Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


Luk 22:39-46 Menang atas pencobaan

Maret 26, 2009

Setelah diutus oleh Bapa-Nya ketika dibaptis dalam air dan oleh Roh Kudus (Lk 3:21-22), yang pertama-tama dihadapi Yesus bukan manusia (keagamaan Yahudi yang korup, penindasan kekaisaran Romawi) melainkan Iblis. Iblis tentu adalah makhluk, bukan ilah yang bersaing dengan Allah. Tetapi dalam ciptaan ada dua lapisan. Di balik yang kelihatan ada yang tidak kelihatan (Kol 1: 16). Istilah yang dipakai Paulus (singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa) menempatkan yang tidak kelihatan ini di dalam struktur-struktur kekuasaan manusia. Hal-hal seperti pemerintahan, perusahaan, sistem ekonomi dan politik sering menuntut kesetiaan yang selayaknya kepada Allah saja. Oleh karena itu, yang setia kepada Allah akan menghadapi pencobaan, apakah setia kepada Duit, Kuasa dalam berbagai bentuknya, atau kepada Allah.

Jadi, doa yang diajarkan Yesus memohon keselamatan dari pencobaan (Lk 11:4), dan ajaran-Nya tentang kehidupan pada akhir zaman menunjukkan pentingnya doa dan sikap waspada (Lk 21:34-36). Tetapi Yesus sendiri harus mengalahkan pencobaan untuk membuka jalan keluarnya. Pada babak pertama di padang gurun (tempat Israel dicobai) Yesus menang. Menjelang kematian-Nya, Dia harus menghadapi pencobaan untuk menyimpang dari jalan Bapa-Nya, dan juga mengajar murid-murid-Nya bagaimana menghadapi pencobaan.

Murid-murid-Nya mengikuti Yesus (a.39) ke taman Getsemane itu. Mereka disuruh untuk berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah “jatuh” bukan “terjatuh” (aslinya “masuk”, jadi aktif). Artinya bahwa akan ada pilihan, akan ada unsur kesengajaan, meskipun keadaan juga berpengaruh. Kemudian Yesus sendiri berpisah untuk menerapkan nasihat-Nya sendiri. Dia mengakui kedaulatan Allah yang bisa mengubah keadaan apapun, kemudian berserah pada kehendak Allah (a.42). Kehendak Allah berarti meminum cawan murka Allah (bnd. Yes 51:17 dan Yer 25:15; piala sama dengan cawan dalam bahasa aslinya). Aa.43-44 menggambarkan beratnya pencobaan ini, karena menghadapi murka Allah adalah menghadapi neraka. Setelah berdoa, Yesus berdiri dan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Tetapi murid-murid-Nya malah ketiduran. Mereka bisa mengikuti Yesus ke suatu tempat, tetapi belum sanggup mengikuti Yesus dalam menghadapi pencobaan. Sama seperti Israel, mereka gagal. Alhasil, banyak melarikan diri dan Petrus menyangkal Yesus.

Ketaatan kepada Allah bisa berarti bahwa kita akan menghadapi pencobaan yang berat. Dalam Kisah Para Rasul Lukas menunjukkan bahwa oleh kuasa Roh Kudus seorang murid bisa berani dan setia. Tetapi di sini kita belajar bahwa dasar harapan kita bukan kemampuan kita melainkan kemampuan Yesus, Juruselamat kita. Dia yang telah mengalahkan Iblis dan sebagai manusia sejati menempuh jalan ketaatan. Dia yang sudah meminum cawan murka Allah sebagai ganti kita. Oleh karena itu, kita berani belajar taat dan setia dalam menghadapi berbagai penguasa yang dipengaruhi oleh kuasa Iblis dan mencobai. Kemungkinan bahwa kita akan sering seperti Petrus yang menyangkali daripada Petrus pada Kis 5:41. Tetapi dalam kemenangan Yesus kita diampuni, dipulihkan dan dikuatkan untuk tetap berjuang dalam harapan.


Kebakaran di Australia

Februari 15, 2009

Sepertinya berita tentang kebakaran di Australia sampai di Indonesia. Lebih lagi, ada sejuta dolar dari pemerintah Indonesia yang dijanjikan untuk membantu korban. Banyak orang di Australia terperangah atas musibah ini. Saya sendiri kaget akan reaksi itu sampai saya membaca bahwa musibah ini yang terbesar sepanjang sejarah (orang putih di) Australia di luar masa perang. Mungkin saya terlalu lama di Indonesia, karena 200 lebih orang tergolong musibah sedang di Indonesia, sayangnya. Artinya bagi saya bahwa kedahsyatan yang dialami sekarang di Australia dialami berulang kali di Indonesia.

