Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014]

Agustus 20, 2014

Meskipun dengan perikop ini Paulus sudah masuk ke bagian yang sering disebut “etis”, namun Paulus tetap berbicara tentang Allah. Satu cara seorang pendeta dapat menjadi serupa dengan dunia ialah kalau dia berhenti berbicara tentang Allah. Khotbah-khotbah yang miskin teologi menjamin gereja menjadi duniawi.

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan peralihan dalam surat Paulus kepada orang-orang kudus di Roma. Paulus baru selesai menguraikan kemurahan Allah, dan mulai menasihati keluarga Allah (“saudara-saudara”) “karena itu” (1). Frase “demi kemurahan Allah” perlu disimak. Kata “kemurahan” adalah jamak dalam bahasa aslinya, sehingga merujuk pada berbagai tindakan Allah yang menyatakan sikap murah hati-Nya. Pasal 11 (yang kita bahas minggu yang lalu) menyimpulkan karya Allah itu sebagai kemurahan; tetapi di pasal 12 ini Paulus merujuk pada segenap penguraiannya dalam pp.1–11, yang berpusat pada Kristus sebagai wujud nyata kemurahan Allah, dan Roh Kudus sebagai pewujud kemurahan itu dalam kehidupan kita. Kata “demi” berarti “melalui” atau “oleh”, dan dalam susunan kalimat aslinya, dapat menerangkan “menasihatkan” atau “mempersembahkan”. LAI memilih “menasihatkan”, bahwa kemurahan Allah memberi Paulus alasan dan motivasi untuk menasihati mereka. Tetapi mungkin juga, Paulus mau mengatakan bahwa persembahan tubuh itu hanya dimungkinkan oleh karya Allah dalam Kristus dan Roh Kudus.

Aa.1–2 sering dibahas lepas dari aa.3–8, tetapi kaitannya erat. A.1 dan aa.4–8 berbicara tentang tubuh. A.2 dan a.3 berbicara tentang sikap. Bedanya bahwa aa.1–2 berbicara tentang identitas kita di dalam dunia, sementara aa.3–8 berbicara tentang identitas kita dalam tubuh Kristus. Aa.1–2 menyangkut skala kosmis; aa.3–6 skala praktis.

Untuk skala kosmis itu, Paulus mulai dengan soal ibadah, bagaimana kita memuliakan Allah sebagai Allah (1:21). Israel mempersembahkan tubuh hewan yang mati untuk menghapus dosa dan menyatakan syukur kepada Allah. Kurban Kristus telah menghapus dosa dengan tubuh-Nya sendiri dan telah bangkit kembali ke dalam hidup yang baru. Dengan demikian, persembahan apa yang cocok untuk bersyukur kepada Allah? Paulus sudah mendorong kita untuk mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus itu (6:13). Tubuh kita yang [terpola dalam dosa][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ] (7:13–26) telah dihidupkan kembali oleh Roh (8:11b). Tubuh itulah yang menjadi persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, bukan karena kita berhasil sempurna atau rajin ke gereja, tetapi karena kemurahan Allah. Balasan yang diminta Allah bukan sekadar usaha untuk menghindar dari dosa ini atau itu, lebih lagi sekadar persembahan uang dan waktu, melainkan seluruh diri kita. Demi kemurahan-Nya dalam Kristus, Dia berjanji untuk berkenan atas diri kita dengan segala kekurangannya.

Di mana persembahan itu terjadi? Bukan di suatu tempat yang khusus, melainkan di dunia (2). Dengan tubuh, kita tampil—entah tampil beda atau tampil sama. Dengan tubuh kita bertindak. Kedua hal itu dijelaskan Paulus di sini. Dunia dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang terkutuk (1:28, yang memakai kata vous yang diterjemahkan “budi” dalam ayat ini), tetapi kita mau diperbaharui oleh budi yang baru, yang dibentuk oleh kemurahan Allah dengan kuasa Roh Kudus (bdk. 8:5–6). Ketika Injil tentang Kristus menentukan identitas seseorang, dia tidak lagi diarahkan oleh status sosial, harapan akan upacara orang mati yang besar, atau ketakutan akan “apa kata orang”. Dengan demikian, dia dibebaskan untuk mengetahui kehendak Allah. Orang yang serupa dengan dunia akan menganggap baik banyak hal yang buruk, akan mencari apa yang berkenan menurut dunia, dan visinya tentang kehidupan yang sempurna akan juga duniawi. Dunia yang dimaksud Paulus mencakup agama Romawi dan bahkan agama Yahudi yang mengejar kebenaran diri (10:2–4). Hanya kemurahan Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak-Nya.

Jadi, seluruh kehidupan kita adalah persembahan kita, karena Allah adalah Allah dunia, termasuk dunia kantor dan dunia adat, bukan hanya Tuhan dalam gedung gereja. Namun, pembaruan yang dimaksud Paulus tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Tubuh kita berarti sebagai bagian dari tubuh Kristus (3–8). A.3 menegaskan kaitannya antara pikiran dan tindakan. Identitas kita di dunia berakar dalam penilaian diri. Penguasaan diri hanya dimungkinkan oleh penilaian diri yang sehat, yang tidak berlebihan. Ukuran yang dipakai bukan IQ, EQ, SQ, IPK, pujian manusia, atau ukuran apapun yang lain, melainkan iman. Iman bagi Paulus adalah penangkapan berita Injil dalam hati (bdk. 10:9b, 16a). Paulus mengatakan di sini bahwa penangkapan itu adalah karunia Allah, bukan hasil usaha sendiri. Dia tidak menuntut bahwa kita semua memiliki iman yang sekuat dia, misalnya, hanya bahwa penilaian diri sesuai dengan iman. Tokoh masyarakat yang imannya lemah tidak usah membual dalam konteks jemaat; orang kecil yang imannya kuat beranilah tampil beda. Aa.4–8 menunjukkan bagaimana tubuh Kristus menjadi tempat untuk belajar menggunakan karunia-karunia Allah demi sesama anggota jemaat, sehingga identitas kita terpusat bukan pada diri sendiri melainkan pada jemaat sebagai tubuh Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Cara kita berbagi dalam kemurahan Allah ialah dengan penyerahan diri mulai dengan pikiran dan budi sampai pada tindakan dan identitas kita dalam dunia. Tubuh Kristus menjadi tempat utama kita mempelajari dan mempraktekkan identitas itu.

Makna

Manusia beragama cenderung membedakan manakah yang kudus dan manakah yang tidak kudus. Misalnya, gereja itu kudus, sehingga hal-hal gerejawi dipemalikan, tetapi di kantor atau di dalam masyarakat, norma Alkitab tidak lagi dianggap relevan. Sebaliknya, manusia beretika (aliran filsafat pada zaman Paulus, sebagian orang berpendidikan masa kini) tidak menyakralkan gereja, sampai-sampai berjemaat dianggap seperti sekolah—berguna bagi yang masih lemah, tetapi mubazir bagi orang yang pemahamannya sudah kuat. Paulus melawan kedua pandangan itu. Seluruh dunia itu kudus, dan apa saja yang kita lakukan di dalam Kristus itu kudus. Tetapi adalah kesombongan untuk menganggap bahwa saya tidak membutuhkan tubuh Kristus lagi. Nilai jemaat bukan kadar manusia di dalamnya, melainkan Kristus.

Manusia beretika cenderung juga menganggap bahwa kemurahan Allah itu hanya penopang bagi kehidupan yang baik, sampai-sampai sebagian tidak terlalu merasa perlu bertuhan lagi. Kalau begitu, mempersembahkan tubuh kepada Allah tidak lagi masuk akal. Tetapi minat akan Tuhan dari manusia beragama juga terbatas. Yang dicari adalah kekuatan dalam tantangan dan pengarahan dalam kekacauan hidup. Diri Allah yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita dalam Kristus tidak dicari. Makanya, manusia beragama mencari wilayah yang terbatas yang akan cukup, asal Bapa surgawi senang. Budi yang baru itu siap menyerahkan seluruh identitas dan tindakan kepada Allah karena hati tertangkap oleh kemurahan-Nya. Tentu, hal itu adalah proses, dan kita semua sedang dalam perjalanan dari cara beragama yang dangkal menuju penyerahan diri yang selayaknya.


Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

Agustus 12, 2014

Agak sulit mengaitkan perikop ini dengan HUT Kemerdekaan Indonesia. Paulus berbicara tentang rencana Allah yang jauh lebih luas daripada Indonesia sebagai negara. Namun, kesadaran tentang anugerah Allah semestinya membuat kita menjadi warga negara yang tidak buta terhadap kekurangan negara namun tetap percaya bahwa kemurahan Allah bekerja.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan PL (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah: mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak ketimbang Ismael dan Yakub ketimbang Esau. Pada akhir p.9 (aa.24–29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah. Rom 9:30–10:21 menguraikan ketidakpercayaan Israel sebagai pilihan mereka (bagi Paulus, pilihan Allah dan pilihan manusia tidaklah bertentangan): mereka mengandalkan Taurat untuk diterima sebagai bangsa yang benar di hadapan Allah (9:30–10:4) sehingga mereka menolak pemberitaan Injil (10:5–10:21).

