Mat 2:16-18 Identifikasi Yesus dengan dunia kekerasan (30 Sep 2012)

September 27, 2012

Perikop ini muram sekali. Tanpa melihat konteksnya, kita hanya bisa ikut meratapi kekerasan yang ada sampai sekarang, tanpa harapan. Jika kita melihat nas yang dikutip, kesedihan hanya diteguhkan. Tentu, dalam konteks Injil Matius, ada harapan yang besar. Tetapi, semestinya konteks kutipan itu juga ditinjau. Dengan demikian, kita melihat bahwa harapan itu terletak dalam rencana Allah, sehingga bisa menjadi harapan kita juga.

Penggalian Teks

Perikop ini adalah adegan kedua terakhir dalam kisah tentang kelahiran Yesus. Pada satu segi, kisah ini menjelaskan bagaimana Yesus lahir di Betlehem, kota Daud, tetapi besar di Nazaret. Dia berperan sebagai Mesias sejak awalnya, karena Dia dianggap saingan bagi para penguasa (2:3). Dia juga berperan sebagai Israel, yang harus pergi ke Mesir untuk menghindar dari masalah, dan dipanggil Allah dari sana (2:15). Pada saat yang sama, kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan utusan-Nya dari tiran sekalipun, sama seperti Dia menjaga Musa. Puncak kisah ini terjadi dalam 2:14-15, karena di situlah Yesus aman. Perikop ini serta adegan berikutnya (2:19-23) menunjukkan bahwa Israel berada di bawah penindasan, sama seperti ketika berada di Mesir.

A.16 melaporkan reaksi Herodes ketika orang-orang majus tidak kembali melaporkan tempat lahir Yesus. Seperti biasa untuk seorang tiran yang harus selalu mengendalikan kondisi, dia marah karena diperdayakan. Dalam kemarahan itu dia membunuh semua anak di bawah dua tahun.

Kemudian, Matius mengangkat nas dari Yer 31:15. Kota Rama, terletak kurang lebih lima kilometer sebelah utara dari Yerusalem, ada di daerah Benyamin, anak Rahel. Menurut Yer 40:1, Rama adalah tempat perhentian untuk orang buangan yang diangkut ke Babel. Jadi, tangisan Rahel melambangkan pembuangan Israel, akibat dari pemberontakan Israel terhadap Allah. Peristiwa pembunuhan itu menunjukkan bahwa Israel pada zaman Yesus masih dalam pembuangan, dalam penantian akan keselamatan, seperti juga dalam silsilah Matius (1:17). Jika 2:15 menempatkan Yesus dengan Israel yang dipanggil dari Mesir, di sini Dia ditempatkan dengan umat dalam pembuangan itu.

Tetapi, tidak kalah pentingnya untuk melihat bahwa Yer 31:15 terletak dalam konteks pengharapan. Pembuangan itu akan berakhir, umat Allah akan diselamatkan kembali. Matius mau menunjukkan bahwa Yesus masuk dalam kondisi umat Israel yang dibuang supaya Dia membawa mereka pulang kepada Allah. Caranya menjadi jelas dalam p.3, dengan pemberitaan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Maksud bagi Pembaca

Yesus telah mendapat bagian dalam dunia yang penuh kekerasan ini. Soal identifikasi itu yang utama, tetapi di balik kutipan itu ada pengharapan akan janji Allah.

Makna

Rencana Allah tidak menghindar dari yang paling buruk dalam dunia ini. Yesus lahir dalam konteks kekerasan, dan akhirnya Dia pun tidak luput dari nasib seperti anak-anak kecil itu. Alkitab tidak menutupi kepahitan kehidupan dalam dunia ini, dan nabi Yeremia jujur mengatakannya. Oleh karena itu, kita bisa yakin bahwa Kristus mengerti jeritan orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Kita juga bisa yakin bahwa keselamatan adalah keselamatan yang utuh. Allah sudah memperhatikan dan akan menindak hal-hal seperti itu.


Bil 13:17-33 Kekuatiran meniadakan janji Allah (23 Sep 2012)

September 18, 2012

Perikop ini merupakan narasi, dan cara yang sering membantu dalam menerapkan narasi ialah berfokus pada salah satu tokoh. Dalam perikop ini ada perbandingan antara Kaleb dengan rekan-rekannya. Semuanya pemimpin suku (13:2), tetapi hanya Kaleb yang berperan sebagai pemimpin. Jika dalam khotbah, Saudara hanya berbicara tentang rekan-rekan Kaleb, jangan-jangan Saudara telah menjadi sama seperti mereka, karena menyampaikan kabar busuk yang mencemaskan. Tetapi jika Saudara juga menyoroti Kaleb, yang sanggup berpegang pada janji Allah di tengah tantangan, maka khotbah Saudara akan membangun.

Penggalian Teks

Kitab Bilangan mulai dengan umat Allah tersusun di sekitar kemah suci (Bilangan 2), dan dalam 10:12 mereka berangkat dari gunung Sinai ke padang gurun Paran. Daerah itu bersebelahan dengan bagian selatan tanah Kanaan. Pada awal p.13, mereka sudah tiba di Paran, sehingga langkah berikut adalah masuk ke tanah Israel. Karena Israel terdiri atas duabelas suku, ada wakil dari setiap suku (kecuali suku Lewi), supaya niat Israel kemudian bulat. Utusan suku Yehuda ialah Kaleb, dan Yosua, abdi Musa, juga menjadi utusan dari sukunya Efraim.

Tugas mereka dijelaskan oleh Musa dalam aa.17-20, dengan beberapa ciri yang dicari. Aa.18-19 menyangkut tanah itu (“negeri” dan “tanah” sama-sama menerjemahkan kata ‘erets) sebagai sasaran perang, yaitu, orangnya (a.18) dan pertahanannya (a.19), dan a.20 menyangkut suburnya tanah itu. Dengan kata lain, aa.18-19 menyangkut tantangan yang akan dihadapi Israel, dan a.20 menyangkut motivasi, sejauh mana tanah itu selayaknya diperjuangkan. Pentingnya motivasi dilihat karena mereka disuruh untuk membawa sedikit dari hasil negeri/tanah itu. Catatan tentang musim hulu anggur menunjukkan bahwa ada harapan untuk mendapatkan anggur sedikit.

Aa.21-24 menceritakan perjalanan mereka. A.21 meringkas perjalanan itu, dan menunjukkan bahwa mereka mengintai seluruh negeri, sesuai dengan perintah Musa. A.22 menyoroti Hebron. Hebron adalah tempat pemakaman Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, serta Yakub dan isteri-isterinya (Kej 49:31-32; 50:13). Pada saat itu, Hebron belum menjadi kota. Tetapi sejak itu, kurang lebih bersamaan dengan pembangunan kota Soan di Mesir, Hebron menjadi kota. Kota Soan mungkin dibangun pada zaman orang Israel ada di Mesir, dan menjadi ibu kota Mesir. Implikasinya bahwa Hebron juga menjadi kota besar. Di dalamnya ada orang Enak (ucapan vokalnya sama dengan kata “emas”, bukan kata “énak”) dengan tiga orang kenamaan. Dalam aa.23-24, hasil tanah yang ternyata banyak diangkat.

Perjalanan mereka empat puluh hari, sama seperti Musa di gunung Sinai (Kel 24:18). Mereka melaporkan perjalanan mereka kepada seluruh Israel, dan juga memperlihatkan hasil tanah (25-26). Hal pertama yang dilaporkan ialah bahwa tanah itu sungguh baik (27). Tuhan tidak keliru dalam apa yang Dia janjikan.

Hal kedua ialah pertahanan. Dalam laporan ini, kita melihat bagaimana kegelisahan tertular. Dari a.29, sebagian besar tanah itu didiami bangsa-bangsa yang biasa, tetapi mereka mulai dengan tantangan yang paling berat (28), yang hanya ada di Hebron. Oleh karena mulai di situ, daftar bangsa pun terdengar menantang, padahal sudah diketahui bahwa akan ada perang.

