Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014]

Juli 3, 2014

Leksionari minggu ini agak sulit. Rom 7:15–26 serta Mat 11:16–19 menyangkut pembebasan dari hukum Taurat, sementara Kej 24:34–67 dan perikop kita menyangkut pernikahan. MJ menghilangkan bacaan dari Kejadian, dan mungkin dengan salah ketik menunjukkan Mzm 145 sebagai mazmur pujian. Terus, karena pengayatan kitab Mazmur sering berbeda antara versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang dimaksud oleh leksionaris adalah mulai pada ayat 11, bukan ayat 10. Yang tepat, dan akan diuraikan di bawah, ialah penafsiran Kristologis dari perikop ini.

(Untuk khotbah minggu depan, lihat postingan ini.)

Penggalian Teks

Mazmur 45 dibuat untuk pernikahan seorang raja Israel (10). Aa.2–10 memuji sang raja. Aa.11–13 menyampaikan nasihat kepada sang ratu; aa.14–16 menceritakan sang ratu masuk bersama rombongannya ke dalam istana; dan aa.17–18 berbicara tentang keturunan sang raja serta kemasyhuran namanya. (Bahasa Ibrani membedakan jenis kelamin kata pengganti orang kedua, sehingga jelas bahwa akhiran “-mu” dalam kedua ayat terakhir tidak lagi berbicara tentang sang ratu.)

Dalam aa.12–14, sang ratu dinasihati untuk berpisah dari keluarga asalnya (11), dan berpaut kepada raja (12). Raja itu akan bergairah akan isterinya, dan isterinya akan menghormati suaminya. Di dalam diri suaminya, raja yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan itu (45:7), isteri akan dihormati oleh orang lain (13). Itulah maksud yang sejati dari “suami adalah kepala isteri”; bukan bahwa suami berhak untuk menyuruh, seperti perwira kepada prajurit, tetapi bahwa suami yang mewakili identitas keluarga, sama seperti kepala mewakili identitas orang.

Keindahan pakaian sang ratu menjadi tema dalam aa.14–15a; mulai dengan sang ratu di dalam kamarnya (14), dan kemudian ketika dibawa kepada raja (15a). Dia diiringi oleh teman-teman (15b) yang meramaikan sukacita akan perjumpaan ratu dengan raja (16). Keindahan pakaiannya melambangkan kemuliaannya, dan sukacita itu menggambarkan kebahagiaan yang akan mengalir untuk seluruh kerajaan dari perjumpaan mereka.

Kebahagiaan itu termasuk keturunan yang akan melanjutkan jasa para bapa leluhur (17a), yaitu menjadi besar di bumi (17b) sehingga semua bangsa berbahagia (18). Pernikahan ini menjamin kelanjutan janji Allah kepada Abraham (bapa leluhur pertama) supaya semua bangsa diberkati.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menguraikan kebahagiaan yang terjadi ketika isteri menyatu dengan suaminya. Termasuk ketika gereja menyatu dengan Kristus, dengan mencari identitas dan kebahagiaan di dalam Dia, sehingga menjadi indah dalam perbuatan baik dan bersukacita dalam perjumpaan dengan Dia.

Makna

Penafsiran Kristologis menerapkan Mazmur ini kepada Kristus dan gereja. Tafsiran itu bukan klaim bahwa mazmur ini bermaksud untuk berbicara tentang Kristus. Mazmur ini jelas ditulis untuk pernikahan seorang raja Israel. Tetapi, PB mengatakan bahwa Kristus adalah Raja Israel, dan bahwa Dia akan menikah dengan gereja (Ef 5:32; Why 19:6–8; 21:2). Konsep seperti apa yang mau disampaikan oleh kiasan itu? Mazmur ini pasti termasuk latar belakang dari janji itu, sehingga kita menerapkannya kepada Kristus dan gereja, tanpa melupakan konteks aslinya.

Jadi, yang pertama, gereja akan mendapat jatidiri di dalam Kristus (11–13). Dia adalah identitas gereja, dan makin kita bersatu dengan Dia, makin kita akan layak dihormati. Jadi, kita dinasihati untuk melupakan identitas-identitas lama, dan berpaut kepada Kristus. Orang Toraja kristen harus memilih: mau mendapat jatidiri dan kehormatan dalam upacara kematian yang besar, atau di dalam Kristus?

Yang kedua, gereja akan berusaha untuk menjadi seindah-indahnya bagi pengantinnya, yakni Kristus. Why 19:8 memaknai pakaian yang bagus sebagai perbuatan-perbuatan yang benar, dan perbuatan itu adalah hasil dari karya Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyucikan gereja (Ef 5:25–27). Kristus adalah Raja yang rela mati karena mencintai keadilan dan membenci kefasikan, makanya gereja dengan rela hati mau hidup berpadanan dengan Injil itu. Pengharapan akan pernikahan itu mengarahkan kehidupan kita sekarang.

Yang ketiga, pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi orang-orang dari setiap bangsa di bumi (Why 21:24–26). Dalam Mzm 45:17–18, pengantin, keturunan raja, dan bangsa-bangsa merupakan tiga pihak, tetapi dalam PB, semuanya menjadi satu pihak di dalam gereja, yang terdiri atas anak-anak Abraham dalam iman, dari segala bangsa di bumi. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan untuk seluruh dunia.


Mzm 119:97-104 Mencintai firman Allah [1 September 2013]

Agustus 26, 2013

Satu tema dalam perikop ini adalah perenungan firman Allah, dan setiap artikel yang dimuat dalam blog ini adalah hasil perenungan saya. Saya menyesal bila hasilnya terlalu mudah dicerna, karena saya tidak bermaksud mengambil alih tugas pelayan untuk merenungkan perikop secara pribadi dulu. Saya duga artikel ini akan lebih jelas jika perikopnya sudah dibaca dan dipikirkan, dan saya berharap bahwa perenungan saya membawa Pembaca untuk menggali lagi. Kapan lagi seorang pelayan yang sibuk akan mendalami firman jika bukan dalam persiapan khotbah?

