Rom 6:1-14 Persatuan dengan Kristus [06 Oktober 2013]

Oktober 1, 2013

Perikop ini terasa cukup “teologis”, bahkan terlalu teologis untuk jemaat yang “praktis” seperti di Toraja. Jelas bahwa khotbah dari perikop ini (bahkan renungan ini) tidak akan menggali segala kekayaan di dalamnya. Anggaplah bahwa fungsi dari bahan seperti perikop ini mirip dengan pengetahuan tukang motor. Saya dapat memakai motor tanpa terlalu memahami motor itu, tetapi pengetahuan itu dibutuhkan untuk merawat dan memperbaiki motor itu. Jika jemaat mogok dalam kebenaran, satu alasan untuk hal itu ialah karena identitas mereka dalam Kristus rusak. Banyak jemaat melihat salib sebagai sekadar lambang kekristenan, tanpa memahami bahwa salib dan kebangkitan Kristus adalah pusat cara orang percaya memandang dunia. Perikop ini membekali kita sebagai pelayan untuk membantu jemaat.

Penggalian Teks

Dalam pp.5–8 Paulus mau menjelaskan bagaimana pembenaran oleh iman berhasil membawa hidup baru yang tidak dihasilkan oleh hukum Taurat. Bingkai dari penguraian itu jaminan keselamatan di tengah penderitaan; tema ini diangkat dalam 5:1–11 dan dikembangkan dalam 8:18–39. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam 5:12, akar dari kondisi dunia itu dosa yang membawa maut. Maut merujuk pada segala kebusukan dan kerusakan terhadap ciptaan Allah yang baik, termasuk martabat manusia (3:23) dan relasi (1:29–31). Kematian fisik baru merupakan puncak dari seluruh proses itu di dunia ini, dan lambang dari keterpisahan kekal dari Allah dalam dunia mendatang. Taurat membongkar sifat dosa sebagai pelanggaran (5:20), tetapi cara Allah menguasai dosa dan maut bukan dengan Taurat melainkan kasih karunia di dalam Kristus (5:21). Rom 6:1–8:17 menguraikan cara itu, yaitu bagaimana kasih karunia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut untuk melayani Allah, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat lagi (8:29, serupa dengan Kristus; bdk. 12:1–2) dan mampu berelasi (pp.12–14). Perikop kita menjelaskan dasar pembebasan itu dalam persatuan dengan Kristus. Rom 6:15–23 menegaskan bahwa hanya ada dua pilihan, Allah atau maut. Rom 7:1–8:17 menjelaskan bagaimana Roh yang membawa kuasa kebangkitan Kristus ke dalam kehidupan kita berhasil mengubah kita, sementara Taurat gagal karena sifat keberdosaan manusia (bdk. Rom 8:3–4, 11).

Paulus mulai dengan pertanyaan yang bisa saja muncul dari pernyataannya dalam 5:20: jika dosa menimbulkan kasih karunia, bukankah makin berdosa adalah cara menjadikan makin banyak kasih karunia (1)? Argumentasi ini agaknya sejajar dengan orang yang mau sakit karena pemulihan membawa sukacita. Tetapi Paulus mau mengejar sesuatu yang lebih dalam, yaitu persatuan dengan Kristus. Persatuan itu diwujudkan secara konkret dalam baptisan (3–4), sehingga identitas lama dianulir pada salib (5–7), dan kita dapat menempuh hidup kebangkitan bersama dengan Kristus (8–11).[1] Berdasarkan identitas yang baru di dalam Kristus itu, tubuh kita harus diserahkan kepada Allah, bukan kepada dosa (12–13).

Dalam aa.3–4, Paulus melandaskan identitas orang percaya pada suatu identifikasi orang percaya dengan Kristus dalam baptisan. Ketika Kristus mati pada salib, semua orang percaya turut mati; ketika Kristus dikuburkan, semua orang percaya turut dikuburkan; ketika Kristus bangkit, semua orang percaya turut bangkit ke dalam hidup yang baru. (Kebangkitan itu disebut “oleh kemuliaan Bapa” mungkin karena di situlah kemuliaan Allah yang hilang dipulihkan kembali.) Bagaimana caranya kita bersatu dengan Kristus dijelaskan dalam kedua bagian berikut.

A.5 sepertinya mengulang aa.3–4, tetapi ada unsur baru dengan bahasa “menjadi satu dengan apa yang sama” dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Kata “menjadi satu dengan” (sumfutos) dipakai untuk penyatuan dua hal (misalnya, kedua bagian tulang yang patah, atau benih dan semak yang bertumbuh bersama dalam Luk 8:7), termasuk sifat orang yang menyatu dengan orangnya. Kata ini menunjukkan bahwa baptisan membawa perubahan yang makin melekat pada diri kita, bukan sekadar perubahan status. Kata “apa yang sama dengan” (homoioma) menunjukkan bahwa ada aspek tertentu dari kematian dan kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Soal kematian diuraikan dalam aa.6–7. Yang mati bersama dengan Kristus bukan tubuh jasmani kita, melainkan “manusia lama” kita. Manusia lama itu Adam (5:12 dst), artinya, sifat dalam diri kita yang seperti Adam yang dikuasai oleh dosa dan maut itu. Kuasa dosa di sini bukan kuasa berdasarkan kekerasan atau pemaksaan, tetapi sikap dalam hati bahwa saya berhak untuk mencari kepentingan saya dengan cara apapun. Hanya pelanggaran ini yang dapat mengobati luka batin saya, atau menjawab kebutuhan saya, kata hati manusia lama itu. Dengan demikian, kuasa atas kehidupan saya diserahkan kepada dosa dengan sukarela, dengan akibat bahwa saya menjadi hamba dosa. Tetapi, jika manusia lama itu turut disalibkan, semua tuntutan dosa itu tidak berlaku lagi. “Tubuh dosa”, yaitu otot dan saraf dan otak yang terpola dalam kebiasaan-kebiasaan buruk, tidak sah lagi. Seperti dikatakan dalam a.7, kematian mengakhiri semua kewajiban selama hidup, dan penyaliban manusia lama mengakhiri ikatan kita terhadap dosa. Tentu, jika kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, adalah bodoh untuk bertekun di dalamnya. Sebaliknya, kita menjadi satu dengan kematian itu, artinya, makin menghayati bahwa pola-pola lama itu sudah ditinggalkan pada salib Kristus.

Aa.8–11 menjelaskan aspek apa dari kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Yang dibangkitkan bersama dengan Yesus belum tubuh jasmani kita, melainkan pola hidup. Manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus, sehingga sekarang kita dapat hidup bersama dengan Dia (8). Kristus mati untuk mengalahkan maut (9) dan untuk memecahkan masalah dosa (10), dan Dia hidup bagi Allah. Dengan demikian, adalah rancu jika kita mengaku hidup dengan Kristus tetapi tetap mau hidup dalam dosa (11).

