Yakobus 5:12-18 Menghadapi pergumulan dengan doa bersama [13 Nopember 2011]

November 12, 2011

Penggalian Teks

Yakobus menempatkan pembacanya sebagai orang miskin (2:6) yang menjadi korban ulah orang kaya (5:1-6). Oleh karena itu mereka harus bersabar dan bertekun sambil menantikan kedatangan Tuhan (5:7-11). Dalam rangka itu, mereka harus menghindar dari sumpah (a.12) dan menanggapi pergumulan dengan doa (aa.13-16) seperti dilihat dalam contoh Elia (aa.17-18). Untuk semuanya itu mereka harus saling menjaga (aa.19-20).

Hal sumpah (a.12) sepertinya dijunjung lebih tinggi dari ketekunan dalam ayat-ayat sebelumnya (“tetapi yang terutama”). Sumpah dilarang karena jika orang bersumpah tetapi berbohong (tentang pernyataan yang mau ditegaskan) atau tidak menepati janjinya yang dinazarkan, dia melanggar hukum ketiga, karena telah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Walaupun nama Tuhan tidak langsung disebutkan, ajaran Yesus (Mt 5:34-37) yang diringkas di sini menjelaskan bahwa apapun yang menjadi jaminan sumpah itu sebenarnya mewakili Allah.

Namun, mengapa hal bersumpah dianggap “yang terutama”? Saya duga bahwa sumpah menjadi cara yang semu untuk menemukan kepastian dalam dunia yang susah. Keinginan untuk bersumpah mungkin muncul dari ketidaksabaran menghadapi kesusahan dunia, atau cara untuk membujuk Tuhan bertindak. Adalah menarik bahwa kata yang dipakai untuk doa dalam aa.15-16 (eukhe, dalam ayat-ayat yang lain kata biasa untuk doa, proseukhe, dipakai) adalah kata yang juga dipakai untuk nazar. Jadi, aa.13 dst merupakan cara yang lebih baik menghadapi penderitaan.

Dalam a.13 Yakobus menyebut baik penderitaan maupun kegembiraan, dan nasihatnya meringkas tradisi Yahudi seperti dilihat dalam kitab Mazmur. A.14 membayangkan kondisi yang lebih serius. Orangnya sudah lemah, dan mungkin ditambah susah berdoa secara pribadi. Para wakil jemaat dipanggil untuk mendoakannya dan juga mengobatinya (minyak dipakai sebagai obat pada zaman itu, bdk. Lk 10:34). A.15 dapat ditafsir dari dua arah. Doa itu menyelamatkan orang yang sakit sehingga dia bangun dari tempat dia berbaring; atau doa itu menyelamatkan orang itu sehingga dia bangkit. Mengingat bahwa Tuhan itu dekat (5:8), Yakobus tidak menjamin penyembuhan, tetapi menjamin bahwa orangnya akan selamat. Jika penyakit itu berkaitan dengan dosa (bahasa Yakobus mengandaikan bahwa kaitan itu bisa terjadi tetapi tidak selalu ada), dosa itu juga diampuni, sekalipun yang bersangkutan tidak lagi sadar untuk mengaku sendiri. Dalam a.16 Yakobus memperluas nasihatnya. Lebih baik mengaku dosa dan saling mendoakan sebelum keadaannya terlalu parah.

Dalam aa.17-18 Elia menjadi contoh kuasa doa. Baik doa untuk kekeringan maupun untuk hujan membuktikan kuasa doa, tetapi Yakobus menambah bahwa dengan hujan ada hasil dari tanah, sama seperti firman yang ditanam (1:21) diharapkan berbuah (3:17-18).

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mau supaya jemaat menghadapi pergumulan hidup dengan doa, bukan hanya secara pribadi tetapi juga dalam kebersamaan dan keterbukaan.

Makna

Ketimbang gereja saya di Australia, jemaat-jemaat di Indonesia mempraktekkan a.14 dengan baik. A.16 yang mungkin lebih jarang dilakukan. Dari segi psikologi saja, keterbukaan satu kepada yang lain sehingga ada damai sejati di antara jemaat akan banyak mengurangi stres. Yakobus membayangkan healing community, jemaat di mana orang mendapat penyembuhan karena kepedulian seorang kepada yang lain.

Yakobus juga percaya bahwa bukan hanya penatua / pendeta yang doanya berkuasa. Semua orang bisa saling mendoakan, dan dari segi kuasa doanya Elia adalah “manusia biasa seperti kita”. Jika kita membuka 1 Raj 17:1 & 18:1, kita melihat bahwa doa Elia sesuai dengan perintah Tuhan. Doa dalam perikop ini menyangkut penyembuhan dan keselamatan, bukan “berkatilah cita-cita hatiku”.


