Yes 50:4-9 Yakin tentang pembenaran Allah [13 Apr 2014] (Minggu sengsara VII – Hari Minggu Palma)

April 9, 2014

Banyak perikop menggunakan metafora yang menggabungkan berbagai aspek di dalamnya. Bila metafora itu dapat diungkapkan, kita tidak hanya dibantu untuk memahami perikopnya, tetapi kita juga memiliki kerangka untuk menjelaskan perikopnya. Konsep pengadilan dalam perikop ini tidak usah diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain, pada hemat saya, karena justru memperjelas konsep seperti “mendapat malu” dan “takut akan Allah”.

Penggalian Teks

Yesaya 49 menceritakan pelayanan seorang Hamba yang akan dipakai untuk memulihkan Yakub, bahkan bangsa-bangsa (bdk. renungan ini), dengan janji-janji tentang pemulihan Israel yang dihasilkan. Yesaya 50 menyangkut respons terhadap janji keselamatan itu. Yes 50:2 bertanya, “Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika Aku memanggil tidak ada yang menjawab?” Perikop kita adalah kesaksian seorang hamba Tuhan yang menjadi setia untuk mendengarkan dan menyampaikan firman Allah. Yes 50:10 menantang Israel untuk memperhatikan pelayanan hamba itu. Peran hamba itu diperlihatkan dengan paling jelas dalam diri Yesus, dan mengikut hamba itu akan menuntut sikap yang sama.

Perikop ini bisa dilihat dalam rangka sebuah pengadilan. Yang pertama ialah kesaksian hamba Tuhan (4–5). Dia mampu memenuhi kebutuhan umat yang letih lesu dengan perkataan yang menyemangati. Hal itu dimungkinkan karena dia memiliki lidah seorang murid, bukan seorang pengajar. Lidah itu diberikan oleh Tuhan kepadanya dalam dua tahap. Dalam a.4b, Tuhan membangunkan telinga si hamba setiap pagi. Dalam a.5a, Tuhan membuka telinga itu. Itulah tindakan Tuhan; yang dilakukan hamba ialah menerima dan tidak menghindar dari firman itu. Lidahnya mampu menyemangati karena dilatih oleh firman Tuhan; lidahnya dilatih oleh firman Tuhan bukan karena dia pintar mencari pengetahuan tetapi karena dia siap menerima kebenaran dari Tuhan.

Tetapi, ternyata ada pihak yang melawan hamba Tuhan (6). Alasan untuk perlawanan itu tidak dijelaskan, tetapi caranya adalah dengan mempermalukan dia. Dengan demikian, mereka menyatakan bahwa dia tidak membawa firman Tuhan. Kita sebagai pendengar cerita ini tahu bahwa itulah caranya Israel menolak untuk menjawab ketika Allah memanggil (50:2). Hamba Tuhan itu kena imbas sikap Israel terhadap Allah. Tetapi, hal itu belum terbukti dengan jelas bagi hamba ataupun bagi para lawannya.

Namun demikian, hamba itu tidak dikendalikan oleh penghinaan itu, karena dia yakin bahwa Allah akan menjadi hakim yang adil dalam perkara ini. Dia “dinodai”, tetapi “tidak mendapat noda”, karena pertolongan Tuhan (7). Aa.7–9 menjelaskan pertolongan itu (perhatikan bahwa “Tuhan Allah menolong aku” diulang pada a.9). Dia yakin bahwa dia tidak akan mendapat malu (7) karena Allah akan membenarkan dia (8). Sebaliknya, para lawannyalah yang akan dihukum oleh Allah (9). Oleh karena keyakinannya bahwa dia tidak akan mendapat malu, dia sanggup membuat wajahnya seperti batu yang keras (terjemahan harfiah untuk “meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu”), artinya, dia memutuskan untuk sama sekali tidak terpancing oleh penghinaan-penghinaan itu (7). Oleh karena keyakinannya bahwa Allah akan membenarkan dia, dia berani berhadapan dengan para lawan itu (8). Aa.10–11 menegaskan keyakinan itu, bukan lagi sebagai kesaksian hamba melainkan sebagai peringatan bagi Israel: oleh karena mereka mengandalkan terang dari api mereka sendiri daripada terang dari Tuhan melalui hamba-Nya, maka mereka akan tersiksa oleh api itu.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya umat-Nya percaya bahwa Allah adalah hakim yang layak ditakuti, sehingga mereka takut mendapat malu di hadapan-Nya, dan tidak lagi takut mendapat malu di hadapan manusia. Hal itu akan kita pelajari dengan mendengarkan hamba-Nya, Yesus Kristus, yang tetap teguh meski dihina oleh banyak orang.

Makna

Perikop ini memakai metafora pengadilan, dan pengadilan yang dimaksud ialah “pengadilan pendapat umum”. Pengadilan formal mencari kebenaran melalui berbagai kesaksian yang disaring untuk menemukan fakta yang sebenarnya, kemudian hakim menilai siapa yang bersalah dan siapa yang dibenarkan. Salah satu sanksi utama dalam proses itu ialah bahwa hasilnya diberitahukan di depan umum, sehingga pihak yang bersalah mendapat malu, dan pihak yang benar tidak mendapat malu. Bahkan tanpa proses yang formal, pendapat umum dapat berfungsi sebagai pengadilan, dengan menilai rendah pihak ini, dan menjunjung tinggi pihak yang lain. Hanya, kalau pengadilan formal diharapkan menyampaikan keputusan yang final, “pengadilan pendapat umum” itu labil—hari ini mendukung pihak ini, besoknya ada isu yang lain yang mengubah pendapat. Dan yang jelas, satu-satunya pengadilan yang tidak dapat diganggu gugat lagi ialah pengadilan Allah. Pada akhir zaman, dan sering juga dalam kehidupan sekarang, pendapat umum yang keliru akan dikalahkan oleh keputusan Allah yang membongkar rahasia-rahasia manusia. Makanya, orang yang dikendalikan oleh pengadilan pendapat umum—“apa kata orang”—cepat atau lambat justru kena sanksi sosial yang begitu dikhawatirkannya itu.

