Yak 3:1-12 “Kuasa dan Bahaya Lidah” (26 Feb 2012) [Sengsara II]

Februari 25, 2012

Tafsiran yang diusulkan hari ini beranjak dari satu usul yang pada awalnya dapat mengagetkan, yaitu bahwa yang dimaksud tubuh oleh Yakobus di sini adalah tubuh jemaat, bukan tubuh pribadi. Tafsiran itu muncul dalam beberapa dekade terakhir, mungkin dibantu oleh kesadaran tentang bias individualisme para penafsir Barat. Intinya tidak jauh beda, kita tetap diperhadapkan dengan bahaya lidah, termasuk lidah dusta yang disebutkan dalam Ams 6:17b (Ams 6:17-19 menjadi kerangka untuk khotbah minggu-minggu sengsara Gereja Toraja). Hanya, penerapannya menjadi lebih tajam, yaitu dampak lidah di dalam jemaat. Jika tafsiran itu mau diterima, maka pengkhotbah harus berusaha untuk konsisten. Lidah mengendalikan jemaat, bukan tubuh pribadi; lidah jahat menodai jemaat, bukan tubuh pribadi.

Penggalian Teks

Surat Yakobus adalah praktis (memberi fokus pada cara hidup) tetapi sama sekali bukan nir-teologis. Dasarnya disampaikan di tengah p.1: Allah Bapa kita yang baik (1:17) “telah menjadikan kita oleh firman kebenaran” untuk menjadi buah sulung ciptaan baru (1:18), dan firman itu “tertanam di dalam hatimu” dan “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (1:21b). Implikasi pertama adalah menjadi pelaku firman (1:22-25), kemudian mengekang lidah (1:26), kemudian membantu orang miskin (1:27). Ketiga implikasi itu diuraikan dalam bagian-bagian seterusnya: sikap terhadap orang miskin pada awal p.2, perbuatan sebagai buah iman yang sejati dalam 2:14-26, dan soal lidah dalam perikop kita. Makanya, soal lidah ini adalah implikasi dari iman. Semestinya, dari hati yang sedang diselamatkan (diperbaharui) oleh firman muncullah kata-kata pembaruan. Tetapi 1:19-20 sudah menyinggung masalahnya: lidah sering mengeluarkan amarah yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah, jadi, lebih baik banyak diam. 1:26 juga senada, yaitu bahwa lidah perlu dikekang.

Sikap pesimis terhadap lidah itu disinggung dalam a.2, dan muncul dengan sangat tegas dalam aa.6-8. Namun, kita perlu memperhatikan a.1 dan aa.3-5 untuk menangkap apa yang dimaksud Yakobus di sini. A.1 memberi peringatan terhadap orang-orang yang mau menjadi pengajar (seorang didaskalos mengajar jemaat, bukan siswa). Hal itu bersambung dengan bagian sebelumnya yang menyangkut ajaran yang salah, dan bisa juga dikaitkan dengan awal p.4, di mana ada perselisihan yang berat yang mungkin saja menyangkut berbagai oknum yang menganggap dirinya pengajar jemaat. Soal pengajaran menjadi soal lidah dalam a.2, dan a.2 dapat diartikan bahwa lidah adalah bagian tubuh yang paling sulit dikendalikan, sehingga berhasil dalam lidah berarti sudah berhasil dalam seluruhnya. Luk 6:44 menyatakan bahwa pohon dikenal dari buahnya, dan ayat berikutnya memberi perkataan sebagai contoh utamanya. Artinya bahwa pengendalian lidah menjadi gejala atau bukti akan hati yang sudah terkendali. Hal itu senada dengan perkataan Yesus bahwa perkataan adalah luapan hati (Lk 6:45; Mt 12:34). Masalahnya bahwa aa.3-4 menggambarkan lidah (ibarat kekang dan kendali) mengendalikan tubuh (kuda, kapal). Hal itu berbeda dari tindakan lidah dan tubuh sebagai penyataan batin atau hati orang, seperti dalam Luk 6:44-45 tadi. Jika maksudnya adalah lidah saya mengendalikan tubuh saya, saya justru menjadi sulit memikirkannya. Sepertinya, hati/akal saya yang mengendalikan tubuh saya, bukan perkataan saya. Hati saya adalah kendali saya, bukan lidah.