Kis 10:1-8 Doa seorang kafir yang mulai dijawab [6 Nopember 2011]

November 2, 2011

Dalam p.8 Injil sudah mulai tersebar di Samaria. Dalam p.10 ini Allah mulai mempersiapkan gereja perdana untuk keluar lebih jauh dari zona amannya, yaitu dengan bermisi kepada orang-orang yang tidak bersunat.

Penggalian Teks

Aa.1-2 merupakan pendahuluan yang memperkenalkan salah satu tokoh kisah p.10, yaitu Kornelius. Perwira pasukan (hekatontarkhes, “pemimpin 100 orang”) adalah tentara reguler yang sudah naik pangkat. Dia disebut sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah, yang langsung digambarkan dengan prakteknya memberi sedekah dan doa. “Seisi rumah” belum tentu tertentu isteri dan anak, karena tentara Romawi tidak boleh menikah sampai pensium (yang terjadi sebelum berumur 40), kecuali yang dimaksud adalah gundik (yang bisa dinikahi dengan sah ketika tentara itu pensiun). Yang pasti termasuk adalah beberapa hamba, dan kita tidak tahu siapa lagi. Tetapi ternyata kesalehan Kornelius berdampak juga pada mereka.

Aa.3-6 menceritakan perkunjungan malaikat. Penglihatan itu terjadi ketika masih siang (terang). Jam 3 petang adalah salah satu jam doa orang Yahudi, sehingga ada dugaan (yang diteguhkan dalam 10:30) bahwa Kornelius sedang berdoa. Penampilan malaikat itu tidak digambarkan di sini (bdk. 10:30), tetapi kepada sosok yang tidak dikenal yang masuk begitu saja ke dalam rumahnya ini Kornelius, perwira yang perkasa itu, tidak melontarkan hardikan melainkan takut. Kata “Tuhan” dapat juga diterjemahkan “tuan” (kurie), tetapi bagaimanapun juga Kornelius mengakui wibawa malaikat itu. Malaikat merujuk pada doa dan sedekah dalam a.2, yang telah naik ke hadirat Allah sehingga Allah memperhatikan Kornelius. Jadi, usulan untuk mencari Petrus dalam aa.5-6 adalah cara Kornelius untuk ikut dalam respons Allah terhadapnya. Mengingat cara Tuhan memakai Petrus yang begitu luar biasa pada akhir p.9 itu, kita para pendengar cerita ini pasti menduga bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi pada Kornelius. Walaupun Kornelius belum mengenal Petrus, perintah ini juga pasti membawa harapan baginya.

Aa.7-8 menceritakan bagaimana Kornelius menanggapi usul malaikat itu. Lukas memberi tekanan sedikit bahwa orang-orang di sekitarnya terlibat juga dalam proses ini, dan isi rumah Kornelius disebut-sebut dalam cerita berikut.

Maksud bagi Pembaca

Sebenarnya nas ini hanya adegan pertama dalam kisah Kornelius dan Petrus ini, sehingga tafsirannya tergantung pada tafsiran seluruh cerita. Paling sedikit, Lukas memberi gambaran yang lazim tentang kesalehan, yaitu, doa, sedekah (perhatian bagi orang miskin) dan ketaatan pada perintah Tuhan (melalui malaikat). Peristiwa ini juga menjadi penting karena Kornelius menjadi orang non-Yahudi (tidak bersunat) pertama yang menjadi percaya kepada Kristus dan menerima Roh Kudus secara jelas. Untuk memahami maksudnya dengan tepat, kita perlu menyimak akhir dari cerita ini, yaitu laporan / pertanggungjawaban Petrus kepada jemaat di Yerusalem dalam p.11. Dalam 11:14 ada tambahan dari Petrus yang tidak disebut Lukas dalam 10:5-6, yaitu bahwa Petrus “akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu”. Jadi, Lukas mau menyampaikan bahwa semua, bahkan yang paling saleh, memerlukan berita tentang Yesus untuk memperoleh keselamatan.

Makna

Dalam budaya dan agama apa saja, ada yang lebih peka terhadap soal penghormatan kepada yang layak dihormati, entah orang tua, bangsawan, atau yang ilahi. Sikap itu disebut kesalehan (eusebeia), dan adalah sesuatu yang dihargai Lukas (bdk. Lukas 1, misalnya). Namun, kesalehan juga harus dilihat dari sasarannya. Hormat kepada raja yang sah dan hormat kepada kepala gerombolan mungkin saja mirip secara psikologis, tetapi tetap berbeda sifatnya. Kesalehan Kornelius sudah dipengaruhi oleh penyataan Allah kepada Israel, tetapi kita tidak tahu sejauh mana dia hanya beribadah kepada Allah saja, atau apakah selama itu dia juga saleh terhadap berbagai dewa-dewi yang lain. Bahasa “takut akan Allah” dipakai untuk orang non-Yahudi yang telah menganut keyakinan Yahudi, tetapi juga dapat dipakai lebih luas. Yang jelas, ada doa untuk mengenal Allah atau mendapat keselamatan yang dijawab oleh Allah (10:31).