Aa.12–14 mengaku bahwa pengaruh dosa belum juga hilang. Di dalam Kristus tetap ada kemungkinan untuk kita berdosa, tetapi “sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup”, ada juga kemungkinan untuk melayani Allah (13), dan justru pilihan itulah yang cocok bagi orang di bawah kasih karunia (14). Dalam pilihan itu, Paulus berbicara tentang “anggota-anggota tubuh” dan “diri”, karena bagi dia, manusia bukan sekadar motivasi, dan bukan sekadar tindakan. Lebih lagi, dalam perang antara Allah dan dosa/maut, tubuh kita adalah senjata utama kita.

Dalam a.14, Paulus menyebut kembali hukum Taurat, yang justru tidak memampukan kita melayani Allah, sesuatu yang akan dia jelaskan dalam penguraiannya selanjutnya.

Maksud bagi Pembaca

Paulus memberi alasan untuk jemaat ikut dalam rencana Allah untuk mengalahkan dosa dan maut, dengan menjelaskan bagaimana di dalam Kristus kita ikut dalam pola mati-hidup yang dilalui Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasarnya, dengan makin beridentifikasi dengan kematian-Nya terhadap dosa sehingga rindu untuk hidup bagi Allah bersama dengan Kristus. Misi Allah menjadi tujuannya, bahwa perbuatan anggota-anggota tubuh kita adalah senjata yang melayani Allah atau kuasa dosa/maut. Jadi, di dalam Kristus berbuat baik dimungkinkan dan juga penting. Teologi Paulus tentang keberadaan kita di dalam Kristus mau mengubah pola pikir kita sehingga giat melayani Allah menjadi pilihan yang paling masuk akal. Dengan demikian, jemaat yang mogok dalam kebenaran dapat mulai bergerak kembali.

Makna

Pengandaian Paulus dalam penguraian ini ialah bahwa dosa adalah sesuatu yang buruk, yang terkait erat dengan maut sehingga kita mau luput daripadanya. Pertanyaan dalam a.1 kadangkala diajukan dalam bentuk yang cukup kasar, “ayo, kita di bawah kasih karunia dan bebas berdosa”. Paulus menjawab pemahaman itu dalam perikop berikutnya (6:15–23); kasarnya bahwa orang-orang seperti itu tidak beriman (betapapun mereka beragama) sehingga sedang menuju maut kecuali bertobat. Tetapi ada bentuk lebih halus dari a.1, yang telah mengalami bagaimana kasih karunia Allah memang lebih berkuasa daripada dosa dalam diri dan dalam jemaat, dan mengakui dengan rendah hati bahwa kita semua adalah orang berdosa, tetapi dengan demikian tidak lagi giat melawan dosa dalam diri dan dalam jemaat. Kepada kedua kelompok ini, persatuan kita dengan Kristus menunjukkan bahwa dosa sama sekali tidak cocok lagi.

Paulus melihat baptisan sebagai lambang dari persatuan kita dengan Kristus, karena baptisan diadakan satu kali untuk selama-lamanya, sesuai dengan karya Kristus (10). Hari Minggu ini adalah Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Perjamuan Kudus memelihara persatuan itu. Dengan memakan roti dan anggur yang melambangkan kematian Kristus, kita diingatkan bahwa kehidupan kita telah menjadi kehidupan yang terpola oleh kematian dan kebangkitan Kristus.


  1. Dasar untuk pembagian itu adanya pola “jika…karena kita tahu…” dalam aa.5–6 dan aa.7–8 (ei gar/de + kalimat + partisip dalam bahasa Yunani).


Rom 10:14-21 Diutus supaya ada iman timbul dari pendengaran [29 September 2013]

September 23, 2013

Perikop ini tidak sederhana, dan saya telanjur menelusuri beberapa pertanyaan saya dan akhirnya enggan memangkas hasilnya. Maksud dan Makna menyampaikan beberapa hal pokok dan penting bagi pembaca yang terburu-buru.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak atas Ismael dan Yakub atas Esau. Kemudian (9:24–29), Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang manusiawi. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30–10:4). Kemudian (10:4–13), Paulus menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan perikop kita menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Konteks ini penting untuk memahami aa.16–21. Aa.14–15 dengan jelas menguraikan rangkaian kejadian yang harus dilalui supaya baik Israel maupun bangsa-bangsa dapat menerima keselamatan: berseru mengandaikan percaya; percaya mengandaikan mendengar, mendengar mengandaikan pemberitaan, dan pemberitaan mengandaikan pengutusan. Mungkin saja Paulus menegaskan rangkaian itu untuk mendukung permintaannya supaya mereka membantu dia dalam misinya ke Spanyol (15:24). Tetapi, dalam aa.16–21 dia kembali ke masalah penolakan Israel. Aa.16–18 menegaskan bahwa Israel telah mendengar, dan aa.19–21 menegaskan bahwa Israel sudah diberitahu tentang adanya fase baru dalam rencana keselamatan Allah.

Adanya penolakan bukan hal yang baru dalam sejarah Israel, sebagaimana dilihat dalam beberapa kutipan dari Yesaya dalam pp.9–11 ini. A.15b mengutip Yes 52:7, di mana pemberitaan tentang keselamatan Israel dari pembuangan dipuji. A.16 mengutip lanjutannya dalam Yes 53:1, di mana Israel tidak percaya akan pemberitaan itu. Bagi Paulus, pengalaman Yesaya tidak hanya sejajar dengan pengalaman Paulus sendiri, tetapi juga Yesaya 53 itu menceritakan Hamba Tuhan sebagai sarana keselamatan, dan Kristus adalah Hamba Tuhan itu. Yesus sebagai Mesias Israel masuk dalam pembuangan Israel pada salib (kematian), dan kembali dari pembuangan pada hari ketiga (kebangkitan), dan dengan demikian membuka keselamatan juga bagi bangsa-bangsa (Yes 55:4–5 & 56:6–8, bdk. Yes 2:1–4). Yesaya berbicara juga tentang zaman Paulus. Yang menarik di sini, dalam Yes 53:1 Israel tidak percaya, tetapi dalam ayat sebelumnya, ada dari bangsa-bangsa yang memahami (Yes 52:15). Makanya, saya menafsir a.16 ini pertama-tama tentang Israel, walaupun tentu penolakan tidak dibatasi pada Israel saja.

A.17 menarik suatu kesimpulan dari kutipan Yesaya itu: orang akan percaya jika mendengarkan pemberitaan kabar baik tentang keselamatan, yaitu, dalam konteks Paulus (dan kita), firman tentang Kristus. Kesimpulan Paulus itu dibantu dalam bahasa aslinya, karena satu kata (Yunani: akoe) dipakai untuk “pemberitaan” dalam a.16 dan “pendengaran” dalam a.17. Pemberitaan di sini berarti penerusan pesan yang sudah didengar.

