Hos 8:1-10 Hukuman bagi pemberhala [17 Nopember 2013]

November 12, 2013

Dengan mengikuti beberapa perikop dari kitab yang sama, sesuai dengan urutannya, ternyata kita mendapat pemahaman yang lebih tajam. Perikop ini sepertinya tidak menawarkan pertobatan kepada Israel, tetapi kita tahu bahwa hal itu sudah berulang kali ditawarkan dalam perikop-perikop sebelumnya. Sekarang, akibatnya yang lebih menonjol.

Penggalian Teks

Bila minggu yang lalu kita membaca keluhan Allah, “Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim?” (Hos 6:4), maka dalam ayat-ayat selanjutnya, Hosea banyak menguraikan kebodohan Israel, yang tidak memahami apa yang mereka lakukan. Misalnya, 7:9 menunjukkan bahwa Israel dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Dosa membutakan pemahaman diri.

Dalam perikop ini, unsur hukuman menjadi lebih kuat, walaupun perincian dosa tetap ada—kedua hal ini terkait erat. A.1 mengumumkan bahwa hukuman itu akan segera terjadi, seperti ketika kota dibangunkan oleh sangkakala musuh yang akan segera menyerang, atau ketika rajawali merampas binatang dari atas. Alasannya terkait dengan tingkah laku Israel terhadap hubungan yang ada antara Israel dan Allah, yakni perjanjian yang mengandung pengajaran (Ibrani Torah = Taurat). “Melangkahi” mengibaratkan perjanjian sebagai lapangan dengan batas di sekelilingnya; Israel mau bebas dari lapangan itu. “Mendurhaka” mempertegas sikap pemberontakan itu.

Aa.2–4 menggambarkan sikap Israel itu. Mereka mengaku mengenal Allah (2), tetapi menolak yang baik (3a) dan mengambil jalan sendiri dalam kenegaraan dan keagamaan (4). Oleh karena itu, Allah tidak akan menjawab seruan mereka (3b), dan akan “melenyapkan” Israel. Kata “melenyapkan” (karat = memotong) sering dipakai dalam kitab Imamat untuk seseorang yang melanggar kekudusan umat dengan tingkah lakunya, sehingga “dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya” (misalnya, Im 20:3, 5, 6). Di sini, seluruh bangsa telah menjadi najis.

Aa.5–6 menanggapi anak lembu Samaria. Yerobeam membuat dua anak lembu emas, satu di Betel (dekat perbatasan dengan Yehuda) dan satu di Dan (di sebelah utara Israel), supaya Israel tidak pergi ke Yerusalem untuk beribadah (1 Raj 12:26–28). Jika Israel menolak yang baik (3), Allah menolak anak lembu Israel.

Aa.7–10 menguraikan akibat dari dosa mereka, yang diumumkan dalam a.1. Yang ditabur selalu lebih kecil daripada yang dituai, dan kekacauan akibat dosa selalu lebih besar daripada yang langsung kelihatan dalam dosa itu. Bagi Israel, puting beliung yang dituai adalah pembuangan, yang diwakili oleh panen yang tidak akan dinikmati, entah karena belum dituai ketika Israel dihancurkan, atau karena belum bisa diolah menjadi tepung, atau karena tepung yang sudah disimpan dimakan oleh musuh (7). Angin yang sedang ditabur pada masa Hosea digambarkan dalam aa.8–9, di mana Israel secara memalukan mencoba berdiplomasi dengan bangsa-bangsa di sekitarnya, termasuk Asyur yang kemudian akan menghancurkan mereka. Tetapi, hal itu tidak dapat menghindarkan puting beliung yang akan menimpa mereka (10).

Maksud bagi Pembaca

Allah memperlihatkan kepada umat-Nya akibat dari penyembahan kepada Allah buatan sendiri. Akibat pertama adalah tingkah laku yang semakin bodoh; akibat kedua adalah kehancuran.

Makna

Karena anggota gereja suka berbicara tentang “kelemahan” manusia, adalah berguna untuk membandingkan kelemahan Israel dalam aa.2–4 dengan kelemahan orang yang sudah bertobat. Israel telah menolak yang baik (3), dan mengambil jalan sendiri dalam hal-hal pokok dalam kehidupan mereka (4). Mereka tidak mau terikat oleh Allah. Jika kebetulan perintah Allah tidak mengganggu kepentingan mereka, baru mereka melakukannya. Hal itu berbeda dari orang yang mencari yang baik, tetapi tidak mencapainya, atau orang yang menjadikan misi Allah sebagai tujuan hidupnya, tetapi mengalami banyak kegagalan dalam menjalaninya. Mereka sama-sama lemah, tetapi yang satu terarah kepada kepentingan diri saja, dan yang satu terarah kepada Allah.

Yang paling dikecam Allah di sini ialah anak lembu emas (5–6). Allah memang melarang pembuatan patung untuk disembah, karena hal itu akan menimbulkan kecemburuan-Nya (Kel 20:5a). Jika patung itu mewakili ilah yang lain, maksudnya jelas, dan merupakan penegasan dari perintah yang pertama. Tetapi di sini, patungnya mewakili Allah yang menuntun Israel keluar dari Mesir (1 Raj 12:28b; “allah-allah” memberi kesan bahwa Yerobeam menganggap ada dua ilah, tetapi jika maksudnya begitu, hal itu akan menjadi kritikan pedas dari nabi-nabi, sehingga kemungkinan yang dimaksud dengan bentuk jamak ialah kedua patung). Apa salahnya sebuah patung yang membantu orang Israel untuk menangkap Allah yang tidak kelihatan? Bahwa hal itu dianggap salah jelas dalam aa.5–6, tetapi alasannya hanya bahwa patung itu dibuat oleh tukang. Dari satu segi, alasan itu belum jelas, karena pasti Israel tahu bahwa Allah bukan patung itu, tetapi diwakili saja olehnya. Tetapi, bagaimanapun juga, Israel telah membuat Allah sesuai dengan seleranya sendiri. Membuat patung semau kita menggambarkan bahwa kita membuat konsep Allah semau kita. Allah dipahat (dalam artian harfiah sekaligus kiasan) sesuai dengan ukuran kita, misalnya, sebagai ilah pelindung yang akan menggenapi cita-cita kita, atau sebagai Penguasa yang akan membenarkan para penguasa menindas rakyat asal Dia dihormati dalam ibadah.

Apakah anggota gereja yang suka memandang gambar-gambar Yesus tetapi tidak mengenal Alkitab akan dibawa kepada konsep tentang Allah yang benar? Bukankah konsep mereka merupakan proyeksi belaka dari pemahaman mereka? Makanya, mereka berseru kepada Allah (2), tetapi tidak tahu bagaimana menaati Allah.


Hos 5:15-6:6 Pertobatan sejati [10 Nopember 2013]

November 5, 2013

Dalam bagian makna saya menawarkan tafsiran yang Kristosentris. Saya tidak tahu apakah para dosen biblika belakangan ini masih mengecam tafsiran yang demikian? Bagi saya, itu pandangan yang terlalu sempit. Pesan Hosea direkam dan dijadikan kitab suci karena dianggap ada makna yang melampaui zaman Hosea. Bila kita percaya bahwa Allah yang disaksikan oleh Hosea adalah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus, kita akan melihat makna itu dalam terang Kristus. Tetapi jangan menganggap bahwa Kristus sendiri terbatas pada abad pertama. Kita adalah tubuh-Nya, sehingga tafsiran Kristosentris termasuk berbicara tentang gereja (bdk. tafsiran Paulus dalam 1 Kor 10:1–13). Bahkan, jika segala sesuatu diciptakan dan diperdamaikan di dalam Kristus (Kol 1:16, 20), tafsiran Kristosentris termasuk berbicara tentang dunia. Tetapi, kali ini saya membatasi diri pada Kristus dan tubuh-Nya.

Penggalian Teks

Nada penghukuman yang ada pada akhir perikop minggu yang lalu diteruskan dalam ayat-ayat di antara perikop itu dan perikop ini. 5:12–14 menceritakan bahwa berbagai hajaran dari Tuhan ditanggapi oleh Efraim dengan pergi ke Asyur. Dalam 5:15a, kembali Allah menarik diri dari mereka (bdk. 5:6a), menunggu pencarian Allah yang tidak berpura-pura (bdk. 5:6a). 5:15b memberi pengharapan bahwa Israel akan belajar dari hajaran Tuhan, dengan suatu kerinduan seperti yang disampaikan dalam 6:1–3. Tetapi, mereka tidak sanggup demikian (6:4), sehingga Allah akan menghukum mereka (6:5). Soalnya, mereka mengandalkan persembahan korban, sementara Allah mau supaya mereka memperlakukan sesama dengan baik (“kasih setia”; “belas kasihan” dalam versi LXX yang dikutip dalam Mt 9:13 & 12:7) dan mengenal Dia (6:6).

