Yeh 47:21-23 Menerima warisan Allah bersama-sama [7 April 2013]

April 1, 2013

Selamat Paskah, dan selamat kembali ke blog Tomentiruran. Nas ini pendek, sehingga saya menyoroti konteks dalam kitab Yehezkiel, supaya lebih jelas maknanya. Tetapi makna suatu perkataan tidak pernah statis, dan kita harus memahaminya dalam rangka penggenapan oleh Yesus. Tinggal bagaimana Pembaca membawa firman ini lagi ke dalam konteks pelayanan masing-masing menjadi firman yang hidup.

Penggalian Teks

Yehezkiel 40-48 merupakan puncak nubuatan tentang keselamatan yang menjadi bagian kedua kitab Yehezkiel (mulai p.34). Karena perikop kita menyangkut orang asing, kita perlu mengingat peran bangsa-bangsa. Dalam p.24 ada pemberitahuan bahwa pengepungan Yerusalem sudah mulai, sesuai dengan nubuatan Yehezkiel dalam pasal-pasal sebelumnya. Dalam pp.25-32, hukuman Allah juga dinyatakan kepada berbagai bangsa yang lain; Dia melawan semua kejahatan manusia. Setelah pemberitahuan bahwa kehancuran Yerusalem sudah terjadi (p.33), pp.34-37 menubuatkan pemulihan bangsa Israel, termasuk pemimpin baru (p.34) dan pemberian Roh Kudus (36:26-28). Dalam pp.38-39, bangsa-bangsa kembali menyerang Israel di bawah pimpinan Gog. Tetapi bangsa yang sudah dipulihkan dilindungi oleh Allah dengan kemenangan yang sangat besar yang membawa kemuliaan bagi Allah (bdk. Why 19:11-21).

Dengan umat Allah sudah aman, pp.40-48 berbicara tentang struktur umat. Pp.40-42 menceritakan Bait Allah yang baru. Dalam 43:1-12, kemuliaan Allah—yang meninggalkan Bait Allah dalam p.8—kembali, sehingga Bait Allah menjadi tempat dan sumber kehidupan. Pp.43-46 menjelaskan peraturan-peraturannya. Akhirnya, dalam pp.47-48 seluruh tanah diuraikan. Bagian ini mulai dengan Bait Allah sebagai sumber air hidup baginya (47:1-12; bdk Why 22:1-2), dan berakhir dengan nama baru kota Yerusalem, “Tuhan hadir di situ”. Di antaranya, pembagian tanah kepada suku-suku diperincikan. Pembagian itu akan rata (47:13-14), dan batas seluruh tanah dijelaskan dalam 47:15-20. Urutan suku-suku disampaikan dalam 48:1-29, dengan satu bagian khusus untuk Bait Allah, para imam, para Lewi dan kota Yerusalem. Sebelum penyampaian urutan itu, di luar dugaan, nas kita menjelaskan tempat orang asing.

A.21 mengulang 47:13-14 bahwa pembagian tanah itu menurut suku. Dalam a.22, pembagian itu menyangkut “milik pusaka” tanah yang menjadi pegangan hidup yang tidak boleh diganggu gugat. Tetapi, yang akan terhitung sebagai anggota suku termasuk orang-orang asing yang sudah menjadi bagian masyarakat dengan menetap dan berkeluarga. Mereka harus dianggap sama seperti orang asli, sehingga mereka berbagi dalam milik pusaka itu. Tempat kediaman mereka menjadi milik pusakanya (23).

Maksud bagi Pembaca

Peraturan dalam nas ini menjadikan orang asing yang telah menjadi bagian dari umat Allah juga menjadi pewaris penuh janji Allah bagi umat-Nya. Semangat itu digenapi dalam Kristus, yang di dalam-Nya tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani. Namun, ketika Injil mengakar dalam sebuah budaya, ada kecenderungan untuk keanggotaan gereja juga “membudaya”–orang Toraja/Batak/Minahasa dianggap lebih cocok menjadi orang Kristen daripada orang Bugis/Aceh/Gorontalo. Sikap di bawah sadar itu sejajar dengan sikap etnosentris sebagian orang Israel yang secara halus dilawan Yehezkiel di sini.

Makna

Penglihatan Yehezkiel tidak pernah digenapi secara harfiah, bahkan ketika Israel kembali dari pembuangan dan membangun Bait Allah kembali. Dia membayangkan keselamatan Allah sesuai dengan pola yang sudah dinyatakan kepada Israel. Kemah Suci dibuat setelah Israel diselamatkan dari Mesir (Keluaran 25-40); Bait Allah mulai dirancang setelah Israel menjadi aman di bawah Daud (2 Sam 7:1); Bait Allah kekal ini akan dibuat setelah musuh-musuh Allah dihancurkan (pp.38-39). Dalam PB, semuanya itu dianggap digenapi di dalam Kristus. Dia telah datang menjadi gembala yang baik (p.34, bdk. Yohanes 10) yang membawa pengampunan dan pencurahan Roh Kudus sebagai buah sulung milik pusaka kita. Pada kayu salib Dia telah menang atas penguasa-penguasa (Kol 2:15), dan kitab Wahyu menantikan penuntasan kemenangan itu dalam Wahyu 19, dan pembagian Yerusalem baru kepada umat-Nya dalam Wahyu 21 sebagai milik pusaka. Jadi, nas kita menyatakan sesuatu tentang maksud Allah bagi dunia-Nya, walaupun bentuknya tidak seperti yang dibayangkan Yehezkiel.

Penglihatan ini juga tidak memikirkan misi kepada bangsa-bangsa. Dalam kitab Yehezkiel, ada dua jenis orang asing: bangsa-bangsa yang memberontak terhadap Allah, dan dalam nas kita orang-orang yang bergabung dengan kehidupan umat Allah (bandingkan Rut, atau beberapa rekan raja Daud). Kepada kelompok pertama tidak ada misi untuk membawa terang Injil, seperti dalam kitab Yesaya. Pembedaan itu harus diperhatikan–masih banyak orang yang ada di luar jangkauan berita Injil yang membutuhkan misi umat Allah. Tetapi pesan Yehezkiel juga penting, karena sering ada orang di antara orang-orang kristen yang siap untuk bergabung, dan membutuhkan penerimaan yang penuh seperti dalam perikop ini.


Ams 2:1-22 Cara dan Alasan untuk berhikmat (25 Nop 2012)

November 23, 2012

Struktur perikop ini cukup jelas, dan dengan demikian alur penguraian juga tidak sulit. Penekanan kitab Amsal pada pengamatan yang jeli berguna untuk kita semua, termasuk para pelayan yang bisa pandai berteori tetapi teorinya tidak berkenaan dengan realitas. Semoga jemaat bisa makin pandai dalam mempraktekkan imannya.

Penggalian Teks

Ayat-ayat ini ditujukan kepada “anakku”. Hal itu memakai bahasa keluarga, dan kita dapat membayangkan konteks seorang ayah kepada anaknya, dan juga konteks yang lain, seperti kepegawaian yang dibangun di bawah pemerintahan raja Salomo, di mana atasan akan membimbing para pemula. Beberapa kata kunci dipakai. Kata “pengertian” (bina) adalah hasil pengamatan, dan kata “kepandaian” (tebuna) adalah penerapan pengertian itu. Kata “pengetahuan” dan “pengenalan” sama dalam bahasa aslinya (da’at). Kata “hikmat” mungkin mencakup semuanya, pengetahuan serta kemampuan.

Aa.1-5 menyampaikan seruan untuk mengejar hikmat, pengertian dan kepandaian. Hasilnya tampak dalam hubungan dengan Tuhan. Takut akan Tuhan akan dimengerti, dan Dia akan dikenal. Hubungan antara hikmat dan pengenalan akan Allah disampaikan dalam aa.6-9. Hikmat berasal dari Tuhan, khususnya dari mulut-Nya, yakni dalam firman Tuhan (6). Yang dapat menerima hikmat ialah orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjaga keadilan. Hal itu selalu menantang, sehingga orang-orang itu akan mengalami pertolongan Tuhan (7). Bila dialamatkan kepada pegawai yang muda, a.8 mengena: mereka harus menjaga orang-orang kecil yang setia kepada Tuhan. Jadi, mengejar hikmat akan juga membawa pengertian tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran (9).

