Pkh 11:9-12:8 Nikmatilah masa muda dengan sadar akan Allah [23 Oktober 2011]

Oktober 18, 2011

Kitab pengkhotbah banyak menggelitik pembaca, khususnya dengan istilah “sia-sia”. Kata hebel yang diterjemahkan “sia-sia” berarti uap, dan juga dipakai untuk berhala sebagai sesuatu yang tidak memiliki bobot atau substansi. Kata itu merupakan kiasan yang sulit ditangkap dengan persis, lebih lagi diterjemahkan dengan pas. Jika penggunaanya dicermati, yang muncul bukan bahwa sesuatu yang hebel tidak ada gunanya sama sekali, melainkan bahwa hasil tidak sesuai dengan usaha. Misalnya, hikmat melebihi kebodohan (2:13), tetapi hikmat menyusahkan hati, bukan menggembirakan (1:18), dan tidak dapat mencegah kematian (2:14). Itulah kesia-siaan. Perikop kita adalah puncak dari penguraian Pengkhotbah sebelum kesimpulan untuk takut akan Allah.

Penggalian Teks

Aa.9-10 menyampaikan nasihat yang bermiripan, tetapi dengan masing-masing menyampaikan suatu pembatas. Nasihat untuk bersukaria dsb sudah biasa dalam kitab ini (bdk. 3:12; 8:15 antara lain). 11:9b memberi satu pembatas yang akan muncul kembali pada penutup kitab, yaitu bahwa Allah akan mengadili apa yang dilakukan (bdk. 12:14). Pembatas dalam 11:10b lebih sulit. Mengapa kesia-siaan kemudaan menjadi alasan untuk membuang kesedihan? Mungkin saja ada beberapa jawaban—itulah sifatnya sastra hikmat. Tetapi ayat-ayat berikut dapat memberi suatu petunjuk. Masa muda itu terbatas waktunya (12:1). Jadi, sayang kalau berbagai kenikmatan dan semangat yang khas bagi masa muda tidak dialami oleh karena tekanan dari hal-hal yang sia-sia.

Dengan demikian, 12:1-7 merupakan perbandingan bagi masa muda. 11:2-5 berbicara tentang masa tua sebagai kemorosotan kemampuan-kemampuan, kemudian pada akhir 11:5 beralih ke soal kematian. 11:6 empat kali mengiaskan orang mati sebagai sesuatu yang tadinya berguna tetapi yang tidak berguna lagi. Dalam 11:7 tergambar akhir semua manusia: tubuhnya yang di dalamnya pemuda menikmati banyak hal menjadi debu kembali, sedangkan daya hidup (roh) kembali kepada Allah.

Meninjau alur kehidupan manusia, dari masa muda yang penuh semangat melalui kemerosotan masa tua sampai pada kematian, Pengkhotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang mencapai tujuan yang semestinya (12:8).

Maksud bagi Pembaca

Pengkhotbah mau supaya orang muda (atau yang merasa diri muda) tidak membuang masa mudanya tetapi menjalaninya dengan penuh nikmat dan sukacita dalam kesadaran akan dua hal: bahwa manusia harus bertanggung jawab kepada Allah, Pencipta dan Pemberi hidup, dan bahwa waktunya terbatas.

Dia menyampaikan pesan ini dengan paradoks dan hiperbol. 11:9-10 menyampaikan nasihat yang sepertinya hedonis belaka, berbarengan dengan peringatan yang keras tentang pengadilan Allah dan kesia-siaan masa muda. 12:1-7 menyampaikan gambaran tentang masa tua yang sangat muram. Apa fungsi paradoks dan hiperbol? Ada jenis tahi lalat yang merupakan kanker. Untuk memperhatikan gejala itu, seorang dokter akan memakai kaca pembesar supaya lebih kelihatan, dan penerang yang mempertajam kontras dengan kulit di sekitarnya supaya lebih jelas. Hiperbol memperbesar supaya lebih kelihatan, dan paradoks mempertajam kontras supaya lebih jelas.