Jadi, 6:1–3 menyampaikan doa pertobatan yang sejati, yang belum terjangkau oleh Israel pada zaman itu. Doa itu mengakui hak Tuhan untuk menghajar, dan berharap bahwa Tuhan yang telah menghajar dapat juga memulihkan (6:1). Pemulihan itu digambarkan sebagai penghidupan kembali atau kebangkitan (6:2). Sama seperti Yehezkiel 37, yang dibangkitkan adalah Israel sebagai bangsa, tetapi kita tahu bahwa kebangkitan umat Allah terjadi di dalam diri Yesus, yang diutus sebagai Mesias Israel dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Pengharapan akan hidup yang baru menjadi dasar untuk sungguh-sungguh mengenal Tuhan (6:3a). Tuhan yang dikenal akan membawa penyegaran, bukan hajaran (6:3b). Pertobatan di sini bukan usaha untuk membujuk Tuhan, dan tidak timbul dan ketakutan. Sebaliknya, hajaran Tuhan diterima, dan ada kepercayaan yang kuat akan kerinduan Allah untuk membawa pemulihan. Pertobatan di sini telah menangkap anugerah Allah.

Maksud bagi Pembaca

Kepada bangsa yang sudah begitu biasa dengan permainan kuasa sehingga mereka hanya tahu untuk membujuk Tuhan dengan korban, Allah menawarkan pertobatan yang sejati, yang bertanggung jawab atas kesalahannya (menerima hak Tuhan untuk menghajar mereka) dan mencari Tuhan dalam pengenalan akan kebaikan-Nya.

Makna

Integritas adalah unsur yang kurang dalam pertobatan Israel. Mereka tidak menyesal akan dosanya, hanya hukumannya, dan mencari jalan keluar sendiri, bukan Allah. Perikop kita menawarkan pola pertobatan di mana manusia berdosa bertanggung jawab atas dosanya (6:1), dan mengandalkan dengan sepenuh hati penghidupan kembali yang berasal dari Allah (6:2), sehingga ada pembaruan dalam relasi dengan Tuhan (6:3). Masalahnya, bagaimana manusia berdosa dapat memiliki integritas yang cukup untuk bertobat dengan sejati? Tentu saja, kita tidak bisa. Hanya Injil yang memampukan kita bertobat (bdk. Titus 2:12 “Pelajaran yang sejati dari kasih karunia”). Kristus bertanggung jawab atas dosa kita—siap menerima hajaran Allah karena dosa manusia—ketika Dia diterkam pada salib (6:1), dan Dia dibangkitkan pada hari yang ketiga (6:2). Bila kita berada di dalam Dia, kita ikut dalam pertobatan-Nya yang sejati (ingat bahwa Yesus ikut dalam baptisan Yohanes Pembaptis yang menandai pertobatan, Mt 3:11). Pada awalnya, pertobatan kita hampir sedangkal Israel pada zaman Hosea, dan hanya diterima karena dilengkapi dengan karya Kristus. Tetapi, semakin kita merenungkan Kristus—hidup-Nya yang membongkar dalih-dalih kita tentang “kelemahan manusia”, kematian-Nya yang menyatakan dahsyatnya dosa, kebangkitan-Nya yang menawarkan dunia yang baru—kita semakin dimampukan untuk mengaku dosa kita sebagai sesuatu yang sungguh buruk, dan mengandalkan pengampunan Allah sebagai sesuatu yang merupakan anugerah belaka. Dalam Injil, kita semakin sungguh-sungguh mengenal Tuhan.


Hos 5:1-7 Berbalik kepada Allah [3 Nopember 2013]

Oktober 29, 2013

Nubuatan tergolong bahan Alkitab yang dianggap sulit oleh banyak orang, karena sepertinya mengalir dengan hanya dua tema utama, yaitu dosa dan hukuman. Namun, sebagai puisi, ada upah besar jika kita mau membaca dengan teliti. Semoga refleksi saya membawa Saudara kembali ke firman yang dalam ini.

Penggalian Teks

Empat minggu berturut-turut (mulai minggu ini), kita akan mendengarkan firman Allah melalui Hosea, nabi yang diutus kepada kerajaan utara (biasanya disebut Israel atau Efraim) itu. Minggu ini mewakili tuduhan Allah terhadap Israel; minggu depan kita akan melihat pertobatan yang semu (5:16–6:6); minggu ketiga memberi salah satu gambaran tentang hukuman yang akan melanda Israel (8:1–10); dan minggu keempat mengungkapkan kerinduan Allah akan Israel (11:1–11). Di balik bahan ini ada kisah Hosea yang dikhianati oleh istrinya (pp.1–3), kisah yang menggambarkan bagaimana Allah telah dikhianati oleh Israel.

Seperti banyak nubuatan yang lain, perikop ini berganti-gantian antara dakwaan (perincian dosa) dan hukuman. Hal itu bisa dilihat dalam aa.1–2: “Dengarlah” mengawali panggilan kepada para terdakwa; “Sebab” mengawali perincian dosa; “maka” (a.2) mengawali hukuman. Dalam panggilan itu, kaum Israel disebutkan antara dua kelompok pimpinan, yaitu para imam dan keluarga raja. Para pemimpin ibarat pemburu yang memakai perangkap, jaring dan lobang, di seluruh wilayah Israel (diwakili oleh tiga tempat, Mizpa, Tabor dan Sitim, yang terdapat di berbagai bagian dari Israel). Oleh karena itu, keputusan Allah adalah menghajar mereka. Kata “menghajar” masih dalam ranah hukuman yang mau menuntun kepada perbaikan hidup.

Namun, dalam ayat-ayat berikutnya, Allah tidak berharap lagi akan perubahan itu. Aa.3–4 merupakan kiasmus. Kita masuk kiasmus itu dengan pernyataan bahwa A) Allah mengenal apa yang tersembunyi tentang Israel (3a), yaitu bahwa B) Israel berzinah (menyembah dewa-dewi, a.3b) dan C) dengan demikian menajiskan diri (3c). Kita keluar dari kiasmus itu dengan tiga alasan mengapa Israel tidak akan berbalik kepada Allah. C) Kenajisan adalah hal yang harus ditutupi, sementara berbalik kepada Allah akan menuntut kenajisan itu dibongkar (4a). B) Perzinahan itu adalah “roh” mereka, yaitu semangat atau dorongan yang menjadi bagian dari identitas mereka (4b). A) Mereka tidak mengenal Tuhan (4c). Allah mengenal mereka, tetapi karena dosa yang melekat pada diri bangsa itu, mereka tidak mengenal Dia.

Jika Allah menjadi saksi terhadap Israel dalam aa.3–4, sikap dan kesalahan Israel menjadi saksi berikutnya (5). Mereka yang memasang perangkap bagi sesama terjatuh oleh kesalahannya sendiri. Vonis Allah terhadap mereka ialah bahwa Dia menarik diri dari mereka; meskipun mereka membawa korban dan mencari Tuhan, tanpa pertobatan Tuhan tidak mau (6).

Kesimpulannya dalam a.7 ialah bahwa mereka berkhianat terhadap Tuhan (seperti Gomer berkhianat terhadap Hosea). “Anak-anak yang tidak sah” mungkin merujuk pada keluarga yang menyesatkan anak-anaknya ketimbang mengajar mereka untuk mengenal Tuhan, tetapi bisa juga bahwa perzinahan rohani bermuara pada perzinahan harfiah. Dalam a.7b, hukuman itu sudah menuju ke penghancuran Israel, bukan lagi sekadar didikan.

Maksud bagi Pembaca

Bagi pendengar firman ini yang tidak bertobat, nubuatan ini meneguhkan kesalahannya, bahwa dia diperingati tetapi tidak mau bertobat. Tetapi, bagi orang yang sudah memiliki hati yang baru berkat perjanjian yang baru di dalam Yesus, peringatan ini membawa kita untuk lebih peka terhadap dosa, dan lebih cepat bertobat. Para pemimpin jangan menindas (1–2); jangan kita malu mengakui kebobrokan kita, supaya semangat untuk berdosa dikalahkan oleh roh yang lain, yaitu Roh Allah (3–4); jangan kita congkak dan berani menyuap Tuhan dengan persembahan yang menutupi hati yang belum bertobat (5–6). Dalam semuanya, kita diajar bahwa dosa bukan sekadar tindakan, tetapi sikap kita terhadap Tuhan (7). Dia mengenal kita, dan mau supaya kita mengenal Dia.

Makna

Kitab Hosea menyoroti hasrat dan perasaan Allah, bahwa Dia mencintai umat-Nya, dan dibuat sakit hati oleh pemberontakan mereka. Perzinahan sebagai kiasan untuk penyembahan dewa-dewi membawa pesan itu, dan peningkatan hukuman dalam perikop ini menyampaikan bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya, yaitu ketika hati manusia sudah terlalu dikuasai oleh dosa (“roh perzinahan”) untuk bisa bertobat lagi.

Apakah kita bisa langsung menerapkan nubuatan tentang Israel yang degil hati ini kepada jemaat yang telah hidup baru? Mungkin terasa ada beberapa jemaat yang seperti Israel pada zaman itu: para majelis mencari keuntungan dan menindas; ada banyak dosa tersembunyi yang merusak persekutuan; sehingga kesimpulannya bahwa jemaat itu berkhianat kepada Tuhan, bahkan membawa anak-anak mereka ke dalam kesesatan yang sama. Firman ini belum tentu akan membawa mereka kepada pertobatan, tetapi bagaimanapun juga, tugas kita adalah memberitakannya. Mereka harus diberitahu bahwa Tuhan mau mendidik mereka, tetapi jika mereka tidak peduli, Dia akan menghancurkan mereka.