Pengalaman seperti Kornelius mewakili cerita banyak orang di kemudian hari yang mencari Allah dari dalam pemahamannya sendiri lalu Allah berkenan memperjumpakan mereka dengan Kristus. Tentu, Kristus bukan sekadar puncak dari kesalehannya. Dari sedekah dan doanya saja, Kornelius tidak tahu-menahu tentang pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus. Hal-hal itu harus diberitahukan (atau dijelaskan, bdk. 10:37) kepada Kornelius melalui pemberitaan Petrus. Namun, Allah bisa berjumpa dengan orang yang mencari-Nya di tengah kesalehannya, sama seperti Dia bisa berjumpa dengan seorang fanatik seperti Paulus di tengah fanatismenya (p.9). Roh Kudus tidak terikat oleh kadar inisiatif dan kelayakan manusia untuk membawa orang kepada Kristus.

Jika demikian, nas ini tidak membuktikan bahwa seseorang bisa selamat di luar Kristus. Sikap Lukas disampaikan oleh Petrus dalam nas Kis 4:12 yang terkenal itu (kecuali Lukas mau dianggap bersikap ironis terhadap tokoh utamanya, sesuatu yang tidak masuk akal). Namun, fokus Lukas bukan pada teori tentang nasib orang yang tidak mengenal Kristus, melainkan implikasi praktisnya, yaitu pentingnya misi yang keluar dari zona aman untuk menjangkau semua orang, dari Yerusalem ke Samaria hingga ke ujung bumi. Bahkan orang seperti Kornelius akan berbahagia jika berjumpa dengan Kristus dan dikaruniakan Roh Kudus.


Mzm 119:105-112 “Menghayati Firman Tuhan sebagai Pelita” [4 September 2011]

Agustus 30, 2011

Mazmur 119 adalah perenungan yang panjang lebar tentang firman Allah. Bagi pemazmur, sebagai orang Israel, firman itu dikenal dalam hukum Taurat, dan berbagai istilah yang dipakai berasal dari hukum itu (lihat di sini). Jika dibaca seluruhnya, kesannya berbelit-belit. Lebih cocok satu bait (8 ayat masing-masing) dibaca dan direnungkan. Dengan demikian, kekayaan makna tidak membuat pembaca kekenyangan.

Penggalian Teks

Pembagian bait ini tidak terlalu pasti, tetapi pada hemat saya ada empat pasang dalam kedelapan baris. Kedua pasang pertama memakai kata “firman” dan “hukum”. Pasangan ketiga menyangkut bahaya yang dihadapi pemazmur, dan pasangan keempat berakhir dengan harapan pemazmur, dengan kata kunci “hati” dan “selama-lamanya”.

A.105 mulai dengan kiasan firman sebagai pelita yang menerangi bagian jalan di mana kaki mau melangkah. Tersirat dalam kiasan ini ialah bahwa pemazmur berjalan dalam kegelapan, pada waktu malam. Firman tidak memberi terang seperti matahari yang membuat semuanya terang, tetapi memberi terang yang cukup untuk pemegangnya mengambil langkah berikutnya. Jika a.105 berbicara tentang suatu sifat firman Tuhan, a.106 menyampaikan respons pemazmur. Ada keputusan yang tegas untuk berpegang pada hukum-hukum Tuhan. Kata “hukum” (Ibrani: mishpat) berasal dari kata kerja untuk mengadili atau menata. Dalam bentuk jamak seperti di sini, kata itu merujuk pada keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh Tuhan sebagai hakim, khususnya dalam hukum Taurat. Sifatnya bukan hukum positif melainkan banyak contoh bagaimana berbagai prinsip mendasar seperti keadilan, harkat manusia, dsb, diterapkan dalam kehidupan Israel. Jika pasangan aa.105-106 dilihat bersama, firman Tuhan menjadi pelita karena ada ketegasan hati untuk hidup sesuai dengan keadilan yang terkandung di dalamnya.

A.107 merincikan kegelapan yang dialami pemazmur, yakni, penindasan. Penindasan merendahkan harkat manusia, semacam maut, sehingga pemazmur berdoa supaya Tuhan menghidupkannya kembali sesuai dengan firman-Nya. Paling sedikit, pertolongan Tuhan yang diharapkan dalam doa akan sesuai dengan keselamatan Israel dari penindasan di Mesir, dan mungkin banyak kisah lagi dalam firman Tuhan. Sama seperti a.107 mencerminkan a.105, a.108 mencerminkan a.106. Dia berdoa supaya persembahannya berkenan kepada Tuhan. LAI “yang berupa pujian-pujian” menerjemahkan pi, yang berarti “dari mulutku”. LAI menganggap bahwa persembahan ini adalah pujian, seperti mazmur yang dinyanyikan setelah mengalami keselamatan Tuhan, atau bahkan seluruh mazmur 119 ini. Tetapi dalam Ul 23:23 kata-kata yang sama merujuk pada nazar, mirip dengan a.106. A.108 merupakan doa supaya sumpah dalam a.106 berkenan. Makanya, dia juga berdoa supaya hukum-hukum Allah diajarkan, yaitu, dipahami sehingga bisa menjadi terang baginya.