Makna

Nasihat kepada pemuda untuk “turutilah keinginan hatimu” belum terlalu lazim disampaikan kepada pemuda. Justru, keinginan pemuda biasanya dicurigai. Memang ada pemuda yang lupa akan tanggung jawabnya terhadap Penciptanya. Tetapi ada juga pemuda yang begitu tertekan mengejar IPK, kepopuleran, atau hal-hal yang lain yang sifatnya sementara saja sehingga mereka tidak sungguh menikmati semangat, tenaga dan idealisme yang justru berpuncak pada orang yang berumur kepala dua dan tiga, dan menjadi suatu kenikmatan tersendiri jika dipakai bagi kemuliaan Allah.

Masa muda akan dijalani dengan lebih bermanfaat jika disadari bahwa masa muda itu terbatas. Kemerosotan dan kematian adalah satu “paket”. Kadangkala orang seakan-akan memuji kematian sebagai hal yang melepaskan orang yang menderita karena sakit atau tua. Dan memang akan mengerikan jika manusia hidup kekal dalam keberdosaan dan penderitaan. (Itulah satu pehamanan tentang neraka sebagai tempat orang menderita dirinya yang terkurung dalam keegoisan dan kebencian.) Tetapi penyakit dan kemerosotan juga adalah bagian dari dunia pasca kejatuhan manusia ke dalam dosa. Di dunia mendatang saya menduga bahwa makin lama makin baik—itulah dunia yang tidak lagi di bawah kesia-siaan, dunia yang di dalamnya segala usaha mencapai (atau bahkan melebihi?) tujuannya. Tetapi dalam dunia ini kita perlu memanfaatkan semangat dan kesehatan selama masih dikaruniakan Allah, karena waktu kita bisa terpotong oleh penyakit, kecelakaan atau kematian kapan saja.


Pkh 4:7-12 “Bersama-sama di dalam dunia yang sia-sia” [14 Agustus 2011]

Agustus 8, 2011

Kitab Pengkhotbah mau meniadakan khayalan yang terjadi ketika teori kita tentang dunia menjadi lebih penting daripada realitas. Oleh karena itu, dia biasanya melawan anggapan umum dengan contoh lain. Nas kita menarik, karena dia mau mendukung suatu anggapan umum, yakni, pentingnya kebersamaan.

Penggalian teks

Ayat 7 menghubungkan nas ini dengan kata kunci kitab ini, yakni, “kesia-siaan”. Kata hebel pada dasarnya berarti “nafas, angin”, tetapi biasanya dipakai dalam Alkitab secara kiasan. Berhala tidak lebih dari sehembusan nafas, dan kata hebel menjadi istilah untuk berhala. Mzm 144:4 membandingkan manusia dengan angin (hebel) dan bayang-bayang. Kitab Pengkhotbah mengambil alih kata hebel yang fleksibel ini untuk menyatakan jarak antara apa yang semestinya dan apa yang terjadi. Sebagai contoh, pengetahuan membawa terang, tetapi juga membawa susah hati (1:18).

A.8 memaparkan satu contoh lagi hebel ini. Orang ini tidak memiliki pewaris, yaitu, saudara laki-laki atau anak laki-laki. Dia kelihatan rajin mengumpulkan kekayaan, tetapi karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Di balik kegiatan itu ada pertanyaan yang menghantuinya. Tidak ada pewaris yang akan menikmati kekayaannya, dan dia juga menolak kesenangan dalam mengejar kekayaan itu. Jadi, kerja keras itu untuk siapa? Kerja keras semestinya dinikmati (bdk. 3:22) dan juga membawa kesejahteraan yang bagi orang lain, tetapi dalam kasus ini kedua sasaran itu tidak terjangkau sehingga dinilai “kesia-siaan dan hal yang menyusahkan”.

Aa.9-12 merupakan refleksi umum terhadap kasus itu. Kemitraan atau kebersamaan menguntungkan dalam pekerjaan (a.9), kesusahan (a.10), kehidupan bersama (a.11), dan perang (a.12). Dengan gaya sastra hikmat, angka dua menjadi tiga pada akhir a.12, untuk menunjukkan bahwa kemitraan tidak hanya terbatas pada dua orang.

