Iman dan Ilmu Pengetahuan

Mei 27, 2009

Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pertanyaan klasik. Biasanya kalau diajukan maksudnya apakah hubungan antara iman yang subjektif (terletak dalam akal budi atau hati manusia) dan ilmu pengetahuan yang objektif (terletak dalam dunia nyata). Iman digolongkan dengan selera dan nilai sebagai pendapat orang, sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut fakta. Jadi, matahari sebagai bintang dalam galaksi dsb adalah fakta, tetapi kesukaan sama ayam goreng dan keputusan untuk beriman kristiani adalah pendapat. Paling sedikit itu pola berpikir Barat sejak Pencerahan, pola yang berakar dalam filsafat Yunani mulai dengan Plato.

Akhir-akhir ini ada gerakan filsuf ilmu pengetahuan yang mempertanyakan pembedaan yang tegas antara fakta dan nilai, objektif dan subjektif. Soalnya, untuk melakukan penelitian tentang dunia alam, kita harus percaya bahwa dunia alam teratur dan pada dasarnya tidak berubah terus. Misalnya, satu bagian dalam metode bereksperimen adalah melakukan eksperimen berulang kali untuk membuktikan bahwa hasilnya tidak kebetulan saja. Apa gunanya mengulang eksperimen jika dunia tidak tetap? Apa gunanya mencari hukum alam jika dunia tidak teratur?

Hal itu tidak jelas dalam semua budaya. Misalnya, budaya Hindu mengganggap bahwa dunia alam adalah maya yang tidak nyata, seperti film bioskop pada layar. Kalau begitu, kita justru tidak mau meniliti dunia alam melainkan mau menerobos ke kenyataan yang di balik dunia yang kelihatan. Budaya animisme menganggap bahwa segala yang terjadi terjadi karena disebabkan oleh pribadi, apa itu manusia atau roh atau Allah. Jadi, tidak ada aturan (hukum alam) yang dapat diteliti, hanya kuasa-kuasa yang harus ditanggapi.

Ilmu pengetahuan berkembang dalam budaya kristiani karena ada kepercayaan bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Dunia itu bukan Allah atau sebagian dari Allah, jadi ada keberadaan tersendiri yang dapat diteliti. Juga, Sang Pencipta setia dan teratur, sehingga dunia juga setia dan teratur. Lihat saja Mazmur 19 yang membandingkan dunia alam dengan hukum Taurat. Banyak ilmuwan dulu-dulu (abad ke-17 sampai ke-19) berbicara tentang dua buku yang membawa penyataan, yaitu Kitab Suci dan dunia alam (secara kiasan dilihat sebagai buku). Sains berkembang sebagai cara untuk lebih memahami Pencipta alam semesta.

Jadi, butir pertama ialah ilmu pengetahuan berdasarkan kepercayaan tertentu, dan ternyata kepercayaan yang cocok dengan iman kristiani. Butir kedua menanggapi masalah ketika hasil-hasil ilmu pengetahuan sepertinya bertentangan dengan ajaran Alkitab. (Butir ketiga yang tidak dibahas di sini yaitu iman kristiani memiliki dasar dalam fakta sejarah, khususnya kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus.)

Inti jawaban saya ialah dunia alam dan Firman Allah tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah. Namun, baik ilmu pengetahuan maupun tafsiran Alkitab bisa saja bertentangan, karena manusia yang melakukannya keliru. Sebagai contoh saya mengangkat teori evolusi yang sepertinya bertentangan dengan cerita Alkitab dalam Kejadian 1-3.

Teori evolusi menyangkut sejarah perkembangan makhluk-makhluk di bumi. Dukungannya secara garis besar kuat dan didukung oleh banyak cabang biologi yang lainnya. Mungkin saja teori itu bukan kata terakhir dari penelitian biologi, tetapi jika mau berkecimpung dalam bidang biologi teori itu harus diandaikan. Apa masalahnya dari segi ajaran Kristen?