A.18 dan a.19 mulai dengan nada perlawanan, “tetapi aku bertanya” (Yunani: alla lego, “tetapi aku mengatakan”). A.18 agak sulit. Sepertinya Paulus mau mengatakan bahwa orang-orang Israel telah mendengar tentang Kristus. Jika kita melihat pelayanan Paulus saja, dia selalu mengunjungi tempat ibadah Yahudi dulu (bdk. 1:16). Jadi, memang orang Israel telah mendengar firman tentang Kristus. Hanya, kata “mereka” dalam Mzm 19:5 yang dikutip di sini merujuk bukan pada para pemberita Kristus melainkan pada ciptaan-ciptaan Allah sebagai pemberita tentang kemuliaan-Nya (Mzm 19:2). Mungkin Paulus mengutipnya, karena dalam Mazmur 19 sendiri, “suara” ciptaan itu digenapi dan diperjelas dalam firman Taurat (19:8–11), dan bagi Paulus Kristus adalah kegenapan Taurat itu (10:4).

Jika a.18 menegaskan bahwa sebenarnya Israel mendengar, a.19 menegaskan bahwa mereka “menanggapnya”. Secara harfiah, pertanyaan itu berbunyi, “Sungguhkah Israel tidak tahu/paham?”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka mengetahui atau menanggap. Dari khotbah Musa kepada Israel yang mau masuk tanah perjanjian (Ul 32:21), Paulus mengutip nubuatan bahwa Tuhan akan menghukum umat Israel yang memberontak dengan bangsa asing. Dalam konteks Paulus, caranya lebih halus—Injil ditawarkan dan diterima oleh bangsa-bangsa itu—tetapi unsur hukuman tetap ada. Aa.20–21 menyampaikan hal yang sama dari Yesaya. Allah memiliki rencana yang di luar dugaan manusia untuk menjangkau orang asing lebih dahulu daripada orang Israel. Tema itu yang dikembangkan dalam p.11, mulai dengan penegasan bahwa sekalipun demikian, Allah bukan telah menolak umat-Nya (11:1).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Roma ikut mengutus dia sebagai pemberita kabar baik, supaya orang lain dapat percaya dan berseru dan diselamatkan (14–15). Karena dasarnya adalah rencana keselamatan dari Allah, termasuk kebutuhan manusia untuk percaya dalam hati dan mengaku (berseru) dengan mulut, kedua ayat ini tetap mendorong kita untuk mengutus orang ke dalam berbagai ladang pelayanan.

Aa.16–21 merupakan peralihan ke soal Yahudi dan bangsa-bangsa dalam rencana Allah dalam p.11. Walaupun aa.16–18 pertama-tama merujuk pada Israel, kita tetap bisa melihat implikasi bahwa, meskipun suatu kelompok sudah banyak mendengar Injil, tidak semua akan menerima kabar baik itu. Ingat bahwa maksud Paulus di sini bukan perlunya beragama, karena orang Israel yang menolak Yesus tetap beragama, tetapi percaya dan berseru (mengaku dengan mulut) kepada Kristus. Jika suku Toraja rata-rata beragama kristen, hal itu tidak menjamin bahwa semua telah menerima kabar baik itu.

Aa.19–21 mungkin terasa semakin sulit dimaknai, karena seakan-akan membahas suku Israel saja dalam rencana Allah. Di balik diskusi itu, walaupun tidak muncul di sini, adalah persoalan yang penting bahwa penolakan Israel menimbulkan tanda tanya tentang kesetiaan Allah kepada Israel (9:6a). Jika Allah tidak setia kepada Israel, apakah Dia akan setia kepada jemaat? Jadi, adalah penting Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak berubah setia dan rencana-Nya tidak goyah. Tetapi mungkin ada implikasi lagi, atau paling sedikit suatu pola yang sering terlihat di dalam sejarah gereja, di mana mereka yang menganggap diri di pusat, seperti Israel pada saat itu atau gereja-gereja mapan di Indonesia sekarang, sering dipinggirkan oleh Allah dalam kesombongan rohani mereka, dan yang di pinggir menjadi ujung tombak misi Allah di dunia. Paling sedikit, sejarah gereja adalah sejarah yang di dalamnya “pusat” menjadi bobrok, dan “pinggir” menjadi pusat baru. Pikirkan saja kekristenan Barat sekarang.

Makna

Jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, maka iman yang dia maksud di sini bukan semangat hati atau perasaan religius yang berdiri mandiri dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang bergantung sepenuhnya pada objeknya. Sebagai contoh akan jenis pertama tadi, saya bisa memompa keyakinan saya bahwa obat ini akan manjur; keyakinan itu tidak bergantung pada siapa-siapa di luar diri saya. Sebaliknya, jika saya mengimani sabda sang dokter bahwa obat ini akan berguna, keyakinan saya bergantung pada dia, bukan pada diri saya. Iman yang sejati kepada Kristus tidak akan berdaya kecuali Kristus berada sebagaimana Dia diberitakan dalam firman Tuhan. Makanya, iman itu hanya timbul dari luar, dari kabar baik yang diberitakan dan didengarkan, dan tidak berasal dari diri sendiri.


Ul 30:11-20 Pilihlah hidup, karena firman Allah dekat [22 September 2013]

September 15, 2013

Teologi kristen tidak seperti filsafat yang menggali kebenaran-kebenaran di luar ruang dan waktu. Allah bertindak dalam sejarah, dan teologi harus berbicara tentang Allah itu. Allah tidak berubah, tetapi penyataan diri-Nya berkembang dan mencapai puncaknya dalam Kristus. Oleh karena itu, penafsiran di bawah tidak hanya melihat Israel pada zaman Musa, dan tidak hanya menggali suatu prinsip umum, tetapi juga mau memahami perikop ini dalam rangka sejarah keselamatan selanjutnya.

Penggalian Teks

Konteks dari perikop ini penting. “Perintah ini” dalam a.11 adalah perintah untuk berbalik kepada Tuhan dan taat (30:10), yang hanya akan dimampukan oleh Tuhan setelah Israel kembali dari pembuangan. Ingat bahwa bagian “formal” dari penyampaian Musa berakhir dalam p.28 dengan pembacaan berkat atau kutuk sebagai akibat dari ketaatan Israel kepada hukum-hukum yang dipaparkan dalam pp.12-26. Dalam p.29 dia menilai dengan terus terang kemampuan Israel: Tuhan belum memampukan Israel untuk taat (29:4), walaupun mereka telah melihat karya Allah yang besar (29:2-3, 5-8). Bahwa Israel (sebagai manusia berdosa) tidak mampu taat tidak mengejutkan, tetapi Musa dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan belum memberi mereka kemampuan. Makanya, dari 29:18, bayangan Musa ialah Israel memberontak dan dimurkai, sebagaimana terjadi dalam abad-abad kemudian, sampai Yehuda dibuang pada abad ke-6 SM.