Yesus Kristus, seperti para nabi sebelumnya, mendengarkan dan dikendalikan oleh suara Allah saja. Fil 2:5–11 menunjukkan seberapa radikal keteladanan Yesus. Dia taat sampai mati secara paling hina di kayu salib. Tetapi, justru “itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia” (Fil 2:8). Yesus dinodai dan diludahi, bahkan dikhianati oleh Yudas (Mt 26:14–25), tetapi Allah menolong Dia sehingga Dia tidak mendapat noda.

Paulus menyinggung Yes 50:8–9 ini dalam Rom 8:31–34. Janji Allah bagi si hamba dalam perikop kita sudah menjadi janji Allah kepada semua orang yang oleh imannya berada di dalam Kristus, Sang Hamba. “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” (Rom 10:11; mengutip Yes 28:16).


Yes 58:1-8 Pertobatan yang memulihkan [12 Feb 2014]

Februari 6, 2014

Kitab Yesaya menimbulkan banyak perdebatan tentang asal-usulnya, karena pp.40–66 menyoroti konteks pembuangan dan seterusnya yang terjadi setelah zaman Yesaya. Perdebatan itu menarik, tetapi yang diterima Yesus dan gereja sebagai kitab suci adalah kitab Yesaya yang kita miliki. Jadi, perikop kita ditafsir dalam konteksnya dalam kitab Yesaya, bukan berdasarkan sebuah rekonstruksi tentang asal-usulnya. Tentu, penerapannya bagi jemaat dilihat dalam terang kedatangan Kristus.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan cara Israel dapat menghayati keselamatan Allah, atau dengan kata lain, bentuk pertobatan yang sejati. Alur kitab Yesaya mendukung bahwa keselamatan adalah karya Allah saja, karena manusia (Israel) tidak sanggup bekerja sama dengan Allah. Kegagalan itu disampaikan dalam pp.41–48, sehingga peran hamba Tuhan harus diambil alih oleh seseorang (49:3, bdk. renungan ini dari Yes 49:1–7). Keselamatan itu diraih dalam p.53 dan digambarkan dalam 54:1–56:8. Namun, Israel belum juga berubah—56:9–57:13 kembali menguraikan dosa mereka. Kembali keselamatan ditawarkan dalam 57:14–21, dan perikop kita (sampai akhir p.58) menguraikan pertobatan yang diharapkan sebagai responsnya. Intinya dalam 59:1–2: Allah sanggup menyelamatkan, tetapi dosa Israel menghambat keselamatan itu dinikmati. Jadi, 59:3–8 kembali menguraikan dosa itu, dan 59:9–15a merupakan pengakuan nabi akan keberdosaan umat Israel. Oleh karena ketidakmampuan Israel, Tuhan harus bertindak sepihak: “Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia” (59:16). Hasilnya dinubuatkan dalam pp.60–62 yang menceritakan pemulihan Sion. Keselamatan adalah karya Allah semata-mata.

Pendek kata, perikop kita menyangkut pertobatan yang harus dipahami sebagai respons terhadap anugerah keselamatan Allah (57:14–21) yang dikerjakan sepihak oleh Tuhan (p.53, pp.60–62). Namun, ada respons yang wajib dalam artian, anugerah keselamatan Allah hanya dapat dinikmati jika ada pertobatan (59:1–2).

Pertobatan mengandaikan kesadaran tentang dosa, dan seruan nabi dalam a.1 menunjukkan bahwa Israel sulit memberi perhatian pada dosa mereka. Ternyata ketulian mereka terjadi karena mereka rajin beragama (2). Mereka bertindak seperti bangsa yang taat, dengan ingin tahu tentang jalan Tuhan. Namun, ada kegelisahan di antara mereka, yang digambarkan dalam keluhan mereka terhadap Tuhan dalam a.3a. Mereka rajin beragama, sampai berpuasa, tetapi tidak merasa diberkati.

Allah membenarkan kegelisahan itu dalam a.3a (“Sesungguhnya”) dan a.4 (“Sesungguhnya”). Ternyata, fokus mereka bahkan dalam berpuasa adalah diri sendiri: kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan Allah, dan kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan sesama (3b). Di antara mereka sendiri, puasa diiringi cekcok (4a). Melalui nabi-Nya, Allah melihat di balik tindakan keagamaan mereka ke dalam tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Aa.5–7 berbentuk pertanyaan retoris, “inikah…bukankah…bukankah” (diluruskan dalam terjemahan LAI). Artinya, bentuk bahasa mengajak Israel untuk merenung dan menilai diri sendiri. Mereka sebatas “merendahkan diri” dengan tubuh (5), tetapi yang diharapkan adalah meninggikan sesama, dengan mengubah belenggu-belenggu yang merusak kehidupan sesama (6), dan menjawab kebutuhan-kebutuhan riil sesama (7).

Jika hal itu mereka lakukan, ada dua akibat yang langsung disebutkan (’az = maka, a.8 & a.9). Mereka akan mengalami hadirat Allah yang membawa terang dan pemulihan (8), dan Allah akan menjawab mereka (9). Ayat-ayat berikutnya berbicara tentang tuntunan Tuhan (11a), kesuburan (11b), pembangunan kembali (12), dan kesenangan di dalam Tuhan (14). Dengan demikian, tidak akan ada kegelisahan lagi bahwa mereka tidak diperhatikan Allah seperti dalam a.3a; anugerah keselamatan Allah akan sungguh-sungguh dinikmati.

