Yes 32:15-20 Hasil dari pencurahan Roh Allah (20 Mei 2012)

Mei 19, 2012

Perikop ini berbicara tentang suatu harapan, dan beberapa nilai yang penting di tengah harapan itu. Jika cara saya menerangi hubungan antara kedua hal itu belum jelas, saya berharap Pembaca dapat menemukan cara yang lebih tepat (silakan dibagikan dalam komentar). Tetapi pemberitaan kita akan kurang jika salah satu unsur itu hilang.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang berbicara tentang hukuman atas Israel, dilihat dari perspektif perempuan-perempuan yang hanya melihat ketenteraman di sekitarnya (32:9-14). Kota-kota tempat bergirang-girang akan menjadi kegirangan keledai hutan (32:13-14). Kemungkinan, peristiwa yang dirujuk di sini adalah penyerangan Sanherib pada tahun 701 SM, yang mengalahkan semua kota di Yudea kecuali Yerusalem (36:1). Meskipun Tuhan meluputkan Yerusalem, seperti telah disinggung dalam p.31 dan diceritakan secara terperinci dalam pp.36-37), akibatnya tetap berat. Perempuan-perempuan itu menganggap ada damai, tetapi kedamaian itu semu.

Mulai a.15, ada nubuatan tentang serangkaian peristiwa yang akan mengakhiri hukuman Allah (“sampai”) dan akan membawa damai yang sejati. Yang pertama ialah Roh dari atas, yang membawa pembaruan alam (a.15). Hal itu diiringi kebenaran dan keadilan (a.16, kedua hal itu dikaitkan dengan pembaruan pimpinan dalam 36:1), yang akan membawa damai sejahtera yang sejati (a.17) untuk seluruh umat Allah (a.18). Pemulihan alam dan pemulihan manusia berpadu untuk menciptakan damai sejahtera.

Kedua ayat berikut kurang jelas, tetapi mungkin terjemahan NIV yang cocok: “(19) Walaupun hutan akan runtuh dsb (20) namun berbahagialah kamu dsb”, artinya, di balik musibah yang akan terjadi di bawah Sanherib, Tuhan akan memberi Israel kelegaan. A.20 dapat dilihat sebagai keadaan yang bebas bahaya.

Maksud bagi Pembaca

Yesaya mau supaya Israel memahami sifat ketenteraman yang sejati, yaitu damai sejahtera (keadilan dan kebenaran serta pemulihan alam) yang disebabkan oleh karya Allah yang mencurahkan Roh-Nya.

Makna

Dalam PB, kedatangan Roh Kudus menjadi tanda bahwa zaman baru, yaitu, zaman keselamatan, sudah mulai. Tentu, tidak semua yang dijanjikan dalam perikop ini digenapi sekaligus. Pemulihan alam masih menunggu kebangkitan anak-anak Allah (Rom 8:21). Tetapi, pemulihan umat sudah mulai. Walaupun istilahnya tidak persis sama dalam bahasa aslinya, Ef 5:9 menyebutkan kebenaran dan keadilan sebagai buah terang, ciri jemaat yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef 1:13; Ef 4:30). Dalam harapan akan dunia baru (karena Roh Kudus adalah jaminan akan seluruhnya, Ef 1:14), kita hidup sekarang menurut dunia mendatang itu, yakni, dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian ada damai sejahtera, yang dicicipi sekarang di dalam jemaat, dan yang akan dialami secara tuntas dalam dunia baru.

Sebagian orang tidak jauh dari perempuan-perempuan itu, terlalu puas karena tidak ada masalah yang besar, walaupun belum ada kebenaran yang jelas. Sebagian orang lain sadar akan kurangnya keadilan dan kebenaran, dan dapat melihat bahwa hal itu berdampak negatif pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat. Namun, orang-orang itu menunggu “mereka” (pemerintah, pimipinan gereja, entah siapa lagi) untuk memperbaiki masalah itu, baru orang-orang itu akan berani ikut berlaku benar dan adil. Kondisi dunia yang belum tuntas dipulihkan menjadi dalih untuk hidup dalam kepentingan kelompok sendiri. Tetapi jika Allah sendiri telah mencurahkan Roh-Nya, zaman hidup menurut keadilan dan kebenaran ala perikop kita telah tiba. Yes 32:15-20 menggambarkan dunia baru untuk kita tangkap dengan mata iman supaya kita hidup di dalamnya.