Bahwa kemampuan itu bergantung pada Tuhan ditegaskan dalam 30:6. Pembuangan akan membuat Israel sadar dan bertobat (30:1-3) sehingga Allah memulihkan kondisi mereka (30:4-10). Penyunatan hati menjadi inti dari pemulihan ini, karena memungkinkan kasih kepada Allah yang membawa kehidupan bukan kematian. Yeremia, yang melayani di sekitar peristiwa Yehuda diangkat ke Babel, menyampaikan hal yang sama dengan menyampaikan janji Allah tentang sebuah perjanjian baru dengan hati yang baru (Yer 31:33). Itulah mengapa Paulus menerapkan awal perikop kita (12-14) kepada Injil tentang kebenaran oleh iman (Rom 10:6-8). Dia melihat bahwa seruan Musa hanya akan bisa dilakukan setelah pembaruan kondisi umat Allah yang terjadi ketika Roh Kristus mengubah hati manusia (Rom 7:5-6).

Aa.11-14 menegaskan bahwa perintah Allah terjangkau, “di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (14). Perintah itu ada dalam mulut karena diucapkan dan direnungkan, dan dengan demikian menjadi bagian dari ingatan. Orang yang hatinya belum disunat akan berdalih bahwa pikiran Allah itu misteri yang amat melampaui jangkauan manusia, seperti langit atau ujung bumi (12-13). Jika yang dimaksud adalah “hal-hal yang tersembunyi”, seperti alasan Allah sehingga hati Israel tidak disunat sejak awalnya, maka pernyataan itu benar (29:29a). Tetapi, jika berbicara tentang kehendak Tuhan, hal itu sudah dinyatakan dengan jelas (29:29b). Bagi Paulus, kedatangan Kristus mempertegas kedekatan firman Allah ini (Rom 10:6-7). Kesulitan manusia untuk taat terletak dalam hati manusia, bukan dalam perintah Allah.

Bagaimanapun kondisi hati manusia, implikasinya tetap sama. Aa.15-20 menawarkan (untuk sekian kalinya dalam kitab Ulangan) dua pilihan, hidup dan mati. A.16 menawarkan hidup; aa.17-18 memperingati akibat dari ketidaksetiaan, dan aa.19-20 kembali menawarkan kehidupan, dengan penegasan dalam langit dan bumi sebagai saksi, dan seruan untuk memilih. Penekanan pada mengasihi Allah menunjukkan bahwa dasarnya ialah relasi dengan Allah. Kehidupan dan kematian bukan upah dan sanksi sembarang, tetapi melekat pada siapakah Allah. Sebagai Pencipta dan Penebus umat-Nya, berpisah dari Dia berarti terpisah dari sumber hidup dan berkat.

Maksud bagi Pembaca

Bagi umat yang hatinya disunat dalam Kristus (Kol 2:811-12), perikop ini membawa janji bahwa perintah yang menunjukkan jalan kehidupan dan berkat itu dekat dan terjangkau, supaya kita diberi semangat untuk tetap memilih hidup dalam ketaatan.

Makna

Makna mendasar dari perikop ini tidaklah sulit, yaitu bahwa yang dinyatakan oleh Allah kepada kita jelas, dapat diucapkan dan dapat diingat (masuk dalam hati). Makanya, ketaatan yang membawa kehidupan yang sejati terjangkau. Bukannya saya harus menjadi genius dalam filsafat, atau memecahkan rekor dunia, atau menjadi orang terkemuka, atau apapun yang lain yang hanya terjangkau oleh segelintir orang. Menjadi taat itu sederhana. Siapapun mampu beribadah kepada Allah dan mengasihi sesama.

Namun, konteks dari perikop ini membawa nada yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas. Ketaatan dianjurkan kepada orang-orang Israel sebagai pilihan, tetapi dengan penuh kesadaran bahwa sebagai bangsa yang berdosa, mereka tidak akan memilih apa yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa penawaran pilihan itu percuma. Ada masa-masa Israel setia dan diberkati (misalnya, Hak 2:7), dan selalu ada orang-orang tertentu yang taat dan menikmati hubungan dengan Allah, walaupun dianiaya (seperti Elia, dan 7.000 orang yang lain pada zamannya). Ada yang memilih untuk hidup bagi dan bersama dengan Allah.

Pentingnya konteks itu ialah kesadaran bahwa hanya Allah yang membuka hati dan pikiran kita untuk bisa memilih hidup. Optimisme tentang kemampuan manusia dalam sejarah gereja biasanya dikaitkan dengan Pelagius, yang berdalil bahwa adanya perintah dari Tuhan mengandaikan kemampuan manusia untuk melakukannya; Tuhan tidak akan memberi manusia perintah yang tidak bisa ditaati. Dari segi kemampuan alami, hal itu benar. Tidak ada perintah bagi manusia untuk terbang, misalnya. Tetapi dari segi kemampuan rohani, hal itu tidak benar. Sebagai contoh, para dokter memberitahu kita bahwa merokok itu berbahaya, tetapi informasi itu tidak membawa kemampuan bagi perokok untuk berhenti. Informasi itu disampaikan karena benar, sama seperti pilihan hidup/mati itu benar, tetapi bukan karena pendengar akan bisa memilih. Dengan demikian, ada unsur tragis dalam perintah Allah (dan seringkali nasihat dokter), karena manusia menuju kehancuran yang disadari tetapi oleh karena hatinya keras, tidak bisa dielakkan. Unsur tragis itu cukup jelas dalam Yer 31:32 dan nas-nas yang lain dalam para nabi. Kitab Ulangan juga begitu, bdk. 31:16 atau 32:15-18. Sungguh, perikop kita tidak bermaksud untuk membawa harapan bagi manusia berdosa bahwa kita bisa menyelamatkan diri.

Tragedi itulah yang dijawab dalam kedatangan Kristus, yang memilih dihancurkan dalam solidaritas dengan manusia berdosa pada salib supaya dalam kebangkitan-Nya Dia membawa manusia yang percaya kepada-Nya ke dalam hidup yang baru. Tragedi menjadi komedi (dalam artian teknis: berakhir dengan baik). Dalam Kristus, penawaran perikop ini menjadi pilihan sungguh-sungguh. Kita diberi hati yang baru sehingga dimampukan untuk memilih jalan Tuhan, dan semakin kita melakukannya, semakin kita menikmati hubungan dengan Dia; semakin kita berpaling dari Dia, semakin kehidupan kita hampa.


Yes 56:1-8 Keselamatan bagi semua yang taat [15 September 2013]

September 10, 2013

Perikop ini juga membahas satu segi dari identitas umat Allah, yang menurut saya adalah satu hal pokok yang perlu dikembangkan di dalam gereja. A.1 dengan jelas melihat ketaatan sebagai respons terhadap janji keselamatan. Sabat hanya masuk akal sebagai respons terhadap keselamatan, karena terkait erat dengan karya penciptaan dan penebusan oleh Allah.

Penggalian Teks

Pp.49-55 menubuatkan pengorbanan Hamba Tuhan, yang dalam p.53 meraih keselamatan bagi Israel. Keselamatan itu diuraikan dalam pp.54-55. Setelah perikop kita, nada nubuatan kembali menegur Israel, tetapi bukan lagi dengan ancaman pembuangan, melainkan dengan ancaman tidak mendapat bagian dalam keselamatan dari Allah.

