Mzm 119:105-112 “Menghayati Firman Tuhan sebagai Pelita” [4 September 2011]

Agustus 30, 2011

Mazmur 119 adalah perenungan yang panjang lebar tentang firman Allah. Bagi pemazmur, sebagai orang Israel, firman itu dikenal dalam hukum Taurat, dan berbagai istilah yang dipakai berasal dari hukum itu (lihat di sini). Jika dibaca seluruhnya, kesannya berbelit-belit. Lebih cocok satu bait (8 ayat masing-masing) dibaca dan direnungkan. Dengan demikian, kekayaan makna tidak membuat pembaca kekenyangan.

Penggalian Teks

Pembagian bait ini tidak terlalu pasti, tetapi pada hemat saya ada empat pasang dalam kedelapan baris. Kedua pasang pertama memakai kata “firman” dan “hukum”. Pasangan ketiga menyangkut bahaya yang dihadapi pemazmur, dan pasangan keempat berakhir dengan harapan pemazmur, dengan kata kunci “hati” dan “selama-lamanya”.

A.105 mulai dengan kiasan firman sebagai pelita yang menerangi bagian jalan di mana kaki mau melangkah. Tersirat dalam kiasan ini ialah bahwa pemazmur berjalan dalam kegelapan, pada waktu malam. Firman tidak memberi terang seperti matahari yang membuat semuanya terang, tetapi memberi terang yang cukup untuk pemegangnya mengambil langkah berikutnya. Jika a.105 berbicara tentang suatu sifat firman Tuhan, a.106 menyampaikan respons pemazmur. Ada keputusan yang tegas untuk berpegang pada hukum-hukum Tuhan. Kata “hukum” (Ibrani: mishpat) berasal dari kata kerja untuk mengadili atau menata. Dalam bentuk jamak seperti di sini, kata itu merujuk pada keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh Tuhan sebagai hakim, khususnya dalam hukum Taurat. Sifatnya bukan hukum positif melainkan banyak contoh bagaimana berbagai prinsip mendasar seperti keadilan, harkat manusia, dsb, diterapkan dalam kehidupan Israel. Jika pasangan aa.105-106 dilihat bersama, firman Tuhan menjadi pelita karena ada ketegasan hati untuk hidup sesuai dengan keadilan yang terkandung di dalamnya.

A.107 merincikan kegelapan yang dialami pemazmur, yakni, penindasan. Penindasan merendahkan harkat manusia, semacam maut, sehingga pemazmur berdoa supaya Tuhan menghidupkannya kembali sesuai dengan firman-Nya. Paling sedikit, pertolongan Tuhan yang diharapkan dalam doa akan sesuai dengan keselamatan Israel dari penindasan di Mesir, dan mungkin banyak kisah lagi dalam firman Tuhan. Sama seperti a.107 mencerminkan a.105, a.108 mencerminkan a.106. Dia berdoa supaya persembahannya berkenan kepada Tuhan. LAI “yang berupa pujian-pujian” menerjemahkan pi, yang berarti “dari mulutku”. LAI menganggap bahwa persembahan ini adalah pujian, seperti mazmur yang dinyanyikan setelah mengalami keselamatan Tuhan, atau bahkan seluruh mazmur 119 ini. Tetapi dalam Ul 23:23 kata-kata yang sama merujuk pada nazar, mirip dengan a.106. A.108 merupakan doa supaya sumpah dalam a.106 berkenan. Makanya, dia juga berdoa supaya hukum-hukum Allah diajarkan, yaitu, dipahami sehingga bisa menjadi terang baginya.

Aa.109-110 menyampaikan kesetiaannya dalam menghadapi penindasan itu. Keadaannya rawan (a.109) oleh karena orang-orang fasik (a.110). Jerat yang dipasang dalam a.110 bisa termasuk usaha supaya dia bertindak ceroboh, menyimpang dari titah-titah Tuhan. Tetapi itulah yang tidak dia lakukan, mungkin karena firman Tuhan menerangi kakinya.

