Mazmur 8 Kedudukan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah (3 Jun 2012)

Mei 31, 2012

Kembali ada perikop yang sifatnya teologis, bukan etis. Tentu saja ada implikasi etisnya, termasuk lingkungan yang menjadi tema dalam Gereja Toraja. Tetapi kita tidak bertindak secara etis terhadap Sang Penutur firman ini jika kita hanya menyinggung isi perikop-Nya, kemudian berbicara panjang lebar tentang keprihatinan kita. Apakah mimbar itu ada supaya pelayan didengar, atau supaya firman Allah didengar? Kemudian, implikasi etis bukan hanya tindakan. Usul saya di bawah menyangkut martabat manusia, sesuai dengan isi teks. Jika martabat manusia dihubungkan dengan Allah, sebagaimana semestinya, banyak tingkah laku yang lain yang akan berubah.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai (2-3) dan berakhir (10) dengan pujian, dan di dalamnya merenungkan tempat manusia di dalam ciptaan Allah, baik dari segi kerendahan manusia (4-5) maupun kemuliaan manusia (aa.6-8).

Kemuliaan Allah diakui di bumi (2a), dan bahkan sampai di atas langit (2b). Kemuliaan Allah adalah dasar, kemuliaan manusia di bawah pelengkapnya. Tetapi kemuliaan itu tidak terjangkau semua. Ada lawan dan musuh Allah (a.2b), biasanya orang-orang berada dan berkuasa dalam kitab Mazmur. Untuk membungkamkan mereka, Allah tidak memanggil orang-orang hebat, tetapi memanggil bayi. Pujian orang-orang rendah, kecil, tidak berada, itulah bukti dari kemuliaan Allah.

Dalam aa.4-5, keberadaan manusia menjadi seperti bayi tadi. Manusia sama sekali tidak berdaya di hadapan kebesaran jagad raya ini. (Menarik bahwa semakin mampu manusia berteknologi, semakin besar dan tak terjangkau jagad raya ini.) Perhatian Allah kepada manusia bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena anugerah Allah belaka.

Dengan demikian, kuasa manusia atas dunia, seperti juga dinyatakan dalam Kej 1:28, makin mengagetkan pemazmur. Manusia diberi tempat paling mulia dan terhormat dalam ciptaan Allah (6). Segala makhluk di bumi (tidak termasuk langit, mengingat a.4 dan melihat aa.8-9), ditempatkan “di bawah kakinya” (7). Frase ini dipakai dalam Mzm 110:1 untuk kejayaan seorang raja atas musuh-musuh. Manusia dan ciptaan sejajar dengan raja Israel dan bangsa-bangsa. Jadi, tersirat di dalamnya adalah tugas manusia untuk menata dunia dengan baik dan menindak kekacauan, sama seperti manusia perdana diberi tugas untuk menjadikan seluruh bumi seperti taman Eden.

Pada ayat terakhir pemazmur memuji Tuhan kembali. Manusia yang bertindak dengan mulia di bumi menggemakan nama Tuhan.

Maksud bagi Pembaca

Pemazmur menyampaikan kedudukan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah, yaitu, lemah, tetapi demi kemuliaan Allah, diberi tanggung jawab yang mulia. Yang menganggap diri sama seperti Allah ditegur supaya memahami bahwa di hadapan jagad raya, dia seperti bayi saja. Yang menganggap dirinya seperti bayi yang tidak berdaya didorong untuk menunaikan tanggung jawab untuk berkuasa dengan berani. Allah dimuliakan di dalam manusia yang kuat di dalam Dia, bukan di dalam penyombong dan bukan di dalam pemalas/pengecut.

Makna

A.10 melihat Allah dimuliakan di dalam manusia, tetapi dalam kenyataannya, manusia gagal dalam tugas itu. Hal itu jelas jika kita berfokus pada lingkungan saja (berdasarkan aa.8-9), lebih lagi jika kehidupan sosial/politik disoroti. Makanya, Ibr 2:5-7 menerapkan aa.4-7 kepada Kristus. Dialah yang menjadi rendah (di bawah “malaikat”, satu tafsiran yang lain dari a.6), kemudian dimuliakan dan dimahkotai sebagai Tuhan dan Kristus. Jadi, di dalam Kristus, martabat manusia yang dirusak oleh dosa dipulihkan kembali. Kita dapat mengikuti jejak-Nya, tanpa dibebani oleh kegagalan manusia selama ini, dan dalam harapan bahwa usaha-usaha kita yang kecil dan tidak berdaya akan menjadi berarti di dalam Kristus, dan akan membawa kemuliaan bagi Allah.

Martabat, atau kemuliaan, atau kehormatan, adalah konsep yang kalau tepat bisa sangat berguna dalam mengarahkan kehidupan manusia. Martabat yang tidak bersumber dari Allah adalah martabat yang berbahaya. Sumber martabat saya pasti menjadi ilah saya, entah itu keluarga, entah uang, entah prestasi, ataupun Allah. Hanya Allah yang menawarkan martabat kepada semua manusia yang rendah atau mau menjadi seperti bayi, berbeda dengan ilah-ilah yang lain.