Jadi, nubuatan ini dikatakan kepada umat yang kepadanya diberikan janji keselamatan (1), dan menjelaskan orang seperti apa yang cocok untuk menikmati keselamatan itu, atau dengan kata lain, siapa umat Allah yang sebenarnya.

Ada kesejajaran dalam a.1 antara respons manusia dan karya Tuhan, “hukum” dan “keadilan” dari manusia karena “keselamatan” dan “keadilan” dari Tuhan. Hukum (mishpat, dari kata shapat = “memerintah”) di sini bukan peraturan tetapi tatanan sosial yang diciptakan oleh para penguasa yang memerintah dengan baik. Keadilan (tsedaqah) lebih luas dari konteks pengadilan saja, dan merujuk pada cara semua relasi antar-manusia dilakukan. Keadilan dapat berkembang ketika hukum diterapkan. Di atas Israel yang dibuang ke Babel, Tuhan memerintah dengan menyelamatkan mereka, suatu tindakan keadilan. Tetapi, perhatikan bahwa Israel di sini belum diselamatkan. Mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan janji keselamatan, bukan sesuai kondisi yang ada. A.2 menyatakan kebahagiaan jalan itu, serta mengangkat satu hal khusus—memelihara Sabat—serta satu hal umum—menahan diri (harfiah: “menjaga tangannya”) dari kejahatan.

Aa.3-7 merupakan kiasmus, yaitu pola silang sbb. Orang asing “yang menggabungkan diri kepada Tuhan” disebut dulu dalam a.3a (A), kemudian orang kebiri dalam a.3b (B). Kemudian, janji Allah kepada kedua kelompok ini disampaikan dalam urutan yang terbalik: orang kebiri diuraikan dulu dalam aa.4-5 (B’), dan orang asing dalam aa.6-7 (A’). Kedua kelompok ini memiliki kekhawatiran masing-masing sesuai dengan kondisinya, tentang keterlibatan mereka dalam janji keselamatan Allah.

Syarat (dalam artian, cara hidup yang cocok dengan apa yang dijanjikan) bagi orang kebiri adalah memelihara Sabat dan taat (4). Mereka sudah menjadi bagian dari perjanjian Tuhan sebagai orang Israel, dan cara menyatakan keanggotaan itu ialah memilih kehendak Tuhan. Janji Tuhan ialah bahwa akan ada nama yang lebih baik daripada keturunan yaitu di Bait Allah. Kata “peringatan” menerjemahkan kata “tangan”, sehingga dalam bahasa aslinya, orang kebiri yang menahan “tangan” dari kejahatan (2) mendapat “tangan” (peringatan) yang abadi (5). Janji ini mengandaikan dunia baru (Yes. 65:17) di mana Bait Allah menjadi pusat dunia yang kekal (Yes 2:1-4). Dengan demikian, keluhan “aku ini pohon yang kering” dijawab. Sama seperti Abraham (Kej 12:2), mereka akan memiliki nama.

Orang-orang asing yang dimaksud adalah yang siap melayani Tuhan, siap menjadikan Tuhan tuan atas hidupnya. Hal itu akan dilihat dalam soal yang sama dengan orang kebiri, yaitu Sabat dan perjanjian, hanya soal “memilih apa yang Kukehendaki” diganti dengan “tidak menajiskan [Sabat]”. Janji bagi mereka adalah keterlibatan penuh dalam ibadah kepada Tuhan—dibawa ke Bait Allah dan membawa persembahan—sesuai dengan penglihatan dalam Yes 2:1-4. Dengan demikian, keluhan “Tuhan hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya” dijawab. Sama seperti Abraham, mereka akan bersekutu dengan Allah (Kej 12:8).

Dengan demikian, Allah akan menyempurnakan keselamatan Israel yang diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya (8). Semua orang di dalam, yang cacat sekalipun, dan semua orang di luar, bangsa-bangsa, ditawarkan keselamatan yang penuh, penerimaan dan martabat di hadapan Allah. Janji Allah kepada Abraham tentang berkat bagi seluruh dunia akan digenapi.

Maksud bagi Pembaca

Kebahagiaan karena menyambut keselamatan Tuhan dengan ketaatan ditawarkan kepada semua manusia, orang cacat dan orang asing sekalipun. Tuhan akan mengubah semua kekurangan yang lain menjadi berkat, supaya penerima keselamatan-Nya makin bertambah.

Makna

Hari Sabat mendapat penekanan yang menarik di sini. Dalam PB, Sabat menjadi pokok perselisihan antara Yesus dengan orang-orang Farisi, tetapi seterusnya hanya muncul dalam Kol 2:16, dan mungkin tersirat dalam Rom 14:5. Sulit dibayangkan bahwa seorang hamba yang menjadi percaya akan dibolehkan tidak bekerja pada hari Minggu oleh tuan yang tidak percaya. Tetapi, makna Sabat bukan sekadar tidak bekerja. Dalam Kel 20:11, Sabat meniru pola Allah yang “berhenti” pada hari ketujuh. Dengan demikian, hari Sabat menjadi peringatan akan karya penciptaan. Dalam Ul 5:15, perbudakan Israel di Mesir menjadi alasan untuk hamba-hamba orang Israel ikut menikmati perhentian pada hari Sabat. Jadi, makna Sabat termasuk merayakan karya Allah (penciptaan dan penebusan), dan juga ada unsur keadilan di dalamnya. Pada hari Sabat, hamba pun dihargai sebagai manusia, bukan sebagai sumber pendapatan. Hal itu menjadi alasan untuk Yesaya menekankan Sabat dalam kaitan dengan keadilan. Dalam PB, makna Sabat berkembang lagi menjadi simbol istirahat eskatologis (Ibr 4:8-11).

Dalam Ul 23:1, orang kebiri dilarang masuk “jemaah Tuhan”. Orang Yahudi pada zaman-zaman kemudian tidak melihat adanya perubahan dalam perintah Tuhan itu: yang diberikan adalah nama, bukan izin memasuki jemaah. Yang ada bagi mereka ialah semacam pemaknaan ulang bahwa larangan itu memiliki makna ritus (kesempurnaan fisik sebagai simbol kesempurnaan moral), dan tidak bermaksud menurunkan martabat orangnya. Namun, jika kita melihat bahwa masa depan yang dinubuatkan di sini digenapi di dalam Yesus, kita memahami bahwa memang kita tidak di bawah hukum Taurat lagi, dan siapapun bebas masuk dalam jemaat. Hanya, yang dipersoalkan di sini bukan masuk di jemaah/jemaat melainkan adanya keturunan. Dalam Mt 19:12, Yesus memakai kata untuk orang kebiri (eunoukhos, diterjemahkan “orang yang tidak dapat kawin” oleh LAI, yang juga dipakai dalam terjemahan LXX dari Yes 56:3-4) secara kiasan untuk orang yang tidak menikah karena berbagai alasan—termasuk Yesus sendiri. Biasanya sebuah nama diteguhkan melalui keturunan, tetapi nama dari Allah adalah nama yang abadi.


