Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Rom 10:9-15 Percaya dan mengaku

Oktober 4, 2010

Dalam salah satu renungan yang lalu saya menguraikan pemahaman saya tentang konteks perikop ini dalam Roma pp.9-11. Di tengah pembahasan tentang rencana Allah dalam penolakan Kristus oleh sebagian besar Israel, Paulus menjelaskan penerimaan dan penolakan Kristus dari perspektif manusia. Seperti dinubuatkan Musa (Rom 10:6-8, yang menjadi landasan untuk a.9 yang dimulai dengan kata “sebab”), pesan Injil tidaklah jauh dari manusia, dan hal itu diuraikan sampai pada akhir perikop kita. Jika hal itu menjadikan Israel pada zaman Paulus tanpa dalih (10:16 dst), lebih lagi kita yang hidup dalam kekristenan seperti anggota-anggota gereja. Makanya, kita mesti mempelajari jalan keselamatan yang di sini disampaikan secara ringkas oleh Paulus.

A.9 menyampaikan rumusan yang sederhana tetapi dalam. Cukup bagi seseorang untuk mengaku dan percaya. Pengakuan itu dilakukan dengan mulut, artinya di depan orang lain, dan isinya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kata “Tuhan” dalam bahasa Yunani sama dengan kata “tuan” (kurios), dan merujuk pada kedudukan kita sebagai hamba-hamba Yesus. Dia adalah bos, kita adalah bawahan-Nya. Tetapi relasi hamba-tuan selalu timbal-balik, dalam artian bahwa seorang tuan tidak hanya menyuruh hambanya tetapi juga melindungi hambanya. Seorang hamba yang sejati akan setujuan dan senasib dengan tuannya. Mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan pada saat itu berarti bahwa Kristus dan bukan Kaisar (atau dewa-dewi yang lain) yang diharapkan untuk membawa keselamatan dalam dunia ini, dan bahwa Kristus bukan bos-bos manusia yang diharapkan untuk kesejahteraan hidup.

Tetapi selain mengaku Kristus sebagai bos tertinggi dalam kehidupan kita, juga dikatakan bahwa kita harus percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Perhatikan bahwa hal itu bukan soal percaya secara umum. Banyak orang dengan saleh mencoba mengandalkan Allah dalam pergumulan hidup, sekalipun mereka tidak tahu atau tidak percaya atau tidak peduli bahwa Kristus telah bangkit. Mengapa kebangkitan Kristus diangkat di sini?

Dalam a.10 Paulus menjelaskan bahwa hasil atau tujuan percaya ialah pembenaran. Ternyata dalam ayat ini keselamatan adalah tahap kedua yang mendasari pembenaran. Ayat ini menyimpulkan pembahasan Paulus dalam Roma p.4, tentang Abraham yang percaya pada janji Allah bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, lalu dibenarkan oleh iman itu. Dua hal tentang iman ditegaskan dalam perikop itu. Yang pertama, iman mengutamakan janji Allah di atas perbuatan manusia. Dalam Roma p.4 Paulus menegaskan bahwa yang mendasar bagi Abraham bukan hukum Taurat (atau bibitnya dalam hal sunat 4:10-11), melainkan janji Allah (4:13). Harus demikian, karena janji Allah bukan janji bersyarat atau janji akan suatu upah (4:4, 14). Seandainya janji Allah adalah janji bersyarat, maka kita semua akan gagal sehingga tidak ada harapan (4:15). Jadi, menurut Paulus iman adalah pertama-tama tentang janji Allah. Bagi Paulus, yang jauh lebih penting dari kadar ketaatan kita adalah kadar karya keselamatan Allah. Abraham percaya akan janji yang masih merupakan bibit dari penggenapannya dalam Kristus. Kita percaya bahwa puncaknya telah jadi dalam kebangkitan Kristus, yang membuktikan bahwa dosa telah ditebus dalam kematian-Nya dan maut telah dikalahkan.