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan bait mem dalam Mazmur 119 ini, sehingga setiap ayat mulai dengan huruf mem. Sebenarnya, hanya dua kata dipakai, min = “dari/daripada” (“terhadap” dalam a.101), dan mah = “betapa”. Kata min selalu melebur dengan objeknya, sehingga objek itu menjadi kata pertama dalam ayatnya dan mendapat penekanan. (Tentu, urutan kata diubah dalam terjemahan.) Oleh karena itu, perbandingannya disoroti dalam aa.98-100 (“musuh”, “pengajar” dan “orang tua”), dan kedua jalan (“kejahatan”, “hukum-hukum-Nya”) disoroti dalam aa.101-102.

Setiap ayat juga mengandung satu istilah untuk firman Allah. Kata torah (Taurat) berarti pengajaran, pengarahan atau pembimbingan (misalnya, Ams 1:8b; 4:2b). Kemudian, istilah itu dipakai khususnya untuk kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan), sebagai pengajaran dan pengarahan Allah kepada Israel. Jadi, Taurat jauh lebih luas daripada kesepuluh perintah dalam Kel 20:1-17 saja. Selain perintah (98), ada juga kisah-kisah yang dapat menjadi peringatan (99), kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum diterapkan (102), dan di balik semua itu, janji-janji Allah (103). Tidak terlalu jelas sejauh mana pemazmur membeda-bedakan istilah-istilah ini, tetapi dalam tafsiran di bawah saya coba menghargai perbedaan makna istilah itu, paling sedikit supaya kita ingat bahwa Allah tidak hanya mengajar dengan perintah, tetapi juga dengan kisah dan kasus.

Bait ini mulai dengan pernyataan cinta akan Taurat itu, yang direnungkan sepanjang hari (97). Perenungan mengandaikan perhatian yang besar, keasyikan. Ayat-ayat berikut menunjukkan mengapa cinta itu bertahan dan menjadi pola hidup.

Dalam aa.98-100 ada tiga perbandingan yang menunjukkan keunggulan Taurat dalam membuat pemazmur berhikmat. Perbandingan pertama itu lazim, yaitu terhadap musuh. Tetapi kedua perbandingan berikutnya mengejutkan: terhadap pengajar dan orang-orang tua. Bisa saja muncul kesan bahwa si pemazmur menyombong. Maksudnya dapat ditangkap dari perbandingan yang pertama itu. Musuh-musuhnya mungkin saja cerdas dan cerdik, tetapi mereka menjadi kurang bijaksana karena tidak mau diarahkan oleh perintah Allah. Mereka cerdik untuk tujuan-tujuan yang semu atau jahat. Sama seperti itu, seorang pengajar memiliki banyak pengetahuan akan firman Allah tetapi belum tentu pengetahuan itu menjadi peringatan baginya, dia belum tentu diarahkan secara pribadi olehnya. Orang-orang tua mengeluarkan “titah-titah” mereka berdasarkan pengalaman yang kaya, tetapi hal itu kurang berguna kalau mereka tidak mengutamakan titah-titah Allah. Taurat menjadi dasar untuk menemukan tujuan hidup yang baik, memakai ilmu dengan tepat, dan mengerti pengalaman dengan benar.

Aa.101-102 menyampaikan satu gambaran dengan dua cara, yaitu bagaimana Allah menuntun pemazmur pada jalan yang benar. Allah sendiri adalah penuntun melalui firman-Nya. Jalan yang benar dilihat dalam kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum Allah diterapkan (102). Menyimpang adalah hal yang dimulai dengan satu langkah kaki saja, tetapi lama-kelamaan akan menjadi jauh dari kebenaran. Pemazmur berpaut kepada Allah dalam firman-Nya supaya tetap pada jalan yang benar.

Aa.103-104 meringkas ayat-ayat sebelumnya. A.103 mengembangkan a.97. Taurat yang direnungkan dalam mulutnya membawa kenikmatan yang lebih dari kenikmatan madu: hatinya tertuju kepada janji Allah. A.104a mengulang a.100 (bdk. “pengertian” dan “titah-titah”): akal budinya juga tertuju kepada titah Allah. A.104b mengembangkan a.101 (“jalan kejahatan” menjadi “jalan dusta”). Oleh karena pengertiannya yang ditopang oleh kerinduan hati yang baru, kejahatan terbongkar sebagai dusta. Janji Allah layak dirindukan, sedangkan janji yang tersirat dalam sebuah kejahatan adalah dusta.

Maksud bagi Pembaca

Kita sebagai pembaca diundang untuk mengevaluasi sikap hati kita terhadap firman Allah. Sejauh mana kita sudah menikmati firman Allah sebagai dasar hikmat dan pengarah jalan, sehingga kejahatan menjadi dibenci? Atau, apakah firman itu masih tawar, karena pengenalan kita akan firman Allah masih dangkal?

Makna

Orang Yahudi menganggap bahwa seluruh PL muncul dari Taurat, dan orang Kristen melihat Kristus sebagai penggenapan Taurat. Kepelbagaian maksud dalam Taurat tadi dilihat juga dalam keempat Injil, yang menjadi dasar PB sama seperti Taurat adalah dasar PL. Selain ajaran etis Yesus, kita melihat juga banyak kisah yang menjadi peringatan dan kasus yang memperlihatkan bagaimana Injil berlaku dalam kehidupan orang. Jadi, kita membaca mazmur ini dan menerapkannya kepada sikap kita terhadap seluruh Alkitab, bukan hanya kelima kitab Musa atau PL. Itulah pentingnya kata “Taurat” tidak dibatasi pada kesepuluh perintah saja. Kita merenungkan semua bentuk firman Allah: janji, perintah, kisah, ajaran, dsb.