Namun, bila pada zaman yang suram itu di dalam Israel ada yang merekam dan melestarikan nubuatan Hosea, jangan kita terlalu cepat menilai bahwa sama sekali tidak ada yang mengenal Tuhan di dalam jemaat. Dalam kebanyakan jemaat, kita semestinya menilai bahwa anggota-anggota kita sudah diberi hati yang baru (biar belum terlalu dilatih), dan perlu didorong untuk bertobat. Pertobatan itu tidak sekadar berhenti dari tindakan tertentu, tetapi “berbalik kepada Allah” (4) untuk mengenal Dia yang begitu mengenal kita.


Gal 6:11-18 Bermegah dalam Salib [27 Oktober 2013]

Oktober 22, 2013

Ada beberapa pernyataan yang menonjol di sini, antara lain tentang ciptaan baru dan bermegah dalam salib. Saya memberi fokus pada bermegah dalam salib karena hal itu menjadi makna paling tajam dari menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru bukan sekadar berusaha lebih baik.

Penggalian Teks

Setelah banyak bergumul dengan jemaat-jemaat di Galatia oleh karena mereka terancam meninggalkan Injil anugerah, Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan hati. Hal itu termasuk bahwa dia tidak memakai juru tulis yang dipakai sampai 6:10, tetapi menulis dengan memakai tangannya sendiri (11).

Aa.12–13 merupakan tuduhan terakhir terhadap kelompok penyunat, yang mau meyakinkan jemaat di Galatia yang bukan orang Yahudi, bahwa untuk menjadi murid Kristus yang sejati mereka harus bersunat. Diskusi soal itu banyak disentuh dalam kedua ayat ini. Kata “lahiriah” adalah kata sarx, “daging”, yang bisa merujuk pada apa yang dipotong dalam sunat, dan juga dipakai Paulus untuk cara hidup yang mementingkan diri (5:19). Mereka mau “tampil baik” (terjemahan saya untuk “suka menonjolkan diri” [euprosopeo]) “dalam daging” (secara lahiriah atau di depan manusia), supaya mereka dapat bermegah “atas dagingmu” (maksudnya, atas bagian yang dipotong; mungkin LAI “keadaanmu yang lahiriah” berusaha untuk tidak terlalu kasar!). Bahasa ini adalah bahasa tentang status, sehingga saya juga menafsir a.12b dalam rangka itu. Soal penganiayaan, sunat memungkinkan mereka untuk dihitung sebagai orang Yahudi. Dengan demikian baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Romawi akan dapat mengerti dan menerima mereka; mereka akan tetap dihormati. Mereka tidak mau berbagi dalam perendahan yang dialami Kristus pada salib. A.13a menolak alasan yang mereka kemukakan, yaitu bahwa sunat adalah sekadar soal ketaatan.

Kata “bermegah dalam” (kaukhaomai en) perlu disoroti di sini. “Bermegah dalam” bukan saja soal menganggap sesuatu hebat, melainkan juga menganggap bahwa hal itu memperhebat hidupnya. “Bermegah dalam” melibatkan diri. Seorang penggemar tim sepak bola merasa lebih bermartabat jika timnya berhasil. Keluarga Toraja yang telah mengadakan pesta orang mati yang megah merasa lebih berbobot sebagai keluarga. Hal itu bisa saja menyangkut rasa hormat, tetapi hormat karena ada sesuatu. Bermegah dalam sesuatu dan dihormati karenanya adalah kebutuhan mendasar manusia, untuk merasa bahwa kehidupan diri berhubungan dengan sesuatu yang bermakna. Masalahnya adalah ketika soal dihormati menjadi tujuan utama, seperti tuduhan Paulus bahwa para penyunat hanya mau tampil baik di hadapan orang lain.

Makanya, dalam aa.14–15 Paulus tidak menolak soal bermegah, tetapi dia mengemukakan dasar yang lain untuk bermegah, yaitu salib. Perhatikan bahwa dia tidak hanya bermegah dalam Kristus. Memang, Yesus Kristus diakui oleh Paulus, jemaat-jemaat di Galatia, dan semua orang percaya sebagai “Tuhan kita”, yaitu penguasa tertinggi yang kepadanya kita harus taat (kurios). Kristus lebih mulia, penting dan berbobot daripada semua yang ada dalam dunia. Tetapi Kristus yang sejati ialah Tuhan yang disalibkan. Paulus bermegah dalam salib itu. Mengapa? Karena salib telah merusak dunia sebagai sumber hormat atau kebanggaan. “Disalibkan” di sini paling sedikit berarti “menjadi hina”. Dunia telah menjadi hina bagi Paulus, dan Paulus telah menjadi hina bagi dunia. Dunia tidak lagi menjadi wadah untuk Paulus mencari hormat. Ada dunia baru, “ciptaan baru”, yaitu, dunia yang dirintis oleh Kristus yang disalibkan, yang di dalamnya Paulus mencari hormat. Dalam dunia itu, hal-hal yang tadinya begitu mengasyikkan, seperti sunat, tidak lagi penting.

Dalam ciptaan baru itu ada damai sejahtera dan rahmat dari Tuhan (16). Yang menikmati ciptaan baru ini ialah orang-orang yang “melangkah” (LAI “dipimpin”) di dalamnya, yang menjadikannya patokan (kata Yunani, kanon—kanon Alkitab dapat dilihat sebagai sumber utama yang memaparkan ciptaan baru ini). Salib Kristus telah menjadi lensa yang di dalamnya Paulus menilai dunia. Dalam a.17, kita diingatkan bahwa Paulus sendiri telah mengikuti patokan itu.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mencontohkan dirinya sendiri, Paulus mau meyakinkan jemaat untuk mencari hormat dan makna hidup bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat, melainkan dalam Kristus yang disalibkan. Mereka akan hidup bagi Kristus bukan karena ada peraturan ini atau itu, melainkan karena mereka berpatokan pada ciptaan baru: mereka melihat dunia dengan mata salib Kristus.

Makna

Daya tarik hormat, kerinduan untuk dipandang orang, memang kuat. Tetapi, salib paling sedikit harus membuat kita berpikir ulang. Bermegah dalam salib termasuk kekaguman kepada Allah bahwa melalui jalan ini Dia dapat menebus kita (1:4), membenarkan kita, menanggung kutuk dosa ganti kita (3:13), dan melepaskan kuasa Roh Kudus ke dalam hidup kita. Bermegah dalam salib melibatkan seluruh hati kita karena di dalamnya ada kasih yang tak terperi (2:20). Daya tarik hormat itu begitu kuat, sehingga kita bisa mengaminkan semuanya itu, tetapi tetap berpikir bahwa hormat dari dunia itu penting. Tentu, sama seperti uang, hormat pada tingkat tertentu dibutuhkan: adalah sulit melakukan banyak hal jika kita dibenci semua orang. Paulus sendiri mau dihargai oleh jemaat di Galatia, supaya Injilnya ikut dihargai (17). Tetapi, jika dia pernah menunjukkan statusnya sebagai warga negara Roma, misalnya, hal itu bukan karena statusnya melainkan untuk menguatkan kedudukan jemaat di sana (lihat Kis 16:35–40). Dunia sekarang ini jahat (1:4), hormatnya tidak layak dikejar, sedangkan Kristus telah menyerahkan nwaya-Nya bagi kita (2:20). Di dalam Dialah kita selayaknya bermegah, dan kita selayaknya siap mengikuti jejak-Nya.

Apakah teologi operasional (yang dianut di lapangan, bukan yang tertulis dalam dokumen-dokumen resmi) dalam Gereja Toraja adalah teologi salib, atau semacam teologi sukses yang sederhana? Jika ada dalam aliran Pantekosta yang memberi kesan mau kaya raya, apakah kita menganggap diri lebih saleh karena hanya bercita-cita menjadi PNS? Teologi Reformasi adalah teologi salib yang menandaikan pertobatan akal budi—dunia dilihat dengan mata salib-Kristus. Salib itu jauh lebih dari sekadar lambang kekristenan saja. Sikap terhadap kehormatan dan apa yang di dalamnya kita bermegah, menjadi gejala tentang teologi apa yang sebenarnya kita anut.

Apakah semangat Paulus di sini terlalu anti-dunia? Saya berharap bahwa penguraian di atas menjelaskan bahwa dunia ditolak sebagai wadah hormat, bukan sebagai wadah untuk hidup dan melayani, dan bukan sebagai sasaran kasih Allah. Kontekstualisasi penting juga di sini: jenjang kehormatan yang harus disalibkan bagi saya adalah jenjang kehormatan budaya saya, bukan budaya yang lain.


Kej 32:22-32 Bergumul untuk berkat Allah [20 Oktober 2013]

Oktober 14, 2013

Perikop ini adalah cerita yang penuh misteri. Dua hal diperlukan dengan bahan seperti ini. Yang pertama ialah pengamatan yang bisa menyingkapkan maksud yang tersirat. Saya berharap ada beberapa di bawah yang menarik. Yang kedua ialah menafsir pengamatan-pengamatan itu. Tafsiran saya diajukan untuk dapat dipertimbangkan, dan secara menyeluruh dapat dipertanggungjawabkan, tetapi makna dari cerita seperti ini tidak dapat diselesaikan dalam satu kali menafsir.

