Yes 58:1-8 Pertobatan yang memulihkan [12 Feb 2014]

Februari 6, 2014

Kitab Yesaya menimbulkan banyak perdebatan tentang asal-usulnya, karena pp.40–66 menyoroti konteks pembuangan dan seterusnya yang terjadi setelah zaman Yesaya. Perdebatan itu menarik, tetapi yang diterima Yesus dan gereja sebagai kitab suci adalah kitab Yesaya yang kita miliki. Jadi, perikop kita ditafsir dalam konteksnya dalam kitab Yesaya, bukan berdasarkan sebuah rekonstruksi tentang asal-usulnya. Tentu, penerapannya bagi jemaat dilihat dalam terang kedatangan Kristus.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan cara Israel dapat menghayati keselamatan Allah, atau dengan kata lain, bentuk pertobatan yang sejati. Alur kitab Yesaya mendukung bahwa keselamatan adalah karya Allah saja, karena manusia (Israel) tidak sanggup bekerja sama dengan Allah. Kegagalan itu disampaikan dalam pp.41–48, sehingga peran hamba Tuhan harus diambil alih oleh seseorang (49:3, bdk. renungan ini dari Yes 49:1–7). Keselamatan itu diraih dalam p.53 dan digambarkan dalam 54:1–56:8. Namun, Israel belum juga berubah—56:9–57:13 kembali menguraikan dosa mereka. Kembali keselamatan ditawarkan dalam 57:14–21, dan perikop kita (sampai akhir p.58) menguraikan pertobatan yang diharapkan sebagai responsnya. Intinya dalam 59:1–2: Allah sanggup menyelamatkan, tetapi dosa Israel menghambat keselamatan itu dinikmati. Jadi, 59:3–8 kembali menguraikan dosa itu, dan 59:9–15a merupakan pengakuan nabi akan keberdosaan umat Israel. Oleh karena ketidakmampuan Israel, Tuhan harus bertindak sepihak: “Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia” (59:16). Hasilnya dinubuatkan dalam pp.60–62 yang menceritakan pemulihan Sion. Keselamatan adalah karya Allah semata-mata.

Pendek kata, perikop kita menyangkut pertobatan yang harus dipahami sebagai respons terhadap anugerah keselamatan Allah (57:14–21) yang dikerjakan sepihak oleh Tuhan (p.53, pp.60–62). Namun, ada respons yang wajib dalam artian, anugerah keselamatan Allah hanya dapat dinikmati jika ada pertobatan (59:1–2).

Pertobatan mengandaikan kesadaran tentang dosa, dan seruan nabi dalam a.1 menunjukkan bahwa Israel sulit memberi perhatian pada dosa mereka. Ternyata ketulian mereka terjadi karena mereka rajin beragama (2). Mereka bertindak seperti bangsa yang taat, dengan ingin tahu tentang jalan Tuhan. Namun, ada kegelisahan di antara mereka, yang digambarkan dalam keluhan mereka terhadap Tuhan dalam a.3a. Mereka rajin beragama, sampai berpuasa, tetapi tidak merasa diberkati.

Allah membenarkan kegelisahan itu dalam a.3a (“Sesungguhnya”) dan a.4 (“Sesungguhnya”). Ternyata, fokus mereka bahkan dalam berpuasa adalah diri sendiri: kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan Allah, dan kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan sesama (3b). Di antara mereka sendiri, puasa diiringi cekcok (4a). Melalui nabi-Nya, Allah melihat di balik tindakan keagamaan mereka ke dalam tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Aa.5–7 berbentuk pertanyaan retoris, “inikah…bukankah…bukankah” (diluruskan dalam terjemahan LAI). Artinya, bentuk bahasa mengajak Israel untuk merenung dan menilai diri sendiri. Mereka sebatas “merendahkan diri” dengan tubuh (5), tetapi yang diharapkan adalah meninggikan sesama, dengan mengubah belenggu-belenggu yang merusak kehidupan sesama (6), dan menjawab kebutuhan-kebutuhan riil sesama (7).

Jika hal itu mereka lakukan, ada dua akibat yang langsung disebutkan (’az = maka, a.8 & a.9). Mereka akan mengalami hadirat Allah yang membawa terang dan pemulihan (8), dan Allah akan menjawab mereka (9). Ayat-ayat berikutnya berbicara tentang tuntunan Tuhan (11a), kesuburan (11b), pembangunan kembali (12), dan kesenangan di dalam Tuhan (14). Dengan demikian, tidak akan ada kegelisahan lagi bahwa mereka tidak diperhatikan Allah seperti dalam a.3a; anugerah keselamatan Allah akan sungguh-sungguh dinikmati.

Maksud bagi Pembaca

Allah menunjukkan cara yang semestinya untuk bertobat: bukan kerendahan diri dalam bentuk ritus saja, melainkan kerendahan diri dalam meninggikan sesama. Dengan cara itu, kegelisahan tentang perhatian Allah akan berubah menjadi kenikmatan di dalam Dia.

Makna

Kemiripan gejala dalam perikop ini dengan apa yang sering terjadi dalam jemaat, menggelisahkan saya dalam persiapan. Orang berbangga-bangga bahwa ada seribuan jemaat Gereja Toraja, tetapi pada saat yang sama mengaku bahwa sebagian (besar?) “pemekaran” jemaat sebenarnya terjadi karena perpecahan. Asal usul perpecahan itu secara garis besar mungkin bisa dikaitkan dengan perubahan zaman yang membuat hal-hal yang tadinya jelas menjadi tidak jelas, sehingga muncullah kegelisahan. Tetapi, pada saat yang sama jemaat rata-rata belum menangkap anugerah keselamatan Allah sebagai milik yang terjamin dalam Kristus sehingga menjadi fondasi hidup (3a). Dengan demikian, kegiatan agamawi jemaat tidaklah membawa damai dalam hati yang akan mengobati kegelisahan itu, karena dalam lubuk hati jemaat tahu bahwa yang dicari adalah kepentingan sendiri bukan Kerajaan Allah. Jadi, kegelisahan itu tetap ada, dan kegiatan gerejawi tetap diiringi cekcok.

Tetapi ada juga orang yang menganggap bahwa dia telah menyerahkan kehidupannya sepenuhnya kepada Allah, tetapi ternyata dalam tindakannya dia menutup diri terhadap pola-pola dalam masyarakat yang membelenggu, dan kebutuhan riil sesama. Kita melihat dalam perikop ini bahwa jika tindakan ritus dan tindakan sehari-hari bertentangan, yang dinilai oleh Allah adalah tindakan sehari-hari. Bisa saja seorang munafik menipu orang banyak—seringkali dia malah menipu dirinya sendiri—tetapi dia tidak bisa menipu Allah. Jemaat yang dikendalikan oleh orang-orang yang belum yakin akan anugerah keselamatan dan/atau bersifat munafik adalah jemaat yang terangnya redup dan lukanya menganga terus, yang barisan depannya adalah kekacauan dan barisan belakangnya adalah kehinaan (8).

Dalam Yesus Kristus, pelayanan Sang Hamba (p.53) sudah diemban, dan Sion telah dipulihkan (pp.60–62, bdk. 61:1 dst). Pertobatan yang belum dapat diharapkan dari Israel secara keseluruhan sudah dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah yang diperlihatkan dalam kematian Kristus ke dalam hati kita (Rom 5:5–8). Kalau anugerah Allah itu belum mulai ditangkap oleh jemaat, belum ada pengharapan untuk pembaruan. Kalau mulai ditangkap, perikop ini menjadi petunjuk jalan tentang pertobatan yang sejati.


Mik 6:1-8 Dosa sebagai pengingkaran anugerah Allah [5 Feb 2014]

Januari 28, 2014

Seperti biasa saya berusaha memberi pandangan teosentris tentang perikop yang berpusat pada hal etis dalam a.8 ini. Tetapi saya juga berusaha untuk memaknai bentuknya, sebagai drama perkara dalam pengadilan. Semoga perikop ini menjadi alat Allah untuk beperkara dengan umat-Nya kembali.

Penggalian Teks

Puncak dari perikop kita adalah a.8b. Tiga hal ini—“berlaku adil”, “mencintai kesetiaan”, dan “hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu”—digambarkan dalam aa.10–12 & 16. Ada kecurangan yang membuat orang fasik berharta benda lebih oleh karena merugikan orang kecil (10–11). Hal itu merujuk pada keadilan (misypat) sebagai pengaturan masyarakat supaya semua dapat hidup sejahtera. Kesetiaan (khesed) berarti tindakan sesuai dengan relasi; kekerasan dan dusta (12) melanggar solidaritas yang semestinya dimiliki oleh segenap anggota umat Tuhan. Ayat 8b ini terkenal karena sangat jelas bahwa kita akan lebih berbahagia bila kita dapat membangun keadilan dan kesetiaan yang sedemikian.

Cukupkah sampai di situ penjelasan kali ini? Mungkin—bila Pelayan menganggap bahwa yang dibutuhkan jemaat adalah petunjuk praktis saja, bahwa terlalu berat berharap bahwa jemaat mengetahui tentang Tuhan supaya dapat lebih mengenal Tuhan. Mungkin saja jemaat beranggapan demikian—tetapi ada alasan mengapa Pelayan disebut pemimpin jemaat, bukan pengikut jemaat. Ternyata, Mikha juga menganggap bahwa Israel harus memahami siapa Tuhan, karena a.8b ini adalah puncak dari penguraian teologis.

Pentingnya soal Tuhan itu muncul dalam a.8b sendiri, karena “hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” tidak sekadar hadir dalam kebaktian-kebaktian gereja. Para pemimpin yang jahat pun rajin beragama; tetapi mereka juga menyembah dewa yang ternyata lebih menentukan, seperti raja Omri dan raja Ahab yang disebut dalam a.16. Mereka menduakan Tuhan. Dan bagaimana tidak, kalau Tuhan yang sejati tidak diperkenalkan kepada mereka? Selalu, Tuhan yang kita cari dan ciptakan dalam pemberhalaan adalah dewa pelindung, yang memaklumi kebutuhan kita untuk menipu sesama dan diharap akan meluputkan kita dari akibatnya; malahan, untuk tipe orang tertentu, dewa pelindung kita ikut menertawakan para pecundang yang kita tipu. Jadi, pokok dalam aa.1–8 ialah Allah, bukan nasihat etis.

