Ul 6:1-9 “Belajar bersama keesaan Allah” (6 Mei 2012)

Mei 3, 2012

Teks ini (mudah-mudahan) lumayan terkenal, karena mengandung nas yang sentral dalam PL, yaitu aa.4-5. Kali ini, saya akan coba menafsirnya melalui lensa budaya Toraja, khususnya apa yang disebut “teologi tongkonan”, seperti ada dalam karya Th. Kobong, Injil dan Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menjadi pusat ritus-ritus keluarga besar, seperti yang terkait dengan pernikahan dan kematian. Kobong melihat Kristus sebagai pangala tondok Gereja, yaitu perintis atau cikal bakal keluarga yang berpusat di suatu tempat. Perintisan tongkonan mungkin terjadi ketika sang pangala tondok membawa keluarganya ke tempat yang baru, seperti Abraham membawa keluarganya ke Kanaan. Di situlah dia menjadi pemelihara dan penopang kehidupan keluarga (uainna ditimba [airnya ditimba] dsb), dan juga penentu adat (alukna dipoaluk [adat/agamanya dianut]), sama seperti Abraham menentukan ibadah kepada Allah serta sunat bagi keluarganya.

Penggalian Teks

Jika keluaran Israel dari Mesir dicermati, kita melihat pola yang sama. Setelah menyelamatkan mereka dari Mesir (Ul 5:6), Allah mengikat Israel menjadi satu keluarga besar/persekutuan tongkonan dengan Dia melalui perjanjian di gunung Sinai/Horeb (5:2). Dia menentukan aluk mereka (5:6-21), kemudian memelihara mereka sambil membawa mereka ke tempat baru, tanah perjanjian. Dalam perikop ini, Musa (yang ditunjuk sebagai perantara antara Israel dan Allah, karena Israel ketakutan melihat Allah, 5:23-33) sedang berbicara kepada umat Israel yang ada di pelataran Moab, di seberang sungai Yordan dari tanah yang dijanjikan Allah.

Makanya, dalam aa.1-3, Musa mengingatkan Israel tentang tujuannya, “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Ketetapan, peraturan, perintah dan kata-kata sejenisnya tidak merujuk pada suatu hukum positif, melainkan menunjukkan bagaimana Israel akan hidup dalam karapasan (kedamaian) dengan Allah di tanah perjanjian itu (aa.2-3). Karena ikatan perjanjian itu, karena Israel telah dijadikan tongkonan Allah oleh anugerah, Israel dan Allah telah menjadi senasib. Ketaatan dan kesejahteraan Israel membawa kesenangan dan kemuliaan bagi Allah sendiri. Pada saat Musa berbicara, mereka belum sampai di tanah perjanjian itu, tetapi mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan tujuan itu, bukan sesuai dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka di Moab.

Dalam aa.4-5, Musa mengingatkan Israel tentang pusat kesejahteraan mereka, yaitu Allah sendiri. Jika kita berbicara tentang masyarakat Toraja, sebenarnya ada beberapa persekutuan yang di dalamnya seseorang dapat menemukan dukungan dan kepentingan bersama, dan dalam kepercayaan lama ada juga beberapa sumber ilahi: nenek moyang, dan berbagai dewa. Bilamana kehidupan manusia bergantung pada beberapa sumber, maka kesetiaan dan kasih manusia pasti akan terbagi juga. Tetapi Allah itu tunggal, esa. Makanya, seluruh eksistensi orang Israel dituntut untuk terarah pada Dia saja. Sebagai Pangala tondok, Allah bukan sekadar penopang kehidupan, tetapi juga pusat kehidupan. Rencana dan tujuan (“hati”) disesuaikan dengan rencana dan kehendak Allah. Seluruh hayat dan hasrat (“jiwa”) dikaitkan dengan Allah. Kita rindu akan firman-Nya, suka beribadah kepada-Nya, dan ingin untuk menikmati segala pemberian yang baik sebagai anugerah daripada-Nya (Yak 1:17). Karena seluruh kehidupan kita berpusatkan Allah, seluruh tenaga dan tingkah laku (“kekuatan”) ditujukan kepada Dia.

Semuanya itu begitu pokok bagi kehidupan Israel sehingga Musa menyampaikan bebarapa langkah supaya pemahaman itu dapat membudaya (aa.6-9). Harus ada perhatian, pengajaran kepada generasi berikut, pembicaraan di mana saja, serta berbagai tanda yang dapat menjadi pengingat. Kegenapan dalam a.5 tidak akan terjadi dengan introspeksi diri, tetapi akan terwujud dalam saling mendorong.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel menikmati dan menghayati relasi dengan Tuhan di tanah perjanjian yang lebih erat daripada relasi antara pangala tondok dengan persekutuan tongkonan-nya. Dia mau supaya Allah menjadi satu-satunya Penopang kehidupan mereka, dan satu-satunya Penentu dan Pengarah kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, dia menyuruh mereka untuk saling mengajar dan menguatkan.

Makna

Ada manfaat tertentu dari usaha teologi kontekstual ini yang saya rasakan, walaupun saya tidak lahir dan besar di Toraja, yaitu, adanya gambaran yang konkret tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya. Banyak orang memperlakukan Allah dengan semacam penipuan. Mereka menghadapi Allah dengan ratapan dan tangisan ketika bergumul (konon, orangtua Toraja sangat susah menolak permintaan yang demikian dari anak-anaknya), tetapi rencana, cita-cita dan tenaga tetap berpusat pada diri sendiri. Mereka belum menangkap bahwa tanah yang dijanjikan Allah itu baik, lebih baik daripada berhala-berhala yang mereka kejar seperti gengsi. Kelebihan itu terutama bahwa Allah sendiri ada di pusat tanah itu. Dialah yang paling layak dikasihi.

Tentu, jika kita memikirkan perjalanan menuju tanah perjanjian dalam konteks PB, kita akan memikirkan jalan kita menuju langit dan bumi baru, dan Ibrani 4 dengan jelas menyejajarkan kedua hal itu. Tetapi hidup kekal dapat dinikmati sekarang juga, dengan mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus (Yoh 17:3) oleh kehadiran Roh Kudus (Yoh 14:15-20). Bahasa Paulus agak lain—Roh Kudus adalah karunia sulung dari ciptaan baru (Rom 8:23; bdk. Gal 3:14)—tetapi maksudnya sama. Dalam PB, kelimpahan juga ditafsir ulang. Buah kita adalah buah Roh (Gal 5:22-23), perubahan hidup, serta orang-orang yang dituai bagi Tuhan (Mt 9:35-38). Tetapi prinsipnya sama. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati sejauh mana kita melihat bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang paling baik, ketika Allah bukan di pinggir melainkan di pusat kehidupan kita.

Namun, ada satu aspek dari teologi tongkonan itu yang dapat dipertanyakan. Bukankah budaya Toraja dan banyak budaya sejenis merupakan budaya timbal-balik, do ut des, “saya memberi supaya kauberi”? Bukankah budaya itu akan dibawa masuk ke dalam kehidupan bergereja jika teologi seperti itu dipakai? Pertanyaan itu adalah penting, tetapi harus didasarkan pada analisis yang tepat. Yang disebut “timbal-balik” bisa saja sesuatu yang hakiki dalam sebuah relasi, bukan bukti akan sikap do ut des. Orangtua membantu anaknya ketika masih kecil dan tidak berdaya, dan anaknya pada gilirannya membantu orangtuanya ketika mereka sudah tua dan tidak berdaya. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, sekalipun unsur seperti itu bisa masuk. Dua keluarga dalam sebuah tongkonan masing-masing membawa hewan ke upacara keluarga yang lainnya, sehingga masing-masing mencapai tingkat upacara yang tidak akan terjangkau jika setiap keluarga berusaha sendiri. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, walaupun mungkin agak sering unsur itu masuk. Sebenarnya, do ut des dapat mencemari semua relasi manusia berdosa. Dalam budaya modern, do ut des menjadi paling canggih, karena segala do dan des diukur dengan uang, sehingga dapat dibanding-bandingkan dengan sangat persis. Namun, Alkitab berani menyebut Allah sebagai Raja, meskipun budaya kerajaan dalam PL dan PB sarat juga dengan do ut des. Alkitab berani melakukan hal itu karena Allah tidak sekadar Raja atau Pangala tondok, Dia juga adalah Penebus yang menyelamatkan Israel sebelum mereka berbuat apa-apa, yang menyelamatkan kita ketika kita masih musuh (Rom 5:8-10). Tidak ada pemberian kita yang layak dibandingkan dengan pemberian Allah itu, anugerah menghancurkan semua perhitungan do ut des itu. Namun, kita diselamatkan supaya berelasi dengan Dia, dan untuk hal itu harus ada timbal-balik, kebergantungan dan ketaatan dari kita kepada Allah yang dibalas juga dengan pemberian-pemberian Allah, terutama kedekatan dengan Dia, tetapi juga banyak hal yang lain. Dengan demikian, makin lama, makin kuat relasi kita dengan Pangala Tondok kita.