Penggalian Teks

Yakub belum lama melarikan diri dari Laban, mertuanya yang dia tipu, dan sekarang menuju tanah Kanaan, di mana dia harus berhadapan dengan Esau, kakaknya yang juga dia tipu. Kembali ke tanah Kanaan berarti kembali ke tanah perjanjian, tempat yang ditentukan baginya sebagai keturunan Abraham, tetapi untuk bisa menikmati janji Allah, Yakub harus belajar berdamai. Pada akhir p.31, dia berhasil berdamai dengan Laban. Tetapi Esau akan lebih sulit. Dalam 32:1–2, dia melihat malaikat-malaikat (malakim) Allah, yang dia sebut sebagai “bala tentara Allah” (32:2; Mahanaim (dari kata makheneh) = dua pasukan atau perkemahan). Semestinya hal itu menguatkan dia, dan memang dia kemudian mengambil inisiatif untuk menyuruh utusan (malakim) kepada Esau (32:3–5). Hanya, dia terkejut dengan berita bahwa Esau membawa 400 orang (32:6)! Menghadapi hal itu, dia membentuk dua pasukan (makheneh) supaya paling sedikit setengah bisa luput (32:7–8). Dengan kesamaan kosa kata (malakim dan makheneh), pencerita ingin agar kita melihat bahwa Yakub masih mencari jalan sendiri; dia belum siap mengandalkan pasukan Allah itu. Hanya setelah berdoa dan mengingat janji Allah kepadanya (32:9–12), dia memikirkan strategi yang lain, yaitu membanjiri Esau dengan persembahan untuk mendamaikan hatinya (32:13–21). Kosa kata “mendamaikan” (kipper) dan persembahan (minkhah) sering dipakai untuk pendamaian dengan Allah, dan dalam 33:10 Yakub menyamakan wajah Esau dengan wajah Allah. Berdamai dengan manusia dikaitkan erat dengan berdamai dengan Allah.

Setelah seluruh orang dan harta diseberangkan (22–23), Yakub tinggal seorang diri—mengapa tidak dijelaskan. Juga tidak dijelaskan bagaimana sampai dia bergulat dengan laki-laki itu (24). Hanya, hal itu mencerminkan kehidupannya; dia bergumul melawan Esau dan Laban, dan tidak mau dikalahkan. Dalam konteks seluruh kisah Yakub, ini adalah kelemahan Yakub, dan karena teguran halus dari pergulatan itu tidak tembus, ada teguran yang lebih keras, yang membuat Yakub pincang (25).

Kemudian, ada percakapan di antara mereka (26–29). Orang itu seakan-akan mau pamit, tetapi Yakub menuntut untuk diberkati dulu. Permintaan itu mengejutkan—bukankah semestinya Yakub marah atau takut karena dibuat pincang?—dan menunjukkan bahwa Yakub sudah menduga bahwa laki-laki ini lebih dari manusia biasa. Laki-laki itu menanyakan nama, tahap awal untuk menyampaikan berkat dengan sasaran yang tepat (27). Tetapi, ternyata orang itu mau mengubah nama Yakub. Dia tidak akan disebut “orang yang memegang tumit” lagi, dalam artian menyerang dari belakang atau dengan tipu daya (demikian pengartian nama Yakub dalam 25:26), melainkan Israel, yang berarti “bergumul dengan Allah”. Laki-laki itu menyatakan diri sebagai Allah (atau malaikat Allah, bdk. Hos 12:5), sehingga Yakub disebut telah menang atas Allah dan manusia (28). Kata “menang” itu mengejutkan, karena memberi kesan bahwa Allah dan manusia yang dia lawan itu kalah, sementara Yakub baru saja menjadi terpelecok karena tangan-Nya, dan sedang menghadapi maut oleh tangan kakaknya. Apakah Yakub juga salah tafsir demikian, sehingga dia berani menanyakan nama dari malaikat Allah itu, seakan-akan dia sudah sederajat dengannya (29)? Bagaimanapun juga, yang baru saja dia menangkan adalah perdamaian dengan Laban dan berkat dari Allah. Hal-hal ini memang membawa keuntungan bagi Yakub, tetapi tidak berarti bahwa lawannya kalah. Perlu diketahui bahwa kata “melawan” (dalam “bergumul melawan”) tidak ada dalam bahasa aslinya. Sebagai tafsiran oleh LAI, kata itu cocok untuk menggambarkan sikap Yakub tadinya: Esau dan Laban memang dikalahkan. Namun, sekarang dia bergumul untuk hal-hal yang lebih berguna: perdamaian dengan Laban dan Esau, berkat dari Allah.

Yakub sadar bahwa dia telah diberi hak istimewa untuk melihat Allah (30), dan keturunannya, orang Israel, juga menilai peristiwa itu demikian (32). Tetapi dia telah menjadi pincang (31)! Sepertinya, hanya hal itu akan membuat Yakub sungguh-sungguh mau mengandalkan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menjelaskan perubahan nama Yakub menjadi Israel, nama bangsa yang menjadi umat Allah. Dengan demikian, cerita ini menggambarkan sesuatu tentang relasi umat dengan Allah. Kita belajar untuk mencari hal-hal yang utama, dan juga bahwa kedekatan dengan Allah menyangkut bukan hanya hal-hal yang manis melainkan juga pergumulan.

Makna

Bergulat dengan Allah dan dibuat pincang belum tentu akan disukai oleh mereka yang untuknya agama dilihat pertama-tama sebagai sumber penghiburan. Malahan, cerita ini adalah peringatan bagi orang-orang yang dengan gampang mengatakan, “Sekiranya Allah menampakkan diri-Nya langsung kepada saya.” Yakub luput dengan hanya menjadi pincang. Sebaliknya, jika iman adalah perjalanan menuju tanah perjanjian, yaitu, langit dan bumi yang baru, dan jika ada hal-hal dalam kehidupan kita yang tidak beres, sama seperti Yakub, maka Allah dalam belas kasihan akan menantang kita supaya kita sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Demikian Hosea mengartikan cerita ini kepada Israel yang secara rohani jauh dari Tuhan (Hos 12:4–7). Seperti sering diungkapkan oleh para gembala pada zaman sekarang, tujuan Allah bagi umat-Nya pertama-tama adalah kekudusan, bukan kenyamanan.


1 Kor 12:12-31 Berbeda-beda dalam satu tubuh [13 Oktober 2013]

Oktober 8, 2013

Perikop ini kembali berfokus bukan pada nasihat langsung tetapi pada identitas. Jangan meremehkan kuasa imajinasi atau cara pandang dunia untuk memengaruhi tingkah laku orang. Gambaran yang disampaikan Paulus mau menggerakkan imajinasi itu.

Penggalian Teks

Kepada jemaat di Korintus yang penuh perpecahan, Paulus menjawab pertanyaan mereka tentang karunia-karunia Roh dengan menekankan kesatuan dalam kepelbagaian. Aa.2–3 menegaskan bukti bahwa seseorang memiliki Roh ialah pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan aa.4–6 menegaskan satu Roh/Tuhan (Yesus)/Allah (yakni, Allah tritunggal) dengan “rupa-rupa” karunia. Kemudian, aa.7–11 menunjukkan bahwa Roh yang menentukan pembagian karunia, bukan manusia. Hal-hal itu sebenarnya cukup untuk mengatakan bahwa karunia-karunia Roh tidak usah menjadi pokok perpecahan atau kemegahan diri, tetapi masih ada dua langkah lagi sebelum Paulus siap untuk menasihati mereka langsung dalam p.14. Perikop kita memberitahu jemaat tentang siapakah mereka di dalam Kristus, yakni, satu tubuh. P.13 menguraikan jalan yang paling cocok dengan keberadaan mereka sebagai satu tubuh, yakni kasih.

Dalam a.12, Paulus menggambarkan Kristus sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Bahwa hal itu bukan gambaran saja disampaikan dalam a.13. Kita “telah dibaptis menjadi satu tubuh”—suatu tanda yang kelihatan yang meniadakan perbedaan-perbedaan yang kelihatan, seperti suku dan status. Juga, kita “diberi minum dari satu Roh”—suatu pengalaman yang tidak kelihatan. Maksudnya bahwa semua mendapat Roh yang sama ketika dibaptis.

Kepelbagaian anggota dalam satu tubuh dikembangkan dari beberapa aspek. Aa.14–18 menanggapi anggota yang merasa bukan bagian dari tubuh (15–16). Sebenarnya, semua bagian dibutuhkan (17), dan lebih lagi, Allah yang menentukan bagian kita, sehingga kita tidak berhak untuk menolak bagian kita.

Aa.19–27 menanggapi anggota yang menyatakan sikap mandiri terhadap anggota yang lain (21), sehingga mungkin saja masa bodoh terhadap pergumulannya dan/atau merasa lebih tinggi daripadanya (bdk. a.26). Paulus mengembangkan gambaran dengan tubuh dengan menguraikan beberapa aspek dari solidaritas tubuh. Bagian tubuh yang lemah atau kurang terhormat justru diberi perlakuan khusus (23–24). Dengan demikian, tubuh itu satu (25), tidak seperti jemaat di Korintus yang terpecah, dan soal penderitaan atau penghormatan dialami bersama-sama (26).

