Yoh 6:1-15 Pemberi roti yang berlimpah-limpah (29 Apr 2012)

April 27, 2012

Perikop ini adalah satu-satunya mujizat Yesus yang terdapat dalam keempat Injil. Jika kita tidak teliti sebagai penafsir, bisa jadi kita membawa perikop sejajar, bukan perikop yang kita pakai. Misalnya, kita tahu bahwa Yesus berbelaskasihan kepada orang banyak, karena mereka di tempat yang terpencil. Kemudian, kita tahu bahwa Dia membagi-bagikan makanan itu melalui murid-murid-Nya. Kita tahu, tetapi dari Injil Markus, bukan dari Injil Yohanes. Jika kedua hal itu mau dijadikan pokok dalam pesan khotbah, berkhotbahlah dari Mk 6:30-44, bukan dari Yoh 6:1-15 ini. Perikop kita memiliki penekanan tersendiri yang semestinya kita hargai dalam penafsiran kita, yaitu penekanan Kristologis, seperti dalam seluruh Injil Yohanes.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan peristiwa terakhir Yesus di Galilea dalam Injil Yohanes, dan juga puncak kepopuleran-Nya. Setelah peristiwa ini, ada pembahasan yang panjang antara Yesus dengan orang banyak itu. Di dalamnya, Yesus menyebut diri roti kehidupan, dan mengecam mereka karena mereka hanya melihat pada kebutuhan jasmani, bukan kepada Pemberi kebutuhan itu, yaitu, Yesus.

Yohanes menyampaikan latar belakang dari cerita ini dalam aa.1-3. Yesus makin populer, tetapi ternyata hal itu sekadar karena tanda-tanda penyembuhan yang dilakukan-Nya (a.2). Dua detil juga harus diperhatikan: Yesus naik gunung (a.3) dan waktunya dekat Paskah (a.4).

Rangkaian peristiwa mulai dengan Yesus memandang orang banyak (a.5). Aa.5-10a menyangkut Yesus dengan murid-murid-Nya. Dia mengangkat masalah yang sepertinya mustahil: memberi makan kepada orang yang sangat banyak. Adalah penting untuk diamati bahwa Yesus sudah tahu apa yang mau Dia lakukan. Dia menguji kemampuan para murid-Nya untuk peka terhadap rencana Tuhan, bukan kemampuan mereka untuk membuat rencana sendiri yang hebat-hebat. Dalam rangka itu, Filipus tidak terlalu berhasil: dia hanya dapat melihat kendala. (Satu dinar itu upah satu hari bekerja, jadi dua ratus dinar kurang lebih upah 8 bulan , mengingat orang tidak bekerja pada hari Sabat.) Tetapi Andreas paling sedikit dapat melihat adanya sesuatu (roti dan ikan), meskipun dia tidak dapat melihat bagaimana yang sedikit itu dapat berguna. Dia mungkin lupa akan pengalaman Elisa, yang memberi makan seratus orang dengan dua puluh roti jelai (2 Raj 4:42-44), atau dia terlalu memperhatikan bahwa lima ribu orang itu jauh lebih banyak.

Bagaimanapun juga, rencana Yesus tidak akan dihalangi oleh kelemahan murid-murid-Nya. Aa.10b-13 menceritakan kelimpahan yang terjadi setelah Yesus mensyukuri dan membagikan roti dan ikan itu. Kelimpahan itu membuat semua puas, kenyang. Israel makan bersama sampai kenyang, di bawah pemeliharaan Yesus, Mesiasnya, sama seperti Israel makan manna di padang gurun setelah dibebaskan dari Mesir, seperti yang dirayakan pada perayaan Paskah.