Yang kedua, mengutamakan janji Allah berarti bahwa kita mengutamakan rencana Allah. Iman tidak berarti bahwa kita percaya bahwa Allah akan kasih stempel pada semua cita-cita dan harapan kita, tetapi berarti bahwa kita percaya bahwa rencana Allah yang berpusat pada Kristus akan terwujud. Percaya bahwa Kristus telah bangkit menyiratkan bahwa kita menginginkan apa yang dijanjikan Allah itu, yakni pelepasan dari dosa dan hidup kekal bersama dengan Allah. Hal-hal itulah yang diinginkan Allah untuk kita.

Paulus membuktikan kedua tahap itu dengan dua nas PL. Dalam a.11 dia mengutip Yes 28:16 yang sudah dikutip dalam Rom 9:33. Yes 28:16 berbicara tentang orang yang percaya kepada Allah sehingga tidak akan hancur ketika Allah menghukum Israel. Terkandung dalam hukuman Allah adalah rasa malu yang sangat, yaitu bahwa dosa kita diperlihatkan di depan umum. Semua dalih, bohong, dan penipuan kita akan ketahuan. Tetapi orang-orang yang percaya pada Allah tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, karena dibenarkan oleh Allah dengan cuma-cuma, mereka terhitung sebagai umat-Nya, sebagai hamba Tuhan Yesus yang sejati dan layak dilindungi. Makanya, untuk semua macam orang yang percaya (a.12), Allah akan menyelamatkan mereka ketika mereka berseru kepada-Nya (a.13). Keselamatan itu terutama berarti keselamatan dari murka Allah sebagai akibat dari dosa kita (Rom 5:9), tetapi tidak lepas dari keselamatan dalam kehidupan ini (bnd. 2 Kor 1:9-11).

Jika keselamatan berdasarkan janji Allah yang luar biasa itu ditunjukkan untuk semua orang, bagaimana dengan orang-orang yang belum berjumpa dengan janji itu? Dalam aa.14-15 Paulus mengajukan dan menjawab pertanyaan itu. Berseru (sehingga diselamatkan) hanya munkin jika sudah percaya. Percaya hanya mungkin jika sudah mendengar tentang Kristus. Mengapa? Karena percaya berarti percaya bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa sejarah. Baik nalar maupun hati tidak bisa menjangkau peristiwa sejarah kecuali diberitahu. Budaya setempat bisa membawa banyak nilai Injili, tetapi tidak bisa memberitahu tentang kebangkitan Kristus. Makanya, perlu ada yang memberitakan Kristus. Siapa? Sama seperti Paulus dan Barnabas diutus (Kis 13:2-3), perlu ada yang diutus untuk membawa berita tentang Kristus kepada mereka yang belum mendengarnya. Dalam Rom 15:24 Paulus akan meminta dukungan mereka untuk dia melanjutkan misi itu.

Dalam perikop ini Paulus menjelaskan bagaimana semua orang, dari agama dan kelompok apapun, menerima keselamatan, yaitu dengan percaya pada karya dan rencana Allah yang berpuncak dalam kebangkitan Kristus sehingga mengandalkan Kristus sebagai Tuhan di depan umum. Jika perikop ini diberi judul “tidak sekadar percaya”, yang di atas percaya itu bukan perbuatan kita melainkan janji dan rencana Allah. Respons kita yang utama adalah percaya dan mengaku. Respons yang berikut adalah mengabarkan kabar baik itu.

Sebagai tambahan atau lampiran, mungkin ada dua pertanyaan yang perlu dijawab. 1) Apakah perbuatan baik tidak penting? Jawabannya: tetap penting, tetapi pentingnya diuraikan dalam Roma pp.6-8 dan pp.12-13, bukan dalam perikop kita. Berdisiplinlah menafsir teks yang ada! 2) Apakah semua orang yang tidak pernah terjangkau oleh pemberitaan Injil sudah pasti tidak selamat? Jawabannya: saya tidak tahu. Paulus menyampaikan logika iman Injili, yaitu bahwa kita harus percaya pada janji Allah, bukan pada bayangan kita, sehingga Kristus perlu diberitakan kepada semua. Bahwa Allah sedang menjangkau banyak orang di luar usaha-usaha lembaga kristiani tidak saya ragukan. Tetapi kita tidak bertindak atas pengandaian-pengandaian melainkan atas firman Allah yang jelas, yaitu indahnya kedatangan orang yang membawa kabar baik.


