Rom 4:1-5 “Iman yang menentukan” [16 Mar 2014] (Minggu sengsara III)

Maret 10, 2014

Materi ini dicontek dari Membangun Jemaat, karena saya penulisnya. Perikop kita digabungkan dengan Kej 12:1–4 yang merupakan awal dari kisah Abraham, dan Yoh 3:1–17 yang merupakan padanan Roma 3–5 dalam beberapa hal: keselamatan oleh iman yang membawa ke hidup yang sejati. Yoh 3:3, 5 layak disimak: manusia tidak mampu dengan kuasa sendiri untuk memahami Injil.

Pembenaran oleh iman menjadi salah satu penggerak Reformasi. Mengapa? Karena para reformator yakin bahwa anugerah Allah lebih ampuh membuat manusia baik ketimbang teologi anugerah bercampur amal yang menjadi teologi operasional di Gereja pada zaman itu. Saya mau mengusulkan bahwa keyakinan itu dekat dengan inti identitas reformatoris-Calvinis.

Penggalian Teks

Ketika menulis surat ini kepada jemaat-jemaat di Roma, Paulus belum pernah ke sana, tetapi dia memiliki rencana untuk mengunjungi mereka, dengan harapan bahwa mereka bisa mendukung dia untuk bermisi ke Spanyol (15:28). Oleh karena itu, dia menjelaskan Injil yang dia beritakan. Injil itu mengumumkan tahap terakhir yang menentukan dalam kisah Allah dengan manusia. Manusia telah membelakangi Sang Khalik dan memilih menyembah dewa-dewa buatan sendiri serta menuruti keinginan-keinginan yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama (1:18–31). Oleh karena itu, pada pengadilan segenap umat manusia di akhir zaman, manusia berdosa akan dinyatakan “bersalah” oleh Sang Hakim dan dihukum (2:1–16). Allah kemudian memanggil Israel untuk menjadi percontohan bagi dunia, dan memberikan hukum Taurat supaya mereka tahu akan jalan yang benar (3:2), tetapi mereka pun gagal menaati Allah (2:24), sehingga segenap umat manusia menderita di bawah kuasa dosa (3:9b). Selaku Pencipta dunia yang baik, Allah harus menindak para perusak dunia itu. Tetapi, Dia juga Allah yang mau memberi kesempatan bagi manusia untuk diselamatkan (1:16).

Hikmat manusia tidak akan sampai pada sebuah jalan keluar, tetapi syukurlah bahwa Allah itu penuh hikmat dan kasih. Solusi Allah terhadap kondisi manusia yang mencemaskan itu disampaikan dalam 3:21–26. Allah mengutus Kristus untuk menjadi jalan pendamaian. Sebagai Hakim yang adil, Dia telah menghukum dosa di dalam Kristus sebagai pengganti kita pada salib, supaya kita dapat dibenarkan—dinyatakan “tidak bersalah” di dalam pengadilan pada akhir zaman oleh Sang Hakim—jika kita percaya kepada-Nya. Injil mengumumkan karya Allah yang penuh hikmat dan kasih itu, dan memanggil kita untuk menerima kasih karunia Allah itu dengan iman.

Tetapi, bagaimana kasih karunia dan iman itu? Sebagai orang Yahudi, rasul Paulus sendiri mengetahui bagaimana suatu niat untuk taat kepada hukum Allah bisa menjadi semacam kesombongan diri yang meremehkan orang-orang yang dianggap “tidak suci”, dan membatasi Allah pada golongan kita saja (3:27–31). Dalam perikop kita, dia kembali ke asal usul umat Allah, yaitu Abraham, untuk menelusuri bagaimana sikap yang sebenarnya terhadap kasih karunia Allah (4:1). Andaikan Abraham dibenarkan oleh perbuatannya, dia memiliki alasan untuk bermegah. Tetapi ternyata tidak demikian adanya (4:2).

Untuk memahami bagaimana Abraham dibenarkan, Paulus merujuk pada Kejadian 15:6. Panggilan Abraham disertai dengan janji Allah mengenai berkat bagi semua bangsa dunia dalam Kejadian 12:1–3 (bdk. Rom 4:13). Tetapi, pada awal Kejadian 15, Abraham mengeluh bahwa isterinya masih mandul, dan Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham, yakni pewaris janji berkat itu, akan menjadi sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 15:5). Abraham percaya kepada janji Tuhan itu, dan kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran, sebagai status “tidak bersalah”. Iman, bukan perbuatan, menjadi pertanda bahwa Abraham diterima sepenuhnya oleh Allah. Tentu, dasar untuk penerimaan atau pembenaran itu darah Kristus tadi (3:25a; jalan pendamaian itu berlaku surut, lihat 3:25b).

Paulus menegaskan maksudnya dalam aa.4–5. Andaikan kita diterima oleh karena perbuatan kita, maka kebenaran—status “tidak bersalah” dan diterima sepenuhnya di hadapan Allah—menjadi hak kita. Tetapi yang benar ialah bahwa kita adalah orang-orang durhaka, orang-orang yang tidak tahu diri di hadapan Allah. Orang-orang durhaka termasuk orang-orang yang jelas berbuat jahat, tetapi juga termasuk orang-orang yang berani menganggap bahwa semestinya Allah itu puas dengan ibadah yang terburu-buru dan doa-doa darurat saja. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berbuat apa-apa yang membuat kita layak diterima oleh Allah.

Jadi, sama seperti Abraham, kita diterima karena kita percaya akan janji Allah, yaitu, janji bahwa darah Kristuslah yang menjadi jalan pendamaian. Tersirat dalam iman ini ada beberapa hal.

1) Kita mengakui bahwa dosa itu begitu buruk, sehingga Kristus harus disalibkan untuk melepaskan kita dari kuasanya. Seseorang yang dengan santainya mau berkancang dalam dosa belum beriman, dan tetap menuju hukuman kekal (2:4–5).

2) Kita mengakui bahwa kita tidak sanggup melepaskan diri dari kuasa dosa, sehingga kita hanya dapat mengandalkan darah Kristus saja. Dengan demikian, bermegah dalam kesalehan pribadi dan meremehkan sesama yang kelihatan lebih kacau adalah kesombongan yang konyol dan berbahaya.

3) Kita mensyukuri kasih karunia Allah yang sungguh-sungguh diberikan dengan cuma-cuma. Sama seperti tanah yang mau dihibahkan tinggal diterima, tidak ada biaya tambahan kalau namanya hibah, penebusan oleh Kristus tinggal diterima dengan syukur. Hidup kita tentu akan berubah, karena kita menyadari keburukan dosa dan mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk berubah, tetapi perubahan hidup itu adalah hasil dari penerimaan Allah, bukan dasar.

Maksud bagi Pembaca

1. Darah Kristus adalah jalan pendamaian yang kita imani.

Penjelasan: Penguraian tentang kisah Allah dan manusia yang telah disampaikan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa hanya dalam darah Kristus saja, kita dapat diterima sepenuhnya oleh Allah.

Penerapan: Jeleknya dosa ditegaskan, yang mengakibatkan jalan pendamaian yang begitu ekstrem, yaitu Anak Allah harus menderita pada salib (bdk. aplikasi pertama di bawah).

2. Bahkan tokoh PL seagung Abraham hanya dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatannya (aa.1–3).

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.1–3.

Penerapan: iman yang sejati akan bermegah dalam Kristus, bukan dalam diri sendiri (bdk. aplikasi kedua di bawah).

3. Imanlah yang menentukan, karena hanya iman yang dapat menerima kasih karunia Allah (aa.4–5)

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.4–5.

Penerapan: Mensyukuri kasih karunia itu (bdk. aplikasi ketiga di bawah).

Makna

Jika bukan iman yang sejati yang menentukan, ada dua bahaya. Yang pertama ialah bahwa keinginan buruk yang menentukan. Gereja menjadi kedok untuk keserakahan, gengsi, predator, dsb. Kelompok ini mungkin percaya dengan akal mereka akan pengampunan Allah, tetapi tidak memahami dalam hati bahwa dosa itu buruk.

Yang kedua ialah bahwa citra kesalehan yang menentukan. Gereja ini kelihatan beres, tetapi sebenarnya ada kesombongan rohani, sebagaimana dilihat dalam sikap remeh dan takut terhadap orang-orang kacau di luar benteng gereja; domba-domba yang hilang itu sama sekali tidak akan dicari. Kelompok ini sadar bahwa mereka tidak sempurna, tetapi menganggap bahwa usaha mereka adalah cukup untuk Allah membedakan mereka dari orang-orang lain. Kelompok ini suka mengeluhkan penyakit-penyakit sosial yang di dalamnya mereka tidak terlibat, dan menggosipkan kejatuhan orang-orang lain, sebagai bukti akan kebenaran mereka.

Sebaliknya, iman yang sejati akan dilihat dalam suasana jemaat yang semakin rendah hati dan penuh syukur oleh karena kasih karunia Allah. Dosa dalam diri sesama akan menimbulkan keprihatinan dan usaha pemulihan, bukan gosip yang menjatuhkan. Karya Allah di tengah kelemahan akan lebih disoroti daripada kelemahan itu sendiri, dengan kesadaran bahwa kita semua hanya berdiri oleh karena Kristus.