Melalui praktek kebenaran, “hikmat akan masuk ke dalam hatimu” (10). Dengan demikian, kepandaian akan menjaga (11). Dua kali ada ucapan “terlepas” (aa.12, 16). Aa.12-15 menggambarkan cara orang jahat, yang berisi penipuan (12) dan bahaya (13). Gambaran itu diulang dengan lebih tegas lagi dalam aa.13-14. Aa.16-19 menggambarkan “perempuan jalang”. Jalan ini dikaitkan dengan dunia maut (18-19). Tentu peringatan ini berlaku secara harfiah, tetapi a.17 memberi petunjuk bahwa maksudnya perzinaan juga.

Semua itu menjadi alasan untuk menempuh jalan orang baik (20). Orang jujur yang akan menikmati janji Allah (“tanah”, a.21). Tetapi, sebagaimana dilihat dalam aa.12-19, orang fasik akan kehilangan semuanya.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak-Nya menjadi berhikmat. Perikop ini menujukkan caranya, yakni hidup jujur, serta manfaatnya, yaitu terlepas dari tipu muslihat dunia yang melawan Allah, dan terlepas dari menggiurkan nafsu yang menimbulkan ketidaksetiaan.

Makna

A.12b memakai bentuk tunggal (“orang”), tetapi aa.13-15 memakai bentuk jamak (“mereka”). Ucapan yang menggoda bisa datang dari satu orang, tetapi dia adalah bagian dari suatu sistem kejahatan. Istilah yang dipakai dalam Injil dan surat-surat Yohanes ialah “dunia”. Dalam dunia itu, yang gelap dan bengkok dipuji, malahan kadangkala dianggap lurus. Hikmat memampukan kita untuk melihat bahwa masuk dalam ranah korupsi dsb. akan menimbulkan banyak masalah.

Perempuan jalang saya artikan sebagai lambang nafsu yang menduakan Allah, yang dikaitkan dengan daging, mata dan “keangkuhan hidup” dalam 1 Yoh 2:13-15. Bukan hanya pelacur atau pezina yang dirujuk di sini. Nafsu akan kuasa, nafsu berlebihan akan makanan, minuman dsb. semuanya bisa menjadi jerat yang menjatuhkan, dan hikmat memampukan kita untuk menghindarinya.

Aa.7-9 tetap relevan untuk semua orang yang berkuasa sekarang, sama seperti untuk para pegawai dalam kerajaan Salomo. Tanpa berlaku jujur dan adil, hikmat yang sejati tidak akan ditangkap.

Seluk-beluk hikmat ini akan diajarkan dalam kitab Amsal, dan di dalam Kristus kita menemukan puncaknya. Di dalam Kristus ada beberapa ciri khas, yaitu bahwa penderitaan bukan hanya dalam rangka ketaatan kepada Allah tetapi juga dalam rangka kasih yang berkorban bagi sesama. Semangat untuk bermisi mencakup kedua hal itu, dan baru dalam rangka pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus akan dilihat sebagai jalan hidup yang berhikmat.


Fil 4:2-9 Disiplin batin demi misi Allah (18 Nop 2012)

November 13, 2012

Perikop ini sering dianggap sekumpulan nas yang tidak terlalu erat kaitannya. Penilaian itu ada benarnya, tetapi saya berusaha untuk melihat benang merah yang bisa menghubungkannya. Saya beranjak dari 1:27-30 sebagai inti dari surat ini, yaitu, perjuangan jemaat di Filipi untuk hidup berpadanan dengan Injil di tengah perlawanan. Dengan demikian, perikop ini menjadi lebih dari sekadar nasihat untuk hidup lebih tenang.

Penggalian Teks

Flp 1:27-30 memang dapat dilihat sebagai inti. 1:12-26 menceritakan perjuangan Paulus karena Injil. Pasal 2 memperlihatkan pentingnya kesatuan berdasarkan pola Yesus sendiri (2:6-11). Pasal 3 menunjukkan bahaya dari dalam, yaitu ajaran yang tidak mengutamakan Kristus dan karya-Nya. 4:1 mengulang seruan Paulus dalam 3:1 untuk berdiri teguh dalam Tuhan.

Dalam aa.2-3, Euodia dan Sintikhe merupakan dua orang perempuan (jenis mereka jelas dalam bahasa Yunani dari bentuk kata “mereka” [autais]) yang telah berjuang bersama dengan Paulus dalam pekabaran Injil, seperti dalam 1:27-30, tetapi tidak lagi bersatu, seperti diharapkan dalam 2:1-5. Mengingat bahwa surat ini akan dibacakan kepada jemaat (atau jemaat-jemaat, mengingat mereka berkumpul di rumah-rumah orang mampu) di Filipi, cara Paulus tidak halus: dia menyebutkan nama, dan andaikan hal itu tidak cukup, dia menunjukkan orang untuk mengusahakan rekonsiliasi mereka. Demikian pentingnya kesatuan jemaat untuk perjuangan Injil.

Dalam kedua ayat berikut ada tiga hal: bersukacita (4), kebaikan umum (5a), dan kedekatan Tuhan (5b). Ketiga hal ini memang merupakan hal-hal yang umum, dan bahasa Paulus juga umum. Sukacita itu semestinya “senantiasa”, dan kebaikan itu diketahui “semua orang”. Kedekatan Tuhan juga bersifat universal. Tetapi, ketiga hal itu juga penting dalam rangka misi. Sukacita terjadi ketika manusia merasa keberkatan. Kesetiaan kepada Kristus justru dapat membawa penderitaan bukan berkat (1:27-30), sehingga orang tidak akan bertahan kecuali ada sumber perasaan berkat yang lain. Bagi Paulus, Kristus adalah berkat yang melampaui segala berkat duniawi (3:7-8). Jadi, sukacita dalam Tuhan akan membuat kita sanggup bertahan dalam perjuangan Injil di dunia.

Tentu, kebaikan hati adalah juga kesaksian hidup yang berarti. Istilah itu berarti sikap yang tidak menuntut hak secara kaku tetapi mampu memberi kelonggaran yang manusiawi. Sikap itu dijunjung tinggi oleh filsuf seperti Aristoteles, tetapi alpa sekali dari gaya agama yang dianut Paulus sebagai Farisi, yang tergolong garis keras. Tetapi di dalam Kristus, Allah tidak menuntut hak kepada Paulus melainkan menunjukkan kasih karunia yang luar biasa. Mungkin dalam konteks kota Filipi yang merupakan koloni Romawi dengan gaya yang cenderung legalistik/formalistik, Paulus melihat sikap ini sebagai pengantar untuk berbicara tentang kasih karunia itu.

Dasar dari misi adalah kedekatan Tuhan, entah maksudnya bahwa Tuhan yang menjadi seorang manusia (2:7) tidak jauh dari setiap orang, atau bahwa Dia akan segera datang kembali sehingga semua perlawanan terhadap-Nya akan berhenti (2:10-11). Bisa saja kedua-duanya yang dimaksud Paulus, dan kedua-duanya merupakan alasan untuk bersukacita dan berbaik hati.

Kedekatan Tuhan itu juga melandasi hal berikut, yaitu doa. Orang-orang yang setia kepada Kristus pasti akan mendapat banyak tantangan dan banyak alasan untuk khawatir (6a). Tetapi Paulus menyuruh jemaat untuk menyatakan permintaan mereka kepada Allah (a.6b; aitema berarti permintaan, bukan keinginan). Caranya dengan proseukhe dan deesis, dua kata yang selalau merujuk kepada perkataan kepada yang ilahi. Bedanya bahwa deesis memiliki unsur mendesak. Adanya desakan dalam doa mengandaikan bahwa ada pergumulan yang sungguh berat, penderitaan dan tangisan. Sukacita bukan sikap “happy-happy saja”. Menarik bahwa desakan itu juga disertai syukur. Sesuai dengan pola doa dalam kitab Mazmur, Paulus mengusulkan doa yang terus terang (mendesak) dan juga dikuatkan dengan kebaikan Allah di dalam Kristus (syukur). Hasilnya damai sejahtera (7). Damai sejahtera itu bisa saja dilihat sebagai keutuhan kembali. Hati yang bergejolak telah menjadi tenang, karena di dalam Kristus Allah sedang membawa keteraturan ke dalam dunia yang kacau. Damai sejahtera itu melampaui segala akal, artinya, lebih dari apa yang muncul dari akal manusia saja. Tujuan dari damai sejahtera ini ialah tetap teguh di dalam Kristus (7b), tidak tergoyahkan oleh perlawanan karena perjuangan Injil.