Dalam 11:1–2a, Paulus bertanya: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Dia sendiri adalah contoh utama bahwa ada orang Israel yang percaya kepada Kristus (1b), dan pada prinsipnya, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (2a). Adanya hanya sebagian Israel yang setia bukanlah hal yang baru (2b–4). Adanya orang percaya adalah soal anugerah dari Allah, bukan usaha manusia (5–6), dan adanya hanya sedikit dari Israel yang percaya itu bagian dari rencana Allah (7–10). Mengapa? Bukan karena Allah menolak Israel (11a), tetapi karena ketidaktaatan Israel adalah bagian dari rencana Allah supaya bangsa-bangsa juga masuk dalam pemulihan yang direncanakan Allah (11b–12). Aa.13–28 mau menegaskan bahwa hal itu bukan karena bangsa-bangsa itu hebat: sebaliknya, orang Israel adalah cabang-cabang asli dari umat Allah, dan Israel juga akan bertobat dan diselamatkan (26a). Akhirnya, aa.29–32 menyimpulkan penguraian Paulus: anugerah-anugerah Allah (seperti dalam 9:4–5; kata “kasih karunia” berbentuk jamak dalam bahasa aslinya) yang diberikan sesuai dengan pilihan Allah tidak akan dicabut oleh Allah (29). Israel akan melalui urutan yang sama dengan bangsa-bangsa: ketidaktaatan baru kemurahan (30–31). Sebagaimana dijelaskan dalam aa.13–28, ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa akan mendorong Israel untuk bertobat. Dengan demikian, ketidaktaatan dari segenap umat manusia menjadi kentara, sehingga kemurahan Allah sebagai dasar hidup juga kentara (32). Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Maksud bagi Pembaca

Ketika kita melihat kelompok seperti Israel yang diberi segala kesempatan untuk mengenal Allah tetapi mengandalkan usaha diri ketimbang Allah, kita dikuatkan bahwa Allah setia pada pilihan-Nya, dan bahwa semuanya bergantung pada kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang tetap memiliki rencana bagi mereka dan bagi kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu tentang janji Allah, ataupun sombong terhadap orang lain.

Makna

Melihat bacaan dari leksionari, Mat 15:21–28 menunjukkan baik prioritas bagi Israel maupun tempat bangsa-bangsa dalam rencana Allah. Kej 45:1–15 menunjukkan bagaimana Yusuf mampu menerapkan kepercayaannya akan kedaulatan Allah (bdk. Kej 50:20). Di tengah ketidaktaatan saudara-saudaranya, dia melihat rencana Allah untuk mengerjakan kemurahan-Nya. Oleh karena itu, dia mampu mengampuni mereka. Sama seperti Yesus, Paulus meyakini rencana Allah yang menyangkut “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (1:16). Dia juga mengenal sejarah Israel yang penuh ketidaktaatan yang di tengahnya Allah mengerjakan kemurahan-Nya, dan dia berusaha menjelaskan ketidaktaatan yang paling dahsyat, yaitu menolak Mesias, dalam rangka itu.

Mengapa kita, orang bukan Yahudi, semestinya peduli tentang penguraian itu? Satu jawaban ialah bahwa bila Allah tidak setia kepada Israel yang Dia panggil dan pelihara berabad-abad, mengapa kita berharap bahwa Dia akan setia kepada kita? Jika anak aslinya diabaikan, untuk apa kita mau diangkat? Tetapi, dengan memperlihatkan kesetiaan Allah, Paulus meneguhkan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya. Khususnya, ketika gereja sendiri sepertinya penuh dengan kebobrokan, kita mengetahui bahwa rencana Allah bergantung pada pilihan Allah, bukan pada keberhasilan manusia.

Dia juga mau mencegah kesombongan rohani. Orang Toraja kadang mengatakan bahwa budaya Toraja cocok dengan Injil. Kita harus hati-hati dengan gagasan seperti itu: cabang asli satu-satunya, kata Paulus, ialah Israel; semua budaya yang lain dicangkokkan. Orang Toraja adalah orang-orang berdosa yang diterima Allah hanya karena Dia menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka oleh anugerah di dalam Kristus. Yang diperlawankan dengan ketidaktaatan bukan ketaatan melainkan kemurahan Allah. Kita menjadi susah mengampuni sesama, tidak seperti Yusuf, ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada mereka.

Perikop ini juga menyangkut pengharapan kita. Andaikan ketaatan adalah solusi terhadap keberdosaan manusia, pilihan Allah hanya merupakan langkah awal (panggilan) yang hasilnya tetap ada dalam tangan manusia yang pasti akan gagal. Tetapi, karena keselamatan tergantung pada pilihan Allah yang diterapkan melalui kemurahan-Nya dalam Kristus, maka kita tidak perlu digoyahkan oleh kegagalan-kegagalan kita, ataupun orang-orang lain.


Rom 8:26-39 Terjamin dari ancaman apapun [27 Jul 2014]

Juli 25, 2014

Perikop ini begitu berharga bagi saya sehingga saya mengambil waktu di tengah libur untuk menguraikannya. Untuk kedua minggu berikutnya, blog ini akan beristirahat. Selamat melayani.

Penggalian Teks

Ayat 28 yang terkenal itu tetap terjadi dalam konteks kesusahan yang diuraikan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Maksud dari ayat itu bukan bahwa Allah mengerjakan yang baik, enak, masuk akal dsb, melainkan bahwa di tengah kesusahan yang justru tidak masuk akal, yang di dalamnya hanya Roh Kudus dapat melengkapi doa kita (26–27), ada janji yang menghibur bahwa Allah menghasilkan kebaikan. Aa.29–30 memberi penjelasan tentang kebaikan itu. Allah memilih orang untuk menjadi serupa dengan Kristus—supaya Kristus menjadi sulung di dalam keluarga besar anak-anak Allah yang juga sudah dibentuk oleh kelemahan dan kesusahan mereka (29). Sesuai dengan tujuan itu, Allah memanggil orang dalam pemberitaan Injil untuk beriman kepada Kristus; Dia menjadikan mereka anggota-anggota tubuh Kritus yang dosa-dosanya sudah diampuni (dibenarkan); Dia mengerjakan kemuliaan “imago Dei” seperti Kristus melalui kesusahan hidup sampai kesempurnaannya ketika Kristus datang kembali (30).

Siapa penerima janji tentang rencana Allah itu? Dalam a.28b, kita melihat dua segi. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah. Janji itu diperuntukkan—dan mungkin hanya masuk akal—bagi orang yang baginya Allah menjadi yang terutama. Tetapi, untungnya, kasih seperti itu tidak muncul dari kemampuan alami manusia. Kita mampu mengasihi Allah karena Allah telah memanggil kita, dan kasih itu dibentuk dengan menempuh jalan penderitaan dalam pengharapan akan pemuliaan bersama dengan Kristus.

Jadi, orang-orang ini mendambakan pemulihan segala sesuatu supaya menikmati warisan sebagai anak-anak Allah, yakni kemuliaan bersama dengan Kristus (8:17). Aa.31–39 memberi jaminan bahwa hal itu akan terjadi. Dalam aa.31–34, kematian Kristus menjadi jaminan bahwa pembenaran Allah tidak akan pernah bisa dijungkirbalikkan oleh siapapun: perlawanan, penolakan dan penghinaan manusia tidak berdaya di hadapan penerimaan Allah. Dalam aa.35–36, Paulus merujuk pada pengalaman orang benar dalam kitab Mazmur yang menderita demi Allah, untuk mengatakan bahwa perlawanan itu tidak berarti ditolak oleh Allah. Aa.37–39 memperlebar daftar ancaman terhadap kasih Allah untuk mengatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah”, kasih yang dikenal bukan dalam konsep umum tentang Allah, melainkan “dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (39).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma bahwa warisan sebagai anak Allah sudah terjamin di dalam Kristus. Penolakan manusia, penganiayaan, dan kuasa-kuasa yang lain tidak berdaya terhadap kasih Allah di dalam Kristus yang mengandung penerimaan, pengharapan dan kemenangan.

Makna

Paulus selalu teosentris secara kristosentris: semuanya bergantung pada Allah di dalam Kristus, bukan pada manusia. Jika keselamatan tergantung pada manusia, maka kita tidak memiliki pengharapan, karena perlawanan manusia lain, penganiayaan, dan kuasa-kuasa dunia akan terlalu kuat. Dasar pengharapan kita adalah rencana Allah “dari semula” (29) supaya kita menikmati warisan kita bersama dengan Kristus.

Apakah pengharapan itu praktis bagi orang Toraja? Apakah menjadi anak Allah dalam solidaritas dengan Kristus yang menderita dan dimuliakan adalah visi yang dapat menggerakkan kita, sehingga kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah. Aa.31–39 mengandaikan kehidupan yang susah, sama seperti Kristus, tetapi dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan sudah menikmati status sebagai anak-anak Allah. Itulah penawaran Allah. Jika visi itu tidak cocok untuk orang Toraja, siapakah yang salah, Allah atau orang Toraja?


Rom 8:12-25 Melawan dosa dalam pengharapan [20 Jul 2014]

Juli 15, 2014

Penggalian Teks

Rom 8:9–11 merupakan puncak dari penguraian Paulus tentang kuasa Roh yang mengalahkan kuasa kedagingan sehingga orang yang percaya kepada Kristus mampu hidup baru. Dalam sisa p.8, dia menguraikan berbagai implikasi. Intinya adalah bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus (15). Hal itu dinyatakan dengan pertobatan terus-menerus (a.13, “mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”), dan dengan penderitaan bersama dengan Kristus (aa.17–18). Hal-hal itu dilakukan dalam pengharapan bahwa kita akan menjadi ahli waris (17) dari dunia baru (21). Di balik semua itu, ada keyakinan bahwa rencana Allah supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:29) tidak dapat dihalangi oleh apapun (8:31–39). Jadi, kita adalah anak-anak Allah yang berada di antara yang lama (kedagingan, penderitaan) dan yang baru (Roh, anak Allah, dunia baru).

Janji Allah dalam 8:9–11 ialah bahwa kuasa kebangkitan Yesus akan berlaku oleh Roh Kudus dalam tubuh kita yang rawan dosa sehingga kita mampu hidup sesuai dengan pikiran Roh (8:5–6). Konsep Paulus tentang tubuh dan daging (yang saya simpulkan dengan istilah “kedagingan”) termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk dan cara-cara hidup yang terpola, sehingga sulit diubah hanya dengan keputusan otak. Dalam pemulihan kita dari kedagingan, Roh Kudus tidak melewati hati kita. Soal “berhutang” dalam a.12 menyangkut pandangan dan keinginan. Kedagingan membuat dosa-dosa tertentu terasa sebagai kewajiban—“bagaimana mungkin tidak marah terhadap ulah seperti itu”, “asyik, rugi banget kalau tidak ikut”, dsb. Roh membuka mata untuk melihat bahwa tidak ada gunanya ikut dalam dosa. Malahan, dosa adalah jalan menuju kematian (13a). Dengan demikian, Roh memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Berhadapan dengan pilihan, Roh menyadarkan kita kalau ada pilihan yang salah, dan memberdayakan keputusan kita untuk memilih apa yang baik. Dengan demikian, hidup yang sejati akan kita jalani (13b).