Bagaimana caranya? Aa.111-112 mengungkapkan hati pemazmur. Kata edot yang diterjemahkan “peringatan-peringatan” dalam a.111 merujuk pada hukum Allah, tetapi sebagai semacam kesaksian (peringatan) tentang jalan yang benar. Sebagai orang Israel, hal-hal itu adalah milik pusakanya untuk selama-lamanya. Bahasa “milik pusaka” sering dipakai untuk tanah yang menjadi milik pusaka setiap keluarga, bani dan suku, tetapi di sini merujuk pada hukum Allah. Dia memakai kiasan itu karena hukum Allah menggirangkan hatinya. Entah dia memiliki tanah atau tidak, tetapi dambaannya terang bagi kakinya itu. Oleh karena itu, dalam a.112 dia menempatkan ketaatan pada hukum Allah sebagai salah satu tujuan hidupnya—sampai saat terakhir.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 119, termasuk perikop ini, merupakan doa kepada Allah, dalam bentuk meditasi. Mazmur ini mengajar kita dengan kita mendoakan dan merenungkannya. Dengan demikian kita diajak untuk menempatkan firman Allah sebagai terang bagi jalan kita, dengan sikap yang tegas untuk menerapkan kehendak Tuhan yang adil di hadapan ancaman dan perlawanan. Kemudian, kita akan merenungkan dambaan hati dan tujuan hidup.

Makna

Firman dalam a.105 itu firman Allah, Allah yang menyelamatkan Israel dan juga Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai Firman yang hidup. Bagaimana makna perikop ini diperkaya bagi kita yang mengenal Allah dalam Kristus?

Yang terutama, firman Tuhan telah menjadi daging. Dia datang dalam kegelapan (Yoh 1:5), dan menjadi terang dunia—bukan hanya orang Yahudi yang mengenal Taurat tetapi semua yang percaya kepada-Nya (Yoh 1:12). Namun, kegelapan itu masih ada. Dalam dunia baru Allah dan Kristus menjadi terang, sehingga tidak ada lagi malam (Why 22:5). Tetapi untuk sementara, siang belum datang (Rom 13:11-12). Jadi, Kristus tetap adalah pelita bagi kaki kita, menerangi langkah berikut, bukan seluruh jalan ke depan. Kita mengalami terang itu dengan berpegang pada hukum Kristus yang mempertegas keadilan dalam Taurat. Ketika kita tertindas, berita sukacita bahwa Allah membangkitkan Yesus yang disalibkan dengan sangat tidak adil menghidupkan kita kembali. Injil menjadi milik pusaka kita, sambil kita menantikan bagian dalam dunia baru itu. Harapan “untuk selama-lamanya” menjadi harapan harfiah—bukan sampai ajal (“saat terakhir”) melainkan hidup kekal.

Seperti saya katakan di atas, tafsiran kristologis ini tidak meniadakan makna aslinya, melainkan memperkayanya. Kita dapat mendoakan bait ini di dalam Kristus. Jika hal itu kita lakukan, kita akan tetap tertantang oleh semangat pemazmur: ketegasannya untuk hidup sesuai dengan terang firman, kegirangannya akan firman itu, hatinya yang dia condongkan untuk melakukannya. Hanya Kristus yang dapat mendoakannya dengan sempurna. Semoga renungan para pengkhotbah dalam persiapan dan bersama dengan jemaat membuat kita semua lebih seperti Firman yang sejati itu.


Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Mazmur 122 Doa bagi umat Allah demi sesama

Februari 22, 2011

Mengapa ada sukacita ketika ada usulan untuk pergi ke rumah Tuhan (a.1)? Ketika peziarah sampai di Yerusalem (a.2) jawabannya jelas. Yerusalem “bersambung rapat”, artinya, biar semua yang lain di dunia ini hancur, Yerusalem akan tetap berdiri (a.3). Rumah Tuhan juga adalah tempat yang ditentukan Allah untuk bersyukur kepadanya (a.4). Yang disyukuri ialah pengadilan Tuhan, yaitu bahwa melalui raja-Nya Allah menata kembali dunia yang kacau (a.5). Jadi, boleh disimpulkan bahwa dalam Mazmur ini Yerusalem adalah pusat dunia dan benteng terhadap kehancuran dunia.

Oleh karena kedudukan Yerusalem yang demikian, ada kerinduan untuk mendoakan Yerusalem (a.6a). Yerusalem adalah pusat sentosa dan kesejahteraan (syalom), sehingga mendoakan Yerusalem berarti mendoakan semua yang mencintai Yerusalem dan yang ada di dalam lingkungannya (a.6b-7). Dalam a.8 saudara-saudara si peziarah barangkali termasuk pencinta Yerusalem, tetapi teman-teman (= sesama, Ibrani rea’) yang belum tentu orang Israel juga akan beruntung dari kesejahteraan Yerusalem. Di balik semuanya, Allah hadir di tengah Yerusalem, sehingga kebaikan bagi Yerusalem berarti Allah tetap hadir dan memberkati (a.9).