Tetapi ada jalan keluar jika kita melihat bahasa aslinya. Akhiran “-nya” dalam “seluruh tubuhnya” pada a.2 memberi kesan bahwa tubuh penutur yang dirujuk, tetapi akhiran itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Terjemahan itu sah dan masuk akal jika kita menganggap bahwa tubuh pribadi yang dimaksud, tetapi bentuk aslinya juga dapat diartikan sebagai tubuh jemaat. Tafsiran itu membuat alur penguraian lebih jelas. Kita harus hati-hati menjadi pengajar, karena kita rawan bersalah. Seandainya kita tidak rawan bersalah, jemaat akan aman terkendali, karena lidah sangat berkuasa di dalam jemaat. Dalam a.4, kata yang dipakai untuk “kehendak jurumudi” bisa diartikan sebagai “kemauan”, artinya, apa saja yang dia mau. Di dalam badai pun lidah memungkinkan pengajar untuk mengarahkan jemaat. Tetapi kemauan pengajar juga adalah masalahnya, karena kehendak di balik lidah tidak selalu tepat. Jadi, dalam a.5 peringatan keras mulai. Ketika lidah dipakai untuk membual, lidah justru menjadi seperti api yang membakar seluruh jemaat.

A.6 adalah puncaknya. Jika tafsiran di atas tepat, “anggota-anggota” (kata “tubuh” ditambahkan LAI di sini) berarti anggota-anggota jemaat. Lidah adalah api yang menyalakan sepanjang kehidupan manusia dengan api neraka sendiri; hal itu terjadi ketika perkataan sebagai “dunia kejahatan” menodai seluruh tubuh. “Dunia kejahatan” mungkin dapat diartikan sebagai perkataan yang jahat secara sistemis. Misalnya, dalam kelompok tertentu, pimpinannya harus selalu benar, sehingga apa saja yang dikatakan lebih berfungsi untuk menutupi kesalahannya daripada menyatakan apa yang sesungguhnya. Setiap perkataan belum tentu jahat, tetapi efeknya adalah lapisan bawah yang tidak berdaya, dan rahasia-rahasia kelompok yang merongrong kasih. Mungkin juga “dunia kejahatan” dapat diartikan sebagai kepelbagaian cara lidah dapat berbuat jahat, dari penipuan dan kebohongan sampai pada kutuk (a.10). Bagaimanapun juga, lidah pemimpin yang demikian akan membawa seluruh tubuh jauh dari kasih dan keadilan.

Aa.7-8 menyampaikan sikap pesimisnya Yakobus soal lidah. Jika lidah dapat mengendalikan jemaat, lidah itu sendiri ternyata tidak dapat dikendalikan, sehingga dampak buruknya tetap ada. Aa.9-12 memperlihatkan bahwa kondisi itu tidak pantas. Jika a.9 mencerminkan kondisi jemaat-jemaat yang dialamatkan oleh surat ini, ternyata mereka biasa mengutuk musuh-musuh mereka. Jadi, dalam ibadah mereka memuji Allah, tetapi juga (apakah dalam ibadah atau konteks lain) mereka mengutuk manusia, padahal manusia adalah gambar Allah. Palestina abad pertama penuh dengan kelompok-kelompok pejuang melawan penjajahan Romawi, dan sering saling melawan juga, dan mungkin sikap-sikap seperti itu belum ditinggalkan oleh sebagian jemaat. Adalah fatal jika pengajar jemaat menuntun jemaat untuk membenci kelompok yang lain. Tetapi dalam contoh di atas, pengajar yang harus selalu benar, juga akan selalu merendahkan anggota-anggota jemaat yang lain dengan kata-kata yang efeknya mengutuk. Itupun tidak pantas: lidah yang sama mengeluarkan dua hal yang sifatnya bertentangan.

Maksud bagi Pembaca

Jadi, Yakobus mau supaya para pengajar (pemimpin) di jemaat menjaga lidahnya, supaya kuasa lidah dipakai untuk mengarahkan jemaat dengan baik dan menuntun jemaat melalui bahaya, bukan untuk merusak dan meracuni jemaat. Perikop ini lebih bersifat peringatan; perikop berikut (3:13-18) menggambarkan hikmat dari atas yang akan memampukan perkataan yang baik.

Makna

Tafsiran di atas membuat peringatan dalam a.1 sungguh bermakna: lidah sangat berpengaruh. Namun, secara pribadi ajaran Yakobus agak mengganggu saya, karena justru kadangkala saya merasa bahwa kata-kata saya tidak ada dampaknya sama sekali, seakan-akan lidah saya adalah kendali yang sudah lepas atau kemudi yang telah putus. Ada dua refleksi terhadap soal itu. Yang pertama, persepsi saya ternyata salah. Mungkin tidak semua ajaran saya akan berdampak besar bagi semua orang, tetapi dampaknya ada, dan saya harus hati-hati supaya ajaran itu membangun bukan merusak. Yang kedua, lidah adalah luapan hati, bukan akal. Hati berarti maksud atau motivasi paling dalam, dan kadangkala maksud akal tidak sama dengan maksud hati. Saya berbicara tentang pengandalan akan Tuhan, tetapi orang bisa mendengar kekhawatiran dalam nada suara saya. Saya berbicara tentang kasih, tetapi orang dapat melihat kedinginan sikap dalam wajah saya. Yang didengar adalah lidah saya, tetapi bukan apa yang saya maksud dengan otak saya, melainkan sikap hati yang dinyatakan di dalamnya. Makanya, orang yang ajarannya sempurna dapat menimbulkan racun pelecehan dan api perpecahan, karena hatinya masih dikuasai oleh hikmat duniawi (seperti dalam 3:14, 16) dan belum sepenuhnya diperbaharui oleh firman yang menyelamatkan, meskipun sudah ditangkap oleh otak.