A.27 mulai menerapkan gambaran itu dalam konteks jemaat di sana. Daftar anggota mulai dengan beberapa panggilan khusus—rasul, nabi, pengajar—kemudian dilanjutkan dengan orang mendapat berbagai karunia (28). (Perhatikan bahwa tubuh Kristus di sini tidak terdiri atas pelbagai karunia, tetapi atas berbagai orang yang diberi pelbagai karunia.) Tentu, tidak semua mendapat panggilan tertentu, atau menerima karunia tertentu (29–30).

Akhirnya, dalam a.31 Paulus sampai kepada maksud utamanya. A.31a mengangkat semacam jenjang terkait pentingya karunia-karunia itu. Dalam 14:1 kita melihat karunia mana yang dianggap paling penting oleh Paulus, yaitu bukan bahasa roh melainkan karunia untuk bernubuat. Hal itu sepertinya terbalik dari urutan yang digunakan di dalam jemaat di Korintus. Alasannya dalam a.31b. Ada jalan yang lebih utama lagi dari karunia, yakni jalan kasih (13:1). Kasih tidak meniadakan perlunya karunia-karunia Roh, tetapi menunjukkan tujuannya, untuk melayani sesama. Oleh karena itu, bernubuat lebih berguna daripada berbahasa roh.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai tubuh Kristus, kita semestinya merasa memiliki bagian yang sama (tidak lebih, tidak kurang) pentingnya dengan orang lain di dalam jemaat, dan menikmati perbedaan-perbedaan yang ada. Karunia-karunia yang dimiliki dipakai untuk membangun sesama jemaat, bukan untuk memegahkan diri.

Makna

Yang bisa mengancam solidaritas di dalam tubuh Kristus ialah pertama-tama individualisme atau fraksi (21). Sepertinya, itulah masalah jemaat di Korintus. Semangat rohani mereka tinggi, tetapi keakuan mereka juga tinggi. Tetapi solidaritas di dalam Kristus juga terancam jika hanya menjadi prioritas kedua atau ketiga setelah keluarga dan masyarakat. Hal itu adalah gejala bahwa Yesus kurang penting bagi orangnya. Dia diakui sebagai Tuhan dalam artian ilahi, tetapi bukan sebagai Tuhan dalam artian tuan atau penguasa (a.3, kurios berarti tuan). Atau, Roh yang diberikan ketika orangnya percaya dan dibaptis tidak “diminum”, yaitu, pengalaman rohaninya kurang berdampak dalam kehidupannya. Kita perlu menempatkan dan melihat diri kita sebagai anggota tubuh Kristus, dan hal yang mendorong kita untuk melakukan itu adalah Kristus sebagai Tuhan yang telah memberi kita Roh-Nya.


Rom 6:1-14 Persatuan dengan Kristus [06 Oktober 2013]

Oktober 1, 2013

Perikop ini terasa cukup “teologis”, bahkan terlalu teologis untuk jemaat yang “praktis” seperti di Toraja. Jelas bahwa khotbah dari perikop ini (bahkan renungan ini) tidak akan menggali segala kekayaan di dalamnya. Anggaplah bahwa fungsi dari bahan seperti perikop ini mirip dengan pengetahuan tukang motor. Saya dapat memakai motor tanpa terlalu memahami motor itu, tetapi pengetahuan itu dibutuhkan untuk merawat dan memperbaiki motor itu. Jika jemaat mogok dalam kebenaran, satu alasan untuk hal itu ialah karena identitas mereka dalam Kristus rusak. Banyak jemaat melihat salib sebagai sekadar lambang kekristenan, tanpa memahami bahwa salib dan kebangkitan Kristus adalah pusat cara orang percaya memandang dunia. Perikop ini membekali kita sebagai pelayan untuk membantu jemaat.

Penggalian Teks

Dalam pp.5–8 Paulus mau menjelaskan bagaimana pembenaran oleh iman berhasil membawa hidup baru yang tidak dihasilkan oleh hukum Taurat. Bingkai dari penguraian itu jaminan keselamatan di tengah penderitaan; tema ini diangkat dalam 5:1–11 dan dikembangkan dalam 8:18–39. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam 5:12, akar dari kondisi dunia itu dosa yang membawa maut. Maut merujuk pada segala kebusukan dan kerusakan terhadap ciptaan Allah yang baik, termasuk martabat manusia (3:23) dan relasi (1:29–31). Kematian fisik baru merupakan puncak dari seluruh proses itu di dunia ini, dan lambang dari keterpisahan kekal dari Allah dalam dunia mendatang. Taurat membongkar sifat dosa sebagai pelanggaran (5:20), tetapi cara Allah menguasai dosa dan maut bukan dengan Taurat melainkan kasih karunia di dalam Kristus (5:21). Rom 6:1–8:17 menguraikan cara itu, yaitu bagaimana kasih karunia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut untuk melayani Allah, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat lagi (8:29, serupa dengan Kristus; bdk. 12:1–2) dan mampu berelasi (pp.12–14). Perikop kita menjelaskan dasar pembebasan itu dalam persatuan dengan Kristus. Rom 6:15–23 menegaskan bahwa hanya ada dua pilihan, Allah atau maut. Rom 7:1–8:17 menjelaskan bagaimana Roh yang membawa kuasa kebangkitan Kristus ke dalam kehidupan kita berhasil mengubah kita, sementara Taurat gagal karena sifat keberdosaan manusia (bdk. Rom 8:3–4, 11).

Paulus mulai dengan pertanyaan yang bisa saja muncul dari pernyataannya dalam 5:20: jika dosa menimbulkan kasih karunia, bukankah makin berdosa adalah cara menjadikan makin banyak kasih karunia (1)? Argumentasi ini agaknya sejajar dengan orang yang mau sakit karena pemulihan membawa sukacita. Tetapi Paulus mau mengejar sesuatu yang lebih dalam, yaitu persatuan dengan Kristus. Persatuan itu diwujudkan secara konkret dalam baptisan (3–4), sehingga identitas lama dianulir pada salib (5–7), dan kita dapat menempuh hidup kebangkitan bersama dengan Kristus (8–11).[1] Berdasarkan identitas yang baru di dalam Kristus itu, tubuh kita harus diserahkan kepada Allah, bukan kepada dosa (12–13).

Dalam aa.3–4, Paulus melandaskan identitas orang percaya pada suatu identifikasi orang percaya dengan Kristus dalam baptisan. Ketika Kristus mati pada salib, semua orang percaya turut mati; ketika Kristus dikuburkan, semua orang percaya turut dikuburkan; ketika Kristus bangkit, semua orang percaya turut bangkit ke dalam hidup yang baru. (Kebangkitan itu disebut “oleh kemuliaan Bapa” mungkin karena di situlah kemuliaan Allah yang hilang dipulihkan kembali.) Bagaimana caranya kita bersatu dengan Kristus dijelaskan dalam kedua bagian berikut.

A.5 sepertinya mengulang aa.3–4, tetapi ada unsur baru dengan bahasa “menjadi satu dengan apa yang sama” dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Kata “menjadi satu dengan” (sumfutos) dipakai untuk penyatuan dua hal (misalnya, kedua bagian tulang yang patah, atau benih dan semak yang bertumbuh bersama dalam Luk 8:7), termasuk sifat orang yang menyatu dengan orangnya. Kata ini menunjukkan bahwa baptisan membawa perubahan yang makin melekat pada diri kita, bukan sekadar perubahan status. Kata “apa yang sama dengan” (homoioma) menunjukkan bahwa ada aspek tertentu dari kematian dan kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Soal kematian diuraikan dalam aa.6–7. Yang mati bersama dengan Kristus bukan tubuh jasmani kita, melainkan “manusia lama” kita. Manusia lama itu Adam (5:12 dst), artinya, sifat dalam diri kita yang seperti Adam yang dikuasai oleh dosa dan maut itu. Kuasa dosa di sini bukan kuasa berdasarkan kekerasan atau pemaksaan, tetapi sikap dalam hati bahwa saya berhak untuk mencari kepentingan saya dengan cara apapun. Hanya pelanggaran ini yang dapat mengobati luka batin saya, atau menjawab kebutuhan saya, kata hati manusia lama itu. Dengan demikian, kuasa atas kehidupan saya diserahkan kepada dosa dengan sukarela, dengan akibat bahwa saya menjadi hamba dosa. Tetapi, jika manusia lama itu turut disalibkan, semua tuntutan dosa itu tidak berlaku lagi. “Tubuh dosa”, yaitu otot dan saraf dan otak yang terpola dalam kebiasaan-kebiasaan buruk, tidak sah lagi. Seperti dikatakan dalam a.7, kematian mengakhiri semua kewajiban selama hidup, dan penyaliban manusia lama mengakhiri ikatan kita terhadap dosa. Tentu, jika kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, adalah bodoh untuk bertekun di dalamnya. Sebaliknya, kita menjadi satu dengan kematian itu, artinya, makin menghayati bahwa pola-pola lama itu sudah ditinggalkan pada salib Kristus.

Aa.8–11 menjelaskan aspek apa dari kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Yang dibangkitkan bersama dengan Yesus belum tubuh jasmani kita, melainkan pola hidup. Manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus, sehingga sekarang kita dapat hidup bersama dengan Dia (8). Kristus mati untuk mengalahkan maut (9) dan untuk memecahkan masalah dosa (10), dan Dia hidup bagi Allah. Dengan demikian, adalah rancu jika kita mengaku hidup dengan Kristus tetapi tetap mau hidup dalam dosa (11).