Ada ilmuwan ateis yang mau mengatakan bahwa evolusi meniadakan perlunya pencipta karena makhluk dapat berkembang berdasarkan hukum-hukum alam saja. Ada juga yang mengatakan bahwa teori itu menunjukkan bahwa manusia adalah binatang saja. Ada juga (dulu-dulu ketika teori ini diterbitkan oleh Darwin) yang menganggap bahwa teori itu mendukung cara sosial yang membuang yang lemah dan mendukung yang kuat. Tetapi apa kesimpulan-kesimpulan itu adalah sains? Mustahilkah Allah menciptakan melalui proses evolusi? Benarkah bahwa gen manusia yang 99% sama dengan monyet harus menjadikan kita sederajat dengan monyet? Apakah kehidupan sosial harus berpatron cara singa di hutan? Tidak. Orang ateis menyalahgunakan sains untuk mendukung agenda sendiri. Jadi tafsiran mereka akan sains itu salah.

Bagaimana dengan Alkitab, khususnya Kej 1-3? Banyak yang tetap menerima Alkitab sebagai Firman Allah mencermati ulang Kej 1-3 dan menyimpulkan bahwa tujuannya bukan untuk menyampaikan sejarah secara terperinci tentang asal-usul dunia melainkan secara garis besar. Jadi, pesannya bahwa dunia diciptakan secara teratur dengan manusia sebagai puncaknya yang bertanggung jawab kepada Allah tetapi akhirnya membelakangi Allah. Jika tafsiran itu benar maka kita menyalahgunakan Alkitab juga membuat Kej 1-3 menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sains seperti apakah bumi di pusat jagad raya atau apakah evolusi terjadi.

Hal itu tidak berarti bahwa kita “percaya” akan evolusi atau penemuan-penemuan sains yang lain. Kita percaya akan Alkitab untuk mengenal Allah dan cara hidup, dan menggunakan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan untuk tujuan itu.


12 langkah berteologi dalam misi

Februari 17, 2009

Menurut van Engan, Charles E., ‘Toward a Contextually Appropriate Methodology in Mission Theology’ dalam Appropriate Christianity ed. Charles Kraft (Pasadena, Calif: William Carey Library, 2005), 203-226.

Van Engan mendaftar 12 langkah dalam 5 golongan yang merupakan putaran yang tidak berakhir untuk berteologi dalam misi.

  • Memahami Injil Yesus Kristus

1. Menggali Alkitab yang menyatakan Allah yang misioner.

2. Memahami (secara kritis) tradisi gereja. Sikap kritis bertambah penting di luar dunia Barat karena tradisi teologi berkembang dalam konteks Barat.

3. Mengenali keadaan dan pengalaman pribadi yang menjadi konteks pribadi.

4. Memahami konteks lokal (termasuk memakai ilmu sosial).

5. Menentukan Ide Pemersatu (Integrating Idea), yang menjadi kerangka bagi hasil berteologi (misalnya bagi William Carey itu Amanat Agung, bagi gerakan Pietisme itu kesesatan manusia, bagi DGD Uppsala 1968 itu Memanusiakan)

  • Mendekati Konteks Baru

6. Bergantung pada Roh Kudus dan Doa. Apa yang telah dan sedang dilakukan Roh di sini?

7. Sejarah perbuatan misi di sini selama ini (hampir tidak ada konteks dunia sekarang yang belum tersentuh oleh misi).

8. Sejarah teologi misi di sini, termasuk interaksi antara gereja/misi dengan masyarakat.

  • Bersiap untuk Tindakan Baru

9. Inkarnasi adalah hati Teologi Misi. Van Engen menawarkan matriks dengan kolom seperti Misi Allah, Misi manusia, Misi gereja, Misi di dunia, Misi Kristus, Misi Roh Kudus (yaitu tindakan Allah), serta baris untuk konteks, pelaku, cara, hasil, struktur dsb (konteks manusia). Maskudnya bahwa setiap sel dalam matriks itu dapat memicu pertanyaan misiologis, tetapi tidak ada contohnya dan tidak jelas bagi saya pertanyaan macam apa yang akan muncul!

  • Menghidupi Injil dalam Aksi yang Tepat

10. Persiapan untuk bertindak. Di luar dampak dari keberadaan jemaat dalam konteks tertentu, misi Allah menuntut tindakan dari umat-Nya. Tindakan menimbulkan refleksi yang menimbulkan refleksi baru. (Pernyataan itu sebenarnya menyimpulkan seluruh putaran.)

