Ul 6:1-9 “Belajar bersama keesaan Allah” (6 Mei 2012)

Mei 3, 2012

Teks ini (mudah-mudahan) lumayan terkenal, karena mengandung nas yang sentral dalam PL, yaitu aa.4-5. Kali ini, saya akan coba menafsirnya melalui lensa budaya Toraja, khususnya apa yang disebut “teologi tongkonan”, seperti ada dalam karya Th. Kobong, Injil dan Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menjadi pusat ritus-ritus keluarga besar, seperti yang terkait dengan pernikahan dan kematian. Kobong melihat Kristus sebagai pangala tondok Gereja, yaitu perintis atau cikal bakal keluarga yang berpusat di suatu tempat. Perintisan tongkonan mungkin terjadi ketika sang pangala tondok membawa keluarganya ke tempat yang baru, seperti Abraham membawa keluarganya ke Kanaan. Di situlah dia menjadi pemelihara dan penopang kehidupan keluarga (uainna ditimba [airnya ditimba] dsb), dan juga penentu adat (alukna dipoaluk [adat/agamanya dianut]), sama seperti Abraham menentukan ibadah kepada Allah serta sunat bagi keluarganya.

Penggalian Teks

Jika keluaran Israel dari Mesir dicermati, kita melihat pola yang sama. Setelah menyelamatkan mereka dari Mesir (Ul 5:6), Allah mengikat Israel menjadi satu keluarga besar/persekutuan tongkonan dengan Dia melalui perjanjian di gunung Sinai/Horeb (5:2). Dia menentukan aluk mereka (5:6-21), kemudian memelihara mereka sambil membawa mereka ke tempat baru, tanah perjanjian. Dalam perikop ini, Musa (yang ditunjuk sebagai perantara antara Israel dan Allah, karena Israel ketakutan melihat Allah, 5:23-33) sedang berbicara kepada umat Israel yang ada di pelataran Moab, di seberang sungai Yordan dari tanah yang dijanjikan Allah.

Makanya, dalam aa.1-3, Musa mengingatkan Israel tentang tujuannya, “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Ketetapan, peraturan, perintah dan kata-kata sejenisnya tidak merujuk pada suatu hukum positif, melainkan menunjukkan bagaimana Israel akan hidup dalam karapasan (kedamaian) dengan Allah di tanah perjanjian itu (aa.2-3). Karena ikatan perjanjian itu, karena Israel telah dijadikan tongkonan Allah oleh anugerah, Israel dan Allah telah menjadi senasib. Ketaatan dan kesejahteraan Israel membawa kesenangan dan kemuliaan bagi Allah sendiri. Pada saat Musa berbicara, mereka belum sampai di tanah perjanjian itu, tetapi mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan tujuan itu, bukan sesuai dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka di Moab.

Dalam aa.4-5, Musa mengingatkan Israel tentang pusat kesejahteraan mereka, yaitu Allah sendiri. Jika kita berbicara tentang masyarakat Toraja, sebenarnya ada beberapa persekutuan yang di dalamnya seseorang dapat menemukan dukungan dan kepentingan bersama, dan dalam kepercayaan lama ada juga beberapa sumber ilahi: nenek moyang, dan berbagai dewa. Bilamana kehidupan manusia bergantung pada beberapa sumber, maka kesetiaan dan kasih manusia pasti akan terbagi juga. Tetapi Allah itu tunggal, esa. Makanya, seluruh eksistensi orang Israel dituntut untuk terarah pada Dia saja. Sebagai Pangala tondok, Allah bukan sekadar penopang kehidupan, tetapi juga pusat kehidupan. Rencana dan tujuan (“hati”) disesuaikan dengan rencana dan kehendak Allah. Seluruh hayat dan hasrat (“jiwa”) dikaitkan dengan Allah. Kita rindu akan firman-Nya, suka beribadah kepada-Nya, dan ingin untuk menikmati segala pemberian yang baik sebagai anugerah daripada-Nya (Yak 1:17). Karena seluruh kehidupan kita berpusatkan Allah, seluruh tenaga dan tingkah laku (“kekuatan”) ditujukan kepada Dia.