Mzm 112 Perintah Tuhan sebagai alasan untuk berbuat baik (15 Apr 2012)

April 11, 2012

Dalam kuliah, saya banyak berbicara tentang pentingnya menafsir dalam rangka Kisah Agung Alkitab, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah. Tetapi mazmur ini menyampaikan pola yang sering terdapat juga dalam kitab Amsal, yaitu, orang baik akan berhasil, orang jahat akan gagal, suatu pola yang sepertinya lepas dari karya Allah dalam sejarah, dan hanya merupakan implikasi dari pemeliharaan Allah yang berjalan secara umum. Hal itu tentu tidak salah, hanya, pemeliharaan Allah merujuk pada stabilitas, hal perubahan terjadi dalam kaitan dengan karya-karya-Nya. Makanya, jemaat yang hanya mengenal pemeliharaan Allah belum siap menjadi jemaat yang misioner. Alkitab dengan jelas menguraikan kedua pola itu (stabilitas dengan pembaruan), dan ternyata karya Allah penting juga dalam mazmur ini.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai dengan seruan untuk memuji Tuhan. Karena seruan itu biasanya diikuti oleh pujian tentang Tuhan, kita harus menganggap bahwa yang berikut ini juga memuji Tuhan. Topiknya adalah manusia, yakni, orang yang berbahagia, tetapi Tuhan yang dimuliakan di dalamnya.

Hal itu tampak pertama kali dalam a.1b, di mana takut akan Tuhan dilihat dari segi menyukai perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah itu tidak ditaati karena ada berkat sebagai upah, melainkan karena dunia yang dibayangkan dalam perintah-perintah itu adalah dunia yang didambakan. Apa maksudnya, “dunia yang dibayangkan dalam perintah”? Jika kita melihat kesepuluh firman saja, dunia yang dibayangkan adalah Israel yang menomorsatukan Allah dalam ibadah, perkataan dan siklus bekerja, sehingga ada keharmonisan dalam struktur masyarakat (orangtua dihargai), hidup, pernikahan, milik dan nama orang dihargai, dan semua puas dengan pemberian Tuhan masing-masing. Andaikan perintah-perintah itu diikuti dengan sungguh-sungguh, dunia seperti itu yang akan diciptakan. Sebaliknya, dalam dunia seperti itu, perintah-perintah itu sudah ditaati. Jadi, orang dalam a.1 takut akan Tuhan bukan karena ancaman hukuman jika melanggar, melainkan takut mengecewakan Sumber dunia itu karena bertindak berlawanan dengan tatanan yang diharapkan di dalam perintah-perintah itu.

Jika demikian, berkat-berkat yang berikut bukanlah “upah” tetapi akibat. Karena perintah-perintah Tuhan begitu disukai, dunia dambaan Allah mulai terwujud di sekitar orang ini, sehingga keturunannya menjadi sumber berkat bagi orang-orang benar di sekitarnya (a.2). Dia berhasil, dan hasilnya menjadi pangkal untuk berbuat baik bagi sesama, sehingga kebajikannya menjadi peringatan kekal (a.3). Dia bahkan menjadi terang bagi orang benar (a.4).

Dalam a.5 satu segi dari perintah-perintah Allah disoroti, yaitu, kemurahan kepada sesama. Akibatnya bahwa dia kokoh. Namanya akan diingat, dan dia tenang menghadapi perlawanan karena yakin akan pertolongan Tuhan kepadanya (aa.6-8). Aa.9-10 memberi kesimpulannya. Orang yang berbahagia hidup sesuai dengan dunia dambaan Tuhan, sehingga hidupnya berbagian dalam kemuliaan dunia itu. Dunia orang fasik ternyata lain sekali: dambaan mereka adalah berjaya atas orang benar, tetapi keinginan itu akan hancur. Sungguh Allah layak dipuji, karena Dia akan mewujudkan dunia dambaan itu.

Semuanya itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan mazmur ini dengan mazmur sebelumnya. Kedua mazmur ini merupakan mazmur akrostik, di mana setiap baris (setengah ayat, kecuali aa.9-10 yang mengandung tiga baris masing-masing) dimulai dengan huruf abjad Ibrani berturut-turut. Kesamaan itu menunjukkan bahwa kedua mazmur dikarang bersamaan. Jika demikian, Mazmur 111 menempatkan Mazmur 112 dalam konteks perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang juga “disukai” (111:2). Tuhan membuat perjanjian dengan Israel (111:5) dan memberi mereka rezeki (111:5), tanah (111:6) dan hukum yang adil dan benar (111:7). Takut akan Tuhan berarti takut akan Tuhan yang telah melakukan hal-hal ini (111:10). Dalam kedua mazmur ini, jalan hikmat berdasarkan Kisah Agung: apa yang telah dilakukan Allah, sehingga kita dapat meyakini apa yang sedang dan akan Dia lakukan.

