Zef 3:9-20 Hukuman dan Keselamatan

Desember 7, 2009

Zefanya bernubuat tentang hukuman Allah terhadap seluruh bumi, baik bangsa-bangsa (p.2) maupun Israel (3:1-7). Keduanya akan dihukum Allah (3:8).

Namun, di balik hukuman itu ada keselamatan, baik untuk bangsa-bangsa (aa.9-10) maupun Israel (aa.11-13). Hukuman itu berupa pemurnian. Untuk bangsa-bangsa pemurnian itu merupakan pembersihan bibir sehingga mereka beribadah kepada Tuhan, bukan pada dewa-dewi (a.9). Untuk Israel pemurnian itu merupakan penyingkiran orang-orang yang ria congkak (a.11). Yang luput dari penyingkiran itu adalah yang rendah hati dan lemah (a.12) sehingga berbuat baik (a.13). Kata-kata “yang rendah hati” dan “lemah” itu sering merujuk kepada kaum orang yang miskin atau tak berdaya, sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Sikap itulah yang cocok dengan Kerajaan Allah (bnd. Mt 5:3).

Di dalam Kristus hukuman yang merupakan pemurnian itu bertahap dua. Pada tahap pertama Allah menjatuhkan hukuman di atas Kristus, sehingga ada umat dari bangsa-bangsa yang telah berbalik dari dewa-dewi untuk beribadah kepada Allah, sehingga bibirnya sedang dibersihkan. Itulah kedatangan Kristus yang pertama. Tahap kedua terjadi ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu akan ada penyingkiran orang-orang yang menolak keselamatan Allah dan tidak berlindung pada Kristus. Kedua kedatangan Kristus itulah yang dirayakan pada masa Adven. Peringatan di sini ialah bahwa yang diterima Allah bukan orang yang aktivis atau berjabatan di lembaga gereja, melainkan orang yang sadar dalam hati bahwa mereka tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah, dan dalam kerendahan hati itu bertobat dari kejahatan.

Oleh karena keselamatan itu, ada pujian yang seru dan penuh semangat kepada Tuhan. Ada seruan untuk memuji Allah (a.14), disertai alasan (a.15), perkataan yang menguatkan (aa.16-18a), dan janji dari Allah (aa.18b-20). Keadaan yang diandaikan di sini adalah Israel dalam pembuangan (“membawa kamu pulang”, a.20). Pembuangan adalah hukuman yang perlu disingkirkan itu (a.15) dan alasan Sion / Yerusalem menjadi takut dan lesu (a.16). Yang menjadi dasar pujian dan pengharapan adalah Tuhan. Dia adalah raja di antara umat-Nya (a.15) dan pahlawan yang memberi kemenangan (a.17). Dia juga bergirang atas dan mengasihi umat-Nya (a.18).

Nubuatan ini digenapi dalam Sang Israel yang sejati, yakni Kristus. Pembuangan Israel tercakup dalam kematian-Nya, dan kepulangan Israel tercakup dalam kebangkitan-Nya (bnd. Nubuatan keselamatan). Hukuman maut (dibuang dari hadirat Allah) sudah disingkirkan karena ditanggung Kristus. Musuh dosa dan maut telah dikalahkan. Tentu, penggenapan nubuatan ini juga bertahap dua—malapetaka dan kejahatan belum dilenyapkan. Namun, dalam Kristus kita telah dibawa pulang, dan pada masa Adven ini selayaknya kita memuji Allah yang telah dan akan menyelamatkan kita.


Zef 1:1-7 Hukuman umat Allah

Juni 1, 2009

Kita suka akan harapan bahwa orang fasik akan dihukum, karena seringkali mereka sepertinya luput dari akibat yang semestinya dalam dunia ini. Zefanya mulai dengan pengumuman bahwa Allah akan menghukum seluruh dunia (aa.2-3). Gambarannya mengingatkan kita akan air bah, yang di dalamnya manusia yang fasik dan hewan sama-sama lenyap oleh karena murka Allah (lih. Kej 6). Mungkin saja pendengar Zefanya senang bahwa bangsa-bangsa kafir di sekitarnya akan dihukum dan membayangkan bahwa mereka sebagai umat Allah akan seperti Nuh yang diselamatkan. Ternyata tidak demikian.

Zefanya bernubuat dalam pemerintahan raja Yosia yang berkuasa selama 640-609 sM. Ayah dan kakeknya adalah raja yang fasik. Hal-hal yang membudaya selama kedua raja jahat itu seperti yang digambarkan dalam aa.4-6. Bukannya Yahweh, Allah Israel, ditolak seluruhnya (a.5), tetapi Dia hanya salah satu dewa yang disembah, malah bukan dewa yang utama ketika orang mau mengambil keputusan (a.6). Keadaan itu mirip dengan orang kristen sekarang yang menyembah Allah dalam Kristus pada hari Minggu di gereja tetapi menyembah kekuasaan di tempat kerja, gengsi di tengah masyarakat, dan mencari dukun ketika menghadapi masalah yang sulit dipecahkan.

Oleh karena itu, Yehuda akan ikut dihukum. Hukuman itu dikaitkan dengan hari Tuhan, dan digambarkan sebagai perjamuan korban. Perjamuan korban biasanya adalah waktu untuk bersyukur, karena ada hewan yang disembelih dan keluarga makan bersama daging korban itu. Hanya, di sini korbannya Yehuda sendiri. Para undangannya dalam perkembangan sejarah merujuk ke tentara Babel yang menghancurkan Yerusalem. Justru bukan bangsa-bangsa yang pertama-tama dihukum melainkan umat Allah sendiri (bnd. 1 Pet 4:17).

Hukuman Allah kepada Israel yang dinubuatkan di sini adalah permulaan dari hukuman seluruh manusia. Syukur bahwa hukuman itu telah ditanggung Kristus sebagai pengganti kita, sehingga Dia menjadi tempat keselamatan seperti Nuh (1 Pet 3:20-21)! Pertanyaannya ialah apakah kita sudah berlindung pada Kristus, atau apakah kita berharap bahwa Kristus akan menyelamatkan kita dari penghakiman terakhir, tetapi menghadapi masalah duniawi kita bergantung pada hal-hal yang lain yang justru bertentangan dengan Kristus. Kita tahu dan berharap bahwa Tuhan akan menyapu bersih dunia yang kotor ini. Jangan sampai kita jadi tersapu karena hanya berpura-pura berlindung pada Kristus.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.