A.1 juga menghimbau supaya jangan ingin menjadi pengajar. Bukan hanya orang yang ditunjuk sebagai pengajar (pendeta, majelis) yang dapat menimbulkan masalah, tetapi orang-orang yang menganggap diri pengajar jemaat. Pertanyaan bagi pendeta ialah, apakah sumber api yang satu ditambah dengan pelayan sendiri sebagai sumber api kedua, atau dihadapi dengan hikmat sorgawi yang membawa buah damai (3:18). Sungguhlah ukuran bagi pelayan lebih berat.


Yak 4:13-17 Tuhan Sang Penentu (1 Jan 2012)

Desember 30, 2011

Manusia diciptakan untuk berada, dan ingin berada secara nyata. Namun, manusia berdosa mau berada lepas dari Penciptanya. Dengan demikian dia menjadi justru tidak berada, dilihat dari perspektif kekekalan. Sikap itu yang dicap kecongkakan dalam perikop kita.

Penggalian Teks

Perikop 4:13-16 dan 5:1-6 diawali dengan seruan “Jadilah sekarang” (age nun). Seruan yang unik dalam kitab Yakobus itu dipakai karena kedua perikop ini dialamatkan bukan kepada jemaat melainkan kepada orang kaya yang menindas jemaat (2:6). A.17 diletakkan di antara kedua perikop ini sebagai peringatan bagi mereka.

Age nun secara harfiah berarti “datanglah sekarang”, dan dipakai untuk secara retoris mengajak kelompok yang dialamatkan untuk mendekat (“datanglah”) secara urgen (“sekarang”). Siapa kelompok itu? A.13 dan a.14a menyampaikan dua gambaran. A.13 menyampaikan suatu ucapan yang dianggap lazim dan mencirikan kelompok itu. Dilihat frase demi frase, mereka mampu melakukan perjalanan dan biasa berencana setahun dalam rangka berdagang, dengan harapan yang kuat akan keuntungannya. Begitulah konsep diri kelompok itu.

A.14a menyampaikan gambaran dari penulis, dengan alasannya dalam a.14b, yang ternyata lain. Jika mereka biasa berencana dengan penuh keyakinan, sebenarnya besok pun tidak diketahui dengan pasti. Kemudian, penulis menjelaskan bahwa mereka seperti uap. Kata atmis itu sering merujuk pada asap. Misalnya, Hos 13:3 (dalam terjemahan LXX) menggunakan kata itu untuk menggambarkan umat Allah seperti “asap dari tingkap”, kelihatan sebentar tetapi kemudian hilang. Dengan penjelasan dalam a.14b ini, tersirat bahwa kelompok ini menganggap diri “berada”. Mereka adalah orang yang berbobot secara materi dan kegiatan (“berada”) sehingga boleh dikatakan eksis (“berada”). Tetapi dalam dirinya sendiri manusia adalah uap, tidak memiliki bobot atau kuasa apa-apa.

Dalam a.15, penulis mengusulkan ucapan yang sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Manusia “uap” mengaku bahwa Tuhan adalah penentu, baik penentu kelanjutan hidup maupun kegiatannya. Karena Tuhan diabaikan dalam ucapan a.13, dalam a.16 ucapan itu dicap sebagai kecongkakan. Kemegahan dalam ke-berada-an diri itu jahat. (Ayat ini adalah satu-satunya tempat kata poneros diterjemahkan dengan kata “salah”, padahal di hampir semua tempat yang lain diterjemahkan oleh LAI dengan kata “jahat”.)