Penguraian teologis itu disampaikan dalam bentuk drama. Dalam aa.1–2, Allah memanggil bumi sebagai pendengar perkara, mungkin seperti tua-tua kota menjadi pendengar dalam beperkara di pintu gerbang kota. Dalam aa.3–5, Allah menjadi saksi pertama: terhadap rasa jemu mereka, Dia mengingatkan mereka bahwa Dialah yang menyelamatkan mereka dari Mesir, memelihara mereka terhadap ancaman-ancaman seperti Balak, dan menyertai mereka untuk masuk ke tanah perjanjian (Sitim adalah tempat perkemahan Israel sebelum menyeberangi Yordan; Gilgal menjadi pangkalan Israel untuk menduduki tanah Kanaan). Aa.6–7 merupakan ungkapan kejenuhan Israel. Dengan bahasa yang berlebihan sehingga menjadi sindiran, Israel mengaku bahwa beribadah kepada Allah itu terlalu berat: betapa besarnya persembahan mereka, Allah tidak akan berkenan. A.8 adalah balasan Allah: yang dituntut sederhana saja, bukan persembahan yang luar biasa melainkan keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja, jika ada kemauan. Aa.9–12 mempertegas dosa Israel yang tidak berlaku adil dan mencintai kesetiaan; aa.13–15 menyampaikan vonis (hukuman) yang akan dijatuhkan ke atas Israel; dan a.16 meringkaskan dosa dan hukuman itu.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya Israel menjadi sadar kembali akan dosanya sebagai pengingkaran anugerah Allah. Dengan menangkap kembali anugerah Allah bagi mereka, mereka akan mengingat bahwa tuntutan Allah ialah menghayati anugerah itu dalam kehidupan bersama, bukan kegiatan agamawi yang hebat.

Makna

Orang Israel, seperti raja Omri dan raja Ahab, setidaknya mereka jujur: mereka menyembah beberapa dewa dengan terus terang. Sekarang, dewa pelindung itu sering kali berlabel “Yesus Kristus”, tetapi sifatnya lain dari Kristus yang sejati. Paulus dalam 1 Kor 1:18–31 mengutarakan Kristus yang sejati: Kristus yang disalibkan. Anugerah Allah kepada Israel dipertegas dan diperluas dalam Kristus, sehingga kita juga tidak memiliki alasan untuk jenuh berlaku adil dan mencintai kesetiaan, karena kita berjalan dengan Tuhan yang telah merendahkan Diri-Nya demi keselamatan kita.

Drama pengadilan yang dipakai Mikha bagi saya sudah sangat komunikatif, dan tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa teologi seperti di bangku kuliah supaya dianggap firman Tuhan yang sejati. Alurnya justru adalah pesannya: anugerah yang membongkar dalih. Pakailah perikop ini untuk membawa perkara Tuhan dengan jemaat; perhadapkan mereka dengan anugerah Allah yang membongkar dalih-dalih mereka; jangan sampai kuasa dramatisnya dikerdilkan dengan menjadi sekadar rumusan yang dijelaskan dengan ilustrasi yang justru tidak semenarik drama dalam perikop ini.

Drama itu penting, karena bahan etis dalam a.8b bukan bukti dari Alkitab akan etika Aristoteles atau Kant. A.8b adalah cara menghayati tindakan keselamatan Allah. Pola khotbah yang membuat rumusan umum yang kemudian digambarkan lepas dari bahan dramatis ini dapat memberi kesan bahwa ternyata Mikha sepaham dengan Mario Teguh bahwa kita harus menjadi orang yang baik dan saleh. Penghayatan yang dimaksud Mikha lebih dalam, karena berakar dalam karya keselamatan Allah.


1 Kor 1:10-17 Mengobati Roh Pemecah [26 Jan 2014]

Januari 21, 2014

Perikop ini termasuk yang inti maksudnya jelas. Namun, untuk dijelaskan, tetap dibutuhkan penggalian, penggalian yang melampaui apa yang tertulis supaya apa yang tertulis dapat muncul dengan lebih tajam. Jadi, ada beberapa pengandaian saya untuk melengkapi kisah yang tersirat di balik kondisi jemaat di Korintus, khususnya pengandaian bahwa golongan-golongan berdasarkan tokoh di jemaat Korintus tidak muncul dari hal-hal negatif saja, tetapi juga muncul dari pengalaman iman berkat tokoh-tokoh tersebut. Pengandaian itu membantu saya untuk membawa nasihat Paulus ke dalam salah satu konteks jemaat sekarang.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus adalah jemaat yang paling bandel dari jemaat-jemaat yang disurati Paulus. Namun, dalam bagian awal, dia tetap bisa mensyukuri karya Allah di tengah mereka (1:4–9). Tetapi menarik bahwa syukurnya tidak dilanjutkan dengan doa. Dia langsung mulai menasihati mereka.

Nasihat itu “demi nama Tuhan kita Yesus Kristus” (10a). Memang, dengan demikian Paulus merujuk pada wewenangnya sebagai rasul Kristus untuk menasihati mereka (1), dan juga pada keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka sampai kesudahannya dalam nama itu (8). Tetapi dia juga mengingatkan mereka tentang siapakah mereka. Mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus itu sebagai orang-orang yang telah dikuduskan di dalam Kristus dan dengan demikian dipanggil untuk hidup kudus (1:2). Jadi, kekacauan mereka dapat berdampak pada nama Yesus dalam dunia di sekitarnya. Sungguh penting bahwa Paulus tidak berdiam diri menghadapi kekacauan itu.

Tujuan dari nasihatnya ialah supaya mereka “seia sekata” (10b). Hal ini semestinya dipahami secara tidak kaku. Bukan perbedaan pendapat apa saja yang menjadi masalah melainkan “perpecahan”. Kata skhisma ini (dalam bentuk jamak) dalam artian harfiah dipakai untuk kondisi “retak”, bukan kondisi terputus total. Mereka masih saling berhubungan, tetapi ada retak-retak dalam persekutuan mereka. Dia mau supaya mereka dipulihkan kembali ke kondisi sehati sepikir.

Landasan untuk nasihat Paulus ini adalah laporan dari kelompok tertentu (11a). Menarik bahwa Paulus menyebut nama orang terkemuka dari kelompok itu; ternyata keluhan mereka bukan untuk menjatuhkan sehingga disampaikan secara anonim, melainkan karena keprihatinan yang tulus dan siap menanggung risiko dari keterusterangan ini.

Yang dilaporkan ialah bahwa ada perselisihan yang berpusat pada tokoh-tokoh jemaat (11b). Paulus adalah pendiri jemaat, Apolos pernah berperan dalam pertumbuhannya (“menanam” dan “menyiram”, 3:6), dan Kefas (yakni, Petrus) ternyata pernah melayani juga di sana. Barangkali, mereka masing-masing berdampak dalam kehidupan jemaat, sehingga banyak anggota jemaat ada “favoritnya”. Dan yang tidak punya favoritnya membuat satu kelompok lagi, dengan Kristus sebagai idolanya (12).

Tanggapan Paulus dimulai pada a.13, dan berlanjut sampai akhir pasal 4, bahkan pp.12–15 (tentang karunia-karunia roh dan kebangkitan) dapat dilihat sebagai puncak tanggapan Paulus terhadap kondisi jemaat itu. Perhatikan bahwa tanggapannya kristosentris. Perselisihan melanggar sopan santun budaya seperti budaya Toraja, dan walaupun budaya Yunani lebih agresif, pasti kesehatian juga dihargai. Tetapi Paulus tidak merujuk pada nilai-nilai sebagai dasar. Dia merujuk pada Kristus. Tujuan Paulus ialah nilai-nilai kesatuan di dalam jemaat, tetapi dasarnya bukan nilai melainkan Kristus.

Jadi, Paulus berbicara tentang Kristus, salib Kristus, dan baptisan dalam nama Kristus (13–16). Kristus tidak terbagi-bagi, dan golongan-golongan mereka bertolakbelakangan dengan fakta itu. Karya Kristus demi jemaat berpusat pada salib, dan itulah yang diberitakan Paulus—tetapi bukan Paulus yang disalibkan. Jika anggota jemaat terharu oleh pemberitaan Paulus dan hidupnya dijungkirbalikkan oleh berita itu, adalah tetap konyol untuk terlalu memperhatikan Paulus. Saya tidak menjadi pengikut pegawai yang memasang pengumuman jika dalam pengumuman itu saya lolos seleksi. Sama halnya, walaupun Paulus membaptis beberapa anggota jemaat, mereka dibaptis dalam nama Kristus. Baptisan menjadi lambang konkret tentang kesatuan orang percaya di dalam Kristus, suatu pengalaman yang dipegang bersama oleh jemaat di seluruh dunia. Makanya, Paulus agak kesal bahwa lambang kesatuan itu justru menjadi dalih untuk perselisihan, karena ternyata ada yang melihat ke pelaku ritusnya, bukan Sang Makna ritus itu.

A.17 menutup laporan awal ini, dan juga mengantarkan bagian berikutnya, yang mau menggali lebih dalam. Adanya kelompok “Kristus” menjadi petunjuk bahwa perpecahan itu terjadi bukan sekadar karena ada favorit-favorit, melainkan karena ada roh pemecah di antara mereka: mereka suka berkubu, bahkan sampai harus mengangkat Kristus (yang tidak pernah berkunjung kepada mereka secara jasmani) sebagai lambangnya pun. Paulus melihat bahwa hal itu terjadi karena hikmat yang dianut oleh jemaat belum disesuaikan dengan salib Kristus itu. Dalam a.17b, dia memperlawankan hikmat perkataan—hikmat yang muncul dalam kata-kata, yaitu, masuk akal, logis—dengan salib Kristus. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, jika perkataan Paulus dapat masuk akal manusia secara umum, hal itu berarti bahwa pesan tentang salib Kristus telah dilunakkan, karena konsep bahwa keselamatan bagi seluruh dunia itu terjadi melalui satu manusia di pinggir kekaisaran, atau melalui seorang Mesias yang dihina dan mati, tidak masuk akal, baik akal berasio maupun akal beragama. Bukan “Kristus” sebagai nama yang mempersatukan, melainkan Kristus yang disalibkan yang mempersatukan.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mulai meletakkan dasar untuk mengobati roh pemecah di jemaat, yaitu, Kristus yang disalibkan sebagai pemersatu yang sejati. Penjunjungan tinggi saluran berkat mengaburkan Sumber berkat yang sebenarnya, Kristus, dan menunjukkan bahwa Dia belum menjadi sumber hikmat berdasarkan salib.