Maksud bagi Pembaca

Allah menunjukkan cara yang semestinya untuk bertobat: bukan kerendahan diri dalam bentuk ritus saja, melainkan kerendahan diri dalam meninggikan sesama. Dengan cara itu, kegelisahan tentang perhatian Allah akan berubah menjadi kenikmatan di dalam Dia.

Makna

Kemiripan gejala dalam perikop ini dengan apa yang sering terjadi dalam jemaat, menggelisahkan saya dalam persiapan. Orang berbangga-bangga bahwa ada seribuan jemaat Gereja Toraja, tetapi pada saat yang sama mengaku bahwa sebagian (besar?) “pemekaran” jemaat sebenarnya terjadi karena perpecahan. Asal usul perpecahan itu secara garis besar mungkin bisa dikaitkan dengan perubahan zaman yang membuat hal-hal yang tadinya jelas menjadi tidak jelas, sehingga muncullah kegelisahan. Tetapi, pada saat yang sama jemaat rata-rata belum menangkap anugerah keselamatan Allah sebagai milik yang terjamin dalam Kristus sehingga menjadi fondasi hidup (3a). Dengan demikian, kegiatan agamawi jemaat tidaklah membawa damai dalam hati yang akan mengobati kegelisahan itu, karena dalam lubuk hati jemaat tahu bahwa yang dicari adalah kepentingan sendiri bukan Kerajaan Allah. Jadi, kegelisahan itu tetap ada, dan kegiatan gerejawi tetap diiringi cekcok.

Tetapi ada juga orang yang menganggap bahwa dia telah menyerahkan kehidupannya sepenuhnya kepada Allah, tetapi ternyata dalam tindakannya dia menutup diri terhadap pola-pola dalam masyarakat yang membelenggu, dan kebutuhan riil sesama. Kita melihat dalam perikop ini bahwa jika tindakan ritus dan tindakan sehari-hari bertentangan, yang dinilai oleh Allah adalah tindakan sehari-hari. Bisa saja seorang munafik menipu orang banyak—seringkali dia malah menipu dirinya sendiri—tetapi dia tidak bisa menipu Allah. Jemaat yang dikendalikan oleh orang-orang yang belum yakin akan anugerah keselamatan dan/atau bersifat munafik adalah jemaat yang terangnya redup dan lukanya menganga terus, yang barisan depannya adalah kekacauan dan barisan belakangnya adalah kehinaan (8).

Dalam Yesus Kristus, pelayanan Sang Hamba (p.53) sudah diemban, dan Sion telah dipulihkan (pp.60–62, bdk. 61:1 dst). Pertobatan yang belum dapat diharapkan dari Israel secara keseluruhan sudah dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah yang diperlihatkan dalam kematian Kristus ke dalam hati kita (Rom 5:5–8). Kalau anugerah Allah itu belum mulai ditangkap oleh jemaat, belum ada pengharapan untuk pembaruan. Kalau mulai ditangkap, perikop ini menjadi petunjuk jalan tentang pertobatan yang sejati.


Yes 49:1-7 Peran hamba Tuhan dalam rencana Allah [19 Jan 2014]

Januari 16, 2014

Perikop ini berbicara tentang hamba Tuhan. Pada awal tahun 2014 ini, saya mengucapkan selamat kepada rekan-rekan mantan proponen yang sementara diurapi untuk mengawali tugas sebagai pendeta. Semoga firman ini menguatkan kita semua untuk setia dan terarah dalam pelayanan.

Penggalian Teks

Perikop kita sering dikaitkan dengan 42:1–9, 50:4–9, dan 52:13–53:12, yang berbicara tentang seorang hamba Tuhan, dan kadangkala 61:1–4, yang juga menyebutkan pengurapan Roh. PB dengan jelas mengaitkan p.42, p.53 dan p.61 dengan Yesus, sehingga kita mungkin menganggap bahwa hamba itu bernubuat tentang Yesus saja. Tetapi, dalam Kis 13:47, Paulus dan Barnabas menerapkan nubuatan dalam perikop kita kepada diri mereka, bukan kepada Yesus. Kemudian, paling sedikit dalam pp.41–48, Israel adalah hamba Tuhan, yang dipanggil untuk menjadi saksi tentang karya Allah di tengah bangsa-bangsa (43:10). Jadi, sebaiknya kita melihat konsep hamba Tuhan ini pertama-tama sebagai peran. Israel dipanggil untuk berperan sebagai hamba dan menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, tetapi dalam p.48, Israel ternyata tidak sanggup, sehingga dalam perikop kita ada individu yang dipanggil untuk menunaikan peran itu (dalam tafsiran ini, a.3 dilihat sebagai pengalihan tugas, karena a.5 tidak masuk akal jika peran hamba tetap dilakukan oleh Israel).

Dalam a.1, nubuatan ini dialamatkan kepada pulau-pulau, bangsa-bangsa yang jauh. Mereka sudah muncul dalam 42:1, 4, 6 (hal itu salah satu alasan mengapa perikop ini dikaitkan dengan perikop itu), dan akan muncul lagi dalam a.6b. Sebelumnya, ada kisah hamba Tuhan ini (1b–4). Ia dipanggil dari kandungan (1b), dan perkataannya menjadi senjata Tuhan (pedang, anak panah) yang siap dipakai (dalam naungan tangan, dalam tabung) (2). Dalam a.3, tujuan dari senjata itu adalah menyatakan keagungan Tuhan, dengan menunaikan peran Israel sebagai hamba Tuhan. A.4 menyampaikan keluhan hamba ini. Sama seperti Israel, dia merasa tidak ada hasil dari jerih payahnya, tetapi, berbeda dengan Israel, dia yakin bahwa Tuhan tetap menjamin haknya (bdk. ucapan Israel dalam 40:27, “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku”).