Bagaimana memahami Mazmur yang Yerusalem-sentris ini? Kita perlu mengingat bahwa fungsi Rumah Tuhan sudah diambil alih oleh Kristus sebagai tempat Allah hadir dan menata kembali dunia yang kacau ini. Sekarang jemaat adalah umat yang tinggal di sekitar Rumah Tuhan itu. Jadi, berdoa bagi Yerusalam berarti berdoa untuk jemaat. Hal itu bukan hanya untuk kebaikan jemaat. Sebagai sarana pembaruan dunia, jemaat yang sentosa, artinya, yang hidupnya mencerminkan Kristus yang hadir di tengahnya, adalah harapan semua orang, entah di dalam atau di luar lingkup gereja. Kita mendoakan gereja karena Kristus hadir di tengahnya sebagai sumber berkat bagi dunia.

Sukacita dan doa kita mencerminkan di mana pusat cinta kita. Dalam mazmur ini pusat cinta si peziarah adalah hadirat Allah di Yerusalem, atau dalam konteks PB hadirat Allah dalam Kristus di tengah jemaat. Cinta itu tidak bertentangan dengan cinta kepada sesama melainkan mendukungnya, karena di dalam Kristus ada berkat dan ada pengharapan bagi dunia. Kristus tidak kelihatan dan jemaat-Nya tersebar luas, tetapi dalam mazmur ini melalui mata si peziarah kita bisa membayangkan sukacita dan rasa kagum atas hadirat Allah di tengah umat-Nya.


Mzm 112 Kebahagiaan orang yang takut akan Allah

November 16, 2010

Mazmur ini mengatakan satu hal dua kali dengan dua penekanan, sehingga memberi gambaran yang lengkap. Intinya kebahagiaan orang yang takut akan Allah (a.1). Takut akan Allah ditafsir dengan “sangat suka kepada segala perintah-Nya”, dan hal itu ditafsir lagi dalam a.5, sebagai orang yang memiliki perasaan (belas kasihan) sebagai bagian dari kehidupan yang beres (sewajarnya). Aa.2-4 dan aa.5-10 menguraikan kebahagiaan / kemujuran itu.

Isi kebahagiaan itu dapat diringkas sebagai keturunan (a.2), harta (a.3a), keteguhan (aa.6-8), dan, sebagai benang merah, nama, di atas musuh sekalipun. Soal nama muncul pertama-tama pada a.3b. Kebajikan sebagai tindakan tidak ada lagi kalau orangnya sudah meninggal, tetapi ingatannya bisa bertahan lama. Dalam a.4a “terang” harus merujuk pada orang yang takut akan Allah itu, artinya bahwa kebajikannya menjadi terang bagi orang benar dalam kesusahan, dinyatakan dengan sikap sebagai pengasih, penyayang dsb. Barangkali, menjadi terang adalah asal usul ingatan akan kebajikannya. A.6b mengatakan dengan jelas bahwa dia akan diingat, dan aa.9-10 menjelaskan mengapa dia dapat memandang rendah lawannya (a.8b), yaitu karena kebajikannya terhadap kaum lemah membawa kekuatan (disimbolkan oleh “tanduk”) dan kemuliaan di depan masyarakat, sehingga orang fasik sakit hati dan hancur (harfiah: “mencair”). Tersirat bahwa orang fasik itu mencari nama dengan menyusahkan orang benar dalam a.4, tetapi orang yang takut akan Allah ini menggagalkan rencana itu.

Jadi, amanat teks mazmur ini diusulkan begini: kebahagiaan orang yang takut akan Allah adalah keturunan, kekayaan, keteguhan, dan kemuliaan. (Saya memilih adanya kebahagiaan sebagai topik karena mazmur ini mulai dengan pujian kepada Allah, sumber kebahagiaan itu.) Tentu, “takut akan Allah” harus diuraikan sesuai dengan perikop ini, yaitu ketaatan dalam hidup yang beres yang memperhatikan kaum lemah. Sama halnya dengan semua unsur yang lain, karena amanat teks berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam artian teks, bukan sebagai batu loncatan untuk tema kesukaan kita.

Bagaimana amanat teks itu dikontekskan? Aa.2-3 belum tentu mau diartikan secara harfiah, karena kita tinggal dalam konteks PB bukan konteks PL (lihat catatan di bawah). Dalam PB kita bisa kaya dalam iman (Yak 2:5). Sebaliknya, jangan orang kaya menganggap diri berbahagia jika dia tidak memiliki nama sebagai orang yang membantu orang-orang benar dan miskin, atau jika hatinya tidak teguh dalam imannya kepada Tuhan. Soal nama mungkin layak mendapat sorotan. Banyak orang sekarang mencari nama dengan hal-hal yang dangkal, seperti rumah yang besar. Tetapi orang yang takut akan Tuhan ternyata mencari nama melalui kebajikannya. Perbuatan-perbuatan kasih yang akan diingat sampai hidup yang kekal, bukan jumlah kerbau yang dipotong.