Perjanjian Allah menciptakan relasi yang kuat antara Tuhan dengan umat-Nya, dan hal itu mendapat pemaknaan dalam dari perbandingan kedua mazmur ini. 111:2-4 menyampaikan kebajikan Tuhan, sama seperti 112:2-4 menyampaikan kebajikan orang yang diberkati. (“Keadilannya tetap untuk selamanya” dalam 111:3 adalah sama dalam bahasa aslinya dengan “kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam 112:3.) A.4 masing-masing berakhir dengan “pengasih dan penyayang”, suatu kombinasi kata yang selalu merujuk pada Allah kecuali dalam Mzm 112 ini. Kemurahan hati orang dalam 112:5 mirip dengan kemurahan hati Allah dalam 111:5. Silakan, cari kesejajaran yang lain. Intinya bahwa orang yang berbahagia dalam Mzm 112 adalah orang yang sedang menjadi seperti Tuhan yang dia takuti, Tuhan yang telah menyelamatkan dan sedang memelihara dia.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 112 mau memberi dorongan bagi pembaca untuk memuji Tuhan, dengan mencintai dan menerapkan perintah-perintah Tuhan yang menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan Allah yang diuraikan dalam Mzm 111. Dengan demikian, dia akan menjadi terang dan berkat bagi masyarakat, termasuk orang miskin dan orang benar.

Makna

Yang belum terlalu jelas dalam penguraian di atas ialah masa depan “dunia dambaan Allah”. Aa.2-4 pasti benar, tetapi seringkali tidak nyata. Bahkan, jika kita menerima ayat-ayat ini dengan terlalu kaku, Yesus dan Paulus tidak termasuk orang yang berbahagia, karena mereka mati tanpa keturunan dan harta, dan kabar celaka justru bermuara pada celaka, dalam bentuk salib bagi Yesus, dan dalam bentuk banyak penganiayaan bagi Paulus. Memang, dalam Mazmur 112 sendiri ada petunjuk bahwa tidak semua orang senang dengan orang yang takut akan Tuhan, tidak semua orang mendambakan dunia dambaan Tuhan. Tetapi bagi Yesus dan Paulus, hal itu menjadi prinsip. Kita berbahagia ketika dianiaya (Mt 5:10-12); kita akan menderita bersama-sama dengan Kristus sebelum dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Bukankah itu realita dunia sekarang?

Apakah dengan demikian, harapan dalam Mzm 112 itu ditiadakan dalam PB? Sama sekali tidak. Harapan itu dimaknai ulang. Ketika Kristus datang, “dunia yang dibayangkan” itu terwujud dalam kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang berdosa, terpinggir dan tersesat. Kita menyukai perintah-perintah Yesus untuk mengampuni, berdoa untuk musuh dsb karena perwujudannya dalam kehidupan Yesus begitu indah. Kita mau menjadi sumber berkat dan terang bagi sesama. Dan dari mazmur ini, kita bisa yakin bahwa hal itu akan terwujud dalam dua tahap. Pembagian berkat, peneguhan nama, kasih, keteguhan, itu semuanya kita miliki dan terapkan sekarang dengan kuasa Roh Kudus. Harta dan kekayaan mungkin juga ada, dalam artian rohani, tetapi dalam dunia baru semuanya akan terwujud seluruhnya. Kebangkitan Yesus menjamin kedatangan-Nya kembali untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, dunia dambaan Allah, sehingga jerih payah kita sekarang tidaklah sia-sia.

Jadi, mazmur ini didasarkan pada apa yang telah dan sedang dilakukan Allah, pada saat itu bagi Israel, lebih lagi bagi kita sekarang dalam Yesus Kristus. Dan mazmur itu tetap relevan karena apa yang akan dilakukan Allah, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan dalam dunia baru.

Semoga kita tidak hanya mengandalkan pemeliharaan Allah tetapi tetap menjadi terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang seperti Yesus Kristus sendiri.


Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

Desember 7, 2011

Penggalian Teks

Mazmur 53 hampir sama dengan Mazmur 14. Ada dua perbedaan yang bermakna yang mendukung usul bahwa Mazmur 14 mempersoalkan penindas di dalam umat Allah, sedangkan Mazmur 53 mempersoalkan penindas dari luar. Mazmur 14 beberapa kali memakai kata Tuhan yang menerjemahkan nama Allah (“Yahweh”), sedangkan Mazmur 53 hanya memakai kata Allah (“Elohim”), istilah yang bukan milik Israel saja. Kemudian, Mzm 14:5-6 dan Mzm 53:6 cukup berbeda. Mzm 53:6 memperjelas pelaku kejahatan dalam 53:5 sebagai “para pengepungmu”, yaitu, tentara, yang ditolak oleh Allah. Mzm 14:5-6 tidak ada tambahan informasi tentang penjahat, dan menyoroti perlindungan Tuhan bagi orang yang benar. Usul perbedaan latar belakang ini tidak pasti, dan mungkin yang paling pokok adalah yang belakangan: Mazmur 53 lebih keras tentang nasib penjahat, sedangkan Mazmur 14 lebih menonjolkan perlindungan Tuhan.