Jika doa dapat menangani gejolak hati yang khawatir, Paulus melihat lebih jauh, bagaimana membangun pola berpikir yang tidak cepat gelisah. A.8 meneguhkan banyak nilai yang terdapat dalam budaya Yunani, yang disimpulkan sebagai kebajikan (nilai universal) dan patut dipuji (nilai yang diakui masyarakat). “Benar” adalah kebajikan dalam bidang pengetahuan; “mulia” adalah kebajikan dalam bidang sosial/politik; “adil” adalah kebajikan dalam bidang relasi; “suci” adalah kebajikan dalam bidang moralitas. Nilai-nilai universal itu juga layak dipuji, tetapi kedua terakhir, “manis” dan “sedap didengar” memberi fokus pada gaya berelasi yang tidak kasar, yang tidak menjadi hambatan untuk berbagi dalam hidup, kasih, dan berita Injil. Memikirkan hal-hal itu akan meneguhkan damai sejahtera, ketimbang, misalnya, menerima gosip, mengagumi yang jelek, merencanakan kejatuhan sesama, mencari yang kotor, dan membual.

Hal-hal itu adalah kebajikan yang akan diterima luas, tetapi cara mempraktekkannya sebagai orang percaya harus dipelajari dari sesama orang percaya, yakni, bagi orang Filipi, diri Paulus (9). Ajaran, penyampaian tradisi tentang Yesus, cara berbicara dan cara bertindak Paulus layak dicontoh, termasuk keteladanannya di tengah pergumulan (pasal 1). Dengan berpikir dan bertindak demikian, penyertaan Allah akan sangat nyata bagi mereka, bahkan di tengah pergumulan mereka karena Injil.

Maksud bagi Pembaca

Paulus meneguhkan seruannya untuk hidup berpadanan dengan Injil dengan menunjukkan beberapa disiplin batin yang akan memampukan mereka bersatu (2-3) sesuai dengan teladan Paulus sendiri (8). Bersukacita, baik hati, berdoa, dan memikirkan kebajikan akan membentuk jemaat yang berguna dalam misi Allah. Dasarnya ialah bahwa Tuhan itu dekat.

Makna

Hal-hal ini dengan mudah menjadi terlepas dari tujuan misi. Bersukacita dalam Tuhan menjadi sikap optimis; berbaik hati menjadi cara untuk berhasil secara sosial; doa menjadi cara menangani stres; a.8 menjadi “positive thinking” saja. Hal-hal ini memang akan membantu kita untuk menikmati kemanusiaan yang lebih utuh dan lebih mampu, menjadi lebih dewasa (“sempurna”, 3:15). Tetapi konteks perikop ini adalah kesatuan dalam perjuangan dan dalam pengharapan (“tercantum dalam kitab kehidupan”). Kedewasaan dalam Kristus dibentuk bukan dalam sukses melainkain dalam kegagalan, bukan dalam kelegaan melainkan dalam pergumulan, seperti Kristus (3:10-11). Dengan kata lain, kedewasaan dalam Kristus dibentuk ketika kita terlibat dalam misi Allah sama seperti Kristus. Dalam konteks misi, sukacita, kebaikan hati, doa dan berpikir baik menjadi penting demi kemuliaan Allah sendiri.

Saya menyebut bersukacita dan sebagainya sebagai disiplin batin untuk menunjukkan bahwa ada kesengajaan di dalamnya. Paulus tidak mengatakan, “mudah-mudahan ada rasa sukacita dalam Tuhan, mudah-mudahan kamu merasa mau berbaik hati”. Dia menyuruh kita untuk menyandang sikap sukacita, mempraktekkan kebaikan hati, berdoa dengan desakan disertai syukur dan memikirkan apa yang baik. Hal itu hanya mungkin kita lakukan jika kita telah menangkap kasih dan anugerah Allah di dalam Kristus, bila kedekatan Kristus telah menjadi sesuatu yang dihargai dan dirindukan, bila Kristus makin menjadi berkat utama dalam kehidupan kita.


Yer 22:1-9 “Keadilan dan penyembahan Allah” (11 Nov 2012)

November 6, 2012

Penggalian Teks

Dalam pasal sebelumnya (p.21), kita belajar tentang ketakutan raja Zedekia pada saat orang Babel siap untuk mengepung Yerusalem. Melalui Yeremia, Allah memberitahu bahwa Yerusalem akan hancur, dan memang itulah yang terjadi (tahun 586 SM). Perikop kita kemungkinan bukan lanjutan dari pasal itu, karena Yeremia pergi kepada raja, bukan didatangi, dan juga karena masih ada kesempatan untuk pertobatan. Namun, konteks itu mempertajam bahwa pilihan yang disampaikan kepada raja Israel serta para pegawainya sangat serius.

Perikop ini mulai dengan Allah berbicara. (Ingat bahwa bahasa Ibrani, sama seperti bahasa Yunani, tidak memakai kata-kata khusus untuk Allah. Manusia dabar, “berbicara”, dan Allah juga dabar.) Hal itu dikatakan oleh narator (“Beginilah firman Tuhan”, a.1), kemudian oleh Tuhan kepada Yeremia (“sampaikanlah di sana firman ini”, a.1), kemudian oleh Yeremia kepada raja Yehuda (aa.2-3, 5-6). Raja Israel adalah orang yang penting: raja di istana, pusat pemerintahan Israel, dicari orang banyak (“masuk melalui pintu-pintu gerbang ini”). Tetapi Tuhan adalah penguasa yang di atasnya.

Aa.3-5 menyampaikan intinya. “Keadilan” adalah kata mishpat, proses atau hasil penghakiman. “Kebenaran” adalah kata tsedaqah, tingkah laku yang benar dan sesuai dengan relasi yang ada (3a). Bagi penguasa, mengingat bahwa raja berfungsi sebagai bagian legislatif (di bawah Hukum Taurat), eksekutif, dan hukum, artinya bahwa kebenaran diwujudkan melalui semua aspek pemerintahan itu. Semestinya, raja banyak campur tangan untuk menyelamatkan orang kecil dari pemeras dan penindas, untuk melindungi orang lemah, dan untuk mencegah kekerasan (3b). A.3 menyampaikan pengukur untuk akibat berikutnya. Jika mereka berlaku adil, takhta Daud akan berjaya (4). Jika tidak, istana akan menjadi hancur (5). Kata istana, bayit, berarti “rumah”, dan bisa juga merujuk pada keturunan raja. “Rumah” (dinasti) Daud akan melarat, tidak berjaya lagi.

Aa.6-9 menjelaskan hukuman yang akan dijatuhkan. Tuhan mengibaratkan dinasti raja Yehuda sebagai hutan di Libanon dan Gilead. Dua daerah pegunungan ini terkenal karena pohonnya, Libanon sebagai sumber pohon aras, dan Gilead karena pohon pinus dan ek. Kemungkinan pohon aras termasuk bahan untuk istana raja. Dengan demikian, dinasti raja dipuji sebagai sesuatu yang bagus dan ternama (6a). Namun, raja akan dihukum. Hukuman itu seperti menebang pohon aras untuk dibakar, sesuatu yang terasa tega sekali, tetapi Allah pasti akan melakukannya (6b-7). Aa.8-9 mau menyoroti malunya hukuman itu. Bangsa-bangsa akan melihatnya, dan memahami bahwa Israel tidak setia kepada Allah mereka. Dalam a.9, dasar dari tuduhan Allah dan hukuman terhadap Israel dinyatakan, yaitu, perjanjian Israel dengan Allah. Dosa keadilan dalam a.3 di sini diganti dengan dosa pemberhalaan. Hukum Taurat mengajarkan keadilan kepada Israel sebagai wujud kasih kepada Allah, dan jika Allah diganti dengan ilah buatan manusia, ketidakadilan menjadi salah satu akibat.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menjadi peringatan akan pentingnya keadilan. Ada dua segi dari penyampaian Yeremia kepada raja Israel. Yang pertama, ada harapan, biar pun tipis, bahwa raja itu akan bertobat dan menghindar dari hukuman. Yang kedua, adanya peringatan menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah, yang mau memberi kesempatan untuk bertobat. Ketika kitab Yeremia disusun, hukuman Allah telah dijatuhkan, dan Yerusalem telah menjadi reruntuhan. Tetapi, peringatan itu tetap berfungsi untuk umat Allah, dengan harapan bahwa kita akan lebih sadar daripada Israel.