Perenungan firman disebut dalam aa.97 & 99, dan disinggung dalam a.98 (“ada padaku”) dan a.103 (manis di mulut). Cinta dan perenungan tentu berkorelasi. Cinta menjadi penggerak untuk lebih memberi perhatian, dan perhatian membuat kita lebih memahami dan lebih mencintai. Dari aa.98-100, perenungan pemazmur tidak sekadar soal menghafal ayat atau mengulang-ulang frasa. Dia merenungkan apa makna dan implikasi dari firman Allah, sampai dia tidak hanya lebih memahami firman daripada para pengajarnya, dia juga lebih memahami dunia daripada orang-orang tua. Tetapi daya tarik utamanya ialah bahwa firman ini adalah firman Allah: “Engkaulah yang mengajar aku.” Jika kita mencintai Kristus, kita akan mencintai Alkitab yang di dalamnya Dia mengajar kita.


Mzm 126:1-6 Perkara Besar tetap akan ada [28 Juli 2013]

Juli 22, 2013

Mazmur ini, seperti banyak mazmur yang lain, memuji Tuhan dan juga berdoa, mengingat dan menyatakan perkara besar yang telah dilakukan Tuhan dan juga memohon perkara besar lagi. Tetapi ada nuansa khusus dalam mazmur ini tentang bagaimana kedua hal itu saling berkaitan.

Penggalian Teks

Nyanyian-nyanyian ziarah (Mazmur 120-134) kemungkinan dipakai ketika orang Israel pergi ke Bait Allah untuk perayaan-perayaan besar. Mazmur ini adalah mazmur peralihan, dari keadaan buruk ke keadaan baik. Nyanyian ini memakai kata “kita”, bukan “aku”, jadi berbicara tentang pengalaman umat. Aa.1-3 mengingat pemulihan Sion (bukit Bait Allah yang melambangkan umat Israel) pada masa lampau. Aa.4-6 mengharapkan bahwa hal itu akan terjadi kembali.

Pemulihan Sion itu begitu di luar dugaan, sehingga tidak terasa sebagai kenyataan. Aa.2-3 dimulai dan diakhiri dengan sukacita. Sukacita itu spontan, tidak tertahan di mulut dan lidah (2a). Alasannya terdapat di tengahnya (aa.2b-3a): Tuhan telah melakukan perkara besar bagi mereka. Perkara itu begitu nyata sehingga bangsa-bangsa pun melihatnya, mungkin termasuk bangsa yang menyusahkan mereka. Pernyataan itu diulang, dengan perubahan kata yang kecil, yaitu merujuk kepada “kita”. Makanya, ada sukacita.

Dikuatkan oleh pemulihan masa lampau, a.4 berdoa untuk pemulihan kembali. Pemulihan itu digambarkan dalam a.4b seperti batang-batang air di Tanah Negeb, sebuah padang gurun yang pada umumnya kering, tetapi ketika ada hujan menjadi mengalir kembali. A.5 mengangkat pengalaman menabur dan menuai. Menabur itu dilakukan dengan menangis pada saat persediaan benih berkurang, karena yang ditabur itu makanan. Penuaian tentu menjadi waktu untuk bersorak-sorai, karena masa kelaparan sudah selesai.

A.5 bisa dilihat sebagai gambaran umum dukacita menjadi sukacita, tetapi ada penegasan dalam a.6 yang melampaui hal itu. Bentuk kedua kata kerja a.6 dalam bahasa Ibrani menunjukkan suatu kepastian atau intensitas di atas yang biasa. Makanya, kata kerja “pergi” (halak) diterjemahkan “berjalan maju”, dan kata kerja “datang” (ba’) diterjemahkan “pasti pulang”. Penegasan ini menyoroti kesengajaan. Orang menabur karena sudah berjalan maju; hanya dengan demikian mereka dapat membawa pulang berkas-berkasnya.

Jadi, menabur dalam aa.5-6 menunjukkan bahwa di tengah kesusahan, tetap dibutuhkan langkah-langkah iman. Hanya Tuhan yang dapat memberi hujan di padang gurun, hanya Tuhan yang dapat memulihkan keadaan Sion. Tetapi, percuma Tuhan memberi hujan jika tidak ada yang menabur. Sorak-sorai (aa.2, 5, 6) terjadi karena iman tetap berjalan di tengah kesusahan.

Maksud bagi Pembaca

Kepada umat yang beriman, mazmur ini mau memberi penguatan bahwa Tuhan yang pernah memulihkan akan bertindak kembali, sehingga langkah-langkah iman yang telah atau sedang dilakukan tidak akan sia-sia.

Makna

Pemulihan yang paling besar dan mendasar dalam Alkitab ialah kebangkitan Kristus, karena di situlah semua kiasan tentang mati menjadi hidup digenapi secara harfiah. Kebangkitan Kristus adalah langkah awal pemulihan dunia, atas dasar penghapusan dosa pada salib. Hal itu tidak berarti bahwa kita membaca ayat ini sebagai nubuatan langsung tentang Kristus (tetapi bdk. Yoh 12:24), tetapi bahwa harapan mazmur ini akan pemulihan Allah sudah dibuktikan di dalam kebangkitan Kristus. Karya Kristus telah menjadi “perkara besar” Tuhan bagi kita (aa.2-3). Allah berdaya mengalahkan maut, lebih lagi pergumulan kita. Allah telah merintis dunia baru, jadi waktu sorak-sorai kita pasti akan datang. Tentu, kita juga dikuatkan oleh berbagai pengalaman hidup, seperti perkembangan orang Toraja setelah Injil datang, tetapi dasarnya adalah Kristus.