Rom 10:4-13 Keselamatan bagi semua

Mei 26, 2010

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9-12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4-5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9-11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Isaak di atas Ismael dan Yakub di atas Esau. Pada akhir p.9 (aa.24-29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari pihak Israel sendiri. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30-10:4). Perikop kita (10:4-13) menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan aa.14 dst menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak pesan keselamatan itu.

Rom 10:4 menyimpulkan argumentasi Paulus bahwa cara Israel mengejar keselamatan itu salah, karena mereka tidak melihat bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Ayat itu juga menjadi dasar untuk penguraian Paulus yang berikut. Paulus memperlihatkan dari Taurat sendiri bahwa pembenaran terdapat dengan percaya. A.5, yang mengutip dari kitab Imamat, merujuk pada ritus-ritus yang dilakukan supaya Israel yang najis karena dosa dapat beroleh penyucian. Cara itu tepat pada waktunya (sebelum Kristus menjadi jalan pendamaian, 3:25), seandainya dilakukan dengan iman (9:32). Tetapi Taurat sendiri tidak menyembunyikan soal iman. Dalam aa.6-7 Paulus mengutip dari Ul 30:11-14 yang mengatakan bahwa firman Allah itu dekat, di dalam mulut dan hati. Maksud Musa ialah bahwa makna Taurat bukan sesuatu yang terlalu jauh atau tinggi untuk dipahami, dan hanya menuntut pengakuan di mulut dan hati yang mengasihi Allah. Mengapa Paulus menganggap bahwa firman yang dimaksud Musa sama dengan Injil? Karena Ul 30:11-14 menyusul Ul 30:1-10 yang berbicara tentang pemulihan Israel setelah dihukum Allah, termasuk pembaruan hati (Ul 30:6). Hal-hal itu yang digenapi oleh Kristus (bnd. di sini). Jadi, firman yang dimaksud Musa termasuk firman tentang Kristus.

Kedekatan firman itu dalam konteks Injil dijelaskan Paulus dalam kedua hal itu, yakni mulut dan hati. Pengakuan adalah pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan. Mengasihi Allah dalam hati disamakan dengan percaya bahwa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati; hal itu sudah dibahas berkaitan dengan Abraham dalam p.4. Kesimpulan Paulus diteguhkan dengan dua nas dari para nabi dalam aa.11, 13. Dalam a.12, Paulus mengingatkan kita tentang konteks jalan keselamatan ini, yakni rencana Allah yang dimaksudkan untuk semua orang, Yahudi dan non-Yahudi.

Kita adalah penerima jalan kesemalatan itu. Kita percaya dan mengandalkan bahwa Allah bertindak untuk menyelamatkan dunia dalam Kristus, dan kita mengaku di hadapan dunia bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat bersukacita karena kita tahu bahwa pada akhirat kita tidak akan dipermalukan melainkan diselamatkan. Oleh karena itu, kita bersyukur bahwa ada yang membawa berita Injil itu kepada kita, dan kita juga ingin supaya berita itu dibawa kepada semua orang, bukan hanya kepada kalangan sendiri. Kita juga bersyukur bahwa di balik semua kegiatan kita, Allah yang satu berkarya, yaitu Allah yang kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.


Rom 13:8-14 Kasih dalam Pengharapan

Februari 8, 2010

Satu pola agama, seperti yang saya pahami tentang aluk to dolo (agama nenek moyang orang Toraja), adalah ketaatan kepada sistem aturan tingkah laku (pemali alias tabu) dan ritus untuk mendatangkan berkat (kesejahteraan) dan mencegah kutuk (musibah). Mungkin ada jemaat yang menerapkan pola yang sama. Jika kesepuluh Firman ditaati dan ibadah rajin diikuti ada harapan bahwa hidup akan berjalan mulus; jika tidak ditaati ada ketakutan bahwa suatu musibah akan terjadi. Perikop ini menunjukkan peran yang sebenarnya dari aturan hidup dan sumber berkat yang sebenarnya.

