Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Neh 12:27-43 Bersukaria atas pemulihan Allah

Juni 29, 2009

Pembangunan tembok di Yerusalem sudah selesai pada Nehemia p. 7, tetapi baru dalam perikop ini temboknya ditahbiskan. Di antaranya “tembok rohani” umat dibangun. Hal itu termasuk identitas sebagai keturunan Abraham melalui daftar orang yang kembali dari pembuangan (p.7), pembacaan Taurat (p. 8), pertobatan (p. 9), perjanjian (p. 10) dan daftar orang-orang di Yerusalem (p. 11) serta para imam dan orang Lewi (p. 12). Sehingga perayaan pada pentahbisan tembok bukan soal formalitas saja, tetapi merupakan perayaan atas pemulihan umat secara jasmani dan rohani.

Susunan acara yang diceritakan termasuk pentahiran dan dua perarakan (termasuk berbagai petinggi) yang menjalani tembok sebelum berjumpa di Bait Allah. Pentahiran merujuk ke anugerah Allah yang menerima manusia yang sebenarnya tidak layak (ketidaklayakan umat Israel pada saat itu menjadi nampak dalam p. 13). Perarakan yang berakhir di Bait Allah menunjukkan bahwa tembok itu berarti karena hadirat Allah di tengah kota yang dibentengi.

Semua itu diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Dalam a. 27 ada kemeriahan, ucapan syukur dan berbagai alat musik. Dalam a. 43 sukaria seluruh umat “terdengar sampai jauh”.

Dalam PL hanya imam dan orang Lewi yang termasuk paduan suara, tetapi dalam PB kita semua adalah imam yang memuji Allah (1 Pet 2:9). Kita memuji Allah karena Allah sudah memulihkan keadaan kita sebagai umat Allah. Secara rohani dosa kita diampuni, dan secara jasmani ada janji kebangkitan yang terjamin oleh kebangkitan Kristus. Jadi, setiap kali kebaktian ada alasan yang melebihi Israel pada saat itu untuk bersukaria.


Neh 4:1-14 Perjuangan di tengah ancaman

Januari 15, 2009

Nehemia bertugas untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan harga diri bangsa Israel (bnd. Neh 1:3 dan 2:17). P.3 merincikan semangat bangsa yang tinggi. Tetapi dalam p.4 ini, perlawanan yang pertama disebut pada 2:19-20 menjadi tema utama. Sikap para musuh itu disampaikan melalui perkataan Sanbalat dan Tobias (aa.1-3). Olok-olokan mereka mungkin cukup tepat. Pihak Nehemia lemah dan menghadapi perjuangan yang besar. Usaha iman sekarang cenderung mendapat reaksi yang sama: menurut ukuran dunia kelompok orang beriman tidak berharga dan usahanya bodoh saja.

Nehemia menyela penceritaannya dengan suatu doa supaya Allah membalas kejahatan mereka (aa.4-5). Kedengarannya agak jauh dari perintah Yesus untuk mengasihi dan mendoakan musuh, dan belum tentu pikiran Nehemia sampai ke pertobatan musuhnya. Namun, doanya pertama-tama adalah doa supaya Allah berpihak pada umat-Nya supaya usaha mereka dapat terwujud. Meskipun kita berdoa untuk, misalnya, kelompok teroris supaya bertobat, kita tidak berdoa supaya mereka dibiarkan melakukan kejahatan terus-menerus. Kita juga tidak berdoa supaya jika ditangkap kejahatan mereka dihapus pemerintah dan mereka dilepas untuk melanjutkan kejahatannya! Dalam konteks Nehemia, Allah merupakan satu-satunya pemerintah yang diharapkan bisa mewujudkan keadilan. Jadi, dia berdoa supaya keadilan terwujud. Keadilan itu mendasar, dan kasih kepada musuh yang lupa akan keadilan adalah garam yang sudah tawar.

Hasil pihak Nehemia dalam menyelesaikan tembok sampai setengah (a.6) menimbulkan reaksi lebih keras lagi dari musuh-musuhnya (aa.7-8). Ada permainan kata dalam bahasa aslinya. “Sampai ujung-ujungnya bertemu” dalam a.6 adalah kata yang sama dengan “mengadakan persepakatan” dalam a.8. Kerapatan tembok Yerusalem menjadikan musuhnya merapat untuk melawan. Kembali Nehemia berdoa dan juga bertindak (a.9). Dia tidak mengharapkan mujizat melainkan pekerjaan Allah melalui persiapan mereka.

Pertolongan Allah datang melalui sumber yang tak terduga. Dalam a.10 sepertinya banyak penduduk Yehuda mulai putus asa, seperti sudah diduga oleh Sanbalat sebelumnya (a.2). Namun, justru mereka yang mendengar persekongkolan para musuh untuk menyerang, sehingga Nehemia bisa bersiap-siap (a.12-13). Dengan demikian Allah menolong mereka, dan Nehemia menguatkan mereka untuk tidak takut (a.14).

