Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Yoh 6:1-15 Pemberi roti yang berlimpah-limpah (29 Apr 2012)

April 27, 2012

Perikop ini adalah satu-satunya mujizat Yesus yang terdapat dalam keempat Injil. Jika kita tidak teliti sebagai penafsir, bisa jadi kita membawa perikop sejajar, bukan perikop yang kita pakai. Misalnya, kita tahu bahwa Yesus berbelaskasihan kepada orang banyak, karena mereka di tempat yang terpencil. Kemudian, kita tahu bahwa Dia membagi-bagikan makanan itu melalui murid-murid-Nya. Kita tahu, tetapi dari Injil Markus, bukan dari Injil Yohanes. Jika kedua hal itu mau dijadikan pokok dalam pesan khotbah, berkhotbahlah dari Mk 6:30-44, bukan dari Yoh 6:1-15 ini. Perikop kita memiliki penekanan tersendiri yang semestinya kita hargai dalam penafsiran kita, yaitu penekanan Kristologis, seperti dalam seluruh Injil Yohanes.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan peristiwa terakhir Yesus di Galilea dalam Injil Yohanes, dan juga puncak kepopuleran-Nya. Setelah peristiwa ini, ada pembahasan yang panjang antara Yesus dengan orang banyak itu. Di dalamnya, Yesus menyebut diri roti kehidupan, dan mengecam mereka karena mereka hanya melihat pada kebutuhan jasmani, bukan kepada Pemberi kebutuhan itu, yaitu, Yesus.

Yohanes menyampaikan latar belakang dari cerita ini dalam aa.1-3. Yesus makin populer, tetapi ternyata hal itu sekadar karena tanda-tanda penyembuhan yang dilakukan-Nya (a.2). Dua detil juga harus diperhatikan: Yesus naik gunung (a.3) dan waktunya dekat Paskah (a.4).

Rangkaian peristiwa mulai dengan Yesus memandang orang banyak (a.5). Aa.5-10a menyangkut Yesus dengan murid-murid-Nya. Dia mengangkat masalah yang sepertinya mustahil: memberi makan kepada orang yang sangat banyak. Adalah penting untuk diamati bahwa Yesus sudah tahu apa yang mau Dia lakukan. Dia menguji kemampuan para murid-Nya untuk peka terhadap rencana Tuhan, bukan kemampuan mereka untuk membuat rencana sendiri yang hebat-hebat. Dalam rangka itu, Filipus tidak terlalu berhasil: dia hanya dapat melihat kendala. (Satu dinar itu upah satu hari bekerja, jadi dua ratus dinar kurang lebih upah 8 bulan , mengingat orang tidak bekerja pada hari Sabat.) Tetapi Andreas paling sedikit dapat melihat adanya sesuatu (roti dan ikan), meskipun dia tidak dapat melihat bagaimana yang sedikit itu dapat berguna. Dia mungkin lupa akan pengalaman Elisa, yang memberi makan seratus orang dengan dua puluh roti jelai (2 Raj 4:42-44), atau dia terlalu memperhatikan bahwa lima ribu orang itu jauh lebih banyak.

Bagaimanapun juga, rencana Yesus tidak akan dihalangi oleh kelemahan murid-murid-Nya. Aa.10b-13 menceritakan kelimpahan yang terjadi setelah Yesus mensyukuri dan membagikan roti dan ikan itu. Kelimpahan itu membuat semua puas, kenyang. Israel makan bersama sampai kenyang, di bawah pemeliharaan Yesus, Mesiasnya, sama seperti Israel makan manna di padang gurun setelah dibebaskan dari Mesir, seperti yang dirayakan pada perayaan Paskah.

Gambaran atau pengalaman akan berkat yang disampaikan dalam peristiwa itu sangat mengesankan, tetapi apa kesannya yang ditangkap? Orang banyak melihat kesejajaran dengan Musa dan Israel dan menganggap bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa (a.14, bdk. Ul 18:15-18). Dengan demikian, mereka melihat bahwa Yesus itu akan sanggup untuk memenuhi kepentingan mereka, yaitu pembebasan dari kuk pemerintahan Romawi (a.15). Oleh karena itu, Yesus harus menyingkir. Dalam pembahasan berikut (perikop ini adalah bagian awal dari satu bagian utuh, yaitu seluruh pasal enam), Yesus menunjukkan apa yang Dia maksud dengan peristiwa itu, yakni, bahwa Dialah roti kehidupan yang berkelimpahan, yang membuat kenyang (6:48-51). Yesus mau supaya pemberian roti dan ikan dalam peristiwa itu membawa orang banyak kepada Pemberinya, tetapi wawasan mereka hanya sampai pada pemberian itu (6:26-27).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa kita untuk melihat kelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus, yaitu bahwa Dia dapat membuat jiwa kita kenyang dan berkelimpahan.

Makna

Maksud tadi sepertinya “merohanikan” suatu cerita yang di dalamnya dengan jelas ada lima ribu orang yang diberi makan yang mengenyangkan perutnya. Ada berbagai penerapan etis yang sering diambil dari cerita ini. Ada kepedulian Yesus kepada orang banyak (walaupun hal itu tidak disebutkan oleh Yohanes). Ada usaha Yesus untuk membimbing murid-murid-Nya. Ada berbagai respons mereka. Ada keberanian anak yang tidak menyimpan makanannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi, jika implikasi dalam Injil Yohanes dicermati, Yesus memberi tafsiran kristologis dari peristiwa itu, yakni bahwa Dialah roti kehidupan. Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa fokus itu justru penting, bukan hanya untuk membangun iman, tetapi juga untuk membangun kasih yang sejati.

Yang pertama, jika kita sudah menangkap kelimpahan hidup yang kita miliki di dalam Kristus, sikap pelit cepat atau lambat akan terkikis. Banyak orang merasa kekurangan, walaupun sebenarnya berkecukupan. Tetapi sikap khawatir, atau sikap rakus, membuat apa yang ada dianggap kurang. Orang seperti itu tidak akan berubah dengan ditegur untuk memperhatikan sesama, karena teguran itu belum menanggapi akar sikap mereka, yaitu masalah iman.

Yang kedua, jika kita tidak melihat Yesus sebagai yang pokok, kita juga akan membelokkan apa yang Dia lakukan supaya sesuai dengan kepentingan kita. Orang banyak pada saat itu sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu, pembebasan dari kuasa Roma, dengan Israel menjadi berjaya dsb. Sekarang banyak warga jemaat sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu mereka pulih, lulus, dapat promosi dan lain sebagainya. Kuasa Yesus diakui, tetapi mau dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kita. Pemberian-Nya dicari, bukan Dia sendiri. Kita bisa mengamati saja dunia Barat, yang diberkati dengan kemakmuran yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Apakah rasa syukur mereka juga berlimpah-limpah? Justru sebaliknya. Ternyata betul, kekayaan membuat lebih sulit masuk ke dalam kerajaan Allah.