Semuanya itu begitu pokok bagi kehidupan Israel sehingga Musa menyampaikan bebarapa langkah supaya pemahaman itu dapat membudaya (aa.6-9). Harus ada perhatian, pengajaran kepada generasi berikut, pembicaraan di mana saja, serta berbagai tanda yang dapat menjadi pengingat. Kegenapan dalam a.5 tidak akan terjadi dengan introspeksi diri, tetapi akan terwujud dalam saling mendorong.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel menikmati dan menghayati relasi dengan Tuhan di tanah perjanjian yang lebih erat daripada relasi antara pangala tondok dengan persekutuan tongkonan-nya. Dia mau supaya Allah menjadi satu-satunya Penopang kehidupan mereka, dan satu-satunya Penentu dan Pengarah kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, dia menyuruh mereka untuk saling mengajar dan menguatkan.

Makna

Ada manfaat tertentu dari usaha teologi kontekstual ini yang saya rasakan, walaupun saya tidak lahir dan besar di Toraja, yaitu, adanya gambaran yang konkret tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya. Banyak orang memperlakukan Allah dengan semacam penipuan. Mereka menghadapi Allah dengan ratapan dan tangisan ketika bergumul (konon, orangtua Toraja sangat susah menolak permintaan yang demikian dari anak-anaknya), tetapi rencana, cita-cita dan tenaga tetap berpusat pada diri sendiri. Mereka belum menangkap bahwa tanah yang dijanjikan Allah itu baik, lebih baik daripada berhala-berhala yang mereka kejar seperti gengsi. Kelebihan itu terutama bahwa Allah sendiri ada di pusat tanah itu. Dialah yang paling layak dikasihi.

Tentu, jika kita memikirkan perjalanan menuju tanah perjanjian dalam konteks PB, kita akan memikirkan jalan kita menuju langit dan bumi baru, dan Ibrani 4 dengan jelas menyejajarkan kedua hal itu. Tetapi hidup kekal dapat dinikmati sekarang juga, dengan mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus (Yoh 17:3) oleh kehadiran Roh Kudus (Yoh 14:15-20). Bahasa Paulus agak lain—Roh Kudus adalah karunia sulung dari ciptaan baru (Rom 8:23; bdk. Gal 3:14)—tetapi maksudnya sama. Dalam PB, kelimpahan juga ditafsir ulang. Buah kita adalah buah Roh (Gal 5:22-23), perubahan hidup, serta orang-orang yang dituai bagi Tuhan (Mt 9:35-38). Tetapi prinsipnya sama. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati sejauh mana kita melihat bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang paling baik, ketika Allah bukan di pinggir melainkan di pusat kehidupan kita.

Namun, ada satu aspek dari teologi tongkonan itu yang dapat dipertanyakan. Bukankah budaya Toraja dan banyak budaya sejenis merupakan budaya timbal-balik, do ut des, “saya memberi supaya kauberi”? Bukankah budaya itu akan dibawa masuk ke dalam kehidupan bergereja jika teologi seperti itu dipakai? Pertanyaan itu adalah penting, tetapi harus didasarkan pada analisis yang tepat. Yang disebut “timbal-balik” bisa saja sesuatu yang hakiki dalam sebuah relasi, bukan bukti akan sikap do ut des. Orangtua membantu anaknya ketika masih kecil dan tidak berdaya, dan anaknya pada gilirannya membantu orangtuanya ketika mereka sudah tua dan tidak berdaya. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, sekalipun unsur seperti itu bisa masuk. Dua keluarga dalam sebuah tongkonan masing-masing membawa hewan ke upacara keluarga yang lainnya, sehingga masing-masing mencapai tingkat upacara yang tidak akan terjangkau jika setiap keluarga berusaha sendiri. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, walaupun mungkin agak sering unsur itu masuk. Sebenarnya, do ut des dapat mencemari semua relasi manusia berdosa. Dalam budaya modern, do ut des menjadi paling canggih, karena segala do dan des diukur dengan uang, sehingga dapat dibanding-bandingkan dengan sangat persis. Namun, Alkitab berani menyebut Allah sebagai Raja, meskipun budaya kerajaan dalam PL dan PB sarat juga dengan do ut des. Alkitab berani melakukan hal itu karena Allah tidak sekadar Raja atau Pangala tondok, Dia juga adalah Penebus yang menyelamatkan Israel sebelum mereka berbuat apa-apa, yang menyelamatkan kita ketika kita masih musuh (Rom 5:8-10). Tidak ada pemberian kita yang layak dibandingkan dengan pemberian Allah itu, anugerah menghancurkan semua perhitungan do ut des itu. Namun, kita diselamatkan supaya berelasi dengan Dia, dan untuk hal itu harus ada timbal-balik, kebergantungan dan ketaatan dari kita kepada Allah yang dibalas juga dengan pemberian-pemberian Allah, terutama kedekatan dengan Dia, tetapi juga banyak hal yang lain. Dengan demikian, makin lama, makin kuat relasi kita dengan Pangala Tondok kita.