Catatan tentang aa.2-3a. Jika ayat-ayat ini diterapkan secara harfiah, sepertinya Yesus dan Paulus tidak tercakup oleh mazmur ini. Mereka tidak memiliki keturunan, atau kekayaan. Sehingga perlu penjelasan sedikit tentang perbedaan perspektif dalam PL dengan PB tentang kekayaan sebagai berkat. Dalam PL, sejak Israel masuk di Kanaan sampai mereka dibuang, mereka berada di taman Eden kedua, jika dilihat dari perspektif awal Kisah Agung Alkitab (KAA), atau di cikal bakal sorga, jika dilihat dari perspektif akhir KAA. (Ingat bahwa dalam Why 21 Yerusalem yang baru turun dari sorga ke bumi yang baru (diperbaharui), dan Allah ada di tengah umat-Nya sebagai ganti Bait Allah (Why 21:22). Sorga sebagai tempat Allah hadir kembali ke bumi seperti dalam taman Eden, dan seperti diwakili oleh Bait Allah di tanah Israel.) Jadi, Israel semestinya menikmati kemanusiaan yang utuh, seperti Adam dan Hawa sebelum diusir, dan seperti semua orang yang selamat dalam dunia baru, yang sering digambarkan Yesus sebagai perjamuan besar. Hanya, di dalam Israel sendiri adanya orang fasik berarti bahwa, seperti dikatakan Ams 13:23, “Huma orang miskin menghasilkan banyak makanan, tetapi ada yang lenyap karena tidak ada keadilan.” Makin lama, makin kesetiaan kepada Tuhan berarti dibunuh, bukan berjaya. Akhirnya, jawabannya muncul dengan jelas dalam kitab Daniel 12:1-3, yaitu bahwa orang bijak (yang dimartir, Dan 11:33-35) akan bangkit sehingga mengambil bagian dalam dunia baru yang dijanjikan Allah itu. Makanya, kita menemukan perkataan seperti dalam Yak 2:5, “Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” Ayat itu tidak menolak kekayaan sebagai berkat Allah, dan sama sekali tidak menolak perjuangan akan keadilan, tetapi mengartikan ulang janji kekayaan itu. Inti kemanusiaan yang utuh ialah relasi dengan Allah, dan hal itu tersedia bagi semua yang beriman (kaya dalam iman). Tetapi semua yang berlawanan dengan kemanusiaan yang utuh dalam dunia ini, termasuk adanya orang fasik yang merampas hak orang miskin, akan dipulihkan ketika Kerajaan Allah terwujud sepenuhnya. Kita hidup dalam harapan. Harapan Yesus kepada Allah terbukti ketika Dia dibangkitkan; harapan rasul Paulus dalam semua pergumulannya sama.


Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Agustus 29, 2010

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!


Mzm 104:10-23 Memuji Allah Sang Pemelihara

Mei 31, 2010

Mazmur 104 adalah pujian Allah yang tidak hanya menjadikan dunia ini dengan hikmat (a.24) dan mengokohkannya (a.5), tetapi juga memeliharanya. Pemeliharaan bumi dalam konteks sukacita Allah (a.31), yang berdiam di atas cakrawala dan bergerak di langit (a.3—air dalam ayat ini adalah air di atas cakrawala, bnd. Kej 1:7).

Pemeliharaan Allah digambarkan terkait dengan air (aa.10-13), makanan (aa.14-15), pegunungan sebagai tempat perlindungan (aa.16-18) dan siklus hidup (aa.19-23). Dalam Kejadian 1, mahkota ciptaan adalah manusia, dan seluruhnya dapat dilihat berkaitan dengan menjadikan tempat yang cocok untuk manusia. Tema itu muncul di sini juga: pemeliharaan Allah memungkinkan manusia hidup dan bersukacita (misalnya, a.15). Tetapi sebagian besar penguraian ini tidak langsung dikaitkan dengan manusia. Allah bersukacita bukan hanya atas manusia yang benar (aa.34-35) tetapi juga atas segala perbuatan-perbuatan-Nya (a.31). Ciptaan tidak hanya berarti sejauh ada manfaatnya bagi manusia.