A.17 berfungsi sebagai peringatan bagi mereka. Ucapan itu senada dengan 1:22 (“hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”) dan 2:26 (“iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”), tetapi bahasanya lepas dari soal apakah mereka adalah orang percaya atau tidak. Mereka sekadar “tahu”, bukan beriman atau mendengar firman. Namun, pengetahuan itu cukup untuk membuktikan keberdosaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mengalamatkan kaum orang berada secara retoris dengan dua tujuan: untuk menguatkan jemaat yang rendah kedudukannya; dan juga sebagai peringatan bagi jemaat yang mungkin tergoda untuk mengikuti atau mengejar kedudukan dan kekayaan sebagai ganti Tuhan. Jika 5:1-6 didengar dalam rangka perikop kita, maka jemaat akan dikuatkan bahwa hidup para penindas seperti uap di hadapan hukuman Tuhan. Tetapi bahkan di dalam jemaat yang rata-rata miskin, ada yang menganggap diri di atas yang lain (4:1-3). Mereka perlu diingatkan tentang sumber sebenarnya dari keberadaan manusia, yakni Tuhan, dan bahwa sikap yang menyangkal itu adalah dosa.

Makna

Adalah penting perikop ini ditafsir secara keseluruhan, karena jika hanya a.13 yang ditafsir, bisa saja kita sampai anggapan bahwa jalan-jalan, berencana, atau berdagang itu jahat. Yang jahat adalah sikap yang melihat dirinya berada di luar Tuhan, sehingga kehidupan dilihat berada dalam kendali tangan sendiri. Orang seperti itu tidak merasa dikendalikan oleh Tuhan, sehingga dengan mudah jatuh ke dalam kejahatan seperti dalam 5:1-6. Tetapi sikap yang baik dalam a.15 juga mengandaikan adanya rencana dan kegiatan. Bedanya bahwa orang itu sadar bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan.

Pada hemat saya, sangat cocok dengan konteks di Indonesia jika perikop kita dikaitkan dengan perikop yang berikutnya, khususnya “mendapat untung” (a.13) dengan soal penindasan (5:4-6), karena bukan untung dari perdagangan yang sehat yang dipersoalkan. Tetapi mungkin dalam konteks budaya tradisional yang diambil alih oleh gengsi, ada ucapan-ucapan lain yang dapat juga menyatakan sikap bahwa sumber keberadaan kita di luar Tuhan: “Tahun ini atau tahun depan kita akan mengadakan pesta besar selama dua minggu sehingga keluarga termasyhur dan desa beroleh pemasukan banyak.”

Perikop ini merujuk pada satu tema besar dalam Alkitab, yaitu, kerapuhan keadaan manusia. 4:13-5:6 sudah disampaikan secara ringkas dalam 1:10-11 dengan kiasan manusia seperti bunga rumput. Yang membuat manusia berada dalam artian sebenarnya adalah Injil, firman kebenaran yang membuat kita menjadi anak sulung dari ciptaan Allah (1:18). Jika ciptaan itu adalah ciptaan baru (karena manusia justru muncul belakangan dalam ciptaan pertama), kita sudah masuk ke dalam ranah yang tidak fana lagi oleh Injil. Kita memiliki ke-berada-an yang sebenarnya, bukan berdasarkan hasil kita melainkan anugerah Allah.

Kehendak Tuhan dalam a.15 merujuk pada kedaulatan-Nya, bukan perintah-Nya. Maksudnya bukan suatu nazar untuk mencari apa kehendak Tuhan sebelum saya bertindak, melainkan suatu pengenalan bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan. Tafsiran itu jelas karena yang pertama-tama disebutkan adalah “hidup”. Kita tidak mencari petunjuk dari Tuhan apakah hari ini kita tetap hidup atau tidak. Jadi, ayat ini juga tidak berbicara tentang mencari petunjuk dari Tuhan tentang apa yang akan kita berbuat. Tentu saja, orang yang rendah hati di hadapan Allah akan mau bertindak sesuai denga perintah-perintah-Nya, tetapi biar kita melangkah dalam rencana yang sangat baik atau sangat buruk, hal itu hanya akan terlaksana jika Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul (tetapi sudah agak jauh dari perikop kita) ialah, Mengapa Allah mengizinkan rencana yang jahat terjadi? A.16 (serta 5:1-6) mempersalahkan niat manusia yang jahat itu, bukan Allah yang memberi ruang bagi kehendak manusia. Andaikan Allah membuat kejahatan mustahil, tanpa mengubah niat pelakunya, maka kehendak manusia sudah ditiadakan. Jadi, cara Allah menghadapi dosa adalah memulihkan pendosa yang bertobat dan menghukum penjahat yang tidak bertobat (4:6), suatu proses yang akan dituntaskan ketika Kristus datang kembali (5:7). Soal kehendak manusia, dari 4:6-8 itu, keputusan manusia yang paling penting adalah apakah dia tunduk di hadapan Allah atau tidak; soal ke kota mana dan kapan adalah hal yang sangat sepele ketimbang itu. Soal adanya penindasan, kita tidak mengerti mengapa kadangkala kejahatan digagalkan oleh Tuhan, dan kadangkala justru kelihatan berhasil.