Maksud bagi pembaca

Dengan berbagai contoh konkret Pengkhotbah mau mendorong pembaca untuk menghargai kebersamaan. Jika pertanyaan si kaya dalam a.8 dianggap terjadi setelah lama mengikuti pola yang digambarkan, contoh pertama dapat dilihat sebagai sebuah cerita pendek, di mana secara tragis kesadaran muncul belakangan dengan penilaian baru terhadap pola kehidupan selama itu. Hal itu mengungkapkan kebodohan hidup sendirian. Contoh-contoh berikut menunjukkan keuntungan kebersamaan. Kebersamaan termasuk hanya sedikit hal dalam kitab Pengkhotbah yang luput dari penilaian “sia-sia”.

Makna

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang juga berdiri sendiri di hadapan Tuhan. Keberdosaan membuat hati manusia cenderung membelokkan individualisme yang sejati itu menjadi kemandirian yang fasik dan egois. Tetapi tidak kebetulan bahwa orang yang sendiri dalam a.8 itu kaya. Orang miskin diperhadapkan dengan kebergantungan mereka pada orang lain dan pada Tuhan terus-menerus. Hanya orang kaya yang bisa mengejar mimpi keluar dari kebergantungan. (Dalam rangka itu, menarik bahwa dalam budaya-budaya dunia, yang paling kuat korelasinya dengan individualisme ialah kekayaan.)

Mungkin hanya sedikit orang yang mau sungguh sendirian, dan keegoisan lebih sering muncul dalam satu dua bidang kehidupan saja. Misalnya, banyak laki-laki Barat senang bermitra dalam pekerjaan (a.9), tetapi lebih sulit membagikan masalah (a.10).  


Pkh 5:7-17 Kerja keras dalam dunia yang rusak

Agustus 16, 2010

Dalam kitab Pengkhotbah kita melihat segi lain dari hikmat. Amsal mau memaparkan hikmat Allah yang tertanam dalam dunia yang Dia ciptakan. Pengkhotbah lebih hati-hati. Kita sebagai manusia terbatas, dan dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Perbedaan itu jangan dilebih-lebihkan. Amsal juga menyadari bahwa, misalnya, ketidakadilan merusak, dan Pengkhotbah juga ada pesan positif. Untungnya bagi umat Allah ialah bahwa dalam firman Allah kita diperhadapkan dengan dunia riil: bukan hanya hal-hal yang memberi semangat seperti anjuran untuk rajin dan janji bahwa jalan akan lurus bagi orang yang percaya akan Tuhan, tetapi juga kenyataan bahwa hasil yang semestinya dari kerajinan dirusak oleh keserakahan dalam diri, dan juga oleh ketidakadilan dari pihak lain. Istilah “kesia-siaan” merujuk ke ketidaksinambungan ini antara usaha dan hasil yang semestinya dari usaha itu.

Aa.7-8 membahas ketidakadilan. Sepertinya, dalam a.7 si pengkhotbah mengamati keadaan yang sama dengan jenjang korupsi yang konon ada dalam beberapa aparat Indonesia, di mana bawahan disuruh untuk main korupsi dan menindas rakyat dengan sebagian besar hasilnya distor ke atas. Artian a.8 tidak jelas (ada beberapa kemungkinan untuk terjemahannya), tetapi mungkin maksudnya adalah bahwa walaupun ada penindasan, paling sedikit pemerintah membawa kestabilan yang disimbolkan dalam hormat kepada raja. Bagaimanapun juga, si miskin tertindas, meskipun dia rajin. Hikmat yang semestinya (bahwa orang rajin berhasil) tidak berlaku sebagaimana semestinya baginya.

