Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Kel 15:1-21 Meresponsi anugerah Tuhan

November 1, 2009

Nyanyian ini adalah nyanyian pertama yang direkam dalam Alkitab (kalau tidak salah—adakah sebelumnya?). Hal itu sangat cocok. Allah sudah menyelesaikan penyelamatan mereka dari kuasa Firaun, sehingga mereka sudah dimampukan menjadi umat Allah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, sebelum ada Taurat sebagai kerangka hidup untuk merespons anugerah keselamatan itu, ada pujian. Pujian adalah respons utama kepada Allah, ketaatan menyusul (bnd. Rom 1:21). Aa.20-21 menceritakan bahwa perempuan ikut juga dalam nyanyian ini, dipimpin Miryam yang disebut sebagai nabiah.

A.1b mengantarkan kedua tema utama, yakni sifat Tuhan serta perbuatan-Nya. Menurut analisis di Expositor’s Bible Commentary, ada empat bait dalam nyanyian ini, yaitu aa.1b-5, 6-10, 11-16a, 16b-18. Pembagian itu berdasarkan adanya batu/timah pada akhir ketiga bait yang pertama (aa.5, 10, 16a), dan juga pengulangan beberapa kata (bukan hanya pengulangan ide) pada aa.6, 11, 16b. Setiap bait dibagi lagi: ada pengantarnya (ayat pertama masing-masing, yang mengangkat tema), kemudian ada satu-dua ayat tentang Tuhan dan sisanya menyangkut orang di luar Israel (ringkasnya: 1b/2-3/4-5; 6/7-8/9-10; 11/12-13/14-16a; 16b/17/18).

Bait pertama (aa.1b-5) menguraikan alasan orang Israel untuk menyanyi (a.1b), jadi pujian tentang Allah (aa.2-3) menyangkut “aku” (Musa dan setiap orang Israel), yang baginya Tuhan menjadi keselamatan karena apa yang terjadi terhadap pasukan Firaun (aa.4-5). Bait kedua (aa.6-10) menguraikan “tangan kanan” Tuhan (a.6), yaitu kuasa-Nya untuk campur tangan dalam dunia ini (aa.7-8) untuk menghukum musuh-Nya (aa.9-10). Bait ini lebih pada sudut pandang musuh. Kedua bait ini menceritakan kembali kehancuran pasukan Firaun.

Kedua bait berikut melihat ke depan, ketika tujuan dari keselamatan itu akan tercapai. Bait ketiga (aa.11-16a) melihat “ketiadataraan” Tuhan di atas dewa-dewi bangsa-bangsa (a.11). Hanya Tuhan yang dapat meniadakan musuh-Nya (a.12) dan menuntun umat-Nya (a.13), sehingga bangsa-bangsa yang akan dihadapi Israel dalam perjalanan ke tanah Kanaan takut (aa.14-16a). Bait keempat (aa.16b-18) menyangkut penyeberangan ke tanah Kanaan (a.16b), sehingga Israel berada di sekitar tempat kudus Tuhan (a.17), akhirnya Bait Allah di Yerusalem. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah raja yang kekal (a.18), baca: di atas seluruh bumi.

Kemenangan Kristus di kayu salib tidak kalah dahsyatnya dengan peristiwa ini. Dari Kristus kita juga belajar bahwa Allah layak dipuji, bahwa tangan-Nya kuat, bahwa Dia tiada bertara, bahwa kita adalah umat-Nya yang akan dibawa pulang. Kita juga ada di antara kemenangan yang dahsyat itu dan penggenapannya pada masa depan, ketika kita akan “menyeberang” ke langit dan bumi yang baru. Masalahnya bahwa kadangkala kemenangan atas dosa dan maut terasa abstrak, sehingga rasa syukur yang meliputi Israel pada saat itu tidak terasa oleh kita. Karena perikop ini menceritakan keadaan yang konkret, yang dengan mudah kita bayangkan, maka kita dapat belajar bagaimana rasa syukur yang selayaknya. Soalnya, kita luput dari nasib yang lebih parah dari nasib Israel seandainya Tuhan tidak campur tangan, yaitu larut dalam dosa dan menghadapi maut tanpa harapan.


Neh 13:1-9 Perlunya Perjanjian Baru

Agustus 17, 2009

Puncak cerita Nehemia terjadi pada 12:27-43, di mana penyelesaian tembok Yerusalem dirayakan. Puncak ini merupakan jawaban doa Nehemia yang tercantum pada awal kitab ini (Neh 1:3-11). Mungkin setelah puncak yang demikian kita mengharapkan akhir yang tenang, yang menunjukkan bagaimana bangsa yang sudah diberkati Tuhan menikmati berkat itu. Akhir p.12 memenuhi harapan itu—selama Nehemia ada.