Makna

Dalam sebuah nubuatan hukuman seperti ini, perincian dosa menjadi sumber ajaran etis. Relevansi a.3 untuk kehidupan bermasyarakat sangat jelas, juga penting untuk menyoroti sejauh mana gereja menerapkan keadilan sebagai lembaga, dan sejauh mana jemaat menerapkan keadilan sebagai jemaat. Dalam ayat ini, keadilan menyangkut penggunaan kuasa, termasuk pemerasan (soal ekonomi) dan penumpahan darah (kekerasan). Karena ada kuasa dan uang di dalam gereja, ayat ini tidak boleh hanya dilontarkan kepada “mereka”.

Jangan lupa juga peran Allah dalam perikop ini. Pesan Yeremia bukan bahwa umat Israel melanggar suatu norma etika universal, tetapi bahwa mereka telah mengesampingkan perjanjian dengan Allah. Karena raja dan rakyat tetap beribadah di Bait Allah, tuduhannya di sini bukan bahwa mereka murtad melainkan bahwa mereka menduakan Allah. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa jika seorang pemimpin telah menjadi pelaku ketidakadilan, hal itu adalah petunjuk yang kuat bahwa dia telah menduakan Allah. Dia tetap beribadah di gereja dan memuji Kristus, tetapi dia juga giat melayani kuasa, uang atau berhala yang lain.

Terhadap dosa seperti itu, Allah bertindak. Dia berfirman dulu, dan bagi orang atau kelompok yang mengasihi-Nya, peringatan sudah cukup untuk mendorong perubahan tingkah laku atau sistem yang tidak adil. Mengabaikan peringatan Allah berarti bahwa ada yang lain lebih penting dari Dia, artinya, sesuatu yang telah menjadi ilah yang utama. Dalam perspektif PB, kondisi itu pasti menimbulkan murka Allah dalam wujud penghambaan terhadap dosa (Rom 1:18-31). Kehancuran seperti yang dialami Israel pada zaman Yeremia baru akan tampak pada penghakiman akhir zaman. Hal itu termasuk kehancuran citra seperti yang terjadi pada Israel. Dosa manusia akan terungkap, dan dalih-dalih manusia akan terbongkar.


Mzm 92:13-16 Pemberitaan karena berakar dalam Tuhan (4 Nov 2012; Pekan Keluarga)

Oktober 29, 2012

Nas minggu ini pendek dan sederhana. Dilihat dalam konteks seluruh mazmur, artinya menjadi lebih tajam, karena gambaran tentang pertumbuhan dipakai juga untuk orang fasik. Perlawanan seperti itu memperjelas makna, tetapi tidak diperhatikan jika konteks diabaikan. Minggu ini juga adalah minggu yang baik untuk berbicara tentang Allah. Kedua kegiatan manusia dalam perikop ini, bertumbuh dan memberitakan, sama-sama berarti hanya karena Dia.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah bagian terakhir dari sebuah mazmur pujian. Pemazmur mengalami kasih setia Tuhan sehingga dibuat bersukacita oleh Tuhan dan mau memuji Dia (2-5). Hal itu terjadi dalam konteks perlawanan dari orang-orang fasik. Namun, pemazmur melihat bahwa sukses mereka sementara saja. Mereka tidak mengerti karya dan rancangan Tuhan (6-7), bahwa Tuhan ada di tempat yang tinggi sehingga meskipun orang fasik itu bertumbuh, mereka akan binasa (8-10). Itulah yang dialami oleh pemazmur, bahwa dia yang ditinggikan, sedangkan seterunya menjadi seperti isu saja (11-12).

Makanya, dia menyampaikan kesaksian tentang orang benar. Mereka juga bertumbuh, sama seperti orang fasik (13). Tetapi, mereka ditanam di bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah (14). Hidup mereka berakar di dalam Tuhan, sehingga mereka berbuah bahkan sampai masa tua (15). Tujuan Allah di dalamnya ialah supaya mereka memberitakan kebajikan Allah: bahwa Dia berbuat benar dan tidak curang kepada orang yang bertumbuh di dalam-Nya, sehingga menjadi dasar kehidupan yang kukuh (16).

Maksud bagi Pembaca

Orang yang hidupnya berakar dalam Tuhan akan memberitakan kebenaran Tuhan yang mereka alami sejak masa kecil sampai masa tua. Tuhan adalah gunung batu, dan kita diajak untuk berakar di dalam Dia, dan juga untuk memberitakan kebenaran-Nya.

Makna

Konteks perlawanan bukan sekadar adanya musuh pribadi. Bahkan manusia perdana diberi tugas untuk berjuang menaklukkan apa yang belum sempurna, walaupun sudah baik (Kej 1:28). Lebih lagi setelah manusia berdosa, sehingga kebelumsempurnaan itu ditambah dengan kejahatan manusia. Orang-orang fasik rata-rata tidak kriminal, dan di Indonesia rata-rata beragama (seperti juga di Israel). Tetapi, mereka berakar dalam pandangan dunia dan sistem-sistem duniawi yang lambat laun melawan kehendak Allah. Misalnya, uang dianggap jaminan hidup, dan pemerintah menjamin adanya uang, sehingga masuk sistem PNS dianggap jaminan bahwa orang akan masih berbuah (alias: pensiun) pada masa tua pun. Setelah masuk, bukan kesejahteraan masyarakat, dan setelah naik pangkat, bukan kesejahteraan bawahan yang diutamakan, karena melayani sesama bukan tujuannya. Sistem besar apapun, entah pemerintah, perusahaan, bahkan gereja, jika dilacak cenderung mementingkan sistem daripada orang, bukan karena niat yang jahat, tetapi karena niat untuk berbuat baik tidak sekuat tuntutan sistem.

Itulah pentingnya orang berakar di dalam Tuhan. Bait Allah menjadi wujud hadirat Allah bagi Israel. Di sana, Israel diajari firman-Nya dan mengaku dosa serta bersyukur kepada dan bersekutu dengan Dia melalui sistem korban. Kristus telah menjadi wujud Allah bagi kita, dan kita berakar di dalam-Nya di dalam tubuh-Nya, yaitu gereja. Gereja menjadi “dunia alternatif”, di mana kita memahami bahwa Allah akan membinasakan kejahatan dan meninggikan orang yang berakar di dalam Dia, entah di dalam sejarah atau pada akhir zaman. Orang yang berakar di dalam tubuh Kristus akan dapat bertahan sebagai orang yang setia kepada Tuhan dan menerapkan nilai-nilai-Nya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai masa tua pun.

Orang-orang seperti itulah yang mengalami perlindungan Tuhan, bahwa di tengah pergumulan melawan arus Dia adalah gunung batu. Orang yang membuat uang atau sistem-sistem dunia yang lain sebagai gunung batunya tentu berdoa, mungkin saja sering berdoa. Tetapi dalam doanya, dia hanya mencari tambahan pada andalannya yang sebenarnya, sehingga dia tidak bisa dengan jujur memberitakan bahwa Tuhan adalah gunung batunya. Sebaliknya, orang benar, yang melawan arus karena berakar dalam Tuhan, memiliki banyak pengalaman akan Tuhan sebagai gunung batu yang layak untuk diberitakan. Pikirkan saja kesaksian orang tua yang demikian, yang memiliki daya penguatan yang tidak ada taranya.


2 Taw 15:1-19 Sumpah sebagai wujud pertobatan (28 Okt 2012; Hari Sumpah Pemuda)

Oktober 21, 2012

Gereja sekarang banyak mengkhawatirkan kondisi generasi muda, dan Sumpah Pemuda dilihat sebagai semangat yang layak dicontoh. Dalam perikop ini, kita melihat segenap umat bersumpah, sesuai dengan keluhan pemuda bahwa generasi tua juga jauh dari sempurna. Lebih lagi, kita melihat bahwa sumpah itu hanya salah satu titik dalam proses pembaruan yang lebih luas. Pemuda dapat digerakkan dengan banyak bentuk idealisme, tetapi hanya dalam Tuhan akan ada kemajuan yang sejati.