Doa dalam a.4 mengandaikan bahwa umat Tuhan lagi bergumul, dan di balik suka ria perayaan 100 tahun Injil Masuk Toraja, banyak yang sadar bahwa masih ada banyak “batang air kering” di gereja. Menabur menjadi kiasan untuk beberapa hal dalam PB: pemberitaan Injil (Markus 4), pertobatan sebagai cara hidup (Gal 6:7-8, “menabur dalam Roh”), persembahan (2 Kor 9:6), dan di balik semua itu, kebangkitan tubuh (1 Kor 15:42-44) sehingga “jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Hal-hal itu merupakan langkah-langkah iman, karena hasilnya bergantung bukan pada usaha kita melainkan pada berkat Tuhan.

Ketika kita melangkah dalam iman di tengah keadaan yang sulit, dan Tuhan bertindak memulihkan keluarga atau jemaat atau masyarakat, bukankah pada saat itu mulut dan lidah tidak tertahan lagi menyatakan sukacita? Lebih lagi ketika Kristus datang kembali dan memulihkan dunia.


Mazmur 119:1-8 Berpegang supaya berbahagia [23 Juni 2013]

Juni 17, 2013

Perikop minggu ini adalah puisi, yang tentu saja lebih indah dalam bahasa aslinya. Oleh karena itu, saya beberapa kali merujuk pada bahasa aslinya. Sebagai puisi, ada banyak hal yang bisa dipetik oleh pembaca, dan mazmur ini semestinya dilihat sebagai bahan meditasi (bdk. 119:15). Meditasi berhasil jika tidak hanya memberi petunjuk untuk hidup, tetapi juga menyentuh batin.

Penggalian Teks

Mazmur ini terdiri atas 22 bait yang berisi 8 baris, dengan setiap baris dalam satu bait mulai dengan huruf yang sama, mengikuti urutan ke-22 huruf abjad Ibrani. Kemudian, ada 8 kata yang dipakai dalam seluruh mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman (dabar) adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (torah), yang berarti “penuntunan” dan merujuk pada seluruh hukum Musa. Taurat Musa menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan (edut). Perjanjian itu terdiri atas Janji (amar), Perintah (mitsvah) dan Hukum (mishpat). Janji adalah dasarnya, karena Allah memberi dulu baru menuntut. Perintah (dan Titah, piqud) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan (khuq) berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Anda sendiri bisa menghitung mana dari ke-8 kata itu tidak termasuk perikop kita (bait alef), mana yang dipakai dua kali, dan ayat berapa yang tidak ada satupun dari kata-kata itu.

Aa.1-3 berbicara tentang “orang-orang” secara umum, yaitu kelompok orang yang berbahagia. Ada tiga ciri kelompok ini (1-2a) dan tiga sikap (2b-3). Ciri utama adalah hidup (derek, “jalan”) yang tidak bercela. Konsep tidak bercela sering dipakai untuk hewan yang mau dipersembahkan, sehingga yang dimaksud di sini adalah suatu jalan hidup yang layak dipersembahkan kepada Tuhan. Ukuran hidup (halak, “berjalan”) yang demikian adalah Taurat (1b), dan jalan itu ditempuh dengan memegang (natsar, “berjaga”) isi Taurat itu (2a). Sikap pertama ialah mencari Tuhan dengan segenap hati (2b); kehati-hatian dalam ketaatan bukan taktik beragama (mencari muka di hadapan Tuhan) melainkan cara untuk mengenal Tuhan. Sikap itu juga berarti menolak apa yang jahat (3a). Sikap terakhir menyimpulkan a.1, secara harfiah artinya “berjalan (halak) menurut jalan-jalan-Nya (derek)”. Taurat Allah merupakan jalan hidup menuju kebahagiaan.

A.4 beralih kepada Tuhan, dan menempatkan aa.4-8 sebagai doa. Dia menyapa Tuhan sebagai sumber firman yang membahagiakan itu, dan mengakui bahwa tujuan-Nya ialah supaya memang titah-titah-Nya dipegang (syamar, sama artinya dengan natsar), dilakukan dengan sungguh-sungguh (4). Tujuan itu mengakibatkan introspeksi pemazmur di hadapan Tuhan dalam aa.5-8. Hidupnya (derek kembali) belum tentu dalam ketaatan yang sungguh-sungguh itu (5). Kemudian, ada dua kebahagiaan yang dia cari melalui peningkatan ketaatan itu. Dalam a.6, dia akan menghindari malu, dan dalam a.7 dia akan bersyukur. Dengan demikian, ada tekad baru untuk berpegang pada ketetapan-ketetapan yang dalam a.5 belum tentu itu (8a). Dalam tekad itu, dia makin merindukan penyertaan Tuhan (8b).

Maksud bagi Pembaca

Secara umum, setiap bait dalam Mazmur ini menjunjung tinggi firman Allah dan mendorong ketaatan terhadapnya. Untuk bait alef ini, ada dua hal yang menonjol. Yang pertama ialah “berpegang”, yaitu, hal berjaga untuk taat. Yang kedua ialah kebahagiaan, khususnya untuk tidak mendapat malu dan untuk bersyukur. Kedua kebahagiaan itu menjadi motivasi untuk tetap berjuang walaupun ketaatan belum tentu, alias hidup masih bercela.

Makna

Fokus pemazmur adalah Taurat Musa yang menjadi dasar bagi Israel dalam PL. Bagi kita, Taurat tetap berguna untuk direnungkan, tetapi ada firman yang lebih jelas lagi, yaitu Injil. Namun, mungkin ada yang tidak langsung cocok dalam perikop kita jika diterapkan kepada Injil. Kita bisa melihat bahwa di dalam Injil ada jalan hidup, dan jalan hidup itu selayaknya diikuti dengan segenap hati. Tetapi apakah ada hal seperti peringatan, titah, dan ketetapan dalam PB? Dan adakah yang perlu “dipegang”? Pemazmur barangkali berupaya untuk mengikuti dengan teliti semua peraturan mengenai persembahan, misalnya, tetapi di dalam PB tidak ada minat untuk membangun perangkat peraturan seperti itu.