Aa.5–6 merupakan respons atau janji Tuhan terhadap kepercayaan hamba itu. A.5a dan a.6a menegaskan tugas pokok hamba ini sebagai pemulihan Israel, tetapi a.6b memperluas tugas itu sampai ke ujung bumi. Oleh karena itu, kekecilan hati yang disampaikan dalam a.4 diobati dengan kuasa dan kemuliaan dari Tuhan (5b).

A.7 (yang pada hemat saya adalah awal dari aa.7–13, bukan akhir dari aa.1–7) mengembangkan tema-tema itu dengan bangsa-bangsa pada awalnya menghina hamba Tuhan kemudian memberinya hormat, karena karya Allah di dalamnya. Aa.8–13 kemudian kembali ke tugasnya untuk memulihkan Israel. (Dalam a.8 “engkau” tetap maskulin, dan belum merujuk ke Sion, seperti kesannya dari judul LAI.)

Maksud bagi Pembaca

Sebagai penduduk “pulau-pulau”, kita memperhatikan dengan syukur bahwa terang keselamatan Allah telah sampai kepada kita—atau dengan pertobatan jika kita masih menghinakan Kristus atau hamba-hamba-Nya seperti dalam a.7a. Sebagai hamba-hamba Tuhan, kita dikuatkan bahwa rencana Tuhan untuk memulihkan umat-Nya dan membawa terang keselamatan ke ujung bumi akan terwujud, meskipun secara manusiawi hasil jerih payah kita sedikit.

Makna

Hamba Tuhan diberi dua tugas pokok: memulihkan Israel, dan membawa terang bagi bangsa-bangsa. Jika kita mencermati PB, justru fokus Yesus adalah memulihkan Israel, termasuk sebagai puncaknya, kematian dan kebangkitan-Nya yang dinubuatkan dalam Yesaya 53. Bandingkan saja Mt 10:6, “pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”, dengan Mt 28:19, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. Kedua kali ini Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya. Apa bedanya? Dia telah mati dan bangkit! Dia telah memulihkan Israel dari dosa dan mengalahkan maut, sehingga keselamatan Allah sudah siap untuk diberitakan. Hanya, ternyata bukan Yesus yang melakukannya. Dia adalah terang dunia, tetapi tugas untuk membawa berita itu ke ujung bumi diberikan kepada murid-murid-Nya. Makanya, Paulus menerapkan Yes 47:6b ini kepada dia dan Barnabas. Tentu, pembagian tugas hamba Tuhan ini tidak kaku. Yesus melayani beberapa orang non-Yahudi, dan Paulus selalu mencari orang Yahudi lebih dulu ketika dia mau memberitakan Kristus di sebuah tempat—karena suatu prinsip teologis, menurut Rom 1:16b.

Hal itu melihat nubuatan ini dari perspektif penggenapannya dalam karya Kristus. Kita juga bisa melihat bahwa peran sebagai hamba Tuhan tidak selesai pada saat itu. Hamba-hamba Tuhan dalam PB pada umumnya merujuk pada para pelayan seperti Paulus (Kis 13:47 di atas, Rom 1:1), tetapi juga bisa diterapkan kepada semua orang percaya (1 Pet 2:16), karena semua orang percaya dipanggil untuk melayani. Peran itu akan merujuk pada penggembalaan jemaat untuk bertumbuh dalam keselamatan yang didatangkan oleh karya Kristus, dan juga pemberitaan keselamatan itu ke luar. Sepertinya, tidak ada harapan bahwa pelayanan seperti itu akan mudah. Sebaliknya, kita hanya akan bertahan dalam pelayanan yang sejati jika Allah yang memanggil dan berjanji adalah pusat perhatian kita, karena hasil di depan mata tidak terjamin.


Yes 12:1-6 Sukacita karena keselamatan [29 Des 2013]

Desember 23, 2013

Perikop ini cocok untuk mengakhiri renungan-renungan Adven dan Natal. Saya akan istirahat 2–3 minggu dari blog ini, jadi saya mengucapkan, “Merry Christmas and a Happy New Year”.

Penggalian Teks

Yesaya 11 (dibahas di sini) menceritakan keselamatan Israel dari pembuangan oleh karena “tunas…dari tunggul Isai” (11:1), yakni, Mesias. 11:1–5 menceritakan sifat Mesias itu, sehingga ada damai di seluruh ciptaan (11:6–9), dan sisa-sisa umat Israel dapat berhimpun kembali di tanah perjanjian (11:10–16). Perikop kita adalah respons (a.1 “pada waktu itu”) umat Allah yang telah diselamatkan. Aa.1–2 memakai kata “engkau” (tunggal maskulin), mungkin merujuk pada Yehuda sebagai bangsa yang diselamatkan, tetapi aa.3–5 memakai kata “kamu” untuk menyoroti respons seluruh umat. A.6 menempatkan umat sebagai penduduk Sion.

Keselamatan dalam aa.1–2 adalah keselamatan dari murka Allah, sesuai dengan janji dalam 10:24–25 (bdk. “janganlah takut” dan “amarah-Ku atasmu akan berakhir”). Pembuangan yang dialami Israel dilakukan oleh negara-negara seperti Asyur, tetapi di balik semua itu adalah Allah yang didurhakai oleh pemberhalaan dan ketidakadilan Israel (1a). Kesadaran akan tepatnya murka Allah itu disertai dengan syukur bahwa masa itu sudah berlalu. Pada zaman keselamatan, Yehuda dapat percaya dengan tidak gemetar (2). Sikap itu disertai dengan menimba dari mata air keselamatan (3). Yesaya 7–8 diwarnai oleh usaha bangsa Yehuda untuk menimba keselamatan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, dan bukan dari Allah. Sekarang, Allah akan menjadi tempat pertama umat-Nya bergantung, bukan tempat terakhir setelah semua berhala yang lain telah gagal.