Namun, mulai p.13 ada gambaran yang lain yang muncul. Ada pernikahan campur (aa.1-3) dan penyalahgunaan Bait Allah untuk kepentingan pribadi (aa.4-5) oleh Elyasib untuk Tobias. Dalam a.6 kita diberitahu bahwa pada saat itu Nehemia tidak ada di Yerusalem karena dipanggil ke istana. Begitu dia kembali ke Yerusalem dia membereskan masalah itu dengan tegas. Aa.1-3 ternyata juga terjadi ketika Nehemia kembali (lihat “sebelum masa itu” di a.4). Dalam ayat-ayat berikut ternyata banyak masalah yang pernah ditanggapi Nehemia pada masa jabatannya yang pertama yang harus ditanggapi kembali.

Ada dua hal umum yang dapat kita petik dari akhir kitab yang mengecewakan ini. Yang pertama ialah bahwa Allah berkenan mendukung pembangunan tembok melalui kepemimpinan Nehemia meskipun umat-Nya tidak layak. Hal itu adalah sifat Allah sejak Abraham sampai sekarang. Yang kedua ialah kegagalan Israel untuk bertahan dalam ketaatan. Hal itu justru tidak sama dalam Perjanjian Baru. Karena kita berada di dalam Kristus yang telah mengalahkan Iblis dalam pencobaan (Mt 4:1-11; bnd. Ibr 2:14-18) tidak ada alasan untuk kita gagal. Bukannya kita akan sempurna, tetapi Roh Kudus mengerjakan ciptaan yang baru di dalam diri kita. Jika jemaat sepertinya mirip sekali dengan keadaan Israel dalam p.13, ada kebutuhan yang mendesak untuk memperjumpakan jemaat kembali dengan Kristus. Mungkin mulai dengan kita sendiri…


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


Neh 9:1-5 Perbaikan batin

Maret 20, 2009

Pembaruan Nehemiah mulai dengan pembangunan tembok Yerusalem (pp.1-7). Tembok itu merupakan batas jasmani, suatu pertanda bahwa kelompok Yahudi berfungsi sebagai masyarakat dan berkuasa atas wilayah Yerusalem, termasuk simbol identitasnya, yakni Bait Allah.

Sehingga yang berikut adalah kegiatan yang membangun kembali batas rohani, yaitu pembacaan Taurat (p.8). Umat Yahudi yang mendengarkannya diingatkan akan identitasnya sebagai umat Allah, serta cara hidup yang sesuai dengannya. Oleh karena itu Perayaan Pondok Daun diadakan dengan sukacita.

Namun, pembacaan Taurat juga mengungkapkan ketidaktaatan mereka, sehingga setelah perayaan itu umat Yahudi bergabung kembali untuk bertobat (a.1). Puasa adalah petunjuk akan keadaan yang begitu dahsyat sehingga orang tidak mau makan. Kain kabung orang Israel adalah kain yang dipakai untuk karung yang kasar dan tidak nyaman dipakai sehingga mencerminkan perasaan batin. Kemudian ada Istilah “tanah di kepala”. Yang lebih biasa ialah debu di atas kepala yang menunjukkan dukacita secara umum. Istilah “tanah di kepala” hanya dipakai tiga kali yang lain (1 Sam 4:12; 2 Sam 1:2; 15:32), ketika Israel mengalami musibah dari tangan lawan. Kesimpulan dari a.1 ialah bahwa orang Israel merasa terpukul dan dalam bahaya karena firman Allah, sehingga pertobatan mendesak.

Dalam rangka itu mereka menentukan batas sosial dengan memisahkan diri dari orang asing (a.2), barangkali karena orang asing merupakan penggodaan utama untuk menyembah ilah yang lain. Lepas dari konteks penggodaan, mereka mengaku apa yang mereka lakukan, dan juga bahwa mereka lahir dalam tradisi dosa nenek moyangnya. Pengakuan itu terjadi sebagai respons akan pembacaan firman (a.3), dan juga disertai penyembahan kepada Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam aa.4-5. Doa yang berikut (aa.6 dst) bersilih ganti menceritakan anugerah Tuhan dan dosa umat Israel, sampai akhirnya memohon pertolongan Tuhan (aa.32 dst) atas dasar anugerah itu.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada gedung gereja disebut, sehingga jelas bahwa adanya gedung tidak pokok dalam kehidupan berjemaat. Namun, pembangunan atau perbaikan prasarana seperti gedung gereja di sebuah tempat sering menunjukkan adanya kekompakan dan semangat dalam sebuah jemaat. Tetapi semangat itu percuma kalau tidak diiringi oleh pembaruan batin. Kadangkala jemaat perlu begitu mendengarkan firman Allah sehingga hati tertusuk. Injil yang kita dengarkan yang menggenapi Taurat memang memberitakan tuntutan Allah untuk hidup kudus, khususnya dengan hidup dalam kasih. Tetapi Injil pada dasarnya menyampaikan anugerah Allah. Sama seperti Israel diselamatkan dari Mesir dan dituntun dan disabari Allah, demikian juga dalam Kristus Allah sudah menyelamatkan kita. Baik dosa kita maupun anugerah Allah menjadi dasar untuk pertobatan yang menyadari bahwa musibah terdahsyat adalah menjadi musuh Allah.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


1 Tim 1:3-17 Menanggapi kekacauan dalam jemaat

September 14, 2008

Bagian ini merupakan pengantar Paulus sebelum nasihat khusus dalam pp.2-5. Ternyata ada masalah dengan ajaran palsu yang perlu ditangani oleh Timotius (1:1-3). Yang diharapkan Paulus adalah hidup jemaat berdasarkan iman, yang dia simpulkan dalam a.5 sebagai kasih. Apa dasar kasih itu? Ketiga “dari” dalam a.5 merujuk pada batin yang tidak terbagi-bagi. Soalnya, pengajar sesat tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dalam ayat-ayat berikut Paulus memberi penjelasan.

