Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)
Penggalian Teks
Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).
Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.
Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).
Maksud bagi Pembaca
Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.
Makna
Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.
Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.
Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.
Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.
Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).
Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.
Ditulis oleh abuchanan