Roma 1-11 menguraikan “kemurahan Allah” yang menjadi dasar perubahan hidup (12:1). Kemurahan itu bukan bahwa Allah masa bodoh terhadap kesalahan dan dosa kita, melainkan bahwa dalam Kristus hukuman (kutuk) dari dosa kita sudah ditanggung Kristus (3:25), dan bahwa dalam Roh Kudus dosa sedang dimatikan (8:13). Lebih lagi, ciptaan Allah yang di bawah perbudakan kebinasaan (dikutuk) akan dimerdekakan (8:21).

Atas dasar itu, perubahan hidup dikerjakan dalam konteks tubuh Kristus (12:3-8), dan intinya adalah kasih (12:9; 13:8). Kasih itu digambarkan dalam 12:9-13:7, termasuk kasih kepada musuh dan hormat kepada pemerintah. Dalam perikop kita, hubungan kasih dan hukum Taurat dijelaskan. Mengasihi sesama berarti memenuhi hukum Taurat (13:8). Sebaliknya, kesepuluh Firman menguraikan kasih (13:9-10). Kesepuluh Firman serta “firman lain manapun” (tentu sebagaimana ditafsirkan dalam ajaran Yesus dan juga oleh Paulus, seperti 12:9 dst tadi) tetap memberitahu batas-batas tingkah laku kita, karena jika kita langgar kita tidak lagi bertindak dalam kasih. Tetapi kita taat bukan untuk mencegah musibah melainkan demi kebaikan sesama, bukan karena takut melainkan karena kasih.

Jika motivasi untuk berbuat baik adalah kasih kepada sesama, apa motivasinya untuk kasih? Jawaban Paulus adalah “karena kamu mengetahui keaadaan waktu sekarang”, yaitu bahwa keselamatan lebih dekat (13:11). Keselamatan itu menyangkut akhir zaman, saat ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (8:21). Untuk banyak jemaat soal akhir zaman sepertinya terasa kurang konkret, karena menyangkut masa depan sedangkan mereka hidup dalam masa kini saja. Tetapi bagi Paulus akhir zaman adalah sangat praktis, karena merupakan puncak dari sesuatu yang sudah berjalan. Kutuk sudah diambil dari orang percaya sekarang juga, karena sudah ditanggung Kristus pada salib. Sekarang juga “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (8:28). Penderitaan dan pergumulan bukan lagi pertanda kutuk melainkan pertanda persekutuan dengan Kristus (8:17), yang dipakai Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (8:29). Keselamatan pada akhir zaman adalah puncak dari berkat Allah kepada kita, yang terjamin karena Allah “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (8:32). Dengan sikap optimis bahwa kita sedang diberkati Allah itu, kita disuruh untuk menggantikan perbuatan kegelapan dengan senjata terang. Selain ada perlawanan antara gelap dan terang, ada juga antara perbuatan dengan senjata. Perbuatan bisa pasif dalam artian terbawa arus, sedangkan senjata menunjukkan bahwa ada niat untuk melawan arus.

Untuk memakai senjata terang, keinginan harus terkendali (aa.13-14). Hukum yang kesepuluh ialah “jangan mengingini”, dan hal-hal yang disebut dalam a.13 menunjukkan keinginan yang tidak lagi pada batasnya, tidak lagi sopan dan tertib. Caranya untuk hidup tertib dijelaskan dalam a.14. Mengenakan Kristus mengulang konsep mengenakan perlengkapan senjata terang dari a.12 (“sebagai perlengkapan senjata terang” adalah tambahan oleh LAI dalam a.14). Perlengkapan senjata adalah janji-janji Allah dalam Kristus dan hidup yang makin serupa dengan Kristus, sehingga mengenakan perlengkapan itu adalah mengenakan Kristus. Hal itu berarti bahwa harapan kita tertuju pada Kristus sehingga keinginan-keinginan kita akan diatur oleh harapan itu. Dengan demikian kita bisa melawan dosa dalam kedagingan (“tubuh” menerjemahkan sarx yang merujuk kepada keinginan-keinginan yang melawan Allah) dengan tidak berpikir-pikir kapan kita bisa berdosa lagi.