Yang pertama adalah soal hukum Taurat. Paulus menegaskan bahwa Taurat tertuju bagi orang berdosa, bukan orang benar (a.9). Memang banyak dosa yang dilarang di dalamnya (a.10), tetapi Injil dari Allah yang mulia sudah memiliki dasar untuk menentang hal-hal itu (a.10b-11). Paulus kemudian bersaksi tentang kuasa Injil, yang mengubah dia dari seorang penganiaya menjadi pelayan Allah (aa.12-13). Anugerah Allah melimpah di atasnya, dengan iman dan kasih (a.14). Kasih berdasarkan iman adalah ringkasan dari tujuan Paulus dalam a.5; ternyata sumbernya adalah anugerah dari Injil, bukan hukum dari Taurat. A.15 menyimpulkan prinsipnya: Allah menyelamatkan orang berdosa. Paulus sendiri adalah contoh utama penerima hidup kekal (a.16), sehingga dia memuji kemuliaan Allah raja segala zaman. (Kata kekal dan kata zaman berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa aslinya.)

Bagi Paulus, orang yang menanggapi masalah dengan hukum daripada dengan Injil adalah pengajar sesat yang tidak tahu apa-apa. Soalnya, hukum menegor orang berdosa, tetapi tidak dapat menimbulkan hati nurani yang murni apalagi kasih yang sejati. Dasar perubahan yang sejati adalah Injil tentang pengampunan dan hidup kekal yang membawa kita untuk memuliakan Allah. Memang, jika dasar itu ada maka cara hidup perlu diberitahukan, sebagaimana disampaikan Paulus dalam pasal-pasal berikut. Tanpa dasar Injil, betapapun semangat kita menegor, tidak akan ada buah kasih dan iman.


Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

September 12, 2008

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.


Kel 23:1-9 Perintah Allah adalah kudus, benar dan baik

Agustus 7, 2008

Tempat Hukum Taurat dalam kehidupan jemaat pernah saya bahas dengan kesimpulan bahwa HT menyatakan kehendak Allah dengan sempurna, tetapi juga secara kontekstual, yaitu untuk Israel yang belum mengenal Yesus dan masih berbasis suku dan tempat. Jadi, kita menerapkannya bukan sebagai aturan mutlak, melainkan sebagai hikmat. Tentu, hikmat dari Allah jangan diremehkan!

Perikop ini termasuk bagian pertama perincian HT setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini menyangkut berbagai aturan kehidupan bersama, dan menekankan keadilan dan saling perhatian. Aa.1-3 dan 6-8 menerangkan hukum ke-9, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Kesejajaran dengan konteks di Indonesia cukup jelas. Menarik bahwa menyebarkan kabar bohong (alias gosip) tergolong di sini. Gosip di tengah masyarakat bisa justru lebih efektif daripada saksi dusta di pengadilan untuk menghancurkan kedudukan orang, karena tidak ada kesempatan untuk menilai atau membantah gosip. Aa.4-6 memperluas hukum ke-8 untuk jangan mencuri, dengan mengusulkan bagaimana harta benda sesama (bahkan musuh!) diperhatikan. Dalam a.9 Israel harus memperbuat kepada orang asing sama seperti apa yang akan mereka kehendaki diperbuat kepada mereka ketika menjadi orang asing di Mesir.

Penerapan perikop ini dalam masyarakat umum saya rasa jelas, tetapi bagaimana dalam jemaat? Adakah perkara dalam jemaat? Menurut 1 Kor 6 bisa saja, dan Paulus menganggap bahwa jemaat semestinya sanggup menanganinya. Yak 2:1-4 juga menunjukkan bahwa jemaat bisa terjebak dalam berpihak kepada orang kaya (bnd. Kel 23:6). Jangan sampai para pengkhotbah giat mengkritiki selumbar di mata pemerintah dan masyarakat, padahal ada balok di mata jemaat! Tentu, dasar untuk nasihat tadi tetap adalah anugerah Allah yang berpuncak dalam Kristus. Kristus membuktikan bahwa Allah tidak mendustai umat-Nya dengan janji-janji berkat-Nya, dan Kristus menunjukkan bagaimana Allah menolong kita ketika kita masih musuh, sehingga yang terasing dari Allah bisa menjadi dekat.