Kel 19:1-6 Identitas dan peran umat Allah [8 September 2013]

September 2, 2013

Perikop ini mengandung janji dan perintah, tetapi pada dasarnya berbicara tentang identitas atau status kita sebagai umat Allah. Tanpa kesadaran tentang hal itu, kita sulit untuk menjadi yakin bahwa janji Allah berlaku bagi kita, dan kita sulit untuk melihat mengapa perintah Allah adalah kepentingan kita. “Kristen KTP” merujuk kepada orang yang identitasnya dalam Kristus tinggal sebagai golongan agama saja. Membangun identitas yang benar merupakan satu tugas urgen dalam gereja sekarang.

Penggalian Teks

Tuhan membawa Israel keluar dari Mesir dengan janji bahwa mereka akan beribadah kepada-Nya di gunung Sinai (3:12). Janji itu ditepati dalam aa.1-2. Jika kita meninjau kisah Israel yang baru keluar dari Mesir itu, mereka menjadi kesal karena air (15:22-27; 17:1-7) dan makanan (p.16). Jadi, janji Tuhan dalam perikop ini bukan upah atas ketaatan Israel. Sebaliknya, melalui janji ini Tuhan mau menciptakan bangsa yang kudus.

Aa.3 & 6b menegaskan peran Musa sebagai perantara. Dia pernah berjumpa dengan Tuhan di gunung Sinai, dan dia yang dipanggil untuk menghadap Tuhan kembali, supaya Tuhan menyampaikan firman-Nya melalui Musa. Dalam sebutan Tuhan untuk Israel kita melihat alasannya untuk menyelamatkan mereka. Mereka adalah “keturunan [harfiah: rumah] Yakub dan orang [harfiah: anak-anak] Israel”. Tentu, Yakub dan Israel keduanya adalah nama cucu Abraham yang sama, dan Allah menyinggung janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Janji Allah adalah dasar keselamatan Israel.

Aa.4-6a mengalamatkan bangsa Israel (melalui para tua-tua bangsa, 19:7), dengan kata “kamu”, bukan “engkau”. Kata “kamu” mendapat penekanan dalam bahasa aslinya, ditandai dengan kata “sendiri” dalam terjemahan LAI. Susunan konsep dalam ketiga ayat ini penting. Tuhan mulai dengan apa yang telah Dia lakukan bagi bangsa berdasarkan janji-Nya. Kemudian Dia menyampaikan suatu syarat dalam a.5a, kemudian suatu janji dalam aa.5b-6a.

A.4 menunjukkan baik kuasa Allah maupun tujuan dari kuasa itu. Mereka telah melihat karya-Nya terhadap orang Mesir, sehingga tidah usah lagi meragukan kuasa Allah. Tetapi tujuan dari karya penyelamatan itu ialah hubungan dengan Dia, “membawa kamu kepada-Ku”.

Hubungan itu dijelaskan dalam aa.5-6a. Bagian Israel adalah taat (5a), dan dengan demikian, mereka akan menjadi umat Allah sebagaimana digambarkan dalam aa.5b-6a, yang menyangkut identitas dan peran (atau misi). Identitas Israel dilihat dalam a.5b, bahwa mereka dipilih sebagai bangsa dari tengah bangsa-bangsa. Allah berhak atas semua bangsa di bumi, dan memilih Israel untuk menjadi milik-Nya sendiri. Frasa “harta kesayangan” (segullah) dipakai untuk milik pribadi seorang raja dalam 1 Taw 29:3 dan Pkh 2:8. Peran Israel dilihat dalam a.6a. “Kerajaan imam” dapat dilihat pada dua tingkat yang saling berkaitan. Sebagai kerajaan yang berpusat pada ibadah yang dikelola oleh para imam, mereka menjadi bangsa yang kudus. Kekudusan (dilihat dari kitab Imamat) adalah serangkaian lingkaran dengan Allah di pusat, imamat dan persembahan di sekitar Allah, perkemahan Israel di sekitar kemah suci, dan bangsa-bangsa di sekitar Israel. Di lingkaran Israel di sekitar kemah suci, imamat menjadi cara Allah dapat hadir di tengah Israel yang berdosa tanpa Israel menjadi binasa. Juga, imamat mengajar Israel tentang Allah. Di lingkaran bangsa-bangsa di sekitar Israel, Israel menjadi cara Allah dapat hadir di tengah dunia yang penuh dosa tanpa dunia menjadi binasa (bdk. Kej 8:21; persembahan Nuh yang mengamankan dunia diteruskan oleh Israel). Juga, bangsa-bangsa akan mengenal Allah melalui Israel (bdk. Mzm 96:5, 10; Yes 2:3-4). Dengan demikian, Israel sebagai bangsa pilihan memenuhi janji Allah bahwa semua bangsa akan mendapat berkat melalui keturunan Abraham (Kej 12:3).

Maksud bagi Pembaca

Dalam janji Allah ini, umat Allah diberi alasan paling mendasar untuk taat dan setia kepada Allah, yaitu identitasnya sebagai umat yang dipilih, diselamatkan dan disayangi, dan perannya sebagai umat yang kudus dalam rencana Allah bagi dunia. Identitas menentukan peran yang menentukan kebiasaan—seorang siswa belajar, seorang polisi mengatur lalu lintas, seorang anak membantu orangtuanya pada masa tuanya. Kita taat dan setia karena Allah, dan supaya kita bisa menjadi bagian dari rencana-Nya bagi dunia dalam Yesus Kristus.

Makna

Kematian & kebangkitan Yesus adalah padanan keluaran dalam PB—yang di dalamnya kita ikut. Jika saya meninjau pekerjaan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan saya, sehingga hal-hal yang bersifat dosa yang dulunya menarik tidak lagi menarik dan sikap-sikap yang menghancurkan kasih kepada sesama makin kurang kuasanya atas kehidupan saya, maka saya melihat apa yang dilakukan Allah kepada kuasa dosa, dan bagaimana Dia membawa saya di atas sayap rajawali (yaitu, di dalam Kristus) dan membawa saya kepada-Nya. Jika saya meninjau kuasa itu dalam sesama orang percaya, saya melihat bagaimana Dia sedang membentuk kita menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus.

Kelebihan kematian dan kebangkitan Yesus atas keluaran dari Mesir ialah bahwa ancaman kebinasaan dunia ditangani sekaligus untuk selama-lamanya. Dosa telah dihapus dalam kematian-Nya, dan dunia baru telah dirintis dalam kebangkitan-Nya. Makanya, tidak ada lagi persembahan berkala (bdk. Ibrani 10:1dst). Tetapi tugas membawa berita keselamatan itu supaya semua bangsa dapat menikmatinya tetap ada pada kita.

