Mt 4:1-12 Melawan pencobaan dalam Sang Pemenang [9 Mar 2014]

Maret 5, 2014

Perikop ini kadang kala dibaca untuk menggali tips-tips tentang menghadapi pencobaan, seakan-akan dengan mengutip ayat Alkitab manusia sanggup melawan Iblis. Seperti biasa, saya akan menggali makna teologis sedalam mungkin, karena pemahaman saya bahwa landasan untuk pertobatan, pembaruan dan ketaatan ialah Injil tentang karya Allah, bukan injil palsu bahwa Tuhan akan membantu kita jika kita mencoba berbuat lebih baik.

Penggalian Teks

Di balik cerita ini ada kisah Israel di padang gurun, dan juga kisah pelantikan raja Daud. Kita baru diingatkan tentang Daud dalam ucapan Allah kepada Yesus pada ayat sebelumnya (3:17), bahwa Yesus adalah “Anak-Ku”. Ucapan itu merujuk pada Mzm 2:7 yang dipakai untuk pelantikan raja di Israel. Jadi, “Anak Allah” dalam perikop ini merujuk pada Yesus sebagai Mesias (Kristus), raja seperti Daud yang dinantikan. Menarik bahwa Daud juga diurapi oleh Roh Allah (1 Sam 16), jauh sebelum dia dilantik di depan umum sebagai raja (2 Sam 2 & 5). Setelah diurapi oleh Roh Allah, Daud membuktikan pengurapan itu dengan mengalahkan Goliat (sama seperti para hakim dan Saul mengalahkan musuh-musuh Israel). Jadi, Yesus juga dibawa oleh Roh untuk mengalahkan musuh Israel—bukan lagi dalam bentuk manusia, tetapi langsung dengan si Iblis, musuh umat Allah yang sejati. Cerita ini tidak sekadar tips-tips untuk mengatasi pencobaan, tetapi kisah tahap awal kemenangan Kristus atas Iblis.

Ayat 4:1 juga mengingatkan kita (baca: pendengar Injil yang mengenal PL dengan sangat baik) akan Ul 8:2, di mana Musa menjelaskan bahwa Israel dibawa masuk padang gurun untuk “merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu”. Israel pun disebut “anak Allah” dalam Hosea 11:1, yang telah dikutip dalam Mt 2:15. Yesus adalah Israel, anak Allah. Kita melihat di sini fungsi ganda pencobaan: Allah mencobai Israel/Yesus untuk mengetahui hatinya, sedangkan Iblis mencobai Yesus untuk menjatuhkan. Yesus berpuasa selama 40 hari, sampai Dia lapar dan lemah, sama seperti Israel di padang gurun. Dia dicobai sama seperti kita, di tengah kelemahan yang sangat, bukan pada saat Dia kuat. (Musa juga berpuasa selama 40 hari, bahkan tanpa minum, tetapi bersama dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Musa masuk surga sebentar sehingga tidak membutuhkan makanan dan minuman; Yesus ada di bumi, dan tetap membutuhkan makanan dan minuman, sehingga lapar karena tidak makan—tetapi pasti Dia minum.)

Pencobaan pertama (3–4) menyangkut memenuhi kebutuhannya untuk makan secara ajaib. Yesus menjawab dari ayat berikutnya dalam Ulangan 8, yaitu Ul 8:3. Israel dijadikan lapar supaya belajar rendah hati, karena bahkan apa yang mereka makan berasal dari firman Allah yang memelihara segala sesuatu, sehingga semestinya firman-Nya yang mengatur kehidupan mereka itu juga mereka percayai dan taati. Israel dipaksa mengakui bahwa mereka tidak mandiri dalam bertahan hidup, sehingga semestinya mengakui bahwa mereka juga tidak mandiri dalam mengatur kehidupan yang baik. Yesus yang sudah rendah hati tidak mau mengambil jalan pintas dengan mukjizat, tetapi menunggu waktu Allah untuk memberi-Nya kebutuhan-Nya, sebagaimana terjadi dalam a.11.

Dalam pencobaan kedua (5–7), Iblis memberi kesempatan bagi Yesus untuk menguji kebenaran firman Allah dalam Mzm 91:11–12. Sebenarnya, Iblis menghilangkan satu baris dalam kedua ayat itu, bahwa tujuan perlindungan malaikat adalah “untuk menjaga engkau di segala jalanmu”, artinya, dalam urusan sehari-hari. Melompat dari atas gedung yang tinggi bukan urusan biasa. Yesus menjawab dari Ul 6:16 yang merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1–7, tempat mereka kekurangan air. Mereka meminta air, tetapi dengan sikap curiga bahwa Tuhan mau membunuh mereka di padang gurun. Kesimpulannya dalam Kel 17:7 menjelaskan bahwa “mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: ‘Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?’”. Permintaan mereka berasal dari keraguan akan maksud Allah terhadap mereka, bukan dari iman. Yesus tidak meragukan bahwa Tuhan menyertai Dia, dan akan menjaga Dia di segala jalan-Nya. Tetapi Yesus juga tahu bahwa Dia dipanggil sebagai Hamba Tuhan, karena ucapan Allah dalam 3:17 juga merujuk pada Yes 42:1. Tujuan-Nya bukan untuk menghindar dari segala penderitaan, melainkan untuk menuju salib. (Apakah ejekan para penonton supaya Dia turun dari salib merupakan kelanjutan dari pencobaan ini?)

Pencobaan ketiga (8–10) kembali ke tugas Yesus sebagai Mesias. Janji Allah kepada Mesias dalam Mzm 2:8 menyangkut segala bangsa, sama seperti Daud mengalahkan banyak bangsa di sekitarnya. Iblis menawarkan sesuatu yang merupakan hak Yesus dan misi Yesus sebagai Mesias. Yesus menjawab dari Ul 6:13, beberapa ayat sebelum kutipan tadi. Jika Ul 6:16 menyangkut sikap ragu kepada Tuhan dalam kesusahan, konteks Ul 6:13 adalah melupakan Tuhan karena sukses (Ul 6:10–12). Israel akan tergoda untuk menyembah ilah lain dalam kemakmuran di tanah perjanjian, dan pas itulah yang ditawarkan Iblis. Yesus menempatkan Allah di atas sukses, sekalipun sukses yang baik dan sah.

Akhirnya Iblis pun pergi, sebagaimana diperintahkan oleh Yesus, dan Yesus yang telah menang atas Iblis disegarkan oleh malaikat-malaikat. Tetapi, Iblis tidak selesai. Dalam a.12, dunia yang menentang Allah muncul kembali, dan Yesus harus memulai perjalanan panjang sampai Dia diakui sebagai Raja Israel dan Anak Allah, sama seperti Daud. Jika Daud akhirnya dilantik sebagai raja di depan umum dengan acara yang meriah, Yesus dilantik sebagai raja di atas salib, dengan tulisan di atas kepala-Nya yang mengumumkan bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi (istilah “raja” atau “Anak Allah” bermunculan dalam Matius 27). Iblis muncul kembali dalam usul Petrus untuk menghindar dari salib (16:22–23). Tetapi justru melalui salib, Yesus akan menuntaskan kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut.