Dalam aa.4–5, kepercayaan umat Allah meluap dalam panggilan untuk memuji Allah, bahkan sampai bangsa-bangsa—barangkali termasuk bangsa-bangsa yang menindas Israel. Pemberitahuan kepada bangsa-bangsa tentang perbuatan keselamatan Allah adalah satu cara untuk memuji (“masyhurkanlah”) nama-Nya. Umat Allah tidak akan malu lagi tentang Allah yang mereka sembah.

Jika dalam aa.1–3 umat Allah percaya pada keselamatan Allah, dan dalam aa.4–5 memiliki keberanian untuk memberitahukan karya Allah kepada bangsa-bangsa, dalam a.6 puncak sukacita Sion adalah hadirat Allah di tengah-tengah mereka sebagai Allah yang agung.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai umat yang telah diperdamaikan kembali dengan Allah, umat Allah menyatakan sukacitanya dengan bersyukur, mengandalkan keselamatan dari Allah, dan memuji nama-Nya kepada bangsa-bangsa.

Makna

Pada upacara-upacara pemerintahan, ada kesan bahwa bahasa seperti “hadirin yang berbahagia” dibuat-buat, karena, ketika Pancasila dibacakan, misalnya, jarak antara ucapan dan realita terasa jauh. Gejala yang sama bisa juga muncul dalam upacara gerejawi, bilamana kita merasa kecewa terhadap Tuhan. Berulangkali diucapkan bahwa Tuhan itu baik, tetapi alasannya menyangkut pemeliharaan Allah (“karena kita semua bisa berhimpun/bangun dengan sehat/pulang dengan selamat”) dan bukan keselamatan. Hal itu tidak salah, tetapi pada hemat saya membingungkan. Jika bangun dengan sehat adalah bukti kasih Allah, bagaimana kalau saya bangun dengan tidak sehat? Dalam dunia riil, ada orang percaya yang dikerasi, dibunuh secara sadis, kehilangan anak, menjadi pengungsi, dan banyak lagi. Jika pemeliharaan Allah adalah mata air yang daripadanya kita menimba kepercayaan untuk menghadapi kehidupan ini, kita akan bingung. Tetapi mata air itulah yang ditimba terus-menerus dalam doa dan ucapan, demikian pengamatan saya.

Orang-orang dalam PB sepertinya memiliki akar yang kuat karena mereka menimba air dari mata air keselamatan. Paulus bisa ditangkap, dicambuk dsb, dan tetap bersukacita dalam Tuhan. Mengapa? Karena dalam Kristus, dia tahu bahwa murka Allah telah surut. Allah menanggung murka-Nya dalam diri-Nya sendiri (karena Kristus adalah Allah Anak), sehingga murka itu tuntas dilampiaskan; tidak ada sisanya lagi bagi orang yang percaya kepada Kristus (bdk. Rom 5:9–10; Rom 8:1). Dunia dihadapi dengan keyakinan akan kekuatan dan keselamatan Allah, bahkan di tengah kekacauan dan penderitaan (Rom 8:31–39). Tentu, dia yakin akan pemeliharaan Allah, tetapi karena keselamatan dalam Kristus. Kematian Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah mengasihi kita; kebangkitan Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah memiliki rancangan yang baik bagi dunia ini.

Oleh karena itu, Paulus tidak malu berbicara tentang Kristus. Dia yakin bahwa karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah sesuatu yang selayaknya diberitahukan kepada siapa saja. Jemaat-jemaat perdana mampu memasyhurkan nama Yesus karena keyakinan mereka bahwa Yesus ada di tengah-tengah mereka—dengan agung. Pada upacara tongkonan yang berhasil, keluarga merasa bangga dan berbobot karena ada keagungan keluarga tampak bagi semua yang hadir, dan mereka tidak akan malu-malu memberitahukannya. Jemaat-jemaat perdana merasa sama karena hadirat Kristus di tengah-tengah mereka—hidup mereka bermakna dan berbobot oleh karena Dia.


Yes 56:1-8 Keselamatan bagi semua yang taat [15 September 2013]

September 10, 2013

Perikop ini juga membahas satu segi dari identitas umat Allah, yang menurut saya adalah satu hal pokok yang perlu dikembangkan di dalam gereja. A.1 dengan jelas melihat ketaatan sebagai respons terhadap janji keselamatan. Sabat hanya masuk akal sebagai respons terhadap keselamatan, karena terkait erat dengan karya penciptaan dan penebusan oleh Allah.

Penggalian Teks

Pp.49-55 menubuatkan pengorbanan Hamba Tuhan, yang dalam p.53 meraih keselamatan bagi Israel. Keselamatan itu diuraikan dalam pp.54-55. Setelah perikop kita, nada nubuatan kembali menegur Israel, tetapi bukan lagi dengan ancaman pembuangan, melainkan dengan ancaman tidak mendapat bagian dalam keselamatan dari Allah.

Jadi, nubuatan ini dikatakan kepada umat yang kepadanya diberikan janji keselamatan (1), dan menjelaskan orang seperti apa yang cocok untuk menikmati keselamatan itu, atau dengan kata lain, siapa umat Allah yang sebenarnya.

Ada kesejajaran dalam a.1 antara respons manusia dan karya Tuhan, “hukum” dan “keadilan” dari manusia karena “keselamatan” dan “keadilan” dari Tuhan. Hukum (mishpat, dari kata shapat = “memerintah”) di sini bukan peraturan tetapi tatanan sosial yang diciptakan oleh para penguasa yang memerintah dengan baik. Keadilan (tsedaqah) lebih luas dari konteks pengadilan saja, dan merujuk pada cara semua relasi antar-manusia dilakukan. Keadilan dapat berkembang ketika hukum diterapkan. Di atas Israel yang dibuang ke Babel, Tuhan memerintah dengan menyelamatkan mereka, suatu tindakan keadilan. Tetapi, perhatikan bahwa Israel di sini belum diselamatkan. Mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan janji keselamatan, bukan sesuai kondisi yang ada. A.2 menyatakan kebahagiaan jalan itu, serta mengangkat satu hal khusus—memelihara Sabat—serta satu hal umum—menahan diri (harfiah: “menjaga tangannya”) dari kejahatan.