Penggalian Teks

Asa adalah raja Yehuda yang ketiga setelah perpecahan Israel menjadi kerajaan Selatan (Yehuda) dan kerajaan Utara (Israel). Makanya, persaingan dengan Israel muncul beberapa kali dalam perikop kita (8-9). Asa tergolong raja yang baik (14:2), dan sebelum perikop kita, Tuhan telah menyelamatkan Yehuda dari orang Etiopia melalui dia. Dalam konteks itu, ada pesan dari Tuhan melalui Azarya (1). Inti pesan terdapat dalam a.2, yaitu bahwa Allah akan menanggapi sikap Israel: jika dicari, Dia akan ditemui, tetapi jika ditinggalkan, Dia juga akan meninggalkan Israel. LAI menyisipkan kata “berkenan” sebelum “ditemui”, dan kata itu cocok dengan maksud di sini. Israel tidak mencari dari nol, tetapi sebagai respons terhadap inisiatif Allah kepada Israel sejak Dia membawa mereka keluar dari Mesir, termasuk menyelamatkan mereka dari orang Etiopia dan mengutus Azarya pada saat itu.

Meninggalkan Tuhan diartikan dalam a.3 dengan tiga “tanpa”. Yang pokok ialah “tanpa Allah yang benar”. Hal itu terjadi karena imam tidak melakukan fungsinya sebagai pengajar. Oleh karena itu, umat tidak mengenal hukum. Kata “hukum” di sini torah, yaitu, Taurat. Isinya tidak hanya peraturan-peraturan, tetapi juga kisah-kisah tentang perbuatan Allah, serta janji-janji Allah. Dengan kehilangan pengajaran itu, bukannya Israel tidak beragama lagi, melainkan ibadah Israel tidak lagi tertuju kepada Allah yang sebenarnya. Aa.4-6 membandingkan akibat ketika Israel berbalik kepada Tuhan dengan ketika belum. Makanya, Asa didorong dalam a.7 untuk bertindak.

Aa.8-16 menunjukkan jalan yang ditempuh agar Israel berbalik kepada Tuhan pada saat itu. Asa “menguatkan hatinya” untuk tugasnya. Penguatan itu diperlukan, karena hal pertama yang dilakukan adalah penyingkiran ibadah yang palsu. Kemudian, dia membarui mezbah di Bait Allah sebagai pusat ibadah yang sejati, dan mengumpulkan seluruh bangsa (8-9). Kumpulan itu mulai dengan persembahan, jarahan dari perang dengan orang Etiopia itu (11). Persembahan dalam kitab Imamat selalu berkaitan dengan hubungan dengan Tuhan, apakah untuk bersyukur, bersekutu, atau dalam rangka penghapusan dosa. Kemudian, hubungan itu diteguhkan dengan perjanjian. Israel menerima undangan Tuhan melalui Azarya untuk mencari Dia, dengan segenap jiwa dan hati, seperti dalam Ul 6:5. Kebulatan hati itu tidak perorangan saja, tetapi disertai dengan keputusan yang menyangkut seluruh bangsa (13). Ada kerinduan agar seluruh bangsa itu suci.

Perjanjian itu diteguhkan dengan sumpah setia yang disertai sukacita (14-15). Adanya sukacita itu diberi penekanan, ada suara yang nyaring, sorak-sorai, dan sukaria. Alasannya karena mereka mencari Tuhan dengan sebulat hati sehingga, seperti yang dijanjikan melalui Azarya, “Tuhan berkenan ditemui oleh mereka”. Hasilnya mereka dianugerahi keamanan.

Kekuatan hati Asa (8) ditunjukkan dengan catatan bahwa bahkan neneknya, sekalipun dia adalah ibu suri, dipecat, dan patung Asyeranya dihancurkan. Asa tidak pandang bulu (bdk. a.13; sepertinya, hukuman mati dalam a.13 tidak diterapkan secara harfiah).

Jadi, pembaruan umat terjadi atas dasar firman dari Allah sendiri. Respons umat mulai dan berakhir dengan penghancuran berhala. Kemudian, mereka mengaku dosa dan niat bersekutu dengan persembahan. Kemudian, mereka memasang niat yang jelas untuk berbalik kepada Tuhan. Hal itu tidak sekadar dalam perkataan, tetapi juga soal hati, sehingga ada sukacita yang besar.

Bagian akhir memberi penilaian terhadap Asa, bahwa secara pribadi dia tulus (17), sebagaimana juga dilihat dengan persembahannya (18).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini memberi contoh bagi umat Allah tentang mengapa dan bagaimana berbalik kepada Tuhan. Alasannya karena Tuhan mau dicari dan mau memberkati. Caranya bagi Israel ialah dengan meninggalkan berhala, mendekati Tuhan dengan persembahan, dan menyatakan niat yang jelas. Bukti akan kesejatian pertobatan itu ialah sukacita.

Makna

Penawaran Allah untuk Dia berkenan ditemui itu diteguhkan di dalam Kristus. Kembali kita melihat bahwa ini adalah bentuk anugerah: Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya, dan mau supaya kita menikmati keselamatan itu. Tidak mungkin menikmati persekutuan dengan Allah jika berhala (entah uang, gengsi, dsb) tetap dipertahankan. Mendekati Tuhan melalui persembahan dapat dilihat dari dua segi. Kristus yang telah menjadi jalan pendamaian, sehingga kita dibenarkan dan boleh mendekati Tuhan. Dan kita tetap membawa persembahan syukur, uang dsb, sebagai wujud nyata dari kerinduan akan Tuhan.

Kemudian, niat itu diberi pernyataan yang jelas dan tegas dalam perjanjian dan sumpah. Sumpah itu tidak ada gunanya bila tahap-tahap sebelumnya belum dilakukan. Sumpah itu tidak dapat menutupi berhala-berhala yang tetap dipertahankan. Sumpah itu juga bukan pengganti mendekati dan bersekutu dengan Tuhan. Mendekati Tuhan adalah soal hati yang dilembutkan oleh anugerah Allah dan digairahkan oleh janji-Nya, seperti Israel pada saat itu. Sumpah dalam suasana amal tidak berarti, dan tidak akan digenapi.

Sukaria Israel menjadi petunjuk bahwa mereka melihat di dalam Tuhan ada kehidupan yang sejati. Jatidiri sebagai bangsa sebenarnya ditemukan di dalam Tuhan, bukan di dalam berhala atau hal-hal yang lain.

Pertobatan Israel di sini terjadi sebagai bangsa. Makanya, ada pernyataan sikap terhadap orang-orang yang tidak mau ikut. Hal itu menyiratkan bahwa keputusan itu harus muncul pribadi lepas pribadi, tidak dapat diwakili. Dalam PB, pertobatan lebih dilihat dari segi individu, tetapi jemaat sebagai tubuh menyiratkan hal yang sama: pembaruan tidak dapat dilakukan oleh beberapa wakil saja, tetapi semua harus terlibat.


Mzm 37:34-40 Tuhan yang layak dinantikan (21 Okt 2012)

Oktober 15, 2012

Mazmur ini menyampaikan janji yang luar biasa di tengah konteks masyarakat di mana orang fasik itu kuat. Konteks itu mungkin saja mirip dalam berbagai hal dengan konteks kita, tetapi ada satu perbedaan yang pokok, yaitu, Yesus telah datang. Hal itu tidak mengurangi janji Allah, sebaliknya, janji itu diperluas dan diperkuat. Jadi, saya tidak hanya melihat isi perikop, tetapi juga bagaimana perikop itu dipakai dalam PB. Makna PL selalu diperkaya dalam terang Kristus.

Dalam buku pedoman Membangun Jemaat, minggu ini mau dijadikan persiapan untuk Hari Sumpah Pemuda minggu depan. Perikop tidak langsung berbicara tentang pemuda, tetapi dengan sangat mudah dapat diterapkan kepada pemuda.