Aa.109-110 menyampaikan kesetiaannya dalam menghadapi penindasan itu. Keadaannya rawan (a.109) oleh karena orang-orang fasik (a.110). Jerat yang dipasang dalam a.110 bisa termasuk usaha supaya dia bertindak ceroboh, menyimpang dari titah-titah Tuhan. Tetapi itulah yang tidak dia lakukan, mungkin karena firman Tuhan menerangi kakinya.

Bagaimana caranya? Aa.111-112 mengungkapkan hati pemazmur. Kata edot yang diterjemahkan “peringatan-peringatan” dalam a.111 merujuk pada hukum Allah, tetapi sebagai semacam kesaksian (peringatan) tentang jalan yang benar. Sebagai orang Israel, hal-hal itu adalah milik pusakanya untuk selama-lamanya. Bahasa “milik pusaka” sering dipakai untuk tanah yang menjadi milik pusaka setiap keluarga, bani dan suku, tetapi di sini merujuk pada hukum Allah. Dia memakai kiasan itu karena hukum Allah menggirangkan hatinya. Entah dia memiliki tanah atau tidak, tetapi dambaannya terang bagi kakinya itu. Oleh karena itu, dalam a.112 dia menempatkan ketaatan pada hukum Allah sebagai salah satu tujuan hidupnya—sampai saat terakhir.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 119, termasuk perikop ini, merupakan doa kepada Allah, dalam bentuk meditasi. Mazmur ini mengajar kita dengan kita mendoakan dan merenungkannya. Dengan demikian kita diajak untuk menempatkan firman Allah sebagai terang bagi jalan kita, dengan sikap yang tegas untuk menerapkan kehendak Tuhan yang adil di hadapan ancaman dan perlawanan. Kemudian, kita akan merenungkan dambaan hati dan tujuan hidup.

Makna

Firman dalam a.105 itu firman Allah, Allah yang menyelamatkan Israel dan juga Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai Firman yang hidup. Bagaimana makna perikop ini diperkaya bagi kita yang mengenal Allah dalam Kristus?

Yang terutama, firman Tuhan telah menjadi daging. Dia datang dalam kegelapan (Yoh 1:5), dan menjadi terang dunia—bukan hanya orang Yahudi yang mengenal Taurat tetapi semua yang percaya kepada-Nya (Yoh 1:12). Namun, kegelapan itu masih ada. Dalam dunia baru Allah dan Kristus menjadi terang, sehingga tidak ada lagi malam (Why 22:5). Tetapi untuk sementara, siang belum datang (Rom 13:11-12). Jadi, Kristus tetap adalah pelita bagi kaki kita, menerangi langkah berikut, bukan seluruh jalan ke depan. Kita mengalami terang itu dengan berpegang pada hukum Kristus yang mempertegas keadilan dalam Taurat. Ketika kita tertindas, berita sukacita bahwa Allah membangkitkan Yesus yang disalibkan dengan sangat tidak adil menghidupkan kita kembali. Injil menjadi milik pusaka kita, sambil kita menantikan bagian dalam dunia baru itu. Harapan “untuk selama-lamanya” menjadi harapan harfiah—bukan sampai ajal (“saat terakhir”) melainkan hidup kekal.

Seperti saya katakan di atas, tafsiran kristologis ini tidak meniadakan makna aslinya, melainkan memperkayanya. Kita dapat mendoakan bait ini di dalam Kristus. Jika hal itu kita lakukan, kita akan tetap tertantang oleh semangat pemazmur: ketegasannya untuk hidup sesuai dengan terang firman, kegirangannya akan firman itu, hatinya yang dia condongkan untuk melakukannya. Hanya Kristus yang dapat mendoakannya dengan sempurna. Semoga renungan para pengkhotbah dalam persiapan dan bersama dengan jemaat membuat kita semua lebih seperti Firman yang sejati itu.


Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Juni 22, 2011

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  


Luk 21:34-38 Doa yang menantikan hari Tuhan

Maret 8, 2011

Lukas 19:45-21:38 memberi gambaran tentang pelayanan Yesus di Bait Allah. Dia datang sebagai Raja Israel, Mesias, kemudian menyucikan Bait Allah dan, seperti dikatakan dalam aa.37-38 dari perikop kita, Dia mengajar pada siang hari kepada “seluruh bangsa” (LAI “semua orang banyak”). Namun, 21:7-36, termasuk aa.34-36 dari perikop kita, tidaklah ditujukan kepada orang banyak melainkan kepada para murid (21:7). Dipicu oleh pernyataan provokatif dalam 21:6 bahwa Bait Allah akan dihancurkan, mereka bertanya tentang waktu dan tanda dari peristiwa itu.

Hal itu menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar tentang apa yang disimpulkan sebagai “hari itu” (a.34; LAI “hari Tuhan”), yakni hari kedatangan Kerajaan Allah (21:31). Dalam Injil Lukas, Kerajaan Allah, sama seperti biji sesawi dan ragi, mulai kecil tetapi berdampak besar (13:18-21). Bijinya tidak lain dari Yesus sendiri (8:10), tetapi antara pelayanan Yesus dan kedatangan Kerajaan Allah secara tuntas ada proses. Proses kedatangan Kerajaan Allah digambarkan dalam 21:7-36, dengan fokus pada waktu kehancuran Yerusalem. Proses kedatangan Kerajaan Allah ditandai dengan peperangan, gempa, penyakit, kelaparan dsb (21:11) serta penganiayaan (21:12). Hal-hal itu menjadi peringatan bahwa penggenapannya akan datang, sama seperti tunas pohon menandai kedatangan musim panas (di tempat-tempat yang ada empat musim). Dalam a.36 baik proses maupun puncak dirujuk, yaitu “semua yang akan terjadi” (proses, merujuk ke 21:7-36) dan “berdiri di hadapan Anak Manusia” ketika Dia datang kembali.

Jadi, walaupun “hari itu” merujuk terutama pada akhir dari proses itu, yakni ketika Yesus datang kembali, kita bisa melihat bahwa ada banyak hari-hari Tuhan kecil yang menyingkapkan apakah umat Allah menantikan kedatangan Kerajaan Allah dengan setia atau tidak. (Bandingkan 1 Yoh 2:18, di mana gagasan tentang adanya satu orang antikristus tidak terbatas oleh “satu” itu tetapi menyimpulkan bahwa sudah ada “banyak” yang berfungsi seperti antikristus itu, walaupun dalam rangka yang lebih terbatas.)

Oleh karena itu, peringatan Yesus tetap ada relevansinya bagi kita, entah puncaknya datang dalam waktu dekat atau tidak. Hari Tuhan disebut dalam a.34 “jatuh…seperti suatu jerat”. Jerat jauh lebih susah dihindari atau diluputkan jika kita menanggung beban yang berat. “Pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi” membebani hati. Seperti dalam perumpamaan tentang penabur benih (bnd. 8:14), hal-hal itu mencekik pertumbuhan iman. Dengan demikian, ketika masalah-masalah berat datang, kita tidak dapat bertahan.

Bagaimana caranya untuk mempersiapkan diri? Dalam a.36 dikatakan untuk berjaga-jaga dalam doa. Berjaga-jaga berarti bahwa doa kita terarah, sadar dalam waktu tenang dan aman bahwa kita harus siap untuk menghadapi waktu susah dan berbahaya. Doa berarti bahwa kita mengandalkan Allah untuk meluputkan kita. Apakah doa kita mempersiapkan kita untuk menghadapi tantangan yang berat? Atau doa hanya untuk menghibur jemaat yang sedang tidur?


Mazmur 122 Doa bagi umat Allah demi sesama

Februari 22, 2011

Mengapa ada sukacita ketika ada usulan untuk pergi ke rumah Tuhan (a.1)? Ketika peziarah sampai di Yerusalem (a.2) jawabannya jelas. Yerusalem “bersambung rapat”, artinya, biar semua yang lain di dunia ini hancur, Yerusalem akan tetap berdiri (a.3). Rumah Tuhan juga adalah tempat yang ditentukan Allah untuk bersyukur kepadanya (a.4). Yang disyukuri ialah pengadilan Tuhan, yaitu bahwa melalui raja-Nya Allah menata kembali dunia yang kacau (a.5). Jadi, boleh disimpulkan bahwa dalam Mazmur ini Yerusalem adalah pusat dunia dan benteng terhadap kehancuran dunia.

Oleh karena kedudukan Yerusalem yang demikian, ada kerinduan untuk mendoakan Yerusalem (a.6a). Yerusalem adalah pusat sentosa dan kesejahteraan (syalom), sehingga mendoakan Yerusalem berarti mendoakan semua yang mencintai Yerusalem dan yang ada di dalam lingkungannya (a.6b-7). Dalam a.8 saudara-saudara si peziarah barangkali termasuk pencinta Yerusalem, tetapi teman-teman (= sesama, Ibrani rea’) yang belum tentu orang Israel juga akan beruntung dari kesejahteraan Yerusalem. Di balik semuanya, Allah hadir di tengah Yerusalem, sehingga kebaikan bagi Yerusalem berarti Allah tetap hadir dan memberkati (a.9).