Gambaran atau pengalaman akan berkat yang disampaikan dalam peristiwa itu sangat mengesankan, tetapi apa kesannya yang ditangkap? Orang banyak melihat kesejajaran dengan Musa dan Israel dan menganggap bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa (a.14, bdk. Ul 18:15-18). Dengan demikian, mereka melihat bahwa Yesus itu akan sanggup untuk memenuhi kepentingan mereka, yaitu pembebasan dari kuk pemerintahan Romawi (a.15). Oleh karena itu, Yesus harus menyingkir. Dalam pembahasan berikut (perikop ini adalah bagian awal dari satu bagian utuh, yaitu seluruh pasal enam), Yesus menunjukkan apa yang Dia maksud dengan peristiwa itu, yakni, bahwa Dialah roti kehidupan yang berkelimpahan, yang membuat kenyang (6:48-51). Yesus mau supaya pemberian roti dan ikan dalam peristiwa itu membawa orang banyak kepada Pemberinya, tetapi wawasan mereka hanya sampai pada pemberian itu (6:26-27).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa kita untuk melihat kelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus, yaitu bahwa Dia dapat membuat jiwa kita kenyang dan berkelimpahan.

Makna

Maksud tadi sepertinya “merohanikan” suatu cerita yang di dalamnya dengan jelas ada lima ribu orang yang diberi makan yang mengenyangkan perutnya. Ada berbagai penerapan etis yang sering diambil dari cerita ini. Ada kepedulian Yesus kepada orang banyak (walaupun hal itu tidak disebutkan oleh Yohanes). Ada usaha Yesus untuk membimbing murid-murid-Nya. Ada berbagai respons mereka. Ada keberanian anak yang tidak menyimpan makanannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi, jika implikasi dalam Injil Yohanes dicermati, Yesus memberi tafsiran kristologis dari peristiwa itu, yakni bahwa Dialah roti kehidupan. Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa fokus itu justru penting, bukan hanya untuk membangun iman, tetapi juga untuk membangun kasih yang sejati.

Yang pertama, jika kita sudah menangkap kelimpahan hidup yang kita miliki di dalam Kristus, sikap pelit cepat atau lambat akan terkikis. Banyak orang merasa kekurangan, walaupun sebenarnya berkecukupan. Tetapi sikap khawatir, atau sikap rakus, membuat apa yang ada dianggap kurang. Orang seperti itu tidak akan berubah dengan ditegur untuk memperhatikan sesama, karena teguran itu belum menanggapi akar sikap mereka, yaitu masalah iman.

Yang kedua, jika kita tidak melihat Yesus sebagai yang pokok, kita juga akan membelokkan apa yang Dia lakukan supaya sesuai dengan kepentingan kita. Orang banyak pada saat itu sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu, pembebasan dari kuasa Roma, dengan Israel menjadi berjaya dsb. Sekarang banyak warga jemaat sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu mereka pulih, lulus, dapat promosi dan lain sebagainya. Kuasa Yesus diakui, tetapi mau dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kita. Pemberian-Nya dicari, bukan Dia sendiri. Kita bisa mengamati saja dunia Barat, yang diberkati dengan kemakmuran yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Apakah rasa syukur mereka juga berlimpah-limpah? Justru sebaliknya. Ternyata betul, kekayaan membuat lebih sulit masuk ke dalam kerajaan Allah.

Yang ketiga, kita menjadi seperti Siapa yang kita kagumi. Seorang adik mau meniru kakaknya, bukan karena ditegur, tetapi karena mengagumi kakaknya. Sebagian calon pendeta dalam wawancara merujuk pada sosok pendeta yang pernah (atau masih) mereka kagumi sebagai alasan mereka mau menjadi pendeta. Barangkali, ada juga yang menekuni jalan korupsi karena mengagumi mobil mewah yang didapatkan oleh keluarga yang menempuh cara itu. Yohanes sama sekali tidak anti-tindakan (bdk. 1 Yoh 3:17), tetapi bagi dia, dasarnya adalah mengenal kasih Kristus (bdk. ayat sebelumnya, 1 Yoh 3:16). Salah satu maksud dari kiasan “makan tubuh-Ku” dan “minum darah-Ku” (Yoh 6:53-54) ialah bahwa kasih Kristus bukan sekadar contoh baik, tetapi menjadi salah satu sifat Yesus yang “mendarah-daging” dalam kehidupan kita. Dengan mencari Pemberinya, kita akan menjadi makin seperti Dia.

