Kitab pengkhotbah banyak menggelitik pembaca, khususnya dengan istilah “sia-sia”. Kata hebel yang diterjemahkan “sia-sia” berarti uap, dan juga dipakai untuk berhala sebagai sesuatu yang tidak memiliki bobot atau substansi. Kata itu merupakan kiasan yang sulit ditangkap dengan persis, lebih lagi diterjemahkan dengan pas. Jika penggunaanya dicermati, yang muncul bukan bahwa sesuatu yang hebel tidak ada gunanya sama sekali, melainkan bahwa hasil tidak sesuai dengan usaha. Misalnya, hikmat melebihi kebodohan (2:13), tetapi hikmat menyusahkan hati, bukan menggembirakan (1:18), dan tidak dapat mencegah kematian (2:14). Itulah kesia-siaan. Perikop kita adalah puncak dari penguraian Pengkhotbah sebelum kesimpulan untuk takut akan Allah.
Penggalian Teks
Aa.9-10 menyampaikan nasihat yang bermiripan, tetapi dengan masing-masing menyampaikan suatu pembatas. Nasihat untuk bersukaria dsb sudah biasa dalam kitab ini (bdk. 3:12; 8:15 antara lain). 11:9b memberi satu pembatas yang akan muncul kembali pada penutup kitab, yaitu bahwa Allah akan mengadili apa yang dilakukan (bdk. 12:14). Pembatas dalam 11:10b lebih sulit. Mengapa kesia-siaan kemudaan menjadi alasan untuk membuang kesedihan? Mungkin saja ada beberapa jawaban—itulah sifatnya sastra hikmat. Tetapi ayat-ayat berikut dapat memberi suatu petunjuk. Masa muda itu terbatas waktunya (12:1). Jadi, sayang kalau berbagai kenikmatan dan semangat yang khas bagi masa muda tidak dialami oleh karena tekanan dari hal-hal yang sia-sia.
Dengan demikian, 12:1-7 merupakan perbandingan bagi masa muda. 11:2-5 berbicara tentang masa tua sebagai kemorosotan kemampuan-kemampuan, kemudian pada akhir 11:5 beralih ke soal kematian. 11:6 empat kali mengiaskan orang mati sebagai sesuatu yang tadinya berguna tetapi yang tidak berguna lagi. Dalam 11:7 tergambar akhir semua manusia: tubuhnya yang di dalamnya pemuda menikmati banyak hal menjadi debu kembali, sedangkan daya hidup (roh) kembali kepada Allah.
Meninjau alur kehidupan manusia, dari masa muda yang penuh semangat melalui kemerosotan masa tua sampai pada kematian, Pengkhotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang mencapai tujuan yang semestinya (12:8).
Maksud bagi Pembaca
Pengkhotbah mau supaya orang muda (atau yang merasa diri muda) tidak membuang masa mudanya tetapi menjalaninya dengan penuh nikmat dan sukacita dalam kesadaran akan dua hal: bahwa manusia harus bertanggung jawab kepada Allah, Pencipta dan Pemberi hidup, dan bahwa waktunya terbatas.
Dia menyampaikan pesan ini dengan paradoks dan hiperbol. 11:9-10 menyampaikan nasihat yang sepertinya hedonis belaka, berbarengan dengan peringatan yang keras tentang pengadilan Allah dan kesia-siaan masa muda. 12:1-7 menyampaikan gambaran tentang masa tua yang sangat muram. Apa fungsi paradoks dan hiperbol? Ada jenis tahi lalat yang merupakan kanker. Untuk memperhatikan gejala itu, seorang dokter akan memakai kaca pembesar supaya lebih kelihatan, dan penerang yang mempertajam kontras dengan kulit di sekitarnya supaya lebih jelas. Hiperbol memperbesar supaya lebih kelihatan, dan paradoks mempertajam kontras supaya lebih jelas.
Makna
Nasihat kepada pemuda untuk “turutilah keinginan hatimu” belum terlalu lazim disampaikan kepada pemuda. Justru, keinginan pemuda biasanya dicurigai. Memang ada pemuda yang lupa akan tanggung jawabnya terhadap Penciptanya. Tetapi ada juga pemuda yang begitu tertekan mengejar IPK, kepopuleran, atau hal-hal yang lain yang sifatnya sementara saja sehingga mereka tidak sungguh menikmati semangat, tenaga dan idealisme yang justru berpuncak pada orang yang berumur kepala dua dan tiga, dan menjadi suatu kenikmatan tersendiri jika dipakai bagi kemuliaan Allah.
Masa muda akan dijalani dengan lebih bermanfaat jika disadari bahwa masa muda itu terbatas. Kemerosotan dan kematian adalah satu “paket”. Kadangkala orang seakan-akan memuji kematian sebagai hal yang melepaskan orang yang menderita karena sakit atau tua. Dan memang akan mengerikan jika manusia hidup kekal dalam keberdosaan dan penderitaan. (Itulah satu pehamanan tentang neraka sebagai tempat orang menderita dirinya yang terkurung dalam keegoisan dan kebencian.) Tetapi penyakit dan kemerosotan juga adalah bagian dari dunia pasca kejatuhan manusia ke dalam dosa. Di dunia mendatang saya menduga bahwa makin lama makin baik—itulah dunia yang tidak lagi di bawah kesia-siaan, dunia yang di dalamnya segala usaha mencapai (atau bahkan melebihi?) tujuannya. Tetapi dalam dunia ini kita perlu memanfaatkan semangat dan kesehatan selama masih dikaruniakan Allah, karena waktu kita bisa terpotong oleh penyakit, kecelakaan atau kematian kapan saja.
Ditulis oleh abuchanan