Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Kej 7 Menyelamatkan dunia

Mei 31, 2008

Dalam Kej 7 Allah mulai menghukum dunia karena pemberontakan manusia. Tetapi sebelumnya ada jalan keselamatan—bagi Nuh sekeluarga tetapi juga untuk wakil setiap jenis binatang yang terancam binasa. Hal itu searah dengan seluruh Alkitab yang menghargai bumi sebagai hal yang baik (Kej 1) yang akan ikut diperbaharui (Why 21). Di dalam konteks keselamatan ketaatan Nuh ditekankan (7:5, juga 6:22). Untuk kita sekarang, perintah yang sepadan seperti Kis 2:37-40 atau Yoh 6:28-29.


Kej 6:1-8 Allah yang kecewa

Januari 29, 2008

Melihat struktur di sekitarnya, maka 6:1-8 merupakan komentar bagi keadaan keturunan manusia (5:1). Komentar itu dapat dibagi dua. 6:1-4 menggambarkan berkat yang dialami manusia, 6:5-8 melukiskan dosa dan hukuman. Begitulah masalah yang ditanggapi oleh Injil.

Berkat bagi manusia pada aa.1-4 yakni menjadi banyak (a.1, bnd. 1:28), nikah-menikah (a.2, bnd. 2:24) dan beberapa manusia yang menjadi gagah perkasa (a.4)–sehingga sanggup melakukan amanat Allah untuk menaklukkan bumi (1:28). Manusia dalam ayat-ayat ini digambarkan sebagai anak-anak [laki-laki] Allah dan anak-anak perempuan manusia. Istilah “anak-anak Allah” merujuk pada 5:1-3, tempat keturunan Adam dianggap serupa dengannya sama seperti manusia serupa dengan Allah (bnd. Lk 3:37). Jadi maksudnya manusia berasal dari Allah. Istilah “anak-anak perempuan manusia” mungkin menonjolkan soal keturunan. Jadi, ada gambaran di sini akan potensi manusia untuk menikmati pemberian Allah dengan semangat. Hanya a.3 yang mengingatkan bahwa nikmat manusia terbatas. Manusia adalah daging, fana, sehingga bergantung pada Roh Allah untuk hidup.

Sebaliknya, aa.5-8 menonjolkan hukuman. Jika dalam a.2 anak-anak Allah melihat sesuatu yang baik (tov, diterjemahkan cantik-cantik) yakni perempuan, akan tetapi dalam a.5 Allah melihat sesuatu yang buruk / jahat, yakni hati manusia. “Memilukan” dalam a.6 memakai kata dasar yang sama dengan “susah payah” dalam 5:29–bukan hanya manusia yang direpotkan oleh dosa! Ucapan hukuman Allah dalam a.7 berbicara tentang penciptaan langit dan bumi yang akan dikembalikan: manusia di muka bumi sampai dengan burung di langit akan dihapus. Hanya Nuh yang menjadi titik terang (a.8). 

Hidup sehari-hari adalah hal yang baik, tetapi Yesus sendiri mengatakan bahwa manusia pada zaman Nuh “kawin dan mengawinkan” tanpa menyadari dekatnya hukuman Allah (Mt 24:38-39). Soalnya, kita suka bicara tentang orang yang beritikad baik seakan-akan Tuhan pasti akan senang sama kita, tetapi a.6 mencurigai semua itikad manusia. Misalnya, menjadi kenamaan tidak salah, tetapi begitu mudah menjadi mencari nama (11:4). Giat bagi Allah adalah hal yang baik, tetapi dengan begitu mudah menjadi mendirikan kebenaran sendiri (Rom 10:3). Pantasan Allah kecewa, sehingga Dia menghukum untuk menghapus noda dari hati manusia.

Namun, tentu–dan selalu–ada titik terang anugerah Allah. Dalam 1 Pet 3:20-21 air bah malah menjadi gambar keselamatan dalam Kristus. Allah mau supaya kita tidak berbius oleh semangat hidup sehingga cuek terhadap hukuman-Nya melainkan percaya kepada Kristus yang kebangkitan-Nya merujuk pada sebuah ciptaan baru.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.