Yakobus 5:12-18 Menghadapi pergumulan dengan doa bersama [13 Nopember 2011]

November 12, 2011

Penggalian Teks

Yakobus menempatkan pembacanya sebagai orang miskin (2:6) yang menjadi korban ulah orang kaya (5:1-6). Oleh karena itu mereka harus bersabar dan bertekun sambil menantikan kedatangan Tuhan (5:7-11). Dalam rangka itu, mereka harus menghindar dari sumpah (a.12) dan menanggapi pergumulan dengan doa (aa.13-16) seperti dilihat dalam contoh Elia (aa.17-18). Untuk semuanya itu mereka harus saling menjaga (aa.19-20).

Hal sumpah (a.12) sepertinya dijunjung lebih tinggi dari ketekunan dalam ayat-ayat sebelumnya (“tetapi yang terutama”). Sumpah dilarang karena jika orang bersumpah tetapi berbohong (tentang pernyataan yang mau ditegaskan) atau tidak menepati janjinya yang dinazarkan, dia melanggar hukum ketiga, karena telah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Walaupun nama Tuhan tidak langsung disebutkan, ajaran Yesus (Mt 5:34-37) yang diringkas di sini menjelaskan bahwa apapun yang menjadi jaminan sumpah itu sebenarnya mewakili Allah.

Namun, mengapa hal bersumpah dianggap “yang terutama”? Saya duga bahwa sumpah menjadi cara yang semu untuk menemukan kepastian dalam dunia yang susah. Keinginan untuk bersumpah mungkin muncul dari ketidaksabaran menghadapi kesusahan dunia, atau cara untuk membujuk Tuhan bertindak. Adalah menarik bahwa kata yang dipakai untuk doa dalam aa.15-16 (eukhe, dalam ayat-ayat yang lain kata biasa untuk doa, proseukhe, dipakai) adalah kata yang juga dipakai untuk nazar. Jadi, aa.13 dst merupakan cara yang lebih baik menghadapi penderitaan.

Dalam a.13 Yakobus menyebut baik penderitaan maupun kegembiraan, dan nasihatnya meringkas tradisi Yahudi seperti dilihat dalam kitab Mazmur. A.14 membayangkan kondisi yang lebih serius. Orangnya sudah lemah, dan mungkin ditambah susah berdoa secara pribadi. Para wakil jemaat dipanggil untuk mendoakannya dan juga mengobatinya (minyak dipakai sebagai obat pada zaman itu, bdk. Lk 10:34). A.15 dapat ditafsir dari dua arah. Doa itu menyelamatkan orang yang sakit sehingga dia bangun dari tempat dia berbaring; atau doa itu menyelamatkan orang itu sehingga dia bangkit. Mengingat bahwa Tuhan itu dekat (5:8), Yakobus tidak menjamin penyembuhan, tetapi menjamin bahwa orangnya akan selamat. Jika penyakit itu berkaitan dengan dosa (bahasa Yakobus mengandaikan bahwa kaitan itu bisa terjadi tetapi tidak selalu ada), dosa itu juga diampuni, sekalipun yang bersangkutan tidak lagi sadar untuk mengaku sendiri. Dalam a.16 Yakobus memperluas nasihatnya. Lebih baik mengaku dosa dan saling mendoakan sebelum keadaannya terlalu parah.

Dalam aa.17-18 Elia menjadi contoh kuasa doa. Baik doa untuk kekeringan maupun untuk hujan membuktikan kuasa doa, tetapi Yakobus menambah bahwa dengan hujan ada hasil dari tanah, sama seperti firman yang ditanam (1:21) diharapkan berbuah (3:17-18).

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mau supaya jemaat menghadapi pergumulan hidup dengan doa, bukan hanya secara pribadi tetapi juga dalam kebersamaan dan keterbukaan.

Makna

Ketimbang gereja saya di Australia, jemaat-jemaat di Indonesia mempraktekkan a.14 dengan baik. A.16 yang mungkin lebih jarang dilakukan. Dari segi psikologi saja, keterbukaan satu kepada yang lain sehingga ada damai sejati di antara jemaat akan banyak mengurangi stres. Yakobus membayangkan healing community, jemaat di mana orang mendapat penyembuhan karena kepedulian seorang kepada yang lain.

Yakobus juga percaya bahwa bukan hanya penatua / pendeta yang doanya berkuasa. Semua orang bisa saling mendoakan, dan dari segi kuasa doanya Elia adalah “manusia biasa seperti kita”. Jika kita membuka 1 Raj 17:1 & 18:1, kita melihat bahwa doa Elia sesuai dengan perintah Tuhan. Doa dalam perikop ini menyangkut penyembuhan dan keselamatan, bukan “berkatilah cita-cita hatiku”.