Bagaimana memahami Mazmur yang Yerusalem-sentris ini? Kita perlu mengingat bahwa fungsi Rumah Tuhan sudah diambil alih oleh Kristus sebagai tempat Allah hadir dan menata kembali dunia yang kacau ini. Sekarang jemaat adalah umat yang tinggal di sekitar Rumah Tuhan itu. Jadi, berdoa bagi Yerusalam berarti berdoa untuk jemaat. Hal itu bukan hanya untuk kebaikan jemaat. Sebagai sarana pembaruan dunia, jemaat yang sentosa, artinya, yang hidupnya mencerminkan Kristus yang hadir di tengahnya, adalah harapan semua orang, entah di dalam atau di luar lingkup gereja. Kita mendoakan gereja karena Kristus hadir di tengahnya sebagai sumber berkat bagi dunia.

Sukacita dan doa kita mencerminkan di mana pusat cinta kita. Dalam mazmur ini pusat cinta si peziarah adalah hadirat Allah di Yerusalem, atau dalam konteks PB hadirat Allah dalam Kristus di tengah jemaat. Cinta itu tidak bertentangan dengan cinta kepada sesama melainkan mendukungnya, karena di dalam Kristus ada berkat dan ada pengharapan bagi dunia. Kristus tidak kelihatan dan jemaat-Nya tersebar luas, tetapi dalam mazmur ini melalui mata si peziarah kita bisa membayangkan sukacita dan rasa kagum atas hadirat Allah di tengah umat-Nya.


1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas

November 3, 2010

Sepintas lalu perikop ini menyangkut hubungan timbal-balik antara suami dan istri. Tetapi jika dicermati, nasihat Petrus menyangkut dua keadaan yang berbeda. Aa.1-6 menyangkut seorang istri dengan pasangan yang belum percaya, sedangkan dalam a.7 pasangan si suami adalah sesama pewaris kasih karunia. Jadi, kedua-duanya merupakan penerapan dari 2:13-17, yang menyampaikan bahwa dalam kemerdekaan sebagai hamba-hamba Allah, orang-orang Kristen semestinya menjadi lebih baik dan berguna dalam masyarakat, bukan lebih kacau. Lembaga-lembaga seperti pemerintahan hanya disinggung di situ, tetapi kemudian Petrus menyoroti lembaga-lembaga dalam rumah tangga, yakni perhambaan (bnd. 1 Pet 2:18-25 yang dibahas beberapa minggu yang lalu), dan dalam perikop kita pernikahan. Kemudian, dalam 3:8 dst Petrus kembali ke soal persekutuan di tengah dunia yang tidak ramah, melanjutkan tema 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa”. Tema itu adalah penerapan dari identitas jemaat sebagai umat Allah (2:9-10) sebagai puncak penguaraian Petrus tentang Injil. Jadi, perikop kita adalah bagian dari penguraian Petrus tentang cara hidup yang baik sebagai kesaksian tentang Kristus.

Latar belakang budaya juga perlu dijelaskan sedikit. Pernikahan dalam budaya Yunani abad pertama tidak terlalu mengandung unsur persahabatan. Bagi laki-laki, istri menyangkut keturunan yang sah, sedangkan seringkali ada isteri muda untuk penghiburan dan/atau pelacur untuk kesenangan. Istri tidak sama dengan hamba, tetapi tetap dituntut taat kepada suami. Hal itu termasuk agama, dan seorang isteri dituntut mengikuti pola agama suaminya. Makanya, Petrus mengalamatkan isteri yang suaminya belum percaya, tetapi bukan sebaliknya karena jarang ada suami yang isterinya tidak mengaku ikut percaya. Jadi, dalam aa.1-6 kita belajar tentang cara bersaksi oleh bawahan dalam hubungan yang tidak seimbang, dan dalam a.7 kita belajar tentang pernikahan kristiani.

Kedua bagian itu masing-masing memiliki tujuan. Isteri menempatkan diri di bawah kuasa (artian harfiah dari kata yang diterjemahkan “tunduk”) suami yang belum percaya itu untuk memenangkan dia (a.1). Suami hidup dengan bijaksana, artinya, dalam pengetahuan bahwa isterinya teman pewaris dari kasih karunia, supaya doa jangan terhalang. (Apakah doa suami, doa suami dan isteri secara terpisah, atau justru doa keluarga yang dirujuk di sini tidaklah jelas, tetapi semuanya mungkin.) Aa.2-6 merupakan penjelasan dari a.1, yaitu menguraikan apa itu cara hidup yang baik. Oleh karena itu, usulan amanat teks sbb: Cara hidup yang baik dalam pernikahan dapat memenangkan suami yang belum percaya dan memperlancar doa keluarga. Judul “Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas” bisa menjadi bibit amanat khotbah.