Rom 6:1-14 Persatuan dengan Kristus [06 Oktober 2013]

Oktober 1, 2013

Perikop ini terasa cukup “teologis”, bahkan terlalu teologis untuk jemaat yang “praktis” seperti di Toraja. Jelas bahwa khotbah dari perikop ini (bahkan renungan ini) tidak akan menggali segala kekayaan di dalamnya. Anggaplah bahwa fungsi dari bahan seperti perikop ini mirip dengan pengetahuan tukang motor. Saya dapat memakai motor tanpa terlalu memahami motor itu, tetapi pengetahuan itu dibutuhkan untuk merawat dan memperbaiki motor itu. Jika jemaat mogok dalam kebenaran, satu alasan untuk hal itu ialah karena identitas mereka dalam Kristus rusak. Banyak jemaat melihat salib sebagai sekadar lambang kekristenan, tanpa memahami bahwa salib dan kebangkitan Kristus adalah pusat cara orang percaya memandang dunia. Perikop ini membekali kita sebagai pelayan untuk membantu jemaat.

Penggalian Teks

Dalam pp.5–8 Paulus mau menjelaskan bagaimana pembenaran oleh iman berhasil membawa hidup baru yang tidak dihasilkan oleh hukum Taurat. Bingkai dari penguraian itu jaminan keselamatan di tengah penderitaan; tema ini diangkat dalam 5:1–11 dan dikembangkan dalam 8:18–39. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam 5:12, akar dari kondisi dunia itu dosa yang membawa maut. Maut merujuk pada segala kebusukan dan kerusakan terhadap ciptaan Allah yang baik, termasuk martabat manusia (3:23) dan relasi (1:29–31). Kematian fisik baru merupakan puncak dari seluruh proses itu di dunia ini, dan lambang dari keterpisahan kekal dari Allah dalam dunia mendatang. Taurat membongkar sifat dosa sebagai pelanggaran (5:20), tetapi cara Allah menguasai dosa dan maut bukan dengan Taurat melainkan kasih karunia di dalam Kristus (5:21). Rom 6:1–8:17 menguraikan cara itu, yaitu bagaimana kasih karunia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut untuk melayani Allah, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat lagi (8:29, serupa dengan Kristus; bdk. 12:1–2) dan mampu berelasi (pp.12–14). Perikop kita menjelaskan dasar pembebasan itu dalam persatuan dengan Kristus. Rom 6:15–23 menegaskan bahwa hanya ada dua pilihan, Allah atau maut. Rom 7:1–8:17 menjelaskan bagaimana Roh yang membawa kuasa kebangkitan Kristus ke dalam kehidupan kita berhasil mengubah kita, sementara Taurat gagal karena sifat keberdosaan manusia (bdk. Rom 8:3–4, 11).

Paulus mulai dengan pertanyaan yang bisa saja muncul dari pernyataannya dalam 5:20: jika dosa menimbulkan kasih karunia, bukankah makin berdosa adalah cara menjadikan makin banyak kasih karunia (1)? Argumentasi ini agaknya sejajar dengan orang yang mau sakit karena pemulihan membawa sukacita. Tetapi Paulus mau mengejar sesuatu yang lebih dalam, yaitu persatuan dengan Kristus. Persatuan itu diwujudkan secara konkret dalam baptisan (3–4), sehingga identitas lama dianulir pada salib (5–7), dan kita dapat menempuh hidup kebangkitan bersama dengan Kristus (8–11).[1] Berdasarkan identitas yang baru di dalam Kristus itu, tubuh kita harus diserahkan kepada Allah, bukan kepada dosa (12–13).

Dalam aa.3–4, Paulus melandaskan identitas orang percaya pada suatu identifikasi orang percaya dengan Kristus dalam baptisan. Ketika Kristus mati pada salib, semua orang percaya turut mati; ketika Kristus dikuburkan, semua orang percaya turut dikuburkan; ketika Kristus bangkit, semua orang percaya turut bangkit ke dalam hidup yang baru. (Kebangkitan itu disebut “oleh kemuliaan Bapa” mungkin karena di situlah kemuliaan Allah yang hilang dipulihkan kembali.) Bagaimana caranya kita bersatu dengan Kristus dijelaskan dalam kedua bagian berikut.

A.5 sepertinya mengulang aa.3–4, tetapi ada unsur baru dengan bahasa “menjadi satu dengan apa yang sama” dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Kata “menjadi satu dengan” (sumfutos) dipakai untuk penyatuan dua hal (misalnya, kedua bagian tulang yang patah, atau benih dan semak yang bertumbuh bersama dalam Luk 8:7), termasuk sifat orang yang menyatu dengan orangnya. Kata ini menunjukkan bahwa baptisan membawa perubahan yang makin melekat pada diri kita, bukan sekadar perubahan status. Kata “apa yang sama dengan” (homoioma) menunjukkan bahwa ada aspek tertentu dari kematian dan kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Soal kematian diuraikan dalam aa.6–7. Yang mati bersama dengan Kristus bukan tubuh jasmani kita, melainkan “manusia lama” kita. Manusia lama itu Adam (5:12 dst), artinya, sifat dalam diri kita yang seperti Adam yang dikuasai oleh dosa dan maut itu. Kuasa dosa di sini bukan kuasa berdasarkan kekerasan atau pemaksaan, tetapi sikap dalam hati bahwa saya berhak untuk mencari kepentingan saya dengan cara apapun. Hanya pelanggaran ini yang dapat mengobati luka batin saya, atau menjawab kebutuhan saya, kata hati manusia lama itu. Dengan demikian, kuasa atas kehidupan saya diserahkan kepada dosa dengan sukarela, dengan akibat bahwa saya menjadi hamba dosa. Tetapi, jika manusia lama itu turut disalibkan, semua tuntutan dosa itu tidak berlaku lagi. “Tubuh dosa”, yaitu otot dan saraf dan otak yang terpola dalam kebiasaan-kebiasaan buruk, tidak sah lagi. Seperti dikatakan dalam a.7, kematian mengakhiri semua kewajiban selama hidup, dan penyaliban manusia lama mengakhiri ikatan kita terhadap dosa. Tentu, jika kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, adalah bodoh untuk bertekun di dalamnya. Sebaliknya, kita menjadi satu dengan kematian itu, artinya, makin menghayati bahwa pola-pola lama itu sudah ditinggalkan pada salib Kristus.

Aa.8–11 menjelaskan aspek apa dari kebangkitan Kristus yang dengannya kita menjadi satu. Yang dibangkitkan bersama dengan Yesus belum tubuh jasmani kita, melainkan pola hidup. Manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus, sehingga sekarang kita dapat hidup bersama dengan Dia (8). Kristus mati untuk mengalahkan maut (9) dan untuk memecahkan masalah dosa (10), dan Dia hidup bagi Allah. Dengan demikian, adalah rancu jika kita mengaku hidup dengan Kristus tetapi tetap mau hidup dalam dosa (11).

Aa.12–14 mengaku bahwa pengaruh dosa belum juga hilang. Di dalam Kristus tetap ada kemungkinan untuk kita berdosa, tetapi “sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup”, ada juga kemungkinan untuk melayani Allah (13), dan justru pilihan itulah yang cocok bagi orang di bawah kasih karunia (14). Dalam pilihan itu, Paulus berbicara tentang “anggota-anggota tubuh” dan “diri”, karena bagi dia, manusia bukan sekadar motivasi, dan bukan sekadar tindakan. Lebih lagi, dalam perang antara Allah dan dosa/maut, tubuh kita adalah senjata utama kita.

Dalam a.14, Paulus menyebut kembali hukum Taurat, yang justru tidak memampukan kita melayani Allah, sesuatu yang akan dia jelaskan dalam penguraiannya selanjutnya.

Maksud bagi Pembaca

Paulus memberi alasan untuk jemaat ikut dalam rencana Allah untuk mengalahkan dosa dan maut, dengan menjelaskan bagaimana di dalam Kristus kita ikut dalam pola mati-hidup yang dilalui Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasarnya, dengan makin beridentifikasi dengan kematian-Nya terhadap dosa sehingga rindu untuk hidup bagi Allah bersama dengan Kristus. Misi Allah menjadi tujuannya, bahwa perbuatan anggota-anggota tubuh kita adalah senjata yang melayani Allah atau kuasa dosa/maut. Jadi, di dalam Kristus berbuat baik dimungkinkan dan juga penting. Teologi Paulus tentang keberadaan kita di dalam Kristus mau mengubah pola pikir kita sehingga giat melayani Allah menjadi pilihan yang paling masuk akal. Dengan demikian, jemaat yang mogok dalam kebenaran dapat mulai bergerak kembali.

Makna

Pengandaian Paulus dalam penguraian ini ialah bahwa dosa adalah sesuatu yang buruk, yang terkait erat dengan maut sehingga kita mau luput daripadanya. Pertanyaan dalam a.1 kadangkala diajukan dalam bentuk yang cukup kasar, “ayo, kita di bawah kasih karunia dan bebas berdosa”. Paulus menjawab pemahaman itu dalam perikop berikutnya (6:15–23); kasarnya bahwa orang-orang seperti itu tidak beriman (betapapun mereka beragama) sehingga sedang menuju maut kecuali bertobat. Tetapi ada bentuk lebih halus dari a.1, yang telah mengalami bagaimana kasih karunia Allah memang lebih berkuasa daripada dosa dalam diri dan dalam jemaat, dan mengakui dengan rendah hati bahwa kita semua adalah orang berdosa, tetapi dengan demikian tidak lagi giat melawan dosa dalam diri dan dalam jemaat. Kepada kedua kelompok ini, persatuan kita dengan Kristus menunjukkan bahwa dosa sama sekali tidak cocok lagi.