Yang ketiga, kita menjadi seperti Siapa yang kita kagumi. Seorang adik mau meniru kakaknya, bukan karena ditegur, tetapi karena mengagumi kakaknya. Sebagian calon pendeta dalam wawancara merujuk pada sosok pendeta yang pernah (atau masih) mereka kagumi sebagai alasan mereka mau menjadi pendeta. Barangkali, ada juga yang menekuni jalan korupsi karena mengagumi mobil mewah yang didapatkan oleh keluarga yang menempuh cara itu. Yohanes sama sekali tidak anti-tindakan (bdk. 1 Yoh 3:17), tetapi bagi dia, dasarnya adalah mengenal kasih Kristus (bdk. ayat sebelumnya, 1 Yoh 3:16). Salah satu maksud dari kiasan “makan tubuh-Ku” dan “minum darah-Ku” (Yoh 6:53-54) ialah bahwa kasih Kristus bukan sekadar contoh baik, tetapi menjadi salah satu sifat Yesus yang “mendarah-daging” dalam kehidupan kita. Dengan mencari Pemberinya, kita akan menjadi makin seperti Dia.

Jadi, pada hemat saya, mendorong orang untuk sekadar bertindak seperti Yesus dalam perikop ini tidak akan sama efeknya dengan memaparkan kemuliaan-Nya, kelimpahan-Nya, dan kelayakan-Nya untuk dipercayai. Tentu, ada bahaya kalau tidak pernah merujuk pada implikasi praktis dari iman. Tetapi yang jauh lebih sering terjadi, menurut pengamatan saya, ialah menegur tanpa dasar dalam anugerah Allah. Hal itu membangun rasa bersalah yang tidak berdaya; memberitakan Kristus membangun iman yang akan bermuara pada kasih.

Memaparkan Kristus dalam perikop ini juga akan membawa kemuliaan bagi nama-Nya di dalam jemaat. Semoga kita tidak jenuh melakukannya!


Yos 2:8-24 Melihat dengan mata iman [4 Desember 2011] (Adven II)

November 30, 2011

Rahab disebut tiga kali dalam PB. Dia menikah dengan Salmon sehingga termasuk silsilah Kristus (Mt 1:5). Ibr 11:31 dan Yak 2:25 juga menyebutnya berkaitan dengan iman.

Penggalian Teks

Cerita lebih luas dalam kitab Yosua menyangkut usaha Israel untuk merebut tanah Kanaan. Yosua melepas dua pengintai untuk mengamati tanah serta kota Yerikho. Mereka masuk di sebuah tempat kelas bawah (mungkin tempat penginapan dengan jasa tambahan) di mana mungkin mereka berharap untuk bisa anonim, tetapi kehadiran mereka bocor ke raja. Namun akhirnya mereka bisa luput dari ancaman itu, dan membawa pesan bahwa penduduk negeri itu takut kepada orang Israel (24).

Tetapi kita akan meninjau cerita ini dari perspektif Rahab. Alur cerita sederhana saja. Di luar dugaan Rahab tidak menyerahkan kedua pengintai kepada pesuruh raja kota, tetapi menyembunyikan mereka. Kemudian, ada perjanjian yang dibuat di antara mereka, “nyawa ganti nyawa” (a.14), di mana keselamatan pengintai dari orang Yerikho menjadi jaminan keselamatan Rahab nantinya. Ada dua syarat disebutkan. Yang pertama, Rahab tidak membocorkan keberadaan kedua pengintai. Setelah mereka diturunkan ada satu lagi, yaitu tali yang dipakai diikatkan pada jendela rumah sebagai tanda pengenal, dengan peringatan bahwa hanya orang di dalam rumah itu yang dijamin keselamatannya. Kemudian, mereka mengikuti nasihat Rahab dan luput.

Jadi, kisah ini menceritakan bagaimana Rahab membuat muslihat yang cukup cerdas untuk bisa menyelamatkan kedua pengintai sehingga dia sendiri bisa selamat. Tentu, yang menarik di sini adalah, mengapa Rahab merasa harus selamat? Dia berada di tengah bangsanya yang kuat di kota benteng yang juga kuat.

Jawabannya muncul dalam aa.9-11. Ketiga ayat ini merupakan kiasmus sbb. Rahab mulai dengan pernyataan tentang rencana Allah terhadap Kanaan (A). Kemudian, ada gambaran tentang ketakutan bangsanya (B). A.10 menyampaikan intinya, tentang karya Allah bagi Israel (C). Dalam rangka karya Allah itu, kita dibawa kembali melalui pokok B dan A. Perasaan bangsa Rahab bermuara pada merasa patah semangat (B’). Allah Israel disadari sebagai Allah langit dan bumi, Allah di atas semua penguasa yang lain (A’). Bagian A dan B merupakan inti laporan pengintai kepada Yosua dalam a.24. Tetapi ayat-ayat ini adalah juga dasar bagi rencana Rahab, sebagaimana dilihat oleh kata penghubung pada awal a.12, “Maka sekarang”. Dengan mata iman dia dapat melihat bahwa dia ada dalam bahaya yang besar, makanya dia mengusahakan keselamatan bagi dirinya dan kaum keluarganya. Intinya disimpulkan pada akhir a.13, yaitu keselamatan dari maut (disebut “hidup” dalam 6:25).

Tali kirmizi dalam a.18 akan membuat pembaca mengingat peristiwa Paskah. Pada saat itu, ada bangsa yang akan dihukum Allah, yaitu, Mesir (Kel 12:13). Orang Kanaan juga menghadapi hukuman Allah (Kej 15:16, Ul 9:4). Untuk selamat dari hukuman itu, orang harus berlindung di dalam rumah yang dibubuhi tanda tertentu, yakni, di Mesir, darah anak domba (Kel 12:7). Tali kirmizi itu juga warna merah, seperti darah. Jadi, Rahab serta keluarganya selamat dari hukuman Allah dengan perlindungan lambang darah anak domba, sama seperti orang Israel. Keselamatan sekelompok orang di luar Israel menonjol, tetapi bukan hal yang baru: banyak orang dari berbagai bangsa turut keluar dari Mesir, menurut Kel 12:38. Tetapi fokus di sini adalah pada sifat orangnya. Dia disebut sebagai “perempuan sundal” pada kali pertama dan terakhir nama Rahab disebutkan (Yos 2:1; 6:17, 25).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menggambarkan perlunya keselamatan dari hukuman Allah, dan juga menegaskan bahwa siapa saja dapat diselamatkan jika ada kesadaran dan pertobatan. Bagi Israel di bawah hukuman Allah dalam pembuangan karena berbuat sundal terhadap Allah, cerita ini membawa harapan akan keselamatan. Harapan itu diteguhkan oleh Yesus, yang akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, tetapi oleh darah-Nya menyediakan “rumah” tempat orang yang berlindung di dalamnya akan selamat.