Makna

Ada satu pola nasihat yang berbunyi demikian: “Bersatulah, karena kesatuan itu baik.” Tidak terlalu sulit untuk menangkap bahwa argumentasi ini agak dangkal: nilai budaya tertentu menjadi alasan untuk nilai budaya itu. Bagi Paulus, Kristus adalah dasar kesatuan, bukan nilai budaya. Pentingnya begini: kesatuan di dalam Kristus dan kesatuan di dalam budaya tentu biasanya searah, dan bagus bila bisa saling menopang. Tetapi, apakah akan selalu sama? Andaikan ada orang yang mau masuk sekolah Alkitab daripada memenuhi permintaan ambe‘-ambe’ tondok (tua-tua kampung) untuk menikah dengan pemuda di kampung. Bukankah dia akan mengganggu kesatuan masyarakat di sana? Lebih parah lagi (dilihat dari perspektif penganut adat lama) ialah orang-orang kristen yang tidak ikut dalam aspek-aspek tertentu dari sebuah upacara, karena dianggap ada pengandalan pada sumber berkat selain Allah. Justru dengan demikian, mereka merusak kesatuan dan mengancam berkat itu. Pada umumnya, banyak hal dapat menjadi pemersatu yang baik pada tempatnya, seperti keluarga atau saroan, tetapi merusak kesatuan di dalam Kristus jika diutamakan di dalam jemaat.

Namun, perselisihan yang paling mendalam seringkali muncul justru dari pengalaman iman, bukan konteks sosial. Dalam Gereja Toraja ada yang sangat dibantu oleh berbagai pelayanan khusus, seperti pelayanan mahasiswa (GMKI, Perkantas), gerakan ekumenis, dsb. Bahkan, pelayanan langsung di bawah naungan gereja (OIG, Langham, dsb) dapat menjadi tempat yang bermakna karena iman bertumbuh, kesehatian terasa, pengaderan jelas, dsb. Hal-hal itu baik, asal saluran anugerah di dalam Kristus tidak menjadi lebih menonjol daripada sumbernya. Soalnya, membangun persekutuan dengan orang yang tidak seusia, atau tidak sewawasan, atau tidak sepengalaman hidup, itu sulit. Tetapi, dasar kesatuan ialah Kristus, bukan ciri-ciri tertentu yang kita miliki bersama.

Kesatuan di dalam Kristus dilambangkan dalam ritus baptisan. Nah, budaya Barat yang membawa Injil selalu menekankan pentingnya hati: baptisan adalah ritus saja kecuali dihayati dengan tulus oleh orang yang dibaptis. Semestinya saya menganggap baptisan saya demikian. Tetapi ada bahaya kalau saya menilai baptisan sesama juga demikian: saya menilai keanggotaan mereka dalam Kristus berdasarkan hatinya, yang sebenarnya tidak mampu saya nilai. Baptisan itu sangat obyektif dan jelas. Saya mungkin pusing dengan sikap-sikap yang dinyatakan oleh nenek ini, pemuda itu, atau bahkan aktivis jemaat yang arah pelayanannya tidak jelas atau berbahaya. Tetapi, jika mereka telah dibaptis (dan masih mengaku kristen), saya harus memperlakukan mereka sebagai saudara dalam Kristus. Adalah sangat gampang untuk menilai bahwa kelompok yang tidak saya sukai itu tidak layak sebagai anggota tubuh Kristus (karena terlalu pietis/sekuler/inklusif/eksklusif/karismatik/kaku dan lain sebagainya—kreativitas otak manusia untuk menjelekkan sesamanya tiada habisnya) sehingga saya boleh saja mengabaikan mereka.

Hal itu tidak berarti bahwa saya harus menerima segala yang mereka katakan. Satu hal lagi di mana kesatuan dalam budaya bisa berbeda dengan kesatuan di dalam Kristus ialah, bahwa kesatuan dalam budaya sering menjadi penyesuaian kelompok dengan penguasa yang paling ribut dan ngotot. Kesatuan dalam Kristus harus berpatokan pada salib Kristus. Dalam hikmat salib, gengsi sudah menjadi hal yang konyol—gengsi seperti apa yang dialami Kristus ketika Dia bergantung pada salib tanpa baju sementara para musuh-Nya dapat mengolok-olok Dia dengan bebas? Orang percaya yang mengejar gengsi seakan-akan belum pernah sungguh-sungguh memandang Kristus yang sebenarnya. Tetapi, biar yang sudah menangkap itu menjadi teladan dalam kerendahan sama seperti Paulus. Paulus merendahkan diri di hadapan jemaat Korintus yang bandel itu bukan dengan menyesuaikan diri dengan keinginan mereka, melainkan dengan memperlakukan mereka sebagai orang percaya yang di dalamnya Allah sudah dan tetap berkarya. Nasihatnya yang cukup keras adalah bagian dari kerendahan hati dan pengharapan Injili Paulus terhadap mereka.


Yes 49:1-7 Peran hamba Tuhan dalam rencana Allah [19 Jan 2014]

Januari 16, 2014

Perikop ini berbicara tentang hamba Tuhan. Pada awal tahun 2014 ini, saya mengucapkan selamat kepada rekan-rekan mantan proponen yang sementara diurapi untuk mengawali tugas sebagai pendeta. Semoga firman ini menguatkan kita semua untuk setia dan terarah dalam pelayanan.

Penggalian Teks

Perikop kita sering dikaitkan dengan 42:1–9, 50:4–9, dan 52:13–53:12, yang berbicara tentang seorang hamba Tuhan, dan kadangkala 61:1–4, yang juga menyebutkan pengurapan Roh. PB dengan jelas mengaitkan p.42, p.53 dan p.61 dengan Yesus, sehingga kita mungkin menganggap bahwa hamba itu bernubuat tentang Yesus saja. Tetapi, dalam Kis 13:47, Paulus dan Barnabas menerapkan nubuatan dalam perikop kita kepada diri mereka, bukan kepada Yesus. Kemudian, paling sedikit dalam pp.41–48, Israel adalah hamba Tuhan, yang dipanggil untuk menjadi saksi tentang karya Allah di tengah bangsa-bangsa (43:10). Jadi, sebaiknya kita melihat konsep hamba Tuhan ini pertama-tama sebagai peran. Israel dipanggil untuk berperan sebagai hamba dan menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, tetapi dalam p.48, Israel ternyata tidak sanggup, sehingga dalam perikop kita ada individu yang dipanggil untuk menunaikan peran itu (dalam tafsiran ini, a.3 dilihat sebagai pengalihan tugas, karena a.5 tidak masuk akal jika peran hamba tetap dilakukan oleh Israel).

Dalam a.1, nubuatan ini dialamatkan kepada pulau-pulau, bangsa-bangsa yang jauh. Mereka sudah muncul dalam 42:1, 4, 6 (hal itu salah satu alasan mengapa perikop ini dikaitkan dengan perikop itu), dan akan muncul lagi dalam a.6b. Sebelumnya, ada kisah hamba Tuhan ini (1b–4). Ia dipanggil dari kandungan (1b), dan perkataannya menjadi senjata Tuhan (pedang, anak panah) yang siap dipakai (dalam naungan tangan, dalam tabung) (2). Dalam a.3, tujuan dari senjata itu adalah menyatakan keagungan Tuhan, dengan menunaikan peran Israel sebagai hamba Tuhan. A.4 menyampaikan keluhan hamba ini. Sama seperti Israel, dia merasa tidak ada hasil dari jerih payahnya, tetapi, berbeda dengan Israel, dia yakin bahwa Tuhan tetap menjamin haknya (bdk. ucapan Israel dalam 40:27, “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku”).

Aa.5–6 merupakan respons atau janji Tuhan terhadap kepercayaan hamba itu. A.5a dan a.6a menegaskan tugas pokok hamba ini sebagai pemulihan Israel, tetapi a.6b memperluas tugas itu sampai ke ujung bumi. Oleh karena itu, kekecilan hati yang disampaikan dalam a.4 diobati dengan kuasa dan kemuliaan dari Tuhan (5b).

A.7 (yang pada hemat saya adalah awal dari aa.7–13, bukan akhir dari aa.1–7) mengembangkan tema-tema itu dengan bangsa-bangsa pada awalnya menghina hamba Tuhan kemudian memberinya hormat, karena karya Allah di dalamnya. Aa.8–13 kemudian kembali ke tugasnya untuk memulihkan Israel. (Dalam a.8 “engkau” tetap maskulin, dan belum merujuk ke Sion, seperti kesannya dari judul LAI.)

Maksud bagi Pembaca

Sebagai penduduk “pulau-pulau”, kita memperhatikan dengan syukur bahwa terang keselamatan Allah telah sampai kepada kita—atau dengan pertobatan jika kita masih menghinakan Kristus atau hamba-hamba-Nya seperti dalam a.7a. Sebagai hamba-hamba Tuhan, kita dikuatkan bahwa rencana Tuhan untuk memulihkan umat-Nya dan membawa terang keselamatan ke ujung bumi akan terwujud, meskipun secara manusiawi hasil jerih payah kita sedikit.