Paulus melihat baptisan sebagai lambang dari persatuan kita dengan Kristus, karena baptisan diadakan satu kali untuk selama-lamanya, sesuai dengan karya Kristus (10). Hari Minggu ini adalah Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Perjamuan Kudus memelihara persatuan itu. Dengan memakan roti dan anggur yang melambangkan kematian Kristus, kita diingatkan bahwa kehidupan kita telah menjadi kehidupan yang terpola oleh kematian dan kebangkitan Kristus.


  1. Dasar untuk pembagian itu adanya pola “jika…karena kita tahu…” dalam aa.5–6 dan aa.7–8 (ei gar/de + kalimat + partisip dalam bahasa Yunani).


Rom 10:14-21 Diutus supaya ada iman timbul dari pendengaran [29 September 2013]

September 23, 2013

Perikop ini tidak sederhana, dan saya telanjur menelusuri beberapa pertanyaan saya dan akhirnya enggan memangkas hasilnya. Maksud dan Makna menyampaikan beberapa hal pokok dan penting bagi pembaca yang terburu-buru.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak atas Ismael dan Yakub atas Esau. Kemudian (9:24–29), Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang manusiawi. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30–10:4). Kemudian (10:4–13), Paulus menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan perikop kita menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Konteks ini penting untuk memahami aa.16–21. Aa.14–15 dengan jelas menguraikan rangkaian kejadian yang harus dilalui supaya baik Israel maupun bangsa-bangsa dapat menerima keselamatan: berseru mengandaikan percaya; percaya mengandaikan mendengar, mendengar mengandaikan pemberitaan, dan pemberitaan mengandaikan pengutusan. Mungkin saja Paulus menegaskan rangkaian itu untuk mendukung permintaannya supaya mereka membantu dia dalam misinya ke Spanyol (15:24). Tetapi, dalam aa.16–21 dia kembali ke masalah penolakan Israel. Aa.16–18 menegaskan bahwa Israel telah mendengar, dan aa.19–21 menegaskan bahwa Israel sudah diberitahu tentang adanya fase baru dalam rencana keselamatan Allah.

Adanya penolakan bukan hal yang baru dalam sejarah Israel, sebagaimana dilihat dalam beberapa kutipan dari Yesaya dalam pp.9–11 ini. A.15b mengutip Yes 52:7, di mana pemberitaan tentang keselamatan Israel dari pembuangan dipuji. A.16 mengutip lanjutannya dalam Yes 53:1, di mana Israel tidak percaya akan pemberitaan itu. Bagi Paulus, pengalaman Yesaya tidak hanya sejajar dengan pengalaman Paulus sendiri, tetapi juga Yesaya 53 itu menceritakan Hamba Tuhan sebagai sarana keselamatan, dan Kristus adalah Hamba Tuhan itu. Yesus sebagai Mesias Israel masuk dalam pembuangan Israel pada salib (kematian), dan kembali dari pembuangan pada hari ketiga (kebangkitan), dan dengan demikian membuka keselamatan juga bagi bangsa-bangsa (Yes 55:4–5 & 56:6–8, bdk. Yes 2:1–4). Yesaya berbicara juga tentang zaman Paulus. Yang menarik di sini, dalam Yes 53:1 Israel tidak percaya, tetapi dalam ayat sebelumnya, ada dari bangsa-bangsa yang memahami (Yes 52:15). Makanya, saya menafsir a.16 ini pertama-tama tentang Israel, walaupun tentu penolakan tidak dibatasi pada Israel saja.

A.17 menarik suatu kesimpulan dari kutipan Yesaya itu: orang akan percaya jika mendengarkan pemberitaan kabar baik tentang keselamatan, yaitu, dalam konteks Paulus (dan kita), firman tentang Kristus. Kesimpulan Paulus itu dibantu dalam bahasa aslinya, karena satu kata (Yunani: akoe) dipakai untuk “pemberitaan” dalam a.16 dan “pendengaran” dalam a.17. Pemberitaan di sini berarti penerusan pesan yang sudah didengar.

A.18 dan a.19 mulai dengan nada perlawanan, “tetapi aku bertanya” (Yunani: alla lego, “tetapi aku mengatakan”). A.18 agak sulit. Sepertinya Paulus mau mengatakan bahwa orang-orang Israel telah mendengar tentang Kristus. Jika kita melihat pelayanan Paulus saja, dia selalu mengunjungi tempat ibadah Yahudi dulu (bdk. 1:16). Jadi, memang orang Israel telah mendengar firman tentang Kristus. Hanya, kata “mereka” dalam Mzm 19:5 yang dikutip di sini merujuk bukan pada para pemberita Kristus melainkan pada ciptaan-ciptaan Allah sebagai pemberita tentang kemuliaan-Nya (Mzm 19:2). Mungkin Paulus mengutipnya, karena dalam Mazmur 19 sendiri, “suara” ciptaan itu digenapi dan diperjelas dalam firman Taurat (19:8–11), dan bagi Paulus Kristus adalah kegenapan Taurat itu (10:4).

Jika a.18 menegaskan bahwa sebenarnya Israel mendengar, a.19 menegaskan bahwa mereka “menanggapnya”. Secara harfiah, pertanyaan itu berbunyi, “Sungguhkah Israel tidak tahu/paham?”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka mengetahui atau menanggap. Dari khotbah Musa kepada Israel yang mau masuk tanah perjanjian (Ul 32:21), Paulus mengutip nubuatan bahwa Tuhan akan menghukum umat Israel yang memberontak dengan bangsa asing. Dalam konteks Paulus, caranya lebih halus—Injil ditawarkan dan diterima oleh bangsa-bangsa itu—tetapi unsur hukuman tetap ada. Aa.20–21 menyampaikan hal yang sama dari Yesaya. Allah memiliki rencana yang di luar dugaan manusia untuk menjangkau orang asing lebih dahulu daripada orang Israel. Tema itu yang dikembangkan dalam p.11, mulai dengan penegasan bahwa sekalipun demikian, Allah bukan telah menolak umat-Nya (11:1).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Roma ikut mengutus dia sebagai pemberita kabar baik, supaya orang lain dapat percaya dan berseru dan diselamatkan (14–15). Karena dasarnya adalah rencana keselamatan dari Allah, termasuk kebutuhan manusia untuk percaya dalam hati dan mengaku (berseru) dengan mulut, kedua ayat ini tetap mendorong kita untuk mengutus orang ke dalam berbagai ladang pelayanan.

Aa.16–21 merupakan peralihan ke soal Yahudi dan bangsa-bangsa dalam rencana Allah dalam p.11. Walaupun aa.16–18 pertama-tama merujuk pada Israel, kita tetap bisa melihat implikasi bahwa, meskipun suatu kelompok sudah banyak mendengar Injil, tidak semua akan menerima kabar baik itu. Ingat bahwa maksud Paulus di sini bukan perlunya beragama, karena orang Israel yang menolak Yesus tetap beragama, tetapi percaya dan berseru (mengaku dengan mulut) kepada Kristus. Jika suku Toraja rata-rata beragama kristen, hal itu tidak menjamin bahwa semua telah menerima kabar baik itu.

Aa.19–21 mungkin terasa semakin sulit dimaknai, karena seakan-akan membahas suku Israel saja dalam rencana Allah. Di balik diskusi itu, walaupun tidak muncul di sini, adalah persoalan yang penting bahwa penolakan Israel menimbulkan tanda tanya tentang kesetiaan Allah kepada Israel (9:6a). Jika Allah tidak setia kepada Israel, apakah Dia akan setia kepada jemaat? Jadi, adalah penting Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak berubah setia dan rencana-Nya tidak goyah. Tetapi mungkin ada implikasi lagi, atau paling sedikit suatu pola yang sering terlihat di dalam sejarah gereja, di mana mereka yang menganggap diri di pusat, seperti Israel pada saat itu atau gereja-gereja mapan di Indonesia sekarang, sering dipinggirkan oleh Allah dalam kesombongan rohani mereka, dan yang di pinggir menjadi ujung tombak misi Allah di dunia. Paling sedikit, sejarah gereja adalah sejarah yang di dalamnya “pusat” menjadi bobrok, dan “pinggir” menjadi pusat baru. Pikirkan saja kekristenan Barat sekarang.

Makna

Jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, maka iman yang dia maksud di sini bukan semangat hati atau perasaan religius yang berdiri mandiri dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang bergantung sepenuhnya pada objeknya. Sebagai contoh akan jenis pertama tadi, saya bisa memompa keyakinan saya bahwa obat ini akan manjur; keyakinan itu tidak bergantung pada siapa-siapa di luar diri saya. Sebaliknya, jika saya mengimani sabda sang dokter bahwa obat ini akan berguna, keyakinan saya bergantung pada dia, bukan pada diri saya. Iman yang sejati kepada Kristus tidak akan berdaya kecuali Kristus berada sebagaimana Dia diberitakan dalam firman Tuhan. Makanya, iman itu hanya timbul dari luar, dari kabar baik yang diberitakan dan didengarkan, dan tidak berasal dari diri sendiri.