Sebenarnya, kasih kepada Allah yang Esa adalah solusi yang paling ampuh terhadap masalah do ut des itu. Yang diharapkan dan didambakan ialah Allah, sehingga manusia tidak usah terlalu dituntut. Do ut des adalah gejala manusia berdosa yang belum mengasihi Allah sepenuhnya.

Sikap seperti itu tidak terjadi secara spontan, sehingga Musa berbicara tentang Israel sebagai semacam masyarakat pembelajaran, community of learning. Fokusnya adalah anak-anak, tetapi jangan sampai ada anggapan bahwa orangtua sudah tahu. Cara yang paling cepat untuk jemaat dewasa bertumbuh dalam pengetahuan firman Allah ialah bila dalam setiap keluarga orangtua rajin mengajar anaknya. Perlu juga diingat apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak yang melihat orangtuanya berdoa di gereja tetapi tidak berdoa di rumah menarik kesimpulan yang logis saja tentang wilayah kuasa Allah. Bahkan, penelitian di dunia Barat memberi bobot yang lebih tinggi pada peran ayah dalam keluarga. Jika anak-anak melihat iman yang nyata dari ayah dalam seluruh aspek kehidupannya, kemungkinan lebih besar mereka juga akan memiliki iman yang jelas.


Ul 8:1-10 Menikmati keselamatan dengan ketaatan (18 Mar 2012) [Sengsara V]

Maret 16, 2012

Dalam Membangun Jemaat, buku pedoman Gereja Toraja, kita sampai pada perkara kelima yang dibenci Tuhan, yaitu “kaki yang segera lari menuju kejahatan” (Ams 6:18b). Kaitannya dengan perikop yang ditentukan sepertinya dari 8:4, “kakimu tidaklah menjadi bengkak”. Mungkin maksudnya bahwa Tuhan memelihara kita bahkan sampai kaki bukan untuk melakukan kejahatan tetapi kebaikan. Bagaimanapun juga, perikop ini sangat berguna agar kita memahami relasi antara keselamatan, perbuatan baik, dan berkat. Urutannya pas seperti itu: keselamatan adalah anugerah Allah, perbuatan baik adalah cara kita menghayatinya, dan berkat adalah hasil penghayatan itu. Begitulah kesimpulan saya; ujilah sendiri apakah cocok dengan perikop ini.

Penggalian Teks

Perikop ini berbicara tentang cara Israel mengalami berkat Tuhan, sama seperti kebanyakan kitab Ulangan. Semuanya ditempatkan dalam konteks pengembaraan di padang gurun selama 40 tahun setelah keluar dari Mesir. Pengembaraan itu diceritakan oleh Musa dalam khotbah pertamanya dalam pp.1-4. Sekarang Israel ada di seberang sungai Yordan, siap untuk menduduki tanah perjanjian. Khotbah kedua Musa beranjak dari ketaatan (kesepuluh hukum, p.5) dan berakhir dengan berkat jika taat, dan kutuk jika tidak taat (pp.28-30). Tanah perjanjian adalah pemberian Tuhan, tetapi kenikmatan pemberian itu akan bergantung pada respons Israel. Dalam 6:5-6 dasar ketaatan dilihat dalam kasih kepada Allah yang Esa. Kemudian, Musa menguatkan Israel bahwa mereka akan mampu menduduki Kanaan (p.7), dan bahwa hal itu akan jadi (8:1-10). Setelah perikop kita, dia memberi peringatan bahwa mereka akan berhasil karena Allah, bukan karena kehebatan mereka (8:11-19) ataupun kebaikan mereka (p.9, yang mengangkat masalah patung Anak Lembu Emas sebagai contoh ketidaktaatan mereka).