Untuk menjawab hal itu, ada dua hal yang mau dikatakan. Yang pertama, ada yang disebut perintah, yaitu untuk saling mengasihi, dan ajaran Yesus disimpulkan sebagai perintah untuk dipegang dalam Mt 28:20 (tereo, yang diterjemahkan LAI “melakukan”, adalah padanan kata dengan natsar dan syamar di atas). Betul, tidak ada peraturan terperinci seperti dalam kitab Imamat, tetapi jalan hidup yang berpadanan dengan Injil dijelaskan dengan berbagai nasihat dalam surat-surat. Yang kedua, sebagian Taurat adalah kasus: jika ini maka ini. Kasus itu yang mungkin dirujuk oleh kata hukum (mishpat tadi). Sebagian lagi Taurat adalah cerita-cerita yang memperlihatkan jalan Tuhan dengan manusia. Mungkin juga bagian-bagian itu termasuk hukum, atau peringatan. Pokoknya, Taurat tidak sekadar peraturan seperti dalam kitab Imamat, tetapi menyangkut banyak hal yang lain yang mengajar tentang prinsip-prinsip. PB sama seperti itu. Dari hidup Yesus, dari kisah-kisah para rasul, kita juga belajar tentang hidup yang tidak bercela yang berpadanan dengan Injil.

Maksud saya di sini, jangan sampai perikop ini dipakai untuk menanam sikap hukum positif terhadap firman Allah! Sikap hukum positif tidak membangun karakter yang kukuh, seperti yang didambakan dalam a.5 dan menjadi komitmen dalam a.8. Sikap hukum positif dikendalikan oleh rasa malu, oleh kebutuhan untuk tampil benar, yang berpusat pada sesama, bukan Allah. Jalan hidup berdasarkan firman yang dibayangkan di sini adalah malu mengecewakan Tuhan, bukan manusia (a.6). Akhirnya, sikap hukum positif tidak tahu bersyukur, hanya mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Pemazmur telah mengakui kekurangannya, dan mau belajar dari Tuhan untuk menjadi lebih baik (a.7). Dalam PB, di dalam diri para rasul (setelah hari Pentakosta) dan lebih lagi di dalam diri Yesus, kita melihat pola hidup yang tidak bercela yang sama sekali tidak defensif, sempit, atau takut. Jika mereka dipermalukan oleh manusia, mereka tetap bermegah dalam Tuhan dengan syukur.

Namun, kita harus tetap berjaga, tetap berpegang pada Injil, termasuk berpegang pada ajaran Yesus dan para rasul supaya kita memperhatikan kapan kehidupan kita melenceng dari Injil itu dan perlu dibawa kembali kepada Tuhan.


Mzm 92:13-16 Pemberitaan karena berakar dalam Tuhan (4 Nov 2012; Pekan Keluarga)

Oktober 29, 2012

Nas minggu ini pendek dan sederhana. Dilihat dalam konteks seluruh mazmur, artinya menjadi lebih tajam, karena gambaran tentang pertumbuhan dipakai juga untuk orang fasik. Perlawanan seperti itu memperjelas makna, tetapi tidak diperhatikan jika konteks diabaikan. Minggu ini juga adalah minggu yang baik untuk berbicara tentang Allah. Kedua kegiatan manusia dalam perikop ini, bertumbuh dan memberitakan, sama-sama berarti hanya karena Dia.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah bagian terakhir dari sebuah mazmur pujian. Pemazmur mengalami kasih setia Tuhan sehingga dibuat bersukacita oleh Tuhan dan mau memuji Dia (2-5). Hal itu terjadi dalam konteks perlawanan dari orang-orang fasik. Namun, pemazmur melihat bahwa sukses mereka sementara saja. Mereka tidak mengerti karya dan rancangan Tuhan (6-7), bahwa Tuhan ada di tempat yang tinggi sehingga meskipun orang fasik itu bertumbuh, mereka akan binasa (8-10). Itulah yang dialami oleh pemazmur, bahwa dia yang ditinggikan, sedangkan seterunya menjadi seperti isu saja (11-12).

Makanya, dia menyampaikan kesaksian tentang orang benar. Mereka juga bertumbuh, sama seperti orang fasik (13). Tetapi, mereka ditanam di bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah (14). Hidup mereka berakar di dalam Tuhan, sehingga mereka berbuah bahkan sampai masa tua (15). Tujuan Allah di dalamnya ialah supaya mereka memberitakan kebajikan Allah: bahwa Dia berbuat benar dan tidak curang kepada orang yang bertumbuh di dalam-Nya, sehingga menjadi dasar kehidupan yang kukuh (16).

Maksud bagi Pembaca

Orang yang hidupnya berakar dalam Tuhan akan memberitakan kebenaran Tuhan yang mereka alami sejak masa kecil sampai masa tua. Tuhan adalah gunung batu, dan kita diajak untuk berakar di dalam Dia, dan juga untuk memberitakan kebenaran-Nya.