Musibah seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang tangan Tuhan di dalamnya. Di antara orang sekuler (seperti dunia Barat) orang berbicara tentang korban yang tidak bersalah, kemudian menuding Tuhan sebagai tidak adil (jika Tuhan disebutkan). Di antara orang beragama ada anggapan bahwa korbannya justru dihukum Tuhan.

Untuk memecahkan masalah ini, nas yang paling penting bagi saya adalah Lk 13:1-5. Menanggapi dua musibah—yang satu karena kejahatan manusia, yang satu karena kecelakaan—Yesus membantah kedua pendapat di atas. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain?”, kata-Nya. Pengandaian-Nya bahwa di hadapan Tuhan semua orang di Galilea adalah orang berdosa. Tidak ada korban yang tidak bersalah dalam artian tidak layak mati karena dosa. (Dalam artian tidak bertanggung jawab atas musibahnya, tentu ada korban tak bersalah.) Keadaan dunia yang secara umum sulit adalah akibat dosa manusia secara umum (demikian pesan Kej 3:17-19). Secara ekologis, teknologi manusia sudah menjadikan dosa kita (keserakahan, nafsu berkonsumpsi yang tak terkendali) penyebab langsung dari berbagai masalah bumi.

Tetapi yang dialamatkan Yesus di sini ialah orang beragama yang menganggap orang lain lebih berdosa karena kena musibah. Seakan-akan saya orang benar karena tidak kena! (Seringkali anggapan itu berlaku untuk musuh atau “orang lain”.) Tetapi menurut perkataan Yesus, mereka adalah orang berdosa, sama seperti kita. Hanya karena anugerah Tuhan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum kita juga meninggal (a.3).

Pesan kitab Wahyu sama, walaupun bentuknya lebih mengerikan. Malapetaka demi malapetaka digambarkan di dalamnya. Salah satu kunci terdapat dalam Why 9:20—”Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka”. Malapetaka bukan hukuman khusus untuk korbannya, melainkan peringatan bagi yang tersisa untuk kembali ke Tuhan.

Oleh karena itu, kasihan kepada korban itu tepat. Kita tidak layak untuk menambahkan hukuman kita atas hukuman Allah. Sebaliknya, semestinya kita tersadar, kemudian bertobat dan mulai mengasihi sesama, biar dia adalah musuh.


Zak 13:1-6 Tulisan Apokaliptik

Januari 23, 2009

Zak 9-14 agak sulit dipahami, karena tergolong tulisan apokaliptik, seperti yang juga ditemukan dalam kitab Wahyu (kata wahyu adalah terjemahan dari bahasa Yunani apokalypsis dalam Why 1:1) atau kitab Daniel. Sulitnya kadangkala bukan dalam gambaran yang dipakai, tetapi lebih pada persoalan rujukan. Misalnya, Zak 13:2-6 menyampaikan gambaran yang tidak terlalu sulit dibayangkan. Nama-nama berhala, serta nubuatan yang berkaitan dengannya, akan hilang karena sikap umat Israel yang sudah begitu berubah sehingga apa saja yang terkait dengannya dianggap memalukan. Seruan Hukum Taurat untuk melenyapkan nabi palsu (Ul 18:20) akan dijalankan oleh orang tua sendiri (a.3). Para nabi sendiri akan malu untuk mengaku bahwa mereka pernah terlibat dalam kegiatan itu, meskipun bekas lukanya mencurigakan (bnd. apa yang dilakukan nabi palsu dalam 1 Raj 18:28).

Sama juga, tidak terlalu sulit mengaitkan Zak 13:1 dengan salib Kristus, lebih lagi karena Yesus mengutip a.7 (lihat Mk 13:27). Tetapi, apa hubungan aa.2-6 dengan salib Kristus? Tidak jelas bahwa pada saat kematian Kristuslah hal-hal itu terjadi!