Tema perikop disampaikan dalam a.1, yaitu, taat supaya hidup. Kemudian, pentingnya mengingat dan belajar dari pengembaraan di padang gurun disampaikan dalam aa.2-5. Aa.6-10 menguraikan a.1, dengan peringatan ulang untuk taat dalam a.6, serta penjelasan tentang kebaikan hidup di tanah perjanjian (aa.7-9) yang akan bermuara pada pujian kepada Allah (a.10).

A.1 dengan jelas menempatkan perikop ini dalam rencana keselamatan Allah, yaitu penggenapan janji kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Hal itu menegaskan bahwa berkat (hidup dan bertambah banyak) bukan hasil atau upah dari ketaatan. Janji Allah adalah dasar berkat, dan ketaatan adalah cara untuk menikmatinya, bukan memperolehnya.

A.2 adalah seruan untuk mengingat suatu masa sulit, yaitu empat puluh tahun di padang gurun. Masa itu terjadi karena Tuhan membuat Israel berjalan di dalamnya, dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk merendahkan hati mereka dan menguji sejauh mana mereka sungguh mau taat kepada Allah. Untuk menjelaskan bagaimana mereka direndahkan, Musa meninjau kembali soal makanan. Mereka menjadi lapar dan harus bergantung pada manna, sesuatu yang terjadi karena perintah Allah (3). Namun, Allah tetap memelihara mereka secara ajaib (4). Sebagai kesimpulan, Musa mengartikan pergumulan-pergumulan mereka sebagai didikan seorang Ayah kepada anak-Nya. Pelajaran bahwa mereka harus dengan rendah hati bergantung pada firman Allah membutuhkan proses yang berat, tetapi perlindungan Allah tetap ada di dalamnya.

Jika a.1 mengatakan untuk melakukan perintah Tuhan dengan setia, a.6 menjelaskan hal itu sebagai hidup menurut jalan Tuhan dan takut akan Tuhan. Dalam a.3 Tuhan membuat Israel mengikuti jalan pengembaraan karena mereka belum mau mengikuti jalan Tuhan (termasuk tidak berani memasuki tanah Kanaan, Bilangan 13-14), tetapi akan lebih baik jika Israel memilih untuk mengikuti jalan Tuhan. Ketika Israel tidak mau memasuki tanah Kanaan, mereka takut akan orang-orang “raksasa” di sana, tetapi akan lebih baik jika Israel takut akan Tuhan. Alasan itu diperkuat dalam aa.7-10. Hidup menurut jalan Tuhan bukan sesuatu yang berat, tetapi akan merupakan hidup yang berkelimpahan. Kelimpahan itu tidak lepas, dan tidak dapat lepas, dari Tuhan, karena Dialah yang membawa mereka ke sana. Makanya, jika mereka hidup menurut jalan Tuhan, mereka akan puas dan memuji Tuhan. Tuhan adalah awal dan akhir dari berkat yang mereka alami.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel memilih untuk taat kepada Tuhan, supaya mereka dapat menikmati berkat Allah di tanah perjanjian, dan tidak mengalami kembali didikan Tuhan yang berat karena tidak mau taat. Yesus juga menawarkan hidup yang berkelimpahan bagi domba-domba-Nya yang mendengar suara-Nya dan mengikuti-Nya (Yoh 10:10). Jadi, perikop ini tetap mendorong kita untuk taat, karena itulah cara untuk menikmati hidup yang berpusat pada Allah.