11. Tindakan misiologis. Dia memakai konsep Paul Hiebert tentang “himpunan yang berpusat” (centred set). Daripada menentukan himpunan orang kristen menurut beberapa ciri (biasanya daftar doktrin dan perilaku), orang kristen didefinisikan menurut relasinya dengan Kristus, apakah menuju apa menjauh. Contohnya (dari saya, bukan van Engen), jemaat yang doktrinnya murni, liturginya rapih, organisasinya mantap tetapi tidak lagi berpusat pada Kristus bisa saja sedang menjauh daripada-Nya, sedangkan jemaat orang kristen baru yang belum keluar dari berbagai sinkretisme tetapi mengasihi Kristus mendekati-Nya. Konsep ini memberi lebih banyak ruang bagi konteks, karena daftar doktrin dan perilaku biasanya terambil dari konteks lain (misalnya dunia Barat kalau misionaris).

  • Praksis: Membentuk Ulang Pemahaman Injil

12. Refleksi atas tindakan. Van Engen menyebutkan lingkaran hermenuetik Segundo (teolog pembebasan), yaitu konteks “dieksegese”, kemudian Alkitab digali ulang dengan pertanyaan yang baru untuk menerangi konteks itu kembali. Langkah 1-4 yang dipikirkan ulang dalam terang tindakan yang sudah dilakukan.

Proposal di atas saya nilai belum tajam, tetapi semangatnya bagus, yaitu menunjukkan cara untuk mempraktekkan teologi kontekstual. Jika ada saran/komentar, silakan!


Hermeneutik Misi

Februari 10, 2009

Sebuah hermeneutik melukiskan suatu pendekatan untuk menafsir Alkitab, kurang lebih pertanyaan apa saja yang harus diajukan terhadap sebuah perikop untuk menafsirnya dengan tepat. Hermeneutik mendasar mau memahami teks dalam dirinya sendiri, misalnya membaca sebuah surat Paulus sebagai satu kesatuan, sebagaimana dimaksud Paulus sendiri. Tetapi di atas keterampilan mendasar itu, ada banyak pendekatan yang dipakai untuk memaknai Alkitab sekarang. Hermeneutik yang saya pakai dalam renungan di blog ini mungkin bisa disebut hermeneutik teosentris, karena saya bertanya pertama-tama tentang peran Allah dalam sebuah perikop, baru tentang peran manusia. Contoh lain, hermeneutik kecurigaan akan bertanya tentang ketimpangan kuasa yang dinyatakan dalam sebuah teks, dan hermeneutik feminis akan bertanya tentang implikasinya bagi perempuan.

Belakangan ini ada sekelompok sarjana yang mengembangkan hermeneutik misi. Begini empat pertanyaan yang disimpulkan oleh George Hunsberger dari empat penekanan penelitian ini (diterjemahkan dengan agak bebas):

  1. Apa kisah seluruh naratif Alkitab dan bagaimana implikasinya bagi kita? [Terkait dengan missio Dei, yakni misi Allah yang dinyatakan dalam Alkitab]
  2. Apa tujuan dari sebuah tulisan Alkitab dalam kehidupan pendengarnya? [Terkait dengan kita dibentuk dan diperlengkapi untuk berperan dalam misi Allah itu]
  3. Bagaimana gereja dapat membaca Alkitab dengan setia dalam konteks kini dan di sini? [Karena misi terjadi dalam konteks konkret, bukan di awan-awan]
  4. Bagaimana kita dapat menghubungkan tradisi Alkitab dengan konteks kini dan di sini melalui Injil?

Tanggapan Michael Barram menempatkan pertanyaan satu (#1) sebagai kerangka, #2 sebagai tujuan, #3 sebagai pendekatan, dan #4 sebagai lensa (matrix). #3 mau memberi ruang bagi konteks lokal, mengingat bahwa rumusan, program atau tindakan yang cocok di satu tempat (misalnya dunia Barat) belum tentu serba cocok di tempat yang lain (misalnya Toraja). #4 mau melihat Injil sebagai kriterium dalam proses itu. Injil memanggil kita untuk setia kepada Allah; Injil mengaku umum dan universal; Injil menunjukkan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai jalan. Kriteria itu dapat membimbing kita untuk memakai Alkitab dengan tepat.

Tanggapan James Brownson menanggapi soal perbedaan yang menurut kaum post-modern akan ditiadakan jika ada kisah besar seperti diandaikan dalam #1. Dia mengusulkan bahwa hermeneutik misi justru menempatkan perbedaan di pusat, karena dalam Kristus ada kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan-perbedaan.