Makna

Tafsiran kristologis sudah disinyalir di atas. Keselamatan sebagaimana digambarkan dalam cerita ini digenapi di dalam Kristus. Makanya, Rahab diangkat dua kali sebagai contoh bagi orang yang beriman kepada Yesus. Kedua rujukan itu menerangi perikop kita.

Ibrani 11:1 menjelaskan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Contoh-contoh berikut pada umumnya menyangkut janji Allah yang diharapkan, tetapi belum terlihat karena memang belum terjadi. Bagi Rahab, yang belum terlihat adalah hukuman Allah atas bangsanya. Hal itu pasti tidak diharapkan, tetapi dia berani berjuang untuk keselamatan dari hukuman itu. Yak 2:25 mengangkat tindakan Rahab menyembunyikan kedua pengintai sebagai salah satu bukti bahwa iman yang sejati selalu disertai dengan perbuatan.

Kedua nas itu sama dalam intinya, yaitu bahwa iman itu bukan semacam kemampuan religius yang terletak pada hakikat manusia, melainkan suatu kesadaran akan realita yang tidak kelihatan yang kemudian ditanggapi. Jika pada tahun 1997 ada politikus yang dapat melihat dengan mata imajinasi bahwa Suharto akan jatuh, kesadaran itu pasti akan mempengaruhi tingkah lakunya. Jika tidak, jelas dia sebenarnya tidak percaya bahwa Suharto akan jatuh. Rahab bertindak karena dengan mata iman dia melihat nasib bangsanya.

Tetapi bencana yang mengancam tidak cukup. Andaikan Rahab cinta pada bangsanya, mungkin dia akan memilih untuk turut dibinasakan. Di dalam ucapannya bahwa Allah Israel adalah Allah langit dan bumi ada biji iman, mungkin hanya sebesar biji sesawi, bahwa Allah Israel itu lebih layak disembah daripada dewa pelindung kotanya sendiri, walaupun informasinya tentang Allah itu sangat terbatas. Jadi, jelas bahwa iman Rahab sebenarnya sangat terbatas. Tidak ada kesadaran akan dosa, tidak ada kerinduan akan kebenaran atau syalom, dan jelas tidak ada suatu kebaikan dalam dirinya sehingga Allah semestinya menyelamatkan dia. Imannya sekadar kesadaran akan bencana pada satu segi, dan harapan tipis akan sesuatu yang lebih baik, serta tindakan berdasarkan kesadaran itu. Ketika kemudian dia bergabung dengan bangsa Israel, baru dia mulai memahami hidup baru yang sudah dia masuki.

Untuk berlindung pada Kristus sebagai tempat aman karena darah-Nya, kita juga perlu melihat dengan mata iman hukuman Allah terhadap dosa, dan paling sedikit menduga bahwa hidup di dalam Kristus akan lebih baik daripada binasa. Katanya, dalam kepercayaan lama orang Toraja, pelanggaran dihukum dengan nyata dan langsung, sehingga mata biasa sudah cukup. Ancaman kebinasaan kekal sebagai bentuk pasti hukuman Allah kurang berdampak karena tidak kelihatan dan belum terjadi. Kalau memang begitu, orang Toraja terlanjur ada pada posisi penduduk Yerikho: berjalan dalam kegelisahan dan harapan-harapan semu sampai binasa.

Tetapi ada satu unsur lagi di sini. Rahab dapat beriman karena dia mendengar tentang perbuatan-perbuatan ajaib Allah (10). Iman timbul dari pendengaran, kata Paulus (Rom 10:17). Perbuatan ajaib Allah yang kita soroti pada musim Adven ialah kedatangan pertama dan kedua Kristus. Allah telah menghukum dosa dan membangkitkan Anak-Nya, sama seperti Dia menghukum Mesir dan kerajaan-kerajaan Amori dan menyelamatkan umat-Nya. Kiranya jemaat sekarang menerima pemberitaan sehingga mereka bisa melihat realita hukuman dan keselamatan Allah dan dalam iman mengambil respons yang tepat.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

September 15, 2011

Kitab amsal tidak memakai perikop, dan saya tidak yakin bahwa “struktur” yang saya temukan di bawah sungguh disengajakan ketika amsal-amsal dikumpulkan. Tetapi paling sedikit struktur itu memperhadapkan ayat-ayat yang menarik untuk dipertimbangkan bersama, dan prosesnya menggugah pikiran saya.

Penggalian Teks

A.7 adalah pertentangan yang dibangun atas kesamaan. Sama-sama tidak layak jika sifat orangnya bertentangan dengan sifat kata-katanya. Dalam aslinya bahasanya lebih enak: “Tidak cocok bagi orang bebal (nabal) bibir kelebihan; lebih lagi bagi orang mulia (nadib) bibir dusta”.

A.8 menggangu, karena sepertinya memuji suap. Mestika secara harfiah adalah “batu khen”. Khen berarti sikap berkenan atau suka, sehingga menjadi salah satu kata untuk anugerah Tuhan. Di sini, maksudnya batu yang membuat orang berkenan atas atau menyukai kita, semacam jimat. Kata “beruntung” (hashkil) memiliki konotasi “berhasil karena kejeliannya”, dan bentuk nominanya sering dipakai dalam kitab Amsal dengan terjemahan “orang yang berakal budi”. “Memalingkan muka” mungkin menonjolkan sukses di hadapan orang lain. Jadi, seakan-akan ada sindiran terhadap amsal-amsal biasa: anugerah membawa sukses di depan orang, hanya, anugerah ini bukan anugerah Tuhan melainkan efek “magik” dari suapan. Adakah petunjuk dalam ayat ini bahwa yang disindir bukan anugerah Tuhan melainkan suapan sendiri?

Aa.9-15 mungkin dapat dilihat dalam pola kiasmus, sebagai berikut. Aa.9, 15 membahas kejahatan yang tidak dihukum. Dalam a.9 hal itu merupakan pengampunan yang memulihkan relasi, dalam a.15 ketidakadilan yang menjadi kekejian bagi Tuhan.

Aa.11, 13 memakai kata ra’/ra’ah yang dapat diterjemahan “kejahatan” atau “kemalangan”. Dengan demikian, apa yang dicari orang durkaha (kejahatan = kemalangan) ternyata ditemukan dari utusan yang kejam itu. Dalam a.13 makna berganda itu bisa juga dipikirkan.

A.12 secara harfiah berarti, “Berjumpa beruang betina yang kehilangan anak dengan orang, tetapi jangan orang bebal dengan kebodohannya”. Kebodohan sejajar (pada hemat saya) dengan beruang itu, dan orang bebal sejajar dengan orang malang itu. Dari baris pertama, perjumpaan itu dahsyat. Tetapi, dari kata “jangan”, yang sekiranya dapat dihapus dari dunia itu perjumpaan kedua. Ternyata orang bodoh lebih dihancurkan oleh kebodohannya daripada orang yang berjumpa dengan beruang yang gusar itu. Ayat ini cocok sebagai suatu inti kiasmus, karena secara menyolok mengungkapkan bahaya kebodohan yang mendasari ayat-ayat yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”). Konteks pengadilan itu yang tidak boleh memutarbalikkan keadilan dengan menyatakan tidak bersalah orang yang bersalah. Jadi, a.15 bukan soal menutupi pelanggaran dalam relasi pribadi tetapi membenarkan kefasikan dalam konteks pengadilan.