Yes 1:15-20 “Pertobatan yang sejati” (4 Mar 2012) [Sengsara III]

Februari 29, 2012

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil buruannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus mati belum tentu pemiliknya senang! Tetapi, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak dapat mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Penggalian Teks

Dalam Yes 1:2-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam pp.36-37) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).

Jadi, perikop 1:10-20 (dimulai pada a.15 karena di situlah disebutkan soal tangan berlumuran darah yang menjadi tema berdasarkan Ams 6:17) mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, hukuman Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.

Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).

Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55, khususnya p.53). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. Ul 28:1-14) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. Ul 28:14dst) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan pemberitaan Yesaya pada saatnya adalah menawarkan pertobatan kepada Israel supaya bangsa Israel dapat hidup dan tidak mati dihukum pembuangan. Nubuatan Yesaya mulai diterima luas sebagai firman Tuhan ketika hukuman Allah memang terjadi, lebih dari 100 tahun kemudian (Yesaya bernubuat pada paruh kedua abad ke-7 SM, Yerusalem dihancurkan 587 SM). Perikop ini tetap berfungsi untuk menjelaskan pertobatan yang sejati sehingga kita bisa terlibat dalam rencana keselamatan Allah, bukan disingkirkan sebagai timah (a.25).

Makna

Tahap Israel dan kita dalam rencana keselamatan Allah itu tidak sama. Israel adalah bangsa di sebuah tempat tertentu, dan dasar untuk pengampunan baru disimbolkan dengan kurban-kurban di Bait Allah, kenyataannya dalam Kristus belum datang. Jadi, kita perlu meninjau ulang keempat unsur pemberitaan Yesaya, yaitu: perincian dosa, pertobatan, janji pengampunan dan akibat.

Inti dari perincian dosa (aa.11-14 yang disimpulkan dalam a.15) adalah semangat dalam ritus yang tidak dibarengi dengan kebenaran dan keadilan. Hal itu menjadi masalah pada zaman Yesus, dan tetap sampai sekarang. Tangan yang penuh dengan darah tidak sekadar oknum yang melakukan kekerasan. Suharto sebagai presiden mungkin tidak pernah langsung membunuh orang, tetapi tangannya tetap penuh darah. Ayat-ayat berikut juga melihat berbagai bentuk ketidakadilan. Kita bisa membayangkan betapa Allah jijik terhadap sebuah syukuran atas hasil korupsi, betapa Dia tidak berkenan pada pelayanan dari seorang majelis atau pendeta yang suka memukuli keluarganya, betapa Dia berduka atas perayaan kaum elit yang menerapkan kebijakan yang mengalihkan hasil orang miskin kepada orang kaya.

Aa.16-17 berbicara tentang tindakan nyata sebagai wujud pertobatan. Kejahatan tidak hanya dihentikan, tetapi juga kebaikan dipelajari dan keadilan diusahakan. Ini bukan sekadar kesadaran bahwa ada yang kurang, tetapi perubahan sikap. Dulunya orang miskin/kelas bawah/perempuan atau siapa lagi yang menjadi korban kekerasan, dianggap tidak layak, sampah, ancaman dsb. Sekarang, mereka dihargai sehingga diperlakukan dengan baik. Saya tertarik dengan ucapan “belajar berbuat baik”. Seringkali pertobatan menuntut hal-hal yang baru yang harus dipelajari. Jika dulu si suami menangani frustrasi dengan kekerasan, sekarang dia harus belajar cara-cara yang lain. Jika dulu orang besar pintar memeras rakyat, dia harus belajar bagaimana memerintah untuk kepentingan bersama. Pertobatan menyiratkan merendahkan diri—bukan hanya pengakuan akan kesalahan, tetapi juga menjadi orang bodoh yang harus belajar cara yang baik, yang sekarang didambakan oleh karena perubahan sikap adalah intisari pertobatan. Alasan untuk bertobat diperdalam dalam Kristus, tetapi sifat pertobatan tidak berubah.

Pengampunan yang digambarkan dengan begitu dramatis dalam a.18 justru digenapi di dalam Kristus. Jika Allah beperkara, semestinya Israel hancur. Tetapi yang ditawarkan adalah pembenaran: bukan untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak terlalu buruk, tetapi untuk menyampaikan berita yang luar biasa bahwa dosa mereka yang begitu berat dapat dihapus sehingga mereka diterima oleh Allah. Itulah yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus, sehingga Paulus berbicara tentang pembenaran oleh iman.

Di dalam Kristus, akibat yang akan dialami Israel juga mengalami perkembangan. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (Gal 3:14), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik akan kehilangan keselamatan eskatologis, sehingga tidak menikmati pengenalan akan Allah yang sudah sempurna, melainkan kehancuran kekal yang di dalamnya tidak ada berkat apapun. Kalau menjemukan Allah tidak apa-apa bagi kita, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!


Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Juni 22, 2011

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  


Yes 11:1-10 Allah memulihkan dunia dalam Raja yang Dia utus

Desember 11, 2010

Perikop ini menyampaikan gambaran yang luar biasa tentang sebuah dunia yang sudah berdamai, yang akan terjadi melalui tunas dari tunggul Isai, yakni Mesias. Namun, jika mau dipahami sebagai janji Allah yang akan digenapi, dan bukan hanya sebagai semacam perumpamaan yang memaparkan suatu ideal, ada beberapa hal yang membingungkan. Kita memahami bahwa perikop ini digenapi dalam Kristus, dan hal itu jelas dalam aa.1-4a & 5. Tetapi a.4b dan aa.6-10 sepertinya belum terwujud dengan jelas. Bagaimana hal itu mau dipahami?

Yang pertama, nubuatan ini dialamatkan kepada Israel, kemungkinan di bawah raja Ahas yang menjadi sorotan dalam p.7. Dia adalah raja yang takut akan manusia bukan Tuhan, dan nubuatan Mesianis dalam 8:23-9:6 memaparkan raja yang lain dari Ahas, raja damai yang kerajaan-Nya berlandasan keadilan. Kemudian, pp.9-11 menyampaikan kisah selanjutnya, kisah tentang hukuman kepada Israel yang diikuti oleh penyelamatan. Hukuman kepada Efraim (Israel Utara) diceritakan dalam 9:7-10:4. Keselamatan dimulai dengan alat hukuman itu, Asyur, dihukum pada gilirannya karena caranya yang jahat (Yes 10:5-19), sehingga sisa Israel dapat diselamatkan (10:20-27a). Cara hal itu terjadi mungkin digambarkan dalam 10:27b-34, di mana Aysur maju untuk menyerang Yerusalem tetapi menjadi seperti pohon besar yang ditebang. Nubuatan-nubuatan itu pertama-tama menyangkut hal-hal yang terjadi pada masa Yesaya, yaitu Israel Utara jatuh k.l. 722 sM (bnd. 2 Raj 17), dan Asyur gagal menyerang Yerusalem pada tahun 701 sM karena sesombongannya (bnd. Yes 36-37).

Dalam konteks itu, Allah menjanjikan dalam perikop kita raja yang sangat lain dari raja-raja Asyur: sebuah tunas (bukan pohon besar) yang takut akan Tuhan dan menghakimi dengan keadilan. Walaupun kelihatan tidak apa-apa, tetapi Roh Allah ada padanya dan dia justru membawa pembaruan dunia. Perikop berikut (11:11-16) bercerita tentang Israel (bagian utara) pulang dari pembuangan, sama seperti dulu Israel diselamatkan dari Mesir, sehingga Israel bisa bersatu kembali. P.12 menutup pasal-pasal ini dengan pujian oleh karena keselamatan itu.

Jadi, perikop ini memberi Israel janji bahwa Allah akan memulihkan Israel bahkan seluruh bumi melalui seorang raja keturunan Daud yang dalam kuasa Roh Tuhan akan menegakkan keadilan dengan meningkatkan kaum tertindas dan meniadakan orang fasik.