Aa.12–14 mengaku bahwa pengaruh dosa belum juga hilang. Di dalam Kristus tetap ada kemungkinan untuk kita berdosa, tetapi “sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup”, ada juga kemungkinan untuk melayani Allah (13), dan justru pilihan itulah yang cocok bagi orang di bawah kasih karunia (14). Dalam pilihan itu, Paulus berbicara tentang “anggota-anggota tubuh” dan “diri”, karena bagi dia, manusia bukan sekadar motivasi, dan bukan sekadar tindakan. Lebih lagi, dalam perang antara Allah dan dosa/maut, tubuh kita adalah senjata utama kita.

Dalam a.14, Paulus menyebut kembali hukum Taurat, yang justru tidak memampukan kita melayani Allah, sesuatu yang akan dia jelaskan dalam penguraiannya selanjutnya.

Maksud bagi Pembaca

Paulus memberi alasan untuk jemaat ikut dalam rencana Allah untuk mengalahkan dosa dan maut, dengan menjelaskan bagaimana di dalam Kristus kita ikut dalam pola mati-hidup yang dilalui Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasarnya, dengan makin beridentifikasi dengan kematian-Nya terhadap dosa sehingga rindu untuk hidup bagi Allah bersama dengan Kristus. Misi Allah menjadi tujuannya, bahwa perbuatan anggota-anggota tubuh kita adalah senjata yang melayani Allah atau kuasa dosa/maut. Jadi, di dalam Kristus berbuat baik dimungkinkan dan juga penting. Teologi Paulus tentang keberadaan kita di dalam Kristus mau mengubah pola pikir kita sehingga giat melayani Allah menjadi pilihan yang paling masuk akal. Dengan demikian, jemaat yang mogok dalam kebenaran dapat mulai bergerak kembali.

Makna

Pengandaian Paulus dalam penguraian ini ialah bahwa dosa adalah sesuatu yang buruk, yang terkait erat dengan maut sehingga kita mau luput daripadanya. Pertanyaan dalam a.1 kadangkala diajukan dalam bentuk yang cukup kasar, “ayo, kita di bawah kasih karunia dan bebas berdosa”. Paulus menjawab pemahaman itu dalam perikop berikutnya (6:15–23); kasarnya bahwa orang-orang seperti itu tidak beriman (betapapun mereka beragama) sehingga sedang menuju maut kecuali bertobat. Tetapi ada bentuk lebih halus dari a.1, yang telah mengalami bagaimana kasih karunia Allah memang lebih berkuasa daripada dosa dalam diri dan dalam jemaat, dan mengakui dengan rendah hati bahwa kita semua adalah orang berdosa, tetapi dengan demikian tidak lagi giat melawan dosa dalam diri dan dalam jemaat. Kepada kedua kelompok ini, persatuan kita dengan Kristus menunjukkan bahwa dosa sama sekali tidak cocok lagi.

Paulus melihat baptisan sebagai lambang dari persatuan kita dengan Kristus, karena baptisan diadakan satu kali untuk selama-lamanya, sesuai dengan karya Kristus (10). Hari Minggu ini adalah Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Perjamuan Kudus memelihara persatuan itu. Dengan memakan roti dan anggur yang melambangkan kematian Kristus, kita diingatkan bahwa kehidupan kita telah menjadi kehidupan yang terpola oleh kematian dan kebangkitan Kristus.


  1. Dasar untuk pembagian itu adanya pola “jika…karena kita tahu…” dalam aa.5–6 dan aa.7–8 (ei gar/de + kalimat + partisip dalam bahasa Yunani).


Rom 10:14-21 Diutus supaya ada iman timbul dari pendengaran [29 September 2013]

September 23, 2013

Perikop ini tidak sederhana, dan saya telanjur menelusuri beberapa pertanyaan saya dan akhirnya enggan memangkas hasilnya. Maksud dan Makna menyampaikan beberapa hal pokok dan penting bagi pembaca yang terburu-buru.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak atas Ismael dan Yakub atas Esau. Kemudian (9:24–29), Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang manusiawi. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30–10:4). Kemudian (10:4–13), Paulus menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan perikop kita menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Konteks ini penting untuk memahami aa.16–21. Aa.14–15 dengan jelas menguraikan rangkaian kejadian yang harus dilalui supaya baik Israel maupun bangsa-bangsa dapat menerima keselamatan: berseru mengandaikan percaya; percaya mengandaikan mendengar, mendengar mengandaikan pemberitaan, dan pemberitaan mengandaikan pengutusan. Mungkin saja Paulus menegaskan rangkaian itu untuk mendukung permintaannya supaya mereka membantu dia dalam misinya ke Spanyol (15:24). Tetapi, dalam aa.16–21 dia kembali ke masalah penolakan Israel. Aa.16–18 menegaskan bahwa Israel telah mendengar, dan aa.19–21 menegaskan bahwa Israel sudah diberitahu tentang adanya fase baru dalam rencana keselamatan Allah.

Adanya penolakan bukan hal yang baru dalam sejarah Israel, sebagaimana dilihat dalam beberapa kutipan dari Yesaya dalam pp.9–11 ini. A.15b mengutip Yes 52:7, di mana pemberitaan tentang keselamatan Israel dari pembuangan dipuji. A.16 mengutip lanjutannya dalam Yes 53:1, di mana Israel tidak percaya akan pemberitaan itu. Bagi Paulus, pengalaman Yesaya tidak hanya sejajar dengan pengalaman Paulus sendiri, tetapi juga Yesaya 53 itu menceritakan Hamba Tuhan sebagai sarana keselamatan, dan Kristus adalah Hamba Tuhan itu. Yesus sebagai Mesias Israel masuk dalam pembuangan Israel pada salib (kematian), dan kembali dari pembuangan pada hari ketiga (kebangkitan), dan dengan demikian membuka keselamatan juga bagi bangsa-bangsa (Yes 55:4–5 & 56:6–8, bdk. Yes 2:1–4). Yesaya berbicara juga tentang zaman Paulus. Yang menarik di sini, dalam Yes 53:1 Israel tidak percaya, tetapi dalam ayat sebelumnya, ada dari bangsa-bangsa yang memahami (Yes 52:15). Makanya, saya menafsir a.16 ini pertama-tama tentang Israel, walaupun tentu penolakan tidak dibatasi pada Israel saja.

A.17 menarik suatu kesimpulan dari kutipan Yesaya itu: orang akan percaya jika mendengarkan pemberitaan kabar baik tentang keselamatan, yaitu, dalam konteks Paulus (dan kita), firman tentang Kristus. Kesimpulan Paulus itu dibantu dalam bahasa aslinya, karena satu kata (Yunani: akoe) dipakai untuk “pemberitaan” dalam a.16 dan “pendengaran” dalam a.17. Pemberitaan di sini berarti penerusan pesan yang sudah didengar.

A.18 dan a.19 mulai dengan nada perlawanan, “tetapi aku bertanya” (Yunani: alla lego, “tetapi aku mengatakan”). A.18 agak sulit. Sepertinya Paulus mau mengatakan bahwa orang-orang Israel telah mendengar tentang Kristus. Jika kita melihat pelayanan Paulus saja, dia selalu mengunjungi tempat ibadah Yahudi dulu (bdk. 1:16). Jadi, memang orang Israel telah mendengar firman tentang Kristus. Hanya, kata “mereka” dalam Mzm 19:5 yang dikutip di sini merujuk bukan pada para pemberita Kristus melainkan pada ciptaan-ciptaan Allah sebagai pemberita tentang kemuliaan-Nya (Mzm 19:2). Mungkin Paulus mengutipnya, karena dalam Mazmur 19 sendiri, “suara” ciptaan itu digenapi dan diperjelas dalam firman Taurat (19:8–11), dan bagi Paulus Kristus adalah kegenapan Taurat itu (10:4).

Jika a.18 menegaskan bahwa sebenarnya Israel mendengar, a.19 menegaskan bahwa mereka “menanggapnya”. Secara harfiah, pertanyaan itu berbunyi, “Sungguhkah Israel tidak tahu/paham?”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka mengetahui atau menanggap. Dari khotbah Musa kepada Israel yang mau masuk tanah perjanjian (Ul 32:21), Paulus mengutip nubuatan bahwa Tuhan akan menghukum umat Israel yang memberontak dengan bangsa asing. Dalam konteks Paulus, caranya lebih halus—Injil ditawarkan dan diterima oleh bangsa-bangsa itu—tetapi unsur hukuman tetap ada. Aa.20–21 menyampaikan hal yang sama dari Yesaya. Allah memiliki rencana yang di luar dugaan manusia untuk menjangkau orang asing lebih dahulu daripada orang Israel. Tema itu yang dikembangkan dalam p.11, mulai dengan penegasan bahwa sekalipun demikian, Allah bukan telah menolak umat-Nya (11:1).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Roma ikut mengutus dia sebagai pemberita kabar baik, supaya orang lain dapat percaya dan berseru dan diselamatkan (14–15). Karena dasarnya adalah rencana keselamatan dari Allah, termasuk kebutuhan manusia untuk percaya dalam hati dan mengaku (berseru) dengan mulut, kedua ayat ini tetap mendorong kita untuk mengutus orang ke dalam berbagai ladang pelayanan.