Lalu, bagaimana dengan aa.7-8? Di atas bibir seorang bebal, kata-kata bagus akan tetap membangkit-bangkit perkara, menangkis hardikan, dan menyembunyikan kejahatan. A.8 merupakan contoh yang tepat. Suapan, sama seperti semua jimat dsb dalam PL, menduakan Allah, dan menunjukkan keinginan untuk mencari muka, bukan menguntungkan sesama. Kita mau mengampuni orang seperti itu, andaikan mereka dapat disadarkan. Tetapi jangan lembaga memaafkan mereka, sehingga korban mereka diinjak dua kali.

Makna

Ada ketegangan tertentu antara a.9 dan a.15 yang merujuk ke sesuatu yang dalam, yakni, masalah pengampunan dan keadilan. A.15 berbunyi seperti Kel 23:9, “sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”. (Andaikan terjemahan dalam Ams 17:15 itu sama, bunyinya enak: “Membenarkan orang yang bersalah dan mempersalahkan orang benar”.) Bahasa itu disinggung Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai “Dia yang membenarkan orang durhaka” (Rom 4:5). Dalam Kristus, a.9 diterapkan dalam relasi ilahi. Kebingungan banyak orang Kristen tentang anugerah berasal dari ketegangan yang sejajar dengan ketegangan antara a.9 dengan a.15, yaitu, Allah menutupi dosa padahal Dia adalah Hakim yang harus menegakkan keadilan. Makanya, anugerah ditafsir sebagai izin untuk berdosa, atau, sebaliknya, demi menakuti jemaat dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada respons mereka.

Dengan cara yang detilnya melampaui jangkauan akal kita, Allah bisa mencampurkan hal-hal itu dengan menawarkan diri-Nya dalam Kristus sebagai pengganti kita. Dia melanggar a.15 dalam diri-Nya sendiri (makanya penting bahwa Kristus bukan pihak ketiga melainkan ada pada pihak Allah sendiri karena sama-sama Allah) supaya kita bisa diselamatkan, tetapi oleh Roh-Nya mengubah kita menjadi orang berpengertian yang siap menerima hardikan dan mau berubah. Dengan demikian, kita yang dibenarkan sebagai orang bersalah akhirnya menjadi orang benar, serupa dengan Kristus, sang Hikmat itu.

Namun, dalam kehidupan manusia kedua hal itu harus tetap terpisah. Secara pribadi kita tidak boleh main hakim, tetapi hakim (yaitu, jabatan atau kelompok yang kompeten untuk memutuskan perkara di dalam sebuah kelompok, entah gereja atau negara) harus berperan sebagai hakim. Lembaga kristen rawan mengampuni orang yang perlu ditindaki demi kesehatan seluruh tubuh Kristus, dan pengadilan negara lebih pemaaf lagi bagi orang kaya / berada.


Mal 3:6-12 Pertobatan melalui persembahan

Juli 6, 2011

Maleakhi menulis pada waktu kecemasan rohani. Israel sudah lama kembali dari pembuangan, dan Bait Allah telah dibangun kembali, tetapi ritus dilakukan dengan setengah hati (1:8, 12), Israel merasa kurang diberkati (2:13). Di balik itu, umat meragukan kasih (1:2), kuasa (1:5, 14) dan perhatian Tuhan (2:17; 3:14). Di balik tanggapan Tuhan adalah rencana-Nya. Dia telah memilih Yakub (1:2-3) dan akan bertindak dengan tegas dengan memurnikan umat-Nya (3:1-3; 4:1) supaya rencana-Nya terwujud, yaitu umat yang berkenan di hadapan-Nya (4:2). Dalam rangka itu Allah berfirman tentang persembahan, sebagai salah satu gejala iman, sekaligus pintu masuk untuk pertobatan.

Penggalian Teks

Banyak bagian dalam kitab ini merupakan dialog. Aa.6-7 mengungkapkan perlunya pertobatan, dan berakhir dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bertobat. Aa.8-12 menjawab pertanyaan itu dengan satu dialog lagi yang berfokus pada soal persembahan.

Sama seperti kitab ini secara keseluruhan (bdk. 1:2), perlunya pertobatan dilandasi bukan pertama-tama pada dosa manusia melainkan anugerah Allah. A.6 merujuk pada rencana Tuhan: karena Tuhan tidak berubah, yaitu karena tujuan-Nya tetap, maka Israel masih memiliki masa depan dengan Tuhan, walaupun mereka sejak dahulu tidak taat (a.7a). Dasar pembaruan Israel adalah anugerah Tuhan, bukan inisiatif manusia. Namun, anugerah Tuhan bertujuan berkat untuk manusia, sehingga manusia harus terlibat di dalamnya. Itulah maksud dari seruan untuk kembali kepada Tuhan dalam a.7b. Dengan demikian Tuhan akan kembali kepada Israel, bukan dalam artian akan mulai peduli tentang mereka, tetapi dalam artian bisa mencurahkan berkat atas mereka. Dengan pertanyaan Israel (tulus atau tidak), Tuhan menunjukkan satu bidang hidup yang paling erat kaitannya dengan iman.

Tuhan memulai jawaban-Nya dengan tuduhan menipu. Ketika ditanya, cara penipuan menyangkut persepuluhan dan persembahan khusus. Mal 1:7-8, 13-14 mempersoalkan kualitas binatang yang dibawa sebagai kurban, tetapi persepuluhan dan persembahan khusus menyangkut seberapa banyak yang diberi. Penipuan terjadi dalam persepuluhan jika yang diberi itu di bawah 10 persen. Oleh karena penipuan itu, mereka mengalami berbagai masalah yang mewarnai seluruh kitab ini. Masalah-masalah itu dimaksud sebagai peringatan, tetapi peringatan itu tidak dihiraukan (a.9). Jadi, seruan yang berikut adalah untuk membawa persepuluhan yang utuh, sehingga ada kecukupan untuk imam-imam yang hidup dari persediaan itu (a.10a).

Dengan demikian mereka diminta untuk menguji apakah Tuhan adalah penipu atau tidak. Jika mereka taat dalam soal persepuluhan, maka akan ada berkat tercurah (a.10b), dan hama terhalang (a.11). Mereka akan mengalami berkat, dan menjadi perhatian bagi bangsa-bangsa (a.12). Jadi, cara bertobat adalah memberi persepuluhan sepenuhnya, dan dengan demikian Israel dapat mengalami berkat Allah dalam penghasilan mereka.