Saya rasa tradisi gereja Barat (termasuk yang saya lihat dari keturunannya di Indonesia) pada umumnya sudah biasa dengan #1 dan #2 (di Toraja lebih pada #2, sebenarnya). Akibatnya mengabaikan #3 ialah khotbah yang hanya mengulang jawaban masa lampau. Tetapi jika #3 dilakukan tanpa #4, maka ada relevansi tanpa Injil.

Satu implikasi dari usulan Brownson adalah bahwa tafsiran orang Toraja bagi to toraya sama derajatnya dengan tafsiran orang Barat bagi orang Barat, karena dalam Kristus ada ruang untuk kemajemukan umat Allah.


Kebangkitan Yesus sebagai sejarah

Maret 26, 2008

Pada hari Jumat Agung, koran saya menerbitkan artikel oleh seorang pakar sejarah yang bernama John Dickson (adik kelas saya di bangku kuliah teologi abad yang lalu) yang menulis tentang historisitas penyaliban dan kebangkitan Kristus. Dia beranjak dari adanya berbagai pakar (seperti fisikawan Richard Dawkins, filsuf Michel Onfray) yang meragukan apakah Yesus pernah hidup, dan tanggapan tertentu dalam gereja yang meminggirkan soal historisitas dengan menekankan bagian-bagian pesan kristiani yang tidak bergantung pada sejarah, seperti ajaran Yesus. Tetapi, menurut dia, keraguan itu lebih marak di dalam gereja daripada di dalam kesarjanaan sejarah.

Ringkas kata, hampir semua pakar sejarah (bukan fisikawan atau filsuf yang sok tahu saja tentang sejarah sebagai ilmu), biar Kristen, ateis atau Yahudi (dia tidak berinteraksi dengan Islam) setuju bahwa Yesus hidup, bahwa Dia dianggap oleh masyarakat Israel sebagai pelaksana mujizat, bahwa Dia disalibkan di bawah Pontius Pilatus, dan bahwa murid-murid-Nya percaya bahwa mereka melihat Yesus yang bangkit. Memang ada pembedaan yang harus diperhatikan. Seorang sejarahwan dapat menilai historisitas adanya laporan kebangkitan Yesus, bahkan adanya kepercayaan akan laporan itu, sebagaimana dilihat dari semangat baru para rasul. Tetapi bukan tugasnya untuk menilai apakah suatu kejadian adalah mujizat. Itulah tugas filsafat atau teologi untuk berdebat apakah Tuhan ada dan bercampur tangan di dunia ini. Jika kita sudah yakin bahwa tidak ada campur tangan Tuhan, misalnya, maka kita akan tetap agnostik (mengaku tidak tahu) terhadap tafsiran suatu fenomena.

Perjanjian Baru cocok saja dengan gagasan di atas, karena kita diajak untuk menerima kesaksian para saksi pertama. Bahwa Yesus disaliban, kemudian kelompok murid-Nya memberitakan kebangkitan-Nya cukup kuat buktinya. Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa mereka adalah penipu atau tertipu. Jika saya menolak campur tangan Allah, maka lebih mungkin semua rasul ikut dalam histeri kelompok daripada Yesus bangkit. Jika saya menolak Injil sebagai firman yang terakhir dari Allah, maka lebih mungkin murid-murid-Nya ditipu oleh Iblis daripada Yesus dinyatakan anak Allah oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Jika saya menolak bahwa ada harapan dalam dunia yang kacau ini, maka teori apa saja lebih mungkin daripada menerima bahwa Allah sudah merintis pembaruan dunia dalam Kristus.

Mungkin sedikit lagi tentang pemahaman tentang kebangkitan pada saat itu (diringkas dari sini). Kata anastasis (kebangkitan) berarti tubuh hidup kembali, bukan jiwa hidup setelah mati. Kebangkitan seperti itu dianggap mustahil, malah menjijikkan oleh orang Yunani, yang mengharapkan pembebasan jiwa tsb. Hanya orang Yahudi yang memiliki harapan akan kebangkitan, yaitu kebangkitan serentak yang dikaitkan dengan akhir zaman (seperti Dan 12:1-3). Kebangkitan satu orang lepas dari akhir zaman adalah kejutan belaka, sama sekali tak terduga. Sehingga penglihatan akan Yesus tidak akan ditafsir sebagai kebangkitan satu orang, sama seperti percakapan dengan arwah tidak akan ditafsir bahwa almarhum telah bangkit! Kesaksian para saksi pertama ialah bahwa Yesus bangkit. Penglihatan karena rasa rindu dsb tidak akan bermuara pada gagasan itu.