Penggalian Teks

Mazmur 37 memperbandingkan orang benar dan orang fasik, untuk menguatkan orang benar bahwa merekalah pewaris negeri (37:9). Negeri yang dimaksud ialah tanah perjanjian. Bagian akhir mazmur ini juga berisi perbandingan. Kembali pewarisan negeri diperbandingkan dengan kelenyapan orang fasik (34) yang diceritakan dalam aa.35-36. Kemudian, ada perbandingan antara akhir (masa depan) dari orang yang tulus dan dari orang fasik (37-38). Dalam kedua ayat terakhir, perbandingan sudah ditinggalkan, dan mazmur berakhir dengan janji keselamatan bagi orang benar.

A.34 merupakan perintah, atau lebih tepat, janji bersyarat. Bagian manusia adalah menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Kedua hal itu saling berkaitan. Mengikuti jalan Tuhan adalah bukti bahwa janji dan pertolongan Tuhan yang diandalkan; mengaku menantikan sementara tidak mengikuti jalan ibarat pergi ke dokter tetapi tidak mau meminum obatnya. Yang diharapkan adalah “mewarisi negeri”. Hal itu merupakan metonim (bagian yang mewakili keseluruhan) bagi segenap berkat Allah. Memang bani-bani dan keluarga-keluarga Israel mewarisi sebidang tanah (Yosua 13). Tetapi tanah itu bermakna karena Tuhan ada di tengah Israel, dan karena jalan Tuhan dalam Taurat adalah masyarakat yang adil, di mana orang mengasihi sesama. Jadi, ayat ini merupakan harapan bahwa Tuhan akan mewujudkan rencana-Nya bagi Israel. Orang yang searah dengan rencana Tuhan akan menikmati rencana itu, tetapi rencana yang sama menuntut pelenyapan orang fasik.

A.34 berakhir dengan soal “melihat”, dan aa.35-36 menceritakan suatu pengalaman yang pernah dilihat oleh pemazmur. Orang fasik kelas kakap yang kelihatan kukuh sekali ternyata tidak bertahan lama. Dalam aa.37-38, pendengar mazmur sendiri diimbau untuk melihat. Dua “masa depan” dapat diamati. (“Masa depan” juga dapat diterjemahkan “keturunan”; dalam konteks Israel artinya tidak terlalu berbeda.) Tulus, jujur dan suka damai adalah hal-hal yang berhasil baik, sedangkan kedurhakaan dan kefasikan berakhir buruk.

Dalam aa.39-40, apa yang dinantikan dari Tuhan itu diuraikan. Uraian itu mulai dan berakhir dengan Tuhan yang menyelamatkan. Keselamatan itu mencakup Tuhan sebagai tempat perlindungan dalam kesesakan, yang menolong dan meluputkan dari orang fasik. Hal itu Dia lakukan karena mereka berlindung kepada-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Pendengar mazmur diajak untuk menggantungkan kehidupannya sepenuhnya kepada Tuhan. Warisan-Nya yang menjadi dambaan hidup, pertolongan-Nya yang dinantikan, jalan-Nya yang diikuti, keadilan-Nya yang diandalkan ketika orang fasik membuat dia tersesak.

Makna

“Mewarisi negeri” memiliki makna sentral yang harus digali dengan tepat. Yesus mengutip Mzm 37:9 (yang searah dengan a.34) pada awal Khotbah di Bukit, sebagai salah satu janji yang menguraikan “empunya Kerajaan Sorga” (Mt 5:3-10). Terjemahan LAI mengatakan “memiliki bumi” (5:5), tetapi bahasa aslinya sama dengan terjemahan LXX dari Mzm 37:9 itu. Kata “bumi” dipakai karena dalam PB, harapan akan apa yang akan diwarisi sudah diperluas, tidak sekadar tanah Israel tetapi merujuk pada langit dan bumi yang baru. Hal itu penting diamati, karena jika kita melihat riwayat hidup seorang Paulus ternyata orang benar tidak selalu diluputkan dari tangan orang-orang fasik. Harapannya ialah kebangkitan: kuasa kebangkitan yang dilihat setiap kali dia bertahan dalam kesusahan (2 Kor 4:7-12), dan akhirnya kebangkitan tubuh ketika Yesus datang kembali (1 Kor 15). Pengharapannya didasarkan pada Yesus yang diserahkan ke dalam tangan orang fasik tetapi diluputkan dari maut dalam kebangkitan.

Jadi, perikop ini membawa penguatan bagi orang yang berharap untuk hidup kekal bersama dengan Tuhan dalam dunia baru, bukan orang yang mencari dukungan ilahi untuk cita-citanya sekarang. Syarat dalam a.34 bukan semacam amal, melainkan syarat yang melekat pada janjinya. Artinya, bagi orang yang tidak mau hidup bersama dengan Tuhan, tidak ada kabar baik dalam perikop ini.

Tentu, landasan kabar baik ialah Tuhan sendiri. Dialah yang memberi janji; Dialah yang dapat menopang orang yang berlindung kepada-Nya melalui berbagai kesusahan, bahkan permusuhan; Dialah yang akan melenyapkan kejahatan dari dunia ini; dan Dialah yang meluputkan kita dari dosa dan maut.


Rom 3:21-31 Darah Yesus mewujudkan kasih karunia Allah (14 Okt 2012)

Oktober 10, 2012

Minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sekelompok kaum wanita apakah mereka suka jika suami hanya asal mendengar ketika istrinya sedang berbicara. Tidak ada yang suka, ternyata. Minggu ini, saya menguraikan secara terperinci perikop ini sebagai satu cara untuk mau mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Khususnya, saya memberi banyak perhatian pada aa.22-26 yang berbicara tentang apa yang dilakukan Allah di dalam Kristus. Penguraiannya agak panjang karena untuk menjelaskan maksud Paulus di sini saya harus melihat penguraian sebelumnya dan juga menyoroti bahasa aslinya. Mungkin saja sebagian detailnya berlebihan untuk kebutuhan Pembaca. Tetapi saya berharap bahwa merenungkan karya Allah tidak menjenuhkan, dan memberitakan karya itu dari mimbar akan dianggap kesempatan yang menyemangati.

Penggalian Teks

Paulus berharap bahwa jemaat Roma yang belum pernah dia kunjungi itu dapat mendukung dia untuk melanjutkan misi ke Spanyol, sehingga dia menyampaikan uraian yang paling sistematis dari semua suratnya tentang Injil yang dia beritakan. Namun, suratnya tetap memperhatikan kondisi jemaat sejauh mana dia memahaminya, khususnya soal Yahudi dan non-Yahudi di dalamnya (bdk. p.14). Orang Yahudi suka bermegah dalam Allah berdasarkan hukum Taurat, yang memampukan mereka “tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik” dan mengajar orang lain (2:17-20). Berbeda dengan orang lain, orang Yahudi mengerti bahwa Allah itu esa, dan bahwa kejahatan manusia terjadi karena manusia menyembah makhluk ketimbang Sang Pencipta (1:25), sehingga manusia kehilangan martabat (1:26-31) dan layak dimurkai (1:18, 32). Tetapi Paulus membuktikan bahwa Taurat—meskipun itu adalah firman Allah sendiri (3:2)—tidak memberi jalan keluar soal itu. Israel sendiri tahu tentang dosa, tetapi tetap melakukannya (2:21-24), karena hati belum diubahkan (2:29). Kesimpulan radikal Paulus ialah bahwa Taurat sekadar memperjelas dosa, tetapi tidak sanggup menjadi dasar untuk Allah membenarkan seseorang, artinya, meluputkannya dari hukuman-Nya.

Di balik soal pembenaran manusia, ada juga pertanyaan tentang kebenaran (dikaiosune) Allah. (Istilah itu muncul dalam a.21, dan juga dalam aa.225-26 dengan terjemahan “keadilan”.) Jika bahkan Israel tidak dapat luput dari hukuman Allah, bagaimana Dia dapat setia terhadap janji-janji-Nya kepada Israel (3:1-8)? Pertanyaan tentang nasib manusia berdosa juga adalah pertanyaan tentang maksud Allah bagi umat manusia.

Tetapi syukur bahwa hukum Taurat bukan bab terakhir dalam rencana keselamatan Allah. Adanya tahap baru ditandai dengan kata “sekarang”. Tahap ini disaksikan oleh PL, tetapi tidak bergantung pada Taurat (21). Dalam aa.22-26, Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Kristus Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan cara yang menggenapi janji-janji-Nya. Dalam aa.27-30 Paulus menunjukkan bagaimana cara itu meniadakan kemegahan orang Yahudi, sehingga Allah dinyatakan sebagai Allah bagi semua orang.

