Yer 31:21-26 Meresponsi harapan

Oktober 19, 2010

Aa.21-22 secara sederhana dapat diartikan sebagai seruan untuk berani mengambil dengan tidak ragu-ragu (22a) kesempatan yang diciptakan Tuhan (22b) dengan memperhatikan jalan yang telah ditempuh (21). Pertanyaan ialah, kesempatan apa yang dimaksud? Atau apakah kita dengan bebas mengartikannya sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya, “berikan uang banyak-banyak untuk pendirian gedung gereja karena IMB sudah ada”. Memperhatikan konteks akan memberi kita pemahaman yang lebih tajam dan dalam dari sekadar seruan untuk berani.

Yeremia 30-31 merupakan serangkaian nubuatan keselamatan. Setelah pembuangan, Allah akan membawa Israel pulang dari pembuangan (30:10; 31:8) dan memulihkan mereka di hadapan musuh-musuh (30:16) sehingga keadaan mereka pulih (mis. 31:11-14), luka-luka batin diobati (mis. 30:17; 31:15-17) dan ada kesadaran dan pertobatan yang baru (31:18-20). Alasannya supaya relasi perjanjian terwujud, yaitu bahwa Tuhan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat-Nya (30:22; 31:1, 33b). Setelah sela dalam a.26, pasal 31 berakhir dengan serangkaian nubuatan tentang zaman baru, ditandai dengan frase “waktunya akan datang” (31:27, 31, 38). Bagian itu mungkin bermaksud bukan lagi akan proses keselamatan melainkan akan keadaan yang terwujud olehnya.

Jadi, seruan aa.21-22 ini merupakan seruan untuk masuk ke dalam zaman baru itu, satu-satunya seruan dalam pp.30-31 untuk bertindak (yang lain adalah seruan untuk mendengar dan tidak takut). Israel dipanggil untuk mengingat jalan ke dalam pembuangan supaya kembali ke kota-kotanya di Israel (21). Kota-kota di sini berarti hidup sebagai komunitas, alias umat Allah. Untuk hal itu, tidak usah ragu-ragu, karena keadaan berubah, Tuhan menciptakan sesuatu yang baru. Apa persis yang dimaksud dengan “perempuan merangkul laki-laki” tidak jelas. Beberapa kemungkinan dicantumkan di bawah.[1] Tetapi dari konteks (atau koteks, teks di sekitarnya), yang baru yang diciptakan Tuhan ialah keselamatan, seperti digambarkan dalam aa.23-25 dan seluruh pp.30-31. Artinya bahwa karya keselamatan Tuhan bagi Israel yang menjadi landasan untuk Israel berencana dan berani pulang ke tanah suci.

Lalu, bagaimana dengan kita yang bukan orang Israel dalam pembuangan? Memang, kata keselamatan, yang dipakai dalam koteks (30:7, 10, 11; 31:7) bisa langsung kita maknai sebagai pengikut Kristus. Perlu diingat bahwa pemaknaan itu tidak sembarang. Sebagaimana saya uraikan di sini, pembuangan Israel sejajar dengan pengusiran manusia dari taman Eden dan kematian Kristus, sehingga pengembalian dari pembuangan sejajar dengan hidup dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus memecahkan keterasingan Israel dari Allah yang melambangkan keterasingan manusia dari Allah. Jadi, seruan ini mengajak kita sebagai orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan dengan bergabung kembali dengan persekutuan orang percaya.

Apakah dengan demikian perikop ini hanya berbicara tentang jiwa kembali kepada Tuhan? Tidak. Gambaran-gambaran PL tentang syalom yang dijanjikan Tuhan tetap melatarbelakangi harapan PB tentang kehidupan jemaat yang terarah oleh harapan ciptaan baru. Syalom dalam jemaat yang sedang ditindas belum tentu mengalami kelimpahan materi—mungkin untuk hal itu ciptaan baru harus ditunggu—tetapi soal menikmati persekutan sebagai umat Allah semestinya sudah dialami, dan peningkatan ekonomi jemaat searah dengan harapan itu sejauh dimungkinkan, seperti di Indonesia pada umumnya. Tetapi banyak yang mundur maju dalam iman, tidak menolak tetapi tidak siap untuk menjadikan keselamatan Allah pengarah dan tujuan hidupnya. Apakah hal itu karena harapan jemaat masih kabur? Saya menghitung 44 ayat tentang harapan sebagai landasan seruan dalam aa.21-22. Landasan seruan untuk kembali dan tidak ragu berada bukan dalam semangat penyeruan melainkan dalam karya keselamatan Allah yang disampaikan secara panjang lebar.

