Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


Yoh 21:15-19 Kasih kepada Yesus

Juni 13, 2008

Kebangkitan Yesus membawa sukacita ganti dukacita yang dialami para murid ketika Dia disalibkan (Yoh 16:20). Tetapi kebangkitan-Nya tidak meniadakan pengkhianatan para murid terhadap-Nya, khususnya Petrus yang telah berjanji, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” (Yoh 13:37) tetapi menyangkal Yesus tiga kali. Di sini Yesus menunjukkan bagaimana pengampunan bisa berlaku bagi mereka setelah kematian dan kebangkitan-Nya.

Percakapan itu terjadi di sekitar api arang yang dipasang Yesus, sama dengan api arang yang di sekitarnya Petrus menyangkal Yesus (18:18). Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, seperti ketiga kali di halaman istana Imam Besar itu. Soal murid-murid mengasihi Yesus dibahas Yesus dalam percakapan-Nya dengan para murid sebelum Dia disalibkan. Dia mengaitkan kasih dengan ketaatan (Yoh 14:21-24). Bisa saja bahwa perkataan seperti “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku” membawa kesimpulan bahwa kalau tidak taat—seperti menyangkal Yesus—maka kasih itu habis atau tidak sah. Jadi, pertanyaan Yesus membawa pengampunan kepada Petrus serta membawa penafsiran bagi kita bahwa Yesus dalam Yoh 14 berbicara tentang arah hidup daripada sekali salah sudah habis.

Pengampunan Yesus juga mengandung pengutusan. Sebagai “Kefas” (batu karang), Petrus diutus untuk menjadi gembala perdana dalam kumpulan murid-murid Yesus. Tugasnya memberi makan domba-domba Yesus (bosko, aa.15, 17) dan juga menggembalakannya (a.16, LAI tidak membedakan kedua kata ini). Hal itu akan melibatkan penderitaan seperti Yesus sendiri (a.18-19). Tetapi kalau ada kasih kepada Yesus, harga seperti itu tidak terlalu mahal.

Sadar akan pengampunan Yesus, Petrus tidak lelah lagi mengemban panggilannya dalam gereja perdana. Apakah Saudara mengasihi Yesus?


Yoh 4:1-42

Maret 28, 2008

Kristus telah dinyatakan sebagai Firman yang oleh-Nya dunia dijadikan (Yoh 1:10) dan penyataan kasih Allah bagi seluruh dunia (3:16), tetapi toh Dia masih berfokus pada Israel bahkan Bait Allah (2:13-25). Dalam pendahuluan kisah ini kita membaca bahwa Yesus “harus” melalui Samaria, mungkin karena keamanan. Ada sedikit petunjuk bahwa penolakan Yesus oleh orang Yahudi di sini bermuara pada keselamatan orang lain (bnd. Kis 8:4; Rom 11:11).

Kisah digerakkan dengan pertanyaan Yesus kepada perempuan Samaria yang minta tolong. Besarnya jarak antara orang Yahudi dan Samaria, diperbesar oleh perbedaan jenis, nampak dari jawabannya yang mempersoalkannya, padahal Yesus adalah manusia yang sendirian, lelah, dan di samping sebuah sumur tanpa timba! Tetapi ucapannya mengangkat masalah tadi, apakah kasih Allah bisa menembus ke luar umat Israel?

Jawaban Yesus (a.10) mengangkat dua pokok, karunia (pemberian) Allah (yakni air hidup) dan identitas Yesus, serta menunjukkan responsnya, meminta pemberian itu daripada-Nya. Perempuan salah paham akan maksud air hidup itu, dengan melihat harfiahnya, bukan kiasannya. (Sama seperti melihat salib Kristus sebagai kekalahan, bukan kemuliaan.) Tetapi pertanyaannya (a.12) tentang identitas Yesus lebih tepat dari yang dia sadari. Yesus menjelaskan air hidup itu, adanya konsep hidup kekal sudah memperjelas bahwa dia berbicara secara kiasan. Perempuan itu merespons (a.15) dengan tepat–meminta air itu–walaupun dia belum terlalu mengerti.

Dengan respons itu Yesus melangkah dalam rangka pemberian air hidup itu dengan mengungkapkan bagian hidupnya yang paling kacau dan juga dengan menunjukkan pengetahuan terperinci atas hidupnya (16-18). Hal itu menjadi titik balik dalam tugas Yesus untuk memperkenalkan identitasnya kepada (wakil) bangsa-bangsa. Bukan karena ada penyadarana akan dosa–kesan saya ialah perempuan itu sudah sadar akan dosanya, sehingga hal itu tidak dikejar oleh Yesus. Tetapi pengetahuan Yesus akan hidupnya membawa perempuan itu ke pokok kedua, yaitu identitas Yesus. Pertanyaan si perempuan bukan pengalihan perhatian dari dosanya, melainkan kembali ke pokok seluruh perikop, yakni bagaimana seorang nabi / Mesias Yahudi adalah Juruselamat seluruh dunia. Yesus mengaminkan bahwa Yerusalem adalah pusat keselamatan, tetapi dalam perkembangan sejarah keselamatan (“saatnya akan datang” a.23) Yerusalem akan direlatifkan, sehingga semua bangsa dapat menyembah Allah. Sekali lagi tidak jelas bahwa perempuan itu mengerti seluruh maksud Yesus di sini (dan banyak pendapat para teolog sekarang, lihat di bawah!). Tetapi dia menangkap bahwa Yesus mengenal dia dan mengenal hal-hal terkait dengan Allah, sesuai dengan pemahamannya tentang Kristus. Kisah ini berpuncak dengan dia menjadi saksi pertama kepada penduduk kotanya.

Berpuncak tetapi tidak berakhir, karena ada dua pesan terakhir. Yang pertama, kepada para rasul (dan semua dalam gereja yang akan menjadi penuai manusia) Yesus menjadikan respons perempuan Samaria (dan kota) sebagi pelajaran. Tidak semua yang tidak menerima terang yang datang ke dalam dunia (1:11). Sebenarnya ada banyak yang siap untuk menjadi anak-anak Allah (4:35 dengan 1:12). Menarik bahwa para murid sama salah pahamnya dengan si perempuan, hanya tentang roti, bukan air.

Pesan kedua muncul dari para penduduk kota Sikhar. Mereka juga meminta air hidup (yakni Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka, sampai mereka sendiri dapat “mendengar dan tahu” (a.42). Sebagai orang di luar lingkup Israel, yang ditahu bukan hanya bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi bahwa Dia adalah Juruselamat dunia.

Beberapa hal tekhnis…

Baca entri selengkapnya »


Yoh 20:1-18 Dia bangkit!

Maret 18, 2008

Cerita Yohanes di sekitar kebangkitan Yesus dapat dibagi tiga menurut tempat. Yoh 20:1-18 di sekitar kubur Yesus, Yoh 20:19-29 di dalam rumah di Yerusalem, dan Yoh 21 di Galilea. Yoh 20 menyangkut tema kesaksian. Harus ada yang melihat Yesus yang bangkit untuk bersaksi kepada orang lain. Memang Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melihat dan percaya akan diberkati (20:29). Namun, Tomas ditegor bukan karena dia melihat, tetapi karena dia tidak mempercayai kesaksian murid-murid yang lain bahwa mereka telah melihat Yesus. Kita yang percaya atas kesaksian murid-murid pertama akan diberkati.

Dalam Injil ini, saksi yang pertama ialah Maria Magdalena, yang hadir ketika Yesus disalibkan (19:25) dan barangkali ikut dalam persiapan tubuh Yesus (19:40-42). Dia yang melaporkan kehilangan mayat Yesus (20:2), dan juga bahwa Dia telah bangkit (20:18), sehingga bagian ini mulai dan berakhir dengan kesaksiannya. Adanya perempuan sebagai saksi kunci dalam konteks Yahudi selaras dengan salib, yaitu Allah memakai yang lemah dan dianggap hina.

Menarik untuk membandingkan pengalaman Maria dengan Petrus dan murid yang dikasihi. Kedua murid melihat bukti kain yang terletak dsb, dan satu percaya, walaupun kedua-duanya belum mengerti Kitab Suci (20:9). Mereka sepertinya harus dibimbing lewat nalar. Sedangkan Maria menjenguk ke dalam kubur dan disambut oleh malaikat, kemudian oleh Yesus sendiri. Dengan Yesus mengucapkan namanya dia mengerti. Dia dibimbing lewat relasi untuk percaya—sebagai domba yang dipanggil dengan namanya sehingga dia mengenali Gembalanya (bnd. 10:3).

Apakah perbedaan ini karena dia sudah mengasihi Yesus dengan tulus, sedangkan Petrus harus dituntun untuk mengaku kasihnya kepada Yesus (21:15-19)? Yang jelas, semua harus percaya sehingga memperoleh hidup (20:31), dan hidup (yang kekal) adalah mengenal Allah dan Kristus (17:3). Semoga kita percaya akan kesaksian Injil Yohanes, dan lebih lagi mengenal Kristus yang telah naik ke Bapa-Nya di sorga (20:17, LAI “pergi” adalah anabaino = pergi naik).

Komentar sedikit tentang perbedaan dalam cerita-cerita kebangkitan…

Baca entri selengkapnya »


Yoh 19:28-37 Penebusan

Maret 13, 2008

Dalam Yoh 10:18 Yesus mengatakan bahwa Dia berkuasa memberikan nyawa-Nya. Hal itu dibuktikan selama pengadilan-Nya, di mana justru Yesus yang mengendalikan keadaan dan Pilatus yang terdesak. Yoh 19:28-30 menunjukkan hal yang sama pada saat kematian-Nya. Dia telah menyelesaikan segala yang diperintahkan Ayah-Nya.

Apa yang selesai? Tiadanya tulang yang patah cocok dengan Yesus sebagai anak domba Paskah (Kel 12:46; Bil 9:12), sesuai dengan seruan Yohanes Pembaptis (Yoh 1:29). Yesus telah menyelesaikan penebusan. Kemudian, ditikamnya lambung-Nya merujuk pada Zak 12:10. Zak 9-14 berbicara tentang pendirian Kerajaan Allah, dan 12:10-14 menyangkut pembaruan hati Israel yang bermuara pada “sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran” (13:1). Yesus dalam kematian-Nya menjadi sumber itu.

Bahan seperti ini termuat dalam Alkitab bukan supaya kita melakukannya melainkan supaya kita mengandalkannya. Misalnya, apakah kita mengasihani Yesus yang menderita, atau kagum atas kasih Allah yang dengan terencana dan sengaja dinyatakan di dalam-Nya? Apakah setelah ditebus oleh Yesus kita akan mengandalkan perbuatan kita sendiri?