Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011]

Oktober 27, 2011

Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)

Penggalian Teks

Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).

Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.

Makna

Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.

Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.

Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.

Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.

Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).

Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.


Yeh 18:1-13 Kemungkinan untuk bertobat dan selamat

September 13, 2010

Yehezkiel, seperti sebagian besar nabi-nabi yang lain, berbicara tentang hukuman Israel karena memberontak terhadap Tuhan, dan keselamatan kemudian karena kesetiaan Tuhan di hadapan pemberontakan itu. Misalnya, dalam p.16 ada perumpamaan tentang Israel sebagai gadis yang diselamatkan dan dinikahi, kemudian berzinah dengan orang lain, sebagai gambaran Israel yang setelah diselamatkan dari Mesir mengandalkan bangsa-bangsa yang lain bukan Tuhan. Tentu, perumpamaan itu berbicara tentang Israel sebagai bangsa, artinya sebagai kolektif, yang di dalamnya semua orang senasib. Hal itu menarik perhatian karena kita tahu dalam PB bahwa manusia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Allah secara perorangan (2 Kor 5:10). Namun, dalam sindiran yang dikutip dalam 18:3 yang dipersoalkan adalah soal perjalanan waktu, bahwa Israel dihukum sebagai bangsa yang ada berabad-abad. Mereka mengeluh bahwa nenek moyang berdosa, tetapi keturunannya yang dihukum. Dan memang, kalau kehancuran Yerusalem, hanya satu angkatan yang mengalaminya. Israel (atau golongan atas) di bawah raja Manasye, misalnya, hidup cukup tenteram walaupun di bawah pemerintahannya ada banyak pemberhalaan dan kejahatan (lih. 2 Raj 21).

Allah menjawab keluhan itu dengan pernyataan bahwa setiap orang akan mati karena dosanya sendiri (a.4). Contoh yang berikut menyangkut tiga generasi, yaitu perjalanan waktu. Yang satu baik, yang kedua jahat, yang ketiga baik, diukur oleh hukum Taurat yang merujuk ke kasih kepada Allah (makan daging persembahan, melihat kepada berhala-berhala) maupun berbagai aspek kasih kepada sesama. Karena p.17 berbicara tentang raja-raja Israel (secara tersirat Yoyakim dan Zedekia), mungkin saja contoh yang akan muncul dalam pikiran pendengar adalah Yosia (raja yang baik), Yoyakim (raja yang jahat), dan pertanyaan ialah, apakah Zedekia akan baik? Maksudnya bahwa seandainya Zedekia serta bangsa Israel bertobat, mereka tidak akan dihukum. Mereka dihukum karena mereka ikut dalam dosa nenek moyangnya, bukan karena dosa nenek moyangnya ditimpakan kepada mereka dengan sembarangan. (Kel 20:5 barangkali bermaksud sama, yaitu bahwa Allah membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang meniru dosa bapanya.)

Pemahaman tentang dosa yang diteruskan kepada generasi berikut masih penting bagi kita. Dosa yang paling tidak diperhatikan adalah dosa yang kita tiru dari orangtua dan budaya. Misalnya, sebagian cara berkorupsi yang sebenarnya merampas tidak dianggap salah karena dianggap biasa saja. Kelalaian terhadap yang lapar dan telanjang juga bisa tertanam dalam pola masyarakat sehingga tidak disadari sebagai dosa. Tetapi walaupun tidak disadari, hal-hal itu tetap bertentangan dengan kehendak Tuhan, sehingga seluruh bangsa atau budaya bisa saja berada di bawah hukuman Allah. Gerejapun berada di bawah hukuman Allah sejauh budaya gereja itu membiarkan dosa.

Dalam bagian berikut dalam pasal 18 ini (seluruh pasal sebenarnya merupakan satu bagian utuh yang sulit dipotong pada a.13) soal tanggung jawab secara perorangan muncul dengan jelas. Jika satu generasi dapat berbalik dari jalan generasi sebelumnya, satu orang pun bisa berubah haluan (bertobat) dan dengan demikian selamat (18:21-22). Tidak jelas bagi saya bagaimana seorang penduduk Yerusalem dapat selamat ketika Yerusalem dikepung dan dihancurkan. Tetapi dalam perkembangan teologi Alkitab, pemahaman tentang keselamatan secara perorangan itu bermuara pada pemahaman tentang keselamatan eskatologis, yaitu bahwa keselamatan tidak bisa hanya dalam kehidupan ini. Harus ada kebangkitan dari antara orang mati supaya orang yang setia kepada Allah tetapi mati sebelum pembaruan dunia terwujud tidak kehilangan bagiannya. Pengharapan itu yang diteguhkan oleh kebangkitan Yesus.