Jika kita masih terperangkap dalam pemahaman “agamawi”, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri melalui keagamaan kita, maka kita perlu mengingat bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang mengubah hidup kita menjadi berkat. Jika sudah diingat, mari kita mewujudkan pemahaman itu dengan kasih kepada sesama bukan sebagai amal / jaminan melainkan demi kebaikan sesama.


Rom 15:1-13 Penerimaan dan Pengharapan

Mei 20, 2009

Mungkin penerimaan dan pengharapan adalah dua hal yang tidak biasa dikaitkan. Mungkin juga ada jemaat yang menganggap bahwa penerimaan itu praktis dan penting, sedangkan pengharapan adalah hal yang teologis saja sehingga tidak terlalu praktis. Sebaliknya, mungkin ada yang menganggap bahwa penerimaan itu kurang teologis sehingga kurang penting. Rasul Paulus tidak jatuh ke dalam dualisme seperti itu yang memisahkan praktik dari teori, kasih dari iman.

Perikop ini adalah kesimpulan dari seluruh penjelasan Injil yang dimulai pada awal surat (1:16-17), karena dalam perikop berikut Paulus kembali ke soal rencana untuk mengunjungi jemaat di Roma yang diangkat dalam pendahuluan surat (bnd. 1:11 dan 15:22). Perikop ini juga mengakhiri bagian penerapan (mulai pada 12:1-2) yang menjelaskan bagaimana mempersembahkan seluruh hidup berdasarkan pembaruan akal budi dalam kemurahan Allah yang telah diuraikan dalam pp.1-11 itu. Inti bagian ini ialah 13:8-14. Perikop itu mengutarakan kasih dalam terang akhir zaman, yaitu dalam terang pengharapan. Kemudian, p.14 menguraikan satu masalah aktual dalam jemaat di Roma, yaitu bahwa ada (barangkali dari latar belakang Yahudi) yang membedakan makanan dan hari, dan ada yang memahami bahwa di dalam Kristus semuanya itu tidak apa-apa. Jadi, perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh aktual tentang kasih sebagai penghayatan Injil.

A.1 memperluas diskusi dalam p.14 dengan berbicara tentang kelemahan secara umum. Contoh orang lemah sekarang seperti jemaat yang tidak tahu diri sehingga agak susah bergaul. Kalau tujuannya menyenangkan diri mungkin saja orangnya dihindari atau dipinggirkan, tetapi kata Paulus yang kuat wajib menanggung kelemahannya. Tetapi perhatikan a.2. Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang! Sehingga jemaat yang susah bergaul tadi jangan dibiarkan dalam keegoisan! Kita bergaul dengannya dan berupaya untuk mengoreksi dia dengan sabar dalam kasih. Asal senang tidaklah membawa kesenangan yang membangun.

Mengapa kita akan menerapkan penerimaan yang begitu sulit itu? Ada serangkaian alasan dalam aa.3-6. Yang pertama, Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Penderitaannya sama dengan pemazmur dalam PL, yaitu dicerca karena setia kepada Allah (a.3). Dengan demikian kita dapat melihat pola ketekunan dalam PL yang digenapi dalam Kristus, sehingga kita dihibur (karena tidak sendirian di dalam kesusahan) dan tidak putus asa bahwa Allah meninggalkan kita (a.4). Tujuan penerimaan disampaikan dalam aa.5-6, yaitu kerukunan akibat saling menerima yang bermuara pada kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan Kitab Suci mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita juga ditarik oleh tujuan untuk memuliakan Allah bersama-sama.

Hal itu dikembangkan dalam aa.7-12. A.7 meringkas aa.1-6, karena Kristus menerima kita untuk kemuliaan Allah. Kemudian Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Sesuai dengan pembahasannya dalam pp.9-11, Paulus menjelaskan bahwa Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kutipan PL yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa selalu dipanggil dan diharapkan memuliakan Allah (aa.9-11). Bangsa-bangsa diterima karena rahmat saja, karena walaupun tidak ada perjanjian dengan mereka Allah tetap bertujuan supaya mereka diterima dalam sang Mesias (= taruk dari pangkal Isai, a.12). Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa.