Makna

Hamba Tuhan diberi dua tugas pokok: memulihkan Israel, dan membawa terang bagi bangsa-bangsa. Jika kita mencermati PB, justru fokus Yesus adalah memulihkan Israel, termasuk sebagai puncaknya, kematian dan kebangkitan-Nya yang dinubuatkan dalam Yesaya 53. Bandingkan saja Mt 10:6, “pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”, dengan Mt 28:19, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. Kedua kali ini Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya. Apa bedanya? Dia telah mati dan bangkit! Dia telah memulihkan Israel dari dosa dan mengalahkan maut, sehingga keselamatan Allah sudah siap untuk diberitakan. Hanya, ternyata bukan Yesus yang melakukannya. Dia adalah terang dunia, tetapi tugas untuk membawa berita itu ke ujung bumi diberikan kepada murid-murid-Nya. Makanya, Paulus menerapkan Yes 47:6b ini kepada dia dan Barnabas. Tentu, pembagian tugas hamba Tuhan ini tidak kaku. Yesus melayani beberapa orang non-Yahudi, dan Paulus selalu mencari orang Yahudi lebih dulu ketika dia mau memberitakan Kristus di sebuah tempat—karena suatu prinsip teologis, menurut Rom 1:16b.

Hal itu melihat nubuatan ini dari perspektif penggenapannya dalam karya Kristus. Kita juga bisa melihat bahwa peran sebagai hamba Tuhan tidak selesai pada saat itu. Hamba-hamba Tuhan dalam PB pada umumnya merujuk pada para pelayan seperti Paulus (Kis 13:47 di atas, Rom 1:1), tetapi juga bisa diterapkan kepada semua orang percaya (1 Pet 2:16), karena semua orang percaya dipanggil untuk melayani. Peran itu akan merujuk pada penggembalaan jemaat untuk bertumbuh dalam keselamatan yang didatangkan oleh karya Kristus, dan juga pemberitaan keselamatan itu ke luar. Sepertinya, tidak ada harapan bahwa pelayanan seperti itu akan mudah. Sebaliknya, kita hanya akan bertahan dalam pelayanan yang sejati jika Allah yang memanggil dan berjanji adalah pusat perhatian kita, karena hasil di depan mata tidak terjamin.


Yes 12:1-6 Sukacita karena keselamatan [29 Des 2013]

Desember 23, 2013

Perikop ini cocok untuk mengakhiri renungan-renungan Adven dan Natal. Saya akan istirahat 2–3 minggu dari blog ini, jadi saya mengucapkan, “Merry Christmas and a Happy New Year”.

Penggalian Teks

Yesaya 11 (dibahas di sini) menceritakan keselamatan Israel dari pembuangan oleh karena “tunas…dari tunggul Isai” (11:1), yakni, Mesias. 11:1–5 menceritakan sifat Mesias itu, sehingga ada damai di seluruh ciptaan (11:6–9), dan sisa-sisa umat Israel dapat berhimpun kembali di tanah perjanjian (11:10–16). Perikop kita adalah respons (a.1 “pada waktu itu”) umat Allah yang telah diselamatkan. Aa.1–2 memakai kata “engkau” (tunggal maskulin), mungkin merujuk pada Yehuda sebagai bangsa yang diselamatkan, tetapi aa.3–5 memakai kata “kamu” untuk menyoroti respons seluruh umat. A.6 menempatkan umat sebagai penduduk Sion.

Keselamatan dalam aa.1–2 adalah keselamatan dari murka Allah, sesuai dengan janji dalam 10:24–25 (bdk. “janganlah takut” dan “amarah-Ku atasmu akan berakhir”). Pembuangan yang dialami Israel dilakukan oleh negara-negara seperti Asyur, tetapi di balik semua itu adalah Allah yang didurhakai oleh pemberhalaan dan ketidakadilan Israel (1a). Kesadaran akan tepatnya murka Allah itu disertai dengan syukur bahwa masa itu sudah berlalu. Pada zaman keselamatan, Yehuda dapat percaya dengan tidak gemetar (2). Sikap itu disertai dengan menimba dari mata air keselamatan (3). Yesaya 7–8 diwarnai oleh usaha bangsa Yehuda untuk menimba keselamatan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, dan bukan dari Allah. Sekarang, Allah akan menjadi tempat pertama umat-Nya bergantung, bukan tempat terakhir setelah semua berhala yang lain telah gagal.

Dalam aa.4–5, kepercayaan umat Allah meluap dalam panggilan untuk memuji Allah, bahkan sampai bangsa-bangsa—barangkali termasuk bangsa-bangsa yang menindas Israel. Pemberitahuan kepada bangsa-bangsa tentang perbuatan keselamatan Allah adalah satu cara untuk memuji (“masyhurkanlah”) nama-Nya. Umat Allah tidak akan malu lagi tentang Allah yang mereka sembah.

Jika dalam aa.1–3 umat Allah percaya pada keselamatan Allah, dan dalam aa.4–5 memiliki keberanian untuk memberitahukan karya Allah kepada bangsa-bangsa, dalam a.6 puncak sukacita Sion adalah hadirat Allah di tengah-tengah mereka sebagai Allah yang agung.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai umat yang telah diperdamaikan kembali dengan Allah, umat Allah menyatakan sukacitanya dengan bersyukur, mengandalkan keselamatan dari Allah, dan memuji nama-Nya kepada bangsa-bangsa.

Makna

Pada upacara-upacara pemerintahan, ada kesan bahwa bahasa seperti “hadirin yang berbahagia” dibuat-buat, karena, ketika Pancasila dibacakan, misalnya, jarak antara ucapan dan realita terasa jauh. Gejala yang sama bisa juga muncul dalam upacara gerejawi, bilamana kita merasa kecewa terhadap Tuhan. Berulangkali diucapkan bahwa Tuhan itu baik, tetapi alasannya menyangkut pemeliharaan Allah (“karena kita semua bisa berhimpun/bangun dengan sehat/pulang dengan selamat”) dan bukan keselamatan. Hal itu tidak salah, tetapi pada hemat saya membingungkan. Jika bangun dengan sehat adalah bukti kasih Allah, bagaimana kalau saya bangun dengan tidak sehat? Dalam dunia riil, ada orang percaya yang dikerasi, dibunuh secara sadis, kehilangan anak, menjadi pengungsi, dan banyak lagi. Jika pemeliharaan Allah adalah mata air yang daripadanya kita menimba kepercayaan untuk menghadapi kehidupan ini, kita akan bingung. Tetapi mata air itulah yang ditimba terus-menerus dalam doa dan ucapan, demikian pengamatan saya.

Orang-orang dalam PB sepertinya memiliki akar yang kuat karena mereka menimba air dari mata air keselamatan. Paulus bisa ditangkap, dicambuk dsb, dan tetap bersukacita dalam Tuhan. Mengapa? Karena dalam Kristus, dia tahu bahwa murka Allah telah surut. Allah menanggung murka-Nya dalam diri-Nya sendiri (karena Kristus adalah Allah Anak), sehingga murka itu tuntas dilampiaskan; tidak ada sisanya lagi bagi orang yang percaya kepada Kristus (bdk. Rom 5:9–10; Rom 8:1). Dunia dihadapi dengan keyakinan akan kekuatan dan keselamatan Allah, bahkan di tengah kekacauan dan penderitaan (Rom 8:31–39). Tentu, dia yakin akan pemeliharaan Allah, tetapi karena keselamatan dalam Kristus. Kematian Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah mengasihi kita; kebangkitan Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah memiliki rancangan yang baik bagi dunia ini.

Oleh karena itu, Paulus tidak malu berbicara tentang Kristus. Dia yakin bahwa karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah sesuatu yang selayaknya diberitahukan kepada siapa saja. Jemaat-jemaat perdana mampu memasyhurkan nama Yesus karena keyakinan mereka bahwa Yesus ada di tengah-tengah mereka—dengan agung. Pada upacara tongkonan yang berhasil, keluarga merasa bangga dan berbobot karena ada keagungan keluarga tampak bagi semua yang hadir, dan mereka tidak akan malu-malu memberitahukannya. Jemaat-jemaat perdana merasa sama karena hadirat Kristus di tengah-tengah mereka—hidup mereka bermakna dan berbobot oleh karena Dia.


Zak 9:9-10 Kedatangan Raja membawa sorak-sorai [22 Des 2013] (Minggu Adven IV)

Desember 18, 2013

Tema Adven muncul kembali, dan walaupun nas ini pendek, ada makna yang mendalam yang bisa digali daripadanya. Semoga jemaat dituntun untuk menyambut Raja yang lemah lembut dengan tepat.

Penggalian Teks

Yehuda (kerajaan selatan Israel) dibuang di bawah kekuasaan bangsa Babel kurang lebih 586 SM. Pada tahun 538 SM, Babel ditaklukkan oleh kerajaan Persia, dan orang-orang Israel dapat mulai kembali ke tanah Israel. Tetapi, perlawanan dari penduduk setempat menghalangi pembangunan Bait Allah, dan baru pada tahun 520 SM, dengan dorongan nabi Hagai dan Zakharia dan dukungan dari raja baru Darius, pembangunan dimulai (Ezr 5:1). Zak 1–8 disampaikan dalam konteks itu. Tentang Zak 9–14 tidak ada petunjuk waktu. Tetapi, mengingat bahwa ketika Israel kembali dari pembuangan, janji-janji yang agung dari nabi-nabi seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel belum terwujud, pasal-pasal ini dapat dilihat sebagai semacam penegasan bahwa rencana Allah masih berlaku.

Zak 9–14 berpuncak dengan “Tuhan menjadi Raja atas seluruh bumi” (14:9). Makanya, Yesus, yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah, menggunakan pasal-pasal ini untuk menjelaskan misi-Nya, termasuk dengan sengaja menggunakan keledai untuk masuk ke kota Yerusalem, sesuai dengan nas kita. Nas kita disampaikan setelah pemberitaan tentang hukuman Allah kepada bangsa-bangsa terdekat Israel (9:1–7), untuk membela Israel (9:8). Setelah nas kita ada pemberitaan tentang pemulihan Israel (Yehuda dan Efraim) yang kemudian dipakai Tuhan terhadap orang-orang Yunani (9:13).