Berkat utama dari perjuangan itu adalah kenikmatan status sebagai anak Allah. Roh yang berkerja di dalam kita itu adalah Roh Kristus (8:9) yang membawa Kristus ke dalam kita (8:10). Dipimpin oleh Roh—termasuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh Roh—adalah bukti akan status itu (14). Roh Kudus mengubah total sikap kita terhadap Allah. Dia bukan lagi Sang Polisi atau Sang Guru Keras, melainkan Sang Bapa (15–16). Kita menaati dan mengikuti Allah dari kreatifitas hati, dengan kerinduan untuk menjadi serupa dengan Kristus dan berguna bagi Allah, bukan secara hukum positif.

Perjuangan melawan dosa dilakukan dalam konteks pengharapan (17). Anak-anak Allah adalah ahli waris janji-janji Allah, dan janji-janji itu disimpulkan sebagai kemuliaan bersama dengan Kristus. Kata kemuliaan menyangkut citra yang gemilang, tetapi dalam bahasa Ibrani, kata itu juga berarti berbobot. Untuk sebagian orang Toraja, kemuliaan dialami dengan paling jelas ketika ada upacara kematian yang sungguh klop. Tidak hanya bahwa citra keluarga tampil bagus, tetapi juga bahwa keluarga itu merasa berada, berbobot, jadi. Sampai orang menangkap bahwa yang ditawarkan Kristus lebih mulia dari itu, Injil akan belum berdaya dalam kehidupan mereka.

Makanya, gregetnya Injil dapat dilihat dalam kesiapan orang untuk menderita bersama-sama dengan Kristus. Dalam aa.18–25, pengharapan itu diuraikan. Seluruh ciptaan Allah mengalami keluhan dan kebinasaan, tetapi dalam penebusan anak-anak Allah, ciptaan juga akan dipulihkan (19–22). Manusia yang membawa dosa ke dalam dunia (5:12–14), sehingga penebusan anak-anak Allah dari dosa di dalam Kristus berarti pemulihan dunia juga. Tetapi untuk sementara, Roh Kudus yang memulihkan kita justru membuat kita peka terhadap kondisi dunia (23). Kita sudah mencicipi kasih Allah (5:5) dan hidup yang benar (6:20–22), sehingga kebobrokan dunia makin terasa.

Makanya, Paulus menegaskan kembali pengharapan (24–25). Tubuh kita belum dibebaskan sepenuhnya dari dosa (23b; bdk. 12–13), dan dunia belum dipulihkan. Ketekunan adalah salah satu wujud pokok iman untuk sementara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau menguatkan jemaat di Roma dengan pengharapan akan dunia baru bersama dengan Kristus yang ditanam Roh Kudus supaya mereka siap untuk melawan dosa dengan kuasa Roh Kudus. Pertobatan berarti mengejar pengaharapan itu sehingga melawan dosa dalam diri.

Makna

Mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, dan penderitaan. Itulah penawaran Injil. Jika orang tidak menyukai pesan itu, maklum, mereka belum menangkap pengharapan yang ditawarkan Injil. Injil tidak menawarkan hidup agak susah baru hidup agak lebih nyaman kelak. Injil menawarkan jalan salib sekarang baru kemuliaan kelak.

Kemuliaan adalah kebutuhan manusia, dalam artian, manusia perlu merasa bahwa hidupnya berbobot. Dalam Rom 1:32, manusia saling memuji dalam kehinaan, dan dalam p.2, manusia yang berusaha benar buta terhadap dosanya sendiri. Makanya, Paulus mengatakan bahwa semua manusia kehilangan kemuliaan Allah, biar dianggap hebat oleh sesama, biar upacara kematian orang tuanya luar biasa. Di dalam Kristus, kita dibenarkan, dan kemuliaan kita di hadapan Allah mulai dipulihkan. Pertobatan yang sejati termasuk mengambil pencarian kemuliaan yang teosentris itu—mau dipuji Allah dan bukan manusia. Hal itu tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi kita perlu mencari orang lain untuk mencerminkan penilaian Allah kepada kita. Itulah salah satu tugas jemaat, walaupun tidak sempurna.

Selama kita puas dengan pujian manusia, kita tidak akan mau repot mematikan perbuatan tubuh yang berasal dari daging, artinya, perbuatan yang muncul dari dosa yang terpola dalam kehidupan kita. Satu aspek dari mematikan tubuh ialah bahwa pada titik kita mau bertindak, kita mengaminkan keingingan Roh dalam diri kita, dan percaya bahwa Roh itu mampu untuk mengalahkan keingingan daging. Tetapi, keputusan itu semakin memungkinkan semakin kita mendambakan status kita sebagai anak Allah, dan semakin kita menaruh pengharapan di tengah dunia yang susah ini pada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.


Rom 4:1-5 “Iman yang menentukan” [16 Mar 2014] (Minggu sengsara III)

Maret 10, 2014

Materi ini dicontek dari Membangun Jemaat, karena saya penulisnya. Perikop kita digabungkan dengan Kej 12:1–4 yang merupakan awal dari kisah Abraham, dan Yoh 3:1–17 yang merupakan padanan Roma 3–5 dalam beberapa hal: keselamatan oleh iman yang membawa ke hidup yang sejati. Yoh 3:3, 5 layak disimak: manusia tidak mampu dengan kuasa sendiri untuk memahami Injil.

Pembenaran oleh iman menjadi salah satu penggerak Reformasi. Mengapa? Karena para reformator yakin bahwa anugerah Allah lebih ampuh membuat manusia baik ketimbang teologi anugerah bercampur amal yang menjadi teologi operasional di Gereja pada zaman itu. Saya mau mengusulkan bahwa keyakinan itu dekat dengan inti identitas reformatoris-Calvinis.

Penggalian Teks

Ketika menulis surat ini kepada jemaat-jemaat di Roma, Paulus belum pernah ke sana, tetapi dia memiliki rencana untuk mengunjungi mereka, dengan harapan bahwa mereka bisa mendukung dia untuk bermisi ke Spanyol (15:28). Oleh karena itu, dia menjelaskan Injil yang dia beritakan. Injil itu mengumumkan tahap terakhir yang menentukan dalam kisah Allah dengan manusia. Manusia telah membelakangi Sang Khalik dan memilih menyembah dewa-dewa buatan sendiri serta menuruti keinginan-keinginan yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama (1:18–31). Oleh karena itu, pada pengadilan segenap umat manusia di akhir zaman, manusia berdosa akan dinyatakan “bersalah” oleh Sang Hakim dan dihukum (2:1–16). Allah kemudian memanggil Israel untuk menjadi percontohan bagi dunia, dan memberikan hukum Taurat supaya mereka tahu akan jalan yang benar (3:2), tetapi mereka pun gagal menaati Allah (2:24), sehingga segenap umat manusia menderita di bawah kuasa dosa (3:9b). Selaku Pencipta dunia yang baik, Allah harus menindak para perusak dunia itu. Tetapi, Dia juga Allah yang mau memberi kesempatan bagi manusia untuk diselamatkan (1:16).

Hikmat manusia tidak akan sampai pada sebuah jalan keluar, tetapi syukurlah bahwa Allah itu penuh hikmat dan kasih. Solusi Allah terhadap kondisi manusia yang mencemaskan itu disampaikan dalam 3:21–26. Allah mengutus Kristus untuk menjadi jalan pendamaian. Sebagai Hakim yang adil, Dia telah menghukum dosa di dalam Kristus sebagai pengganti kita pada salib, supaya kita dapat dibenarkan—dinyatakan “tidak bersalah” di dalam pengadilan pada akhir zaman oleh Sang Hakim—jika kita percaya kepada-Nya. Injil mengumumkan karya Allah yang penuh hikmat dan kasih itu, dan memanggil kita untuk menerima kasih karunia Allah itu dengan iman.

Tetapi, bagaimana kasih karunia dan iman itu? Sebagai orang Yahudi, rasul Paulus sendiri mengetahui bagaimana suatu niat untuk taat kepada hukum Allah bisa menjadi semacam kesombongan diri yang meremehkan orang-orang yang dianggap “tidak suci”, dan membatasi Allah pada golongan kita saja (3:27–31). Dalam perikop kita, dia kembali ke asal usul umat Allah, yaitu Abraham, untuk menelusuri bagaimana sikap yang sebenarnya terhadap kasih karunia Allah (4:1). Andaikan Abraham dibenarkan oleh perbuatannya, dia memiliki alasan untuk bermegah. Tetapi ternyata tidak demikian adanya (4:2).

Untuk memahami bagaimana Abraham dibenarkan, Paulus merujuk pada Kejadian 15:6. Panggilan Abraham disertai dengan janji Allah mengenai berkat bagi semua bangsa dunia dalam Kejadian 12:1–3 (bdk. Rom 4:13). Tetapi, pada awal Kejadian 15, Abraham mengeluh bahwa isterinya masih mandul, dan Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham, yakni pewaris janji berkat itu, akan menjadi sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 15:5). Abraham percaya kepada janji Tuhan itu, dan kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran, sebagai status “tidak bersalah”. Iman, bukan perbuatan, menjadi pertanda bahwa Abraham diterima sepenuhnya oleh Allah. Tentu, dasar untuk penerimaan atau pembenaran itu darah Kristus tadi (3:25a; jalan pendamaian itu berlaku surut, lihat 3:25b).