Yakub 1:19-27 Firman yang menjadi cermin dan kuasa pembaruan [21 Agustus 2011]

Agustus 16, 2011

Walaupun surat dari Yakobus, adik Yesus itu, sering dianggap sangat praktis, Yakobus berbicara dalam kerangka Injil yang sama dengan kitab-kitab PB yang lainnya. Kristus adalah Tuhan (1:1) yang akan datang kembali (5:7-8), dan kita diselamatkan oleh iman kepada-Nya (2:1, 14—ingat bahwa maksudnya dalam 2:14 dst bukan bahwa perbuatan menyelamatkan melainkan bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang dilengkapi dengan perbuatan). Allah memiliki rencana bagi ciptaan-Nya, dan oleh firman kebenaran kita dijadikan bagian dari rencana itu (1:18—lihat Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat). Namun, adalah betul bahwa Yakobus menekankan implikasi dari kerangka Injil itu dalam kehidupan sehari-hari. Perikop kita menunjukkan bagaimana firman itu berfungsi untuk membuat kita “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya”.

Penggalian Teks

Ada tiga bagian dalam perikop ini. Aa.19-21 menguraikan sikap untuk penerimaan firman kebenaran dalam a.18. Aa.22-25 menjelaskan bagaimana penerimaan firman berdampak dalam tindakan. Aa.26-27 memberi beberapa contoh konkret.

Setelah a.18, yang menutup bagian tentang pencobaan, a.19 sepertinya berubah haluan, berbicara tentang relasi manusia. Dan memang a.19 merupakan nasihat yang baik dan berguna, sebuah pengingat yang selalu diperlukan. Dalam a.20 sorotan bergeser ke soal amarah. Manusia biasanya menganggap diri paling benar waktu marah, tetapi Yakobus mengatakan bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dari perspektif Allah. Dalam a.21 perspektif Allah yang menjadi pokok. Sikap cepat bicara dan amarah menghambat kinerja firman dalam hati manusia. Ternyata aa.19-21 merupakan lanjutan dari a.18. A.18 berbicara tentang awal keselamatan: oleh firman kebenaran Allah “melahirkan” atau “membuahkan” (apokuo, LAI “dijadikan”) kita. Aa.19-21 berbicara tentang sikap yang menghambat atau membiarkan firman melanjutkan karya itu. Jadi, kata “menyelamatkan” (sozo) bisa diartikan “memulihkan”.

Pesan dalam a.22 jelas, yaitu, mempraktekkan firman yang didengar. Jika tidak, kita menipu diri sendiri. Menarik bahwa ilustrasi dalam aa.23-24 berbicara bukan tentang mendengar melainkan tentang memandang. Firman Tuhan ibarat cermin yang di dalamnya kita melihat diri sendiri dengan jernih. Dalam a.25 firman itu disebut sebagai “hukum”. Jika berbicara tentang firman Allah, kata nomos ini biasanya merujuk pada kelima kitab Musa, yakni, Kejadian sampai dengan Ulangan. Perlu diperhatikan bahwa isinya bukan sekadar peraturan-peraturan. Yakobus mengutip dari Dasa Titah dalam 2:11, misalnya, tetapi dia juga menguraikan riwayat hidup Abraham dalam 2:21-23. Makanya, kata “Torah” (Taurat) yang dipakai orang Yahudi untuk menamai kelima kitab Musa berarti pengajaran, lebih luas dari peraturan saja. Kata itu yang diterjemahkan dengan nomos (“hukum”). Maksud Yakobus mungkin lebih luas lagi, karena dia juga banyak menyinggung ajaran Yesus, termasuk dari khotbah di bukit. Semuanya itu berfungsi sebagai cermin yang memampukan kita melihat realita karakter kita, dan juga kuasa Allah untuk memerdekakan (seperti keluaran Israel). Dengan demikian, ketaatan menjadi sebuah berkat.

Sebagai semacam pengukur, mengingat mudahnya kita menipu diri, Yakobus menyampaikan beberapa contoh dalam aa.26-27. Contohnya luas. Mengujungi yatim dan janda adalah yang paling praktis; mengekang lidah praktis tetapi lebih umum; menjaga untuk tidak dicemarkan dan tidak menipu diri sendiri justru menyangkut batin. Yakobus tidak menekankan tindakan sebagai ganti hati yang beres, tetapi menekankan hati dan tindakan yang sejalan. Semuanya berarti karena merupakan ibadah kepada Allah, sumber setiap pemberian yang baik (a.17).

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mau supaya para pendengar suratnya diubah oleh firman kebenaran, sehingga menjadi bagian dari pembaruan ciptaan Allah. Dia mengangkat bodohnya orang yang lekas bicara dan amarah sebagai cermin bagi orang yang malas mendengar firman Tuhan. Kemudian, dia mengangkat kiasan firman sebagai cermin supaya kita menghargai pembaruan yang ditawarkan jika kita mempraktekkannya. Akhirnya, dia mengadakan semacam tes kecil supaya kita bisa mengukur apakah kehidupan kita sudah tertuju kepada Allah (alias merupakan ibadah) atau belum.