Adanya kegelisahan yang membahayakan nyata dalam tanggapan Kaleb, yang mau “menenteramkan hati bangsa”. Dia berusaha kembali ke pokok, yaitu rencana Allah bagi mereka (30).

Tetapi kegelisahan itu menjadi-jadi. Rekan-rekan Kaleb pesimis (31). Bagi mereka, tanah itu bukannya baik hasilnya untuk dimakan (seperti dalam a.27), tetapi justru memakan penduduknya. Tiba-tiba, semua orang di sana tinggi besar, bukan hanya orang di Hebron (32-33a). Akhir a.33 menjelaskan prosesnya. Para pengintai itu meremehkan dirinya, sehingga mereka yakin bahwa penduduk juga memandang mereka remeh.

Dalam pasal berikut, bangsa Israel menanggapi kegelisahan para pemimpin dengan memberontak dan mau kembali ke Mesir (14:3). Ternyata, di mata Allah pemberontakan ini sepadan dengan pembuatan anak lembu tuangan (Keluaran 32), karena kembali Tuhan menawarkan untuk melenyapkan bangsa Israel dan membuat Musa menjadi bangsa baru (14:11-12; bdk. Kel 32:9-10). Meskipun bangsa itu diampuni karena perantaraan Musa dan tetap disertai Tuhan, tetap ada akibat dari dosanya. Hanya Kaleb dan Yosua yang akan masuk ke tanah perjanjian, selebihnya akan mati di padang gurun.

Maksud bagi Pembaca

Bagian ini memperlihatkan buruknya ketakutan pimpinan yang meremehkan kebaikan janji Allah dan panggilan-Nya. Dengan demikian, kita, terutama yang menjadi pemimpin, didorong untuk menjadi seperti Kaleb, yaitu memandang kebaikan janji Allah dan panggilan-Nya agar jangan tersandung oleh kegelisahan.

Makna

Sepertinya, Tuhan sadar bahwa para pengintai akan menemukan bahwa ada tantangan yang berat di tanah perjanjian. Semestinya, panggilan dan janji Tuhan sudah cukup untuk mereka berani memasuki tanah itu. Tetapi Tuhan memberi motivasi lagi dengan memperlihatkan kebaikan yang tersedia jika mereka siap melalui tantangan itu. Para pengintai memperlihatkan kebaikan itu (26b) tetapi ketakutan mereka langsung mengesampingkannya. Kita tidak tahu apakah Kaleb merasa takut atau tidak, tetapi dia sanggup berpegang pada janji Allah.


1 Taw 28:1-10 Giat karena dipilih (16 Sep 2012)

September 13, 2012

Perikop ini bermakna, sebagian karena menyangkut peralihan pemimpin. Pada saat seperti itu, apa yang paling penting akan muncul ke permukaan. Bagi Daud, yang penting adalah kehendak Allah, bukan hanya dalam artian cara hidup yang baik, tetapi juga dalam artian tujuan hidup yang baik. Pertanyaan, “Apa yang dilakukan Allah dalam perikop ini?” membuka makna lebih dalam.

NB: ada tombol di samping, “Pendaftaran”, yang bisa dipakai untuk menerima imel setiap kali ada posting baru. Kalau sudah mendaftar tetapi tidak menerima imel, periksa kotak “Spam” atau “Junk”.

Penggalian Teks

1 Tawarikh 17, sama seperti 1 Raja-raja 7, menceritakan janji Allah kepada Daud bahwa anaknya akan mendirikan Bait Allah dan selalu ada di takhta Yerusalem. Tetapi penulis 1-2 Tawarikh memberi fokus yang jauh lebih besar terhadap Bait Allah dan ibadah Israel. Dalam p.22, Daud memulai persiapan bahan untuk Bait Allah. Setelah jabatan-jabatan dalam ibadah dan pemerintahan diatur dalam pp.23-27, dalam perikop kita Daud mengumpulkan seluruh pimpinan Israel untuk memberi pesan terakhir kepada mereka, dan kepada Salomo di hadapan mereka. Pesan itu dilanjutkan dengan Daud mempersembahkan persembahan yang besar, diikuti oleh para pembesar yang ada di sana (29:1-9). Doa Daud yang berikutnya dikhotbahkan pada bulan Juli yang lalu (29:10-19). Jadi, kita melihat pesan akhir raja Daud supaya berkat di atas Israel tidak hilang.

Yang dikumpulkan adalah para pemimpin bangsa (1). Di dalam daftar itu, kita melihat sifat kerajaan Daud yang militer.

Daud berbicara kepada segenap kumpulan itu dalam aa.2-8. Perkataannya mirip dengan apa yang sudah dia katakan kepada Salomo (p.22). Aa.2-3 menceritakan niat Daud untuk mendirikan Bait Allah. Dia ditolak karena dia adalah penumpah darah. Kita mungkin teringat akan ulahnya terhadap Uria, suami Batsyeba, tetapi kata “darah” itu jamak dalam bahasa aslinya, dan dalam 22:8 jelas bahwa tingkah laku Daud dalam perang yang dimaksud. Ternyata Daud berlebihan dalam pelaksanaan perang, dan sekalipun ada pengampunan, dia menjadi tidak cocok sebagai pendiri Bait Allah.

Aa.4-5 menceritakan pemilihan Daud yang diteruskan kepada Salomo. Ada banyak orang Israel yang lain ketika Daud dipilih, dan ada banyak anak Daud. Tetapi Tuhanlah yang memilih. Seperti biasa, dasar pemilihan-Nya tidak dijelaskan, karena dasarnya ada dalam diri Allah sendiri. Yang dijelaskan ialah tujuannya (6-7). Salomo dipilih untuk membangun Bait Allah dan menjadi anak Allah, sehingga kerajaan Israel kukuh.

Namun, janji ini tidak lepas dari respons Salomo dan keturunannya (7b). Respons terhadap janji Allah ditegaskan dalam a.8 kepada segenap kepemimpinan Israel, dan dalam aa.9-10 kepada Salomo. Kedudukan negeri bukan hak Israel tetapi anugerah Allah, dan ketaatan kepada Allah menjadi cara untuk mempertahankannya. Bagi Salomo, ada peringatan tambahan bahwa Tuhan mengenal hati. Sikap Allah kepada Salomo bergantung pada sikap Salomo kepada Allah (a.9b). Namun, pemilihan Allah adalah dasar untuk Salomo giat dalam melaksanakan tugasnya (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Daud mau supaya para pemimpin dan Salomo menjadi sadar akan bagian mereka dalam rencana dan maksud Allah, supaya mereka hidup di dalamnya dengan sepenuh hati. Jika pada saat itu rencana Allah menyangkut Bait Allah, sekarang rencana Allah menyangkut Yesus yang berkarya melalui tubuh-Nya, yaitu gereja. Kita belajar untuk menikmati pemberian Allah dengan mencari Sang Pemberi, dan kita menghayati misi Allah dengan bergiat di dalamnya.

Makna

Ada ketegangan dalam perikop ini yang cukup mendasar secara teologis. Dari satu segi, semua bergantung kepada Allah yang telah membawa Israel ke tanah Kanaan dan telah memilih Daud dan Salomo untuk mengokohkan kedudukannya. Pada segi yang lain, kelanjutan kerajaan Israel bergantung pada ketaatan umat dan Salomo kepada Allah.

Apakah maksud di sini adalah teologi amal? Teologi amal menghitung-hitung. Sebagai contoh, saya baru memasing Speedy. Adanya jaringan internet adalah anugerah dalam artian, bukan hasil pekerjaan dan kemampuan saya. Kemudian, ada satu bulan gratis. Tetapi, setiap bulan, amal saya harus cukup, sekian rupiah. Dalam konteks gereja, teologi amal akan mengakui bahwa dasarnya adalah anugerah, tetapi setiap minggu harus ada sumbangsih ketaatan yang cukup untuk saya bisa tetap berkenan di hadapan Allah, mulai dengan beribadah dan diteruskan dengan menghindar dari dosa besar sepanjang minggu.