Seperti nubuatan PL yang lain, apokaliptik tidak digenapi pada saat tertentu saja, tetapi dapat digenapi berulang kali. Apokaliptik lebih memberi gambaran tentang sifat waktu daripada kronologi waktu. Sifat waktu yang ditekankan adalah perlindungan umat Allah di tengah dunia yang menentang Allah, seperti dilihat dalam Zak 12:1-9 dan p.14. Tetapi nubuatan Alkitab selalu mengakui keberdosaan umat Allah sendiri. Jadi, 12:10-13:9 membahas pemurnian umat Allah. Mereka akan menyesali kejahatan mereka (12:10-14), sehingga dosa dan noda dapat dihapus (13:1). Hal itu akan bermuara pada pertobatan yang meninggalkan pemberhalaan dengan tegas. Namun, akan tetap ada penderitaan untuk pemimpin dan para pengikutnya untuk menguji mereka (13:7-9).

Pola itu mungkin saja digenapi dalam berbagai gerakan pembaruan dalam sejarah Israel. Tentu, puncaknya terdapat dalam Yesus Sang Gembala, yang telah membuka sumber pembasuhan yang sungguh menanggapi soal dosa. Perhatikan bagaimana kedatangan-Nya dipersiapkan oleh seruan Yohanes untuk bertobat, dan dimulai dengan panggilan para murid Yesus yang diajar untuk meninggalkan berhala-berhala seperti uang dan kehormatan (lihat khotbah di bukit, Mt 6). Yesus sendiri memberi mereka ajaran yang bersifat apokaliptik sebelum Dia mati (lihat Mk 13), dan penangkapan dan pengadilan-Nya merupakan pengujian bagi murid-murid-Nya sesuai dengan semangat Zak 13:7-9.

Ajaran apokaliptik Yesus itu menunjukkan bahwa pola seperti Zak 13 ini masih berlaku bagi para pengikut-Nya sekarang. Jadi, “pada waktu itu” dalam aa.1, 2 & 4 merujuk pada waktu apa saja yang menuntut pertobatan umat Allah karena telah menyeleweng dari jalan-Nya. Dasarnya selalu adalah sumber pembasuhan seperti Zak 13:1, yaitu, kita berani bertobat karena Kristus telah mati bagi dosa kita. Yang mungkin paling tajam bagi kita adalah ketegasan pertobatan itu. Dosa terhadap Allah dianggap yang paling memalukan, dan begitu dibenci sehingga keluarga sendiri tidak luput. Ketika pengampunan Allah dianggap biasa saja dan rasa malu (jika masih ada) tertuju kepada keluarga dan masyarakat daripada Allah, perikop ini menjadi peringatan yang diperlukan.


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih nampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu penukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiring seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan pengembalian kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


1 Sam 14:44-46 Raja Saul tidak dapat diandalkan

Agustus 22, 2008

Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai “kerajaan imam” (Kel 19:6) supaya janji berkat bagi bangsa-bangsa terwujud (bnd. Kej 12:2-3). Namun, dalam kenyataan Israel menjadi wakil manusia dalam artian yang lain, yakni sebagai pendosa. Terus-menerus Israel bersungut-sungut, tidak percaya dan memberontak. Permintaan untuk memiliki raja adalah bagian dari pola itu. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa yang lain daripada bangsa yang kudus, dengan demikian menolak Allah (1 Sam 8:5-7).

Dalam pp.13-15 Saul tergambar sebagai raja yang tidak tegas, yang cepat mengalah jika rakyat mendesak. Dalam pp.13, 15 sifat itu bermuara pada ketidaktaatan kepada Allah. Dalam p.14 kegelisahan Saul ketika Israel terdesak dalam perang ditanggapi dengan kutuk yang bodoh. Dia tiba-tiba mau tegas pada awal nas kita, tetapi sekali lagi menyerah terhadap permintaan rakyat yang kali ini tepat. Kebodohan dan kelemahannya bercampur di sini. Saul sebagai raja ternyata satu watak dengan umat Israel. Meskipun dia diberkati Tuhan dalam perang (14:47-48), akhirnya dia ditolak Tuhan (p.15).

Sebaliknya, Yonatan adalah pemimpin yang berani dan mengandalkan Tuhan, seperti Daud yang menjadi sahabatnya. Namun, Daud juga jatuh ke dalam dosa, dan Salomo yang mengikutinya. Dalam cerita Alkitab secara keseluruhan, hanya satu yang menjadi orang Israel yang setia dan raja yang sejati, yakni Yesus Kristus.