Aa.9-16 membahas malangnya orang yang mencintai uang. Kelompok itu termasuk penindas tadi, tetapi menjadi peringatan untuk kita semua. Jika Yesus melihat soal mencintai uang dari perspektif pemberhalaan (Mt 6:19dst), Pengkhotbah melihatnya dari perspektif kesia-siaan. Orang yang mencintai uang tidak pernah puas (a.9), menjadi sorotan orang banyak yang ada keperluan (a.10), dan susah tidur (a.11). Uang itu bisa hilang sehingga tidak ada warisan bagi anaknya (aa.12-13). Bagaimanapun juga, si pencinta uang akan mati, dan pada saat itu tidak ada yang dapat dia bawa (aa.14-15), padahal dia sudah banyak menderita karena cintanya akan uang (a.16). Hal itu layak disoroti. Dari segi materi pencinta uang bisa saja berhasil, tetapi saking cintanya dia selalu tidak puas, sehingga kesal terhadap apa yang dia anggap sebagai halangan untuk memuaskan keserakahannya yang tak terpuaskan itu. Juga, dia takut kehilangan uang itu, dan di dalam lubuk hati dia sadar bahwa uang tidak berarti sebagai tujuan hidup. Bukankah tepat gambaran si pengkhotbah bahwa inilah “menjaring angin” (a.15)? Cinta akan uang merusak hasil yang semestinya dari uang sebagai hasil jerih payah.

Tetapi ada alternatifnya, yang disampaikan dalam aa.17-19, yaitu bahwa orang menikmati pekerjaannya sebagai pemberian Allah. Dia rajin bukan untuk meraih uang, tetapi karena “itulah bahagiannya” (a.17). Petani (ataupun penambang) dapat menikmati keajaiban alam yang menghasilkan banyak-banyak untuk menghidupi manusia. Orang yang melayani, entah dalam pemerintahan atau swasta, dapat menikmati kesempatan untuk berdampak baik bagi yang dilayani. Lebih lagi orang yang melayankan firman Tuhan yang menghidupkan. Jika jerih payah itu berhasil, kekayaan itu juga dinikmati sebagai pemberian Allah (a.18), sehingga jika hilang lagi, hal itu bukan musibah. Malah, menurut ajaran Alkitab di bagian lain, orang kaya itu akan sanggup memberikan sebagian dari kekayaannya kepada orang lain. Kemudian, orang itu terlalu sibuk untuk mencemaskan kematiannya yang memang menunggunya (a.19).

Jika dipikirkan, uang sering menyimbolkan atau mewakili status. Ada yang mengaku masa bodoh terhadap uang tetapi haus akan status, malah menjadi murah hati demi status itu. Hal itupun akan merupakan “menjaring angin” yang sia-sia.

Dua catatan penutup. Yang pertama, kita tahu bahwa Kristus datang supaya ciptaan dapat dimerdekaan dari kesia-sian bersama dengan anak-anak Allah (Rom 8:19-22). Kadangkala, kita mengutip ayat seperti Rom 8:28 (bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”) seakan-akan bagi orang percaya dunia sudah dimerdekakan dari masalah. Tetapi kemerdekaan itu masih kita tunggu. Kebaikan yang dimaksud dalam Rom 8:28 adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29). Ajaran si Pengkhotbah untuk menikmati pekerjaan kita sebagai bagian kita dari Allah akan membantu kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, karena sangat cocok dengan ajaran Yesus untuk jangan mencintai uang dan jangan mengkhawatirkan hari esok (Mt 6:19).

Yang kedua, pembaca yang cermat mungkin sudah memperhatikan bahwa tafsiran saya di atas melampaui apa yang dikatakan dalam teks. Alasannya ialah bahwa tulisan hikmat merenungkan pengalaman manusia. Untuk menangkap maksudnya, mau tidak mau kita harus mengaitkannya dengan pengalaman kita, sehingga tafsiran kita menjadi campuran teks dan konteks. Untuk jenis sastra yang lain proses seperti itu juga terjadi, tetapi dalam, misalnya, tulisan sejarah kita berusaha untuk membedakan apa yang terjadi dengan implikasinya untuk sekarang. Dengan tulisan hikmat, proses perenungan pembaca adalah maksudnya. Makanya, pembaca blog ini rugi kalau sekadar membawa pikiran-pikiran saya. Semestinya, pembaca dipicu untuk membaca ulang ucapan-ucapan perikop ini untuk dikaitkan dengan konteks pribadi dan jemaat. Semoga dengan demikian banyak yang dimerdekakan dari cinta-cinta yang sia-sia.