Tetapi, untuk Allah dengan Israel intinya adalah relasi, bukan amal. Relasi juga berdasarkan anugerah—siapakah layak dikasihi?—tetapi relasi harus dipelihara. Pemeliharaan relasi yang sehat bukan soal menghitung-hitung melainkan soal niat hati yang dinyatakan. Jika niat itu kurang, yang ditimbulkan pertama-tama bukan penolakan melainkan sakit hati, dan usaha untuk pendamaian. Hanya jika dari satu pihak penolakan itu sudah jelas, akhirnya pihak kedua harus menerima kenyataan itu.

Jadi, tidak kebetulan bahwa Daud berbicara tentang Allah menyelidiki hati. Niat hati yang baik akan selalu mencari Tuhan, akan menempatkan Tuhan sebagai yang paling didambakan dan diandalkan dalam kehidupan. Jika demikian, Tuhan siap ditemui. Niat hati yang buruk akan mengabaikan Tuhan, dan akhirnya akan mengakibatkan penolakan Tuhan. Jika kita melihat sejarah Israel, kita melihat bahwa proses penolakan itu panjang—berabad-abad Tuhan bersabar dengan umat-Nya dan memperingati mereka. Bahkan setelah pembuangan, Dia tidak melepaskan mereka selama-lamanya, tetapi tetap membuka peluang bagi mereka.

Teologi amal ibarat kepatuhan warga terhadap pemimpin yang tidak dicintai, “asal Bapa senang”. Daud di sini mendorong umat Allah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, karena hanya dengan mengasihi Sang Pemberi maka pemberian-Nya akan dinikmati. Hal itu semestinya kita sambut dengan baik, karena dalam PB, anugerah Allah menciptakan manusia baru yang merindukan Dia (2 Kor 5:17; Ef 2:8-10). Nasihat Daud mendorong kita untuk menghayati sifat kita sebagai manusia baru di dalam Kristus.

Teologi amal juga menimbulkan ketaatan seperti kinerja pejabat yang tidak tahu (atau tidak peduli) akan apa tujuan dari jabatannya, dia hanya tahu aturan. Kesadaran akan pemilihan, yang dalam konteks kita dapat juga diistilahkan panggilan, menjadi dasar untuk motivasi yang sehat. Salomo dinasihati untuk menjadi kuat untuk suatu tugas yang akan membutuhkan ketekunan dan kecerdasan, karena Tuhan telah memilih dia untuk tugas pembangunan Bait Allah itu. Jika kita yakin akan panggilan Allah dalam rangka misi-Nya dalam dunia, kita memiliki dasar yang kuat untuk bertekun di dalamnya.


Luk 18:15-17 Anak-anak dan Kerajaan Allah (9 Sep 2012; Minggu Anak-anak)

September 8, 2012

Perikop ini mengangkat keadaan sebagai anak sebagai model untuk menjadi anggota Kerajaan Allah. Tetapi konteksnya berbeda dalam ketiga Injil Sinoptik, sehingga ada penekanan masing-masing. Dalam Injil Matius, misalnya, cerita ini ada di antara ajaran tentang perceraian dan cerita tentang orang kaya, yang masing-masing menekankan betapa besar tantangannya hidup dalam Kerajaan Sorga. Tempatnya dalam Injil Lukas membawa nuansa yang lain.

Penggalian Teks

Lukas 17:20-37 berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang membedakan, artinya, ada yang selamat, ada yang dihukum. Perumpamaan berikut (18:1-8) berbicara tentang kerinduan Allah untuk membenarkan umat pilihan-Nya yang tertindas. Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya, “jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (18:8). Kemudian, ada tiga cerita yang sepertinya menjelaskan soal iman itu. Orang Farisi itu beriman kepada kesalehannya sendiri (18:11-12), dan orang kaya itu beriman kepada kekayaannya (18:22-23). Hanya pemungut cukai yang imannya seperti seorang anak, yaitu, merendahkan diri (18:14b).

Anak-anak yang dibawa adalah brefos, yaitu anak yang masih menyusu. Anak-anak kecil seperti itu sudah serendah mungkin, sepenuhnya bergantung pada ibu untuk bisa hidup. Mereka dibawa kepada Yesus untuk disentuh, yaitu, diberkati (bdk. Mrk 10:16).

Para murid tidak setuju (15b). Kata “memarahi” (epitimao) berarti menegor dengan keras untuk menghentikan sesuatu. Mengapa mereka keberatan tidak dijelaskan, tetapi jika kita berangkat dari 18:14b, mereka menganggap bahwa tidak pantas kalau Yesus berurusan dengan anak.

Apapun alasannya, Yesus sangat keberatan terhadap mereka (16). Dengan paralelisme yang tegas—“biarlah mereka datang…jangan menghalangi mereka”—Yesus mau menerima anak-anak itu. Justru anak-anak itu yang memiliki sifat anggota-anggota Kerajaan Allah. Implikasinya ialah bahwa cara masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti anak kecil itu.

Kata brefos tadi menarik karena menutup tafsiran yang merujuk pada kerendahan hati anak. Seorang bayi belum sampai sombong atau tidak, tetapi kerendahannya adalah sesuatu yang objektif. Pemungut cukai itu tidak berpura-pura menyesali dosanya, dia tidak berlagak sebagai orang yang rendah di hadapan Allah, tetapi dia sadar akan keadaannya yang sebenarnya.

Maksud bagi Pembaca

Kita didorong untuk menerima Kerajaan Allah sebagai anak, yaitu, dalam keadaan tidak berdaya. Sejauh mana kita telah menangkap kondisi kita yang sebenarnya akan tercermin dalam sikap kepada orang-orang yang rendah, termasuk anak-anak sendiri.

Makna

Satu cara untuk menggambarkan dosa ialah usaha untuk hidup mandiri, tidak bergantung kepada Allah. Soal anugerah mulai dengan penciptaan—kita tidak “berhak” untuk diciptakan. Tetapi, anugerah itu menjadi lebih tajam ketika Allah tetap menawarkan kehidupan kepada manusia yang telah menolak-Nya. Anak menjadi contoh akan kondisi manusia yang tidak berdaya.

Dari konteknya, kita tidak berdaya untuk mengatasi keberdosaan kita (18:13), dan kita tidak berdaya untuk bertahan hidup (18:24; orang miskin lebih cepat menyadari hal itu). Keadaan itu adalah kenyataannya, dan kesadaran akan keadaan itu bukan suatu alasan untuk Allah menerima kita (seakan-akan kerendahan hati adalah amal), melainkan kesadaran itu memungkinkan kita untuk menyambut Kerajaan Allah dengan tepat. Kesadaran itu pun adalah anugerah Allah (18:27).

Orangtua dan pimipinan gereja yang merendahkan anak tidak salah tentang status anak-anak, mereka salah tentang Allah. Allah meninggikan yang rendah, dan merendahkan yang tinggi.


Luk 10:38-42 Menerima Yesus dengan sejati (2 Sep 2012)

Agustus 30, 2012

Dalam menafsir perikop yang pendek ini, saya dibantu dengan memperhatikan penyusunan kalimat dan kosa kata dalam bahasa Yunani, tetapi saya paling dibantu dengan memperhatikan konteks dalam kitab. Penafsiran yang lepas dari konteks bisa saja keliru, misalnya, bahwa maksud perikop ini adalah bahwa hanya penelaahan Alkitab yang penting. Padahal, kalimat pas sebelum perikop ini berbunyi, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Konteks mempertajam maksud dari sebuah perikop, dan perikop yang sudah lama saya kenal ini mendapat kejelasan baru ketika saya membaca di sekitarnya.

Penggalian Teks

Perikop ini terletak antara dua perikop yang lain yang juga terkenal, perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (10:25-37) dan ajaran Yesus tentang doa (11:1-13). Perumpamaan itu mulai dengan pertanyaan tentang hidup yang kekal, dengan jawaban tentang kasih kepada Allah dan sesama (10:25-27). Perumpamaan itu mempersoalkan kasih kepada sesama, tetapi bukan kasih kepada Allah. Sepertinya cocok untuk melihat bahwa perikop kita serta perikop berikutnya menunjukkan bagaimana mengasihi Allah, yakni, dengan mendengarkan Yesus dan berdoa (untuk menerima Roh Kudus, 11:13). Semuanya dalam rangka Kerajaan Allah yang dekat (10:11).