Jadi, apakah peran taat dan setia itu (5a)? Bahasanya bahasa syarat (“jika…maka”), tetapi syarat seperti apa? Walaupun jelas bahwa Israel diselamatkan sebelum dituntut untuk berpegang pada perjanjian Allah, apakah ketaatan menjadi syarat untuk tetap selamat? Dari satu segi, jawabannya ya, karena beberapa abad kemudian Israel dibuang dari tanah Israel oleh karena tidak taat. Tetapi, hidup di tanah itu bukan merupakan upah atas kebaikan Israel. Inti dari menjadi umat Allah ialah hubungan dengan Allah. Syarat itu menunjukkan bagaimana caranya menikmati hubungan dengan Allah. Keselamatan yang sudah diterima hanya akan menjadi sempurna jika Israel mengasihi Allah dan mengasihi sesama, sebagaimana diuraikan dalam Kesepuluh Firman beberapa ayat kemudian (Kel 20:1-17). Hal itu tetap berlaku bagi kita di dalam Kristus. Baik identitas umat Allah, maupun perannya sebagai bangsa yang kudus, menjadi rancu dan berat jika kita tidak taat dan setia.


Mzm 119:97-104 Mencintai firman Allah [1 September 2013]

Agustus 26, 2013

Satu tema dalam perikop ini adalah perenungan firman Allah, dan setiap artikel yang dimuat dalam blog ini adalah hasil perenungan saya. Saya menyesal bila hasilnya terlalu mudah dicerna, karena saya tidak bermaksud mengambil alih tugas pelayan untuk merenungkan perikop secara pribadi dulu. Saya duga artikel ini akan lebih jelas jika perikopnya sudah dibaca dan dipikirkan, dan saya berharap bahwa perenungan saya membawa Pembaca untuk menggali lagi. Kapan lagi seorang pelayan yang sibuk akan mendalami firman jika bukan dalam persiapan khotbah?

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan bait mem dalam Mazmur 119 ini, sehingga setiap ayat mulai dengan huruf mem. Sebenarnya, hanya dua kata dipakai, min = “dari/daripada” (“terhadap” dalam a.101), dan mah = “betapa”. Kata min selalu melebur dengan objeknya, sehingga objek itu menjadi kata pertama dalam ayatnya dan mendapat penekanan. (Tentu, urutan kata diubah dalam terjemahan.) Oleh karena itu, perbandingannya disoroti dalam aa.98-100 (“musuh”, “pengajar” dan “orang tua”), dan kedua jalan (“kejahatan”, “hukum-hukum-Nya”) disoroti dalam aa.101-102.

Setiap ayat juga mengandung satu istilah untuk firman Allah. Kata torah (Taurat) berarti pengajaran, pengarahan atau pembimbingan (misalnya, Ams 1:8b; 4:2b). Kemudian, istilah itu dipakai khususnya untuk kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan), sebagai pengajaran dan pengarahan Allah kepada Israel. Jadi, Taurat jauh lebih luas daripada kesepuluh perintah dalam Kel 20:1-17 saja. Selain perintah (98), ada juga kisah-kisah yang dapat menjadi peringatan (99), kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum diterapkan (102), dan di balik semua itu, janji-janji Allah (103). Tidak terlalu jelas sejauh mana pemazmur membeda-bedakan istilah-istilah ini, tetapi dalam tafsiran di bawah saya coba menghargai perbedaan makna istilah itu, paling sedikit supaya kita ingat bahwa Allah tidak hanya mengajar dengan perintah, tetapi juga dengan kisah dan kasus.

Bait ini mulai dengan pernyataan cinta akan Taurat itu, yang direnungkan sepanjang hari (97). Perenungan mengandaikan perhatian yang besar, keasyikan. Ayat-ayat berikut menunjukkan mengapa cinta itu bertahan dan menjadi pola hidup.

Dalam aa.98-100 ada tiga perbandingan yang menunjukkan keunggulan Taurat dalam membuat pemazmur berhikmat. Perbandingan pertama itu lazim, yaitu terhadap musuh. Tetapi kedua perbandingan berikutnya mengejutkan: terhadap pengajar dan orang-orang tua. Bisa saja muncul kesan bahwa si pemazmur menyombong. Maksudnya dapat ditangkap dari perbandingan yang pertama itu. Musuh-musuhnya mungkin saja cerdas dan cerdik, tetapi mereka menjadi kurang bijaksana karena tidak mau diarahkan oleh perintah Allah. Mereka cerdik untuk tujuan-tujuan yang semu atau jahat. Sama seperti itu, seorang pengajar memiliki banyak pengetahuan akan firman Allah tetapi belum tentu pengetahuan itu menjadi peringatan baginya, dia belum tentu diarahkan secara pribadi olehnya. Orang-orang tua mengeluarkan “titah-titah” mereka berdasarkan pengalaman yang kaya, tetapi hal itu kurang berguna kalau mereka tidak mengutamakan titah-titah Allah. Taurat menjadi dasar untuk menemukan tujuan hidup yang baik, memakai ilmu dengan tepat, dan mengerti pengalaman dengan benar.

Aa.101-102 menyampaikan satu gambaran dengan dua cara, yaitu bagaimana Allah menuntun pemazmur pada jalan yang benar. Allah sendiri adalah penuntun melalui firman-Nya. Jalan yang benar dilihat dalam kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum Allah diterapkan (102). Menyimpang adalah hal yang dimulai dengan satu langkah kaki saja, tetapi lama-kelamaan akan menjadi jauh dari kebenaran. Pemazmur berpaut kepada Allah dalam firman-Nya supaya tetap pada jalan yang benar.

Aa.103-104 meringkas ayat-ayat sebelumnya. A.103 mengembangkan a.97. Taurat yang direnungkan dalam mulutnya membawa kenikmatan yang lebih dari kenikmatan madu: hatinya tertuju kepada janji Allah. A.104a mengulang a.100 (bdk. “pengertian” dan “titah-titah”): akal budinya juga tertuju kepada titah Allah. A.104b mengembangkan a.101 (“jalan kejahatan” menjadi “jalan dusta”). Oleh karena pengertiannya yang ditopang oleh kerinduan hati yang baru, kejahatan terbongkar sebagai dusta. Janji Allah layak dirindukan, sedangkan janji yang tersirat dalam sebuah kejahatan adalah dusta.

Maksud bagi Pembaca

Kita sebagai pembaca diundang untuk mengevaluasi sikap hati kita terhadap firman Allah. Sejauh mana kita sudah menikmati firman Allah sebagai dasar hikmat dan pengarah jalan, sehingga kejahatan menjadi dibenci? Atau, apakah firman itu masih tawar, karena pengenalan kita akan firman Allah masih dangkal?