Sebenarnya, kasih kepada Allah yang Esa adalah solusi yang paling ampuh terhadap masalah do ut des itu. Yang diharapkan dan didambakan ialah Allah, sehingga manusia tidak usah terlalu dituntut. Do ut des adalah gejala manusia berdosa yang belum mengasihi Allah sepenuhnya.

Sikap seperti itu tidak terjadi secara spontan, sehingga Musa berbicara tentang Israel sebagai semacam masyarakat pembelajaran, community of learning. Fokusnya adalah anak-anak, tetapi jangan sampai ada anggapan bahwa orangtua sudah tahu. Cara yang paling cepat untuk jemaat dewasa bertumbuh dalam pengetahuan firman Allah ialah bila dalam setiap keluarga orangtua rajin mengajar anaknya. Perlu juga diingat apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak yang melihat orangtuanya berdoa di gereja tetapi tidak berdoa di rumah menarik kesimpulan yang logis saja tentang wilayah kuasa Allah. Bahkan, penelitian di dunia Barat memberi bobot yang lebih tinggi pada peran ayah dalam keluarga. Jika anak-anak melihat iman yang nyata dari ayah dalam seluruh aspek kehidupannya, kemungkinan lebih besar mereka juga akan memiliki iman yang jelas.


Ef 6:10-20 Kesiapan Memberitakan Injil (25 Mar 2012) [Sengsara VI/Puncak Pekan PI]

Maret 23, 2012

Perikop ini merupakan kesimpulan penguraian Paulus kepada jemaat-jemaat di kawasan Efesus. Jika pada umumnya konteks penting diperhatikan, dalam perikop ini setiap kalimat merujuk pada hal-hal yang telah dibahas dalam surat ini. Makanya, ada banyak ayat rujukan yang, jika dibaca, dapat memperjelas maksud Paulus. Saya memberi fokus pada satu nas, yaitu a.15, cocok dengan tema Pekabaran Injil dalam Gereja Toraja.

Penggalian Teks

Bahwa perikop ini adalah kesimpulan dilihat dalam kata awal, “akhirnya”. Aa.10-12 menyampaikan bahwa kita berada dalam sebuah perjuangan. Apa perjuangan itu? Ternyata bukan melawan manusia melainkan “pemerintah-pemerintah” dsb. Kata “pemerintah”, “penguasa” dan “penghulu dunia” biasanya dipakai untuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang lain yang berpengaruh dalam masyarakat. Tetapi dalam a.11, Paulus berbicara tentang tipu muslihat Iblis. Hubungannya dapat dilihat dalam 2:2. Iblis bekerja melalui kehidupan “orang-orang durhaka”. Lembaga-lembaga duniawi adalah pemberian Allah untuk kebaikan kita (bdk. Rom 13), tetapi karena terdiri atas manusia, selalu terpengaruh oleh kuasa jahat. Hal itu jelas ketika kita melihat pemimpin yang baik tetap tidak berdaya untuk membersihkan pemerintahannya sendiri. Jadi, kita melawan bukan oknum-oknum melainkan kejahatan yang tersistem karena kepentingan manusia yang diilhami kuasa Iblis. Dilihat demikan, adalah jelas mengapa kita tidak bisa berhasil dalam kuasa sendiri.

Jika perjuangan itu melawan kuasa Iblis, apa tujuannya? Dalam 1:10 Paulus memberitahu rencana Allah untuk “mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Kita menjadi bagian dari rencana itu dengan percaya pada berita Injil (1:13) sehingga dimeteraikan di dalam Kristus oleh Roh Kudus (1:14). Dengan demikian, ada kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja di dalam kita yang memegang harapan di dalam Kristus (1:18-21). Halangan untuk rencana itu adalah dosa, dosa karena dunia, Iblis dan hawa nafsu sendiri (2:1-3). Tetapi Kristus telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia (2:8), sehingga kita diperdamaikan dengan Allah dan seorang dengan yang lain (2:11-22). Dengan Kristus diberitakan, hikmat Allah diperlihatkan kepada penguasa-penguasa dalam jemaat sebagai hasil penginjilan (3:10). Oleh karena semuanya itu, Paulus berdoa supaya mereka dikuatkan dengan mengenal kasih Kristus (3:14-21), kemudian memberitahu bagaimana hidup sebagai tubuh, hidup jujur sesuai kebenaran di dalam Kristus (p.4:25), dan berjuang terhadap kegelapan (p.5).

Jadi, seluruh surat berbicara tentang Injil dan implikasinya, sehingga tidak kebetulan jika perlengkapan senjata dalam aa.13-17 menyangkut Injil: kebenaran, keadilan, Injil, iman, keselamatan, dan firman Allah. Kita berperan di dalam rencana Allah dengan senjata Allah sendiri; kita melawan semangat Iblis yang muncul melalui hawa nafsu pribadi dan kepentingan sosial/politik, dengan cara Allah sendiri melawannya, yakni, dengan Kristus sebagai pusat.

Dari segi penyusunan kalimat dalam bahasa aslinya, ada dua kata kerja utama yang menyangkut perlengkapan senjata Allah itu. Yang pertama adalah “berdirilah” (a.14). Pada perintah ini tergantung empat partisip: berikatpinggangkan, berbajuzirahkan, berkasutkan dan pergunakan. Ketiga kata kerja yang berbentuk “ber…kan” menyangkut tiga pakaian yang dikenakan pada dirinya sendiri (makanya bentuknya aoris midel, antara aktif dan pasif), atau dengan kata lain, sifat orang. Mengatakan apa yang benar (LAI “kebenaran” = aletheia, dipakai dalam 4:25) dan melakukan apa yang benar (LAI “keadilan” = dikaiosune, biasanya diterjemahkan “kebenaran”) menjadi dasar untuk kesiapan (LAI “kerelaan”, tetapi kata hetoimasia menyangkut persiapan atau perlengkapan, bukan sekadar kerelaan) pergi memberitakan Injil (a.15). Tetapi sifat-sifat itu akan percuma kecuali dengan iman kita menangkis godaan-godaan Iblis, seringkali dalam bentuk tuduhan dan keraguan yang merongrong semangat dan fokus.

Kata kerja kedua adalah “terimalah” (a.16). Keselamatan (bdk. 2:8) dan firman Allah (bkd. 3:3-5) bukanlah sifat kita melainkan pemberian dari Allah. Keselamatan kita tidak bergantung pada keberhasilan kita dalam perjuangan ini; rencana Allah juga tidak bergantung pada keberhasilan kita. Namun, jika kita percaya kepada Kristus, kita menjadi sasaran Iblis—apakah dalam bentuk hawa nafsu yang tidak mau diam, atau kepentingan politik/sosial yang terancam oleh kebenaran di dalam Kristus. Tanpa keyakinan tentang keselamatan dalam Kristus, kita akan rentan. Akhirnya, senjata kita adalah firman Allah—bukan koneksi politik, bukan uang, bukan kedudukan dalam masyarakat. Senjata ini mulai dengan kebenaran dan berakhir dengan sumber kebenaran, yaitu firman Allah.

Adalah cocok bahwa kesimpulan yang mulai dengan seruan untuk kuat di dalam Tuhan berakhir dengan seruan untuk berdoa (aa.18-20). Allah melibatkan manusia dalam rencana-Nya untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, dengan memakai mulut manusia untuk memberitakan Injil. Tidak semua dapat pergi, tetapi semua dapat berdoa. Doa di sini bukan manusia membujuk Allah untuk memajukan kepentingan manusia, melainkan manusia bekerja sama dengan Allah untuk memajukan kepentingan Allah, baik dalam pertumbuhan gereja (a.18 “untuk segala orang Kudus”) maupun untuk para penginjil (aa.19-20). Tentu, maksud saya adalah kepentingan manusia yang diilhami Iblis (hawa nafsu, dunia), karena dalam Kristus kepentingan manusia yang sejati justru ditemukan.

Maksud bagi Pembaca

Dalam konteks rencana Allah untuk segala sesuatu, yakni dipersatukan di dalam Kristus, Paulus menyampaikan gambaran yang mencolok tentang peran kita. Iblis melawan rencana Allah, dan mau tidak mau kita terlibat. Dibungkus kekuatan Allah dan doa, diperlengkapi dengan implikasi-implikasi Injil, kita akan dimampukan untuk terlibat dengan baik dalam kemajuan rencana Allah itu dengan memberitakan Kristus, walaupun diganggu terus-menerus oleh tipu muslihat Iblis.