Beberapa catatan sbb. 1) Bahasa “cara hidup yang baik” diambil dari 2:12, sebagai latar belakang dari perikop ini, di mana penempatan diri dari isteri dan hidup dengan bijaksana dari suami dicakup dalam bahasa itu. Satu alternatif ialah “Menghormati pasangan dalam pernikahan” dst. Kata hormat diambil dari 2:17, dan bisa mencakup penempatan diri oleh isteri, dan juga soal hidup dengan bijaksana oleh suami. “Cara hidup” dalam 2:12 merupakan terjemahan bahasa Yunani anastrofe yang dalam 3:1 ini diterjemahan “kelakuan”.

2) “Tunduklah” dalam a.1 berarti “menempatkan diri di bawah”, artinya, mengakui wewenang atasan. Dari akhir penjelasan dalam a.6, “tidak takut akan ancaman”, kita melihat bahwa maksudnya bukan bahwa isteri disuruh pasrah saja karena terlalu takut untuk melawan. Sebaliknya, dalam kasih kepada suami, yaitu dengan keinginan supaya dia dimenangkan bagi Kristus, isteri, dalam takut akan Allah, berusaha untuk menjadi isteri yang baik. Penguraian dalam aa.2-4 menunjukkan bahwa “isteri yang baik” diartikan sesuai dengan budaya pada saat itu, karena nasihat Petrus mirip dengan nasihat umum pada saat itu tentang perhiasan dsb. Tentu, nasihat umum itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Injil, dan Petrus melihat bahwa intisari nasihat itu cocok dengan apa yang diinginkan Allah (a.4 “di mata Allah”), dan juga sikap isteri-isteri dalam PL (aa.5-6a, perhatikan bahwa “-nya” dalam “anak-anaknya” dalam bahasa aslinya merujuk pada Sara, bukan Abraham). Tetapi dalam paling sedikit satu hal dia harus siap tidak taat kepada suaminya, yaitu dengan tidak ikut agamanya. Jadi, menjadi isteri yang dianggap baik oleh suami bukan soal ketakutan melainkan kesaksian.

3) Hal itu berarti bahwa nasihat bagi isteri itu bersifat kontekstual. Tidak tepat, misalnya, kalau a.3 dianggap melarang perempuan berdandan, karena yang ditujukan dalam nasihat umum di budaya itu bukan soal perhiasan an sich melainkan pencarian perhatian melalui berdandan. Orang bijak dalam budaya Yunani dapat membedakan karakter yang membawa keindahan ke dalam keluarga dari penampilan yang menarik perhatian bagi perempuan. Lebih lagi orang kristen yang mengalami pembaruan dalam batin. Namun, tidak semua perhiasan dapat dianggap penonjolan diri.

4) Sekali lagi, aa.1-6 tidak berbicara tentang keluarga kristen, melainkan tentang keluarga yang bercampur agama. Barangkali, isteri dan suami pernah seagama, entah agama Yahudi atau keagamaan Yunani-Romawi, tetapi isteri sudah jadi percaya kepada Kristus. Hal itu bisa juga terjadi di Indonesia, entah aluk todolo atau Islam atau agama yang lain. Tetapi, dalam konteks kekristenan sering ada suami yang mengaku kristen tetapi juga “tidak taat kepada Firman”, alias kristen KTP. Nasihat Petrus supaya tindakan dibiarkan berbicara lebih dulu mungkin bisa berguna sebagai alternatif dari isteri menegor suaminya terus. Rumah tangga adalah tempat orang paling ketahuan sifatnya. Jika Kristus terpancar di dalam kehidupan isteri, hal itu sulit diabaikan oleh suami (walaupun sebagian suami ternyata berhasil mengabaikannya).

5) Ada istilah “kekerasan rohani”, di mana (biasanya) suami tampil sangat saleh tetapi melecehkan isterinya terus melalui kritikan yang tidak berdasar. Suami yang dipengaruhi oleh budaya patriarkhis bisa sulit untuk menerima isterinya yang lemah dalam kedudukan sosial sebagai setara dalam pewarisan kasih karunia. Tetapi doa-doa suami seperti itu tidak akan diterima Allah (bnd. 3:12), dan ibadah keluarga tidak dapat dilakukan dengan tulus dalam suasana seperti itu.


Yoh 15:9-17 Sukacita dalam kasih

Maret 22, 2010

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal p.15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai kiasan yang berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, firman-Nya (ajaran-Nya) akan tinggal di dalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid, demi kemuliaan Allah Bapa (aa.7-8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal di dalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau supaya kita sadar atas landasan itu.