Makna

Orang Yahudi menganggap bahwa seluruh PL muncul dari Taurat, dan orang Kristen melihat Kristus sebagai penggenapan Taurat. Kepelbagaian maksud dalam Taurat tadi dilihat juga dalam keempat Injil, yang menjadi dasar PB sama seperti Taurat adalah dasar PL. Selain ajaran etis Yesus, kita melihat juga banyak kisah yang menjadi peringatan dan kasus yang memperlihatkan bagaimana Injil berlaku dalam kehidupan orang. Jadi, kita membaca mazmur ini dan menerapkannya kepada sikap kita terhadap seluruh Alkitab, bukan hanya kelima kitab Musa atau PL. Itulah pentingnya kata “Taurat” tidak dibatasi pada kesepuluh perintah saja. Kita merenungkan semua bentuk firman Allah: janji, perintah, kisah, ajaran, dsb.

Perenungan firman disebut dalam aa.97 & 99, dan disinggung dalam a.98 (“ada padaku”) dan a.103 (manis di mulut). Cinta dan perenungan tentu berkorelasi. Cinta menjadi penggerak untuk lebih memberi perhatian, dan perhatian membuat kita lebih memahami dan lebih mencintai. Dari aa.98-100, perenungan pemazmur tidak sekadar soal menghafal ayat atau mengulang-ulang frasa. Dia merenungkan apa makna dan implikasi dari firman Allah, sampai dia tidak hanya lebih memahami firman daripada para pengajarnya, dia juga lebih memahami dunia daripada orang-orang tua. Tetapi daya tarik utamanya ialah bahwa firman ini adalah firman Allah: “Engkaulah yang mengajar aku.” Jika kita mencintai Kristus, kita akan mencintai Alkitab yang di dalamnya Dia mengajar kita.


Kejadian 13:1-18 Janji Allah lebih kuat [25 Agustus 2013]

Agustus 19, 2013

Perikop ini adalah naratif yang halus—sepintas lalu tidak ada yang menonjol, tetapi setelah direnungkan ada berbagai pelajaran yang bisa diambil daripadanya.

Penggalian Teks

Pasal ini mulai dengan Abram pulang dari Mesir dan beribadah kepada Tuhan (1-4). Kemudian, masalah antara dia dan Lot diselesaikan, tetapi tetap dengan suatu ancaman ke depan (5-13). Kembali Allah berjanji kepada Abram, dan Abram beribadah kepada-Nya (14-18). Peristiwa sebelum dan setelah pasal ini menyangkut Abram dalam dunia yang lebih luas, tetapi fokus dalam pasal ini adalah keluarga Abram.

Aa.1-4 mengangkat hal-hal yang menjadi fokus dalam aa.5-13, yaitu adanya Lot (1) dan banyaknya ternak Abram (2). Tetapi bagian ini juga menunjukkan bagaimana Abram diberkati Tuhan di Mesir—meskipun Abram tidak jujur tentang Sarai sebagai isterinya (12:12-13). Janji Allah untuk memberkati Abram lebih kuat daripada dosa Abram. Tetapi, bukannya Abram tidak sadar akan hal itu, dan dia membuat mezbah untuk beribadah kepada Tuhan. Abram keluar dari Mesir untuk beribadah, sama seperti Israel kemudian. (Israel juga keluar dengan perak dan emas, bdk. Kel 11:2 & 12:35.)

A.5 mempertajam masalah: Lot juga memiliki banyak ternak. A.6 mulai dengan usul bahwa daerah itu tidak cukup luas, tetapi bagian akhir ayat itu mengatakan “tidak dapat”—mungkin bisa diterjemahkan, “tidak sanggup”. Masalahnya sebenarnya dengan manusia, bukan tanah, sebagaimana dilihat dalam a.7. Jika sebelum dan sesudah perikop ini, umat Allah yang kecil ini terancam dari luar, di sini mereka terancam dari dalam. Abram menawarkan solusi (8-9), dan Lot memilih bagian dekat sungai dan air (10-12). Keputusan Lot masuk akal, tetapi ada peringatan dalam a.10c dan a.13, yang merujuk ke p.19.

Tidak disampaikan bagaimana perasaan Abram ketika Lot berpisah (14), tetapi tidak jelas bahwa perpisahan itu membuat mereka lebih kuat di negeri orang (bdk. a.7b), dan dalam p.14 Abram harus menyelamatkan Lot dari perang. Tetapi, kekuatan Abram yang sebenarnya ialah Tuhan, yang justru menguatkan janji-Nya kepada Abram (14-17). Janji akan tanah diteguhkan, dan juga janji akan keturunan. Abram disuruh untuk menjelajahi tanah itu—sebagai langkah iman, karena jelas belum dimiliki. Dan, walaupun dikatakan bahwa tanah tidak cukup luas untuk Abram dan Lot berdiam bersama, sebenarnya mereka masih terlalu sedikit. Baru ketika mereka sebanyak debu tanah (‘eretz), maka mereka akan bisa mendiami tanah (‘eretz) perjanjian itu.

Kembali Abram mendirikan mezbah, kali ini bukan karena pemeliharaan Allah yang sudah terjadi, tetapi karena janji Allah yang belum terjadi, tetapi yang tetap memberi pengharapan.

Maksud bagi Pembaca

Dari tokoh Abram, kita belajar untuk tetap berharap akan Allah bahkan dalam perpecahan, karena janji Allah lebih kuat daripada perpecahan dalam umat-Nya. Kita belajar dari tokoh Lot bahwa tanah yang dekat air belum tentu tempat yang terbaik untuk umat Allah.

Makna

Adanya perselisihan persepsi dan pendapat adalah hal yang lazim di dalam gereja. Dampaknya biasanya lebih buruk daripada masalah dari luar. Penyebabnya seperti dalam cerita ini—ketidakmampuan berbagai pihak untuk mengelola dengan baik kepentingan yang memang bergesekan. Jalan keluar yang diambil Abram mendapat berbagai penilaian—begitulah sifat cerita seperti ini. Ada yang menganggap bahwa Abram sangat baik hati dengan memberi pilihan kepada Lot. Tetapi, dilihat dari perspektif panggilan Allah, ada dua tanda tanya. Yang pertama, apakah berpisah bijaksana, mengingat bahwa “waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu”? Yang kedua, mengapa Abram menawarkan kepada Lot tanah yang dijanjikan Allah kepdanya? Kebetulan Lot memilih Lembah Yordan sehingga Abram tetap di tanah Kanaan, tetapi andaikan pilihannya lain, Abram justru akan keluar dari tanah itu! Tafsiran lain lagi menganggap bahwa sudah jelas bahwa Lembah Yordan yang akan dipilih, dan Abram secara halus menyuruh Lot ke sana. Seperti saya katakan tadi, ada banyak tafsiran kalau cerita seperti ini. Demikian juga perselisihan dalam jemaat.

Makanya, janji Allah itu sangat penting. Kadangkala kita melihat turun tangan Allah seperti dilihat Abram ketika dia dapat keluar dari Mesir. Kadangkala kita melihat masalah, seperti dilihat Abram dengan Lot. Yang tidak berubah adalah tujuan dan rencana Allah. Tujuan dan rencana itu kita kenal di dalam Kristus. Kita beribadah bukan hanya karena turun tangan Allah yang sudah kelihatan, tetapi juga karena janji yang belum kelihatan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.