Maksud untuk pembaca

Dalam perikop ini Allah mau mengajak jemaat untuk bertobat melalui persembahan supaya menerima berkat Allah. Adalah penting dimengerti bahwa pertobatan lebih mendasar daripada persembahan, tetapi sebaliknya kadar iman tidak bisa dilepaskan dari persembahan. Tujuan perikop ini adalah persembahan sebagai pernyataan atau penghayatan pertobatan, atau dengan kata lain, pertobatan yang bermuara pada tanggung jawab yang jelas untuk urusan Tuhan.

Cara dialog dipakai untuk membongkar sikap Israel yang belum sadar tentang andil mereka dalam kondisi mereka. Dengan cara itu kita melihat juga bahwa Allah tidak hanya menegor mereka, tetapi juga mengungkapkan isi hati-Nya, karena tujuan-Nya memulihkan relasi dengan mereka, bukan memaksakan ketaatan formalistik.

Makna

Pertobatan dengan mudah dimengerti sebagai cara manusia meraih berkat dari Tuhan. Jika kalimat “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” dibaca di luar konteks yang dijelaskan di atas, bisa saja ditafsir demikian. Tetapi prioritas anugerah secara umum dilihat dalam beberapa hal. Tentu, yang pertama ialah bahwa Tuhan menciptakan manusia. Kemudian, rencana keselamatan dimulai dengan Abraham yang dipanggil secara tiba-tiba, bukan sebagai respons terhadap kebaikan ataupun pertobatan Abraham tetapi atas inisiatif Allah belaka. Israel juga diselamatkan dari Mesir karena rencana Allah, bukan karena mereka sudah bertobat. Baru setelah diselamatkan, hukum Taurat disampaikan supaya keselamatan itu dapat mereka hayati.

Kita sudah melihat bahwa penyusunan kitab Maleakhi dan perikop kita sejalan dengan itu. Ada satu hal lagi. Fungsi Maleakhi sebagai nabi adalah wujud inisiatif Allah. Karena sudah memiliki relasi dengan Israel dalam perjanjian, Allah mengungkapkan isi hati untuk memulihkan relasi itu.

Dalam PB unsur anugerah menjadi makin jelas dalam kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita, tetapi unsur berkat dan penghayatan anugerah mengalami pergeseran. Kata Paulus dalam Gal 3:14, intisari berkat Allah adalah pemberian Roh Kudus. Dalam konteks-konteks yang cukup berat, seperti bencana atau penganiayaan, tinggal berkat itu sebagai sumber sukacita kita, dengan berkat Allah yang sepenuhnya sebagai janji untuk dunia baru. Jadi, setelah ditangkap Yesus menderita, haus dan akhirnya mati. Namun, dalam konteks yang lain Yesus mengalami apa yang Dia ajarkan, yaitu bahwa makanan dan pakaian ditambahkan kepada orang yang mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33). Bentuk janji Maleakhi bagi Israel pada saat itu, yaitu kelimpahan panen dan pencegahan hama, spesifik untuk pendengarnya. Tetapi yang diungkapkan di dalamnya adalah kemurahan Allah. Allah mau supaya kita mengalami berkat yang berpusat pada Dia. Jemaat yang bertobat dan mencari Allah akan mengalami tingkap-tingkap langit terbuka, dan masalah-masalah mengecil, entah apa persisnya bentuk berkat itu.


Kis 2:37-40 Bergabung dengan rencana keselamatan Allah

Juni 7, 2011

Dengan pencurahan Roh Kudus karya Kristus telah siap dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Khotbah Petrus menunjukkan bagaimana caranya orang bergabung dengan rencana Allah pada tahap baru ini.

Penggalian Teks

Bagian ini adalah puncak dari khotbah Petrus. Khotbah itu beranjak dari peristiwa Pentakosta (2:14-15), yaitu mendengar dalam masing-masing bahasa, untuk menjawab pertanyaan orang banyak, “Apakah artinya ini?” (2:12). Kata Petrus, peristiwa itu menggenapi nubuatan Yoel tentang pencurahan Roh pada akhir zaman, yang dikutip sampai dengan janji bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan [kurios] akan diselamatkan” (2:21). Ayat-ayat berikut berbicara tentang Yesus, dan menunjukkan dari Mzm 16:8-11 bahwa kebangkitan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (2:22-32). Kemudian, dari Mzm 110:1 Petrus menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan (kurios; kata itu di balik baik “Tuhan” maupun “Tuan” dalam Kis 2:34).

Perikopnya sendiri merupakan tanya jawab. Orang banyak sangat terharu (a.37; harfiahnya: “tertusuk hatinya”) mendengar bahwa Yesus yang mereka salibkan (sebagai bagian dari bangsa Israel) itu dibuat Kurios dan Mesias oleh Allah (2:26). Petrus menawarkan jalan keluar dalam a.38 dengan bertobat dan dibaptis, sama seperti Yohanes Pembaptis kepada Israel di awal pelayanan Yesus (Luk 3). Baptisan diperkuat dengan tambahan “masing-masing”, yaitu, pertobatan harus ditunjukkan oleh setiap orang. Hasilnya pengampunan dan Roh Kudus, sesuai dengan janji Yoel itu (a.39). A.40 meringkas maksud Petrus yang disampaikan dengan berbagai cara, yakni supaya mereka selamat dari angkatan yang jahat, sesuai dengan janji Yoel (2:21), karena Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan itu.

Seruan Petrus diberkati Tuhan, dan banyak yang bertobat (2:41). Dengan kuasa Roh Kudus mereka menjadi komunitas yang tampil beda (2:42-47), suatu alternatif bagi angkatan yang jahat itu.

Maksud bagi pembaca

Maksud Petrus dalam a.40 diringkas sebagai “memberi kesaksian” (diamarturomai) dan “mengecam dan menasihati” (parakaleo). Unsur kesaksian dilihat antara lain dalam soal bukti: pendengar Petrus tahu tentang mujizat Yesus (2:22), para rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32), dan pencurahan Roh yang dialami semua pada saat itu membuktikan kenaikan Yesus ke sorga (2:33). Kata mengecam adalah tafsiran LAI dari konteks, tetapi paling sedikit Petrus menasihati pendengarnya dengan desakan yang keras. Pembunuhan Yesus menempatkan Israel sebagai angkatan yang jahat, dan mereka harus bertindak dengan tegas untuk diselamatkan (2:40).

Pertanyaan mereka dalam a. 37 menunjukkan kesadaran akan hal itu, tetapi apa yang dapat diharapkan jika Israel telah membunuh Mesiasnya? Jawaban Petrus tidak hanya mengecam tetapi juga memberi harapan. Janji Allah dalam Yoel itu masih berlaku, meskipun Israel telah berdosa. Jangankan pengampunan, karunia Roh Kudus masih ditawarkan kepada orang-orang yang siap bertobat di depan umum dengan dibaptis.