Jadi, pada hemat saya, mendorong orang untuk sekadar bertindak seperti Yesus dalam perikop ini tidak akan sama efeknya dengan memaparkan kemuliaan-Nya, kelimpahan-Nya, dan kelayakan-Nya untuk dipercayai. Tentu, ada bahaya kalau tidak pernah merujuk pada implikasi praktis dari iman. Tetapi yang jauh lebih sering terjadi, menurut pengamatan saya, ialah menegur tanpa dasar dalam anugerah Allah. Hal itu membangun rasa bersalah yang tidak berdaya; memberitakan Kristus membangun iman yang akan bermuara pada kasih.

Memaparkan Kristus dalam perikop ini juga akan membawa kemuliaan bagi nama-Nya di dalam jemaat. Semoga kita tidak jenuh melakukannya!


Yoh 18:38b-19:16a Kebenaran yang diungkapkan Mesias yang menderita

April 14, 2011

Injil Yohanes memberi fokus khusus ketimbang Injil-Injil yang lain pada perjumpaan antara Yesus dengan Pilatus. Pilatus tidak bodoh, dan mulai dengan alasan para pemimpin orang Yahudi yang kabur—“Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” (18:30)—dia duga bahwa Yesus dibawa karena masalah intern bukan karena sungguh berbahaya. Walaupun mungkin semua kecuali Yesus sendiri menganggap bahwa Dia masuk ke dalam Yerusalem untuk memperjuangkan takhta Israel ala Daud, ternyata tidak ada jaringan militer-Nya atau sedikitpun yang lain terkait dengan hal itu. Ketika Pilatus bertanya tentang tuduhan politik bahwa Yesus mengklaim diri sebagai raja Yahudi, Yesus menjelaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari sini (18:36), melainkan terkait dengan kebenaran. Kata kebenaran (Inggris truth, Yunani aletheia) berarti apa yang sesungguhnya di balik permukaan yang kelihatan. Pilatus, dari budaya Roma yang pragmatis, mempertanyakan pernyataan Yesus. Yang berikut memperbandingan kebenaran yang disaksikan Yesus dengan pragmatisme Pilatus, kebenaran versi Yesus dan kebenaran versi Kaisar. Kebenaran versi Yesus (ala kerajaan “bukan dari dunia ini”, yakni dari Allah, 18:36) terpola oleh salib, sehingga banyak diungkapkan dengan ironi. Kebenaran versi Kaisar (kerajaan dunia, seperti Kaisar) penuh kerancuan. Tetapi yang menarik, para pemimpin Yahudi yang paling sempurna mempraktekkan pola Kaisar, dan Pilatus menjadi plin-plan di antaranya. Hal itu nampak dalam bolak-balik Pilatus: Yesus berbicara di dalam gedung, sedangkan para pemimpin Yahudi berbicara di luar gedung. Tetapi baik di dalam maupun di luar kita pembaca belajar tentang apa itu kebenaran.

Termasuk 18:28-38a, Pilatus keluar empat kali dan masuk tiga kali. Kali kedua dia keluar (tetapi kali pertama dalam perikop ini) dalam 18:38b-40. Ada dua kebenaran yang diucapkan oleh Pilatus, yakni bahwa Yesus tidak bersalah (18:38b) dan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (18:39). Kedua kebenaran ini lebih dalam daripada pemahaman Pilatus. Yesus tidak hanya tidak bersalah dalam rangka memberontak, tetapi Dia adalah manusia sempurna yang siap untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak tercacat. Yesus juga adalah raja Allah, Mesias yang diutus untuk menderita bagi umat Allah, walaupun saya duga Pilatus mengatakan hal itu untuk mengganggu para pemimpin Yahudi, bukan karena dia mengerti kerajaan Yesus. Penulis Injil melihat kedua kebenaran yang mendasari kematian Yesus itu disampaikan justru melalui wakil bangsa-bangsa, meskipun dengan tidak sadar. Sedangkan para pemimpin agama Yahudi mengungkapkan cara mereka dengan memilih seorang penyamun di atas Yesus.

Dalam 19:1-3, Pilatus masuk kembali. Dia menyuruh Yesus disesah, padahal dia baru menyatakan Yesus tidak bersalah. Kemungkinan dia berharap bahwa kebencian orang Yahudi bisa diredakan dengan Yesus disiksa, sehingga dia menganggap bahwa dia menyelamatkan nyawa Yesus. Begitulah kerancuan pola Kaisar. Namun, karakter tentara Romawi terungkap dalam perlakuan mereka kepada Yesus, sebagaimana dibahas minggu yang lalu (19:2-3). Tetapi mereka juga mengungkapkan kebenaran tentang Yesus secara ironis, yaitu bahwa Dia adalah raja.