Maksud bagi Pembaca

Karena Yesus Sang Mesias telah mengalahkan Iblis, kita melawan pencobaan dalam pengharapan. Dosa bukan masa depan dunia, dosa bukan keniscayaan. Dari Yesus, Israel yang sejati, kita belajar bagaimana mengalahkan Iblis. Yesus memiliki pemahaman tentang Allah dan rencana-Nya yang kukuh. Dia tahu bahwa Dia harus menempuh jalan salib, dan Dia tahu bahwa apapun yang terjadi dalam perjalanan itu, Tuhan menyertai Dia.

Makna

Di balik kegagalan Israel di padang gurun adalah kisah Adam dan Hawa di taman Eden, sehingga Paulus menempatkan Yesus bukan hanya sebagai Mesias dan Israel yang sejati, melainkan juga sebagai Adam yang kedua (Rom 5:12–19). Uraian Paulus menunjukkan bahwa dosa itu sesuatu yang begitu dahsyat, sehingga hanya karya yang agung di dalam Kristus yang dapat mengembalikannya. Oleh karena itu, saya mau menyoroti identitas Yesus yang lebih dari Mesias yang berjaya itu.

Iblis mempertanyakan status Yesus sebagai Anak Allah seakan-akan hal itu sekadar soal kuasa dan bukti. Tetapi, tugas Yesus juga mencakup menjadi umat Allah yang taat, dan menjadi hamba Tuhan yang setia sampai salib. Dengan identitas dan misi yang jelas itu, kuasa-Nya diperlihatkan dengan kemampuan-Nya untuk mengalahkan pencobaan, bukan kemampuan-Nya untuk melakukan mukjizat.

Pendekatan yang mencari “tips” untuk mengalahkan pencobaan sudah mengerdilkan dosa menjadi semacam kecolongan saja. Seakan-akan kita kurang lebih sanggup untuk mengalahkan dosa dengan kuasa sendiri, dan hanya butuh “tips” dari Sang Guru untuk menolong kita. Tetapi dalam hal inipun, Yesus adalah Juruselamat. Sudah ada satu Manusia yang setia sampai kesudahannya, dan kita diberi Roh-Nya supaya kita ikut dalam jejak-Nya, dengan pengampunan dalam darah-Nya ketika kita jatuh.

Namun, jika kita memahami Yesus sekadar sebagai Mesias yang berkuasa (mampu memulihkan penyakit dan menaikkan pangkat), kita tidak akan menemukan kuasa untuk mengalahkan pencobaan. Masalah pertama ialah bahwa sebagian besar pencobaan tidak akan dikenali sebagai pencobaan. Kalau ditawarkan “tempat basah”, kita akan menganggap itu berkat Tuhan; kalau merasa nyaman atau asyik, hal itu sudah menjadi bukti bahwa Tuhan berkenan; apa yang dikejar orang banyak—vox populi—akan kita anggap sebagai vox Dei—suara Tuhan sendiri. Karena kita tidak mengerti artian ketaatan sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus, dan tidak menangkap misi-Nya, kita memiliki konsep dosa dan kebenaran yang kerdil.

Masalah kedua ialah bahwa Yesus yang berjaya atas pencobaan tidak dapat dipisahkan dari Yesus yang rendah hati, percaya kepada perlindungan Tuhan, dan ngotot menyembah Allah saja. Ada yang “bertobat” dalam artian menyesal terhadap tindakan atau sikap tertentu, tetapi tidak mau mengubah arah hidup supaya sesuai dengan Yesus yang memikul salib. Roh Kristus membantu kita untuk berbalik kepada Tuhan, bukan sekadar mengatasi kelemahan karakter yang mengganggu.


Mat 9:35-38 Dasar untuk bermisi [5 Mei 2013]

April 29, 2013

Penggalian Teks

A.35 hampir sama dengan 4:23, dan ringkasannya tentang pelayanan Yesus, “mengajar…memberitakan…melenyapkan”, persis sama. Bentuk imperfek dari kata kerja “berkeliling” di sini merujuk pada kebiasaan, yaitu pola pelayanan Yesus. Makanya, pp.5-9 yang diapit oleh kedua ayat ini (istilahnya “inklusio”) dapat dilihat sebagai gambaran yang mewakili pola pelayanan itu. Secara garis besar, pengajaran dan pemberitaan Yesus tentang Kerajaan Allah disampaikan dalam khotbah di bukit (pp.5-7), dan kuasa-Nya atas segala yang melawan Kerajaan Allah disampaikan dalam 8:1-9:34. Hal mengajar terjadi dalam rumah-rumah ibadat, di mana Kitab Suci dibacakan dan dijelaskan. Mungkin ada contohnya dalam 5:21 dst, di mana Yesus menjelaskan makna sebenarnya dari beberapa perintah Allah. Pemberitaan terjadi di mana saja. Yang diberitakan adalah Injil. Kata euanggelion berarti “pengumuman kabar baik” dan dipakai untuk hal yang dianggap penting, sepertinya lahirnya anak bagi Kaisar. Injil Yesus adalah pengumuman yang menyangkut kedatangan Kerajaan Surga, yaitu rangkaian peristiwa yang di dalamnya orang yang miskin di hadapan Allah akan dihibur, mewarisi bumi dan melihat Allah (Mt 5:3-12), sesuai dengan janji-janji PL. Pengumuman itu disertai dengan menunjukkan sifat Kerajaan Allah, dengan penyakit dan kelemahan dipulihkan (“melenyapkan” = therapeuō, biasanya diterjemahkan dengan “menyembuhkan”). Kelemahan (malakia) lebih luas dari penyakit, dan bisa merujuk pada kondisi dan sifat jiwa juga.

Sebelum 4:23, Yesus memanggil beberapa murid (4:18-22). Dalam p.10, duabelas orang yang secara khusus dipilih dari antara murid-murid-Nya (10:1-5) diutus untuk memperluas pelayanan Yesus sampai kepada semua “domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Mengapa hanya Israel? Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, mereka diutus kepada segala bangsa. Belum waktunya sampai karya keselamatan bagi segala bangsa dikerjakan.) Perikop kita mengantarkan misi itu dengan memaparkan dasar dan motivasinya.

Dasar untuk misi dalam a.36 ialah kondisi umat seperti domba yang tidak bergembala, lelah dan terlantar karena tidak terarah dan tidak aman. Seperti dilihat dalam ayat-ayat rujuk silang untuk Mt 9:36, gembala adalah pemimpin umat. Yehezkiel 34 menjadi teks klasik soal itu, karena pimpinan Israel digambarkan sebagai gembala-gembala yang jahat, dan Allah menjanjikan bahwa Dia sendiri akan menjadi gembala mereka dengan Dia sebagai Allah, dan (keturunan) Daud sebagai raja (Yeh 34:24). Yehezkiel 34 adalah nubuatan pertama dalam bagian yang memberitakan keselamatan bagi Israel yang telah dibuang (Yehezkiel 24-48), dan janji itu tidak lain dari janji akan kedatangan Kerajaan Allah. Bahasa Yesus menunjukkan bahwa Israel masih dalam kondisi pembuangan (walaupun secara harfiah ada di tanah perjanjian), sehingga berita kedatangan Kerajaan Allah sangat relevan untuk mereka. Terhadap kondisi itu, Yesus “tergerak hati”. Kata splangkhnizomai merujuk pada rasa kasihan yang terasa dalam perut. Perasaan itu menjadi motivasi untuk Yesus bergerak.

Dalam aa.37-38, Yesus menyampaikan alasan dan motivasi kepada murid-murid-Nya. Kondisi umat seperti ladang yang siap dituai. Dengan mendoakan kebutuhan pekerja untuk tuaian itu, mereka akan mendapatkan pemahaman dan motivasi untuk terlibat dalam jawaban doa itu.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mau menggerakkan pembaca untuk terlibat dalam misi pemberitaan Kerajaan Allah, dengan melihat perlunya manusia menerima Yesus sebagai Raja, dan berdoa supaya pekerja-pekerja dikirim. Bahwa Yesus adalah gembala yang akan memulihkan Israel sudah jelas dalam, misalnya, 7:21-27. Jika dalam 10:5-6 ladang itu Israel, dalam 13:38 sudah ada petunjuk bahwa ladang itu akan meluas, dan hal itu terjadi dalam Amanat Agung pada akhir Injil (“segala bangsa”, 28:19).

Makna

Soal prioritas antara pemberitaan dengan tindakan adalah masalah klasik dalam misiologi. Jelas bahwa Yesus melakukan kedua-duanya, dan dalam 10:7-8 Dia mengutus murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama. Kebutuhan fisik selalu ada, dan a.36 merujuk pada masalah rohani yang tidak dapat dijawab dengan penyembuhan saja. Tetapi soal prioritas itu agak mubazir jika semangat untuk bermisi dalam bentuk apapun tidak ada. Kadangkala jemaat kita sendiri yang bertingkah laku seperti domba-domba yang lelah dan terlantar, sehingga kita merasa membutuhkan misi ke dalam dulu. Misi ke dalam selalu diperlukan; pemberitaan kita harus selalu membawa harum Injil. Tetapi perbedaan antara murid-murid Yesus dan orang banyak masih tipis pada tahap ini dalam cerita Matius. Kelebihan mereka tidak ada pada diri mereka tetapi bahwa mereka telah bergabung dengan Yesus. Hanya relasi dengan Dia yang melayakkan mereka untuk terlibat dalam misi-Nya. Bila jemaat kita sudah mengikuti Yesus, bermisi adalah bagian dari pendewasaan iman, sama seperti untuk para murid.


Mat 2:16-18 Identifikasi Yesus dengan dunia kekerasan (30 Sep 2012)

September 27, 2012

Perikop ini muram sekali. Tanpa melihat konteksnya, kita hanya bisa ikut meratapi kekerasan yang ada sampai sekarang, tanpa harapan. Jika kita melihat nas yang dikutip, kesedihan hanya diteguhkan. Tentu, dalam konteks Injil Matius, ada harapan yang besar. Tetapi, semestinya konteks kutipan itu juga ditinjau. Dengan demikian, kita melihat bahwa harapan itu terletak dalam rencana Allah, sehingga bisa menjadi harapan kita juga.

Penggalian Teks

Perikop ini adalah adegan kedua terakhir dalam kisah tentang kelahiran Yesus. Pada satu segi, kisah ini menjelaskan bagaimana Yesus lahir di Betlehem, kota Daud, tetapi besar di Nazaret. Dia berperan sebagai Mesias sejak awalnya, karena Dia dianggap saingan bagi para penguasa (2:3). Dia juga berperan sebagai Israel, yang harus pergi ke Mesir untuk menghindar dari masalah, dan dipanggil Allah dari sana (2:15). Pada saat yang sama, kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan utusan-Nya dari tiran sekalipun, sama seperti Dia menjaga Musa. Puncak kisah ini terjadi dalam 2:14-15, karena di situlah Yesus aman. Perikop ini serta adegan berikutnya (2:19-23) menunjukkan bahwa Israel berada di bawah penindasan, sama seperti ketika berada di Mesir.

A.16 melaporkan reaksi Herodes ketika orang-orang majus tidak kembali melaporkan tempat lahir Yesus. Seperti biasa untuk seorang tiran yang harus selalu mengendalikan kondisi, dia marah karena diperdayakan. Dalam kemarahan itu dia membunuh semua anak di bawah dua tahun.

Kemudian, Matius mengangkat nas dari Yer 31:15. Kota Rama, terletak kurang lebih lima kilometer sebelah utara dari Yerusalem, ada di daerah Benyamin, anak Rahel. Menurut Yer 40:1, Rama adalah tempat perhentian untuk orang buangan yang diangkut ke Babel. Jadi, tangisan Rahel melambangkan pembuangan Israel, akibat dari pemberontakan Israel terhadap Allah. Peristiwa pembunuhan itu menunjukkan bahwa Israel pada zaman Yesus masih dalam pembuangan, dalam penantian akan keselamatan, seperti juga dalam silsilah Matius (1:17). Jika 2:15 menempatkan Yesus dengan Israel yang dipanggil dari Mesir, di sini Dia ditempatkan dengan umat dalam pembuangan itu.

Tetapi, tidak kalah pentingnya untuk melihat bahwa Yer 31:15 terletak dalam konteks pengharapan. Pembuangan itu akan berakhir, umat Allah akan diselamatkan kembali. Matius mau menunjukkan bahwa Yesus masuk dalam kondisi umat Israel yang dibuang supaya Dia membawa mereka pulang kepada Allah. Caranya menjadi jelas dalam p.3, dengan pemberitaan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Maksud bagi Pembaca

Yesus telah mendapat bagian dalam dunia yang penuh kekerasan ini. Soal identifikasi itu yang utama, tetapi di balik kutipan itu ada pengharapan akan janji Allah.

Makna

Rencana Allah tidak menghindar dari yang paling buruk dalam dunia ini. Yesus lahir dalam konteks kekerasan, dan akhirnya Dia pun tidak luput dari nasib seperti anak-anak kecil itu. Alkitab tidak menutupi kepahitan kehidupan dalam dunia ini, dan nabi Yeremia jujur mengatakannya. Oleh karena itu, kita bisa yakin bahwa Kristus mengerti jeritan orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Kita juga bisa yakin bahwa keselamatan adalah keselamatan yang utuh. Allah sudah memperhatikan dan akan menindak hal-hal seperti itu.


Mt 26:69-75 Gagal karena belum mengenal Yesus (1 Apr 2012) [Sengsara VII]

Maret 30, 2012

Banyak perikop Alkitab menyampaikan cerita yang menarik perhatian karena di dalamnya kita melihat seorang tokoh dalam pergumulan hidup. Perikop ini termasuk salah satunya. Namun, adalah salah jika kita hanya berfokus pada orangnya sendiri, sehingga kita sampai pada moralisme yang tidak salah tetapi agak dangkal, “jangan menjadi pengecut”, “jangan berdusta”; dangkal karena Allah menjadi mubazir dalam pesan khotbah seperti itu. Tokoh-tokoh Alkitab selalu bertindak dalam konteks lebih luas, yaitu, apa yang dilakukan Allah dalam dunia. Dalam rangka itulah berhasil tidaknya iman mereka harus diukur, dan dalam rangka itulah kita dapat belajar dari tokoh-tokoh tentang iman kita.

Penggalian Teks

Perikop tentang Petrus ini sebenarnya mulai dari a.58. Berbeda dari murid-murid yang lain, Petrus tetap mengikuti Yesus sampai ke halaman Imam Besar, sesuai dengan janjinya dalam a.33 (“Biarpun mereka semua tergoncang…aku sekali-kali tidak”). Matius mengatakan bahwa dia ke sana “untuk melihat kesudahan perkara itu”. Istilah “kesudahan” (telos = akhir atau tujuan) menarik karena dalam 24:14 Yesus telah berkata, “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Hal itu dikatakan dalam konteks perjuangan akhir zaman, tetapi para penulis Injil melihat pengadilan dan penyaliban Yesus sebagai peristiwa pertama dalam rangka perjuangan itu, di mana perlawanan terhadap Allah menimbulkan aniaya dan penderitaan bagi orang-orang yang setia.

Dalam aa.59-68 kita melihat cara Yesus menghadapi penganiayaan, kemudian dalam perikop ini cara Petrus. Kedua peristiwa ini berjalan agak sejajar. Yesus diminta jawaban terhadap kesaksian palsu tetapi diam (aa.62-63). Petrus diperhadapkan dengan pernyataan yang benar tetapi menjawab dengan berdusta (a.70). Kemudian, Yesus diminta dengan sumpah untuk menjawab sebuah tuduhan yang benar, bahwa Dia adalah Mesias. Pada saat itulah Dia menyampaikan kesaksian yang kuat tentang diri-Nya (a.64). Sedangkan Petrus, dia sendiri yang bersumpah, untuk menguatkan dustanya sendiri (a.74). Dengan demikian, kita melihat bagaimana Yesus bertahan sampai kesudahannya, sedangkan Petrus tidak.

Hasilnya penting diamati. Yesus disalibkan. Ketakutan Petrus bukan tidak beralasan. Petrus tetap aman, hanya, ternyata hatinya hancur. Hanya setelah kebangkitan Yesus serta penerimaan-Nya yang menyiratkan pengampunan (28:7, 16-20), maka Petrus serta murid-murid yang lain menjadi siap menghadapi tantangan zaman.

Maksud bagi Pembaca

Matius memperbandingkan kesetiaan Yesus dengan kegagalan Petrus supaya pembaca Injil tidak mengandalkan antusiasme sendiri tetapi belajar dari perspektif Yesus, yang melihat sampai ke kesudahannya, yaitu penggenapan rencana Allah melalui karya Yesus sendiri. Yesus bertahan karena Dia menangkap maksud Allah yang melampaui apa yang kelihatan; Petrus gagal karena dia belum menangkap hal itu.

Makna

Petrus adalah yang paling berani dari para murid. Pengingkaran janjinya muncul bukan karena dia adalah seorang pembohong, melainkan karena dia tidak mengerti dunia seperti digambarkan Yesus dalam pp.24-25, yaitu bahwa dunia sangat melawan Allah, tetapi Allah akan menang. Karena dia belum memahami dunia, dia menganggap bahwa keberanian itu cukup. Itulah salahnya moralisme. Biar banyak mengucapkan kata “dengan kuasa Roh Kudus”, seorang moralis menganggap bahwa pada dasarnya manusia sanggup melakukan kebenaran, dan tinggal diingatkan untuk melakukannya. Tetapi ternyata, ketika orang dengan niat baik masuk ke dalam tempat kerja, mereka setengah mati mempertahankan kebenaran; ketika orang dengan semangat tinggi menjadi pimpinan lembaga-lembaga masyarakat, yang semuanya adalah pemberian Allah, yang sekaligus diilhami oleh Iblis karena diisi dengan manusia berdosa (bdk. Ef 2:1-3), mereka setengah mati menerapkan keadilan; ketika masyarakat dan budaya mengecam iman kepada Yesus, kita setengah mati bersaksi. Itulah yang dilihat—dan dicemaskan oleh gereja—terus-menerus. Dalam sosok Petrus kita melihat bahwa hal itu tidak aneh—dunia dalam perlawanannya terhadap Allah memang kuat, tidak mungkin kita melawan dengan semangat kita saja.

Jawaban yang saya usulkan di atas, yaitu pentingnya kita menangkap apa yang dilakukan Allah, tidak berasal langsung dari perikopnya, melainkan dari tempatnya dalam cerita Injil Matius. Di sini Petrus gagal, tetapi setelah kebangkitan Yesus, dia diutus untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak besar. Apa bedanya? Dalam Injil Matius, kematian dan kebangkitan Kristus. (Tentu, Lukas menyoroti peran Roh Kudus juga tetapi Matius tidak.) Dengan berjumpa dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mereka mulai menangkap bahwa penderitaan karena kebenaran bukan sesuatu yang aneh, tetapi justru merupakan jalan menuju kebangkitan, bahwa kecaman manusia bukan kata akhir, karena Allah akan mengakhiri segalanya, bahwa Yesus yang tetap lemah lembut adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat. Dalam perikop kita, iman Petrus memang lemah. Tetapi imannya dibangun bukan dengan fokus pada dirinya sendiri, melainkan dengan melihat kebenaran tentang Kristus. Semoga perayaan Paskah membawa berkat itu bagi kita semua.


Mat 15:7-20 Kenajisan yang sebenarnya (11 Mar 2012) [Sengsara IV]

Maret 10, 2012

Perikop ini menyangkut dua pola berpikir, yang satu diwakili oleh orang Farisi, yang satu diwakili oleh Yesus. Perbedaan itu dapat diringkas sebagai pendekatan batiniah (dosa di hati) melawan jasmani (kenajisan lahiriah), tetapi bagi saya perbandingan itu belum tajam. Bahkan, saya akhirnya mengusulkan bagaimana konsep kenajisan (terkait dengan pemali) tetap bisa dipakai. Sebagai catatan, pembacaan Membangun Jemaat dimulai pada a.7, tetapi agar perikopnya dapat dimengerti, pembahasan harus dimulai dari a.1, karena a.20 menjawab pertanyaan orang Farisi dalam a.2.

Penggalian Teks

Perikop ini terdapat dalam bagian 11:2-16:12, yang menguraikan berbagai respons terhadap Yesus, setelah agenda Yesus (yakni, Kerajaan Allah) dipaparkan dalam pp.4-10. Pada satu segi ada perlawanan dari orang-orang Farisi meningkat, pada segi yang lain pemahaman para murid meningkat, walaupun dengan sangat lamban. 11:25-27 meringkas maksud Allah di balik itu—orang bijak tidak dapat menangkap siapakah Yesus, sedangkan orang kecil bisa. Di antara para murid Yesus dengan orang Farisi terdapat orang banyak. Kepada mereka Yesus menggunakan perumpamaan untuk memberitakan Kerajaan Allah, sesuai dengan nubuatan PL (13:10-17 yang mengutip Yes 6:9-10; 13:34-35 yang mengutip Mzm 78:2). Yang degil hati tidak akan memahami Yesus, sedangkan yang siap (tanah yang baik, 13:23) akan menerima pemberitaan Yesus dengan baik. Dengan demikian, perumpamaan menjadi semacan penyaring, sehingga kehadiran Yesus membedakan antara lalang dan gandum (13:24-30); antara ikan yang baik dan yang tidak baik (13:47-50). Perikop kita melanjutkan tema pembedaan ini.

Perikop ini terdiri atas empat adegan. Dalam aa.1-9 Yesus dan orang Farisi bertengkar soal adat istiadat. Dalam aa.10-11 Yesus menyampaikan perumpamaan kepada orang banyak. Dalam aa.12-14 para murid dan Yesus membicarakan orang-orang Farisi. Dalam aa.15-20 perumpamaan itu dijelaskan kepada para murid.

Inti persoalan adalah kenajisan. Dalam a.2 ternyata murid-murid Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan, suatu tindakan yang dianggap najis oleh orang Farisi. Orang Farisi mau menerapkan standar kekudusan untuk imam (bdk. Kel 30:18-21) kepada semua umat Israel, dengan harapan bahwa dengan demikian Allah akan menerima Israel dan menyelamatkannya. Kepada para pengajar itu Yesus menyerang cara mereka berteologi sehingga tradisi turun-temurun mereka meminggirkan firman yang tertulis dalam Alkitab (3). Orang Farisi percaya bahwa tradisi itu berasal dari Musa dan sepadan dengan Taurat, tetapi Yesus memperlihatkan contoh orangtua di mana ketentuan-ketentuan itu meniadakan perintah Allah (4-6). Dengan demikian mereka menjadi orang munafik, sama seperti Israel pada zaman Yesaya (7). Hormat bagi Allah ada di bibir mereka, tetapi hatinya jauh (8). Ternyata, adat istiadat itu tidaklah netral, tetapi berfungsi untuk menyatakan kejauhan dari Allah. Perintah Allah yang tidak disukai diganti dengan ketentuan manusia (9). Jadi, di sini Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan orang Farisi, tetapi menjawab dasar yang salah dari pertanyaan itu. Yang menolak Yesus, menolak karena hatinya jauh dari Allah. Orang bijak (seperti dalam 11:25 tadi) menolak Yesus karena kepintarannya dipakai untuk menghindar dari Allah.

Kepada orang banyak Dia menawarkan perumpamaan, sesuai dengan 13:10-17 tadi. Pokok dari perumpamaan ini adalah kenajisan. Bagian pertama cukup jelas. Yesus menyangkal bahwa apa yang masuk ke dalam mulut, yaitu, makanan haram, atau makanan yang dimakan dengan tangan yang tidak dicuci, dapat menajiskan. Bagian kedua perumpamaan ini kurang jelas. Apa itu yang “keluar dari mulut”? Ludah? Muntahan? Nafas? Perkataan? Artiannya tidak disampaikan kepada orang banyak, tetapi sesuai dengan 13:11, Yesus menjelaskannya kepada para murid dalam aa.12-20. Orang banyak yang rindu untuk belajar harus bergabung dengan Yesus untuk dapat mengerti.

Yang pertama, Dia menjelaskan sikap-Nya tentang orang Farisi (aa.12-14). Para murid kelihatan kaget bahwa Yesus berbicara begitu keras sehingga orang Farisi tersinggung dan marah (itu maksudnya “batu sandungan” di sini), tetapi Yesus menjelaskan bahwa mereka telah kehilangan tempatnya dalam rencana Allah. Menurut Rom 2:19, orang Yahudi menganggap diri “penuntun orang buta”, dan tugasnya adalah menuntun orang keluar dari “lobang”, tempat hukuman Allah menurut Yes 24:17-18. Anggapan itu sesuai dengan tugas Israel dalam PL untuk menjadi terang. Tetapi karena kaum Farisi ini buta, mereka malah membawa orang kepada hukuman itu. Mereka termasuk lalang yang tidak ditanam Allah, bukan gandum yang ditanam Allah (13:24-25). Mereka kehilangan bagian mereka dalam kedatangan Kerajaan Allah.

Yang kedua, Yesus menjelaskan kepada para murid makna dari perumpamaan itu. Pertanyaan Petrus memicu teguran sedikit, sesuai dengan kelambanan para murid untuk menangkap siapa Yesus. Namun, Yesus dengan sabar memberi penjelasan. Yang masuk ke dalam mulut memang adalah makanan, yang berjalan sampai dibuang lagi. Yang keluar dari mulut berasal dari hati, jadi, maksudnya kata-kata. Kata-kata adalah luapan dari hati, tetapi perlu diperhatikan bahwa a.18 berbicara tentang berbagai dosa, bukan hanya dosa perkataan. Jadi, perumpamaan itu memang adalah perumpamaan. Semua hal yang terkait dengan kenajisan lahiriah diwakili oleh makanan yang masuk ke dalam mulut, sedangkan semua hal yang terkait dengan hati diwakili oleh perkataan yang keluar dari mulut.

Sesuai dengan penekanan-Nya terhadap firman Allah, Yesus beranjak dari hukum keenam sampai kesembilan (a.19). Hukum kelima sudah Dia bela dalam aa.4-6. Menarik bahwa zinah ditambah dengan percabulan, sehingga jelas bahwa hukum ketujuh menyangkut semua dosa seksual. Sumpah palsu juga ditambah dengan hujat. Maksud dari hukum kesembilan ini adalah kedudukan atau reputasi orang di dalam masyarakat. Kesaksian palsu (disertai dengan sumpah dalam konteks pengadilan) menjatuhkan orang yang tidak bersalah, dan hujat (termasuk fitnah, kutuk dsb) bermaksud sama. Sama seperti dalam Yak 3:9, orang memuji Allah dengan bibirnya, tetapi menghujat sesama. Pelanggaran-pelanggaran ini berasal dari hati, bukan dari apa yang dimakan, dan tidak bersangkut paut dengan soal mencuci tangan (a.20).

Demikianlah penjelasan Yesus kepada para murid. Dari bagian-bagian sebelumnya, kita dapat melihat bahwa bahkan terhadap Taurat, khususnya di sini aturan-aturan tentang kenajisan, Yesus membawa pola baru. Otoritas-Nya atas penyakit, setan-setan, dosa, kelaparan, bahkan badai, ternyata sampai mencakup hukum Allah sendiri. Makanya, tidak mengejutkan jika tidak lama kemudian Petrus dapat mengaku bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Makanya, Yesus sendiri akan memerintah para murid untuk mengajar bangsa-bangsa untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan.

Maksud bagi Pembaca

Matius mau memperlihatkan otoritas Yesus untuk menentukan hukum Kerajaan Allah, dalam hal ini terkait dengan soal kenajisan. Dia mau supaya pembaca memilih jalan Yesus, yaitu, mencari penyucian hati sehingga hukum Allah terwujud dalam kehidupannya. Dia juga memberi peringatan kepada semua orang “bijak”, termasuk para pemimpin jemaat, untuk tidak meniadakan firman Allah dengan pemahaman lunak yang membenarkan dosa.

Makna

Perikop ini termasuk kritikan agama yang paling keras dalam Alkitab, yaitu bahwa agama dapat dipakai untuk justru tidak taat kepada Allah. Sebagai makhluk, manusia membutuhkan Allah, tetapi tidak mau menyerahkan kendali kehidupan kepada-Nya, alias percaya. Tetapi Allah tidak berdiam diri terhadap hal itu. Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan lebih lagi Anak-Nya, Yesus Kristus, memberitahu manusia supaya memperbaiki apa yang sebenarnya rusak, yaitu hati, bukan memasang sistem manusia di mana ada bayangan dari pertobatan yang tidak menyentuh hati yang sakit itu. Ajaran lisan yang diwarisi oleh orang Farisi menyangkut banyak hal, seperti tidak memetik gandum atau menyembuhkan orang pada hari Sabat, yang sebenarnya tidak salah. Ketika orang melanggar aturan itu dan “bertobat”, dan lebih lagi ketika hal-hal itu tidak dilanggar, orangnya merasa bahwa dia menyatakan ketaatan kepada Allah. Tetapi, pada saat yang sama dia merendahkan orang-orang “berdosa” (orang-orang yang tidak mengikuti perangkat aturan itu), membenci musuhnya, dan mencari pujian manusia. Dia rajin dalam menaati peraturan manusia, tetapi hatinya busuk. Gambaran tentang orang Farisi itu menyampaikan suatu pola beragama yang tidak asing dalam sejarah Gereja, bahkan semestinya menggelitik kita semua. Semangat untuk menjadi “orang beres” harus selalu diuji, apakah berasal dari iman kepada Allah karena dibenarkan secara cuma-cuma atau dari keinginan untuk menjadi beres karena mau memiliki kebenaran sendiri. Jika berasal dari iman, kita akan mengasihi orang-orang yang tidak beres dan menyerang hal-hal dalam hati sendiri yang menghalangi kasih itu. Jika berasal dari keinginan untuk beres, kita akan takut terhadap keberadaan orang-orang yang tidak beres sehingga menjadi sangat sulit untuk mengasihi mereka.

Para antropolog mengartikan “semangat untuk menjadi orang beres” sebagai kerinduan, bahkan kebutuhan, akan keteraturan. Manusia tidak dapat hidup dalam kekacauan dan kerancuan makna. Budaya lisan (sering disebut primitif, tetapi sebenarnya budaya-budaya itu kompleks, hanya tidak ada atau tidak banyak yang dapat membaca) cenderung menyimbolkan ketertiban dan kekacauan dalam bentuk tabu (pemali dalam bahasa Toraja) yang pelanggarannya menimbulkan kekacauan, dan ritusnya menghapus kekacauan itu. Walaupun dari satu segi tabu-tabu itu terasa sembarang (mengapa daging babi dilarang, dan bukan daging kambing?), akan tetapi biasanya ada berbagai nilai tertanam di dalamnya. Kitab Imamat mencerminkan pola berpikir budaya lisan, tetapi semua “tabu” dikaitkan dengan Allah yang Esa, bukan lagi dengan roh-roh, nenek moyang dan berbagai dewa-dewi. Kemudian, kondisi manusia di hadapan Allah digambarkan dengan tiga tingkat: najis, tahir dan kudus. Najis adalah kondisi kacau yang mengancam keberadaan Allah di tengah umat-Nya. Tahir adalah kondisi manusia yang sudah dapat diterima oleh Allah. Kudus adalah kondisi manusia yang bisa dekat dengan Allah. Yang disimbolkan dengan kenajisan bukan hanya dosa tetapi juga maut, seperti penyakit kulit yang mirip dengan mayat. Melalui apa yang disimbolkan dalam sistem kenajisan, Israel bisa belajar tentang Allah yang kudus dan pro-hidup, dan bisa juga ikut berperang terhadap kuasa dosa dan maut.

Sistem dalam Imamat tidak bermaksud untuk menyampaikan cara beribadah yang lepas dari ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama (bdk. Imamat 19). Tetapi manusia memiliki kemampuan yang hebat untuk melupakan jiwa dari perangkat peraturan dan menerapkan hukum positif. Bagi orang Farisi, sebagaimana digambarkan dalam Injil-Injil sebagai peringatan bagi kita, sistem kenajisan telah menjadi pokok. Bahkan, tradisi lisan menambahkan aturan-aturan baru, baik untuk memagari peraturan yang sudah ada, maupun untuk menerapkan kekudusan para imam kepada seluruh umat. Simbolnya dikembangkan, sementara apa yang disimbolkan, perjuangan pro-hidup dan melawan dosa dan maut, dipinggirkan. Menjadi orang yang beres diartikan sebagai menaati berbagai aturan, sedangkan intinya ada kasih sebagaimana dilihat dalam kesepuluh perintah. Perhatikan bahwa ini bukan soal rohaniah melawan lahiriah. Hukum positif dapat diterapkan dengan semangat yang sungguh-sungguh, dan kasih selalu akan berwujud dalam tindakan konkret. Tetapi keteraturan apa yang dicari? Sistem orang Farisi membentuk keteraturan yang rapuh (karena belum memulihkan hati diri sendiri) sehingga harus mengusir kekacauan dengan keras. Keteraturan yang ditunjukkan oleh Yesus menghadapi dan berusaha memulihkan kekacauan (dosa, penyakit, setan, badai) dalam kasih. Usaha itu tidak selalu berhasil, karena selalu ada seperti orang Farisi yang menempatkan diri di luar rencana Allah (15:13). Tetapi bukan kita yang mengusirnya karena kita sendiri takut.

Contoh klasik hukum positif adalah sikap sebagian majelis (dan pendeta?) terhadap tata gereja, di mana tata gereja ditafsir menurut huruf, bukan menurut maksud etis-teologis yang ada di belakangnya. Jika tata gereja memperbolehkan nikah ulang, maka siapa saja yang mau menikah diizinkan, padahal Alkitab paling memberi celah sedikit.

Contoh semangat untuk menjadi orang beres dapat muncul dalam kekhawatiran tentang penyakit sosial. Tentu saja kita prihatin dengan berbagai gejala, tetapi apakah kita mau mengasihi dan membantu pelakunya, atau mereka mau diusir karena dianggap sumber kekacauan, entah karena kita rawan tergoda, entah karena kita malu jika Toraja tampil lebih jorok daripada tetangga, atau karena alasan yang lain yang menyangkut kita, bukan orang-orang yang terjebak di dalam dosa. Kepada keluarga sendiri mungkin masih ada pendekatan kasih, atau malahan kita masih kurang tegas. Tetapi pendatang juga adalah manusia, dan bahkan jika dianggap musuh tetap harus dikasihi dengan dibawa kepada Kristus Sang Pemulih.

Usul terakhir (selamat kalau bertekun sampai di sini), jika konsep pemali masih kuat di Toraja, apakah konsep itu dapat dipakai untuk menjelaskan dosa. Pemali Yesus/Allah adalah berzinah, mencuri dsb, dengan akibat hati yang jauh dari Allah sehingga berkat-Nya tidak dinikmati, baik secara pribadi maupun bersama dalam jemaat.


Mt 28:16-20 Cara Allah memberkati bangsa-bangsa

Mei 11, 2011

Perikop ini adalah bagian akhir kisah Matius, yang merampungkan beberapa tema pokok dalam Injil yang melihat kembali ke panggilan Abraham (1:1) dan sampai pada akhir zaman (28:20). Jadi, di dalamnya kita melihat bukan hanya salah satu perintah Yesus tetapi kesimpulan tentang misi Allah.

Matius memulai Injilnya dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai anak Daud, anak Abraham (1:1), dan pada waktu pembuangan (1:17). Abraham adalah jawaban Allah terhadap kehilangan berkat karena dosa manusia, dan Daud adalah patron (contoh sekaligus asal usul) cara Allah akan menyelamatkan dunia, yaitu dengan mendirikan kerajaan-Nya sebagai tempat berkat melalui seorang Raja. Dalam pembuangan, Israel kehilangan berkat itu karena dosa, sama seperti Adam dan Hawa. Oleh karena itu, para nabi membayangkan bukan hanya keselamatan Israel, tetapi juga keselamatan bangsa-bangsa. Yes 40:3, yang dikutip dalam Mt 3:3, menubuatkan jalan yang diluruskan bagi Israel dalam pembuangan untuk Israel kembali ke Israel bersama dengan Tuhan. Tetapi ketika Yesaya memperkenalkan hamba Tuhan yang akan menjadi alat Allah untuk karya keselamatan itu (Yes 42:1-4, dikutip dalam Mt 12:18-21), justru bangsa-bangsa yang berharap pada-Nya. Karena Israel dipanggil (dalam Abraham) sebagai jawaban Allah terhadap pemberontakan manusia, keselamatan Israel berarti pemulihan seluruh dunia. Jika Yesus pada umumnya membatasi pelayanan-Nya pada Israel (Mt 10:6; 15:24), hal itu tidak bertentangan dengan tekanan pada segala bangsa dalam perikop kita. Malaikat berjanji bahwa anak yang dikandung Maria “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21), dan penggenapan janji itu dinyatakan secara ironis oleh para pengolok ketika Yesus disalibkan (27:62, “orang lain Ia selamatkan”, bnd. Mt 27:32-56). Sebagai Israel yang sejati, Yesus dibuang dalam kematian-Nya dan dipulihkan dalam kebangkitan-Nya. Karena Israel sudah dipulihkan dalam Yesus, tahap berikut dalam recana Allah sudah siap dilaksanakan, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke “bukit yang telah ditunjukkan” (a.16). Apakah itu bukit yang daripadanya Yesus mengajarkan khotbah di bukit (Mt 5-7) atau dimuliakan (Mt 17:1-8) tidak dikatakan, tetapi bukit-bukit menjadi tempat penyataan dalam Injil Matius. Menurut Mt 26:32 Yesus memberitahu murid-murid-Nya sebelum Dia mati. Bagaimanapun juga, tempatnya jelas. Ketika mereka melihat Yesus, mereka menyembah, walaupun ada yang lain yang ragu-ragu (mungkin di luar kesebelas murid—ada yang mengaitkan pertemuan ini dengan penampakan kepada 500 orang dalam 1 Kor 15:6). Ternyata melihat Yesus langsung tidak otomatis menciptakan iman, dan ada yang butuh waktu untuk sungguh-sungguh percaya. Tetapi klimaks Injil ini bukan mengenai iman manusia melainkan amanat Yesus, yang menjelaskan bagaimana keselamatan yang sudah Dia datangkan dapat dinikmati oleh semua bangsa, bukan hanya orang-orang Yahudi yang selama itu percaya pada Yesus. Tidak ada andil manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kecuali kejahatan—keselamatan adalah anugerah belaka. Tetapi sama seperti motor yang dihibahkan tidak ada gunanya jika tidak dipakai, keselamatan juga perlu dihayati.

Amanat Yesus mendasari otoritas-Nya, yaitu segala kuasa di sorga dan bumi (a.18). Iblis pernah menawarkan segala kuasa di bumi (dari sebuah gunung juga, Mt 4:9), dan hal itu yang cocok untuk Mesias yang diharapkan orang Yahudi, tetapi kemuliaan Yesus setelah dibangkitkan jauh lebih besar. Otoritas itu yang menjadi dasar bagi amanat-Nya.

Kata kerja utama dalam amanat itu adalah “jadikanlah murid” (matheteuo). Karena bangsa-bangsa tidak ada di daerah Israel sendiri, mau tidak mau murid-murid harus pergi ke tempat yang lain. Kepergian bukan tujuannya, melainkan sarana. Jika yang belum menjadi murid Kristus adalah tetangga, cukup melangkah beberapa meter. Tetapi, jika di Indonesia sendiri masih ada banyak yang tidak mengenal orang yang dapat memperkenalkan Kristus kepadanya, mungkin ada yang harus melangkah lebih jauh.

Kedua kata kerja yang berikut bukan hanya sarana, tetapi menyampaikan isi pemuridan. Baptisan merujuk pada tahap awal, di mana seseorang mengambil identitas yang jelas di dalam Kristus (a.19). Hal itu biasanya dikaitkan dengan pertobatan, yaitu, meninggalkan identitas yang melawan Allah untuk menerima identitas baru sebagai pemberian Allah. Ketika Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah menyapa Yesus sebagai Anak-Nya, yang sekaligus menempatkan Allah sebagai Bapa-Nya (Mt 3:16-17). Dalam baptisan, kita juga ternyata masuk relasi yang sama, mengenal Allah sebagai Bapa, menjadi adik-adik Yesus sebagai Anak Allah, dan didiami oleh Roh Kudus.

Tetapi identitas itu tidak tinggal sebagai ritus saja. Orang yang menjadi murid harus juga diajar untuk melakukan semua perintah Yesus (a.20). Injil Matius sepertinya didesain untuk membantu dalam hal itu, karena dia menyusun lima kumpulan ajaran Yesus dalam bentuk yang cocok untuk diajarkan (Kerajaan Allah pp.5-7, misi KA p.10, pertumbuhan KA p.13, komunitas KA p.18, akhir zaman pp.24-25). Identitas sebagai anugerah dalam Kristus tidak ada manfaatnya, dan saya mau mengusulkan tidak ada nikmatnya, kecuali dihayati dengan mengangkat ajaran Yesus sebagai hikmat yang paling ampuh menjadi tumpuan dalam dunia yang menantang ini (bdk. Mt 7:24-27).

Janji Yesus yang terakhir merupakan puncak dari seluruh Injil. Anak yang dinamai “Imanuel” itu berjanji untuk selalu menyertai murid-murid-Nya dalam amanat ini. Dia adalah wujud penyertaan Allah, karena Dia tergolong dengan Allah sendiri. Beberapa petunjuk dalam Injil, seperti pengampunan dosa (9:6), pengendalian angin ribut (8:27) dan pemuliaan di atas gunung (17:2), menjadi jelas setelah kebangkitan. Dia adalah Allah Anak, yang layak disembah bersama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Demikian keselamatan yang didatangkan Yesus dapat dinikmati oleh semua bangsa. Ada yang pergi untuk memberitakan Yesus dan membangun mereka dalam identitas baru dalam ketaatan kepada Yesus sebagai pemilik kuasa di sorga dan bumi. Rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa terwujud ketika orang-orang menjadi murid Yesus dan menghayati anugerah identitas baru dengan hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Tentu, kegiatan ini tidak terbatas pada lembaga gerejawi. Kadangkala ada kelompok yang masih secara formal menjadi anggota lembaga agamawi yang non-Kristen yang justru lebih berfokus pada menjadikan sesama orang yang memiliki identitas dalam Yesus dan menaati ajaran-Nya. Yang mutlak di sini bukan gereja melainkan Yesus. Segala kuasa diberikan kepada-Nya, supaya semua bangsa perlu menjadi murid-Nya dan menaati segala ajaran-Nya, sehingga menikmati penyertaan-Nya pada semua hari (“senantiasa”). Tetapi Dia mutlak bukan sebagai simbol, misalnya, simbol penyertaan Allah atau kasih Allah, sehingga kita bebas memilih simbol yang lain dengan makna yang sama (pendekatan pluralisme). Dia mutlak sebagai Yesus, seorang manusia yang lahir di Nazaret dan mati di bawah Pontius Pilatus. Di dalam atau di luar lembaga gerejawi, sampai pembaruan segala sesuatu pada akhir zaman, Allah memberkati bangsa-bangsa dengan mereka menjadi murid Anak-Nya Yesus.


Mt 28:1-10 Dari Kecemasan sampai Pengharapan

April 22, 2011

Kedua Maria pergi ke kubur Yesus dalam dunia yang kita kenal, yaitu dunia yang di dalamnya kebenaran ditindas oleh kepentingan kuasa dan pengharapan hanya mengecewakan. Dalam dunia seperti ini, tinggal tindakan-tindakan kecil yang masih bermakna, seperti menengok kubur pemimpin rohani kekasih yang sudah menjadi korban dunia itu. Berbuat baik dalam dunia seperti ini sulit dipertahankan, karena kebaikannya lenyap dalam kegelapan, seperti dilambangkan oleh kegelapan yang meliputi bumi sambil Yesus di atas salib (27:44). Memang Matius sudah melaporkan dua petunjuk bahwa Yesus justru telah berhasil menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, tetapi perempuan-perempuan itu belum tahu—yang satu terjadi di dalam Bait Allah, yang satu terjadi setelah kebangkitan Yesus.

Tetapi mereka pergi ke kubur menjelang menyingsingnya fajar (a.1) pada hari pertama, seakan-akan kita ada pada hari pertama penciptaan menunggu Allah berfirman, “Jadilah terang”. Dan itulah yang terjadi. Matius tidak memakai ketegangan seperti ketiga Injil yang lain, sehingga dia melewatkan bagian di mana penengok kubur melihat dulu kubur yang kosong baru diberitahu oleh malaikat (pedoman Gereja Toraja memuat penguraian tentang perbedaan-perbedaan antara keempat Injil soal kebangkitan Yesus). Dia langsung menceritakan suatu pertunjukan yang hebat dari Allah, lengkap dengan kuasa dan terang (aa.2-3). Dengan demikian, keadaan tiba-tiba terbalik. Para penjaga, wakil kepentingan-kepentingan yang membunuh Yesus, tidak dapat bicara lagi dan malah tergolong dengan orang mati (a.4). Sebagai lawan dan musuh Yesus, kebangkitan Yesus bukan kabar baik. (Jika kita melihat 28:16-20, satu hal yang menarik ialah bahwa kepada musuh Yesus ditawarkan kesempatan untuk bertobat, bukan pembalasan langsung.) Yang berada dan yang hidup adalah kedua perempuan itu, dan mereka tidak usah takut karena mereka tergolong orang yang mau menemukan Yesus, bukan meniadakan Dia (a.5).

Namun, mereka takut. Mengapa? Mereka mencari Yesus yang disalibkan, bukan yang telah bangkit; mereka lupa bahwa Dia sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit. Matius memperlihatkan suatu ironi di sini. Musuh-musuh Yesus mengingat pemberitahuan Yesus itu (27:63), tetapi teman-teman-Nya tidak. Namun, buktinya ada di depan mata mereka—tempat dia dibaringkan kosong (a.6). Jika sebagai Raja Israel Yesus harus mengalami pembuangan Israel dalam bentuk penghinaan dan kematian di kayu salib sebagai pengganti bagi orang berdosa, sekarang jelas bahwa Allah sudah menuntaskan proses keselamatan itu dengan membangkitkan Dia. Yesus masuk ke dalam ranah maut supaya semua yang bergabung dengan-Nya bisa dibawa keluar ke dalam hidup yang baru (bnd. Rom 6:4). Kegelapan sudah menjadi terang, kecemasan sudah dikalahkan oleh pengharapan baru: Allah tidak alpa dari dunia ini, tetapi sudah bertindak merintis pembaruannya dan menyelamatkan manusia di dalamnya. Makanya, mereka disuruh untuk mengabarkan berita itu kepada murid-murid Yesus, bahwa mereka dapat melihat Yesus kembali (a.7).

Mereka keluar dengan sukacita yang besar, dan semangat yang tinggi untuk mengabarkan berita ini, tetapi mengapa masih ada ketakutan (a.8)? Dugaan saya bahwa kita melihat bagaimana kecemasan itu sulit dilepaskan sepenuhnya. Kabar itu “too good to be true”, terlalu baik untuk dipercayai. Jangan sampai mereka dikecewakan kembali. Hanya dalam perjumpaan dengan Yesus, ketika mereka dapat memegang dan menyembah-Nya, berita tentang kebangkitan-Nya menjadi utuh. Pesan Yesus kepada mereka hanya ringkasan dari pesan malaikat, tetapi mereka mulai mengalami berkat utama dari kebangkitan, yaitu persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dunia mereka tidak pernah sama lagi, dan jika kita menerima berita ini dan membiarkan diri berjumpa dengan Yesus, dunia kita juga tidak akan sama. Yesus adalah Raja Juruselamat: di dalam-Nya Allah sudah bertindak untuk memulihkan dunia ini, sehingga di tengah kegelapan yang teramat buruk ada pengharapan bahwa fajar mau menyingsing. Yesus adalah Bait Suci yang dibangun kembali: dengan kenaikan Yesus dan pengutusan Roh Kudus, kita semua bisa menyembah Yesus dan menikmati hadirat Allah langsung melalui-Nya. Tetapi, di manakah kita dalam cerita ini? Tentu bukan pada musuh Yesus. Tetapi apakah masih mencari Yesus yang disalibkan sehingga larut dalam kecemasan? Atau sudah menerima kabar kebangkitan-Nya, tetapi belum masuk hati sehingga plin-plan antara sukacita dengan kecemasan? Atau sudah bersekutu dengan Kristus sehingga siap memberitakan-Nya kepada orang lain?

Selamat merayakan harapan hari kebangkitan, dan persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.