Lukas menunjukkan bahwa maksud Petrus masih berlaku bagi pembaca non-Yahudi kitab ini dalam a.39, yang menerapkan “semua manusia” dalam 2:17 kepada “orang yang masih jauh”. Bukan hanya Israel yang menyalibkan Yesus, karena tangan “bangsa-bangsa durhaka” juga terlibat (2:23). Reaksi Israel terhadap Mesiasnya hanya menunjukkan bagaimana seluruh manusia adalah angkatan yang jahat. Jadi, Yesus adalah Kurios dan Mesias bagi semua yang mau bertobat dan menerima pengampunan dan pembaruan Roh Kudus.

Makna

Apa yang dinyatakan tentang Allah dalam seruan Petrus ini? Yang pertama, rencana Allah untuk memulihkan dunia memiliki dua segi. Segi yang satu adalah hukuman. Setelah perikop yang dikutip Petrus, Yoel berbicara tentang bangsa-bangsa, yaitu bagaimana bangsa-bangsa yang melawan Allah akan dihakimi (misalnya, Yoel 3:12). Penghakiman Allah dapat dilihat sebagai cara Allah memulihkan kekacauan akibat pemberontakan manusia. Tetapi ada segi lainnya, yaitu keselamatan yang terdapat di gunung Sion, tempat Bait Allah di Yerusalem (Yoel 2:32). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan menempatkan diri pada keselamatan itu, sehingga terlepas dari hukuman Allah. Seperti biasa dalam Alkitab ada dua pilihan pada dasarnya: tetap menjadi bagian dari dunia yang melawan Allah, atau melarikan diri ke tempat keselamatan yang disediakan Allah. Yoel 2:12-17 memberi kita satu gambaran tentang proses pertobatan itu.

Yang kedua, rencana Allah itu berpusat pada Kristus. Dalam kitab Yoel mungkin tidak jelas apakah orang dari bangsa-bangsa dapat berseru dan diselamatkan (namun jika teologi PL dilihat secara umum pasti mereka bisa, Kej 12:3; Yesaya dll). Tetapi dalam khotbah Petrus, dalam terang Kristus, rujukan Yoel menjadi jelas. Yesus adalah tempat keselamatan, sebagai tempat Allah hadir (Bait Allah) dan umat Allah yang sejati (Yerusalem). Siapa saja dari mana saja dari angkatan manusia yang jahat dapat diselamatkan—diampuni dan menerima Roh Kudus—dengan berseru kepada Yesus.

Kalau begitu, siapakah Yesus itu? Kurios dan Mesias ditafsir dalam Gereja Toraja dengan rumusan “Tuhan dan Juruselamat”. Tafsiran itu tepat, asal diingat bahwa seorang kurios memiliki hamba, bukan penyembah. Ketuhanan Yesus merujuk pertama-tama pada otoritas-Nya atas kehidupan hamba-hamba-Nya, dan bertobat pertama-tama berarti menempatkan diri sebagai hamba-Nya. Bertobat tidak hanya berarti menyucikan diri dari berbagai dosa yang menodai kehidupan kita, tetapi juga berarti memberi diri diarahkan oleh kepentingan Yesus sebagai Kurios kita. Keilahian Yesus memang penting, antara lain karena kuasa seperti itu hanya cocok untuk Allah, tetapi adalah rancu percaya pada keilahian Yesus tanpa mencari kerajaan-Nya. Karya Roh Kudus adalah membentuk komunitas yang diarahkan demikian: bersatu dan berani bersaksi.

Pada hemat saya, kelemahan gereja di Indonesia sering terdapat pada titik itu. Tentu di mana saja di dunia ada yang belum sempat mendengar penawaran Petrus yang luar biasa itu, dan ada juga yang tetap melawan atau mengabaikan Yesus. Tetapi pertobatan sering lemah karena orang berbalik kepada Yesus sekadar sebagai Allah pelindung dan Juruselamat yang dapat membantu dalam pergumulan. Hal itu memang penting, bahwa kita mengandalkan Allah. Tetapi bahwa Allah memiliki rencana, bahwa kepentingan Tuhan Yesus tidak identik dengan kepentingan diri, kurang disadari. Soal kepentinganlah yang mendorong (wakil-wakil) Israel dan bangsa-bangsa untuk membunuh Yesus, dan hampir seluruh umat untuk ikut dengan mengolok-olok dsb. Soal kepentinganlah yang membuat orang sekarang tidak segan mencemarkan diri dengan dosa, tidak peduli tentang sesama dan acuh tak acuh terhadap rencana Allah supaya semua bangsa mendengar berita keselamatan itu. Yesus dapat meyelamatkan hamba-hamba-Nya yang berseru kepada-Nya itu dari hukuman Allah terhadap kepentingan-kepentingan yang jahat itu, sehingga kita menerima Roh Kudus yang memampukan kita menjadi saksi dalam perbuatan dan perkataan (2:42-47). Dengan demikian kita menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, bukan lagi lawan.


Mt 28:16-20 Cara Allah memberkati bangsa-bangsa

Mei 11, 2011

Perikop ini adalah bagian akhir kisah Matius, yang merampungkan beberapa tema pokok dalam Injil yang melihat kembali ke panggilan Abraham (1:1) dan sampai pada akhir zaman (28:20). Jadi, di dalamnya kita melihat bukan hanya salah satu perintah Yesus tetapi kesimpulan tentang misi Allah.

Matius memulai Injilnya dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai anak Daud, anak Abraham (1:1), dan pada waktu pembuangan (1:17). Abraham adalah jawaban Allah terhadap kehilangan berkat karena dosa manusia, dan Daud adalah patron (contoh sekaligus asal usul) cara Allah akan menyelamatkan dunia, yaitu dengan mendirikan kerajaan-Nya sebagai tempat berkat melalui seorang Raja. Dalam pembuangan, Israel kehilangan berkat itu karena dosa, sama seperti Adam dan Hawa. Oleh karena itu, para nabi membayangkan bukan hanya keselamatan Israel, tetapi juga keselamatan bangsa-bangsa. Yes 40:3, yang dikutip dalam Mt 3:3, menubuatkan jalan yang diluruskan bagi Israel dalam pembuangan untuk Israel kembali ke Israel bersama dengan Tuhan. Tetapi ketika Yesaya memperkenalkan hamba Tuhan yang akan menjadi alat Allah untuk karya keselamatan itu (Yes 42:1-4, dikutip dalam Mt 12:18-21), justru bangsa-bangsa yang berharap pada-Nya. Karena Israel dipanggil (dalam Abraham) sebagai jawaban Allah terhadap pemberontakan manusia, keselamatan Israel berarti pemulihan seluruh dunia. Jika Yesus pada umumnya membatasi pelayanan-Nya pada Israel (Mt 10:6; 15:24), hal itu tidak bertentangan dengan tekanan pada segala bangsa dalam perikop kita. Malaikat berjanji bahwa anak yang dikandung Maria “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21), dan penggenapan janji itu dinyatakan secara ironis oleh para pengolok ketika Yesus disalibkan (27:62, “orang lain Ia selamatkan”, bnd. Mt 27:32-56). Sebagai Israel yang sejati, Yesus dibuang dalam kematian-Nya dan dipulihkan dalam kebangkitan-Nya. Karena Israel sudah dipulihkan dalam Yesus, tahap berikut dalam recana Allah sudah siap dilaksanakan, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke “bukit yang telah ditunjukkan” (a.16). Apakah itu bukit yang daripadanya Yesus mengajarkan khotbah di bukit (Mt 5-7) atau dimuliakan (Mt 17:1-8) tidak dikatakan, tetapi bukit-bukit menjadi tempat penyataan dalam Injil Matius. Menurut Mt 26:32 Yesus memberitahu murid-murid-Nya sebelum Dia mati. Bagaimanapun juga, tempatnya jelas. Ketika mereka melihat Yesus, mereka menyembah, walaupun ada yang lain yang ragu-ragu (mungkin di luar kesebelas murid—ada yang mengaitkan pertemuan ini dengan penampakan kepada 500 orang dalam 1 Kor 15:6). Ternyata melihat Yesus langsung tidak otomatis menciptakan iman, dan ada yang butuh waktu untuk sungguh-sungguh percaya. Tetapi klimaks Injil ini bukan mengenai iman manusia melainkan amanat Yesus, yang menjelaskan bagaimana keselamatan yang sudah Dia datangkan dapat dinikmati oleh semua bangsa, bukan hanya orang-orang Yahudi yang selama itu percaya pada Yesus. Tidak ada andil manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kecuali kejahatan—keselamatan adalah anugerah belaka. Tetapi sama seperti motor yang dihibahkan tidak ada gunanya jika tidak dipakai, keselamatan juga perlu dihayati.