Ketika Pilatus keluar (19:4), dia menegaskan bahwa Yesus tidak bersalah. Yesus diperlihatkan, dalam keadaan baru disesah dan sebagai raja main-mainan. Jika tafsiran tentang tujuan Pilatus untuk menyesah Yesus di atas tepat, ucapan Pilatus, “Lihatlah, manusia itu” kurang lebih berarti, “kasihan orangnya; cukup, bukan?” Tetapi oleh penulis Injil kita diajak untuk melihat kebenaran lebih dalam. Yesus adalah manusia sempurna, yang di sini terungkap baik sebagai raja yang rendah maupun sebagai manusia yang rela berkorban bagi orang lain. Yang berikut (19:5-7) memperpanjang pertengkaran antara Pilatus dengan mereka, hanya, alasan mereka dalam 19:7 belum berhasil membuat Pilatus menyerah. Walaupun istilah “anak Allah” dapat dipakai untuk raja Israel sehingga memiliki unsur politik, istilah itu akan didengar oleh Pilatus sebagai klaim keagamaan yang bukan wilayahnya.

Namun, Pilatus merasa makin terpojok (19:8). Jangan sampai Yesus memiliki hubungan dengan salah satu dewa! Jadi, Pilatus bertanya tentang asal usul Yesus yang “bukan dari dunia ini”, suatu pernyataan yang dia abaikan sebelumnya (18:37). Karena PIlatus barangkali tidak sanggup memahami jika dijawab Yesus, Yesus diam saja. Dalam kedua ayat berikut (19:10-11) ada kebenaran mendasar tentang Pilatus dan kerajaan Kaisar diungkapkan. Pilatus menganggap diri orang berkuasa. Tetapi Yesus melihat bahwa di hanya menerima kuasa “dari atas”. Pada satu segi, hal itu mengatakan bahwa Pilatus sebenarnya pesuruh saja. Ketika orang Yahudi mengancam “naik banding” ke Kaisar (19:12), Pilatus harus menyerah. Dia mau membebaskan Yesus tetapi tidak sanggup melakukannya. Pada segi yang lain, Allah sudah memiliki rencana, dan Pilatus maupun Kaisar tidak bisa bertindak di luar izin Allah.

Akhirnya PIlatus keluar untuk kali terakhir. Dalam adegan ini, sifat Pilatus dan para pemimpin Yahudi sungguh tersingkap. Jika para pemimpin Yahudi tadinya memilih kekerasan (penyamun) di atas kedamaian (Yesus), di sini mereka dengan terus terang memilih Kaisar di atas raja yang dipilih Allah (19:15). Setelah Pilatus berjuang sekeras-kerasnya, dia harus menyerah. Mengapa harus menyerah? Bukan karena dia lemah dalam karakternya, tetapi karena konsepnya tentang kebenaran salah. Dalam pola dunia, kepentingan Kaisar identik dengan kebenaran. Tidak mungkin kepentingan satu orang diangkat di atas kepentingan kaum berkuasa, sekalipun dia tidak bersalah (bnd. 11:50, dari pemimpin orang Yahudi!). Sebagai contoh, jika saya membawa motor pada jalan yang becek, dan harus memilih antara menggilas burung dengan motor tergelincir dan mungkin rusak, saya akan memilih menggilas burung, memang dengan rasa kasihan tetapi juga ungkapan, “apa boleh buat”. Begitulah Pilatus. Dia merasa kasihan, tetapi apa boleh buat.

Jadi, Yesus diungkapkan sebagai manusia sejati dan Raja umat Allah yang layak menjadi korban bagi manusia. Manusia (paling sedikit, kaum penguasa) diungkapkan sebagai kaum yang mengidentikkan kebenaran dengan kepentingan kelompok. Agama pun diungkapkan memiliki pola yang sama. Selalu dalam Injil Yohanes kita diperhadapkan dengan pilihan. Apakah kita memilih kerajaan Allah, yang menyatakan benar / salah berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan? Meskipun jalan itu mengandaikan mengikuti Yesus dalam penghinaan dan pengorbanan, sampai Allah mewujudkan kerajaan-Nya di dunia ini juga.