Makna

Kiasan cermin yang menjadi pokok menurut tafsiran di atas perlu dikaitkan dengan soal muka. Kapan seseorang memandang cermin? Bukankah sebelum keluar? Kita memandang cermin supaya jika ada sesuatu yang memalukan, yang tidak pantas dalam penampilan kita, hal itu bisa diperbaiki sebelum kita mendapat malu. Makanya, orang yang langsung lupa kita anggap bodoh. Suatu kesempatan yang berguna dibuang.

Tetapi kita dinilai bukan hanya menurut penampilan fisik, tetapi juga menurut tingkah laku kita, yang dianggap menyatakan karakter kita. Dari apa yang kita lakukan, orang lain menilai apakah kita adalah orang baik atau tidak. Semestinya kita senang andaikan ada cermin karakter, sehingga noda-noda dapat dibereskan sebelum kita tampil di depan orang. Taurat (hukum) Allah, yaitu berbagai perintah tetapi juga berbagai kisah tentang Allah dan manusia, dapat berfungsi sebagai cermin itu.

Hanya, ada satu perbedaan pokok. Sebuah cermin memberitahu kita tentang berbagai cacat, tetapi tidak mengubah kita. Firman Allah tertanam di dalam hati kita, dan berkuasa untuk memulihkan jiwa kita (a.21). Kita menjadi bagian dari rencana Allah dengan mengesampingkan sikap yang buruk—keegoisan (suka bicara/amarah) dan berbagai kecemaran hati (aa.19-21)—kemudian dengan mempraktekkan firman itu (aa.22-25). Sebagai contoh, andaikan ada orang yang sudah lama berbaring karena sakit tetapi akhirnya ada obat yang tepat. Untuk menjadi sungguh pulih, orang itu perlu mengesampingkan sikap yang buruk, misalnya sikap yang menempatkannya sebagai orang yang tidak berdaya, atau sikap tidak mau mendengar nasihat dokter dsb. Tetapi untuk sungguh pulih, orang itu juga perlu berdiri dan berjalan. Tanpa obat dia tidak bisa berdiri, tetapi minum obat yang tidak disertai oleh tindakan juga tidak akan berguna. Pengajaran firman Allah memberitahu kita tentang berbagai cacat kita dan juga berkuasa untuk memulihkan cacat-cacat itu.

Tanpa pemahaman seperti itu kita akan jatuh ke dalam semacam moralisme: lakukan ini dan itu sebagai kewajiban keagamaanmu. Dengan demikian, hukum Allah tidak membawa kemerdekaan atau kebahagiaan (a.25). Tetapi jika kita bekerja sama dengan firman dengan cara mempraktekkannya, seluruh hidup kita menjadi ibadah yang berkenan di hadapan Allah.

Soal ibadah mengingatkan kita tentang hal yang paling pokok. Kita tampil bukan hanya di depan manusia melainkan di depan Allah. Kadangkala penilaian sesama mendukung penilaian Allah, tetapi kadangkala kedua penilaian bertentangan, sebagaimana dilihat dalam pasal berikut di mana Yakobus berbicara tentang keberpihakan jemaat kepada orang kaya. Orang yang percaya bahwa sumber semua pemberian yang baik itu Allah Bapa kita akan memilih untuk mencari muka di hadapan Allah, bukan manusia, sehingga firman Allah sebagai cermin dan kuasa pembaruan menjadi pokok dalam kehidupannya.


Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

Januari 17, 2011

Bagian pertama dari surat Yakobus, adik Kristus itu, berujung pada a.18. Atas kehendak, keputusan, rencana Allah Bapa, Dia telah “melahirkan” (harfiahnya) kita untuk menjadi buah sulung (harfiahnya) pembaruan ciptaan-Nya (LAI mungkin was-was dengan konsep “Allah melahirkan kita” sehingga dirumus kembali sebagai “menjadikan kita…untuk menjadi anak sulung”). Hal itu dihasilkan oleh “firman kebenaran”-Nya, yang menjadi pokok berikut (lihat aa.19 dst: dalam a.21 firman yang menyelamatkan diterima, dalam aa.22 dst dipraktekkan). Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mengambil keputusan atau memiliki rencana yang jelas, sehingga mengubah kita secara mendalam pada titik tertentu (bnd. Yoh 3:6-7, “dilahirkan kembali”). Itulah dasar anugerah, bahwa keselamatan kita diprakarsai oleh Allah sendiri. Tetapi anugerah menjadi landasan untuk suatu proses yang di dalamnya kita makin diperbaharui sebagai perintisan (“buah sulung”) pembaruan seluruh ciptaan Allah. Jadi, dalam ayat ini kita melihat makna paling dalam dari pembahasan sebelumnya tentang pencobaan. Pencobaan ikut serta dalam proses pembaharuan itu. Perhatikan bahwa hal itu tidak hanya secara perorangan. Allah melahirkan kita (jamak) untuk kita menjadi buah sulung.