Makna

Konteks perlawanan bukan sekadar adanya musuh pribadi. Bahkan manusia perdana diberi tugas untuk berjuang menaklukkan apa yang belum sempurna, walaupun sudah baik (Kej 1:28). Lebih lagi setelah manusia berdosa, sehingga kebelumsempurnaan itu ditambah dengan kejahatan manusia. Orang-orang fasik rata-rata tidak kriminal, dan di Indonesia rata-rata beragama (seperti juga di Israel). Tetapi, mereka berakar dalam pandangan dunia dan sistem-sistem duniawi yang lambat laun melawan kehendak Allah. Misalnya, uang dianggap jaminan hidup, dan pemerintah menjamin adanya uang, sehingga masuk sistem PNS dianggap jaminan bahwa orang akan masih berbuah (alias: pensiun) pada masa tua pun. Setelah masuk, bukan kesejahteraan masyarakat, dan setelah naik pangkat, bukan kesejahteraan bawahan yang diutamakan, karena melayani sesama bukan tujuannya. Sistem besar apapun, entah pemerintah, perusahaan, bahkan gereja, jika dilacak cenderung mementingkan sistem daripada orang, bukan karena niat yang jahat, tetapi karena niat untuk berbuat baik tidak sekuat tuntutan sistem.

Itulah pentingnya orang berakar di dalam Tuhan. Bait Allah menjadi wujud hadirat Allah bagi Israel. Di sana, Israel diajari firman-Nya dan mengaku dosa serta bersyukur kepada dan bersekutu dengan Dia melalui sistem korban. Kristus telah menjadi wujud Allah bagi kita, dan kita berakar di dalam-Nya di dalam tubuh-Nya, yaitu gereja. Gereja menjadi “dunia alternatif”, di mana kita memahami bahwa Allah akan membinasakan kejahatan dan meninggikan orang yang berakar di dalam Dia, entah di dalam sejarah atau pada akhir zaman. Orang yang berakar di dalam tubuh Kristus akan dapat bertahan sebagai orang yang setia kepada Tuhan dan menerapkan nilai-nilai-Nya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai masa tua pun.

Orang-orang seperti itulah yang mengalami perlindungan Tuhan, bahwa di tengah pergumulan melawan arus Dia adalah gunung batu. Orang yang membuat uang atau sistem-sistem dunia yang lain sebagai gunung batunya tentu berdoa, mungkin saja sering berdoa. Tetapi dalam doanya, dia hanya mencari tambahan pada andalannya yang sebenarnya, sehingga dia tidak bisa dengan jujur memberitakan bahwa Tuhan adalah gunung batunya. Sebaliknya, orang benar, yang melawan arus karena berakar dalam Tuhan, memiliki banyak pengalaman akan Tuhan sebagai gunung batu yang layak untuk diberitakan. Pikirkan saja kesaksian orang tua yang demikian, yang memiliki daya penguatan yang tidak ada taranya.


Mzm 37:34-40 Tuhan yang layak dinantikan (21 Okt 2012)

Oktober 15, 2012

Mazmur ini menyampaikan janji yang luar biasa di tengah konteks masyarakat di mana orang fasik itu kuat. Konteks itu mungkin saja mirip dalam berbagai hal dengan konteks kita, tetapi ada satu perbedaan yang pokok, yaitu, Yesus telah datang. Hal itu tidak mengurangi janji Allah, sebaliknya, janji itu diperluas dan diperkuat. Jadi, saya tidak hanya melihat isi perikop, tetapi juga bagaimana perikop itu dipakai dalam PB. Makna PL selalu diperkaya dalam terang Kristus.

Dalam buku pedoman Membangun Jemaat, minggu ini mau dijadikan persiapan untuk Hari Sumpah Pemuda minggu depan. Perikop tidak langsung berbicara tentang pemuda, tetapi dengan sangat mudah dapat diterapkan kepada pemuda.

Penggalian Teks

Mazmur 37 memperbandingkan orang benar dan orang fasik, untuk menguatkan orang benar bahwa merekalah pewaris negeri (37:9). Negeri yang dimaksud ialah tanah perjanjian. Bagian akhir mazmur ini juga berisi perbandingan. Kembali pewarisan negeri diperbandingkan dengan kelenyapan orang fasik (34) yang diceritakan dalam aa.35-36. Kemudian, ada perbandingan antara akhir (masa depan) dari orang yang tulus dan dari orang fasik (37-38). Dalam kedua ayat terakhir, perbandingan sudah ditinggalkan, dan mazmur berakhir dengan janji keselamatan bagi orang benar.

A.34 merupakan perintah, atau lebih tepat, janji bersyarat. Bagian manusia adalah menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Kedua hal itu saling berkaitan. Mengikuti jalan Tuhan adalah bukti bahwa janji dan pertolongan Tuhan yang diandalkan; mengaku menantikan sementara tidak mengikuti jalan ibarat pergi ke dokter tetapi tidak mau meminum obatnya. Yang diharapkan adalah “mewarisi negeri”. Hal itu merupakan metonim (bagian yang mewakili keseluruhan) bagi segenap berkat Allah. Memang bani-bani dan keluarga-keluarga Israel mewarisi sebidang tanah (Yosua 13). Tetapi tanah itu bermakna karena Tuhan ada di tengah Israel, dan karena jalan Tuhan dalam Taurat adalah masyarakat yang adil, di mana orang mengasihi sesama. Jadi, ayat ini merupakan harapan bahwa Tuhan akan mewujudkan rencana-Nya bagi Israel. Orang yang searah dengan rencana Tuhan akan menikmati rencana itu, tetapi rencana yang sama menuntut pelenyapan orang fasik.

A.34 berakhir dengan soal “melihat”, dan aa.35-36 menceritakan suatu pengalaman yang pernah dilihat oleh pemazmur. Orang fasik kelas kakap yang kelihatan kukuh sekali ternyata tidak bertahan lama. Dalam aa.37-38, pendengar mazmur sendiri diimbau untuk melihat. Dua “masa depan” dapat diamati. (“Masa depan” juga dapat diterjemahkan “keturunan”; dalam konteks Israel artinya tidak terlalu berbeda.) Tulus, jujur dan suka damai adalah hal-hal yang berhasil baik, sedangkan kedurhakaan dan kefasikan berakhir buruk.