Makna

Satu latar belakang untuk a.15 adalah Yes 52:7. Yesaya membayangkan seorang pembawa berita yang memberitakan bahwa Allah itu Raja, karena Israel akan segera kembali dari pembuangan. Pembuangan Israel itu karena dosa, dan PB memahami bahwa semua dosa adalah pembuangan, penjauhan dari Allah. Yesus sendiri merujuk pada nas ini ketika Dia memberitakan bahwa Kerajaan Allah itu dekat. Efesus 2 yang dibahas tadi menunjukkan bagaimana Allah telah mengalahkan dosa sehingga Kerajaan Allah sedang diwujudkan di dalam Kristus.

Jadi, “kerelaan [kesiapan] untuk memberitakan Injil” menyangkut dua hal. Yang pertama ialah hidup yang telah diubah oleh Injil sehingga dicirikan oleh perkataan dan tingkah laku yang benar, seperti dibahas di atas. Yang kedua adalah hati yang menganggap berita itu indah, seperti dalam Yes 52:7.

Satu aspek lagi dalam rangka kesiapan adalah kemampuan untuk menjelaskan Injil. Terlalu banyak orang terbatas pada kesaksian hidup karena tidak sanggup menguraikan iman mereka, dan jika demikian, ada kemungkinan bahwa kesaksian hidup mereka juga tidak terlalu jelas. Satu jawaban terhadap masalah itu ialah program pembinaan seperti Kambium, yang sedang dikembangkan di kalangan Gereja Toraja.


Mat 15:7-20 Kenajisan yang sebenarnya (11 Mar 2012) [Sengsara IV]

Maret 10, 2012

Perikop ini menyangkut dua pola berpikir, yang satu diwakili oleh orang Farisi, yang satu diwakili oleh Yesus. Perbedaan itu dapat diringkas sebagai pendekatan batiniah (dosa di hati) melawan jasmani (kenajisan lahiriah), tetapi bagi saya perbandingan itu belum tajam. Bahkan, saya akhirnya mengusulkan bagaimana konsep kenajisan (terkait dengan pemali) tetap bisa dipakai. Sebagai catatan, pembacaan Membangun Jemaat dimulai pada a.7, tetapi agar perikopnya dapat dimengerti, pembahasan harus dimulai dari a.1, karena a.20 menjawab pertanyaan orang Farisi dalam a.2.

Penggalian Teks

Perikop ini terdapat dalam bagian 11:2-16:12, yang menguraikan berbagai respons terhadap Yesus, setelah agenda Yesus (yakni, Kerajaan Allah) dipaparkan dalam pp.4-10. Pada satu segi ada perlawanan dari orang-orang Farisi meningkat, pada segi yang lain pemahaman para murid meningkat, walaupun dengan sangat lamban. 11:25-27 meringkas maksud Allah di balik itu—orang bijak tidak dapat menangkap siapakah Yesus, sedangkan orang kecil bisa. Di antara para murid Yesus dengan orang Farisi terdapat orang banyak. Kepada mereka Yesus menggunakan perumpamaan untuk memberitakan Kerajaan Allah, sesuai dengan nubuatan PL (13:10-17 yang mengutip Yes 6:9-10; 13:34-35 yang mengutip Mzm 78:2). Yang degil hati tidak akan memahami Yesus, sedangkan yang siap (tanah yang baik, 13:23) akan menerima pemberitaan Yesus dengan baik. Dengan demikian, perumpamaan menjadi semacan penyaring, sehingga kehadiran Yesus membedakan antara lalang dan gandum (13:24-30); antara ikan yang baik dan yang tidak baik (13:47-50). Perikop kita melanjutkan tema pembedaan ini.

Perikop ini terdiri atas empat adegan. Dalam aa.1-9 Yesus dan orang Farisi bertengkar soal adat istiadat. Dalam aa.10-11 Yesus menyampaikan perumpamaan kepada orang banyak. Dalam aa.12-14 para murid dan Yesus membicarakan orang-orang Farisi. Dalam aa.15-20 perumpamaan itu dijelaskan kepada para murid.

Inti persoalan adalah kenajisan. Dalam a.2 ternyata murid-murid Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan, suatu tindakan yang dianggap najis oleh orang Farisi. Orang Farisi mau menerapkan standar kekudusan untuk imam (bdk. Kel 30:18-21) kepada semua umat Israel, dengan harapan bahwa dengan demikian Allah akan menerima Israel dan menyelamatkannya. Kepada para pengajar itu Yesus menyerang cara mereka berteologi sehingga tradisi turun-temurun mereka meminggirkan firman yang tertulis dalam Alkitab (3). Orang Farisi percaya bahwa tradisi itu berasal dari Musa dan sepadan dengan Taurat, tetapi Yesus memperlihatkan contoh orangtua di mana ketentuan-ketentuan itu meniadakan perintah Allah (4-6). Dengan demikian mereka menjadi orang munafik, sama seperti Israel pada zaman Yesaya (7). Hormat bagi Allah ada di bibir mereka, tetapi hatinya jauh (8). Ternyata, adat istiadat itu tidaklah netral, tetapi berfungsi untuk menyatakan kejauhan dari Allah. Perintah Allah yang tidak disukai diganti dengan ketentuan manusia (9). Jadi, di sini Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan orang Farisi, tetapi menjawab dasar yang salah dari pertanyaan itu. Yang menolak Yesus, menolak karena hatinya jauh dari Allah. Orang bijak (seperti dalam 11:25 tadi) menolak Yesus karena kepintarannya dipakai untuk menghindar dari Allah.

Kepada orang banyak Dia menawarkan perumpamaan, sesuai dengan 13:10-17 tadi. Pokok dari perumpamaan ini adalah kenajisan. Bagian pertama cukup jelas. Yesus menyangkal bahwa apa yang masuk ke dalam mulut, yaitu, makanan haram, atau makanan yang dimakan dengan tangan yang tidak dicuci, dapat menajiskan. Bagian kedua perumpamaan ini kurang jelas. Apa itu yang “keluar dari mulut”? Ludah? Muntahan? Nafas? Perkataan? Artiannya tidak disampaikan kepada orang banyak, tetapi sesuai dengan 13:11, Yesus menjelaskannya kepada para murid dalam aa.12-20. Orang banyak yang rindu untuk belajar harus bergabung dengan Yesus untuk dapat mengerti.

Yang pertama, Dia menjelaskan sikap-Nya tentang orang Farisi (aa.12-14). Para murid kelihatan kaget bahwa Yesus berbicara begitu keras sehingga orang Farisi tersinggung dan marah (itu maksudnya “batu sandungan” di sini), tetapi Yesus menjelaskan bahwa mereka telah kehilangan tempatnya dalam rencana Allah. Menurut Rom 2:19, orang Yahudi menganggap diri “penuntun orang buta”, dan tugasnya adalah menuntun orang keluar dari “lobang”, tempat hukuman Allah menurut Yes 24:17-18. Anggapan itu sesuai dengan tugas Israel dalam PL untuk menjadi terang. Tetapi karena kaum Farisi ini buta, mereka malah membawa orang kepada hukuman itu. Mereka termasuk lalang yang tidak ditanam Allah, bukan gandum yang ditanam Allah (13:24-25). Mereka kehilangan bagian mereka dalam kedatangan Kerajaan Allah.

Yang kedua, Yesus menjelaskan kepada para murid makna dari perumpamaan itu. Pertanyaan Petrus memicu teguran sedikit, sesuai dengan kelambanan para murid untuk menangkap siapa Yesus. Namun, Yesus dengan sabar memberi penjelasan. Yang masuk ke dalam mulut memang adalah makanan, yang berjalan sampai dibuang lagi. Yang keluar dari mulut berasal dari hati, jadi, maksudnya kata-kata. Kata-kata adalah luapan dari hati, tetapi perlu diperhatikan bahwa a.18 berbicara tentang berbagai dosa, bukan hanya dosa perkataan. Jadi, perumpamaan itu memang adalah perumpamaan. Semua hal yang terkait dengan kenajisan lahiriah diwakili oleh makanan yang masuk ke dalam mulut, sedangkan semua hal yang terkait dengan hati diwakili oleh perkataan yang keluar dari mulut.

Sesuai dengan penekanan-Nya terhadap firman Allah, Yesus beranjak dari hukum keenam sampai kesembilan (a.19). Hukum kelima sudah Dia bela dalam aa.4-6. Menarik bahwa zinah ditambah dengan percabulan, sehingga jelas bahwa hukum ketujuh menyangkut semua dosa seksual. Sumpah palsu juga ditambah dengan hujat. Maksud dari hukum kesembilan ini adalah kedudukan atau reputasi orang di dalam masyarakat. Kesaksian palsu (disertai dengan sumpah dalam konteks pengadilan) menjatuhkan orang yang tidak bersalah, dan hujat (termasuk fitnah, kutuk dsb) bermaksud sama. Sama seperti dalam Yak 3:9, orang memuji Allah dengan bibirnya, tetapi menghujat sesama. Pelanggaran-pelanggaran ini berasal dari hati, bukan dari apa yang dimakan, dan tidak bersangkut paut dengan soal mencuci tangan (a.20).