Jika Bait Allah di tengah Yerusalem bermuara pada Kristus dalam Perjanjian Baru, sebagai titik temu antara Allah dengan umat-Nya, temboknya apa? Mungkinkah tembok berhubungan dengan identitas yang utuh sehingga harga diri terjaga di hadapan Allah? Dosa yang dibiarkan merajalela (termasuk mengesampingkan keadilan), pemahaman jemaat akan pokok-pokok iman yang minim, menjadikan jemaat rentan terhadap pengaruh buruk dari dunia. Usaha untuk membangun jemaat kembali atas dasar Kristus yang disalibkan memang akan dianggap bodoh oleh banyak orang, dan jemaat yang mulai kompak dalam iman dan kasih akan dianggap sebagai ancaman oleh sebagian penguasa (entah tokoh masyarakat, pemerintah atau pihak yang lain). Mari kita memiliki semangat Nehemia untuk berdoa dan bertindak dalam tugas yang mulia ini.


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih nampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu penukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiring seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan pengembalian kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

Mei 27, 2008

Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.

Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:

  • Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
  • Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).

Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.

Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.

Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?


Mt 24 Bait Allah dirobohkan

April 21, 2008

Bait Allah menjadi sentrum agama Israel karena Allah hadir di dalamnya. Namun, anugerah itu dijimatkan oleh Israel, maksudnya hadirat Allah dihargai karena perlindungan-Nya, bukan dihargai sebagai kesempatan untuk berelasi dengan-Nya sebagai umat-Nya yang kudus. Sikap itu banyak dikecam oleh para nabi (Yer 7 termasuk perikop yang terkenal). Akhirnya, pada abad ke-6 sM, Bait Allah serta seluruh Yerusalem dihancurkan.

Setelah menyucikan Bait Allah (p.21) dan mengencam pimpinan Yahudi (p.23), Yesus di sini menubuatkan bahwa Bait Allah akan dihancurkan kembali. Murid-murid Yesus, dengan tepat, menafsir perkataan Yesus itu sebagai nubuatan tentang akhir zaman. Para nabi PL melihat datangnya Mesias terkait erat dengan akhir zaman (seperti Yes 9:6-7). Namun, pendirian Kerajaan Allah yang dipersoalkan dalam pp.24-25 ini lebih baik dilihat dalam tiga tahap: yang pertama kenaikan Yesus, yang kedua kehancuran Yerusalem, dan yang ketiga ketika Yesus datang kembali. Pencampuran tahap demikian biasa dalam nubuatan PL, dan sering diibaratkan dengan pegungunan, di mana dua puncak (kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua) nampak berdekatan padahal sebenarnya jauh di antaranya.

Baca entri selengkapnya »


Yoh 4:1-42

Maret 28, 2008

Kristus telah dinyatakan sebagai Firman yang oleh-Nya dunia dijadikan (Yoh 1:10) dan penyataan kasih Allah bagi seluruh dunia (3:16), tetapi toh Dia masih berfokus pada Israel bahkan Bait Allah (2:13-25). Dalam pendahuluan kisah ini kita membaca bahwa Yesus “harus” melalui Samaria, mungkin karena keamanan. Ada sedikit petunjuk bahwa penolakan Yesus oleh orang Yahudi di sini bermuara pada keselamatan orang lain (bnd. Kis 8:4; Rom 11:11).

Kisah digerakkan dengan pertanyaan Yesus kepada perempuan Samaria yang minta tolong. Besarnya jarak antara orang Yahudi dan Samaria, diperbesar oleh perbedaan jenis, nampak dari jawabannya yang mempersoalkannya, padahal Yesus adalah manusia yang sendirian, lelah, dan di samping sebuah sumur tanpa timba! Tetapi ucapannya mengangkat masalah tadi, apakah kasih Allah bisa menembus ke luar umat Israel?

Jawaban Yesus (a.10) mengangkat dua pokok, karunia (pemberian) Allah (yakni air hidup) dan identitas Yesus, serta menunjukkan responsnya, meminta pemberian itu daripada-Nya. Perempuan salah paham akan maksud air hidup itu, dengan melihat harfiahnya, bukan kiasannya. (Sama seperti melihat salib Kristus sebagai kekalahan, bukan kemuliaan.) Tetapi pertanyaannya (a.12) tentang identitas Yesus lebih tepat dari yang dia sadari. Yesus menjelaskan air hidup itu, adanya konsep hidup kekal sudah memperjelas bahwa dia berbicara secara kiasan. Perempuan itu merespons (a.15) dengan tepat–meminta air itu–walaupun dia belum terlalu mengerti.