Selayaknya kita memuliakan dan memuji Allah karena ciptaan-Nya, bersama dengan si pemazmur. Jika demikian, semestinya kita menghargai ciptaan-Nya, bukan hanya memanfaatkannya. Sekarang, manusia berhasil begitu tidak menghargainya sehingga manfaatnya juga terancam! Pantasan pemazmur berdoa supaya orang-orang fasik tidak ada lagi (a.35). Doa itu karena tindakan-tindakan mereka mengancam sukacita Tuhan atas bumi. Lebih lagi sekarang ketika akibat-akibat ulah manusia begitu dahsyat. Kita dapat bersyukur bahwa perhatian Allah terhadap ciptaan-Nya akan berpuncak pada langit dan bumi yang baru. Hal itu adalah harapan kita, bukan upaya-upaya kita untuk mempedulikan lingkungan hidup. Apakah hal itu berarti kita dapat masa bodoh terhadap masalah-masalah lingkungan? Hanya jika kita sudah lupa bahwa Allah bersukacita atas ciptaan ini. Hanya jika kita sudah berhenti memuji-Nya karenanya.


Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

November 22, 2009

Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.

Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.

Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.

Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.

Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Mzm 119:1-16 Perenungan firman

Oktober 23, 2008

Berisi 172 ayat, Mzm 119 adalah mazmur terpanjang dalam kitab Mazmur. Mazmur ini sangat teratur dalam bahasa aslinya, karena setiap ayat dalam satu bait (8 ayat per bait) mulai dengan huruf yang sama, secara berturut-turut. Jadi, dalam bacaan kita, aa.1-8 mulai dengan huruf א (aleph), dan aa.9-16 dengan huruf ב (beth). Oleh karena begitu teratur secara formal, dari segi isi puisi itu terasa berbelit-belit. Saya rasa tujuannya bukan untuk mengajukan argumentasi melainkan sebagai bahan untuk perenungan, sebagaimana diusulkan dalam a.15.

Permulaan dengan ucapan “berbahagia” menempatkan mazmur ini sebagai mazmur hikmat, yang berbicara tentang cara hidup yang baik dan buruk dalam dunia ini. Intinya adalah hidup menurut Taurat atau firman Tuhan. Ada 8 kata yang dipakai dalam mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (hukum Musa). Taurat menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan. Perjanjian itu terdiri atas Janji, Perintah dan Hukum. Janji adalah dasarnya, karena Allah selalu telah memberi sebelum menuntut. Perintah (dan Titah) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Dalam Perjanjian Baru, Injil yang menggenapi Taurat juga adalah firman Allah yang menyampaikan janji-Nya untuk mengatur kehidupan kita. Adalah anugerah yang luar biasa bahwa Allah menyatakan firman-Nya kepada kita.

Bait pertama bertema hasil dari hidup menurut firman. Salah satunya adalah “tidak mendapat malu”. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, maka dia layak untuk berdiri tegak di depan sesama. Memang, di bawah dalam mazmur ini nampak bahwa bisa saja orang benar dihina oleh orang fasik (aa.21-23). Tetapi rasa malu jangan ditentukan sepenuhnya oleh orang lain. Yang paling penting adalah pujian Allah.

Bait kedua mulai dengan pergumulan orang saleh akan kelemahannya (a.9). Jalan keluarnya terkait dengan membatinkan firman-Nya. Hal itu terjadi ketika firman Allah menjadi suatu kerinduan (a.10), sukacita (aa.12, 14) dan kegemaran (a.16). Hal itu dibantu dengan kegiatan meditasi, dengan menyimpan janji (a.11), membaca firman dengan teliti (a.13) dan perenungan dan pengamatan (a.15). Fokus pada firman Allah akan membentuk kebatinan orang sehingga firman menjadi pokok dalam hidupnya. Dengan demikian kebahagiaan sejati dari Allah akan menjadi makin nyata dalam kehidupan kita.


Mzm 111 Pujilah Allah karena pemberian keselamatan!

Agustus 14, 2008

Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (111:5, 9). Mazmur pujian ini menceritakan dua segi dari berkat perjanjian-Nya, yakni perbuatan keselamatan-Nya (pemilikan tanah dalam a.6b, penebusan dari Mesir dalam a.9a) dan penyataan-Nya (aa.7b-8). Respons umat mulai dan berakhir dengan pujian (aa.1, 10c) serta menyelidiki perbuatan Allah dan menjadikannya dasar untuk takut akan Allah (aa.2-5, a.10).

Tentu, kita yang percaya kepada Kristus melihat perbuatan keselamatan dan penyataan Allah terpusat dalam Kristus dan karya-Nya. Milik pusaka kita adalah langit dan bumi yang baru (Why 21:1) yang menjadi pusat bangsa-bangsa (Why 21:24-26). Pada hari kemerdekaan Indonesia, kita bersyukur bahwa sebagai tomentiruran (pendatang) kita boleh menumpang di negeri ini untuk menyatakan perbuatan dan penyataan Allah yang ajaib!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.