Dalam aa.39-40, apa yang dinantikan dari Tuhan itu diuraikan. Uraian itu mulai dan berakhir dengan Tuhan yang menyelamatkan. Keselamatan itu mencakup Tuhan sebagai tempat perlindungan dalam kesesakan, yang menolong dan meluputkan dari orang fasik. Hal itu Dia lakukan karena mereka berlindung kepada-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Pendengar mazmur diajak untuk menggantungkan kehidupannya sepenuhnya kepada Tuhan. Warisan-Nya yang menjadi dambaan hidup, pertolongan-Nya yang dinantikan, jalan-Nya yang diikuti, keadilan-Nya yang diandalkan ketika orang fasik membuat dia tersesak.

Makna

“Mewarisi negeri” memiliki makna sentral yang harus digali dengan tepat. Yesus mengutip Mzm 37:9 (yang searah dengan a.34) pada awal Khotbah di Bukit, sebagai salah satu janji yang menguraikan “empunya Kerajaan Sorga” (Mt 5:3-10). Terjemahan LAI mengatakan “memiliki bumi” (5:5), tetapi bahasa aslinya sama dengan terjemahan LXX dari Mzm 37:9 itu. Kata “bumi” dipakai karena dalam PB, harapan akan apa yang akan diwarisi sudah diperluas, tidak sekadar tanah Israel tetapi merujuk pada langit dan bumi yang baru. Hal itu penting diamati, karena jika kita melihat riwayat hidup seorang Paulus ternyata orang benar tidak selalu diluputkan dari tangan orang-orang fasik. Harapannya ialah kebangkitan: kuasa kebangkitan yang dilihat setiap kali dia bertahan dalam kesusahan (2 Kor 4:7-12), dan akhirnya kebangkitan tubuh ketika Yesus datang kembali (1 Kor 15). Pengharapannya didasarkan pada Yesus yang diserahkan ke dalam tangan orang fasik tetapi diluputkan dari maut dalam kebangkitan.

Jadi, perikop ini membawa penguatan bagi orang yang berharap untuk hidup kekal bersama dengan Tuhan dalam dunia baru, bukan orang yang mencari dukungan ilahi untuk cita-citanya sekarang. Syarat dalam a.34 bukan semacam amal, melainkan syarat yang melekat pada janjinya. Artinya, bagi orang yang tidak mau hidup bersama dengan Tuhan, tidak ada kabar baik dalam perikop ini.

Tentu, landasan kabar baik ialah Tuhan sendiri. Dialah yang memberi janji; Dialah yang dapat menopang orang yang berlindung kepada-Nya melalui berbagai kesusahan, bahkan permusuhan; Dialah yang akan melenyapkan kejahatan dari dunia ini; dan Dialah yang meluputkan kita dari dosa dan maut.


Mzm 115 Percaya sehingga diberkati demi kemuliaan Allah (15 Juli 2012)

Juli 12, 2012

Perikop yang ditentukan untuk minggu ini Mazmur 115:1-8, bukan Luk 10:38-42 (bdk. tgl 2 Sep 2012). Saya membahas seluruh mazmur tersebut karena aa.1-8 belum jelas di luar konteks seluruh mazmur, dan juga aa.9-18 menjadi bahan Kebaktian Rumah Tangga. Tantangan dalam perikop ini adalah pemaknaan berhala, dan bobot pembahasan berhala dalam khotbahnya. Khotbah yang begitu saja menyamakan harta benda dengan berhala bisa membingungkan jemaat, karena, berbeda dari patung yang disembah, harta benda berguna dan layak disyukuri. Tetapi yang paling buruk ialah khotbah yang tidak menjunjung tinggi Allah dan mendorong jemaat untuk berbuat demikian, padahal itulah tujuan dari mazmur ini.

Penggalian Teks

Struktur Mazmur ini bisa digambarkan sebagai kiasmus, sebagai berikut:

A. Allah, bukan Israel, dimuliakan karena Dia yang setia dan yang berkuasa di surga (aa.1-3)

B. Berhala buatan manusia tidak berdaya (aa.4-7)

C. Pembuat dan pengikut berhala demikian juga (a.8)

C.’ Israel percaya kepada Tuhan Sang Penolong (aa.9-11)

B.’ Tuhan berdaya memberkati Israel di bumi (aa.12-16)

A.’ Israel, bukan orang mati, akan memuji Allah selama hidup (aa.17-18)

Jadi, seruan untuk percaya ada di tengah perbandingan antara berhala yang tidak berdaya dengan Allah yang memberkati, dan perbandingan itu ada di tengah dorongan untuk memuji Allah. Jelas bahwa aa.1-8 hanya dapat dipahami dalam konteks seluruh mazmur.

A.1 mulai dengan kata “bukan”, untuk menyangkal manusia sebagai sasaran pujian. Allah layak dipuji karena kasih dan setia-Nya. Kedua kata ini (dalam bahasa Ibrani: khesed = kasih setia; dan ‘emet = kesetiaan) dipakai Allah dalam Kel 34:6 sehingga bisa dianggap meringkas sikap Allah terhadap Israel, pertama-tama dengan penyelamatan dari Mesir, dan dalam banyak peristiwa kemudian. A.2 menunjukkan kebingungan bangsa-bangsa dengan satu ciri lain dari Allah—Dia tidak boleh diwakili dengan patung. Alasannya dalam a.3 karena Dia berdiam di surga, sebagai Raja mutlak yang menentukan segalanya (frase dalam 3b itu frase lazim untuk menggambarkan kuasa raja-raja). Kasih dan kuasa (keselamatan dan kedaulatan) Allah menjadi dasar pujian Israel.