A.22a merupakan pernyataan singkat tentang kebenaran Allah itu, dan ada dua soal tafsiran yang perlu dibahas di sekitar frase “karena iman dalam Yesus Kristus”. Yang pertama, kata “karena” hanya dipakai karena TB alergi kata “melalui” (dia + genitif). Ada metafora pengaliran di sini. Sumbernya kebenaran Allah, dan tujuannya “semua orang yang percaya”. Salurannya (pisteos Iesou Khristou) bisa ditafsir “iman dalam Yesus Kristus” atau “kesetiaan Yesus Kristus”. Pemula bahasa Yunani mengenal artian “iman” untuk kata pistis, tetapi kata itu juga dapat berarti “kesetiaan”, seperti dalam 3:3 (“kesetiaan Allah”). Jika “iman dalam Yesus Kristus” yang diterima, maka iman dilihat sebagai cara untuk menerima pembenaran Allah, dan tujuannya adalah semua orang percaya. Jika “kesetiaan Yesus Kristus”, maka karya Kristus dilihat sebagai cara Allah mewujudkan kebenaran-Nya, dan iman tetap adalah caranya untuk menerimanya. Kedua tafsiran itu menyatakan sesuatu yang benar, dan kedua artian dijelaskan di bawah.

Aa.22b-24 menjelaskan hal “semua yang percaya”. Hal “semua” dilihat dari dua segi: semua di bawah dosa dan dirusak oleh dosa (22b-23), dan semua dapat dibenarkan oleh anugerah. Pembenaran adalah lawan dari hukuman, karena pembenaran berarti bahwa Sang Hakim telah menyatakan terdakwa tidak bersalah. Tetapi di balik hukuman dan pembenaran ada sikap Allah: murka dan kasih karunia (anugerah). Murka adalah wujud kecemburuan Allah terhadap segala yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kasih karunia adalah sikap mendasar Allah. Dia menciptakan manusia dengan cuma-cuma. Di hadapan dosa manusia, Dia memanggil Abraham dengan cuma-cuma, menebus Israel dari perbudakan di Mesir dengan cuma-cuma, dan “sekarang” menawarkan pembenaran dengan cuma-cuma. Pembenaran itu muncul dari sikap kasih karunia itu, dan caranya ialah melalui (kembali dia + genitif) penebusan di dalam Kristus. Jika hal itu digabungkan dengan yang di atas, ada mata rantai seperti ini: kasih karunia Allah adalah motivasi Allah untuk membenarkan, pembenaran dihasilkan melalui kesetiaan Kristus untuk menebus, pembenaran/penebusan diterima oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum Taurat.

Aa.25-26 menjelaskan bagaimana proses itu menunjukkan kebenaran (dikaiosune) Allah. Kata itu di sini diterjemahkan “keadilan”, karena yang dipersoalkan di sini ialah bagaimana Allah dapat membenarkan orang yang bersalah. Dan memang itulah yang terjadi: dalam 4:5 Paulus mengatakan dengan jelas bahwa Allah “membenarkan orang durhaka”. Untuk menjawab hal itu, Paulus menyamakan Yesus dengan hilasterion (“jalan pendamaian”) dalam Kemah Suci dalam Taurat. Hilasterion dipakai untuk mezbah yang ada di kemah inti yang hanya dipakai setahun sekali pada hari Pendamaian (Imamat 16). Pada saat itu, semua dosa Israel dihapus sehingga Israel tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Jadi, Paulus menyampaikan bahwa Yesus, dalam kematian-Nya (“darah-Nya”) telah menjadi tempat dosa umat Allah dihapus. (Frase “karena iman” di sini, sama seperti tadi, dapat berarti “melalui iman [kepada Yesus]” atau “melalui kesetiaan Yesus”.) Karena darah Yesus telah menghapus dosa, Allah tetap benar ketika Dia membenarkan umat-Nya sebelum Kristus datang, dan ketika Dia membenarkan orang berdosa yang percaya kepada Yesus (26).

Dalam aa.27-30, Paulus kembali ke soal kemegahan orang Yahudi dalam hukum Taurat (27a). Kemegahan itu sudah ditolak, karena pembenaran diterima dengan iman, bukan dengan perbuatan (27b-28). Hal itu menyetarakan orang Yahudi dengan bangsa-bangsa yang lain. Hal itu penting, karena Allah bukan hanya Allah orang Yahudi, Dia adalah Allah segala bangsa. Darah Yesus membuka jalan baik bagi orang bersunat (Yahudi) yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat, maupun bagi orang tak bersunat yang memang jauh dari Tuhan. Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham, yang menyangkut semua bangsa, digenapi (bdk. 4:13-17).

Akhirnya, dalam a.31, Paulus menegaskan bahwa cara Allah ini tidak hanya berhasil meluputkan orang dari hukuman, tetapi juga akan berhasil memulihkan martabatnya sebagai gambar Allah, sehingga dari hati yang baru dia menaati maksud dari hukum Taurat (2:26-29). Hal itu dijelaskan Paulus dalam pp.6-8, terutama berkaitan dengan peran Roh Kudus (bdk. 8:4).

Maksud bagi Pembaca

Melalui penjelasan tentang kasih karunia Allah yang menyediakan pembenaran melalui darah Kristus, kita diajak untuk sepenuhnya mengandalkan darah itu dalam iman kepada Kristus. Dengan demikian, Dia akan menjadi yang paling penting dan paling bermakna bagi kita, sehingga kemegahan-kemegahan yang lain tidak diandalkan lagi.

Makna

Ajaran Paulus di sini mudah-mudahan bukan hal yang baru bagi Pembaca yang menganut ajaran gereja Protestan, karena perikop ini menjadi salah satu dasar utama untuk sola gratia dan sola fide. Aa.27-31 dapat membantu kita untuk mengukur sejauh mana ajaran itu telah menjadi bagian dari pandangan dunia kita.

Yang pertama, dalam apa kita bermegah? Orang Yahudi bermegah dalam hukum Taurat, khususnya sunat, diet (tidak makan daging babi dsb), hari Sabat dan pergaulan. Orang Toraja sering bermegah dalam upacara, tongkonan dsb, dan pilihan-pilihan membuktikan bahwa sungguh hal-hal itu yang mengarahkan kehidupannya. Tetapi aktivis gereja kadangkala bermegah bahwa mereka adalah orang yang “beres”, bukan preman, bukan koruptor, bukan orang durhaka. Keagamaan menjadi kebanggaan akan diri sendiri. Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa orangnya belum menangkap sejauh mana dia kehilangan kemuliaan Allah, dan sejauh mana dia hanya dapat beribadah kepada Allah karena darah Kristus. Secara lebih halus, orang kristen kadang mengaburkan sumber pembenaran dengan bermegah dalam iman. Itu juga keliru. (Tabe’ lako MJ.) Iman adalah sekadar cara untuk menerima hasil dari penebusan Kristus. Orang yang beriman selalu akan bermegah dalam apa yang diimani, yaitu, “Allah oleh Yesus Kristus” (5:11).

Yang kedua, Allah kita Allah siapa saja? Mendengar doa syafaat dalam ibadah, Dia adalah Allah orang yang bergumul dan yang berulang tahun di lingkup jemaat, dan Allah pemerintah Indonesia (syukur sering ada unsur itu sesuai dengan 1 Tim 2:1-2). Allah zending tidak dibatasi pada orang Belanda saja, tetapi dianggap Allah orang Toraja/Indonesia juga, sehingga mereka mengutus tenaga untuk menghabiskan hidupnya jauh dari kampung halamannya. Syukur bahwa di Indonesia makin banyak yang sudah mengingat siapa Allah itu, sehingga mendukung pelayanan misi dalam berbagai bentuk.

Yang ketiga, orang yang dibenarkan meneguhkan hukum Taurat, dalam artian mengasihi Allah dan sesama. Sampai sekarang ada yang mengatakan, “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Jawab Paulus, “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” (3:10) Pembenaran adalah kesempatan untuk belajar berbuat baik, karena kesalahan masa lampau dihapus.