Tentu melalui contoh buruk Saul dan teladan Yonatan kita dapat belajar tentang kepemimpinan yang semestinya dan menerapkannya kepada pemerintah dan gereja sekarang. Soalnya, kalau sekadar itu penerapannya, bukankah kita akan tenggelam dalam kekecewaan? Kalau seandainya koruptor diganti dengan orang yang lebih baik, toh orang itu juga terbatas. Kekurangan Israel terjawab bukan dengan negeri Indonesia (ataupun AS!) melainkan dengan Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus. Konsep kerajaan Allah bukan sekadar kiasan untuk pengalaman religius. Kristus yang bangkit dan diangkat ke sorga adalah Raja yang harus kita taati dan andalkan di atas pemerintah manusia. Dalam keberanian dan pengorbanan Dia seperti Yonatan dan Daud, malah lebih dari mereka karena Dia telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Jika Dia adalah raja kita, mungkin saja kita akan berani seperti bujang Yonatan untuk ikut dalam perjuangan terhadap hal-hal yang melawan Allah meskipun perjuangan itu secara manusiawi tidak memiliki harapan (14:7).

Selamat berjuang!


Yes 1:10-20 Mengapa menjemukan Allah?

Juli 11, 2008

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus yang mati belum tentu pemiliknya senang! Namun, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Baca entri selengkapnya »


Kis 5:1-11 Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan

Juni 25, 2008

Cerita tentang Ananias dan Safira yang menakutkan ini terletak antara gambaran tentang praktek membagi-bagikan harta kepada orang yang berkebutuhan dan komentar tentang tanda dan mujizat para rasul. Sama seperti peristiwa Akhan meperingati Israel di tengah suksesnya merebut tanah Kanaan (Yos 7), peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Sebagaimana pernah dikatakan, “di jemaat tempat orang lumpuh berjalan, pendusta mati”. Allah yang hadirat-Nya membawa keselamatan, pembaruan dan mujizat adalah Allah yang kudus.

Baca entri selengkapnya »


Neh 6:10-19 Seruan si pelayan

Juni 19, 2008

Nehemia tergerak untuk meninggalkan kesejahteraan sebagai juru minuman raja Persia (sekarang Iran) dan memimpin usaha untuk membangun tembok di Yerusalem, sesuatu yang akan sangat berdampak pada kesejahteraan dan keamanan kota itu. Begitu dia tiba sudah ada penentang. Sanbalat (2:10) adalah gubernur Samaria (bnd. 4:2). Tobias (2:10) mungkin adalah gubernur Amon, seperti cucunya seabad kemudian. Gesyem (2:19) adalah raja Kedar, dan mungkin menguasai perdagangan di daerah itu. Jadi, kedatangan Nehemia sebagai utusan sang raja Persia sendiri mengancam kuasa mereka. Pada awal p.6 mereka tetap berusaha supaya tugas Nehemia gagal.

Perikop ini menjelang puncak bagian pertama kitab Nehemia, karena tembok itu jadi dibangun. Keberanian dan kecerdikan Nehemia nampak ketika dia dapat mengenali muslihat musuh-musuhnya; barangkali sebagai juru mimuman raja dia sudah biasa berpolitik. Tetapi kemampuan itu dia pakai demi tujuan yang diembankan kepadanya oleh Allah.

Pada a.14 Nehemia mengeluhkan para penentangnya. Enam kali dia berdoa di tengah narasinya (5:19; 6:14; 13:14, 22, 29, 31). Soalnya, meskipun dia berhasil dalam tugas lahiriah untuk membangun tembok kembali, dia gagal dalam hal reformasi hati umat (demikian p.13). Ketika dia menulis, dia sadar bahwa upahnya hanya dari Tuhan, tidak ada hasil yang memuaskan. Kegagalannya bukan kesalahannya sendiri. Israel memang menunggu Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Pemimpin dalam jemaat (umat Israel yang sudah diperbaharui oleh Roh Kudus) tentu berharap lebih banyak pengalaman seperti sukses Neh 6 daripada kekecewaan Neh 13. Namun kita harus siap juga untuk melihat bagaimana suatu sukses dirongrong oleh kelemahan orang percaya bahkan jemaat yang mungkin belum percaya. Upah kita adalah dari Tuhan. Itulah sumber keberanian kita dan pengarah kecerdikan kita.


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL