November 22, 2009
Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.
Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.
Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.
Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.
Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.
1 Tanggapan |
Mazmur | Ditandai: Eskatologi, Harapan, Iman |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
November 17, 2009
Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.
Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).
Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.
Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.
Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.
Leave a Comment » |
Mazmur | Ditandai: Bait Allah, Doa, Iman, Jemaat, Pujian |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Oktober 23, 2008
Berisi 172 ayat, Mzm 119 adalah mazmur terpanjang dalam kitab Mazmur. Mazmur ini sangat teratur dalam bahasa aslinya, karena setiap ayat dalam satu bait (8 ayat per bait) mulai dengan huruf yang sama, secara berturut-turut. Jadi, dalam bacaan kita, aa.1-8 mulai dengan huruf א (aleph), dan aa.9-16 dengan huruf ב (beth). Oleh karena begitu teratur secara formal, dari segi isi puisi itu terasa berbelit-belit. Saya rasa tujuannya bukan untuk mengajukan argumentasi melainkan sebagai bahan untuk perenungan, sebagaimana diusulkan dalam a.15.
Permulaan dengan ucapan “berbahagia” menempatkan mazmur ini sebagai mazmur hikmat, yang berbicara tentang cara hidup yang baik dan buruk dalam dunia ini. Intinya adalah hidup menurut Taurat atau firman Tuhan. Ada 8 kata yang dipakai dalam mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (hukum Musa). Taurat menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan. Perjanjian itu terdiri atas Janji, Perintah dan Hukum. Janji adalah dasarnya, karena Allah selalu telah memberi sebelum menuntut. Perintah (dan Titah) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Dalam Perjanjian Baru, Injil yang menggenapi Taurat juga adalah firman Allah yang menyampaikan janji-Nya untuk mengatur kehidupan kita. Adalah anugerah yang luar biasa bahwa Allah menyatakan firman-Nya kepada kita.
Bait pertama bertema hasil dari hidup menurut firman. Salah satunya adalah “tidak mendapat malu”. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, maka dia layak untuk berdiri tegak di depan sesama. Memang, di bawah dalam mazmur ini nampak bahwa bisa saja orang benar dihina oleh orang fasik (aa.21-23). Tetapi rasa malu jangan ditentukan sepenuhnya oleh orang lain. Yang paling penting adalah pujian Allah.
Bait kedua mulai dengan pergumulan orang saleh akan kelemahannya (a.9). Jalan keluarnya terkait dengan membatinkan firman-Nya. Hal itu terjadi ketika firman Allah menjadi suatu kerinduan (a.10), sukacita (aa.12, 14) dan kegemaran (a.16). Hal itu dibantu dengan kegiatan meditasi, dengan menyimpan janji (a.11), membaca firman dengan teliti (a.13) dan perenungan dan pengamatan (a.15). Fokus pada firman Allah akan membentuk kebatinan orang sehingga firman menjadi pokok dalam hidupnya. Dengan demikian kebahagiaan sejati dari Allah akan menjadi makin nyata dalam kehidupan kita.
Leave a Comment » |
Mazmur | Ditandai: Hikmat, Spiritualitas |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Agustus 14, 2008
Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (111:5, 9). Mazmur pujian ini menceritakan dua segi dari berkat perjanjian-Nya, yakni perbuatan keselamatan-Nya (pemilikan tanah dalam a.6b, penebusan dari Mesir dalam a.9a) dan penyataan-Nya (aa.7b-8). Respons umat mulai dan berakhir dengan pujian (aa.1, 10c) serta menyelidiki perbuatan Allah dan menjadikannya dasar untuk takut akan Allah (aa.2-5, a.10).
Tentu, kita yang percaya kepada Kristus melihat perbuatan keselamatan dan penyataan Allah terpusat dalam Kristus dan karya-Nya. Milik pusaka kita adalah langit dan bumi yang baru (Why 21:1) yang menjadi pusat bangsa-bangsa (Why 21:24-26). Pada hari kemerdekaan Indonesia, kita bersyukur bahwa sebagai tomentiruran (pendatang) kita boleh menumpang di negeri ini untuk menyatakan perbuatan dan penyataan Allah yang ajaib!
Leave a Comment » |
Mazmur | Ditandai: Eskatologi, Kesaksian, Pujian |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan
Desember 12, 2007
Mzm 42-43 merupakan satu buah Mazmur yang menyatakan kerinduan seorang dalam pembuangan untuk menikmati hadirat Allah. Tiga bagian mengandung keluhan (42:2-5, 7-11; 43:1-4) yang diakhiri dengan seruan kepada jiwa pemazmur untuk berharap (42:6, 12; 43:5). Jadinya dapat dikatakan dialogis, artinya baik keluhan maupun harapan diakui, diungkapkan, bahkan saling melengkapi.