Paulus menegaskan maksudnya dalam aa.4–5. Andaikan kita diterima oleh karena perbuatan kita, maka kebenaran—status “tidak bersalah” dan diterima sepenuhnya di hadapan Allah—menjadi hak kita. Tetapi yang benar ialah bahwa kita adalah orang-orang durhaka, orang-orang yang tidak tahu diri di hadapan Allah. Orang-orang durhaka termasuk orang-orang yang jelas berbuat jahat, tetapi juga termasuk orang-orang yang berani menganggap bahwa semestinya Allah itu puas dengan ibadah yang terburu-buru dan doa-doa darurat saja. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berbuat apa-apa yang membuat kita layak diterima oleh Allah.

Jadi, sama seperti Abraham, kita diterima karena kita percaya akan janji Allah, yaitu, janji bahwa darah Kristuslah yang menjadi jalan pendamaian. Tersirat dalam iman ini ada beberapa hal.

1) Kita mengakui bahwa dosa itu begitu buruk, sehingga Kristus harus disalibkan untuk melepaskan kita dari kuasanya. Seseorang yang dengan santainya mau berkancang dalam dosa belum beriman, dan tetap menuju hukuman kekal (2:4–5).

2) Kita mengakui bahwa kita tidak sanggup melepaskan diri dari kuasa dosa, sehingga kita hanya dapat mengandalkan darah Kristus saja. Dengan demikian, bermegah dalam kesalehan pribadi dan meremehkan sesama yang kelihatan lebih kacau adalah kesombongan yang konyol dan berbahaya.

3) Kita mensyukuri kasih karunia Allah yang sungguh-sungguh diberikan dengan cuma-cuma. Sama seperti tanah yang mau dihibahkan tinggal diterima, tidak ada biaya tambahan kalau namanya hibah, penebusan oleh Kristus tinggal diterima dengan syukur. Hidup kita tentu akan berubah, karena kita menyadari keburukan dosa dan mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk berubah, tetapi perubahan hidup itu adalah hasil dari penerimaan Allah, bukan dasar.

Maksud bagi Pembaca

1. Darah Kristus adalah jalan pendamaian yang kita imani.

Penjelasan: Penguraian tentang kisah Allah dan manusia yang telah disampaikan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa hanya dalam darah Kristus saja, kita dapat diterima sepenuhnya oleh Allah.

Penerapan: Jeleknya dosa ditegaskan, yang mengakibatkan jalan pendamaian yang begitu ekstrem, yaitu Anak Allah harus menderita pada salib (bdk. aplikasi pertama di bawah).

2. Bahkan tokoh PL seagung Abraham hanya dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatannya (aa.1–3).

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.1–3.

Penerapan: iman yang sejati akan bermegah dalam Kristus, bukan dalam diri sendiri (bdk. aplikasi kedua di bawah).

3. Imanlah yang menentukan, karena hanya iman yang dapat menerima kasih karunia Allah (aa.4–5)

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.4–5.

Penerapan: Mensyukuri kasih karunia itu (bdk. aplikasi ketiga di bawah).

Makna

Jika bukan iman yang sejati yang menentukan, ada dua bahaya. Yang pertama ialah bahwa keinginan buruk yang menentukan. Gereja menjadi kedok untuk keserakahan, gengsi, predator, dsb. Kelompok ini mungkin percaya dengan akal mereka akan pengampunan Allah, tetapi tidak memahami dalam hati bahwa dosa itu buruk.

Yang kedua ialah bahwa citra kesalehan yang menentukan. Gereja ini kelihatan beres, tetapi sebenarnya ada kesombongan rohani, sebagaimana dilihat dalam sikap remeh dan takut terhadap orang-orang kacau di luar benteng gereja; domba-domba yang hilang itu sama sekali tidak akan dicari. Kelompok ini sadar bahwa mereka tidak sempurna, tetapi menganggap bahwa usaha mereka adalah cukup untuk Allah membedakan mereka dari orang-orang lain. Kelompok ini suka mengeluhkan penyakit-penyakit sosial yang di dalamnya mereka tidak terlibat, dan menggosipkan kejatuhan orang-orang lain, sebagai bukti akan kebenaran mereka.

Sebaliknya, iman yang sejati akan dilihat dalam suasana jemaat yang semakin rendah hati dan penuh syukur oleh karena kasih karunia Allah. Dosa dalam diri sesama akan menimbulkan keprihatinan dan usaha pemulihan, bukan gosip yang menjatuhkan. Karya Allah di tengah kelemahan akan lebih disoroti daripada kelemahan itu sendiri, dengan kesadaran bahwa kita semua hanya berdiri oleh karena Kristus.


Rom 6:1-14 Persatuan dengan Kristus [06 Oktober 2013]

Oktober 1, 2013

Perikop ini terasa cukup “teologis”, bahkan terlalu teologis untuk jemaat yang “praktis” seperti di Toraja. Jelas bahwa khotbah dari perikop ini (bahkan renungan ini) tidak akan menggali segala kekayaan di dalamnya. Anggaplah bahwa fungsi dari bahan seperti perikop ini mirip dengan pengetahuan tukang motor. Saya dapat memakai motor tanpa terlalu memahami motor itu, tetapi pengetahuan itu dibutuhkan untuk merawat dan memperbaiki motor itu. Jika jemaat mogok dalam kebenaran, satu alasan untuk hal itu ialah karena identitas mereka dalam Kristus rusak. Banyak jemaat melihat salib sebagai sekadar lambang kekristenan, tanpa memahami bahwa salib dan kebangkitan Kristus adalah pusat cara orang percaya memandang dunia. Perikop ini membekali kita sebagai pelayan untuk membantu jemaat.

Penggalian Teks

Dalam pp.5–8 Paulus mau menjelaskan bagaimana pembenaran oleh iman berhasil membawa hidup baru yang tidak dihasilkan oleh hukum Taurat. Bingkai dari penguraian itu jaminan keselamatan di tengah penderitaan; tema ini diangkat dalam 5:1–11 dan dikembangkan dalam 8:18–39. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam 5:12, akar dari kondisi dunia itu dosa yang membawa maut. Maut merujuk pada segala kebusukan dan kerusakan terhadap ciptaan Allah yang baik, termasuk martabat manusia (3:23) dan relasi (1:29–31). Kematian fisik baru merupakan puncak dari seluruh proses itu di dunia ini, dan lambang dari keterpisahan kekal dari Allah dalam dunia mendatang. Taurat membongkar sifat dosa sebagai pelanggaran (5:20), tetapi cara Allah menguasai dosa dan maut bukan dengan Taurat melainkan kasih karunia di dalam Kristus (5:21). Rom 6:1–8:17 menguraikan cara itu, yaitu bagaimana kasih karunia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut untuk melayani Allah, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat lagi (8:29, serupa dengan Kristus; bdk. 12:1–2) dan mampu berelasi (pp.12–14). Perikop kita menjelaskan dasar pembebasan itu dalam persatuan dengan Kristus. Rom 6:15–23 menegaskan bahwa hanya ada dua pilihan, Allah atau maut. Rom 7:1–8:17 menjelaskan bagaimana Roh yang membawa kuasa kebangkitan Kristus ke dalam kehidupan kita berhasil mengubah kita, sementara Taurat gagal karena sifat keberdosaan manusia (bdk. Rom 8:3–4, 11).

Paulus mulai dengan pertanyaan yang bisa saja muncul dari pernyataannya dalam 5:20: jika dosa menimbulkan kasih karunia, bukankah makin berdosa adalah cara menjadikan makin banyak kasih karunia (1)? Argumentasi ini agaknya sejajar dengan orang yang mau sakit karena pemulihan membawa sukacita. Tetapi Paulus mau mengejar sesuatu yang lebih dalam, yaitu persatuan dengan Kristus. Persatuan itu diwujudkan secara konkret dalam baptisan (3–4), sehingga identitas lama dianulir pada salib (5–7), dan kita dapat menempuh hidup kebangkitan bersama dengan Kristus (8–11).[1] Berdasarkan identitas yang baru di dalam Kristus itu, tubuh kita harus diserahkan kepada Allah, bukan kepada dosa (12–13).

Dalam aa.3–4, Paulus melandaskan identitas orang percaya pada suatu identifikasi orang percaya dengan Kristus dalam baptisan. Ketika Kristus mati pada salib, semua orang percaya turut mati; ketika Kristus dikuburkan, semua orang percaya turut dikuburkan; ketika Kristus bangkit, semua orang percaya turut bangkit ke dalam hidup yang baru. (Kebangkitan itu disebut “oleh kemuliaan Bapa” mungkin karena di situlah kemuliaan Allah yang hilang dipulihkan kembali.) Bagaimana caranya kita bersatu dengan Kristus dijelaskan dalam kedua bagian berikut.

A.5 sepertinya mengulang aa.3–4, tetapi ada unsur baru dengan bahasa “menjadi satu dengan apa yang sama” dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Kata “menjadi satu dengan” (sumfutos) dipakai untuk penyatuan dua hal (misalnya, kedua bagian tulang yang patah, atau benih dan semak yang bertumbuh bersama dalam Luk 8:7), termasuk sifat orang yang menyatu dengan orangnya. Kata ini menunjukkan bahwa baptisan membawa perubahan yang makin melekat pada diri kita, bukan sekadar perubahan status. Kata “apa yang sama dengan” (homoioma) menunjukkan bahwa ada aspek tertentu dari kematian dan kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Soal kematian diuraikan dalam aa.6–7. Yang mati bersama dengan Kristus bukan tubuh jasmani kita, melainkan “manusia lama” kita. Manusia lama itu Adam (5:12 dst), artinya, sifat dalam diri kita yang seperti Adam yang dikuasai oleh dosa dan maut itu. Kuasa dosa di sini bukan kuasa berdasarkan kekerasan atau pemaksaan, tetapi sikap dalam hati bahwa saya berhak untuk mencari kepentingan saya dengan cara apapun. Hanya pelanggaran ini yang dapat mengobati luka batin saya, atau menjawab kebutuhan saya, kata hati manusia lama itu. Dengan demikian, kuasa atas kehidupan saya diserahkan kepada dosa dengan sukarela, dengan akibat bahwa saya menjadi hamba dosa. Tetapi, jika manusia lama itu turut disalibkan, semua tuntutan dosa itu tidak berlaku lagi. “Tubuh dosa”, yaitu otot dan saraf dan otak yang terpola dalam kebiasaan-kebiasaan buruk, tidak sah lagi. Seperti dikatakan dalam a.7, kematian mengakhiri semua kewajiban selama hidup, dan penyaliban manusia lama mengakhiri ikatan kita terhadap dosa. Tentu, jika kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, adalah bodoh untuk bertekun di dalamnya. Sebaliknya, kita menjadi satu dengan kematian itu, artinya, makin menghayati bahwa pola-pola lama itu sudah ditinggalkan pada salib Kristus.