Aa.16–21 merupakan peralihan ke soal Yahudi dan bangsa-bangsa dalam rencana Allah dalam p.11. Walaupun aa.16–18 pertama-tama merujuk pada Israel, kita tetap bisa melihat implikasi bahwa, meskipun suatu kelompok sudah banyak mendengar Injil, tidak semua akan menerima kabar baik itu. Ingat bahwa maksud Paulus di sini bukan perlunya beragama, karena orang Israel yang menolak Yesus tetap beragama, tetapi percaya dan berseru (mengaku dengan mulut) kepada Kristus. Jika suku Toraja rata-rata beragama kristen, hal itu tidak menjamin bahwa semua telah menerima kabar baik itu.

Aa.19–21 mungkin terasa semakin sulit dimaknai, karena seakan-akan membahas suku Israel saja dalam rencana Allah. Di balik diskusi itu, walaupun tidak muncul di sini, adalah persoalan yang penting bahwa penolakan Israel menimbulkan tanda tanya tentang kesetiaan Allah kepada Israel (9:6a). Jika Allah tidak setia kepada Israel, apakah Dia akan setia kepada jemaat? Jadi, adalah penting Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak berubah setia dan rencana-Nya tidak goyah. Tetapi mungkin ada implikasi lagi, atau paling sedikit suatu pola yang sering terlihat di dalam sejarah gereja, di mana mereka yang menganggap diri di pusat, seperti Israel pada saat itu atau gereja-gereja mapan di Indonesia sekarang, sering dipinggirkan oleh Allah dalam kesombongan rohani mereka, dan yang di pinggir menjadi ujung tombak misi Allah di dunia. Paling sedikit, sejarah gereja adalah sejarah yang di dalamnya “pusat” menjadi bobrok, dan “pinggir” menjadi pusat baru. Pikirkan saja kekristenan Barat sekarang.

Makna

Jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, maka iman yang dia maksud di sini bukan semangat hati atau perasaan religius yang berdiri mandiri dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang bergantung sepenuhnya pada objeknya. Sebagai contoh akan jenis pertama tadi, saya bisa memompa keyakinan saya bahwa obat ini akan manjur; keyakinan itu tidak bergantung pada siapa-siapa di luar diri saya. Sebaliknya, jika saya mengimani sabda sang dokter bahwa obat ini akan berguna, keyakinan saya bergantung pada dia, bukan pada diri saya. Iman yang sejati kepada Kristus tidak akan berdaya kecuali Kristus berada sebagaimana Dia diberitakan dalam firman Tuhan. Makanya, iman itu hanya timbul dari luar, dari kabar baik yang diberitakan dan didengarkan, dan tidak berasal dari diri sendiri.


Ul 30:11-20 Pilihlah hidup, karena firman Allah dekat [22 September 2013]

September 15, 2013

Teologi kristen tidak seperti filsafat yang menggali kebenaran-kebenaran di luar ruang dan waktu. Allah bertindak dalam sejarah, dan teologi harus berbicara tentang Allah itu. Allah tidak berubah, tetapi penyataan diri-Nya berkembang dan mencapai puncaknya dalam Kristus. Oleh karena itu, penafsiran di bawah tidak hanya melihat Israel pada zaman Musa, dan tidak hanya menggali suatu prinsip umum, tetapi juga mau memahami perikop ini dalam rangka sejarah keselamatan selanjutnya.

Penggalian Teks

Konteks dari perikop ini penting. “Perintah ini” dalam a.11 adalah perintah untuk berbalik kepada Tuhan dan taat (30:10), yang hanya akan dimampukan oleh Tuhan setelah Israel kembali dari pembuangan. Ingat bahwa bagian “formal” dari penyampaian Musa berakhir dalam p.28 dengan pembacaan berkat atau kutuk sebagai akibat dari ketaatan Israel kepada hukum-hukum yang dipaparkan dalam pp.12-26. Dalam p.29 dia menilai dengan terus terang kemampuan Israel: Tuhan belum memampukan Israel untuk taat (29:4), walaupun mereka telah melihat karya Allah yang besar (29:2-3, 5-8). Bahwa Israel (sebagai manusia berdosa) tidak mampu taat tidak mengejutkan, tetapi Musa dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan belum memberi mereka kemampuan. Makanya, dari 29:18, bayangan Musa ialah Israel memberontak dan dimurkai, sebagaimana terjadi dalam abad-abad kemudian, sampai Yehuda dibuang pada abad ke-6 SM.

Bahwa kemampuan itu bergantung pada Tuhan ditegaskan dalam 30:6. Pembuangan akan membuat Israel sadar dan bertobat (30:1-3) sehingga Allah memulihkan kondisi mereka (30:4-10). Penyunatan hati menjadi inti dari pemulihan ini, karena memungkinkan kasih kepada Allah yang membawa kehidupan bukan kematian. Yeremia, yang melayani di sekitar peristiwa Yehuda diangkat ke Babel, menyampaikan hal yang sama dengan menyampaikan janji Allah tentang sebuah perjanjian baru dengan hati yang baru (Yer 31:33). Itulah mengapa Paulus menerapkan awal perikop kita (12-14) kepada Injil tentang kebenaran oleh iman (Rom 10:6-8). Dia melihat bahwa seruan Musa hanya akan bisa dilakukan setelah pembaruan kondisi umat Allah yang terjadi ketika Roh Kristus mengubah hati manusia (Rom 7:5-6).

Aa.11-14 menegaskan bahwa perintah Allah terjangkau, “di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (14). Perintah itu ada dalam mulut karena diucapkan dan direnungkan, dan dengan demikian menjadi bagian dari ingatan. Orang yang hatinya belum disunat akan berdalih bahwa pikiran Allah itu misteri yang amat melampaui jangkauan manusia, seperti langit atau ujung bumi (12-13). Jika yang dimaksud adalah “hal-hal yang tersembunyi”, seperti alasan Allah sehingga hati Israel tidak disunat sejak awalnya, maka pernyataan itu benar (29:29a). Tetapi, jika berbicara tentang kehendak Tuhan, hal itu sudah dinyatakan dengan jelas (29:29b). Bagi Paulus, kedatangan Kristus mempertegas kedekatan firman Allah ini (Rom 10:6-7). Kesulitan manusia untuk taat terletak dalam hati manusia, bukan dalam perintah Allah.

Bagaimanapun kondisi hati manusia, implikasinya tetap sama. Aa.15-20 menawarkan (untuk sekian kalinya dalam kitab Ulangan) dua pilihan, hidup dan mati. A.16 menawarkan hidup; aa.17-18 memperingati akibat dari ketidaksetiaan, dan aa.19-20 kembali menawarkan kehidupan, dengan penegasan dalam langit dan bumi sebagai saksi, dan seruan untuk memilih. Penekanan pada mengasihi Allah menunjukkan bahwa dasarnya ialah relasi dengan Allah. Kehidupan dan kematian bukan upah dan sanksi sembarang, tetapi melekat pada siapakah Allah. Sebagai Pencipta dan Penebus umat-Nya, berpisah dari Dia berarti terpisah dari sumber hidup dan berkat.

Maksud bagi Pembaca

Bagi umat yang hatinya disunat dalam Kristus (Kol 2:811-12), perikop ini membawa janji bahwa perintah yang menunjukkan jalan kehidupan dan berkat itu dekat dan terjangkau, supaya kita diberi semangat untuk tetap memilih hidup dalam ketaatan.

Makna

Makna mendasar dari perikop ini tidaklah sulit, yaitu bahwa yang dinyatakan oleh Allah kepada kita jelas, dapat diucapkan dan dapat diingat (masuk dalam hati). Makanya, ketaatan yang membawa kehidupan yang sejati terjangkau. Bukannya saya harus menjadi genius dalam filsafat, atau memecahkan rekor dunia, atau menjadi orang terkemuka, atau apapun yang lain yang hanya terjangkau oleh segelintir orang. Menjadi taat itu sederhana. Siapapun mampu beribadah kepada Allah dan mengasihi sesama.

Namun, konteks dari perikop ini membawa nada yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas. Ketaatan dianjurkan kepada orang-orang Israel sebagai pilihan, tetapi dengan penuh kesadaran bahwa sebagai bangsa yang berdosa, mereka tidak akan memilih apa yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa penawaran pilihan itu percuma. Ada masa-masa Israel setia dan diberkati (misalnya, Hak 2:7), dan selalu ada orang-orang tertentu yang taat dan menikmati hubungan dengan Allah, walaupun dianiaya (seperti Elia, dan 7.000 orang yang lain pada zamannya). Ada yang memilih untuk hidup bagi dan bersama dengan Allah.

Pentingnya konteks itu ialah kesadaran bahwa hanya Allah yang membuka hati dan pikiran kita untuk bisa memilih hidup. Optimisme tentang kemampuan manusia dalam sejarah gereja biasanya dikaitkan dengan Pelagius, yang berdalil bahwa adanya perintah dari Tuhan mengandaikan kemampuan manusia untuk melakukannya; Tuhan tidak akan memberi manusia perintah yang tidak bisa ditaati. Dari segi kemampuan alami, hal itu benar. Tidak ada perintah bagi manusia untuk terbang, misalnya. Tetapi dari segi kemampuan rohani, hal itu tidak benar. Sebagai contoh, para dokter memberitahu kita bahwa merokok itu berbahaya, tetapi informasi itu tidak membawa kemampuan bagi perokok untuk berhenti. Informasi itu disampaikan karena benar, sama seperti pilihan hidup/mati itu benar, tetapi bukan karena pendengar akan bisa memilih. Dengan demikian, ada unsur tragis dalam perintah Allah (dan seringkali nasihat dokter), karena manusia menuju kehancuran yang disadari tetapi oleh karena hatinya keras, tidak bisa dielakkan. Unsur tragis itu cukup jelas dalam Yer 31:32 dan nas-nas yang lain dalam para nabi. Kitab Ulangan juga begitu, bdk. 31:16 atau 32:15-18. Sungguh, perikop kita tidak bermaksud untuk membawa harapan bagi manusia berdosa bahwa kita bisa menyelamatkan diri.