Bagian pertama (42:2-6): Kerinduan yang dibentuk oleh ibadah kepada Allah (masa lampau)
Hadirat Allah menjadi tema utama di sini. Allah dikenal oleh si pemazmur sebagai Allah yang hidup (a.3), sesuai pengalamannya sebagai seorang pemimpin dalam ibadah Bait Allah yang ramai (a.5). Keadaannya pahit terutama karena Allah terasa jauh (a.4)–memang hal itu dikatakan oleh musuh, tetapi barangkali perkataan itu menusuk hati karena terasa benar. Hasrat pemazmur teosentris.Terhadap “nostalgia” ini si pemazmur berseru kepada jiwanya sendiri untuk berharap. Harapannya bahwa dia akan bersyukur lagi kepada Allah (barangkali dalam ibadah Bait Allah). Harapan itu menjadi alasan untuk mempertanyakan tertekannya jiwanya.
Bagian kedua (42:7-12): Relasi yang dibangun atas dasar firman Allah (masa kini)
Seruan a.6 sama sekali tidak bermuara pada upaya untuk berpura-pura senang (a.7a). A.7b mungkin merujuk pada daerah hulu sungai Yordan, sehingga kiasannya menjungkirbalikkan a.2. Daripada aliran sungai yang menyegarkan, pemazmur mengalami gelora air terjun yang menjadikannya kewalahan (a.8).Namun, di tengah gelora itu Allah adalah gunung batunya (a.10a) oleh karena firman-Nya (a.9). Pada satu segi firman Allah mengungkapkan kasih setia Allah yang sepasti sebuah perintah (bnd. Mzm 33:9; 133:3), sehingga kasih setia itu dapat diandalkan meskipun belum nyata. Pada segi yang lain, firman Allah menyediakan nyanyian-nyanyian doa yang menjadi sarana untuk si pemazmur menyampaikan perasaannya sejujur-jujurnya kepada Allah (a.10-11). Firman Allah menjadi pengangan pemazmur di tengah masa pahit antara berkat masa lampau dengan berkat masa depan.Refrein a.12 tidak persis sama dengan refrein a.6. Seperti dalam terjemahan LAI, kata mengapa diulang dalam a.12. Apakah pemazmur mau mempertanyakan kegelisahannya dengan lebih tegas? Namun, perubahan kedua dalam LAI, yaitu “aku akan bersyukur” menjadi “aku bersyukur”, tidak tepat. Bahasa aslinya sama (tetap tens imperfek yang cocok untuk masa depan), dan keadaan pemazmur belum berubah.
Bagian ketiga (Mzm 43:1-5): Arah hidup berdasarkan harapan
Pada bagian ketiga semangat pemazmur makin bangkit. Pada bagian ini pemazmur meminta kepada Allah supaya Dia sebagai Sang Hakim mengambil keputusan bagi pihak pemazmur terhadap orang-orang yang melawan Allah (a.1). Pada a.2 si pemazmur masuk kembali ke dalam doa protes (a.2), tetapi bukan dalam rangka keluhan melainkan sebagai perbandingan untuk permintaannya yang tegas (a.3). Kerinduan yang cemas pada awal pasal 42 sudah menjadi kerinduan yang bersemangat untuk menjadikan terang dan kesetiaan Allah sebagai penuntun dalam kehidupannya. Itulah yang akan membawa dia kembali kepada hadirat Allah.
Kesimpulan
Tubuh Kristus adalah Bait Allah yang sejati (Yoh 2:21; Ef 1:22-23), dan setiap kali kita beribadah bersama-sama dalam tubuh-Nya semestinya kerinduan kita makin terbentuk sehingga tertuju kepada Allah. Namun, sama seperti pemazmur kita hidup dalam harapan. Banyak orang di sekitar kita hidup cuek terhadap Allah, bahkan mencela orang yang mau setia. Oleh karena itu, makin kita rindu akan Tuhan, makin kita akan merasa kepahitan hidup dalam dunia yang di dalamnya keadilan dan kebenaran belum terwujud. Tetapi oleh karena kita “akan bersyukur lagi” ketika Kristus datang kembali, maka langkah-langkah kita perlu dibentuk bukan oleh kecemasan dunia tetapi oleh terang zaman baru. Harapan itu sama sekali tidak menghapus keluh kesah kita–jangan sampai dalam dunia baru tidak ada air mata untuk dihapus karena kita sudah menjadi batu! Seperti si pemazmur kita akan berjalan terus antara kecemasan dan harapan, antara protes dan pujian. Maranata!
Leave a Comment » |
Mazmur | Ditandai: Protes, Pujian, Spiritualitas |
Permalink
Ditulis oleh abuchanan