[1] Kata “merangkul” menerjemahkan kata yang berarti “berada di sekitar”. Tafsiran tradisional mengartikannya sebagai nubuatan Maria mengandung Yesus. Dari perspektif PB tafsiran itu masuk akal, tetapi tidak ada petunjuk bahwa kalimat ini adalah nubuatan Mesias. Ada juga yang mengaitkan perempuan dengan Rahel (31:15) yang dapat kembali merangkul anak-anaknya yang dibuang (yaitu, Efraim, Manasye dan Benyamin) karena sudah pulang. Satu alternatif lagi beranjak dari kemiripan “tidak taat” dan “merangkul” dalam bahasa aslinya, sehingga mungkin ada permainan kata. Dengan demikian, anak dara Israel yang tidak taat adalah perempuan yang kembali merangkul Tuhan sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkannya (kata geber sering berarti laki-laki yang gagah perkasa, dan dalam rangka itu dapat dipakai untuk Tuhan). Tidak satupun tafsiran tanpa kelemahan yang signifikan.


Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

Mei 11, 2009

“Kesejahteraan kota adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7) adalah pesan yang kadangkala dilupakan oleh gereja yang mementingkan dirinya daripada masyarakat. Namun, jangan sampai pesan itu diartikan bahwa tugas seorang percaya sekadar menjadi warga yang baik. Pesan Yeremia ini menyiratkan suatu ketegangan, yaitu ketegangan antara harapan akan kerajaan Allah (yaitu bagi pembaca surat Yeremia kembali ke Israel, tanah perjanjian) dan keadaan dalam dunia sementara (bagi pembaca surat itu menetap di Babel).

Yeremia menubuatkan kehancuran Yerusalem oleh karena dosa Israel. Pada saat peristiwa yang diceritakan dalam a.2, hal itu belum terjadi, dan banyak yang yakin bahwa Tuhan akan mengalahkan kuasa Babel sehingga orang-orang yang diangkut ke Babel dapat kembali, termasuk beberapa nabi di Babel (aa.8-9). (Pembuangan dalam a.2 terjadi pada tahun 597 sM, sedangkan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 587 sM.) Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Yeremia untuk disampaikan melalui surat kepada mereka.

Jika sebentar lagi Babel akan dikalahkan dan Israel dipulihkan, seperti nubuatan palsu itu, maka tentu kegiatan yang diusulkan dalam aa.4-7 tidak masuk akal. Yeremia berpesan kepada mereka untuk menetap dengan mendirikan rumah dan keluarga di Babel. Alasannya muncul dalam a.10, yaitu bahwa pembuangan akan berlangsung 70 tahun. Angka 7 menyimbolkan kegenapan, dalam konteks ini kegenapan hukuman. Dalam sejarah berikut, orang-orang buangan baru diperbolehkan kembali ke Israel pada tahun 539 sM.

Menetap di Babel dengan mendirikan rumah berarti menerima nubuatan Yeremia bahwa dosa Israel harus dihukum Allah sebelum keselamatan dapat diharapkan kembali. Yeremia tidak menyangkal bahwa Allah akan mewujudkan kerajaan-Nya di tanah Israel, bukan di Babel. Hanya waktunya yang dipersoalkan. Orang-orang buangan harus bersabar menunggu waktu Tuhan.

Perjanjian Baru menempatkan kita sebagai to mentiruran, perantau. Artinya bahwa harapan kita bukan dunia ini (Babel) melainkan langit dan bumi yang baru (Yerusalem), pemulihan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Tanpa harapan itu, pesan Yeremia gampang saja. Jika harapan kita adalah untuk hal-hal sementara saja, sudah barang tentu kita akan mencari kesejahteraan kota. Hanya jika kita tidak puas dengan dunia ini maka kita harus diingatkan untuk mencari kesejahteraannya.

Tetapi menjadi perantau juga berarti bahwa kita belum sampai di dunia baru, sama seperti orang-orang buangan yang disurati Yeremia. Jadi, keadaan kita ada di dunia sekarang. Bukannya kita akan luput dari segala penyakit, masalah dan bencana, seperti janji nabi palsu modern. Oleh karena itu kita berdoa untuk kota (dan negara), supaya pemerintah, ekonomi, prasarana dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dengan demikian kita dapat bertumbuh dan berhasil, sambil menunggu janji yang lebih baik.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.