Aa.8–11 menjelaskan aspek apa dari kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Yang dibangkitkan bersama dengan Yesus belum tubuh jasmani kita, melainkan pola hidup. Manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus, sehingga sekarang kita dapat hidup bersama dengan Dia (8). Kristus mati untuk mengalahkan maut (9) dan untuk memecahkan masalah dosa (10), dan Dia hidup bagi Allah. Dengan demikian, adalah rancu jika kita mengaku hidup dengan Kristus tetapi tetap mau hidup dalam dosa (11).

Aa.12–14 mengaku bahwa pengaruh dosa belum juga hilang. Di dalam Kristus tetap ada kemungkinan untuk kita berdosa, tetapi “sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup”, ada juga kemungkinan untuk melayani Allah (13), dan justru pilihan itulah yang cocok bagi orang di bawah kasih karunia (14). Dalam pilihan itu, Paulus berbicara tentang “anggota-anggota tubuh” dan “diri”, karena bagi dia, manusia bukan sekadar motivasi, dan bukan sekadar tindakan. Lebih lagi, dalam perang antara Allah dan dosa/maut, tubuh kita adalah senjata utama kita.

Dalam a.14, Paulus menyebut kembali hukum Taurat, yang justru tidak memampukan kita melayani Allah, sesuatu yang akan dia jelaskan dalam penguraiannya selanjutnya.

Maksud bagi Pembaca

Paulus memberi alasan untuk jemaat ikut dalam rencana Allah untuk mengalahkan dosa dan maut, dengan menjelaskan bagaimana di dalam Kristus kita ikut dalam pola mati-hidup yang dilalui Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasarnya, dengan makin beridentifikasi dengan kematian-Nya terhadap dosa sehingga rindu untuk hidup bagi Allah bersama dengan Kristus. Misi Allah menjadi tujuannya, bahwa perbuatan anggota-anggota tubuh kita adalah senjata yang melayani Allah atau kuasa dosa/maut. Jadi, di dalam Kristus berbuat baik dimungkinkan dan juga penting. Teologi Paulus tentang keberadaan kita di dalam Kristus mau mengubah pola pikir kita sehingga giat melayani Allah menjadi pilihan yang paling masuk akal. Dengan demikian, jemaat yang mogok dalam kebenaran dapat mulai bergerak kembali.

Makna

Pengandaian Paulus dalam penguraian ini ialah bahwa dosa adalah sesuatu yang buruk, yang terkait erat dengan maut sehingga kita mau luput daripadanya. Pertanyaan dalam a.1 kadangkala diajukan dalam bentuk yang cukup kasar, “ayo, kita di bawah kasih karunia dan bebas berdosa”. Paulus menjawab pemahaman itu dalam perikop berikutnya (6:15–23); kasarnya bahwa orang-orang seperti itu tidak beriman (betapapun mereka beragama) sehingga sedang menuju maut kecuali bertobat. Tetapi ada bentuk lebih halus dari a.1, yang telah mengalami bagaimana kasih karunia Allah memang lebih berkuasa daripada dosa dalam diri dan dalam jemaat, dan mengakui dengan rendah hati bahwa kita semua adalah orang berdosa, tetapi dengan demikian tidak lagi giat melawan dosa dalam diri dan dalam jemaat. Kepada kedua kelompok ini, persatuan kita dengan Kristus menunjukkan bahwa dosa sama sekali tidak cocok lagi.

Paulus melihat baptisan sebagai lambang dari persatuan kita dengan Kristus, karena baptisan diadakan satu kali untuk selama-lamanya, sesuai dengan karya Kristus (10). Hari Minggu ini adalah Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Perjamuan Kudus memelihara persatuan itu. Dengan memakan roti dan anggur yang melambangkan kematian Kristus, kita diingatkan bahwa kehidupan kita telah menjadi kehidupan yang terpola oleh kematian dan kebangkitan Kristus.


  1. Dasar untuk pembagian itu adanya pola “jika…karena kita tahu…” dalam aa.5–6 dan aa.7–8 (ei gar/de + kalimat + partisip dalam bahasa Yunani).


Rom 10:14-21 Diutus supaya ada iman timbul dari pendengaran [29 September 2013]

September 23, 2013

Perikop ini tidak sederhana, dan saya telanjur menelusuri beberapa pertanyaan saya dan akhirnya enggan memangkas hasilnya. Maksud dan Makna menyampaikan beberapa hal pokok dan penting bagi pembaca yang terburu-buru.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak atas Ismael dan Yakub atas Esau. Kemudian (9:24–29), Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang manusiawi. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30–10:4). Kemudian (10:4–13), Paulus menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan perikop kita menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Konteks ini penting untuk memahami aa.16–21. Aa.14–15 dengan jelas menguraikan rangkaian kejadian yang harus dilalui supaya baik Israel maupun bangsa-bangsa dapat menerima keselamatan: berseru mengandaikan percaya; percaya mengandaikan mendengar, mendengar mengandaikan pemberitaan, dan pemberitaan mengandaikan pengutusan. Mungkin saja Paulus menegaskan rangkaian itu untuk mendukung permintaannya supaya mereka membantu dia dalam misinya ke Spanyol (15:24). Tetapi, dalam aa.16–21 dia kembali ke masalah penolakan Israel. Aa.16–18 menegaskan bahwa Israel telah mendengar, dan aa.19–21 menegaskan bahwa Israel sudah diberitahu tentang adanya fase baru dalam rencana keselamatan Allah.

Adanya penolakan bukan hal yang baru dalam sejarah Israel, sebagaimana dilihat dalam beberapa kutipan dari Yesaya dalam pp.9–11 ini. A.15b mengutip Yes 52:7, di mana pemberitaan tentang keselamatan Israel dari pembuangan dipuji. A.16 mengutip lanjutannya dalam Yes 53:1, di mana Israel tidak percaya akan pemberitaan itu. Bagi Paulus, pengalaman Yesaya tidak hanya sejajar dengan pengalaman Paulus sendiri, tetapi juga Yesaya 53 itu menceritakan Hamba Tuhan sebagai sarana keselamatan, dan Kristus adalah Hamba Tuhan itu. Yesus sebagai Mesias Israel masuk dalam pembuangan Israel pada salib (kematian), dan kembali dari pembuangan pada hari ketiga (kebangkitan), dan dengan demikian membuka keselamatan juga bagi bangsa-bangsa (Yes 55:4–5 & 56:6–8, bdk. Yes 2:1–4). Yesaya berbicara juga tentang zaman Paulus. Yang menarik di sini, dalam Yes 53:1 Israel tidak percaya, tetapi dalam ayat sebelumnya, ada dari bangsa-bangsa yang memahami (Yes 52:15). Makanya, saya menafsir a.16 ini pertama-tama tentang Israel, walaupun tentu penolakan tidak dibatasi pada Israel saja.

A.17 menarik suatu kesimpulan dari kutipan Yesaya itu: orang akan percaya jika mendengarkan pemberitaan kabar baik tentang keselamatan, yaitu, dalam konteks Paulus (dan kita), firman tentang Kristus. Kesimpulan Paulus itu dibantu dalam bahasa aslinya, karena satu kata (Yunani: akoe) dipakai untuk “pemberitaan” dalam a.16 dan “pendengaran” dalam a.17. Pemberitaan di sini berarti penerusan pesan yang sudah didengar.

A.18 dan a.19 mulai dengan nada perlawanan, “tetapi aku bertanya” (Yunani: alla lego, “tetapi aku mengatakan”). A.18 agak sulit. Sepertinya Paulus mau mengatakan bahwa orang-orang Israel telah mendengar tentang Kristus. Jika kita melihat pelayanan Paulus saja, dia selalu mengunjungi tempat ibadah Yahudi dulu (bdk. 1:16). Jadi, memang orang Israel telah mendengar firman tentang Kristus. Hanya, kata “mereka” dalam Mzm 19:5 yang dikutip di sini merujuk bukan pada para pemberita Kristus melainkan pada ciptaan-ciptaan Allah sebagai pemberita tentang kemuliaan-Nya (Mzm 19:2). Mungkin Paulus mengutipnya, karena dalam Mazmur 19 sendiri, “suara” ciptaan itu digenapi dan diperjelas dalam firman Taurat (19:8–11), dan bagi Paulus Kristus adalah kegenapan Taurat itu (10:4).

Jika a.18 menegaskan bahwa sebenarnya Israel mendengar, a.19 menegaskan bahwa mereka “menanggapnya”. Secara harfiah, pertanyaan itu berbunyi, “Sungguhkah Israel tidak tahu/paham?”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka mengetahui atau menanggap. Dari khotbah Musa kepada Israel yang mau masuk tanah perjanjian (Ul 32:21), Paulus mengutip nubuatan bahwa Tuhan akan menghukum umat Israel yang memberontak dengan bangsa asing. Dalam konteks Paulus, caranya lebih halus—Injil ditawarkan dan diterima oleh bangsa-bangsa itu—tetapi unsur hukuman tetap ada. Aa.20–21 menyampaikan hal yang sama dari Yesaya. Allah memiliki rencana yang di luar dugaan manusia untuk menjangkau orang asing lebih dahulu daripada orang Israel. Tema itu yang dikembangkan dalam p.11, mulai dengan penegasan bahwa sekalipun demikian, Allah bukan telah menolak umat-Nya (11:1).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Roma ikut mengutus dia sebagai pemberita kabar baik, supaya orang lain dapat percaya dan berseru dan diselamatkan (14–15). Karena dasarnya adalah rencana keselamatan dari Allah, termasuk kebutuhan manusia untuk percaya dalam hati dan mengaku (berseru) dengan mulut, kedua ayat ini tetap mendorong kita untuk mengutus orang ke dalam berbagai ladang pelayanan.