Yoh 13:31-35 Kemuliaan dan kasih yang sejati

Maret 21, 2011

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes waktu itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah, melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di sorga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Dalam a.34 Yesus memberi mereka perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah unuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Peristiwa membasuh kaki yang paling menonjol dalam teladan Yesus, karena sangat cocok dengan bagaimana caranya Yesus dimuliakan. Baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Walaupun banyak hal dalam budaya Barat berasal dari budaya Yunani, semangat demokrasi yang mengesampingkan status dan keprihatinan untuk kaum lemah dan rendah berasal dari dampak Injil dalam budaya Eropa. Satu petunjuk sejauh mana kekristenan sungguh-sungguh masuk ke dalam budaya Toraja, atau budaya apapun, adalah sejauh mana status tidak lagi pokok dalam pikiran dan tindakan orang, sejauh mana orang mencari kemuliaan dalam pengabdian, sejauh mana orang prihatin dengan masyarakat yang tidak memliki status. Hal itu menunjukkan sejauh mana kisah Yesus ditangkap dan dicintai, Yesus yang dimuliakan pada sebuah salib yang paling hina, Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya.


Yoh 3:22-36 Meresponsi Anak Allah yang ada di atas semuanya

Desember 22, 2010

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”—dua kali Yohanis mengucapkan pernyataan ini dalam a.31. Pernyataan ini meneguhkan penerimaan Yohanis bahwa Kristus harus makin besar dan Yohanis makin kecil (a.30), seperti digambarkan dalam aa.22-26. Yohanis tidak muncul lagi dalam Injil ini (hanya kesaksiannya disebutkan beberapa kali), dan aa.31-36 ini merupakan kesaksian terakhir sang saksi Terang yang sesungguhnya (1:7, 9).

Dalam aa.31-34 Yohanis berbicara tentang Yesus sebagai nabi, tetapi nabi yang datang dari sorga sehingga kesaksian-Nya tentang hal-hal sorgawi adalah sebagai saksi mata, beda dari Yohanis yang hanya dapat berbicara sebagai orang yang berasal dari bumi. Dalam a.34 Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Allah, sama seperti Yohanis, sehingga menolak kesaksian Yesus adalah menolak kejujuran Allah sendiri (a.33). Hanya, Yesus melebihi nabi-nabi yang lain karena Dia dikaruniakan Roh Allah tanpa batas (bnd. 1:32-33). Hal itu terjadi karena Yesus juga adalah anak Allah yang kepada-Nya Allah memberi “segala sesuatu” tanpa batas (a.35). Istilah “anak Allah” dari satu segi sama dengan Mesias, yaitu utusan Allah yang mewakili kerajaan Allah di bumi. Sebagai Mesias Yesus dapat menerima bukan hanya Roh Kudus tetapi juga “segala sesuatu” yang diperlukan dalam rangka mewujudkan damai sejahtera Allah dalam dunia-Nya (bnd. Yes 9:1-6; 11:1-10). Dari “segala sesuatu” itu, Injil ini berfokus pada hidup yang kekal, yaitu kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah itu. Yang diberikan kepada Yesus bukan hanya firman Allah, tetapi juga hidup kekal itu (bnd. 10:28-29).

Namun, karena anak Allah ini datang dari sorga, artian keanakan-Nya melebihi apa yang diharapkan dari PL tentang Mesias. Hal itu sudah diangkat dalam 1:14-18 dan diuraikan lebih jauh dalam 5:19-47. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah adalah kuasa untuk menjadi anak Allah di dalam Sang Anak itu (1:12-13). Dengan demikian, akibat dari dua respons terhadap Yesus masing-masing dahsyat. Orang yang percaya kepada Anak menerima hidup kekal (a.36a), artinya bukan hanya hidup tanpa batas tetapi hubungan dengan Allah sebagai anak, suatu hubungan yang akan menyatakan dan menyempurnakan harkat kita sebagai manusia. Sebaliknya, orang yang menolak kesaksian Yesus tidak hanya menolak seorang nabi tetapi menolak Anak Allah, sehingga tidak melihat hidup (alias berada dalam kegelapan dan kemanusiaannya makin lama makin hancur), karena berada di bawah murka Allah (a.36b).