Amanat Yesus mendasari otoritas-Nya, yaitu segala kuasa di sorga dan bumi (a.18). Iblis pernah menawarkan segala kuasa di bumi (dari sebuah gunung juga, Mt 4:9), dan hal itu yang cocok untuk Mesias yang diharapkan orang Yahudi, tetapi kemuliaan Yesus setelah dibangkitkan jauh lebih besar. Otoritas itu yang menjadi dasar bagi amanat-Nya.

Kata kerja utama dalam amanat itu adalah “jadikanlah murid” (matheteuo). Karena bangsa-bangsa tidak ada di daerah Israel sendiri, mau tidak mau murid-murid harus pergi ke tempat yang lain. Kepergian bukan tujuannya, melainkan sarana. Jika yang belum menjadi murid Kristus adalah tetangga, cukup melangkah beberapa meter. Tetapi, jika di Indonesia sendiri masih ada banyak yang tidak mengenal orang yang dapat memperkenalkan Kristus kepadanya, mungkin ada yang harus melangkah lebih jauh.

Kedua kata kerja yang berikut bukan hanya sarana, tetapi menyampaikan isi pemuridan. Baptisan merujuk pada tahap awal, di mana seseorang mengambil identitas yang jelas di dalam Kristus (a.19). Hal itu biasanya dikaitkan dengan pertobatan, yaitu, meninggalkan identitas yang melawan Allah untuk menerima identitas baru sebagai pemberian Allah. Ketika Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah menyapa Yesus sebagai Anak-Nya, yang sekaligus menempatkan Allah sebagai Bapa-Nya (Mt 3:16-17). Dalam baptisan, kita juga ternyata masuk relasi yang sama, mengenal Allah sebagai Bapa, menjadi adik-adik Yesus sebagai Anak Allah, dan didiami oleh Roh Kudus.

Tetapi identitas itu tidak tinggal sebagai ritus saja. Orang yang menjadi murid harus juga diajar untuk melakukan semua perintah Yesus (a.20). Injil Matius sepertinya didesain untuk membantu dalam hal itu, karena dia menyusun lima kumpulan ajaran Yesus dalam bentuk yang cocok untuk diajarkan (Kerajaan Allah pp.5-7, misi KA p.10, pertumbuhan KA p.13, komunitas KA p.18, akhir zaman pp.24-25). Identitas sebagai anugerah dalam Kristus tidak ada manfaatnya, dan saya mau mengusulkan tidak ada nikmatnya, kecuali dihayati dengan mengangkat ajaran Yesus sebagai hikmat yang paling ampuh menjadi tumpuan dalam dunia yang menantang ini (bdk. Mt 7:24-27).

Janji Yesus yang terakhir merupakan puncak dari seluruh Injil. Anak yang dinamai “Imanuel” itu berjanji untuk selalu menyertai murid-murid-Nya dalam amanat ini. Dia adalah wujud penyertaan Allah, karena Dia tergolong dengan Allah sendiri. Beberapa petunjuk dalam Injil, seperti pengampunan dosa (9:6), pengendalian angin ribut (8:27) dan pemuliaan di atas gunung (17:2), menjadi jelas setelah kebangkitan. Dia adalah Allah Anak, yang layak disembah bersama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Demikian keselamatan yang didatangkan Yesus dapat dinikmati oleh semua bangsa. Ada yang pergi untuk memberitakan Yesus dan membangun mereka dalam identitas baru dalam ketaatan kepada Yesus sebagai pemilik kuasa di sorga dan bumi. Rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa terwujud ketika orang-orang menjadi murid Yesus dan menghayati anugerah identitas baru dengan hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Tentu, kegiatan ini tidak terbatas pada lembaga gerejawi. Kadangkala ada kelompok yang masih secara formal menjadi anggota lembaga agamawi yang non-Kristen yang justru lebih berfokus pada menjadikan sesama orang yang memiliki identitas dalam Yesus dan menaati ajaran-Nya. Yang mutlak di sini bukan gereja melainkan Yesus. Segala kuasa diberikan kepada-Nya, supaya semua bangsa perlu menjadi murid-Nya dan menaati segala ajaran-Nya, sehingga menikmati penyertaan-Nya pada semua hari (“senantiasa”). Tetapi Dia mutlak bukan sebagai simbol, misalnya, simbol penyertaan Allah atau kasih Allah, sehingga kita bebas memilih simbol yang lain dengan makna yang sama (pendekatan pluralisme). Dia mutlak sebagai Yesus, seorang manusia yang lahir di Nazaret dan mati di bawah Pontius Pilatus. Di dalam atau di luar lembaga gerejawi, sampai pembaruan segala sesuatu pada akhir zaman, Allah memberkati bangsa-bangsa dengan mereka menjadi murid Anak-Nya Yesus.


Mt 27:32-56 Raja menunaikan tugas-Nya

April 20, 2011

Perikop ini menceritakan kisah yang penuh perasaan yang tidak akan diuraikan di sini lagi. Untuk menangkap makna dari apa yang terjadi, kita akan melihat apa yang dikatakan, walaupun sebagiannya sangat ironis. Di atas semuanya adalah tulisan yang terpasang, bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (a.37). Apa tugas seorang raja?