Nubuatan seperti itu sering memiliki penggenapan berganda. Hizkia, raja ketika Asyur gagal mengalahkan Yerusalem, mungkin diharapkan menggenapi bagian-bagian lain dari nubuatan ini, tetapi dia meninggal dan yang mengikutinya jahat kembali. Kemudian, setelah Yehuda (Israel Selatan) dibuang dan kembali dari pembuangan dan belum ada raja, harapan itu harus tertunda lagi. Konsep Mesias merujuk pada harapan bahwa akhirnya Tuhan akan mengutus raja ini untuk memulihkan Israel dan membarui dunia. Ketika Kristus datang menggenapi janji itu, ternyata yang dianggap di sini satu rangkaian peristiwa juga berproses. Kristus menunjukkan sifat seperti aa.1-4a dalam pelayanan-Nya, tetapi pembaruan dunia menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Sifat nubuatan itu sering digambarkan seperti melihat puncak gunung. Dari jauh, ada dua puncak yang kelihatan bertepatan, tetapi ketika sampai yang pertama puncak kedua ternyata masih jauh. Masa Adven menangkap bahwa kedua kedatangan Kristus merupakan satu kesatuan dari perspektif rencana Allah, walaupun waktunya ternyata lama di antaranya.

Apakah dengan demikian, gambaran yang begitu luar biasa tentang keadilan dan damai hanya sebuah janji masa depan yang belum memiliki relevansi untuk sekarang, atau sebatas suatu idealisme yang tidak dapat dianggap bersentuhan dengan dunia riil? Kita bisa saja digerakkan oleh sebuah idealisme, tetapi janji-janji Alkitab menyampaikan harapan eskatologis. Jika yang ideal melayang-layang di sorga, harapan eskatologis percaya bahwa yang di sorga akan terwujud di bumi, sehingga semestinya mulai diterapkan sekarang. Orang yang mengusahakan keadilan dan damai sekarang bertindak sesuai dengan masa depan dunia, walaupun untuk sementara semua usaha itu tidak berhasil sepenuhnya, dan kadangkala kelihatan gagal. Sebagai contoh, karena pembangkitan listrik dapat jauh lebih bersih daripada membakar minyak, ada gagasan untuk memakai listrik, bukan BBM, untuk menggerakkan mobil. Seandainya itu satu ideal saja, mungkin akan dianggap kurang praktis, dan mobil listrik hanya akan dibeli oleh peminat yang kaya. Tetapi, karena produksi minyak di bumi kemungkinan sudah berpuncak, harga BBM akan meningkat pesat. Oleh karena itu, di AS dan beberapa negara yang lain, mobil yang memakai listrik adalah masa depan mobil. Mobil itu mulai laku bukan hanya karena suatu idealisme, tetapi karena melihat bahwa arah dunia memang ke sana.

Saya duga bahwa pemimpin-pemimpin Yahudi yang percaya pada pemberitaan Yesaya ini didorong untuk melaksanakan tugasnya dengan keadilan, melihat arah dunia yang dijanjikan Allah. Lebih lagi kita, sebab dalam kedatangan Kristus yang pertama, janji Allah itu sudah mulai digenapi. Kita bukan raja damai yang dipakai Tuhan untuk memulihkan dunia, tetapi kita berada di dalam-Nya, sehingga hidup kita diarahkan oleh masa depan itu.


Yes 32:1-8 Pemulihan batin

Agustus 21, 2010

Dalam Yesaya 28-35 ada berbagai nubuatan tentang hukuman dan penyelamatan terhadap Israel. Perikop ini menyampaikan suatu gambaran tentang Israel yang sudah dipulihkan. Salah satu fungsinya adalah perbandingan dengan kenyataan pada saat Yesaya, supaya kekurangan Israel pada saat itu dapat lebih jelas.

Perikopnya berbicara tentang pemimpin dalam artian yang luas, dari orang-orang yang menjabat (a.1) sampai orang yang berbudi luhur, sehingga menunjukkan kepemimpinan moral / rohani dalam masyarakat. Tentu, harapannya bahwa raja dan penjabat-penjabat yang lain akan memiliki karakter itu juga, tetapi harapannya tidak terbatas pada kelompok itu.

Tentang pemimpin yang menjabat, a.2 menyampaikan empat ilustrasi tentang perlindungan berkat kepemimpinan yang baik. Aa.3-4 berbicara tentang pemulihan batin. Mata, telinga, hati dan lidah orang akan berfungsi sebagaimana semestinya. Fungsi itu saya tafsir sebagai berikut. Mata semestinya sanggup melihat hal-hal yang tidak beres (seperti dalam aa.5-7), tetapi tidak sanggup karena hati yang terburu nafsu itu. Telinga semestinya sanggup mendengar hal-hal yang tidak enak, seperti keluhan orang miskin (a.7), tetapi yang tertindas (baik secara rohani, a.6, maupun secara ekonomi, aa.6-7) pun “gagap” dalam menyampaikan keluhannya (a.4).