Kadangkala orang memakai budaya atau contoh orangtua sebagai alasan untuk membenarkan diri. Kalau di atas dijelaskan bahwa budaya bisa berada di bawah hukuman Allah, di sini kita melihat tetapi jalan menuju keselamatan bukan dengan membenarkan diri melainkan dengan bertobat. Sebenarnya, Yehezkiel pesimis tentang kemampuan orang Israel untuk bertobat, hanya dengan campur tangan Allah maka orang dapat memiliki hati yang baru (Yeh 18:31; 36:26-27). Tetapi kita hidup dalam zaman perjanjian yang baru, sehingga kita sudah diberi hati yang baru dan Roh Kudus.


Yeh 45:9-17 Peran seorang pemimpin

Agustus 4, 2010

Kitab Yehezkiel mencakup dua bagian. Bagian pertama menyampaikan ancaman Allah bahwa Dia akan menghukum Israel jika mereka tidak bertobat (pp.1-33). Di tengah nubuatan itu adalah penglihatan tentang kemuliaan Allah meninggalkan Bait Allah (p.10). Dengan Allah tidak hadir lagi di tengah umat-Nya, maka Israel sudah rentan. Dalam Yeh 33:21 Yehezkiel mendapat berita bahwa Yerusalem yang dikepung sudah ditaklukkan (hal itu terjadi pada tahun 587/86 sM). Setelah itu, nada nubuatan Yehezkiel berubah. Di balik hukuman Allah ada keselamatan (pp.34-48). Penyelamatan Israel berarti pembaruannya, mulai dari hati dan batin yang baru (p.36), yang jika terjadi dalam kehidupan bersama berarti kebangkitan bangsa (p.37). Dalam pp.40-48 Yehezkiel menyampaikan suatu penglihatan tentang Israel sebagai bangsa yang kudus, dengan Allah hadir di tengahnya. Sebagian besar penglihatan itu menyangkut Bait Allah. Bait Allah akan dibangun kembali, dan kemuliaan Allah akan kembali ke dalamnya (Yeh 43:1-5).

Dalam penglihatan Yehezkiel ini, peran raja dibatasi. Bait Allah ada di pusat; di sekitar Bait Allah ada tanah untuk imam-imam dan orang-orang Lewi, baru di luar itu ada tanah pemimpin (45:1-8). Perikop kita menjelaskan peran si pemimpin: bukan untuk memeras rakyat (a.9) melainkan untuk menopang ibadah mereka. Untuk persembahan diperlukan ukuran yang betul (aa.10-12). Kemudian, berbagai persembahan (aa.13-15) diberikan kepada si pemimpin (a.16) supaya dia mengelola berbagai korban untuk umat Israel (a.17). Pemimpin bukan pusat bangsa melainkan pelayan bangsa, karena Allah yang hadir di Bait Allah adalah pusat bangsa.

Penglihatan Yehezkiel itu tidak digenapi ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan (mulai tahun 539 sM). Bait Allah dibangun kembali, tetapi bukan menurut pola Yehezkiel, dan bagian terakhir yang menyangkut pemulihan bangsa-bangsa (Eze 47:12) hanya muncul lagi dalam penglihatan Yohanes tentang bumi yang baru (Why 22:2). Yehezkiel menyampaikan harapan keselamatan dan pembaruan bangsa dalam bahasa kaum imamat. Sama seperti dalam kitab Imamat, hidup yang sejati adalah hidup bersama yang berpusat pada Allah. Kebangkitan Yesus sudah menggenapi nubuatan Yehezkiel tentang kebangkitan bangsa Israel, lebih lagi karena kita dibangkitkan bersama dengan Dia (mis. Ef 2:4-7). Dalam perikop Yeh 45:9-17 ini tidak ada aturan ataupun nasihat yang berlaku untuk kita sekarang, lebih lagi karena korban-korban untuk dosa sudah digenapi dalam Kristus, dan korban-korban yang menyatakan persekutuan dengan Allah atau rasa syukur dilakukan dalam bentuk lain. Tetapi kita melihat bagaimana pemimpin menjadi pelayan ibadah umat, bukan pemeras umat. Semoga pemimpin masyarakat dan juga pemimpin gereja dapat menerapkan nilai itu, karena sadar akan pembaruan dalam Kristus.

(Im 19:35-37 juga berbicara tentang kecurangan, tetapi bukan dalam rangka ibadah melainkan dalam rangka keadilan dalam perdagangan dsb. Hal itu juga termasuk kekudusan umat yang berpusat pada Tuhan, Im 19:2.)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.