Makna

Dari diskusi di atas, jelas bahwa keselamatan bukan hasil dari perbuatan baik, tetapi sebaliknya perbuatan baik adalah respons terhadap keselamatan. Namun, juga jelas bahwa perbuatan baik bukan sekadar ucapan syukur atas keselamatan. Penebusan Israel dari Mesir memungkinkan mereka untuk mengalami berkat Tuhan, tetapi berkat itu tidak akan dinikmati kecuali ada ketaatan. Bagaimana menikmati hadirat Tuhan jika menyembah ilah yang lain, atau membuat gambar sendiri (patung) untuk disembah? Bagaimana menikmati kehidupan bersama di bawah Tuhan jika suka membangkang, saling membenci, tidak setia, mencuri, saling menjatuhkan, dan penuh iri hati? Perintah-perintah Allah merupakan pemberian yang menguntungkan, salah satu anugerah Allah, supaya keselamatan tidak disia-siakan dengan tetap hidup dalam dosa.

Tentu, hukum Taurat terdiri dari lebih dari kesepuluh perintah saja. Ada banyak perintah lagi yang mengatur kehidupan Israel sebagai masyarakat yang menghargai kemanusiaan setiap orang, serta menempatkan Allah di pusat kehidupan. Setelah Kristus, aturan-aturan itu tidak berlaku lagi sebagai hukum (Gal 3:24-25), walaupun ada banyak hikmat yang dapat digali daripadanya (Rom 7:12). Namun, prinsipnya sama. Kita diselamatkan untuk menikmati hidup baru, dan ajaran Tuhan Yesus serta nasihat para rasul sangat membantu kita dalam rangka itu.

Kehidupan tidak selalu dinikmati, dan aa.2-5 merupakan pernyataan klasik yang melihat pemeliharaan Tuhan di tengah pergumulan yang bermaksud baik bagi yang bergumul. Namun, saya mau mengajukan bahwa aa.2-5 hanya masuk akal karena didahului oleh penebusan dan akan berakhir dengan penggenapan janji berkat. Karena Israel telah ditebus dari Mesir, mereka dapat percaya bahwa maksud Allah dalam pergumulan itu baik. Karena kita ditebus dalam Kristus, kita juga dapat percaya bahwa maksud Allah itu baik (Rom 5:6-11). Karena Israel menuju tanah perjanjian, pembentukan karakter mereka ada tujuannya, supaya mereka dapat menikmati berkat Allah sepenuhnya. Kita menuju tanah yang lebih baik lagi—bumi yang baru yang dijamin oleh kebangkitan Kristus—sehingga pembentukan karakter kita dalam pergumulan juga berguna (Ibr 12:1-13).


Ul 5:23-33 Taat karena Allah yang mulia dan besar

Januari 10, 2011

Jangan menyimpang, kata Musa kepada Israel (a.32). Itulah perintah yang disampaikan berulangkali dalam kitab Ulangan ini. Tetapi setiap kali dasar untuk perintah bisa berbeda-beda. Apa dasarnya, motivasinya, untuk ketaatan yang tidak menyimpang dalam perikop ini?

Sebagian besar kitab Ulangan adalah khotbah-khotbah Musa kepada Israel yang berada di dataran Moab, di seberang sungai Yordan, siap untuk memasuki tanah perjanjian (Ul 1:1). Dalam khotbah pertama, pp.1-4, Musa meninjau kembali riwayat Israel, dari gunung Horeb (alias Sinai) sampai di seberang sungai Yordan. Kisah itu menempatkan Israel pada saat itu dalam sebuah kisah yang sedang berjalan, yaitu kisah penyelamatan dari Mesir sampai masuk di tanah perjanjian (4:37-38). Musa juga mengingatkan mereka tentang pemeliharaan Allah yang telah mengalahkan musuh mereka, yakni kedua raja Amori, Sihon dan Og (2:31; 3:3). Dengan demikian, Israel sudah mengalami Tuhan sebagai Allah Penyayang, dan memahami bahwa tidak ada yang setara dengan Dia (4:30 dst).