Aa.3-7 merupakan kiasmus, yaitu pola silang sbb. Orang asing “yang menggabungkan diri kepada Tuhan” disebut dulu dalam a.3a (A), kemudian orang kebiri dalam a.3b (B). Kemudian, janji Allah kepada kedua kelompok ini disampaikan dalam urutan yang terbalik: orang kebiri diuraikan dulu dalam aa.4-5 (B’), dan orang asing dalam aa.6-7 (A’). Kedua kelompok ini memiliki kekhawatiran masing-masing sesuai dengan kondisinya, tentang keterlibatan mereka dalam janji keselamatan Allah.

Syarat (dalam artian, cara hidup yang cocok dengan apa yang dijanjikan) bagi orang kebiri adalah memelihara Sabat dan taat (4). Mereka sudah menjadi bagian dari perjanjian Tuhan sebagai orang Israel, dan cara menyatakan keanggotaan itu ialah memilih kehendak Tuhan. Janji Tuhan ialah bahwa akan ada nama yang lebih baik daripada keturunan yaitu di Bait Allah. Kata “peringatan” menerjemahkan kata “tangan”, sehingga dalam bahasa aslinya, orang kebiri yang menahan “tangan” dari kejahatan (2) mendapat “tangan” (peringatan) yang abadi (5). Janji ini mengandaikan dunia baru (Yes. 65:17) di mana Bait Allah menjadi pusat dunia yang kekal (Yes 2:1-4). Dengan demikian, keluhan “aku ini pohon yang kering” dijawab. Sama seperti Abraham (Kej 12:2), mereka akan memiliki nama.

Orang-orang asing yang dimaksud adalah yang siap melayani Tuhan, siap menjadikan Tuhan tuan atas hidupnya. Hal itu akan dilihat dalam soal yang sama dengan orang kebiri, yaitu Sabat dan perjanjian, hanya soal “memilih apa yang Kukehendaki” diganti dengan “tidak menajiskan [Sabat]”. Janji bagi mereka adalah keterlibatan penuh dalam ibadah kepada Tuhan—dibawa ke Bait Allah dan membawa persembahan—sesuai dengan penglihatan dalam Yes 2:1-4. Dengan demikian, keluhan “Tuhan hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya” dijawab. Sama seperti Abraham, mereka akan bersekutu dengan Allah (Kej 12:8).

Dengan demikian, Allah akan menyempurnakan keselamatan Israel yang diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya (8). Semua orang di dalam, yang cacat sekalipun, dan semua orang di luar, bangsa-bangsa, ditawarkan keselamatan yang penuh, penerimaan dan martabat di hadapan Allah. Janji Allah kepada Abraham tentang berkat bagi seluruh dunia akan digenapi.

Maksud bagi Pembaca

Kebahagiaan karena menyambut keselamatan Tuhan dengan ketaatan ditawarkan kepada semua manusia, orang cacat dan orang asing sekalipun. Tuhan akan mengubah semua kekurangan yang lain menjadi berkat, supaya penerima keselamatan-Nya makin bertambah.

Makna

Hari Sabat mendapat penekanan yang menarik di sini. Dalam PB, Sabat menjadi pokok perselisihan antara Yesus dengan orang-orang Farisi, tetapi seterusnya hanya muncul dalam Kol 2:16, dan mungkin tersirat dalam Rom 14:5. Sulit dibayangkan bahwa seorang hamba yang menjadi percaya akan dibolehkan tidak bekerja pada hari Minggu oleh tuan yang tidak percaya. Tetapi, makna Sabat bukan sekadar tidak bekerja. Dalam Kel 20:11, Sabat meniru pola Allah yang “berhenti” pada hari ketujuh. Dengan demikian, hari Sabat menjadi peringatan akan karya penciptaan. Dalam Ul 5:15, perbudakan Israel di Mesir menjadi alasan untuk hamba-hamba orang Israel ikut menikmati perhentian pada hari Sabat. Jadi, makna Sabat termasuk merayakan karya Allah (penciptaan dan penebusan), dan juga ada unsur keadilan di dalamnya. Pada hari Sabat, hamba pun dihargai sebagai manusia, bukan sebagai sumber pendapatan. Hal itu menjadi alasan untuk Yesaya menekankan Sabat dalam kaitan dengan keadilan. Dalam PB, makna Sabat berkembang lagi menjadi simbol istirahat eskatologis (Ibr 4:8-11).

Dalam Ul 23:1, orang kebiri dilarang masuk “jemaah Tuhan”. Orang Yahudi pada zaman-zaman kemudian tidak melihat adanya perubahan dalam perintah Tuhan itu: yang diberikan adalah nama, bukan izin memasuki jemaah. Yang ada bagi mereka ialah semacam pemaknaan ulang bahwa larangan itu memiliki makna ritus (kesempurnaan fisik sebagai simbol kesempurnaan moral), dan tidak bermaksud menurunkan martabat orangnya. Namun, jika kita melihat bahwa masa depan yang dinubuatkan di sini digenapi di dalam Yesus, kita memahami bahwa memang kita tidak di bawah hukum Taurat lagi, dan siapapun bebas masuk dalam jemaat. Hanya, yang dipersoalkan di sini bukan masuk di jemaah/jemaat melainkan adanya keturunan. Dalam Mt 19:12, Yesus memakai kata untuk orang kebiri (eunoukhos, diterjemahkan “orang yang tidak dapat kawin” oleh LAI, yang juga dipakai dalam terjemahan LXX dari Yes 56:3-4) secara kiasan untuk orang yang tidak menikah karena berbagai alasan—termasuk Yesus sendiri. Biasanya sebuah nama diteguhkan melalui keturunan, tetapi nama dari Allah adalah nama yang abadi.