Jadi, dalam a.12 Kitab Suci kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus dalam a.13 mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera (hasil penerimaan?) sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan. Sejauh saya berhasil mendalami perikop yang kaya ini, dalam Kristus, penerimaan dan pengharapan akan bangkit atau jatuh bersama.


Rom 2:17-24

Mei 4, 2009

Perikop ini menarik perhatian karena gambaran yang tajam terhadap kesombongan agama dalam aa.17-20. Namun, saya dapat membayangkan suatu tafsiran demikian: 1) Paulus mengecam kesombongan agama; 2) cara untuk tidak sombong adalah mengakui keabsahan agama lain; maka 3) semua agama sama martabatnya. Padahal, pada ayat sebelumnya Paulus sudah menempatkan hari kiamat dalam rangka Injil dan Yesus Kristus, dan dalam p.1 sudah mengecam kebanyakan manusia yang menyembah berhala. Maka, apa maksud Paulus yang sebenarnya?

Tujuan dari Paulus dalam bagian surat ini adalah menempatkan semua manusia di bawah kuasa dosa (3:20). Hal itu tidak sulit bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam keberhalaan sehingga mengalami segala bentuk kekacauan hidup (Rom 1:18-31). Tetapi bagaimana dengan orang Yahudi? Pada awal pasal 2, Paulus membuktikan bahwa mengecam dosa (2:1) tidak meluputkan manusia dari hukuman Allah jika tetap melakukan dosa (2:2-16). Allah tidak memandang bulu (2:11).

Jadi, pada aa.17-23 Paulus menerapkan 2:1 kepada orang Yahudi. Aa.17-20 adalah cara orang Yahudi menghakimi orang lain, sedangkan aa.21-23 menyebutkan apa yang mereka lakukan yang sama. Cara orang Yahudi menghakimi itu halus. Aa.17-18 menyampaikan hal-hal yang justru baik. Paulus sendiri mengajar kita untuk bermegah dalam Allah (5:11) dan tahu akan kehendak-Nya (12:2). Memang dia bersandar kepada Kristus, bukan Taurat, tetapi dia mengakui Taurat sebagai firman Allah (7:12). Jadi, tidak ada keraguan Paulus terhadap penyataan Allah. Inti masalah muncul dalam aa.19-20. Mereka bukan hanya yakin akan Allah, tetapi juga akan diri sendiri. Firman Allah dianggap miliknya sendiri, dan mereka seakan-akan berbagi dalam keunggulan Firman itu.

Dalam aa.21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada a.24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5, bnd. Yeh 36:20) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Jadi, Paulus bermaksud untuk membuktikan bahwa orang Yahudi termasuk manusia berdosa. Apakah dengan demikian tidak ada relevansi bagi kita? Tentu ada, tetapi kita sebagai jemaat Kristus semestinya terdapat bukan dalam perikop ini tetapi dalam ayat-ayat berikut, yaitu kelompok yang melakukan hukum Taurat walaupun tidak disunat (2:27-29). Kelompok itu yang menggenapi janji Allah dalam PL bahwa Dia akan memperbaharui hati umat-Nya oleh Roh Kudus (misalnya Yer 31:33 dan Ul 30:6). Kelompok itu tidak lain dari jemaat Kristus, yang hatinya diperbaharui (p.6) sehingga oleh kuasa Roh (pasal 8) dapat melakukan Taurat, yakni hidup dalam kasih (13:8).

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada a.24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Hanya, jalan keluarnya bukan keraguan terhadap kebenaran iman kristen, melainkan pembaharuan hati dengan menyerap sikap Injil sendiri. Ketika Paulus berbicara tentang bermegah dalam Allah, hal itu disertai dua kemegahan yang lain, yaitu bermegah dalam pengharapan (5:2) dan bermegah dalam kesengsaraan (5:3). Dalam kata lain, kemegahan yang dimaksud Paulus adalah siap menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (8:17). Hati yang demikian sudah bosan dengan kesombongan, dan sudah jijik terhadap kemunafikan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.