Ceritanya sederhana. Sesuai dengan pola yang disampaikan dalam 10:5 dst, Yesus dan murid-murid-Nya diterima di rumah Marta. Marta adalah fokus di sini, tetapi dalam perbandingan dengan saudaranya Maria. Marta menerima rombongan Yesus (38b), sedangkan Maria duduk dekat kaki-Nya (39a). Maria mendengarkan Yesus terus-menerus (39b), sedangkan Marta sibuk melayani (40a). Berapa orang yang mau dilayani? Jumlahnya tidak disebutkan, tetapi silakan dipikirkan, selain murid-murid Yesus sendiri, apakah akan ada dari tetangga-tentangga yang juga datang untuk mengamati Sosok yang terkenal itu. Jadi, sibuknya Marta dapat dibayangkan. Kata yang dipakai berarti bahwa perhatiannya ke sana ke mari, saking banyaknya hal yang mau dipikirkan. Mungkin dalam bahasa modern kita akan mengatakan bahwa dia sedang stres.

Dalam a.40b dikatakan bahwa Marta juga mendekati Yesus, tetapi kata yang dipakai agak kasar: bukan mendekati dengan halus melainkan mendekati secara mendadak atau mendesak. Ucapannya juga seakan-akan mempersalahkan Yesus karena saudaranya. Bukannya dia mendekati Maria untuk mengajak dia membantu, melainkan dia mau agar Yesus menyuruh Maria untuk membantu dia. Kehadiran Yesus telah menyusahkan dia, sehingga Yesus yang dianggap bertanggung jawab untuk meringankan bebannya.

Dalam 12:14 Yesus menolak untuk menjadi hakim antara dua saudara soal warisan. Tetapi di sini, Yesus berpihak. Kesusahan Marta berasal dari kekhawatiran (41). Marta menganggap bahwa banyak hal perlu terkait dengan adanya banyak tamu, tetapi menurut Yesus hanya satu hal perlu, dan itulah yang dilakukan Maria, yakni, mendengarkan pemberitaan Yesus. Yesus tidak mau bahwa tuntutan yang berasal dari kekhawatiran menarik orang dari hal yang pokok dalam mengasihi Allah, yakni, mendengarkan Yesus, Anak-Nya (bdk. 10:21-22).

Adalah menarik bahwa setelah perumpamaan yang menekankan pentingnya kasih yang praktis, Marta yang bertindak itu dikecam. Tetapi perbandingannya di sini bukan antara mendengar dengan bertindak, melainkan antara mendengar dengan khawatir. Ajaran Yesus adalah ajaran yang membebaskan kita dari kesibukan dan stres yang tidak tepat.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau supaya kita menyambut kedatangan Kerajaan Allah dengan memusatkan perhatian kepada Yesus dan ajaran-Nya. Hal itu khususnya berlaku bagi yang giat dalam pelayanan tetapi terancam lupa akan apa yang pokok dalam pelayanan itu, dan malahan mau menyeret orang lain dari apa yang pokok itu. Marta menerima Yesus (a.38b), tetapi tanpa sengaja mau menghalangi saudaranya mendengarkan Yesus.

Makna

Dalam Luk 12:31, Yesus menanggapi masalah kekhawatiran dengan ucapan, “carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Marta belum memiliki fokus pada Kerajaan Allah, sehingga diliputi oleh kekhawatiran. Kita tidak tahu persisnya, tetapi satu kemungkinan, beranjak dari konteks sekarang, dia sibuk mempersiapkan hidangan yang “cukup”, alias mewah, sehingga kesempatan yang luar biasa dengan hadirnya Yesus dilewatkan karena kesibukan itu. Tentu, banyak orang yang menjadi sibuk dengan hal-hal yang kurang penting, sehingga tidak ada waktu untuk yang paling penting. Kehadiran Yesus, jika mereka berterus terang, agak merepotkan. Beberapa program di bawah payung Gerakan Cinta Alkitab yang diselenggarakan oleh sinode Gereja Toraja mau membantu jemaat untuk kembali pada jalur Maria.

Apakah pelayanan jemaat bisa juga sibuk dan pusing di sekitar hal-hal yang tidak penting? Di Sydney, Australia, ada beberapa konferensi pemuda kristen yang dihadiri oleh beribu-ribu pemuda dari beratus-ratus jemaat setiap tahun, dalam sebuah negara yang rata-rata tidak beragama. Untuk kegiatan apa pemuda-pemuda itu berbondong-bondong datang? Untuk mendengarkan tiga khotbah yang berbobot per hari, selama dua atau tiga hari. Contoh itu bukan usul, karena konteksnya berbeda. Tetapi, bagi mereka, perhatian kepada Yesus bukan gangguan, seperti kadangkala terasa dalam acara gerejawi di sini.

Mungkin yang paling memprihatinkan ialah ketika firman yang untuknya jemaat sudah datang ternyata tidak bergizi—Yesus hanya muncul di pinggir. Pelayan sesibuk dan sepusing Marta dalam mencari cerita dan lelucon untuk “menyambung” dengan jemaat (alias “relevan”), tetapi sudah lupa dengan Siapa jemaat itu mau disambungkan.


Nah 2:3-13 Allah Pembela Umat-Nya (12 Ag 2012)

Agustus 10, 2012

Seorang ayah sering memberi pesan kepada kedua anaknya supaya mereka rajin belajar. Tetapi, kali ini dia menitip pesan pada si kakak bahwa dia sanggup dan mau membela mereka jika ada guru yang bertindak diskriminatif terhadap mereka. Apa kata si kakak kepada adiknya? “Ayo, Ayah bilang kita harus rajin belajar. Juga, jangan khawatir soal guru. Tetapi, yang penting, rajinlah belajar!”

Pertanyaan di sini ialah, apakah si kakak menyampaikan pesan ayahnya dengan setia? Memang, apa yang disampaikan itu tidak salah, tetapi pesan sang ayah yang khas kali ini tenggelam di tengah pesan yang lebih biasa. Pengkhotbah sering seperti kakak itu. Ada pesan dari Alkitab yang disukai, dan memang penting dalam firman Allah. Tetapi pesan itu disampaikan kapan saja. Jika minggu yang lalu, firman berbicara tentang kecemburuan Allah, apakah Pelayan berpanjang lebar tentang hal itu, atau tentang dosa manusia, PI, atau sesuatu yang lain yang menurut Pelayan lebih relevan daripada pokok firman Allah sendiri. Padahal, kita sebagai pelayan juga harus mengasihi Allah dengan perbuatan, yaitu, mendengarkan firman yang ada di depan mata, dan menyampaikan firman itu, bukan firman yang lain. Itulah nilai mendasar dari apa yang disebut khotbah ekspositori.

Bulan ini, Membangun Jemaat memilih dua kitab, Nahum dan Zefanya, yang dalam kebaktian hari Minggu serta kebaktian rumah tangga akan diuraikan kurang lebih habis. Ini kemajuan besar dalam rangka membiarkan firman Allah menentukan pokok yang perlu disampaikan. Namun, perikop ini termasuk perikop yang membuat orang takut untuk konsisten pada pendekatan ekspositori. Tidak ada kata langsung bagi umat Allah, dan sebagian besar menceritakan—secara puitis lagi—kejadian perang. Apa gerangan kaitannya perikop ini dengan jemaat sekarang?

Penggalian Teks

Satu kunci dalam menghadapi perikop yang membingungkan adalah identifikasi jenis sastra. Perikop ini adalah semacam narasi (kisah). Dengan narasi, cara yang sering berguna adalah memilih satu tokoh di dalamnya. Jika makna tokoh itu bagi jemaat sekarang sudah ditemukan, penjelasan ulang isi perikop dan pemaknaannya bisa berjalan seiring.