Roma 7:13-26 Hukum tak berdaya [2 Juni 2013]

Mei 26, 2013

Saya minta maaf, penjelasan kali ini juga panjang. Tentu saja, bahannya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan di dalam khotbah. Tetapi, pada hemat saya, bahannya tidak melebihi apa yang berguna untuk dipahami oleh seorang pelayan yang mengaku mengenal Alkitab, lebih lagi kalau pelayan itu ada di dalam aliran Kalvinis yang menjadikan kitab Roma sebagai salah satu dasar utama untuk teologinya. Isi perikop ini penting. Ketika kita menangkap bahwa dosa tidak sekadar soal pengetahuan dan niat, tetapi juga menyangkut “dosa yang diam di dalam aku”, kita mulai mengerti mengapa Injil menjadi dasar bukan hanya untuk orang menjadi percaya tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.

Penggalian Teks

Pengantar. Perikop kita adalah salah satu perikop pokok tentang hukum Taurat, yang tentunya adalah dasar yang mutlak bagi orang Yahudi dalam menghayati status mereka sebagai umat Allah. Status sebagai umat Allah adalah satu hal yang dipersoalkan dengan bahasa “pembenaran”. Orang yang dinyatakan benar oleh Allah dengan demikian menjadi anggota umat-Nya. Bagi orang Yahudi, hal itu terjadi dengan sunat, dan dipertahankan dengan memelihara hukum Taurat. Tetapi, dalam Kristus, Paulus mengatakan bahwa pembenaran itu dinyatakan “tanpa hukum Taurat” (3:21), melainkan melalui iman. Namun, Paulus tetap mengklaim bahwa orang yang beriman akan meneguhkan hukum Taurat (3:31)! Hal itu membingungkan, karena dalam 2:27 orang yang melakukan hukum Taurat adalah orang yang tidak bersunat, padahal sunat adalah salah satu perintah Taurat. Maksud Paulus soal itu baru dijelaskan dalam 13:8-10, yaitu, Taurat yang berlaku bagi orang percaya ialah hukum kasih. Orang Yahudi membedakan perintah-perintah demi Allah (termasuk tentang kenajisan dan sunat) dan perintah-perintah demi sesama. Secara garis besar, kita bisa mengatakan bahwa Paulus menawarkan Kristus sebagai cara baru untuk berelasi dengan Allah, menggenapi dan menggantikan perintah-perintah hukum Taurat demi Allah, supaya hukum kasih yang tidak berubah itu terlaksana. Muncullah pertanyaan, ada masalah apa dengan hukum Taurat sehingga harus digantikan, bukan sebagai pernyataan kehendak Allah, tetapi sebagai pengatur hidup bagi umat Allah?

Ringkasan penguraian sebelumnya. Dalam pp.5-6, soal hukum Taurat muncul-muncul. Jika dalam 5:11 kita bermegah dalam Allah, hal itu terjadi “oleh Yesus Kristus”, bukan oleh hukum Taurat (bdk. 2:17, 23). Mulai 5:12, Paulus menjelaskan sejarah dua ranah penguasa dalam kehidupan manusia. Pada satu pihak ada dosa dan maut yang didatangkan oleh Adam, pada pihak yang lain ada kasih karunia dan hidup yang didatangkan oleh Kristus (5:21). Paulus menjelaskan bahwa dosa dan maut berlaku sebelum hukum Taurat diberikan, tetapi tidak diperhitungkan (5:12-14). Dengan datangnya hukum Taurat, pelanggaran bertambah. Barangkali pelanggaran di sini lebih sempit artinya daripada dosa. Di dalam Adam, manusia berdosa karena tidak mengakui Allah sebagai Allah (Rom 1:18 dst), tetapi dengan adanya hukum yang jelas, sifat pemberontakan itu muncul dalam bentuk pelanggaran perintah.

Pasal 6 melanjutkan penjelasan tentang kedua ranah itu, sekaligus meletakkan dasar kristosentris (bukan taurat-sentris) untuk hidup bagi Allah. Menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan Kristus berarti mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Penjelasan itu menyangkut identitas, tetapi di dalamnya ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, dosa dikaitkan dengan tubuh. (Kita akan membahas di bawah apa maksudnya “tubuh” di sini.) Dalam 6:6, manusia (identitas) lama disalibkan, sehingga “tubuh dosa kita hilang kuasanya”. Hal itu memungkinkan “dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu” (6:11) tetapi sebaliknya “anggota-anggota tubuhmu” diserahkan kepada Allah (6:13). Yang kedua, anehnya, kuasa dosa dikaitkan juga dengan hukum Taurat (6:14). Sepertinya, hanya kasih karunia yang memungkinkan manusia luput dari kuasa dosa. Hal itu dijelaskan dalam p.7, tetapi sebelumnya Paulus menegaskan bahwa dua ranah itu—dosa/maut dan kasih karunia/hidup—memang adalah penguasa. Manusia tidak bisa otonom (tabe’ lako Aristoteles, budaya Barat dan budaya modern Indonesia), tetapi hanya bisa menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran, dengan ujungnya masing-masing yang jelas.

Dalam 7:1-4, Paulus melanjutkan pernyataannya dalam 6:14, dengan menjelaskan bagaimana kita dipindahkan dari otoritas hukum Taurat untuk menjadi milik Kristus. Mengapa harus demikian? Akhirnya dalam Rom 7:5-6 kita tiba pada suatu jawaban yang akan diuraikan dalam ayat-ayat berikutnya. Yang pertama, 7:5 mengantarkan diskusi dalam 7:7-26 yang akan menjawab pertanyaan tadi, yaitu apa yang kurang sehingga hukum Taurat harus diganti. Singkatnya, hawa nafsu dosa dirangsang oleh Taurat sehingga bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita. Yang kedua, 7:6 mengantarkan solusi yang akan ditawarkan dalam 8:1-14, yaitu hidup menurut Roh Kudus.

Jadi, perikop kita sebenarnya melanjutkan argumentasi yang dimulai pada 7:7-12. Nas itu menjelaskan bahwa hukum Taurat bukan penyebab dosa, tetapi dosa memakai hukum Taurat untuk membangkitkan berbagai keinginan yang tidak baik dan menipu manusia. Perintah hukum Taurat “kudus, benar dan baik” dan sangat andal untuk kita mengenali dosa. Namun, adanya hukum Taurat tidak hanya membuat dosa menjadi pelanggaran (5:20), tetapi juga membangkitkan sikap keberontakan itu. Perikop kita mulai dengan penjelasan bahwa dengan demikian, sifat dosa makin ketahuan. Dosa begitu jahat sehingga hukum Taurat yang kudus bisa diperalat.

Penjelasan alur perikop. Tetapi, mengapa dosa bisa menyalahgunakan Taurat demikian? Ada apa dengan manusia sehingga hukum Taurat yang kudus merangsang hawa nafsu dosa dan membangkitkan berbagai keinginan dosa? A.5 telah menyebutkan “hidup di dalam daging” (bahasa Yunani: sarx), dan perikop kita menjelaskan kondisi daging/sarx itu. Intinya dalam a.14, yaitu bahwa hukum Taurat dan kondisi manusia bertentangan, antara rohani dengan “duniawi” (kata di sini sarkinos, “bersifat daging”). Searah dengan apa yang disampaikan dalam 6:15-23 dengan bahasa “hamba dosa”, di sini Paulus mengatakan bahwa manusia “terjual di bawah kuasa dosa”. Sama seperti seorang hamba, mau tidak mau, manusia akan mengikuti jalan dosa. Hal itu dijelaskan dalam tiga langkah. 1) Kehendak dan perbuatan tidak searah (15-16). 2) Hal itu terjadi karena perbuatan itu menuruti bukan kehendak “aku” melainkan dosa yang diam di dalam sarx-ku (17-20; sarx dalam a.18 diterjemahkan “aku sebagai manusia”). 3) Oleh karena itu, dalam aa.21-26 “terjual di bawah kuasa dosa” malah berarti “menjadi tawanan hukum dosa” (23), sehingga yang dibutuhkan adalah pelepasan dari “tubuh maut” (24). Dengan demikian, Paulus telah membuktikan bahwa hukum Taurat “tak berdaya oleh daging” (8:3).

Penjelasan bahan berikutnya. Kristus dan Roh Kudus menjadi solusi Allah terhadap pergumulan itu. Kristus datang dalam sarx/daging seperti kita, hanya tanpa dosa, sehingga dalam kematian-Nya dosa yang diam di dalam daging itu dihukum (8:3). Dalam 8:5-6, ada dua sumber pemikiran (froneo) dan keinginan (fronema), yaitu sarx/daging dan Roh. Froneo/fronema itu merujuk pada maksud dan tujuan hidup. Berbeda dengan 7:26 yang membedakan akal budi dan tubuh, di sini sarx/daging justru terkait dengan akal budi. Jadi, pembaruan pemikiran oleh Roh belum menjawab persoalan di atas. Baru dalam 8:9-11, Paulus menjelaskan bahwa kuasa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan memulihkan tubuh berdosa, sehingga kita mampu melakukan 6:4, 11. Caranya adalah mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh kuasa Roh, sehingga kita hidup (8:13; bdk. 6:12-13). Perjuangan itu berarti karena di dalamnya kita menghayati status kita sebagai anak dan ahli waris Kerajaan (8:14-17) yang di tengah dunia yang sulit (8:18-25) Allah bekerja untuk kebaikan kita dengan menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya, Yesus (8:26-30).