Aa.16–21 merupakan peralihan ke soal Yahudi dan bangsa-bangsa dalam rencana Allah dalam p.11. Walaupun aa.16–18 pertama-tama merujuk pada Israel, kita tetap bisa melihat implikasi bahwa, meskipun suatu kelompok sudah banyak mendengar Injil, tidak semua akan menerima kabar baik itu. Ingat bahwa maksud Paulus di sini bukan perlunya beragama, karena orang Israel yang menolak Yesus tetap beragama, tetapi percaya dan berseru (mengaku dengan mulut) kepada Kristus. Jika suku Toraja rata-rata beragama kristen, hal itu tidak menjamin bahwa semua telah menerima kabar baik itu.

Aa.19–21 mungkin terasa semakin sulit dimaknai, karena seakan-akan membahas suku Israel saja dalam rencana Allah. Di balik diskusi itu, walaupun tidak muncul di sini, adalah persoalan yang penting bahwa penolakan Israel menimbulkan tanda tanya tentang kesetiaan Allah kepada Israel (9:6a). Jika Allah tidak setia kepada Israel, apakah Dia akan setia kepada jemaat? Jadi, adalah penting Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak berubah setia dan rencana-Nya tidak goyah. Tetapi mungkin ada implikasi lagi, atau paling sedikit suatu pola yang sering terlihat di dalam sejarah gereja, di mana mereka yang menganggap diri di pusat, seperti Israel pada saat itu atau gereja-gereja mapan di Indonesia sekarang, sering dipinggirkan oleh Allah dalam kesombongan rohani mereka, dan yang di pinggir menjadi ujung tombak misi Allah di dunia. Paling sedikit, sejarah gereja adalah sejarah yang di dalamnya “pusat” menjadi bobrok, dan “pinggir” menjadi pusat baru. Pikirkan saja kekristenan Barat sekarang.

Makna

Jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, maka iman yang dia maksud di sini bukan semangat hati atau perasaan religius yang berdiri mandiri dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang bergantung sepenuhnya pada objeknya. Sebagai contoh akan jenis pertama tadi, saya bisa memompa keyakinan saya bahwa obat ini akan manjur; keyakinan itu tidak bergantung pada siapa-siapa di luar diri saya. Sebaliknya, jika saya mengimani sabda sang dokter bahwa obat ini akan berguna, keyakinan saya bergantung pada dia, bukan pada diri saya. Iman yang sejati kepada Kristus tidak akan berdaya kecuali Kristus berada sebagaimana Dia diberitakan dalam firman Tuhan. Makanya, iman itu hanya timbul dari luar, dari kabar baik yang diberitakan dan didengarkan, dan tidak berasal dari diri sendiri.


Roma 7:13-26 Hukum tak berdaya [2 Juni 2013]

Mei 26, 2013

Saya minta maaf, penjelasan kali ini juga panjang. Tentu saja, bahannya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan di dalam khotbah. Tetapi, pada hemat saya, bahannya tidak melebihi apa yang berguna untuk dipahami oleh seorang pelayan yang mengaku mengenal Alkitab, lebih lagi kalau pelayan itu ada di dalam aliran Kalvinis yang menjadikan kitab Roma sebagai salah satu dasar utama untuk teologinya. Isi perikop ini penting. Ketika kita menangkap bahwa dosa tidak sekadar soal pengetahuan dan niat, tetapi juga menyangkut “dosa yang diam di dalam aku”, kita mulai mengerti mengapa Injil menjadi dasar bukan hanya untuk orang menjadi percaya tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.

Penggalian Teks

Pengantar. Perikop kita adalah salah satu perikop pokok tentang hukum Taurat, yang tentunya adalah dasar yang mutlak bagi orang Yahudi dalam menghayati status mereka sebagai umat Allah. Status sebagai umat Allah adalah satu hal yang dipersoalkan dengan bahasa “pembenaran”. Orang yang dinyatakan benar oleh Allah dengan demikian menjadi anggota umat-Nya. Bagi orang Yahudi, hal itu terjadi dengan sunat, dan dipertahankan dengan memelihara hukum Taurat. Tetapi, dalam Kristus, Paulus mengatakan bahwa pembenaran itu dinyatakan “tanpa hukum Taurat” (3:21), melainkan melalui iman. Namun, Paulus tetap mengklaim bahwa orang yang beriman akan meneguhkan hukum Taurat (3:31)! Hal itu membingungkan, karena dalam 2:27 orang yang melakukan hukum Taurat adalah orang yang tidak bersunat, padahal sunat adalah salah satu perintah Taurat. Maksud Paulus soal itu baru dijelaskan dalam 13:8-10, yaitu, Taurat yang berlaku bagi orang percaya ialah hukum kasih. Orang Yahudi membedakan perintah-perintah demi Allah (termasuk tentang kenajisan dan sunat) dan perintah-perintah demi sesama. Secara garis besar, kita bisa mengatakan bahwa Paulus menawarkan Kristus sebagai cara baru untuk berelasi dengan Allah, menggenapi dan menggantikan perintah-perintah hukum Taurat demi Allah, supaya hukum kasih yang tidak berubah itu terlaksana. Muncullah pertanyaan, ada masalah apa dengan hukum Taurat sehingga harus digantikan, bukan sebagai pernyataan kehendak Allah, tetapi sebagai pengatur hidup bagi umat Allah?

Ringkasan penguraian sebelumnya. Dalam pp.5-6, soal hukum Taurat muncul-muncul. Jika dalam 5:11 kita bermegah dalam Allah, hal itu terjadi “oleh Yesus Kristus”, bukan oleh hukum Taurat (bdk. 2:17, 23). Mulai 5:12, Paulus menjelaskan sejarah dua ranah penguasa dalam kehidupan manusia. Pada satu pihak ada dosa dan maut yang didatangkan oleh Adam, pada pihak yang lain ada kasih karunia dan hidup yang didatangkan oleh Kristus (5:21). Paulus menjelaskan bahwa dosa dan maut berlaku sebelum hukum Taurat diberikan, tetapi tidak diperhitungkan (5:12-14). Dengan datangnya hukum Taurat, pelanggaran bertambah. Barangkali pelanggaran di sini lebih sempit artinya daripada dosa. Di dalam Adam, manusia berdosa karena tidak mengakui Allah sebagai Allah (Rom 1:18 dst), tetapi dengan adanya hukum yang jelas, sifat pemberontakan itu muncul dalam bentuk pelanggaran perintah.

Pasal 6 melanjutkan penjelasan tentang kedua ranah itu, sekaligus meletakkan dasar kristosentris (bukan taurat-sentris) untuk hidup bagi Allah. Menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan Kristus berarti mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Penjelasan itu menyangkut identitas, tetapi di dalamnya ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, dosa dikaitkan dengan tubuh. (Kita akan membahas di bawah apa maksudnya “tubuh” di sini.) Dalam 6:6, manusia (identitas) lama disalibkan, sehingga “tubuh dosa kita hilang kuasanya”. Hal itu memungkinkan “dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu” (6:11) tetapi sebaliknya “anggota-anggota tubuhmu” diserahkan kepada Allah (6:13). Yang kedua, anehnya, kuasa dosa dikaitkan juga dengan hukum Taurat (6:14). Sepertinya, hanya kasih karunia yang memungkinkan manusia luput dari kuasa dosa. Hal itu dijelaskan dalam p.7, tetapi sebelumnya Paulus menegaskan bahwa dua ranah itu—dosa/maut dan kasih karunia/hidup—memang adalah penguasa. Manusia tidak bisa otonom (tabe’ lako Aristoteles, budaya Barat dan budaya modern Indonesia), tetapi hanya bisa menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran, dengan ujungnya masing-masing yang jelas.

Dalam 7:1-4, Paulus melanjutkan pernyataannya dalam 6:14, dengan menjelaskan bagaimana kita dipindahkan dari otoritas hukum Taurat untuk menjadi milik Kristus. Mengapa harus demikian? Akhirnya dalam Rom 7:5-6 kita tiba pada suatu jawaban yang akan diuraikan dalam ayat-ayat berikutnya. Yang pertama, 7:5 mengantarkan diskusi dalam 7:7-26 yang akan menjawab pertanyaan tadi, yaitu apa yang kurang sehingga hukum Taurat harus diganti. Singkatnya, hawa nafsu dosa dirangsang oleh Taurat sehingga bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita. Yang kedua, 7:6 mengantarkan solusi yang akan ditawarkan dalam 8:1-14, yaitu hidup menurut Roh Kudus.

Jadi, perikop kita sebenarnya melanjutkan argumentasi yang dimulai pada 7:7-12. Nas itu menjelaskan bahwa hukum Taurat bukan penyebab dosa, tetapi dosa memakai hukum Taurat untuk membangkitkan berbagai keinginan yang tidak baik dan menipu manusia. Perintah hukum Taurat “kudus, benar dan baik” dan sangat andal untuk kita mengenali dosa. Namun, adanya hukum Taurat tidak hanya membuat dosa menjadi pelanggaran (5:20), tetapi juga membangkitkan sikap keberontakan itu. Perikop kita mulai dengan penjelasan bahwa dengan demikian, sifat dosa makin ketahuan. Dosa begitu jahat sehingga hukum Taurat yang kudus bisa diperalat.