Yes 45:1-8 Allah Pencipta gelap dan terang [9 Juni 2013]

Juni 4, 2013

Kemarin saya mengikuti pengurapan pendeta, dan mendengar kembali bahwa salah satu tugas pendeta ialah menyampaikan firman Allah “dengan saksama”. Semoga renungan di bawah ini membantu Saudara dalam menunaikan tugas itu.

Penggalian Teks

Mulai pasal 40, nubuatan Yesaya banyak berbicara tentang Israel dalam pembuangan. Ada dua penekanan pokok, yaitu, bahwa Allah tetap peduli tentang Israel, dan bahwa Allah sanggup untuk menolong Israel. Pokok kedua ini disampaikan dengan menegaskan keunikan Allah.

Perikop kita memiliki ciri khas yang berkaitan dengan kedua pokok tadi, yang menyangkut Koresh. Koresh adalah raja negeri Persia (Ezra 1:1), negeri adikuasa yang menggantikan negeri Babel yang membawa Israel ke dalam pembuangan. Yes 44:24-28 menjanjikan pembangunan Israel kembali, dan nama Koresh disebutkan sebagai puncak dalam 44:28. Koresh akan menjadi alat keselamatan bagi Israel, dan juga menunjukkan kuasa Allah yang tidak terbatas pada Israel saja.

Dalam a.1 ada dua pengantar. “Beginilah firmah TUHAN” adalah pengantar nabi. Sisa a.1 adalah pengantar Allah. Kepada siapa pengantar itu? Tentu, Israel. Allah menyampaikan berita yang mengejutkan bahwa Dia mengurapi Koresh untuk suatu tugas khusus (sama seperti raja atau imam diurapi), dan bahwa kemenangan-kemenangan Koresh adalah tindakan Allah: “Aku menundukkan…Aku membuka…”. Tentu, semuanya dalam rangka keselamatan Israel (44:28).

Aa.2-7 dialamatkan kepada Koresh. Kita tidak tahu apakah dia pernah mendengar tentang nubuatan ini—hal itu tidak mustahil karena Ezra 1:1 menunjukkan bahwa dia (atau jejaringannya) memiliki informasi tentang agama Israel. Namun, kita harus tetap mengandaikan bahwa sasaran utama firman ini adalah Israel, sama seperti perikop-perikop di sebelum maupun sesudahnya.

Firman Allah kepada Koresh dalam aa.2-7 mengandung berbagai janji dengan satu tujuan, yaitu pengenalan akan Allah. Allah akan menyertainya dalam semua usaha perangnya (2-3) supaya Koresh mengenal Tuhan. Dia memanggil Koresh dengan nama dalam nubuatan ini, artinya, nubuatan ini merupakan bukti bahwa Tuhan telah merancang kemenangan Koresh sebelum hal itu terjadi, dan nubuatan ini yang menggelari Koresh sebagai Yang Diurapi, penyelamat Israel. Namun, panggilan itu bukan karena Koresh yang tidak mengenal Allah melainkan karena Israel yang dipilih Allah (4). Panggilan Tuhan sebelum Koresh menang itu membuktikan keunikan Tuhan bukan hanya kepada Koresh melainkan kepada seluruh bumi (5-6).

Keunikan Tuhan ditegaskan dengan melihat nasib mujur dan malang ada dalam tangan-Nya. Jelas bahwa Koresh mengalami nasib mujur, dan musuh-musuhnya mengalami nasib malang, tetapi kita dapat juga melihat pesan bagi Israel. Mereka sedang dalam kegelapan pembuangan, tetapi melalui Koresh Tuhan akan menciptakan terang. Jadi, a.8 menyampaikan pengharapan keselamatan pertama-tama bagi Israel. Tentu, sudah ada petunjuk dalam 42:1 & 4 bahwa keselamatan Israel akan menjadi bibit keselamatan bagi seluruh dunia.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau mengangkat penglihatan Israel untuk memandang kisah mereka dari sudut pandang Allah. Kondisi pembuangan mereka akan menjadi kesempatan untuk Allah memperkenalkan diri kepada seluruh dunia dengan memakai seorang raja asing. Dengan demikian, Israel sendiri akan tahu bahwa Tuhan berkarya baik dalam gelap maupun terang. Gelapnya pembuangan akan diikuti oleh terang keselamatan.

Kesimpulan itu tidak memberi ruang untuk memakai Koresh sebagai teladan. Fokus terhadap Koresh saya ragukan karena dua hal. Yang pertama, Koresh tidak sengaja mengemban misi Allah, dia dipakai sebagai alat oleh Allah. Bagi saya itu teladan yang aneh. Yang kedua, aa.7-8 bermaksud untuk menguatkan Israel, bukan Koresh, dan saya tidak melihat cara yang baik untuk mencocokkan aa.7-8 dengan khotbah tentang Koresh sebagai teladan.

Makna

Apakah mengangkat penglihatan jemaat terlalu “menyurga” dan kurang “membumi”? Pertanyaan sebaliknya ialah, Bukankah jemaat rata-rata takut terhadap pemerintah yang dianggap makin tidak ramah terhadap kaum nasrani? Jangan sampai orang-orang kristen selama ini lebih mengandalkan kuasa para pembesar kristen daripada kuasa Allah, dan sedang menuai hasil dari ketidakpercayaan itu. Mereka tidak percaya bahwa Allah berdaulat bahkan atas Koresh-Koresh, mereka percaya bahwa baru jika ada menteri-menteri dan pejabat-pejabat tinggi yang beragama kristen, maka mereka akan aman. Kepada umat yang tidak percaya ini, saya rasa firman tentang kedaulatan Allah bahkan atas pembesar di luar umat-Nya akan berguna. Kepercayaan yang telah dibangun atas kebenaran juga adalah penerapan yang praktis.