Demikianlah penjelasan Yesus kepada para murid. Dari bagian-bagian sebelumnya, kita dapat melihat bahwa bahkan terhadap Taurat, khususnya di sini aturan-aturan tentang kenajisan, Yesus membawa pola baru. Otoritas-Nya atas penyakit, setan-setan, dosa, kelaparan, bahkan badai, ternyata sampai mencakup hukum Allah sendiri. Makanya, tidak mengejutkan jika tidak lama kemudian Petrus dapat mengaku bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Makanya, Yesus sendiri akan memerintah para murid untuk mengajar bangsa-bangsa untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan.

Maksud bagi Pembaca

Matius mau memperlihatkan otoritas Yesus untuk menentukan hukum Kerajaan Allah, dalam hal ini terkait dengan soal kenajisan. Dia mau supaya pembaca memilih jalan Yesus, yaitu, mencari penyucian hati sehingga hukum Allah terwujud dalam kehidupannya. Dia juga memberi peringatan kepada semua orang “bijak”, termasuk para pemimpin jemaat, untuk tidak meniadakan firman Allah dengan pemahaman lunak yang membenarkan dosa.

Makna

Perikop ini termasuk kritikan agama yang paling keras dalam Alkitab, yaitu bahwa agama dapat dipakai untuk justru tidak taat kepada Allah. Sebagai makhluk, manusia membutuhkan Allah, tetapi tidak mau menyerahkan kendali kehidupan kepada-Nya, alias percaya. Tetapi Allah tidak berdiam diri terhadap hal itu. Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan lebih lagi Anak-Nya, Yesus Kristus, memberitahu manusia supaya memperbaiki apa yang sebenarnya rusak, yaitu hati, bukan memasang sistem manusia di mana ada bayangan dari pertobatan yang tidak menyentuh hati yang sakit itu. Ajaran lisan yang diwarisi oleh orang Farisi menyangkut banyak hal, seperti tidak memetik gandum atau menyembuhkan orang pada hari Sabat, yang sebenarnya tidak salah. Ketika orang melanggar aturan itu dan “bertobat”, dan lebih lagi ketika hal-hal itu tidak dilanggar, orangnya merasa bahwa dia menyatakan ketaatan kepada Allah. Tetapi, pada saat yang sama dia merendahkan orang-orang “berdosa” (orang-orang yang tidak mengikuti perangkat aturan itu), membenci musuhnya, dan mencari pujian manusia. Dia rajin dalam menaati peraturan manusia, tetapi hatinya busuk. Gambaran tentang orang Farisi itu menyampaikan suatu pola beragama yang tidak asing dalam sejarah Gereja, bahkan semestinya menggelitik kita semua. Semangat untuk menjadi “orang beres” harus selalu diuji, apakah berasal dari iman kepada Allah karena dibenarkan secara cuma-cuma atau dari keinginan untuk menjadi beres karena mau memiliki kebenaran sendiri. Jika berasal dari iman, kita akan mengasihi orang-orang yang tidak beres dan menyerang hal-hal dalam hati sendiri yang menghalangi kasih itu. Jika berasal dari keinginan untuk beres, kita akan takut terhadap keberadaan orang-orang yang tidak beres sehingga menjadi sangat sulit untuk mengasihi mereka.

Para antropolog mengartikan “semangat untuk menjadi orang beres” sebagai kerinduan, bahkan kebutuhan, akan keteraturan. Manusia tidak dapat hidup dalam kekacauan dan kerancuan makna. Budaya lisan (sering disebut primitif, tetapi sebenarnya budaya-budaya itu kompleks, hanya tidak ada atau tidak banyak yang dapat membaca) cenderung menyimbolkan ketertiban dan kekacauan dalam bentuk tabu (pemali dalam bahasa Toraja) yang pelanggarannya menimbulkan kekacauan, dan ritusnya menghapus kekacauan itu. Walaupun dari satu segi tabu-tabu itu terasa sembarang (mengapa daging babi dilarang, dan bukan daging kambing?), akan tetapi biasanya ada berbagai nilai tertanam di dalamnya. Kitab Imamat mencerminkan pola berpikir budaya lisan, tetapi semua “tabu” dikaitkan dengan Allah yang Esa, bukan lagi dengan roh-roh, nenek moyang dan berbagai dewa-dewi. Kemudian, kondisi manusia di hadapan Allah digambarkan dengan tiga tingkat: najis, tahir dan kudus. Najis adalah kondisi kacau yang mengancam keberadaan Allah di tengah umat-Nya. Tahir adalah kondisi manusia yang sudah dapat diterima oleh Allah. Kudus adalah kondisi manusia yang bisa dekat dengan Allah. Yang disimbolkan dengan kenajisan bukan hanya dosa tetapi juga maut, seperti penyakit kulit yang mirip dengan mayat. Melalui apa yang disimbolkan dalam sistem kenajisan, Israel bisa belajar tentang Allah yang kudus dan pro-hidup, dan bisa juga ikut berperang terhadap kuasa dosa dan maut.

Sistem dalam Imamat tidak bermaksud untuk menyampaikan cara beribadah yang lepas dari ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama (bdk. Imamat 19). Tetapi manusia memiliki kemampuan yang hebat untuk melupakan jiwa dari perangkat peraturan dan menerapkan hukum positif. Bagi orang Farisi, sebagaimana digambarkan dalam Injil-Injil sebagai peringatan bagi kita, sistem kenajisan telah menjadi pokok. Bahkan, tradisi lisan menambahkan aturan-aturan baru, baik untuk memagari peraturan yang sudah ada, maupun untuk menerapkan kekudusan para imam kepada seluruh umat. Simbolnya dikembangkan, sementara apa yang disimbolkan, perjuangan pro-hidup dan melawan dosa dan maut, dipinggirkan. Menjadi orang yang beres diartikan sebagai menaati berbagai aturan, sedangkan intinya ada kasih sebagaimana dilihat dalam kesepuluh perintah. Perhatikan bahwa ini bukan soal rohaniah melawan lahiriah. Hukum positif dapat diterapkan dengan semangat yang sungguh-sungguh, dan kasih selalu akan berwujud dalam tindakan konkret. Tetapi keteraturan apa yang dicari? Sistem orang Farisi membentuk keteraturan yang rapuh (karena belum memulihkan hati diri sendiri) sehingga harus mengusir kekacauan dengan keras. Keteraturan yang ditunjukkan oleh Yesus menghadapi dan berusaha memulihkan kekacauan (dosa, penyakit, setan, badai) dalam kasih. Usaha itu tidak selalu berhasil, karena selalu ada seperti orang Farisi yang menempatkan diri di luar rencana Allah (15:13). Tetapi bukan kita yang mengusirnya karena kita sendiri takut.

Contoh klasik hukum positif adalah sikap sebagian majelis (dan pendeta?) terhadap tata gereja, di mana tata gereja ditafsir menurut huruf, bukan menurut maksud etis-teologis yang ada di belakangnya. Jika tata gereja memperbolehkan nikah ulang, maka siapa saja yang mau menikah diizinkan, padahal Alkitab paling memberi celah sedikit.

Contoh semangat untuk menjadi orang beres dapat muncul dalam kekhawatiran tentang penyakit sosial. Tentu saja kita prihatin dengan berbagai gejala, tetapi apakah kita mau mengasihi dan membantu pelakunya, atau mereka mau diusir karena dianggap sumber kekacauan, entah karena kita rawan tergoda, entah karena kita malu jika Toraja tampil lebih jorok daripada tetangga, atau karena alasan yang lain yang menyangkut kita, bukan orang-orang yang terjebak di dalam dosa. Kepada keluarga sendiri mungkin masih ada pendekatan kasih, atau malahan kita masih kurang tegas. Tetapi pendatang juga adalah manusia, dan bahkan jika dianggap musuh tetap harus dikasihi dengan dibawa kepada Kristus Sang Pemulih.

Usul terakhir (selamat kalau bertekun sampai di sini), jika konsep pemali masih kuat di Toraja, apakah konsep itu dapat dipakai untuk menjelaskan dosa. Pemali Yesus/Allah adalah berzinah, mencuri dsb, dengan akibat hati yang jauh dari Allah sehingga berkat-Nya tidak dinikmati, baik secara pribadi maupun bersama dalam jemaat.


Yes 1:15-20 “Pertobatan yang sejati” (4 Mar 2012) [Sengsara III]

Februari 29, 2012

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil buruannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus mati belum tentu pemiliknya senang! Tetapi, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak dapat mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Penggalian Teks

Dalam Yes 1:2-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam pp.36-37) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).

Jadi, perikop 1:10-20 (dimulai pada a.15 karena di situlah disebutkan soal tangan berlumuran darah yang menjadi tema berdasarkan Ams 6:17) mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, hukuman Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.

Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).

Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55, khususnya p.53). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. Ul 28:1-14) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. Ul 28:14dst) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan pemberitaan Yesaya pada saatnya adalah menawarkan pertobatan kepada Israel supaya bangsa Israel dapat hidup dan tidak mati dihukum pembuangan. Nubuatan Yesaya mulai diterima luas sebagai firman Tuhan ketika hukuman Allah memang terjadi, lebih dari 100 tahun kemudian (Yesaya bernubuat pada paruh kedua abad ke-7 SM, Yerusalem dihancurkan 587 SM). Perikop ini tetap berfungsi untuk menjelaskan pertobatan yang sejati sehingga kita bisa terlibat dalam rencana keselamatan Allah, bukan disingkirkan sebagai timah (a.25).

Makna

Tahap Israel dan kita dalam rencana keselamatan Allah itu tidak sama. Israel adalah bangsa di sebuah tempat tertentu, dan dasar untuk pengampunan baru disimbolkan dengan kurban-kurban di Bait Allah, kenyataannya dalam Kristus belum datang. Jadi, kita perlu meninjau ulang keempat unsur pemberitaan Yesaya, yaitu: perincian dosa, pertobatan, janji pengampunan dan akibat.

Inti dari perincian dosa (aa.11-14 yang disimpulkan dalam a.15) adalah semangat dalam ritus yang tidak dibarengi dengan kebenaran dan keadilan. Hal itu menjadi masalah pada zaman Yesus, dan tetap sampai sekarang. Tangan yang penuh dengan darah tidak sekadar oknum yang melakukan kekerasan. Suharto sebagai presiden mungkin tidak pernah langsung membunuh orang, tetapi tangannya tetap penuh darah. Ayat-ayat berikut juga melihat berbagai bentuk ketidakadilan. Kita bisa membayangkan betapa Allah jijik terhadap sebuah syukuran atas hasil korupsi, betapa Dia tidak berkenan pada pelayanan dari seorang majelis atau pendeta yang suka memukuli keluarganya, betapa Dia berduka atas perayaan kaum elit yang menerapkan kebijakan yang mengalihkan hasil orang miskin kepada orang kaya.

Aa.16-17 berbicara tentang tindakan nyata sebagai wujud pertobatan. Kejahatan tidak hanya dihentikan, tetapi juga kebaikan dipelajari dan keadilan diusahakan. Ini bukan sekadar kesadaran bahwa ada yang kurang, tetapi perubahan sikap. Dulunya orang miskin/kelas bawah/perempuan atau siapa lagi yang menjadi korban kekerasan, dianggap tidak layak, sampah, ancaman dsb. Sekarang, mereka dihargai sehingga diperlakukan dengan baik. Saya tertarik dengan ucapan “belajar berbuat baik”. Seringkali pertobatan menuntut hal-hal yang baru yang harus dipelajari. Jika dulu si suami menangani frustrasi dengan kekerasan, sekarang dia harus belajar cara-cara yang lain. Jika dulu orang besar pintar memeras rakyat, dia harus belajar bagaimana memerintah untuk kepentingan bersama. Pertobatan menyiratkan merendahkan diri—bukan hanya pengakuan akan kesalahan, tetapi juga menjadi orang bodoh yang harus belajar cara yang baik, yang sekarang didambakan oleh karena perubahan sikap adalah intisari pertobatan. Alasan untuk bertobat diperdalam dalam Kristus, tetapi sifat pertobatan tidak berubah.

Pengampunan yang digambarkan dengan begitu dramatis dalam a.18 justru digenapi di dalam Kristus. Jika Allah beperkara, semestinya Israel hancur. Tetapi yang ditawarkan adalah pembenaran: bukan untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak terlalu buruk, tetapi untuk menyampaikan berita yang luar biasa bahwa dosa mereka yang begitu berat dapat dihapus sehingga mereka diterima oleh Allah. Itulah yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus, sehingga Paulus berbicara tentang pembenaran oleh iman.

Di dalam Kristus, akibat yang akan dialami Israel juga mengalami perkembangan. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (Gal 3:14), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik akan kehilangan keselamatan eskatologis, sehingga tidak menikmati pengenalan akan Allah yang sudah sempurna, melainkan kehancuran kekal yang di dalamnya tidak ada berkat apapun. Kalau menjemukan Allah tidak apa-apa bagi kita, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!


Yak 3:1-12 “Kuasa dan Bahaya Lidah” (26 Feb 2012) [Sengsara II]

Februari 25, 2012

Tafsiran yang diusulkan hari ini beranjak dari satu usul yang pada awalnya dapat mengagetkan, yaitu bahwa yang dimaksud tubuh oleh Yakobus di sini adalah tubuh jemaat, bukan tubuh pribadi. Tafsiran itu muncul dalam beberapa dekade terakhir, mungkin dibantu oleh kesadaran tentang bias individualisme para penafsir Barat. Intinya tidak jauh beda, kita tetap diperhadapkan dengan bahaya lidah, termasuk lidah dusta yang disebutkan dalam Ams 6:17b (Ams 6:17-19 menjadi kerangka untuk khotbah minggu-minggu sengsara Gereja Toraja). Hanya, penerapannya menjadi lebih tajam, yaitu dampak lidah di dalam jemaat. Jika tafsiran itu mau diterima, maka pengkhotbah harus berusaha untuk konsisten. Lidah mengendalikan jemaat, bukan tubuh pribadi; lidah jahat menodai jemaat, bukan tubuh pribadi.

Penggalian Teks

Surat Yakobus adalah praktis (memberi fokus pada cara hidup) tetapi sama sekali bukan nir-teologis. Dasarnya disampaikan di tengah p.1: Allah Bapa kita yang baik (1:17) “telah menjadikan kita oleh firman kebenaran” untuk menjadi buah sulung ciptaan baru (1:18), dan firman itu “tertanam di dalam hatimu” dan “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (1:21b). Implikasi pertama adalah menjadi pelaku firman (1:22-25), kemudian mengekang lidah (1:26), kemudian membantu orang miskin (1:27). Ketiga implikasi itu diuraikan dalam bagian-bagian seterusnya: sikap terhadap orang miskin pada awal p.2, perbuatan sebagai buah iman yang sejati dalam 2:14-26, dan soal lidah dalam perikop kita. Makanya, soal lidah ini adalah implikasi dari iman. Semestinya, dari hati yang sedang diselamatkan (diperbaharui) oleh firman muncullah kata-kata pembaruan. Tetapi 1:19-20 sudah menyinggung masalahnya: lidah sering mengeluarkan amarah yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah, jadi, lebih baik banyak diam. 1:26 juga senada, yaitu bahwa lidah perlu dikekang.

Sikap pesimis terhadap lidah itu disinggung dalam a.2, dan muncul dengan sangat tegas dalam aa.6-8. Namun, kita perlu memperhatikan a.1 dan aa.3-5 untuk menangkap apa yang dimaksud Yakobus di sini. A.1 memberi peringatan terhadap orang-orang yang mau menjadi pengajar (seorang didaskalos mengajar jemaat, bukan siswa). Hal itu bersambung dengan bagian sebelumnya yang menyangkut ajaran yang salah, dan bisa juga dikaitkan dengan awal p.4, di mana ada perselisihan yang berat yang mungkin saja menyangkut berbagai oknum yang menganggap dirinya pengajar jemaat. Soal pengajaran menjadi soal lidah dalam a.2, dan a.2 dapat diartikan bahwa lidah adalah bagian tubuh yang paling sulit dikendalikan, sehingga berhasil dalam lidah berarti sudah berhasil dalam seluruhnya. Luk 6:44 menyatakan bahwa pohon dikenal dari buahnya, dan ayat berikutnya memberi perkataan sebagai contoh utamanya. Artinya bahwa pengendalian lidah menjadi gejala atau bukti akan hati yang sudah terkendali. Hal itu senada dengan perkataan Yesus bahwa perkataan adalah luapan hati (Lk 6:45; Mt 12:34). Masalahnya bahwa aa.3-4 menggambarkan lidah (ibarat kekang dan kendali) mengendalikan tubuh (kuda, kapal). Hal itu berbeda dari tindakan lidah dan tubuh sebagai penyataan batin atau hati orang, seperti dalam Luk 6:44-45 tadi. Jika maksudnya adalah lidah saya mengendalikan tubuh saya, saya justru menjadi sulit memikirkannya. Sepertinya, hati/akal saya yang mengendalikan tubuh saya, bukan perkataan saya. Hati saya adalah kendali saya, bukan lidah.