Itulah konteks untuk khotbah yang berikut, yang menguraikan hukum Allah, mulai dengan kesepuluh firman (5:1-22). Perikop kita menceritakan reaksi umat Israel terhadap penyampaian itu. Dalam a.23 Musa bercerita kepada Israel di seberang sungai Yordan tentang Israel satu generasi sebelumnya di Horeb (Sinai). Dalam aa.24-27 Musa menceritakan perkataan semua kepala suku dan para tua-tua kepadanya di Sinai. Dalam aa.28b-31 Musa menceritakan perkataan Allah kepadanya di Sinai. Dalam aa.32-33 Musa kembali mengalamatkan Israel di seberang sungai Yordan dengan himbauan untuk jangan menyimpang. Cerita dari masa lampau ternyata menjadi dasar untuk himbauan itu. Baik perkataan para pemimpin Israel maupun respons Allah termasuk dasar itu.

Perkataan para pemimpin Israel dalam aa.24-27 bertujuan untuk membuat nyata kembali penampakan Allah yang dahsyat di Sinai itu bagi generasi-generasi berikut yang tidak menyaksikannya langsung, serta menjelaskan mengapa penampakan itu tidak terjadi berulangkali. Dahsyatnya ditunjukkan dengan keheranan mereka bahwa mereka bisa melihat kemuliaan Allah dan mendengar suara-Nya dan hidup (a.24). Makanya, mereka memohon Musa untuk menjadi perantara mereka (a.27, dikabulkan dalam a.31). Allah yang demikian yang memberi perintah yang daripadanya Israel dihimbau untuk tidak menyimpang. Jika Musa menjadi perantara, hal itu tidak mengurangi wibawa penyampaian Musa sebagai firman Allah. Sama halnya untuk seluruh Alkitab, yang ditulis oleh manusia tetapi harus kita hormati sebagai firman Allah.

Permohonan mereka dianggap baik oleh Tuhan (a.28), karena menunjukkan bahwa Israel takut akan Dia (a.29). Takut akan Allah adalah soal hati (“Kiranya hati mereka selalu begitu” a.29), hati yang sadar dan kagum akan kemuliaan dan kebesaran Allah. Hati yang demikian tidak memperlakukan Allah sebagai sekadar dewa pelindung yang tugas-Nya adalah memberkati cita-cita kita. Allah itu berbahaya (aa.24-26). Sebaliknya, hati yang demikian akan berpegang pada perintah-Nya (bukan Allah berpegang pada perintah kita), bukan hanya karena sadar akan kuasa Allah tetapi juga karena sadar bahwa hidup yang sejati didapat dari Allah yang dahsyat ini (“supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya”, diulang dalam a.33). Hati ini mensyukuri keselamatan yang telah dianugerahkan (penyelamatan dari Mesir, penebusan dalam Kristus), mengharapkan janji keselamatan (memasuki tanah perjanjian, kebangkitan ke dalam dunia baru), dan menempuh jalan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah sebagai jalan yang indah.

Jadi, dasar untuk tidak menyimpang dari hukum Allah adalah bahwa yang disampaikan melalui Musa berasal dari Allah yang mulia dan besar, yang menawarkan hidup yang sejati, tetapi juga berbahaya. Allah itu tidak berubah ketika Dia mengutus Yesus Kristus, tetapi justru nampak makin mulia, besar dan berbahaya. Kristus menebus kita dari dosa dan maut, bukan hanya belenggu politik. Dunia baru adalah dunia hidup kekal, bukan hanya umur yang lanjut. Sebaliknya, karena hidup yang sejati adalah hidup yang kekal, kematian juga memiliki makna lebih dalam dan mengerikan, sebagaimana diperlihatkan oleh perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang kesadaran orang yang tidak masuk ke dalam kerajaan Allah akan kehilangan mereka yang total. Dalam perjuangan rohani kita, Allah Roh Kudus yang menyertai kita dengan mengubah hati kita supaya takut akan Allah dan taat, serta berkarya dalam dunia sekarang. Makanya, bagi kita dalam Kristus makin kuat alasannya untuk kita mengagumi Allah, mensyukuri keselamatan-Nya dan hidup sesuai dengan Injil.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.