Mazmur ini dapat dibagi tiga. Aa.2-4 menceritakan kejahatan manusia (a.2 dan a.4 merupakan inklusio dengan “tidak ada yang berbuat baik”); aa.5-6 menceritakan respons Allah; dan a.7 menyatakan doa akan pemulihan.

Kelompok yang dikeluhkan tergambar dalam a.2, pertama-tama dengan istilah “orang bebal” (nabal). Kata itu merujuk pada orang yang tidak berguna karena tidak peduli terhadap apa yang semestinya dipedulikan (seperti norma, atau Allah). Kelompok itu adalah ateis praktis. Ateis ideologis mengaku bahwa Allah tidak ada, dan bahkan memberitakan hal itu (paling sedikit demikian di dunia Barat). Tetapi dalam dunia agamawi seperti Israel (ataupun Indonesia), seorang ateis praktis tetap mengaku dengan mulutnya sebagai orang beragama, paling sedikit sebagai kedok atas kejahatannya. Tetapi tingkah lakunya menyiratkan bahwa dalam hati dia percaya bahwa Allah tidak ada—entah dalam artian tidak berada atau dalam artian praktis alpa dari dunia ini. Kata orang Toraja, “Siapa melihat ayam kencing?” (Indan tiroi tu manuk kattene?), artinya, Allah terlalu jauh atau tinggi untuk peduli, atau terlalu sibuk untuk memperhatikan, tingkah laku manusia. Alhasil, kelompok ini melakukan kecurangan yang membuat mereka busuk dalam hakikatnya dan jijik bagi sesama atau Allah. Tidak ada kebaikan yang mereka hasilkan.

A.3 langsung membantah anggapan ateis praktis itu. Ternyata Allah melihat. Dia memang tinggi, sehingga harus memandang ke bawah. Tetapi ada serangan balik. Jika orang bebal bertanya tentang adanya Allah, Allah bertanya tentang adanya orang yang berakal budi, yang mencari Allah. Yang dicari Allah di sini kebalikan dari orang bebal dalam a.2. Tetapi a.4 meragukan adanya orang yang dicari Allah itu. Semua telah menyimpang, sekaliannya bejat, tidak ada seorang pun yang berbuat baik. A.2 mulai dengan orang menilai Allah itu alpa, tetapi a.4 berakhir dengan Allah menilai manusia itu jahat.

A.5 menarik perhatian pembaca dengan mengusulkan adanya pengetahuan yang belum disadari oleh kelompok itu. Dosa mereka diperjelas, termasuk bahwa umat Allah yang ditindas, dan Allah tidak dipanggil. Dalam a.6 kita diberitahu apa yang belum disadari itu. Intinya bahwa Allah telah bertindak dengan “menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu” dan “menolak mereka”. “Di sana” mungkin merujuk pada peristiwa tertentu di mana tentara yang mengepung kota Israel dikalahkan, seperti ketika Sanherib mengepung Yerusalem pada zaman raja Hizkia (2 Raj 18:13-19:37). Memang raja Asyur itu banyak membual terhadap Tuhan (misalnya, 2 Raj 18:33-35). Kemudian, dia mendengar isu yang mungkin boleh dikatakan membuatnya takut tanpa alasan (2 Raj 19:7-9), lalu, malaikat Tuhan keluar dan tulang-tulang tentara Asyur dihamburkan (2 Raj 19:35). Jika demikian, mungkin saja Mazmur 14 dari Daud diubah untuk memperingati peristiwa ini. Namun, dasar dalam sejarah tidak menutup tafsiran lebih luas tentang siapakah pengepung itu.

Berdasarkan tindakan Allah, a.7 menyampaikan doa untuk Tuhan bertindak. Sion disebut sebagai tempat Allah hadir dalam Bait Suci. Doa itu disertai dengan harapan bahwa Israel akan bersukacita atas karya Allah bagi mereka.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur mau menuntun umat yang merasa tertindas oleh penjahat untuk mengingat karya Allah bagi umat-Nya, sehingga berdoa untuk keselamatan. Karena umat Allah perlu diselamatkan dari ancaman orang jahat, mazmur ini juga dapat berfungsi seperti nubuatan, sebagai peringatan keras bahwa cara hidup mereka jijik dan nasib mereka buruk. Namun, idealnya jemaat siap kembali untuk menantikan keselamatan dari Kristus. oleh karena sudah yakin akan hukuman Allah terhadap kejahatan.