Tetapi ada jalan keluar jika kita melihat bahasa aslinya. Akhiran “-nya” dalam “seluruh tubuhnya” pada a.2 memberi kesan bahwa tubuh penutur yang dirujuk, tetapi akhiran itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Terjemahan itu sah dan masuk akal jika kita menganggap bahwa tubuh pribadi yang dimaksud, tetapi bentuk aslinya juga dapat diartikan sebagai tubuh jemaat. Tafsiran itu membuat alur penguraian lebih jelas. Kita harus hati-hati menjadi pengajar, karena kita rawan bersalah. Seandainya kita tidak rawan bersalah, jemaat akan aman terkendali, karena lidah sangat berkuasa di dalam jemaat. Dalam a.4, kata yang dipakai untuk “kehendak jurumudi” bisa diartikan sebagai “kemauan”, artinya, apa saja yang dia mau. Di dalam badai pun lidah memungkinkan pengajar untuk mengarahkan jemaat. Tetapi kemauan pengajar juga adalah masalahnya, karena kehendak di balik lidah tidak selalu tepat. Jadi, dalam a.5 peringatan keras mulai. Ketika lidah dipakai untuk membual, lidah justru menjadi seperti api yang membakar seluruh jemaat.

A.6 adalah puncaknya. Jika tafsiran di atas tepat, “anggota-anggota” (kata “tubuh” ditambahkan LAI di sini) berarti anggota-anggota jemaat. Lidah adalah api yang menyalakan sepanjang kehidupan manusia dengan api neraka sendiri; hal itu terjadi ketika perkataan sebagai “dunia kejahatan” menodai seluruh tubuh. “Dunia kejahatan” mungkin dapat diartikan sebagai perkataan yang jahat secara sistemis. Misalnya, dalam kelompok tertentu, pimpinannya harus selalu benar, sehingga apa saja yang dikatakan lebih berfungsi untuk menutupi kesalahannya daripada menyatakan apa yang sesungguhnya. Setiap perkataan belum tentu jahat, tetapi efeknya adalah lapisan bawah yang tidak berdaya, dan rahasia-rahasia kelompok yang merongrong kasih. Mungkin juga “dunia kejahatan” dapat diartikan sebagai kepelbagaian cara lidah dapat berbuat jahat, dari penipuan dan kebohongan sampai pada kutuk (a.10). Bagaimanapun juga, lidah pemimpin yang demikian akan membawa seluruh tubuh jauh dari kasih dan keadilan.

Aa.7-8 menyampaikan sikap pesimisnya Yakobus soal lidah. Jika lidah dapat mengendalikan jemaat, lidah itu sendiri ternyata tidak dapat dikendalikan, sehingga dampak buruknya tetap ada. Aa.9-12 memperlihatkan bahwa kondisi itu tidak pantas. Jika a.9 mencerminkan kondisi jemaat-jemaat yang dialamatkan oleh surat ini, ternyata mereka biasa mengutuk musuh-musuh mereka. Jadi, dalam ibadah mereka memuji Allah, tetapi juga (apakah dalam ibadah atau konteks lain) mereka mengutuk manusia, padahal manusia adalah gambar Allah. Palestina abad pertama penuh dengan kelompok-kelompok pejuang melawan penjajahan Romawi, dan sering saling melawan juga, dan mungkin sikap-sikap seperti itu belum ditinggalkan oleh sebagian jemaat. Adalah fatal jika pengajar jemaat menuntun jemaat untuk membenci kelompok yang lain. Tetapi dalam contoh di atas, pengajar yang harus selalu benar, juga akan selalu merendahkan anggota-anggota jemaat yang lain dengan kata-kata yang efeknya mengutuk. Itupun tidak pantas: lidah yang sama mengeluarkan dua hal yang sifatnya bertentangan.

Maksud bagi Pembaca

Jadi, Yakobus mau supaya para pengajar (pemimpin) di jemaat menjaga lidahnya, supaya kuasa lidah dipakai untuk mengarahkan jemaat dengan baik dan menuntun jemaat melalui bahaya, bukan untuk merusak dan meracuni jemaat. Perikop ini lebih bersifat peringatan; perikop berikut (3:13-18) menggambarkan hikmat dari atas yang akan memampukan perkataan yang baik.

Makna

Tafsiran di atas membuat peringatan dalam a.1 sungguh bermakna: lidah sangat berpengaruh. Namun, secara pribadi ajaran Yakobus agak mengganggu saya, karena justru kadangkala saya merasa bahwa kata-kata saya tidak ada dampaknya sama sekali, seakan-akan lidah saya adalah kendali yang sudah lepas atau kemudi yang telah putus. Ada dua refleksi terhadap soal itu. Yang pertama, persepsi saya ternyata salah. Mungkin tidak semua ajaran saya akan berdampak besar bagi semua orang, tetapi dampaknya ada, dan saya harus hati-hati supaya ajaran itu membangun bukan merusak. Yang kedua, lidah adalah luapan hati, bukan akal. Hati berarti maksud atau motivasi paling dalam, dan kadangkala maksud akal tidak sama dengan maksud hati. Saya berbicara tentang pengandalan akan Tuhan, tetapi orang bisa mendengar kekhawatiran dalam nada suara saya. Saya berbicara tentang kasih, tetapi orang dapat melihat kedinginan sikap dalam wajah saya. Yang didengar adalah lidah saya, tetapi bukan apa yang saya maksud dengan otak saya, melainkan sikap hati yang dinyatakan di dalamnya. Makanya, orang yang ajarannya sempurna dapat menimbulkan racun pelecehan dan api perpecahan, karena hatinya masih dikuasai oleh hikmat duniawi (seperti dalam 3:14, 16) dan belum sepenuhnya diperbaharui oleh firman yang menyelamatkan, meskipun sudah ditangkap oleh otak.

A.1 juga menghimbau supaya jangan ingin menjadi pengajar. Bukan hanya orang yang ditunjuk sebagai pengajar (pendeta, majelis) yang dapat menimbulkan masalah, tetapi orang-orang yang menganggap diri pengajar jemaat. Pertanyaan bagi pendeta ialah, apakah sumber api yang satu ditambah dengan pelayan sendiri sebagai sumber api kedua, atau dihadapi dengan hikmat sorgawi yang membawa buah damai (3:18). Sungguhlah ukuran bagi pelayan lebih berat.


Ams 21:1-5 “Kesombongan itu Dosa” (19 Feb 2012) [Sengsara I]

Februari 14, 2012

Untuk minggu-minggu sengsara, buku pedoman Gereja Toraja Membangun Jemaat mengambil Ams 6:17-19 sebagai kerangka. Ketiga ayat ini menguraikan “enam…bahkan tujuh perkara” yang dibenci Tuhan (6:16). Jika dihitung, memang ada tujuh hal, tetapi kedua terakhir (6:19) dipadukan sehingga pola ini dipakai untuk enam dari ketujuh minggu sengsara. Untuk setiap sifat buruk ini, ada perikop yang dikaitkan dengan sifat itu. Minggu-minggu sengsara mengingatkan kita bahwa kita mengikuti Mesias yang menderita bagi dosa kita, sehingga kita telah mati terhadap dosa (Rom 6:10-11). Membahas sifat-sifat ini akan sangat berguna bagi jemaat, jika kita mengingat landasannya dalam Kristus.

Penggalian Teks

Pokok pertama adalah kesombongan. Frase “mata yang sombong” dalam 6:17 dan “mata yang congkak” dalam 21:4 memakai bahasa yang mirip, yang secara harfiah berarti “mata yang tinggi”. Maksudnya bahwa pemilik mata seperti itu memandang orang lain seakan-akan mereka lebih rendah daripada dia. Itulah intisari dari kesombongan, bagaimana saya menilai orang lain, bukan bagaimana saya menilai diri sendiri. Seorang atlet olimpiade tidak sombong jika dia menganggap dirinya unggul, tetapi dia adalah sombong jika atas dasar keunggulan itu dia merendahkan atlet yang tidak sampai pada tingkat itu.

Seperti biasa dalam pp.10 dst dari kitab Amsal, kita tidak mencari ide pokok dalam sebuah kumpulan ayat, karena bagian Amsal ini tidak memakai perikop. Namun seringkali ada kait-mengait tertentu antara dua ayat yang bersampingan, dan ketiga ayat pertama dapat dikaitkan dengan kesombongan. Dalam a.1, raja adalah yang paling tinggi kedudukannya, sehingga paling layak memandang rendah orang lain, tetapi hatinya (mungkin dalam rangka rancangan-rancangannya) ada dalam tangan Tuhan. Dalam a.2, manusia memberi penilaian positif pada tingkah lakunya sendiri, paling sedikit bahwa ada alasan yang kurang lebih membenarkan kekurangannya kalau ada. Kemampuan itu dapat bermuara pada kesombongan jika orang lain harus direndahkan untuk saya tetap membenarkan diri. Namun, Tuhan tidak dikelabui oleh pandangan kita dan dapat melihat motivasi yang sebenarnya di dalam hati. A.3 menyerang keberagamaan yang dengan mudah menjadi kedok bagi pembenaran diri tadi. Karena membawa persembahan dalam ibadah, orang menganggap bahwa Tuhan berkenan kepada mereka, sehingga dosa-dosa “kecil” dimaklumi.