Ada tiga tokoh yang berperan dalam perikop ini, yaitu, Niniwe yang diserang, para penyerang, dan Tuhan. Niniwe adalah fokus kitab ini (1:1), dan cocok untuk menjadi fokus perikop ini. Apa makna Niniwe? Mereka adalah penentang Tuhan (1:9), yang mengganggu umat Tuhan (1:13)! Mereka dapat mewakili semua manusia dan gerakan yang menganggap diri mapan sehingga bertindak sesukanya.

Jika demikian, cukupkah kita berbicara tentang pembelaan Allah terhadap umat-Nya dengan menjatuhkan para lawan umat-Nya? Memang, itu temanya. Tetapi, jika Roh Kudus mendorong Nahum untuk menceritakannya, mengapa tidak kita menggunakan ayat-ayat ini untuk menyampaikan pesan itu?

Aa.3-6 menceritakan kekalahan Niniwe. Pertahanan utama ialah tembok di sekitar inti kota, yang di dalamnya ada pusat pemerintahan seperti istana. Di luar tembok masih ada permukiman-permukiman. Dalam a.3 keagungan pasukan penyerang disampaikan, dan a.4 menyampaikan kehebohan perang di permukiman di luar kota itu. Dalam a.5, pasukan khusus mencapai temboknya untuk didobrak. Ternyata, cara mereka adalah membuka pintu-pintu yang mengatur pengaliran beberapa sungai yang berjalan melalui kota Niniwe. Dengan demikian, kota, termasuk istana, kebanjiran (6). Niniwe adalah kota yang megah dan menakutkan, tetapi ternyata mereka hanyalah manusia biasa. Sama seperti kelompok fanatik yang meneror gereja, sama seperti kekuatan ekonomi yang menggilas orang kecil.

Aa.7-10 menguraikan kedahsyatan kondisi kota yang telah kalah. Niniwe ditinggalkan oleh para penduduknya yang selama ini mengandalkannya (aa.7-8). Kekayaan yang berlimpah-limpah justru menjadi kesenangan musuh yang menang (a.9). Tanah, hati dan muka sudah hancur (a.10). Kekalahan di sini berarti kehilangan total.

Aa.11-13 memberi refleksi dari proses itu. Aa.11-12 mempertegas bahwa Niniwe adalah bangsa yang ganas, yang memangsa seenaknya dan tanpa takut. A.13 menegaskan bahwa Tuhanlah yang bertindak melawan mereka. Penindas umat Allah kelihatan kuat, tetapi ketika Tuhan bertindak, mereka tidak dapat bertahan, dan mereka akan kehilangan segala-galanya.

Maksud bagi Pembaca

Nahum menguatkan umat Allah dengan menceritakan hebatnya kejatuhan lawan mereka ketika Allah bertindak.

Makna

Adalah penting untuk diamati bahwa bukan Israel yang mengalahkan Niniwe. Hal itu penting karena Tuhanlah pemilik hak membalas (Rom 12:19). Tentu, ada kalanya Israel dipakai Tuhan sebagai alat untuk menghukum, tetapi pada saat itu pun Israel bertindak atas perintah Tuhan, bukan atas inisiatif sendiri. Ketika kita berbicara tentang hukuman Allah terhadap musuh, kita harus selalu mengingat bahwa musuh yang sebenarnya dalam PB adalah Iblis. Makanya, kita berdoa untuk musuh manusiawi, karena anugerah Allah dimuliakan ketika ada pertobatan.

Jadi, perikop seperti ini yang menceritakan hukuman Allah bukan agar kita menjadi senang atas kejatuhan sesama, melainkan supaya kita diberdayakan di hadapan kuasa yang kelihatan mapan dan terlalu kuat untuk kita. Setiap bagian dari perikop ini penting. Kita perlu tahu bahwa kemapanan musuh itu semu. Kita perlu memahami besarnya kehilangan orang yang melawan Allah. Kita perlu diingatkan bahwa Allah adalah lawan mereka. Semoga penceritaan hukuman Allah terhadap musuh-Nya menguatkan harapan kita.


Nah 1:1-3 Allah Pembalas demi umat-Nya (5 Ag 2012)

Agustus 4, 2012

Perikop yang ditentukan untuk Gereja Toraja hanya sampai a.3, tetapi kemudian perikop untuk Kebaktian Rumah Tangga mulai pada a.9. Saya tidak tahu apa salahnya aa.4-8, tetapi saya menguraikan seluruh pasal (bahkan sampai 2:2, karena minggu depan perikopnya akan mulai di 2:3). Saya juga melihat konteks dalam kitab-kitab di sekitarnya. Semuanya supaya penerapan sesuai dengan maksud perikop.

Penggalian Teks

Kitab Nahum adalah salah satu dari keduabelas nabi kecil, dan tempatnya dalam koleksi itu relevan untuk penafsirannya. Hosea, Yoel dan Amos mengawali koleksi dengan berbicara tentang Israel pra-pembuangan, dan Haggai, Zakharia dan Maleakhi mengakhirinya dengan berbicara tentang Israel yang telah kembali dari pembuangan. Di antaranya, ada beberapa kitab yang menyoroti bangsa asing. Obaja menyampaikan hukuman terhadap Edom. Yunus mengimbangi pesan itu dengan memaparkan pertobatan Niniwe, ibu kota Asyur yang menguasai dan menekan seluruh kawasan Timur Tengah selama beberapa abad. Mikha kembali ke Israel sebagai fokus. Dalam ketiga kitab berikut, Nahum menunjukkan bahwa pertobatan Niniwe tidak bertahan, dan bangsa Asyur itu akan dihukum. Habakuk mempersoalkan cara Allah menghukum Niniwe, karena bangsa Babel bahkan lebih kejam daripada bangsa Asyur. Zefanya (yang akan dibahas bulan Agustus ini) memberi suatu kesimpulan: semua bangsa berada di bawah hukuman Allah.

Aa.2-3a menyatakan hakikat Allah yang mencakup dua segi, cemburu dan sabar, yang digambarkan dalam aa.3b-6 (murka) dan aa.7-8 (baik). 1:9-2:2 berselang seling antara hukuman atas Niniwe, ibu kota Asyur, (9-11, 14, 2:1) dan keselamatan atas Yehuda (12-13, 15, 2:2). Nah 2:3-3:19 menguraikan hukuman atas Niniwe itu (minggu depan).

Bahasa dalam aa.2-3a mirip dengan pernyataan dalam kesepuluh firman (Kel 20:5-6), dan lebih lagi penyataan diri Allah kepada Musa (Kel 34:6-7). Kata qana yang diterjemahkan dengan “cemburu” merujuk pada semangat yang tinggi oleh karena martabat atau kehormatan seseorang diinjak. Hal itu bisa negatif jika, misalnya, saya merasa bahwa kelebihan si A (lebih pintar/kaya/…) merendahkan martabat saya. Tetapi hal itu bisa positif jika, misalnya, saya tergerak untuk memperjuangkan martabat kaum tertentu, atau berjuang bagi gereja, atau, khususnya, untuk pernikahan. Kata “cemburu” sering dipakai tentang Allah karena Dia telah mengikatkan diri-Nya dengan Israel dalam perjanjian. Allah cemburu ketika Israel tidak setia (demikian para nabi yang menyoroti Israel); Dia juga cemburu terhadap kaum yang menyesatkan dan/atau menindas umat-Nya (demikian para nabi yang menyoroti bangsa-bangsa yang lain). Itulah konteksnya dalam a.2 ini. Asyur telah menindas umat Allah, dan Allah akan membalaskan hal itu kepada mereka sebagai musuh. Walaupun Dia panjang sabar, termasuk terhadap Niniwe (bdk. kitab Yunus), waktunya sudah genap untuk Asyur yang tetap berbuat jahat (3a).