Sion (bukit tempat Bait Allah di Yerusalem) dipanggil untuk bersorak-sorai karena kedatangan raja. Raja itu adil (tsadiq = benar) dan jaya (nosya’ [bentuk Nifil] dari hosyia’ = menyelamatkan, akar dari nama Yesus; bentuk Nifil menunjukkan “sudah selamat”). Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya, raja ini telah menang atas musuh-musuh Allah. Namun, ternyata dia datang dengan “lemah lembut” (9b). Kata ’ani berarti miskin, artinya, dalam kondisi sangat bergantung kepada orang lain atau Allah untuk hidup. Terjemahan “lemah lembut” menangkap maksudnya di sini, karena seorang raja yang berjaya sekaligus bergantung dalam kemiskinan tampaknya tidak masuk akal—sampai kita melihat Yesus yang membawa bentuk baru dari Kerajaan Allah. Sebagai raja yang lemah lembut, dia datang dengan tujuan untuk menegakkan damai di dalam Israel (bdk. Mik 5:10), yang kemudian diberitakan kepada bangsa-bangsa (10a). Namun, kerendahan raja dalam nas ini tidak mengurangi kuasanya. Wilayah yang disebutkan dalam a.10b dikutip dari Mzm 72:8, dan merupakan harapan yang terkait dengan raja-raja Israel, dan yang melebihi janji semula kepada Israel (Kel 23:31), karena mencakup seluruh bumi.

Dilihat dalam konteksnya, a.10 adalah pengharapan yang tidak dimaksudkan untuk langsung terwujud, karena Israel masih berperang dalam 9:13. Jika kita melihat ayat ini dalam konteks masuknya Yesus ke Yerusalem, Dia memang telah berjaya atas Iblis, setan-setan, penyakit, dosa dan maut dalam bentuk-bentuk sementara, tetapi kemenangan-Nya yang penuh akan dilaksanakan ketika Dia disalibkan dan dibangkitkan kembali. Ketegangan yang terjadi antara a.10 dan 9:13 (dan antara “jaya” dengan “miskin” dalam a.9) hilang dalam PB, karena perjuangan kita bukan melawan darah dan daging (Ef 6:12). Zaman damai, waktu Kristus datang kembali, masih dinantikan, tetapi zaman itu sudah menentukan cara perjuangan kita.

Maksud bagi Pembaca

Dalam nas ini, Allah memberi kita dua alasan untuk bersorak-sorak menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Yang pertama, Dia telah berjaya dengan adil atas musuh-musuh Allah, terutama Iblis, dosa dan maut, dan akan berkuasa atas seluruh bumi dalam dunia baru. Yang kedua, Dia berjaya sebagai raja yang merendahkan diri, yang menggunakan keledai untuk menyatakan diri-Nya sebagai raja, karena Dia akan diteguhkan sebagai raja di atas salib. Dengan demikian, Dia berkuasa atas kerajaan yang membawa damai. Semua itu menjadi alasan bagi kita, karena Dia datang kepada kita umat-Nya (“kepadamu”).

Makna

“Ia adil dan jaya” menunjukkan bahwa kejayaan Kristus bermaksud untuk menegakkan keadilan, atau struktur relasi dalam umat dan dunia yang baik dan tepat (demikian artian dasar dari kata tsadiq yang dipakai di sini). Dalam visi Zakharia, kejayaan ditafsir ulang: bukan lagi kekayaan dan kuasa senjata, melainkan kerendahan dan damai. Kita sebagai jemaat ada di antara zaman PL di mana kuasa senjata dipakai Tuhan, dan dunia baru di mana semuanya memang akan sudah berlalu. Bagaimana kedudukan kita, kalau begitu?

Jika kita meninjau sejarah Israel, mereka mencapai damai melalui perang. Israel diserang oleh musuh-musuhnya, dan dengan kuasa Tuhan Israel dapat menang dan aman. Raja Daud termasuk yang paling ahli berperang. Namun, sebelum menjadi raja, dia juga mengalami masa sebagai orang yang tidak memiliki kedudukan, dan di dalam kitab Mazmur kita melihat bahwa Daud pun sering “’ani”, dalam kesusahan dan hanya dapat bergantung kepada Allah (misalnya, Mzm 22:15, 25:16, “orang yang tertindas”). Damai menjadi tema dalam kitab Yesaya (Yes 9:5), tetapi baru dengan hamba Tuhan (Yesaya 53), kita melihat bahwa damai itu akan dicapai melalui kerendahan. Jika kita melihat darah perjanjian dalam 9:11, “dia yang telah mereka tikam” dalam 12:10, dan “sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran” dalam 13:1, kita bisa memahami dalam terang Kristus bagaimana PB menafsir Zakharia 9–14 ini sebagai penyataan tentang cara baru Allah mendatangkan Kerajaan Allah dalam Kristus, suatu cara di mana kerendahan demi orang lain (pengorbanan) justru menjadi salah satu senjata utama.

Jadi, visi nas ini mulai berlaku bagi jemaat. Jika dalam nas kita, damai itu mulai dengan umat Allah, dalam PB, tugas jemaat adalah mewujudkan damai di dalam persekutuan, kemudian memberitakan Raja Damai kepada orang-orang di luar jemaat. Seperti dalam Fil 2:1–11, damai itu terwujud dengan menyerap sikap Raja Damai itu. Sikap itu tidak lemah lembut dalam artian paternalistik—tua-tua gereja berbicara dengan sopan tetapi memegang kendali kuasa dengan erat—tetapi dalam artian sungguh merendah diri. Jika bentuk modern kereta dan kuda adalah, misalnya, kedekatan dengan pemerintah dan banyak asetnya, maka ada bahaya bila gereja-gereja mapan memberitakan Raja Damai yang ’ani, tetapi yang dilihat orang ialah lembaga yang mapan.

Sorak-sorai umat Allah muncul bilamana kita mulai mengalami, bahwa jalan kerendahan yang mengikuti Raja yang lemah lembut ini adalah cara menjadi manusia yang lebih baik daripada pencarian kedudukan, dan lebih lagi bahwa cara itu adalah masa depan dunia. Yesus akan menjadi Raja atas dunia yang baru, dan pada saat itu, kejayaan model lama tidak akan berarti lagi!


Yeh 36:22-38 Allah bertindak demi Allah [15 Des 2013] (Minggu Adven III)

Desember 10, 2013

Perikop ini agak panjang, dan saya berharap bahwa strukturisasi di bawah membantu untuk menangkap alurnya. Saya juga berharap bahwa ciri khas teologi Yehezkiel dapat ditangkap. Firman Tuhan tidak selalu berbunyi sesuai dengan dugaan kita, dan kesetiaan kita sebagai pelayan firman termasuk mengikuti semangat teks yang ada.

Penggalian Teks

Pasal 36 ini, yang disampaikan setelah kejatuhan Yerusalem (33:21), menjanjikan keselamatan bagi Israel dengan cara yang sengaja merendahkan mereka. Nubuatan ini dimulai dengan mengalamatkan bukan kepada bangsa Israel melainkan tanah Israel (36:1–15). Tanah itu dicela dan juga diingini oleh bangsa-bangsa di sekitarnya, sehingga penduduknya dibuang, tetapi akan aman, ramai dan subur kembali. Dalam 36:16–19, ternyata bangsa Israel sendiri yang menajiskan tanah Israel dengan kekerasan dan pemberhalaan, sehingga mereka dibuang. Tetapi hal itu menimbulkan masalah bagi Tuhan, karena nama-Nya dinajiskan oleh mereka, karena bangsa-bangsa mempertanyakan Tuhan dengan melihat bangsa-Nya dibuang (36:20–21). Aa.22–32 menegaskan kerendahan Israel dengan pernyataannya yang diulang bahwa “bukan karena kamu Aku bertindak” (22, 32). Aa.32–36 menubuatkan hasil dari pemulihan Allah, yaitu tanah pulih kembali dan bangsa-bangsa mengetahui tindakan keselamatan Allah terhadap Israel (35–36). Dalam aa.37–38, Tuhan mau supaya Israel meminta pemulihan kepada-Nya, supaya Israel juga mengakui tindakan keselamatan Allah. Dalam pasal ini (dan dalam kitab Yehezkiel seluruhnya), Allah bukannya mau disukai karena kasih-Nya kepada Israel melainkan mau dihormati dengan pengakuan yang mendalam dari Israel akan kesalahannya. Hanya dalam a.28 ada petunjuk tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya.

Aa.22–32 merupakan serangkaian tindakan Allah: “Aku akan…” diulang sembilan kali. Jika Allah bertindak bukan karena Israel, dalam aa.22–23 alasan yang sebenarnya ialah supaya bangsa-bangsa yang mempertanyakan Tuhan mengetahui siapa Allah, dan dalam aa.31–32 supaya Israel merasa malu. Tindakan Allah yang pertama disebut mencakup seluruhnya, yaitu, Allah menguduskan nama-Nya (23). Semua tindakan selanjutnya dilakukan karena kepentingan Allah ini, bukan karena kepentingan Israel. Aa.24–30 menubuatkan sebuah kisah: Allah akan mengembalikan Israel dari pembuangan (24) dan mengubah hati mereka (25–27) sehingga mereka menjadi umat-Nya di tanah perjanjian (28). Dengan Israel disucikan, akan ada berkat kesuburan ganti kelaparan sebagai kesaksian bagi bangsa-bangsa (29–30). Kembali, Israel dibuat malu oleh anugerah Allah, sama seperti perikop Yeh 16:53–63 minggu yang lalu.

Jadi, pemulihan Israel di sini utuh, termasuk tanah dan kesuburan. Tetapi kuncinya adalah pembaruan hati Israel. Yang menarik ialah bahwa hal itu dikerjakan oleh Allah. Kalau air yang mentahirkan (25), kita dapat memahami bahwa hanya Allah yang dapat menyatakan manusia tahir di hadapan-Nya, yakni, layak untuk masuk ke dalam hadirat-Nya dan beribadah kepada-Nya. Tetapi hati dan roh (26) adalah inti seorang manusia. Hati yang keras (harfiah: “hati batu”) diganti dengan hati yang taat (harfiah: “hati daging”); batin manusia dimasuki Roh Allah (26a) sehingga Israel dibuat taat (26b). Allah tidak bisa mengharapkan kerja sama dari Israel, sehingga Dia harus bertindak sepihak untuk mengubahkan mereka. Hanya dengan demikian mereka bisa menjadi umat Allah dan Allah menjadi Allah mereka, suatu rumusan yang sering terdapat beberapa kali dalam Alkitab (pertama kali dalam Kel 6:6; banyak lagi dalam PL; dalam kitab Yehezkiel: Yeh 11:20; 14:11; 37:23, 27; dalam PB: 2 Kor 6:16; Ibr 8:10; Why 21:3) untuk menyampaikan tujuan atau cita-cita Allah dalam rencana keselamatan.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau menuntun Israel yang telah dipukul dengan keras oleh kejatuhan Yerusalem kepada pengharapan yang terpusat hanya pada Allah, baik untuk kembalinya Israel ke tanah perjanjian, maupun untuk pembaruan hati dan pemulihan tanah. Kita yang telah dikembalikan dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan Kristus juga perlu berharap hanya pada pembaruan hati oleh Roh Kudus, supaya kita berbuah bagi kemuliaan Allah.