Maksud bagi Pembaca

Dosa tidak bisa dihilangkan dengan kehendak saja. Tujuan Paulus adalah pertama-tama pemahaman tentang kuasa dosa dalam manusia yang begitu besar sehingga bahkan hukum Allah tidak berdaya terhadapnya. Kuasa dosa itu berakar dalam daging. Kebiasaan-kebiasaan buruk, prasangka-prasangka yang mengaburkan persepsi, cita-cita yang diserap dari dunia, semuanya telah menjadi bagian dari sistem saraf, hormon, dan penataan otak yang merusak kemampuan kita untuk mengasihi sesama. Makanya, kehendak tidak cukup untuk mengatasi kuasa dosa. Oleh karena itu, solusi terhadap hidup yang kacau bukan hukum melainkan kuasa Roh, yaitu, belajar untuk memandang diri dan dunia sesuai dengan Injil (8:3-6) dan mengandalkan kuasa Roh di dalam tubuh (8:11) untuk bekerja di dalam dan melalui pertobatan kita yang terus-menerus (8:12-13).

Dengan kata lain, Paulus merendahkan orang yang bermegah dalam hukum Taurat, seakan-akan pengetahuan akan perintah dan niat yang baik akan cukup untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dia mau supaya kita berseru kepada Tuhan agar pelepasan dalam Kristus menjadi milik kita. Pelayanan yang mengutamakan perintah akan membuat orang cemas atau munafik. Pelayanan yang menawarkan segala bekal Allah untuk perubahan batin akan memberi kesempatan untuk pertobatan dari dalam.

Makna

Di antara begitu banyak yang dapat dikatakan, saya hanya mau menyoroti soal: tubuh, daging, dan jaraknya antara kehendak dengan perbuatan.

Pertentangan Paulus bukan antara jiwa yang baik atau kekal atau ilahi dengan tubuh yang kotor dan fana dan duniawi. Tubuh adalah manusia dilihat sebagai makhluk yang bertindak dalam dunia. Hanya dengan tubuh saya dapat mengasihi sesama ataupun berbuat jahat terhadapnya. Namun, manusia adalah juga manusia yang dapat berpikir. Tindakan menyatakan maksud yang tidak kelihatan, yang tidak dapat diketahui kecuali oleh pelaku sendiri. Hal itu dilihat dalam bahasa aslinya untuk “batin”, yaitu “manusia dalam”. Istilah “manusia dalam” menunjukkan bahwa batin dan akal budi dilihat sebagai aspek manusia yang utuh, bukan jiwa yang dapat terpisah. Bahwa Paulus tidak membagi manusia dapat dilihat juga dalam 8:5, karena dalam ayat itu pikiran juga dapat bersifat daging! Dalam 8:11, kita melihat bahwa Allah bermaksud bukan untuk melepaskan jiwa dari tubuh berdosa melainkan memulihkannya, supaya seluruh tubuh menjadi persembahan yang kudus (12:1).

Kata sarx berarti daging, tetapi juga dipakai untuk manusia yang rentan dan fana. Misalnya, dalam Yes 40:6 “manusia seperti rumput”, kata “manusia” menerjemahkan Ibrani basar yang merupakan padanan Yunani sarx. Makanya, kata sarx diterjemahkan dengan “manusia” dalam a.18 (“di dalam aku sebagai manusia”), dan “insani” dalam a.26. Soalnya, terjemahan itu memberi kesan bahwa manusia pada hakikatnya berdosa. Maksudnya lebih jelas jika terjemahan itu menjadi “sebagai manusia yang rentan”. Kedua ayat itu mengangkat sarx sebagai istilah Paulus untuk berbicara tentang manusia, dilihat sebagai makhluk yang rentan terhadap atau dikuasai oleh dosa. Bedanya dengan “tubuh” ialah bahwa tubuh dosa dapat dipulihkan Roh sehingga anggota-anggotanya melayani Allah, tetapi sarx itu perlahan-lahan harus dimatikan (8:13).

Mengapa keputusan atau niat untuk berbuat baik tidak cukup? Bayangkan ada rekan yang lebih berhasil dari saya dalam sesuatu yang penting bagi saya, anggaplah berkhotbah. Saya pasti tahu bahwa semestinya saya bersyukur atas karunia Roh yang ada pada dia, dan tetap bersyukur atas karunia yang ada pada saya, walaupun sepertinya tidak sebaik dia. Tetapi, otak saya sudah terlalu terbiasa membuat perbandingan, dan rasa berguna saya terlalu lama terikat dengan kegiatan itu, karena setiap kali berkhotbah dengan baik ada pola tegang menjadi lega, khawatir menjadi senang, dan sebagainya, yang membuat kegiatan itu penting bagi saya. Keputusan untuk senang bisa saja muncul dalam kata-kata, tetapi tidak akan muncul dalam wajah dan bahasa tubuh. Bahkan kata-kata saya tidak akan menjadi pujian yang kreatif karena tubuh dosa atau kedagingan merongrong niat baik itu. Reaksi saya bukan kehendak saya, melainkan reaksi dosa yang diam di dalam saya, namun tetap merupakan penghinaan terhadap karunia Allah dan pencurian penguatan kepada yang bersangkutan, yang berasal dari diri saya dan yang atasnya saya harus bertanggung jawab. (Tentu ada juga niat yang buruk, yang statusnya sebagai dosa jelas, tetapi dalam perikop ini Paulus berbicara tentang kasus yang lebih halus.)

Semoga Roh Kudus bekerja dalam anggota-anggota tubuh saya sehingga reaksi emosional, nada suara, mimik wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain, semakin menjadi saluran kasih Allah yang tidak dirongrong oleh tubuh dosa itu.


Rom 3:21-31 Darah Yesus mewujudkan kasih karunia Allah (14 Okt 2012)

Oktober 10, 2012

Minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sekelompok kaum wanita apakah mereka suka jika suami hanya asal mendengar ketika istrinya sedang berbicara. Tidak ada yang suka, ternyata. Minggu ini, saya menguraikan secara terperinci perikop ini sebagai satu cara untuk mau mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Khususnya, saya memberi banyak perhatian pada aa.22-26 yang berbicara tentang apa yang dilakukan Allah di dalam Kristus. Penguraiannya agak panjang karena untuk menjelaskan maksud Paulus di sini saya harus melihat penguraian sebelumnya dan juga menyoroti bahasa aslinya. Mungkin saja sebagian detailnya berlebihan untuk kebutuhan Pembaca. Tetapi saya berharap bahwa merenungkan karya Allah tidak menjenuhkan, dan memberitakan karya itu dari mimbar akan dianggap kesempatan yang menyemangati.

Penggalian Teks

Paulus berharap bahwa jemaat Roma yang belum pernah dia kunjungi itu dapat mendukung dia untuk melanjutkan misi ke Spanyol, sehingga dia menyampaikan uraian yang paling sistematis dari semua suratnya tentang Injil yang dia beritakan. Namun, suratnya tetap memperhatikan kondisi jemaat sejauh mana dia memahaminya, khususnya soal Yahudi dan non-Yahudi di dalamnya (bdk. p.14). Orang Yahudi suka bermegah dalam Allah berdasarkan hukum Taurat, yang memampukan mereka “tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik” dan mengajar orang lain (2:17-20). Berbeda dengan orang lain, orang Yahudi mengerti bahwa Allah itu esa, dan bahwa kejahatan manusia terjadi karena manusia menyembah makhluk ketimbang Sang Pencipta (1:25), sehingga manusia kehilangan martabat (1:26-31) dan layak dimurkai (1:18, 32). Tetapi Paulus membuktikan bahwa Taurat—meskipun itu adalah firman Allah sendiri (3:2)—tidak memberi jalan keluar soal itu. Israel sendiri tahu tentang dosa, tetapi tetap melakukannya (2:21-24), karena hati belum diubahkan (2:29). Kesimpulan radikal Paulus ialah bahwa Taurat sekadar memperjelas dosa, tetapi tidak sanggup menjadi dasar untuk Allah membenarkan seseorang, artinya, meluputkannya dari hukuman-Nya.

Di balik soal pembenaran manusia, ada juga pertanyaan tentang kebenaran (dikaiosune) Allah. (Istilah itu muncul dalam a.21, dan juga dalam aa.225-26 dengan terjemahan “keadilan”.) Jika bahkan Israel tidak dapat luput dari hukuman Allah, bagaimana Dia dapat setia terhadap janji-janji-Nya kepada Israel (3:1-8)? Pertanyaan tentang nasib manusia berdosa juga adalah pertanyaan tentang maksud Allah bagi umat manusia.

Tetapi syukur bahwa hukum Taurat bukan bab terakhir dalam rencana keselamatan Allah. Adanya tahap baru ditandai dengan kata “sekarang”. Tahap ini disaksikan oleh PL, tetapi tidak bergantung pada Taurat (21). Dalam aa.22-26, Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Kristus Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan cara yang menggenapi janji-janji-Nya. Dalam aa.27-30 Paulus menunjukkan bagaimana cara itu meniadakan kemegahan orang Yahudi, sehingga Allah dinyatakan sebagai Allah bagi semua orang.