Penjelasan alur perikop. Tetapi, mengapa dosa bisa menyalahgunakan Taurat demikian? Ada apa dengan manusia sehingga hukum Taurat yang kudus merangsang hawa nafsu dosa dan membangkitkan berbagai keinginan dosa? A.5 telah menyebutkan “hidup di dalam daging” (bahasa Yunani: sarx), dan perikop kita menjelaskan kondisi daging/sarx itu. Intinya dalam a.14, yaitu bahwa hukum Taurat dan kondisi manusia bertentangan, antara rohani dengan “duniawi” (kata di sini sarkinos, “bersifat daging”). Searah dengan apa yang disampaikan dalam 6:15-23 dengan bahasa “hamba dosa”, di sini Paulus mengatakan bahwa manusia “terjual di bawah kuasa dosa”. Sama seperti seorang hamba, mau tidak mau, manusia akan mengikuti jalan dosa. Hal itu dijelaskan dalam tiga langkah. 1) Kehendak dan perbuatan tidak searah (15-16). 2) Hal itu terjadi karena perbuatan itu menuruti bukan kehendak “aku” melainkan dosa yang diam di dalam sarx-ku (17-20; sarx dalam a.18 diterjemahkan “aku sebagai manusia”). 3) Oleh karena itu, dalam aa.21-26 “terjual di bawah kuasa dosa” malah berarti “menjadi tawanan hukum dosa” (23), sehingga yang dibutuhkan adalah pelepasan dari “tubuh maut” (24). Dengan demikian, Paulus telah membuktikan bahwa hukum Taurat “tak berdaya oleh daging” (8:3).

Penjelasan bahan berikutnya. Kristus dan Roh Kudus menjadi solusi Allah terhadap pergumulan itu. Kristus datang dalam sarx/daging seperti kita, hanya tanpa dosa, sehingga dalam kematian-Nya dosa yang diam di dalam daging itu dihukum (8:3). Dalam 8:5-6, ada dua sumber pemikiran (froneo) dan keinginan (fronema), yaitu sarx/daging dan Roh. Froneo/fronema itu merujuk pada maksud dan tujuan hidup. Berbeda dengan 7:26 yang membedakan akal budi dan tubuh, di sini sarx/daging justru terkait dengan akal budi. Jadi, pembaruan pemikiran oleh Roh belum menjawab persoalan di atas. Baru dalam 8:9-11, Paulus menjelaskan bahwa kuasa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan memulihkan tubuh berdosa, sehingga kita mampu melakukan 6:4, 11. Caranya adalah mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh kuasa Roh, sehingga kita hidup (8:13; bdk. 6:12-13). Perjuangan itu berarti karena di dalamnya kita menghayati status kita sebagai anak dan ahli waris Kerajaan (8:14-17) yang di tengah dunia yang sulit (8:18-25) Allah bekerja untuk kebaikan kita dengan menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya, Yesus (8:26-30).

Maksud bagi Pembaca

Dosa tidak bisa dihilangkan dengan kehendak saja. Tujuan Paulus adalah pertama-tama pemahaman tentang kuasa dosa dalam manusia yang begitu besar sehingga bahkan hukum Allah tidak berdaya terhadapnya. Kuasa dosa itu berakar dalam daging. Kebiasaan-kebiasaan buruk, prasangka-prasangka yang mengaburkan persepsi, cita-cita yang diserap dari dunia, semuanya telah menjadi bagian dari sistem saraf, hormon, dan penataan otak yang merusak kemampuan kita untuk mengasihi sesama. Makanya, kehendak tidak cukup untuk mengatasi kuasa dosa. Oleh karena itu, solusi terhadap hidup yang kacau bukan hukum melainkan kuasa Roh, yaitu, belajar untuk memandang diri dan dunia sesuai dengan Injil (8:3-6) dan mengandalkan kuasa Roh di dalam tubuh (8:11) untuk bekerja di dalam dan melalui pertobatan kita yang terus-menerus (8:12-13).

Dengan kata lain, Paulus merendahkan orang yang bermegah dalam hukum Taurat, seakan-akan pengetahuan akan perintah dan niat yang baik akan cukup untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dia mau supaya kita berseru kepada Tuhan agar pelepasan dalam Kristus menjadi milik kita. Pelayanan yang mengutamakan perintah akan membuat orang cemas atau munafik. Pelayanan yang menawarkan segala bekal Allah untuk perubahan batin akan memberi kesempatan untuk pertobatan dari dalam.

Makna

Di antara begitu banyak yang dapat dikatakan, saya hanya mau menyoroti soal: tubuh, daging, dan jaraknya antara kehendak dengan perbuatan.

Pertentangan Paulus bukan antara jiwa yang baik atau kekal atau ilahi dengan tubuh yang kotor dan fana dan duniawi. Tubuh adalah manusia dilihat sebagai makhluk yang bertindak dalam dunia. Hanya dengan tubuh saya dapat mengasihi sesama ataupun berbuat jahat terhadapnya. Namun, manusia adalah juga manusia yang dapat berpikir. Tindakan menyatakan maksud yang tidak kelihatan, yang tidak dapat diketahui kecuali oleh pelaku sendiri. Hal itu dilihat dalam bahasa aslinya untuk “batin”, yaitu “manusia dalam”. Istilah “manusia dalam” menunjukkan bahwa batin dan akal budi dilihat sebagai aspek manusia yang utuh, bukan jiwa yang dapat terpisah. Bahwa Paulus tidak membagi manusia dapat dilihat juga dalam 8:5, karena dalam ayat itu pikiran juga dapat bersifat daging! Dalam 8:11, kita melihat bahwa Allah bermaksud bukan untuk melepaskan jiwa dari tubuh berdosa melainkan memulihkannya, supaya seluruh tubuh menjadi persembahan yang kudus (12:1).

Kata sarx berarti daging, tetapi juga dipakai untuk manusia yang rentan dan fana. Misalnya, dalam Yes 40:6 “manusia seperti rumput”, kata “manusia” menerjemahkan Ibrani basar yang merupakan padanan Yunani sarx. Makanya, kata sarx diterjemahkan dengan “manusia” dalam a.18 (“di dalam aku sebagai manusia”), dan “insani” dalam a.26. Soalnya, terjemahan itu memberi kesan bahwa manusia pada hakikatnya berdosa. Maksudnya lebih jelas jika terjemahan itu menjadi “sebagai manusia yang rentan”. Kedua ayat itu mengangkat sarx sebagai istilah Paulus untuk berbicara tentang manusia, dilihat sebagai makhluk yang rentan terhadap atau dikuasai oleh dosa. Bedanya dengan “tubuh” ialah bahwa tubuh dosa dapat dipulihkan Roh sehingga anggota-anggotanya melayani Allah, tetapi sarx itu perlahan-lahan harus dimatikan (8:13).

Mengapa keputusan atau niat untuk berbuat baik tidak cukup? Bayangkan ada rekan yang lebih berhasil dari saya dalam sesuatu yang penting bagi saya, anggaplah berkhotbah. Saya pasti tahu bahwa semestinya saya bersyukur atas karunia Roh yang ada pada dia, dan tetap bersyukur atas karunia yang ada pada saya, walaupun sepertinya tidak sebaik dia. Tetapi, otak saya sudah terlalu terbiasa membuat perbandingan, dan rasa berguna saya terlalu lama terikat dengan kegiatan itu, karena setiap kali berkhotbah dengan baik ada pola tegang menjadi lega, khawatir menjadi senang, dan sebagainya, yang membuat kegiatan itu penting bagi saya. Keputusan untuk senang bisa saja muncul dalam kata-kata, tetapi tidak akan muncul dalam wajah dan bahasa tubuh. Bahkan kata-kata saya tidak akan menjadi pujian yang kreatif karena tubuh dosa atau kedagingan merongrong niat baik itu. Reaksi saya bukan kehendak saya, melainkan reaksi dosa yang diam di dalam saya, namun tetap merupakan penghinaan terhadap karunia Allah dan pencurian penguatan kepada yang bersangkutan, yang berasal dari diri saya dan yang atasnya saya harus bertanggung jawab. (Tentu ada juga niat yang buruk, yang statusnya sebagai dosa jelas, tetapi dalam perikop ini Paulus berbicara tentang kasus yang lebih halus.)

Semoga Roh Kudus bekerja dalam anggota-anggota tubuh saya sehingga reaksi emosional, nada suara, mimik wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain, semakin menjadi saluran kasih Allah yang tidak dirongrong oleh tubuh dosa itu.


Rom 3:21-31 Darah Yesus mewujudkan kasih karunia Allah (14 Okt 2012)

Oktober 10, 2012

Minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sekelompok kaum wanita apakah mereka suka jika suami hanya asal mendengar ketika istrinya sedang berbicara. Tidak ada yang suka, ternyata. Minggu ini, saya menguraikan secara terperinci perikop ini sebagai satu cara untuk mau mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Khususnya, saya memberi banyak perhatian pada aa.22-26 yang berbicara tentang apa yang dilakukan Allah di dalam Kristus. Penguraiannya agak panjang karena untuk menjelaskan maksud Paulus di sini saya harus melihat penguraian sebelumnya dan juga menyoroti bahasa aslinya. Mungkin saja sebagian detailnya berlebihan untuk kebutuhan Pembaca. Tetapi saya berharap bahwa merenungkan karya Allah tidak menjenuhkan, dan memberitakan karya itu dari mimbar akan dianggap kesempatan yang menyemangati.