Yoh 6:53-59 Memakan dan Meminum Yesus (7 Okt 2012)

Oktober 5, 2012

Perikop ini menyinggung masalah yang luas di dalam gereja, yaitu, hubungan dengan Kristus yang tidak jelas, yang lebih seperti kepada pejabat tinggi dan jauh, bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Minggu ini bukan minggu untuk menegur jemaat. Jemaat perlu melihat kelebihan Kristus atas roti jasmani, dan atas dasar itu didorong untuk menjadikan-Nya pusat kehidupan.

Penggalian Teks

Perikop ini tentu berkaitan dengan seluruh pasal 6 di mana Yesus memberi makan lima ribu orang (6:1-15), kemudian mereka mencari Yesus. Mulai 6:25, mereka menemukan-Nya di Kapernaum dan berdialog dengan-Nya, persisnya, menurut akhir perikop kita, di rumah ibadat (sinagoge). Yesus sendiri yang mengembangkan makanan sebagai kiasan untuk percaya kepada-Nya. Orang bekerja untuk makanan biasa yang akan binasa (6:27), tetapi cara bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal ialah percaya kepada Kristus (6:29), karena Dia adalah roti hidup (6:35). Makan roti itu berarti akan beroleh hidup kekal dengan dibangkitkan (6:40), karena ditarik oleh Bapa untuk menerima pengajaran Yesus (6:44-45). Di dalam 6:27 Yesus menyebut diri “Anak Manusia”, gelar yang pertama dipakai dalam 1:51. Dalam ayat itu, Dia adalah titik temu antara sorga dan bumi dalam penyataan, dan dalam ayat-ayat berikut Dia tetap adalah titik temu, juga dalam keselamatan (3:14), hukuman (5:27), dan di sini, sebagai makanan.

Kemudian, Yesus menantang mereka lagi dengan penjelasan bahwa yang dimakan adalah daging-Nya (6:51)! Makanya, mereka bingung (6:52). Dalam jawaban Yesus, diri-Nya sebagai makanan yang bertahan sampai kehidupan kekal menjadi dua hal: daging-Nya dan darah-Nya. Memakan dan meminum kedua hal itu adalah syarat mutlak untuk hidup kekal dengan dibangkitkan pada akhir zaman (53-54). Meminum darah orang malah lebih menjijikkan daripada memakan daging, tetapi sebenarnya mulai ada petunjuk bagi mereka di sini. Di mana mereka biasa minum minuman yang merah serta roti? Tentu, di dalam perayaan Paskah. Paskah merayakan keselamatan yang membawa hidup bagi Israel. Dengan cara yang mengusik, Yesus mengatakan bahwa Dialah penggenapan Paskah: apa yang diharapkan Israel di dalam Paskah akan didapat di dalam Yesus. Dalam 6:4 ternyata Paskah mendekat.

Aa.55-57 menyampaikan alasannya. Yesus menempatkan daging dan darah-Nya sebagai makanan yang sejati (55). A.56 menjelaskan apa artian dari memakan darah dan daging-Nya, yaitu, “tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Maksud-Nya, hubungan yang erat. Kita hidup sebagai orang yang berada di dalam Kristus, dan dia juga tinggal di dalam kita, sehingga apa yang kita lakukan digerakkan oleh Dia. Lebih mendasar lagi, dalam a.57 kita hidup oleh-Nya. Hidup itu adalah hidup dari Allah Bapa, melalui Yesus yang Dia utus. Hidup di dalam Yesus berarti menikmati hidup Allah sendiri.

A.58 menyimpulkan seluruh diskusi (6:25-57): Yesus adalah roti yang melebihi manna dan menggenapi Paskah, karena memberi hidup selama-lamanya.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mendorong pendengar-Nya, termasuk kita, untuk mencari makna dan semangat hidup di dalam relasi yang erat dengan Dia, bukan dalam hal-hal jasmani.

Makna

Bagaimana memakan daging dan tubuh Yesus? Daging dan darah pertama-tama merujuk pada kematian-Nya. Tetapi, melihat diskusi sebelumnya, daging dan darah juga merujuk pada Kristus sebagai pusat kehidupan—Tuhan, teladan, dan tujuan dalam pengharapan akan kebangkitan. Dalam 15:7, ajaran Yesus membawa diri-Nya ke dalam hati kita. Itulah makanan dan minumannya. Tetapi, bahan itu bukan untuk diamati saja, melainkan untuk dimakan dan diminum, artinya, menjadi bagian dari kehidupan kita. Cara mendasar ialah percaya (6:29).


Mat 2:16-18 Identifikasi Yesus dengan dunia kekerasan (30 Sep 2012)

September 27, 2012

Perikop ini muram sekali. Tanpa melihat konteksnya, kita hanya bisa ikut meratapi kekerasan yang ada sampai sekarang, tanpa harapan. Jika kita melihat nas yang dikutip, kesedihan hanya diteguhkan. Tentu, dalam konteks Injil Matius, ada harapan yang besar. Tetapi, semestinya konteks kutipan itu juga ditinjau. Dengan demikian, kita melihat bahwa harapan itu terletak dalam rencana Allah, sehingga bisa menjadi harapan kita juga.

Penggalian Teks

Perikop ini adalah adegan kedua terakhir dalam kisah tentang kelahiran Yesus. Pada satu segi, kisah ini menjelaskan bagaimana Yesus lahir di Betlehem, kota Daud, tetapi besar di Nazaret. Dia berperan sebagai Mesias sejak awalnya, karena Dia dianggap saingan bagi para penguasa (2:3). Dia juga berperan sebagai Israel, yang harus pergi ke Mesir untuk menghindar dari masalah, dan dipanggil Allah dari sana (2:15). Pada saat yang sama, kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan utusan-Nya dari tiran sekalipun, sama seperti Dia menjaga Musa. Puncak kisah ini terjadi dalam 2:14-15, karena di situlah Yesus aman. Perikop ini serta adegan berikutnya (2:19-23) menunjukkan bahwa Israel berada di bawah penindasan, sama seperti ketika berada di Mesir.

A.16 melaporkan reaksi Herodes ketika orang-orang majus tidak kembali melaporkan tempat lahir Yesus. Seperti biasa untuk seorang tiran yang harus selalu mengendalikan kondisi, dia marah karena diperdayakan. Dalam kemarahan itu dia membunuh semua anak di bawah dua tahun.

Kemudian, Matius mengangkat nas dari Yer 31:15. Kota Rama, terletak kurang lebih lima kilometer sebelah utara dari Yerusalem, ada di daerah Benyamin, anak Rahel. Menurut Yer 40:1, Rama adalah tempat perhentian untuk orang buangan yang diangkut ke Babel. Jadi, tangisan Rahel melambangkan pembuangan Israel, akibat dari pemberontakan Israel terhadap Allah. Peristiwa pembunuhan itu menunjukkan bahwa Israel pada zaman Yesus masih dalam pembuangan, dalam penantian akan keselamatan, seperti juga dalam silsilah Matius (1:17). Jika 2:15 menempatkan Yesus dengan Israel yang dipanggil dari Mesir, di sini Dia ditempatkan dengan umat dalam pembuangan itu.

Tetapi, tidak kalah pentingnya untuk melihat bahwa Yer 31:15 terletak dalam konteks pengharapan. Pembuangan itu akan berakhir, umat Allah akan diselamatkan kembali. Matius mau menunjukkan bahwa Yesus masuk dalam kondisi umat Israel yang dibuang supaya Dia membawa mereka pulang kepada Allah. Caranya menjadi jelas dalam p.3, dengan pemberitaan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Maksud bagi Pembaca

Yesus telah mendapat bagian dalam dunia yang penuh kekerasan ini. Soal identifikasi itu yang utama, tetapi di balik kutipan itu ada pengharapan akan janji Allah.

Makna

Rencana Allah tidak menghindar dari yang paling buruk dalam dunia ini. Yesus lahir dalam konteks kekerasan, dan akhirnya Dia pun tidak luput dari nasib seperti anak-anak kecil itu. Alkitab tidak menutupi kepahitan kehidupan dalam dunia ini, dan nabi Yeremia jujur mengatakannya. Oleh karena itu, kita bisa yakin bahwa Kristus mengerti jeritan orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Kita juga bisa yakin bahwa keselamatan adalah keselamatan yang utuh. Allah sudah memperhatikan dan akan menindak hal-hal seperti itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.