Makna

Pada masa Adven kita mengingat bahwa keselamatan bagi Israel telah datang dari Sion. Kristus datang sebagai Mesias Israel, menyucikan Bait Allah, mati bagi dosa Israel dan bangkit mengalahkan maut. Kita menunggu penyempurnaan kemenangan itu ketika Dia datang kembali. Dalam penggenapan tahap pertama ini, misi Allah yang dalam PL terfokus pada Israel diperluas untuk menjangkau semua bangsa, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3). Makanya, kita menafsir Israel sebagai umat Allah yang sekarang terwujud dalam jemaat-jemaat, dan menafsir Sion, sumber keselamatan, sebagai Kristus.

Kita juga dapat melihat bagaimana Kristus sendiri mengalami mazmur ini. Dia berhadapan dengan, dan banyak mengecam, kemunafikan yang mengaku Allah tetapi hatinya jauh dari Allah, sehingga menindas orang kecil. Oleh karena itu, Dia dikepung, dan malah kelihatan sudah kalah ketika mati pada salib. Tetapi, ada kejutan besar. Kuasa Iblis dihamburkan, dan manusia yang melawan Dia dipermalukan, ketika Dia dibangkitkan. Dia menjadi sumber pertolongan dari Sion sorgawi sampai Dia datang kembali untuk menyempurnakan kemenangan-Nya.

Banyak umat Kristus juga mengalami serangan yang justru terlalu dekat dengan istilah pengepungan dalam a.6. Di Indonesia, kelompok-kelompok seperti FPI masih ringan ketimbang kondisi orang kristen di beberapa tempat di dunia. Yang menindas mereka termasuk orang ateis ideologis, seperti beberapa tempat rawan di Cina, tetapi juga orang beragama yang sudah pandai membuat agama sebagai kedok kepentingan pribadi. Jadi, komunitas kristen dikepung, kadangkala sampai mati. Tetapi, biar mereka mati, musuh-musuh mereka tetap akan dipermalukan, ketika Juruselamat dari Sion itu datang kembali. Pada saat itu, sukacita umat Allah tidak akan berkesudahan.

Jika tidak ada musuh dari luar yang terlalu jelas, kita tetap dapat menafsir “para pengepung” dalam rangka orang munafik di dalam gereja, misalnya, orang yang mengaku kristen tetapi terlibat secara tegas (bukan sewaktu-waktu tergoda) dalam berbagai penyakit sosial. Bahkan pelayan yang merusak jemaat diperingati Paulus dalam 1 Kor 3:16-17. Dalam konteks perlawanan kita bisa yakin akan hukuman Allah terhadap semua yang buruk, sehingga menantikan keselamatan dari Kristus itu.

Yang tidak diubah dengan kedatangan Kristus adalah perlunya hukuman itu. Memang, di dalam Kristus menjadi lebih jelas bahwa ada masa untuk pertobatan yang berlaku untuk semua manusia. Tetapi, akhirnya Allah akan bertindak demi pemulihan umat-Nya, bahkan seluruh dunia-Nya. Ketegangan yang mungkin terasa antara “menghamburkan” atau “dipermalukan” dalam a.6 dengan “memulihkan” dalam a.7 adalah hal biasa dalam Alkitab, karena dunia dianggap sangat rusak sehingga perlu cara yang keras untuk memperbaikinya. Proses itu digambarkan (dengan bahasa apokaliptik) dalam Wahyu 19-20, terkait dengan kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.


Mzm 119:105-112 “Menghayati Firman Tuhan sebagai Pelita” [4 September 2011]

Agustus 30, 2011

Mazmur 119 adalah perenungan yang panjang lebar tentang firman Allah. Bagi pemazmur, sebagai orang Israel, firman itu dikenal dalam hukum Taurat, dan berbagai istilah yang dipakai berasal dari hukum itu (lihat di sini). Jika dibaca seluruhnya, kesannya berbelit-belit. Lebih cocok satu bait (8 ayat masing-masing) dibaca dan direnungkan. Dengan demikian, kekayaan makna tidak membuat pembaca kekenyangan.

Penggalian Teks

Pembagian bait ini tidak terlalu pasti, tetapi pada hemat saya ada empat pasang dalam kedelapan baris. Kedua pasang pertama memakai kata “firman” dan “hukum”. Pasangan ketiga menyangkut bahaya yang dihadapi pemazmur, dan pasangan keempat berakhir dengan harapan pemazmur, dengan kata kunci “hati” dan “selama-lamanya”.

A.105 mulai dengan kiasan firman sebagai pelita yang menerangi bagian jalan di mana kaki mau melangkah. Tersirat dalam kiasan ini ialah bahwa pemazmur berjalan dalam kegelapan, pada waktu malam. Firman tidak memberi terang seperti matahari yang membuat semuanya terang, tetapi memberi terang yang cukup untuk pemegangnya mengambil langkah berikutnya. Jika a.105 berbicara tentang suatu sifat firman Tuhan, a.106 menyampaikan respons pemazmur. Ada keputusan yang tegas untuk berpegang pada hukum-hukum Tuhan. Kata “hukum” (Ibrani: mishpat) berasal dari kata kerja untuk mengadili atau menata. Dalam bentuk jamak seperti di sini, kata itu merujuk pada keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh Tuhan sebagai hakim, khususnya dalam hukum Taurat. Sifatnya bukan hukum positif melainkan banyak contoh bagaimana berbagai prinsip mendasar seperti keadilan, harkat manusia, dsb, diterapkan dalam kehidupan Israel. Jika pasangan aa.105-106 dilihat bersama, firman Tuhan menjadi pelita karena ada ketegasan hati untuk hidup sesuai dengan keadilan yang terkandung di dalamnya.