Pkh 11:1-6 Jaminan dan keberanian

Juli 6, 2009

Bagian ini mengandung serangkaian amsal yang merupakan semacam teka-teki. Ada suatu gambaran yang daripadanya kita mau mengambil hikmat untuk kehidupan. Oleh karena itu, maknanya bisa berganda, ada berbagai hal yang mungkin dapat dipetik. Dalam yang berikut saya coba memaparkan proses saya dalam mengartikan ayat-ayat ini. Tetapi usulan saya tidak menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain.

A.1 kedengaran aneh. Melemparkan roti ke air berarti rotinya cepat hancur. Andaikan rotinya bertahan (dibungkus?), gambarannya mungkin bahwa ada usaha yang ujungnya tidak jelas, tetapi akan ada hasilnya juga. Satu tafsiran yang mungkin mempertajam usulan ini mengaitkan roti dengan harta atau rezeki, dan air dengan kapal (“Kirimkanlah rotimu di atas permukaan air…”). Barang yang diekspor perlu waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungannya. Artinya melangkah dalam ketidakpastian.

A.2 merujuk ke pembagian sesuatu, dengan usul supaya banyak yang dapat karena ancaman malapetaka. Banyak yang dapat berarti banyak teman yang bisa membantu ketika malapetaka yang tak terduga itu menimpa. Apa yang dibagikan tidak jelas, dan tidak perlu jelas karena dengan demikian bisa diterapkan dengan luas. Tafsiran saya yang semula melihat ayat ini sebagai contoh dari a.1, yaitu membagikan kepada banyak orang akan ada hasilnya kelak. Setelah refleksi lebih lama, saya melihat perlawanan juga. Jika a.1 mengusulkan melangkah dengan berani, ayat ini mengusulkan membuat jaringan sebagai jaminan. Menarik bahwa keberanian diusulkan terkait dengan air yang berbahaya, sedangkan jaminan dicari dalam konteks bumi yang dianggap aman (mis. Mzm 104:5-7).

A.3 adalah contoh amsal yang menyampaikan fakta yang sederhana dan tidak terlalu berarti dalam sendirinya. A.4 yang memperjelas maksudnya. Awan dalam a.4b dengan jelas merujuk ke a.3a. Adakah kaitan antara a.4a dengan a.3b? Usulan saya bahwa angin dalam a.4a yang menumbangkan pohon dalam a.3b. Seorang petani tentu mau mengambil waktu yang tepat untuk menabur dan menuai, tetapi jika selalu menunggu waktu yang paling tepat, dia tidak akan bergerak. Dalam a.5 praduga Pengkhotbah dikemukakan. Kejadian-kejadian seperti dalam a.3 terjadi atas kehendak Tuhan, dan semuanya di luar jangkauan pemahaman kita, sama seperti perkembangan janin. Dalam ketidaktahuan kita bertindak secara berani dan aman (a.6). Kita melangkah saja dalam pekerjaan utama (bnd. a.4). Tetapi ada juga pekerjaan sampingan sebagai jaminan, seperti dalam a.2.

Jadi, dalam aa.1-6 ada berbagai refleksi tentang pentingnya bertindak dalam ketidakpastian dunia yang dikendalikan oleh Allah. Kuasa Allah adalah suatu misteri, tetapi juga mendasari berbagai harapan, seperti kembalinya roti dan kesempatan untuk menuai. (Aa.8-9 dalam perikop LAI memulai bagian yang baru tentang masa muda dan tua yang berlanjut dalam aa.10dst.)

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari mudah-mudahan jelas, walaupun tidak semua pembaca adalah petani! Tetapi amsal-amsal seperti ini tidak harus diterapkan hanya dalam satu bidang kehidupan saja. Bukankah banyak perumpamaan Yesus merujuk ke pertanian seperti di sini? Soal keberanian jelas dibutuhkan jika kita akan berguna bagi Tuhan. Banyak usaha kita bagi Tuhan–apakah usaha penginjilan, sosial atau yang lain-lain–tidak akan jelas ujungnya, dan kita sering membuang waktu dengan menunggu waktu yang paling tepat. Tetapi jaminan juga diperlukan. Kita harus membangun kerja sama supaya jangan bergantung pada kita saja, sambil membangun bermacam-macam usaha supaya jika satu tidak efektif, yang lain akan efektif.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.