Dalam a.4, mata yang congkak ditambah dengan “hati yang sombong”. Secara harfiah frase itu berbunyi, “hati yang lebar”, bukan dalam artian yang baik tetapi mungkin dengan maksud hati yang lebar itu tidak memberi ruang bagi sesama, seperti truk yang lebar pada jalan yang sempit. Kedua sifat itu digambarkan sebagai “pelita” orang fasik. Pelita manusia yang semestinya adalah perintah Tuhan (6:23) atau firman Allah (Mzm 119:105). Tetapi pelita juga merujuk pada kehidupan itu sendiri, seperti dalam 20:27, “Roh [nafas] manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Makanya, beberapa kali dikatakan bahwa pelita orang fasik padam (13:9; 20:20; 24:20). Tafsiran itu berarti bahwa kesombongan menjadi bukan sekadar petunjuk jalan melainkan cara hidup. Orang fasik berada sebagai orang sombong.

Namun, Tuhan yang menguji hati, yang tidak ditipu oleh pertunjukan ritus, melihat cara berada itu sebagai dosa.

Maksud bagi Pembaca

Beberapa ayat ini mau mendorong kita untuk merenungkan cara hidup kita, dengan mempertanyakan kenyamanan kita sebagai orang yang benar dan saleh. Tuhan yang menguji hati dan menuntut kebenaran yang ditempatkan di atas raja sekalipun supaya kita berpaling dari sikap kesombongan dan melihat semua manusia sederajat.

Makna

Aa.1-4 ini paling cocok untuk kalangan atas, para raja besar, raja kecil, dan orang-orang lain yang berada. Merekalah (termasuk kita para pelayan, sebenarnya) yang fasih membenarkan kepentingannya dan yang mampu menutupi kesombongannya dengan ibadah, sumbangan dan bahkan pelayanan yang tampak saleh. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi kebijakan menguntungkan kalangan sendiri. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi selalu ada kelompok “sampah masyarakat” untuk membuktikan kebenaran orang-orang yang beres seperti saya. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi tanggung jawab atas kesalahan atasan dilemparkan ke bawah. Kita sopan dan hormat kepada yang sederajat atau di atas, tetapi kasar dan semena-mena kepada orang yang dianggap di bawah. Pelanggaran seperti hamil di luar nikah dikecam dengan keras, tetapi sebenarnya kita yang tercemar, orang berdosa, oleh karena kita tidak mampu mengasihi siapa-siapa. Mata yang tinggi tidak dapat melihat dengan jelas untuk mengasihi dengan tepat; hati yang sombong tidak dapat merasakan dengan jernih untuk mengasihi dengan tulus. Tinggal pembenaran diri dan kesalehan semu untuk menutupi kekosongan jiwa, suatu lampu yang bahan bakarnya tidak mampu bertahan.

Jika paling cocok untuk kalangan atas, apakah tidak ada pesan untuk orang kecil? Pada hemat saya, pesan bagi orang kecil adalah untuk mengangkat mereka, dengan mengetahui bahwa Tuhan tidak ditipu oleh kemunafikan orang besar. Hanya, banyak orang yang kecil dan tertindas dalam konteks tertentu menjadi raja kecil dalam konteks yang lain. Jika demikian, peringatan ini berlaku juga untuk mereka.

Tentu, tafsiran saya banyak beranjak dari respon Yesus terhadap para pembesar, termasuk pembesar agama yang munafik. Anugerah Allah, sebagaimana diuraikan oleh Paulus sebagai pembenaran oleh iman, mengajar kita untuk melihat bahwa kita semua adalah orang berdosa yang hanya berarti karena kasih Allah. Kesombongan adalah pengingkaran terhadap anugerah itu.


Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011]

Oktober 27, 2011

Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)

Penggalian Teks

Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).

Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.

Makna

Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.

Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.

Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.

Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.

Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).

Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.


Yud 1:17-23 Tiga langkah dalam menghadapi kelompok yang sesat [9 Oktober 2011]

Oktober 8, 2011

Penggalian Teks

Para penerima surat ini menghadapi sekelompok orang yang membahayakan persekutuan mereka. Tidak jelas apakah kelompok ini memegang suatu ajaran yang sesat, tetapi yang jelas adalah gaya hidup mereka. Mereka percaya pada kasih karunia Allah, dan menerima Yesus sebagai Tuhan (kurios), tetapi menganggap kasih karunia sebagai izin untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menyangkal dalam tindakan bahwa Yesus adalah Penguasa. (Penguasa = despotes, yang sama seperti kurios berarti “tuan”, tetapi menyoroti kuasa mutlak tuan ada budaknya, sedangkan kurios menyoroti wibawa seorang tuan. Sepertinya kelompok ini mengagumi Yesus, tetapi tidak menganggap penting menaati Yesus.) Tentang mereka Yudas menyampaikan serangkaian peringatan (yang isinya mirip dengan 2 Petrus 2) tentang hukuman yang akan menimpa mereka. Perikop kita adalah implikasinya bagi para penerima.

Ada tiga bagian yang cukup jelas di dalamnya. Aa.17-19 mengangkat peringatan rasul-rasul tentang para “pengejek”. Artinya bahwa yang terjadi bukan kejutan karena para rasul sudah memberitahu akan demikian (berdasarkan ajaran Yesus sendiri). Aa.20-21 menyuruh mereka untuk menjaga diri. Frase utama adalah “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah” (a.21a), dengan a.20 sebagai dasar dan a.21b sebagai tujuan. Aa.22-23 menunjukkan tanggapan yang diperlukan kepada orang yang terlibat dalam masalah ini. Terjemahan LAI memberi kesan hanya dua kelompok, tetapi sebenarnya tiga kelompok yang berbeda dialamatkan di sini, di a.22, a.23a dan a.23b (dalam bahasa asli: hous men…hous de…hous de). Jadi, yang ragu-ragu bukannya sudah atau nyaris termasuk api, tetapi ada yang ragu-ragu (a.22), ada yang dalam keadaan sangat berbahaya (a.23a), dan ada yang sudah terpola dalam dosa, barangkali para nabi palsu sendiri (a.23b).

Ketiga bagian perikop kita saling berkaitan. Dalam a.19 kelompok itu menjadi pengacau karena keinginan yang berasal dari dunia, bukan dari Roh. Makanya, di atas dasar iman itu doa dalam Roh Kudus yang diperlukan untuk bertahan dalam kasih Allah (a.20). Roh Kudus yang dapat mengubah keinginan-keinganan duniawi. Kemudian, harapan yang menyertai pemeliharaan diri dalam kasih Allah terfokus pada rahmat Tuhan dalam memberi hidup yang kekal (a.22). Rahmat, yaitu belas kasihan (keduanya menerjemahkan kata eleos), yang harus menggerakkan penerima surat Yudas dalam relasi mereka dengan orang-orang yang bermasalah.

Maksud bagi Pembaca

Yudas mau menguatkan penerima suratnya untuk menghadapi ancaman kelompok yang sesat dengan tepat. Mereka perlu mengingat ancamannya, berjaga diri, serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang dalam bahaya sesuai dengan kondisi mereka.

Makna

Bahasa LAI “Menjelang akhir zaman” dapat memberi kesan bahwa keadaan akan memburuk pas sebelum Kristus datang. Tetapi kalau begitu, perkataan para rasul itu belum berlaku bagi zaman Yudas sendiri, karena belum menjelang apa-apa. Tetapi harfiahnya “pada waktu terakhir” lebih jelas. Zaman sejak pencurahan Roh Kudus adalah “waktu terakhir” (bdk. Kis 2:17). Bersamaan dengan Injil berkembang, kefasikan juga berkembang, dan / atau menjadi lebih kentara karena perbandingan dengan buah Roh dalam jemaat.

Kelompok macam apa yang harus diwaspadai sekarang? Di atas saya mengusulkan bahwa inti masalah adalah gaya hidup mereka. Mereka mungkin saja tampak sehat, tetapi hati mereka busuk. Di dunia Barat, gereja dihebohkan oleh pelayan (pastor, pendeta, gembala) yang menggunakan kepercayaan jemaat sebagai kedok untuk melecehkan anak. Di mana saja, ada pendeta dan majelis yang dikuasai oleh keinginan akan kuasa; biasanya pemecah-belah demikian. Juga terlalu banyak cerita tentang majelis atau pendeta yang memakai uang jemaat (saldo jemaat akhir tahun; proyek) sebagai tempat pencarian. Tetapi intinya bukan pada dosa-dosa tertentu melainkan pada apa yang sebenarnya menjadi kendali kehidupan orang. Jatuh ke dalam dosa tertentu tidak sama dengan hidup dalam dosa itu.

Peringatan Yudas ialah bahwa kalau seseorang dikuasai oleh keinginan dosa, hidup dalam dosa itu, dia tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi, dalam a.22 ada beberapa tahap. Yang ragu-ragu itu saya artikan sebagai orang yang tertarik dengan kelompok sesat tetapi belum diyakinkan. Misalnya, majelis melihat pendeta beruntung dari proyek, sehingga mulai menganggap bahwa itu cara yang mungkin baik-baik saja. Yang perlu dirampas dari api adalah yang sudah mau mengikuti kelompok sesat itu. Kedua kelompok ini belum tentu kehilangan Roh Kudus, sehingga ada usaha untuk menyelamatkan mereka. Kelompok tiga adalah yang tidak memiliki Roh Kudus.