A.22a merupakan pernyataan singkat tentang kebenaran Allah itu, dan ada dua soal tafsiran yang perlu dibahas di sekitar frase “karena iman dalam Yesus Kristus”. Yang pertama, kata “karena” hanya dipakai karena TB alergi kata “melalui” (dia + genitif). Ada metafora pengaliran di sini. Sumbernya kebenaran Allah, dan tujuannya “semua orang yang percaya”. Salurannya (pisteos Iesou Khristou) bisa ditafsir “iman dalam Yesus Kristus” atau “kesetiaan Yesus Kristus”. Pemula bahasa Yunani mengenal artian “iman” untuk kata pistis, tetapi kata itu juga dapat berarti “kesetiaan”, seperti dalam 3:3 (“kesetiaan Allah”). Jika “iman dalam Yesus Kristus” yang diterima, maka iman dilihat sebagai cara untuk menerima pembenaran Allah, dan tujuannya adalah semua orang percaya. Jika “kesetiaan Yesus Kristus”, maka karya Kristus dilihat sebagai cara Allah mewujudkan kebenaran-Nya, dan iman tetap adalah caranya untuk menerimanya. Kedua tafsiran itu menyatakan sesuatu yang benar, dan kedua artian dijelaskan di bawah.

Aa.22b-24 menjelaskan hal “semua yang percaya”. Hal “semua” dilihat dari dua segi: semua di bawah dosa dan dirusak oleh dosa (22b-23), dan semua dapat dibenarkan oleh anugerah. Pembenaran adalah lawan dari hukuman, karena pembenaran berarti bahwa Sang Hakim telah menyatakan terdakwa tidak bersalah. Tetapi di balik hukuman dan pembenaran ada sikap Allah: murka dan kasih karunia (anugerah). Murka adalah wujud kecemburuan Allah terhadap segala yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kasih karunia adalah sikap mendasar Allah. Dia menciptakan manusia dengan cuma-cuma. Di hadapan dosa manusia, Dia memanggil Abraham dengan cuma-cuma, menebus Israel dari perbudakan di Mesir dengan cuma-cuma, dan “sekarang” menawarkan pembenaran dengan cuma-cuma. Pembenaran itu muncul dari sikap kasih karunia itu, dan caranya ialah melalui (kembali dia + genitif) penebusan di dalam Kristus. Jika hal itu digabungkan dengan yang di atas, ada mata rantai seperti ini: kasih karunia Allah adalah motivasi Allah untuk membenarkan, pembenaran dihasilkan melalui kesetiaan Kristus untuk menebus, pembenaran/penebusan diterima oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum Taurat.

Aa.25-26 menjelaskan bagaimana proses itu menunjukkan kebenaran (dikaiosune) Allah. Kata itu di sini diterjemahkan “keadilan”, karena yang dipersoalkan di sini ialah bagaimana Allah dapat membenarkan orang yang bersalah. Dan memang itulah yang terjadi: dalam 4:5 Paulus mengatakan dengan jelas bahwa Allah “membenarkan orang durhaka”. Untuk menjawab hal itu, Paulus menyamakan Yesus dengan hilasterion (“jalan pendamaian”) dalam Kemah Suci dalam Taurat. Hilasterion dipakai untuk mezbah yang ada di kemah inti yang hanya dipakai setahun sekali pada hari Pendamaian (Imamat 16). Pada saat itu, semua dosa Israel dihapus sehingga Israel tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Jadi, Paulus menyampaikan bahwa Yesus, dalam kematian-Nya (“darah-Nya”) telah menjadi tempat dosa umat Allah dihapus. (Frase “karena iman” di sini, sama seperti tadi, dapat berarti “melalui iman [kepada Yesus]” atau “melalui kesetiaan Yesus”.) Karena darah Yesus telah menghapus dosa, Allah tetap benar ketika Dia membenarkan umat-Nya sebelum Kristus datang, dan ketika Dia membenarkan orang berdosa yang percaya kepada Yesus (26).

Dalam aa.27-30, Paulus kembali ke soal kemegahan orang Yahudi dalam hukum Taurat (27a). Kemegahan itu sudah ditolak, karena pembenaran diterima dengan iman, bukan dengan perbuatan (27b-28). Hal itu menyetarakan orang Yahudi dengan bangsa-bangsa yang lain. Hal itu penting, karena Allah bukan hanya Allah orang Yahudi, Dia adalah Allah segala bangsa. Darah Yesus membuka jalan baik bagi orang bersunat (Yahudi) yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat, maupun bagi orang tak bersunat yang memang jauh dari Tuhan. Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham, yang menyangkut semua bangsa, digenapi (bdk. 4:13-17).

Akhirnya, dalam a.31, Paulus menegaskan bahwa cara Allah ini tidak hanya berhasil meluputkan orang dari hukuman, tetapi juga akan berhasil memulihkan martabatnya sebagai gambar Allah, sehingga dari hati yang baru dia menaati maksud dari hukum Taurat (2:26-29). Hal itu dijelaskan Paulus dalam pp.6-8, terutama berkaitan dengan peran Roh Kudus (bdk. 8:4).

Maksud bagi Pembaca

Melalui penjelasan tentang kasih karunia Allah yang menyediakan pembenaran melalui darah Kristus, kita diajak untuk sepenuhnya mengandalkan darah itu dalam iman kepada Kristus. Dengan demikian, Dia akan menjadi yang paling penting dan paling bermakna bagi kita, sehingga kemegahan-kemegahan yang lain tidak diandalkan lagi.

Makna

Ajaran Paulus di sini mudah-mudahan bukan hal yang baru bagi Pembaca yang menganut ajaran gereja Protestan, karena perikop ini menjadi salah satu dasar utama untuk sola gratia dan sola fide. Aa.27-31 dapat membantu kita untuk mengukur sejauh mana ajaran itu telah menjadi bagian dari pandangan dunia kita.

Yang pertama, dalam apa kita bermegah? Orang Yahudi bermegah dalam hukum Taurat, khususnya sunat, diet (tidak makan daging babi dsb), hari Sabat dan pergaulan. Orang Toraja sering bermegah dalam upacara, tongkonan dsb, dan pilihan-pilihan membuktikan bahwa sungguh hal-hal itu yang mengarahkan kehidupannya. Tetapi aktivis gereja kadangkala bermegah bahwa mereka adalah orang yang “beres”, bukan preman, bukan koruptor, bukan orang durhaka. Keagamaan menjadi kebanggaan akan diri sendiri. Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa orangnya belum menangkap sejauh mana dia kehilangan kemuliaan Allah, dan sejauh mana dia hanya dapat beribadah kepada Allah karena darah Kristus. Secara lebih halus, orang kristen kadang mengaburkan sumber pembenaran dengan bermegah dalam iman. Itu juga keliru. (Tabe’ lako MJ.) Iman adalah sekadar cara untuk menerima hasil dari penebusan Kristus. Orang yang beriman selalu akan bermegah dalam apa yang diimani, yaitu, “Allah oleh Yesus Kristus” (5:11).

Yang kedua, Allah kita Allah siapa saja? Mendengar doa syafaat dalam ibadah, Dia adalah Allah orang yang bergumul dan yang berulang tahun di lingkup jemaat, dan Allah pemerintah Indonesia (syukur sering ada unsur itu sesuai dengan 1 Tim 2:1-2). Allah zending tidak dibatasi pada orang Belanda saja, tetapi dianggap Allah orang Toraja/Indonesia juga, sehingga mereka mengutus tenaga untuk menghabiskan hidupnya jauh dari kampung halamannya. Syukur bahwa di Indonesia makin banyak yang sudah mengingat siapa Allah itu, sehingga mendukung pelayanan misi dalam berbagai bentuk.

Yang ketiga, orang yang dibenarkan meneguhkan hukum Taurat, dalam artian mengasihi Allah dan sesama. Sampai sekarang ada yang mengatakan, “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Jawab Paulus, “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” (3:10) Pembenaran adalah kesempatan untuk belajar berbuat baik, karena kesalahan masa lampau dihapus.


Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Rom 10:9-15 Percaya dan mengaku

Oktober 4, 2010

Dalam salah satu renungan yang lalu saya menguraikan pemahaman saya tentang konteks perikop ini dalam Roma pp.9-11. Di tengah pembahasan tentang rencana Allah dalam penolakan Kristus oleh sebagian besar Israel, Paulus menjelaskan penerimaan dan penolakan Kristus dari perspektif manusia. Seperti dinubuatkan Musa (Rom 10:6-8, yang menjadi landasan untuk a.9 yang dimulai dengan kata “sebab”), pesan Injil tidaklah jauh dari manusia, dan hal itu diuraikan sampai pada akhir perikop kita. Jika hal itu menjadikan Israel pada zaman Paulus tanpa dalih (10:16 dst), lebih lagi kita yang hidup dalam kekristenan seperti anggota-anggota gereja. Makanya, kita mesti mempelajari jalan keselamatan yang di sini disampaikan secara ringkas oleh Paulus.

A.9 menyampaikan rumusan yang sederhana tetapi dalam. Cukup bagi seseorang untuk mengaku dan percaya. Pengakuan itu dilakukan dengan mulut, artinya di depan orang lain, dan isinya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kata “Tuhan” dalam bahasa Yunani sama dengan kata “tuan” (kurios), dan merujuk pada kedudukan kita sebagai hamba-hamba Yesus. Dia adalah bos, kita adalah bawahan-Nya. Tetapi relasi hamba-tuan selalu timbal-balik, dalam artian bahwa seorang tuan tidak hanya menyuruh hambanya tetapi juga melindungi hambanya. Seorang hamba yang sejati akan setujuan dan senasib dengan tuannya. Mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan pada saat itu berarti bahwa Kristus dan bukan Kaisar (atau dewa-dewi yang lain) yang diharapkan untuk membawa keselamatan dalam dunia ini, dan bahwa Kristus bukan bos-bos manusia yang diharapkan untuk kesejahteraan hidup.