Semoga Natal ini membawa penerimaan Yesus yang terwujud dalam cara hidup yang sudah mulai beraroma kekekalan. Sampai jumpa kembali dalam tahun baru.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Mei 3, 2010

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.


Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Maret 29, 2010

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.


Yoh 15:9-17 Sukacita dalam kasih

Maret 22, 2010

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal p.15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai kiasan yang berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, firman-Nya (ajaran-Nya) akan tinggal di dalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid, demi kemuliaan Allah Bapa (aa.7-8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal di dalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau supaya kita sadar atas landasan itu.

Aa.9-10 menempatkan kasih di dalam Allah sendiri. Dalam a.9, kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal di dalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam Injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Hal itu sesuai dengan Yoh 1:1, bahwa Kristus adalah Firman Allah, atau dalam kata lain, Yoh 1:18, bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Bapa-Nya. Saling mengasihi bukan soal berbagi dalam kasih manusia, melainkan berbagi dalam kasih Allah.

Jika dalam a.9 Yesus adalah Anak yang menyatakan Allah, dalam a.10, Yesus adalah manusia yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya (bentuknya jamak dalam bahasa aslinya). Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapkan aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus kepada kita, dan mengalir balik dengan kita menuruti perintah Yesus yang menuruti perintah-perintah Bapa. Menurut a.11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus, dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga berbagian dalam sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan / atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam a.9 kita tinggal di dalam kasih Yesus, dalam a.12 baru kita menjadi pelaku kasih Yesus. Perintah dalam a.12 berbentuk tunggal, sehingga kasih merupakan bentuk tunggal dari perintah-perintah dalam a.10. Ketaatan supaya tinggal di dalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih / ketaatan tadi.

Adakah perbedaan antara berbicara tentang kasih Allah (seperti banyak agama dan filsafat) dan berbicara tentang kasih Yesus? Dalam a.13 ada. Besoknya Yesus akan memberikan nyawa-Nya bagi murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat tajam tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama. Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata “sahabat” pada akhir a.13, Yesus masuk ke dalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. A.14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (a.15).

Aa.16-17 menyimpulkan pembahasan sejak a.1 tentang identitas murid-murid Yesus. Kita dipilih oleh Yesus, artinya bahwa Yesus yang menentukan agenda kita. Seandainya kita memilih Yesus, artinya bahwa Yesus menjadi bagian dari agenda kita, seperti konon banyak orang Toraja dulu-dulu yang memilih Yesus karena kekristenan dianggap cocok dengan dunia modern. Sebaliknya, Yesus memilih kita untuk agenda Dia, yaitu berbuah. Sekali lagi, agenda itu akan digenapi melalui doa. Dalam a.17 ujungnya diulang: semuanya akan terwujud dalam kasih kepada sesama.

Menurut adat lama Toraja (aluk), orang mengalami kehidupan ilahi dalam ritus-ritus tertentu, seperti ritus maro yang di dalamnya banyak orang kerasukan deata (roh, ilah) sehingga menjadi to ma’langi’ (“orang langit”; Volkman Feasts of Honor hlm. 55, di daerah Sesean tahun ’70an). Orang juga mau menjamin kesuburan melalui ritus dan melalui menghindar dari pemali (tabu). Kedua tujuan itu mungkin merupakan dua kerinduan terbesar yang mau dipenuhi oleh sebuah agama. Dalam Yohanes 15, keduanya tercapai dalam kasih. Saling mengasihi atas dasar menerima kasih Kristus adalah mengalami kehidupan ilahi. Saling mengasihi adalah berbuah. Jika kita adalah sahabat Yesus yang dipilih-Nya, mari kita memenuhi kedua kerinduan itu sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga sukacita kita penuh dan Allah Bapa dimuliakan.