Aa.9-10 menempatkan kasih di dalam Allah sendiri. Dalam a.9, kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal di dalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam Injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Hal itu sesuai dengan Yoh 1:1, bahwa Kristus adalah Firman Allah, atau dalam kata lain, Yoh 1:18, bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Bapa-Nya. Saling mengasihi bukan soal berbagi dalam kasih manusia, melainkan berbagi dalam kasih Allah.

Jika dalam a.9 Yesus adalah Anak yang menyatakan Allah, dalam a.10, Yesus adalah manusia yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya (bentuknya jamak dalam bahasa aslinya). Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapkan aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus kepada kita, dan mengalir balik dengan kita menuruti perintah Yesus yang menuruti perintah-perintah Bapa. Menurut a.11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus, dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga berbagian dalam sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan / atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam a.9 kita tinggal di dalam kasih Yesus, dalam a.12 baru kita menjadi pelaku kasih Yesus. Perintah dalam a.12 berbentuk tunggal, sehingga kasih merupakan bentuk tunggal dari perintah-perintah dalam a.10. Ketaatan supaya tinggal di dalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih / ketaatan tadi.

Adakah perbedaan antara berbicara tentang kasih Allah (seperti banyak agama dan filsafat) dan berbicara tentang kasih Yesus? Dalam a.13 ada. Besoknya Yesus akan memberikan nyawa-Nya bagi murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat tajam tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama. Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata “sahabat” pada akhir a.13, Yesus masuk ke dalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. A.14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (a.15).

Aa.16-17 menyimpulkan pembahasan sejak a.1 tentang identitas murid-murid Yesus. Kita dipilih oleh Yesus, artinya bahwa Yesus yang menentukan agenda kita. Seandainya kita memilih Yesus, artinya bahwa Yesus menjadi bagian dari agenda kita, seperti konon banyak orang Toraja dulu-dulu yang memilih Yesus karena kekristenan dianggap cocok dengan dunia modern. Sebaliknya, Yesus memilih kita untuk agenda Dia, yaitu berbuah. Sekali lagi, agenda itu akan digenapi melalui doa. Dalam a.17 ujungnya diulang: semuanya akan terwujud dalam kasih kepada sesama.

Menurut adat lama Toraja (aluk), orang mengalami kehidupan ilahi dalam ritus-ritus tertentu, seperti ritus maro yang di dalamnya banyak orang kerasukan deata (roh, ilah) sehingga menjadi to ma’langi’ (“orang langit”; Volkman Feasts of Honor hlm. 55, di daerah Sesean tahun ’70an). Orang juga mau menjamin kesuburan melalui ritus dan melalui menghindar dari pemali (tabu). Kedua tujuan itu mungkin merupakan dua kerinduan terbesar yang mau dipenuhi oleh sebuah agama. Dalam Yohanes 15, keduanya tercapai dalam kasih. Saling mengasihi atas dasar menerima kasih Kristus adalah mengalami kehidupan ilahi. Saling mengasihi adalah berbuah. Jika kita adalah sahabat Yesus yang dipilih-Nya, mari kita memenuhi kedua kerinduan itu sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga sukacita kita penuh dan Allah Bapa dimuliakan.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Ayub 1:1-5 Kesalehan yang sejati

September 14, 2009

Tentu, perikop ini adalah pendahuluan bagi kisah Ayub, yang mulai berjalan pada a.6. Aa.1-3 memaparkan salah satu pokok inti dalam kisah ini, yaitu hubungan antara kebenaran (a.1, gambaran yang jelas dan padat mengenal bagaimana manusia yang benar) dan kesejahteraan (aa.2-3). Kebenaran Ayub sangat mencolok. Kata saleh menerjemahkan kata yang berarti sempurna. Jadi, ditekankan bahwa tidak ada alasan di dalam Ayub untuk dia dihukum. Namun, dia justru menderita dengan dahsyat dalam pp.1-2 ini, sehingga hubungan antara kebenaran dan kesejahteraan itu diputuskan dengan keras.

Aa.4-5 berfokus pada anak-anaknya, yang akan menjadi puncak kerugian Ayub dalam p.1 (aa.18-19). Jadi, sebagai perincian dari maksud di atas, kita melihat bahwa pengurbanan pun tidak menjamin keamanan orang-orang yang kita cintai.

Banyak kesalehan, dalam agama apapun termasuk kekristenan, merupakan usaha untuk menjamin kesejahteraan atau keamanan. Dengan demikian Allah menjadi alat (lihat aa.9-11), dihormati hanya karena kuasa-Nya. Dalam PB jaminan akan kesejahteraan ditunda sampai datangnya langit dan bumi yang baru (Rom 8:17). Jadi, pelajaran Ayub menjadi penting. Allah bukan sarana untuk kesejahteraan kita melainkan pokok dalam kehidupan kita.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.