Aa.3b-6 memberi gambaran puitis tentang murka Allah. A.3b menjelaskan kuasa-Nya dan kebesaran-Nya sehingga murka itu layak ditakuti. Puting beliung dan badai adalah fenomena alam yang sangat di luar kendali manusia dan sangat mengacaukan; awan adalah hal yang tinggi bagi manusia tetapi rendah bagi Allah. Dalam a.4a Allah berfirman dengan sebuah hardikan, sehingga alam kehilangan kodratnya: laut menjadi kering (a.4b), gunung mencair, dan bumi menjadi kosong (5). Implikasinya dalam a.6a. Manusia pun tidak akan bertahan melawan murka Allah. Gambaran tentang murka itu disimpulkan dengan kiasan api (6b).

Namun, Tuhan itu baik. Aa.7-8 menyatakan tujuan dari murka Allah tadi, yaitu, perlindungan bagi orang-orang yang Dia kenal, yaitu, yang berlindung (percaya) kepada-Nya. Mereka dapat selamat karena Allah menghabisi musuh-musuh-Nya.

Keselamatan bagi umat Allah karena hukuman terhadap musuh-Nya diuraikan dalam konteks Israel dalam 1:9-2:2. Dalam aa.9-10 bangsa Niniwe melawan Allah, dan akan kena akibat sesuai dengan a.8b tadi. A.11 mungkin menyoroti raja Asyur. Dia merancang kejahatan, tetapi aa.12-13 menyampaikan tanggapan Allah kepada Israel. Dia memang pernah merendahkan Israel yang sudah lama ada di bawah kuk Asyur, tetapi sekarang akan mematahkan kuk itu. A.14 menyampaikan hukuman Allah kepada raja itu. A.15 menyatakan penyampaian berita damai sejahtera, bahwa orang dursila itu telah lenyap. 2:1 memulai nubuatan tentang perang yang akan menghancurkan Niniwe (dilanjutkan dalam 2:3 dst), dan 2:2 mengakhiri berita keselamatan bagi Israel. 1:9-2:2 merupakan semacam dialog atau perbandingan langsung antara hukuman dan keselamatan.

Maksud bagi Pembaca

Nahum mau mendorong Israel untuk berlindung pada Tuhan dalam penindasan, karena dalam kecemburuan-Nya bagi umat-Nya Dia akan menghukum para musuh-Nya. (Jadi, kitab Nahum tidak berbicara tentang perlunya umat Allah untuk bertobat. Tema itu akan menjadi sorotan dalam kitab Zefanya akhir bulan ini.)

Makna

Dalam khotbah di bukit, Yesus mengajar kita bahwa Allah mengasihi bahkan para musuh-Nya, sehingga murid-murid-Nya semestinya berlaku demikian (Mt 5:43-48). Kematian Yesus menjadi wujud paling nyata dari kasih Allah itu (Rom 5:10), dan rasul Paulus adalah contoh terbaik mengenai seorang musuh yang ditobatkan dan diselamatkan (1 Tim 1:13). Namun, pemahaman PL tentang Allah tidak berubah. Yesus sendiri melihat bencana bagi orang yang tidak bertobat (Mt 7:23, 24-27; Mt 25:31 dst), dan Paulus menguatkan jemaat yang tertindas di Tesalonika bahwa Allah akan membalas penindasan itu (2 Tes 1:8). Dan tentu, kita sudah melihat bahwa PL dapat membayangkan bahwa kasih setia Allah ditawarkan kepada bangsa-bangsa (Yun 4:2, yang juga merujuk pada Kel 34:6-7 sama seperti Nah 1:2-3 tadi). Bedanya antara PL dan PB ialah, kedatangan Kristus merupakan titik balik dalam rencana (misi) Allah bagi semua orang, dan kebangkitan-Nya menonjolkan kemungkinan untuk pembaruan bagi semua, bahkan penghujat dan penganiaya sepert Paulus. Tetapi rencana Allah tidak berubah. Dia tetap mengerjakan dunia baru. Dalam Kristus semua ditawari kesempatan untuk bergabung dengan rencana itu, tetapi akan ada kalanya Allah harus bertindak untuk menyapu bersih dunia lama ini (Zef 1:2).

Seperti dikatakan di atas, saya tidak melihat Nahum sebagai wadah untuk memanggil jemaat yang setia untuk bertobat dari dosanya. Orang-orang yang beriman kepada Kristus sudah diselamatkan dari murka Allah (Rom 5:9), dan motivasi kita untuk berubah bukan karena takut masuk neraka tetapi karena sudah bergabung dengan rencana keselamatan Allah, sehingga dosa adalah hal yang bagi kita ketinggalan zaman. Tetapi, jemaat Tuhan sampai sekarang mengalami penindasan, dan pada saat itu perlu berlindung pada Tuhan.


Ayub 12:12-25 Allah yang mengacaukan pemimpin (29 Juli 2012)

Juli 28, 2012

Kitab Ayub adalah buku yang paling berbahaya jika kita menafsir satu perikop tanpa memperhatikan konteks, termasuk bahwa dalam Ayub 42:7 Allah mengatakan bahwa Ayub berkata benar tentang Allah, tetapi ketiga sahabat Ayub tidak. Masalahnya, perkataan ketiga sahabat memaparkan teologi yang mudah dipahami: malapetaka ada karena dosa. Sedangkan perkataan Ayub seringkali menggelitik, seperti perikop kita. Namun, kita tidak akan belajar jika semua bagian Alkitab harus disesuaikan dengan teologi “sederhana” kita. Dan ada waktunya jemaat juga tidak akan puas dengan teologi yang terlalu sederhana untuk menghadapi kerumitan dunia ini.

Penggalian Teks

Kisah Ayub cukup dikenal. Ayub digambarkan sebagai orang yang tidak bersalah, tetapi ditimpa malapetaka besar dengan kehilangan harta benda dan semua anaknya. Pp.1-2 menceritakan kesabaran Ayub, tetapi mulai p.3 dia mulai mengeluh, karena dia tidak dapat melihat apa salahnya sehingga dia harus menderita seperti itu. Ketiga sahabat yang telah datang untuk menghibur dia (2:11-13) terganggu oleh perkataannya, karena bagi mereka keadilan Allah berarti “siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (4:7). Elifas dan Bildad sudah berusaha meyakinkan Ayub, dan dalam p.11 memuat usaha Zofar.

Zofar kesal karena Ayub menganggap diri benar (11:4), dan dia mau mengajarkan hikmat kepada Ayub (11:5-6), khususnya bahwa Allah itu berkuasa tanpa batas (11:7-9) sehingga pasti Dia dapat menghukum pelanggaran (11:10-12). Makanya, Ayub semestinya bertobat (11:13-14) supaya dia diberkati kembali (11:15-20). Dalam balasannya, Ayub merasa digurui (12:2-3), dan mengeluhkan sikap orang yang menghinanya karena malapetaka yang dia alami (12:5), sedangkan orang jahat aman-aman saja (12:6). Orang jahat itu disebut “mereka yang hendak membawa Allah dalam tangannya”, artinya, mereka membuat konsep tentang Allah yang sesuai dengan kepentingan mereka, sebuah “teologi sederhana”. Makanya, dalam perikop kita, dia juga berbicara tentang kebesaran Allah, tetapi dari sudut pandang yang teosentris, yang melihat bahwa Allah bertindak sesuai dengan kepentingan Allah, bukan manusia. Dalam pasal berikut, dia hendak berbicara langsung dengan Allah (13:3), dan dia menuduh bahwa mereka memihak Allah (13:7-10), karena untuk membenarkan pemahaman mereka tentang Allah mereka harus mempersalahkan Ayub, walaupun mereka tidak dapat menjelaskan apa dosanya (dan pp.1-2 menegaskan bahwa dia menderita bukan karena dosanya).