Makna

Ketegaan Allah dalam kitab Yehezkiel adalah hal yang sulit ditangkap. Tidak ada pernyataan kasih dari Allah dalam kitab ini, sebaliknya lima kali Allah mengatakan bahwa Dia tidak akan merasa sayang atau mengenal belas kasihan (Yeh 5:11; 7:4, 9; 8:18; 9:10). Jadi, khotbah dari perikop kita yang berbicara tentang kasih Allah sudah melenceng dari maksud teks. Tentu, teologi yang dibangun hanya atas kitab Yehezkiel akan berat sebelah: kita juga harus mendengar nabi Hosea berbicara tentang kerinduan Allah bagi isterinya Israel, atau Yesaya menyampaikan penghiburan dari Allah bagi umat-Nya. Namun, pesan Yehezkiel penting didengar. Yang pertama, Allah lebih penting daripada manusia. Yang kedua, pemulihan tanpa kesadaran akan dalamnya dosa tidak ada gunanya. Menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada saya adalah salah satu hal mendasar dalam menjadi orang yang dewasa, dan menghadapi kenyataan dalam diri saya adalah salah satu hal mendasar lagi. Yehezkiel menuntut pertobatan yang dewasa, yang siap mengutamakan kepentingan Allah di atas kepentingan sendiri.

Tetapi, bagaimana mungkin manusia berdosa dapat mencapai pertobatan seperti itu, yang sungguh menghormati Allah? Hal itu tidak mungkin. Makanya, Allah yang harus turun tangan, menjadi pelaku dan pelaksana perubahan dalam diri umat-Nya. Apakah dengan demikian, kehendak bebas manusia digilas? Dari satu segi, pertanyaan ini keliru. Jika kehendak bebas itu digilas, sebenarnya itu kehendak yang selalu memilih untuk menomorduakan Allah. Tetapi, tetap ada pertanyaan, jika hati saya yang keras diganti dengan hati yang taat, apakah itu masih saya yang menaati, ataukah saya sudah menjadi orang lain? Artinya bahwa janji Allah ini sebenarnya berarti kematian bagi manusia lama, yang digantikan dengan manusia baru, atau, dalam bahasa PB, di dalam Kristus kita menjadi “ciptaan baru” (2 Kor 5:17) yang “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (Ef 2:10). Itulah awal dari pertobatan yang sejati, baik dalam Yehezkiel maupun dalam PB. Diri saya hanya layak untuk diganti, begitu rendah kedudukan saya di hadapan Allah. Bahwa “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mt 10:39), bahwa manusia baru itu ternyata diri saya yang sebenarnya, bahwa Roh Kudus memulihkan kehendak bebas saya supaya saya dapat memuliakan Allah dengan sejati, itulah anugerah belaka dari Allah.

Nubuatan Yehezkiel ini digenapi secara parsial ketika Israel mulai kembali dari pembuangan pada tahun 539 SM, kurang lebih setengah abad setelah nubuatan Yehezkiel. Ada keseriusan yang berkembang di antara banyak orang Yahudi untuk taat kepada Allah. Tetapi, orang Farisi dalam PB menjadi contoh klasik bagaimana usaha untuk taat belum tentu membawa kekudusan hidup. Yesuslah yang membawa pentahiran yang sungguh-sungguh dalam kematian-Nya, dan membuka hidup sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan-Nya. Di dalam Dia, nama kudus Allah dipulihkan, dan banyak dari bangsa-bangsa jadi mengenal Allah. Tetapi, di mana negerinya yang dijanjikan (28)? Di mana kesuburan tanah itu (29–30)? Kita harus mengingat bahwa Yesus meneguhkan janji-janji ini, dengan mengutip Mzm 37:11 bahwa orang lemah lembut akan memiliki (mewarisi) bumi (Mt 5:5). Hanya, penggenapannya pada akhir zaman, ketika ada langit dan bumi yang baru. Pada saat itu, pembaruan hati akan tuntas, dan tubuh kita akan menjadi tubuh rohani yang peka terhadap Roh Allah (1 Kor 15:44). Adalah penting untuk mengingat bahwa rencana Allah menyangkut tanah dan lingkungan, bukan hanya hati. Namun, untuk sementara, panen utama adalah manusia (Mt 9:37) dan perubahan hidup (Gal 5:22–23).


Yeh 16:53-63 Anugerah membongkar kecongkakan hati [8 Des 2013] (Minggu Adven II)

Desember 3, 2013

Perikop ini tidak mudah ditangkap, dan kalau Pembaca merasa bingung membacanya, hal itu mungkin tanda positif bahwa Pembaca tidak puas dengan menangkap satu dua kata lalu berkhotbah. Sulitnya karena perikop ini adalah puncak dari satu nubuatan yang utuh dalam Yehezkiel 16, dan nubuatan itu merupakan penafsiran dalam bentuk kiasan atas sejarah Israel di hadapan Allah. Jadi, jika sejarah tidak diketahui, atau kiasannya tidak dipahami, atau konteks dalam p.16 ini tidak dilihat, maknanya akan kabur. Perikop ini menuntut kerja keras, tetapi upahnya setimpal.

Penggalian Teks

Yehezkiel bernubuat di sekitar penghancuran kota Yerusalem oleh negara adikuasa Babel (tahun 587/586 SM) sebagai akhir dari sejarah kerajaan Israel, kurang lebih 130 tahun setelah penghancuran kota Samaria (ibu kota kerajaan utara) oleh negara adikuasa Asyur. Kuasa Babel sudah sangat mengancam pada zaman Yehezkiel, dan dia sendiri menjadi bagian dari rombongan yang diangkut ke Babel kurang lebih 11 tahun (33:21) sebelum kehancuran Yerusalem (2 Raj 24:14). Jadi, dia bernubuat di perkemahan orang Israel yang dekat Babel itu (1:1). Selama kurang lebih tujuh tahun, dia menyampaikan bahwa Yerusalem akan jatuh, dan bahwa kejadian yang malang itu merupakan tindakan Allah untuk menghukum Israel karena dosanya. Nubuatan-nubuatan itu dikumpulkan dalam pp.1–24, termasuk perikop kita. Kemudian, pp.25–32 memuat berbagai nubuatan terhadap bangsa-bangsa yang ikut menghancurkan Yerusalem, sebagai pertanda bahwa Allah akan bertindak demi Israel. Setelah berita tentang kejatuhan Yerusalem sampai di perkemahan orang Israel (33:21), Yehezkiel menubuatkan rencana keselamatan Allah, termasuk perikop untuk minggu depan (Yeh 36:22–38). Pasal 16 menarik karena pola itu diikuti pada skala kecil: 16:1–52 menyampaikan dosa Israel dan hukuman Allah, sedangkan perikop ini menyampaikan pemulihan yang akan terjadi setelah hukuman itu. Karena hukuman Allah itu pembuangan Israel ke Babel, keselamatan itu secara konkret menubuatkan kembalinya Israel dari pembuangan (sebagaimana diceritakan dalam Ezra 1–6, misalnya). Tentu, makna teologisnya lebih luas, sebagaimana akan dibahas di bawah.

Yehezkiel 16 menyoroti kota Yerusalem, yang baru menjadi bagian dari Israel ketika direbut oleh Daud (2 Sam 5:6–7). Pasal ini menggunakan sebuah kiasan panjang di mana perempuan mengiaskan kota dan laki-laki mengiaskan bangsa asing serta dewanya, dan juga Allah. Dalam 16:1–14, Yerusalem ibarat perempuan yang diabaikan yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai isteri sehingga menjadi seperti ratu (bdk. kejayaan masa Salomo). Tetapi, Yerusalem membalas kebaikan Allah dengan bersundal, yaitu, menyembah dewa-dewa asing (16:15–24) dan mengandalkan bangsa-bangsa lain (16:25–31). Kehancuran martabat Yerusalem disampaikan melalui sindiran bahwa Yerusalem membayar untuk bersundal (mempersembahkan anak kepada dewa, 16:20, membayar upeti kepada bangsa-bangsa), artinya, martabatnya di bawah perempuan sundal yang paling sedikit menuntut untuk dibayar (16:32–34).

Dengan demikian, pastinya dan dahsyatnya hukuman Allah sudah bisa disampaikan dengan merujuk pada geramnya seorang suami yang dikhianati (16:35–43; bagian ini sama sekali tidak dimaksud sebagai usul bagi suami-suami, tetapi sebagai gambaran yang mengejutkan tentang serangan yang akan menimpa Yerusalem justru dari bangsa-bangsa yang dengannya dia bersekutu).

Tuduhan terhadap Yerusalem diperkuat dengan memperkenalkan dua kakak perempuan Yerusalem, yakni kota Samaria dan kota Sodom (ingat bahwa perempuan = kota). Setiap kota ini pernah memiliki anak-anak perempuan, yaitu, kota-kota kecil yang bergantung pada “ibu” kota itu. Nama Sodom, kota yang dilenyapkan oleh api Tuhan pada zaman Abraham, identik dengan kejahatan, dan Samaria juga dikenal sebagai kota yang dihancurkan karena hukuman Allah, tetapi Yerusalem lebih jahat lagi (16:44–52).

Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kata “tetapi” di awal perikop kita cukup bermakna. Pemberitaan Yehezkiel dalam 16:1–52 tidak memberi pengharapan sama sekali, tetapi tiba-tiba ada janji akan pemulihan (53–58) dan peneguhan perjanjian (59–63). Soal pemulihan itu disampaikan dua kali (53–54, 55–58). Samaria dan kota-kota kerajaan utara, serta Sodom dan daerah di sekitarnya akan dipulihkan, dan Yerusalem juga akan dipulihkan ke keadaan sebelumnya (53, 55), artinya, kembali dari pembuangan.

Tujuannya supaya Yerusalem menjadi malu (54). Aa.56–57 menggambarkan kecongkakan Yerusalem dalam sikap “sok suci” terhadap Sodom. Tetapi pemulihan Yerusalem akan memampukannya untuk “menanggung” nodanya (54, 58). Lepas dari konteks ini, “menanggung noda” bisa saja merujuk pada hukuman, tetapi di sini Allah berbicara tentang pemulihan setelah hukuman. Jadi, saya mengartikan bahasa ini sebagai semacam tanggung jawab terhadap dosa. Yerusalem akan menyadari dan menerima tanpa dalih bahwa dosanya muncul dari kebobrokan yang dalam dan memalukan; nodanya akan ditanggung, bukan dilemparkan kepada pihak yang lain.

Pemulihan itu akan terjadi terkait dengan peneguhan perjanjian, yang juga disampaikan dua kali (60–61, 62–63), setelah a.59 yang justru menimbulkan dugaan bahwa Allah akan meniadakan perjanjian-Nya dengan Yerusalem sama seperti Yerusalem telah mengingkarinya. Tetapi, tujuannya sama dengan pemulihan tadi: Allah akan bertindak dengan anugerah yang tak terduga (a.60c, perjanjian kekal; a.61b, Samaria dan Sodom akan ada di bawah kuasa Yerusalem, dalam 37:15–28 hal itu berarti pemersatuan bangsa Israel; a.63b pendamaian) untuk membuat Israel teringat akan dosanya dan terdiam (61a, 63a). Anugerah di hadapan dosa mereka akan menyadarkan mereka tentang siapakah Allah itu (62b).

Maksud bagi Pembaca

Allah ingin supaya umat-Nya bertanggung jawab sepenuhnya atas dosa mereka yang memalukan, dan membangun kesadaran itu melalui pemulihan dan peneguhan perjanjian yang untuknya mereka sama sekali tidak layak. Anugerah yang tak terduga itu yang akan membongkar kecongkakan hati mereka, sehingga mereka mulai mengenal Tuhan.

Makna

Di mana kita dalam perikop ini? Nubuatan Yehezkiel dan nabi-nabi yang lain bahwa Israel akan kembali ke tanah perjanjian memang terwujud, tetapi dengan cara yang masih kurang daripada apa yang dinubuatkan. Makanya, PB melihat bahwa baru di dalam Yesus Kristus maksud sebenarnya dari janji-janji keselamatan ini terwujud. Dialah yang mengadakan pendamaian sekali untuk selama-lamanya untuk meneguhkan perjanjian yang kekal. Di bawah Dia, semua kota di bumi, bukan hanya Samaria dan Sodom, dipersatukan (Ef 1:10). Dengan pekerjaan Roh Kudus, martabat umat Allah mulai dipulihkan: kita mulai menjadi manusia yang mencerminkan kemuliaan Kristus (2 Kor 3:18). Makanya, nada yang biasa dalam surat-surat PB ialah sukacita dan syukur, bukan rasa malu. Dan, ketika tingkat dosa kita sekadar kegagalan untuk sempurna di tengah usaha untuk mencari dahulu Kerajaan Allah, sikap itu cocok.

Namun ada saatnya kita mengkhianati anugerah Allah itu, dan pada saat itu kita semestinya malu. Rasa malu itu bukan sekadar malu di hadapan sesama, atau takut dibicarakan orang. Rasa malu itu kesadaran bahwa kita kembali merusak martabat kita sebagai gambar Allah yang sedang dipulihkan di dalam Sang Gambar Allah, yaitu Kristus. Paulus menyebutnya sebagai dukacita atas dosa (1 Kor 5:2). Tetapi, dukacita itu harus tepat (2 Kor 7:9–11). Pertobatan yang sejati bukan larut dalam rasa malu melainkan “menanggung noda”, dengan tidak berdalih atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, tetapi menyadari dan mengaku kesalahan kita dengan jujur.

Ketika kita setia, anugerah Allah itu membuat kita sadar tentang betapa jeleknya kehidupan kita di luar Kristus. Orang gelandangan bisa saja menjadi biasa dengan bajunya yang berbau dan robek-robek. Baru setelah dipulihkan, dia menjadi sadar akan keadaannya yang memprihatinkan. Rasa malu ini akan menimbulkan syukur atas karya Roh Kudus dalam diri kita.

Perhatikan betapa jauh pemahaman ini dari moralisme. Moralisme mengatakan bahwa dosa itu tindakan saja, dan manusia cukup dinasihati untuk bisa berubah. Pandangan Yehezkiel diteguhkan oleh Yesus, yang mengatakan bahwa tindakan dosa adalah gejala dari hati yang busuk (Mt 7:17, harfiahnya: pohon yang “busuk” menghasilkan buah yang “jahat”). Bertobat berarti mengakui kebusukan itu, bukan hanya tindakannya. Makanya, Yesus datang bukan saja sebagai pengajar, tetapi juga sebagai Juruselamat. Minggu depan, kita akan melihat satu nubuatan lagi dari Yehezkiel (36:22–38) yang mengembangkan pendamaian yang begitu berarti dalam a.63b itu.


Luk 1:39-45 Menyambut Yesus dengan tepat [1 Des 2013] (Minggu Adven I)

November 26, 2013

Pada masa Adven, kita menyambut Yesus yang telah dan akan datang. Lukas menyampaikan sambutan yang tepat melalui beberapa kisah mengenai orang-orang biasa dan terbatas, termasuk Elisabet dan Maria ini. Hal itu menunjukkan bagaimana kita semua bisa menjadi bagian dari apa yang dilakukan Allah dalam Yesus.

Penggalian Teks

Lukas sangat mengaitkan kelahiran Yohanes Pembaptis dengan kelahiran Yesus. Kedua kelahiran itu diberitahukan oleh malaikat kepada salah satu dari kedua orangtua, dan ternyata kedua ibu adalah sanak saudara (1:36). Ketika Maria mendengar kalau Elisabet itu mengandung, dia pergi dari Nazaret (di Galilea) ke rumahnya di Yudea (aa.39–40). Pertemuan mereka menghasilkan dua nubuatan, yang pertama dari Elisabet dalam perikop kita (aa.42–45), dan yang kedua dalam perikop berikutnya, yaitu nyanyian Maria (1:46–55). Satu nubuatan lagi, nyanyian Zakharia, terjadi ketika Yohanes lahir dan lidah Zakharia terbuka (1:68–79). Ternyata Roh Kudus rindu untuk menjelaskan makna dari kejadian-kejadian dahsyat ini.

Ingat bahwa Elisabet menyembunyikan diri ketika dia jadi hamil (1:24), mungkin karena dia takut kalau-kalau kehamilannya tidak berhasil dan dia menjadi lebih malu daripada sebelumnya. Jadi, Maria hanya tahu tentang kehamilannya dari malaikat itu. Kemudian, Elisabet tentu belum tahu tentang penampakan malaikat kepada Maria. Jadi, gerakan anak dalam rahimnya juga terjadi karena Roh Kudus (41).

Nubuatan Elisabet berbicara tentang Maria, tetapi bukan karena Maria-nya melainkan karena dia dipilih Allah untuk melahirkan Mesias. Fokus pada Maria terjadi dalam bungkusan nubuatan ini (42, 45). Maria diberkati, karena anaknya diberkati, dan memang melalui Yesus berkat Allah yang akan sampai pada bangsa-bangsa. Setelah fokus pada anak itu dalam aa.43–44, Maria kembali disebut berbahagia (45). Dia berbahagia karena kepercayaannya tidak akan dikecewakan. Janji Tuhan kepadanya akan terlaksana; anak itu akan lahir dan menjadi saluran berkat itu.

Inti dari nubuatan Elisabet menonjolkan status anak Maria, Yesus (43–44). Elisabet, dengan kuasa Roh Kudus, mengaku-Nya sebagai kurios-nya, yaitu tuan atau Tuhan (43). Ingat bahwa kata kurios berarti tuan, yaitu orang yang berkuasa atas hambanya. Kata itu dipakai baik untuk manusia yang berhak menyuruh orang lain, maupun untuk dewa-dewi dan Allah yang juga berhak demikian. Jadi, pada dasarnya Elisabet mengakui otoritas Yesus sebagai Mesias, bukan kodrat-Nya sebagai Allah. Dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa akan terlintas dalam benak Elisabet untuk berpikir bahwa Yesus itu ilahi; yang dia maksud adalah “tuanku” selaku Mesias (Raja Israel). Tentu, dalam teologi Lukas, Yesus juga berperan sebagai Allah yang mengunjungi umat-Nya, dan mungkin itu alasannya LAI menggunakan kata “Tuhan”. Kata itu baik-baik saja asal diingat bahwa dengan demikian Yesus diberi hak untuk memerintah. (Hanya bahasa Indonesia yang memaksakan pilihan ini; baik bahasa Inggris, “Lord”, maupun bahasa Toraja, “Puang”, memiliki cakupan makna yang sama dengan kurios.) Pengakuan Elisabet itu dilanjutkan dengan pengakuan Yohanes Pembaptis, bayi dalam rahimnya, yang menyambut bayi di kandungan Maria dengan gembira (44).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menyambut Yesus dengan tepat: sebagai tuan/Tuhan; dengan kegirangan; dengan kepercayaan yang memampukan kita menjadi saluran berkat.