Aa.4-7 merupakan salah satu perikop klasik yang menyindir berhala bangsa-bangsa. Intinya “buatan tangan manusia”. Sebagai buatan tangan manusia, berhala-berhala itu memiliki berbagai ciri, tetapi ciri-ciri itu semuanya tidak berfungsi. Jika Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, berhala-berhala itu tidak melakukan apa-apa. A.8 memperluas sindiran itu kepada pembuat dan penganut berhala.

Maksud dari aa.4-8 baru menjadi jelas dalam ayat-ayat berikut. Aa.9-11 menghimbau Israel untuk percaya kepada Tuhan, sebagai yang menolong di dalam masalah dan melindungi dari masalah. Ayat-ayat ini menunjukkan konteks ibadah: paruh kedua setiap ayat memakai orang ketiga (“mereka”), sedangkan paruh pertama setiap ayat langsung mengalamatkan satu kelompok (“percayalah”). Hal itu bisa menjelaskan mengapa kaum Harun, artinya, para imam, disebutkan. Israel, dalam artian orang-orang awam yang mengikuti ibadah (bdk. Ezra 9:1) dialamatkan, kemudian para imam yang melaksanakan ibadah, kemudian semua bersama sebagai orang yang takut akan Tuhan. Pertolongan Allah adalah wujud dari kedaulatan dan kasih setia-Nya.

“Tuhan telah mengingat kita” pada awal a.12 adalah kesaksian yang cocok jika pertolongan Allah dialami. Yang berikut ialah janji berkat, hasil dari keselamatan. Ketiga golongan disebut kembali, dengan penambahan “baik yang kecil maupun besar”, mungkin suatu petunjuk bahwa berkat bukan hanya keamanan dari luar tetapi juga keadilan ke dalam. Aa.14-16 merujuk pada Kejadian 1:28. Berkat termasuk keturunan, dan juga kebebasan dan tanggung jawab untuk berkuasa di bumi. Implikasinya bahwa yang percaya pada berhala tidak menikmati kemanusiaan yang utuh itu.

A.17 kembali mulai dengan kata “bukan”. Kali ini kata itu mengangkat manusia yang hidup sebagai pemuji Allah. Jika Allah menolong dan memberkati, Israel akan tetap berada untuk memuji Allah.

Maksud bagi Pembaca

Jika seluruh mazmur dilihat, Israel disuruh untuk percaya kepada Allah yang sebenarnya supaya ditolong, diberkati dan tetap memuji Tuhan. Aa.1-8 membandingkan Allah yang setia dan berkuasa dengan saingan-saingan-Nya yang tidak berdaya, supaya sasaran dari kepercayaan itu jelas.

Makna

Bagi Israel, kasih setia dan kuasa Allah dilihat secara mendasar dalam keluaran dari Mesir. Bagi orang Kristen, kasih setia dan kuasa Allah dilihat di dalam Kristus. Yoh 1:17 mengutip kedua kata khesed dan ‘emet ketika dikatakan bahwa “kasih karunia [charis] dan kebenaran [aletheia] datang melalui Yesus Kristus”. Pengorbanan Yesus membuktikan kesetiaan Allah; kebangkitan-Nya membuktikan kuasa Allah; dan seluruh aspek kedatangan-Nya, dari kelahiran-Nya sampai kedatangan-Nya kembali, memperlihatkan kasih dan kuasa Allah dengan begitu jelas. Lebih lagi, Kristus tidak hanya berada di surga, Dia pernah hidup di bumi sebagai Anak Manusia.

Calon utama untuk berhala dalam PB ialah Mamon. Tetapi, kita harus hati-hati. Dalam perikop minggu yang lalu, Mamon dapat dipergunakan (Luk 16:9), hanya, orang tidak bisa mengabdi kepadanya (Luk 16:13). Dalam Ef 5:5, Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala. Intinya di sini bahwa buatan tangan manusia (entah patung, harta benda atau uang) diandalkan. Manusia semestinya berkuasa atas ciptaan Allah (a.16), bukan menjadi hambanya.

Gambaran aa.4-7 tentang berhala juga harus diartikan dengan hati-hati. Paulus setuju bahwa berhala itu tidak ada (1 Kor 8:4), tetapi dia juga melihat adanya kuasa gelap di baliknya (1 Kor 10:20). Penganut kepercayaan lama Toraja, dan juga penganut bangsa-bangsa pada zaman Israel, akan setuju bahwa ada sosok gaib/ilahi di balik patung (atau tau-tau) itu, tetapi mereka belum tentu akan menerima bahwa sosok itu jahat. Namun, yang menjadi gambar akan ilah mereka ialah patung itu, dan gambar itu ada di bawah kendali manusia. Patung itu dibuat sesuai kepentingan manusia, biasanya kepentingan orang besar (kebalikan dari a.13b).

Israel, yang sedang berkumpul di Bait Allah saat mazmur ini diucapkan, tidak memiliki gambar apa-apa akan Allah. Tentu, di Bait Allah ada berbagai simbol, terutama kurban-kurban yang menjadi cara nyata untuk bersekutu dengan Allah, tetapi Allah dikenal dari firman-Nya, dari cerita-cerita tentang karya-Nya bagi Israel. Dari firman Allah, Israel belajar bahwa Allah dapat berkata-kata, dapat melihat dan mendengar, dsb (mencium kemungkinan merujuk pada penerimaan Allah akan kurban, bdk. Kej 8:21; Im 1:9). Karena Yesus telah naik ke surga, kita juga mengenal Dia dari kesaksian tentang-Nya dalam PB. Atau, jangan sampai gambar utama tentang Yesus di Toraja bukan PB melainkan gambar-gambar gaya orang Eropa yang ganteng dan penuh simpati tetapi tidak menuntut pertobatan. Allah yang sebenarnya yang layak dimuliakan, bukan buatan-buatan manusia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.