Yoh 12:30-36 Jalan yang diajarkan kepada bangsa-bangsa

Maret 15, 2010

Setelah perikop minggu yang lalu, Yesus tidak bersembunyi lama di kota Efraim (11:54). Pada awal p.12 diceritakan bagaimana Yesus diurapi “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7) lalu Yesus memasuki Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Menurut Injil ini, besarnya orang banyak yang menyongsong Yesus itu karena kebangkitan Lazarus (12:17-18). Dalam kecemasan, orang-orang Farisi mengeluh bahwa “seluruh dunia datang mengikuti Dia” (12:19). Perkataan itu ternyata merupakan nubuatan juga, sebagaimana dilihat dalam perikop kita. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi semua manusia, akan datang mengikuti Dia.

Wakil manusia non-Yahudi itu muncul dalam a.20. Mereka mau bertemu dengan Yesus, dan mereka dibantu oleh dua murid yang memiliki nama Yunani (Filipus dan Andreas), walaupun mereka adalah orang Israel. Di antara para murid pun ada unsur dunia non-Yahudi. Yesus menanggapi permintaan itu dengan pernyataan bahwa “telah tiba saatnya Anak Manusia dipermuliakan” (a.23). Mengapa permintaan orang Yunani menimbulkan respons itu?

Di balik perikop ini ada perikop Yes 2:1-5, yang berbicara tentang “hari-hari terakhir”, ketika “segala bangsa akan berduyun-duyun” ke gunung Tuhan. Nubuatan itu menjadi kerangka perkataan Yesus. Yoh 12:23-26 menjawab datangnya bangsa-bangsa, dan menguraikan jalan Tuhan yang disebut dalam Yes 2:3. Kemudian, dalam aa.27-33 Yesus ditinggikan, sama seperti “gunung tempat rumah Tuhan” menjulang tinggi (istilahnya sama dalam bahasa Yunani Injil Yohanes dan terjemahan Yesaya dalam bahasa Yunani). Yesus sudah menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah (Yoh 2:21). Di sini peninggian Bait Allah menjadi pusat dunia digenapi dalam peninggian tubuh Yesus pada salib. Akhirnya, dalam aa.34-36 ada seruan untuk berjalan dalam terang, sama seperti Yes 2:5.

Hal itu berarti bahwa ada definisi ulang kemuliaan (alias hormat). Yesaya pun sudah menafsir kemenangan Israel yang dinantikan sebagai kemenangan damai (Yes 2:4). Yesus lebih ke akar (radikal = ke akar) lagi. Anak Manusia akan dimuliakan dengan mati seperti biji, supaya menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Bahwa Yesus mendefinisikan ulang kemuliaan secara umum dijelaskan dalam kedua ayat berikut. Kita juga harus siap mati atau berkorban demi hidup yang sejati, yaitu hidup kekal, hidup pada zaman yang akan datang (a.25). Jalan Yesus adalah jalan yang harus kita tempuh; tempat Yesus pada salib adalah tempat kita (a.26). Dengan demikian hormat kita datang dari Allah, bukan dari manusia (a.26b). Demikian jalan yang akan diajarkan kepada bangsa-bangsa yang berduyun-duyun kepada Yesus.

Jalan itu sama sekali tidak mudah. Yesus sendiri terharu (a.27, mungkin lebih tepat “gelisah”, seperti terjemahan kata yang sama pada Yoh 14:1, 27). Tetapi Dia sadar bahwa demikian tugas-Nya dari Allah Bapa. Allah meneguhkan maksud Yesus dengan perkataan dari sorga, bukan karena Yesus ragu tetapi karena konsepnya menjungkirbalikkan pehamanan manusia yang biasa. Kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah: Iblis akan dikalahkan (a.31) dan bangsa-bangsa akan datang kepada Yesus (a.32).

Dalam a.34 orang banyak tetap bingung, sekarang tentang identitas “Anak Manusia”, yang memang bukan istilah yang sebiasa istilah “Mesias”. Yesus menjawab bahwa Dia (sebagai Anak Manusia) adalah terang, dan yang penting adalah percaya kepada-Nya dan berjalan di dalam-Nya.