A.107 merincikan kegelapan yang dialami pemazmur, yakni, penindasan. Penindasan merendahkan harkat manusia, semacam maut, sehingga pemazmur berdoa supaya Tuhan menghidupkannya kembali sesuai dengan firman-Nya. Paling sedikit, pertolongan Tuhan yang diharapkan dalam doa akan sesuai dengan keselamatan Israel dari penindasan di Mesir, dan mungkin banyak kisah lagi dalam firman Tuhan. Sama seperti a.107 mencerminkan a.105, a.108 mencerminkan a.106. Dia berdoa supaya persembahannya berkenan kepada Tuhan. LAI “yang berupa pujian-pujian” menerjemahkan pi, yang berarti “dari mulutku”. LAI menganggap bahwa persembahan ini adalah pujian, seperti mazmur yang dinyanyikan setelah mengalami keselamatan Tuhan, atau bahkan seluruh mazmur 119 ini. Tetapi dalam Ul 23:23 kata-kata yang sama merujuk pada nazar, mirip dengan a.106. A.108 merupakan doa supaya sumpah dalam a.106 berkenan. Makanya, dia juga berdoa supaya hukum-hukum Allah diajarkan, yaitu, dipahami sehingga bisa menjadi terang baginya.

Aa.109-110 menyampaikan kesetiaannya dalam menghadapi penindasan itu. Keadaannya rawan (a.109) oleh karena orang-orang fasik (a.110). Jerat yang dipasang dalam a.110 bisa termasuk usaha supaya dia bertindak ceroboh, menyimpang dari titah-titah Tuhan. Tetapi itulah yang tidak dia lakukan, mungkin karena firman Tuhan menerangi kakinya.

Bagaimana caranya? Aa.111-112 mengungkapkan hati pemazmur. Kata edot yang diterjemahkan “peringatan-peringatan” dalam a.111 merujuk pada hukum Allah, tetapi sebagai semacam kesaksian (peringatan) tentang jalan yang benar. Sebagai orang Israel, hal-hal itu adalah milik pusakanya untuk selama-lamanya. Bahasa “milik pusaka” sering dipakai untuk tanah yang menjadi milik pusaka setiap keluarga, bani dan suku, tetapi di sini merujuk pada hukum Allah. Dia memakai kiasan itu karena hukum Allah menggirangkan hatinya. Entah dia memiliki tanah atau tidak, tetapi dambaannya terang bagi kakinya itu. Oleh karena itu, dalam a.112 dia menempatkan ketaatan pada hukum Allah sebagai salah satu tujuan hidupnya—sampai saat terakhir.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 119, termasuk perikop ini, merupakan doa kepada Allah, dalam bentuk meditasi. Mazmur ini mengajar kita dengan kita mendoakan dan merenungkannya. Dengan demikian kita diajak untuk menempatkan firman Allah sebagai terang bagi jalan kita, dengan sikap yang tegas untuk menerapkan kehendak Tuhan yang adil di hadapan ancaman dan perlawanan. Kemudian, kita akan merenungkan dambaan hati dan tujuan hidup.

Makna

Firman dalam a.105 itu firman Allah, Allah yang menyelamatkan Israel dan juga Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai Firman yang hidup. Bagaimana makna perikop ini diperkaya bagi kita yang mengenal Allah dalam Kristus?

Yang terutama, firman Tuhan telah menjadi daging. Dia datang dalam kegelapan (Yoh 1:5), dan menjadi terang dunia—bukan hanya orang Yahudi yang mengenal Taurat tetapi semua yang percaya kepada-Nya (Yoh 1:12). Namun, kegelapan itu masih ada. Dalam dunia baru Allah dan Kristus menjadi terang, sehingga tidak ada lagi malam (Why 22:5). Tetapi untuk sementara, siang belum datang (Rom 13:11-12). Jadi, Kristus tetap adalah pelita bagi kaki kita, menerangi langkah berikut, bukan seluruh jalan ke depan. Kita mengalami terang itu dengan berpegang pada hukum Kristus yang mempertegas keadilan dalam Taurat. Ketika kita tertindas, berita sukacita bahwa Allah membangkitkan Yesus yang disalibkan dengan sangat tidak adil menghidupkan kita kembali. Injil menjadi milik pusaka kita, sambil kita menantikan bagian dalam dunia baru itu. Harapan “untuk selama-lamanya” menjadi harapan harfiah—bukan sampai ajal (“saat terakhir”) melainkan hidup kekal.