Belas kasihan (eleos) perlu diartikan dari rahmat (eleos) Tuhan, yaitu, bertujuan keselamatan (a.21). Kelompok ragu-ragu dirangkum supaya kembali yakin akan jalan yang benar. Kelompok yang sudah jatuh hampir sampai kehancuran perlu “dirampas”. Merampas sepertinya bertolakbelakang dengan belas kasihan, tetapi, misalnya, kita melihat anak menuju api, pasti kita sampai memakai kekerasan untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya. Jadi, belas kasihan kepada orang yang mau tersesat bisa saja menuntut cara yang akan dianggap tidak sopan, tegoran yang keras, bahkan mengucilkan, supaya orangnya menjadi sadar, bertobat, dan dengan demikian diselamatkan. Untuk kelompok tiga, relasi tetap dibuka, tetapi kita harus menjaga diri supaya kita jangan terbawa oleh pendirian mereka yang sudah bulat berkanjang dalam dosa.

Tentu belas kasihan yang demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang sudah menerapkan aa.20-21. Iman yang paling suci tidak merujuk pertama-tama pada kualitas iman sendiri, karena yang paling suci adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus. Tetapi jika atas dasar iman kepada yang Mahasuci itu kita berdoa dalam Roh Kristus yang Kudus (Suci), maka hidup kita akan makin suci. Kasih Allah akan memulihkan berbagai keinginan kita, dan harapan rahmat Kristus akan memperbaiki tujuan-tujuan hidup kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari kesesatan, dan disanggupkan untuk membantu orang yang terancam sesat. Sumbernya menjadi jelas dalam aa.24-25, Allah, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Mal 3:6-12 Pertobatan melalui persembahan

Juli 6, 2011

Maleakhi menulis pada waktu kecemasan rohani. Israel sudah lama kembali dari pembuangan, dan Bait Allah telah dibangun kembali, tetapi ritus dilakukan dengan setengah hati (1:8, 12), Israel merasa kurang diberkati (2:13). Di balik itu, umat meragukan kasih (1:2), kuasa (1:5, 14) dan perhatian Tuhan (2:17; 3:14). Di balik tanggapan Tuhan adalah rencana-Nya. Dia telah memilih Yakub (1:2-3) dan akan bertindak dengan tegas dengan memurnikan umat-Nya (3:1-3; 4:1) supaya rencana-Nya terwujud, yaitu umat yang berkenan di hadapan-Nya (4:2). Dalam rangka itu Allah berfirman tentang persembahan, sebagai salah satu gejala iman, sekaligus pintu masuk untuk pertobatan.

Penggalian Teks

Banyak bagian dalam kitab ini merupakan dialog. Aa.6-7 mengungkapkan perlunya pertobatan, dan berakhir dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bertobat. Aa.8-12 menjawab pertanyaan itu dengan satu dialog lagi yang berfokus pada soal persembahan.

Sama seperti kitab ini secara keseluruhan (bdk. 1:2), perlunya pertobatan dilandasi bukan pertama-tama pada dosa manusia melainkan anugerah Allah. A.6 merujuk pada rencana Tuhan: karena Tuhan tidak berubah, yaitu karena tujuan-Nya tetap, maka Israel masih memiliki masa depan dengan Tuhan, walaupun mereka sejak dahulu tidak taat (a.7a). Dasar pembaruan Israel adalah anugerah Tuhan, bukan inisiatif manusia. Namun, anugerah Tuhan bertujuan berkat untuk manusia, sehingga manusia harus terlibat di dalamnya. Itulah maksud dari seruan untuk kembali kepada Tuhan dalam a.7b. Dengan demikian Tuhan akan kembali kepada Israel, bukan dalam artian akan mulai peduli tentang mereka, tetapi dalam artian bisa mencurahkan berkat atas mereka. Dengan pertanyaan Israel (tulus atau tidak), Tuhan menunjukkan satu bidang hidup yang paling erat kaitannya dengan iman.

Tuhan memulai jawaban-Nya dengan tuduhan menipu. Ketika ditanya, cara penipuan menyangkut persepuluhan dan persembahan khusus. Mal 1:7-8, 13-14 mempersoalkan kualitas binatang yang dibawa sebagai kurban, tetapi persepuluhan dan persembahan khusus menyangkut seberapa banyak yang diberi. Penipuan terjadi dalam persepuluhan jika yang diberi itu di bawah 10 persen. Oleh karena penipuan itu, mereka mengalami berbagai masalah yang mewarnai seluruh kitab ini. Masalah-masalah itu dimaksud sebagai peringatan, tetapi peringatan itu tidak dihiraukan (a.9). Jadi, seruan yang berikut adalah untuk membawa persepuluhan yang utuh, sehingga ada kecukupan untuk imam-imam yang hidup dari persediaan itu (a.10a).

Dengan demikian mereka diminta untuk menguji apakah Tuhan adalah penipu atau tidak. Jika mereka taat dalam soal persepuluhan, maka akan ada berkat tercurah (a.10b), dan hama terhalang (a.11). Mereka akan mengalami berkat, dan menjadi perhatian bagi bangsa-bangsa (a.12). Jadi, cara bertobat adalah memberi persepuluhan sepenuhnya, dan dengan demikian Israel dapat mengalami berkat Allah dalam penghasilan mereka.

Maksud untuk pembaca

Dalam perikop ini Allah mau mengajak jemaat untuk bertobat melalui persembahan supaya menerima berkat Allah. Adalah penting dimengerti bahwa pertobatan lebih mendasar daripada persembahan, tetapi sebaliknya kadar iman tidak bisa dilepaskan dari persembahan. Tujuan perikop ini adalah persembahan sebagai pernyataan atau penghayatan pertobatan, atau dengan kata lain, pertobatan yang bermuara pada tanggung jawab yang jelas untuk urusan Tuhan.

Cara dialog dipakai untuk membongkar sikap Israel yang belum sadar tentang andil mereka dalam kondisi mereka. Dengan cara itu kita melihat juga bahwa Allah tidak hanya menegor mereka, tetapi juga mengungkapkan isi hati-Nya, karena tujuan-Nya memulihkan relasi dengan mereka, bukan memaksakan ketaatan formalistik.

Makna

Pertobatan dengan mudah dimengerti sebagai cara manusia meraih berkat dari Tuhan. Jika kalimat “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” dibaca di luar konteks yang dijelaskan di atas, bisa saja ditafsir demikian. Tetapi prioritas anugerah secara umum dilihat dalam beberapa hal. Tentu, yang pertama ialah bahwa Tuhan menciptakan manusia. Kemudian, rencana keselamatan dimulai dengan Abraham yang dipanggil secara tiba-tiba, bukan sebagai respons terhadap kebaikan ataupun pertobatan Abraham tetapi atas inisiatif Allah belaka. Israel juga diselamatkan dari Mesir karena rencana Allah, bukan karena mereka sudah bertobat. Baru setelah diselamatkan, hukum Taurat disampaikan supaya keselamatan itu dapat mereka hayati.

Kita sudah melihat bahwa penyusunan kitab Maleakhi dan perikop kita sejalan dengan itu. Ada satu hal lagi. Fungsi Maleakhi sebagai nabi adalah wujud inisiatif Allah. Karena sudah memiliki relasi dengan Israel dalam perjanjian, Allah mengungkapkan isi hati untuk memulihkan relasi itu.

Dalam PB unsur anugerah menjadi makin jelas dalam kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita, tetapi unsur berkat dan penghayatan anugerah mengalami pergeseran. Kata Paulus dalam Gal 3:14, intisari berkat Allah adalah pemberian Roh Kudus. Dalam konteks-konteks yang cukup berat, seperti bencana atau penganiayaan, tinggal berkat itu sebagai sumber sukacita kita, dengan berkat Allah yang sepenuhnya sebagai janji untuk dunia baru. Jadi, setelah ditangkap Yesus menderita, haus dan akhirnya mati. Namun, dalam konteks yang lain Yesus mengalami apa yang Dia ajarkan, yaitu bahwa makanan dan pakaian ditambahkan kepada orang yang mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33). Bentuk janji Maleakhi bagi Israel pada saat itu, yaitu kelimpahan panen dan pencegahan hama, spesifik untuk pendengarnya. Tetapi yang diungkapkan di dalamnya adalah kemurahan Allah. Allah mau supaya kita mengalami berkat yang berpusat pada Dia. Jemaat yang bertobat dan mencari Allah akan mengalami tingkap-tingkap langit terbuka, dan masalah-masalah mengecil, entah apa persisnya bentuk berkat itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.