Tragedi itulah yang dijawab dalam kedatangan Kristus, yang memilih dihancurkan dalam solidaritas dengan manusia berdosa pada salib supaya dalam kebangkitan-Nya Dia membawa manusia yang percaya kepada-Nya ke dalam hidup yang baru. Tragedi menjadi komedi (dalam artian teknis: berakhir dengan baik). Dalam Kristus, penawaran perikop ini menjadi pilihan sungguh-sungguh. Kita diberi hati yang baru sehingga dimampukan untuk memilih jalan Tuhan, dan semakin kita melakukannya, semakin kita menikmati hubungan dengan Dia; semakin kita berpaling dari Dia, semakin kehidupan kita hampa.


Yes 56:1-8 Keselamatan bagi semua yang taat [15 September 2013]

September 10, 2013

Perikop ini juga membahas satu segi dari identitas umat Allah, yang menurut saya adalah satu hal pokok yang perlu dikembangkan di dalam gereja. A.1 dengan jelas melihat ketaatan sebagai respons terhadap janji keselamatan. Sabat hanya masuk akal sebagai respons terhadap keselamatan, karena terkait erat dengan karya penciptaan dan penebusan oleh Allah.

Penggalian Teks

Pp.49-55 menubuatkan pengorbanan Hamba Tuhan, yang dalam p.53 meraih keselamatan bagi Israel. Keselamatan itu diuraikan dalam pp.54-55. Setelah perikop kita, nada nubuatan kembali menegur Israel, tetapi bukan lagi dengan ancaman pembuangan, melainkan dengan ancaman tidak mendapat bagian dalam keselamatan dari Allah.

Jadi, nubuatan ini dikatakan kepada umat yang kepadanya diberikan janji keselamatan (1), dan menjelaskan orang seperti apa yang cocok untuk menikmati keselamatan itu, atau dengan kata lain, siapa umat Allah yang sebenarnya.

Ada kesejajaran dalam a.1 antara respons manusia dan karya Tuhan, “hukum” dan “keadilan” dari manusia karena “keselamatan” dan “keadilan” dari Tuhan. Hukum (mishpat, dari kata shapat = “memerintah”) di sini bukan peraturan tetapi tatanan sosial yang diciptakan oleh para penguasa yang memerintah dengan baik. Keadilan (tsedaqah) lebih luas dari konteks pengadilan saja, dan merujuk pada cara semua relasi antar-manusia dilakukan. Keadilan dapat berkembang ketika hukum diterapkan. Di atas Israel yang dibuang ke Babel, Tuhan memerintah dengan menyelamatkan mereka, suatu tindakan keadilan. Tetapi, perhatikan bahwa Israel di sini belum diselamatkan. Mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan janji keselamatan, bukan sesuai kondisi yang ada. A.2 menyatakan kebahagiaan jalan itu, serta mengangkat satu hal khusus—memelihara Sabat—serta satu hal umum—menahan diri (harfiah: “menjaga tangannya”) dari kejahatan.

Aa.3-7 merupakan kiasmus, yaitu pola silang sbb. Orang asing “yang menggabungkan diri kepada Tuhan” disebut dulu dalam a.3a (A), kemudian orang kebiri dalam a.3b (B). Kemudian, janji Allah kepada kedua kelompok ini disampaikan dalam urutan yang terbalik: orang kebiri diuraikan dulu dalam aa.4-5 (B’), dan orang asing dalam aa.6-7 (A’). Kedua kelompok ini memiliki kekhawatiran masing-masing sesuai dengan kondisinya, tentang keterlibatan mereka dalam janji keselamatan Allah.

Syarat (dalam artian, cara hidup yang cocok dengan apa yang dijanjikan) bagi orang kebiri adalah memelihara Sabat dan taat (4). Mereka sudah menjadi bagian dari perjanjian Tuhan sebagai orang Israel, dan cara menyatakan keanggotaan itu ialah memilih kehendak Tuhan. Janji Tuhan ialah bahwa akan ada nama yang lebih baik daripada keturunan yaitu di Bait Allah. Kata “peringatan” menerjemahkan kata “tangan”, sehingga dalam bahasa aslinya, orang kebiri yang menahan “tangan” dari kejahatan (2) mendapat “tangan” (peringatan) yang abadi (5). Janji ini mengandaikan dunia baru (Yes. 65:17) di mana Bait Allah menjadi pusat dunia yang kekal (Yes 2:1-4). Dengan demikian, keluhan “aku ini pohon yang kering” dijawab. Sama seperti Abraham (Kej 12:2), mereka akan memiliki nama.

Orang-orang asing yang dimaksud adalah yang siap melayani Tuhan, siap menjadikan Tuhan tuan atas hidupnya. Hal itu akan dilihat dalam soal yang sama dengan orang kebiri, yaitu Sabat dan perjanjian, hanya soal “memilih apa yang Kukehendaki” diganti dengan “tidak menajiskan [Sabat]”. Janji bagi mereka adalah keterlibatan penuh dalam ibadah kepada Tuhan—dibawa ke Bait Allah dan membawa persembahan—sesuai dengan penglihatan dalam Yes 2:1-4. Dengan demikian, keluhan “Tuhan hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya” dijawab. Sama seperti Abraham, mereka akan bersekutu dengan Allah (Kej 12:8).

Dengan demikian, Allah akan menyempurnakan keselamatan Israel yang diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya (8). Semua orang di dalam, yang cacat sekalipun, dan semua orang di luar, bangsa-bangsa, ditawarkan keselamatan yang penuh, penerimaan dan martabat di hadapan Allah. Janji Allah kepada Abraham tentang berkat bagi seluruh dunia akan digenapi.

Maksud bagi Pembaca

Kebahagiaan karena menyambut keselamatan Tuhan dengan ketaatan ditawarkan kepada semua manusia, orang cacat dan orang asing sekalipun. Tuhan akan mengubah semua kekurangan yang lain menjadi berkat, supaya penerima keselamatan-Nya makin bertambah.

Makna

Hari Sabat mendapat penekanan yang menarik di sini. Dalam PB, Sabat menjadi pokok perselisihan antara Yesus dengan orang-orang Farisi, tetapi seterusnya hanya muncul dalam Kol 2:16, dan mungkin tersirat dalam Rom 14:5. Sulit dibayangkan bahwa seorang hamba yang menjadi percaya akan dibolehkan tidak bekerja pada hari Minggu oleh tuan yang tidak percaya. Tetapi, makna Sabat bukan sekadar tidak bekerja. Dalam Kel 20:11, Sabat meniru pola Allah yang “berhenti” pada hari ketujuh. Dengan demikian, hari Sabat menjadi peringatan akan karya penciptaan. Dalam Ul 5:15, perbudakan Israel di Mesir menjadi alasan untuk hamba-hamba orang Israel ikut menikmati perhentian pada hari Sabat. Jadi, makna Sabat termasuk merayakan karya Allah (penciptaan dan penebusan), dan juga ada unsur keadilan di dalamnya. Pada hari Sabat, hamba pun dihargai sebagai manusia, bukan sebagai sumber pendapatan. Hal itu menjadi alasan untuk Yesaya menekankan Sabat dalam kaitan dengan keadilan. Dalam PB, makna Sabat berkembang lagi menjadi simbol istirahat eskatologis (Ibr 4:8-11).

Dalam Ul 23:1, orang kebiri dilarang masuk “jemaah Tuhan”. Orang Yahudi pada zaman-zaman kemudian tidak melihat adanya perubahan dalam perintah Tuhan itu: yang diberikan adalah nama, bukan izin memasuki jemaah. Yang ada bagi mereka ialah semacam pemaknaan ulang bahwa larangan itu memiliki makna ritus (kesempurnaan fisik sebagai simbol kesempurnaan moral), dan tidak bermaksud menurunkan martabat orangnya. Namun, jika kita melihat bahwa masa depan yang dinubuatkan di sini digenapi di dalam Yesus, kita memahami bahwa memang kita tidak di bawah hukum Taurat lagi, dan siapapun bebas masuk dalam jemaat. Hanya, yang dipersoalkan di sini bukan masuk di jemaah/jemaat melainkan adanya keturunan. Dalam Mt 19:12, Yesus memakai kata untuk orang kebiri (eunoukhos, diterjemahkan “orang yang tidak dapat kawin” oleh LAI, yang juga dipakai dalam terjemahan LXX dari Yes 56:3-4) secara kiasan untuk orang yang tidak menikah karena berbagai alasan—termasuk Yesus sendiri. Biasanya sebuah nama diteguhkan melalui keturunan, tetapi nama dari Allah adalah nama yang abadi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.