaannya.

Memang, untuk kita pasca-kebangkitan jelas bahwa Injil terbuka untuk semua bangsa. Tinggal apakah kita datang kepada Yesus sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau karena kita mau mendapat tempat di meja-Nya, biarpun kedudukan kita di dalam-Nya serendah anjing.


Mk 14:12-16 Menghadapi panggilan-Nya dengan sengaja

Agustus 3, 2009

Perikop ini merupakan satu adegan dalam alur cerita kesengsaraan Kristus. Dalam nubuatan Yesus pada p.13, Dia berbicara tentang berbagai unsur terkait dengan kedatangan Kerajaan Allah, seperti siksaan terberat serta pemuliaan Anak Manusia, yang antara lain mengungkapkan makna kematian dan kebangkitan-Nya (untuk penjelasan lebih lanjut lihat bagian akhir dari Mt 24 Bait Allah dirobohkan). Yesus menuju puncak dari panggilan-Nya untuk “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mk 10:45). Salah satu tema dalam penceritaan Markus ialah bahwa bahwa Yesus menuju puncak itu dengan sengaja, bukan sebagai korban yang tidak berdaya. Perikop ini mendukung tema itu.

Kematian Yesus mulai dikaitkan dengan Paskah pada 14:1, dengan Markus menyampaikan keputusan pimpinan Yahudi untuk membunuh Yesus, dua hari sebelum Paskah. Pengurapan Yesus dengan minyak oleh seorang perempuan mendukung bahwa Yesus melihat kematian-Nya mendekat (14:8), dan sepertinya menggerakkan Yudas untuk pergi untuk mengkhianati Yesus (14:10). Karena penawaran Yudas itu, rencana pembunuhan itu dapat dipercepat (a.2, 11).

Pada a.12 sudah tiba waktunya untuk merayakan Paskah. Domba-domba Paskah disembelih pada siang hari di Bait Allah, kemudian dibawa pulang untuk dimakan di rumah antara petang dan tengah malam. Paskah itu harus dimakan di dalam tembok Yerusalem. Ternyata Yesus sudah merencanakannya dengan tepat. Ada penghuni Yerusalem yang sudah diminta untuk mempersiapkan suatu tempat. Ada lambang yang sudah diatur, yaitu seorang (laki-laki) yang membawa kendi berisi air. (Biasanya perempuan yang membawa air.) Yesus mengatur semuanya tanpa sepengetahuan murid-murid-Nya, kemungkinan besar karena Dia tidak mau supaya si pengkhianat mengetahui tempatnya (bahwa Yesus tahu Dia akan diserahkan jelas dalam a.18; bnd. Mk 9:31 dan 10:33). Paskah harus dirayakan dengan murid-murid-Nya tanpa halangan, baru setelah itu Yesus akan membiarkan diri-Nya ditangkap.

Salah satu maksud utama Markus dalam p.14 ini adalah pengajaran tentang makna kematian Yesus, termasuk bahwa Yesus menujunya dengan sengaja. Tetapi mungkin dalam a.16 tema kemuridan muncul juga. Para murid tidak mempertanyakan pesan Yesus melainkan melakukannya. Dengan demikian rencana Yesus, termasuk penyampaian ajaran tentang makna kematian-Nya (aa.22-25), dapat terwujud. Semoga ketaatan kita juga ikut serta dalam rencana-rencana-Nya sekarang.


Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

September 12, 2008

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.