Seperti saya katakan di atas, tafsiran kristologis ini tidak meniadakan makna aslinya, melainkan memperkayanya. Kita dapat mendoakan bait ini di dalam Kristus. Jika hal itu kita lakukan, kita akan tetap tertantang oleh semangat pemazmur: ketegasannya untuk hidup sesuai dengan terang firman, kegirangannya akan firman itu, hatinya yang dia condongkan untuk melakukannya. Hanya Kristus yang dapat mendoakannya dengan sempurna. Semoga renungan para pengkhotbah dalam persiapan dan bersama dengan jemaat membuat kita semua lebih seperti Firman yang sejati itu.


Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Mazmur 122 Doa bagi umat Allah demi sesama

Februari 22, 2011

Mengapa ada sukacita ketika ada usulan untuk pergi ke rumah Tuhan (a.1)? Ketika peziarah sampai di Yerusalem (a.2) jawabannya jelas. Yerusalem “bersambung rapat”, artinya, biar semua yang lain di dunia ini hancur, Yerusalem akan tetap berdiri (a.3). Rumah Tuhan juga adalah tempat yang ditentukan Allah untuk bersyukur kepadanya (a.4). Yang disyukuri ialah pengadilan Tuhan, yaitu bahwa melalui raja-Nya Allah menata kembali dunia yang kacau (a.5). Jadi, boleh disimpulkan bahwa dalam Mazmur ini Yerusalem adalah pusat dunia dan benteng terhadap kehancuran dunia.

Oleh karena kedudukan Yerusalem yang demikian, ada kerinduan untuk mendoakan Yerusalem (a.6a). Yerusalem adalah pusat sentosa dan kesejahteraan (syalom), sehingga mendoakan Yerusalem berarti mendoakan semua yang mencintai Yerusalem dan yang ada di dalam lingkungannya (a.6b-7). Dalam a.8 saudara-saudara si peziarah barangkali termasuk pencinta Yerusalem, tetapi teman-teman (= sesama, Ibrani rea’) yang belum tentu orang Israel juga akan beruntung dari kesejahteraan Yerusalem. Di balik semuanya, Allah hadir di tengah Yerusalem, sehingga kebaikan bagi Yerusalem berarti Allah tetap hadir dan memberkati (a.9).

Bagaimana memahami Mazmur yang Yerusalem-sentris ini? Kita perlu mengingat bahwa fungsi Rumah Tuhan sudah diambil alih oleh Kristus sebagai tempat Allah hadir dan menata kembali dunia yang kacau ini. Sekarang jemaat adalah umat yang tinggal di sekitar Rumah Tuhan itu. Jadi, berdoa bagi Yerusalam berarti berdoa untuk jemaat. Hal itu bukan hanya untuk kebaikan jemaat. Sebagai sarana pembaruan dunia, jemaat yang sentosa, artinya, yang hidupnya mencerminkan Kristus yang hadir di tengahnya, adalah harapan semua orang, entah di dalam atau di luar lingkup gereja. Kita mendoakan gereja karena Kristus hadir di tengahnya sebagai sumber berkat bagi dunia.

Sukacita dan doa kita mencerminkan di mana pusat cinta kita. Dalam mazmur ini pusat cinta si peziarah adalah hadirat Allah di Yerusalem, atau dalam konteks PB hadirat Allah dalam Kristus di tengah jemaat. Cinta itu tidak bertentangan dengan cinta kepada sesama melainkan mendukungnya, karena di dalam Kristus ada berkat dan ada pengharapan bagi dunia. Kristus tidak kelihatan dan jemaat-Nya tersebar luas, tetapi dalam mazmur ini melalui mata si peziarah kita bisa membayangkan sukacita dan rasa kagum atas hadirat Allah di tengah umat-Nya.


Mzm 112 Kebahagiaan orang yang takut akan Allah

November 16, 2010

Mazmur ini mengatakan satu hal dua kali dengan dua penekanan, sehingga memberi gambaran yang lengkap. Intinya kebahagiaan orang yang takut akan Allah (a.1). Takut akan Allah ditafsir dengan “sangat suka kepada segala perintah-Nya”, dan hal itu ditafsir lagi dalam a.5, sebagai orang yang memiliki perasaan (belas kasihan) sebagai bagian dari kehidupan yang beres (sewajarnya). Aa.2-4 dan aa.5-10 menguraikan kebahagiaan / kemujuran itu.