Masyarakat umum yang kebetulan lewat menyumbang pemahaman mereka dalam a.40, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Bait Suci memang termasuk urusan raja. Tetapi apa gunanya raja yang tidak bisa menyelamatkan diri? Daud, anak Allah selaku raja Israel (bnd. 2 Sam 7:14; Mzm 2:7), mulai memikirkan pembangunan Bait Suci ketika “Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling” (2 Sam 7:1), artinya, pembangunan Bait Allah adalah buah dari keselamatan yang telah dia hasilkan bagi Israel. Andaikan Yesus dapat turun dari salib secara ajaib, klaimnya mulai masuk akal. Pertimbangan itu diulang oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam a.42, kemudian dikuatkan dalam a.43, “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Nasib Yesus sepertinya adalah bukti bahwa Allah menolak Yesus sebagai Anak-Nya. Harapan Yesus adalah harapan yang semu.

Tetapi tunggu dulu. Siapakah Yesus menurut Injil Matius? Petunjuk pertama dilihat dalam perikop ini sendiri. “Orang yang lewat” dan “menggelengkan kepala” dalam a.30 terdapat juga dalam Rat. 2:15. Pada saat itu, Bait Suci telah roboh karena serangan orang Babel pada tahun 586 sM, sehingga Yerusalem menjadi sasaran penghinaan bangsa-bangsa. Yesus di salib adalah Bait Suci yang telah roboh. Bagaimana bisa disebut “Bait Suci”? Ingat bahwa malaikat menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus merupakan Imanuel, “Allah menyertai kita” (1:23). Bait Suci adalah simbol hadirat Allah; Yesus adalah wujud nyatanya. Sebagai raja Israel (Matius p.2 sudah menegaskan benarnya gelar itu) Yesus tidak mengurus Bait Suci, Dia membawanya.

Namun, masalah keselamatan itu masih mendesak. Bukankah malaikat juga menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus “akan menyelamatkan umat-Nya” (1:21). Tetapi dari apa? Dari “dosa mereka”. Memang, karena penjajahan Israel sering ditafsir sebagai hukuman Allah, keselamatan dari dosa bisa saja ditafsir sebagai keselamatan dari akibat dosa, yaitu penjajahan Israel. Namun, ternyata dalam rencana Allah, perkataan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat persis benar. Untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya. Sebagai Anak Allah yang membawa hadirat Allah ala Bait Suci, Yesus harus dirobohkan supaya dibangun kembali sebagai wujud nyata bahwa pemulihan umat Israel telah mulai. Dengan demikian Dia mewujudkan tugas-Nya sebagai Anak Allah, raja Israel, untuk menyelamatkan umat-Nya dari yang paling mengancam keberadaan mereka, yakni dosa mereka.

Dengan demikian, kita dapat memahami ungkapan Yesus pada salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (a.46) Pada salib, Yesus mengambil tempat Israel yang dibuang, sungguh ditinggalkan Allah. Mzm 22:2 yang dikutip menunjukkan bahwa hal itupun termasuk tugas Mesias. Yesus mengambil tempat umat yang berdosa untuk membebaskan mereka dari dosa itu. Hasilnya dilihat dalam aa.51-52. Tabir Bait Suci terbelah dua, menunjukkan bahwa fungsinya telah roboh, diambil alih oleh Yesus. (Ada juga yang menafsirnya dalam rangka Ibr 9:1-10, di mana tabir menunjukkan bagaimana manusia terhalang menghadapi Allah karena dosanya, tetapi halangan itu tidak ada lagi karena pengorbanan Kristus.) Orang-orang kudus bangkit, menunjukkan bahwa maut, akibat dosa, telah dikalahkan. Oleh karena itu, seorang wakil dari bangsa-bangsa dapat mengaku bahwa Yesus sungguh adalah Anak Allah (a.54). Yesus tidak hanya menjalani tugas-Nya sebagai raja Israel untuk Israel, tetapi juga untuk segenap umat manusia yang dibuang dari hadirat Allah oleh karena dosanya.


Mazmur 122 Doa bagi umat Allah demi sesama

Februari 22, 2011

Mengapa ada sukacita ketika ada usulan untuk pergi ke rumah Tuhan (a.1)? Ketika peziarah sampai di Yerusalem (a.2) jawabannya jelas. Yerusalem “bersambung rapat”, artinya, biar semua yang lain di dunia ini hancur, Yerusalem akan tetap berdiri (a.3). Rumah Tuhan juga adalah tempat yang ditentukan Allah untuk bersyukur kepadanya (a.4). Yang disyukuri ialah pengadilan Tuhan, yaitu bahwa melalui raja-Nya Allah menata kembali dunia yang kacau (a.5). Jadi, boleh disimpulkan bahwa dalam Mazmur ini Yerusalem adalah pusat dunia dan benteng terhadap kehancuran dunia.

Oleh karena kedudukan Yerusalem yang demikian, ada kerinduan untuk mendoakan Yerusalem (a.6a). Yerusalem adalah pusat sentosa dan kesejahteraan (syalom), sehingga mendoakan Yerusalem berarti mendoakan semua yang mencintai Yerusalem dan yang ada di dalam lingkungannya (a.6b-7). Dalam a.8 saudara-saudara si peziarah barangkali termasuk pencinta Yerusalem, tetapi teman-teman (= sesama, Ibrani rea’) yang belum tentu orang Israel juga akan beruntung dari kesejahteraan Yerusalem. Di balik semuanya, Allah hadir di tengah Yerusalem, sehingga kebaikan bagi Yerusalem berarti Allah tetap hadir dan memberkati (a.9).

Bagaimana memahami Mazmur yang Yerusalem-sentris ini? Kita perlu mengingat bahwa fungsi Rumah Tuhan sudah diambil alih oleh Kristus sebagai tempat Allah hadir dan menata kembali dunia yang kacau ini. Sekarang jemaat adalah umat yang tinggal di sekitar Rumah Tuhan itu. Jadi, berdoa bagi Yerusalam berarti berdoa untuk jemaat. Hal itu bukan hanya untuk kebaikan jemaat. Sebagai sarana pembaruan dunia, jemaat yang sentosa, artinya, yang hidupnya mencerminkan Kristus yang hadir di tengahnya, adalah harapan semua orang, entah di dalam atau di luar lingkup gereja. Kita mendoakan gereja karena Kristus hadir di tengahnya sebagai sumber berkat bagi dunia.

Sukacita dan doa kita mencerminkan di mana pusat cinta kita. Dalam mazmur ini pusat cinta si peziarah adalah hadirat Allah di Yerusalem, atau dalam konteks PB hadirat Allah dalam Kristus di tengah jemaat. Cinta itu tidak bertentangan dengan cinta kepada sesama melainkan mendukungnya, karena di dalam Kristus ada berkat dan ada pengharapan bagi dunia. Kristus tidak kelihatan dan jemaat-Nya tersebar luas, tetapi dalam mazmur ini melalui mata si peziarah kita bisa membayangkan sukacita dan rasa kagum atas hadirat Allah di tengah umat-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.