Tetapi selain mengaku Kristus sebagai bos tertinggi dalam kehidupan kita, juga dikatakan bahwa kita harus percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Perhatikan bahwa hal itu bukan soal percaya secara umum. Banyak orang dengan saleh mencoba mengandalkan Allah dalam pergumulan hidup, sekalipun mereka tidak tahu atau tidak percaya atau tidak peduli bahwa Kristus telah bangkit. Mengapa kebangkitan Kristus diangkat di sini?

Dalam a.10 Paulus menjelaskan bahwa hasil atau tujuan percaya ialah pembenaran. Ternyata dalam ayat ini keselamatan adalah tahap kedua yang mendasari pembenaran. Ayat ini menyimpulkan pembahasan Paulus dalam Roma p.4, tentang Abraham yang percaya pada janji Allah bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, lalu dibenarkan oleh iman itu. Dua hal tentang iman ditegaskan dalam perikop itu. Yang pertama, iman mengutamakan janji Allah di atas perbuatan manusia. Dalam Roma p.4 Paulus menegaskan bahwa yang mendasar bagi Abraham bukan hukum Taurat (atau bibitnya dalam hal sunat 4:10-11), melainkan janji Allah (4:13). Harus demikian, karena janji Allah bukan janji bersyarat atau janji akan suatu upah (4:4, 14). Seandainya janji Allah adalah janji bersyarat, maka kita semua akan gagal sehingga tidak ada harapan (4:15). Jadi, menurut Paulus iman adalah pertama-tama tentang janji Allah. Bagi Paulus, yang jauh lebih penting dari kadar ketaatan kita adalah kadar karya keselamatan Allah. Abraham percaya akan janji yang masih merupakan bibit dari penggenapannya dalam Kristus. Kita percaya bahwa puncaknya telah jadi dalam kebangkitan Kristus, yang membuktikan bahwa dosa telah ditebus dalam kematian-Nya dan maut telah dikalahkan.

Yang kedua, mengutamakan janji Allah berarti bahwa kita mengutamakan rencana Allah. Iman tidak berarti bahwa kita percaya bahwa Allah akan kasih stempel pada semua cita-cita dan harapan kita, tetapi berarti bahwa kita percaya bahwa rencana Allah yang berpusat pada Kristus akan terwujud. Percaya bahwa Kristus telah bangkit menyiratkan bahwa kita menginginkan apa yang dijanjikan Allah itu, yakni pelepasan dari dosa dan hidup kekal bersama dengan Allah. Hal-hal itulah yang diinginkan Allah untuk kita.

Paulus membuktikan kedua tahap itu dengan dua nas PL. Dalam a.11 dia mengutip Yes 28:16 yang sudah dikutip dalam Rom 9:33. Yes 28:16 berbicara tentang orang yang percaya kepada Allah sehingga tidak akan hancur ketika Allah menghukum Israel. Terkandung dalam hukuman Allah adalah rasa malu yang sangat, yaitu bahwa dosa kita diperlihatkan di depan umum. Semua dalih, bohong, dan penipuan kita akan ketahuan. Tetapi orang-orang yang percaya pada Allah tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, karena dibenarkan oleh Allah dengan cuma-cuma, mereka terhitung sebagai umat-Nya, sebagai hamba Tuhan Yesus yang sejati dan layak dilindungi. Makanya, untuk semua macam orang yang percaya (a.12), Allah akan menyelamatkan mereka ketika mereka berseru kepada-Nya (a.13). Keselamatan itu terutama berarti keselamatan dari murka Allah sebagai akibat dari dosa kita (Rom 5:9), tetapi tidak lepas dari keselamatan dalam kehidupan ini (bnd. 2 Kor 1:9-11).

Jika keselamatan berdasarkan janji Allah yang luar biasa itu ditunjukkan untuk semua orang, bagaimana dengan orang-orang yang belum berjumpa dengan janji itu? Dalam aa.14-15 Paulus mengajukan dan menjawab pertanyaan itu. Berseru (sehingga diselamatkan) hanya munkin jika sudah percaya. Percaya hanya mungkin jika sudah mendengar tentang Kristus. Mengapa? Karena percaya berarti percaya bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa sejarah. Baik nalar maupun hati tidak bisa menjangkau peristiwa sejarah kecuali diberitahu. Budaya setempat bisa membawa banyak nilai Injili, tetapi tidak bisa memberitahu tentang kebangkitan Kristus. Makanya, perlu ada yang memberitakan Kristus. Siapa? Sama seperti Paulus dan Barnabas diutus (Kis 13:2-3), perlu ada yang diutus untuk membawa berita tentang Kristus kepada mereka yang belum mendengarnya. Dalam Rom 15:24 Paulus akan meminta dukungan mereka untuk dia melanjutkan misi itu.

Dalam perikop ini Paulus menjelaskan bagaimana semua orang, dari agama dan kelompok apapun, menerima keselamatan, yaitu dengan percaya pada karya dan rencana Allah yang berpuncak dalam kebangkitan Kristus sehingga mengandalkan Kristus sebagai Tuhan di depan umum. Jika perikop ini diberi judul “tidak sekadar percaya”, yang di atas percaya itu bukan perbuatan kita melainkan janji dan rencana Allah. Respons kita yang utama adalah percaya dan mengaku. Respons yang berikut adalah mengabarkan kabar baik itu.

Sebagai tambahan atau lampiran, mungkin ada dua pertanyaan yang perlu dijawab. 1) Apakah perbuatan baik tidak penting? Jawabannya: tetap penting, tetapi pentingnya diuraikan dalam Roma pp.6-8 dan pp.12-13, bukan dalam perikop kita. Berdisiplinlah menafsir teks yang ada! 2) Apakah semua orang yang tidak pernah terjangkau oleh pemberitaan Injil sudah pasti tidak selamat? Jawabannya: saya tidak tahu. Paulus menyampaikan logika iman Injili, yaitu bahwa kita harus percaya pada janji Allah, bukan pada bayangan kita, sehingga Kristus perlu diberitakan kepada semua. Bahwa Allah sedang menjangkau banyak orang di luar usaha-usaha lembaga kristiani tidak saya ragukan. Tetapi kita tidak bertindak atas pengandaian-pengandaian melainkan atas firman Allah yang jelas, yaitu indahnya kedatangan orang yang membawa kabar baik.


Rom 10:4-13 Keselamatan bagi semua

Mei 26, 2010

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9-12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4-5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9-11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Isaak di atas Ismael dan Yakub di atas Esau. Pada akhir p.9 (aa.24-29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari pihak Israel sendiri. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30-10:4). Perikop kita (10:4-13) menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan aa.14 dst menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak pesan keselamatan itu.

Rom 10:4 menyimpulkan argumentasi Paulus bahwa cara Israel mengejar keselamatan itu salah, karena mereka tidak melihat bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Ayat itu juga menjadi dasar untuk penguraian Paulus yang berikut. Paulus memperlihatkan dari Taurat sendiri bahwa pembenaran terdapat dengan percaya. A.5, yang mengutip dari kitab Imamat, merujuk pada ritus-ritus yang dilakukan supaya Israel yang najis karena dosa dapat beroleh penyucian. Cara itu tepat pada waktunya (sebelum Kristus menjadi jalan pendamaian, 3:25), seandainya dilakukan dengan iman (9:32). Tetapi Taurat sendiri tidak menyembunyikan soal iman. Dalam aa.6-7 Paulus mengutip dari Ul 30:11-14 yang mengatakan bahwa firman Allah itu dekat, di dalam mulut dan hati. Maksud Musa ialah bahwa makna Taurat bukan sesuatu yang terlalu jauh atau tinggi untuk dipahami, dan hanya menuntut pengakuan di mulut dan hati yang mengasihi Allah. Mengapa Paulus menganggap bahwa firman yang dimaksud Musa sama dengan Injil? Karena Ul 30:11-14 menyusul Ul 30:1-10 yang berbicara tentang pemulihan Israel setelah dihukum Allah, termasuk pembaruan hati (Ul 30:6). Hal-hal itu yang digenapi oleh Kristus (bnd. di sini). Jadi, firman yang dimaksud Musa termasuk firman tentang Kristus.

Kedekatan firman itu dalam konteks Injil dijelaskan Paulus dalam kedua hal itu, yakni mulut dan hati. Pengakuan adalah pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan. Mengasihi Allah dalam hati disamakan dengan percaya bahwa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati; hal itu sudah dibahas berkaitan dengan Abraham dalam p.4. Kesimpulan Paulus diteguhkan dengan dua nas dari para nabi dalam aa.11, 13. Dalam a.12, Paulus mengingatkan kita tentang konteks jalan keselamatan ini, yakni rencana Allah yang dimaksudkan untuk semua orang, Yahudi dan non-Yahudi.

Kita adalah penerima jalan kesemalatan itu. Kita percaya dan mengandalkan bahwa Allah bertindak untuk menyelamatkan dunia dalam Kristus, dan kita mengaku di hadapan dunia bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat bersukacita karena kita tahu bahwa pada akhirat kita tidak akan dipermalukan melainkan diselamatkan. Oleh karena itu, kita bersyukur bahwa ada yang membawa berita Injil itu kepada kita, dan kita juga ingin supaya berita itu dibawa kepada semua orang, bukan hanya kepada kalangan sendiri. Kita juga bersyukur bahwa di balik semua kegiatan kita, Allah yang satu berkarya, yaitu Allah yang kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.