A.12 mengutip (“konon”) pandangan ketiga sahabatnya bahwa tradisi adalah sumber pengetahuan yang terbaik. Tetapi pengalaman Ayub sudah memunculkan pertanyaan besar terhadap teologi sederhana yang mengatakan bahwa malapetaka adalah akibat dari dosa; antara lain Ayub sendiri dihina (akibat yang buruk) padahal dia adalah orang benar (12:4). Aa.13-25 menyampaikan pemahaman Ayub dalam tiga bait. Aa.13-15 mengaku kemampuan Allah untuk mengacaukan alam. Aa.16-21 menceritakan kuasa Allah untuk mengacaukan para penguasa. Hal itu dikembangkan dalam aa.22-25, di mana usaha manusia untuk mengatur dunia (a.22 merahasiakan atau melihat, a.23 menjadi bangsa, a.24 memimpin) menjadi tak karuan (a.25). Allah memang berhikmat dan berkuasa, tetapi kuasa itu bukan di tangan manusia (12:6b), dan manusia sering disusahkan olehnya. Kemauan manusia yang menganggap diri benar ialah Allah menindak para penjahat, tetapi dalam dunia ini Allah memiliki kepentingan yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Kitab Ayub secara keseluruhan menentang konsep Allah yang dapat dikendalikan, dan perikop ini khususnya menyatakan hikmat dan kuasa Allah yang menyusahkan harapan-harapan manusia, khususnya kaum pemimpin.

Makna

Pandangan Ayub di sini memang berat sebelah dalam menyoroti kuasa Allah yang mengacaukan. Namun, teologi gereja selalu merosot menjadi teologi sederhana, mungkin karena sebagian besar jemaat tidak berminat untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi mereka, dan dalam hal itu pendeta pun menjadi pengikut, bukan penuntun, jemaat. Dalam wacana gerejawi, seringkali Allah ada hanya untuk menopang kita dalam pergumulan dan menyukseskan cita-cita kita. Itulah Allah yang dibawa dalam tangan.

Lebih spesifik, yang dia bongkar dalam perikop ini adalah apa yang kadangkala disebut “agama sipil”, yaitu pemahaman bahwa pemimpin masyarakat dapat menjamin kesejahteraan dengan menata kehidupan masyarakat dengan baik, dan bahwa Allah akan menjamin usaha para pemimpin itu. Allah dalam agama sipil ada di tangan para penguasa. Bagi Ayub, pemahaman itu adalah harapan semu. Sekali lagi, pemahaman Ayub berat sebelah, karena Allah memang bekerja melalui pemerintah (Rom 13). Tetapi Allah jauh lebih besar daripada masalah pribadi saya, daripada masalah masyarakat, daripada masalah umat manusia. Dia bisa saja membawa malapetaka kepada kita, seperti yang Dia lakukan terhadap Ayub, dan Dia bisa mengacaukan pemerintah dan bangsa, bukan karena dosanya lebih besar daripada yang lain, tetapi karena kepentingan-Nya yang tak terselami oleh manusia.


Mrk 5:18-20 Memberitakan karya Yesus (22 Juli 2012)

Juli 18, 2012

Nas yang ditentukan minggu ini tidaklah sulit untuk dimengerti dan diterapkan secara sederhana, dan penguraian ini tidak akan menambah banyak bagi kesimpulan yang sederhana itu. Namun, yang sederhana itu tetap dalam, dan kedalaman itu dilihat dengan lebih jelas jika nas ini diuraikan dalam konteks pelayanan Yesus, dan juga misi Allah.

Penggalian Teks

Cerita Mk 5:1-20 merupakan cerita kedua dari tiga cerita yang menunjukkan kuasa Yesus. Cerita sebelumnya menunjukkan kuasa Yesus atas alam; cerita ini menunjukkan kuasa-Nya atas Iblis; cerita berikut memuat pemulihan penyakit yang menajiskan, dan kebangkitan anak yang telah mati. Semuanya adalah bentuk kekacauan yang akan diatasi dalam Kerajaan Allah, sehingga kuasa Yesus yang mendatangkan ketenangan, kewarasan dan pemulihan memperlihatkan Kerajaan Allah. Ketiga cerita itu melanjutkan cerita tentang perumpamaan karena semuanya terjadi di sekitar danau Galilea. Di dalam ketiganya, kita melihat berbagai respons terhadap pemberitaan Yesus. Dalam cerita kedua ini, kita juga melihat biji kecil (satu orang gila) yang bertumbuh menjadi tempat orang-orang non-Yahudi dapat menikmati berita tentang Yesus, seperti dalam perumpamaan Yesus di Mk 4:31-32 (bdk. Dan 4:12 di mana pohon dan burung-burung menyangkut kerajaan kafir, bukan orang Yahudi saja).

Perikop ini adalah adegan terakhir dari cerita itu. Cerita itu sudah menyampaikan kontras yang besar antara kondisi orang yang kerasukan itu dalam aa.2-5 dengan kondisinya yang pulih dalam a.15. Dalam a.18, orang yang terakhir dalam masyarakat itu menjadi yang terlebih dulu mau mengikuti Yesus. Ternyata, tugasnya lain dari keduabelas murid. Yesus hanya mau singgah di daerah itu, karena tugas pokok-Nya adalah untuk Israel (7:27), sedangkan daerah itu adalah daerah dengan lebih banyak orang non-Yahudi. Jadi, orang itu diutus kembali ke kampung halamannya. Hal itu bagian dari pemulihannya: dia akan bergaul kembali dengan orang-orang yang terhadapnya dia pernah sangat terasing.

Tugasnya adalah memberitahukan karya Tuhan (a.19). Jika Yesus memberitakan datangnya Kerajaan Allah, orang itu akan menceritakan peristiwa yang memperlihatkan Kerajaan Allah dalam skala kecil. Dia telah pindah dari ranah maut—hidup di pekuburan, terasing dari masyarakat, di bawah kuasa setan-setan—ke dalam ranah hidup. Di dalam diri orang itu, Yesus telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut, seperti yang akan Dia lakukan bagi seluruh dunia dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Karya itu diartikan sebagai “kasihan”, yang berarti pertolongan kepada orang yang tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Jika Yesus berbicara tentang karya Allah, orang itu memberitakan Yesus (a.20). Melalui pemberitaannya, sikap masyarakat terhadap Yesus bisa berubah dari takut (a.15) menjadi heran.

Maksud bagi Pembaca

Respons yang cocok terhadap keselamatan ialah memberitakan karya Tuhan kepada orang lain, termasuk orang-orang yang belum mengenal Yesus, sumber keselamatan itu. Kebanyakan pembaca Injil Markus adalah orang non-Yahudi, seperti kita, dan cerita ini membuktikan bahwa kuasa Yesus tidak terbatas pada orang Yahudi, dan bahwa berita tentang Yesus bisa mengesankan bagi orang-orang non-Yahudi.

Makna

Pelayanan Yesus pertama-tama memperlihatkan Kerajaan Allah, bukan menunjukkan pola pelayanan para pengikut-Nya. Kalaupun gereja-gereja arus utama meremehkan kuasa-kuasa gaib karena rasionalisme zending-zending yang mendirikannya, aliran-aliran yang menyoroti hal-hal itu jelas tidak semapan Yesus dalam menyembuhkan, mengusir setan dsb. Dasar harapan kita selalu adalah karya Kristus yang hidup, mati dan bangkit, dan bukan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika kita memberitakan Kristus, kita mau membawa orang untuk melihat Dia sebagaimana dipaparkan di dalam Alkitab, karena di situlah Dia menyatakan diri-Nya dengan jelas. Namun, pengalaman kita seringkali merupakan pintu masuk dan bukti pertama bagi orang-orang yang kepadanya Kristus mengutus kita. Kekacauan dalam kehidupan kita yang dengan nyata dipulihkan oleh Yesus menjadi contoh kecil akan berita Injil bahwa Allah sedang mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai kepala (Ef 1:10).


Mzm 115 Percaya sehingga diberkati demi kemuliaan Allah (15 Juli 2012)

Juli 12, 2012

Perikop yang ditentukan untuk minggu ini Mazmur 115:1-8, bukan Luk 10:38-42 (bdk. tgl 2 Sep 2012). Saya membahas seluruh mazmur tersebut karena aa.1-8 belum jelas di luar konteks seluruh mazmur, dan juga aa.9-18 menjadi bahan Kebaktian Rumah Tangga. Tantangan dalam perikop ini adalah pemaknaan berhala, dan bobot pembahasan berhala dalam khotbahnya. Khotbah yang begitu saja menyamakan harta benda dengan berhala bisa membingungkan jemaat, karena, berbeda dari patung yang disembah, harta benda berguna dan layak disyukuri. Tetapi yang paling buruk ialah khotbah yang tidak menjunjung tinggi Allah dan mendorong jemaat untuk berbuat demikian, padahal itulah tujuan dari mazmur ini.