Para pendengar pertama surat ini mengalami langsung keburukan dunia yang membutuhkan pembaruan itu, karena pada umumnya mereka tergolong miskin (Yak 2:5-6). Bagian 1:1-18 ini menunjukkan kepada mereka bahwa walaupun mereka mengalami banyak masalah (aa.2-4), dianggap bodoh (aa.5-8), dan rendah kedudukannya (1:9-11), mereka sebenarnya berbahagia jika mereka bertahan dalam pencobaan (1:12) dengan tidak diseret oleh nafsu yang menyesatkan (aa.13-15) tetapi tetap mengharapkan apa yang baik hanya dari tangan Allah Bapa (aa.16-17). Mereka berbahagia karena sudah memiliki status yang tinggi di hadapan Allah (1:9) dan akan menerima mahkota kehidupan (a.12), yaitu pengakuan oleh Allah (“mahkota”) dan bagian dalam dunia yang sudah diperbaharui (“kehidupan”).

Jadi, perikop kita menunjukkan bagaimana pencobaan dapat membantu kita dalam proses pembaruan itu, yaitu membantu kita “menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (a.4). Kata “matang” dan “sempurna” dalam a.4 sama (Yunani teleios; mungkin terjemahan “kamu menjadi matang” tepat juga dalam konteks ini), dan Yakobus melihat bahwa tanpa kesulitan yang menguji, yang menuntut ketekunan, kita tidak bisa matang. Semua manusia menghadapi masalah, tetapi yang cepat menyerah tidak memetik hasil yang semestinya dari masalahnya. Sebaliknya, yang bertekun dalam iman kepada Kristus dapat bersukacita di tengah masalahnya, karena di dalamnya dimatangkan sehingga menjadi bagian dari pembaruan Allah, bukan penghalang.

“Tak kekurangan suatu apapun” tidak merujuk pada materi, tetapi pada karakter, dan ciri khas karakter yang matang ialah hikmat. Menghadapi pencobaan dengan baik dapat menghasilkan hikmat, tetapi juga membutuhkan hikmat! Jadi, kepada pendengar yang masih bergumul untuk bertekun dalam pencobaan (saya rasa itu kita semua!), Yakobus memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan doa untuk mendapat hikmat. Allah tidak akan mencari kesalahan kita sebagai alasan untuk menolak permintaan itu, tetapi dengan murah hati akan memberi kita hikmat yang begitu dibutuhkan itu.

Hanya, ada syarat, yaitu, jangan bimbang. Ada yang menafsir syarat itu bahwa peminta harus merasa sungguh yakin bahwa doa ini akan dikabulkan, baru boleh berharap bahwa doanya akan dikabulkan. Tetapi di sini keyakinan iman adalah soal tindakan bukan perasaan. Sebagai contoh, saya bisa merasa yakin bahwa pesawat terbang aman, tetapi jika saya selalu naik kapal apakah itu keyakinan yang sejati? Sebaliknya, jika saya merasa takut tetapi tetap menaiki pesawat itu (seperti beberapa kali penumpang di samping saya terdiam dan agak pucat ketika mau lepas landas), saya tidak bimbang dalam artian yang disampaikan dalam a.6. Bimbang berarti diombang-ambingkan, tidak memiliki pendirian yang jelas, minta pendapat teman tentang penerbangan tetapi ketika ke travel membeli tiket kapal. Bimbang berarti orangnya memohon hikmat kepada Allah, mungkin dengan semangat, teriakan dan puasa, tetapi dalam hati tidak ingin menjadi orang yang berhikmat, karena tahu bahwa hikmat membawa akibat perubahan sikap, misalnya tidak bisa lagi melemparkan tanggung jawab atas kegagalan dan dosa sendiri kepada keadaan atau Allah yang berkuasa atas keadaan itu.

Jadi, bimbang adalah mendua hati: memohon hikmat sebagai jalan keluar, tetapi tidak menginginkan hikmat dari Allah yang akan membawa pada pembaruan diri. Orang itu masih penghalang bagi rencana pembaruan Allah. Orang itu perlu bertobat dengan menerima firman kebenaran dengan jelas dan tegas, baru orang itu menjadi mitra Allah sehingga pasti akan dibekali dengan hikmat untuk berperan dalam rencana Allah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.