Rom 13:8-14 Kasih dalam Pengharapan

Februari 8, 2010

Satu pola agama, seperti yang saya pahami tentang aluk to dolo (agama nenek moyang orang Toraja), adalah ketaatan kepada sistem aturan tingkah laku (pemali alias tabu) dan ritus untuk mendatangkan berkat (kesejahteraan) dan mencegah kutuk (musibah). Mungkin ada jemaat yang menerapkan pola yang sama. Jika kesepuluh Firman ditaati dan ibadah rajin diikuti ada harapan bahwa hidup akan berjalan mulus; jika tidak ditaati ada ketakutan bahwa suatu musibah akan terjadi. Perikop ini menunjukkan peran yang sebenarnya dari aturan hidup dan sumber berkat yang sebenarnya.

Roma 1-11 menguraikan “kemurahan Allah” yang menjadi dasar perubahan hidup (12:1). Kemurahan itu bukan bahwa Allah masa bodoh terhadap kesalahan dan dosa kita, melainkan bahwa dalam Kristus hukuman (kutuk) dari dosa kita sudah ditanggung Kristus (3:25), dan bahwa dalam Roh Kudus dosa sedang dimatikan (8:13). Lebih lagi, ciptaan Allah yang di bawah perbudakan kebinasaan (dikutuk) akan dimerdekakan (8:21).

Atas dasar itu, perubahan hidup dikerjakan dalam konteks tubuh Kristus (12:3-8), dan intinya adalah kasih (12:9; 13:8). Kasih itu digambarkan dalam 12:9-13:7, termasuk kasih kepada musuh dan hormat kepada pemerintah. Dalam perikop kita, hubungan kasih dan hukum Taurat dijelaskan. Mengasihi sesama berarti memenuhi hukum Taurat (13:8). Sebaliknya, kesepuluh Firman menguraikan kasih (13:9-10). Kesepuluh Firman serta “firman lain manapun” (tentu sebagaimana ditafsirkan dalam ajaran Yesus dan juga oleh Paulus, seperti 12:9 dst tadi) tetap memberitahu batas-batas tingkah laku kita, karena jika kita langgar kita tidak lagi bertindak dalam kasih. Tetapi kita taat bukan untuk mencegah musibah melainkan demi kebaikan sesama, bukan karena takut melainkan karena kasih.

Jika motivasi untuk berbuat baik adalah kasih kepada sesama, apa motivasinya untuk kasih? Jawaban Paulus adalah “karena kamu mengetahui keaadaan waktu sekarang”, yaitu bahwa keselamatan lebih dekat (13:11). Keselamatan itu menyangkut akhir zaman, saat ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (8:21). Untuk banyak jemaat soal akhir zaman sepertinya terasa kurang konkret, karena menyangkut masa depan sedangkan mereka hidup dalam masa kini saja. Tetapi bagi Paulus akhir zaman adalah sangat praktis, karena merupakan puncak dari sesuatu yang sudah berjalan. Kutuk sudah diambil dari orang percaya sekarang juga, karena sudah ditanggung Kristus pada salib. Sekarang juga “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (8:28). Penderitaan dan pergumulan bukan lagi pertanda kutuk melainkan pertanda persekutuan dengan Kristus (8:17), yang dipakai Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (8:29). Keselamatan pada akhir zaman adalah puncak dari berkat Allah kepada kita, yang terjamin karena Allah “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (8:32). Dengan sikap optimis bahwa kita sedang diberkati Allah itu, kita disuruh untuk menggantikan perbuatan kegelapan dengan senjata terang. Selain ada perlawanan antara gelap dan terang, ada juga antara perbuatan dengan senjata. Perbuatan bisa pasif dalam artian terbawa arus, sedangkan senjata menunjukkan bahwa ada niat untuk melawan arus.

Untuk memakai senjata terang, keinginan harus terkendali (aa.13-14). Hukum yang kesepuluh ialah “jangan mengingini”, dan hal-hal yang disebut dalam a.13 menunjukkan keinginan yang tidak lagi pada batasnya, tidak lagi sopan dan tertib. Caranya untuk hidup tertib dijelaskan dalam a.14. Mengenakan Kristus mengulang konsep mengenakan perlengkapan senjata terang dari a.12 (“sebagai perlengkapan senjata terang” adalah tambahan oleh LAI dalam a.14). Perlengkapan senjata adalah janji-janji Allah dalam Kristus dan hidup yang makin serupa dengan Kristus, sehingga mengenakan perlengkapan itu adalah mengenakan Kristus. Hal itu berarti bahwa harapan kita tertuju pada Kristus sehingga keinginan-keinginan kita akan diatur oleh harapan itu. Dengan demikian kita bisa melawan dosa dalam kedagingan (“tubuh” menerjemahkan sarx yang merujuk kepada keinginan-keinginan yang melawan Allah) dengan tidak berpikir-pikir kapan kita bisa berdosa lagi.

Jika kita masih terperangkap dalam pemahaman “agamawi”, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri melalui keagamaan kita, maka kita perlu mengingat bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang mengubah hidup kita menjadi berkat. Jika sudah diingat, mari kita mewujudkan pemahaman itu dengan kasih kepada sesama bukan sebagai amal / jaminan melainkan demi kebaikan sesama.


Rom 15:1-13 Penerimaan dan Pengharapan

Mei 20, 2009

Mungkin penerimaan dan pengharapan adalah dua hal yang tidak biasa dikaitkan. Mungkin juga ada jemaat yang menganggap bahwa penerimaan itu praktis dan penting, sedangkan pengharapan adalah hal yang teologis saja sehingga tidak terlalu praktis. Sebaliknya, mungkin ada yang menganggap bahwa penerimaan itu kurang teologis sehingga kurang penting. Rasul Paulus tidak jatuh ke dalam dualisme seperti itu yang memisahkan praktik dari teori, kasih dari iman.

Perikop ini adalah kesimpulan dari seluruh penjelasan Injil yang dimulai pada awal surat (1:16-17), karena dalam perikop berikut Paulus kembali ke soal rencana untuk mengunjungi jemaat di Roma yang diangkat dalam pendahuluan surat (bnd. 1:11 dan 15:22). Perikop ini juga mengakhiri bagian penerapan (mulai pada 12:1-2) yang menjelaskan bagaimana mempersembahkan seluruh hidup berdasarkan pembaruan akal budi dalam kemurahan Allah yang telah diuraikan dalam pp.1-11 itu. Inti bagian ini ialah 13:8-14. Perikop itu mengutarakan kasih dalam terang akhir zaman, yaitu dalam terang pengharapan. Kemudian, p.14 menguraikan satu masalah aktual dalam jemaat di Roma, yaitu bahwa ada (barangkali dari latar belakang Yahudi) yang membedakan makanan dan hari, dan ada yang memahami bahwa di dalam Kristus semuanya itu tidak apa-apa. Jadi, perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh aktual tentang kasih sebagai penghayatan Injil.

A.1 memperluas diskusi dalam p.14 dengan berbicara tentang kelemahan secara umum. Contoh orang lemah sekarang seperti jemaat yang tidak tahu diri sehingga agak susah bergaul. Kalau tujuannya menyenangkan diri mungkin saja orangnya dihindari atau dipinggirkan, tetapi kata Paulus yang kuat wajib menanggung kelemahannya. Tetapi perhatikan a.2. Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang! Sehingga jemaat yang susah bergaul tadi jangan dibiarkan dalam keegoisan! Kita bergaul dengannya dan berupaya untuk mengoreksi dia dengan sabar dalam kasih. Asal senang tidaklah membawa kesenangan yang membangun.

Mengapa kita akan menerapkan penerimaan yang begitu sulit itu? Ada serangkaian alasan dalam aa.3-6. Yang pertama, Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Penderitaannya sama dengan pemazmur dalam PL, yaitu dicerca karena setia kepada Allah (a.3). Dengan demikian kita dapat melihat pola ketekunan dalam PL yang digenapi dalam Kristus, sehingga kita dihibur (karena tidak sendirian di dalam kesusahan) dan tidak putus asa bahwa Allah meninggalkan kita (a.4). Tujuan penerimaan disampaikan dalam aa.5-6, yaitu kerukunan akibat saling menerima yang bermuara pada kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan Kitab Suci mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita juga ditarik oleh tujuan untuk memuliakan Allah bersama-sama.

Hal itu dikembangkan dalam aa.7-12. A.7 meringkas aa.1-6, karena Kristus menerima kita untuk kemuliaan Allah. Kemudian Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Sesuai dengan pembahasannya dalam pp.9-11, Paulus menjelaskan bahwa Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kutipan PL yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa selalu dipanggil dan diharapkan memuliakan Allah (aa.9-11). Bangsa-bangsa diterima karena rahmat saja, karena walaupun tidak ada perjanjian dengan mereka Allah tetap bertujuan supaya mereka diterima dalam sang Mesias (= taruk dari pangkal Isai, a.12). Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa.

Jadi, dalam a.12 Kitab Suci kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus dalam a.13 mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera (hasil penerimaan?) sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan. Sejauh saya berhasil mendalami perikop yang kaya ini, dalam Kristus, penerimaan dan pengharapan akan bangkit atau jatuh bersama.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.