Tentu, kita harus memahami keselamatan ini dalam rangka Yesus. Pembuangan menggambarkan kondisi umat Allah sebagai to mentiruran (pendatang), dan janji Allah adalah dunia baru (atau dunia yang telah diperbaharui). Janji dalam PB adalah kedamaian dengan Allah dan sesama orang percaya sekarang (tentu, kedamaian itu ditawarkan kepada semua orang), tetapi kesejahteraan hanya dijanjikan dalam dunia baru itu (walaupun tidak dilarang dan bisa dipakai Tuhan sekarang). Mengamati gereja sekarang saya bisa agak mengerti pola ini. Gereja di banyak tempat mendapat bagian dalam kemakmuran Indonesia yang bertambah-tambah, dan apa balasannya kepada Tuhan? Korupsi, gengsi, dan/atau keasyikan berlebihan dengan benda-benda elektronik. Bisa saja penganiayaan menjadi salah satu alat Allah untuk menyadarkan umat-Nya kembali. Allah menciptakan gelap dan terang, nasib mujur dan nasib malang. Dia tidak hanya berdaulat atas para pembesar ketika mereka berlaku adil. Bahkan dalam penganiayaan Dia berdaulat.

Tentu, kita tidak berdoa supaya kondisi di Indonesia memburuk, kita berdoa supaya datanglah kerajaan Allah. Gelap akan menjadi terang, dan janji dalam a.8 itu diteguhkan di dalam Kristus sehingga tetap memberi kita semangat dalam penantian kita.


Yes 32:15-20 Hasil dari pencurahan Roh Allah (20 Mei 2012)

Mei 19, 2012

Perikop ini berbicara tentang suatu harapan, dan beberapa nilai yang penting di tengah harapan itu. Jika cara saya menerangi hubungan antara kedua hal itu belum jelas, saya berharap Pembaca dapat menemukan cara yang lebih tepat (silakan dibagikan dalam komentar). Tetapi pemberitaan kita akan kurang jika salah satu unsur itu hilang.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang berbicara tentang hukuman atas Israel, dilihat dari perspektif perempuan-perempuan yang hanya melihat ketenteraman di sekitarnya (32:9-14). Kota-kota tempat bergirang-girang akan menjadi kegirangan keledai hutan (32:13-14). Kemungkinan, peristiwa yang dirujuk di sini adalah penyerangan Sanherib pada tahun 701 SM, yang mengalahkan semua kota di Yudea kecuali Yerusalem (36:1). Meskipun Tuhan meluputkan Yerusalem, seperti telah disinggung dalam p.31 dan diceritakan secara terperinci dalam pp.36-37), akibatnya tetap berat. Perempuan-perempuan itu menganggap ada damai, tetapi kedamaian itu semu.

Mulai a.15, ada nubuatan tentang serangkaian peristiwa yang akan mengakhiri hukuman Allah (“sampai”) dan akan membawa damai yang sejati. Yang pertama ialah Roh dari atas, yang membawa pembaruan alam (a.15). Hal itu diiringi kebenaran dan keadilan (a.16, kedua hal itu dikaitkan dengan pembaruan pimpinan dalam 36:1), yang akan membawa damai sejahtera yang sejati (a.17) untuk seluruh umat Allah (a.18). Pemulihan alam dan pemulihan manusia berpadu untuk menciptakan damai sejahtera.

Kedua ayat berikut kurang jelas, tetapi mungkin terjemahan NIV yang cocok: “(19) Walaupun hutan akan runtuh dsb (20) namun berbahagialah kamu dsb”, artinya, di balik musibah yang akan terjadi di bawah Sanherib, Tuhan akan memberi Israel kelegaan. A.20 dapat dilihat sebagai keadaan yang bebas bahaya.

Maksud bagi Pembaca

Yesaya mau supaya Israel memahami sifat ketenteraman yang sejati, yaitu damai sejahtera (keadilan dan kebenaran serta pemulihan alam) yang disebabkan oleh karya Allah yang mencurahkan Roh-Nya.

Makna

Dalam PB, kedatangan Roh Kudus menjadi tanda bahwa zaman baru, yaitu, zaman keselamatan, sudah mulai. Tentu, tidak semua yang dijanjikan dalam perikop ini digenapi sekaligus. Pemulihan alam masih menunggu kebangkitan anak-anak Allah (Rom 8:21). Tetapi, pemulihan umat sudah mulai. Walaupun istilahnya tidak persis sama dalam bahasa aslinya, Ef 5:9 menyebutkan kebenaran dan keadilan sebagai buah terang, ciri jemaat yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef 1:13; Ef 4:30). Dalam harapan akan dunia baru (karena Roh Kudus adalah jaminan akan seluruhnya, Ef 1:14), kita hidup sekarang menurut dunia mendatang itu, yakni, dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian ada damai sejahtera, yang dicicipi sekarang di dalam jemaat, dan yang akan dialami secara tuntas dalam dunia baru.

Sebagian orang tidak jauh dari perempuan-perempuan itu, terlalu puas karena tidak ada masalah yang besar, walaupun belum ada kebenaran yang jelas. Sebagian orang lain sadar akan kurangnya keadilan dan kebenaran, dan dapat melihat bahwa hal itu berdampak negatif pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat. Namun, orang-orang itu menunggu “mereka” (pemerintah, pimipinan gereja, entah siapa lagi) untuk memperbaiki masalah itu, baru orang-orang itu akan berani ikut berlaku benar dan adil. Kondisi dunia yang belum tuntas dipulihkan menjadi dalih untuk hidup dalam kepentingan kelompok sendiri. Tetapi jika Allah sendiri telah mencurahkan Roh-Nya, zaman hidup menurut keadilan dan kebenaran ala perikop kita telah tiba. Yes 32:15-20 menggambarkan dunia baru untuk kita tangkap dengan mata iman supaya kita hidup di dalamnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.