Hasil dari pemulihan batin adalah pengakuan tentang orang-orang yang berbudi luhur. Kata itu dipakai untuk orang yang memberi dengan sukarela, seperti dalam Kel 35:5. Masalahnya, jika mata orang tertutup dan telinga orang tidak memperhatikan, orang bebal bisa saja mengklaim sebagai orang yang berbudi luhur, dan seorang penipu bisa saja dihormati (a.5). Padahal sifat yang sebenarnya dari orang bebal dan penipu yang diuraikan dalam aa.6 & 7 masing-masing sangat kentara. Sifat orang yang berbudi luhur juga kentara. Dia merancang hal-hal yang luhur, dan berdiri tegak karena hal-hal itu (a.8).

Bahwa aa.5-7 menggambarkan keadaan di Indonesia (dan negara-negara yang lain) sangat jelas. Mengapa demikian? Karena banyak orang, termasuk pempimpin-pemimpin kecil yang mempengaruhi masyarakat, belum mengalami pemulihan batin seperti dalam aa.3-4. Janji semu dipercayai karena hati yang terburu nafsu, sedangkan keluhan orang terpinggir tidak diperhatikan. Dalam konteks Yesaya, pemulihan batin akan terjadi jika ada pertobatan (bnd. 31:6-7) karena percaya pada karya Tuhan untuk memulihkan dunia (31:8-9). Hal itu tidak berubah dalam PB. Karena karya-Nya pada salib, Kristus adalah hikmat kita (1 Kor 1:30), yang memampukan kita melihat dunia seadanya dan mendengarkan bahkan hal-hal yang mengancam kepentingan kita sebagai pemimpin.


Yesaya 33 Politik Kerajaan Allah

April 20, 2010

Yesaya 33 menyangkut harapan bahwa keadaan Sion yang masih dikuasai perusak dan penggarong akan dipulihkan (a.1, bnd. Yes 1:21-26). Hal itu akan merupakan hukuman bagi yang jahat, sekaligus keselamatan bagi umat Tuhan yang tertindas (“ya, selamatkan kami”), sehingga nabi berdoa kepada Tuhan untuk hal itu (a.2). Dia bernubuat bahwa hal itu akan terjadi, karena “Tuhan tinggi luhur” (aa.5-6), sampai Sion sudah pulih bukan hanya dari penindasan tetapi juga dari dosa dan penyakit (a.24).

Jadi, pasal ini menyangkut harapan eskatalogis (= hal-hal terakhir), yaitu bagaimana Allah akan mengakhiri zaman ini dengan mengintervensi dalam dunia untuk menghukum dan menyelamatkan. Dalam konteks itu, ekonomi dan keamanan, dua fungsi politik yang terutama, berjalan beda dari yang biasa. Dalam a.6, “kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan”, dan “harta benda Sion”, yaitu kota umat Tuhan, ialah “takut akan Tuhan”. Setelah Tuhan bangkit untuk bertindak (aa.7-13), “orang-orang yang berdosa terkejut” (a.14). Harta benda mereka tidak berguna menghadapi hukuman Allah. Jadi, dalam aa.15-16 orang yang aman adalah “orang yang hidup dalam kebenaran dsb”. Dia aman seperti orang yang tinggal di benteng di tempat yang tinggi (a.16). Setelah hukuman itu, Tuhan sendiri akan puas karena tidak lagi menghadapi bangsa yang biadab (a.19).

Jadi, kekayaan yang kita kejar tergantung pada politik apa yang kita percayai. Apakah politik Indonesia yang paling nyata, yang di dalamnya korupsi dan kepentingan kalangan sendiri dianggap yang paling masuk akal? Atau, apakah Kristus telah bangkit dan akan datang kembali, sehingga politik Kerajaan Allah yang paling nyata, yang di dalamnya kebenaran dan kejujuran yang paling masuk akal? Aa.21-22 mengatakan bahwa Tuhan mulia, Hakim kita dan Raja kita. Keamanan siapa yang akan kita andalkan, dunia atau Allah?


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih tampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu pertukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiringi seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan berbalik kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


Yes 1:10-20 Mengapa menjemukan Allah?

Juli 11, 2008

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus yang mati belum tentu pemiliknya senang! Namun, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.