Isi kebahagiaan itu dapat diringkas sebagai keturunan (a.2), harta (a.3a), keteguhan (aa.6-8), dan, sebagai benang merah, nama, di atas musuh sekalipun. Soal nama muncul pertama-tama pada a.3b. Kebajikan sebagai tindakan tidak ada lagi kalau orangnya sudah meninggal, tetapi ingatannya bisa bertahan lama. Dalam a.4a “terang” harus merujuk pada orang yang takut akan Allah itu, artinya bahwa kebajikannya menjadi terang bagi orang benar dalam kesusahan, dinyatakan dengan sikap sebagai pengasih, penyayang dsb. Barangkali, menjadi terang adalah asal usul ingatan akan kebajikannya. A.6b mengatakan dengan jelas bahwa dia akan diingat, dan aa.9-10 menjelaskan mengapa dia dapat memandang rendah lawannya (a.8b), yaitu karena kebajikannya terhadap kaum lemah membawa kekuatan (disimbolkan oleh “tanduk”) dan kemuliaan di depan masyarakat, sehingga orang fasik sakit hati dan hancur (harfiah: “mencair”). Tersirat bahwa orang fasik itu mencari nama dengan menyusahkan orang benar dalam a.4, tetapi orang yang takut akan Allah ini menggagalkan rencana itu.

Jadi, amanat teks mazmur ini diusulkan begini: kebahagiaan orang yang takut akan Allah adalah keturunan, kekayaan, keteguhan, dan kemuliaan. (Saya memilih adanya kebahagiaan sebagai topik karena mazmur ini mulai dengan pujian kepada Allah, sumber kebahagiaan itu.) Tentu, “takut akan Allah” harus diuraikan sesuai dengan perikop ini, yaitu ketaatan dalam hidup yang beres yang memperhatikan kaum lemah. Sama halnya dengan semua unsur yang lain, karena amanat teks berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam artian teks, bukan sebagai batu loncatan untuk tema kesukaan kita.

Bagaimana amanat teks itu dikontekskan? Aa.2-3 belum tentu mau diartikan secara harfiah, karena kita tinggal dalam konteks PB bukan konteks PL (lihat catatan di bawah). Dalam PB kita bisa kaya dalam iman (Yak 2:5). Sebaliknya, jangan orang kaya menganggap diri berbahagia jika dia tidak memiliki nama sebagai orang yang membantu orang-orang benar dan miskin, atau jika hatinya tidak teguh dalam imannya kepada Tuhan. Soal nama mungkin layak mendapat sorotan. Banyak orang sekarang mencari nama dengan hal-hal yang dangkal, seperti rumah yang besar. Tetapi orang yang takut akan Tuhan ternyata mencari nama melalui kebajikannya. Perbuatan-perbuatan kasih yang akan diingat sampai hidup yang kekal, bukan jumlah kerbau yang dipotong.

Catatan tentang aa.2-3a. Jika ayat-ayat ini diterapkan secara harfiah, sepertinya Yesus dan Paulus tidak tercakup oleh mazmur ini. Mereka tidak memiliki keturunan, atau kekayaan. Sehingga perlu penjelasan sedikit tentang perbedaan perspektif dalam PL dengan PB tentang kekayaan sebagai berkat. Dalam PL, sejak Israel masuk di Kanaan sampai mereka dibuang, mereka berada di taman Eden kedua, jika dilihat dari perspektif awal Kisah Agung Alkitab (KAA), atau di cikal bakal sorga, jika dilihat dari perspektif akhir KAA. (Ingat bahwa dalam Why 21 Yerusalem yang baru turun dari sorga ke bumi yang baru (diperbaharui), dan Allah ada di tengah umat-Nya sebagai ganti Bait Allah (Why 21:22). Sorga sebagai tempat Allah hadir kembali ke bumi seperti dalam taman Eden, dan seperti diwakili oleh Bait Allah di tanah Israel.) Jadi, Israel semestinya menikmati kemanusiaan yang utuh, seperti Adam dan Hawa sebelum diusir, dan seperti semua orang yang selamat dalam dunia baru, yang sering digambarkan Yesus sebagai perjamuan besar. Hanya, di dalam Israel sendiri adanya orang fasik berarti bahwa, seperti dikatakan Ams 13:23, “Huma orang miskin menghasilkan banyak makanan, tetapi ada yang lenyap karena tidak ada keadilan.” Makin lama, makin kesetiaan kepada Tuhan berarti dibunuh, bukan berjaya. Akhirnya, jawabannya muncul dengan jelas dalam kitab Daniel 12:1-3, yaitu bahwa orang bijak (yang dimartir, Dan 11:33-35) akan bangkit sehingga mengambil bagian dalam dunia baru yang dijanjikan Allah itu. Makanya, kita menemukan perkataan seperti dalam Yak 2:5, “Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” Ayat itu tidak menolak kekayaan sebagai berkat Allah, dan sama sekali tidak menolak perjuangan akan keadilan, tetapi mengartikan ulang janji kekayaan itu. Inti kemanusiaan yang utuh ialah relasi dengan Allah, dan hal itu tersedia bagi semua yang beriman (kaya dalam iman). Tetapi semua yang berlawanan dengan kemanusiaan yang utuh dalam dunia ini, termasuk adanya orang fasik yang merampas hak orang miskin, akan dipulihkan ketika Kerajaan Allah terwujud sepenuhnya. Kita hidup dalam harapan. Harapan Yesus kepada Allah terbukti ketika Dia dibangkitkan; harapan rasul Paulus dalam semua pergumulannya sama.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.