Cara Yesus menantang kita semua. Kuasa dan hormat menurut Yesus berbeda dengan konsep yang berlaku di masyarakat. Gereja dianggap “berhasil” ketika dipuji pemerintah atau koran, atau ketika ada sesuatu yang kelihatan (gedung yang besar dsb). Terang menurut Yesus berbeda dengan akal yang berlaku di dunia modern. Gereja dianggap “berhasil” jika melalui analisis yang tajam ada program yang meningkatkan jumlah orang, pendapatan dari persembahan, atau ukuran-ukuran yang lain. Tetapi sejarah gereja membuktikan perkataan Yesus. Yang sangat berdampak bagi misi Allah dan dianggap paling terhormat adalah orang yang menderita, mati, dihina (seringkali oleh gereja sendiri pada awalnya). Di dalam pelayanan jemaat pun hal itu sudah jelas: kasih yang sejati akan siap berkorban.

Tetapi Yesus, sesuai dengan firman Allah dalam nubuatan Yesaya, mengharapkan pelayanan kepada semua manusia, termasuk yang di luar jangkauan Injil, entah karena jauh atau karena terpinggir. Hal itu tidak akan terjadi karena hormat atau kepintaran manusia. Hormat dan akal sangat mendasar dalam kehidupan kita, dan cara kita menghadapi dunia tidak akan sama setelah kita datang kepada Dia yang ditinggikan pada salib itu.


Yoh 11:45-57 Karya Allah di tengah kejahatan manusia

Maret 8, 2010

Kebangkitan Lazarus yang telah mati merupakan tanda terdahsyat yang dibuat oleh Yesus sebelum Dia sendiri bangkit. Seperti biasa dengan tanda-tanda Yesus, ada pembedaan antara yang percaya dan yang tidak (aa.45-46). Kali ini, ada dari yang menolak Yesus yang pergi kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi untuk melaporkan apa yang terjadi. Oleh karena itu, ada rapat khusus Mahkamah Agung Yahudi. Mereka mengambil keputusan yang masuk akal, yaitu bahwa Yesus mengancam keamanan bangsa yang dikuasai orang Romawi. Kekhawatiran Kayafas cukup dibuktikan hampir empat puluh tahun kemudian ketika Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi karena orang-orang Yahudi memberontak. Tentu, kita sebagai pembaca tahu bahwa Yesus tidak bermaksud untuk memberontak terhadap kuasa Romawi. Juga, ada petunjuk dalam kata “bagimu” (a.50) bahwa sebenarnya kepentingan satu kelompok yang dijaga. Kayafas serta Mahkamah Agung dapat berkuasa karena dukungan orang Romawi, walaupun kuasanya juga terbatas. Oleh karena kepentingan itu, mereka menolak Yesus meskipun mereka menerima bahwa Yesus melakukan banyak mujizat (a.47).

Namun, di tengah maksud jahatnya, Kayafas tetap mengerjakan kehendak Allah. Pernyataannya menjadi salah satu penjelasan yang penting tentang makna kematian Kristus (a.51), yaitu bahwa kematian-Nya adalah cara Allah untuk keselamatan. Penjelasan itu diperluas oleh penulis Injil dalam a.52. Kematian Kristus akan berlaku bukan hanya untuk Israel melainkan untuk semua anak Allah, yaitu “mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12). Di sini kita melihat misteri kedaulatan Allah. Kristus diutus untuk menyelamatkan dunia melalui kematian-Nya. Hal itu menuntut bahwa Israel akan membunuh Dia. Apakah dengan demikian Allah menguasai para pemimpin Yahudi untuk membunuh Kristus? Ternyata tidak. Alasan mereka untuk membunuh Kristus sangat masuk akal. Tidak ada pemaksaan atau manipulasi oleh Allah. Kedaulatan Allah bekerja di tengah kehendak manusia, bukan melawan kehendak manusia.

Perikop berakhir dengan pembedaan kembali. Ada murid Yesus yang bersama dengan-Nya (a.54), orang Yahudi yang tertarik kepada-Nya (a.55-56), dan pemimpin Yahudi yang mau menangkap-Nya (a.57). Kita ditantang untuk merenungkan tempat kita. Jika kita adalah orang yang berkuasa, kita perlu merenungkan kepentingan apa yang kita berhalakan di atas Kristus. Kepentingan yang paling berbahaya adalah kepentingan lembaga gereja, di mana, misalnya, kita mendiamkan kebenaran untuk menjaga keamanan. Jika kita berada bersama dengan Kristus, kita dikuatkan bahwa Allah tetap bekerja di tengah niat jahat manusia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.