Dengan respons itu Yesus melangkah dalam rangka pemberian air hidup itu dengan mengungkapkan bagian hidupnya yang paling kacau dan juga dengan menunjukkan pengetahuan terperinci atas hidupnya (16-18). Hal itu menjadi titik balik dalam tugas Yesus untuk memperkenalkan identitasnya kepada (wakil) bangsa-bangsa. Bukan karena ada penyadarana akan dosa–kesan saya ialah perempuan itu sudah sadar akan dosanya, sehingga hal itu tidak dikejar oleh Yesus. Tetapi pengetahuan Yesus akan hidupnya membawa perempuan itu ke pokok kedua, yaitu identitas Yesus. Pertanyaan si perempuan bukan pengalihan perhatian dari dosanya, melainkan kembali ke pokok seluruh perikop, yakni bagaimana seorang nabi / Mesias Yahudi adalah Juruselamat seluruh dunia. Yesus mengaminkan bahwa Yerusalem adalah pusat keselamatan, tetapi dalam perkembangan sejarah keselamatan (“saatnya akan datang” a.23) Yerusalem akan direlatifkan, sehingga semua bangsa dapat menyembah Allah. Sekali lagi tidak jelas bahwa perempuan itu mengerti seluruh maksud Yesus di sini (dan banyak pendapat para teolog sekarang, lihat di bawah!). Tetapi dia menangkap bahwa Yesus mengenal dia dan mengenal hal-hal terkait dengan Allah, sesuai dengan pemahamannya tentang Kristus. Kisah ini berpuncak dengan dia menjadi saksi pertama kepada penduduk kotanya.

Berpuncak tetapi tidak berakhir, karena ada dua pesan terakhir. Yang pertama, kepada para rasul (dan semua dalam gereja yang akan menjadi penuai manusia) Yesus menjadikan respons perempuan Samaria (dan kota) sebagi pelajaran. Tidak semua yang tidak menerima terang yang datang ke dalam dunia (1:11). Sebenarnya ada banyak yang siap untuk menjadi anak-anak Allah (4:35 dengan 1:12). Menarik bahwa para murid sama salah pahamnya dengan si perempuan, hanya tentang roti, bukan air.

Pesan kedua muncul dari para penduduk kota Sikhar. Mereka juga meminta air hidup (yakni Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka, sampai mereka sendiri dapat “mendengar dan tahu” (a.42). Sebagai orang di luar lingkup Israel, yang ditahu bukan hanya bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi bahwa Dia adalah Juruselamat dunia.

Beberapa hal tekhnis…

Baca entri selengkapnya »


Kej 28:10-22

Februari 29, 2008

Pada saat cerita ini, Yakub bermasalah. Dia harus melarikan diri dari kakaknya yang marah karena ditipu. Pelarian ini adalah ancaman terbesar selama itu terhadap janji Allah. Apakah Yakub, yang kelihatannya telah dipilih Allah sebagai penerus janjinya (Kej 25:23), akan sempat kembali ke tanah yang dijanjikan?

Dalam mimpi Allah menampakkan diri kepadanya. Janji-Nya diteguhkan, dengan beberapa tambahan yang cocok untuk keadaan Yakub. Dia berjanji untuk menyertai Yakub, sama seperti kepada Ishak pada suatu saat krisis (26:3). Dia juga berjanji bahwa Yakub akan kembali dari pembuangannya.

Yakub sadar bahwa tempatnya adalah “pintu gerbang sorga” (28:17). Setelah pengusiran manusia dari taman Eden tempat Allah berjalan-jalan, titik temu antara Allah dengan manusia menjadi langka. Fungsi titik temu itu diambil alih oleh Bait Allah (itu artinya Betel, walaupun tempatnya kemudian di Yerusalem), dan kemudian Yesus yang menjadi tangga yang menghubungkan sorga dan bumi (Yoh 1:51).

Tanggapan Yakub itu takut. Sebagai orang dari budaya Barat yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menghilangkan semua misteri, saya harus belajar dari reaksi itu. Mungkin orang yang biasa takut akan pohon yang keramat harus belajar untuk takut akan Allah. Tetapi sama-sama jangan kita “menganggap sepi” kemurahan Allah (Rom 2:4) dengan dalih bahwa akibat sikap remeh kurang nampak.

Kemudian Yakub membangun sebuah tiruan dari pengalamannya. Batu yang di atasnya dia bermimpi didirikan seperti tangga dalam mimpi itu, dan “kepala” (ujung) batu itu diminyaki. Mungkin saja sebuah respons “psikomotorik” demikian bisa berguna untuk melestarikan signifikansi suatu pengalaman yang bermakna. Tetapi saya mau mengusulkan bahwa salib Kristus adalah tugu yang paling bermakna bahwa Tuhan akan menyertai kita melalui pengembaraan dalam dunia ini sampai kita kembali ke tahan yang dia janjikan, langit dan bumi yang baru itu.