Penggalian Teks

Struktur Mazmur ini bisa digambarkan sebagai kiasmus, sebagai berikut:

A. Allah, bukan Israel, dimuliakan karena Dia yang setia dan yang berkuasa di surga (aa.1-3)

B. Berhala buatan manusia tidak berdaya (aa.4-7)

C. Pembuat dan pengikut berhala demikian juga (a.8)

C.’ Israel percaya kepada Tuhan Sang Penolong (aa.9-11)

B.’ Tuhan berdaya memberkati Israel di bumi (aa.12-16)

A.’ Israel, bukan orang mati, akan memuji Allah selama hidup (aa.17-18)

Jadi, seruan untuk percaya ada di tengah perbandingan antara berhala yang tidak berdaya dengan Allah yang memberkati, dan perbandingan itu ada di tengah dorongan untuk memuji Allah. Jelas bahwa aa.1-8 hanya dapat dipahami dalam konteks seluruh mazmur.

A.1 mulai dengan kata “bukan”, untuk menyangkal manusia sebagai sasaran pujian. Allah layak dipuji karena kasih dan setia-Nya. Kedua kata ini (dalam bahasa Ibrani: khesed = kasih setia; dan ‘emet = kesetiaan) dipakai Allah dalam Kel 34:6 sehingga bisa dianggap meringkas sikap Allah terhadap Israel, pertama-tama dengan penyelamatan dari Mesir, dan dalam banyak peristiwa kemudian. A.2 menunjukkan kebingungan bangsa-bangsa dengan satu ciri lain dari Allah—Dia tidak boleh diwakili dengan patung. Alasannya dalam a.3 karena Dia berdiam di surga, sebagai Raja mutlak yang menentukan segalanya (frase dalam 3b itu frase lazim untuk menggambarkan kuasa raja-raja). Kasih dan kuasa (keselamatan dan kedaulatan) Allah menjadi dasar pujian Israel.

Aa.4-7 merupakan salah satu perikop klasik yang menyindir berhala bangsa-bangsa. Intinya “buatan tangan manusia”. Sebagai buatan tangan manusia, berhala-berhala itu memiliki berbagai ciri, tetapi ciri-ciri itu semuanya tidak berfungsi. Jika Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, berhala-berhala itu tidak melakukan apa-apa. A.8 memperluas sindiran itu kepada pembuat dan penganut berhala.

Maksud dari aa.4-8 baru menjadi jelas dalam ayat-ayat berikut. Aa.9-11 menghimbau Israel untuk percaya kepada Tuhan, sebagai yang menolong di dalam masalah dan melindungi dari masalah. Ayat-ayat ini menunjukkan konteks ibadah: paruh kedua setiap ayat memakai orang ketiga (“mereka”), sedangkan paruh pertama setiap ayat langsung mengalamatkan satu kelompok (“percayalah”). Hal itu bisa menjelaskan mengapa kaum Harun, artinya, para imam, disebutkan. Israel, dalam artian orang-orang awam yang mengikuti ibadah (bdk. Ezra 9:1) dialamatkan, kemudian para imam yang melaksanakan ibadah, kemudian semua bersama sebagai orang yang takut akan Tuhan. Pertolongan Allah adalah wujud dari kedaulatan dan kasih setia-Nya.

“Tuhan telah mengingat kita” pada awal a.12 adalah kesaksian yang cocok jika pertolongan Allah dialami. Yang berikut ialah janji berkat, hasil dari keselamatan. Ketiga golongan disebut kembali, dengan penambahan “baik yang kecil maupun besar”, mungkin suatu petunjuk bahwa berkat bukan hanya keamanan dari luar tetapi juga keadilan ke dalam. Aa.14-16 merujuk pada Kejadian 1:28. Berkat termasuk keturunan, dan juga kebebasan dan tanggung jawab untuk berkuasa di bumi. Implikasinya bahwa yang percaya pada berhala tidak menikmati kemanusiaan yang utuh itu.

A.17 kembali mulai dengan kata “bukan”. Kali ini kata itu mengangkat manusia yang hidup sebagai pemuji Allah. Jika Allah menolong dan memberkati, Israel akan tetap berada untuk memuji Allah.

Maksud bagi Pembaca

Jika seluruh mazmur dilihat, Israel disuruh untuk percaya kepada Allah yang sebenarnya supaya ditolong, diberkati dan tetap memuji Tuhan. Aa.1-8 membandingkan Allah yang setia dan berkuasa dengan saingan-saingan-Nya yang tidak berdaya, supaya sasaran dari kepercayaan itu jelas.

Makna

Bagi Israel, kasih setia dan kuasa Allah dilihat secara mendasar dalam keluaran dari Mesir. Bagi orang Kristen, kasih setia dan kuasa Allah dilihat di dalam Kristus. Yoh 1:17 mengutip kedua kata khesed dan ‘emet ketika dikatakan bahwa “kasih karunia [charis] dan kebenaran [aletheia] datang melalui Yesus Kristus”. Pengorbanan Yesus membuktikan kesetiaan Allah; kebangkitan-Nya membuktikan kuasa Allah; dan seluruh aspek kedatangan-Nya, dari kelahiran-Nya sampai kedatangan-Nya kembali, memperlihatkan kasih dan kuasa Allah dengan begitu jelas. Lebih lagi, Kristus tidak hanya berada di surga, Dia pernah hidup di bumi sebagai Anak Manusia.

Calon utama untuk berhala dalam PB ialah Mamon. Tetapi, kita harus hati-hati. Dalam perikop minggu yang lalu, Mamon dapat dipergunakan (Luk 16:9), hanya, orang tidak bisa mengabdi kepadanya (Luk 16:13). Dalam Ef 5:5, Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala. Intinya di sini bahwa buatan tangan manusia (entah patung, harta benda atau uang) diandalkan. Manusia semestinya berkuasa atas ciptaan Allah (a.16), bukan menjadi hambanya.

Gambaran aa.4-7 tentang berhala juga harus diartikan dengan hati-hati. Paulus setuju bahwa berhala itu tidak ada (1 Kor 8:4), tetapi dia juga melihat adanya kuasa gelap di baliknya (1 Kor 10:20). Penganut kepercayaan lama Toraja, dan juga penganut bangsa-bangsa pada zaman Israel, akan setuju bahwa ada sosok gaib/ilahi di balik patung (atau tau-tau) itu, tetapi mereka belum tentu akan menerima bahwa sosok itu jahat. Namun, yang menjadi gambar akan ilah mereka ialah patung itu, dan gambar itu ada di bawah kendali manusia. Patung itu dibuat sesuai kepentingan manusia, biasanya kepentingan orang besar (kebalikan dari a.13b).

Israel, yang sedang berkumpul di Bait Allah saat mazmur ini diucapkan, tidak memiliki gambar apa-apa akan Allah. Tentu, di Bait Allah ada berbagai simbol, terutama kurban-kurban yang menjadi cara nyata untuk bersekutu dengan Allah, tetapi Allah dikenal dari firman-Nya, dari cerita-cerita tentang karya-Nya bagi Israel. Dari firman Allah, Israel belajar bahwa Allah dapat berkata-kata, dapat melihat dan mendengar, dsb (mencium kemungkinan merujuk pada penerimaan Allah akan kurban, bdk. Kej 8:21; Im 1:9). Karena Yesus telah naik ke surga, kita juga mengenal Dia dari kesaksian tentang-Nya dalam PB. Atau, jangan sampai gambar utama tentang Yesus di Toraja bukan PB melainkan gambar-gambar gaya orang Eropa yang ganteng dan penuh simpati tetapi tidak menuntut pertobatan. Allah yang sebenarnya yang layak dimuliakan, bukan buatan-buatan manusia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.