Makna

Jika kita membaca Lukas pp.1–2, kita akan memiliki konsep yang cukup jelas tentang tempat Yesus dalam rencana Allah untuk memulihkan Israel, bahkan bangsa-bangsa. Sebenarnya, bangsa-bangsa hanya muncul dengan jelas dalam nubuatan Simeon ketika Yesus disunat (2:31–32); semua nubuatan yang lain menyangkut keselamatan Israel saja. Ini bagian dari pemahaman Lukas tentang waktu, bahwa rencana Allah bertahap. Baru setelah kebangkitan Yesus, para murid diberi amanat untuk bersaksi di Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Tetapi, Yohanes Pembaptis menyangkut pembaruan Israel saja, dan Yesus digambarkan sebagai Mesias, yaitu anak Allah yang memerintah dari takhta Daud (1:32). Mengapa Lukas begitu lama mempersoalkan Israel, sementara dia sendiri menceritakan penawaran Injil kepada semua bangsa?

Jawabannya termasuk soal tuan/Tuhan tadi. “Tuhan” adalah kata religius, yang bisa saja menyangkut hal-hal batin saja, sehingga “Yesus adalah Tuhanku” diartikan sebagai “Yesus memberi saya semangat dan makna hidup”. Tetapi kurios (“tuan”) adalah kata yang menyangkut kuasa. “Yesus adalah tuanku” menonjolkan bahwa hidup saya ada untuk Dia, dan bukan sebaliknya. Lebih lagi, kalau Yesus adalah tuan sebagai Mesias, karena Dia menempati takhta Daud, maka Dia berkuasa juga atas ranah politik. Sebagai Raja di atas segala raja, Dia harus ditaati di atas semua pemerintah manusia. Jika Dia adalah tuan, kita adalah hamba-hamba-Nya. Dalam konteks modern, seorang hamba Raja adalah pegawai negeri, hanya jam kantornya 24 jam per hari, 7 hari seminggu. Jadi, sama seperti seorang pegawai (semestinya) mengerjakan tugas pemerintah, kita mengerjakan tugas Kerajaan Allah. Mungkin kita lebih suka Yesus sebagai Tuhan religius yang menguatkan batin saja, tetapi Yesus yang diumumkan oleh malaikat dan Roh Kudus dalam Lukas 1–2 tidak dapat dibatasi pada ranah religius saja.


Hos 11:1-11 “Curhat” Allah yang dikhianati umat-Nya [24 Nop 2013] (Akhir Tahun Gerejawi 2013)

November 18, 2013

Pengungkapan diri Allah dalam perikop ini adalah hal yang istimewa, dan saya berharap dapat membawa jemaat untuk lebih mengenal Tuhan. Tetapi hal itu juga menimbulkan pertanyaan bagi saya tentang perasaan, yang saya uraikan dalam bagian akhir dari Makna. Pertanyaan itu hanya penting bagi orang yang terusik olehnya, dan bagian itu bukan untuk menangkap tafsiran saya akan perikopnya.

Penggalian Teks

Di tengah nubuatan-nubuatan yang menguraikan dosa Israel dan hukumannya, perikop ini menyoroti unsur yang lain, yaitu hati Allah. Aa.1–4 menceritakan kasih Allah yang dibalas dengan penolakan; aa.5–7 menyampaikan hukuman lagi; aa.8–11 menyampaikan niat Allah untuk akhirnya menyelamatkan mereka.

Aa.1–4 beranjak dari keluaran Israel dari Mesir (1). Kasih Tuhan yang mau berelasi dengan Israel (“Kupanggil”, aa.1–2) diperlihatkan dengan menceritakan bagaimana Allah kemudian mengajar Israel (3a) dan membebaskan dan merawat Israel (4). Tetapi, Israel mengejar dewa-dewa (para Baal) dan berhala-berhala (patung) (2b), dan tidak mau mengakui kebajikan Tuhan bagi mereka (3b).

A.5 tiba-tiba kembali ke soal hukuman, tetapi alasannya disampaikan dalam a.5b dan a.7, yaitu tidak bertobat dan membelakangi Tuhan. Kejayaan Asyur atas mereka (“menjadi raja mereka”) ibarat kembali ke tanah Mesir (5), yaitu tempat mereka di bawah kuk (4). Bahkan, kejayaan Asyur akan membawa kehancuran (6).

A.8 tiba-tiba berubah haluan lagi. Adma dan Zeboiim disebutkan dalam Ul 29:23 sebagai kota-kota yang dimusnahkan bersama dengan Sodom dan Gomora. Hati Tuhan menolak bayangan itu, karena belas kasihan-Nya bangkit menjadi lebih kuat daripada murka-Nya (8b–9a). Karena Dia adalah Allah, Dia memiliki tujuan (“tidak datang untuk menghanguskan”) yang lebih besar daripada menghukum Israel saja (9b). Setelah hukuman, mereka akan mengikuti Tuhan dan dikumpulkan dari barat, Mesir (selatan) dan Asyur (utara) untuk kembali menikmati tanah pemberian Allah itu (10–11).

Maksud bagi Pembaca

Allah mengungkapkan hati-Nya kepada umat-Nya—hati-Nya yang sakit karena pengkhianatan mereka, hati-Nya yang tergerak oleh belas kasihan untuk mereka—untuk memperjelas hukuman-Nya dan janji-Nya akan keselamatan di balik hukuman itu. Mungkin saja, dengan demikian ada yang terharu dan tersadar tentang dirinya di hadapan Tuhan. Pendekatan itu penting bagi jemaat yang keterikatan emosionalnya dengan Tuhan hanya sebatas apakah hidupnya sedang baik atau bermasalah.

Makna

Paulus menuduh bahwa manusia tidak tahu bersyukur (Rom 1:21), dan aa.1–3 menyampaikan hal itu secara mengharukan. Israel berada sebagai bangsa karena Allah, tetapi jangankan bersyukur, insaf pun Israel tidak mau. Mereka seperti perempuan yang tidak dewasa dan hanya mau bersenang-senang, yang justru karena diberi banyak perhatian (“Makin kupanggil”, a.2) yang mendewasakan (3–4), mencari-cari laki-laki (dewa) yang lain. Sama seperti ketidakdewasaan dalam berelasi cenderung mengacaukan kehidupannya, sikap manusia yang meminggirkan Allah akan menghancurkan kehidupannya. Konyolnya, perhatian Allah yang begitu luar biasa di dalam Kristus, justru menimbulkan sikap masa bodoh pada sebagian orang yang sepertinya menganggap bahwa kasih karunia Allah membuat Allah tidak menarik.

Jadi, hukuman Allah di sini tidak seperti vonis yang diturunkan oleh seorang hakim profesional, yang mungkin saja tidak terlalu terlibat secara emosional. Hati Allah disakiti oleh dosa umat-Nya. Makanya, murka Allah harus dilihat sebagai aspek dari kasih-Nya: kasih yang dikhianati menjadi amarah. Tetapi, ternyata murka itu bukan akhir dari ceritanya. Jika ada kelompok manusia yang dihanguskan, seperti Adma dan Zeboim, Israel tidak termasuk kelompok itu. Hukuman itu akan terlaksana, tetapi tidak sampai membinasakan. Akan ada pemulihan di balik hukuman itu. Pemulihan itu sudah digenapi di dalam Yesus Kristus, yang menanggung murka Allah supaya kita menikmati belas kasihan Allah.

Perikop ini adalah salah satu contoh utama dari perikop yang menyatakan diri Allah dari segi perasaan (patos), bukan rasio (logos). Dalam tradisi budaya Yunani yang diteruskan oleh budaya Barat dan terserap oleh banyak teolog, bahkan di Indonesia, manusia yang dikendalikan oleh perasaan dianggap belum menjadi dewasa, sehingga lebih lagi Allah tidak boleh dianggap dikendalikan oleh perasaan. Makanya, bahasa seperti dalam perikop ini, dengan Allah seakan-akan terbagi antara murka dengan belas kasihan, dianggap antropomorfisme, atau lebih tepatnya, antropopatisme—Allah digambarkan dengan emosi (patos) manusia. Dalam pemahaman ini (atau versi ekstrimnya), bahasa Alkitab tentang perasaan Allah dianggap semacam kode untuk rasio-Nya, misalnya: murka = hukuman sesuai hukum; kecemburuan = ketegasan Allah dalam melaksanakan hukuman itu; kasih = maksud Allah untuk memberkati; belas kasihan = realisme Allah bahwa manusia tidak mampu sempurna, dan lain sebagainya. Karena manusia biasa lebih dipengaruhi oleh bahasa perasaan, maka kode itu dipakai supaya rasio Allah tembus ke dalam kesadaran manusia.

Bahwa perasaan Allah tidak sama dengan manusia itu jelas, karena perasaan kita selalu menyangkut tubuh, sedangkan Allah tidak bertubuh. Juga, saya ikut dengan arus utama para teolog dengan mengandaikan bahwa perasaan Allah tidak kacau, dan menyatu dengan rasio-Nya. Sejauh itu, kode di atas baik-baik saja, menunjukkan bagaimana perasaan dan rasio Allah tidak bertentangan. Tetapi, ada dalam bahasa perasaan itu yang tidak terjangkau oleh bahasa rasio. Perasaan adalah bahan bakar untuk relasi, dan Tuhan bukan Allah Aristoteles atau Allah kaum Deis (pada zaman Pencerahan) yang berdiri jauh dari dunia ini. Rasio berbicara kepada rasio, tetapi perasaan berbicara kepada perasaan. Jadi, aa.8b–9a, di mana belas kasihan Allah seakan-akan mengalahkan murka-Nya, tidak hanya menyampaikan secara dramatis bahwa tujuan Allah bagi Israel melampaui hukuman, seperti tersirat dalam a.9b. Hukuman dan tujuan Allah itu berbicara kepada rasio kita bahwa dosa itu bodoh dan bahwa ada gunanya bertobat, karena ada penawaran keselamatan. Tetapi sakit hati Allah semestinya menimbulkan rasa menyesal yang dalam di dalam diri kita, dan belas kasihan Allah dapat melunakkan hati yang keras dan menghibur hati yang hancur. Hal itu bukan semacam taktik retoris oleh Allah. Jika di dalam Kristus kita melihat Allah yang tidak kelihatan (Yoh 1:18), maka perasaan Allah itu adalah bagian dari keberadaan Allah, dan Dia berelasi dengan kita secara utuh—rasio, perasaan dan tindakan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.