Penggalian Teks

Paulus berharap bahwa jemaat Roma yang belum pernah dia kunjungi itu dapat mendukung dia untuk melanjutkan misi ke Spanyol, sehingga dia menyampaikan uraian yang paling sistematis dari semua suratnya tentang Injil yang dia beritakan. Namun, suratnya tetap memperhatikan kondisi jemaat sejauh mana dia memahaminya, khususnya soal Yahudi dan non-Yahudi di dalamnya (bdk. p.14). Orang Yahudi suka bermegah dalam Allah berdasarkan hukum Taurat, yang memampukan mereka “tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik” dan mengajar orang lain (2:17-20). Berbeda dengan orang lain, orang Yahudi mengerti bahwa Allah itu esa, dan bahwa kejahatan manusia terjadi karena manusia menyembah makhluk ketimbang Sang Pencipta (1:25), sehingga manusia kehilangan martabat (1:26-31) dan layak dimurkai (1:18, 32). Tetapi Paulus membuktikan bahwa Taurat—meskipun itu adalah firman Allah sendiri (3:2)—tidak memberi jalan keluar soal itu. Israel sendiri tahu tentang dosa, tetapi tetap melakukannya (2:21-24), karena hati belum diubahkan (2:29). Kesimpulan radikal Paulus ialah bahwa Taurat sekadar memperjelas dosa, tetapi tidak sanggup menjadi dasar untuk Allah membenarkan seseorang, artinya, meluputkannya dari hukuman-Nya.

Di balik soal pembenaran manusia, ada juga pertanyaan tentang kebenaran (dikaiosune) Allah. (Istilah itu muncul dalam a.21, dan juga dalam aa.225-26 dengan terjemahan “keadilan”.) Jika bahkan Israel tidak dapat luput dari hukuman Allah, bagaimana Dia dapat setia terhadap janji-janji-Nya kepada Israel (3:1-8)? Pertanyaan tentang nasib manusia berdosa juga adalah pertanyaan tentang maksud Allah bagi umat manusia.

Tetapi syukur bahwa hukum Taurat bukan bab terakhir dalam rencana keselamatan Allah. Adanya tahap baru ditandai dengan kata “sekarang”. Tahap ini disaksikan oleh PL, tetapi tidak bergantung pada Taurat (21). Dalam aa.22-26, Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Kristus Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan cara yang menggenapi janji-janji-Nya. Dalam aa.27-30 Paulus menunjukkan bagaimana cara itu meniadakan kemegahan orang Yahudi, sehingga Allah dinyatakan sebagai Allah bagi semua orang.

A.22a merupakan pernyataan singkat tentang kebenaran Allah itu, dan ada dua soal tafsiran yang perlu dibahas di sekitar frase “karena iman dalam Yesus Kristus”. Yang pertama, kata “karena” hanya dipakai karena TB alergi kata “melalui” (dia + genitif). Ada metafora pengaliran di sini. Sumbernya kebenaran Allah, dan tujuannya “semua orang yang percaya”. Salurannya (pisteos Iesou Khristou) bisa ditafsir “iman dalam Yesus Kristus” atau “kesetiaan Yesus Kristus”. Pemula bahasa Yunani mengenal artian “iman” untuk kata pistis, tetapi kata itu juga dapat berarti “kesetiaan”, seperti dalam 3:3 (“kesetiaan Allah”). Jika “iman dalam Yesus Kristus” yang diterima, maka iman dilihat sebagai cara untuk menerima pembenaran Allah, dan tujuannya adalah semua orang percaya. Jika “kesetiaan Yesus Kristus”, maka karya Kristus dilihat sebagai cara Allah mewujudkan kebenaran-Nya, dan iman tetap adalah caranya untuk menerimanya. Kedua tafsiran itu menyatakan sesuatu yang benar, dan kedua artian dijelaskan di bawah.

Aa.22b-24 menjelaskan hal “semua yang percaya”. Hal “semua” dilihat dari dua segi: semua di bawah dosa dan dirusak oleh dosa (22b-23), dan semua dapat dibenarkan oleh anugerah. Pembenaran adalah lawan dari hukuman, karena pembenaran berarti bahwa Sang Hakim telah menyatakan terdakwa tidak bersalah. Tetapi di balik hukuman dan pembenaran ada sikap Allah: murka dan kasih karunia (anugerah). Murka adalah wujud kecemburuan Allah terhadap segala yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kasih karunia adalah sikap mendasar Allah. Dia menciptakan manusia dengan cuma-cuma. Di hadapan dosa manusia, Dia memanggil Abraham dengan cuma-cuma, menebus Israel dari perbudakan di Mesir dengan cuma-cuma, dan “sekarang” menawarkan pembenaran dengan cuma-cuma. Pembenaran itu muncul dari sikap kasih karunia itu, dan caranya ialah melalui (kembali dia + genitif) penebusan di dalam Kristus. Jika hal itu digabungkan dengan yang di atas, ada mata rantai seperti ini: kasih karunia Allah adalah motivasi Allah untuk membenarkan, pembenaran dihasilkan melalui kesetiaan Kristus untuk menebus, pembenaran/penebusan diterima oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum Taurat.

Aa.25-26 menjelaskan bagaimana proses itu menunjukkan kebenaran (dikaiosune) Allah. Kata itu di sini diterjemahkan “keadilan”, karena yang dipersoalkan di sini ialah bagaimana Allah dapat membenarkan orang yang bersalah. Dan memang itulah yang terjadi: dalam 4:5 Paulus mengatakan dengan jelas bahwa Allah “membenarkan orang durhaka”. Untuk menjawab hal itu, Paulus menyamakan Yesus dengan hilasterion (“jalan pendamaian”) dalam Kemah Suci dalam Taurat. Hilasterion dipakai untuk mezbah yang ada di kemah inti yang hanya dipakai setahun sekali pada hari Pendamaian (Imamat 16). Pada saat itu, semua dosa Israel dihapus sehingga Israel tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Jadi, Paulus menyampaikan bahwa Yesus, dalam kematian-Nya (“darah-Nya”) telah menjadi tempat dosa umat Allah dihapus. (Frase “karena iman” di sini, sama seperti tadi, dapat berarti “melalui iman [kepada Yesus]” atau “melalui kesetiaan Yesus”.) Karena darah Yesus telah menghapus dosa, Allah tetap benar ketika Dia membenarkan umat-Nya sebelum Kristus datang, dan ketika Dia membenarkan orang berdosa yang percaya kepada Yesus (26).

Dalam aa.27-30, Paulus kembali ke soal kemegahan orang Yahudi dalam hukum Taurat (27a). Kemegahan itu sudah ditolak, karena pembenaran diterima dengan iman, bukan dengan perbuatan (27b-28). Hal itu menyetarakan orang Yahudi dengan bangsa-bangsa yang lain. Hal itu penting, karena Allah bukan hanya Allah orang Yahudi, Dia adalah Allah segala bangsa. Darah Yesus membuka jalan baik bagi orang bersunat (Yahudi) yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat, maupun bagi orang tak bersunat yang memang jauh dari Tuhan. Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham, yang menyangkut semua bangsa, digenapi (bdk. 4:13-17).

Akhirnya, dalam a.31, Paulus menegaskan bahwa cara Allah ini tidak hanya berhasil meluputkan orang dari hukuman, tetapi juga akan berhasil memulihkan martabatnya sebagai gambar Allah, sehingga dari hati yang baru dia menaati maksud dari hukum Taurat (2:26-29). Hal itu dijelaskan Paulus dalam pp.6-8, terutama berkaitan dengan peran Roh Kudus (bdk. 8:4).

Maksud bagi Pembaca

Melalui penjelasan tentang kasih karunia Allah yang menyediakan pembenaran melalui darah Kristus, kita diajak untuk sepenuhnya mengandalkan darah itu dalam iman kepada Kristus. Dengan demikian, Dia akan menjadi yang paling penting dan paling bermakna bagi kita, sehingga kemegahan-kemegahan yang lain tidak diandalkan lagi.

Makna

Ajaran Paulus di sini mudah-mudahan bukan hal yang baru bagi Pembaca yang menganut ajaran gereja Protestan, karena perikop ini menjadi salah satu dasar utama untuk sola gratia dan sola fide. Aa.27-31 dapat membantu kita untuk mengukur sejauh mana ajaran itu telah menjadi bagian dari pandangan dunia kita.

Yang pertama, dalam apa kita bermegah? Orang Yahudi bermegah dalam hukum Taurat, khususnya sunat, diet (tidak makan daging babi dsb), hari Sabat dan pergaulan. Orang Toraja sering bermegah dalam upacara, tongkonan dsb, dan pilihan-pilihan membuktikan bahwa sungguh hal-hal itu yang mengarahkan kehidupannya. Tetapi aktivis gereja kadangkala bermegah bahwa mereka adalah orang yang “beres”, bukan preman, bukan koruptor, bukan orang durhaka. Keagamaan menjadi kebanggaan akan diri sendiri. Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa orangnya belum menangkap sejauh mana dia kehilangan kemuliaan Allah, dan sejauh mana dia hanya dapat beribadah kepada Allah karena darah Kristus. Secara lebih halus, orang kristen kadang mengaburkan sumber pembenaran dengan bermegah dalam iman. Itu juga keliru. (Tabe’ lako MJ.) Iman adalah sekadar cara untuk menerima hasil dari penebusan Kristus. Orang yang beriman selalu akan bermegah dalam apa yang diimani, yaitu, “Allah oleh Yesus Kristus” (5:11).

Yang kedua, Allah kita Allah siapa saja? Mendengar doa syafaat dalam ibadah, Dia adalah Allah orang yang bergumul dan yang berulang tahun di lingkup jemaat, dan Allah pemerintah Indonesia (syukur sering ada unsur itu sesuai dengan 1 Tim 2:1-2). Allah zending tidak dibatasi pada orang Belanda saja, tetapi dianggap Allah orang Toraja/Indonesia juga, sehingga mereka mengutus tenaga untuk menghabiskan hidupnya jauh dari kampung halamannya. Syukur bahwa di Indonesia makin banyak yang sudah mengingat siapa Allah itu, sehingga mendukung pelayanan misi dalam berbagai bentuk.

Yang ketiga, orang yang dibenarkan meneguhkan hukum Taurat, dalam artian mengasihi Allah dan sesama. Sampai sekarang ada yang mengatakan, “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Jawab Paulus, “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” (3:10) Pembenaran adalah kesempatan untuk belajar berbuat baik, karena kesalahan masa lampau dihapus.


Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.